Mental pemenang AC Milan di bawah Pioli terlihat lagi saat mereka menaklukan pesaingnya, Napoli dengan skor 1-0. Dari hasil itu, Rossoneri naik ke puncak klasemen Serie A dan semakin memuluskan jalan mereka untuk meraih Scudetto yang ke-19 musim ini.
Mereka sudah lama tidak lagi merengkuh titel juara serie A sejak musim 2010/11 di bawah Allegri. Seiring berjalannya waktu terjadi beberapa perubahan di tubuh AC Milan yang menjadi kunci sukses untuk kembali bersaing meraih juara Serie A musim 2021/22.
Daftar Isi
Perubahan Internal
Titik perubahan nyata di tubuh Milan berawal setelah sang pemilik legendaris Milan, Silvio Berlusconi memilih untuk menjual Milan ke konsorsium China pada April 2017.
Akan tetapi, tak dinyana bahwa proses akuisisi Milan oleh konsorsium China itu ternyata dilakukan dengan uang pinjaman. Seiring waktu, akhirnya pada saat jatuh tempo, taipan asal Negeri Tirai Bambu ini tak dapat membayar hutangnya.
Kemudian muncullah penyelamat dari Amerika melalui Elliott Management. Perusahaan manajemen investasi ini hadir dengan bantuan untuk menyelamatkan Milan agar tetap stabil secara finansial.
Elliott Management Corp. temporarily take over AC Milan https://t.co/Bg6dMoW44o pic.twitter.com/F8PfdIP3q9
— CalcioMercato (En) (@CmdotCom_En) July 9, 2018
Elliot juga membongkar jajaran direksi AC Milan. Salah satu yang paling mencolok adalah penunjukkan Ivan Gazidis sebagai CEO. Sebelumnya, Gazidis pernah memegang jabatan serupa di Inggris bersama Arsenal. Perubahan krusial lainnya yang terjadi di tubuh Milan adalah masuknya legenda klub Paolo Maldini sebagai direktur olahraga menggantikan posisi Leonardo yang hengkang ke PSG
These 4 guys aren’t getting the credit they deserve.
Paolo Maldini, Federic Massara, Ivan Gazidis and Stefano Pioli are trying whatever they can to bring the AC Milan we all want to see and they’re in a good path for that too.
Massively underrated 👏 pic.twitter.com/jJ6aHY0Ugz
— ‘ (@ftblnatt) September 23, 2021
Gazidis sendiri ingin memperbaiki proses transfer Milan mulai dari proses pencarian pemain sampai perekrutannya. Untuk hal itu Gazidis menunjuk Geoffrey Moncada sebagai kepala pemandu bakat Milan setelah sebelumnya bekerja enam tahun untuk AS Monaco. Moncada terbukti sukses menemukan berbagai bakat yang akhirnya dipoles oleh Monaco, termasuk Kylian Mbappe.
Transfer Pemain
Salah satu sisi yang tampak dari perubahan besar di tubuh AC Milan adalah untuk kembali menstabilkan kondisi klub melalui transfer yang efektif dan efisien. Milan kini lebih fokus pada perekrutan bakat-bakat muda dalam kebijakan transfernya. Kondisi ini, selain bentuk pengetatan keuangan klub, juga adalah sebagai tindakan jangka panjang klub guna peremajaan skuat.
Perekrutan pemain muda yang berbasis data dan pemantauan juru bakat inilah yang membedakan gerak transfer Milan sekarang dengan yang dulu. Tak ada lagi langkah sembrono yang dilakukan Rossoneri ketika beroperasi di bursa transfer seperti yang dilakukan pemilik sebelumnya.
Kini bisa dilihat bahwa wajah baru Milan jauh lebih segar dengan talenta muda. Lini serang diisi oleh talenta muda seperti Rafael Leao. Sisi sayap juga bergairah dengan hadirnya Brahim Diaz yang dipinjam dari Madrid. Kemudian lini tengah pun terjaga dengan determinasi dari pemuda Aljazair bernama Ismael Bennacer dan wonderkid Italia bernama Sandro Tonali.
AC Milan untuk sementara berada di tangga teratas klasemen Serie A. Skuad mereka saat ini:
Rafael Leao (22)
Pietro Pellegri (20)
Ismael Bennacer (23)
Brahim Diaz (22)
Sandro Tonali (21)
Alexis Saelemaekers (22)
Daniel Maldini (19)
Theo Hernandez (23)
Tomori (23)
Kalulu (21) pic.twitter.com/qheu7MhMao— Football Wonderkid (@id_wonderkid) September 26, 2021
AC Milan terbilang cukup cerdik dalam beberapa bursa transfer. Analisa dari tim Moncada kemudian diteruskan oleh Maldini berbuah hasil. Mereka sukses dalam hal membujuk pemain untuk bergabung ke Milan. Sebagai contoh Sandro Tonalli yang semula santer diberitakan akan bergabung dengan Inter. Maldini mampu meyakinkan Tonalli untuk memilih Milan.
Faktor kebijakan transfer yang bagus tentu juga diimbangi dengan faktor kebutuhan tim. Apa yang diperlukan tim dalam mendatangkan pemain adalah fokus kerja seorang pelatih lewat evaluasinya yang tepat. Di mana kecermatan pelatih diperlukan dalam hal ini.
Faktor Pioli
Hal itu tampaknya hadir dalam diri Stefano Pioli mantan pelatih Lazio. Setelah sebelumnya di AC Milan silih berganti nama-nama pelatih datang dan pergi di San Siro sejak Allegri yang pindah ke Juventus.
Petinggi Milan mempekerjakan Pioli sebagai pengganti sementara pelatih sebelumnya Giampaolo, hingga akhir musim 2019/2020. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, pelatih asal Italia itu mampu membawa Milan ke Europa League di akhir musim. Selanjutnya, Pioli diberi perpanjangan kontrak dan membawa Milan runner up Serie A pada musim berikutnya yakni 2020/21.
📅 On this day in 2019, #ACMilan hired Stefano Pioli as their new head coach. What a journey it has been since…
⚽ 97 games
✅ 56 wins
🤝 23 draws
❌ 18 defeats pic.twitter.com/Ht6KHg6Z0i— MilanData📊 (@acmilandata) October 9, 2021
Musim 2021/22 pun Pioli diberi kesempatan. Kedatangan amunisi baru Milan seperti Olivier Giroud, Mike Maignan sampai Lazetic, menumbuhkan sikap optimis tersendiri bagi Pioli untuk membawa Milan berprestasi lebih baik dari musim lalu.
Secara filosofi permainan, Pioli secara garis besar lebih suka menggunakan pakem sepak bola menyerang ketimbang bertahan. Ia lebih suka berkreasi dalam timnya di sektor penyerangan.
Kunci Permainan
Milan di bawah Pioli biasanya menggunakan formasi 4-2-3-1. Sesekali sambil melakukan rotasi posisi di sepanjang pertandingan. Pola Ini sangat efektif, yakni dengan gaya menekan yang berorientasi pada banyaknya gol.
📰 #Gazzetta: Two heroes above all: #Pioli and #Giroud. The coach has sculpted a masterpiece. They said he had no alternative to his game. He dismantled the 4-2-3-1 and won with a 4-1-4-1 that surprised #Spalletti. pic.twitter.com/QIn5Kx4gBI
— Milan Posts (@MilanPosts) March 7, 2022
Dua pivot lini tengah pertahanan diisi oleh Franck Kessie dan salah satu dari Sandro Tonali atau Ismael Bennacer. Keduanya pun sering difungsikan untuk turun ke lini belakang untuk memberikan perlindungan bagi serangan berbahaya dari sisi bek sayap, yang sering ditinggalkan Theo Hernandez dan Davide Calabria.
Rossoneri dalam memulai serangan memiliki salah satu andalan tersendiri yakni melalui bek kiri mereka Theo Hernandez. Hernandez dan rekannya di bek sayap, Calabria merupakan bagian integral dari serangan awal Milan. Duo ini membuat serangan Milan bervariasi. Tak jarang mereka bertransformasi menjadi penyerang sayap.
Kunci permainan di depan terletak pada peran Rafael Leao yang menjadi penggedor utama andalan Pioli di lini depan sebelah kiri AC Milan. Tak jarang ia dimanfaatkan dengan skill individu dan kecepatannya untuk merusak pertahanan lawan.
Kunci permainan apik Milan lainnya terletak pada kokohnya kiper mereka. Ditinggal Donnarumma ke PSG, ternyata Milan mampu mengambil langkah cerdik dengan mengambil kiper Lille, Mike Maignan.
Hingga saat ini, kiper berusia 26 tahun itu telah mencatatkan sepuluh clean sheet di Serie A. Maignan kini telah menjelma menjadi kekuatan yang tak tertembus di gawang Milan pada musim 2021/22.
Kehadiran target man senior seperti Giroud dan Ibrahimovic yang sering menciptakan gol di partai-partai penting, juga menjadi salah satu kunci sukses permainan Milan. Kedua sosok senior itu paling tidak kehadirannya dibutuhkan dalam tim untuk menyalurkan mental pemenang dan juara bagi para pemain muda Milan.
Persaingan Dengan Rival
Optimisme Milan untuk merengkuh kembali mahkota juara Serie A dari Inter Milan sepertinya mulai berkobar. Rossoneri hingga awal Maret 2022 masih duduk di puncak klasemen Serie A unggul dua angka dari Inter yang masih mempunyai satu pertandingan.
Questa la classifica dopo la 28^ giornata di @SerieA #SerieA#footballmagazine pic.twitter.com/VnhGzjI7zp
— Football-Magazine.it (@RedazioneFM) March 7, 2022
Persaingan dengan rival terdekat seperti Inter maupun Napoli sangat ketat, terlebih dengan dua kemenangan Milan atas keduanya musim ini, membuat Milan makin optimis untuk juara.
Apalagi tim-tim besar lain seperti Juventus, Lazio dan Roma kebetulan masih tertatih untuk merangsek naik ke papan atas dengan segala problema yang ada. Ini adalah kesempatan kedua bagi Milan untuk menjadi Juara Serie A, yang seharusnya tidak lagi disia-siakan.
Dengan 10 pertandingan tersisa di Serie A musim ini, ambisi Milan untuk merebut Scudetto makin terbuka lebar. mengingat lima dari sisa pertandingan terakhir Rossoneri adalah melawan tim yang saat ini menempati bagian bawah klasemen.
https://youtu.be/cbpdIyL2Xsg
Sumber Referensi : sempremilan, theanalyst, breakingthelines


