Seperti halnya tiang gawang, bendera korner menjadi bagian terpenting dalam permainan sepak bola. Namun, sebagai benda mati yang tak salah apa-apa, bendera korner acap kali menjadi pemicu tindakan kontroversial di setiap pertandingan sepak bola. Disamping tentu saja wasit.
Meskipun sebetulnya, fungsi bendera korner adalah untuk membantu wasit mengetahui apakah bola sudah keluar dari garis tepi, yang menghasilkan lemparan ke dalam, atau apakah bola sudah melewati garis akhir yang berarti menghasilkan tendangan pojok.
Selain itu, para pemain kerap memanfaatkan bendera korner untuk selebrasi. Biasanya usai mencetak gol, seorang pemain akan berlari menuju bendera korner dan diikuti kawan-kawannya. Atau bisa juga pemain yang baru saja mencetak gol, lantas memukul bendera korner.
Sayangnya, yang semacam itu bukan cuma kesenangan. Namun, ada kalanya bisa menjadi kontroversi, seperti kejadian-kejadian yang pernah terjadi di dunia sepak bola berikut ini.
Daftar Isi
Jamie Vardy (2020)
Striker andalan Leicester City, Jamie Vardy pernah dipermasalahkan hanya karena bendera korner. Hal itu terjadi ketika timnya menghadapi Sheffield United di Liga Inggris tahun 2020. Ketika itu, Vardy turut menyumbangkan gol bagi Leicester.
Setelah mencetak gol, Vardy berlari ke sudut lapangan. Selebrasi itu pun sampai merusak bendera korner di Bramall Lane yang kebetulan berwarna pelangi simbol LGBT. Sontak kejadian itu memancing respons negatif dari kaum LGBT, terutama mereka yang juga penggemar Leicester.
Komentar-komentar negatif pun menghujani Vardy. Apalagi bendera korner tersebut menjadi pertanda Rainbow Laces Stonwall. Hal itu pun makin membesar ketika penggemar lainnya yang tergabung dalam Foxes Pride, dan bukan LGBT turut menyangsikan perilaku Vardy.
Banyak yang menganggap Vardy telah menunjukkan rasa sentimennya terhadap LGBT dari perusakan bendera korner tersebut. Akibat kejadian itu, akhirnya Vardy pun merasa harus meminta maaf.
Permohonan maafnya itu ia tunjukkan dengan mengganti bendera korner yang rusak. Ia menggantinya sekaligus memberikan tulisan yang bernuansa positif. Vardy pun menulis “FOXES PRIDE! Keep The Good Work” atau “FOXES PRIDE! Teruslah bekerja dengan baik”, dan menandatangani di bendera korner yang baru dan berwarna pelangi itu.
Jamie Vardy destroyed the corner flag after scoring a last-minute winner for Leicester last weekend.
To make sure the important message about LGBT representation in football was not lost, @vardy7 has signed the flag and sent it to @FoxesPride 🏳️🌈 pic.twitter.com/dh5PjCSr6h
— B/R Football (@brfootball) December 9, 2020
Marek Hamsik (2018)
Pemain berambut mohawk asal Slovakia, Marek Hamsik juga pernah mendapat masalah gara-gara bendera korner. Ketika ia masih bermain untuk klub Italia, Napoli, Hamsik melakukan selebrasi yang berlebihan. Tepatnya saat Napoli menghadapi SPAL pada tahun 2018.
Hamsik sukses membubuhkan satu gol di laga itu. Ia mencetak gol melalui sundulan dari hasil kreasi umpan pemain asal Brasil, Allan. Gol itu membawa Napoli unggul atas SPAL 2-0 di babak kedua.
Not the best afternoon for Marek Hamsik:
– Scored a goal
– Celebrated by destroying a corner flag
– VAR ruled goal as offside
– Booked for the celebration pic.twitter.com/QmSCTt7CBS— FourFourTwo 🇸🇬 (@FourFourTwoSG) February 20, 2018
Ia seketika menunjukkan kesenangannya. Hamsik pun berlari menuju sudut lapangan, dan merusak bendera korner yang tidak salah apa-apa. Namun, tunggu sebentar, kekonyolan tidak berakhir sampai di situ saja.
Tak berapa lama usai Hamsik merasa mencetak gol, wasit justru memberi pertanda kalau dirinya harus menonton VAR untuk memutuskan bola sundulan Hamsik itu gol atau tidak.
Seperti terkena lemparan telur di wajahnya, Hamsik harus menerima kenyataan kalau gol tersebut dianulir. Sebab posisi pria Slovakia itu sudah berada di posisi offside. Masa pemain sudah offside, golnya sah? Ini kan, Liga Italia, bukan Indonesia.
Bak sudah jatuh tertimpa antena, Hamsik pun justru mendapat hukuman kartu kuning. Sebab ia sudah merusak bendera korner hingga hancur berkeping-keping.
West Ham vs Burnley (2018)
Masih di tahun yang sama. Paul Coulborne, pria 61 tahun, seorang penggemar West Ham tiba-tiba berlari ke lapangan. Ia bangkit dari tempat duduknya untuk mencabut bendera korner dan berlari ke tengah lapangan.
Pria yang belakangan diketahui sebagai pebisnis operator perjalanan itu, membawa bendera korner ke tengah lapangan saat pertandingan West Ham vs Burnley berlangsung di London Stadium.
The state of West Ham’s fanbase. Robbing the corner flag in the middle of the game. pic.twitter.com/3uPURJNNQx
— Daniel. (@Danderweireld) March 10, 2018
Ia berlari dan berdiri di tengah lapangan sambil mengangkat bendera korner. Para pemain pun tercengang melihat aksi yang lebih mirip orang terlilit pinjol tersebut. Pertandingan pun sempat terhenti beberapa saat. Namun, kejadian itu sudah terlanjur ditonton oleh jutaan orang di televisi.
Ketika diwawancara MailOnline, ia mengakui kalau perbuatannya itu sebagai bentuk protes terhadap pemilik West Ham. Ia marah karena pemilik West Ham mengundang buldoser untuk menghancurkan Upton Park, rumah dari West Ham yang lama yang sudah digunakan selama 112 tahun.
Nottingham Forest vs Derby County (2009)
Siapa menyangka, bendera korner, yang benda mati itu, justru bisa menimbulkan perkelahian di satu pertandingan sepak bola. Sekalipun bukan bendera kornernya yang memprovokasi. Kejadian itu bermula ketika pertandingan antara Nottingham Forest menghadapi Derby County di ajang EFL Championship pada tahun 2009.
Pertandingan yang berlangsung di Bridgford End atau City Ground, markasnya Nottingham Forest berakhir dengan kemenangan 3-2 untuk Nottingham Forest. Namun, kemenangan itu harus ternodai karena seorang pemain Nottingham, Nathan Tyson berperilaku tidak terpuji.
Ia melakukan selebrasi yang berlebihan dengan mencabut bendera korner. Tyson mencabutnya dan melambai-lambaikan bendera korner di hadapan pendukung Derby County persis seperti para penonton konser Slank.
Tindakan itu kemudian membuat para pemain Derby County geram, dan para pendukungnya mendidih emosinya. Dua pemain The Rams, Dean Leacock dan Gary Teale menghampiri Tyson, dan pemain lain pun mengikutinya. Karena merasa kawannya terancam, pemain Nottingham lainnya mencegah para pemain Derby County menghampiri Tyson.
Aksi itu pun akhirnya berbuntut perkelahian antarpemain. Pemain dari kedua klub saling terlibat memberi pelajaran. Situasi yang memanas di lapangan, tidak afdol rasanya kalau pendukung tidak campur tangan.
Kubu kedua pendukung pun langsung terjun ke lapangan, menciptakan keos. Perkelahian massal antarpemain, ofisial, dan pendukung pun sulit dihindari. Insiden itu membuat FA harus bertindak tegas pada dua klub tersebut.
Dilaporkan Telegraph, Asosiasi sepak bola Inggris memberi denda 20 ribu pounds (Rp377 juta) kepada Derby County, dengan jumlah separuhnya ditangguhkan. The Rams juga harus membayar 400 poundsterling (Rp7,5 juta). Sementara Nottingham Forest harus membayar denda 25 ribu pounds (Rp471,2 juta), dengan dengan 10 ribunya ditangguhkan.
Final Piala Dunia 1974
Final Piala Dunia 1974 sempat membuat publik di seluruh dunia geger sekaligus tertawa. Ada satu kejadian ceroboh yang membuat banyak orang terpaksa tertawa. Kala itu, laga yang mempertemukan Jerman vs Belanda harus tertunda gara-gara bendera korner.
Wasit asal Inggris, Jack Taylor yang memimpin pertandingan di laga itu, terpaksa harus menunda pertandingan, lantaran bendera korner belum terpasang. Hal itu diketahui, karena staf lapangan lupa memasang bendera korner usai upacara penutupan berlangsung.
Jack Taylor sendiri sangat menyayangkan kenapa hal tersebut bisa terjadi. Dikutip The Guardian, Taylor mengatakan kepada surat kabar Midlands Express and Star bahwa kejadian memalukan itu tidak akan pernah ia lupakan.
Menurutnya, itu adalah kesalahan amatir yang harusnya tidak terjadi di laga besar seperti final Piala Dunia. Ketika didatangi staf lapangan untuk menunda peluit kick off dan memulai lagi pertandingan, ia tak bisa berkata-kata. “Itu lucu dan tidak benar,” kata dia.
https://youtu.be/7nOB1KPxkpg
Sumber referensi: football-stadiums.co.uk, skysports.com, express.co.uk, dailymail.co.uk, derbytelegraph.co.uk, onthepitch.org, theguardian.com


