Bagaimana Romelu Lukaku Menjadi Pemain Yang Menginspirasi Inter Raih Scudetto?

  • Whatsapp
Bagaimana Romelu Lukaku Menjadi Pemain Yang Menginspirasi Inter Raih Scudetto
Bagaimana Romelu Lukaku Menjadi Pemain Yang Menginspirasi Inter Raih Scudetto

Pada Agustus 2019 lalu, para penggemar Inter banyak yang mengkritik keputusan Antonio Conte dalam merekrut penyerang Romelu Lukaku. Sejatinya, hal tersebut terasa wajar. Inter ketika itu masih memiliki Mauro Icardi di lini depan. Penyerang asal Argentina itu punya rapor yang terbilang baik ketika membela Inter Milan. Dia tajam dan selalu menjadi andalan di lini serang dalam beberapa musim ke belakang.

Disisi lain, Romelu Lukaku yang didatangkan Antonio Conte dari Manchester United seharga 80 juta euro dan menjadi rekor klub, cuma mampu mengemas sebanyak 15 gol saja dalam 45 kesempatan yang dijalani. Jelas hal tersebut memberi kekhawatiran tersendiri kepada berbagai pihak.

Bacaan Lainnya

Namun Antonio Conte tentu tidak asal-asalan dalam membeli pemain. Dia sudah punya perhitungan matang untuk mendatangkan penyerang asal Belgia itu. Conte sudah sangat lama mengamati Lukaku, bahkan ketika dia masih tercatat sebagai pelatih Chelsea.

Ya, pada tahun 2016 silam, Conte begitu ngotot ingin mendatangkan Romelu Lukaku. Sayangnya, manajemen the Blues tidak bisa memenuhi itu. Beruntung, di tahun 2019 lalu, dia punya kesempatan kedua dan berhasil mewujudkan mimpinya untuk bisa bekerja sama dengan Romelu Lukaku.

Seperti yang sudah disinggung, Conte memang tak asal-asalan dalam mendatangkan Romelu Lukaku. Meski sang pemain tampil loyo di Old Trafford, dia langsung nyetel dengan sistem yang diterapkan oleh pelatih asal Italia tersebut.

Disinilah, awal dari kontribusi besar Romelu Lukaku atas bangkitnya kejayaan Inter di persepakbolaan Italia.

Tanpa keraguan sedikitpun, Conte langsung memplot Lukaku sebagai penyerang Inter Milan, dengan menyingkirkan nama Mauro Icardi yang dilego ke Paris Saint Germain. Sepanjang tahun 2019 sejak bergabung dengan La Beneamata, Lukaku langsung mampu kejutkan banyak pihak.

Sebetulnya, ini bukan merupakan kejutan. Pasalnya, seperti yang dikatakan Conte, Lukaku memang punya kemampuan superior. Empat bulan pertamanya bersama Inter, Lukaku berhasil mencetak 14 gol dari 22 pertandingan yang dijalani. Bahkan, dia mampu menyamai catatan Ronaldo de Lima sebagai pemain yang berhasil mencetak sembilan gol dalam sebelas laga awal Serie A.

Perlahan tapi pasti, perannya di skuad Inter Milan semakin krusial hingga mampu membawa klub berjuluk I Nerazzurri meraih gelar juara Serie A untuk kali pertama, sejak tahun 2010 silam.

Lantas, yang jadi pertanyaan, bagaimana Romelu Lukaku kemudian bisa disebut sebagai pemain yang mampu menginspirasi Inter Milan dalam meraih gelar juara? Jawabannya adalah karena memang dia punya peran krusial di tim, yang tidak hanya dalam hal mencetak gol saja, namun juga dalam memberi assist sampai membuka ruang bagi pemain lain.

Musim pertamanya di Serie A, Lukaku memang tampil bagus tapi dia gagal membawa Inter juara, setelah kalah di final Liga Europa sekaligus kalah dalam perburuan gelar Serie A dari Si Nyonya Tua.

Namun musim ini, dalam 33 pertandingan yang dijalani di liga, Lukaku berhasil mencetak setidaknya 21 gol. Lukaku disebut sebagai pemain yang cerdas, setelah nyaris dalam setiap pertandingan, dia selalu tampil hebat dengan kontribusi luar biasanya.

Lukaku mampu memenuhi potensinya sekaligus mengubah dirinya jadi pemain yang jauh lebih berkembang dari sebelumnya.

“Hanya Lewandowski dan Haaland yang berada di levelnya,” kata Ivan Zamorano, legenda Inter.

Sementara itu, penyerang legendaris asal Jerman, Jurgen Klinsmann, juga menyebut Lukaku sebagai pemain yang tidak mementingkan diri sendiri. Hal itu sangat selaras dengan performa apiknya sepanjang musim ini. Dia mampu memberi manfaat bagi pemain lain hingga menjadikan klub tampil prima dalam setiap pertandingan.

Sekali lagi, ilustrasi sempurna dari perubahan yang diperlihatkan Lukaku dari sebelumnya adalah bukan menyoal tentang jumlah gol saja, namun beberapa hal lain termasuk assist, dimana dia sudah mencatatkan sebanyak sembilan umpan terukur kepada rekan setimnya yang kemudian bisa dikonversi menjadi gol.

Catatan itu jelas sangat luar biasa, mengingat dalam 37 pertandingannya di Liga Primer Inggris Lukaku sama sekali gagal sumbangkan assist.

Dalam pertandingan melawan Cagliari, dimana Inter hanya bisa memetik kemenangan satu gol lewat aksi Matteo Darmian, Romelu Lukaku terbilang mampu memberi kontribusi yang cukup penting dari proses terjadinya gol.

Bermula dari akselerasi Achraf Hakimi di sisi lapangan, Lukaku bertugas sebagai pemain yang menahan, mengontrol, sekaligus memberikan bola kembali kepada eks pemain Borussia Dortmund tersebut. Hasilnya, Hakimi bisa dengan mudah mendapatkan bola dan mengirim umpan kepada Darmian yang berada di posisi yang sangat diuntungkan.

Kemudian di laga melawan Sassuolo, Inter berhasil memetik kemenangan tipis 2-1 sehingga menjaga asa mereka untuk bisa meraih gelar. Di laga itu, Lukaku memang berhasil mencetak gol lewat tandukan luar biasanya. Akan tetapi, jangan lupakan pula ketika dengan brilian, dia memberi umpan kepada Lautaro Martinez untuk kemudian berbuah gol.

Dalam prosesnya, Lukaku terlihat berhasil menguasai bola sebelum akhirnya mengelabuhi lawan. Melihat Lautaro Martinez yang terus berlari ke depan, tanpa pikir panjang, dia langsung memberi umpan sempurna yang berhasil dikonversi menjadi gol.

Itu merupakan assist kelima yang diberikan Lukaku kepada Martinez, hingga membuat kedua pemain tersebut dijuluki sebagai salah satu duet terbaik musim ini.

Yang tak kalah hebat dan tentunya tidak akan dilupakan oleh para penggemar Inter Milan adalah aksinya dalam pertandingan derby melawan AC Milan. Disitu, dia bertindak sebagai pemain yang benar-benar berkontribusi besar bagi tim.

Pertama, dia mampu memberi assist luar biasa kepada Lautaro Martinez, setelah sebelumnya memenangkan duel melawan Alessio Romagnoli melalui adu kecepatan. Lukaku sejatinya sempat mengirim umpan di awal. Namun aksinya terhalang oleh Simon Kjaer. Kemudian, kecerdasan memaksa dirinya untuk mencari celah dan mengirim umpan lambung yang langsung diselesaikan oleh penyerang asal Argentina lewat tandukan mematikan.

Kemudian, Lukaku berhasil mencetak gol penutup Inter Milan melalui aksi yang spektakuler. Dia berlari seperti pemain yang tak mungkin dihentikan sebelum akhirnya melepas tendangan roket ke sisi kanan gawang Gianluigi Donnarumma.

Dengan sejumlah fakta tersebut, Lukaku bisa dibilang sebagai pemain yang mampu mengambil keputusan dengan cepat dan tepat. Dia memiliki sentuhan luar biasa dalam permainan hingga membuat banyak rekan setimnya terbantu. Kemudian, yang lebih penting adalah, hal tersebut dilakukannya secara konsisten. Nyaris dalam setiap pertandingan Lukaku menjadi momok menakutkan bagi lawan.

Hal itu pula yang membuatnya disebut sebagai pemain yang menginspirasi Inter Milan meraih gelar juara, sekaligus membuatnya menjadi pemain yang lebih percaya diri.

Menurut catatan Sky Sport, Lukaku sejauh ini, selain berhasil ciptakan 21 gol dan 9 assist, juga sukses melepas tendangan ke gawang lawan sebanyak 81 kali, menciptakan peluang emas sebanyak 10 kali, dan melakukan dribble sempurna sebanyak 46 kali. Itu semua menjadi yang tertinggi dari pemain lain di Inter Milan pada musim ini.

Yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana Romelu Lukaku bisa menjadi pemain yang begitu berkembang di Inter Milan? Jawabannya tentu kembali ke Antonio Conte. Ya, kepercayaan yang diberikan Conte sukses membuat Lukaku tampil lebih percaya diri. Selain itu, ada beberapa metode yang diberikan sehingga Lukaku menjelma menjadi pemain yang lebih komplit.

Pertama, Conte memiliki sistem latihan yang sangat keras. Berfokus pada latihan fisik, Conte sukses menjadikan Lukaku sebagai pemain yang jauh lebih kuat dan superior. Pada awalnya, Lukaku sempat mengeluh dengan metode latihan fisik yang diterapkan Conte. Namun ternyata hal itu menjadi yang sangat berguna baginya dalam setiap pertandingan.

Lukaku bahkan mengaku bila bergabung dengan Inter merupakan titik balik dari keterpurukan yang diterima sebelumnya.

“Aku pikir, aku telah kembali temukan diriku yang sesungguhnya,” ucap Lukaku (via Sky Sport)

Berikutnya, Conte dianggap Lukaku sebagai seorang motivator handal. Di luar lapangan, menurut Lukaku, Conte bisa menjadi pria yang sangat menakutkan. Pernah ketika Inter kalah dalam pertandingan Liga Champions, Conte begitu marah dengan Lukaku yang disebut tampil buruk. Teriakan dan cacian keluar dari mulut sang pelatih. Akan tetapi, Lukaku justru merespon positif. Dia menyadari bila hal itu telah mengubahnya menjadi pemain yang jauh lebih kuat.

Gertakan yang digabungkan dengan sistem permainan sempurna dari Antonio Conte, berhasil membuat Lukaku memiliki peran yang sangat penting di kubu biru-hitam.

Apa yang diterapkan Conte kepada Lukaku memang memungkinkan sang pemain tampil sesuai harapan. Conte memberi kebebasan sekaligus kepercayaan penuh kepada Lukaku untuk mengeksplorasi lapangan. Dengan kekuatan serta kecepatan yang dimiliki, Lukaku pun berhasil menjadi pemain yang telah temukan performa apiknya.

 

Sumber referensi: Sky Sport, Panditfootball, Fandom

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *