Setelah Xisco Munoz, Steve Bruce, Nuno Espirito Santo, Daniel Farke, Ole Gunnar Solskjaer, Rafael Benitez, Claudio Ranieri, dan Marcelo Bielsa, Sean Dyche resmi jadi manajer ke-10 yang dipecat di Premier League musim ini.
Pemecatan tersebut terjadi pada 15 April lalu setelah Sean Dyche gagal mengangkat posisi Burnley dari jurang degradasi. Mungkin, pemecatan pelatih asal Inggris berusia 50 tahun itu adalah sebuah hal yang biasa, mengingat ia hanyalah manajer Burnley, tim yang nyaris sepanjang musim ini terus berkutat di papan bawah.
Akan tetapi, ketika kita menilik masa jabatan yang sudah dijalani Sean Dyche di Turf Moor, pemecatan tersebut adalah sebuah kehilangan besar sekaligus sebuah hal yang mengejutkan. Pasalnya, sebelum dipecat, Dyche adalah manajer terlama di Premier League dan manajer terlama ketiga di piramida sepak bola Liga Inggris.
“Pertama, kami ingin menyampaikan terima kasih yang tulus kepada Sean dan stafnya atas pencapaian mereka di klub selama dekade terakhir. Namun, hasil musim ini mengecewakan dan, meskipun ini adalah keputusan yang sangat sulit, dengan delapan pertandingan penting tersisa, kami merasa perubahan diperlukan untuk memberi skuad peluang terbaik untuk mempertahankan status Liga Premiernya,” ujar Alan Pace, Ketua Burnley FC, dikutip dari burnleyfootballclub.com.
BREAKING: Burnley have sacked Sean Dyche. WOW. pic.twitter.com/zS1QOgLS5z
— SPORTbible (@sportbible) April 15, 2022
Di Balik Pemecatan Sean Dyche
Ya, hasil buruk yang dialami Burnley di Premier League musim ini jadi alasan dipecatnya Sean Dyche dari kursi pelatih. Dyche dipecat pada 15 April lalu, tak lama setelah Burnley kalah memalukan dari Norwich City di pekan ke-32.
Menariknya, kalah dari Norwich City seperti menjadi sebuah kesialan bagi tim-tim papan bawah. Sebelum Sean Dyche, Rafael Benitez di Everton dan Claudio Raniere di Watford juga dipecat setelah kalah melawan Norwich.
Terlepas dari itu, kekalahan tersebut adalah kekalahan kelima yang diderita The Clarets dalam 6 pertandingan terakhirnya. Musim ini, Sean Dyche hanya sanggup membawa Burnley memenangkan 4 pertandingan liga. Hasilnya, ia hanya sanggup membawa Burnley bertengger di peringkat ke-18 dengan koleksi 24 poin.
Melihat hasil tersebut, rasanya wajar bila jajaran petinggi Burnley mengambil sikap tegas dan cepat untuk mendepak Sean Dyche dari kursi pelatih The Clarets. Bagaimanapun, nasib Burnley menjadi taruhannya.
Namun, pemecatan Sean Dyche menyisakan luka yang mendalam. Bahkan, saat manajemen klub mengumumkan pemecatan tersebut, para pendukung The Clarets mengekspresikan kekecewaan, kesedihan, dan kemarahan mereka kepada dewan klub yang dipimpin ketua Alan Pace.
Pemandangan tersebut wajar terjadi. Pasalnya, Sean Dyche sudah mengabdi di Burnley selama hampir satu dekade, lebih tepatnya selama 9 tahun dan 166 hari. Telah banyak kenangan manis ditorehkan pelatih asli Inggris itu. Itulah mengapa selama waktunya di Turf Moor, Dyche tak hanya dihormati dan dicintai oleh para pemain dan staf saja, tetapi juga oleh para suporter dan penduduk Kota Burnley secara luas.
Selain itu, musim ini adalah musim keenam berturut-turut Burnley di Premier League. Ini jadi rekor terbaik The Clarets di kompetisi kasta teratas Liga Inggris sejak tahun 60-an dan mereka mampu melakukan pencapaian tersebut berkat jasa seorang Sean Dyche.
Sanjungan Untuk Sean Dyche
Sean Dyche pertama kali ditunjuk sebagai manajer Burnley pada bulan September 2012. Ia hanya butuh semusim untuk membawa Burnley promosi ke Premier League di akhir musim 2013/2014 setelah absen 4 tahun. Hebatnya, Dyche melakukan pencapaian tersebut dengan anggaran yang sangat rendah dan hanya menggunakan 22 pemain saja.
Sayangnya, di musim berikutnya, Burnley langsung terdegradasi. Namun, Sean Dyche tak butuh waktu lama untuk mengembalikan Burnley ke habitatnya. Di akhir musim 2015/2016, ia sukses mempersembahkan trofi Champhionship bagi The Clarets.
Sejak promosi kembali di musim 2016/2017, Burnley dan Sean Dyche tak pernah lagi terdegradasi ke kasta kedua. Memang, The Clarets bukanlah tim papan atas di Liga Inggris. Namun, jangan salah, Sean Dyche dengan segala keterbatasannya pernah nyaris membawa Burnley ke pentas Europa League.
Pencapaian tersebut terjadi di musim 2017/2018. Secara mengejutkan, Dyche berhasil membawa The Clarets finish di peringkat ketujuh. Hasil tersebut membuat mereka berhak lolos ke fase play-off Liga Europa sekaligus membawa Burnley kembali ke kompetisi Eropa untuk pertama kalinya dalam 51 tahun. Meski gagal menembus fase grup, tetapi hasil yang diraih di musim tersebut merupakan pencapaian terbaik The Clarets sejak finish keenam di musim 1974.
Memang, meski tercatat pernah menjuarai Divisi 1 di era 20an dan 60an, Burnley bukanlah tim papan atas di era Premier League. Di luar hasil di musim 2017/2018, Burnley nyaris selalu finish di atas zona degradasi. Namun, hasil tersebut wajar bahkan terhitung luar biasa untuk tim sekelas Burnley yang punya banyak utang.
Tim yang berdiri sejak 1882 itu merupakan salah satu kontestan terkecil dan termiskin di Premier League. Markas mereka di Turf Moor saja hanya berkapasitas 21.944 kursi, atau hanya sedikit lebih banyak dari Brentford.
Yang terpenting lagi, Burnley adalah salah satu tim Premier League dengan anggaran paling minim dan tagihan gaji paling rendah. Klub dari kota kecil tersebut juga bagaikan kurcaci di antara klub Inggris lainnya yang mendapat suplai dana melimpah dari sang pemilik.
Tahukah kamu berapa uang yang telah dihabiskan Sean Dyche selama melatih Burnley? Sejak promosi kembali ke Premier League 6 tahun silam, pengeluaran bersih The Clarets hanyalah 64 juta poundsterling. Bayangkan, dengan dana super minim itu, Dyche sukses mempertahankan Burnley dari jurang degradasi selama bertahun-tahun.
Burnley are now just 2 points from safety with games in hand on the vast majority of teams directly above them.
Sean Dyche’s net spend in the 6 years since Burnley were promoted to the top flight stands at just £64m. He gets pigeonholed unfairly by so many. pic.twitter.com/nXRC55EZZ3
— HLTCO (@HLTCO) February 24, 2022
Sean Dyche adalah tipe pelatih yang “membenci penguasaan bola”. Gaya main yang ia usung adalah sepak bola lokal khas Inggris yang mengandalkan long ball. Tujuannya agar bola sesegera mungkin sampai ke area pertahanan lawan, apapun caranya. Oleh karena itulah permainan Burnley cenderung keras dan tidak enak ditonton.
Namun, terlepas dari cara mereka yang konservatif, Sean Dyche dan jajaran stafnya tahu bagaimana caranya untuk bertahan di ketatnya Premier League. Hebatnya lagi, di bawah asuhan Sean Dyche, The Clarets memecahkan rekor untuk pertandingan berturut-turut tanpa kartu merah. Mereka melakukan itu dalam 119 pertandingan Liga Premier.
Dengan keterbatasan yang ada dan tidak adanya pemain berlabel bintang, kekompakan adalah kunci sukses Sean Dyche di Burnley. Lagipula, dengan beban kerja yang berat dan kondisi keuangan klub yang seret dan penuh utang, Sean Dyche masih sanggup mengorbitkan beberapa pemain.
Andre Gray, Chris Wood, Sam Vokes, Charlie Austin, Danny Ings, Kierran Trippier, Ben Mee, James Tarkowski, Scott Arfield, Michael Keane, Tom Heaton, dan Nick Pope adalah beberapa nama beken yang pernah sukses di bawah asuhan Sean Dyche.
IMAGE: Kieran Trippier and Sean Dyche on the touch line. #BFCvLUFC (@Fordyfoureyes) pic.twitter.com/VnpYbLR7CT
— Burnley FC (@BurnleyOfficial) March 15, 2014
Oleh karena itulah, pekerjaan yang dilakukan Sean Dyche selama menukangi Burnley dengan anggaran terbatas sungguh sangat menakjubkan. Sean Dyche pantas disanjung dan mendapat apresiasi setinggi-tingginya.
Selama nyaris satu dekade, Sean Dyche telah sukses dua kali membawa Burnley promosi ke Premier League. Dari satu dekade masa jabatannya, tujuh musim dihabiskannya di Premier League dengan hasil terbaik finish di peringkat 7. Dan meskipun ia pernah beberapa menerima tawaran dari klub lain, Sean Dyche memilih setia bersama The Clarets.
Sayangnya, setelah 425 pertandingan, 149 kemenangan, 118 hasil imbang, dan 158 kekalahan, Sean Dyche berpisah dengan Burnley dengan cara yang menyedihkan.
After nine and a half years and 425 matches in charge, it’s the end of an era at Turf Moor
After working miracles, who knows what the future holds for Sean Dyche, and for the club, but all Burnley supporters will wish him all the best
Thanks, Sean.#BurnleyFC #twitterclarets pic.twitter.com/CHPOtjQKXj
— Bᴜʀɴʟᴇʏsᴛᴀᴛs | Dave Roberts 📶 (@DLRbrts) April 15, 2022
Sean Dyche mungkin belum mempersembahkan trofi papan atas selama menjadi juru taktik Burnley. Namun, ia telah memberi orang-orang Burnley tim yang bisa mereka banggakan.
***
Referensi: Burnley FC, BBC, DailyMail, BBC, The Guardian, Detik.


