Mengenal Peran Sporting Director Dalam Klub Sepak Bola

spot_img

Tak bisa dipungkiri bahwa sepak bola bukan lagi tentang olahraga semata. Seiring dengan perkembangan zaman, sepak bola telah bertransformasi menjadi sebuah industri. Bahkan, klub sepak bola sudah menjalankan roda bisnisnya laiknya sebuah perusahaan.

Dengan makin banyaknya investor dan perputaran uang yang sangat besar, risiko finansial dalam industri bisnis sepak bola juga ikut meningkat. Klub sepak bola sudah bukan mengejar gelar semata. Keuntungan finansial sebagai nyawa sekaligus roda kehidupan klub juga perlu dipikirkan.

Untuk itulah, di era modern ini, banyak klub sepak bola telah memperkerjakan seorang Director of Football. Director of Football atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sporting Director adalah sebuah peran baru dalam dunia sepak bola yang hanya dalam waktu singkat telah menjadi bagian penting di klub sepak bola modern.

Jadi, apa itu Sporting Director, dan apa peran yang ia emban di klub sepak bola? Berikut Starting Eleven ulas untuk Anda.

Secara sederhana, seorang sporting director atau direktur olahraga adalah orang yang jadi perantana pelatih dan pemilik klub yang diwakili seorang CEO. Tugas mereka adalah menjembatani keinginan pelatih kepada pemilik atau sebaliknya dengan tujuan agar klub dapat berjalan se-visi.

Namun, perlu diketahui bahwa tanggung jawab sporting director berbeda-beda tergantung pada beberapa faktor, seperti; di negara mana mereka bekerja, di liga/level apa mereka beroperasi, dan di jenis klub apa mereka bekerja. Peran semacam ini sudah lama ada dan mengakar baik di iklim sepak bola Italia, Spanyol, dan Jerman, tetapi lain halnya dengan iklim sepak bola Inggris.

Peran semacam direktur olahraga tidaklah lazim di sepak bola Inggris. Bahkan, di era kejayaan Sir Alex Ferguson dan Arsene Wenger, peran sporting director dianggap tidak dibutuhkan. Hal ini disebabkan karena peran tersebut cukup diemban oleh seorang manajer yang juga bertindak sebagai pelatih kepala. Saat Jose Mourinho menjabat sebagai pelatih Manchester United, ia juga menolak adanya sporting director yang dianggapnya akan menghalangi kinerjanya.

Namun, belakangan ini, klub-klub Inggris mulai mempekerjakan sporting director. Fenomena ini dimulai sejak klub-klub Liga Inggris kedatangan investor kaya dari berbagai belahan dunia. Meski begitu, penamaan dan tugas yang dilakukan beberapa Sporting Director di klub Liga Inggris sedikit berbeda dengan sporting director di Liga Italia, Spanyol, atau Jerman.

Peran direktur olahraga sendiri memiliki banyak penamaan berbeda, seperti; Technical Director (Direktur Teknik), Head of Football (Kepala Sepak Bola), Head of Football Relations (Kepala Hubungan Sepak Bola) atau Director of Football (Direktur Sepak Bola). Namun, meski punya penamaan yang beragam, mereka punya prioritas tanggung jawab yang kurang lebih sama, yakni:

  1. Mendukung manajer atau pelatih tim utama,
  2. Wajib memiliki hubungan yang baik dengan pemilik dan staff lainnya,
  3. Memperkerjakan kepala departemen klub,
  4. Merancang dan mengawasi filosofi bermain yang jelas di semua tim, dari tim akademi hingga tim utama,
  5. Mengembangkan dan memelihara jaringan scouting pemain, termasuk mengepalai kepala pencari bakat,
  6. Memastikan logistik pemain terpenuhi, dan
  7. Bertanggung jawab di pasar bursa tranfer pemain, baik menjual atau membeli pemain.

Kepada bundesliga.com, Michael Zorc, salah satu sporting director paling berpengaruh saat ini menjelaskan dengan detail peran ia lakukan di Borussia Dortmund. Menurut keterangannya, tugas sporting director tak sekadar meyakinkan pemain untuk menandatangani kontrak.

“Saya juga bertanggung jawab atas filosofi di klub dari tim muda hingga tim utama. Saya mendiskusikan gaya permainan dengan pelatih, dan tim yunior akan mengikuti itu. CEO menangani anggaran yang dimiliki. Selain membeli, menjual, dan memperpanjang kontrak pemain, saya juga seseorang yang dapat mereka ajak bicara selain pelatih. Saya selalu bersama tim selama pertandingan. Saya menghadiri semua sesi latihan dan bahkan akan sering makan dengan para pemain sehingga mereka tahu seseorang dari klub sedang mengawasi mereka.” kata Michael Zorc, Sporting Director Borussia Dortmund dikutip dari bundesliga.com

Lalu, kompetensi seperti apa yang dibutuhkan untuk menjadi seorang Sporting Director?

Untuk menjadi seorang Sporting Director yang bekerja dibalik layar tak memerlukan latar belakang khusus. Orang dengan berbagai latar belakang bisa menjadi Sporting Director, entah dia merupakan mantan pemain, pelatih atau seorang ahli keuangan. Yang terpenting, dia sudah punya pengalamanan bekerja di klub sepak bola.

Seperti John Murtough. Ia adalah Sporting Director pertama dalam sejarah Manchester United. Murtough yang baru ditunjuk awal Maret lalu adalah lulusan Sports Science dan Sports Pyschology yang sudah bekerja di Manchester United sejak 2013 silam.

Sebelum jadi direktur olahraga, ia adalah Kepala Pengembangan Sepak Bola Manchester United dan jadi salah satu tokoh penting dalam pembentukan tim sepak bola wanita The Reds Devils. Murtough akan bekerja bersama Darren Fletcher yang ditunjuk sebagai dirtek MU.

Konsep tersebut sama seperti yang dilakukan AC Milan. Sejak dimiliki Elliot Management, rossoneri mempekerjakan Paolo Maldini sebagai Technical Director dan Ricky Massara sebagai sporting director-nya. Keduanya bekerja berbarengan dengan Maldini yang fokus di sektor teknis dan Massara yang berfokus di sektor scouting dan finansial.

Lain halnya dengan Ralf Rangnick yang berlatar belakang pelatih. Dia adalah seorang pelatih yang ditunjuk sebagai sporting director RB Salzburg dan RB Leipzig pada 2012-2020 lalu. Meski berlatar belakang pelatih, Rangnick punya jaringan scouting yang luas, mampu membaca tren dengan baik, dan paham akan finansial klub sepak bola.

Seperti yang kita ketahui, RB Salzburg dan RB Leipzig banyak menghasilkan pemain muda berbakat yang akhirnya dijual mahal. Selama masa jabatannya, nilai pasar klub Red Bull naik dari 120 juta euro menjadi 1,2 miliar euro. Selain itu, Rangnick juga sukses menanamkan filosofi menyerang di klub yang ia tangani. Hasilnya, perlahan tapi pasti, prestasi RB Leipzig terus membaik dan jadi calon juara Bundesliga meski klub tersebut baru terbentuk pada 2009 silam.

Jeli dalam mencari pemain berbakat dan paham keuangan klub jadi 2 hal yang wajib dikuasai bila ingin menjadi Sporting Director. Selain nama-nama tadi, Monchi, director of football Sevilla adalah contoh sukses lainnya. Ia adalah mantan kiper sekaligus legenda Sevilla. Monchi ditunjuk sebagai direktur olahraga pada tahun 2000 pasca Sevilla terdegradasi dari La Liga.

Monchi punya 2 tugas utama, yaitu mengembangkan sistem akademi klub dan menerapkan kebijakan scouting pemain yang luas baik di dalam maupun di luar Spanyol. Di bawah kendali Monchi, Sevilla sukses memenangi 11 trofi, termasuk 6 trofi Liga Europa yang 3 diantaranya diraih secara beruntun.

Selama ia menjabat, Sevilla juga sukses mendatangkan pemain yang di kemudian hari dijual mahal, seperti Sergio Ramos, Jesus Navas, Dani Alves, Julio Baptista, Ivan Rakitic, dan masih banyak lagi. Monchi mengaku bahwa salah satu kunci suksesnya adalah membuat keputusan tepat berdasarkan data dan rekomendasi pemandu bakat.

“Kami membandingkan sudut pandang subjektif pemandu bakat dengan kriteria objektif data. Kami punya data kecil bertahun-tahun lalu. Jika seorang pemain berkaki kiri atau kanan, itu juga merupakan data. Kendati demikian, kami tidak bisa mengabaikan sudut pandang pemandu bakat. Kami menggabungkan kedua pendekatan tersebut,” kata Monchi dikutip dari bolaskor.com (3/1).

Selain nama-nama tadi, direktur olahraga yang juga tak kalah tenar dan sukses adalah Txiki Begiristain di Manchester City, Michael Edwards di Liverpool, Leonardo Araujo di PSG, Piero Ausilio di Inter Milan, Sven Mislintat di Stuttgart, dan Luis Campos di Lille.

Contoh-contoh tadi jadi bukti bahwa seorang sporting director yang baik akan meningkatkan kesuksesan klub, baik prestasinya maupun kesuksesan finansial klub itu sendiri. Idealnya, klub bisa mempekerjakan seorang Direktur Olahraga dengan latar belakang bisnis dan sepak bola untuk meminimalkan risiko finansial yang terkait dengan keputusan yang ia buat.

Namun yang pasti, sporting director bukanlah peran tradisional yang mudah dijalankan. Selain memastikan klub tak salah mengambil keputusan di bursa transfer pemain, seorang direktur olahraga juga mesti memastikan kontinuitas di dalam klub.

Faktanya, di Premier League saja, seorang manajer rata-rata hanya dapat bertahan selama 14 bulan saja sebelum dipecat dan diganti manajer lainnya. Pergantian itu jelas akan mengubah struktur kepelatihan dan pemain baru yang mungkin dibawa sesuai kebutuhan di manajer. Akibatnya, perombokan skuad sangat mungkin terjadi yang tentunya akan memiliki konsekuensi finansial yang signifikan.

Oleh karena itu, penting bagi klub sepak bola modern untuk memiliki seorang Sporting Director yang memiliki filosofi, visi, dan program jangka panjang yang jelas. Dengan demikian, klub sepak bola akan merekrut pelatih, staf, dan pemain agar sesuai dengan filosofi yang diterapkan sporting director-nya. Dengan begitu, kesuksesan baik di dalam maupun di luar lapangan hanya tinggal menunggu waktu saja.

Sumber Referensi: Bundesliga, Sportskeeda, Training Ground, Jobs in Football, FC Business

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru