Menghitung ‘Arloji’ Kemunduran Glazer Family dari Manchester United

  • Whatsapp
Menghitung 'Arloji' Kemunduran Glazer Family dari Manchester United
Menghitung 'Arloji' Kemunduran Glazer Family dari Manchester United

Kisah ini berawal dari pengusaha imperium arloji dan perhiasan di Kota Rochester. Pengusaha yang berasal dari keluarga imigran Lithuania dengan datang mengadu nasib ke Tanah Impian, Amerika Serikat. Malcolm Glazer adalah putra tertua dari keluarga tersebut, ilmu bisnis yang mumpuni ia dapatkan berkat ajaran ayahnya bahkan sebelum dirinya berusia 10 tahun. Di masa sekolahnya Glazer bukanlah siswa yang mendapatkan peringkat kredit tinggi seperti layaknya orang yang menjadi bawahan dia, Ed Woodward. Sampai akhirnya Malcolm Glazer memilih untuk keluar dari perguruan tinggi dan melanjutkan bisnis arloji dan perhiasan miliknya.

Nama Glazer mulai dikenal masyarakat luas, khususnya seantero Amerika Serikat saat dirinya berhasil membeli salah satu klub American Football, Tampa Bay Buccaneers. For your information ya gaes, itu American Football beda sama sepak bola yang selama ini kita kenal. American Football dimainkan menggunakan tangan, entah cemana pencetus olahraga itu sampai berani menamainya ‘football’ yang jelas-jelas memiliki arti bola kaki, bukan bola tangan. Sepak bola yang kita kenal ditendang dengan kaki, di Amerika dinamakan soccer.

Bacaan Lainnya

Oke balik lagi ke Glazer, dia membeli klub American Football pada tahun 1995. Berkat kecerdikannya di dunia bisnis dalam mengelola aset, Tampa Bay Buccaneers, yang sebelumnya adalah klub ampas antah berantah bisa disulap menjadi kandidat serius di NFL (nama liga American Football). Sayangnya apa yang dilakukan oleh Glazer di Tampa Bay Buccaneers berbeda jauh saat dirinya menjadi pemilik Manchester United sepuluh tahun berselang.

Tahun 2005 menjadi awal ketidakharmonisan hubungan antara fans MU dengan owner klub mereka. Glazer mengambil alih kepemilikan saham mayoritas MU, menggantikan posisi John Magnier dan J.P. Mc Manus sebagai pemilik saham mayoritas sebelumnya. Tidak ada yang salah memang dalam dunia kepemilikan sepak bola, siapa yang punya banyak duit mereka bisa bebas membeli saham klub layaknya membeli permen di warung sebelah. Begitupun dengan Glazer, kuasanya di dunia bisnis tidak bisa diragukan lagi. Sampai pada tiba waktunya dirinya resmi dideklarasikan sebagai pemilik Manchester United dengan jumlah saham 90% pada tahun 2005.

Disini yang menjadi permasalahan dan konflik dengan penggemar adalah cara Glazer mengambil alih United dengan uang hasil hutang di JP Morgan. Dimana MU dijadikan jaminan atas besarnya nilai hutang Glazer dan harus mencicil hutang tersebut setiap musimnya. Tidak cukup sampai disitu, para penggemar juga dibatasi ruang gerak mereka untuk memberikan suaranya terkait segala tindak tanduk Glazer di klub kesayangan mereka, pasalnya Glazer tidak mau berbagi saham dengan fans MU, 10% saham sisa yang bukan milik Glazer malah ia jual ke New York Stock Exchange, alih-alih ke fans.

Dilatarbelakangi oleh tindakan semena-mena Glazer dalam mengakuisisi klub yang rakyat Manchester sayangi, sekelompok Manchunian yang terlanjur kecewa membuat gebrakan dengan mendirikan klub baru dalam rangka menentang adanya Glazer Family di tubuh Manchester United. Adalah FC United Of Manchester (FCUM) yang lahir sebagai bentuk protes dan kekecewaan pendukung Manchester United kepada Glazer, sebuah klub yang berjalan dari dana partisipasi penggemar. Sangat berbeda dengan Manchester United yang terkenal glamour dan menyilaukan di dunia bisnis.

Kata kasarnya memang FCUM bisa dibilang mengkhianati Manchester United original, tapi lahirnya FCUM seolah menunjukkan kepada dunia bahwa penggemar adalah tingkatan tertinggi di rantai makanan dunia perbolaan, sepak bola tanpa fans itu tidak akan ada apa-apanya. Para penggemar Setan Merah yang mendirikan FCUM sejatinya masih sangat mencintai kesebelasan mereka yang bermarkas di Old Trafford, mereka hanya tidak bisa terima dengan otoritas yang dilakukan Glazer saat mengakuisisi klub. Bahwa, “ini loh, kita disini sebagai fans nggak mau gitu aja tunduk sama lu, kita bikin aksi nyata biar lu sadar betapa kecewanya fans atas tindakan yang lu lakukan.”

Tidak hanya mendirikan klub baru, mayoritas fans MU yang asli Manchester juga memboikot diri mereka membeli merchandise dan mendatangi Old Trafford untuk menonton laga kandang MU. Loh, kok bisa? Jadi begini teman-teman, mereka menolak diri untuk menonton langsung di Old Trafford karena uang dari tiket yang mereka beli pasti nantinya akan masuk ke kas MU, sama artinya masuk ke kantong Glazer. Nggak rela lah pasti yekan. Jadi saat MU bermain di kandang mereka akan menonton dari TV maupun nobar di kafe, tidak datang ke Old Trafford, karena nyatanya sekarang ini Theatre Of Dreams hanyalah tempat impian bagi para turis ketika mengunjungi Kota Manchester. Makanya tidak heran sorak sorai fans MU lebih keras terdengar saat United berlaga di kandang lawan.

Berhenti sampai disitu? Tentu saja tidak. Di tahun yang sama, yaitu 2005 fans MU juga mendirikan gerakan Love United Hate Glazer (LUHG), dimana kegiatan tersebut sampai detik ini masih berjalan dan sepertinya sedang panas-panasnya. Tindakan protes tidak hanya dilakukan oleh fans dari kalangan masyarakat biasa, tapi juga kalangan atas. Pada tahun 2010 silam, para fans MU yang memiliki latar belakang sebagai pengacara dan bankir, dimana mereka sudah pasti ahli dalam bidang bisnis dan hukum, berniat untuk mengambil alih kepemilikan United dari Glazer. Tapi upaya mereka tetap nihil dan tidak menghasilkan apa-apa. Ngenes emang, kasian juga kadang-kadang kalo liat fans MU, tapi kalo diingetin sama kesombongan mereka di grup neraka, auto pengen ngakak lagi.

Sudah banyak aksi dan tindakan yang dilakukan oleh fans MU untuk melengserkan Glazer, maka dari itu demo yang kemarin ramai terselenggara sebelum kick off Northwest Derby seolah bukan hal baru. Hanya saja menjadi terlihat lebih membara karena didukung oleh beberapa tokoh sepak bola baik dari lingkup mantan pemain United sendiri, maupun mantan pemain rival. Bahkan perdana menteri Inggris juga ikutan nimbrung menyoroti aksi tersebut.

Demo yang mengakibatkan tertundanya laga MU vs Liverpool itu bukan tanpa alasan, setidaknya ada 4 tuntutan yang diajukan oleh fans MU yang menamai diri mereka Manchester United Supporters Trust (MUST). Nih patut dicontoh buat anak-anak muda dalem negeri, kalo demo itu setidaknya tahu apa yang didemokan dan apa tuntutan yang akan diajukan. Bukan sekedar joget tiktok ditengah jalan ya kawan-kawan. Keempat tuntutan itu saya rangkum sebagai berikut:

  1. Pihak klub harus menjalin komunikasi yang baik dan mendukung wacana yang saat ini sedang dipertimbangkan oleh pemerintah Inggris, dimana penggemar bisa mempunyai peran untuk menyeimbangkan struktur kepemilikan yang ada saat ini, harapannya hak kepemilikan klub bisa kembali di tangan penggemar.
  2. Merekrut direktur klub dimana perannya adalah fokus pada sepak bola, bukan menjadi kacung pemilik untuk memperkaya diri mereka.
  3. Bekerjasama dengan MUST dan basis penggemar United lainnya dimana penggemar diberi kesempatan memiliki saham di klub, supaya mereka berhak untuk menyuarakan aspirasi demi keberlangsungan hidup klub. Baik itu dengan Glazer menjual saham sepenuhnya kepada pihak penggemar, atau dengan skema 50+1 pokoknya penggemar harus yang mayoritas (macem klub Jerman gitu loh bro).
  4. Menjalani musyawarah atau konsultasi dengan penggemar terkait keputusan besar di klub, seperti kompetisi apa saja yang nantinya akan diikuti oleh klub (nyindir ESL ceritanya ini cuy).

Jika kita lihat secara kasat mata, tekanan yang terus menerus mengalir ke Glazer Family seharusnya bisa melengserkan posisi mereka di klub, atau paling tidak mengubah tingkah laku mereka supaya tidak semau-maunya menjadikan United sapi perahnya tanpa memikirkan performa dan prestasi klub diatas lapangan. Seperti yang kita ketahui, kapan terakhir kali United mengangkat trofi? 2017 silam Hyung, penulis artikel ini bahkan belum punya KTP waktu itu. Secara finansial berkat campur tangan Ed Woodward, United memang masih terbilang baik di keadaan yang menyedihkan dengan puasa gelar seperti sekarang ini, tapi mau sampai kapan fans MU bisa tahan melihat klubnya bertransformasi menjadi klub komersial alih-alih klub sepak bola seutuhnya?! Coba Glazer Family, hitung sendiri kemunduran kalian dengan detak arloji yang kalian miliki.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *