Beranda blog Halaman 558

Berita Bola Terbaru 6 Mei 2022 – Starting Eleven News

HASIL PERTANDINGAN

Dalam lanjutan liga malam jumat, Frankfurt berhasil tekuk wakil Inggris, West Ham dengan skor tipis 1-0. Gol tunggal Frankfurt dicetak oleh Rafael Borre di menit 26. The Hammers terpaksa bermain dengan 10 pemain kala Cresswell mendapat kartu merah di menit 19. Hal itu menyulitkan Declan Rice Cs untuk mengembangkan permainan mereka. Skor tersebut sudah cukup untuk meloloskan Frankfurt ke final Europa League dengan agregat 3-1.

Di pertandingan lain, Rangers di luar dugaan mampu melenggang ke final Liga Europa setelah mengalahkan klub kuat Jerman, RB Leipzig. Bertanding di Ibrox Stadium, Rangers menang dengan skor 3-1. 3 gol Rangers masing-masing dicetak oleh James Tavernier menit 18, Glen Kamara menit 24 dan John Lundstram menit 80. Sedangkan Leipzig hanya bisa membalas satu gol dari Christopher Nkunku di menit 70.

Sedangkan di Conference League, AS Roma asuhan Jose Mourinho berhasil menembus final usai kalahkan wakil Inggris, Leicester City dengan skor 1-0. Gol tunggal Roma dicetak oleh Tammy Abraham di menit 11. Dengan kemenangan tipis ini, Roma akan menantang Feyenoord di partai final.

JATAH FINAL SEMUA KOMPETISI EROPA TERPENUHI

Dengan berakhirnya pertandingan semifinal Europa League dan Conference League, kuota partai final di semua kompetisi antarklub Eropa telah terpenuhi. Real Madrid kembali bertemu dengan Liverpool di final UCL, Eintracht Frankfurt akan melawan Rangers asuhan Van Bronchost di final Europa League dan Roma bakal melawan Feyenoord di final Conference League. Kira-kira siapa yang akan keluar sebagai juara?

MOURINHO, MANAJER PERTAMA YANG TEMBUS FINAL BERSAMA 4 KLUB BERBEDA

Mourinho kembali tunjukan kualitasnya. Mourinho kembali merasakan panggung final kompetisi Eropa bersama. Menurut Opta, Mourinho adalah pelatih pertama yang bisa mencapai final Eropa dengan empat klub berbeda. Total, Mourinho mencapai lima final dan sudah menjuarai keempat final sebelumnya. Mou berhasil mencapai final bersama Porto UEFA Cup 2003 dan Liga Champions 2004, Inter Liga Champions 2010, MU Europa League 2017, dan AS Roma Conference League 2022. Selain itu, Mourinho juga jadi manajer pertama yang berhasil mencapai final di tiga kompetisi Eropa tersebut.

TEMBUS FINAL, ROMA BAKAL GRATISKAN TIKET FINAL

Setelah peluit panjang dibunyikan, Roma merilis pernyataan resmi yang mengonfirmasi bahwa mereka akan memberi hadiah kepada 166 penggemar yang sudah rela melakukan perjalanan ke Norwegia namun, Roma malah kalah 6-1 dari FK Bodo/Glimt di penyisihan grup. Fans tersebut melihat tim dalam kondisi terburuk dan sekarang mereka akan mendapat kesempatan untuk mendukung skuad di Final Conference League secara gratis.

PERAYAAN MADRID USAI COMEBACK DRAMATIS

Usai laga comeback dramatis Real Madrid atas Manchester City, skuad El Real bersukacita merayakan keberhasilan tersebut. Kamera di Santiago Bernabeu menangkap momen mengharukan, dengan Ancelotti terlihat menangis di pelukan putranya. Sedangkan para pemain bersorak-sorak di ruang ganti usai laga yang berat tersebut. 

PUJIAN KROOS ATAS SIKAP ANCELOTTI

Di tengah laga melawan Man City kemarin, Ancelotti tertangkap kamera sedang berdiskusi dengan para pemain senior Madrid. Ancelotti diduga bertanya kepada para veteran siapa yang harus diganti pada waktu tambahan. Momen viral ini pun menimbulkan respon Toni Kroos yang mana ia jadi salah satu pemain yang diajak berdiskusi Ancelotti. “Ancelotti meminta pendapat pada kami (pemain senior), situasi ini menggambarkan dia dengan sempurna sebagai pelatih dan itulah sebabnya dia bekerja sangat baik dengan tim.” Ungkap Kroos.

FINAL UCL JADI MISI BALAS DENDAM MO SALAH

Usai laga leg kedua di markas Villarreal, Mohamed Salah mengungkapkan harapannya agar Liverpool bisa berjumpa dengan Real Madrid di partai final Liga Champions musim ini. Dan Do’a Mo Salah terkabul, Liverpool akan menghadapi Madrid di partai final nanti. Tentu laga ini menjadi misi balas dendam Salah. Kita ketahui, Salah menerima kekalahan serta cedera parah di pertandingan final Liga Champions kontra Real Madrid beberapa musim lalu.

LIVERPOOL PAMERKAN JERSEY ANYAR MUSIM DEPAN

Raksasa Liga Inggris, Liverpool baru saja merilis jersey kandang baru untuk musim 2022-2023. Pihak klub mengatakan seragam musim depan terinspirasi dari sikap solidaritas Scouse dan mencerminkan mentalitas para punggawa The Reds. Jersey serba merah ini menampilkan detail YNWA di lengan, mewakili ikatan yang kuat antara para penggemar dengan klub.

ABRAMOVICH BANTAH TAGIH HUTANG PADA CHELSEA

Juru bicara Abramovich menampik rumor tentang hutang klub dan hasil penjualan klub tak jadi disumbangkan ke badan amal. “Niat Tuan Abramovich sehubungan dengan pemberian hasil dari penjualan Chelsea untuk amal tidak berubah.” Kata Jubir Abramovich. Ia juga mengkonfirmasi bahwa Abramovich tak meminta Chelsea untuk melunasi hutang apapun padanya, dan semua pemberitaan miring itu hanya omong kosong.

PIQUE: PEDRI BISA JADI PEMAIN TERBAIK DI DUNIA

Gerard Pique telah menyampaikan pendapatnya tentang pemain muda Barcelona. Menurut Barcablaugranes, Pique menaruh harap pada Pedri. Ia berpikir bahwa Pedri yang masih berusia 19 tahun memiliki peluang yang cukup tinggi untuk menjadi pemain terbaik di dunia. Dengan etos kerja dan konsistensi di lapangan, bukan tidak mungkin Pedri akan menjadi pemain tengah terbaik di masa depan.

UNITED GAET SPONSOR ANYAR

Meski belum ada pengumuman resmi dari pihak Manchester United, beberapa media telah membocorkan desain jersey anyar milik setan merah. Ada yang menarik dari foto-foto jersey yang beredar, United kedapatan memiliki sponsor anyar di bagian lengan. United dan Kohler tidak akan melanjutkan kemitraan mereka, dan DXC Technology perusahaan konsultan dan layanan teknologi informasi asal Amerika, bakal menggantikan Kohler musim depan.

TAMMY ABRAHAM LEBIH GACOR DARI HARRY KANE

Tak dapat dipungkiri, catatan Tammy Abraham dalam urusan mencetak gol, lebih baik daripada Harry Kane musim ini. Striker Roma itu adalah pemain Inggris paling produktif di lima liga top Eropa, dengan 19 gol dicetak di semua kompetisi. Ia mencetak satu gol lebih banyak daripada kompatriotnya di Timnas Inggris tersebut.

JERSEY TANGAN TUHAN MARADONA TERJUAL RP134 MILIAR

Menurut bleacherreport jersey yang dikenakan bintang Argentina Diego Maradona ketika dia memimpin timnya meraih kemenangan dramatis 2-1 atas Inggris di perempat final Piala Dunia 1986 terjual seharga $9,28 juta atau sekitar Rp134 miliar dalam sebuah lelang di Sotheby’s di London, pada hari rabu kemarin. Namun menurut putri Maradona, itu jersey yang dipakai ayahnya di babak pertama, bukan saat ia mencetak gol tangan tuhan.

ARSENAL TEMUKAN KEPINGAN PUZZLE YANG HILANG

Arsenal akan memanfaatkan situasi dimana Christopher Nkunku yang berniat untuk meninggalkan RB Leipzig akhir musim nanti. Pihak Arsenal yakin, bahwa Nkunku adalah pemain depan yang selama ini mereka cari. Fleksibilitas Nkunku di lini tengah dan posisi depan akan membuatnya menjadi rekrutan yang sempurna bagi The Gunners.

CITY TETAPKAN HARGA UNTUK GABRIEL JESUS

Selain Nkunku, Arsenal juga belum menyerah untuk mendapatkan striker Manchester City, Gabriel Jesus. Musim ini, Jesus cukup kesulitan untuk menembus skuad utama City, Pep lebih gemar memasang pemain seperti Foden atau Sterling sebagai penyerang tengah. Terlebih, dengan kemungkinan datangnya Haaland, posisi Gabjes akan semakin sulit. Oleh karena itu, City telah menetapkan 40 juta euro (Rp609 miliar) sebagai nilai yang harus ditebus Arsenal apabila mereka berminat mendatangkannya.

SPURS INGIN CUCI GUDANG

Sejumlah pemain bisa keluar dari Tottenham musim panas ini sebagai bagian dari pembangunan kembali yang akan dilakukan oleh Fabio Paratici menjelang 2022/23. Pemain-pemain tersebut antara lain, Harry Winks, Emerson Royal, Steven Bergwijn, Giovani Lo Celso dan Tanguy Ndombele. Uang hasil penjualan mereka akan dimanfaatkan untuk membeli pemain yang dibutuhkan klub dan Conte.

TEROR ULTRAS ROMA PADA LEICESTER

Ultras Roma membentangkan spanduk dalam bahasa Latin pada laga semifinal Liga Konferensi Eropa mereka kontra Leicester City. Spanduk itu berisikan pesan yang mengingatkan kembali pada invasi bersejarah Roma ke daratan Inggris. Bunyinya, ‘In Brittania cuncti nomen Romanorum horreba!’ atau yang berarti, “Di Britania semua orang takut nama Romawi!” Dan benar saja, AS Roma berhasil menaklukan Leicester di akhir laga.

LOZANO HANYA MENJADIKAN NAPOLI SEBAGAI BATU LONCATAN

Rumor yang mengatakan bahwa Hirving Lozano bakal meninggalkan Napoli terus santer terdengar, namun ayah Lozano meyakinkan bahwa pemain Meksiko itu akan bertahan di Napoli untuk musim depan. Ayah Lozano menyatakan bahwa anaknya bahagia di Napoli, namun beberapa hari lalu, Lozano sempat mengatakan pernyataan kontroversial. Ia berkata bahwa ia ingin bermain untuk klub top Eropa. Sontak hal itu menjadi stigma bahwa Lozano hanya menjadikan Napoli sebagai batu loncatan saja.

PELATIH BOLOGNA BERHASIL BERJUANG DARI LEUKEMIA 

Sinisa Mihajlovic awalnya didiagnosis dengan penyakit Leukimia pada Juli 2019 dan pulih setelah melakoni beberapa kemoterapi dan transplantasi sumsum tulang. Namun, beberapa pekan yang lalu, tanda-tanda leukemia kembali muncul dan Mihajlovic kembali menjalani perawatan. Dan di hari pertamanya kembali ke tempat latihan Bologna, mereka merayakannya dengan makan siang barbekyu bersama jajaran staf dan pemain.

INGIN BERTAHAN, MBAPPE BATAL KE MADRID?

Mbappe sempat diberitakan telah menyepakati perpanjangan kontrak selama dua musim untuk bertahan di Paris. Namun, Ibu Mbappe menampik berita tersebut. Ibunya mengkonfirmasi bahwa Mbappe belum menyepakati apapun dengan PSG. Bahkan ia menyebutkan bahwa Madrid tetap menjadi opsi utama bagi Mbappe musim depan. Nantikan kabar selanjutnya, Mbappe bakal bertahan atau hengkang.

PEMILIK LIVERPOOL INGIN BELI AC MILAN?

Menurut Football Italia, pemegang saham minoritas Liverpool RedBird Capital Partners telah mengajukan tawaran 1 miliar euro atau sekitar Rp15 triliun untuk membeli AC Milan. Perusahaan yang sebagian sahamnya dimiliki oleh LeBron James ini akan menjadi pesaing bagi Investcorp yang juga berminat untuk membeli AC Milan. Jika kesepakatan ini terjadi, maka Milan akan menjadi klub kaya baru di Serie A.

SEVILLA PUNYA PELUANG PERMANENKAN MARTIAL

Kabarnya Martial tak akan masuk rencana Ten Hag di Manchester United musim depan. situasi ini bisa dimanfaatkan Sevilla untuk mengamankan jasa pemain internasional Prancis itu. Menurut Football Espana, Sevilla bakal menawarkan kesepakatan baru untuk Martial, tentunya dengan gaji yang lebih kecil dari gaji yang Martial dapat di MU.

KEAPESAN GUARDIOLA BERLANJUT

Lagi-lagi Pep Guardiola gagal membawa Manchester City berlaga di partai final Liga Champions musim ini. City, tak bisa mencegah gelontoran 3 gol dari Real Madrid di leg kedua beberapa hari yang lalu. Kekalahan ini menyebabkan Guardiola jadi pelatih yang memiliki kekalahan semifinal UCL terbanyak. Total Guardiola mengalami enam kekalahan.

TCHOUAMENI JADI REBUTAN KLUB-KLUB TOP EROPA

Aurélien Tchouaméni telah memutuskan untuk meninggalkan AS Monaco musim panas ini. Dengan klub-klub seperti Real Madrid, MU, PSG, Chelsea dan Liverpool mengantri untuk mendapatkan jasa Tchouameni, AS Monaco menetapkan mahar senilai 70 juta euro atau Rp1 triliun bagi siapa pun yang ingin menggaet pemain muda berbakat tersebut pada bursa transfer musim panas mendatang.

RONALDO JADI ALASAN CAVANI INGIN PERGI DARI UNITED

Dilansir dari ESPN, Edinson Cavani mengatakan kedatangan Cristiano Ronaldo di Manchester United membuatnya mempertimbangkan untuk meninggalkan klub. Hal ini bukan karena ia tak mau bermain bersama Cristiano, melainkan tentang memahami sebuah situasi bahwa Ronaldo terlalu sempurna untuk United. Namun, akhirnya Cavani menunda kepindahannya dan memainkan beberapa laga bersama Cristiano. Kini, Cavani mempertimbangkan untuk bermain di Portugal atau Spanyol.

Kisah 10 Tahun Lebih Pep Guardiola Gagal Di liga Champions

Penantian panjang Pep Guardiola untuk merebut Liga Champions akhirnya harus tertunda, setelah Manchester City tersingkir dramatis di babak semifinal oleh Real Madrid.

Sekarang, sudah hampir satu dekade pria plontos asal Spanyol itu puasa gelar Liga Champions, sejak terakhir kali ia mengalami kesuksesan Liga Champions pada debut awalnya melatih. Berikut adalah kisah nasib perjalanan karir Pep Guardiola di Liga Champions bersama 3 klub berbeda.

Barcelona (2008 – 2012)

Barcelona di musim panas 2008/09 secara mengejutkan menunjuk legendanya, Josep Guardiola sebagai pelatih. Minim pengalaman melatih di level senior, Pep dipercaya Laporta melanjutkan pondasi apik yang ditinggalkan Frank Rijkaard.

Debutnya di Liga Champions berjalan mulus dari awal. Meskipun bukan tim unggulan dan harus memulai dari kualifikasi, tim Pep mampu menjadi juara grup dan melenggang ke fase berikutnya. Menyingkirkan Lyon dan Munchen di babak 16 besar dan perempatfinal dengan agregat yang meyakinkan, Pep dinanti Chelsea di semifinal.

Gol dramatis Iniesta di menit akhir mengantarkan tim Pep menuju final di Olimpico Roma melawan United. Gol dari Eto’o dan Messi cukup untuk membuat Blaugrana asuhan Pep mengalahkan pasukan Sir Alex, dan menjadi kampiun di Roma. Gelar pertama yang indah bagi karir Pep sebagai pelatih.

Musim berikutnya 2009/10 langkah Pep di Liga Champions bersama Barcelona terhenti di semifinal. Adalah Jose Mourinho bersama Inter dengan kontra strateginya yang mampu menjegal pasukan Pep. Strategi parkir bus ala Mourinho ketika itu dapat menjegal permainan tiki-takanya.

Belajar dari kegagalan musim lalu, di musim 2010/11, Pep membangun pola baru permainan Barcelona dengan mengeksplorasi strategi tanpa striker murni atau false nine. Permainan indah tiki-taka mengantarkan pasukan Pep sekali lagi ke partai puncak, dan harus menghadapi Manchester United untuk kedua kalinya. Partai seru di Wembley tersebut mampu kembali ditaklukan oleh Pep dengan skor 3-1 untuk Barca. Itu merupakan gelar kedua Pep di Liga Champions

Bayern Munchen (2013-2016)

Karier Pep setelah pergi dari Barca, ia datang ke tanah Jerman bersama penguasa Bundesliga, Bayern Munchen yang baru saja mengalami momen indah bersama pelatih sebelumnya, Jupp Heynckes. Di Liga Champions musim pertamanya bersama The Bavarian musim 2013/14, Pep seakan ingin menunjukan kehebatannya ketika mampu mengantarkan Barcelona dua kali sukses mengangkat Si Kuping Besar itu.

Namun musim pertamanya di Jerman, ia hanya berhasil mengantarkan The Bavarians sampai ke babak semifinal. Setelah di babak semifinal pasukan Pep dicabik-cabik pasukan Madrid di bawah Carlo Ancelotti dengan skor agregat telak 5-0. Era permainan tiki-taka ala Pep yang diterapkan di Bayern tampaknya sudah mulai terbaca ketika itu.

Di musim 2014/15, pasukan Munchen di bawah Pep berubah. Lewandowski dan Xabi Alonso menjadi katalisator permainan indah ala Pep dan juga perubahan posisi pemain seperti Philipp Lahm yang difungsikan menjadi pemain tengah dari sebelumnya bek kanan mewarnai musim Munchen ketika itu.

Namun, asa Pep merengkuh sukses di Liga Champions harus kembali terhenti di babak semifinal. Kali ini adalah mantan klub sekaligus klub kesayangannya sendiri, Barcelona yang menjegalnya. Masterclass dari trio Messi, Suarez,dan Neymar tak mampu dibendung pasukan Pep. Munchen kalah agregat 5-3.

Belajar dari kegagalan di dua musim lalu yang hanya sampai semifinal, Pep seperti menggebu-nggebu dan makin penasaran di musim ketiganya bersama Munchen. Musim 2015/16, Munchen bersama Pep kembali harus menelan pil pahit. Hattrick semifinal pun tak terhindarkan.

Mereka sekali lagi gagal ke final setelah takluk dari klub Spanyol lainnya, Atletico Madrid dengan kalah agresivitas gol tandang. Strategi Pep kembali mentah di tangan kontra strateginya yakni negative football-nya Diego Simeone.

Manchester City (2016-sekarang)

Musim 2016/17 adalah musim baru Pep dengan jubah baru yakni Manchester City. Di bawah pemilik Uni Emirat Arab, Pep yang ditunjuk sebagai pelatih baru diharapkan mampu membawa mental Liga Champions bagi skuad Manchester City.

Musim pertama bersama City dengan merombak total beberapa pembelanjaan, pasukan Pep hanya mampu sampai babak 16 besar setelah dikandaskan AS Monaco dengan agregat skor 6-6, kalah agresivitas gol tandang. Banyaknya gol yang tercipta dan bersarang ke gawang City, menandakan bahwa skuad Manchester Biru masih butuh banyak belajar akan mental Liga Champions dari Pep, terutama mempertahankan keunggulan dengan sistem agregat.

Musim keduanya di 2017/18 menjadi pembelajaran kesekian kalinya bagi Pep. Di Liga Champions langkah pasukan Pep makin berbenah, dan menunjukan peningkatan. Kali ini mereka berhasil melangkah ke babak perempat final. Akan tetapi naas, pasukan Pep kembali tersingkir, kali ini disingkirkan oleh sesama wakil dari Inggris, Liverpool dengan agregat telak 5-1.

Kembali bertahan di City pada musim ketiganya, rasa penasaran terhadap gelar Liga Champions pun kini dianggap seperti hal yang bisa bagi Pep. Musim 2018/19 bersama metronom Kevin De Bruyne, David Silva maupun Aguero, pasukan Pep kembali kandas di perempat final, oleh wakil Inggris lainnya, Tottenham Hotspur. City kandas kembali karena agresivitas gol tandang seperti yang pernah ia alami di 2016/17 melawan Monaco.

Cerita hattrick kembali terulang di musim keempat Pep bersama City di 2019/20. Ketika hattrick semifinal berturut pernah dia rasakan bersama Munchen, kini giliran hattrick perempat final berturut dirasakan Pep bersama City. Usai tersingkir untuk ketiga kalinya, kali ini dari wakil Prancis, Lyon dengan skor 3-1.

Memasuki musim 2020/21, manajemen sudah kadung percaya kepada proses Pep untuk membawa City ke tingkat yang lebih tinggi di Liga Champions. Proses itu terbukti nyata ketika langkah City di Liga Champions musim tersebut bisa dibilang menemui titik cerah.

Menjadi juara grup dan menyingkirkan duo jerman Monchengladbach dan Dortmund di 16 besar dan perempat final dengan agregat yang meyakinkan. Langkah City di bawa Pep ke fase semifinal.

Bertemu tim kaya baru lainnya PSG, pasukan Pep berhasil mengatasinya dengan agregat yang meyakinkan juga. Pep akhirnya meraih asa dan harapan tertinggi untuk kembali tampil di partai puncak Liga Champions setelah terakhir dirasakannya pada tahun 2011 silam.

Nasib berbeda dialami Pep ketika di final kali ini. City harus merelakan gelar kepada wakil Inggris lainnya, Chelsea setelah kalah tipis 1-0 di final. Seakan bagai kutukan, Pep kembali tidak berhasil merengkuh trofi itu.

Tidak mau menyerah, di musim 2021/22 Pep menatap Liga Champions sebagai mantan finalis musim lalu dan berharap tuah di musim selanjutnya. Menjadi juara grup di atas PSG, langkah City mulus menyingkirkan Sporting dan Atletico Madrid di 16 besar dan perempat final dengan clean sheet.

City bersama Pep menatap semifinal dengan penuh percaya diri ketika bertemu Real Madrid. Namun, seolah kutukan kembali menghampiri Pep, City pun harus kalah dramatis di perpanjangan waktu oleh Madrid dengan agregat tipis 6-5. Pep kembali harus kehilangan mimpinya juara Liga Champions, setelah terakhir melakukannya pada 2011 lalu bersama Barcelona.

https://youtu.be/aaLYeEOhcRE

Sumber Referensi : fourfourtwo, espn, mirror

Carlo Ancelotti: Sang Penakluk 5 Liga Top Eropa

0

Jika Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel sekitar setengah milenium yang lalu, di bulan yang sama, Carlo Ancelotti, seorang manajer gaek kelahiran Reggiolo menasbihkan diri sebagai penakluk lima liga top Eropa. Don Carlo memastikannya setelah membawa Real Madrid meraih gelar juara La Liga beberapa waktu lalu.

Real Madrid melakukan pekerjaan singkat bersama Don Carlo dalam meraih titel tersebut. Dua kompetitor terberat Los Merengues, Atletico Madrid dan Barcelona sedang mengalami fase suram. Barca yang terpelanting dari Liga Champions, dan performanya yang kembang kempis meski sudah ganti pelatih.

Lalu, Atletico Madrid yang masih gitu-gitu saja, memudahkan Real Madrid mencapai tangga juara. Bahkan musim ini, Real Madrid bisa menjuarai La Liga dengan menyisakan empat pertandingan. Artinya, sekalipun Los Galacticos kalah di empat laga sisa, itu tidak akan membuat gelar La Liga berada di tangan Barcelona.

Apalagi, Barcelona hanya mengantongi 66 poin. Sementara, Real Madrid sudah mengumpulkan 81 poin sampai dinobatkan sebagai juara. Gelar ini tentu sangat membahagiakan bagi Carlo Ancelotti. Ia bagaimanapun telah mengukir kisah manis menjadi satu-satunya pelatih yang mampu menaklukkan lima liga top Eropa.

Pertama, Scudetto!

Don Carlo memulai kariernya dari klub semenjana, Reggiana di kasta kedua. Sebelum ia memutuskan untuk bergabung ke Parma, tentu saja sebagai seorang pelatih. Dari situ DNA pelatih hebat Don Carlo mulai kelihatan.

Serie A musim 1996/97, Ancelotti membawa Parma finis di peringkat kedua. Waktu itu, hanya terpaut dua poin saja dari sang juara, Juventus. Namun, itu sekadar kiprah terbaiknya. Karena sampai berjumpa dengan AC Milan, Don Carlo masih menemui jalan buntu. Meski ia sempat menukangi Juventus.

Walau terbilang gagal di Juventus, Don Carlo masih dipandang sebagai pelatih bagus. Untuk itu, AC Milan datang memberi kabar baik. Rossoneri merekrutnya hanya beberapa bulan setelah dipecat dari Juventus tahun 2001. Sayangnya, musim pertamanya di Milan masih gelap.

Kendati begitu, Don Carlo masih diberi kepercayaan. Pada musim keduanya bersama AC Milan, ia masih gagal meraih scudetto. Yang ada hanya gelar Copa Italia pada musim 2002-2003. Sedangkan di liga, AC Milan sekadar duduk di peringkat ketiga, di bawah Inter dan sang juara kala itu, Juventus.

Beruntung. Meski dua musim gagal meraih scudetto, Don Carlo masih bertahan di AC Milan. Entah apa yang menjadi penilaian rossoneri sampai mempertahankannya. Barangkali itu hanya sebuah pertaruhan. Jika dua musim gagal, mungkin di musim ketiga, AC Milan bisa meraih scudetto bersama Don Carlo.

Dan benar belaka. Pada musim ketiganya bersama rossoneri, Ancelotti akhirnya menjawab segala macam prediksi. Mendapat dukungan dari pemain seperti Shevchenko, Dida, Cafu, Kaka, Seedorf, Maldini, Inzaghi, sampai Nesta, Ancelotti akhirnya mempersembahkan scudetto ke-17 AC Milan pada musim 2003-2004. Kala itu, AC Milan duduk di singgasana klasemen, berjarak 11 poin dari AS Roma.

Kedua, Penakluk Premier League yang Ganas!

Perjalanan Ancelotti di AC Milan mesti berakhir pada tahun 2009. Ia lalu terbang ke Inggris untuk menandatangani kontrak bersama Chelsea. Ketika itu, Chelsea sedang membutuhkan pengganti Guus Hiddink, dan Ancelotti dirasa cocok menggantikannya.

Bersama The Blues, Ancelotti punya tekad ingin melampaui dirinya sendiri. Jika untuk meraih scudetto ia butuh tiga musim bersama AC Milan, Don Carlo berhasil menaklukkan Premier League yang konon menjadi liga paling ganas, hanya dalam kurun waktu semusim saja.

Pada musim pertamanya, ia membimbing The Blues meraih gelar juara Premier League musim 2009-2010. Dengan materi pemain-pemain yang naik daun seperti Frank Lampard dan Didier Drogba, ia membuat penggemar Manchester United kala itu melongo.

MU yang nyaris saja menyabet Premier League, kandas setelah pasukan Don Carlo mampu menghabisi Wigan Athletic di laga terakhir dengan skor 8-0. Chelsea pun berada di peringkat pertama dengan 86 poin, unggul satu poin saja dari Manchester United.

Ketiga, Keajaiban di Paris!

Meski membawa Chelsea juara di musim pertamanya, nasib Ancelotti di Stamford Bridge habis begitu saja. Ketika hanya mampu finis di peringkat kedua pada musim keduanya, Ancelotti didepak dari Chelsea pada Mei 2011. Usai meninggalkan pintu keluar Stamford Bridge, Ancelotti menganggur.

Enam bulan hanya bercengkrama dengan keluarganya, Ancelotti mendapat tawaran melatih lagi. Kali ini, klub kaya Ligue 1, Paris Saint-Germain ingin meminang Ancelotti. Persis ketika Nasser Al-Khelaifi mengakuisisi sebagian besar saham PSG.

Bertekad untuk merajai Ligue 1 lagi, mendatangkan Don Carlo bagi PSG adalah keputusan yang sangat amat brilian. Namun, meraih kembali gelar Ligue 1 yang sudah hilang dari PSG selama kurang lebih 19 tahun, bukan perkara mudah. Buktinya, pada musim pertama melatih PSG, Ancelotti hanya membuat anak asuhnya mengejar juara kala itu, Montpellier.

Kegagalan di musim pertama, membuat Ancelotti mesti berbenah di musim keduanya. Pada musim 2012-2013, Ancelotti mulai menyusun anak tangga demi anak tangga untuk ke atas klasemen Ligue 1.

Pemain seperti Adrien Rabiot, David Beckham, Javier Pastore, Marco Verratti, Nene, Kingsley Coman, Lavezzi, dan Ibrahimovic adalah kepingan puzzle penting Ancelotti. Tanpa mereka, anak tangga Ancelotti sekadar disusun, tanpa bisa dinaiki.

Don Carlo dan anak asuhnya pun berhasil naik podium. PSG kembali menjuarai Ligue 1 setelah 19 tahun lamanya berpuasa. Kala itu, PSG asuhan Ancelotti memimpin klasemen dengan 83 poin, berjarak 12 poin dari penghuni peringkat kedua, Olympique Marseille.

Keempat, Pesta Pora di Jerman!

Ancelotti sebetulnya sempat menganggur lagi selama enam bulan. Sebelum klub Bundesliga, Bayern Munchen datang menyodorkan tawaran. Tahun 2016, Die Roten membutuhkan pelatih anyar yang kualitasnya setara dengan Pep Guardiola yang, ketika itu sedang menyusun kisahnya di Manchester City.

Don Carlo adalah orang yang tepat. Selain sudah menundukkan tiga liga top, juara Liga Champions Eropa menjadi nilai plus seorang Don Carlo. Ia datang ke Bayern Munchen saat klub itu sedang dalam mode terbaik.

Robert Lewandowski sudah ada di sana. Thomas Muller masih dalam performa bagus. Arjen Robben dan Franck Ribery belum bercerai. Kingsley Coman sudah didatangkan. Xabi Alonso, Joshua Kimmich, sampai Manuel Neuer semuanya siap untuk meraih gelar bersama Don Carlo.

Dan iya, itulah yang terjadi. Pada musim pertamanya bersama FC Hollywood, gelar Bundesliga musim 2016-2017 sudah ia kantongi. Ancelotti membawa Bayern Munchen memuncaki klasemen dengan 82 poin, terpaut 15 poin dari RB Leipzig di tangga kedua. Pada musim itu pula, Ancelotti mempersembahkan Piala Super Jerman untuk The Bavarian. Pesta pora pun terjadi di Jerman.

Kelima, Kesempatan Kedua yang Tak Disia-siakan!

Don Carlo memungkasi karier terbaiknya sebagai pelatih dengan menggenapi gelar lima liga top Eropa, setelah menjuarai La Liga bersama Real Madrid musim 2021-2022. Tapi, tunggu sebentar. Untuk mencapai itu, Ancelotti mesti melewati perjalanan yang berliku.

Ancelotti sempat melatih El Real setelah ia pergi dari PSG. Namun, kala itu ia gagal mempersembahkan La Liga lebih cepat. Karena Atletico Madrid dan Barcelona dari musim 2013-2014 sampai 2014-2015 sangat begitu perkasa.

Walaupun sebenarnya Don Carlo nggak gagal-gagal amat. Sebab, saat periode pertamanya melatih Real Madrid, Don Carlo mempersembahkan La Décima dan Copa del Rey. Sayang, pemecatan tak bisa ia hindari. Ancelotti pun mendapat kesempatan kedua untuk melatih Real Madrid di musim ini.

Itu pun sebelumnya, Ancelotti telah mengalami fase-fase tanpa mengangkat piala, ketika melatih Napoli dan Everton. Namun, tidak meraih gelar cukup lama, bukan berarti Don Carlo kehilangan sentuhan magisnya.

Terbukti, gelar La Liga sudah ia genggam, dan kini ia punya kesempatan mengulangi kisah manisnya seperti saat di AC Milan. Mempersembahkan dua gelar Liga Champions dan satu liga domestik untuk Real Madrid. Sukses terus, Don Carlo!

https://youtu.be/OwtrYbfd0QI

Sumber referensi: AS, Then24, TheGlobalFrontier, 90Min

Menengok Persaingan 2.Bundesliga yang Sulit Diprediksi

Dominasi Bayern Munchen di Bundesliga Jerman sungguh luar biasa. Mereka seolah tak terhentikan. Belum lama ini, Die Roten juga baru saja memastikan diri menjadi kampiun Liga Jerman untuk ke-10 kalinya secara beruntun.

Sepuluh tahun menjadi juara secara beruntun adalah bukti betapa perkasanya Bayern di pentas Bundesliga Jerman. Fakta tersebut juga bukti adanya ketimpangan di liga teratas Jerman. Namun, situasi tersebut kontras dengan apa yang terjadi di 2. Bundesliga (baca: Zweite Bundesliga) atau Liga 2 Jerman.

6 Tim Berebut Tiket Promosi ke Bundesliga

Jelang berakhirnya musim 2021/2022, belum ada tim yang benar-benar memastikan tiket promosi ke Bundesliga. Bahkan, tim yang sekarang tengah berada di zona promosi masih belum aman dan masih berpeluang untuk tergusur.

Liga 2 Jerman musim ini memang berjalan sangat ketat dan kompetitif. Ini tak lepas dari keberadaan beberapa tim besar dan tim legendaris Jerman yang tengah mencoba kembali ke habitatnya di Bundesliga.

Yang lebih penting lagi, situasi di papan atas klasemen padat merayap dengan banyaknya tim yang saling sikut. Alhasil, siapa yang bakal keluar sebagai juara dan mendapat tiket promosi masih sulit untuk diprediksi.

Sebagai informasi, ada 3 tiket promosi yang jadi rebutan, yakni dua tiket promosi otomatis dan satu tiket promosi via jalur play-off yang akan berhadapan dengan tim peringkat 16 Bundesliga untuk memperebutkan satu tempat di kasta teratas musim depan.

Dengan 3 pertandingan tersisa, setidaknya ada 6 tim yang berebut tiket promosi ke Bundesliga Jerman. Mereka adalah SV Werder Bremen, FC Schalke 04, SV Darmstadt, FC St. Pauli, Hamburger SV, dan FC Nurnberg.

Lalu, di antara keenam tim tersebut, siapa yang memiliki peluang promosi paling besar? Mari kita analisis satu per satu.

FC Nürnberg

Kita mulai dari FC Nurnberg. Klub asal Bavaria ini bisa dibilang punya peluang paling tipis. Tim berjuluk Der Club itu menghuni peringkat 6 dengan koleksi 50 poin dari 31 pertandingan, berjarak 7 poin dari pemuncak klasemen dan berjarak 4 poin dari tim peringkat 3.

Secara matematis, peluang untuk promosi masih terbuka. Namun, dengan 3 pertandingan tersisa, peluang terbaik bagi Nurnberg untuk kembali naik kasta adalah via jalur play-off promosi-degradasi. Syaratnya, juara 9 kali Liga Jerman itu harus mampu menyapu bersih 3 pertandingan tersisa dengan kemenangan.

Sayangnya, jadwal Nürnberg di 3 pertandingan terakhir cukup berat. Pasukan Robert Klauß masih harus berhadapan dengan St. Pauli, Holstein Kiel, dan Schalke. Lawan terberat jelas St. Pauli dan Schalke yang kini tengah menghuni peringkat 4 dan 2.

Hamburger SV

Beralih ke tim berikutnya. Ada juara 6 kali Liga Jerman, Hamburger SV yang menghuni peringkat 5. Hingga pekan ke-31, tim berjuluk Der Dino itu telah mengumpulkan 51 poin. Secara matematis, peluang Hamburg SV untuk naik kasta juga masih terbuka lebar.

Di 3 pertandingan terakhirnya, jadwal Hamburg juga cukup ringan. Mereka hanya akan menghadapi tim papan bawah seperti Ingolstadt, Hannover, dan Hansa Rostock. Namun, Der Dino punya masalah besar yang mesti mereka atasi.

Masalah tersebut adalah konsistensi. Ini adalah musim keempat Hamburg di kasta kedua sejak mereka terdegradasi di tahun 2018. Pada 3 musim sebelumnya, Hamburg selalu nyaris mendapat tiket promosi. Sayangnya, inkonsistensi di akhir musim selalu membuat mereka finish di peringkat 4.

Untuk itulah tak ada cara lain bagi pasukan Tim Walter untuk kembali ke Bundesliga selain menyapu bersih 3 pertandingan tersisa dengan kemenangan.

FC St. Pauli

Situasi yang hampir serupa juga dialami rival abadi Hamburger SV, yakni FC St. Pauli. Sejatinya, musim ini adalah musim terbaik St. Pauli di kasta kedua sejak mereka terdegradasi di musim 2010/2011.

Di awal musim ini, klub berjuluk Kiezkicker itu nayris selalu konsisten berada di zona promosi. Bahkan, mereka pernah 11 pekan secara beruntun menghuni peringkat pertama.

Sayangnya, inkonsistensi membuat St. Pauli makin tergusur. 4 pertandingan tanpa kemenangan membuat mereka kini turun posisi ke peringkat 4 dengan koleksi 53 poin dari 31 pertandingan.

Peluang untuk mendapat tiket promosi, minimal via jalur play-off masih terbuka. Namun, St. Pauli bakal menghadapi tantangan berat di 3 pekan terakhir. St. Pauli harus berhadapan dengan Nurnberg dan Schalke yang juga sama-sama mengincar tiker promosi ke Bundesliga sebelum menghadapi Fortuna Düsseldorf di pekan terakhir.

SV Darmstadt 98

Beralih ke tim berikutnya. Ada SV Darmstadt yang tengah menghuni zona aman play-off promosi-degradasi. Darmstadt bertengger di peringkat 3 dengan koleksi 54 poin, berjarak 2 poin dari tim peringkat 2 dan berjarak 3 poin dengan pemuncak klasemen.

Secara matematis, tim berjuluk Die Lilien itu masih punya peluang yang sangat terbuka untuk finish di peringkat yang lebih tinggi demi memperebutkan tiket promosi otomatis. Lagipula jadwal mereka di 3 pekan tersisa cukup mudah.

Darmstadt hanya akan berhadapan denagn tim papan bawah seperti FC Erzgebirge Aue dan Fortuna Düsseldorf, sebelum menghadapi tim peringkat 7, SC Paderborn di pekan terakhir.

FC Schalke 04

Berikutnya ada FC Schalke yang juga ikut dalam perburuan tiket promosi. Usai terdegradasi di musim lalu, rival abadi Borussia Dortmund ini sangat berpeluang untuk kembali promosi ke Bundesliga. Menghuni peringkat kedua, Schalke telah mengumpulkan 56 poin dari 31 pertandingan.

Setelah berganti pelatih ke Mike Büskens, Die Königsblauen sempat tak terkalahkan dalam 5 pertandingan. Sedang dalam tren bagus, peluang Schalke untuk mendapat satu tiket promosi sangatlah besar, apalagi mereka sudah berada di zona aman.

Namun, The Royals Blues mesti waspada dengan jadwal di 3 pertandingan terakhir. Usai menghadapi SV Sandhausen di pekan ke-32, mereka harus berhadapan dengan St. Pauli dan Nurnberg yang juga sama-sama mengincar tiket promosi. Schalke tak boleh mengulang kesalahan yang sama saat mereka dibantai 4-1 oleh Werder Bremen di pekan ke-31.

SV Werder Bremen

Terakhir, ada Werder Bremen yang punya peluang paling besar untuk promosi otomatis ke Bundesliga. Sempat terseok-seok di awal musim, Bremen di luar dugaan mampu merangsek ke papan atas berkat tren positif yang mereka raih sejak ditukangi Ole Werner.

Namun, meski berada di puncak klasemen, pasukan Ole Werner tetap harus waspada. Pasalnya, 3 hasil imbang di 4 pertandingan terakhir membuat Bremen hanya berjarak 1 poin dari tim peringkat kedua.

Nasib Bremen ada di tangan mereka sendiri. Juara Bundesliga 2004 ini harus memaksimalkan hasil kala menghadapi Holstein Kiel, Erzgebirge Aue, dan Jahn Regensburg di 3 pertandingan terakhirnya.

Hal-Hal yang Menarik dari 2. Bundesliga

Itulah situasi yang tengah terjadi di papan atas 2. Bundesliga musim ini. Peta kekuatan keenam tim yang berebut tiket promosi sangatlah berimbang dengan masing-masing kesebelasan bakal menjalani jadwal yang ketat.

Inilah yang membuat persaingan di liga kasta kedua Liga Jerman jauh lebih menarik ketimbang persaingan di Bundesliga yang seolah hanya jadi milik Bayern Munchen saja. Selain karena persaingan dan hasil akhir yang sulit diprediksi hingga akhir musim, ada hal lain yang membuat Liga 2 Jerman berjalan seru.

Tak seperti Bundesliga yang didominasi striker asing, 2. Bundesliga seperti menjadi ajang unjung gigi para striker lokal Jerman. Kebetulan, 4 dari 5 pencetak gol terbanyak Liga 2 Jerman merupakan striker lokal. Menariknya lagi, 4 dari 5 pemain tersebut membela 4 tim yang tengah bersaing untuk memperebutkan tiket promosi ke Bundesliga.

Striker Schalke, Simon Terodde memimpin dengan 25 gol. Diikuti oleh striker Werder Bremen, Marvin Ducksch dengan koleksi 19 gol. Di bawah mereka ada Guido Burgstaller dari FC St. Pauli, Robert Glatzel dari Hamburger SV, dan Philipp Hofmann dari Karlsruher SC yang sama-sama sudah mencetak 18 gol.

Menarik untuk dinanti siapa yang bakal keluar sebagai top skor liga di akhir musim. Namun, yang jauh lebih penting, tim manakah yang akan promosi ke Bundesliga Jerman musim depan?

Sebagai pihak yang netral, kita tentu berharap tim manapun nantinya yang naik kasta bisa membawa performa apiknya di Liga 2 ke Bundesliga dan menularkan level kompetitif ini ke kasta teratas Liga Jerman.
***
Referensi: Fear the wall, Bundesliga, Bundesliga, Transfermarkt.

Berita Bola Terbaru 29 April 2022 – Starting Eleven News

Berita Bola Terbaru dan Terkini

SERIE A WANITA JADI KOMPETISI PROFESIONAL MUSIM DEPAN

Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) meriis informasi paling mutakhir berkaitan dengan Serie A Wanita. Presiden FIGC Gabriele Gravina menyatakan, pada musim depan, 2022/23, Serie A Wanita akan menjadi liga profesional. Gravina menyebut bahkan badan federal FIGC sudah menyepakati amandemen peraturan liga berkenaan dengan perubahan Serie A Wanita menjadi liga profesional. Menurut Gabrielle Gravina, perubahan ke kelas profesional akan resmi terjadi pada 1 Juli 2022.

INTER SIAPKAN TAWARAN KONTRAK UNTUK DYBALA

Inter Milan berada di posisi terdepan untuk mengamankan servis striker Juventus Paulo Dybala. Pembicaraan antara agen pemain dan klub sedang berlangsung dengan Inter bersedia menawarkan kontrak 6 juta euro per tahun plus tambahan. Di Turin, Dybala sendiri mendapatkan gaji 7 juta euro per tahun. Tawaran Inter akan sesuai dengan gaji pemain terbaik mereka, seperti Nicolo Barella, Marcelo Brozovic dan Lautaro Martinez yang baru saja memperpanjang kontraknya dengan klub.

PAU TORRES PEDE VILLARREAL AKAN BANGKIT DARI KEKALAHAN LAWAN LIVERPOOL

Pau Torres menyimpan optimisme akan peluang timnya lolos ke final Liga Champions. Torres menilai kesempatan timnya bangkit setelah dikalahkan Liverpool pada leg pertama semifinal tetap terjaga. Ia mengungkapkan, rencana permainan Villarreal sama seperti ketika melawan Bayern Munchen. Para pemain fokus bertahan sambil mengintip peluang serangan balik mematikan. Masalahnya, kata dia, sulit bertahan 90 menit secara konsisten melawan tim sekelas Liverpool.

BARCA DAN DEMBELE SIAP LANJUTKAN KERJASAMA

Barcelona dan Ousmane Dembele kabarnya siap melanjutkan kerja samanya. Setelah drama ingin hengkang, kini sang pemain kabarnya siap meneken kontrak baru. Dikutip Football Espana, perwakilan dari kedua kubu kembali melakukan pertemuan pada pekan ini. Bukan tidak mungkin, kedua belah pihak akan mencapai kata sepakat sebelum kontraknya habis di musim panas ini.

ROMBAK SKUAD, PSG SIAP ‘JUAL RUGI’ NEYMAR

Dikutip Diario AS, Paris Saint-Germain bakal melakukan perombakan skuad untuk musim depan. PSG dilaporkan siap menjual Neymar dengan harga murah alias ‘jual rugi’. Neymar diboyong ke Parc des Princes dari Barcelona pada tahun 2017 dengan harga 222 juta Euro. Nah, PSG rela menurunkan harga untuk Neymar dan membanderol dengan harga 90 juta euro. Itu berarti klub Prancis bersedia menanggung kerugian hingga 132 juta euro untuk pemain internasional Brasil.

KALVIN PHILLIPS BAKAL GANTI AGEN, TANDA AKAN GABUNG MU?

Ada sedikit angin segar bagi Manchester United dalam perburuan Kalvin Phillips. Karena sang gelandang bakal berganti agen dalam waktu dekat ini. Phillips dilaporkan ingin cabut dari Leeds. Ia butuh bantuan dari agen baru untuk memperlancar proses kepindahannya ini. Menurut laporan itu, ICM Stellar Sports bakal menjadi kandidat terkuat agen baru Phillips dalam waktu dekat ini. MU dilaporkan bakal diuntungkan jika Stellar benar-benar jadi agen baru Phillips. Karena mereka punya hubungan yang baik dengan agensi itu.

RIO FERDINAND KAGUM PADA LIVERPOOL

Mantan bintang Manchester United, Rio Ferdinand tidak bisa menyembunyikan kekagumannya pada Liverpool menyusul penampilan dominan mereka di Liga Champions. The Reds baru saja meraih kemenangan 2-0 ketika menjamu Villarreal di leg pertama semifinal Liga Champions di Anfield. “Ini adalah tim Liverpool terbaik yang pernah saya lihat. Mereka tanpa henti dengan dan tanpa bola,” ujar Ferdinand kepada BT Sport usai pertandingan.

PENGAKUAN FERDINAND: THIAGO PENGEN GABUNG MU

Thiago Alcantara belakangan ini tampil ciamik bersama Liverpool. Mantan bek Manchester United, Rio Ferdinand pun akhirnya tak ragu untuk memberikan pujian pada Thiago. Ferdinand kemudian mengungkit masa lalu Thiago Alcantara. Ia mengatakan Thiago sebenarnya pernah ingin gabung Manchester United. Namun Ferdinand menambahkan, Thiago sekarang ini memang cocok main di Liverpool.

AGUERO PUNYA JULUKAN KHUSUS UNTUK FODEN

Legenda Manchester City, Sergio Aguero memberikan julukan khusus untuk Phil Foden. Dalam video TikTok yang memperlihatkan reaksi hebohnya terhadap gol sundulan Foden ke gawang Real Madrid, Aguero menggambarkan Phil Foden sebagai ‘Pangeran Tampan’ dan mengungkapkan bahwa ia mendesak Pep Guardiola untuk memainkan sang gelandang selama waktunya di klub.

KEBIJAKAN LIVERPOOL BIKIN MANE JALANI RAMADHAN LEBIH MUDAH

Sadio Mane menyebut Liverpool memberikan toleransi penuh kepada pemain muslim selama bulan Ramadhan. Mane dan pemain muslim Liverpool lainnya yakni, Mohamed Salah dan Ibrahima Konate, meminta kepada Jurgen Klopp dan kapten Jordan Henderson untuk mengubah jadwal latihan selama bulan Ramadhan. Mane menegaskan permintaan itu dikabulkan pihak klub. Ini membuatnya merasa terbantu. Sebab, Liverpool membuat para pemain muslim menjalani puasa Ramadhan dengan lebih mudah.

SEMIFINAL UEFA EUROPA LEAGUE

Dari laga babak semifinal UEFA Europa League, West Ham United tersungkur di kandang sendiri dari wakil Jerman Eintracht Frankfurt. Baru satu menit laga berjalan, Frankfurt mencuri gol lewat Ansgar Knauff. West Ham lalu menyamakan skor lewat Michail Antonio di menit 21. Di babak kedua, Frankfurt kembali unggul berkat gol pemain Jepang, Daichi Kamada. Skor 2-1 untuk Frankfurt bertahan hingga laga usai. Minggu depan giliran Frankfurt yang akan jadi tuan rumah. Di laga lainnya, RB Leipzig menang 1-0 atas Rangers.

SEMIFINAL UEFA CONFERENCE LEAGUE

Dari ajang Liga Konferensi babak semifinal, Leicester City bermain imbang 1-1 dengan AS Roma di King Power Stadium. The Foxes tertinggal lebih dulu dari Roma berkat gol Lorenzo Pellegrini di menit 15. Tak ingin malu di hadapan pendukung sendiri, Leicester berhasil membalas melalui gol bunuh diri Gianluca Mancini di menit 67. Skor imbang ini bertahan hingga peluit panjang dibunyikan. Sementara dari laga semifinal lain, Feyenoord menang 3-2 atas Marseille.

LIGA INGGRIS: MU DITAHAN IMBANG CHELSEA

Dari ajang Liga Inggris, big match Manchester United kontra Chelsea berakhir imbang 1-1. Bermain di Old Trafford, Chelsea mencetak gol duluan lewat aksi Marcos Alonso di menit 60. Keunggulan Chelsea ini ternyata hanya bertahan dua menit saja. Sebab, MU mampu menyamakan skor berkat Cristiano Ronaldo yang sekaligus menyelamatkan MU dari kekalahan. Dengan hasil ini, Chelsea masih bertahan di peringkat ketiga, sedangkan MU ada di posisi keenam.

TUCHEL: CHELSEA HARUSNYA MENANG

Manajer Chelsea, Thomas Tuchel menyesali hasil imbang kontra Manchester United. Seharusnya The Blues bisa menang jika melihat banyaknya peluang yang didapat. Laporan pertandingan mencatat Chelsea menguasai 65 persen ball possession dan membuat 21 attempts, enam di antaranya mengarah ke gawang. Sementara, MU cuma diberikan enam kali kesempatan membuat peluang dengan tiga on goal.

SARAN RANGNICK UNTUK TENTUKAN KAPTEN MU

Pelatih sementara Manchester United, Ralf Rangnick, menyarankan kepada pelatih MU pada musim depan, Erik Ten Hag, untuk menerapkan sistem baru dalam memilih kapten tim. Rangnick menyebut sistem yang kerap diterapkan di Jerman dapat menjadi sistem yang bisa ditiru Ten Hag. Saat ditanya apakah bakal merekomendasikan Harry Maguire sebagai kapten tim MU, Rangnick memberikan jawaban yang ambigu. 

RALF RANGNICK JADI PELATIH TIMNAS AUSTRIA?

Dilansir The Athletic, Ralf Rangnick sangat serius mempertimbangkan tawaran dari federasi sepak bola Austria untuk menangani Marcel Sabitzer dkk. Bahkan, muncul rumor yang menyebut bahwa federasi sepak bola Austria akan segera mengumumkan penunjukan Rangnick sebagai pelatih timnas mereka yang baru. Namun, Rangnick menegaskan bahwa ia akan tetap menjadi konsultan di MU meski jika di saat bersamaan ia bekerja sebagai pelatih di tim lain.

JURGEN KLOPP PERPANJANG KONTRAK DI LIVERPOOL

Melalui laman resminya, Liverpool mengumumkan bahwa mereka telah sepakat memperpanjang kontrak pelatih utama Jurgen Klopp. Pria berkebangsaan Jerman itu secara resmi meneken kontrak yang membuatnya bertahan di Anfield hingga 2026. Bukan hanya Jurgen Klopp yang menerima kontrak baru. Melainkan dua asisten pelatihnya, Pepijn Lijnders dan Peter Krawietz pun meneken kontrak baru di Anfield.

MINO RAIOLA BANTAH KABAR MENINGGAL DUNIA

Melalui akun twitter resminya, Mino Raiola melakukan konfirmasi langsung dan membantah kabar yang menyebutnya telah meninggal dunia. Jurnalis Italia, Tancredi Palmeri, yang turut melaporkan Raiola meninggal melalui Twitter segera menghapus unggahannya usai mendapat konfirmasi dari dokter. Dokter Mino Raiola mengatakan sang agen dalam kondisi yang sangat kritis. Tancredi Palmeri mengaku salah dan meminta maaf karena telah menulis kabar duka tentang Raiola di Twitter tanpa melakukan konfirmasi lebih dulu.

Kabar kesehatan Raiola yang menurun ini tentunya diketahui semua pemain yang berada di bawah naungannya, tak terkecuali Zlatan Ibrahimovic. Ibra langsung mengunjungi rumah sakit di kota Milan tempat Raiola dirawat.

POCHETTINO PEDE DIRINYA DAN MBAPPE TETAP DI PSG

Pelatih Paris Saint-Germain, Mauricio Pochettino, mengungkapkan masa depannya bersama Les Perisiens. Dia menegaskan akan bertahan di Parc des Princes. Tak cuma berbicara tentang dirinya. Eks manajer Tottenham Hotspur ini pun memastikan Kylian Mbappe takkan meninggalkan juara Ligue 1 musim 2021/22 tersebut.

CAMP NOU DIRENOVASI, BARCELONA PINDAH MARKAS

Stadion Camp Nou dikabarkan bakal direnovasi dalam waktu dekat ini. Renovasi sendiri akan mulai dikerjakan pada musim 2023/24 mendatang. Akan tetapi, pada musim 2022/23, pihak manajemen klub sudah mulai melakukan pemugaran di beberapa sudut stadion. Oleh sebab itu, Barca akan mengurangi kapasitas penonton menjadi 50 persen. Baru pada musim berikutnya, Barca bakal bermarkas di Stadion Olimpiade Montjuic, yang merupakan eks kandang klub RCD Espanyol.

UEFA AJUKAN FORMAT FINAL FOUR LIGA CHAMPIONS

UEFA tengah mempelajari format baru untuk babak semifinal dan final Liga Champions yang rencananya bakal diterapkan mulai musim 2024/25. Badan sepakbola tertinggi di Eropa itu membuka opsi penunjukan satu kota saja untuk menggelar seluruh laga di dua fase tersebut. Rencananya, proposal terkait hal ini akan dibahas di kongres UEFA berikutnya di Wina, Austria pada 11 Mei mendatang.

RANGNICK BAHAS MASA DEPAN RONALDO DENGAN ERIK TEN HAG

Rangnick mengatakan bahwa masa depan Ronaldo akan menjadi salah satu topik diskusinya saat dia bertemu dengan manajer baru Manchester United, Erik Ten Hag.  Lebih lanjut, Rangnick juga berbicara tentang kemungkinan jika Ronaldo bertahan pada musim depan. Menurutnya, petinggi MU tetap harus mencari tambahan satu striker lagi andai peraih 5 trofi Ballon d’or itu masih berseragam Setan Merah.

ARSENAL MULAI OPERASI PEMBAJAKAN MARCUS RASHFORD

Arsenal akan mencoba membajak Marcus Rashford dari Manchester United. The Gunners menilai sang striker adalah salah satu penyerang terbaik di Inggris. Ia punya potensi menjadi mesin gol baru bagi The Gunners. Arsenal kabarnya sudah mengontak agen sang striker. Rashford sendiri dilaporkan bisa pindah jika Arsenal menebusnya di angka 80 juta pounds di musim panas nanti.

MANCHESTER UNITED DIDENDA RP152 JUTA

Manchester United dijatuhi hukuman berupa denda 10 ribu euro atau sekitar Rp152 juta oleh UEFA akibat ulah fans mereka pada pertandingan lawan Atletico Madrid di Liga Champions. Saat itu fans Setan Merah melempari Diego Simeone dengan sejumlah benda-benda termasuk botol. Selain Manchester United, Liverpool dan Glasgow Rangers juga mendapatkan denda dari UEFA, dengan alasan masing-masing.

AGAR MAU BERTAHAN DI BAYERN, LEWANDOWSKI MINTA DUA HAL

Robert Lewandowski kabarnya mengajukan dua syarat agar bisa bertahan di Bayern Munich. Dua syarat yang dinilai cukup berat diterima Die Roten. Pertama, Lewandowski kabarnya meminta kenaikan gaji. Dia kini menjadi pemain dengan bayaran tertinggi di Bayern, yakni sekitar 24 juta Euro. Jika meminta kenaikan gaji, maka hal itu bisa memicu tuntutan yang sama dari pemain lain. Kemudian, Lewandowski bersedia meneken kontrak baru jika ditawari masa kerja dua tahun lagi, alias sampai 2025

10 Pembantaian Tak Terduga di Liga Champions

0

Sudah 30 edisi terselenggara, Liga Champions Eropa selalu menghadirkan hal-hal yang menarik. Selalu menghadirkan kisah-kisah mengejutkan yang sesiapa tidak akan pernah menyangka. Termasuk skor terbanyak yang pernah diraih sebuah klub dalam gelaran Liga Champions.

Bukan hanya kemenangan terbesar, gol-gol terbanyak, tapi juga kemenangan tak terduga dengan skor yang tak terduga pula. Bisa berupa pembantaian dari klub “kecil” ke klub besar maupun sesama klub besar, yang seharusnya menghasilkan skor ketat. Berikut ini pembantaian tak terduga yang pernah mewarnai gelaran Liga Champions Eropa.

Deportivo La Coruna vs AC Milan 4-0 (2004)

Selain kisah luar biasa FC Porto yang mengangkat trofi bersama Jose Mourinho, Liga Champions musim 2003/04 menyisakan momen lain yang, boleh jadi tidak akan pernah dilupakan milanisti di seluruh planet. Yup, kekalahan memalukan AC Milan atas wakil Spanyol, Deportivo La Coruna 4-0.

Peristiwa menyakitkan itu terjadi di perempatfinal. Dan yang menjadi sangat mengejutkan adalah bukan hanya musuh yang dihadapi rossoneri adalah klub yang terbilang mudah, tapi AC Milan lebih dulu unggul besar di leg pertama 4-1. Secara hitung-hitungan mereka hanya butuh main aman, ya kalau kalah cukup 2-0 saja, Milan bisa lolos.

Namun, yang terjadi tak seindah itu. Bertandang di Stadion Riazor, rossoneri tentu punya kepercayaan diri lebih. Sementara, anak asuh Javier Irureta harus mencetak gol lebih dulu agar menaikkan moral. Laga yang berlangsung di Riazor membuka keran kepercayaan para pemain Deportivo.

Benar saja. Baru lima menit laga berjalan, Deportivo mencetak gol cepat. Walter Pandiani masuk ke kotak penalti dan mengelabui seorang Paulo Maldini, untuk kemudian menyarangkan bola ke sudut kiri gawang Dida. AC Milan mencoba merespons, tapi sayang tak ada gol bagi Kaka CS.

Bukannya mencetak gol, AC Milan berkali-kali justru kebobolan. Albert Luque, Juan Carlos Valeron, dan Fran Gonzalez bergiliran menyarangkan bola ke gawang Dida. Skor 4-0 terpampang. AC Milan kalah agregat 5-4.

Manchester United vs AS Roma 7-1 (2006/07)

Manchester United menatap leg kedua perempat final Liga Champions musim 2006-2007 dengan kekalahan 2-1 atas AS Roma. Bukan hanya itu, skuad Sir Alex Ferguson harus kehilangan beberapa pemain pilarnya, seperti Paul Scholes yang mendapat hukuman di leg pertama. United harus memakai pasangan Michael Carrick dan Darren Fletcher di lini tengah.

Modal moralnya, MU melakoni leg kedua di Old Trafford. Dan itu sudah cukup untuk membuka keran gol  lebih banyak. 11 menit laga berjalan, Carrick melepaskan tembakan jarak jauh yang menghujam gawang AS Roma.

Tak berapa lama, Alan Smith menggandakan keunggulan. Setelah itu, Wayne Rooney yang mencetak gol. Laga belum genap 20 menit, MU sudah unggul 3-0. Ronaldo yang saat itu belum pernah mencetak gol di Liga Champions, di malam itu mampu mencetak dua gol. Carrick kemudian mencetak gol lagi. Sampai menit 60, MU unggul 6-0.

Giallorossi sempat memperoleh gol hiburan dari Danielle De Rossi. Tapi jelas, gol Patrice Evra jelang laga bubar menenggelamkan AS Roma ke dasar jurang. Kekalahan memalukan 7-1 tercatat di benak romanisti.

Liverpool vs Real Madrid 4-0 (2008/09)

Laga 16 besar Liga Champions musim 2008-2009 menjadi sejarah buruk bagi Real Madrid. Kala itu, Los Galacticos diayak dengan sangat paripurna oleh Liverpool asuhan Rafael Benitez. Setelah keok 0-1 di markasnya sendiri, pada leg kedua di Anfield, kekalahan Madrid makin paripurna menjadi 5-0.

Pasukan Benitez tampil sangat percaya diri. Menit 16, The Reds langsung membuka keunggulan lewat Fernando Torres. Lalu, Steven Gerrard memanfaatkan penalti akibat handball pemain Madrid, Heinze. Gerrard kemudian cetak gol lagi pada menit ke-47, dan mengukuhkan penampilan terbaiknya di laga tersebut.

Liverpool unggul 3-0. Setelah itu, tidak ada gol lagi kecuali dari pemain Liverpool lainnya, Andrea Dossena pada menit ke-88. Gol itu menjadi gol penentu kemenangan 4-0 Liverpool atas Real Madrid di leg kedua babak 16 besar Liga Champions.

Dortmund vs Real Madrid 4-1 (2012/13)

Los Merengues sekalipun rajanya Liga Champions, tapi Real Madrid tetaplah klub biasa, yang bisa saja kalah secara mengenaskan, termasuk ketika menghadapi Borussia Dortmund pada semifinal leg pertama musim 2012-2013.

Ketika itu, Dortmund masih dibesut pelatih kaya taktik, Jurgen Klopp, sedangkan pelatih temperamental, Jose Mourinho mengkomandoi El Real.

Baru menit ke-8, darah Mourinho sudah dibikin naik oleh Robert Lewandowski. Namun, emosinya adem lagi setelah Cristiano Ronaldo menyamakan kedudukan jelang interval babak pertama.

Sayangnya, di babak kedua Lewandowski terpaksa mengacungkan empat jarinya, setelah mencetak tiga gol lagi ke gawang Real Madrid. Skor 4-1 berakhir hingga peluit panjang.

Real Madrid vs Bayern Munchen 4-0 (2013/14)

Musim berikutnya giliran Madrid yang membantai, tapi bukan Dormund korbannya melainkan rival abadi mereka, Bayern Munchen. Los Blancos melumat Bayern Munchen pada leg kedua semifinal UCL musim 2013-2014 dengan skor sangat telak, 4-0 setelah menang 1-0 pada leg pertama.

Sergio Ramos yang mencetak dua gol dan Ronaldo dengan sebiji golnya, membuat Real Madrid unggul 3-0 di babak pertama. Tak mau kalah dari seorang bek, Ronaldo mencatatkan brace-nya di laga itu pada menit-menit akhir, dan memantapkan kemenangan Real Madrid untuk melaju ke final.

Barcelona vs Paris Saint-Germain 6-1 (2016/17)

Para cules sangat bergembira ketika Barcelona melumat PSG pada leg kedua babak 16 besar Liga Champions musim 2016-2017. Tak tanggung-tanggung, Barca menghabisi Les Parisiens dengan skor 6-1. Ketika itu, skuad Barcelona masih berisi trio MSN yang begitu menggila.

Dan ketiga orang itu masing-masing mencetak gol di laga tersebut. Suarez lebih dulu membuka keunggulan menit ke-3. Gol bunuh diri Kurzawa menggandakan keunggulan Barca. Menit 50, giliran La Pulga yang mencetak gol. Lalu Neymar? Ya, pemuda Brazil itu mencetak brace pada menit 88 dan 90+1. Pesta pora ditutup oleh gol Sergi Roberto di menit 90+5.

Liverpool vs Barcelona 4-0 (2018/19)

Sang juara UCL musim 2018-2019, Liverpool pernah mencatatkan comeback yang menakjubkan ketika bertemu Barcelona pada leg kedua semifinal Liga Champions musim tersebut. The Reds menggasak Barcelona 4-0 di Anfield, dan lolos ke final.

Padahal ketika itu, Liverpool sudah menelan kekalahan menyakitkan di leg pertama. Tapi Klopp emang beda. Ia sukses membuat keunggulan 3-0 Barca di leg pertama tidak ada gunanya. Divock Origi dan Giorginio Wijnaldum bergiliran menciptakan brace ke gawang Blaugrana. Skor 4-0 terpampang di akhir laga.

Bayern Munchen vs Tottenham Hotspur 7-2 (2019/20)

Bayern Munchen memang terkenal sebagai tukang bantai, baik di Liga Champions maupun domestik. Salah satu korbannya adalah Tottenham Hotspur, yang dibantai di pertandingan fase grup Liga Champions musim 2019/20. Tak main-main, skornya 7-2, dan lucunya itu berlangsung di markas Spurs.

Yang lebih ironi lagi, Spurs lah yang unggul lebih dulu lewat Son Heung-min menit 12. Lalu, Kimmich merespons lewat golnya tiga menit berselang. Jelang babak pertama usai, Lewandowski mencetak gol. Tapi di babak kedua Spurs tersentak dengan brace Gnabry menit 53 dan 54.

Sempat memperkecil ketertinggalan lewat penalti Harry Kane menit 61, Gnabry menenggelamkan Spurs berkat gol ketiganya menit 83. Setelah itu giliran Lewy yang cetak gol keduanya, dan jelang bubaran Gnabry menggenapi empat golnya di laga tersebut. Skor 7-2 membuat Pochettino tak bisa tidur.

Bayern Munchen vs Barcelona 8-2 (2019/20)

Masih di musim yang sama, Bayern Munchen kembali menghancurkan sebuah tim. Die Roten mengalahkan Barcelona 8-2 di perempatfinal UCL 2019-2020. Pertandingan ini menjadi pertandingan yang ikonik, karena sudah pasti ada di benak seluruh pencinta sepakbola.

Barcelona yang ketika itu dibesut Enrique Setien Solar, tak bisa berbuat banyak di hadapan anak asuh Hansi Flick. Bahkan secara kasar, Barcelona hanya bisa mencetak satu gol, karena satu gol lainnya dibantu oleh David Alaba. Sementara, FC Hollywood begitu perkasa.

Delapan gol yang bersarang ke gawang Ter Stegen berasal dari enam orang yang berbeda. Ivan Perisic, Serge Gnabry, Kimmich, Lewandowski, dua gol dari Thomas Muller, serta Philippe Coutinho yang memborong dua gol persis di sepuluh menit terakhir.

Villarreal vs Juventus 3-0 (2021/22)

Momen Liga Champions musim ini juga tak bisa lepas dari pembantaian yang tak terduga. Salah satunya ketika Juventus, sang raksasa Italia, tak berdaya di hadapan Villarreal dengan takluk 3-0. Padahal itu adalah pertandingan leg kedua 16 besar yang berlangsung di markas Juventus.

Namun, asuhan Max Allegri benar-benar tak berdaya. Meski menguasai penguasaan bola, permainan Unai Emery lebih taktis dan efektif. Jadi, wajar saja bila di laga tersebut, Villarreal mampu mencetak 3 gol di babak kedua. Tiga gol Yellow Submarine dicetak Gerard Moreno, Pau Torres, dan tentu saja Arnaut Danjuma.

https://youtu.be/1ar-91VoKf8

Sumber referensi: BR, Sportmob, Sportskeeda, UEFA, Detikcom

Makna Di Balik 10 Slogan Klub Top Eropa

0

Believe in Twelve sudah menjadi slogan Persija dalam beberapa tahun terakhir. Slogan ini mengartikan bahwa mereka selalu percaya kepada Jakmania yang selalu loyal dalam mendukung Macan Kemayoran bagaimanapun keadaannya.

Seperti kebanyakan tim lainnya, Persija juga menganggap Jakmania sebagai pemain ke-12 mereka. Nah, itu di Indonesia. Lalu apa makna di balik slogan klub-klub top Eropa seperti Barcelona, MU Chelsea dan lainnya?

Barcelona “Més Que un Club”

Més que un club atau yang berarti “lebih dari sekadar klub”, memiliki makna luar biasa bagi warga Catalan. Sejak pertama kali Barcelona didirikan, klub tersebut tak ubahnya menjadi alat perlawanan bagi pemimpin Spanyol kala itu, Francisco Franco. 

Selain sebagai simbol perjuangan, Barcelona juga menjadi simbol kemanusiaan setelah mereka menyepakati sponsor dengan UNICEF yang mana mereka adalah lembaga amal untuk anak-anak

Keputusan Barca ini semakin membuat slogan Barcelona yang lebih dari sekadar klub terbukti. Pasalnya, dalam kerja sama itu, justru Barcelona yang mendonasikan sekitar 1,5 juta euro atau sekitar Rp22,8 miliar per tahun kepada UNICEF, melalui Barcelona Foundation. 

Arsenal “Victoria Concordia Crescit”

Victoria Concordia Crescit, milik Arsenal. Slogan yang diambil dari bahasa Yunani tersebut memiliki arti sebagai Victory Comes through Harmony atau kemenangan yang diraih melalui sebuah keseimbangan, kebersamaan, dan keharmonisan.

Secara harfiah, Victory diartikan sebagai kemenangan atau kejayaan, sedangkan Harmony diartikan sebagai keselarasan, keseimbangan, kebersamaan. Jadi, makna dari kedua kata tersebut secara sederhana adalah keberhasilan diraih dengan kebersamaan.

Yang ingin Arsenal sampaikan dalam slogan ini adalah mustahil rasanya bisa meraih keberhasilan dalam setiap pertandingan bila dalam skuad Arsenal tidak ada apa yang dinamakan kebersamaan.

Bayern Munchen “Mia San Mia”

Bayern Munchen juga mempunyai slogan yang sudah sangat terkenal, yaitu Mia San Mia. Arti Mia San Mia itu sendiri adalah “We are who we are”. Makna tersebut juga bisa diartikan bahwa Bayern merupakan klub yang istimewa dan beda daripada yang lain.

Keistimewaan Bayern adalah, selain berhasil mendominasi Jerman, mereka jadi satu-satunya klub wakil Jerman yang bisa meraih trofi Liga Champions tiga kali secara berturut-turut. Prestasi itulah yang membuat Mia San Mia sangat melekat dengan Bayern Munchen.

Sedangkan menurut Thomas Muller, slogan Bayern inilah yang membentuk mental juara yang ada di setiap pemain klub. Hal ini juga yang membuat Bayern selalu tak pernah puas dan selalu menanamkan kesuksesan hanya bisa diraih dengan kerja keras.

Liverpool “You’ll Never Walk Alone”

Istilah yang lebih akrab disebut YNWA ini memiliki arti “Kalian tak akan pernah berjalan sendirian”. Slogan ini memiliki makna yang sangat mendalam bagi Liverpool dan tentunya para fans yang selalu setia mendukung klub kebanggannya itu.

Bagi para Kopites, You’ll Never Walk Alone bukan hanya sebatas slogan, melainkan suatu bentuk kesetiaan, dukungan, doa, semangat dan harapan untuk tim. Tak hanya di lapangan, slogan ini pun sangat identik dengan hal-hal berbau Liverpool.

YNWA milik Liverpool berawal dari sebuah lagu dari grup band asal Liverpool bernama Gerry and The Peacemaker. Pertama kali lagu ini masuk ke dalam fondasi kuat Liverpool saat Garry Marsden mempersembahkan lagu tersebut ke Bill Shankly. Akhirnya lagu tersebut pun dinyanyikan di setiap laga Anfield.

Manchester City “Superbia in Proelia”

Superbia in Proelia adalah kalimat yang berasal dari Bahasa Latin yang berarti, Pride in the battle atau Kebanggaan Dalam Pertempuran. Slogan ini terdapat pada logo Manchester City lama yang bergambar elang.

Tentu, fans-fans anyaran pasti tak begitu paham makna dari slogan ini, lantaran slogan ini sudah tak tersemat di logo Manchester City yang baru. Slogan ini melambangkan kebanggaan tim dalam persaingan dalam meraih prestasi.

The Citizen menggunakan slogan tersebut dengan benar karena penurunan divisi mereka dan kembali naik ke kasta tertinggi sepakbola Inggris, yaa meski sedikit dibantu dengan uang Sheikh Mansour.

Benfica “E pluribus unum”

E pluribus unum milik Benfica. Kalimat ini diambil dari bahasa Latin dan secara harfiah berarti “Dari banyak menjadi satu”.

Slogan ini terletak di pita yang dibawa oleh burung elang di logo Benfica. slogan E Pluribus Unum ini dipilih atau disarankan oleh Félix Bermudes selaku presiden ke-10 klub Benfica, untuk menyatukan persatuan dan semangat Portugal dalam berbagai cabang olahraga. 

Kita ketahui, Benfica juga memiliki tim olahraga lain seperti futsal, basket, handball, voli dan sebagainya. Slogan semangat persatuan, selama bertahun-tahun telah menjadi inspirasi semangat tim.

Sporting CP “Esforço, Dedicação, Devoção, Glória”

Slogan milik raksasa portugal lainnya, Sporting CP ini cukup unik, lantaran bukan terdiri dari sebuah kalimat, melainkan beberapa kata yang mencerminkan semangat tim Portugal.

Slogan tersebut diambil dari bahasa Latin yang bermakna Usaha, Dedikasi, Pengabdian, dan Kemuliaan. Empat kata yang harus tercermin dalam setiap pemain, penggemar, dan staf Sporting CP tanpa terkecuali. Slogan ini menjadi mantra bagi segala elemen Sporting CP untuk menjalani hidup mereka.

Real Madrid “Hala Madrid y nada más”

Ungkapan Hala Madrid tak pernah lepas dari klub yang bermarkas di Santiago Bernabeu itu. Hala Madrid juga kerap dipakai sebagai hastag bagi para fans Real Madrid yang mendukung tim kesayangannya melalui media sosial.

Hala Madrid adalah ungkapan yang diambil dari bahasa Spanyol yang berarti ‘Go Madrid’ atau ‘Forward Madrid’ atau bisa juga ‘Ayo Madrid’. Slogan ini adalah sebuah seruan pertempuran yang digunakan oleh penggemar Real Madrid kala mendukung tim mereka. 

Sedangkan Hala Madrid y nada mas atau “Ayo Madrid, dan tak lebih” adalah lagu kebangsaan Real Madrid yang populerkan oleh artis dan produser Maroko-Swedia RedOne. Liriknya ditulis oleh seorang jurnalis, Manuel Jabois yang dirilis tahun 2014, untuk menandai La Decima.

Chelsea “KTBFFH”

Sebenarnya Chelsea sempat memiliki motto yang bertuliskan Nisi Domius Frustra yang berarti Jika tuhan tak bersama kita, maka semuanya akan sia-sia. Namun motto itu tak begitu populer di era sekarang. Para fans dan penikmat sepakbola lainnya lebih mengenal istilah KTBFFH 

KTBFFH sendiri merupakan sebuah singkatan dari “Keep The Blue Flag Flying High”. Ternyata, istilah ini diambil dari lirik lagu suporter Chelsea, yang berjudul “We’ll Keep The Blue Flag Flying High” yang dipopulerkan oleh Boys From The Shed.

Sama halnya dengan Madrid, KTBFFH juga kerap digunakan menjadi hashtag di media sosial guna menyuarakan dukungan kepada Chelsea kala mereka sedang bertanding. 

Manchester United “GGMU”

Sama halnya dengan Chelsea, United juga mempopulerkan slogan berbentuk akronim. GGMU atau singkatan dari Glory Glory Man United adalah lagu yang ditulis oleh Frank Renshaw yang merupakan anggota grup band asal Manchester bernama Herman’s Hermits.

Namun, ternyata United bukan jadi klub pertama yang menggunakan lagu itu. Lagu yang nadanya di adopsi dari lagu “The Battle Hymn of the Republic” pernah digunakan oleh Leeds dan Tottenham bahkan jauh sebelum Frank menulis lagu Glory Glory Manchester United.

Selain GGMU, beberapa United fans juga memiliki slogan “Not Arrogant, Just Better” atau yang memiliki arti, “Bukan sombong, hanya lebih baik” yang tertulis di bendera mereka. Namun, jika melihat keadaan United yang sekarang seharusnya slogan “Not Arrogant Just Better” itu sudah tak layak lagi berkumandang.

https://youtu.be/yTEcY30LJg0

Sumber: Talksport, Mojok, Goal, Box2box 

Parade Kejutan Terbesar Para Underdog Di Liga Champions

Dalam setiap perhelatan sebuah kompetisi terkadang diwarnai kejutan. Hal itu juga berlaku di kompetisi akbar seperti Champions League.

Beberapa kejutan terjadi, tim-tim yang yang tidak dijagokan alias underdog mampu melangkah jauh meninggalkan para unggulan. Bahkan ada yang mencapai juara. Berikut beberapa kejutan para underdog yang pernah mewarnai sejarah panjang Champions League.

Valencia 1999/2000

Valencia pada Liga Champions musim 1999/2000 dilatih oleh Hector Cuper. Mengejutkan ketika itu memuncaki babak grup pertama dan menjadi runner up di babak grup kedua mengantarkan Valencia ke babak perempat final melawan dream team Lazio.

Mereka mampu mengandaskan Lazio dengan agregat 5-3 dan maju ke semifinal menantang unggulan Barcelona. Barca pun takluk dengan agregat 5-3. Kelelawar Mestalla pun maju ke final sebagai underdog menantang raja Spanyol Real Madrid.

Sayang, penampilan Valencia mengalami antiklimaks di pertandingan final. Valencia takluk 3-0 oleh Real Madrid. Valencia ketika itu diperkuat pemain-pemain macam Santiago Cañizares, Mauricio Pellegrino, Gaizka Mendieta, Kily Gonzalez, maupun Claudio Lopez.

Leeds 2000/2001

Salah satu cerita underdog dari daratan Inggris terjadi di Liga Champions 2000/01. Di mana Leeds United mampu mengejutkan Eropa dengan melaju hingga semifinal. Tampil sebagai runner up grup di babak grup pertama, kemudian runner up di babak grup kedua, mengantarkan Leeds asuhan David O’Leary ke perempat final menantang Deportivo La Coruna.

Menang agregat 3-2 atas Super Depor mengantarkan Leeds ke semifinal untuk pertama kalinya, dan menghadapi Valencia. Namun langkah Leeds terhenti atas Valencia dengan agregat 3-0. Ketika itu Leeds diperkuat pemain macam Alan Smith, Lee Bowyer, Harry Kewell, Robbie Keane, maupun Mark Viduka.

PSV Eindhoven 2004/2005

Kejutan underdog terjadi juga di musim 2004/05 ketika klub Belanda PSV Eindhoven asuhan Guus Hiddink mampu mencapai babak semifinal.

Berbekal runner up grup di bawah tim unggulan, Arsenal, PSV melaju ke babak gugur dan berhasil melewati hadangan Monaco dengan skor agregat 3-0. PSV di perempatfinal juga mengejutkan ketika mampu mengatasi penguasa Perancis, Lyon dengan agregat 4-2.

Kiprah kejutan PSV akhirnya terhenti, mereka gagal melaju ke final karena kalah agresivitas gol tandang atas AC Milan. Kala itu PSV masih dihuni pemain macam Park Ji Sung, Phillip Cocu, sampai Mark Van Bommel.

AS Monaco 2003/2004

Pada musim 2003/04 ada kisah underdog dari Prancis yang mampu mengukir sejarah di Liga Champions. Ya, klub itu adalah AS Monaco. Di bawah pelatih Didier Deschamp, skuad Monaco kala itu diperkuat pemain macam Morientes, Ludovic Giuly, maupun Patrice Evra.

Di fase grup, mereka mengejutkan dengan menjadi juara grup di atas Deportivo La Coruna. Kemudian di babak 16 besar menyingkirkan wakil Rusia, Lokomotiv Moscow. Di perempat final mereka menyingkirkan raksasa Spanyol, Real Madrid dengan agregat agresivitas gol tandang. Di semifinal mereka juga mampu membunuh raksasa baru Inggris, Chelsea dengan agregat 5-3 dan berhak mencapai final.

Kisah heroik nan penuh kejutan terjadi di partai final ketika mempertemukan 2 tim underdog non unggulan yakni Monaco vs Porto. Akan tetapi, Monaco harus mengakui keunggulan Porto 3-0.

Deportivo La Coruña 2003/2004

Penguasa baru Spanyol Super Depor atau Deportivo La Coruna, menjadi kontestan yang mengejutkan di musim 2003/04. Ketika mereka mampu mencapai semifinal. Di bawah asuhan pelatih Javier Irureta skuad Super Depor diisi pemain macam Valeron, Luque, Tristan, maupun Pandiani.

Keluar sebagai runner up grup di bawah AS Monaco, Super Depor di babak 16 besar mengejutkan dengan menyingkirkan raksasa Italia Juventus dengan agregat 1-0. Kemudian mereka di babak perempatfinal juga mampu kembali menyingkirkan raksasa Italia lainnya AC Milan dengan agregat 5-4. Sayang, langkah mereka untuk mencapai final dikandaskan oleh underdog lainnya yakni Porto yang menjadi juara di musim itu.

Roma 2017/2018

Selain Juventus, AC Milan, Inter Milan yang bisa melaju jauh ke babak semifinal atau final, kali ini AS Roma, klub non unggulan di musim 2017/18 mampu mengejutkan eropa dengan melaju hingga babak semifinal.

Di bawah asuhan pelatih legenda mereka Eusebio Di Francesco skuad Roma diisi pemain macam De Rossi, Alisson, maupun Edin Dzeko. Menjadi juara grup di atas Chelsea dan Atletico Madrid, Serigala Roma maju ke babak 16 besar dengan menantang wakil Ukraina Shakhtar Donetsk.

Menang agregat agresivitas gol tandang dengan Donetsk, Roma di perempat final juga mengejutkan dengan menyingkirkan raksasa Spanyol, Barcelona dengan peristiwa comeback dramatisnya di Olimpico. Akan tetapi, langkah underdog Roma di musim itu terhenti di semifinal setelah mereka kalah tipis secara agregat 7-6 melawan Liverpool.

Porto 2003/2004

FC Porto asuhan the special one Jose Mourinho, mampu tampil mengejutkan Eropa di musim 2003/04 dengan menjadi kampiun. Kala itu Porto diisi pemain macam Ricardo Carvalho, Paulo Ferreira, hingga Deco.

Tuah Mourinho di Porto dimulai dari babak grup ketika mereka finish runner up di bawah Real Madrid. Di babak 16 besar Porto mampu mengandaskan unggulan Inggris, MU dengan agregat 3-2. Kemudian di perempat final, Porto mampu kembali mengandaskan unggulan Prancis, Lyon dengan agregat 4-2. Di semifinal, ketika bertemu sesama underdog yakni Deportivo La Coruna, Porto tampil sebagai pemenang dengan agregat 1-0.

Di final, pasukan Mou juga bertemu tim underdog lainnya AS Monaco. Kala itu, pasukan Mou mengukir sejarah dengan mengangkat trophy “Si Kuping Besar” dengan kemenangan telak 3-0.

Schalke 2010/2011

Ada cerita dari underdog asal Jerman yakni Schalke di musim 2010/11. Tampil di luar dugaan, mereka mampu melaju hingga babak semifinal. Kala itu, Schalke masih diisi pemain macam Neuer, Metzelder, Draxler, Huntelaar, sampai Raul Gonzalez.

Tampil mengejutkan sebagai juara grup di atas Lyon dan Benfica, pasukan Ralf Rangnick melaju ke 16 besar dan menyingkirkan wakil Spanyol, Valencia dengan skor agregat 4-2. Langkah mengejutkannya kembali terjadi di perempat final ketika mampu memulangkan juara bertahan Inter Milan dengan agregat telak 7-2. Di semifinal akhirnya langkah Schalke terhenti secara telak oleh unggulan Inggris, MU dengan agregat 6-1.

Villarreal 2005/2006

Akhir-akhir ini, Liga Champions disuguhkan dengan kisah heroik Villarreal melaju hingga semifinal di musim 2021/22 dengan mengandaskan unggulan macam Juventus maupun Bayern Munchen. Dulu Villarreal di musim 2005/06 juga pernah mengejutkan. Kala itu Villarreal bermaterikan pemain seperti Juan Pablo Sorin, Marcos Senna, maupun Roman Riquelme pernah mampu mencapai semifinal.

Tampil sebagai underdog, pasukan Villarreal yang kala itu masih diasuh Manuel Pellegrini mampu menjadi juara grup diatas Benfica, Lille dan MU. Langkah mereka di 16 besar juga mulus ketika berhasil mengandaskan wakil Skotlandia, Rangers dengan agregat agresivitas gol tandang. Di perempat final, pasukan kapal selam kuning itu kembali mengejutkan setelah mengandaskan raksasa Italia, Inter Milan dengan agresivitas gol tandang.
Langkah the yellow submarine akhirnya terhenti di semifinal setelah kalah tipis agregat oleh Arsenal 1-0.

Ajax dan Spurs 2018/2019

Kejutan non unggulan juga terjadi di musim 2018/19 kejutan yang disuguhkan Ajax dan Tottenham yang mampu melangkah hingga partai semifinal maupun final.

Ajax dan Tottenham mengawali kiprahnya di Liga Champions musim itu dengan dipandang sebelah mata. Tetapi, Ajax dan Spurs mampu tampil lepas dan mengejutkan. Masing-masing klub itu mampu menyingkirkan para unggulan di fase gugur. Ajax mampu menyingkirkan Madrid serta Juventus. Sedangkan Spurs mampu menyingkirkan Dortmund dan Manchester City.

Kedua tim akhirnya bertemu di semifinal dan tercipta aksi drama yakni comebacknya Spurs atas ajax di Amsterdam Arena yang membuat Spurs melaju ke final. Ajax kala itu masih diasuh Ten Hag dengan pemain macam De Ligt, De Jong, maupun Tadic. Sementara, Spurs di bawah Pochettino berisi materi pemain seperti Dele Alli, Lucas Moura, Son maupun Kane.

Sumber Referensi : fourfourtwo, thefootballfaithfull, sportskeeda