Beranda blog Halaman 560

Jimmy Bullard: Pemain Paling Kocak yang Terlupakan

0

Sepakbola Inggris, dikenal sebagai salah satu yang paling digemari di seluruh belahan dunia. Di sana ada banyak sekali manusia yang menggilai olahraga tersebut. Berbagai macam intrik dan sisi lain sepakbola juga dengan mudah kita jumpai di sepakbola Inggris. 

Dimulai dari rivalitas abadi, hingga momen lucu seperti tingkah konyol Louis Van Gaal yang menjatuhkan diri guna memprotes keputusan wasit.

Ngomong-ngomong soal aksi konyol, masih ingatkah kalian dengan Jimmy Bullard? Ya, Pemain yang pernah bermain untuk beberapa klub Inggris ini terkenal dengan aksi-aksi konyolnya yang menghibur penonton di stadion.

Jimmy Bullard

Jimmy Bullard sendiri adalah salah satu pesepakbola paling menghibur dalam sejarah Liga Inggris. Namun, Bullard bukan sekadar bahan lelucon saja, ia merupakan seorang pesepakbola yang sangat berbakat. 

Bahkan Jimmy Bullard sempat dipanggil ke skuad Timnas Inggris era Fabio Capello. Ya, meski tak pernah dimainkan. Ia juga pernah memainkan peran penting di sejumlah klub Liga Inggris.

Tercatat Jimmy pernah bermain untuk klub-klub sekelas Wigan Athletic, Hull City, Fulham, hingga West Ham United. Bullard dikenal sebagai pribadi yang bersemangat di lapangan dan karena kejenakaannya, ia bermain sepak bola dengan tawa sepanjang karirnya. 

Bahkan, selaku mantan pelatihnya di Wigan, Paul Jewel pernah menggambarkan Jimmy Bullard sebagai jantung dan jiwa dari ruang ganti tim. Selama kurang lebih 15 tahun karirnya, Jimmy menjadi seorang badut di ruang ganti lebih baik dari siapa pun.

Tepat di usia 33 tahun, Jimmy Bullard memutuskan untuk pensiun. Sepanjang karirnya, Jimmy memang punya masalah dengan cedera lutut. Kasus terparah adalah ketika ia mengalami cedera ligamen dua kali dalam tiga tahun, pertama di Fulham pada 2006 dan bersama Hull pada 2009.

Memanfaatkan Kesalahan Hull City

Mungkin yang cukup terkenal, kisahnya bersama Hull City. Entah karena selalu menghibur orang atau bagaimana, keberuntungan selalu menghampiri Jimmy. Ketika Hull City datang untuk merekrutnya pada tahun 2009, keberuntungan pun datang. Itu berawal dari salah ketik terkait besarnya upah yang ia dapat dalam kontrak Hull City.

Nilai transfer Bullard saat itu mencapai 5 juta pound atau sekitar Rp91 miliar plus gaji sebesar 40.000 pound atau sekitar Rp731 juta per pekan. Namun, saat Bullard menandatangani kontrak angka gajinya salah.

Dalam kontrak tersebut tertulis bahwa gaji adalah 50.000 pound plus bonus setiap kali turun bermain. Dasarnya Jimmy adalah orang yang jahil dan nyeleneh, tanpa mengkonfirmasi lebih lanjut, ia pun langsung menandatangani kontrak tersebut.

Bahkan, beberapa tahun setelah momen itu, Jimmy sempat menyampaikan kepada The Guardian bahwa ia sangat berterimakasih atas kesalahan Hull waktu itu, dengan tambahan uang itu ia bisa membagi-bagikan uang tersebut.

“Ketika saya menandatangani, saya langsung meniup tinta itu agar segera kering. Dan saya melihat ke bagian bawah, ada tambahan bonus penampilan sebesar lima sampai enam ribu poundsterling.” Ungkapnya kepada The Guardian.

Semakin Jadi Bersama Hull City

Setelah seharusnya berterima kasih kepada Hull City lantaran melakukan kesalahan dalam penulisan gaji, Jimmy malah semakin menjadi-jadi dalam mengeluarkan bahan olok-olok di lapangan maupun luar lapangan.

Bahkan saat sesi pembuatan video walk-on yang biasanya ditampilkan di awal pertandingan guna memperkenalkan pemain-pemain yang berada di starting XI, momen itu tak terlepas dari keisengan Jimmy. Ia dengan lawaknya malah mempermainkan sesi pembuatan video tersebut.

Dari mulai berlagak seperti orang yang ingin ngajak berantem, hingga menggunakan celana pendeknya seperti Almarhum Jojon. Sebelum akhirnya, ia melakukannya dengan serius meski harus sedikit menahan tawa.

Selain itu, ia juga pernah berselebrasi dengan menirukan pelatihnya yang sedang memberikan arahan ketika turun minum. Hal itu terjadi pada laga Hull City melawan Manchester City November 2009.

Ketika Jimmy berhasil mencetak gol melalui titik penalti, ia berlari layaknya mencetak gol di final Liga Champions lalu menyuruh rekan-rekannya duduk melingkar dan ia berdiri di tengah seakan-akan sedang memberikan instruksi menirukan sang pelatih Hull kala itu, Phil Brown. Ada-ada saja si Jimmy ini.

Di Balik Kelucuannya, Ia Ternyata Memiliki Skill yang Mumpuni

Sifat jenakanya di lapangan seakan-akan menenggelamkan stigma bahwa Jimmy merupakan pemain tengah yang cukup berbakat. Bagaimana tidak? Jika Jimmy bukan pemain yang memiliki skill di atas rata-rata, tak mungkin ia menghabiskan 15 tahun di sepakbola dengan mengemas 314 pertandingan serta 39 gol dan 25 assist.

Jimmy cukup terkenal ketika ia membela Wigan Athletic dan Hull City. Meski Jimmy bukanlah gelandang yang memiliki tubuh tinggi kekar bahkan mungkin posturnya tak mencerminkan sebagai pesepakbola. 

Namun, Jimmy unggul di saat pengambilan bola mati dan etos kerjanya di lini tengah, bahkan ia sempat dijuluki The Bulldog karena melihat kinerjanya yang tanpa lelah di lini tengah Wigan.

Bahkan, Jimmy menjadi jantung lini tengah Wigan yang berhasil promosi ke Liga Inggris pada musim 2005/06. Bersama Wigan, Jimmy juga dipercaya untuk mengambil bola mati dan tak jarang ia berhasil mengkonversinya menjadi gol yang indah.

Contohnya saja saat Wigan kontra Oldham pada April 2003. Jimmy berhasil mencetak gol indah dari tendangan bebas yang membuat kiper Oldham terbujur kaku melihat bola milik Jimmy masuk ke gawangnya.

Atau mungkin gol voli yang luar biasa kala Wigan tandang ke Brighton pada Maret 2005. Jimmy yang muncul dari second line, berhasil memanfaatkan bola liar yang memantul dengan tendangan voli tanpa kontrol.

Kehidupan Jimmy Bullard Setelah Sepak Bola

Namun, karir Jimmy berakhir dengan sangat cepat dan dia keluar dari ingar-bingar kasta tertinggi Liga Inggris. Hal itu memaksa publik pecinta sepakbola untuk melupakan karakternya yang menyenangkan.

Sayangnya, masalah lutut menjadi mimpi buruk bagi Jimmy dan akhirnya ia memilih pensiun di tahun 2012. Seketika ia berubah dari pemain tengah tingkat atas menjadi pemain sepakbola yang terlupakan dalam waktu tiga atau empat tahun.

Kini ia beralih profesi sebagai entertainer. Pada tahun 2016 Bullard membintangi acara golf-nya sendiri di Sky Sports yang berjudul Golf Juice yang diselenggarakan bersama dengan DJ Spoony dan Zoe Hardman. Ia juga menjadi pembawa acara sepak bolanya sendiri yang disebut  Jimmy Bullard Kicks Off  di saluran satelit London Live.

Lalu sejak tahun 2017 ia bekerja sebagai presenter acara olahraga Soccer AM bersama Sky Sports. Dengan pembawaannya yang jenaka dan sisa-sisa kemampuan sepakbolanya, Jimmy kerap membuat konten meniru gol-gol paling memorable Liga Inggris atau mungkin tanding freekick dengan James Ward-Prowse.

Sumber: Planetfootball, Punditarena, Thesefootballtimes, The Guardian, Balls

Momen Spesial Semifinal Liga Champions yang Tak Terlupakan

Partai semifinal Champions League musim 2021/2022 kali ini mulai dihelat. Partai semifinal biasanya menyimpan misteri tersendiri serta momen-momen yang tak terduga bagi klub dalam rangka bertarung mati-matian demi lolos ke partai puncak.

Langkah yang dilalui beberapa kontestan semifinalis ini terkadang berbuah cerita dramatis. Ada momen-momen spesial yang terjadi di beberapa tahun perhelatan semifinal Champions League. Berikut beberapa momen spesial tersebut.

Gol Hantu Luis Garcia (2005)

Saat itu 2005, All English Semifinal baik Chelsea maupun Liverpool sama-sama berpeluang lolos ke babak final karena pada leg pertama di Stamford Bridge berakhir imbang 0-0. Kemudian gol Luis Garcia muncul menjadi gol kemenangan bagi The Reds.

Gol ini bermula dari bola liar sepakan Milan Baros yang disergap oleh Petr Cech. Garcia yang melihat bola terlempar langsung menyambar bola. Saat bola bergulir di garis gawang, William Gallas sebenarnya sempat melakukan sapuan, tapi wasit tetap mengesahkan gol tersebut. Gol Garcia ini banyak diperdebatkan, belum adanya VAR sulit untuk menentukan apakah bola sudah melewati garis gawang atau belum. Inilah yang membuatnya disebut gol hantu.

Riquelme Gagal Penalti (2006)

Kisah manis Villarreal masuk semifinal Champions League pada tahun 2006 menyisakan pedih. Di leg pertama di kandang Arsenal, Villarreal takluk 1-0 oleh gol Kolo Toure.

Di leg kedua, skor 0-0 terjadi sampai menjelang berakhirnya pertandingan. Tragedi itu pun terjadi di menit-menit akhir babak kedua setelah Jose Mari dijatuhkan Clichy di kotak penalti. Riquelme sang algojo penalti tiba-tiba tidak mampu melesakkan gol setelah tendangannya ditepis oleh Lehmann.

Alhasil, Villarreal tak mampu menyamakan kedudukan dan gagal lolos ke final dengan agregat 1-0. Hal itu sampai sekarang bagi Riquelme adalah aib dan ia mengatakan trauma ketika melihat momen itu.

Tendangan Roket Scholes (2008)

Momen ketika MU pada 2008 mampu lolos dari hadangan Barcelona di semifinal. Bermain di leg pertama di Camp Nou, kedua tim sama kuat dan berakhir dengan skor 0-0. Pertemuan leg kedua di Old Trafford menyisakan momen spesial bagi MU.

Gol satu-satunya terjadi melalui tendangan roket jarak jauh Paul Scholes yang menghujam gawang Victor Valdes. Berawal dari kesalahan umpan clearance dari Zambrotta, bola mampir ke kaki Scholes. Dengan gol itu akhirnya Scholes mampu mengantarkan MU ke final dengan agregat 1-0

Sepakan Menit Akhir Iniesta (2009)

Momen spesial lain datang di semifinal 2009 ketika Barcelona jumpa Chelsea. Di leg pertama di Camp Nou skor 0-0 pun terjadi dan membawa pertarungan sesungguhnya di leg kedua di Stamford Bridge.

Satu gol keren sepakan voli dari luar kotak penalti Essien bertahan hingga 90 menit dan hampir meloloskan Chelsea. Akan tetapi, momen di menit 90+3 merubah segalanya. Berawal dari umpan Messi, Iniesta melepaskan tembakan melengkung dari luar kotak penalti dan menghempaskan Petr Cech. Skor 1-1 akhirnya mampu membawa Barca lolos ke final dengan dramatis dengan agresivitas gol tandang.

Seni Bertahan Mourinho (2010)

Era 2010 adalah eranya Jose Mourinho meraih treble winner bersama Inter. Kala itu di semifinal Champions League pasukan Mourinho menjadi buah bibir ketika mampu menyingkirkan Barcelonanya Pep.

Unggul 3-1 terlebih dahulu di leg pertama dengan pola permainan bertahan atau reaktif football. Pada leg kedua di Camp Nou, Inter mengusung format yang sama untuk tidak kebobolan. Barca pun kesusahan dan hanya mencetak 1 gol lewat Pique. Alhasil pola negative football ala Mourinho mampu mengantarkannya lolos ke final dengan agregat 3-2. momen bertahan Mou ketika itu sangat dikenal dengan istilah “parkir bus”.

Gol Sulap Torres Di Camp Nou (2012)

Pada semifinal 2012, Barcelona kembali bertemu Chelsea. Di leg pertama di Stamford Bridge, Chelsea mampu unggul 1-0 lewat gol Didier Drogba. Dan pada leg kedua, momen spesial itu pun terjadi. Barca membombardir gawang Chelsea demi misi comebacknya. Barca pun berhasil mencuri 2 gol terlebih dahulu lewat Busquets dan Iniesta.

Akan tetapi, gol Ramires sedikit menciutkan mental Barca dan merubah skor jadi 2-1. Barca terus memburu 1 gol tambahan untuk lolos sampai di menit akhir. Dan apa yang terjadi, lewat bola buangan dari bek chelsea ke depan, Fernando Torres muncul tiba-tiba di depan gawang Barcelona sendirian one on one dengan Valdes. Akhirnya, Torres mampu melesakkan gol dengan melewati Valdes dan mengubah skor menjadi 2-2. Chelsea pun lolos dramatis ke final dengan agregat 3-2

4 Gol Lewandowski (2013)

Dortmund di era Jurgen Klopp mampu mengguncangkan Eropa dengan menyingkirkan Real Madrid di tahun 2013. Momen lolosnya Dortmund ke final ketika itu terjadi berkat sumbangan fantastis 4 gol striker bintang mereka Robert Lewandowski di leg pertama di Signal Iduna Park dalam kemenangan telak 4-1.

Hasil itu tak mampu di comeback Real Madrid di leg kedua di kandang sendiri, karena hanya mampu menang 2-0 di Bernabeu berkat gol Benzema dan Ramos di menit akhir. Dortmund pun lolos ke final ketika itu dengan agregat 4-3.

Messi Hempaskan Boateng (2015)

Momen epic terjadi ketika Barcelona ditantang Bayern Munchennya Pep Guardiola di semifinal 2015. Bermain di leg pertama, Barcelona mampu unggul besar 3-0 atas Munchen. Gol Barca dicetak oleh Messi dengan 2 gol dan Neymar 1 gol.

Akan tetapi, gol kedua Messi itu menyisakan momen tersendiri. Ketika gocekan mematikan Messi mampu menenggelamkan bek Munchen, Jerome Boateng yang tersungkur berkat gocekan itu seolah ada yang menjatuhkannya.

Setelah gocekan itu pun, Messi langsung men-chip bola itu dan masuk dengan indah ke gawang Neuer. Sungguh gol yang luar biasa. Barca pun akhirnya lolos ke final setelah di leg kedua, Bayern hanya mampu menang 3-2, dan secara agregat Barca unggul 5-3.

Hattrick Ronaldo (2017)

All Spanish Semifinal terjadi di 2017 ketika Atletico dan Real Madrid berebut tiket menuju final. Momen spesial di partai ini terjadi di leg pertama ketika di luar dugaan Real Madrid mampu mencukur Atletico di Bernabeu dengan skor 3-0. 3 gol itu diborong oleh Cristiano Ronaldo. Itulah momen hattrick pertama Ronaldo di semifinal Liga Champions.

Hattrick ciamik itu menjadi modal awal yang penting bagi Madrid ketika tandang ke Atletico. Di leg kedua pun Atletico tak mampu membalas borongan gol Ronaldo tersebut, Atletico hanya mampu menang 2-1 dan Real Madrid berhak lolos ke final dengan agregat 4-2.

Comeback Liverpool Dan Spurs (2019)

Yang terakhir ada momen comeback luar biasa dari Liverpool dan Spurs di semifinal 2019. Liverpool yang tandang terlebih dahulu ke Camp Nou, Barcelona, seperti tidak punya harapan lagi di leg 2 setelah keok 3-0 tanpa balas.

Akan tetapi, di leg kedua semangat pasukan Klopp membara. Mereka berhasil unggul 4-0 tanpa balas lewat gol yang spesial di pertandingan itu. Masing-masing lewat dua gol Divock Origi dan dua lainnya melalui Wijnaldum. Akhirnya, Liverpool pun mengandaskan asa Barcelona ke final setelah menang agregat 4-3.

Comeback semifinal lainnya terjadi di kandang Ajax ketika Spurs mampu comeback dramatis melawan Ajax. Di leg pertama di kandang Spurs secara mengejutkan Ajax mampu menang 1-0 lewat gol Donny Van De Beek.

Menapaki leg kedua di Amsterdam Arena, Spurs tak tinggal diam. Ajax mampu unggul terlebih dahulu dengan 2-0 ketika sundulan Mattijs De Ligt dan sepakan Hakim Ziyech mampu menghujam gawang Hugo Lloris.

Peluang Spurs pun semakin tipis, Spurs harus mencetak 3 gol kalau ingin lolos. Ya, 3 gol itu benar-benar tercipta lewat aksi ajaib seorang Lucas Moura dengan gol terakhirnya yang dramatis di menit akhir babak tambahan waktu 90+5. Spurs pun mampu lolos ke final dengan agregat 3-3 unggul agresivitas gol tandang.

Sumber Referensi : theathletic, bleacherreport, sporf.com

Arnaut Danjuma, Muslim Religius yang Bawa Villarreal ke Semifinal UCL 2022

Masih hangat diingatan kita bagaimana Villarreal tampil mengejutkan di Liga Champions musim ini. Di luar prediksi, Villarreal mampu memperoleh satu tiket ke babak semifinal Liga Champions usai menyingkirkan juara 6 kali, Bayern Munchen.

Di babak perempat final kemarin, The Yellow Submarine tampil apik dalam 2 leg. Menang 1-0 di Estadio de la Ceramica, Villarreal berhasil menahan imbang Die Roten di laga leg kedua dengan skor 1-1. Menang agregat 2-1, Villarreal sukses menginjakkan kakinya lagi di babak semifinal Liga Champions setelah 16 tahun lamanya.

Dalam kesuksesan tersebut, tidak berlebihan rasanya jika menyebut Arnaut Danjuma sebagai salah satu pahlawan kemenangan Villarreal. Pasalnya, lewat gol tunggalnya di menit ke-8, The Yellow Submarine mampu tampil lepas saat menjalani laga leg kedua babak perempat final yang digelar di markas Bayern Munchen.

Tak hanya itu saja, di babak sebelumnya, Danjuma juga jadi pahlawan kemenangan Villarreal. Pemilik 6 caps bersama timnas Belanda itu jadi salah satu pencetak gol dalam kemenangan agregat 4-1 Villarreal atas Juventus di babak 16 besar.

Karier Roller Coaster Arnaut Danjuma

Berkat penampilan apiknya di Liga Champions musim ini, nama Arnaut Danjuma langsung jadi bahan perbincangan hangat di antara para pecinta sepak bola. Profilnya pun langsung banyak dicari.

Akan tetapi, berbicara soal karier sepak bola dari Arnaut Danjuma, winger yang memilih membela timnas Belanda ini sebetulnya punya riwayat karier yang cukup unik. Sebelum menjadi tulang punggung Villarreal, karier Danjuma kerap naik turun bagaikan roller coaster.

Pada tahun 2008, Danjuma yang saat itu masih berusia 11 tahun direkrut oleh raksasa Liga Belanda, PSV dari akademi Top Oss. Delapan tahun dihabiskannya di PSV. Sayangnya, selama itu bakatnya disia-siakan.

Setelah gagal menembus tim utama PSV, Danjuma hengkang ke NEC Nijmegen di musim panas 2016. Menariknya, ia menjalani laga debutnya pada 10 September 2016 dengan tampil di laga melawan tim lamanya, PSV.

Bersama NEC, Danjuma sempat merasakan Eerste Divisie, kompetisi kasta kedua Liga Belanda saat timnya turun kasta di musim 2017/2018. Namun, saat itulah Danjuma menampilkan performa yang cukup apik dengan sumbangan 13 gol dalam 30 penampilan.

Penampilan di Liga 2 Belanda itulah yang menarik minat raksasa Liga Belgia, Club Brugge yang kemudian meminang Danjuma di musim panas 2018. Di klub inilah Danjuma pertama kali merasakan kompetisi Liga Champions. Namun, ia hanya bertahan semusim di Belgia.

Pada musim panas 2019, Arnaut Danjuma direkrut klub Premier League, AFC Bournemouth yang menebusnya dengan mahar 13,7 juta poundsterling. Bagai dejavu, karier Danjuma bersama Bournemouth di Premier League tak berjalan baik. Justru, ia baru mampu tampil menawan saat Bournemouth terdegradasi ke Divisi Championship di musim 2020/2021.

Di musim tersebut, Arnaut Danjuma mampu menyumbang 17 gol dalam 37 penampilannya di semua kompetisi. Performa itulah yang kemudian membuat Villarreal berani merogoh kocehnya hingga 25 juta euro untuk mengikat Arnaut Danjuma di Estadio de la Ceramica hingga Juni 2026. Transfer tersebut diketahui sampai memecahkan rekor transfer termahal Villarreal dalam sejarah.

Bagai roller coaster, Danjuma yang sebelumnya berkompetisi di divisi Championship, kasta kedua Liga Inggris langsung merasakan ketatnya Liga Champions bersama Villarreal. Tak hanya sekadar tampil, Danjuma juga sukses membawa timnya ke babak semifinal Liga Champions musim ini.

Arnaut Danjuma Jadi Incaran Banyak Klub Top Eropa

Tidak berlebihan rasanya jika menyebut Arnaut Danjuma sebagai pahlawan Villarreal di Liga Champions musim ini. Sebab selain membawa Villarreal melaju ke partai semifinal, Danjuma juga jadi top skor sementara Villarreal di Liga Champions dengan torehan 6 gol.

Selain itu, secara keseluruhan, Danjuma juga bisa dibilang sebagai tulang punggung Villarreal musim ini. Ini tak lepas dari kepercayaan dan peran vital yang diberikan Unai Emery. Mantan pelatih Arsenal itu diketahui sebagai orang yang paling ngotot untuk merekrut Danjuma di musim panas lalu.

Emery mencium bakat manis Danjuma saat dirinya melatih Arsenal. Perjudian Emery yang menjadikan Danjuma sebagai rekrutan termahal Villarreal sepanjang sejarah terbayar tuntas dengan performa gemilangnya di La Liga.

Seperti saat dirinya jadi pahlawan kemenangan Villarreal di laga “Derbi de la Comunitat” melawan Valencia. Tampil selama 71 menit, Arnaut Danjuma sukses memborong 2 gol kemenangan Villarreal. Penyerang yang akrab dengan selebrasi ular cobra itu juga terpilih sebagai Man of the Match.

Meski Danjuma belum mampu mengangkat Villarreal ke zona Liga Champions, tetapi sejauh ini ia tercatat sudah menyumbang 10 gol dan 3 asis di La Liga. Catatan tersebut menjadikannya sebagai pencetak gol terbanyak Villarreal musim ini, mengungguli Gerard Moreno.

Berkat rentetan performa itulah, kini Arnaut Danjuma juga jadi incaran klub top Eropa. Liverpool dan Manchester United adalah 2 klub Premier League yang dilaporkan meminatinya. Sebelumnya, ia juga pernah jadi incaran raksasa Italia, AC Milan.

Namun, bagi siapa saja yang ingin merekrut Danjuma, mereka mesti merogoh koceknya begitu dalam. Pasalnya, Villarreal yang mengikatnya hingga Juni 2026, memagari Arnaut Danjuma dengan buyout clause senilai 64 juta poundsterling.

Sebuah harga mahal, tetapi bisa dipahami. Sebab, selain bisa menjadi seorang winger, Danjuma juga bisa diplot sebagai seorang striker. Beroperasi di sisi kiri, kelincahan dan instingnya dalam mencetak gol menjadi senjata utamanya. Oleh surat kabar The Guardian, Arnaut Danjuma bahkan sampai disebut sebagai salah satu winger terbaik di dunia saat ini.

Arnaut Danjuma, Seorang Muslim yang Religius

Namun, tahukah kamu kalau Arnaut Danjuma merupakan seorang muslim yang religius?

Fakta tersebut bisa dilihat dari akun media sosial pribadinya. Pada profil instagram-nya, Danjuma menuliskan kalimat “La hawla wala quwatta illa billah”. Sementara di akun twitter-nya, Danjuma menulis “Alhamdulillah” pada bagian profilnya.

Saat dirinya membawa Villarreal lolos ke babak semifinal, Danjuma juga mengunggah foto dengan keterangan “Alhamdulillah” di akun instagram pribadinya. Sebelumnya, ia juga mengunggah potongan Surat Al Anfal ayat 10 yang berarti, “Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah”.

Lalu, sejak kapan Arnaut Danjuma memeluk agama Islam?

Lahir di Kota Lagos, Nigeria dengan nama lengkap Arnaut Danjuma Adam Groeneveld pada 31 Januari 1997, Danjuma punya darah Belanda dari sang ayah dan darah Nigeria dari sang ibu. Ibunya yang bernama Hauwa merupakan seorang muslim dan Danjuma sudah memeluk agama Islam sejak dirinya kecil.

Akan tetapi, masa kecil Arnaut Danjuma tidaklah mudah. Pada usia 4 tahun, kedua orang tuanya bercerai. Danjuma bersama 2 kakaknya yang ikut bersama ibunya sempat mengalami masa sulit pasca perceraian. Danjuma sempat menjadi seorang tunawisma dan tinggal di panti asuhan.

Beruntung, sang ayah yang bernama Cees tetap memperhatikan kewajibannya sebagai seorang ayah dan membantu pendidikan anak-anaknya, termasuk Danjuma. Lewat ayahnya pula, Danjuma dapat menimba ilmu sepak bola di akademi RKSV Margariet dan TOP Oss.

Sebagai seorang muslim di dataran Eropa, Danjuma juga sudah pernah menerima pelecahan islamofobia, baik saat di lapangan maupun di media sosial. Hal tersebut ia alami saat dirinya masih bermain di Liga Inggris bersama Bournemouth.

Meski menghadapi berbagai rintangan dan ujian dalam hidupnya, Arnaut Danjuma tetap teguh dalam imannya. Ia bahkan terlihat bangga dengan keislamannya. Ini dibuktikan dengan sikap Danjuma yang kerap mengunggah foto dan pesan-pesan bernada religius di media sosialnya.

Seperti di awal bulan ramadan kemarin. Lewat Instagram dan Twitter-nya, Arnaut Danjuma mengunggah arti dari Surat Al Baqarah 183 yang berisi tentang kewajiban umat Islam untuk berpuasa di bulan suci Ramadan. Ini jadi bukti bahwa Danjuma juga melaksanakan ibadah puasa ramadan.

Dalam sebuah wawancara, Danjuma mengaku bahwa puasa ramadan justru makin membuatnya kuat. Terbukti, di bulan ramadan 2022 ini, ia sukses membawa Villarreal ke babak semifinal Liga Champions.

“Orang selalu berpikir itu melemahkanmu, tapi itu membuat tubuhku lebih kuat. Ini adalah periode terbaik musim ini ketika saya merasa paling fit dan terkuat. Ramadhan tidak menjadi beban bagi saya dan itu tidak mempengaruhi persiapan saya untuk sebuah pertandingan,” kata Danjuma, dikutip dari AFCB.


***
Referensi: Liputan 6, AFCB, The Guardian, DailyMail, Ontrend, Goal.

Berita Bola Terbaru 26 April 2022 – Starting Eleven News

Berita Bola Terbaru dan Terkini

MITROVIC PEMAIN TERBAIK CHAMPIONSHIP

Striker Fulham, Aleksandar Mitrovic dinobatkan sebagai Pemain Terbaik pada upacara penghargaan EFL 2022 di London musim ini. Pemain berusia 27 tahun itu telah mencetak 41 gol yang membuatnya memecahkan rekor gol terbanyak yang dicetak dalam satu musim Championship. Mitrovic mengalahkan rekan setimnya, Harry Wilson dan pemain Bournemouth, Dominic Solanke untuk memenangkan penghargaan tersebut.

THOMAS FRANK INGIN ERIKSEN BERTAHAN DI BRENTFORD

Christian Eriksen memiliki kontrak jangka pendek selama enam bulan dengan Brentford dan akan berakhir pada hingga akhir musim. Pelatih Brentford, Thomas Frank, ingin gelandang serang asal Denmark itu bertahan di klub. Meski demikian, Frank tidak akan memaksa Eriksen, sebab menurutnya, keputusan penuh berada di tangan sang pemain sendiri.

JELANG SEMIFINAL UCL, TEVEZ: MADRID HARUS KHAWATIR LAWAN MAN CITY

Manchester City akan menjamu Real Madrid pada laga leg pertama semifinal Liga Champions di Etihad, Rabu dini hari nanti. Carlos Tevez yang pernah bermain untuk Manchester City itu menilai, mantan timnya kini tak perlu takut lagi untuk melawan tim sebesar Real Madrid.  Bahkan Tevez yakin, justru Madrid-lah yang harus khawatir saat menantang tim asuhan Pep Guardiola itu.

KLOPP: ORIGI SEORANG LEGENDA DAN PENYERANG KELAS DUNIA

Divock Origi kembali tampil moncer dalam Derby Merseyside antara Liverpool vs Everton. Juergen Klopp membanjirinya dengan segudang pujian. Seperti diketahui, Origi mencetak satu gol saat Liverpool menang 2-0 atas Everton di Anfield. Opta mencatat gol terbanyak Origi dalam kariernya bersarang ke gawang The Toffees. Ia membobol jala Everton sebanyak 6 kali dalam 12 pertemuan bersama Liverpool. Klopp pun tak ragu menyebut Origi sebagai seorang legenda dan penyerang kelas dunia.

REAL BETIS TERTARIK ANGKUT ISCO

Dilansir dari Football Espana, Juara Copa del Rey, Real Betis dilaporkan menargetkan pemain real Madrid Isco dalam transfer musim panas mendatang. Betis ingin memperkuat skuadnya musim depan. Pemain internasional Spanyol itu sendiri tampaknya akan segera keluar dari Estadio Santiago Bernabeu dalam beberapa bulan mendatang dengan kontraknya yang akan berakhir pada Juni.

BUSQUETS ANEH BARCELONA SELALU TELAN KEKALAHAN DI CAMP NOU

Klub raksasa Spanyol Barcelona kembali terpukul. Sang kapten Sergio Busquets tak menutupi rasa frustrasi setelah menerima hasil akhir pertandingan kandang mereka melawan Rayo Vallecano pada lanjutan La Liga Spanyol 2021/22 di Camp Nou, kemarin. Busquets merasa heran timnya selalu menelan kekalahan di Camp Nou. Kekalahan melawan Rayo Vallecano jadi yang ketiga bagi Los Azulgrana secara beruntun ketika bermain di markas sendiri.

ALAN SHEARER PERTANYAKAN METODE RANGNICK DI MU

Setelah kekalahan 0-4 dari Liverpool, Manchester United takluk 1-3 dari Arsenal akhir pekan lalu. Kekalahan MU itu mendapatkan sorotan dari legenda Timnas Inggris Alan Shearer. Alan Shearer mempertanyakan apa yang dilakukan Ralf Rangnick dan stafnya di sesi latihan Manchester United menyusul kekalahan telak lainnya yang dialami klub Setan Merah. Shearer menyoroti permainan MU yang kurang utamanya dalam hal melakukan pressing.

DONNARUMMA SUDAH MEMUTUSKAN MASA DEPANNYA DI PSG

Gianluigi Donnarumma telah mengungkapkan situasi mengenai masa depannya di Paris Saint-Germain. Meski kesempatan bermainnya minim, penjaga gawang berusia 23 tahun itu menegaskan tetap ingin bertahan di PSG dan mencoba memenangkan Liga Champions pada 2022/23. “Itu adalah kepuasan yang luar biasa. Saya telah menetap di musim pertama saya di sini dan saya senang dengan bagaimana ini berjalan,” ucap Donnarumma.

JERSEY RONALDO MILIK MARTUNIS DIBELI ATTA HALILINTAR

Lewat akun Instagram-nya, Martunis mengumumkan bahwa jersey Cristiano Ronaldo yang dilengkapi tanda tangan mega bintang Portugal itu telah dibeli YouTuber, Atta Halilintar. Jersey Manchester United musim 2004/05 itu sebelumnya dilelang Martunis untuk membantu pembangunan sebuah pesantren di Aceh. Kabarnya, jersey tersebut dibeli Sultan Atta dengan nominal ratusan juta rupiah.

PERBANDINGAN GAJI TEN HAG DI MU DAN PEP DI MAN CITY

Gaji Erik ten Hag di Manchester United menyentuh total nyaris 30 juta pounds atau Rp557 miliar. Nilai itu menghitung keseluruhan uang yang dia terima jika menuntaskan kontrak sampai 2025 atau untuk 3 tahun ke depan. Apabila dirinci ke dalam upah tahunan, mantan juru latih Ajax mengantongi 9 juta pounds, plus beberapa insentif terkait kinerja klub. Namun, angka tersebut recehan jika dibandingkan upah Pep Guardiola di Manchester City. Oleh Manchester City, pria Spanyol diganjar upah 19 juta pounds per tahun, atau 110 persen lebih tinggi dari gaji Ten Hag kelak.

SERIE A: JUVENTUS HAJAR SASSUOLO

Pada laga lanjutan Liga Italia, Juventus menghajar tuan rumah Sassuolo dengan skor 2-1. Pasukan Zebra tertinggal lebih dulu berkat gol Giacomo Raspadori di menit 39. Si Nyonya Tua lalu menyamakan skor lewat aksi Paulo Dybala di menit 45. Kemenangan Juventus sendiri dikunci oleh Moise Kean lewat golnya di menit 88. Raihan tiga poin ini bikin Juventus bertahan di posisi keempat, sedangkan Sassuolo tertahan di urutan ke-10.

LIGA INGGRIS: CRYSTAL PALACE IMBANG KONTRA LEEDS

Leeds United menaikkan harapan bertahan di Liga Inggris setelah menahan Crystal Palace dengan skor 0-0 di Selhurst Park pada Selasa dini hari tadi. Kedua tim tak mampu mencetak gol selama 90 menit pertandingan. Leeds kini masih tertahan di peringkat ke-16, sedangkan Palace ada di urutan ke-14 dengan 38 poin dari 33 laga.

OWEN KRITIK PERILAKU MANE

Mantan striker Inggris, Michael Owen mengecam perilaku pemain sayap Liverpool, Sadio Mane dalam kemenangan 2-0 atas Everton di Liga Premier pada hari Minggu (24/4). Pada suatu momen, Mane menancapkan jarinya ke wajah pemain Everton, Mason Holgate sebelum mengangkat tangannya ke arah Allan. Owen menegaskan perilaku pemain internasional Senegal itu tidak baik dan dia bahkan mungkin diusir.

JUVENTUS SODORKAN KONTRAK UNTUK DI MARIA

Juventus sudah melakukan pembicaraan dengan pemain asal Argentina, Angel Di Maria. Dilansir Goal Internasional, Si Nyonya Tua telah menyodorkan kontrak, sebagaimana PSG tidak akan mengaktifkan klausul untuk memperpanjang kontrak winger berusia 34 tahun itu. Akan tetapi, laporan itu juga menambahkan, pembicaraan antara kedua kubu masih terus berlangsung terkait opsi tambahan kontrak setahun lagi.

BARCELONA KEHILANGAN SERGINO DEST 

Melalui twitter, pada Senin malam WIB, Barcelona telah mengkonfirmasi bahwa Sergino Dest mengalami cedera pada hamstring kaki kanannya. Eks defender Ajax ini diperkirakan hanya akan menepi dalam periode yang tidak begitu panjang, yaitu sekitar empat hingga enam pekan ke depan. Namun, mengingat musim sudah tinggal menyisakan sebulan lagi, maka bisa dipastikan bahwa dia baru akan bermain lagi di ajang resmi pada musim depan.

ANTONIO RUDIGER SEPAKAT GABUNG REAL MADRID

Pakar transfer asal Italia, Fabrizio Romano, lewat akun twitternya menyebut bek Chelsea Antonio Rudiger segera gabung Real Madrid. Bek berkebangsaan Jerman itu akan gabung Real Madrid secara gratis pada bursa transfer musim panas 2022. Kontrak Rudiger di Chelsea habis akhir musim ini. Bek berusia 29 tahun itu menolak perpanjangan dan memilih hengkang meski dipercaya tampil reguler sejak era Thomas Tuchel.

ERIK TEN HAG BAKAL BERI DAMPAK BESAR BAGI MU

Mantan pelatih Manchester United, Eric Steele, memberikan dukungan bagi keputusan The Red Devils yang menunjuk Erik ten Hag sebagai manajer mereka yang baru. Steele yang juga pernah bekerja sama dengan Ten Hag di FC Utrecht meyakini pelatih asal Belanda itu akan mengubah banyak hal di Old Trafford.

SILAKAN BELI CHELSEA, TAPI TOLONG JANGAN DIJUAL LAGI

Masa kepemilikan saham Chelsea era Roman Abramovich akan segera berakhir. Klub yang bermarkas di Stamford Bridge itu akan dijual senilai 2,5 miliar poundsterling. Penawar terpilih akan diumumkan Raine Group, bank pedagang yang menangani lelang, dalam beberapa hari ke depan. Sky Sports melaporkan Raine telah menghubungi penawar terpilih. Mereka adalah Todd Boehly, Sir Martin Broughton, dan Steve Pagliuca. Ketiga pihak itu diminta komitmen tidak akan menjual klub hingga 2032.

ARSENAL NAWAR 60 JUTA EURO, AS ROMA OGAH MELEPAS ABRAHAM

AS Roma dikabarkan tidak akan melepas pemain pinjaman Tammy Abraham, meskipun ada tawaran 60 juta euro dari Arsenal. Giallorossi tidak akan menjual striker asal Inggris itu, apalagi untuk penawaran di bawah 80 juta. Klub Serigala Ibukota tidak berencana untuk berpisah dengan Abraham dan masih berharap Chelsea tidak akan mengaktifkan klausul mereka dalam satu tahun.

AC MILAN BERMINAT ANGKUT MAHREZ

Dilansir dari Football Italia, Raksasa Serie A AC Milan dikabarkan berniat untuk memboyong Riyad Mahrez dari Manchester City usai memastikan diri mendapat tiket ke Liga Champions musim depan. Kontrak Mahrez sendiri akan berakhir pada musim panas 2023 mendatang. Jadi harganya diperkirakan tak akan terlalu mahal. Laporan itu juga menyebut Milan akan menghadapi persaingan dari Real Madrid, Barcelona, dan PSG dalam perburuan Mahrez.

POGBA KELUAR DARI WHATSAPP GRUP MANCHESTER UNITED

Diwartakan oleh Sportbible, gelandang Manchester United, Paul Pogba telah memberitahu rekan satu timnya bahwa dia akan pergi pada akhir musim. Untuk itu dia berpamitan meninggalkan grup WhatsApp skuad. Pelatih interim Ralf Rangnick sebelumnya sudah mengkonfirmasi bahwa Pogba akan absen selama sisa musim ini setelah mengalami cedera. Selain Pogba, ada juga Jesse Lingard, Nemanja Matic, Edinson Cavani dan Juan Mata yang diperkirakan akan meninggalkan klub dengan status bebas transfer selama jendela musim panas.

ANCELOTTI BERHARAP AC MILAN JUARAI SERIE A ITALIA 

Pelatih Real Madrid, Carlo Ancelotti mengaku masih mengikuti perkembangan sepak bola Italia. Dia pun sangat berharap bisa melihat AC Milan meraih gelar Serie A pada musim 2021/22 ini. Milan kini sedang bersaing memperebutkan Scudetto bersama Inter Milan. Mereka unggul dua poin atas rival sekotanya tersebut di puncak klasemen. Terbaru, Milan berhasil mengalahkan tuan rumah Lazio dalam lanjutan Serie A.

ANCELOTTI SEBUT REAL MADRID HARUS KOMPAK LAWAN MAN CITY

Pelatih Real Madrid Carlo Ancelotti siap menghadapi pertandingan di semifinal Liga Champions melawan Manchester City, rabu dini hari di Etihad Stadium. Menurut Ancelotti, lawan yang dihadapi Madrid kali ini lebih berat ketimbang PSG atau Chelsea yang menjadi lawan Madrid sebelumnya. The Citizens siap menghadirkan batu sandungan besar bagi Madrid. Untuk itu, Ancelotti menyebut Madrid harus kompak jika ingin meraih hasil maksimal.

CASEMIRO DAN ALABA TERANCAM ABSEN BELA MADRID DI ETIHAD

Casemiro dan David Alaba mungkin absen membela Real Madrid di laga leg pertama semifinal Liga Champions melawan Manchester City di Etihad. “Ada tanda tanya untuk Alaba dan tanda tanya lebih besar terkait Casemiro,” kata Ancelotti dalam jumpa pers pralaga. Casemiro mengalami cedera otot sejak Selasa (19/4). Sedangkan Alaba, dua hari yang lalu, dilaporkan mengalami cedera hamstring setelah menjalani pemindaian.

RESMI! CHIELLINI AKAN PENSIUN USAI ITALIA HADAPI ARGENTINA

Bek tua Timnas Italia Giorgio Chiellini kepada DAZN usai laga Juventus vs Sassuolo mengatakan akan pensiun dari timnas dalam waktu dekat. Chiellini akan pensiun membela timnasnya setelah juara Eropa itu memainkan laga persahabatan melawan Argentina di Wembley pada Juni. Kegagalan Italia tampil di Piala Dunia 2022 diyakini mempercepat keputusan bek Juventus berusia 37 tahun itu untuk berhenti membela negaranya. 

Kisah Hebat di Balik Real Betis yang Juara Copa del Rey

0

Keputusan Real Betis menunjuk Manuel Pellegrini adalah keputusan yang tepat. Bukan hanya gaek dan sarat pengalaman, ketenangan pria Chile itu sungguh tidak ada yang bisa menandinginya. Tenang, dingin, dan selalu taktis, itulah Pellegrini. Hal itu sudah ia tunjukkan ketika membawa Manchester City juara Liga Inggris.

Kini, Pellegrini ternyata belum habis. Ditunjuk Real Betis dan tak butuh waktu lima tahun, Pellegrini mengantarkan Real Betis menjadi juara Copa del Rey. Sungguh, ini bukan hanya berita besar tapi justru lebih seperti dongeng. Gerakannya tak kelihatan, tertutup oleh inkonsistensi Barcelona di bawah Xavi.

Namun, percayalah! Bahwa yang tidak kelihatan itu, yang mindik-mindik itu, justru yang membuat cerita Real Betis juara Copa del Rey menjadi makin indah. Apalagi gelar ini sudah mereka nantikan sejak 2005.

Mengalahkan Sevilla di 16 besar. Menggilas Real Sociedad 4 gol tanpa balas di perempatfinal. Dan mengalahkan klub yang mengalahkan Barcelona, Rayo Vallecano untuk melaju ke final untuk bertemu Valencia. Real Betis dan tentu saja Pellegrini, harus menghadapi Valencia yang di semifinal mengalahkan Bilbao, klub yang melumat Real Madrid.

Valencia bukan klub kemarin sore. 6 La Liga, 8 trofi Copa del Rey, 2 trofi Piala Super Eropa setidaknya sudah cukup untuk mengatakan, bahwa Valencia punya reputasi yang bagus. Pellegrini tahu itu, dan ia mencoba tenang sembari mengarahkan bidaknya agar bermain atraktif.

Jalannya Pertandingan

Di babak pertama, Real Betis tampil menawan. Penguasaan bola anak asuh Pellegrini sanggup membuat pemain Valencia kencing berdiri. Sementara, anak didik Jose Bordalas sulit mengembangkan permainan. Valencia tak bisa berbuat banyak.

Menit ke-11, ya belum genap 15 menit pertandingan berjalan, Real Betis melaju satu gol. Borja Iglesias mengukir namanya di papan skor. Setelah itu, Valencia mulai merespons. Bordalas tak bisa hanya diam melihat pertandingan berjalan apa adanya.

Ia mengubah strategi dengan tampil lebih menyerang. Alhasil, menit ke-30 lewat sebuah serangan balik, Hugo Duro mampu menciptakan gol yang ditunggu. Skor berubah sama kuat. Merasa kehilangan kemenangan, Pellegrini menginstruksikan para pemain untuk menggempur pertahanan Valencia.

Sayang, Valencia tetaplah Valencia. Kokohnya pertahanan Valencia memaksa skor 1-1 bertahan hingga interval babak pertama. Di babak kedua, kedua tim tampil ngotot. Namun seperti babak pertama, Los Verdiblancos menguasai permainan dan lebih agresif. Sementara Valencia hanya mencari serangan balik.

Gol yang ditunggu tak tercipta hingga babak kedua usai. Pertandingan mesti berlanjut ke babak tambahan. Dalam 2 x 15 menit, kedua tim masih tetap saling menusuk. Tapi karena faktor fisik dan kelelahan, pertandingan jadi berjalan lebih santai. Tempo pertandingan pun sedikit mengendur.

Laga berlanjut ke adu penalti. 5 penendang Real Betis menuntaskan tugasnya, sedangkan di kubu Valencia hanya 4 orang yang menyelesaikan tugasnya. Yunus Musah, algojo dari Valencia tidurnya pasti tak nyenyak karena gagal mengeksekusi penalti. Pasukan Pellegrini menjuarai Copa del Rey berkat keunggulan 5-4 lewat drama adu penalti.

Lima Penendang Penalti Real Betis, Semuanya Pemain Cadangan

Yang unik, di laga tersebut kelima penendang penalti Real Betis berasal dari bangku cadangan. Entah bagaimana, Pellegrini cerdik sekali mengatur kapan lima pemain itu masuk. Padahal semua orang akan melihat pencetak gol Borja Iglesias menjadi salah satu eksekutor, selain dua nama lain seperti Sergio Canales dan Nabil Fekir.

Namun, tiga pemain itu justru diganti oleh Pellegrini. Ia memasukkan ikon Real Betis, Joaquin Sanchez di jelang menit 90. Nama lain seperti Willian Jose, Andres Guardado masuk di babak perpanjangan. Sementara, Juan Miranda masuk pada interval setelah itu, dan terakhir Christian Tello yang masuk pada 9 menit waktu tersisa.

Orang-orang itulah yang menjadi eksekutor penalti. Dan itu ternyata memang sudah direncanakan. “Mereka masih segar dan mereka adalah spesialis,” kata Pellegrini seperti dikuti FourFourTwo. Para pemain cadangan yang sukses menuntaskan tugasnya itu menunjukkan bahwa omongan Pellegrini tepat, meski juga tak bisa lepas dari keberuntungan.

Trofi Pertama Pellegrini di Spanyol

Ini menjadi kemenangan berharga buat Manuel Pellegrini. Ia telah banyak makan asam garam sepakbola, termasuk membawa Manchester City juara dan terpuruk ketika melatih Real Madrid. Namun, berkat Copa del Rey yang ia raih bersama Real Betis, menunjukkan bahwa Pellegrini masih bisa kok untuk menaklukkan Spanyol.

Trofi Copa del Rey adalah trofi Spanyol pertama Manuel Pellegrini. Ini menjadi penting karena selama melatih di Spanyol, antara lain menangani Villarreal, Malaga, dan Real Madrid, baru kali ini Pellegrini menaklukkan salah satu kompetisi paling bergengsi di Spanyol. Itu artinya ia sudah memenangkan trofi di empat negara yang berbeda: Ekuador, Argentina, Inggris, dan Spanyol.

“Saya beruntung bisa memenangkan trofi di hampir semua negara yang saya kunjungi,” kata Pellegrini yang senyumnya sedang mengembang.

Juan Miranda: Fans yang Jadi Penentu Kemenangan Real Betis

Bukan hanya Pellegrini yang mengukirkan kisahnya di momentum Copa del Rey. Namun, sosok anak muda yang ketika berusia lima tahun menonton Los Verdiblancos bersama keluarganya di Vicente Calderon, pada momen kemenangan itu menangis. Ia adalah Juan Miranda. Pemain 22 tahun yang menjadi algojo terakhir yang dipercaya Manuel Pellegrini.

Pemain yang pernah memperkuat Barcelona itu sebetulnya tidaklah masuk line up. Pellegrini baru memasukkan Miranda di babak kedua perpanjangan waktu. Pemuda itu menggantikan Alex Moreno. “Saya tahu kami akan menang, bahwa itu akan berjalan dengan baik,” kata Miranda usai dirinya menangis tersedu-sedu di lapangan.

Kebahagiaan Joaquin Sanchez

Bukan hanya Miranda yang tangis kebahagiannya pecah, seorang Joaquin Sanchez, pemain paling ikonik di Real Betis tak sanggup menyembunyikan rasa kebahagiaannya. Ia yang juga menjadi salah satu algojo penalti mampu membawa Real Betis juara di umurnya yang menginjak 41 tahun.

Senyumnya yang lebar mengiringi kebahagiannya mengangkat trofi Copa del Rey ke langit-langit Kota Seville. Joaquin teringat, terakhir kali ia melakukan itu 17 tahun yang lalu. Final ini, kata Joaquin, adalah hadiah 20 tahun cinta untuk Real Betis dan sulit baginya untuk tidak menyukai momen ini.

Ia yang kala itu diisukan bakal menyudahi kariernya, justru berseloroh. Dengan selera humornya yang khas, Joaquin menjawab pertanyaan soal meninggalkan klub dengan entengnya. “Bagaimana saya bisa pergi ketika kita baru mulai menang,” kata Joaquin.

Kemenangan Real Betis di Copa del Rey tentu membuat kita semua terkagum. Apalagi ada kisah-kisah hebat di baliknya. Miranda yang jadi penentu klub kebanggannya, Joaquin yang juara di usia senja, Pellegrini yang meraih titel pertamanya di Spanyol, dan tentu saja Hector Bellerin yang beruntung memilih bergabung Real Betis, alih-alih bertahan di Arsenal.

https://youtu.be/z1BpzplmnO8

Sumber referensi: Independent, Balls, TheGuardian, Okezone

10 Penyerang Tengah Terbaik Saat Ini

0

Tak bisa dipungkiri, beberapa penggemar sepakbola menganggap bahwa posisi striker merupakan posisi paling disukai di sepakbola. Bahkan beberapa klub tak keberatan untuk merogoh kocek dalam-dalam demi mendatangkan seorang striker guna menjadi mesin gol mereka.

Namun, menjadi striker tak melulu soal mencetak gol. Penyerang harus mampu menahan bola, membangun serangan, merebut bola atau sebatas melakukan pergerakan untuk menarik perhatian lawan. Nah, dari poin-poin tersebut, berikut daftar penyerang tengah terbaik di Eropa saat ini. 

Patrik Schick 

Yang pertama ada Patrik Schick, penyerang 26 tahun milik Bayer Leverkusen. Schick terkenal di sepakbola Eropa gara-gara gol jarak jauhnya melintasi kepala kiper timnas Skotlandia, David Marshall di Euro 2020 lalu. Schick membawa performa luar biasa pada turnamen tersebut ke musim ini. 

Pemain Internasional Ceko itu tampil konsisten musim ini. Bahkan Ia sempat konsisten mencetak 12 gol dalam 10 pertandingan di paruh pertama musim ini. Kini ia telah mencetak gol 21 gol di Bundesliga. Praktis, angka tersebut menjadikan Schick sebagai pencetak gol terbanyak kedua di liga, setelah Robert Lewandowski. 

Meski memiliki badan yang tinggi besar, Schick juga memiliki kecepatan. Ia juga pandai membangun serangan dari lini tengah dan memberikan ruang bagi rekan satu tim yang lain. 

Pierre-Emerick Aubameyang 

Meski performa Barcelona sedang menurun, namun cukup aneh apabila tidak memasukkan nama striker Gabon, Pierre-Emerick Aubameyang dalam daftar ini setelah penampilan luar biasa bersama klub barunya itu.

Bersama Arsenal, Auba hanya mampu mencetak 4 gol dari 14 pertandingan. Namun, setelah bergabung dengan Barca, gol-golnya semakin deras menghujani Camp Nou. Peningkatan performa yang sangat signifikan menjadikan Auba pantas masuk dalam daftar ini.

Tercatat, setelah bergabung dengan Barca, Aubameyang sudah mencatatkan 9 gol dari 12 pertandingan liga, yang berarti, Auba dapat mencetak gol setiap 88 menit sekali. Rentetan gol tersebut termasuk dua gol ke gawang Real Madrid di Santiago Bernabéu. 

Diogo Jota 

Selanjutnya ada, Diogo Jota. Pasti kalian bertanya-tanya mengapa lebih memilih Diogo Jota daripada Mo Salah. Seperti yang kita ketahui, Salah merupakan pemain sayap murni, bukan penyerang tengah.

Sejak didatangkan dari Wolves 2020 lalu, Jota sangat baik bermain di posisi penyerang tengah, bahkan musim ini ia berhasil menggeser Firmino dari posisi yang sudah bertahun-tahun ia tempati itu.

Perkembangan Diogo Jota di bawah tangan dingin Jurgen Klopp sangat signifikan. Jota bisa dimainkan di segala pos lini serang, pandai mencari ruang, melakukan lari menusuk dan membelah pertahanan lawan, dan tentu tajam di depan mulut gawang.

Cukup mengejutkan, catatan gol Jota di liga lebih baik dari Sadio Mane. Pemuda Portugal itu telah mencatatkan 15 gol dari 30 pertandingan dan bertengger di urutan keempat daftar top score Liga Inggris.

Dusan Vlahovic 

Beralih ke Liga Italia, ada the rising star, Dusan Vlahovic. 17 gol di Serie A bersama Fiorentina, membuat Vlahovic menjadi buah bibir penikmat sepakbola seantero negeri.

Vlahovic telah menciptakan gebrakan baru sebagai seorang striker papan atas sejak memutuskan untuk bergabung dengan Juventus pada Januari kemarin. Yang tak kalah fantastis, pemain Serbia itu hanya membutuhkan 33 detik untuk mencetak gol pertamanya di Liga Champions. 

Meski Vlahovic tak bisa berbuat banyak untuk Juventus di Liga Champions. Namun, sejauh ini Vlahovic tampil solid bersama Juve. Total, ia sudah mencetak 23 gol di liga musim ini. Terlebih, Vlahovic belum mencapai potensi maksimalnya. Jadi ia bisa jadi lebih baik lagi musim depan.

Ciro Immobile 

Striker Serie A lainnya yaitu ada Ciro Immobile. Sudah tak diragukan lagi bahwa Immobile merupakan tulang punggung Lazio soal urusan mencetak gol. Bahkan, bagi sebagian fans Lazio, Immobile selayaknya dewa.

Immobile konsisten mencetak 20 lebih gol di tiga musim terakhirnya. Untuk musim ini saja, Immobile berhasil mencetak 26 gol dari 29 laga Serie A yang sudah ia mainkan itu angka yang luar biasa untuk pemain berusia 32 tahun. Gol Immobile bisa terus bertambah apabila ia tampil konsisten hingga akhir musim.

Erling Haaland 

Kembali ke Bundesliga dengan Erling Haaland. Tentu tak perlu diperdebatkan lagi kalau pemuda 22 tahun ini sudah sepantasnya masuk dalam daftar striker terbaik saat ini.

Haaland merupakan pemain depan yang cukup komplet. Berbadan tinggi besar namun tak lamban, pandai melindungi bola, kuat dalam duel udara dan trengginas di kotak penalti lawan. Kemampuan yang luar biasa itu membuatnya menjadi buronan klub-klub papan atas liga top Eropa.

Dengan rentetan cedera yang membatasi jumlah penampilannya di liga membuat Haaland baru mencetak 18 gol dan 8 assist. Namun, kontribusinya itu diperoleh dari 21 pertandingan, jadi ia masih sangat efektif di lapangan meski kerap dihantam cedera.

Terlebih usianya baru 21 tahun, sama halnya dengan Vlahovic, Haaland masih memiliki banyak waktu untuk memaksimalkan potensinya dan tak ada yang tahu bakal sebagus apa Haaland nantinya. 

Harry Kane 

Tidak ada striker lain dalam daftar ini yang menyamai pencetak gol dan assist seperti Harry Kane. Ya, selain pandai mencetak gol, Kane juga kerap menyuplai umpan-umpan manja ke rekan satu tim lainnya, terutama Son Heung-min.

Dengan pergerakan yang cukup efektif dalam menarik perhatian lawan, Kane dapat menciptakan ruang bagi Son atau Kulusevski di lini depan. Bahkan jika Kane mencetak satu assist lagi, ia akan mencapai rekor baru dengan 20+ gol dan 10+ assist untuk dua musim berturut-turut. 

Kane mungkin akan menemui pintu keluar Tottenham akhir musim ini. Siapa pun yang mendapatkan jasanya, ia akan beruntung. Apalagi mencari striker yang dermawan dan tidak egois seperti Kane sangatlah sulit.

Kylian Mbappe 

Pemain lain yang terlihat akan meninggalkan klubnya musim panas ini, adalah Kylian Mbappe. Ia merupakan salah satu pemain terpanas di dunia sepakbola, dengan lebih dari 30 gol dan 20 assist untuk raksasa Prancis musim ini. Pada usia 23 tahun, pemenang Piala Dunia itu telah mencetak lebih dari 160 gol di semua kompetisi bersama PSG. 

Meski masih cukup muda, Mbappe tak canggung bermain dengan pemain-pemain sekaliber Messi atau Neymar. Mbappe telah membuktikan kapasitasnya sebagai striker papan atas dalam beberapa tahun terakhir. 

Karir Mbappe masih panjang, ia bisa lebih baik lagi ke depannya. Jika Real Madrid berhasil mengamankan tanda tangannya musim depan, klub-klub lain patut waspada dengan El Real.

Robert Lewandowski 

Selanjutnya ada Robert Lewandowski kemampuan striker polandia ini sudah tak diragukan lagi. Lewandowski telah bermain konsisten dengan mencetak lebih dari 30 gol dalam tiga musim berturut-turut. Di usianya ke 33 tahun ia tak sedikit pun menunjukan penurunan performa.

Makin tua makin jadi, Lewandowski musim ini telah mencetak 48 gol dari 43 pertandingan. Tentu angka itu menandakan bahwa Lewandowski bisa mencetak gol di setiap laga meski usianya tak lagi muda. Namun, kegagalan Bayern untuk maju ke tahap semifinal membuatnya hanya mampu mencapai urutan kedua dalam daftar ini. 

Karim Benzema 

Yup, nomor satu adalah Wak Haji Benzema. Selepas kepergian Ronaldo dan Messi dari La Liga, praktis Benzema lah yang menjadi raja di kompetisi tersebut. Terlebih hattrick-nya melawan PSG dan Chelsea sangat penting bagi Real Madrid di Liga Champions musim ini. 

Pemain Prancis itu menambahkan gol keempat melawan The Blues di leg kedua, dan telah berulang kali meningkatkan ketika tim membutuhkan sundulan kepala yang ajaib. 

Sama halnya dengan Lewandowski, Benzema ini makin tua makin jadi. Di usianya yang menginjak 34 tahun Ia tampil luar biasa musim ini. Wak haji telah mencetak 39 gol dari 40 pertandingan. Dan selain Lewandowski, Benzema juga diunggulkan dalam perebutan penghargaan Ballon d’Or 2022.

Sumber: Fourfourtwo, Premier League, Transfermarkt, Bundesliga 

Jejak Lika Liku Pep Guardiola Membangun Manchester City

Kesuksesan klub kaya baru Manchester City dalam membangun skuad tidak hanya dengan uang melainkan masterplan jangka panjang yang terarah. Taipan Uni Emirat Arab tidak bodoh dalam mengelola uangnya di sepakbola.

Penunjukan Pep Guardiola adalah suatu bentuk penanaman modal yang ciamik sekaligus tepat dari pelatih-pelatih sebelumnya yang juga sudah menuai sukses. Pekerjaan mengelola skuad citizen tidaklah mudah. Tanggung jawab atas kucuran dana besar menjadi beban sendiri bagi para pelatih termasuk Pep. Disamping itu tuntutan hasil harus juga diberikan secepat mungkin.

Pep Di Musim Pertamanya Di City

Menggantikan Manuel Pellegrini yang hanya finish di posisi 4 liga dan hanya menjuarai Piala Liga di musim 2015/16, Pep ditunjuk pada musim baru 2016/17 oleh City guna memperbaiki posisi City dan diharapkan membangun permainan baru di skuad.

Dengan CV mentereng di klub sebelumnya, baik Barcelona maupun Munchen, manajemen menaruh harapan tinggi akan kedatangan Pep. Harapan itu tentu adalah mendominasi kembali Liga Inggris dan mendapatkan gelar Liga Champions.

Pep yang belum mempunyai pengalaman melatih di klub Inggris, dalam perjalanannya makin terasa bahwa atmosfer Liga Inggris berbeda dengan liga lain. Persaingan di Liga Inggris sangatlah ketat. Namun, perlahan Pep dianggap mampu merubah permainan City dengan gayanya sendiri dan bergerak ke arah proses yang positif.

Transfer Dan Strategi Awal Pep Di Manchester City

Pep yang datang di Etihad pada musim 2016/17 langsung bekerja cepat menyelaraskan skuad yang ada, dan menambal beberapa punggawa yang diinginkan. Pep beroperasi di bursa transfer dengan mendapatkan banyak pemain macam Bravo, Stones, Gundogan, Leroy Sane, Nolito, sampai Gabriel Jesus.

Pep mulai menerapkan filosofi berbeda terhadap pelatih-pelatih sebelumnya. Sentuhan tiki-taka modern ala Pep mewarnai Liga Inggris ketika itu. Possesion Football dengan permainan sirkulasi bola cepat serta kombinasi umpan-umpan pendek yang mengincar ruang kosong menjadi pondasi Pep dalam membangun kerangka bermain City.

Tak jarang Pep memilih pemain yang hanya bisa nyetel dalam sistemnya. Seperti contoh, Pep akan memilih kiper yang bisa membangun serangan dan jago passing. Begitupun center back, Pep suka dengan tipe bek yang bisa aktif membangun serangan ketika dibutuhkan juga dengan umpan yang akurat.

Maka dari itu, Pep banyak juga membuang pemain-pemain yang dianggap kurang sesuai dengan kemauannya seperti Joe Hart, Yaya Toure, Mangala, bahkan Edin Dzeko.

Semusim berlalu bersama Pep, City hanya berhasil dibawanya finis di posisi ketiga dengan 78 poin. Kalah dari Tottenham Hotspur dan Chelsea yang berhasil menjadi juara Premier League musim tersebut. Namun, perubahan permainan City mulai terlihat jelas, baik dari segi taktikal maupun mentalitas pemain. Guardiola pun berani memandang musim keduanya dengan optimistis dan penuh janji.

Pep Menepati Janjinya

Guardiola menepati janjinya. Memasuki musim keduanya melatih City di 2017/18, Guardiola sepertinya sudah banyak belajar dari kekurangan musim sebelumnya. Kembali dia mendaratkan beberapa pemain baru seperti Bernardo Silva, Ederson, Walker, maupun Aymeric Laporte.

Memperoleh pemain-pemain yang sesuai keinginannya, Guardiola kian bebas mengaplikasikan taktiknya di Manchester City. Bahkan sejak musim pertamanya, dia sudah merombak dan membangun ulang seluruh sistem City mulai dari dasar.

Akhirnya, janji itu dibayar tuntas oleh Pep di musim keduanya. Ia berhasil mempersembahkan kembali trofi Liga Inggris ke Etihad, beserta Piala Liga. City finish sebagai pemuncak klasemen dengan rekor 100 poin. Gelar pertama yang menunjukan awal era kesuksesan Pep bersama Citizens.

Treble Winner Di Musim Ketiga

Pep dalam perjalanan di musim ketiganya dibebani sebagai juara bertahan Liga Inggris sekaligus PR di Liga Champions. Kali ini di musim 2018/19 Pep tidak banyak mendatangkan pemain lagi. Pep hanya mendatangkan pemain seperti Riyad Mahrez dari Leicester City untuk menambah daya gedor City lewat sayap sebagai pelapis Sterling dan Sane.

Mengawali musim ketiganya, Pep langsung merebut 2 gelar pertama di Community Shield setelah mengalahkan Chelsea 2-0, serta gelar Piala Liga setelah di final kembali mengalahkan Chelsea lewat drama adu penalti dengan skor 4-3.

Pep di Liga Inggris ketika itu sedang mempunyai pesaing ketat yakni Liverpool-nya Klopp. Musim yang tidak mudah bagi Pep dan sangat ketat ketika itu. Karena hingga akhir liga, belum bisa ditentukan siapa juaranya.

Dengan kemenangan away atas Brighton 1-4 di partai pamungkas, membuat kemenangan Liverpool di tempat lain sia-sia. Pep akhirnya back to back menjadi kampiun Liga Inggris dengan raihan 98 poin, terpaut satu poin saja dari Liverpool.

Raihan trofi City bersama Pep di musim ketiganya ini disempurnakan oleh gelar piala FA. Di final pasukan Pep mencukur Watford dengan skor 6-0. Ini merupakan treble winner pertama buat Pep di City.

Meskipun treble winner itu terasa belum sempurna karena bukan gelar Liga Champions yang didapat. Pasukan Pep di musim itu kembali gagal di Champions League, kali ini ia gagal setelah tersingkir di babak perempat final oleh sesama wakil Inggris, Tottenham Hotspurs. Hal ini akan tetap menjadi PR dan tagihan besar manajemen kepada Pep di musim-musim selanjutnya.

Buruk di 2019/20

Beban demi beban yang ditancapkan kepada Pep di City tampaknya berakibat buruk bagi performa timnya di musim 2019/20. Disamping mempertahankan 2 gelar beruntun, target utama manajemen nomor 1 yakni juara Liga Champions.

Pep kembali memoles tim dengan mendatangkan beberapa pemain seperti Angelino, Rodri, maupun Joao Cancelo. Pada awal musim 2019/20, Pep kembali mendapatkan 2 gelar sekaligus yakni Community Shield setelah mengalahkan Liverpool dengan adu penalti 5-4. Serta Piala Liga setelah mengalahkan Aston Villa 2-1.

Namun, di liga mereka tertatih dalam pertarungan untuk mempertahankan gelar back to back. Di akhir musim mereka takluk oleh dominasi Liverpool. City finish menjadi runner up dengan selisih jauh 18 poin atas Liverpool. Ini menjadi musim terburuk City bersama Pep di liga sejak ia mengambil alih.

Begitupun di Liga Champions, Pep kembali gagal mewujudkan ambisi manajemen setelah tersingkir di perempat final oleh Lyon. Dari situ sempat muncul beberapa keraguan akankah masa depan Pep akan diputus oleh manajemen?

Hampir Terwujud Di 2020/21

Memulai musim dengan dendam untuk merebut gelar dari Liverpool pasukan Pep berbenah dengan kembali menambal beberapa pos dengan mendatangkan pemain seperti Ake, Ruben Dias, maupun Ferran Torres.

Hasilnya cukup berhasil. Kondisi pertahanan City mulai membaik sejak kedatangan Dias. Kokohnya tembok City berkorelasi terhadap hasil yang dicapai, mereka di awal musim 2020/21 langsung mendapat 1 trofi yakni Piala Liga dengan mengalahkan Spurs 1-0 di final.

Kekonsistenan City pada pertahanan mampu mengantarkannya merebut gelar liga Inggrisnya kembali dari Liverpool yang terseok musim itu. City finish dengan 86 poin selisih 12 poin dari runner up, MU.

Namun, yang perlu diingat setelah mendapatkan kembali gelar liga, PR bagi Pep masih ada yakni Liga Champions. Kali ini Pep bayar dengan harapan besar yakni mampu menembus final. Tetapi naas bagi Pep ia kandas oleh Chelsea 1-0 di final itu dan kembali memupuskan harapan dan ambisi City.

Mencoba peruntungan kembali pada musim berikutnya adalah hal wajib bagi City di Liga Champions. Sekarang City sudah mencapai semifinal. Di liga mereka mengulangi persaingan sengit seperti di musim 2018/19 dengan Liverpool ketika mereka hanya terpaut 1 poin.

Kini, pep tinggal menyempurnakan gelar bagi City lewat Liga Champions. Ketika itu ia dapatkan, paripurna sudah. Pep yang membangun City sejak 2016/17 memiliki perjalanan yang tidak mulus-mulus amat, tetapi trademark City di bawah Pep tidak bohong adalah jawaban atas kerja kerasnya membangun dengan proses yang tidak instan selama kurang lebih 6 tahun.

https://youtu.be/3UdWiVPaXIs

Sumber Referensi : fourfourtwo, sportingnews, transfermarket

Ketika Jose Mourinho Persembahkan Treble Mini Buat Manchester United

0

Jose Mourinho berjingkrak di hadapan anak asuhnya saat di Manchester United. Ia mengacungkan tiga jari, yang bisa bermakna gelar ketiga yang ia persembahkan untuk Manchester United.

Bisa jadi pula itu pertanda bahwa Manchester United sejajar dengan tim seperti Juventus, Ajax, Bayern Munchen, dan Chelsea yang sudah memborong tiga gelar bergengsi di Eropa ke lemari mereka. Tapi yang pasti, bagi Mourinho gelar Europa League musim 2016/17 yang ia raih bersama United menunjukkan kalau ia hanya butuh waktu semusim untuk memberi treble.

Ya, musim 2016/17 bagi Manchester United menjadi salah satu musim paling bersejarah. Terutama selepas kepergian Sir Alex Ferguson. Pasalnya, tak ada manajer lain selain Jose Mourinho yang memberikan tiga gelar bagi United, setelah Fergie pensiun. Meski treble itu adalah treble mini, yaitu Community Shield, Piala Liga, dan Europa League.

Kedatangan Mourinho

The Special One adalah sosok pelatih yang menyebalkan. Ia memang berpengalaman memberi gelar instan bagi klub-klub yang ia latih. Porto, Chelsea, Inter, Barcelona, semua sudah kebagian. Namun, sifat menyebalkan Mourinho memang sudah melekat dalam dirinya.

Saat baru pertama kali datang ke Carrington, tempat latihan Manchester United, Mourinho sudah menunjukkan ketidaksenangannya. Mou tak pernah segan untuk memberikan kritik yang sangat pedas. Waktu itu, pengelola Manchester United yang kena omel.

Mourinho mencerca habis-habisan manajemen beberapa menit setelah diumumkan sebagai manajer Setan Merah. Ia mengkritik sampai hal-hal kecil. Bagi Mourinho, di Manchester United makanannya jelek, tempat latihannya jelek, lapangannya jelek, stadionnya juga jelek.

Bahkan Mourinho pernah marah karena kantin di Carrington tutup di waktu yang sudah ia tentukan. Padahal Mou adalah sosok pelatih yang fleksibel. Ia bisa saja menyuruh pemainnya latihan di luar jam latihan. Dengan kantin yang tutup, otomatis Mou dan anak asuhnya yang latihan tidak mendapat servis.

Dilansir The Athletic, Mourinho pernah kesal karena United tidak membayar tagihannya menginap di Lowry Hotel, sebuah hotel bintang lima di Salford yang berlokasi di tepi sungai. Ini merupakan pembiayaan lainnya, dan Manchester United merasa gaji 15 juta poundsterling atau sekitar Rp275,7 miliar per bulan adalah imbalan yang cukup untuk Mourinho.

Mourinho juga pernah marah pada sekretaris klub, Alexander yang juga paman dari Trent-Alexander Arnold, pemain Liverpool. Alexander dituduh Mou sebagai biang keladi keterlambatan penerbangan kembali Manchester United dari Piala FA, Maret 2017. Yang lebih lucu lagi, Mou juga pernah marah karena penerbangan ke China gagal akibat badai tropis.

Mewarisi Pemain Bekas Van Gaal

Kedatangan Mourinho ke Manchester United dengan hanya mewarisi skuad bekas Louis Van Gaal, di mana beberapa adalah anak muda yang berhasil mekar, Mourinho tetap merasa bersyukur. Bagi dirinya, skuad warisan Van Gaal itu, meski tipis, tetap saja bagus.

Pelatih asal Belanda itu meninggalkan pemain-pemain muda yang bagus. Misalnya, Rashford dan Fosu Mensah. Pendekatan yang dilakukan Van Gaal adalah mengupayakan pemain muda mendapat menit bermain. Meski itu harus mengorbankan trofi. Terbukti di bawah asuhan Van Gaal, Manchester United hanya bisa memboyong Piala FA.

Mou mencoba mengembangkan pemain muda yang sudah mendapat menit bermain sejak dilatih Van Gaal. Pemain seperti Marcus Rashford telah menjadi salah satu pemain muda terbaik yang dipoles Jose Mourinho. Pelatih asal Portugal itu telah membuat Rashford mencetak 20 gol, menjadi yang terbanyak di klub di bawah Zlatan Ibrahimovic.

Anthony Martial juga turut berkembang di tangan Mourinho. Salah satu mesin untuk menciptakan gol itu telah diberi menit bermain yang cukup. Martial setidaknya kerap terlibat dalam upaya Manchester United mencetak gol. Begitu pula sosok Jesse Lingard yang turut alami perkembangan di tangan Mourinho.

Community Shield

Gelar pertama yang Mourinho berikan untuk Manchester United adalah Community Shield. Dan uniknya, gelar itu ia berikan bertepatan pada laga resminya yang pertama bersama United. Ia memimpin skuad Setan Merah menghadapi sang jawara Liga Inggris, Leicester City dengan modal skuad warisan Van Gaal.

Tentu Mourinho tidak ambil pusing. Apalagi ia telah mendatangkan penyerang yang sama bengalnya dengan dirinya, Zlatan Ibrahimovic. Ya, sudah bukan rahasia umum lagi kalau Mou dan Ibra memiliki hubungan yang so sweet.

Jalannya laga, Jesse Lingard, pemain penentu di final Piala FA membuka keran gol Manchester United lewat upaya solonya. Namun, gol Lingard dicetak hanya untuk dibalas oleh Jamie Vardy yang memanfaatkan kesalahan Marouane Fellaini. Skor 1-1 bertahan hingga menit ke-80.

Pada menit ke-83, Zlatan Ibrahimovic mencuri perhatian publik Wembley lewat sundulannya yang mematikan ke gawang Leicester. Itu menjadi gol penentu kemenangan 2-1 Manchester United atas Leicester City, sekaligus membuka keran trofi MU di musim 2016/17. Mourinho pun tersenyum. Ia persembahkan gelar itu untuk Louis Van Gaal.

Piala Liga

Beranjak ke trofi kedua yang Mourinho berikan untuk Manchester United. Yup, Piala Liga. Di final Piala Liga Manchester United menghadapi musuh yang susah-susah gampang. Mengapa demikian? Karena pada waktu itu, Southampton yang menjadi lawan MU bukan klub entengan.

Entah kebetulan atau bagaimana, yang memborong gol Manchester United di final Piala Liga dan Community Shield adalah orang yang sama, Jesse Lingard dan Zlatan Ibrahimovic. Zlatan lebih dulu membuka keunggulan United berkat tendangan bebasnya yang spektakuler.

Kemudian penyelesaian terstruktur Lingard tujuh menit menjelang babak pertama usai, membuat MU memimpin 2-0. Namun, injury time yang diberikan memperpanjang nafas Southampton. Menit 45+1, Gabbiadini memperkecil ketertinggalan dan membuka lagi kesempatan pasukan Claude Puel.

Benar saja. Baru tiga menit sejak peluit babak kedua dibunyikan, Monolo Gabbiadini menggandakan golnya lewat bantuan seorang Davis. Skor berubah menjadi 2-2. Setelah itu Manchester United malah kesulitan membongkar pertahanan Southampton. Sebaliknya, pasukan Claude Puel balik membombardir gawang De Gea.

Untungnya, Manchester United masih punya Zlatan Ibrahimovic. Pemain Swedia itu mampu mengonversi umpan silang Ander Herrera menit 87 jadi gol kemenangan MU di Wembley. MU pun menang 3-2 atas Southampton, dan senyum Mourinho kembali merekah.

Europa League

Mourinho menggenapi treble mininya saat membawa MU kampiun di Europa League. Manchester United melaju ke final dan menghadapi Ajax di Friends Arena, Stockholm, Swedia. Ketika itu MU lolos ke final setelah melewati hadangan Lyon di semifinal.

Ajax sendiri waktu itu bukan musuh yang mudah. Dengan skuad yang masih berisi pemain seperti Hakim Ziyech, De Light, Davinson Sanchez, Bertrand Traore, sampai Lasse Schone. Namun, Mourinho bersama MU tampil sangat percaya diri. Kepercayaan diri itu pun bukan omong kosong belaka.

Pemain yang pulang dengan memecahkan rekor transfer, Paul Pogba membuka keunggulan United menit ke-18. Tendangan kaki kirinya mendatar dan berbelok ke arah gawang Onana usai menabrak Davinson Sanchez. Ketinggalan, Ajax pun merespons dengan beberapa kali serangan.

Namun, tidak ada gol tambahan di babak pertama. Memasuki babak kedua, Ajax tersentak. Karena alih-alih mencetak gol, gawang mereka kebobolan lagi berkat aksi Henrikh Mkhitaryan. Ia yang memunggungi gawang mendapat umpan sundulan dari Smalling, untuk lalu mencetak gol yang luar biasa.

Skor 2-0 pun bertahan hingga bubar. Manchester United meraih trofi ketiganya musim 2016/17. Sementara, Mourinho kembali tersenyum plus mengacungkan tiga jarinya. Walaupun treble mini, kisah semacam ini sulit terulang di MU, begitu pula bagi seorang Mourinho itu sendiri.

https://youtu.be/0–ZAjM1h5c

Sumber referensi: Independent, DailyStar, Express, BR, BBC, IrishTimes, FourFourTwo, ManchesterEveningNews