Inilah Satu-satunya Tim Inggris Yang pernah kalahkan Bayern di Stadion olimpiade
Salah satu stadion legendaris di dunia, Olympiastadion, yang terletak di Munich, Jerman menyimpan banyak cerita. Di stadion tersebut, dua turnamen besar Olimpiade 1972 dan piala dunia 1974 pernah dilangsungkan. Selain itu, Final Liga Champions 1997 juga digelar disana.
Namun, dari sekian peristiwa bersejarah yang pernah tercipta di stadion tersebut, tentu saja, kekalahan Bayern Munchen dari tim gurem asal Inggris, Norwich City mungkin menjadi yang paling mengejutkan. Percaya atau tidak, Norwich City, yang sekarang berkompetisi di divisi kedua Inggris, dulu pernah membungkam Bayern Munchen di stadion Olimpiade Munich.
Bayern Munchen, sebelum bermarkas di Allianz Arena, dulu bermain di stadion Olimpiade Munich. Bayern memakai stadion berkapasitas 63 ribu penonton tersebut pada dari tahun 1972 hingga 2005. Kala itu mereka berbagi ruang ganti dengan klub sekota, TSV 1860.
Saat itu, Bayern Munchen begitu superior ketika bermain di stadion tersebut. Mereka sering tidak terkalahkan ketika bermain di kandang. Bayern bahkan nyaris tak pernah gagal menang setiap kali bersua tim-tim Inggris di Olympiastadion. Manchester United, Liverpool, Chelsea, Arsenal, Nottingham Forest, Everton, dan Tottenham Hotspur adalah deretan korban keangkeran kandang lama klub berjuluk Die Roten itu.
Meski begitu, Norwich City muncul sebagai sebagai pemecah kebuntuan dan menjadi satu-satunya tim negeri ratu Elizabeth yang sukses membungkam keangkeran kandang Bayern Munchen.
Hari itu pada 19 Oktober 1993 di leg pertama Putaran II Piala UEFA 1993-1994, kekuatan Norwich City kala itu sebenarnya tidak bisa dipandang remeh. Karena pada musim sebelumnya mereka sukses keluar sebagai peringkat ketiga premier league edisi perdana.
Atas kesuksesannya finis di posisi ketiga, Norwich mendapat kesempatan untuk tampil di kompetisi Eropa. Norwich datang tanpa berharap banyak akan melakukan sesuatu yang besar di Piala UEFA, dan tanpa tekanan apa pun. Undian mempertemukan mereka melawan tim kuat Bayern Munchen.
Sebagus-bagusnya Norwich, mereka tetap kalah bila dibandingkan Bayern Munchen. Posisi Bayern kala itu jelas lebih unggul. Selain bertindak sebagai tuan rumah, Bayern juga dihuni pemain-pemain bintang, seperti Lothar Matheus, Thomas Helmer dan Olaf Thon serta didukung oleh para pemuda berbakat macam Mehmet Scholl dan Christian Ziege.
Sejumlah pihak pun memprediksi jika Bayern yang akan meraih kemenangan. Sedangkan, Norwich yang belum berpengalaman tampil di kancah eropa diprediksi akan kalah dengan mudah. Situasi ini membuat Norwich merasa dipandang sebelah mata, tapi justru semakin termotivasi membuktikan kemampuan mereka. Pelatih Mike Walker bahkan berani menebar optimisme dalam konferensi pers sehari sebelum laga.
Optimisme yang dibangun Walker rupanya membuahkan hasil di luar dugaan. Norwich tampil kesetanan di Olympiastadion dan mencetak dua gol dalam hitungan setengah jam melalui aksi Jeremy Goss serta Mark Bowen.
Pada menit ke-12, Jeremy Goss, gelandang berkebangsaan Wales itu melepaskan sepakan voli sedikit dari luar kotak penalti memaksimalkan sapuan asal-asalan libero sekaligus kapten Bayern, Lothar Matthaus. Keunggulan klub berjuluk The Canaries bertambah di menit 30 usai tandukan Mark Bowen gagal diantisipasi kiper Raimond Aumann.
Ketinggalan dua gol membuat Bayern langsung bereaksi. Mereka mencoba perkecil kedudukan. Hasilnya manjur, heading Christian Nerlinger di muka gawang Norwich menyambut umpan silang Jorginho menipiskan skor jelang turun minum.
FC Hollywood melanjutkan tekanan sambil berharap bisa membalikkan kedudukan sepanjang babak kedua. Akan tetapi, kiper Norwich, Bryan Gunn, bermain gemilang dan menggagalkan seluruh upaya gol Lothar Matthaus dkk. Sampai peluit akhir dibunyikan, Bayern tak mampu ciptakan gol tambahan dan harus puas menyerah dari tim gurem Norwich City.
Kabar Norwich sukses menjungkalkan Bayern bertebaran di halaman muka sejumlah surat kabar Inggris seperti The Times, Daily Telegraph, The Independent, dan Daily Mail. Sensasi Norwich berlanjut di leg kedua. Tim dengan identik warna kuning itu menahan imbang Bayern Munchen 1-1 sehingga berhak melaju ke babak berikutnya dengan keunggulan 3-2 secara agregat.
Namun sayang, langkah gagah Norwich City harus terhenti di Putaran III akibat tumbang dari Inter Milan, yang kemudian merengkuh Piala UEFA musim itu. Mereka bertekuk lutut 0-1 di kandang maupun tandang. Meski begitu, Norwich City boleh bangga akan prestasinya menumbangkan Bayern Munchen.
Kisah Tragis Perjalanan Karir Pemain Yang Memilih Nomor Punggung 0
Dunia sepakbola pernah dibuat geger oleh pemain bernama Hicham Zerouali. Betapa tidak, pesepakbola asal Aljazair ini pernah mengenakan nomor punggung yang tak lazim dalam sepakbola. Bila umumnya seorang pemain memakai nomor 1-30, meski juga ada pemain yang memakai nomor di atas 30, namun Zerouali memilih tampil beda. Ia mengejutkan banyak pihak dengan memakai nomor punggung 0. Nomor yang kemudian identik dengan dirinya.
Berlatar belakang sebagai orang Maroko, Zerouali dijuluki sebagai “The Moroccan Magician”. Pemain kelahiran 17 januari 1977 ini memulai karir profesional di klub lokal FUS de Rabat, sebelum bergabung dengan Aberdeen, sebuah klub di liga Skotlandia pada tahun 1999. Pelatih Aberdeen kala itu, Ebbe Skovdahl tertarik merekrut Zerouali karena ketrampilan olah bolanya yang cukup bagus. Klub dari Skotlandia tersebut harus mengeluarkan 450 ribu pounds untuk transfer Zerouali.
Bersama Aberdeen, Zerouali memilih nomor punggung 0. Uniknya, dia memilih nomor punggung 0 hanya karena penyebutan 0 dalam bahasa Inggris sesuai dengan nama bekennya, yakni Zero yang diambil dari Zeroali.
Yang lebih mengherankan, Asosiasi Sepakbola Skotlandia (SFA) dan Liga Premier Skotlandia (SPL) memberikan izin kepada Zerouali.
Padahal, dalam regulasi FIFA jelas tertulis bahwa nomor punggung pemain dari 1 sampai 99. Zerouali pun menjadi pemain pertama dan satu-satunya di Skotlandia dan Britania Raya yang menggunakan nomor punggung 0 di kompetisi resmi.
Berkat nomor punggung uniknya itu, Zerouali sukses menarik simpati fans.
Namun sayang, nampaknya nomor punggung pilihannya tidak memberi keberuntungan untuknya. Bahkan, nomor punggung yang dipakainya seakan-akan membawa kesialan bagi timnya.
Petualangan Zero dengan nomor punggungnya memang tak begitu manis. Meski ia berhasil mencetak gol-gol penting dan membawa Aberdeen ke final Piala Liga Skotlandia dan Piala Skotlandia 2000, namun ia gagal membawa timnya merengkuh dua trofi tersebut.
Selain itu, dari 11 laga ia tampil bersama Aberdeen, 9 diantaranya ia hanya berperan sebagai pemain pengganti.
Kesialan Zerouali dengan nomor punggung 0 tidak berhenti disitu saja. Beberapa pekan kemudian, Zerouali kembali mengalami kesialan karena mengenakan nomor punggung tersebut. Saat Aberdeen bertemu Motherwell di liga Skotlandia, Zerouali mengalami cedera patah pergelangan kaki. Akibatnya, Zerouali harus absen membela Maroko di Olimpiade Sydney dan ia juga tidak bisa memperkuat Aberdeen sepanjang musim 2000/2001.
Sedangkan pada musim selanjutnya, 2001/2002, Zerouali tak bisa lagi memakai nomor 0 tersebut karena SPL secara resmi mulai melarang penggunaan nomor 0 untuk dijadikan nomor punggung. Zerouali pun kemudian beralih ke nomor punggung 11.
Menariknya, nasib Zerouali membaik ketika memakai nomor punggung tersebut. Ia semakin dielu-elukan fans Aberdeen karena mencetak beberapa gol penting. Termasuk hattrick yang luar biasa ketika melawan Dundee United.
Performa apiknya bersama klub berlanjut ke tim nasional. Saat mewakili negaranya di ajang piala Afrika 2002, Zerouali mencetak dua gol dalam kemenangan 2-1 atas Burkina Faso.
Petualangan Zerouali bersama Aberdeen berakhir pada juli 2002. Zerouali yang mengemas 48 penampilan bersama Aberdeen memutuskan pindah ke klub Uni Emirat Arab, Al-Nassr. Zerouali meninggalkan Aberdeen dengan sejuta kenangan. Meski jumlah penampilannya tidak lebih dari 50 laga, namun peran penting dan juga selebrasi uniknya ketika bermain genangan air di pinggir lapangan akan selalu diingat oleh para fans.
Bersama Al Nasr, Zerouali hanya bertahan selama semusim. Ia lalu kembali ke kampung halamannya untuk memperkuat FAR Rabat. Sayangnya, karir Zerouali sebagai pesepakbola tidak bertahan lama.
Tuhan lebih dulu mengambil nyawanya saat usianya masih muda yakni 27 tahun. Zerouali meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas yang ia alami pada 5 desember 2004 di Rabat, Maroko. Tragedi itu terjadi hanya 1 hari setelah Zerouali mencetak gol untuk FAR Rabat di Liga Maroko. Dia meninggalkan seorang putri dari pacarnya yang ada di Skotlandia.
Kepergian Zerouali untuk selama-lamanya menyimpan duka yang mendalam bagi pecinta sepakbola Maroko, keluarga dan tentu saja Aberdeen. Para fans tak akan melupakan jasa Zerouali selama tiga musim pengabdiannya di klub tersebut. Sebagai penghormatan, Aberdeen mempensiunkan nomor punggung 0 untuk Zerouali dan ditempatkan di museum klub.
Mengenal Ben Davies : Bek Anyar Liverpool Berkaki Kidal
Liverpool resmi mendatangkan bek tengah barunya, Ben Davies dari Preston North End, pada bursa transfer Liga Inggris Januari beberapa hari lalu. Pemain yang kontraknya di Preston akan habis akhir musim ini didatangkan dengan biaya sangat murah, yakni hanya sebesar 2 juta pounds atau setara dengan Rp 38 miliar.
Perekrutan Ben Davies ini sebagai langkah Liverpool dalam meningkatkan sektor pertahanan mereka. Seperti diketahui, skuad asuhan Jurgen Klopp itu ditinggal oleh beberapa pemain bek tengah, yakni Virgil van Dijk, Joe Gomez, dan Joel Matip yang alami cedera parah sehingga mengharuskannya menepi dari lapangan.
Pilihan Liverpool ini cukup unik, pasalnya klub ini biasanya tidak pernah melirik pemain dari klub kasta kedua. Selain itu, Davies juga belum punya pengalaman bermain di Premier League atau kasta teratas liga Eropa
Lalu, mengapa Liverpool tertarik merekrut Ben Davies ? Siapa sebenarnya Ben Davies?
Pemain bernama lengkap Benjamin Keith Davies lahir di Barrow in Furness, Inggris pada 11 Agustus 1995. Karir sepakbolanya dimulai ketika ia bergabung dengan akademi Preston North End pada usia 11 tahun. Selama di akademi, kemampuannya dalam mengolah si kulit bundar semakin terasah.
Berkat skillnya, pada tahun 2013 Davies akhirnya berhasil menembus tim utama Preston. Ia melakukan debut saat bermain imbang 2–2 melawan Coventry City pada 26 Januari 2013 dalam usia 17 tahun. Ketika itu, tim yang dibela Davies bermain di ajang League One (kasta ketiga liga Inggris).
Namun, kebersamaan Davies dengan Preston tak berlangsung lama. Preston memilih untuk meminjamkan Davies ke sejumlah klub kasta bawah di liga Inggris. Tujuannya jelas, yakni untuk menambah jam terbang Davies dalam bermain sepakbola. Prospek pemain muda Preston sebagian besar memang dipinjamkan agar semakin berkembang.
Selama empat musim, dari 2013 – 2017, Davies dipinjamkan kepada 5 klub berbeda, dimulai dari York City, Tranmere Rovers, Southport, Newport County, dan Fleetwood Wood.
Setelah cukup puas melihat perkembangan yang dialami Davies. Preston memutuskan untuk memulangkan Davies pada 2017. Keputusan Preston memulangkan sang bek tak sia-sia. Sebab, sepanjang musim 2017/18, Davies telah menjadi palang pintu utama Preston yang berlaga di divisi Championship (kasta kedua Liga Inggris). Tampil dalam 35 laga, Davies membawa Preston finis di peringkat ketujuh klasemen akhir.
Davies dikenal sebagai bek tangguh yang punya keunggulan pada kaki kirinya. Kekuatan kaki kirinya yang dominan memang sering diandalkan timnya dalam menjaga pertahanan permainan.
Davies terus menjadi andalan untuk menahan gempuran serangan lawan. Meski musim ini, ia sempat terganggu cedera sehingga absen 7 laga, namun jika dalam kondisi fit, ia tak pernah absen membela Preston North End.
Tercatat, sebelum resmi bergabung ke Liverpool, Davies telah tampil dalam 145 laga dan mencetak 2 gol serta 34 assist di semua kompetisi bersama Preston, termasuk 19 pertandingan di musim ini.
Davies kini telah menjadi pemain Liverpool. Meski belum pernah berlaga di ajang Liga Primer Inggris, pemain berpostur 185 cm itu memiliki potensi besar untuk bersinar. Selain handal dalam menggunakan kaki kirinya, Davies juga mahir bermain dalam dua posisi, yakni sebagai bek tengah dan bek sayap kiri.
Sebagai bek, Davies bukan tipe pemain yang gampang terjatuh. Ia juga memiliki gaya bermain bola-bola jauh yang baik serta memiliki kemampuan membaca permainan yang sangat baik. Hal ini bisa dimanfaatkan Liverpool untuk menjaga keunggulan. Sebagai pemain pelapis, Ben Davies cukup layak bermain di Liverpool.
Menurut pelatih Liverpool, Jurgen Klopp, Ben Davies adalah pemain yang dibutuhkan Liverpool saat ini. Klopp melihat Davies sebagai pemain potensial. Di usianya yang masih 25 tahun, menurutnya, Davies masih bisa berkembang.
“Ben Davies adalah pemain bagus dan pintar secara taktik. Dia adalah kapten Preston North End dan terlihat seperti seorang pemimpin sejati. Ben Davies bisa bermain di berbagai posisi karena dia sudah terbiasa dengan sistem tiga bek atau empat bek. Itulah yang membuat saya tertarik dengan Ben Davies,” ujar Klopp.
Sumber Referensi : Indosport, Pikiranrakyat, Wikipedia, Bolakompas
Kapan Wasit Boleh Meniup Peluit Akhir Jalannya Pertandingan?
Dalam pertandingan sepak bola, wasit adalah pejabat yang bertugas mengambil keputusan soal apa yang terjadi selama pertandingan. Termasuk memutuskan kapan pertandingan berakhir.
Hal ini sebagaimana tercantum dalam Laws of the Game 2018/19, Law 05 (The Referee), poin 3, tentang tugas wasit yang bertindak sebagai pencatat waktu.
Untuk setiap pertandingan sepak bola profesional, waktu yang dialokasikan untuk bermain adalah dua kali 45 menit alias dua babak, dengan waktu istirahat 15 menit di antara kedua babak. Itu berarti ada total 90 menit jalannya pertandingan, tidak lebih, tidak kurang.
Beberapa orang mungkin berpikir bahwa permainan sepakbola adalah 90 menit plus tambahan, tetapi itu tidak benar. Karena, adanya waktu tambahan hanya untuk mengganti waktu yang terbuang.
Jika permainan sudah berlangsung 90 menit, maka wasit harus segera mengakhiri permainan, dimanapun bola berada saat itu, kecuali jika ada penalti. Wasit dan dibantu oleh 3 ofisial pertandingan lainnya bertanggung jawab untuk mencatat waktu dan mengakhiri permainan jika waktunya habis.
Meski begitu, tak jarang wasit membiarkan permainan tetap berjalan jika dirasa ada peluang mencetak gol, atau situasi tendangan bebas yang berbahaya.
Di saat seperti itu, meski wasit seharusnya meniup peluit akhir setelah 90 menit permainan, tetapi karena mereka adalah pihak yang memutuskan berapa banyak waktu yang mesti ditambahkan, mereka bisa bersikap sedikit fleksibel.
Wasit memang seharusnya tidak melakukan tindakan seperti itu, tetapi biasanya mereka melakukannya demi menghindari hal-hal berbau kontroversi atau konflik.
Memang tidak ada aturan yang menyebutkan bahwa wasit tidak boleh menghentikan permainan meski saat itu salah satu kesebelasan sedang dalam posisi menyerang. Namun, wasit boleh memberikan izin untuk melanjutkan permainan.
Setelah wasit meniupkan peluit akhir, aktivitas pesepakbola di dalam lapangan tidak diperhitungkan. Bahkan jika mereka mencetak gol sedetik setelah peluit akhir ditiup.
Bagi para pemain, terkadang hal ini bisa membuat mereka frustasi terutama ketika pemain merasa hanya butuh beberapa menit lagi untuk membuat perbedaan pada skor.
Berbagai hal bisa mempengaruhi berapa lama permainan tersebut berlangsung. Seperti yang disinggung di awal, setiap pertandingan sepak bola berlangsung selama 90 menit.
Mungkin banyak orang yang berpikir bahwa setelah permainan berjalan selama 90 menit, kemudian peluit dibunyikan, maka semua pemain akan otomatis berhenti bermain.
Akan tetapi, pada kenyataannya, tidak sesederhana itu.
Jika permainan dihentikan begitu saja saat penghitung waktu mencapai 90 menit, maka ada kemungkinan besar bahwa 90 menit waktu pertandingan sepak bola belum dimainkan sepenuhnya karena adanya penghentian waktu tersebut.
Ada banyak faktor yang membuat wasit menghentikan permainan dan mengurangi waktu yang diberikan di sepanjang permainan sepak bola.
Faktor-faktor tersebut adalah pergantian pemain, penilaian cedera pemain, pemindahan pemain yang cedera dari lapangan bermain untuk perawatan, dan penyebab lainnya yang bersifat membuang-buang waktu.
Saat melihat siaran live laga sepakbola di TV, biasanya kita akan melihat waktu pertandingan tetap berjalan, meski saat itu sedang melakukan aktivitas yang membuang-buang waktu (pergantian pemain, penanganan pemain yang cedera, dll). Akan tetapi, pada jam wasit, itu adalah saatnya menjeda waktu.
Berhentinya waktu di sepanjang permainan sepakbola akan dicatat oleh wasit ke-4. Misalnya, ketika ada pemain yang mendapat perawatan cedera di dalam lapangan, wasit ke-4 akan mencatat waktu berapa lama tim medis berada di dalam lapangan.
Biasanya, yang kebanyakan diketahui pecinta sepakbola adalah adanya tambahan waktu bermain, padahal sebenarnya tidak.
Ketika 90 menit penuh permainan telah selesai dan waktu meniup peluit dari wasit telah tiba untuk mengakhiri permainan, masih ada beberapa hal lagi yang perlu mereka perhatikan.
Salah satunya adalah memutuskan apakah ada peristiwa penting sedang terjadi. Ini bisa jadi peluang mencetak gol akan terjadi, atau terjadi bola mati, misalnya tendangan sudut atau tendangan bebas. Dalam situasi ini, wasit akan sering membiarkan permainan diteruskan sebelum mengakhiri pertandingan.
Keputusan ini dibuat atas kebijaksanaan wasit. Dan tak jarang pula wasit membuat keputusan kontroversial. Penting untuk diingat di saat-saat seperti ini bahwa kedua tim telah memiliki waktu 90 menit penuh untuk bermain guna mencapai apa yang mereka harapkan dalam pertandingan.
Namun, keputusan tentang kapan harus mengakhiri pertandingan tidaklah mudah.
Waktu terbaik untuk mengakhiri permainan adalah ketika bola berada di area netral lapangan, bola keluar dari lapangan, atau dugaan tidak ada peristiwa penting yang akan terjadi.
Ada aturan tertulis mengenai hal tersebut, sebagaimana disebutkan dalam Laws of the Game 2018/19, Law 07 (The Duration of the Match), poin 1. Sementara itu, durasi injury time atau additional time, diatur dalam Laws of the Game 2018/19, Law 07, poin 3.
Meski sudah menerapkan aturan dan punya pedoman, tak jarang pula wasit kena protes para pemain. Seperti yang terjadi dalam pertandingan SD Ponferradina vs Gimnastica Segoviana di ajang Segunda B liga Spanyol.
Ketika itu, pemain Ponferradina, Jose Andres Rodriguez, mencungkil bola melewati kepala kiper Gimnastica, Pablo Barbero Laguna. Bola sepakan Rodriguez bersarang masuk ke gawang. Namun, wasit Alvaro Lopez Parra tidak mengesahkan gol tersebut.
Sebab, sebelum bola masuk ke jala gawang, peluit akhir sudah dibunyikan. Alvaro Lopez Parra, meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan berbarengan dengan lepasnya bola dari kaki Rodriguez. Para pemain Gimnastica pun mengerubungi wasit, mereka protes karena merasa dirugikan.
Lopez Parra mengatakan bahwa ia meniup peluit tanda berakhirnya laga begitu ia menyadari bahwa pertandingan sudah 17 detik lewat dari injury time yang dialokasikan – tiga menit. Keputusan wasit Lopez Parra tidak bisa disalahkan. Karena, wasit boleh memberikan additional time.
Sumber Referensi : Panditfootball, the18, Sports, yoursoccerhome, BBC
Menatap Masa Depan AS Roma Bersama Jose Mourinho
Serie A Italia dipastikan bakal berjalan lebih meriah musim depan. Pasalnya, salah satu kontestan papan atas Liga Italia baru saja membuat pengumuman yang cukup mengejutkan. Kabar tersebut datang dari ibukota Italia. Selasa, 4 Mei 2021, AS Roma resmi mengumumkan Jose Mourinho sebagai pelatih barunya mulai musim depan.
11:08am: Roma announce Paulo Fonseca will leave at the end of the season
2:11pm: Roma announce Jose Mourinho will become their next head coach
One Portuguese manager replaces another. pic.twitter.com/rn5XGpbR3h
— Squawka News (@SquawkaNews) May 4, 2021
Pengumuman tersebut keluar hanya beberapa jam setelah serigala Roma mengumumkan tak memperpanjang kontrak Paulo Fonseca yang akan habis akhir Juni nanti. Bagi Mourinho sendiri, penunjukannya sebagai pelatih baru AS Roma membuatnya hanya menganggur selama 2 pekan setelah dipecat oleh Tottenham Hotspur.
OFFICIAL: Roma head coach Paulo Fonseca will leave at the 🔚 of the season. pic.twitter.com/R1FnhuALQP
— Goal (@goal) May 4, 2021
Menariknya, beberapa hari sebelum ditunjuk sebagai ganti Paulo Fonseca, Jose Mourinho sudah mengisyaratkan bahwa destinasi berikutnya adalah kembali ke Italia. Juru taktik yang menjuluki dirinya “The Special One” itu mengaku selalu terbuka dengan tawaran dari klub Serie A meski dia pernah begitu berjasa dan dicintai pendukung Inter Milan.
“Saya memenangkan segalanya bersama Inter. Ada kasih sayang khusus. Tetapi jika suatu hari saya harus pergi ke Italia dan melatih klub saingan, saya tidak berpikir dua kali. Saya memiliki cara profesional dalam memandang sesuatu. Saya merasa nyaman dengan diri saya sendiri,” kata Jose Mourinho dikutip dari football-italia.net (2/5).
Banyak pro dan kontra menyelimuti penunjukan Mourinho sebagai allenatore anyar AS Roma. Bagaimana tidak, sebelumnya Mourinho adalah pelatih yang berjasa membawa Inter Milan meraih treble winner di musim 2009/2010. Meski begitu, masih banyak sambutan hangat yang Mourinho terima dari para pendukung Roma.
Sebuah karya mural Mourinho mengendarai vespa muncul di salah satu sudut kota Roma. Mural tersebut dibuat oleh seniman Harry Greb di kawasan Testaccio untuk menyambut “The Special One”. Tak hanya mural, mug, lukisan, bahkan es krim bertema Mourinho sudah ada di kota Roma.
Three months before Jose Mourinho officially takes charge of AS Roma, the city of Rome is preparing for his arrival: Beers🍺, paintings🎨, murals and Ice cream 🍨
The Mourinho Effect ™️ #Roma #Rome #Mourinho pic.twitter.com/XZhFpQKTyJ
— Philip Alimo (@alimo_philip) May 14, 2021
Namun, meski mendapat sambutan antusias, datang ke Roma bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Mourinho sudah ditunggu sederet pekerjaan rumah yang telah menantinya di ibukota Italia. Salah satu lubang besar yang ditinggal Fonseca adalah lini belakang yang keropos. Musim ini, Roma sudah kebobolan 56 gol dari 37 laga (1,5 gol per laga). Dibanding tim papan atas lainnya, pertahanan Roma jadi yang paling buruk.
Di bawah asuhan Fonseca, Giallorossi terkadang juga menampilkan permainan impresif. Namun, dari 37 laga, Edin Dzeko dkk. baru mencetak 66 gol (1,78 gol per laga). Jumlah tersebut menurun dibanding pencapaian musim lalu yang mampu menghasilkan 77 gol (2,03 gol per laga). Menurunnya produktivitas gol dan keroposnya lini bertahan jadi PR besar yang harus Mourinho pecahkan.
Sebab, dengan capaian itu, Giallorossi hanya sanggup menempati posisi ketujuh klasemen Serie A. Artinya, mereka juga terlempar dari zona Liga Champions dan Liga Europa. Roma baru mengumpulkan 61 poin dari 37 laga. Meski mampu memetik poin penuh di 18 laga, Roma sudah menelan 12 kekalahan musim ini.
Untuk memperbaiki hal tersebut, sudah banyak rumor beredar soal siapa yang bakal didepak dan diincar Mourinho untuk memperbaiki skuad Roma. Penjaga gawang adalah salah satu posisi yang paling disorot. Trio Pau Lopez, Antonio Mirante, dan Daniel Fuzato tampil tak terlalu kokoh di bawah mistar gawang Roma.
Pau Lopez yang paling sering tampil saja sudah kebobolan 29 gol dari 21 penampilan dan hanya mencatat 4 clean sheets. Menurut kabar, beberapa nama kiper jadi incaran Mourinho. Salah satunya adalah mantan anak asuhnya di Manchester United, Sergio Romero. Menurut laporan The Telegraph, jika negosiasi gaji tak menemui kendala berarti, kiper Argentina 34 tahun itu bisa datang ke Stadio Olimpico dengan bebas transfer.
José Mourinho wants to bring Manchester United goalkeeper Sergio Romero to Roma for next season. (Source: Daily Express) pic.twitter.com/Y9U2IWqwcB
— Transfer News Live (@DeadlineDayLive) May 12, 2021
Tak hanya Romero. Menurut laporan La Repubblica, Jose Mourinho dan direktur olahraga Roma, Tiago Pinto juga menginginkan kiper Wolverhampton Wanderers asal Portugal, Rui Patricio. Kiper 33 tahun itu kabarnya bisa ditebus dengan harga 9 juta euro.
AS Roma are working to sign a new goalkeeper.
Jose Mourinho’s first target is Rui Patricio whom contract with Wolverhampton expires in 2022 and he could leave for around €9m this summer.
(@NicoSchira) pic.twitter.com/oVIQXxK5KT
— FGFootball (@fgfootball_) May 14, 2021
Selain mengganti kiper, Mourinho juga berencana mengganti pelatih kiper Roma saat ini, Marco Savorani. Kontrak pelatih kiper 56 tahun yang berjasa mengorbitkan Alisson Becker itu kabarnya tak diperpanjang manajemen Giallorossi. Sebagai gantinya, Mourinho dikabarkan tengah mempertimbangkan mantan kiper timnas Italia, Marco Amelia sebagai gantinya.
Selain posisi kiper, barisan pemain bertahan sudah pasti tak luput dari otak-atik Mourinho. The Special One yang terkenal dengan taktik pragmatis “parkir bus” memang sudah lekat dengan permainan bertahan. Satu perubahan besar di lini bertahan adalah perubahan formasi dari 3 bek ke 4 bek. Dibanding Fonseca yang cenderung memakai formasi 3 bek, Mourinho lebih akrab dengan formasi 4 bek.
Bila benar, maka Roma kemungkinan besar bakal menarik kembali Alessandro Florenzi dari peminjamannya di PSG. Diketahui, Florenzi kehilangan tempat di tim utama akibat hubungan yang buruk dengan Fonseca. Namun, Mourinho dan Roma mesti memperpanjang dulu kontrak bek timnas Italia itu yang akan habis akhir Juni nanti.
(☀️) Alessandro Florenzi 🇮🇹 is expected to leave Paris Saint-Germain and return to AS Roma at the end of the season. ✈️ [@FabrizioRomano] #PSG #Roma pic.twitter.com/rN9JeIJbb5
— RouteOneFootball (@Route1futbol) May 10, 2021
Bek sayap sepertinya jadi posisi yang tengah dipantau serius oleh Mourinho. Pada Kamis, 13 Mei lalu, ia juga mengunggah video di instagram yang memperlihatkan dirinya yang tengah memantau salah satu bek kiri muda AS Roma, Ricardo Calafiori. Kembali ke formasi 4 bek juga memberi peluang kepada bek Roma lainnya, Rick Karsdorp dan Davide Santon.
Selain aspek pertahanan, lini serang AS Roma juga tengah dipantau Mourinho. Menurut laporan La Gazzetta dello Sport, pada Jumat, 14 Mei lalu, Mourinho telah bertemu dengan perwakilan pemilik Roma saat ini, Friedkin Group. Kabarnya, pertemuan di London itu membicarakan formasi trisula lini depan yang akan dipakai Mourinho.
Saat ini, trisula Roma jadi milik Pedro, Henrikh Mkhitaryan, dan Borja Mayoral. Dari nama tersebut, hanya Mkhitaryan yang kemungkinan besar bakal tersingkir. Pasalnya, gelandang serang Armenia itu sebelumnya pernah terlibat friksi dengan Mourinho saat di MU. Namun, meski masa depannya belum jelas, Mkhitaryan mengaku siap berkolaborasi dengan Mourinho.
“Apa yang telah terjadi di Manchester, itu adalah di Manchester. Sekarang kami ada di Roma dan jika kami bekerja sama lagi, kami akan memulai dari nol untuk melakukan yang terbaik bagi tim dan klub,” urai Mkhitaryan dikutip dari Football5star.com
12 + 3 – Henrikh #Mkhitaryan has scored 12 Serie A goals this season, a record for him in a single campaign in the top-5 European leagues; he has also found the net in three consecutive matches for the first time among Serie A, Premier League and Bundesliga. Artist.#RomaLazio pic.twitter.com/NxWHL03zIb
— OptaPaolo (@OptaPaolo) May 15, 2021
Mempertahankan Mkhitaryan bisa jadi opsi yang patut dipertimbangkan. Sebab, ia adalah topskor Roma musim ini dengan torehan 12 gol, mengungguli 2 rekannya, Borja Mayoral dan Jordan Veretout. Selain itu, manajemen Giallorossi juga perlu memperbaiki hubungan dengan striker andalan mereka, Edin Dzeko.
Di era Fonseca, Dzeko sempat terlibat perselisihan dengan mantan pelatih Shakhtar Donetsk itu. Bahkan, pada Januari lalu, Fonseca mencabut ban kapten dari lengan Dzeko. Mempertahankan Dzeko adalah sebuah urgensi. Sebab, striker 35 tahun itu selalu jadi topskor Roma selama beberapa tahun terakhir. Musim lalu saja, ia mampu menorehkan 16 gol di Serie A.
“We wanted to do everything to win, we were a real team. Mourinho? We couldn’t have taken a better coach” Edin Dzeko 🐺 pic.twitter.com/F1qERNKNGr
— Ⓟⓐⓡⓐⓓⓘⓢⓔ Ⓛⓐⓝⓔ 🇵🇹🇮🇹 (@ParadiseLane9) May 15, 2021
Kedatangan Mourinho juga bisa jadi angin segar bagi beberapa pemain muda yang tengah dipinjamkan Roma, khususnya Cengiz Under dan Justin Kluivert. Dua winger muda itu punya peluang yang cukup bagus untuk membela Roma musim depan. Dengan Mourinho yang kerap memasang formasi 4-2-3-1 atau 4-3-3, dua pemain yang punya skill dan kecepatan itu punya peluang untuk mengisi 2 posisi sayap.
Record! Justin Kluivert becomes Roma’s youngest-ever #UCL scorer 💛❤️ pic.twitter.com/uYxa13vcuZ
— UEFA Champions League (@ChampionsLeague) October 2, 2018
Hadirnya Jose Mourinho ke ibukota Italia memang memunculkan banyak harapan, khususnya para pendukung Roma yang sudah lama tak merayakan juara. Namun, sebelum itu, Mourinho perlu memperbaiki mentalitas para pemain Roma. Pasalnya, Giallorossi punya rekor buruk kala bertandang ke kandang lawan.
Dari 18 laga away, mereka hanya mampu memetik 18 poin, hasil dari 5 kemenangan dan 3 hasil imbang. Rekor Roma kala berjumpa dengan tim papan atas juga buruk. Giallorossi belum sekalipun mengalahkan Atalanta, Inter, Juventus, Milan, atau Napoli musim ini. Satu-satunya kemenangan melawan tim besar hanya berasal dari kemenangan 2-0 atas Lazio, itupun di pertemuan pertama Roma kalah telak 3-0.
Mentalitas juara adalah hal yang perlu ditanamkan kepada para pemain Roma. Dengan segudang pengalaman dan 25 trofi yang sudah dimenangkan, wajar bila Roma menaruh harapan tinggi kepada The Special One. Namun, Mourinho yang sekarang bukanlah Mourinho yang dulu begitu gagah memenangi treble bersama Inter. Di Tottenham Hotspur, ia gagal total dan tak mampu mempersembahkan satupun trofi.
Apalagi, Mourinho kerap terlibat friksi dengan pemainnya sendiri dan tak segan menyingkirkan mereka yang tak patuh instruksi. Inilah tantangan Roma bersama Jose Mourinho. Setidaknya, ia punya waktu 3 tahun untuk mengangkat prestasi AS Roma. Mourinho diketahui dikontrak Giallorossi hingga Juni 2024.
Terakhir kali Roma mengangkat piala terjadi di musim 2007/2008 kala menjuarai Coppa Italia dan Supercoppa Italiana. Sudah 13 tahun Giallorossi puasa gelar. Dengan gaya main bertahan yang mungkin cocok di Italia, mampukah Jose Mourinho mengangkat prestasi AS Roma?
Do you think #JoseMourinho will succeed at @OfficialASRoma?⚽#SerieA #Soccer pic.twitter.com/usBntn0QJp
— AS English (@English_AS) May 9, 2021
***
Sumber Referensi: Kompas, Football Italia 1, Football Italia 2, Chiesaditotti, Sports Ilustrated
Banyak Nomor Tradisional Tersedia, Mengapa Ozil Lebih Pilih No.67 di Fenerbahce ?
Playmaker internasional asal Jerman, Mesut Ozil telah resmi meninggalkan Arsenal dan bergabung dengan Fenerbahce pekan lalu. Kontrak Ozil bersama Arsenal sebenarnya berakhir pada akhir musim ini. Namun, tim Meriam London sepakat memutus kontrak Ozil enam bulan lebih awal.
Karir Ozil bersama Arsenal memang berjalan kurang menyenangkan. Pasalnya, pada paruh pertama musim ini ia tak masuk skuad The Gunners dalam ajang Premier League dan Liga Europa. Untuk itu Ozil memilih pergi dari Emirates dan bergabung ke Fenerbahce.
Di klub tersebut, Ozil dikontrak Fenerbahce selama 3,5 tahun dan akan memperoleh gaji sebesar 3 juta euro ( setara 51 miliar rupiah) setahun. Jumlah yang relatif sedikit karena sebelumnya Ozil mendapat gaji tahunan sebesar 16 juta euro (sekitar 272 miliar rupiah) dari Arsenal.
Pada perkenalannya bersama Fenerbahce, Ozil mengungkapkan bahwa ia akan menggunakan nomor punggung 67. Bahkan sebelumnya, Ozil telah mengisyaratkan melalui sebuah tweet di akun twitter pribadinya. Disini, Ozil mencuit angka 67 disertai emoticon hati berwarna merah.
Keputusan Ozil memilih nomor 67 membuat banyak pihak bertanya-tanya. Pasalnya, Ozil selalu identik dengan nomor punggung 10 atau 11.
Pemilihan nomor punggung 67 di Fenerbahce bukannya tanpa alasan. Ozil punya alasan khusus mengapa memilih memakai nomor punggung tersebut.
Selain karena nomor punggung 10 dan 11 di Fenerbahce sudah dipakai oleh Mbwana Samatta dan Diego Perotti, keputusan Ozil memilih nomor 67 lebih karena kecintaannya pada keluarga.
Ozil memilih nomor itu untuk memberikan penghargaan kepada kampung halaman keluarganya di Turki. Keluarga Ozil berasal dari Hiziroglu, Zonguldak di Turki. Hiziroglu adalah desa di distrik yang memiliki kode pos 67802. Ozil yang lahir di Gelsenkirchen, Jerman, dan generasi ketiga pemain berdarah Turki-Jerman memilih dua angka depan dari kode pos itu.
Karena pengaruh keluarganya pulalah, Ozil tumbuh besar menjadi pendukung Fenerbahce dan mengidolakan legenda Fenerbahce, Ridvan Dilmen.
Dengan nomor barunya tersebut, Ozil kini siap membela panji Fenerbahce. Bagi Ozil, bermain di Fenerbahce adalah mimpi yang berhasil terwujud. “Saya sangat senang karena saya selalu menjadi penggemar berat Fenerbahce. Impian saya akhirnya terwujud,” kata Ozil.
Meskipun angka 67 tergolong sebagai nomor besar di sepakbola, akan tetapi, nomor tersebut bukanlah yang tertinggi di skuad Fenerbahce, sebab masih ada No. 71 milik İsmail Yuksek, No. 77 Gokhan Gonul, No. 88 Caner Erkin dan No. 99 Kemal Ademi yang semuanya memiliki angka yang lebih besar.
Sumber Referensi : The sun, Goal, Transfermarkt
Beruntungnya Karir Ryan Bertrand Cukup Main 73 Menit Langsung Juara Liga Champions
Merengkuh trofi Liga Champions adalah salah satu impian para pesepakbola. Namun begitu, tak semua pemain beruntung merengkuhnya. Bahkan, meski sering main di laga Liga Champions, ada banyak pemain bintang yang belum pernah merasakan manisnya merengkuh trofi kuping besar.
Menariknya, tak jarang justru pemain medioker minim pengalaman tampil atau bahkan hanya sekali main di Liga Champions, yang sukses merengkuh trofi tersebut.
Pemain tersebut adalah Ryan Bertrand. Bek kiri kelahiran 5 Agustus 1989 itu berhasil merengkuh trofi si kuping besar bersama Chelsea pada musim 2011/12. Bertrand sangat beruntung karena ia hanya butuh 73 menit berada di lapangan untuk mendapatkan trofi prestisius tersebut.
Bertrand sendiri bergabung ke Chelsea pada musim panas 2005, usai direkrut dari Gillingham. Namun ia tak serta merta langsung masuk ke tim utama Chelsea. Bertrand terlebih dulu harus menimba ilmu di akademi bahkan dipinjamkan ke beberapa klub kecil di Inggris sebelum akhirnya masuk ke tim utama Chelsea.
Nasib baik menyapa Bertrand pada januari 2011, ketika Chelsea memanggilnya pulang ke Stamford Bridge. Melihat pengalamannya ‘disekolahkan’ ke beberapa tim kecil di Inggris membuat Chelsea berani memberikan debut Liga Primer pada pemain andalan timnas Junior Inggris itu. Kala itu, tepat pada 20 april 2011, Bertrand tampil cukup memuaskan saat membantu Chelsea menang 3-1 atas Birmingham City.
Seiring berjalannya waktu, Bertrand perlahan mendapatkan kesempatan main meski hanya sebatas sebagai pemain pengganti. Ia menjadi pemain pelapis Ashley Cole di sisi kiri sektor pertahanan. Pada 7 april 2012, Bertrand akhirnya memperoleh kesempatan main sejak menit awal kala Chelsea menghadapi Wigan. Bertrand tak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan pelatih, ia tampil percaya diri dan menghasilkan kinerja yang luar biasa. Atas kontribusinya membantu Chelsea menang 2-1 atas Wigan, Bertrand dianugerahi gelar Man Of the Match.
Performa Bertrand jelang berakhirnya musim 2011/12 memang cukup apik. Pergantian pelatih dari Andre Villas Boas ke Roberto Di Matteo tak banyak mempengaruhi permainan Bertrand. Di Matteo sendiri berhasil membawa Chelsea tampil luar biasa di Liga Champions. Tim sekelas Barcelona disingkirkan di babak semifinal. Chelsea pun melaju ke partai final untuk bertemu Bayern Munchen di Allianz Arena.
Jelang partai puncak, Chelsea ditinggal sejumlah pemain intinya karena cedera maupun akumulasi kartu. Akibatnya Chelsea menurunkan Ryan Bertrand di starting eleven. Bertrand, yang posisi aslinya adalah bek kiri diubah oleh Di Matteo untuk menempati sayap kiri. Tak tanggung-tanggung, pemain yang sepanjang musim hanya mengemas 15 kali penampilan itu bahkan membuat pemain senior Florent Malouda terpinggirkan. Malouda tidak diturunkan sejak awal laga saat Chelsea bertemu Bayern.
Keputusan Di Matteo menurunkan Bertrand dan mencadangkan Malouda membuat banyak pihak terkejut. Namun, meski begitu perjudian Di Matteo membuahkan hasil. Performa Bertrand di laga itu terbilang baik untuk seorang debutan. Bertrand seperti tak menghiraukan omongan orang lain soal dirinya.
Bertrand bermain 73 menit sebelum Di Matteo mengembalikan Malouda ke posisi aslinya. Hasilnya, skor 1-1 tercipta selama 90 menit plus 30 menit perpanjangan waktu. Chelsea akhirnya menang adu penalti 4-3 atas Bayern Munchen.
Kemenangan itu tidak hanya bersejarah bagi Chelsea, karena mendapat trofi Liga Champions pertamanya, tapi juga untuk Ryan Bertrand yang menjuarai Liga Champions dalam laga debutnya di kompetisi tersebut.
Yang jelas, Bertrand hanya butuh 73 menit untuk merengkuh trofi Liga Champions. Bandingkan dengan rekan setim Bertrand, Frank Lampard yang butuh 90 pertandingan untuk menjuarai Liga Champions atau Mohamed Salah yang butuh 48 laga dengan 4 klub berbeda.
Setelah momen bersejarah itu, Bertrand tetap membela Chelsea sebelum dilepas secara permanen pada musim panas 2014.
Sumber referensi : Instagram, Libero, The guardian
