Apa Pentingnya Naturalisasi Bagi Tim Nasional?

spot_img

Sosok Haruna Soemitro belum lama ini menjadi bahan perbincangan. Ia yang merupakan bagian dari Executive Committe (Exco) PSSI mengomentari Tim Nasional Indonesia asuhan Shin Tae-yong. Lebih tepatnya, beliau ini mengkritik kinerja Coach Shin, dan bilang kalau Coach Shin tersinggung atas kritik tersebut.

Keberadaan Haruna dan Exco PSSI, penting atau tidak, itu nggak usah dibahas. Tapi poin-poin kritik Haruna lah yang menarik untuk dibahas. Apalagi soal naturalisasi pemain. Haruna mengkritik rencana naturalisasi yang bakal dilakukan Shin Tae-yong.

Sebetulnya, kritik tersebut tidak ada tendensi untuk melarang atau tidak sepakat dengan program naturalisasi. Hal itu wajar sih, karena ya, PSSI juga tho yang memulai program naturalisasi? Namun, pernyataan bahwa naturalisasi akan menghambat kesempatan pemain lokal untuk bermain di Timnas Indonesia jadi semacam ironi.

Dengan kata lain, seolah-olah Timnas Indonesia bersih dari naturalisasi. Jadi, ketika Shin Tae-yong punya rencana menaturalisasi Sandy Walsh, Jordy Amat, Mees Hilgers, dan Ragnar Oratmangoen lebih baik dilupakan saja. Pernyataan itu mungkin akan mendapat dukungan seluruh insan sepak bola tanah air, jika tidak paradoks.

Klubnya sendiri, Madura United toh juga melakukan naturalisasi. Timnas Indonesia, dalam hal ini PSSI juga beberapa kali hobi menaturalisasi pemain. Cristian Gonzales, Jhonny van Beukering, Tonnie Cussel, Ruben Wuarbanaran, Victor Igbonefo, sampai Beto Goncalves, apa bisa bermain di Timnas Indonesia kalau tidak dinaturalisasi?

Dulu, dan mungkin juga sekarang, naturalisasi menjadi semacam jalan pintas meraih prestasi yang diidam-idamkan. Walaupun dari nama-nama yang disebutkan tadi, hanya Gonzales program naturalisasi yang terbilang berhasil. Maka, sebenarnya Haruna adalah satu dari ribuan orang yang boleh jadi tidak suka program naturalisasi. Terlebih karena program naturalisasi ini bisa dikatakan penting nggak penting.

Jangka Pendek Okelah

Apa pentingnya naturalisasi bagi Tim Nasional? Pertanyaan itu jelas bisa dijawab dengan mudah: prestasi. Melakukan naturalisasi pemain masih menjadi salah satu cara untuk meraih prestasi secepat polisi menangkap penyebar video porno.

Walaupun sepak bola adalah permainan tim, asumsi semacam itu nyatanya masih melekat di federasi-federasi sepak bola di dunia. Apalagi di bagian dunia yang memang minim talenta sepak bola, atau di negara yang tak becus mengembangkan bibit pemain.

Misalnya, Singapura. Negara yang tak lebih luas dari Pulau Jawa itu sukses karena pemain naturalisasi. Program naturalisasi pemain ini sudah digencarkan Singapura sejak 2002. Nama-nama seperti Mirko Grabovac dan Daniel Bannett pun muncul di skuad Timnas Singapura.

Buah proyek naturalisasi ini pun dipetik dua tahun berselang. Pada 2004, Singapura berhasil membawa pulang Piala Tiger untuk kedua kalinya. Kala itu, Timnas Singapura penuh pemain naturalisasi, seperti Daniel Bannett, Agu Casmir, Itimi Dickson, dan Baihakki Khaizan.

Hal itu diulangi Singapura pada AFF 2007 dan AFF 2012. Singapura bahkan menumbangkan Thailand di final 2012 dengan bantuan pemain naturalisasi seperti Fachruddin Mustafic, Aleksandar Duric, Shi Jiayi, sampai Qiu Li. Namun, setelah kehilangan para pemain naturalisasi, Singapura pun kehilangan tajinya.

Dari contoh itu, program naturalisasi bisa mendatangkan prestasi secara instan. Singapura saja hanya butuh waktu dua tahun untuk juara Piala Tiger dari program naturalisasi. Akan tetapi, itu tidak bertahan lama.

Sebab naturalisasi adalah program jangka pendek. Maka dari itu, Singapura pun akhirnya menghentikan proyek naturalisasi. Sejak tahun 2017, Singapura lebih fokus pada pengembangan bibit muda lokal, alih-alih terpaku pada pemain naturalisasi.

Penting Bagi Pemain

Kalau mau fair, sebenarnya naturalisasi ini justru sangat penting bagi seorang pemain yang dinaturalisasi. Terlebih untuk memberikan kesempatan pemain tampil di kancah internasional.

Dex Glenniza, dalam tulisannya di PanditFootball menyebut kalau kebanyakan pemain naturalisasi, khususnya di Indonesia adalah para pemain yang “terbuang” dari negaranya. Dalam artian tak terpakai sama sekali di Tim Nasionalnya. Kita bisa melihat contohnya seperti Beto Goncalves, Victor Igbonefo, Van Baukering, Tonnie Cussel, dan masih banyak lagi.

Pemain naturalisasi sering dianggap nggak jago menurut perspektif negara asalnya, dan tidak mentereng di negara aslinya. Dengan dinaturalisasi, pemain-pemain tersebut punya kesempatan untuk tampil di level internasional. Suatu portofolio yang bagus, yang mungkin saja sulit didapat sang pemain kalau tidak melalui proses naturalisasi.

Jika Terukur Lebih Baik

Apa yang dilakukan Singapura tentu saja menggiurkan. Apalagi bagi negara yang kemarau gelar seperti Indonesia. Menirunya boleh jadi turut mendatangkan kesuksesan yang sama.

Namun, meniru saja dan tidak terukur itu sama halnya dengan menonton televisi tapi tv-nya mati. Setiap negara tentu saja mempunyai kebijakannya masing-masing tentang naturalisasi. Ya, meskipun tentu tidak melupakan aturan FIFA.

Proyek naturalisasi di Timnas Singapura menunjukkan kalau itu terukur. Prestasi dengan jumlah pemain yang dinaturalisasi bisa dikatakan seimbang. Artinya, Singapura tidak asal melakukan naturalisasi.

Sementara di Indonesia tidak. Naturalisasi dijadikan jalan pintas oleh PSSI untuk meraih prestasi, walaupun yang terjadi justru bikin orang emosi. Betapa tidak? Pemain-pemain yang dinaturalisasi hampir seluruhnya gagal.

Van Beukering misalnya. Entah apa yang ada dipikiran PSSI, sampai pemain yang gempal itu bisa dinaturalisasi. Tidak hanya susah bergerak, Van Beukering kalau ketemu Shin Tae-yong bakal kena marah karena kualitas umpannya pas-pasan.

Siapa lagi? Tonnie Cussel? Ya ampun, pemain ini kalau dibandingkan Evan Dimas saja bagaikan gapura dengan tiang listrik. Sepupu Lilipaly itu tak bagus dalam melakukan operan. Terlebih pada penampilannya di Piala AFF 2012 saat Timnas Indonesia dilatih Nil Maizar.

Selain dua nama itu, masih banyak lagi pemain naturalisasi yang mubazir. Sebut saja Greg Nwokolo, Victor Igbonefo, sampai Bio Paulin.

Kedalaman Skuad

Sejujurnya, naturalisasi menjadi cukup penting untuk kedalaman skuad Tim Nasional. Karena tidak selamanya di satu posisi hanya mengandalkan seorang pemain saja.

Itulah mengapa Shin Tae-yong punya keinginan untuk menaturalisasi Sandy Walsh, meski di posisi fullback kanan masih ada Asnawi yang gacornya setengah mati. Tidak selamanya Asnawi bisa bermain untuk Timnas Indonesia. Itulah yang dibaca Shin Tae-yong.

Hal itu pula yang mungkin membuat pemain naturalisasi, Ezra Walian masih dipertahankan. Selain kehabisan stok striker hebat, tenaga Ezra dibutuhkan untuk memberi opsi di lini depan. Disamping ada nama putra daerah seperti Dedik Setiawan, Kushedya Hari Yudo, dan Hanis Saghara.

Pembinaan Jauh Lebih Baik

Naturalisasi di satu sisi punya manfaat, walaupun nggak banyak. Namun, hal itu juga sebagai pertanda kalau pembinaan di suatu negara mampet. Karena bagaimanapun, pembinaan jauh lebih baik daripada naturalisasi. Apakah mencari bakat itu sulit?

Dalam konteks Indonesia, mencari bakat dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote bukan perkara rumit. Tinggal bagaimana mengembangkannya saja. Sebab mencari talenta dan mengembangkan talenta, itu dua hal yang berbeda.

Jika pembinaan dilakukan dengan baik, kesempatan bagi talenta dalam negeri tentu akan terbuka. Berbeda halnya andai proyek naturalisasi digencarkan. Nah, pertanyaannya apakah pembinaan pemain di Indonesia sudah cukup baik?

Rasanya kok belum, karena kalaupun iya, Shin Tae-yong mungkin tidak akan mencari pemain di luar negeri. Dan mantan pelatih Timnas U-19, Indra Sjafri dulu juga tidak perlu blusukan mencari pemain.

Seandainya pembinaan pemain di Indonesia cukup baik, itu juga tidak bisa menjamin kualitasnya bagus. Apalagi kalau kompetisinya masih sekelas tarkam.

Sumber referensi: fandom.id, okezone.com, genpi.co, panditfootball.com, kontekstual.com

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru