Mampukah Diogo Jota Konsisten Mencetak Gol? 

spot_img

Sepasang gol Diogo Jota ke gawang Arsenal mengantarkan Liverpool ke final Piala Liga Inggris. Pemain Timnas Portugal memaksa Ramsdale memungut bola dari gawangnya pada menit ke-19. Akselerasinya melakukan tusukan di sisi kanan pertahanan Arsenal mendapat ruang tembak. Shoot on target pertama Liverpool yang dilakukan Jota berhasil membawa Liverpool unggul 1-0.

Pundi-pundi golnya bertambah pada menit 77. Umpan terobosan Trent Alexander-Arnold (TAA) berhasil dikonversi menjadi gol.Dua gol Jota itu membuat Liverpool menjadi tim pertama yang berhasil mencapai final Piala Liga sebanyak 13 kali.

Istimewanya, capaian Liverpool kali ini tanpa diperkuat duo bomber Afrika: Mane dan Salah. Alih-alih pelatih pusing, kesempatan pun datang untuk pemain yang jarang mendapatkan sorotan, Diogo Jota.

Jota memanfaatkan momen ini untuk menunjukkan konsistensi permainan terutama dalam mencetak gol. Pasalnya, selama ini urusan gol The Reds masih bertumpu pada dua bomber yang harus membela Senegal dan Mesir itu.

Salah sudah menyumbang 23 gol, dan Mane sudah memberi 10 gol untuk Liverpool. Sementara, catatan gol Jota di musim ini telah mencapai 14 biji dari 2.403 menit bermain. Jumlah gol tersebut sudah melampaui rekornya musim lalu sebanyak 12 gol dalam 1.760 menit.

Urusan membobol gawang lawan musim ini, ia berada di urutan kedua setelah Mohamed Salah. Produktivitasnya unggul dari penyerang lain, seperti Firmino, Minamino, dan Origi.

Kran Mane musim ini tak kunjung membaik, dan itu artinya ini menjadi kesempatan bagi Diogo Jota untuk menunjukkan kualitasnya. 

Jota dalam Angka

Sejak didatangkan pada tahun 2020, Jota bukan sekadar penghangat bangku cadangan. Ia benar-benar bisa menjadi sosok pelapis yang hebat. Apalagi di 11 pertandingan awalnya bersama The Reds, Jota sudah mencetak 7 gol. 

Jurgen Klopp pun girang bukan kepalang melihat banyaknya opsi lini depan yang gacor. Wajar bila ia memuji kedatangan Jota ke Anfield di depan para jurnalis.

“Diogo hanyalah pemain sepak bola kelas,” kata Klopp tentang pemain yang berusia 23 tahun ketika dia tiba dari Wolves pada September 2020.

Kaki kanan dan kiri Jota sama baiknya untuk melakukan dribble dan tembakan. Urusan dribble digunakan Jota sebagai pemain versatile untuk bermain di area tengah maupun tepi pertahanan lawan. Perihal tembakan diuntungkan dengan kaki kiri dan kanan yang sama baiknya untuk mencetak gol.

Alih-alih beradu kecepatan dengan pemain bertahan lawan, Jota memilih memanfaatkan ruang kosong yang ditinggalkan bek lawan saat bentuk pertahanan lawan belum sempurna. Keterampilan ini acap kali mendatangkan pundi-pundi gol bagi The Reds.

Saat didapuk menjadi penyerang tengah, posisinya diapit oleh Sadio Mane dan Mohamed Salah. Kemahirannya mencari ruang untuk melakukan eksplorasi didukung dengan kepiawaiannya dalam dribble. Sisi sayap pertahanan lawan menjadi area yang akan dieksploitasi dengan tujuan membuka ruang serang bagi Mane dan Salah.

Area operasi Jota sebagai penyerang membuka ruang bagi kedua penyerang Liverpool. Pasalnya, akselerasi yang dilakukan olehnya bakal membuat ruang kosong antara full-back dan center-back. Opsi umpan pun terbuka, kala beroperasi di kiri bisa ke arah Robertson atau Mane sementara di kanan ada Salah dan TAA.

Kemampuan itu begitu klop dengan TAA maupun Robertson. Catatan mentereng dibubuhkan TAA dengan 1125 umpan mengarah padanya, kompatriotnya Andrew Robertson 898 umpan. Kemahiran ini didukung dengan gaya menusuk di area sepertiga lawan untuk melepaskan umpan jarak pendek kepada penyerang.

Alih-alih beradu kecepatan dengan full-back lawan seperti Adama Traore saat di Wolves, Jota hadir dengan kepiawaian mengubah arah serangan dengan melakukan switch-ball ke tepi yang luput dari penjagaan lawan.

Dengan kemampuannya itu wajar kalau harapan golnya mencapai 0.62 per 90. Artinya saat mengeksekusi peluang di area pertahanan lawan akan berbuah gol dari rata-rata shot on target 1.32 per pertandingan.

Sistem Klopp yang menuntut penyerang tengah turun ke tengah menjemput bola dan menciptakan ruang menjadikan sentuhan rata-rata Jota per 90 di angka 22.7. Jota memiliki kemampuan 1v1 dan umpan progresif sama baiknya, plus akselerasinya untuk mengeliminasi lawan dengan umpan progresif sebanyak 57 kali percobaan.   

Kemampuan yang dimiliki oleh Diogo Jota terletak pada kecepatan saat melakukan dribble. Perangkat ini digunakan oleh Wolverhampton di bawah asuhan Nuno Espirito Santo untuk transisi bertahan ke menyerang.

Kebiasaan sebagai penyerang yang dapat melakukan transisi secara cepat membantunya untuk beradaptasi dengan dengan taktik Klopp di Liverpool. Kita mafhum dengan mazhab “heavy metal football” yang berusaha menyerang dengan cepat setelah merebut bola dari lawan.

Urusan ini Jota manut dengan filosofi pelatih. Usai kehilangan penguasaan bola di sepertiga lapangan lawan, ia menjadi orang pertama yang melakukan tekanan agar progresi serangan lawan dapat terputus.

Dengan demikian angka bertahan per 90 yang dibubuhkan oleh Jota dalam melakukan pressing mencapai 29.2%, dengan angka tertinggi di area tengah 174 kali, sepertiga pertahanan lawan 166 kali, sisanya “out of possession” 68 kali. Ia berada di peringkat satu di Liverpool untuk urusan ini, sementara jumlah tekel ia mencatatkan 27 kali dan nangkring di posisi 8.

Perangkat bertahan ia gunakan dalam skema counterpress di sepertiga lapangan lawan. Artinya, angka-angka itu menunjukkan Jota tidak hanya aktif meneror gawang lawan tapi juga merusak build up lawan sejak dini.

Tidak hanya agresif bertahan di sepertiga lapangan lawan, urusan bertahan juga dilakukannya saat bentuk pertahanan Liverpool belum sempurna.

Visi Tanpa Aksi Halusinasi

Visi Klopp memangkas jarak poin dengan pemuncak klasemen, Manchester City bakal jadi halusinasi tanpa aksi. Gacornya Jota di lini depan bisa membantu visi Jurgen Klopp itu. Terlebih ketika Liverpool ditinggal Mane dan Salah ke AFCON. 

Kehilangan kedua bomber selama gelaran Piala Afrika 2021 mengharuskan Klopp memutar otak. Tuntutan itu tergambar dalam konferensi pers sebelum pertandingan melawan Chelsea.

“Liverpool tahu akan ada tiga pemain yang berangkat ke Piala Afrika. Salah, Keita, serta Mane sudah sangat membantu Liverpool sejak 2019, tetapi situasi ini tidak terhindarkan dan tidak ideal. Kami harus menyiapkan diri dan menemukan solusi,” tuturnya.

Di akhir konferensi pers, ia bertanya dengan cetus, “Apakah kami akan tetap bisa bermain bagus tanpa mereka? Mungkin tidak, tetapi bodo amat lah.”

Cetusnya Klopp di depan jurnalis menghadapi bulan Januari tanpa ketiga pemain itu bikin kepala pening. Tapi ia tak perlu menelan pil Oskadon tiga kali sehari, sebab pening itu terobati oleh dua gol Jota ke gawang Arsenal.

Jadi, mampukah Jota tampil konsisten untuk menambah jumlah golnya?

Referensi: holdingmidfield, FBref Diogo JotaThe Flanker, The Flanker, Tactical Time, Coaches Voice, The PSA, SI, FBref Liverpool 

 

 

 

 

 

 

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru