Selain Juan Mata, siapa lagi pemain yang muncul dalam pikiran football lovers jika mendengar angka 8 sebagai nomor punggung di skuad Manchester United? Yup, salah satu yang paling terkenal di era 2000-an adalah Anderson.
Apakah para penggemar Manchester United masih ingat dengan nama tersebut? Pemain tengah asal Brazil yang memiliki nama lengkap Anderson Luis de Abreu Oliveira ini sempat meraih gelar golden boy pada tahun 2008.
Bersanding dengan nama-nama beken seperti Wayne Rooney dan Cesc Fabregas sebagai peraih penghargaan pemain muda terbaik, nyatanya tak membuat karirnya meroket seperti para pendahulunya. Lantas, bagaimana kisah perjalanan karir rollercoaster milik Anderson bersama Man Utd?
Daftar Isi
Menarik Perhatian Bersama Porto
Sebelum menandatangani kesepakatan bersama Manchester United, Anderson dianggap sebagai talenta muda paling potensial di dunia sepakbola kala itu. Dengan melihat riwayat ke belakang, tentu pujian itu tak berlebihan.
Bagaimanapun, Anderson adalah pemain yang memenangkan Golden Ball di Piala Dunia U17 dan pemain Gremio itu langsung menjadi komoditas panas di Brazil. Kemudian tak lama dari Piala Dunia U17, Anderson mulai menerima minat dari klub di luar Brazil, dan pada tahun 2006 ia pindah ke Eropa untuk pertama kalinya bersama FC Porto.
Skills, tricks, goals, flips and 4 #PL titles each 🏆@ManUtd signed Nani and Anderson #OnThisDay in 2007 pic.twitter.com/D9BD2eGKhd
— Premier League (@premierleague) July 2, 2019
Sementara teman-teman sebayanya tenggelam dalam dunia gelap obat-obatan terlarang, Anderson rela mempersiapkan diri kurang lebih selama setahun hingga usianya 18 tahun untuk merantau ke Portugal demi membangun kerajaan sepakbolanya sendiri.
Singkat cerita, setelah beradaptasi cukup baik, Anderson diberi jersey nomor 10 di Porto. Ia dengan cepat mulai menunjukkan mengapa ia pantas menerima Golden Ball. Anderson merupakan pemain bertipikal penggiring bola yang sangat baik dengan mata yang tajam untuk jangkauan umpan yang luas.
Anderson melakukan debut di Liga Champions 2005/06. Namun, sekitar satu bulan setelah debutnya itu ia malah mengalami cedera parah yang membuatnya harus menepi untuk waktu yang cukup lama.
Namun, Anderson masih menarik perhatian beberapa klub terbesar dari seluruh Eropa seperti Real Madrid dan Chelsea yang mulai muncul mendekati. Tapi justru Manchester United yang bertindak lebih dulu untuk mengamankan jasanya.
The Golden Boy
Di musim pertamanya bersama United, Anderson, sempat dimainkan di posisi yang sama dengan Wayne Rooney, nyatanya ia tak begitu efektif dalam memainkan peran tersebut. Akhirnya Sir Alex memberikan Anderson peran yang lebih bertahan di lini tengah.
Setelah perubahan posisi tersebut, Anderson menunjukkan tanda-tanda awal yang menjanjikan dalam balutan seragam Setan Merah. Bahkan ia dianggap sebagai pengganti alami untuk sosok maestro lini tengah United, Paul Scholes yang mulai termakan usia.
Melalui gaya permainannya, Anderson dengan cepat menjadi idola baru Old Trafford. Meski hanya bermain di tengah, ia tak takut untuk menunjukan skill olah bola khas negeri samba. Selain itu ia juga cepat dan kuat, tampil eksplosif di lini tengah United.
Anderson menjadi salah satu pemain muda yang berhasil menembus skuad utama asuhan Sir Alex Ferguson. Meski tak mencetak satu gol pun, musim itu berlangsung indah dengan bermain dalam 38 laga di semua kompetisi dan memenangi dua trofi bergengsi, yaitu Liga Inggris dan Liga Champions.
Cristiano Ronaldo interviewing Anderson after Manchester United won the 2008/09 Premier League. pic.twitter.com/xVU4OLzmQG
— Sky Sports Retro (@SkySportsRetro) March 13, 2021
Menariknya, laga final Liga Champions kontra Chelsea, Anderson muda yang hanya masuk sebagai pemain pengganti malah diberikan kesempatan untuk menendang penalti yang mana harus menghadapi penjaga gawang berpengalaman, Petr Cech. Berbekal mental baja, tendangan Anderson akhirnya berhasil mengecoh Cech.
Performa Anderson yang luar biasa di musim pertamanya bersama United membuatnya memenangkan penghargaan Golden Boy pada tahun 2008, mengikuti jejak pendahulunya Wayne Rooney, Lionel Messi, dan Sergio Aguero.
Cedera Jadi Mimpi Buruk Anderson
Musim 2009/10 dimulai dengan gol pertamanya yang telah lama ia nantikan bersama United, dalam penyelesaian rebound naluriah dari tepi luar kotak penalti dalam kemenangan 3-1 di Tottenham. Namun, setelah itu, permasalahan yang melibatkan bocah Brazil mulai muncul.
Ada perselisihan yang terdokumentasi dengan Ferguson pada Januari 2010, di mana manajer asal Skotlandia itu mempertanyakan kurangnya profesionalisme Anderson dan mengeluarkannya dari skuad untuk beberapa pertandingan.
Sebulan kemudian, Anderson malah mengalami cedera ligamen anterior saat melawan West Ham. Cedera itu membuat Anderson absen selama sisa musim itu. Sialnya, kala menjalani masa pemulihan ia malah terlibat dalam kecelakaan mobil yang membuat penyembuhannya semakin lama.
Anderson pun kembali ke skuad Manchester United pada awal musim 2010/11. Namun, karena pengaruh cedera parah musim sebelumnya, Anderson mulai menderita masalah kebugaran. Ia pun kembali mengalami cedera pada Februari 2011 meski keluar masuk line up ia tetap terdaftar sebagai peraih gelar Liga Inggris musim itu.
Ketika sedang berusaha memulihkan kebugarannya, banyak pertanyaan tentang sikap dan etos kerjanya di lapangan dan luar lapangan. Terlebih, selama pemulihan berat badannya justru semakin bertambah.
Bahkan, Owen rekan satu timnya kala itu menganggap ia sama dengan pemain-pemain Brazil lainnya. Anderson dianggap memiliki kepribadian yang santai, namun itu terlalu santai untuk ukuran pemain Manchester United.
Ketika Anderson akhirnya kembali dari cedera, kepercayaan United kepadanya telah memudar dan reputasinya sebagai Golden Boy dan calon penerus Scholes tampak seperti isapan jempol belaka.
Layu Sebelum Mekar Sempurna
Sempat bangkit dan menjadi starter di laga kemenangan paling memorable 8-2 atas Arsenal. Namun, beberapa bulan kemudian cedera kembali menghantui Anderson dan memaksanya untuk kembali menepi dari lapangan hijau.
📆 On this day in 2011: Manchester United demolished Arsenal 8-2 at Old Trafford.
Peep the Ronaldinho-esque assist from Anderson to make it 1-0 😅
What a season that was
📹 – @ManUtd pic.twitter.com/6oPjcC3pTa
— Footy Accumulators (@FootyAccums) August 28, 2020
Tak lagi menjadi pilihan utama di skuad Manchester United, Anderson menghabiskan masa-masa akhirnya di Inggris dengan menjalani peminjaman bersama Fiorentina pada tahun 2014. Bersama La Viola pun ia tak bisa menemukan performa terbaiknya lagi.
Di usianya yang masih 26 tahun, United melepasnya gratis ke Internacional. Tentu usia 26 seharusnya menjadi masa keemasan bagi pesepakbola. Namun, bagaimana lagi, Anderson tak bisa bangkit dari rangkaian cedera yang ia alami.
Bagai bunga yang layu sebelum mekar sempurna, penurunan karir Anderson pun tak bisa dihindarkan. Praktis, setelah bergabung dengan Internacional, namanya tak pernah terdengar lagi.
Sempat tak memiliki klub selama enam bulan pada tahun 2018. Anderson akhirnya menemukan klub yang mau menampung sisa-sisa kejayaannya. Klub Turki, Adana Demirspor tercatat sebagai klub terakhir yang dibela “mantan” bocah ajaib ini.
Anderson pun mengakhiri karir sepakbolanya bersama Adana di usia 31 tahun. Meski kejayaan Anderson terbilang singkat, pemilik 4 gelar Liga Inggris ini tetap meninggalkan kenangan berharga terutama bagi para fans United di mana pun berada.
Sumber: Planetfootball, Thesefootballtimes, Mirror, Transfermarkt


