Berjalan dengan kepala tertunduk ke lorong ruang ganti dalam kekalahan Prancis atas Italia di Final 2006. Itu adalah gambaran akhir perjalanan karir Zidane yang dipuja banyak orang bahkan sampai hari ini. Tentu bukan gambaran yang baik, tapi itu sudah kadung tertanam dalam ingatan banyak orang yang menyaksikan Piala Dunia 2006.
Kartu Merah Zidane
Tapi kenapa kita patut menyalahkan Buffon atas kartu merah yang diterima Zidane? Tentu, aktor utama dibalik kartu merah Zidane adalah Materazzi yang melakukan provokasi sehingga Zidane diusir keluar lapangan. Itu memang sudah diketahui semua orang, bahkan Materazzi mengakuinya sendiri. Dikutip dari wawancaranya dengan media Spanyol, AS Materazzi menjelaskan proses terjadinya insiden Zidane itu.
Gianluigi Buffon conceded two goals at the 2006 World Cup.
The first was an own goal in a group stage game. The second was a penalty by Zinedine Zidane in the final match.
Iconic. pic.twitter.com/GvpPlTjG1o
— SPORTbible (@sportbible) July 22, 2022
“Zidane mencetak gol pembuka untuk Prancis di laga itu, dan sejak saat itu saya ditugaskan oleh pelatih Marcelo Lippi untuk menjaganya. Ada beberapa kali kontak dengan Zidane tapi saya sempat meminta maaf. Lalu di bentrokan ketiga di antara kami, Zidane berkata ‘saya akan beri jersey saya ke anda nanti’.
Disitu Materazzi membalas “saya lebih suka memakai adik perempuanmu daripada bajumu”. Tak butuh waktu lama bagi Zidane untuk memilih kekerasan setelah mendengar komentar kurang ajar itu. Dan tidak butuh waktu lama bagi wasit untuk memberikan kartu merah ke Zidane.
Zinedine Zidane’s red card after a headbutt on Marco Materazzi in 2006 World Cup Final which ended up being his last ever career game pic.twitter.com/8MQWbeoE5e
— Iconic World Cup Moments (@WorldCupIconic) September 30, 2022
Jika ditengok kembali, mungkin Zidane pantas untuk marah atas apa yang keluar dari mulut kotor Materazzi pada saat itu. Tapi kita perlu melihat lebih dalam, apakah itu cukup untuk Zidane melakukan tindakan bodoh di pertandingan final Piala Dunia dan akhir karir profesionalnya? Zidane yang sudah bertahun-tahun bermain di level tertinggi bagi pesepak bola profesional tentu seharusnya sudah terbiasa dengan trash talk atau provokasi di atas lapangan dalam bentuk apapun.
Apa lagi Zidane adalah pemain yang berbeda. Menurut jurnalis sekaligus mantan atlet Inggris, Ed Smith yang menulis buku ‘What Sport Tell Us About Life’, yang membedakan Zidane dengan orang lain adalah rasa kepastiannya berkat kepercayaan diri yang kuat. Zidane menjalani seluruh pertandingan Piala Dunia dengan rasa percaya diri yang kuat, sampai terasa seperti ia punya kemampuan mempengaruhi 21 pemain lain di lapangan.
Kenapa Buffon?
Kepercayaan diri Zidane itu bisa dilihat ketika ia mencetak gol penalti dengan cara panenka ketika laga baru berjalan 7 menit. Padahal gawang Buffon saat itu belum pernah tertembus sejak babak penyisihan grup. Tapi di pertandingan itu, Italia tidak mau tunduk dengan Zidane setelah Materazzi mencetak gol penyeimbang tak lama setelahnya.
Zidane panenka in the 2006 #WorldCup final against Italy#Qatar2022 pic.twitter.com/g2E7XdNDVn
— Iconic world cup moments (@IconicWorldCup) November 3, 2022
Italia bahkan bisa unggul 2-1 jika saja gol Luca Toni tidak dianulir offside. Prancis juga tidak bisa menembus tembok kokoh Buffon di bawah mistar gawang Italia. Pertandingan harus dilanjutkan ke babak pertambahan waktu. Dan di babak pertambahan waktu ini, semuanya terjadi.
Zidane mendapatkan peluang emas di menit ke-103. Ia berada di ruang kosong ketika Willy Sagnol memberikan umpan silang ke arahnya. Zidane melompat dengan indahnya dan menyundul bola dengan mantap. Namun, sundulan Zidane itu berhasil diselamatkan dengan sangat baik oleh Buffon. Zidane jelas terlihat frustasi melihat kegagalannya itu.
Buffon denies Zidane in extra time in World Cup Final 2006
What a save, incredible 🔥🔥
Buffon is one of the greatest goalkeepers 💙💙
🇫🇷 🇮🇹
— Jerry Mancini (@jmancini8) September 22, 2022
Ia melepaskan rasa kecewanya dengan berteriak sekencang-kencangnya. Padahal Zidane dikenal sebagai pemain yang dingin, tenang, dan tanpa ekspresi. Ia bahkan tidak tersenyum ketika merayakan gol panenkanya di babak pertama.
Dituliskan juga oleh Ed Smith dalam bukunya, semakin besar keinginan seseorang untuk juara, semakin besar kekecewaannya jika gagal. Dan keinginan Zidane untuk meraih juara Piala Dunia di akhir karirnya itu sebesar kekecewaan yang berujung pada kartu merahnya itu. Disulut oleh komentar kotor soal adik perempuannya, Zidane melepaskan amarahnya dengan menyundul dada Materazzi. Hanya berselang enam menit dari aksi Buffon yang menggagalkan Zidane menjadi pahlawan Prancis di Piala Dunia 2006.


