Perjalanan Panjang Sporting Lisbon Akhiri Puasa Gelar 19 Tahun

  • Whatsapp
Perjalanan Panjang Sporting Lisbon Akhiri Puasa Gelar 19 Tahun
Perjalanan Panjang Sporting Lisbon Akhiri Puasa Gelar 19 Tahun

Selasa malam waktu setempat, suasana kota Lisbon seketika berubah menjadi lautan pesta para pendukung klub sepak bola berjersi hijau dan putih. Bagaimana tidak, setelah menunggu selama 19 tahun lamanya, para pendukung Sporting Lisbon itu akhirnya bisa kembali berpesta usai tim yang mereka dukung kembali juara Liga Portugal. Selasa, 11 Mei 2021, Sporting Lisbon sukses memastikan diri keluar sebagai juara Liga Primeira Portugal musim 2020/2021.

Ribuan pendukung langsung merayakan pesta juara Sporting Lisbon. Meski masih dalam kondisi pandemi Covid-19, para penggemar Sporting Lisbon tetap mengenakan jersey, syal dan bernyanyi sepanjang malam bersama kerabat dan keluarganya merayakan gelar juara Liga Portugal yang sudah mereka nantikan begitu lama.

Sebelumnya, kepastian juara berhasil Sporting Lisbon dapat di pekan ke-32. Klub berjuluk Leones alias The Lions itu sukses menundukkan Boavista 1-0 di Stadion Jose Alvalade. Gol tunggal Paulinho di menit ke-36 sudah cukup untuk mengunci gelar juara liga Portugal musim ini.

Selain menjadi gelar Liga Portugal ke-19, keluarnya Sporting Lisbon sebagai juara liga Portugal musim ini juga sukses menghentikan dominasi Porto dan Benfica yang silih berganti menjuarai liga Portugal selama 19 tahun terakhir. Terakhir kali Sporting Lisbon bisa menjuarai Liga Portugal terjadi pada musim 2001/2002.

Jadi, bagaimana kisah perjuangan Sporting Lisbon dalam mengakhiri puasa gelar selama 19 tahun? Berikut analisisnya.

Lahir dengan nama Sporting Clube de Portugal pada 1906, klub yang bermarkas di Estadio Jose Alvalade itu merupakan anggota “Os Tres Grandes” atau The Big Three. Julukan tersebut disematkan kepada 3 klub tersukses di Portugal, yakni Sporting Lisbon, Benfica, dan FC Porto yang nyaris selalu mendominasi persaingan di Liga Primeira Portugal.

Sejak 1934, anggota The Big Three tak pernah terdegradasi dari kasta pertama dan hanya gagal meraih juara liga di 2 kesempatan, yakni di musim 1945/1946 dan 2000/2001. Sisanya, gelar juara selalu berpindah dari tangan Benfica, Porto, atau Sporting Lisbon. Namun, dibanding 2 rivalnya itu, gelar Sporting Lisbon masih kalah jumlah.

Benfica jadi pengoleksi gelar terbanyak. Rival sekota Sporting Lisbon itu sudah menjuarai liga sebanyak 37 kali. Menyusul kemudian Porto dengan 29 gelar liga. Dalam 19 tahun terakhir, Sporting Lisbon juga terus berada di bawah bayang-bayang Benfica yang juara 7 kali dan Porto yang juara 11 kali.

Berbagai upaya telah dilakukan Sporting Lisbon untuk mendobrak dominasi 2 rivalnya itu. Dari menunjuk pelatih berpengalaman hingga mendatangkan pemain-pemain terbaik ke dalam skuad. Namun, gebrakan cukup mengejutkan justru dibuat manajemen Sporting Lisbon jelang musim 2020/2021.

Mereka memulai liga musim ini dengan pelatih barunya Ruben Amorim. Penunjukan Amorim pada Maret 2020 cukup menyita banyak perhatian. Pasalnya, Amorim yang masih berusia 36 tahun adalah pelatih muda minim pengalaman yang baru mencicipi persaingan Liga Portugal selama 3 bulan terakhir.

Direktur olahraga Sporting Lisbon, Hugo Viana tak hanya bertaruh dengan memberi kepercayaan kepada mantan rekan satu timnya itu, tetapi juga harus menebus Ruben Amorim dari SC Braga dengan biaya transfer 10 juta euro. Diketahui, biaya transfer itu menjadikan Amorim manajer termahal keempat di Eropa.

Keberanian Sporting Lisbon menunjuk Ruben Amorim sebenarnya cukup beralasan. Selama 13 laga melatih SC Braga, ia berhasil membawa klub tersebut meraih 10 kemenangan dan hanya menelan 2 kekalahan. Keseriusan Sporting Lisbon dengan potensi Ruben Amorim ditunjukkan dengan durasi kontrak hingga 30 Juni 2023 dan memagarinya dengan klausul rilis sebesar 20 juta euro.

Selain mengontrak pelatih muda, secara mengejutkan, Sporting Lisbon yang finish di posisi keempat musim lalu justru melego banyak pemain andalannya. Selain menjual Bruno Fernandes ke Manchester United dengan bayaran nyaris 80 juta euro, mereka juga ditinggal pemain utamanya seperti, Raphinha, Bas Dost, Marcos Acuna, dan Wendel yang hijrah ke klub lain.

Dengan kondisi itu, perombakan skuad besar-besaran dilakukan Ruben Amorim sebelum memulai musim 2020/2021. Dari 10 pemain bertahan di musim sebelumnya, Amorim hanya mempertahankan 5 diantaranya. Situasi di lini tengah lebih ekstrem. Amorim hanya mempertahankan 3 dari 10 gelandang di musim lalu. Setali tiga uang, dari 9 penyerang, pelatih 36 tahun itu hanya mempertahankan 5 diantaranya. Total, ia hanya mempertahankan 15 pemain dari 32 pemain yang terdaftar di musim sebelumnya.

Untuk mengisi kekosongan itu, beberapa nama baru didatangkan. Menariknya, pembelian pemain termahal Sporting Lisbon di musim panas lalu hanya Pedro Goncalves yang ditembus seharga 6,5 juta euro dari Famalicao. Menyusul kemudian ada winger kiri Nuno Santos dan Zouhair Feddal yang masing-masing dibeli dari Rio Ave dan Real Betis dengan harga 3,7 juta euro dan 2,15 juta euro saja.

Selain itu, Sporting Lisbon juga mendatangkan beberapa pemain berpengalaman. Salah satunya adalah gelandang Joao Mario yang dipinjam dari Inter Milan. Selain Mario, kiper 33 tahun asal Spanyol, Antonio Adan juga ditembus secara gratis dari Atletico Madrid. Lebih mengejutkan lagi, untuk memenuhi skuadnya, Ruben Amorim lebih banyak mempromosikan pemain muda dari tim U-23, seperti Matheus Nunes, Jovane Cabral, Tiago Tomas, Nuno Mendes, Daniel Braganca, dan Goncalo Inacio.

Berkat perombakan tersebut, skuad Sporting Lisbon musim ini tercatat punya rata-rata usia termuda keempat di liga (24,8 tahun). Bisa dibilang, Sporting Lisbon memadukan mayoritas pemain mudanya dengan beberapa pemain senior. Para bintang muda minim pengalaman yang baru promosi ke tim utama bahkan jadi pemain andalan Sporting Lisbon musim ini.

Di bawah asuhan Ruben Amorim, Sporting Lisbon bermain dengan formasi 3-4-2-1. Posisi penjaga gawang jadi milik Antonio Adan. Trio bek tengah ditempati Luis Neto, Zouhair Feddal, dan sang kapten Sebastian Coates. Wingback kanan ditempati Pedro Porro, sementara wingback kiri jadi milik Nuno Mendes. Duo gelandang tengah jadi milik Joao Palhinha dan Joao Mario. Sementara itu, trio penyerang ditempati Nuno Santos, Pedro Goncalves, dan ujung tombak Paulinho.

Kolektvitas jadi hal utama yang paling ditekankan. Dengan formasi tersebut, pertahanan Sporting Lisbon tampil begitu kokoh. Ketika dalam posisi bertahan, 2 wingback akan turun membantu pertahanan dan membentuk formasi 5 bek. Dalam hal ini, Pedro Porro, pemain 21 tahun pinjaman dari Manchester City dan Nuno Mendes yang baru berusia 18 tahun jadi kuncinya. Pasalnya, dalam fase menyerang, keduanya akan maju dan membantu trio penyerang Sporting Lisbon.

Sementara itu, 2 gelandang bertahan menutup ruang antarlini ketika posisi bertahan sembari bersiap melakukan serangan balik. Keduanya jadi pelindung lini tengah ketika 2 wingback maju membantu serangan. Hasilnya, sepanjang musim ini, Sporting Lisbon baru kebobolan 19 gol. Pertahanan mereka jadi yang paling kokoh dan paling sedikit kebobolan.

Sporting Lisbon juga tercatat sebagai tim ketiga dengan intensitas pressing tertinggi di liga. Skema Counter pressing di sepertiga akhir dan permainan cepat di area lawan membuat para pemain Sporting Lisbon sudah mencetak 60 gol dari 33 laga. Mereka jadi tim terproduktif ketiga setelah Porto dan Benfica.

Gelandang serang Pedro Goncalves jadi pemuncak daftar top skor Sporting Lisbon. Pemain 22 tahun itu sepertinya jadi pengganti sepadan Bruno Fernandes. Hingga pekan ke-33, ia sudah mencetak 20 gol dan 4 asis. Jumlah golnya berhasil menyamai striker Benfica, Haris Seferovic yang jadi top skor Liga Primeira Portugal. Sementara itu, dua rekannya di lini serang, Nuno Santos dan Paulinho masing-masing telah mengemas 7 dan 6 gol. Nuno Santos, winger 26 tahun yang juga baru didatangkan musim ini juga sudah mengemas 6 asis.

Di lini belakang, Antonio Adan dan Sebastian Coates jadi kunci kokohnya pertahanan Sporting Lisbon. Adan, mantan kiper cadangan Real Madrid dan Atletcio Madrid berusia 34 tahun itu telah mencatat 19 kali clean sheets dan baru kebobolan 19 gol dalam 32 laga. Sementara Sebastian Coates, bek tengah 30 tahun asal Uruguay tampil produktif dengan sumbangan 5 golnya. Mantan pemain Liverpool itu juga bertindak sebagai kapten tim.

Dengan perpaduan skuad senior dan pemain muda minim pengalamannya, Sporting Lisbon asuhan Ruben Amorim berhasil memastikan juara Liga Primeira Portugal di pekan ke-32. Hebatnya, Sporting Lisbon memastikan juara di pekan tersebut dengan status tak terkalahkan. Mereka telah meraih 25 kemenangan dan 7 kali imbang tanpa tersentuh kekalahan.

Walaupun di pekan ke-33 mereka kalah tipis 4-3 dari Benfica, jumlah poin yang telah dikumpulkan Sporting Lisbon sudah tak mungkin mampu dikejar oleh para rivalnya. Koleksi 82 poin dalam 33 laga sudah cukup untuk menempatkan Sporting Lisbon kokoh di puncak klasemen Liga Portugal hingga akhir musim.

Penampilan apik beberapa pemain Sporting Lisbon juga berbuah panggilan ke tim nasional Portugal. Dua pemain Sporting Lisbon, Joao Palhinha dan Nuno Mendes mendapat panggilan pertamanya pada Maret lalu. Kedunya sudah mengemas 3 caps bersama timnas Portugal. Sementara itu, pelatih mereka, Ruben Amorim langsung disodori perpanjangan kontrak 1 tahun hingga 2024 dan dipagari dengan klausul rilis sebesar 30 juta euro.

Kini, para punggawa Sporting Lisbon tengah menikmati keberhasilan mereka. Selain memastikan diri menjuarai Liga Primeira Portugal, mereka juga sukses menjuarai Taca da Liga. Yang lebih penting, selain berhasil mengakhiri puasa gelarnya selama 19 tahun, Sporting Lisbon juga sukses memastikan satu tempat di Liga Champions musim depan. Itu bakal jadi penampilan pertama The Lions di Liga Champions setelah terakhir kali lolos di musim 2017/2018.

Selamat merayakan kemenangan Sporting Lisbon!

 

****

Sumber Referensi: Marca, NBC Sports, Bola Bisnis, Breaking The Lines

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *