Beranda blog Halaman 559

Sean Dyche dan Pengabdiannya di Burnley yang Patut Diapresiasi

0

Setelah Xisco Munoz, Steve Bruce, Nuno Espirito Santo, Daniel Farke, Ole Gunnar Solskjaer, Rafael Benitez, Claudio Ranieri, dan Marcelo Bielsa, Sean Dyche resmi jadi manajer ke-10 yang dipecat di Premier League musim ini.

Pemecatan tersebut terjadi pada 15 April lalu setelah Sean Dyche gagal mengangkat posisi Burnley dari jurang degradasi. Mungkin, pemecatan pelatih asal Inggris berusia 50 tahun itu adalah sebuah hal yang biasa, mengingat ia hanyalah manajer Burnley, tim yang nyaris sepanjang musim ini terus berkutat di papan bawah.

Akan tetapi, ketika kita menilik masa jabatan yang sudah dijalani Sean Dyche di Turf Moor, pemecatan tersebut adalah sebuah kehilangan besar sekaligus sebuah hal yang mengejutkan. Pasalnya, sebelum dipecat, Dyche adalah manajer terlama di Premier League dan manajer terlama ketiga di piramida sepak bola Liga Inggris.

“Pertama, kami ingin menyampaikan terima kasih yang tulus kepada Sean dan stafnya atas pencapaian mereka di klub selama dekade terakhir. Namun, hasil musim ini mengecewakan dan, meskipun ini adalah keputusan yang sangat sulit, dengan delapan pertandingan penting tersisa, kami merasa perubahan diperlukan untuk memberi skuad peluang terbaik untuk mempertahankan status Liga Premiernya,” ujar Alan Pace, Ketua Burnley FC, dikutip dari burnleyfootballclub.com.

Di Balik Pemecatan Sean Dyche

Ya, hasil buruk yang dialami Burnley di Premier League musim ini jadi alasan dipecatnya Sean Dyche dari kursi pelatih. Dyche dipecat pada 15 April lalu, tak lama setelah Burnley kalah memalukan dari Norwich City di pekan ke-32.

Menariknya, kalah dari Norwich City seperti menjadi sebuah kesialan bagi tim-tim papan bawah. Sebelum Sean Dyche, Rafael Benitez di Everton dan Claudio Raniere di Watford juga dipecat setelah kalah melawan Norwich.

Terlepas dari itu, kekalahan tersebut adalah kekalahan kelima yang diderita The Clarets dalam 6 pertandingan terakhirnya. Musim ini, Sean Dyche hanya sanggup membawa Burnley memenangkan 4 pertandingan liga. Hasilnya, ia hanya sanggup membawa Burnley bertengger di peringkat ke-18 dengan koleksi 24 poin.

Melihat hasil tersebut, rasanya wajar bila jajaran petinggi Burnley mengambil sikap tegas dan cepat untuk mendepak Sean Dyche dari kursi pelatih The Clarets. Bagaimanapun, nasib Burnley menjadi taruhannya.

Namun, pemecatan Sean Dyche menyisakan luka yang mendalam. Bahkan, saat manajemen klub mengumumkan pemecatan tersebut, para pendukung The Clarets mengekspresikan kekecewaan, kesedihan, dan kemarahan mereka kepada dewan klub yang dipimpin ketua Alan Pace.

Pemandangan tersebut wajar terjadi. Pasalnya, Sean Dyche sudah mengabdi di Burnley selama hampir satu dekade, lebih tepatnya selama 9 tahun dan 166 hari. Telah banyak kenangan manis ditorehkan pelatih asli Inggris itu. Itulah mengapa selama waktunya di Turf Moor, Dyche tak hanya dihormati dan dicintai oleh para pemain dan staf saja, tetapi juga oleh para suporter dan penduduk Kota Burnley secara luas.

Selain itu, musim ini adalah musim keenam berturut-turut Burnley di Premier League. Ini jadi rekor terbaik The Clarets di kompetisi kasta teratas Liga Inggris sejak tahun 60-an dan mereka mampu melakukan pencapaian tersebut berkat jasa seorang Sean Dyche.

Sanjungan Untuk Sean Dyche

Sean Dyche pertama kali ditunjuk sebagai manajer Burnley pada bulan September 2012. Ia hanya butuh semusim untuk membawa Burnley promosi ke Premier League di akhir musim 2013/2014 setelah absen 4 tahun. Hebatnya, Dyche melakukan pencapaian tersebut dengan anggaran yang sangat rendah dan hanya menggunakan 22 pemain saja.

Sayangnya, di musim berikutnya, Burnley langsung terdegradasi. Namun, Sean Dyche tak butuh waktu lama untuk mengembalikan Burnley ke habitatnya. Di akhir musim 2015/2016, ia sukses mempersembahkan trofi Champhionship bagi The Clarets.

Sejak promosi kembali di musim 2016/2017, Burnley dan Sean Dyche tak pernah lagi terdegradasi ke kasta kedua. Memang, The Clarets bukanlah tim papan atas di Liga Inggris. Namun, jangan salah, Sean Dyche dengan segala keterbatasannya pernah nyaris membawa Burnley ke pentas Europa League.

Pencapaian tersebut terjadi di musim 2017/2018. Secara mengejutkan, Dyche berhasil membawa The Clarets finish di peringkat ketujuh. Hasil tersebut membuat mereka berhak lolos ke fase play-off Liga Europa sekaligus membawa Burnley kembali ke kompetisi Eropa untuk pertama kalinya dalam 51 tahun. Meski gagal menembus fase grup, tetapi hasil yang diraih di musim tersebut merupakan pencapaian terbaik The Clarets sejak finish keenam di musim 1974.

Memang, meski tercatat pernah menjuarai Divisi 1 di era 20an dan 60an, Burnley bukanlah tim papan atas di era Premier League. Di luar hasil di musim 2017/2018, Burnley nyaris selalu finish di atas zona degradasi. Namun, hasil tersebut wajar bahkan terhitung luar biasa untuk tim sekelas Burnley yang punya banyak utang.

Tim yang berdiri sejak 1882 itu merupakan salah satu kontestan terkecil dan termiskin di Premier League. Markas mereka di Turf Moor saja hanya berkapasitas 21.944 kursi, atau hanya sedikit lebih banyak dari Brentford.

Yang terpenting lagi, Burnley adalah salah satu tim Premier League dengan anggaran paling minim dan tagihan gaji paling rendah. Klub dari kota kecil tersebut juga bagaikan kurcaci di antara klub Inggris lainnya yang mendapat suplai dana melimpah dari sang pemilik.

Tahukah kamu berapa uang yang telah dihabiskan Sean Dyche selama melatih Burnley? Sejak promosi kembali ke Premier League 6 tahun silam, pengeluaran bersih The Clarets hanyalah 64 juta poundsterling. Bayangkan, dengan dana super minim itu, Dyche sukses mempertahankan Burnley dari jurang degradasi selama bertahun-tahun.

Sean Dyche adalah tipe pelatih yang “membenci penguasaan bola”. Gaya main yang ia usung adalah sepak bola lokal khas Inggris yang mengandalkan long ball. Tujuannya agar bola sesegera mungkin sampai ke area pertahanan lawan, apapun caranya. Oleh karena itulah permainan Burnley cenderung keras dan tidak enak ditonton.

Namun, terlepas dari cara mereka yang konservatif, Sean Dyche dan jajaran stafnya tahu bagaimana caranya untuk bertahan di ketatnya Premier League. Hebatnya lagi, di bawah asuhan Sean Dyche, The Clarets memecahkan rekor untuk pertandingan berturut-turut tanpa kartu merah. Mereka melakukan itu dalam 119 pertandingan Liga Premier.

Dengan keterbatasan yang ada dan tidak adanya pemain berlabel bintang, kekompakan adalah kunci sukses Sean Dyche di Burnley. Lagipula, dengan beban kerja yang berat dan kondisi keuangan klub yang seret dan penuh utang, Sean Dyche masih sanggup mengorbitkan beberapa pemain.

Andre Gray, Chris Wood, Sam Vokes, Charlie Austin, Danny Ings, Kierran Trippier, Ben Mee, James Tarkowski, Scott Arfield, Michael Keane, Tom Heaton, dan Nick Pope adalah beberapa nama beken yang pernah sukses di bawah asuhan Sean Dyche.

Oleh karena itulah, pekerjaan yang dilakukan Sean Dyche selama menukangi Burnley dengan anggaran terbatas sungguh sangat menakjubkan. Sean Dyche pantas disanjung dan mendapat apresiasi setinggi-tingginya.

Selama nyaris satu dekade, Sean Dyche telah sukses dua kali membawa Burnley promosi ke Premier League. Dari satu dekade masa jabatannya, tujuh musim dihabiskannya di Premier League dengan hasil terbaik finish di peringkat 7. Dan meskipun ia pernah beberapa menerima tawaran dari klub lain, Sean Dyche memilih setia bersama The Clarets.

Sayangnya, setelah 425 pertandingan, 149 kemenangan, 118 hasil imbang, dan 158 kekalahan, Sean Dyche berpisah dengan Burnley dengan cara yang menyedihkan.

Sean Dyche mungkin belum mempersembahkan trofi papan atas selama menjadi juru taktik Burnley. Namun, ia telah memberi orang-orang Burnley tim yang bisa mereka banggakan.
***
Referensi: Burnley FC, BBC, DailyMail, BBC, The Guardian, Detik.

Berita Bola Terbaru 28 April 2022 – Starting Eleven News

Berita Bola Terbaru dan Terkini

TEN HAG INGIN BAWA HALLER KE MU

Bomber kelas maut Ajax Amsterdam, Sebastien Haller diminati Erik Ten Hag. Calon pelatih baru Manchester United itu kabarnya ingin ikut membawa Haller di musim depan, mengingat MU butuh striker baru untuk mendulang gol lebih banyak lagi. Sementara, penyerang asal Pantai Gading itu kini merupakan andalan Ten Hag dalam membobol gawang untuk Ajax Amsterdam di berbagai ajang. 

MAU JAJAL MLS, HIGUAIN TAKUT-TAKUTI SUAREZ

Penyerang klub Inter Miami Gonzalo Higuain mengeluarkan peringatan kepada Luis Suarez tentang kemungkinan kepindahan ke MLS pada masa depan. Berbicara kepada Christian Vieri baru-baru ini di Twitch, Higuain mengakui MLS telah terbukti menjadi lebih dari tantangan yang dia harapkan. Ia menilai liga sepakbola tertinggi di Amerika Serikat itu jauh dari kata mudah.

ARTURO VIDAL BUKA PINTU GABUNG FLAMENGO

Meski masih memiliki kontrak di Inter Milan hingga Juni 2023, Arturo Vidal melihat masa bermainnya di Inter akan segera berakhir, terlebih ia kurang mendapatkan peran di bawah asuhan Simone Inzaghi. Untuk itu, Vidal dikabarkan membuka peluang untuk bergabung dengan tim besar Liga Brazil, Flamengo pada musim panas mendatang. Football Italia mengabarkan, Vidal telah memberikan izin kepada perwakilannya untuk berbicara langsung dengan pihak Flamengo.

INTER MILAN TETAPKAN LABEL HARGA UNTUK PINAMONTI

Mengutip Football Italia, Eintracht Frankfurt telah mengarahkan pandangan mereka pada Andrea Pinamonti. Pemain 22 tahun itu telah mencetak 12 gol dalam 33 pertandingan Serie A selama masa pinjamannya di Empoli musim ini. Kontraknya dengan Inter Milan berakhir pada Juni 2024 dan Nerazzurri telah menerima beberapa panggilan dari klub yang tertarik padanya. Juara bertahan Serie A kabarnya siap untuk menjual Pinamonti seharga 20-25 juta euro.

NEGOSIASI BERJALAN MULUS, JESUS KIAN DEKAT DENGAN ARSENAL

Ada kabar baik seputar perburuan tanda tangan Gabriel Jesus yang sedang dilakukan Arsenal. Seperti dilansir dari Goal, laporan terbaru mengatakan proses negosiasi dengan penyerang Manchester City itu berjalan mulus. Kehadiran Mikel Arteta di Arsenal pun diharapkan bisa mempermulus perbincangan ini. Jesus berminat pindah ke Arsenal, selama mereka mampu memenuhi permintaan harga dari Manchester City. Sejauh ini, Meriam London masih belum membuka obrolan dengan juara bertahan Premier League itu.

MU SUDAH BIKIN KESALAHAN SEJAK PULANGKAN RONALDO

Legenda sepak bola Nigeria, Victor Ikpeba sama sekali tak menampik bahwa Cristiano Ronaldo masih mampu menunjukkan kapasitasnya sebagai seorang pencetak gol yang handal. Namun, Ikpeba menyebut kepulangan Ronaldo ke MU adalah sebuah kesalahan karena sang pemain dinilai sebagai biang keladi perpecahan yang terjadi di ruang ganti tim yang berpengaruh pada penampilan buruk MU di atas lapangan.

ODEGAARD SARANKAN HAALAND PINDAH KE ARSENAL

Gelandang serang Arsenal Martin Odegaard mendorong kompatriotnya, Erling Haaland, untuk bergabung ke Emirates Stadium di bursa transfer berikutnya. Striker yang memiliki nilai klausul pelepasan sebesar 63 juta pounds, telah menjadi salah satu striker paling diburu klub-klub elite Eropa. Real Madrid dan Manchester City menjadi klub yang paling difavoritkan untuk mengamankan jasa Haaland. Namun, jika Haaland merapat ke Liga Inggris, Odegaard berharap teman baiknya itu bergabung ke Arsenal.

IWOBI YAKIN EVERTON BISA LOLOS DARI DEGRADASI

Penyerang Everton, Alex Iwobi, memberikan komentar terkait The Toffees yang kini masuk ke dalam zona degradasi usai dikalahkan oleh Liverpool. Alex Iwobi tak menampik bahwa hasil itu sangat mengecewakan terlebih membuat klubnya terperosok ke dalam zona merah. Namun di sisa musim ini, Iwobi mengaku sangat yakin tim asal Merseyside tersebut akan bertahan di Premier League.

BENZEMA NYEKOR LAGI DI UCL, OZIL: BERI DIA BALLON D’OR

Mantan pemain Arsenal, Mesut Ozil menilai Karim Benzema layak mendapatkan trofi Ballon d’Or 2022. Striker Prancis ini telah mencetak banyak gol untuk Real Madrid, termasuk saat melawan Manchester City di Liga Champions, di mana dua gol disarangkan. “Sungguh permainan yang fantastis. Berikan anakku Benzi Ballon D’Or,” kata Ozil lewat akun Twitter pribadinya.

KARIM BENZEMA LAMPAUI TOREHAN MESSI

Bagi Karim Benzema, gol-gol pada laga kontra The Cityzen kemarin mengantarnya ke angka tujuh gol pada laga semifinal Liga Champions. Torehan tersebut spesial karena membawa nama bomber asal Perancis tersebut melewati torehan gol Messi di fase kompetisi sama (enam gol). Dengan tujuh gol di semifinal Liga Champions, Benzema kini sejajar dengan Robert Lewandowski. Dan hanya kalah dari Cristiano Ronaldo (13 gol).

LIVERPOOL BUNGKAM VILLARREAL

Liverpool berhasil menumbangkan Villarreal di laga pertama semifinal Liga Champions 2021/22. Berlangsung di Anfield, The Reds baru bisa memecah kebuntuan di awal babak kedua melalui gol bunuh diri Pervis Estupinan. Tak berselang lama Sadio Mane menggandakan skor buat Liverpool. Kedudukan 2-0 ini bertahan hingga laga usai. Liverpool akan bertandang ke markas Villarreal di leg kedua pada minggu depan.

KLOPP AKHIRNYA MENANG ATAS EMERY DI PENTAS EROPA

Jurgen Klopp akhirnya mencatatkan sejarah baru dalam head to head melawan Unai Emery. Untuk pertama kalinya, Klopp menang atas Emery di kancah Eropa. Duel Liverpool vs Villarreal ini adalah kali kedua Klopp dan Emery bertemu di pentas Eropa. Duel sebelumnya terjadi di final Liga Europa 2015/16. Kala itu Liverpool asuhan Klopp kalah dari Sevilla besutan Emery dengan skor 1-3.

MANE SAMAI REKOR GOL UCL DIDIER DROGBA

Sadio Mane menyumbang satu gol untuk membantu Liverpool menang 2-0 atas Villarreal di semifinal leg pertama Liga Champions 2021/22. Gol tersebut merupakan gol ke-14 Mane di fase gugur Liga Champions. Jumlah tersebut menyamai rekor milik Didier Drogba sebagai pemain Afrika yang paling banyak membukukan gol di babak gugur Liga Champions.

ALBIOL JADI PEMAIN SPANYOL TERTUA DI SEMIFINAL LIGA CHAMPIONS

Raul Albiol telah menjadi pemain kunci untuk Villarreal sejak tiba di pada 2019. Dilansir Football Espana, Albiol kini menjadi pemain Spanyol tertua yang bermain pada tahap semifinal kompetisi Liga Champions. Dia melewati rekor dari pemain Barcelona Xavi Hernandez. Pemain Catalan itu bermain melawan Bayern Munchen pada usia 35 tahun dan 107 hari. Albiol telah mengunggulinya di usia 36 tahun 235 hari.

SERIE A: INTER MILAN TERGELINCIR

Laga Bologna melawan Inter Milan, Kamis dini hari tadi, adalah laga tunda pekan ke 20 Serie A. Sayang sekali, dalam persaingan meraih Scudetto, Inter justru dipermalukan Bologna dengan skor 1-2. Gol Inter dibuat Ivan Perisic di menit 3. Namun, Bologna berhasil membalikkan skor lewat aksi Marko Arnautovic dan Nicola Sansone. Kekalahan ini membuat Inter gagal mengkudeta AC Milan di posisi puncak.

INZAGHI BELA IONUT RADU SETELAH BLUNDER

Pelatih Inter Simone Inzaghi membela kipernya, Ionut Radu, yang melakukan blunder pada laga kontra Bologna. Kiper asal Rumania tersebut melakukan blunder saat gagal mengontrol bola lemparan ke dalam dari rekan setimnya sendiri. Akibatnya, Bologna bisa mencetak gol kemenangan 10 menit sebelum pertandingan bubar. Inzaghi tetap enggan menyalahkan Radu. Ia tetap memberikan keyakinan kepada sang kiper.

RANGNICK: MU TERLALU MULUK-MULUK JIKA PIKIRKAN 4 BESAR

Peluang Manchester United finis di empat besar Premier League sebenarnya masih cukup terbuka. Asalkan MU bisa menyapu bersih di empat laga sisa, dan berharap para pesaing seperti Tottenham dan Arsenal tergelincir. Berkaca pada situasi tersebut, manajer Interim Setan Merah, Ralf Rangnick pun memilih realistis saja. Menurutnya, empat besar sudah tak lagi dalam jangkauan dan yang kini bisa dilakukan MU adalah tampil baik di setiap laga.

TUCHEL AKUI BANYAK YANG TIDAK SENANG KEPERGIAN RUDIGER

Antonio Rudiger pergi meninggalkan Stamford Bridge Juni mendatang lantaran kontraknya habis, dan disebut-sebut segera merapat ke Real Madrid. Manajer Chelsea Thomas Tuchel  mengungkapkan, tidak ada seorang pun yang menyukai keputusan Rudiger untuk hengkang akhir musim ini. Tuchel menilai Rudiger membuat semua orang percaya diri di ruang ganti. Rudiger karakter yang unik dan bermain di level yang luar biasa.

MILAN TINDAK LANJUTI NEGO TRANSFER BERARDI

Dilansir Football Italia, AC Milan dikabarkan sudah masuk tahap lanjut dalam proses negosiasi transfer Domenico Berardi dari Sassuolo. Laporan itu juga menyebut Berardi masuk dalam prioritas perekrutan Milan. Harganya pun terjangkau yakni sekitar 30 juta euro. Sebab, harga itu tidak menjadi masalah bagi Milan karena proses akuisisi klub dari tangan Elliott Management ke Investcorp sebentar lagi akan rampung. Artinya, dana segar untuk belanja hampir pasti cair

AC MILAN AKAN DIBELI PRESIDEN MANCHESTER CITY?

AC Milan di ambang pemilik baru dalam waktu dekat. Pasalnya, perusahan induk milik negara Abu Dhabi, Mubadala, akan terlibat dalam pengambilalihan klub bersama Investcorp, perusahaan investasi global asal Bahrain. Mubadala sendiri memiliki 20% saham di Investcorp dan CEO-nya Khaldun al-Mubarak merupakan Presiden tim sultan Liga Primer Inggris, Manchester City.

AKIBAT ESL, UCL 2023/24 TANPA MADRID, BARCELONA DAN JUVENTUS?

Dilansir dari Football Italia, konsekuensi para penggagas European Super League harus ditanggung meski rencana tersebut akhirnya dibatalkan. UEFA menjatuhkan sanksi kepada Juventus, Real Madrid, dan Barcelona karena dinilai sebagai klub yang paling getol menggelar ESL. Juventus, Real Madrid, dan Barcelona pun terancam sanksi tak bisa mengikuti gelaran Liga Champions musim 2023/24. Namun, sanksi larangan main di Liga Champions itu baru akan diberlakukan apabila ketiga tim tersebut menolak beberapa hukuman dari UEFA.

SARRI TAK TERIMA DENGAN KRITIKAN PRESIDEN LAZIO

Pelatih Lazio, Maurizio Sarri kabarnya tidak terima dikritik oleh presiden klub, Claudio Lotito setelah timnya dikalahkan Milan pada laga yang berlangsung akhir pekan lalu di Stadio Olimpico. Presiden Lazio kabarnya mengatakan bahwa ‘Tidak dilarang untuk membuat umpan-umpan panjang’, tapi Sarri tidak senang mendengar kritikan tersebut dan menjawab: ‘Ini sepak bola saya, jika anda tidak suka bawa kembali Stefano Pioli.’

RODGERS SEBUT SEMUA ORANG INGIN SEPERTI MOURINHO

Manajer Leicester City Brendan Rodgers memberikan pujian kepada pelatih AS Roma Jose Mourinho menjelang bentrok kedua tim di leg pertama semifinal Conference League, Jumat (29/4) dini hari di Stadion King Power. “Dia memiliki faktor X, dia brilian dalam banyak aspek permainan. Cara mengatur, detailnya, taktiknya, dan cara mempromosikannya dengan para pemain.” Menurut Rodgers, semua orang ingin seperti Mourinho.

LAWAN CHELSEA, MU KEHILANGAN MAGUIRE DAN SANCHO

Dua pemain Manchester United Harry Maguire dan Jadon Sancho dipastikan absen dalam pertandingan Liga Inggris melawan Chelsea di Old Trafford pada Jumat dini hari nanti. Ralf Rangnick menjelaskan bahwa Maguire absen karena cedera lutut, sedangkan Sancho harus menepi karena radang amandel. Selain kedua pemain tersebut, Rangnick tidak bisa menurunkan Edinson Cavani, Luke Shaw, Paul Pogba dan Fred karena cedera.

LIGA UKRAINA AKHIRNYA DIBUBARKAN

Musim Liga Primer Ukraina 2021/22 telah secara resmi dinyatakan berakhir karena tidak dapat diselesaikan imbas invasi Rusia. Menurut laporan dari ESPN, pihak penyelenggara Liga Premier Ukraina memutuskan bahwa kompetisi resmi dihentikan dan tabel klasemen pada 24 Februari menjadi klasemen akhir, tapi tanpa pemenang.  Pada tabel akhir tersebut, Shakhtar Donetsk menempati puncak klasemen dengan keunggulan dua poin atas juara bertahan Dynamo Kyiv setelah 18 pertandingan berjalan. Keputusan liga tersebut harus disetujui oleh Federasi Sepak Bola Ukraina, yang harus menyerahkan hasil kompetisi ke UEFA pada awal Juni mendatang.

10 Transfer Paling Buruk Musim 2021-22

0

Musim 2021/22 hampir selesai, tinggal menunggu beberapa pertandingan saja. Dulu, sebelum musim bergulir, klub-klub papan atas telah mempersiapkan diri dengan mendatangkan para pemain. Hal itu dilakukan agar kekuatan tim makin meningkat, dan membuat klub tetap di jalur perburuan juara.

Namun, tidak semua pemain yang didatangkan memberikan dampak positif bagi klub. Bahkan aktivitas transfer ke sebuah klub, justru membuat performa si pemain tidak sama dengan klub sebelumnya. Dan malah bisa lebih buruk. Nah berikut ini transfer paling buruk musim 2021/22. Siapa saja mereka?

Saul Niguez (Atletico Madrid ke Chelsea)

Entah faktor apa yang membuat manajer Chelsea, Thomas Tuchel mendatangkan Saul Niguez dari Atletico Madrid. Tepat di saat pelatih Atletico Madrid, Diego Simeone sendiri sudah tidak lagi menaruh kepercayaan pada Saul. Apalagi Saul sengaja dipinjamkan Los Rojiblancos lantaran performa yang mengempis.

Beberapa musim di Atletico, performa Saul memang kelihatan mengalami penurunan, meski hanya perlahan. Tapi hal itu justru dimanfaatkan Chelsea untuk mengambil jasa Saul. Konon untuk memberinya kesempatan dan mengembalikan performanya.

Namun, apa yang terjadi justru sebaliknya. Thomas Tuchel dibuat kecewa dengan peminjaman itu. Saul mencatatkan kesan tak bagus pada debutnya bersama The Blues, seperti ketika menghadapi Aston Villa pada 9 November 2021 lalu.

Pada laga itu, meski beroperasi di posisi gelandang bertahan, Saul gagal melakukan intersep dan tekel. Akurasi umpannya pun hanya 81 persen. Ia gampang terpancing oleh pemain lawan. Di laga melawan Watford, Saul juga melakukan hal yang hampir mirip. Jelang musim ini berakhir, Saul Niguez lebih sering menjadi penghangat bangku cadangan di skuad The Blues.

Sergio Ramos (Real Madrid ke PSG)

Kedatangan Sergio Ramos ke klub kaya, Paris Saint-Germain menjadi peristiwa yang menggemparkan. Sayang, transfer itu hanya gemerlap di depan. Pada kenyataanya kedatangan Ramos ke PSG menjadi salah satu transfer terburuk musim 2021/22.

Meski begitu, Ramos memang tidak memiliki catatan buruk ketika bermain di PSG. Hal itu karena sejak berseragam PSG, Ramos malah menepi cukup lama lantaran cedera dan dalam fase membangun kembali kebugarannya. Mauricio Pochettino bahkan harus menggunakan duet Marquinhos dan Presnel Kimpempe, karena belum bisa memainkan Ramos.

Sejauh ini Ramos hanya bermain sebanyak 9 kali di Ligue 1, dan satu kali di Coupe de France. Namun, Ramos sudah mencetak dua gol ketika ia mendapat kesempatan tampil di liga. Itu artinya, kehadiran Ramos juga sebetulnya tidak buruk-buruk amat. Namun, bagaimanapun ia mengecewakan para fans.

Georginio Wijnaldum (Liverpool ke PSG)

Selain membeli Sergio Ramos, PSG juga mendatangkan Giorginio Wijnaldum dari Liverpool pada musim ini. Tapi sayang banget, namanya jadi tenggelam setelah berseragam PSG. Wijnaldum yang tampil luar biasa saat berseragam Liverpool dan mampu mengantarkannya juara Liga Champions, justru memble ketika berada di PSG.

Saat bermain untuk Liverpool, Klopp selalu menempatkan Wijnaldum di lini tengah, sebagai pengatur tempo permainan yang sangat lugas dan atraktif. Namun, di PSG, Wijnaldum tak memiliki peran vital di bawah Pochettino.

Meski ia termasuk dalam skuad PSG juara Ligue 1 musim ini, tapi perannya bisa dihitung jari. Wijnaldum hanya bermain 28 kali di liga, dan hanya sanggup mencatatkan 3 asis dan 1 gol saja. Selama di PSG, secara keseluruhan performa Wijnaldum cenderung tak maksimal.

Jadon Sancho (Dortmund ke Manchester United)

Sulit untuk mengakui, terutama bagi penggila Manchester United, bahwa Jadon Sancho adalah pembelian terburuk Setan Merah. Namun kenyataannya memang demikian.

Ketika masih bermain di Bundesliga, Jadon Sancho hanya butuh 24 pertandingan untuk mengemas 8 gol dan 11 asis. Sementara, ketika memperkuat Setan Merah, ia baru tampil 29 kali di liga, dan hanya mencetak 3 gol dan 3 asis. Statistik ini tak sebanding dengan uang 85 juta euro (Rp1,2 triliun) yang MU salurkan ke Dortmund untuk membeli Sancho.

Sancho sudah memberikan gambaran buruk sejak debutnya saat MU menghadapi Wolverhanmpton. Kala itu, Sancho hanya sanggup mengemas nol tembakan, nol umpan kunci, dan nol drible tuntas.

Eric Garcia (Manchester City ke Barcelona)

Musim ini Eric Garcia kembali ke klub yang membimbingnya dari Manchester City. Namun, kembalinya ke Barcelona dengan status bebas transfer, ternyata meleset dari harapan. Garcia yang digadang-gadang menjadi seorang Gerard Pique versi terbaru, justru penampilannya jauh di bawah standar.

Apalagi jika kita melihat penampilan Garcia saat menghadapi Benfica di Liga Champions. Garcia beberapa kali diganggu plus dikelabui Darwin Nunez. Hal itu membuat dirinya jadi pusat perhatian karena menjadi lubang, yang membuat Barcelona kebobolan tiga gol tanpa balas.

Marcel Sabitzer (RB Leipzig ke Bayern Munchen)

Tak jelas apa yang membuat sang juara Bundesliga, Bayern Munchen merekrut Marcel Sabitzer dari RB Leipzig. Bahkan dengan harga yang mencapai 16 juta euro (Rp243,4 miliar). Namun, memang, Sabitzer kerap dimainkan Julian Nagelsmann.

Ia setidaknya sudah menjadi line up 7 kali di Bundesliga, dan memulai bermain dari bangku cadangan 18 kali. Namun, soal peran Sabitzer ini patut dipertanyakan. Sang pemain hanya mampu mencetak 1 gol dan 1 asis di 25 laga Bundesliga. Maka, wajar kalau Bayern Munchen pada akhirnya akan menjual kembali Sabitzer meski baru semusim.

Luuk de Jong (Sevilla ke Barcelona)

Saat melatih Barcelona, Ronald Koeman mendatangkan Luuk de Jong dari Sevilla. Padahal kiprahnya di Sevilla sama sekali tidak mengesankan. Tercatat di musim sebelumnya, dari 34 pertandingan di liga bersama Sevilla, Luuk de Jong hanya mencetak 4 gol. Padahal ia seorang striker.

Penandatanganannya di Barcelona pun mengecewakan penggemar. Karena pada saat itu, justru Barcelona lebih memilih menyingkirkan Antoine Griezmann demi mendatangkan Luuk de Jong. Sejauh ini, ia hanya mencetak 6 gol di La Liga dan lebih sering jadi penghuni bangku cadangan.

Romelu Lukaku (Inter ke Chelsea)

Penulis olahraga Stefan Bienkowski terang-terangan menulis, Romelu Lukaku bisa menjadi pembelian terburuk di Premier League sepanjang sejarah. Harganya yang mencapai Rp1,7 triliun lebih, tak sepadan dengan performanya di bawah Thomas Tuchel.

Lukaku gagal mengulangi catatan 30 gol dalam 44 pertandingannya ketika di Inter. Bersama skuad The Blues, Lukaku sudah bermain 22 kali di liga dan baru mengemas lima gol saja. Hal itu membuka kemungkinan Chelsea bakal menjual kembali Lukaku. Ya, biar nggak rugi-rugi amatlah.

Jack Grealish (Aston Villa ke Manchester City)

Jack Grealish menjadi aset terpenting Aston Villa. Pemain itu berhasil mendatangkan uang ke klub berkat aktivitas transfernya. Grealish dibeli Manchester City dengan harga selangit, yaitu Rp1,7 triliun lebih. Tentu ini menjadi transfer yang sensasional.

Namun, kehidupannya di Etihad tak sesuai harapan. Grealish gagal menebus harganya dengan penampilan yang ciamik. Dari 22 pertandingan yang ia lakoni untuk Manchester City, Grealish hanya mencetak 2 gol dan 2 asis saja.

Ia juga pernah dikeluarkan dari skuad City karena alasan kedisiplinan. Bagaimana? Sangat tidak sepadan dengan harganya bukan?

Lionel Messi (Barcelona ke PSG)

Terakhir, tentu saja Lionel Messi. Perpisahan La Pulga dengan Barcelona untuk merapat ke PSG bikin semua fans Barca menangis. Tapi, kita lupakan kesedihan itu. Messi sendiri pun bisa jadi sedih berpisah dengan Barcelona.

Selain kemungkinan tertutupnya peluang juara Liga Champions, Messi juga harus berjuang ekstra keras di PSG. Hal yang mungkin bisa ia lakukan sambil merem ketika bermain untuk Barcelona.

Ia memang mencatatkan rekor pribadi dengan meraih gelar Ligue 1 untuk pertama kalinya. Namun, peran Messi di PSG sangatlah minim. Dari 22 pertandingannya bersama Paris Saint-Germain di Ligue 1, sang mega bintang baru mencetak 4 gol saja. Meski ia sanggup mencetak 13 asis. Wajar kalau pada akhirnya, muncul rumor kalau Messi bakal pergi dari PSG.

https://youtu.be/af3l1g8Bi04

Sumber referensi: Marca, FootballTransfers, BavarianFootballWorks, MED Sport, Transfermarkt

Cedera yang Memudarkan Sihir Anderson di Dunia Sepakbola

0

Selain Juan Mata, siapa lagi pemain yang muncul dalam pikiran football lovers jika mendengar angka 8 sebagai nomor punggung di skuad Manchester United? Yup, salah satu yang paling terkenal di era 2000-an adalah Anderson. 

Apakah para penggemar Manchester United masih ingat dengan nama tersebut? Pemain tengah asal Brazil yang memiliki nama lengkap Anderson Luis de Abreu Oliveira ini sempat meraih gelar golden boy pada tahun 2008. 

Bersanding dengan nama-nama beken seperti Wayne Rooney dan Cesc Fabregas sebagai peraih penghargaan pemain muda terbaik, nyatanya tak membuat karirnya meroket seperti para pendahulunya. Lantas, bagaimana kisah perjalanan karir rollercoaster milik Anderson bersama Man Utd?

Menarik Perhatian Bersama Porto

Sebelum menandatangani kesepakatan bersama Manchester United, Anderson dianggap sebagai talenta muda paling potensial di dunia sepakbola kala itu. Dengan melihat riwayat ke belakang, tentu pujian itu tak berlebihan.

Bagaimanapun, Anderson adalah pemain yang memenangkan Golden Ball di Piala Dunia U17 dan pemain Gremio itu langsung menjadi komoditas panas di Brazil. Kemudian tak lama dari Piala Dunia U17, Anderson mulai menerima minat dari klub di luar Brazil, dan pada tahun 2006 ia pindah ke Eropa untuk pertama kalinya bersama FC Porto.

Sementara teman-teman sebayanya tenggelam dalam dunia gelap obat-obatan terlarang, Anderson rela mempersiapkan diri kurang lebih selama setahun hingga usianya 18 tahun untuk merantau ke Portugal demi membangun kerajaan sepakbolanya sendiri.

Singkat cerita, setelah beradaptasi cukup baik, Anderson diberi jersey nomor 10 di Porto. Ia dengan cepat mulai menunjukkan mengapa ia pantas menerima Golden Ball. Anderson merupakan pemain bertipikal penggiring bola yang sangat baik dengan mata yang tajam untuk jangkauan umpan yang luas.

Anderson melakukan debut di Liga Champions 2005/06. Namun, sekitar satu bulan setelah debutnya itu ia malah mengalami cedera parah yang membuatnya harus menepi untuk waktu yang cukup lama.

Namun, Anderson masih menarik perhatian beberapa klub terbesar dari seluruh Eropa seperti Real Madrid dan Chelsea yang mulai muncul mendekati. Tapi justru Manchester United yang bertindak lebih dulu untuk mengamankan jasanya.

The Golden Boy

Di musim pertamanya bersama United, Anderson, sempat dimainkan di posisi yang sama dengan Wayne Rooney, nyatanya ia tak begitu efektif dalam memainkan peran tersebut. Akhirnya Sir Alex memberikan Anderson peran yang lebih bertahan di lini tengah.

Setelah perubahan posisi tersebut, Anderson menunjukkan tanda-tanda awal yang menjanjikan dalam balutan seragam Setan Merah. Bahkan ia dianggap sebagai pengganti alami untuk sosok maestro lini tengah United, Paul Scholes yang mulai termakan usia.

Melalui gaya permainannya, Anderson dengan cepat menjadi idola baru Old Trafford. Meski hanya bermain di tengah, ia tak takut untuk menunjukan skill olah bola khas negeri samba. Selain itu ia juga cepat dan kuat, tampil eksplosif di lini tengah United.

Anderson menjadi salah satu pemain muda yang berhasil menembus skuad utama asuhan Sir Alex Ferguson. Meski tak mencetak satu gol pun, musim itu berlangsung indah dengan bermain dalam 38 laga di semua kompetisi dan memenangi dua trofi bergengsi, yaitu Liga Inggris dan Liga Champions.

Menariknya, laga final Liga Champions kontra Chelsea, Anderson muda yang hanya masuk sebagai pemain pengganti malah diberikan kesempatan untuk menendang penalti yang mana harus menghadapi penjaga gawang berpengalaman, Petr Cech. Berbekal mental baja, tendangan Anderson akhirnya berhasil mengecoh Cech.

Performa Anderson yang luar biasa di musim pertamanya bersama United membuatnya memenangkan penghargaan Golden Boy pada tahun 2008, mengikuti jejak pendahulunya Wayne Rooney, Lionel Messi, dan Sergio Aguero.

Cedera Jadi Mimpi Buruk Anderson

Musim 2009/10 dimulai dengan gol pertamanya yang telah lama ia nantikan bersama United, dalam penyelesaian rebound naluriah dari tepi luar kotak penalti dalam kemenangan 3-1 di Tottenham. Namun, setelah itu, permasalahan yang melibatkan bocah Brazil mulai muncul.

Ada perselisihan yang terdokumentasi dengan Ferguson pada Januari 2010, di mana manajer asal Skotlandia itu mempertanyakan kurangnya profesionalisme Anderson dan mengeluarkannya dari skuad untuk beberapa pertandingan. 

Sebulan kemudian, Anderson malah mengalami cedera ligamen anterior saat melawan West Ham. Cedera itu membuat Anderson absen selama sisa musim itu. Sialnya, kala menjalani masa pemulihan ia malah terlibat dalam kecelakaan mobil yang membuat penyembuhannya semakin lama.

Anderson pun kembali ke skuad Manchester United pada awal musim 2010/11. Namun, karena pengaruh cedera parah musim sebelumnya, Anderson mulai menderita masalah kebugaran. Ia pun kembali mengalami cedera pada Februari 2011 meski keluar masuk line up ia tetap terdaftar sebagai peraih gelar Liga Inggris musim itu.

Ketika sedang berusaha memulihkan kebugarannya, banyak pertanyaan tentang sikap dan etos kerjanya di lapangan dan luar lapangan. Terlebih, selama pemulihan berat badannya justru semakin bertambah.

Bahkan, Owen rekan satu timnya kala itu menganggap ia sama dengan pemain-pemain Brazil lainnya. Anderson dianggap memiliki kepribadian yang santai, namun itu terlalu santai untuk ukuran pemain Manchester United.

Ketika Anderson akhirnya kembali dari cedera, kepercayaan United kepadanya telah memudar dan reputasinya sebagai Golden Boy dan calon penerus Scholes tampak seperti isapan jempol belaka.

Layu Sebelum Mekar Sempurna

Sempat bangkit dan menjadi starter di laga kemenangan paling memorable 8-2 atas Arsenal. Namun, beberapa bulan kemudian cedera kembali menghantui Anderson dan memaksanya untuk kembali menepi dari lapangan hijau.

Tak lagi menjadi pilihan utama di skuad Manchester United, Anderson menghabiskan masa-masa akhirnya di Inggris dengan menjalani peminjaman bersama Fiorentina pada tahun 2014. Bersama La Viola pun ia tak bisa menemukan performa terbaiknya lagi.

Di usianya yang masih 26 tahun, United melepasnya gratis ke Internacional. Tentu usia 26 seharusnya menjadi masa keemasan bagi pesepakbola. Namun, bagaimana lagi, Anderson tak bisa bangkit dari rangkaian cedera yang ia alami.

Bagai bunga yang layu sebelum mekar sempurna, penurunan karir Anderson pun tak bisa dihindarkan. Praktis, setelah bergabung dengan Internacional, namanya tak pernah terdengar lagi.

Sempat tak memiliki klub selama enam bulan pada tahun 2018. Anderson akhirnya menemukan klub yang mau menampung sisa-sisa kejayaannya. Klub Turki, Adana Demirspor tercatat sebagai klub terakhir yang dibela “mantan” bocah ajaib ini. 

Anderson pun mengakhiri karir sepakbolanya bersama Adana di usia 31 tahun. Meski kejayaan Anderson terbilang singkat, pemilik 4 gelar Liga Inggris ini tetap meninggalkan kenangan berharga terutama bagi para fans United di mana pun berada.

Sumber: Planetfootball, Thesefootballtimes, Mirror, Transfermarkt

Nasib Cristiano Ronaldo Dibawah Ten Hag, Pergi Atau Bertahan?

Manchester United sudah kedatangan Erik Ten Hag sebagai pelatih baru musim depan. Ten Hag akan mengarsiteki Setan Merah dengan berbagai jurus yang ia miliki demi bangkitnya MU. Beberapa pemain pun diincarnya, ada juga yang akan didepak karena beberapa alasan.

Salah satu dampak kedatangan Ten Hag adalah nasib bintang MU, Cristiano Ronaldo. Antara akan dilepas atau dipertahankan. Dua jawaban yang seakan sulit untuk menjawabnya. Serba dilematis bagi Red Devils.

Ketergantungan

Ronaldo yang baru didatangkan musim lalu dari Juventus demi ambisi membantu United kembali meraih kejayaan masa lalu ternyata menemui jalan buntu. Apa yang diekspektasikan publik MU ternyata belum kesampaian. Performa Ronaldo terkadang angin-anginan. Disamping sudah uzur secara usia, peran Ronaldo juga tampak berkurang di dalam skema Rangnick sekarang.

Peluang ia untuk dilepas mencari klub lain terbuka. Pasalnya MU diyakini sering terpaku pada ketergantungan CR7 di lapangan. Sosoknya bahkan sering dijadikan centre of point ketika membangun serangan yang berakibat mudah dibaca oleh lawan.

Ronaldo seakan jadi sosok yang tak tergantikan, padahal secara performa jika kurang apik dalam satu match harusnya Ronaldo sadar diri dan pelatih harus mengambil keputusan tegas untuk menggantinya ataupun mencadangkannya. Hal ini sepertinya urung dilakukan karena alasan kesenioran, legenda, dan sebagainya.

Ketergantungan itu tampaknya menjadi hal yang harus dihindari, dan MU harus segera memutuskan untuk mendepaknya jika benar-benar ketergantungan itu akan membawa kehancuran ke depannya.

Gaya Melatih Ten Hag

Setelah kedatangan Ten Hag yang notabene adalah pelatih yang lebih menyukai membangun tim dengan para pemain muda, sosok Ronaldo mau tidak mau harus tersingkir. Hal itu sekarang tampaknya harus segera diputuskan oleh Ten Hag. Ten Hag harus tegas akan pendiriannya. Dia harus segera melapor ke manajemen bahwa dia sudah tidak butuh jasanya lagi musim depan.

Gaya melatih Ten Hag dengan pola pakem serangan 4-2-3-1, jarang memakai sosok yang menjadi centre of point akan tetapi lebih mengandalkan teamwork. Pergerakan semua pemain yang cair serta semua pemain diperlakukan sama adalah prinsip Ten Hag dalam melatih.

Atas dasar itulah kenapa kans Ronaldo untuk bertahan di MU sedikit, kemungkinan untuk meninggalkan United musim depan menjadi opsi, jika keberadaanya tidak masuk dalam rencana Ten Hag musim depan. Terlepas dari label bintang dan rekor-rekornya.

Regenerasi

Hal lain yang menjadi titik fokus bagi Ten Hag adalah regenerasi di tubuh MU yang sampai saat ini sudah mulai berjalan bersama Rangnick. Atas dasar itu juga kehadiran Ronaldo nantinya hanya akan menghambat pertumbuhan para striker muda United yang sudah ada dalam masalah menit bermain.

Di bawah bayang-bayang seorang Ronaldo adalah sesuatu hal yang risih bagi para pemain muda. Ketokohannya sering menjadi bumerang ketika semua pemain tidak berani mengkritiknya ketika di lapangan. Seolah Ronaldo adalah segalanya bagi tim. Hal itu justru tidak disadari akan perlahan merusak tim itu sendiri.

Faktor Liga Champions

Hal lain juga yang memungkinkan untuk Ronaldo pergi dari Old Trafford adalah masalah MU yang tidak tampil di Liga Champions musim depan. Kini memang MU sedang bertarung dengan Arsenal, Spurs, dan West Ham untuk mendapat 1 jatah tiket ke Liga Champions di musim depan.

Kans itu masih terbuka sampai pekan terakhir meskipun secara hitung-hitungan peluang MU untuk meraih itu sulit. Hal itu dikatakan Rangnick usai kalah melawan Arsenal 3-1.

Melihat faktor tersebut, bagi Ronaldo mungkin akan menjadi pertimbangan untuk karirnya kedepan. Dia pasti masih ingin tampil di kasta tertinggi kompetisi sepakbola Eropa. Sebagai golongan mega bintang kelas wahid, gengsi nampaknya sebuah hal yang sulit dihindari. Tengok saja Messi, ia pun seperti itu.

Ronaldo Stay

Dari semua kemungkinan akan didepaknya Ronaldo, atau hengkangnya Ronaldo karena beberapa faktor tadi, baru-baru ini muncul secercah harapan bagi fans Ronaldo di MU untuk paling tidak menghabiskan sisa kontraknya 1 tahun lagi di MU alias “Ronaldo Stay”.

Ronaldo Stay” mungkin akan lebih sering dijumpai di lini masa sekarang ini, meskipun setelah kedatangan Ten Hag. Ronaldo di bawah Ten Hag banyak yang meyakini akan diberi kesempatan untuk membimbing MU yang sedang dirombak secara besar-besaran di musim depan.

Ronaldo stay” tampaknya lebih kepada pengaruh positifnya ke dalam tim sembari berbagi ilmu untuk para pemain muda maupun pemain baru yang akan didatangkan Ten Hag. Secara permainan di lapangan Ten Hag mungkin harus berpikir 100 kali untuk mempertahankan Ronaldo. Pasalnya ia sering sekali menolong setan merah dikala deadlock di musim ini.

Keran Gol MU

Hal yang perlu diperhatikan kenapa Ronaldo harus bertahan paling tidak 1 tahun lagi adalah dia sering menjadi penentu kemenangan dengan gol-golnya. Seperti apa yang ia sering tunjukan kala mengalahkan Norwich, Spurs maupun di kala kalah seperti melawan Arsenal di mana gol MU berasal darinya.

Tidak dipungkiri ia adalah yang nomor satu jika urusan menghabisi gawang lawan. Tak jarang ia dijadikan sebagai keran gol sebuah klub maupun di timnas. Di musim ini saja Ronaldo bersama MU sudah total menciptakan 22 gol di semua kompetisi sampai pekan ke 34 Liga Inggris. Ia menjadi top skor sementara MU di atas Bruno Fernandes dengan 9 gol. Ten Hag sekarang mau tidak mau harus memikirkan aspek itu.

Kepemimpinan Dan Keteladanan

Selain faktor CR7 menjadi sumber gol bagi United, faktor pengaruh kepemimpinan juga akan dipetimbangkan Ten Hag. Ten Hag akan berpikir dari apa yang sudah Ronaldo sumbangkan selama ini kepada United.

Pola kepemimpinan di lapangan, ketenangan, serta pengaruh untuk mendinginkan ruang ganti, menjadi keahlian tersendiri bagi Ronaldo. Ruang ganti MU yang selama ini sangat bermasalah, bahkan sempat terjadi kubu-kubu-an, sampai-sampai legenda MU Paul Scholes mengatakan ruang ganti United musim ini “dalam bahaya”.

Soal lain yakni keteladanan seorang Cristiano Ronaldo yang dibutuhkan Ten Hag untuk memberi contoh perilaku keprofesionalannya dalam lapangan kepada para pemuda. Keteladanannya di dalam maupun di luar lapangannya diharapkan Ten Hag dapat dicontohkan sekaligus ditularkan sebagai bagian dari psikologis mental para pemain mudanya.

Tidak dipungkiri juga dulu Ronaldo ketika baru datang ke Old Trafford tidak sungkan menimba ilmu dari para seniornya yang masih ada seperti Paul Scholes, Gary Neville maupun Rio Ferdinand. Situasi yang semacam itulah yang diinginkan Ten hag dari tujuan kemungkinan mempertahankan seorang Cristiano Ronaldo di Theater Of Dreams musim depan

Antara pergi dan bertahan, semua ada di tangan sang manajer baru Erik Ten Hag. Melihat dari beberapa faktor, semua kemungkinan antara pergi dan bertahan itu ada. Tinggal menunggu kalkulasi atau hitung-hitungan saja antara sikap pelatih baru dan tentu manajemen United soal nasib Ronaldo musim depan. Mana yang lebih menguntungkan United, pergi atau bertahan.

Sumber Referensi : foottheball, express.co, givemesport

Berita Bola Terbaru 27 April 2022 – Starting Eleven News

Berita Bola Terbaru dan Terkini

MUSIM JUVENTUS BERSAMA ALLEGRI BAK BENCANA

Juventus dibawah naungan Massimiliano Allegri tampil tidak begitu spartan musim ini. Banyak pihak yang kemudian mengkritik penampilan Juventus musim ini. Opini miring soal Max Allegri juga disampaikan oleh mantan bek Daniele Adani. Menurutnya musim ini merupakan bencana untuk klub sekelas Juventus. Adani juga menyebut Allegri sudah kehilangan kredibilitasnya sebagai seorang allenatore.

MAN UNITED DAN PSG BEREBUT BINTANG LAZIO

Sergej Milinkovic-Savic bisa saja hengkang dari Lazio akhir musim ini. Potensi itu coba dimanfaatkan oleh dua klub beken Manchester United dan Paris Saint-Germain untuk mengajukan tawaran. Dalam laporan football Italia, pihak Milinkovic-Savic mengaku punya tawaran mencapai 65 juta euro dari PSG dan Manchester United. Presiden Lazio Claudio Lotito sejatinya pernah menolak tawaran senilai lebih dari 100 juta euro untuk pemain internasional Serbia itu.

STERLING PUTUSKAN MASA DEPAN DI AKHIR MUSIM 

Tanda tanya meliputi masa depan Raheem Sterling di Etihad. Menyusul kontrak Sterling yang akan habis pada musim panas tahun depan. Dalam konferensi pers sebelum laga kontra Real Madrid, Winger Manchester City itu belum mau membahas masa depannya. Sterling mengungkapkan, dia akan membuat keputusan di akhir musim ini. Saat ini dirinya hanya ingin bermain dan berkontribusi pada tim. Itu hal yang paling penting.

NGEBET BOYONG LUKAKU, INTER MALAH DIJEGAL EKS PELATIH SENDIRI

Inter Milan mendapat batu sandungan serius saat berencana menggaet bomber Chelsea, Romelu Lukaku dalam bursa transfer musim panas nanti. Meski Lukaku mengiyakan transfer tersebut namun Inter Milan tak lantas bisa memulangkannya. Bagaimana tidak, Antonio Conte disebut bakal menjegal niatan I Nerazzurri. Conte sendiri dikabarkan bakal ditunjuk PSG menggantikan Pochettino. Rumornya, jika ia ke PSG, ia akan mencoba mendatangkan Lukaku dari Chelsea.

MOISE KEAN: JUVENTUS AJARI ANDA UNTUK SELALU YAKIN

Pahlawan kemenangan Juventus atas Sassuolo, Moise Kean menegaskan timnya memiliki tradisi yang kuat untuk selalu berjuang demi mencapai target mereka. “Kami percaya sampai akhir, itulah yang diajarkan Juventus, bertujuan untuk mengambil semua poin yang diperebutkan. Ada Piala yang harus dimenangkan, tetapi kami fokus menjalaninya satu per satu,” kata Kean dikutip Football Italia.

LIVERPOOL VS VILLARREAL, VIRGIL VAN DIJK WASPADAI GERARD MORENO CS

Bintang Liverpool Virgil van Dijk mengatakan The Reds harus dalam kondisi terbaiknya untuk mengalahkan Villarreal di semifinal Liga Champions. Seperti diketahui, Liverpool bakal melawan Villareal pada leg pertama semifinal nanti malam. Pemain internasional Belanda itu menyatakan raksasa Merseyside tidak akan meremehkan ancaman tim tamu yang dilatih Unai Emery di Anfield. Sebab, Gerard Moreno cs punya serangan yang cukup berbahaya.

XAVI INGIN BARCELONA DATANGKAN 7 PEMAIN BARU

Seperti dilansir Football Espana, pelatih Barcelona Xavi Hernandez ingin membangun skuad yang kompetitif dengan dua pemain baru di tiap posisi. La Blaugrana ingin merekrut antara 6-7 pemain baru selama bursa transfer musim panas. Skuad saat ini, meskipun bagus, tidak memiliki kedalaman yang memungkinkan Barcelona menantang gelar La Liga, maupun berjaya di Eropa.

DIKAITKAN DENGAN PINTU KELUAR MAN CITY, BEGINI JAWABAN JESUS

Penyerang Manchester City Gabriel Jesus dikaitkan dengan sesama klub Liga Inggris, Arsenal. Kontrak Jesus di City kurang lebih tinggal 12 bulan. Ada sejumlah spekulasi seputar masa depannya dalam beberapa hari terakhir. Selain Arsenal, Barca dan Juve diyakini juga tertarik untuk mengontrak pemain Brasil itu. Jesus pun akhirnya memberi tanggapan mengenai rumor keluar dari klub pada musim panas ini. Ternyata dia masih bungkam dan enggan bicara soal masa depannya bersama The Citizens.

GUNDOGAN BUKA PELUANG GABUNG KLUB MLS ATAU SUPER LIG

Ilkay Gundogan berharap bisa bermain untuk Manchester City sampai akhir karirnya. Kendati demikian, dia membuka peluang untuk hengkang ke klub lain. Kontrak gelandang Jerman itu dengan City berakhir pada musim panas 2023, dan dia menyebut bulan lalu ingin menandatangani perpanjangan, tetapi tidak ada pembicaraan dengan klub. Gundogan mengaku senang di Manchester, tetapi juga ingin mencoba peruntungannya di Super Lig atau MLS jika dia tidak menandatangani kontrak baru.

DIINCAR BAYERN DAN TOTTENHAM, INTER PATOK HARGA DENZEL DUMFRIES

Bintang Inter Milan Denzel Dumfries tampil apik sehingga menjadi incaran banyak klub. Klub yang paling tertarik dengan pemain internasional Belanda itu diyakini adalah Bayern Munchen dan Tottenham Hotspur. Mengetahui pemainnya jadi bidikan klub lain, Inter langsung mengambil ancang-ancang dengan mematok harga pemain asal Belanda tersebut. Menurut Football Italia, Dumfries diberi label harga minimum 40 juta euro atau Rp 617 miliar untuk setiap pembeli potensial.

MANCHESTER CITY TUMBANGKAN MADRID

Drama tujuh gol mewarnai partai leg pertama babak semifinal Liga Champions antara Manchester City melawan Real Madrid di Etihad, Rabu dini hari tadi. Di babak pertama, City unggul 2-1 atas Madrid. Dua gol City dicetak berkat sundulan Kevin de Bruyne dan tendangan Gabriel Jesus, sedangkan gol balasan Madrid dicetak oleh Benzema. Kemudian di babak kedua, City menambahkan dua gol melalui aksi Phil Foden dan juga Bernardo Silva. Sedangkan Madrid juga membuat dua gol lagi melalui aksi solo run Vinicius Junior dan gol kedua Benzema lewat penalti. Skor 4-3 untuk kemenangan Man City. Leg kedua, yang digelar minggu depan, giliran Madrid yang akan menjadi tuan rumah.

ALASAN BENZEMA LAKUKAN PENALTI PANENKA LAWAN MANCHESTER CITY

Dua gol dicetak oleh Karim Benzema saat Real Madrid menelan kekalahan dari Manchester City di Liga Champions. Salah satunya dari tendangan penalti. Benzema melakukan panenka karena dua penalti sebelumnya saat lawan Osasuna gagal berbuah gol. Tembakannya terbaca dan ditepis kiper Sergio Herrera. Dan striker asal Prancis itu menyadari bahwa dia harus mengubah gaya penaltinya. Dan benar, gaya panenka berhasil jadi gol.

ANCELOTTI DAN BENZEMA CATAT SEJARAH DI MADRID

Ancelotti menjadi pelatih pertama yang tampil di semifinal Liga Champions dalam empat dekade berbeda. Dia pertama kali membawa timnya ke babak semifinal pada kompetisi klub terbesar di Eropa ini saat musim 1998/99 kala melatih Juventus. Ia berhasil membawa Milan Juara pada tahun 2003 dan 2007, lalu membawa Madrid juara pada 2014. Selain itu di sisi lain, Karim Benzema mengukir laga ke-600 sepanjang berseragam Real Madrid saat melawat ke markas Manchester City.

TUKAR JERSEY DENGAN ALVES, SINYAL DYBALA GABUNG BARCELONA?

Paulo Dybala memicu spekulasi transfer setelah bertukar kaus dengan pemain Barcelona Dani Alves. Pasangan ini bertemu di Barcelona pada Selasa (26/4) dan memamerkan pertemuan itu melalui akun Instagram mereka. Dybala akan menjadi agen bebas ketika kontraknya dengan Juventus berakhir pada 30 Juni. Manajemen Nyonya Tua tidak menawarkan kontrak baru kepadanya.

ROMAGNOLI SANGKAL AKAN GABUNG LAZIO

Bek AC Milan Alessio Romagnoli mengecam laporan yang mengatakan kepada penggemar Lazio bahwa dia dengan senang hati akan bergabung dengan mereka sebagai agen bebas. Sangkalan itu diberikan Romagnoli melalui sebuah pesan di Instagram Stories. “Saya tidak mengerti bagaimana sebuah surat kabar bisa menciptakan, entah dari mana dan tanpa rasa hormat, ungkapan seperti itu.”

ERIK TEN HAG INGIN MU REKRUT DARWIN NUNEZ

Untuk memenuhi kuota penyerang mereka di musim depan, Manchester United sepertinya akan serius memburu pemain yang dijuluki The New Cavani, Darwin Nunez. Pelatih baru MU Erik ten Hag sudah meminta agar MU bergerak untuk mengamankan jasa striker 22 tahun itu dengan segera. Ten Hag ingin agar negosiasi tidak berjalan lama dan semua pemain yang ia mau sudah berada di Old Trafford pada awal Agustus 2022.

LIVERPOOL SIAP SALIP MU DALAM PERBURUAN AURELIEN TCHOUAMENI

Menurut laporan Sportbible, Liverpool siap menyalip Manchester United dalam perburuan gelandang bertahan muda milik AS Monaco, Aurelien Tchouameni di jendela transfer musim panas 2022 mendatang. Dan demi memenangkan perburuan servisnya, The Reds sudah membuka komunikasi dengan orang-orang terdekat sang gelandang. Harga Tchouameni sendiri kabarnya cukup terjangkau. Ia bisa direkrut dengan harga sekitar 50 juta euro (Rp767 miliar).

KLOPP TEGASKAN LIVERPOOL TIDAK REMEHKAN VILLARREAL

Liverpool akan menjamu Villarreal pada partai pertama semifinal Liga Champions. Di atas kertas, The Reds lebih diunggulkan atas tim kapal selam kuning. Hal ini mengacu kepada kedalaman skuad dan performa dalam beberapa laga terakhir. Akan tetapi, Pelatih Liverpool Jurgen Klopp menegaskan The Reds tak akan memandang Villarreal sebelah mata dan meyakini timnya akan menderita saat bersua wakil Spanyol tersebut.

BARCELONA PERPANJANG KONTRAK ARAUJO

Melalui laman resminya, Barcelona mengumumkan bahwa mereka mencapai kesepakatan perpanjangan kontrak bek asal Uruguay Ronald Araujo hingga 2026. Klub Catalan tersebut, selama beberapa bulan terakhir, telah menjalin negosiasi kontrak dengan pemain 23 tahun itu yang kontraknya sedianya kedaluwarsa pada 2023. Kontrak baru Araujo tersebut juga mencakup klausul rilis yang mencapai 1 miliar euro (sekitar Rp15,3 triliun).

BAYERN INCAR HALLER SEBAGAI PENGGANTI LEWANDOWSKI

Robert Lewandowski dirumorkan bakal segera meninggalkan Bayern Munchen pada bursa transfer musim panas 2022 untuk menuju ke Barcelona. Meskipun Bayern dengan tegas menolak untuk melepasnya, namun Die Roten tetap mempersiapkan calon penggantinya. Dikutip dari Football Espana, kini Bayern sedang mengincar jasa striker andalan Ajax Amsterdam, Sebastien Haller, yang memiliki nilai transfer sebesar 33,5 juta pounds atau setara dengan Rp607 miliar.

DUA PEMAIN ATLETICO MADRID PULIH DARI CEDERA

Atletico Madrid dikabarkan menyambut kembalinya dua pemain penting mereka setelah menepi selama beberapa waktu karena cedera, mereka adalah gelandang Hector Herrera dan defender Jose Maria Gimenez. Herrera dan Gimenez telah berlatih bersama rekan satu timnya di Atletico Madrid pada sesi Selasa (26/4) pagi waktu setempat.

JANJI FRANCESCO TOTTI SAAT AS ROMA TANDANG KE LEICESTER CITY

AS Roma akan menghadapi Leicester City di semifinal Conference League. Laga ini sudah sangat dinantikan legenda klub, Francesco Totti. Dia berjanji akan menonton kedua pertandingan sebagai fans. Termasuk di Stadion King Power pada leg pertama. Pemenang Piala dunia 2006 itu juga mendoakan agar mantan klubnya bisa menembus final, dan menjadi jawara di turnamen tersebut.

TIGA PERMINTAAN ANTONIO CONTE JIKA LATIH PSG

Antonio Conte dilaporkan telah mengkonfirmasi keinginannya membesut PSG pada musim 2022/23. Laporan dari Football Italia turut menyebutkan bahwa Conte sudah mengajukan tiga syarat kepada PSG jika mereka menginginkan jasanya. Yaitu kendali penuh atas bursa transfer alias pembelian pemain, keinginan bekerja sama dengan Gianluca Petrachi, dan kontrol penuh atas staf pelatihnya.

JUVENTUS HARUS PILIH ANTARA DI MARIA ATAU ZANIOLO

Angel Di Maria dan Nicolo Zaniolo merupakan dua pemain yang masuk radar Juventus, namun merujuk laporan Football Italia Si Nyonya Tua hanya akan memilih satu di antaranya. Laporan mengklaim Juventus akan memprioritaskan Zaniolo sebagai salah satu bakat masa depan di Italia. Namun, harga Zaniolo tergolong mahal yakni 60 sampai 70 juta euro. Karena itulah, Juventus belum akan mencoret Di Maria dari daftar incaran mereka. 

UEFA KERJASAMA DENGAN EUROPOL BERANTAS KORUPSI

UEFA menjalin kerja sama dengan badan penegak hukum Uni Eropa (Europol). Kerja sama kedua lembaga itu dalam upaya memberantas korupsi dan dugaan pengaturan skor di sepak bola. Diketahui, sejumlah perwakilan dari penegak hukum, otoritas yudisial dan asosiasi sepakbola nasional dari 49 negara menghadiri konferensi bersama di Den Haag, Belanda pada Selasa untuk membicarakan rencana melindungi integritas sepakbola.

Luka Modric: Dari Pembelian Terburuk La Liga Jadi Andalan Real Madrid

0

Namanya Luka Modric. Gelandang Kroasia yang beroperasi di lini tengah Real Madrid. Penampilannya tidak flamboyan, namun gaya dan visi bermainnya sangat jelas. Begitu taktis, atraktif, dan mampu membuat siapa pun terkagum-kagum.

Tidak sulit untuk mengakui bahwa Modric gelandang terbaik di planet ini. Hanya butuh satu momen, seperti pada leg kedua perempat final Liga Champions Eropa, saat Real Madrid mesti melewati hadangan Chelsea. Kala itu, Modric yang usianya menginjak 36 tahun tampil 120 menit penuh.

Dari situ kita melihat bahwa Modric memiliki stamina yang bagus sebagai seorang gelandang. Namun, bukan itu saja. Modric berperan dalam upaya Los Galacticos melangkah ke semifinal.

Umpannya yang indah pada Rodrygo untuk kemudian menjadi gol, menyeret seluruh pasang mata di dunia untuk melihatnya. Wartawan kenamaan, Fabrizio Romano bahkan ogah mengatakan itu sepakbola, melainkan seni tingkat tinggi.

Penampilannya di laga tersebut juga memaksa legenda sepakbola Italia, Alessandro del Piero untuk berkomentar. Del Piero terkagum-kagum pada seorang Luka Modric, sampai-sampai ia tak berhenti menghujani pemain Kroasia itu dengan pujian.

Namun, Del Piero dan Fabrizio Romano, bahkan kita semua tidak akan sederas itu melancarkan pujian pada Modric, jika melihat penampilannya sedekade lalu.

Modric Menyapa Santiago Bernabeu

Satu dekade yang lalu, 27 Agustus 2012, Luka Modric menginjakkan kakinya di rumput Santiago Bernabeu. Dengan banderol 30 juta poundsterling (Rp543,5 miliar), Real Madrid mengenalkan Modric ke para socios dan madridista di seluruh dunia. Ketika itu Modric berusia 27 tahun.

Ia yang mengangkat performa Spurs sebagai pesaing Liga Champions, ditambah perannya dalam membantu Kroasia mengalahkan Inggris dan lolos ke EURO 2008 bikin El Real kepincut. Tentu ketika itu, bukan hanya Madrid yang tertarik, Chelsea juga menunjukkan ketertarikannya pada The Blues.

Los Galacticos memenangi perburuan, karena tawarannya 20 juta pounds (Rp326 miliar) lebih banyak dari tawaran yang disodorkan Chelsea. Daniel Levy, bos Tottenham Hotspur pun gembira karena Modric membawa keuntungan nyaris dua kali lipat sejak didatangkan dari Dinamo Zagreb.

Ada peran Jose Mourinho dalam perekrutan itu. Mourinho yang masih mengambil kendali meminta dengan sedikit memaksa Florentino Perez untuk mendatangkan Luka Modric. Mourinho sangat membutuhkan jasa Modric di timnya. Apalagi Modric memiliki teknik bermain yang bagus dan pembacaan permainan yang cemerlang.

“Dia (Modric) bisa memainkan bola pendek maupun panjang, Mencetak gol di luar arena. Punya kualitas dalam membuat keputusan. Kecepatan berpikirnya baik,” terang Jose Mourinho pada media Kroasia, Sportske Novosti seperti dikutip Planet Football.

Modric Dibeli untuk Menonton Real Madrid

Kehidupan Modric di ibukota Spanyol tidak sama dengan di Inggris. Bahkan kehidupan sang pemain di Madrid awalnya justru jauh lebih buruk, daripada ketika memperkuat Tottenham Hotspur. Ekspektasi yang tinggi pada Modric, ternyata tak bisa dibayar lunas olehnya. Modric ikut tenggelam ketika El Real memulai musim 2012/13 dengan gontai.

Musim itu, pasukan Jose Mourinho memang menjuarai Piala Super Spanyol. Namun, di liga pijakan awalnya sangat buruk. Real Madrid hanya meraih empat poin dari empat pertandingan pembuka mereka. Sementara sang rival, Barcelona justru tak tergoyahkan di bawah mendiang Tito Vilanova yang jadi suksesor Pep Guardiola.

Mourinho yang awalnya mendorong Real Madrid agar membeli Modric, malah dia sendiri yang justru jarang memainkan sang gelandang. Modric lebih sering menjadi penghangat bangku cadangan. Ia hanya menjadi pemain pengganti. Mourinho yang sering menggunakan pemain nomor 10, membuat Modric sukar berkembang.

Kapten Timnas Kroasia itu kering kontribusi ketika memainkan peran nomor 10. Mourinho pada akhirnya lebih sering memainkan Mesut Ozil, yang kala itu sudah mencatatkan 28 asis dan tujuh gol. Kontribusi-kontribusi semacam itu menjadi sangat mencolok ketika seorang pemain bermain untuk Real Madrid.

Tercatat sampai liburan musim dingin pada bulan Desember, Modric hanya mencatatkan 19 penampilan bersama Real Madrid. Ia rata-rata hanya bermain selama 38 menit dalam satu pertandingan. Dan Modric hanya mampu mengemas satu gol.

Rekrutan Terburuk La Liga

Puncaknya, Luka Modric dianggap sebagai rekrutan terburuk di La Liga. Itu bukan sekadar tuduhan tak berdasar. Harian olahraga yang berbasis di ibukota Spanyol, Marca melakukan jejak pendapat untuk mencari tahu siapa rekrutan terburuk di La Liga.

Nama Luka Modric menduduki peringkat pertama dalam jejak pendapat tersebut. Ia menjadi penandatanganan terburuk La Liga musim itu dengan memperoleh suara 32%. Ia bahkan lebih buruk dari rekrutan Barcelona, Alex Song. Akan tetapi, Modric tidak tinggal diam. Melalui pers Kroasia, ia turut mengutarakan pendapatnya.

“Ini Real Madrid. Saya mengerti ada tekanan besar untuk pemain baru yang bermain di sini (Real Madrid),” kata Modric seperti dikutip Planet Football.

Namun, Modric bukanlah sosok pemain yang gampang mengangkat bendera putih. Ia melawan jejak pendapat itu. Berusaha untuk keluar dari keterpurukan dan mencoba beradaptasi di Real Madrid. Modric percaya bahwa dirinya bisa membuktikan ada sesuatu dalam dirinya yang bisa ia tawarkan.

Menuruti Kemauan Mourinho

Usai jejak pendapat itu terbit, dan menggores noda di reputasinya, Modric berusaha mencari tahu apa yang dapat ia lakukan. Ya, mengikuti kemauan Mourinho. Mau tidak mau, suka tidak suka, Modric mesti mengikuti pola yang disusun Mourinho. Jika Mourinho menginginkan ia mengambil peran nomor 10, Modric harus bisa melakukannya.

Pelan-pelan penampilan Modric mulai terlihat sesuai harganya. Real Madrid memang remuk di leg pertama ketika menghadapi Dortmund di semifinal Liga Champions musim tersebut. Namun, leg kedua di Bernabeu, Mourinho melakukan perubahan taktis. Ia menempatkan Modric sebagai pivot dan bergerak lebih dalam. Mourinho memaksa Modric untuk bermitra dengan Xabi Alonso.

Luka Modric menjawab permintaan itu dengan penampilan mentereng. Di laga yang akhirnya dimenangkan Real Madrid 2-0 itu, Modric berhasil melakukan 70 operan. Jumlah itu dua kali lebih banyak dari leg pertama. Sayangnya, walaupun menang, Real Madrid gagal melaju ke final usai kalah agregat 4-3 atas Dortmund.

Bermitra dengan Casemiro dan Toni Kroos

Real Madrid menyingkirkan Mourinho. Carlo Ancelotti pun masuk, dan ini membawa berkah buat Modric. Pasalnya, selain keluarnya Kaka dan Ozil, perubahan taktis dari 4-2-3-1 menjadi 4-3-3 di kubu Madrid, bikin kemampuan Modric yang sesungguhnya keluar.

Dengan formasi itu, yang disusun Ancelotti, Modric bisa bermain di lini tengah. Memungkinkan dirinya bermain di suatu tempat antara trequartista dan playmaker. Membuatnya sanggup mendominasi permainan, hingga seolah-olah seperti Xavi atau Andres Iniesta.

Kedatangan Toni Kroos dan Casemiro ke Santiago Bernabeu mendatangkan keuntungan buat Modric. Kroos dan Casemiro pada akhirnya menjadi tandem mematikan Modric di lini tengah El Real. Casemiro dengan kepekaan posisinya yang baik, karakter agresif, dan naluri yang berkembang pesat.

Toni Kroos dengan keahlian bola matinya, insting dan matanya yang tajam untuk mengoper. Sementara, Luka Modric menawarkan pengalaman dengan keterampilannya. Modric pun menjadi andalan Real Madrid di lini tengah. Ia menjadi sosok pengatur permainan Los Galacticos. Modric tak perlu mengemis Ballon d’Or, karena trofi itulah yang mendekat dengan sendirinya.

Wajar saja bila pelatih Real Madrid, Carlo Ancelotti tak pernah surut pujiannya untuk Modric. Bagaimanapun keseriusan, kejeniusan, kualitas, keterampilan, dan etos kerja seorang Luka Modric, pada akhirnya menggugurkan jejak pendapat yang menganggapnya rekrutan gagal di La Liga. Bravo, Luka!

https://youtu.be/_nRRqiE0v3Q

Sumber referensi: PlanetFootball, BR, Sporbibble, Fotmob, TheNationalNews