Ketika pertama kali ditunjuk, Christophe Galtier meragukan. Mantan pelatih Lille yang, sekalipun bisa membawa tim itu juara Ligue 1, tetap kurang meyakinkan untuk bisa menangani PSG. Klub mewah yang dihuni para bintang. Itu baru soal klub yang mewah, lalu bagaimana dengan pengalaman?
Secara pengalaman, Galtier tidak seperti pelatih PSG sebelumnya, Mauricio Pochettino yang pernah menginjakkan kaki ke final Liga Champions. Jadi penunjukan Galtier dengan PSG yang selalu dituntut meraih Si Kuping Besar, tidak masuk akal.
Namun, Galtier pelan-pelan membuktikan bahwa dirinya layak diperhitungkan. Paris Saint-Germain tampil luar biasa di awal musim ini. Terlepas dari PSG yang dipenuhi pemain bintang, secara permainan Les Parisiens sangat hidup.
Daftar Isi
Tim yang Belum Terkalahkan
Sekurang-kurangnya, sampai video ini dibuat, Paris Saint-Germain belum terkalahkan. Les Parisiens seperti biasa, bermain selayaknya penguasa Liga Prancis. PSG belum terkalahkan dalam 14 laga di Liga Prancis. Mereka menang di 12 laga dan sisanya menelan hasil imbang.
Tidak hanya itu, PSG juga menjadi tim yang sangat produktif di Ligue 1. Dari 14 laga, Les Parisiens sudah mencetak 38 gol dan hanya kemasukan 9 gol saja. Itu baru di liga domestik. PSG juga belum tersentuh kekalahan di Liga Champions.
PSG kini menjadi satu-satunya Klub yang belum terkalahkan di Top 5 Liga di Eropa musim ini.
Kelas Messi Cs!✊🏼🥶 pic.twitter.com/FtfWA8bYgC
— Fakta Bola ⚽ (@FaktaSepakbola) November 2, 2022
Dari 6 laga yang sudah dimainkan PSG di fase grup, 4 kali mereka menang dan sisanya berakhir imbang. Meski hanya finis di posisi kedua di Grup H, catatan ini jelas lebih bagus dari musim sebelumnya. Sebab pada musim 2021/22, saat dilatih Pochettino PSG menelan satu kekalahan di fase grup.
Tuntutan Juara UCL, Galtier: Tak Peduli
Bagi PSG, tentu sangat mudah untuk mencetak gol banyak di liga domestik. Pun begitu, Les Parisiens tentu saja sangat mudah untuk sekadar meraih titel liga. Seperti itulah pendapat-pendapat yang biasanya muncul dari para pembenci Paris Saint-Germain.
Namun, hal itu tidak sepenuhnya salah. Sebagai klub raksasa yang bertabur bintang, titel kompetisi domestik saja belum cukup. Apalagi dari semua tim di Liga Prancis, PSG menjadi tim dengan skuad paling mewah sendiri. Ya, malu dong kalau nggak juara?
Maka dari itu, Liga Champions selalu menjadi target PSG. Les Parisiens setiap tahunnya dituntut untuk mengangkat Si Kuping Besar. Karena mungkin saja cuma trofi itulah yang membuat PSG layak disebut sebagai tim kuat. Belum lagi, dari dulu PSG sangat kesulitan untuk meraih Liga Champions.
Paris Saint-Germain presentó al francés Christophe Galtier como su nuevo DT, tras la salida de Mauricio Pochettino; el ex Lille y Nice firmó contrato hasta 2024 con su objetivo central en ganar la ansiada UEFA Champions League para el club #PSG #Galtier #ParisSaintGermain pic.twitter.com/2ScyBvoDuy
— Futbol League Press (@FutboLPress_) July 5, 2022
PSG pernah menginjakkan kaki ke final saat ditukangi Thomas Tuchel. Tapi ketika itu PSG takluk oleh Bayern Munchen asuhan Hansi Flick. Setelah itu, Les Parisiens tertatih-tatih. Musim lalu mereka dihentikan langkahnya oleh raja Eropa, Real Madrid.
Sayangnya, Christophe Galtier bukan sosok pelatih yang kelawat ambisius. Ia tahu timnya selalu dituntut juara Liga Champions. Tapi Galtier sadar diri. Ia paham Liga Champions bukan kompetisi yang mudah. Segalanya sulit diprediksi. Jadi Galtier memilih tidak terlalu mengincar Liga Champions.
“Meski begitu, saya tahu pihak manajemen dan klub selalu mengusahakannya (trofi Liga Champions) dengan segala cara,” kata Christophe Galtier melalui laman resmi PSG seperti dikutip Liga Olahraga.
Taktik Galtier Aduhai
Kalau boleh jujur, walaupun kelak juara Liga Champions atau tidak, permainan Les Parisiens hari ini sangat menghibur. Kehadiran Lionel Messi mungkin jadi faktornya. Tapi musim lalu Messi juga sudah ke Parc des Princes. Jadi apa dong yang membedakan?
Musim lalu permainan Messi tidak terlihat. Ia senyap di balik taktik Mauricio Pochettino yang gitu-gitu saja. Sementara, Messi mulai bersinar lagi di bawah komando Christophe Galtier. Taktik Galtier, diakui atau tidak, mengubah paradigma baru di tubuh PSG, bukan cuma Messi.
Galtier adalah sosok pelatih tenang. Taktiknya kerap berevolusi. Itulah mengapa ia pernah sukses menggulingkan dominasi PSG dan membawa Lille juara Ligue 1. Pelatih berpaspor Prancis itu punya pendekatan yang berbeda untuk PSG.
Christophe Galtier menggunakan skema tiga bek. Itu pun taktik yang juga tidak lepas dari peran direktur olahraga PSG. Luis Campos ingin Les Parisiens memakai skema 3-5-2. Dan Galtier menjawab permintaan itu. Namun, ia tidak menerimanya begitu saja.
Sekali waktu Galtier memang memakai format tersebut. Tapi beberapa kali ia berinovasi. Kadang formasi Galtier berubah menjadi 3-5-2, 3-4-3, atau 3-4-2-1. Yang terakhir jadi formasi yang sering dipakai, walaupun kadang Galtier memakai dua striker di depan dengan satu gelandang serang.
🚨NEW YOUTUBE VIDEO OUT!!!!!!!!!
PSG’S CHRISTOPHE GALTIER’S NEW 433 FORMATION EXPLAINEDhttps://t.co/ZerWqkzBPR pic.twitter.com/8neUzOmPN9
— 𝐏𝐒𝐆𝐈𝐍𝐓 (@PSGINT_) October 18, 2022
Karena punya trisula maut, Christophe Galtier juga mencoba formasi 4-3-3. Tentu saja dengan memasang Kylian Mbappe, Neymar, dan La Pulga di lini depan. Gaya permainan Galtier cenderung pragmatis. Beberapa kali Galtier meminta para pemainnya untuk menarik pemain lawan keluar dari sarang.
Cara itu digunakan agar lawan melakukan tekanan ke pertahanan PSG. Dengan kualitas lini tengah yang bermutu, ditambah seorang Lionel Messi, PSG bisa mengubah tekanan itu menjadi serangan balik yang berbahaya.
Terlebih dengan menekan, otomatis lawan akan meninggalkan ruang kosong, di situlah pemain seperti Mbappe atau bek sayap Nuno Mendes masuk. Dengan begitu pertahanan lawan bakal kelabakan.
Tahu yang Terbaik untuk Pemain
Salah satu kelebihan Galtier adalah tahu yang terbaik untuk para pemainnya. Galtier memang kerap menempatkan Mbappe sebagai striker. Kadang bersama Neymar maupun berduet dengan La Pulga. Kendati begitu, Galtier membebaskan Mbappe.
Galtier tahu sang bos kecil sangat nyaman bermain di sisi sayap. Jadi meski berposisi sebagai penyerang, Kylian Mbappe tak jarang melakukan penetrasi di sisi fullback lawan. Pergerakan itu bisa sangat menunjang kekuatan Mbappe untuk menjadi mesin gol.
Messi is 35 and he is still yet to show signs of decline — not only is he scoring goals this season, but he is very well involved in other PSG goals too. Both, as a goal scorer and playmaker, he’s just brilliant to watch as always. pic.twitter.com/Do486fyzng
— Ⓜ️OH_Ⓜ️IND (@Ultimate959) October 26, 2022
Sementara itu, Lionel Messi kembali memegang peran sebagai playmaker. Di tangan Galtier, La Pulga permainannya hidup kembali. Meski ditaruh di depan, Messi tak malas untuk turun ke belakang. Galtier dalam hal ini berhasil mengendalikannya.
Galtier menyulap Lionel Messi jadi jenderal di lapangan. La Pulga adalah orang yang bisa mengatur pola permainan PSG. Meski kalau kita menonton PSG, Messi seperti tidak niat bermain. Tapi memang begitulah gaya main playmaker.
Neymar Jr. has started the new PSG season in great form under Galtier. 5 goals + 3 assists in 3 games in all comps. Music also to coach Tite’s ears. Here’s my favorite highlight tho. This nutmeg from the weekend: 🤩pic.twitter.com/VXwlM7sQq2
— Luis Miguel Echegaray (@lmechegaray) August 16, 2022
Untuk Neymar, Galtier membebaskannya mencari ruang. Pemain Brasil itu bisa dengan cakap menjadi alternatif ketika Mbappe mandul. Atau ia juga bisa menjadi opsi untuk membangun kreativitas serangan di lini depan. Yang ajaib, oleh Galtier, Neymar juga diminta bertahan dan sang pemain ternyata mau melakukannya.
Pembelian yang Tepat
PSG sudah tidak kelap-kelip lagi musim ini. Pembelian mereka tidak mewah, tapi tepat untuk kebutuhan tim. Misalnya, Fabian Ruiz dan Vitinha. Dua pemain itu memperkuat lini tengah PSG. Khusus Vitinha, ia bisa bergerak lebih tinggi.
Verratti and Vitinha + Neymar and Messi is unfair. Just a quick example
— helner (@_Helner) October 5, 2022
Vitinha adalah sosok yang menstabilkan lini tengah PSG. Ketika ia naik, pemain gelandang lainnya, Verratti bisa lebih leluasa dalam mengontrol bola. Selain itu, Vitinha juga sosok yang sering bekerja sama dengan Messi. Kedua pemain kerap bergantian perannya.
Jika Vitinha naik, Messi yang akan turun untuk menerima bola. Kalau Messi naik dan berhasil menarik bek lawan, ruang kosong yang tercipta dimanfaatkan Vitinha. Sedangkan Fabian Ruiz juga kerap menarik pemain lawan untuk menciptakan ruang bagi Lionel Messi menguasai permainan.
Pandai Mengelola Pemain
Selain soal taktik, Christophe Galtier juga punya reputasi pandai mengelola pemain. Itu mulai dibuktikan di PSG. Galtier bisa “menaklukkan” para pemain bintang seperti trisula mautnya. Menurut majalah L’Equipe seperti dikutip media BUT!, Lionel Messi bahkan menghormati metode yang dipakai Galtier.
🎥 | Christophe Galtier having a chat with Leo Messi in training ❤️💙 pic.twitter.com/Va5A09CBIp
— PSG Chief (@psg_chief) July 30, 2022
Messi tampak puas dan tidak sering protes kepada Galtier. Hal itu berbeda ketika bersama Pochettino musim lalu. Gaya manajemen Galtier ini juga dipuji mantan anak asuhnya, Pierre Emerick-Aubameyang. Sang pemain pernah terus diberi tekanan oleh Galtier untuk mencetak gol saat bermain di Saint-Etienne.
Pelatih top seperti Jose Mourinho, Thomas Tuchel, sampai Carlo Ancelotti juga memuji gaya manajemen Galtier. Don Carlo tak keberatan mengatakan Galtier pelatih hebat karena bisa mengangkat martabat Saint-Etienne. Sementara Tuchel menyebut Galtier sangat kuat melatih, ia pun menaruh hormat padanya.
https://youtu.be/Yu3shv8q4zk
Sumber: NewsWorldTick, DailyMail, GFNF, DailyMail2, TheAnalyst, Sportsbrief, BFC, LigaOlahraga, TheFalseFullback


