Beranda blog Halaman 461

Xavi Simons yang Menemukan Tempatnya di PSV Eindhoven

0

Kamis malam, 27 Oktober 2022 jadi malam yang indah bagi Xavi Simons. Malam tersebut jadi panggung pertunjukan penggawa anyar PSV Eindhoven itu yang sukses memporak-porandakan pertahanan Arsenal dan menghentikan laju tak terkalahkan mereka musim ini.

Seperti yang kita tahu, dalam lanjutan matchday ke-5 babak grup Liga Europa, tuan rumah PSV sukses memulangkan tamunya Arsenal dua gol tanpa balas. Dua gol pasukan Ruud van Nistelrooy dipersembahkan oleh Joey Veerman dan Luuk de Jong. Sebuah hasil yang sukses memastikan PSV lolos ke fase knockout.

Di laga tersebut, Xavi Simons sempat mencetak sebiji gol. Sayangnya, gol spektakuler yang ia cetak setelah mengecoh banyak pemain bertahan Arsenal itu dianulir VAR karena offside. Namun, meski pada akhirnya tak mencetak gol, tetapi Xavi Simons keluar sebagai salah satu penampil terbaik di laga tersebut.

Bermain selama 80 menit, pemuda 19 tahun itu tercatat sebagai pemain yang paling banyak mendribel bola. Pergerakannya sangat merepotkan barisan pertahanan The Gunners sehingga memudahkan rekan-rekannya menembus pertahanan Arsenal. Hebatnya, itu ia lakukan usai dipasang sebagai penyerang di lini depan oleh Ruud van Nistelrooy.

โ€œAnda bisa memainkannya di posisi yang berbeda, dan saya memainkannya hari ini karena saya bisa menggantinya dan Anwar El Ghazi, Anwar di 9 dan Xavi di kanan, tergantung pada taktik Arsenal. Itulah keserbagunaannya. Anda dapat memainkannya di posisi 10, 9, 7, 11 atau bahkan 6,โ€ ujar Ruud van Nistelrooy dikutip dari uefa.

Xavi Simons memang tengah tampil on fire di musim ini. Penampilan apiknya musim ini seperti jadi bukti kalau bakat dan skill Xavi Simons bukanlah isapan jempol belaka.

Sejatinya, nama Xavi Simons sudah malang-melintang sejak beberapa tahun lalu sebagai salah satu wonderkid potensial. Sayangnya, ia baru bisa membuktikan itu bersama PSV musim ini. Xavi Simons adalah bukti nyata kalau lulus dari sekolah terbaik, lalu merantau jauh ke negeri orang belum tentu menjamin masa depan seseorang akan menjadi lebih cerah.

Pergi dari La Masia, Xavi Simons Gagal di PSG

Xavi Simons adalah produk dari salah satu akademi terbaik di dunia, La Masia. Bahkan, pemain kelahiran Amsterdam, 21 April 2003 itu disebut sebagai salah satu yang terbaik di generasinya.

Bergabung sejak tahun 2010, Xavi Simons jadi kapten akademi La Masia di berbagai kelompok umur. Potensinya yang besar bahkan sampai membuat tim lain iri kepada Barcelona.

Sayangnya, kenyataan tak seindah harapan. Di akhir masa kontraknya di musim panas 2019, Barcelona gagal mencapai kesepakatan baru dengan Xavi Simons. Mengutip dari ESPN, Barca tak sanggup menggaransi posisinya dan tak mau mengeluarkan biaya ekstra untuk mempertahankan Simons yang diageni agensi Mino Raiola. Saat itu, Barcelona disebut bodoh karena membiarkan salah satu talenta terbaiknya pergi secara cuma-cuma.

Setelah kontraknya di Barca habis, PSG kemudian jadi tim yang sukses menggaet Xavi Simons dengan durasi 3 tahun hingga Juni 2022. Les Parisiens hanya mengeluarkan biaya 130 ribu euro sebagai biaya kompensasi pengembangan pemain muda kepada Barcelona.

Di Paris, Simons tak langsung bergabung ke tim utama. Ia terlebih dahulu bermain untuk tim U-19. Xavi Simons baru mulai dipanggil ke tim senior di musim 2020/2021 dan masuk skuad utama PSG semusim berikutnya usai tampil memukau dengan sumbangan 4 gol dan 6 asis dalam 7 pertandingan di ajang UEFA Youth League.

Meski akhirnya masuk tim senior PSG dan berada dalam satu ruang ganti dengan sang idola Lionel Messi, tetapi karier Xavi Simons di Paris tak berjalan baik. Selama berseragam PSG, Simons hanya mencatat 1 asis dalam 11 kesempatan bermain sebagai pemain pengganti. Ia bahkan sempat mengalami momen buruk kala gagal mengeksekusi penalti terakhir yang membuat PSG kalah dari Nice dan tersingkir di babak 16 besar Coupe de France musim lalu.

Pada akhirnya, meski digadang-gadang sebagai gelandang hebat di masa depan, Xavi Simons kehilangan kebintangannya di Prancis. Di akhir musim 2022, ia dilepas secara gratis usai gagal bersaing dengan pemain-pemain mahal PSG.

Pulang ke Belanda, Xavi Simons Bersinar Bersama PSV

Berstatus free agents di bursa transfer musim panas kemarin, Xavi Simons memutuskan pulang kampung ke Belanda dengan menerima tawaran kontrak berdurasi 5 tahun dengan runner-up Eredivisie musim lalu, PSV Eindhoven.

Kesepakatan tersebut jelas membuat PSG kecolongan. Pasalnya, sebelum sepakat bergabung secara permanen, pada awalnya PSG berencana memperpanjang kontrak Xavi Simons kemudian meminjamkannya ke PSV. Namun, di detik-detik terakhir, Xavi Simons berubah pikiran dan memutuskan pindah permanen ke Philips Stadion.

Keputusan tersebut terbukti benar. Pulang kampung adalah pilihan terbaik Xavi Simons sejauh ini. Bersama PSV, Simons tampil sebagai pemain inti. Dirinya juga menjawab kepercayaan tersebut dengan performa memukau.

Di bawah asuhan Ruud van Nistelrooy, Xavi Simons membuktikan diri sebagai pemain serba bisa yang dapat memainkan berbagai posisi. Sepanjang musim ini, Simons tercatat sudah pernah dimainkan sebagai gelandang tengah, gelandang serang, sayap kanan, hingga penyerang tengah.

Fleksibilitasnya itu membuat Xavi Simons nyaris selalu dimainkan oleh Ruud van Nistelrooy di setiap pertandingan PSV musim ini. Kontribusinya juga luar biasa. Selama beberapa bulan terakhir, pemain bernomor punggung 7 ini tengah menjalani musim yang fantastis.

Penampilannya di laga melawan Arsenal bisa dibilang jadi puncaknya. Sebuah performa impresif yang kembali membuka mata dunia yang lama tak mendengar kabar Xavi Simons.

Namun, sebelum memporak-porandakan pertahanan Arsenal di matchday kelima Liga Europa musim ini, Xavi Simons sudah lebih dulu mencatat 1 gol saat membantu PSV menang 5-1 atas FC Zurich di pertandingan kedua.

Catatan statistik lebih baik dicatat Xavi Simons di kompetisi domestik, khususnya Eredivisie. Berposisi asli sebagai seorang gelandang, Simons nyatanya sangat berbahaya ketika dipasang sebagai penyerang. Bersama dengan Cody Gakpo, ia adalah talenta yang saat ini bersinar di Eindhoven.

Simons tercatat telah menyumbang 8 gol dan 4 asis dalam 12 pertandingan Liga Belanda musim ini. Secara total, pemain kelahiran Amsterdam itu sudah mencetak 10 gol dan 4 asis dalam 20 pertandingan PSV di berbagai kompetisi.

Catatan statistik tersebut jelas membuktikan betapa potensialnya bakat Xavi Simons. Performa gemilangnya bersama PSV musim ini harusnya juga membuat Barcelona dan PSG menyesali keputusan mereka yang tak memberi kesempatan yang cukup dan membiarkan Simons pergi secara cuma-cuma.

Pada akhirnya, Xavi Simons yang telah merantau jauh ke La Masia dan mengadu nasib ke PSG ternyata justru menemukan rumahnya di PSV Eindhoven. Bersama juara 24 kali Liga Belanda itu, Simons berhasil menemukan tempat yang ideal untuk mengembangkan bakat sepak bolanya.

Xavi Simons juga harus berterima kasih kepada pelatihnya saat ini, Ruud van Nistelrooy. Mantan striker timnas Belanda itu tak ragu untuk memainkan pemuda 19 tahun itu dalam susunan pemain inti PSV meskipun yang bersangkutan baru memainkan beberapa pertandingan senior dalam kariernya.

Layakkah Xavi Simons Dibawa ke Piala Dunia 2022?

Usai tampil gemilang melawan Arsenal, Xavi Simons mengungkap kalau peningkatan fisiknya jadi salah satu rahasianya bisa berkembang pesat. Dalam sebuah kesempatan wawancara ia juga membandingkan metode latihan di dua mantan klubnya.

โ€œPercayalah, di Barca mereka tidak melakukan banyak pekerjaan di gym. Mereka bekerja dengan bola, tetapi tidak di gym. Ketika saya tiba di Paris Saint-Germain, saya menemukan perbedaannya. Di PSG mereka bekerja di gym. Ligue 1 adalah kompetisi yang kuat secara fisik. Saya berlatih keras dan memberikan segalanya. Sepak bola adalah hidup saya,โ€ kata Xavi Simons dikutip dari SportBible.

Pernyataan tersebut membangkitkan kembali rumor adanya klausul khusus yang membuat PSG memiliki opsi untuk membeli Xavi Simons di musim panas mendatang. Simons sendiri telah mengkonfirmasi kabar tersebut dan menyebut kalau dirinya memang punya kesepakatan dengan PSV yang dapat membuatnya kembali ke PSG dengan harga tertentu. Namun, ia juga mengkonfirmasi kalau saat ini dirinya bahagia bersama PSV.

โ€œSejujurnya, tidak ada dalam pikiran saya untuk pergi. Saya menetap di sini, saya merasa baik di sini. Anda juga bisa melihatnya di lapangan. Saya datang ke sini dengan status bebas transfer, jadi saya tidak memiliki kewajiban kepada siapa pun. Akulah yang harus membuat pilihan,โ€ kata Xavi Simons dikutip dari Football-Oranje.

Wajar jika PSG masih mengejar-ngejar Xavi Simons. Namun, terlepas dari kabar tersebut, ada sebuah pertanyaan yang jauh lebih penting untuk dibahas. Apakah Xavi Simons layak dibawa timnas Belanda ke Piala Dunia 2022?

Selain kembali menarik minat klub besar, performa impresif Xavi Simons musim ini nyatanya telah membuat Louis van Gaal kepincut. Apalagi, ia juga sudah masuk daftar sementara 39 pemain timnas Belanda yang akan diseleksi Louis van Gaal untuk ia bawa ke Piala Dunia Qatar.

Menarik untuk dinanti apakah ada tempat bagi Xavi Simons dalam daftar akhir timnas Belanda untuk Piala Dunia 2022 yang rencananya akan diumumkan pada 11 November mendatang. Meski belum pernah debut di timnas senior, tetapi sungguh sayang bukan jika meninggalkan Simons. Dengan usianya yang belum genap 20 tahun, tentu masih ada banyak waktu dan ruang bagi Xavi Simons untuk berkembang.
***
Referensi: UEFA, ESPN, Football-Oranje, Sportbible, Football-Oranje, 90min, Fotmob.

Berita Bola Terbaru 5 November 2022 – Starting Eleven News

REAKSI PUYOL ATAS KABAR PENSIUNNYA PIQUE

Keputusan Gerard Pique untuk pensiun mendapatkan banyak reaksi dari rekan-rekannya dulu, termasuk Carles Puyol. Lewat cuitan di media sosialnya, Puyol mengaku syok dengan kabar tersebut. Puyol, yang pernah menjadi tandem Pique di Barcelona, juga merasa mantan rekan setimnya diperlakukan tidak adil di akhir kariernya. “Saya akan selalu bisa menjelaskan bahwa saya bermain bersama Anda, rasanya begitu istimewa. Saya akan selalu sayang Anda,”ย 

MAN CITY KECAM TINDAKAN RASIS KEPADA RICO LEWIS

Rasis Rico Lewis menjadi perhatian dunia, khususnya di sepak bola pasca timnya Manchester City mengalahkan Sevilla di Liga Champions tengah pekan kemarin. Perlakuan rasis Rico Lewis menjadi kutukan, bahwa di mana pun berada diskriminasi tidak harus dilakukan. Manchester City sebagai klub yang menaungi pemainnya, mengutuk keras pelecehan rasis Rico Lewis oleh pendukung Sevilla.

INI JUMLAH UANG UNTUK JUARA PIALA DUNIA 2022

Selain mendapat trofi bergengsi, juara Piala Dunia juga akan mendapat hadiah uang yang jumlahnya terus bertambah setiap edisi turnamen terakbar ini digelar. Juara Piala Dunia 2022 di Qatar akan mendapat 4 juta Dollar AS lebih banyak dibanding Prancis yang menyabet gelar pada 2018 di Rusia. Pemenang Piala Dunia 2022 nanti akan mendapat hadiah US$ 42 juta atau setara Rp662,8 miliar. Empat tahun silam, Prancis membawa pulang US$ 38 juta.

TIMNAS JEPANG KEHILANGAN YUTA NAKAYAMA

Bek Huddersfield Town dan Timnas Jepang, Yuta Nakayama akan absen di Piala Dunia setelah dipaksa menepi selama sisa musim karena cedera Achilles. Pemain berusia 25 tahun itu sebenarnya masuk dalam daftar 26 pemain negaranya untuk turnamen bulan ini di Qatar. Namun, ia harus ditandu keluar sebelum turun minum dalam kekalahan kandang 2-0 oleh Sunderland.

DENIS ZAKARIA BICARA PENGALAMANNYA DI CHELSEA: SANGAT SULIT!

Denis Zakaria akhirnya menjalani debutnya saat Chelsea bersua Dinamo Zagreb di matchday 6 Liga Champions 2022/23. Denis main sebagai starter dan mencetak satu gol sebelum ditarik keluar pada menit ke-71. Usai dimainkan lawan Dinamo Zagreb, Denis Zakaria langsung curhat. Ia mengaku kehidupannya di Chelsea saat ini terasa sulit. “Saya harus katakan sangat, sangat sulit. Saya suka bermain dan selalu ingin bermain,” aku Zakaria dikutip Football Italia.

BAWA NAPOLI MEROKET, SPALLETTI BAKAL DIGANJAR KONTRAK BARU

Presiden Napoli Aurelio De Laurentiis sangat senang dengan kinerja pelatih Luciano Spalletti. Dirinya mengklaim, bakal memberikan hadiah perpanjangan kontrak untuk sang juru taktik. Kontrak kerja Spalletti sendiri berakhir pada Juni 2023. Kontrak itu kemungkinan akan diperpanjang. Akan tetapi, kedua pihak harus lebih dulu bertemu untuk mengonfirmasi kesepakatan dan tak ada jaminan bahwa ini akan terjadi selama jeda Piala Dunia 2022.

DONNARUMMA KAGET PSG FINIS RUNNER UP GRUP LIGA CHAMPIONS

Kiper Paris Saint-Germain, Gianluigi Donnarumma, mengaku tidak tahu timnya hanya mampu finis di urutan kedua Grup H Liga Champions. Dia mengaku baru tahu usai kelar laga. Meskipun PSG berhasil mengalahkan Juventus, tim besutan Christophe Galtier harus puas cuma berstatus sebagai runner-up dalam langkahnya ke babak 16 besar. Les Parisiens disalip Benficaโ€”meski sama-sama mengoleksi 14 poinโ€”yang finis sebagai juara grup setelah menang telak atas Maccabi Haifa 6-1.

MURAL RAKSASA MARADONA MUNCUL DI ARGENTINA JELANG PIALA DUNIA 2022

Menjelang bergulirnya Piala Dunia 2022 sebuah mural raksasa bergambar Diego Armando Maradona muncul di Argentina. Gambar berukuran raksasa itu muncul di sebuah gedung di Buenos Aires, Argentina untuk menyambut pesta sepakbola terakbar di dunia tahun ini. Tidak tanggung-tanggung, gambar tersebut diketahui berukuran 40 meter (lebar) x 45 meter (tinggi). Keberadaan mural tersebut untuk mengenang Maradona yang pernah antarkan Argentina juara dunia.

AUBAMEYANG TAK SEGAN HANCURKAN ARSENAL

Chelsea akan menjamu Arsenal pada pekan ke-13 Liga Inggris di Stamford Bridge, Minggu (6/11) malam WIB. Pierre-Emerick Aubameyang pun jadi sorotan. Sebab ia akan bentrok dengan mantan klubnya. Ia meninggalkan Meriam London awal tahun 2022, untuk pindah ke Barcelona. Namun, ia kemudian dilepas lagi dan pindah ke Chelsea. Aubameyang pun kirim ancaman untuk sang mantan. “Arsenal, tak ada urusan personal. Saya kembali. Saya biru. Saya siap,” kata Aubameyang dalam video promosi BT Sport.

โ€˜ANCAMANโ€™ PELATIH ARGENTINA BISA BIKIN DYBALA GAGAL KE QATAR

Sejak 9 Oktober, Paulo Dybala sudah menepi karena cedera hamstring. Sampai saat ini belum ada tanda-tanda Dybala bakal bermain untuk Roma di sisa pertandingan, sebelum jeda Piala Dunia 2022. Itu artinya 42 hari sudah dilewati Dybala di ruang perawatan. Kondisi ini jelas membahayakan untuk Dyala terkait peluangnya tampil di Piala Dunia 2022. Sebab, pelatih Argentina Lionel Scaloni sudah memberikan ultimatum kepada Dybala dan para pemain lainnya. Jika mereka ingin tampil di Piala Dunia, maka tidak boleh datang dalam kondisi cedera dan harus siap main sejak laga pertama.

PIQUE DIYAKINI BAKAL JADI PRESIDEN HEBAT UNTUK BARCELONA

Gerard Pique baru saja umumkan pensiun. Presiden La Liga, Javier Tebas mengklaim jika suatu hari nanti Gerard Pique bakal menjadi Presiden yang hebat untuk Barcelona. Beberapa waktu lalu, sang bek sempat mengklaim ingin menjadi Presiden Barca. Tebas pun mendukung langkah Pique. โ€œIa adalah sosok yang berbeda. Ia terbiasa membuat keputusan sebagai pebisnis dengan konsekuensi kegagalan dan keberhasilan.” kata Tebas.ย 

HAALAND TERSEDIA SAAT MAN CITY BENTROK VS FULHAM

Pelatih Manchester City, Pep Guardiola, mengonfirmasi kondisi terbaru penyerang Erling Braut Haaland menjelang duel versus Fulham, Sabtu (5/11) malam WIB nanti. Guardiola mengklaim Haaland sudah jauh lebih baik dan siap diturunkan lawan Fulham. Sebelumnya, Haaland mengalami cedera saat memperkuat Man City melawan bekas klub lamanya Borussia Dortmund pada matchday kelima Liga Champions tengah pekan lalu.ย 

PEMAIN MUDA MU BONGKAR SIFAT ASLI RONALDO

Pemain muda Manchester United, Facundo Pellistri baru-baru ini membeberkan sifat asli Cristiano Ronaldo. Ia menyebut bahwa pemberitaan mengenai Ronaldo sejauh ini jauh dari fakta yang sebenarnya. Seperti diketahui, Narasi yang berkembang sejauh ini adalah Ronaldo sosok yang egois dan sombong. Pellistri menyebut bahwa meski berstatus sebagai pemain bintang, Ronaldo bukanlah sosok yang seperti itu. Ronaldo, menurut Pellistri, adalah sosok yang hangat dan perhatian, bahkan kepada pemain-pemain muda seperti dirinya.

DIBUJUK AGAR TAMPIL DI PIALA DUNIA, TONI KROOS OGAH

Toni Kroos sudah memastikan pensiun dari kancah sepak bola internasional sejak Juli 2021. Kini menuju Piala Dunia 2022 Qatar, 20 November, disebutkan Toni Kroos mendapat godaan agar mengubah keputusannya dan kembali memperkuat Timnas Jerman. Salah satu yang mengatakan hal ini adalah jurnalis Amalio Moratalla saat diwawancara Radio Marca. Namun pada sebuah kesempatan, Toni Kroos sudah menyatakan ogah kembali perkuat Timnas Jerman dan mentas di Piala Dunia 2022.

VISI UNAI EMERY UNTUK ASTON VILLA

Dalam konferensi pers perdananya sebagai manajer Aston Villa, Unai Emery membeberkan target besar yang ingin ia raih. Ia mengaku ingin membawa Villa memenangkan trofi juara dan juga bermain di Eropa. Akan tetapi, Emery menegaskan kedua mimpi itu belum menjadi prioritasnya sekarang ini. Ia menegaskan bahwa prioritasnya saat ini membenahi performa Aston Villa yang lagi terseok-seok.

FIFA: JANGAN JADIKAN PIALA DUNIA 2022 PERTEMPURAN IDEOLOGI DAN POLITIK

FIFA telah menulis surat kepada 32 peserta Piala Dunia 2022. Mereka mendesak tim untuk fokus pada turnamen di Qatar dan tidak menjadi bagian dari kampanye tentang moralitas dan menyeret sepak bola ke dalam setiap pertempuran ideologis atau politik yang ada. Infantino juga menegaskan bahwa semua orang akan diterima di Qatar, terlepas dari suku, latar belakang, agama, jenis kelamin, orientasi seksual, atau negara asal.

POTTER TETAP MINTA AUBAMEYANG CETAK GOL KE MANTAN KLUB

Pelatih Chelsea, Graham Potter, meminta Pierre-Emerick Aubameyang tetap mencetak gol meski menghadapi Arsenal sebagai mantan klubnya saat kedua tim bertemu di Liga Inggris, akhir pekan ini. “Saya mengerti berita utama tentang dia karena ini adalah Arsenal dan ada narasi di sekitar itu. Saya pikir dia menantikan pertandingan itu dan dia bersemangat untuk itu. Dia cukup normal dari apa yang saya lihat,” kata Potter.

JORDI ALBA JADI INCARAN NAPOLI DI MUSIM DINGIN

Dilansir Football Italia, Napoli berpotensi menggaet bek kiri veteran Jordi Alba, yang bisa jadi meninggalkan Barcelona pada bursa transfer Januari 2023 mendatang. Pemain berusia 33 tahun telah kesulitan mendapatkan menit bermain pada musim ini, dengan pelatih Xavi Hernandez hanya memainkannya dalam 648 menit pada total 10 pertandingan di La Liga dan Liga Champions.

KABAR BAIK UNTUK MU, ATLETICO BAKAL JUAL JOAO FELIX

Kabar baik didapatkan Manchester United setelah ada kabar bahwa Atletico Madrid siap melego pemain yang mereka incar yakni Joao Felix. Kabar itu diklaim oleh Cadena SER. Media itu menyebut bahwa Atletico ingin melego Felix karena butuh dana demi memperkuat skuat asuhan Diego Simeone tersebut. Jurnalis Fabrizio Romano menyebut United memang tertarik untuk memboyong pemain 22 tahun tersebut. MU disebutnya sudah mengamati Felix saat masih di Benfica.

IBRA KIRIM PERINGATAN KE HAALAND, TENTANG APA?

Zlatan Ibrahimovic telah memberikan pesan kepada bomber Manchester City Erling Haaland agar tidak termakan oleh ego manajernya, Pep Guardiola. Ibra menyebut, Guardiola punya kelakuan buruk yang harus diwaspadai. Sebagai informasi, Ibra pernah berselisih dengan Guardiola ketika mereka bersama-sama di Barcelona. Selain memberi peringatan, Ibrahimovic sendiri sangat memuji kualitas yang dimiliki Haaland.

PENYEBAB PIQUE PENSIUN MENDADAK MENURUT XAVI

Penyebab Gerard Pique pensiun mendadak menurut Xavi Hernandez. Xavi mengungkapkan, Pique sejatinya merasa kekurangan menit bermain akhir-akhir ini. Selain itu, Pique juga merasa perannya sudah tergantikan oleh para pemain muda di klub maupun Timnas Spanyol. Oleh sebab itu, ia sadar diri dan akhirnya membuat keputusan pensiun. Pelatih 42 tahun itu menegaskan keputusan tidak memberikan menit yang banyak kepada Pique sudah dibicarakan sejak awal dengan sang bek.

RAMOS ‘KLARIFIKASI’ HUBUNGANNYA DENGAN MESSI

Sergio Ramos dan Lionel Messi kini terlihat akrab ketika keduanya memperkuat Paris Saint-Germain. Padahal, sebelum satu tim, Ramos dan Messi kerap terlibat pertikaian. Momen itu terjadi saat Ramos di Real Madrid, sementara Messi memperkuat Barcelona. Kini, Ramos mengungkapkan bahwa hubunganya dengan Messi saat ini luar biasa. “Kami punya tujuan yang sama untuk memenangi banyak gelar bersama PSG,” kata Ramos

MU GAGAL JUARA GRUP, MASKOT SOCIEDAD LANGSUNG EJEK RONALDO

Manchester United gagal menjadi juara Grup E Liga Europa 2022/23. Menariknya, mega bintang MU, Cristiano Ronaldo, kemudian mendapat ejekan dari maskot Real Sociedad. Seolah mengejek CR7, seusai pertandingan, maskot Real Sociedad itu melakukan selebrasi Siu khas Ronaldo di depan tribun belakang gawang. Momen ini lantas disambut antusias oleh para pendukung Sociedad.

PRESIDEN FLAMENGO EJEK RONALDO

Presiden klub Brasil Flamengo, Rodolfo Landim, mengejek Cristiano Ronaldo setelah klubnya dikabarkan tertarik merekrut CR7 dari Manchester United. Landim memastikan kabar Flamengo merekrut Ronaldo tidak benar. Landim mengaku klubnya tidak punya kekuatan finansial untuk membayar gaji pemain asal Portugal itu. Selain itu Landim juga mengklaim kualitas Ronaldo saat ini hanya akan cukup menjadi pemain cadangan di Flamengo, yang memiliki Gabriel Barbosa dan Pedro di lini depan.

HASIL TIMNAS INDONESIA U20 VS MOLDOVA

Timnas U-20 Indonesia asuhan Shin Tae-yong gagal memaksimalkan peluang menjadi gol saat bertanding melawan Moldova U-20 di Stadion Emirhan, Turki, Jumat (4/11) malam WIB. Bagi Indonesia, ini merupakan hasil imbang pertama di Turki. Sebelumnya, tim Merah-Putih menang atas Cakallikli Spor dan Moldova. Dan Indonesia sempat tumbang dari Turki.

Revolusi Taktik Galtier, PSG Makin Diatas

0

Ketika pertama kali ditunjuk, Christophe Galtier meragukan. Mantan pelatih Lille yang, sekalipun bisa membawa tim itu juara Ligue 1, tetap kurang meyakinkan untuk bisa menangani PSG. Klub mewah yang dihuni para bintang. Itu baru soal klub yang mewah, lalu bagaimana dengan pengalaman?

Secara pengalaman, Galtier tidak seperti pelatih PSG sebelumnya, Mauricio Pochettino yang pernah menginjakkan kaki ke final Liga Champions. Jadi penunjukan Galtier dengan PSG yang selalu dituntut meraih Si Kuping Besar, tidak masuk akal.

Namun, Galtier pelan-pelan membuktikan bahwa dirinya layak diperhitungkan. Paris Saint-Germain tampil luar biasa di awal musim ini. Terlepas dari PSG yang dipenuhi pemain bintang, secara permainan Les Parisiens sangat hidup.

Tim yang Belum Terkalahkan

Sekurang-kurangnya, sampai video ini dibuat, Paris Saint-Germain belum terkalahkan. Les Parisiens seperti biasa, bermain selayaknya penguasa Liga Prancis. PSG belum terkalahkan dalam 14 laga di Liga Prancis. Mereka menang di 12 laga dan sisanya menelan hasil imbang.

Tidak hanya itu, PSG juga menjadi tim yang sangat produktif di Ligue 1. Dari 14 laga, Les Parisiens sudah mencetak 38 gol dan hanya kemasukan 9 gol saja. Itu baru di liga domestik. PSG juga belum tersentuh kekalahan di Liga Champions.

Dari 6 laga yang sudah dimainkan PSG di fase grup, 4 kali mereka menang dan sisanya berakhir imbang. Meski hanya finis di posisi kedua di Grup H, catatan ini jelas lebih bagus dari musim sebelumnya. Sebab pada musim 2021/22, saat dilatih Pochettino PSG menelan satu kekalahan di fase grup.

Tuntutan Juara UCL, Galtier: Tak Peduli

Bagi PSG, tentu sangat mudah untuk mencetak gol banyak di liga domestik. Pun begitu, Les Parisiens tentu saja sangat mudah untuk sekadar meraih titel liga. Seperti itulah pendapat-pendapat yang biasanya muncul dari para pembenci Paris Saint-Germain.

Namun, hal itu tidak sepenuhnya salah. Sebagai klub raksasa yang bertabur bintang, titel kompetisi domestik saja belum cukup. Apalagi dari semua tim di Liga Prancis, PSG menjadi tim dengan skuad paling mewah sendiri. Ya, malu dong kalau nggak juara?

Maka dari itu, Liga Champions selalu menjadi target PSG. Les Parisiens setiap tahunnya dituntut untuk mengangkat Si Kuping Besar. Karena mungkin saja cuma trofi itulah yang membuat PSG layak disebut sebagai tim kuat. Belum lagi, dari dulu PSG sangat kesulitan untuk meraih Liga Champions.

PSG pernah menginjakkan kaki ke final saat ditukangi Thomas Tuchel. Tapi ketika itu PSG takluk oleh Bayern Munchen asuhan Hansi Flick. Setelah itu, Les Parisiens tertatih-tatih. Musim lalu mereka dihentikan langkahnya oleh raja Eropa, Real Madrid.

Sayangnya, Christophe Galtier bukan sosok pelatih yang kelawat ambisius. Ia tahu timnya selalu dituntut juara Liga Champions. Tapi Galtier sadar diri. Ia paham Liga Champions bukan kompetisi yang mudah. Segalanya sulit diprediksi. Jadi Galtier memilih tidak terlalu mengincar Liga Champions.

โ€œMeski begitu, saya tahu pihak manajemen dan klub selalu mengusahakannya (trofi Liga Champions) dengan segala cara,โ€ kata Christophe Galtier melalui laman resmi PSG seperti dikutip Liga Olahraga.

Taktik Galtier Aduhai

Kalau boleh jujur, walaupun kelak juara Liga Champions atau tidak, permainan Les Parisiens hari ini sangat menghibur. Kehadiran Lionel Messi mungkin jadi faktornya. Tapi musim lalu Messi juga sudah ke Parc des Princes. Jadi apa dong yang membedakan?

Musim lalu permainan Messi tidak terlihat. Ia senyap di balik taktik Mauricio Pochettino yang gitu-gitu saja. Sementara, Messi mulai bersinar lagi di bawah komando Christophe Galtier. Taktik Galtier, diakui atau tidak, mengubah paradigma baru di tubuh PSG, bukan cuma Messi.

Galtier adalah sosok pelatih tenang. Taktiknya kerap berevolusi. Itulah mengapa ia pernah sukses menggulingkan dominasi PSG dan membawa Lille juara Ligue 1. Pelatih berpaspor Prancis itu punya pendekatan yang berbeda untuk PSG.

Christophe Galtier menggunakan skema tiga bek. Itu pun taktik yang juga tidak lepas dari peran direktur olahraga PSG. Luis Campos ingin Les Parisiens memakai skema 3-5-2. Dan Galtier menjawab permintaan itu. Namun, ia tidak menerimanya begitu saja.

Sekali waktu Galtier memang memakai format tersebut. Tapi beberapa kali ia berinovasi. Kadang formasi Galtier berubah menjadi 3-5-2, 3-4-3, atau 3-4-2-1. Yang terakhir jadi formasi yang sering dipakai, walaupun kadang Galtier memakai dua striker di depan dengan satu gelandang serang.

Karena punya trisula maut, Christophe Galtier juga mencoba formasi 4-3-3. Tentu saja dengan memasang Kylian Mbappe, Neymar, dan La Pulga di lini depan. Gaya permainan Galtier cenderung pragmatis. Beberapa kali Galtier meminta para pemainnya untuk menarik pemain lawan keluar dari sarang.

Cara itu digunakan agar lawan melakukan tekanan ke pertahanan PSG. Dengan kualitas lini tengah yang bermutu, ditambah seorang Lionel Messi, PSG bisa mengubah tekanan itu menjadi serangan balik yang berbahaya.

Terlebih dengan menekan, otomatis lawan akan meninggalkan ruang kosong, di situlah pemain seperti Mbappe atau bek sayap Nuno Mendes masuk. Dengan begitu pertahanan lawan bakal kelabakan.

Tahu yang Terbaik untuk Pemain

Salah satu kelebihan Galtier adalah tahu yang terbaik untuk para pemainnya. Galtier memang kerap menempatkan Mbappe sebagai striker. Kadang bersama Neymar maupun berduet dengan La Pulga. Kendati begitu, Galtier membebaskan Mbappe.

Galtier tahu sang bos kecil sangat nyaman bermain di sisi sayap. Jadi meski berposisi sebagai penyerang, Kylian Mbappe tak jarang melakukan penetrasi di sisi fullback lawan. Pergerakan itu bisa sangat menunjang kekuatan Mbappe untuk menjadi mesin gol.

Sementara itu, Lionel Messi kembali memegang peran sebagai playmaker. Di tangan Galtier, La Pulga permainannya hidup kembali. Meski ditaruh di depan, Messi tak malas untuk turun ke belakang. Galtier dalam hal ini berhasil mengendalikannya.

Galtier menyulap Lionel Messi jadi jenderal di lapangan. La Pulga adalah orang yang bisa mengatur pola permainan PSG. Meski kalau kita menonton PSG, Messi seperti tidak niat bermain. Tapi memang begitulah gaya main playmaker.

Untuk Neymar, Galtier membebaskannya mencari ruang. Pemain Brasil itu bisa dengan cakap menjadi alternatif ketika Mbappe mandul. Atau ia juga bisa menjadi opsi untuk membangun kreativitas serangan di lini depan. Yang ajaib, oleh Galtier, Neymar juga diminta bertahan dan sang pemain ternyata mau melakukannya.

Pembelian yang Tepat

PSG sudah tidak kelap-kelip lagi musim ini. Pembelian mereka tidak mewah, tapi tepat untuk kebutuhan tim. Misalnya, Fabian Ruiz dan Vitinha. Dua pemain itu memperkuat lini tengah PSG. Khusus Vitinha, ia bisa bergerak lebih tinggi.

Vitinha adalah sosok yang menstabilkan lini tengah PSG. Ketika ia naik, pemain gelandang lainnya, Verratti bisa lebih leluasa dalam mengontrol bola. Selain itu, Vitinha juga sosok yang sering bekerja sama dengan Messi. Kedua pemain kerap bergantian perannya.

Jika Vitinha naik, Messi yang akan turun untuk menerima bola. Kalau Messi naik dan berhasil menarik bek lawan, ruang kosong yang tercipta dimanfaatkan Vitinha. Sedangkan Fabian Ruiz juga kerap menarik pemain lawan untuk menciptakan ruang bagi Lionel Messi menguasai permainan.

Pandai Mengelola Pemain

Selain soal taktik, Christophe Galtier juga punya reputasi pandai mengelola pemain. Itu mulai dibuktikan di PSG. Galtier bisa โ€œmenaklukkanโ€ para pemain bintang seperti trisula mautnya. Menurut majalah Lโ€™Equipe seperti dikutip media BUT!, Lionel Messi bahkan menghormati metode yang dipakai Galtier.

Messi tampak puas dan tidak sering protes kepada Galtier. Hal itu berbeda ketika bersama Pochettino musim lalu. Gaya manajemen Galtier ini juga dipuji mantan anak asuhnya, Pierre Emerick-Aubameyang. Sang pemain pernah terus diberi tekanan oleh Galtier untuk mencetak gol saat bermain di Saint-Etienne.

Pelatih top seperti Jose Mourinho, Thomas Tuchel, sampai Carlo Ancelotti juga memuji gaya manajemen Galtier. Don Carlo tak keberatan mengatakan Galtier pelatih hebat karena bisa mengangkat martabat Saint-Etienne. Sementara Tuchel menyebut Galtier sangat kuat melatih, ia pun menaruh hormat padanya.

https://youtu.be/Yu3shv8q4zk

Sumber: NewsWorldTick, DailyMail, GFNF, DailyMail2, TheAnalyst, Sportsbrief, BFC, LigaOlahraga, TheFalseFullback

Ketika Antonio Di Natale Rela Gadaikan Trofi Demi Udinese

0

Sepakbola Italia sudah banyak mengajarkan kita tentang makna sesungguhnya sebuah kesetiaan. Dari Paolo Maldini, Javier Zanetti, hingga sang pangeran Roma, Francesco Totti merupakan contoh nyata. Namun, barangkali kalian lupa bahwa masih ada nama Antonio Di Natale. Kisah kesetiaannya dengan Udinese patut untuk diceritakan.

Sama halnya dengan Keluarga Cemara, keluarga adalah harta yang paling berharga bagi Di Natale. Dan Udinese sudah menjadi keluarga kedua bagi penyerang bertubuh mungil itu. Ia meletakan nama โ€œkeluargaโ€ di atas segalanya, bahkan sepakbola. Keluarga berada jauh di atas ego akan gelar juara. Itulah mengapa, Di Natale betah di Udinese hingga akhir karir sepakbolanya.

Sosok yang mengawali karirnya bersama Empoli itu tercatat telah membela Le Zebrette selama 12 musim lamanya, dan berikut adalah sepenggal kisah tentang kesetiaan Antonio Di Natale dengan klub semenjana namun paling ia cinta, Udinese.

Sebelum Bertemu Udinese

Antonio Di Natale memang identik dengan Udinese, tapi Di Natale ternyata memulai karirnya bersama Empoli. Setelah menjadi anggota tim muda Empoli sejak tahun 1994, Di Natale memulai karir profesionalnya bersama tim senior Empoli pada tahun 1996 silam. Saat itu, Empoli masih berlaga di Serie B dan Di Natale tetap bertahan dengan klub masa kecilnya itu hingga tahun 2004.

Selama karirnya bersama Empoli, Di Natale tak semata-mata langsung menjadi pilihan utama di klub yang bermarkas di Carlo Castellani tersebut. Ia juga sempat dipinjamkan ke beberapa klub Italia lainnya seperti, Iperzola, Varese, hingga Viareggio.ย 

Meski demikian, Di Natale jadi sosok penting yang membantu Empoli naik kasta ke Serie A pada musim 2001/02. 16 golnya membantu Empoli untuk finis di urutan keempat klasemen Serie B. Itu sudah cukup untuk mengamankan satu tiket play off ke Serie A.

Dua musim pertamanya di Serie A terbilang tak begitu buruk. Meski Di Natale tak mampu menyelamatkan Empoli dari degradasi di musim 2003/04, ia sempat mencetak 13 gol untuk membantu Empoli bertahan lebih lama semusim sebelumnya. Empoli terdegradasi, tapi bakat Di Natale dirasa terlalu apik untuk Serie B. Akhirnya, pada tahun 2004, Udinese menyelamatkan karir striker mungil tersebut.

Merangkai Kisah Bersama Udinese

Awal kedatangannya di Udine, Di Natale tak mendapat sambutan yang baik. Berlatar belakang pemain Serie B, Di Natale dianggap tak akan mampu bersaing di level tertinggi Serie A. Namun, semua omong kosong itu ditepis oleh sang pemain. Di musim pertamanya Di Natale membantu Le Zebrette finis di urutan keempat Serie A, sekaligus mengamankan satu tempat di ajang Liga Champions.ย 

Bersama Fabio Quagliarella dan Vincenzo Iaquinta, Di Natale memainkan peran penting di lini depan skuad asuhan Luciano Spalletti. Bermain bersama dua striker hebat, keterampilan dan kemampuannya dalam mencetak gol kian meningkat. Beberapa kali ia menjadi pencetak gol terbanyak klub di kompetisi kasta tertinggi Serie A.

Bahkan, Di Natale juga membangun reputasi sebagai pemain yang memiliki aura pemimpin. Tepatnya pada tahun 2007, ia ditunjuk sebagai kapten klub. Di Natale pun menjelma jadi pemain yang sangat dihormati bersama Udinese, setelah sempat mendapat anggapan miring oleh publik Udine.

Setelah menjadi kapten, performanya kian menanjak. Di Natale selalu mencetak dua digit gol setiap musimnya. Musim terbaiknya datang pada tahun 2010 dan 2011. Tua-tua keladi barangkali jadi istilah yang tepat untuk menggambarkan performa Di Natale ketika menyabet sepatu emas Serie A dengan torehan 29 dan 28 gol setelah berusia 30 tahun.

Di Natale: Udinese Sampai Kiamat!

Setelah performa yang luar biasa bersama Udinese, banyak klub yang datang termasuk raksasa Italia, Juventus untuk menebus Di Natale. Tapi ia tetap setia pada klub semenjana yang membesarkan namanya itu, meski Udinese tidak pernah memenangkan trofi utama dalam seratus tahun lebih klub itu didirikan.

Di Natale melewatkan kesempatan untuk pindah ke Juventus karena ia merasa kesuksesan bukan aspek utama dalam kebahagiaannya. Eks penyerang Timnas Italia itu tak mengindahkan tawaran berharga dari Juventus. Meski La Vecchia Signora menggaransi sebuah trofi, Di Natale hanya bergeming. Ia memilih bertahan, karena telah menemukan kebahagiaan bersama Le Zebrette.

Dikutip Goal, Di Natale paham betul ketika mengambil kesempatan untuk bermain di Juventus, kehidupannya pasti akan berubah. Tapi ia tak yakin itu akan berubah lebih baik atau justru lebih buruk. โ€œJika bermain dengan pemain-pemain bintang di Juve, mungkin saya bisa mencetak ratusan gol dan meraih beberapa trofi. Tapi apakah itu tolak ukur kebahagiaan?โ€ Ucap Di Natale.

Kabarnya, selain Juventus, Guangzhou Evergrande yang kala itu dilatih Marcello Lippi , dan beberapa tim yang tengah membangun reputasi di Major League Soccer juga sempat menggoda kesetiaannya. Namun, demi kecintaan dan keluarga, Di Natale tak mengambil kesempatan itu.

Ia enggan menggadaikan kebahagiaan dan keluarganya di Udinese hanya untuk uang dan trofi. Udinese sudah dianggap sebagai istri kedua bagi Di Natale. Sikapnya ini terinspirasi dari idola sekaligus kompatriotnya di timnas, Francesco Totti dan Alessandro Del Piero. Mereka berdua mengajarkan kepada Di Natale arti sebuah kesetiaan.

Jadi Sosok Panutan di Udinese

Kesetiaan adalah sifat yang langka di sepakbola modern, jadi tak berlebihan apabila kita memuji kesetiaan dari Toto, sapaan akrab Antonio Di Natale. Di tengah godaan uang yang terus-menerus datang, hanya sedikit yang tetap setia di samping klub mereka dan membantu tim mencapai ambisi mereka. Dan Di Natale adalah salah satunya.

Toto tak setengah-setengah dalam menunjukan dedikasinya untuk merawat klub dan seluruh orang yang berperan dalam membesarkan namanya. Salah satu buktinya ketika rekan setimnya, Piermario Morosini meninggal karena serangan jantung, Di Natale mengambil tanggung jawab finansial untuk adik perempuannya yang cacat, karena adiknya tak memiliki siapa pun lagi selain Morosini.

Di Natale dikenal sebagai profesional dan olahragawan yang sempurna. Pemain asal Italia itu juga pernah menerima penghargaan Fair Play dari Serie A atas tindakan terpuji di lapangan. Bagi Di Natale, sportivitas lebih penting daripada kemenangan yang diraih dengan merendahkan lawan di lapangan.

Berhenti di Angka 445ย 

Antonio Di Natale mengakhiri kisah cinta 12 tahun bersama Udinese di tahun 2016 lalu. Bukan untuk pindah ke klub lain, Toto justru memutuskan gantung sepatu setelah mengumpulkan 445 penampilan dan 227 gol di semua ajang bersama klub yang identik dengan warna hitam dan putih itu.

Ketika sepakbola Italia akan dipenuhi oleh cerita dari para pemain-pemain muda di abad ke-21. Tak dipungkiri pasti akan selalu ada tempat di hati para penggemar Serie A untuk Toto. Pria pendiam yang tetap setia kepada prinsip kekeluargaan dan persaudaraan tim. Antonio Di Natale, Remember the name!

Sumber: Thesefootballtimes, Goal, BRfootball, Outsidetheboot

Perjalanan Awal Ronaldo Bersama Portugal yang Penuh Air Mata

Ronaldo memiliki perjalanan karir yang luar biasa sebagai seorang pemain sepakbola. Semua trofi bergengsi baik itu tingkat klub maupun individu sudah melengkapi koleksi penghargaannya. Di tingkat tim nasional, kiprah Ronaldo juga tidak bisa disepelekan. Ia berhasil membawa Portugal menjuarai Euro 2016. Ia juga menjadi pemain senior yang dihormati di tim Portugal.

Hanya ada satu trofi yang masih belum bisa didapatkan bahkan sampai sekarang. Yaitu Piala Dunia. Posisi terbaik Ronaldo di Piala Dunia adalah ketika menempati posisi empat setelah kalah melawan Prancis di semifinal dan takluk melawan Jerman di perebutan tempat ketiga pada Piala Dunia 2006.

Piala Dunia 2022 ini nampaknya akan menjadi Piala Dunia terakhir bagi CR7 mengingat usainya yang sudah tidak muda lagi. Dan akan menjadi akhir perjalanan karir Ronaldo di timnas Portugal. Untuk itu, mari kita menarik ingatan bagaimana Ronaldo mengawali perjalanan panjangnya di tim nasional Portugal pada gelaran Euro 2004 dan Piala Dunia 2006 yang ternyata penuh air mata.

Debut Timnas Portugal

Ronaldo mengawali karirnya bersama timnas Portugal pada tahun 2003. Ia masih berusia 18 tahun pada saat itu dan hanya berselang seminggu setelah ia resmi pindah ke Manchester United. Yang menjadi pertandingan debutnya adalah ketika Portugal menghadapi Kazakhstan di pertandingan uji coba. Di pertandingan itu, Ronaldo tidak langsung menjadi starter. Ia masuk ke babak kedua sebagai pemain pengganti.

Penampilannya terasa sangat singkat dan tidak terlalu mengesankan. Bagaimanapun, Portugal berhasil menang di pertandingan itu dengan skor tipis 1-0. Meskipun tampil tidak mengesankan, tapi pertandingan itulah yang mengawali karir Ronaldo bersama timnas Portugal. Selanjutnya, Ronaldo pun dipanggil untuk membela A Seleccao pada ajang Euro 2004 yang digelar di rumahnya sendiri, Portugal.

Gol pertama Ronaldo datang di laga pembuka kualifikasi Grup A melawan Yunani. Namun sayang, gol tersebut tidak mampu menyelamatkan timnya dari kekalahan. Gol Ronaldo hanyalah menjadi gol hiburan Portugal di laga tersebut. Mereka harus menelan kekalahan dengan skor 2-1. Kalah di partai pembuka tentu memberikan beban tersendiri bagi Ronaldo dan Portugal.

Namun Portugal bisa bangkit. Di pertandingan penyisihan grup selanjutnya melawan Rusia, mereka bisa menang dengan skor meyakinkan 2-0. Lalu kembali berhasil meraih kemenangan di laga pamungkas grup melawan Spanyol dengan skor tipis 1-0. Dua kemenangan itu cukup untuk membawa Portugal melangkah ke babak selanjutnya sebagai juara grup.

Kekecewaan di Tanah Air Sendiri

Tampil memuaskan di babak penyisihan grup dengan menyumbang satu gol dan satu assist sebagai pemain pengganti, Ronaldo mulai diberikan kepercayaan untuk menjadi starter. Lawannya di babak 16 besar adalah Inggris. Pertandingan berjalan alot, kedua tim saling jual beli serangan. Portugal dan Inggris bergantian mencetak gol ke gawang masing-masing lawan. Hingga 90 menit laga berjalan, kedudukan masih imbang satu sama.

Pertandingan dilanjutkan ke babak pertambahan waktu. Portugal mencetak gol terlebih dahulu sebelum Inggris membalasnya tak lama kemudian. Lagi-lagi kedudukan kedua tim menjadi imbang. Laga pun harus dilanjutkan ke babak adu penalti. Portugal yang lebih percaya diri karena tampil di rumah mereka sendiri, mampu memenangi duel adu penalti. Poertuga pun berhak melaju ke babak selanjutnya.

Laga melawan Belanda di partai semifinal dijalani dengan mudah oleh Ronaldo dan kolega. Ronaldo bahkan mencetak gol pembuka laga di menit ke-26. Maniche kemudian menggandakan keunggulan di menit ke-58. Meskipun Jorge Andrade mencetak gol bunuh diri di menit ke-63, tidak menghentikan langkah mereka ke final.

Tibalah mereka di partai final Euro 2004. Ini seharusnya bisa menjadi pertandingan yang istimewa untuk Ronaldo. Ia bisa menjuarai Euro di edisi debutnya, dan di rumahnya sendiri. Namun apa daya, Yunani yang menampilkan permainan bertahan yang apik sepanjang turnamen terlalu tangguh untuk A seleccao. Pada akhirnya Portugal harus kalah dari Yunani di partai final dengan skor tipis 1-0. Ronaldo pun tidak kuasa menahan air matanya jatuh menyesali apa yang sudah terjadi.

Debut Piala Dunia

Setelah dari Euro, musim-musim awal Ronaldo di Manchester United tidak banyak menghasilkan trofi. Setidaknya ia masih bisa meraih FA Cup di musim 2003/04. Namun dari segi permainan, Ronaldo malah mendapat banyak kritik karena dianggap bermain egois dan terlalu banyak melakukan trik tidak perlu di lapangan. Terlepas dari itu, tidak bisa dipungkiri ia tetaplah pemain muda potensial pada saat itu. Dan itulah salah satu alasan yang membuatnya kembali dipanggil Portugal untuk memperkuat A seleccao di Piala Dunia 2006.

Setelah membantu Portugal sampai ke partai final Euro 2004, dunia kini semakin menunggu-nunggu penampilan Ronaldo sebagai pemain muda berbakat di kompetisi Piala Dunia. Portugal masuk di grup yang cukup mudah berisikan Mexico, Angola dan Iran. Portugal cukup mudah melewati babak penyisihan grup. Mereka lolos dengan status sebagai pemuncak klasemen. Ronaldo bahkan mencetak gol pertamanya di Piala Dunia melalui tendangan penalti ketika menghadapi Iran. Dan sayangnya akan menjadi gol satu-satunya Ronaldo di turnamen itu.

Namun pertandingan sesungguhnya terjadi ketika Portugal menghadapi Belanda di babak 16 besar. Pertandingan itu kemudian dikenal sebagai Battle of Nuremberg dan menjadi salah satu momen paling gila di Piala Dunia. Di laga tersebut, wasit harus mengeluarkan 20 kartu untuk pemain dari kedua tim. Diantaranya 4 kartu merah dan 16 kartu kuning, menjadikan laga ini sebagai laga paling brutal Piala Dunia.

Jadi Korban Battle of Nuremberg

Kesialan menjadi milik Ronaldo di laga tersebut. Ia menjadi korban kebrutalan Battle of Nuremberg. Laga baru berjalan dua menit, pemain Belanda sudah mengincar Ronaldo sebagai target. van Bommel melakukan tackle setelah tidak kuasa mengejar Ronaldo yang terlalu kencang untuknya. Wasit langsung meniup peluit pelanggaran dan memberikan kartu kuning ke van Bommel. Dari situ sudah tercium, laga ini akan menjadi sebuah pertarungan sungguhan.

Benar saja, hanya butuh waktu lima menit berselang untuk Ronaldo kembali menjadi korban keganasan pemain Belanda. Kali ini Khalid Boulahrouz yang jadi tersangka. Ia menendang kaki kanan Ronaldo dengan brutal dan tentu saja aksinya itu membuahkan kartu kuning dari wasit. Meskipun begitu Ronaldo bisa melanjutkan pertandingan, dan Portugal bahkan bisa mencetak skor lewat gol dari Maniche di menit ke-23. Tapi kondisi Ronaldo mulai mengkhawatirkan setelah mendapatkan dua tackle sebelumnya.

Pada menit ke-34 pelatih Portugal, Scolari mengambil keputusan untuk menarik keluar Ronaldo. Itu keputusan yang bijak karena Portugal sudah memimpin dan resiko Ronaldo untuk cedera lebih parah bisa semakin besar jika ia terus dimainkan. Untuk Ronaldo ini menjadi momen yang menyedihkan. Ia kecewa tidak bisa tampil penuh di Piala Dunia pertamanya dan memperkuat timnya di laga tersebut. Ia tidak kuasa menahan kesedihan dan kekecewaannya pada saat itu. Air mata pun membasahi wajah Ronaldo sembari dirinya keluar lapangan.

Insiden Kedipan Mata

Meskipun begitu, Portugal untungnya masih bisa memenangkan laga tersebut dengan skor 1-0. Mereka pun berhak melaju ke quarter final untuk berjumpa dengan Inggris. Dan disini lah Ronaldo benar-benar jadi sorotan. Terutama bagi media Inggris. Bukan karena gol dan assistnya, tapi karena kontroversinya dengan rekan setim di Manchester, Wayne Rooney.

Di pertandingan itu, Wayne Rooney melakukan pelanggaran terhadap Ricardo Carvalho dan langsung mendapatkan kartu merah. Media di Inggris memanas-manasi dengan memberitakan bahwa kartu merah Rooney adalah hasil dari provokasi Ronaldo kepada wasit. Terlebih lagi Ronaldo terlihat mengedipkan mata ke arah teman-temannya di bangku cadangan ketika Rooney melangkah keluar lapangan.

Kehilangan satu pemain, apalagi Rooney membuat skuad Inggris bermain seperti singa yang ompong. Baik Inggris maupun Portugal tidak mampu mencetak gol di pertandingan tersebut. Akhirnya laga dilanjutkan ke babak adu penalti. Inggris hanya mampu menuntaskan satu tendangan. Sementara Portugal sukses mengeksekusi tiga penalti. Kebencian warga Inggris terhadap Ronaldo pun semakin besar. Apalagi Ronaldo adalah eksekutor pamungkas waktu itu.

Meskipun ofisial pertandingan memberikan klarifikasi bahwa kartu merah Rooney bukan dari provokasi siapapun. Namun, media sudah memunculkan drama di antara dua rekan setim itu. Padahal Ronaldo dan Rooney sudah saling bermaafan setelah pertandingan. Dan kemudian juga dijelaskan, kedipan mata Ronaldo itu juga bukan untuk merayakan kartu merah Rooney. Tapi Ronaldo ingin memberikan sinyal ke teman-temannya di bangku cadangan untuk tetap tenang.

Perubahan Ronaldo Setelah Piala Dunia

Sayangnya perjalanan debut Piala Dunia Ronaldo tidak terlalu jauh setelah insiden itu. Mereka kalah di semifinal menghadapi Prancis yang diperkuat Zidane. Lalu kembali kalah di perebutan juara ketiga melawan tuan rumah, Jerman. Tentu ini jadi momen menyedihkan bagi Ronaldo, mengulangi memori debut Piala Euronya dua tahun yang lalu. Ronaldo juga terbebani dengan kekecewaan pendukungnya, yang berharap lebih kepada bintang muda itu.

Namun, kekecewaan di dua turnamen berturut-turut merubah sesuatu dalam diri Ronaldo. Setelah kembali ke Manchester, ia terlihat lebih berotot dan fisiknya terlihat semakin kuat. Ketika pemain lain beristirahat dan menikmati musim panas setelah Piala Dunia berakhir, Ronaldo melatih otot-ototnya. Tidak hanya itu, Ronaldo juga menjadi sosok yang lebih dewasa ketika di lapangan. Ronaldo sudah mulai jarang melakukan trik-trik tidak penting di lapangan. Ia lebih fokus kepada jalannya pertandingan dan bermain bersama rekan-rekannya sebagai tim.

Ronaldo pun membuktikan kepada fans Inggris bahwa hubungannya dengan Rooney baik-baik saja. Dan insiden kedipan mata di Jerman itu tidak berpengaruh apa-apa terhadap performa mereka. Ronaldo dan Rooney malah menjadi pasangan penyerang yang paling mematikan di Liga Inggris. Pundi-pundi gol Manchester United tercipta dari dua pemain itu. Ronaldo dan Rooney menjadi pencetak gol terbanyak klub di musim 2006/07.

Sepulang dari Piala Dunia, Ronaldo bersama MU memenangkan tiga Liga Inggris berturut-turut dan juga berhasil meraih Piala Liga Champions. Sebelum akhirnya memutuskan untuk Pindah ke Real Madrid di musim setelahnya. Ronaldo pun memenangkan segalanya di ibu kota Spanyol itu. Ia menjadi legenda dan salah satu pemain terbaik yang pernah ada di generasi ini. Dan itu semua tidak lepas dari transformasi dan perjuangannya di Euro dan Piala Dunia pertamanya yang penuh dengan air mata.

 

Sumber referensi: Sporting, Footballtimes, Goal, FIFA, UEFA

Mengapa Buffon Jadi Penyebab Kartu Merah Zidane di Piala Dunia 2006?

Berjalan dengan kepala tertunduk ke lorong ruang ganti dalam kekalahan Prancis atas Italia di Final 2006. Itu adalah gambaran akhir perjalanan karir Zidane yang dipuja banyak orang bahkan sampai hari ini. Tentu bukan gambaran yang baik, tapi itu sudah kadung tertanam dalam ingatan banyak orang yang menyaksikan Piala Dunia 2006.

Kartu Merah Zidane

Tapi kenapa kita patut menyalahkan Buffon atas kartu merah yang diterima Zidane? Tentu, aktor utama dibalik kartu merah Zidane adalah Materazzi yang melakukan provokasi sehingga Zidane diusir keluar lapangan. Itu memang sudah diketahui semua orang, bahkan Materazzi mengakuinya sendiri. Dikutip dari wawancaranya dengan media Spanyol, AS Materazzi menjelaskan proses terjadinya insiden Zidane itu.

โ€œZidane mencetak gol pembuka untuk Prancis di laga itu, dan sejak saat itu saya ditugaskan oleh pelatih Marcelo Lippi untuk menjaganya. Ada beberapa kali kontak dengan Zidane tapi saya sempat meminta maaf. Lalu di bentrokan ketiga di antara kami, Zidane berkata โ€˜saya akan beri jersey saya ke anda nantiโ€™.

Disitu Materazzi membalas โ€œsaya lebih suka memakai adik perempuanmu daripada bajumuโ€. Tak butuh waktu lama bagi Zidane untuk memilih kekerasan setelah mendengar komentar kurang ajar itu. Dan tidak butuh waktu lama bagi wasit untuk memberikan kartu merah ke Zidane.

Jika ditengok kembali, mungkin Zidane pantas untuk marah atas apa yang keluar dari mulut kotor Materazzi pada saat itu. Tapi kita perlu melihat lebih dalam, apakah itu cukup untuk Zidane melakukan tindakan bodoh di pertandingan final Piala Dunia dan akhir karir profesionalnya? Zidane yang sudah bertahun-tahun bermain di level tertinggi bagi pesepak bola profesional tentu seharusnya sudah terbiasa dengan trash talk atau provokasi di atas lapangan dalam bentuk apapun.

Apa lagi Zidane adalah pemain yang berbeda. Menurut jurnalis sekaligus mantan atlet Inggris, Ed Smith yang menulis buku โ€˜What Sport Tell Us About Lifeโ€™, yang membedakan Zidane dengan orang lain adalah rasa kepastiannya berkat kepercayaan diri yang kuat. Zidane menjalani seluruh pertandingan Piala Dunia dengan rasa percaya diri yang kuat, sampai terasa seperti ia punya kemampuan mempengaruhi 21 pemain lain di lapangan.

Kenapa Buffon?

Kepercayaan diri Zidane itu bisa dilihat ketika ia mencetak gol penalti dengan cara panenka ketika laga baru berjalan 7 menit. Padahal gawang Buffon saat itu belum pernah tertembus sejak babak penyisihan grup. Tapi di pertandingan itu, Italia tidak mau tunduk dengan Zidane setelah Materazzi mencetak gol penyeimbang tak lama setelahnya.

Italia bahkan bisa unggul 2-1 jika saja gol Luca Toni tidak dianulir offside. Prancis juga tidak bisa menembus tembok kokoh Buffon di bawah mistar gawang Italia. Pertandingan harus dilanjutkan ke babak pertambahan waktu. Dan di babak pertambahan waktu ini, semuanya terjadi.

Zidane mendapatkan peluang emas di menit ke-103. Ia berada di ruang kosong ketika Willy Sagnol memberikan umpan silang ke arahnya. Zidane melompat dengan indahnya dan menyundul bola dengan mantap. Namun, sundulan Zidane itu berhasil diselamatkan dengan sangat baik oleh Buffon. Zidane jelas terlihat frustasi melihat kegagalannya itu.

Ia melepaskan rasa kecewanya dengan berteriak sekencang-kencangnya. Padahal Zidane dikenal sebagai pemain yang dingin, tenang, dan tanpa ekspresi. Ia bahkan tidak tersenyum ketika merayakan gol panenkanya di babak pertama.

Dituliskan juga oleh Ed Smith dalam bukunya, semakin besar keinginan seseorang untuk juara, semakin besar kekecewaannya jika gagal. Dan keinginan Zidane untuk meraih juara Piala Dunia di akhir karirnya itu sebesar kekecewaan yang berujung pada kartu merahnya itu. Disulut oleh komentar kotor soal adik perempuannya, Zidane melepaskan amarahnya dengan menyundul dada Materazzi. Hanya berselang enam menit dari aksi Buffon yang menggagalkan Zidane menjadi pahlawan Prancis di Piala Dunia 2006.

 

Sumber referensi: AS, Planet, FIFA

Masih Banyak PR! Ini Kronologi Perjalanan Timnas U-20 di Turki

Indonesia akan menjadi tuan rumah gelaran akbar Piala Dunia U-20 di tahun 2023 nanti. Ini jadi ajang penting munculnya generasi-generasi muda sepakbola dunia. Seperti Messi dan Aguero yang pernah menjuarai Piala Dunia U-20 bersama Argentina di tahun 2005. Untuk Indonesia sendiri, meskipun tidak menargetkan untuk juara ini bisa mengasah kemampuan garuda muda nantinya.

Tapi tentu saja, sebagai tuan rumah Indonesia tidak mau jadi bulan-bulanan negara lain. Atau hanya jadi negara penghibur yang perannya sebagai lumbung gol untuk tim nasional lainnya. Indonesia tetap punya ambisi untuk bisa melangkah sejauh mungkin. Untuk itu, garuda muda baru-baru ini menjalani pemusatan latihan di Turki.

Di sana mereka melakukan serangkaian uji coba guna mempersiapkan diri di Piala Dunia U-20 nanti. Selain itu juga akan mempersiapkan Piala Asia U-20 yang juga akan digelar tahun 2023. Dari empat laga uji coba yang sudah dilakukan, timnas meraih dua kemenangan, satu kali kalah, dan satu kali imbang.

Timnas 2-1 Cakallikli spor

Laga uji coba pertama timnas U-20 adalah melawan klub lokal Turki, Cakallikli Spor pada tanggal 24 Oktober lalu. Di pertandingan itu, timnas berhasil meraih kemenangan dengan skor 2-1. Gol skuad garuda muda di cetak oleh Ginanjar Wahyu di menit ke-17 lalu gol kedua dituntaskan oleh Ricky Pratama di menit ke-85. Kemenangan di pertandingan pertama mereka di Turki Ini tentu jadi hasil positif untuk timnas U-20.

Namun, Coach STY tetap memberikan beberapa Evaluasi pada pertandingan itu. Diantaranya adalah turning pass sebagai cara membangun serangan dari lini pertahanan. Kemudian hal yang perlu diperhatikan untuk timnas lainnya adalah kemampuan mereka dalam mengambil keputusan. Lalu yang terakhir adalah para pemain timnas harus meningkatkan skill bola mati.

Timnas 1-2 Turki u20

Dua hari setelah pertandingan pertama atau tepatnya pada tanggal 26 Oktober, Timnas U-20 menghadapi lawan yang jauh lebih sulit, yaitu timnas U-20 Turki. Di pertandingan tersebut anak asuh Shin Tae-yong harus menelan kekalahan dengan skor 2-1. Gol Dony Tri Pamungkas terasa sebagai gol hiburan saja karena diciptakan di penghujung laga ketika sudah tertinggal dua gol.

Dari pertandingan ini, Coach STY menilai timnas U-20 sudah ada peningkatan dari pertandingan sebelumnya. Di pertandingan ini, timnas muda bisa bermain apik di babak pertama. Meskipun begitu, STY mengungkapkan kalau lini depan timnas masih kurang tajam dan lini belakang sering kecolongan.

Timnas 3-1 Moldova

Kekalahan melawan timnas Turki dibayar tuntas oleh garuda muda di pertandingan selanjutnya. Mereka bisa menekuk timnas U-20 Moldova dengan skor 3-1. Setelah kebobolan terlebih dahulu, Indonesia berhasil comeback lewat gol Rabbani Tasnim di menit ke-58, Muhammad Ferarri di menit ke-73, dan gol dari Marselino Ferdinan di menit ke-79.

Dari pertandingan ini masih ada yang perlu diperbaiki oleh timnas U-20 Indonesia. Yaitu barisan pertahanan yang lemah dalam mengantisipasi bola mati. Itu juga lah yang membuat Indonesia sempat tertinggal lebih dulu.

Timnas 0-0 Moldova (leg 2)

Pertandingan melawan Moldova sendiri dilaksanakan sebanyak dua kali. Pertandingan kedua dilaksanakan pada Jumat kemarin. Kali ini Indonesia tidak mampu mengulangi kemenangan di pertandingan sebelumnya. Indonesia hanya mampu mengakhiri laga dengan skor kacamata.

Di pertandingan ini Coach STY melakukan beberapa perubahan formasi dengan merotasi para pemainnya. Namun, hasilnya tidak terlalu memuaskan. Indonesia mampu menguasai bola dan jalannya pertandingan, tapi tidak ada banyak peluang yang tercipta dari lini serang.

Dari serangkaian pertandingan uji coba timnas U-20 di Turki, Indonesia masih memiliki banyak PR yang harus diselesaikan sebelum gelaran Piala Dunia U20 dan Piala Asia U20. Timnas U-20 dikabarkan akan berangkat ke Spanyol untuk kembali menjalani pemusatan latihan dan kembali melakukan laga-laga uji coba di sana.

 

Sumber referensi: CNN, Tribun, Bola

Kisah Rindu Penantian AC Milan Lolos 16 Besar Liga Champions

Malam yang indah tercipta di San Siro ketika AC Milan meraih kemenangan besar 4-0 atas Salzburg. Berkat pembantaian itulah Rossoneri akhirnya berhak lolos ke 16 besar Liga Champions setelah menunggu 9 tahun lamanya.

Tak cuma sampai di situ, Il Diavolo Rosso musim ini pun telah mematahkan kutukan di kandang sendiri ketika bermain di Liga Champions. Pertanyaannya sekarang, apakah dengan beberapa pencapaian itu publik Milan sudah merasa puas? Lalu, sejauh mana sih mereka akan melangkah di Liga Champions musim ini?

Sejak Musim 2013/14

Layaknya sebuah rindu yang berkepanjangan, penantian Milan untuk lolos ke 16 besar Liga Champions ini memang sudah ditunggu cukup lama. Jika dirunut ke belakang, Rossoneri terakhir kali mencapainya di musim 2013/14.

Musim itu adalah masa terakhir Allegri sebagai pelatih Milan. Sebelum digantikan oleh Seedorf di awal tahun 2014. Musim itu, Milan masih dihuni pemain macam Essien, Robinho, Balotelli maupun Kaka.

Milan yang berada di Grup H bersama Barcelona, Ajax, dan Celtic berhasil lolos menjadi runner up grup di bawah Barcelona. Namun sayang, di babak 16 besar mereka dikandaskan Atletico Madrid asuhan Simeone dengan agregat mencolok 5-1.

Setelah musim itu, praktis milan terpuruk. Mereka kerap gonta-ganti pelatih dari Filippo Inzaghi, Mihajlovic, Montella, Gattuso, hingga Giampaolo. Hasilnya, Milan selalu absen dari peredaran ajang tertinggi benua biru tersebut.

Perubahan pun akhirnya terjadi di tubuh Milan sejak kedatangan Stefano Pioli pada Oktober 2019. Milan mengalami perubahan besar di bawah Pioli. Hasilnya pun baru diraih ketika di musim 2020/21. Publik Milan pun bersuka cita menyambut kembalinya tim kebanggaan mereka ke Liga Champions.

Tujuh tahun menanti. Milan di bawah Pioli mampu finish sebagai runner up di Serie A. Publik Milan musim lalu kembali mendengarkan kumandang anthem khas Liga Champions. Namun, kumandang anthem itu tak berlangsung lama di telinga publik Milan.

Pasalnya pasukan Pioli yang tergabung di Grup B bersama Atletico Madrid, Liverpool, dan Porto hanya mampu duduk sebagai juru kunci grup. Milan gugur. Pelampiasan rindu 9 tahun belum sempurna.

Nah, barulah di musim ini, Milan yang dibawa Pioli meraih Scudetto Serie A musim lalu berhasil menebus rindu yang teramat lama itu dengan lolos ke babak 16 besar. Meskipun di babak grup mereka hanya lolos sebagai runner up di bawah Chelsea.

Hilangnya Kutukan Setelah 9 Tahun

Selain rindu lolos ke 16 besar yang sudah kesampaian, Milan ternyata masih juga belum mengakhiri kutukan. Terutama kutukan main di kandang sendiri di Liga Champions.

Terakhir Milan bisa menang di kandang sendiri pada 18 September 2013. Ketika Milan menaklukkan Celtic 2-0. Setelah itu, mereka selalu kesulitan. Bahkan di musim lalu saja, mereka selalu gagal menang di kandang. Dua kali kalah lawan Atletico Madrid dan Liverpool. Milan juga hanya bermain seri lawan Porto.

Barulah musim ini kutukan itu terpatahkan. Kutukan itu sirna pada 14 September 2022 ketika Milan berhasil mengandaskan Dinamo Zagreb 3-1. Bahkan tren kemenangan itu berlanjut pada Matchday terakhir yang mengantarkan mereka lolos ke 16 besar saat membantai Salzburg.

Rekor Buruk dan PR Milan Di 16 Besar

Publik Milan boleh merasa lega karena kutukan yang selama ini menghinggapi mereka telah sirna. Namun jangan senang dulu, karena pencapaian mereka ini masih belum sempurna. Masih banyak PR yang harus dibereskan. Terutama ketika menghadapi tim-tim besar yang sepadan.

Contohnya ketika mereka di musim lalu tak mampu menang ketika menghadapi tim besar macam Atletico Madrid maupun Liverpool. Musim ini saja mereka dua kali dipecundangi Chelsea.

Kemenangan terakhir Milan atas klub besar tercatat ketika mereka mampu membungkam Barcelona 2-0 di San Siro pada babak 16 besar musim 2021/13. Namun kemenangan itu tak serta merta mampu meloloskan Milan. Karena di leg 2 di โ€œcomebackโ€ oleh Barca 4-0.

Terakhir kali Milan mampu lolos dari 16 besar terjadi di musim 2011/12. Saat itu kelolosan Milan ke perempat final diraih setelah kemenangan agregat atas Arsenal dengan agregat 4-3.

Itulah pencapaian tertinggi terakhir Milan di Liga Champions. Pasalnya mereka di musim-musim berikutnya selalu gagal di fase 16 besar. Di musim 2012/13 mereka terhenti oleh Barcelona. Dan di musim 2013/14 terhenti oleh Atletico Madrid.

Rekor mereka di fase 16 besar pun termasuk buruk. Artinya terakhir kali mereka mencapainya 11 tahun yang lalu. Nah, pertanyaannya apakah musim ini mereka mampu mengulangi cerita pencapaiannya di musim 2011/12 itu?

Skuad, Ambisi Pioli, Serta Sejauh Mana Milan Akan Melangkah

Jawabannya bisa jadi. Alasannya karena Milan di musim ini lebih komplit dan matang secara skuad. Tak ketinggalan pula ambisi pelatih mereka Stefano Pioli yang berjanji akan mengulangi cerita indah kejayaan Milan di masa lalu. Ditambah kontrak baru Pioli sampai 2025 juga menjadi pemantik.

Namun tunggu dulu, itu semua bisa terwujud asalkan kedalaman skuad akan baik-baik saja setelah Piala Dunia nanti. Plus tergantung siapa yang akan dihadapinya di 16 besar. Milan yang finis sebagai runner up grup harus berjumpa salah satu dari tim juara grup. Yang artinya ada banyak tim besar di sana yang menunggu, macam Munchen, PSG, Spurs, Madrid, Napoli, maupun Manchester City.

Namun siapa pun yang akan dihadapi Milan di babak 16 besar, kompetensi skuad andalan Pioli ketika menghancurkan Zagreb dan Salzburg di babak grup dengan skor besar, menjadi gambaran sekaligus modal. Meskipun banyak dilanda cedera, Milan mampu menjaga performa dengan kedalaman skuad yang mumpuni.

Pakem 4-2-3-1 Pioli musim ini pun lebih matang seiring tak banyak perombakan pemain yang terjadi. Hanya saja, mereka berharap pemain pilarnya yang cedera macam Maignan, Calabria maupun Ibrahimovic bisa sembuh tepat waktu setelah Piala Dunia. Dan jangan lupa juga berdoa supaya tak ada lagi daftar antrian cedera parah yang melanda jelang digulirkannya babak 16 besar nanti di bulan Februari.

Dengan berakhirnya kutukan mereka, maupun rindu yang terbayar ke 16 besar, publik Milan nampaknya patut untuk sesaat merasakan luapan suka citanya ini. Namun jangan terlalu lama, PR besar menanti di 16 besar. Dengan skuad sekarang ini, serta motivasi lebih seperti, apakah mereka mampu mengulangi pencapaian mereka pada musim 2011/12 ketika melangkah ke 8 besar? Patut untuk dinanti.

https://youtu.be/225QXVrsDpc

Sumber Referensi : theathletic, sempremilan, dailymail