Beranda blog Halaman 457

Kisah Tragis Lopetegui: Dipecat Spanyol Sebelum Pildun, Hancur di Real Madrid

Bagaimana perasaan seorang pelatih yang akan menjalani debutnya di Piala Dunia, tapi malah dipecat hanya dua hari sebelum kick-off pertama Piala Dunia dimulai? Itulah yang dirasakan Julen Lopetegui, mantan pelatih tim nasional Spanyol. Kisah tragis itu terjadi saat gelaran Piala Dunia 2018.

Lopetegui dikabarkan menyetujui kontrak bersama Real Madrid tanpa memberi tahu federasi sepakbola Spanyol. Padahal ia masih menangani La Furia Roja di Piala Dunia 2018. Presiden federasi sepakbola Spanyol, Luis Rubiales ternyata sangat tidak suka dengan kabar itu. Tanpa banyak kata, ia pun mendepak Lopetegui dari kursi kepelatihan Spanyol. Padahal Piala Dunia 2018 dimulai dua hari setelahnya.

Awal Karir Lopetegui Sebagai Pelatih Tim Matador

Jika ditarik mundur ke belakang, Lopetegui bisa dibilang pelatih yang menjanjikan bagi Spanyol. Ia sempat meraih kejayaan ketika menjadi pelatih tim nasional Spanyol U-19 dan U-21. Bersama dengan tim nasional Spanyol U-19 yang diperkuat Kepa Arrizabalaga dan Saul, ia mampu meraih gelar juara European Championship pada tahun 2012.

Ia juga sempat melatih David de Gea, Koke, Rodrigo, dan Thiago di skuad U-21. Bersama mereka, Lopetegui sukses menaklukan Euro U-21 pada tahun 2013. Dari turnamen itu juga tumbuh pemain-pemain berbakat Spanyol lainnya seperti Dani Carvajal, Morata, dan Isco. Setahun setelahnya, atau tepatnya pada tahun 2014 Lopetegui memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya di tim nasional Spanyol.

Lopetegui mendapatkan kesempatan baru di Portugal untuk melatih FC Porto. Di musim 2014/15, Lopetegui berhasil membawa Porto sampai ke perempat final Liga Champions. Itu bukan prestasi yang terlalu buruk. Apalagi selama ia menjabat sebagai manajer Porto, ia mencatatkan 53 kemenangan, 16 imbang dan hanya 9 kali kalah.

Namun, kekalahan yang diderita Porto saat itu seringkali merupakan pertandingan – pertandingan penting. Lopetegui pun dipecat pada awal tahun 2016. Ia dianggap tidak bisa bersaing dengan Benfica pada perebutan juara Liga Portugal musim 2015/16.

Menjadi Pelatih Tim Senior Spanyol

Awan gelap hasil pemecatannya di Porto tidak terlalu lama menyelimuti Lopetegui. Di tahun 2016, ia menerima tawaran yang tidak mungkin ia tolak. Yaitu menjadi pelatih tim nasional senior Spanyol, menggantikan Vicente del Bosque yang memutuskan untuk pensiun.

Tugas Lopetegui tidak hanya menggantikan Vicente del Bosque, tapi juga mengembalikan kehormatan Spanyol. Pasalnya di akhir era Vicente del Bosque, Spanyol mengalami rekor yang tidak bisa dibanggakan. Mereka kalah melawan Italia lewat babak adu penalti di babak semifinal Euro 2016. Spanyol juga sebelumnya secara memalukan kalah 5-1 melawan Belanda dan tidak bisa lolos babak penyisihan grup di Piala Dunia 2014.

Lopetegui jelas tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Dan di bawah kepemimpinan Lopetegui sebagai pelatih, Spanyol kembali menjadi tim yang ditakuti di Eropa. Di tahun 2016, Spanyol meraih 4 kemenangan dan dua kali imbang dalam 6 pertandingan.

Catatan Spanyol di babak kualifikasi Piala Dunia 2018 pun menakjubkan. Dari 10 pertandingan kualifikasi, Spanyol meraih sembilan kemenangan dan hanya satu kali imbang. Lopetegui belum pernah sekalipun mengalami kekalahan bersama Spanyol.

Dipecat Sebelum Piala Dunia 2018

Hasil impresif di pertandingan kualifikasi menjadikan La Furia Roja sebagai tim unggulan Piala Dunia 2018. Para pendukung akhirnya akan bisa mengobati luka mereka dari penampilan memalukan Spanyol di Piala Dunia 2014. Lopetegui pun mendapat sorotan, ia mampu merubah wajah Spanyol di waktu yang tepat.

Prestasi apik Lopetegui sebelum Piala Dunia itu juga tidak luput dari perhatian Real Madrid. El Real sedang berada pada mode panik saat itu. Mereka baru saja ditinggal Zinedine Zidane sebagai pelatih hanya beberapa setelah mereka menjuarai Liga Champions. Madrid pun dituntut harus cepat menemukan pelatih baru. Dan ketika mereka mendapatkan pelatih yang dianggap cocok, Los Blancos tidak mau menunggu lebih lama lagi.

Real Madrid memberikan tawaran kepada Lopetegui padahal dirinya sedang mempersiapkan Spanyol untuk pertandingan pertama Piala Dunia 2018. Rubiales, yang baru saja menduduki kursi presiden federasi sepakbola Spanyol saat itu meminta Real Madrid untuk bersabar dan menunggu sebentar lagi. Tapi Los Merengues menolak, mereka tidak bisa menunggu lebih lama lagi dan ingin segera mendapatkan tanda tangan Lopetegui.

Rubiales pun berusaha menelpon Lopetegui tapi terlambat. Lopetegui ternyata sudah berhubungan dengan pihak Real Madrid terlebih dahulu dan menyetujui untuk tanda tangan kontrak selama tiga tahun di Bernabeu. Mendengar kabar itu Rubiales naik pitam. Keesokan harinya, ia mengumumkan pemecatan Lopetegui.

Rubiales berdalih ia harus mengambil keputusan itu untuk mempertahankan prinsip yang ia pegang. Ia tidak bisa menerima fakta bahwa pelatih tim nasional melakukan kesepakatan kontrak dengan klub lain tanpa persetujuan darinya. Bagi banyak orang, keputusan ini dianggap langkah yang gegabah.

Para pemain tentu saja tidak bisa menerima keputusan itu. Terutama Sergio Ramos yang paling depan membela Lopetegui. Ramos berkata bahwa tawaran menjadi pelatih di klub sebesar Real Madrid akan sulit untuk ditolak siapapun. Pelatih manapun akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi Lopetegui.

Pengorbanan Sia-sia Spanyol

Namun, keputusan Rubiales sudah bulat. Ia tetap memecat Lopetegui dan rela menanggung resiko apapun kedepannya. Lopetegui langsung meninggalkan pusat pelatihan tim Spanyol di Rusia, langsung menuju ke kota Madrid. Keesokan harinya, Real Madrid secara resmi memperkenalkan Lopetegui sebagai pelatih baru mereka. Dengan sedikit kesedihan terpancar dari matanya, Lopetegui mengatakan “Kemarin adalah hari paling menyedihkan bagi saya, hari ini adalah hari yang paling membahagiakan” Ungkapnya.

Lopetegui tentu senang bisa melatih tim sebesar Real Madrid. Ia berpikir kesempatan untuk menjadi pelatih los blancos tidak akan datang dua kali. Karena itu pula ia berani untuk menerima tawaran Real Madrid meskipun tanpa restu dari presiden federasi. Meskipun ia tidak menyangka konsekuensinya akan sebesar langsung dipecat, tapi setidaknya ia menganggap itu pengorbanan yang pantas. Atau setidaknya itu yang ia kira.

Di tempat lain, Spanyol memperkenalkan Fernando Hierro sebagai pelatih pengganti Lopetegui di Piala Dunia 2018. Hierro sebelumnya adalah direktur olahraga timnas Spanyol. Hierro tentu sebenarnya tidak ingin menerima tanggung jawab sebesar ini. Apalagi saat itu ia hanya punya satu tahun pengalaman sebagai pelatih. Itu pun di tim divisi kedua, Real Oviedo.

Spanyol beruntung bisa lolos grup hanya dengan satu kemenangan 1-0 melawan Iran. Untungnya mereka bisa menahan imbang Maroko dan Portugal di babak penyisihan grup. Tapi dengan segala kesemrawutan Spanyol pada saat itu, tinggal menunggu waktu untuk tim matador jatuh. Dan benar saja, perjalanan mereka terhenti setelah kalah adu penalti dari tim tuan rumah, Rusia di babak 16 besar.

Pengorbanan Sia-sia Lopetegui

Sementara itu bagi Lopetegui, ia akan menyadari bahwa mau sesukses apapun menjadi pelatih Real Madrid pasti tidak jauh dari penyesalan dan rasa pahit juga. Ekspektasi yang begitu besar dari sebuah klub yang sebesar Real Madrid memang tidak mudah untuk dibendung siapapun.

Real Madrid dibawah asuhan Lopetegui menjadi tim yang menyakitkan untuk ditonton. Los Blancos bahkan dibantai Barcelona dengan skor memalukan 5-1 di Camp Nou. Dan itu adalah kekalahan kelima mereka di awal musim. Lopetegui lebih banyak mengalami kekalahan daripada meraih kemenangan. Tidak ada lima bulan ia menjabat di El Real, ia pun dibuang. Ia dilabeli sebagai pelatih terburuk Real Madrid sepanjang masa.

Lopetegui dipecat dengan tidak hormat. Ia dibuang begitu saja, tidak ada penjelasan maupun press conference dari presiden klub. Yang ada hanya pernyataan bahwa dirinya sudah dipecat. Jika diingat kembali, begitu tragis nasib Lopetegui ini. Tidak ada jarak setengah tahun, dirinya dua kali kehilangan pekerjaan yang diidam-idamkan para pelatih di seluruh dunia.

Setahun setelahnya, atau tepatnya pada bulan Juni 2019 ia diangkat sebagai pelatih Sevilla. Disini dirinya bisa mendapatkan kesempatan untuk mengembalikan kehormatannya lagi. Di musim pertamanya, Ia mampu membawa Sevilla masuk zona Liga Champions. Dan musim setelahnya lagi, Lopetegui memberikan gelar juara Europa League setelah mengalahkan Inter Milan di Final.

Lopetegui lalu setuju untuk menandatangani perpanjangan kontrak selama dua tahun lagi pada musim 2021. Namun, pada tahun 2022 dirinya dipecat setelah dibantai Borussia Dortmund dengan skor 4-1 di Liga Champions ditambah hasil buruk yang diterima Sevilla pada awal musim.

 

Sumber referensi: Sky, Guardian, Athletic, UEFA

Kembali Beraksi! Kroos Langsung Cetak Gol Tendangan Roket dan Jadi MVP

Kemenangan atas Cadiz merupakan hal yang sangat penting bagi Real Madrid saat ini. Pasalnya Los Blancos membutuhkan poin maksimal untuk bisa mempersempit jarak dengan rivalnya, Barcelona yang sekarang masih memimpin klasemen La Liga. Meskipun di pertandingan ini Benzema masih belum bisa diturunkan, namun bukan berarti El Real tidak tampil maksimal. Pasalanya sang gelandang andalan, Toni Kroos diturunkan di pertandingan itu.

Turunnya Kroos ke lapangan tentu membuat daya gedor Real Madrid semakin berdaya. Mengingat Cadiz yang memang bermain dengan sangat bertahan di pertandingan tersebut. Namun, Cadiz hampir secara mengejutkan membuka skor kalau saja tendangan dari Alfonso Espino tidak hanya membentur tiang.

Toni Kroos mulai beraksi di menit ke-40. Ia mengirimkan umpan yang sangat cantik tepat ke atas kepala Militao. Dengan mudah Militao menyundul bola ke gawang yang kosong sekaligus memecah kebuntuan menjadi 1-0 untuk Real Madrid. Pasukan Carlo Ancelotti bisa mempertahankan papan skor tidak berubah sampai turun minum.

Kroos Tumpuan Madrid

Masuk ke babak kedua, Los Blancos masih bisa bermain dengan tenang dan mengendalikan jalannya pertandingan. Sebelum akhirnya di menit ke-70, Toni Kroos melepaskan tendangan roketnya yang tidak bisa dibendung oleh Jermais Ledesma. Papan skor berubah menjadi 2-0, memantapkan keunggulan Real Madrid.

Luka Modric punya peluang untuk mencetak gol ketiga Real Madrid di pertandingan itu menyusul umpan silang mendatar yang sempurna dari Vinicius Jr. Tapi sayang justru Cadiz yang mampu mencetak gol hiburan di menit ke-81. Tendangan jarak jauh Theo Bongonda tidak mampu diamankan Courtois dan Lucas Perez bisa memasukkannya ke gawang. Sekali lagi, gawang Thibaut Courtois masih terhindar dari clean sheet.

Pertandingan berakhir dengan skor 2-1. Hasil ini setidaknya bisa memangkas jarak dengan Barcelona. Kini Real Madrid memperoleh 35 poin. Sedangkan Barcelona berada di tempat teratas dengan 37 poin.

Bintang utama pertandingan ini tentu saja Toni Kroos. Ia memang sudah menjadi komponen lini tengah Real Madrid yang sering diremehkan. Pemain asal Jerman itu memang bukan pemain yang suka pamer skill tapi pengaruhnya di lapangan sangat besar. Hal tersebut terbukti ketika Kroos mendapatkan kartu merah saat melawan Girona. Kroos harus melewatkan pertandingan melawan Rayo Vallecano dan Real Madrid harus membayar absennya Kroos dengan kekalahan.

Kroos Man of the Match

Di pertandingan ini pun, Kroos membuktikan dirinya sangatlah dibutuhkan Real Madrid. Ia menjadi man of the match di laga ini setelah mencetak gol dan satu assist. Berdasarkan dari data sofascore, di pertandingan ini Kroos telah melakukan 111 sentuhan. Artinya Kroos adalah penggerak permainan Real Madrid di laga itu. Selain itu Kroos melakukan 4 umpan kunci dan mencatatkan 88/95 keakuratan umpan. Kroos juga berjasa dalam skema pertahanan Madrid. Ia telah sukses memenangkan 4 duel di darat dan tiga tackle di pertandingan ini.

Catatan itu adalah catatan yang luar biasa di pertandingan terakhir Real Madrid sebelum Piala Dunia. Beruntungnya bagi Madrid, Kroos bisa fokus untuk beristirahat dan melakukan latihan, mengingat dirinya tidak akan ikut skuad Jerman ke Qatar untuk Piala Dunia 2022. Kroos sudah mengumumkan dirinya pensiun dari skuad Der Panzer sekat tahun lalu.

 

Sumber referensi: As, ESPN, Universal

Kutukan Juara Bertahan Piala Dunia yang Sulit Dicari Penyebabnya

0

Kutukan juara bertahan selalu menyelimuti setiap gelaran Piala Dunia. Entah kutukan itu datang dari mana atau disembulkan oleh dukun dari negara mana. Yang pasti negara yang baru saja juara Piala Dunia, tradisinya selalu tersingkir lebih mudah di edisi berikutnya.

Meski sebetulnya tidak selalu demikian. Sepanjang 88 tahun turnamen itu bergulir, ada dua negara yang bisa meraih titel secara back to back. Italia pada tahun 1934 dan 1938. Lalu ada timnas Brasil yang meraih dua kali titel, tahun 1958 dan 1962.

Selain itu, Argentina juga nggak buruk-buruk amat pada Piala Dunia 1990. Setelah menjuarainya pada edisi 1986, Argentina bersama Maradona berhasil menembus partai final. Jadi sejak kapan dong kutukan ini dimulai? Dan apa penyebabnya?

Piala Dunia 2002

Memasuki abad ke-21 kutukan juara bertahan Piala Dunia sepertinya mulai bekerja. Timnas Prancis pada edisi tahun 1998 berhasil menjadi juara. Pada waktu itu, Zinedine Zidane dan kolega berhasil mengalahkan Timnas Brasil dengan skor mencolok 3-0.

Tentu sebagai juara bertahan, ambisi Prancis meluap-luap pada empat tahun berikutnya. Berbekal juara bertahan dan juara EURO 2000, Prancis menatap Piala Dunia 2002 dengan penuh keyakinan. Ironis, pada Piala Dunia yang berlangsung di Benua Asia itu, kutukan juara bertahan mulai berhembus.

Pada edisi itu, juara bertahan Prancis tak berkutik menghadapi tim kuda hitam, Senegal. Diop cs yang sedang berapi-api berhasil mengalahkan Prancis. Marcel Desailly dan kolega juga takluk atas Denmark dan hanya bermain imbang kontra Uruguay. Lebih nahas lagi, Prancis tak bisa mencetak satu gol pun. Hasil itu membuat sang juara bertahan terhenti di fase grup.

Piala Dunia 2006

Pada edisi 2006 banyak yang mengira apa yang terjadi pada Prancis di edisi sebelumnya cuma kebetulan. Sebab pada edisi ini, Timnas Brasil kelihatannya tidak akan mendapat kutukan. Apalagi Selecao tampil paripurna di fase grup.

Timnas Brasil dengan kekuatan sisa Piala Dunia 2002, seperti Ronaldo Nazario dan Ronaldinho memuncaki klasemen Grup F. Brasil mengungguli Australia, Jepang, dan Kroasia. Hebatnya, pada edisi 2006, langkah Brasil mendekati sempurna.

Selecao melumat Ghana di babak 16 besar. Namun, langkah Brasil harus terhenti di babak perempat final oleh Prancis. Pencapaian ini sebenarnya tidak terlalu buruk bagi juara bertahan. Dengan kata lain, kutukan juara bertahan akan tersingkir lebih dulu luntur di tangan Timnas Selecao.

Piala Dunia 2010

Timnas Italia berhasil meraih juara di Piala Dunia 2006. Mereka mencoba melakukan seperti apa yang dilakukan Timnas Brasil di edisi 2006. Gli Azzurri tidak ingin tersingkir lebih dulu di Piala Dunia 2010. Namun, harapan itu semu belaka. Kutukan juara bertahan Piala Dunia kembali bekerja.

Nasib Italia sama dengan Prancis. Alih-alih mencapai puncak tertinggi, Gli Azzurri malah tidak lolos dari fase grup. Padahal Italia waktu itu tidak berada dalam grup yang sulit, malah cenderung mudah. Bahkan mungkin sangat mudah untuk tim selevel Italia.

Pada Piala Dunia 2010, Italia tergabung ke Grup F. Grup ini berisi Paraguay, Slovakia, dan Selandia Baru. Tragis, Italia justru ditekuk Slovakia 3-2. Pasukan Marcello Lippi juga hanya bisa bermain imbang melawan Selandia Baru dan Paraguay. Italia gagal lolos ke fase gugur setelah menempati posisi juru kunci.

Piala Dunia 2014

Kutukan juara bertahan makin terasa di Piala Dunia 2014. Spanyol yang bisa meraih trofi Piala Dunia 2010 plus EURO 2012 malah terlunta-lunta di Piala Dunia 2014. Sama seperti Italia, La Furia Roja tersingkir lebih cepat di Piala Dunia Brasil. Padahal Spanyol cukup meyakinkan di pertandingan pertama dengan menghajar Australia 3-0.

Namun La Furia Roja tak berdaya melawan tim yang mereka kalahkan di final 2010, Belanda. De Oranje menghabisi Spanyol 5-1. Pada laga menghadapi Chile, Spanyol juga kalah 2-0. Sang juara bertahan pun harus tersingkir lebih dulu.

Spanyol hanya finis di peringkat ketiga Grup B. Kutukan juara bertahan yang tersingkir lebih cepat pun berlanjut. Spanyol gagal mengikuti jejak Brasil.

Piala Dunia 2018

Kutukan juara bertahan kembali berlanjut pada Piala Dunia 2018. Jerman yang berhasil merajai Piala Dunia 2014, justru tertatih-tatih di Piala Dunia 2018. Der Panzer tidak lolos dari fase grup. Timnas Jerman harus menelan dua kali kekalahan di Rusia.

Anak asuh Joachim Loew takluk atas Meksiko 1-0. Yang memalukan tentu saja ketika Jerman babak belur melawan Korea Selatan asuhan Shin Tae-yong 2-0. Die Mannschaft hanya bisa menang atas Swedia 2-1. Dua kali kalah dan satu kemenangan membuat Timnas Jerman gagal lolos. Ketika itu Jerman bahkan menempati posisi paling buncit.

Pertanyaan kemudian, mengapa sejak tiga Piala Dunia terakhir, kutukan juara bertahan itu benar-benar nyata? Mengapa juara bertahan di Piala Dunia, sejak tiga edisi terakhir selalu pulang lebih cepat? Apakah ada faktor yang melatarbelakangi hal itu?

Perbedaan Kualitas

Untuk mengetahui hal itu, Starting Eleven mencoba menganalisis apa yang mungkin jadi penyebab juara bertahan Piala Dunia mudah tersingkir lebih dulu. Salah satunya karena perbedaan kualitas tim.

Empat tahun adalah waktu yang tidak sebentar. Dalam rentang waktu tersebut, setiap tim akan mengalami perubahan. Entah dari faktor skuad, manajemen, bahkan pelatih dan federasi. Itulah mengapa barangkali kualitas juara bertahan bisa jadi menurun di edisi berikutnya.

Kendati demikian, jika kita melihat faktanya, beberapa juara bertahan di Piala Dunia masih memakai skuad lama di edisi berikutnya. Seperti Brasil, Italia, dan Spanyol. Komposisinya memang ada satu-dua yang berbeda, tapi beberapa pemain yang pernah juara juga tetap ikut.

Selain itu, pada kasus Italia dan Spanyol misalnya, kedua tim itu pada saat gagal di fase grup, toh masih dibesut pelatih lama. Spanyol masih dengan Vicente Del Bosque yang membawa tim juara dunia tahun 2010 dan EURO 2012. Italia juga masih dipegang Marcello Lippi.

Oleh karena itu, ini bukan hanya menyangkut perbedaan kualitas si juara bertahan saja. Tapi perbedaan kualitas para lawan-lawannya. Misal, Spanyol bisa mengatasi Belanda di final 2010 ketika De Oranje masih dilatih Van Warwijk.

Sementara, tahun 2014 Belanda sudah dibesut Van Gaal dan Spanyol masih ditangani Del Bosque. Dari sini bisa dilihat bahwa kualitas Belanda di tangan Van Gaal ternyata bisa mengalahkan Spanyol, yang ditukangi Vicente Del Bosque.

Skuad yang Menua

Selain itu, penuaan skuad bisa jadi penyebab mengapa juara bertahan bisa tersingkir lebih dulu. Memang benar susunan skuad masih sama dengan edisi sebelumnya, tapi bagaimana jika pemain-pemain itu sudah menua? Misal apa yang terjadi pada Timnas Prancis di Piala Dunia 2002.

Banyak pemain Les Bleus yang melewati usia 30. Fabien Barthez, Desailly, Lizarazu, Lilian Thuram, sampai Djorkaeff dan Emmanuel Petit. Pemain tadi menanggung beban terlalu banyak di kakinya. Dan usia mereka sudah tidak bisa berbohong.

Mentalitas

Faktor yang mungkin saja jadi penyebab kutukan adalah mentalitas. Status juara bertahan tentu menjadi beban bagi setiap tim yang berlaga. Beban itu menuntut sang juara bertahan bisa tampil maksimal. Ironis, yang terjadi justru sebaliknya.

Para juara bertahan terlihat sangat percaya diri, namun yang terjadi di lapangan tidak demikian. Apalagi jika di laga awal saja mereka sudah kacau, seperti yang ditunjukkan Jerman di Piala Dunia 2018.

Kekalahan bisa membuat fokus buyar dan mentalitas menurun, karena kalah artinya kehilangan poin. Dalam Piala Dunia, jika sudah kehilangan poin, peluang untuk lolos dari fase grup pun menipis.

https://youtu.be/NyYazorDUs8

Sumber: SkySports, Khelnow, Quora, SI, Scroll

Asal-Usul Julukan 8 Kampiun Piala Dunia

0

Sejak pertama kali digelar pada 1930, Piala Dunia telah menjadi turnamen sepak bola antarnegara paling bergengsi di dunia.

Diinisiasi oleh FIFA di era presiden Jules Rimet, pada awalnya Piala Dunia hanya diikuti oleh 13 tim, terdiri dari 7 negara dari Amerika Selatan, 4 negara dari Eropa dan 2 negara dari Amerika Utara. Belum ada fase kualifikasi saat itu, sebab negara-negara yang jadi kontestan Piala Dunia pertama adalah tim undangan.

Seiring dengan berjalannya waktu, jumlah peserta dan format turnamen terus mengalami perkembangan hingga akhirnya berjumlah 32 negara yang dibagi ke dalam 8 grup. Format tersebut dipakai sejak edisi 1998 dan rencananya akan kembali mengalami perubahan menjadi 48 negara peserta di edisi 2026 nanti.

Piala Dunia Qatar 2022 tahun ini bakal jadi edisi ke-22 dan edisi pertama yang digelar saat musim dingin. Hingga edisi Qatar 2022, sudah ada sekitar 80 negara yang pernah berkompetisi di Piala Dunia.

Akan tetapi, baru ada 8 negara yang berhasil menjuarai Piala Dunia. Kedelapan negara tersebut adalah Uruguay, Italia, Jerman, Brasil, Inggris, Argentina, Prancis, dan Spanyol.

Seperti halnya klub sepak bola yang memiliki julukan, 8 negara kampiun Piala Dunia juga memiliki julukannya masing-masing. Dalam kesempatan kali ini, starting eleven akan membahas asal usul julukan 8 negara yang pernah jadi kampiun Piala Dunia.

 

1. Uruguay – La Celeste

Kita mulai dari kampiun Piala Dunia edisi pertama, Uruguay. Sepanjang keikutsertaannya, Uruguay sudah menjadi juara sebanyak 2 kali, yakni di edisi pertama1930 saat mereka jadi tuan rumah dan edisi keempat yang diselenggarakan di Brasil 1950.

Merujuk pada warna bendera dan seragam yang mereka gunakan, timnas Uruguay dijuluki “La Celeste” yang berarti “biru langit”. Inilah yang jadi julukan resmi timnas Uruguay yang paling populer.

 

2. Italia – Gli Azzurri

Berikutnya, di urutan kedua, ada kampiun 4 kali Piala Dunia, Italia. Timnas Italia menjuarai Piala Dunia di edisi Italia 1934, Prancis 1938, Spanyol 1982, dan Jerman 2006.

Julukan dari timnas Italia adalah “Gli Azzurri” yang berarti “Si Biru”. Asal-usul julukan ini cukup menarik, sebab warna tersebut takada dalam bendera nasional mereka. Jersey kandang Italia juga berwarna biru, meski bendera nasional mereka memiliki warna hijau, putih, dan merah.

Usut punya usut, julukan tersebut merujuk pada warna resmi dari “House of Savoy” atau “Wangsa Savoy”, kerluarga kerjaan yang dulu memimpin unifikasi Italia pada 1860. Warna resmi dari keluarga yang memimpin Italia hingga akhir perang dunia 1946 itu adalah biru.

Meski terkesan biasa, namun makna ‘Gli Azzurri’ sebenarnya sangat mendalam dan penuh dengan sejarah. Italia adalah Azzurri dan kata Azzurri itulah yang mampu menyulut api gairah para pendukung timnas Italia. Azzurri juga punya makna persatuan bagi bangsa Italia. Itulah sebabanya timnas Italia tak punya julukan lain selain “Gli Azzurri”.

 

3. Jerman – Der Panzer

Berikutnya, ada Jerman di urutan ketiga. Sebelum Reunifikasi, Jerman Barat pernah menjadi kampiun Piala Dunia sebanyak 3 kali, yakni di edisi Swiss 1954, Jerman 1974, dan Italia 1990. Lalu, pasca Reunifikasi Jerman pada Oktober 1990, Jerman kembali memenangi Piala Dunia keempat mereka pada edisi 2014 yang digelar di Brasil.

Selama bertahun-tahun, timnas Jerman dikenal dengan julukan “Die Nationalmannschaft” yang merupakan bahasa Jerman dari tim nasional. Namun, di kalangan media internasional, julukan “Die Mannschaft” yang berarti sebuah tim jauh lebih populer.

Pada 2015 silam, DFB pernah membranding “Die Mannschaft” sebagai sebutan resmi timnas Jerman. Namun, pada Juli 2022, keputusan tersebut dihapus setelah mendapat banyak penolakan dari penggemar.

Meski sudah dicabut, nyatanya “Die Mannschaft” masih populer sebagai julukan timnas Jerman di kalangan internasional. Selain itu, timnas Jerman juga dikenal dengan julukan “Nationalelf” yang merupakan bahasa Jerman dari tim nasional.

Di kalangan media Indonesia sendiri, timnas Jerman juga kerap dijuluki “Der Panzer”. Kata Panzer diambil dari nama tank tempur Jerman yang digunakan di Perang Dunia Kedua.

Julukan “Der Panzer” pertama kali terdengar di Piala Dunia 1954 di Swiss. Kala itu, Jerman Barat yang tidak difavoritkan berhasil menjuarai Piala Dunia pertamanya usai mengalahkan tim favorit Hungaria. Julukan tersebut disematkan karena timnas Jerman kala itu dianggap seperti mesin diesel Panzer yang lama panas.

 

4. Brasil – A Seleção

Di urutan keempat, ada pengoleksi trofi Piala Dunia terbanyak, Brasil. Timnas Brasil sudah 5 kali menjuarai Piala Dunia. Yang pertama adalah Piala Dunia 1958 di Swedia, kemudian Piala Dunia 1962 di Chile, Piala Dunia 1970 di Meksiko, Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat, dan terakhir Piala Dunia 2002 di Jepang dan Korea.

Timnas Brasil punya beberapa julukan. Yang pertama dan paling banyak dipakai adalah “A Seleção”. Bila diartikan secara langsung dari bahasa Portugis, kata tersebut memiliki arti “pemain yang terpilih”. Namun, secara harfiah dapat diartikan sebagai tim nasional.

Selain “Seleção”, timnas Brasil juga dijuluki “Canarinho” yang berarti “Kenari Kecil” yang merujuk pada spesies burung Kenari berwarna kuning cerah yang biasa ditemukan di Brasil. Julukan ini pertama kali dipopulerkan oleh seorang kartunis bernama Fernando Pieruccetti di Piala Dunia 1950. Canarinho kini juga dipakai sebagai nama dari maskot timnas Brasil.

Selain julukan-julukan tadi, timnas Brasil juga kerap dijuluki “Tim Samba”. Sebutan ini pertama kali terdengar di Piala Dunia 1958 di Swedia. Samba sendiri merupakan salah satu jenis tarian yang populer di Brasil. Dijuluki Tim Samba karena gaya main timnas Brasil yang khas dan indah seolah seperti sedang menari samba di tengah lapangan.

 

5. Inggris -The Three Lions

Di urutan kelima ada timnas Inggris yang sekali menjuarai Piala Dunia pada edisi 1966 saat mereka bertindak sebagai tuan rumah. Timnas Inggris hanya punya satu julukan, yakni “The Three Lions” alias “Tiga Singa”.

Asal-usul julukan tersebut sangat mudah diketahui. “The Three Lions” merujuk pada logo FA yang bergambar tiga ekor singa bertumpuk. Lambang tiga singa tersebut merupakan warisan dari Raja Richard 1 alias Richard the Lionheart yang berkuasa pada 1189 hingga 1199.

“Tiga Singa” yang melambangkan keberanian, kekuatan, dan martabat, kemudian dijadikan simbol negara Inggris. Lambang tersebut kemudian diadopsi sebagai logo FA sejak mereka berdiri pada 1863 dan mulai dipakai timnas Inggris pada saat bertanding melawan Skotlandia pada 1872. Sejak saat itulah, “The Three Lions” jadi ciri khas yang tak terpisahkan dari sejarah sepak bola Inggris.

 

6. Argentina – La Albiceleste

Di urutana keenam ada Argentina yang menjadi kampiun Piala Dunia sebanyak dua kali. Timnas Argentina menjadi juara di gelaran Piala Dunia 1978 di Argentina dan Piala Dunia 1986 di Meksiko.

Timnas Argentina dijuluki “La Albiceleste”, yang artinya “Putih dan Biru Langit”. Penyebabnya sangat sederhana. Warna tersebut sesuai dengan bendera Argentina. Corak garis-garis yang terdapat pada jersey utama timnas Argentina juga berwarna putih dan biru langit.

 

7. Prancis – Les Bleus

Berikutnya, di urutan ketujuh ada Prancis yang pertama kali menjuarai Piala Dunia di edisi 1998 yang dihelat di rumah mereka sendiri. Dua puluh tahun kemudian, Prancis meraih trofi Piala Dunia kedua mereka di Rusia 2018.

Sesuai dengan warna dan corak dominan yang mereka gunakan pada jerseynya, Timnas Prancis punya julukan “Les Bleus” alias “Si Biru”. Selain itu, timnas Prancis juga dijuluki “Le Coq Gaulois” yang merupakan bahasa Prancis dari “Ayam Jantan”. Unggas tersebut memang jadi hewan nasional Prancis dan menjadi logo dari Federasi Sepak Bola Prancis.

 

8. Spanyol – La Furia Roja

Terakhir, ada kampiun Piala Dunia 2010, Spanyol. Julukan dari timnas Spanyol adalah “La Roja” yang berarti “Si Merah”. Sesuai dengan warna bendera Spanyol, merah adalah lambang gairah dan kekuatan Spanyol. Merah juga merupakan warna dari seragam kebesaran timnas Spanyol.

Julukan lain yang tak kalah populer adalah “La Furia Roja” yang berarti “Kemarahan Si Merah”. Salah satu sumber menyebut kalau julukan tersebut terinspirasi dari tragedi‘Sack of Antwerp’ atau yang juga dikenal sebagai ‘Spanish Fury’. Sebuah tragedi kelam yang menewaskan ribuan orang yang terjadi selama 3 hari pada Oktober 1576 di mana pasukan tentara pemberontak dari Spanyol menjarah, menghancurkan, dan membakar kota Antwerp di Belgia.

Dalam sumber lain, julukan “La Furia Roja” terinspirasi dari nama pemain timnas Spanyol di Olimpiade Musim Panas 1920, Jose Maria Belauste. Gaya dan cara bermainnya saat itu membuat surat kabar asal Belanda menjulukinya “La furia espanola” atau “The Spanish Fury”.

Di Indonesia, timnas Spanyol juga sering dijuluki Tim Matador yang merujuk pada pertunjukan pertarungan manusia melawan banteng. Meski matador terkesan keras dan brutal, tetapi dalam budaya Spanyol, matador adalah sebuah warisan budaya yang penting di negara tersebut.

Selain itu, julukan matador dalam timnas Spanyol digunakan untuk menggambarkan gaya sepak bola Spanyol yang penuh gairah dan romantis. Sungguh tidak disangka bukan?

https://youtu.be/Xn0x9FOypCs
***
Referensi: Goal, Spiegel, Pikiran-Rakyat, Okezone, Starting Eleven, Goal.

Berita Bola Terbaru 10 November 2022 – Starting Eleven News

Berita Bola Terbaru dan terkini

TITE: GLEISON BREMER PEMAIN BERKUALITAS

Bek Juventus Gleison Bremer akhirnya masuk dalam skuad Timnas Brasil untuk Piala Dunia 2022 Qatar. Namun, pelatih Timnas Brasil Tite, mengaku sebenarnya sempat memandang Bremer sebelah mata. Selain itu, Tite juga mengakui jika seharusnya Bremer dipanggil lebih awal. Pasalnya, permainan Bremer begitu dibutuhkan oleh Timnas Brasil di sejumlah pertandingan. Tite menyebut Bremer benar-benar pemain berkualitas.

CALON PEMAIN NEWCASTLE MASUK SKUAD AUSTRALIA UNTUK PIALA DUNIA

Wonderkid bernama Garang Kuol, yang akan bergabung dengan Newcastle United pada bulan Januari, telah disebutkan dalam skuad 26 pemain Australia untuk Piala Dunia. Kuol, striker berusia 18 tahun milik Central Coast Mariners, belum menjadi starter di pertandingan senior, tetapi kecepatan dan ketajamannya dalam mencetak gol membuat Newcastle menyetujui kesepakatan pada bulan September silam.

DUTA PILDUN 2022: HOMOSEKSUALITAS ADALAH KERUSAKAN DALAM PIKIRAN

Duta Piala Dunia 2022 Qatar, Khalid Salman mengatakan, homoseksualitas adalah haram karena itu merupakan “kerusakan dalam pikiran”. Hal tersebut dikatakan mantan pemain Timnas Qatar itu saat wawancara dengan salah satu stasiun TV Jerman, ZDF. Dia juga menegaskan semua yang hadir di Piala Dunia seharusnya menghormati aturan yang berlaku di Qatar. 

CHELSEA PANASKAN PERBURUAN ENDRICK

Chelsea telah beberapa kali bertemu dengan striker Brasil berusia 16 tahun dari Palmeiras, Endrick. The Blues tertarik memboyong Endrick ke Stamford Bridge. Meski demikian, upaya Chelsea tidak akan mulus. Sebab, Chelsea bukan satu-satunya pengagum Endrick. The Blues dipastikan akan menghadapi persaingan dari Real Madrid dan PSG.

UEFA KECAM PENYELENGGARA LIGA SUPER EROPA

UEFA baru saja melakukan penolakan terhadap sebuah kelompok yang mempromosikan untuk menghidupkan kembali rencana diadakannya Liga Super Eropa. Menurut laporan dari Goal, tiga orang delegasi dari grup A22 Sports Management mendapat penolakan yang begitu keras pada rapat bersama UEFA di Swiss yang berlangsung selama dua setengah jam pada Selasa (8/11). A22 Sports Management mengaku sebagai kelompok independen, namun UEFA dan European Clubs Association (ECA) mencurigai bahwa mereka adalah perwakilan dari Real Madrid, Barcelona, dan Juventus.

LIONEL MESSI OTW UKIR DUA SEJARAH BARU DI PIALA DUNIA

Lionel Messi bisa mencatatkan dua sejarah di Piala Dunia 2022. Pertama, jika mencetak satu assist, maka Messi akan menjadi pemain pertama yang mencetak assist di 5 edisi Piala Dunia (terbanyak). Total, Messi sudah mencetak lima assist selama berkiprah di Piala Dunia. Kedua, jika mencetak satu assist di Piala Dunia 2022, dia akan menjadi pemain pertama yang mencetak assist secara beruntun di pesta sepak bola sejagat. Eks Barcelona itu akan mencetak assist di lima Piala Dunia secara beruntun.

PICKFORD AKUI PAKAI JASA PSIKOLOG UNTUK BANTU KARIRNYA

Penjaga gawang Everton, Jordan Pickford diperkirakan akan mempertahankan jersey No 1 di Qatar setelah mendapatkan sambutan hangat untuk penampilannya di level klub musim ini. Pickford merasa dia berada dalam performa terbaik dalam kariernya, atas bantuan seorang psikolog yang telah bekerja dengannya sejak musim 2019/20. Kiper berusia 28 tahun, memutuskan untuk meminta bantuan seorang ahli mental selama periode performa buruk bersama Everton.

BARCELONA INGIN LEPAS DEPAY DI MUSIM DINGIN

Barcelona dilaporkan akan melepas Memphis Depay pada Januari setelah Piala Dunia, sesuai laporan Barca Universal, Selasa (8/11). Kontrak Depay akan berakhir 30 Juni 2023. Barca pun tidak ingin kehilangan dia secara gratis di musim panas. Laporan mengklaim, Barcelona akan mencoba mendapatkan pundi-pundi uang dari hasil penjualan Memphis Depay di bursa transfer musim dingin.

HOBI BARU CRISTIANO RONALDO, APA ITU?

Ada fakta menggelitik dari megabintang Manchester United Cristiano Ronaldo musim ini. Itu terungkap setelah CR7 mengantongi kartu kuning saat The Red Devils ditaklukkan Aston Villa 3-1 di lanjutan Liga Inggris akhir pekan kemarin. Kartu kuning itu merupakan yang kedua kalinya didapatkan Ronaldo di musim ini, yang berarti dia sekarang lebih banyak mengoleksi itu dibandingkan gol. Seperti diketahui, attacker 37 tahun tersebut baru mengoleksi satu gol sejauh musim 2022/23 bergulir.

JADWAL TIMNAS INDONESIA DI PIALA AFF 2022

Dari empat pertandingan yang tersaji, timnas Indonesia bakal menjalani dua laga tandang dan dua laga kandang di Grup A Piala AFF 2022. Untuk pertandingan kandang, skuad Merah Putih bakal menyelenggarakannya ketika berjumpa Kamboja pada laga pertama (23/12) dan Thailand pada laga ketiga (29/12). Sementara itu, laga tandang yang harus dilakoni anak asuh Shin Tae-yong berlangsung ketika mereka melawat ke markas Brunei Darussalam (26/12) dan Filipina (2/1/2023).

HASIL PIALA LIGA

Manchester City lolos ke putaran keempat Piala Liga Inggris atau Carabao Cup usai melibas Chelsea dengan skor 2-0, Kamis dini hari tadi. Dalam laga di Stadion Etihad, Dua gol kemenangan pasukan Josep Guardiola masing-masing dicetak oleh Riyad Mahrez pada menit ke-53 dan Julian Alvarez menit ke-58.

Di laga lain, Arsenal bertekuk lutut ketika melayani Brighton dalam duel putaran ketiga Carabao Cup 2022/23. The Gunners menyerah dengan skor telak 1-3. Arsenal unggul lebih dahulu lewat gol Eddie Nketiah di menit 20. Tapi, Brighton membalikkan kedudukan melalui gol-gol Danny Welbeck di menit 27, Kaoru Mitoma menit 58, dan Tariq Lamptey menit ke 71. Dari pertandingan lainnya, Nottingham Forest menang 2-0 atas Spurs, dan Liverpool menang adu penalti atas Derby County.

HASIL SERIE A

Dari ajang Liga Italia, AS Roma ditahan imbang oleh tuan rumah, Sassuolo, dengan skor 1-1. Setelah imbang tanpa gol di babak pertama, Sassuolo dan Roma menaikkan intensitas serangan di babak kedua. Hasilnya terbukti pada menit ke-80 saat Abraham mencatatkan namanya di papan skor untuk membuat Roma unggul 1-0. Akan tetapi, lima menit kemudian Sassuolo menyamakan skor melalui Andrea Pinamonti.

Inter Milan sukses meraih tiga poin setelah menang telak 6-1 atas Bologna di pekan ke-14 Liga Italia 2022/23. Pada pertandingan di Giuseppe Meazza, Inter tertinggal lebih dulu oleh gol Babis Lykogiannis di menit ke-22. Namun setelah itu Inter sukses menyarangkan enam gol lewat Edin Dzeko, Federico Di Marco, Lautaro Martinez, gol kedua Di Marco, Hakan Calhanoglu, dan terakhir Robin Gosens. 

HASIL LIGA SPANYOL

Atletico Madrid kembali meraih hasil minor kala bertandang ke markas Real Mallorca, Kamis dini hari tadi. Real Mallorca yang banyak ditekan malah unggul duluan di menit ke-16. Vedat Muriqi mencatatkan namanya ketika menyontek umpan tarik Jaume Costa di tiang jauh. Dan itu menjadi satu-satunya gol terjadi di pertandingan ini.

Di laga lain, tuan rumah Sevilla juga menelan kekalahan dari sang tamu, Real Sociedad dengan skor akhir 2-1. Sociedad membuka skor lewat Alexander Sorloth di menit ke-20. Brais Mendez lalu menggandakan skor di menit ke 36. Sebelum Rafa Mir memperkecil skor untuk Sevilla di menit ke-44. 

AMERIKA SERIKAT UMUMKAN SKUAD PIALA DUNIA 2022

Daftar 26 pemain Timnas Amerika Serikat di Piala Dunia 2022 sudah resmi dirilis. Dari nama-nama yang ada, kejutan terjadi di sektor kiper ketika penjaga gawang Zack Steffen tidak masuk skuad. Selebihnya, pemain-pemain bintang yang merumput di liga-liga Eropa menghiasi skuad negeri Paman Sam. Ada Sergino Dest, Brenden Aaronson, bintang Juventus Weston Mckennie, dan sang kapten milik Chelsea Christian Pulisic.

SON HEUNG MIN PASTIKAN SIAP TAMPIL DI PIALA DUNIA

Bintang Tottenham Hotspur, Son Heung-Min telah mengonfirmasi bahwa dia fit untuk Piala Dunia Qatar 2022. Ia akan ikut bersama skuad Korea Selatan setelah menjalani operasi pada patah tulang di sekitar matanya. Melalui media sosial Instagram, Son menyampaikan, “Saya tidak akan melewatkan ini untuk dunia. Saya tidak sabar untuk mewakili negara kita yang indah, lihat kamu segera.” 

GARA-GARA MESSI, CR7 NYARIS PENSIUN PADA 2018

Terungkap ternyata Cristiano Ronaldo hampir pensiun pada 2018. Penyebabnya pun mencuri perhatian, yakni disebut gara-gara Lionel Messi. Ronaldo mengungkapkan bahwa jika Messi mendapat trofi Ballon dOr pada tahun itu, dia akan mengambil langkah pensiun. Namun, langkah itu urung dilakukan karena trofi Ballon dOr 2018 tak jatuh ke tangan bintang Argentina itu. Trofi itu menjadi milik penggawa Real Madrid, Luka Modric.

MASUK SKUAD PILDUN, CAMAVINGA: INI MIMPI MASA KECIL

Timnas Prancis resmi mengumumkan nama-nama pemain yang akan tampil di Piala Dunia 2022. Tak ada sosok Mike Maignan, N’Golo Kante, dan Pogba yang masih cedera. Di lini tengah, wonderkid Real Madrid Eduardo Camavinga jadi salah satu pilihan Didier Deschamps. Camavinga pun bereaksi atas pemanggilan ini. “Ini adalah kehormatan besar, besar. Sebuah mimpi masa kecil. Untuk berpartisipasi di dalamnya, gila!” Katanya dikutip Goal.

ABSEN DI PIALA DUNIA, REECE JAMES SEDIH BETUL

Reece James harus mengubur impiannya tampil di Piala Dunia 2022 karena belum pulih dari cedera lutut. Pelatih Inggris, Gareth Southgate telah memastikan tak akan membawa Reece James. Tentunya, kegagalan main di turnamen besar pertamanya membuat James kecewa berat. Meski demikian, bek yang bermain di Chelsea itu tetap mendoakan rekan-rekannya bisa meraih kesuksesan.

SADIO MANE DIPASTIKAN ABSEN DI PIALA DUNIA 2022

Peluang Sadio Mane untuk tampil di Piala Dunia bersama Senegal tampak semakin menipis setelah ia mengalami cedera lutut saat melawan Werder Bremen. Dilansir Goal, Mane telah menjalani tes pada Rabu (9/11) pagi kemarin, dan kemudian ditetapkan periode pemulihannya selama 3-4 minggu. Meski sejauh ini belum ada kepastian dia akan melewatkan turnamen, tapi itu sangat mungkin, mengingat turnamen 10 hari lagi dimulai.

CAOIMHIN KELLEHER BUKA SUARA USAI JADI PAHLAWAN KEMENANGAN LIVERPOOL

Caoimhin Kelleher mencuri perhatian saat Liverpool melawan Derby County di Piala Liga Inggris, Kamis (10/11) dini hari WIB. Ia jadi pahlawan kemenangan The Reds dengan penyelamatan apiknya di babak adu penalti. Kelleher berhasil menggagalkan 3 algojo penalti Derby County. Sehingga Liverpool menang 3-2 dalam adu penalti. Usai laga, Kelleher mengaku hanya berusaha untuk tetap bermain fokus.

LEWANDOWSKI TERIMA SEPATU EMAS EROPA LAGI

Dikutip dari Marca, Rabu 9 November 2022, Robert Lewandowski menerima penghargaan Sepatu Emas Eropa musim 2021/22. Di mana Lewandowski berhak mendapatkan penghargaan itu setelah mencetak 50 gol dalam 46 pertandingan untuk Bayern Munchen selama 2021/22. Penghargaan itu menandakan Lewandowski, yang kini bermain di Barcelona, sebagai penyerang terbaik di seluruh daratan Eropa.

GORETZKA KECAM PENGHARAMAN LGBTQ DI PIALA DUNIA 2022

Ambasador Piala Dunia 2022, Khalid Salman, sempat membuat geger insan sepakbola dunia dengan menilai LGBTQ sebagai penyimpangan dan haram hukumnya. Gelandang Timnas Jerman, Leon Goretzka pun mengecam ucapan itu. Bintang Timnas Jerman itu menilai ucapan sang ambasador membahayakan. Dia menganggap Salman punya pemikiran kolot yang membuat blunder dengan pernyataannya soal LGBTQ.

MURKA MOURINHO USAI AS ROMA IMBANG LAWAN SASSUOLO

Hasil imbang 1-1 antara Sassuolo vs AS Roma memantik kekecewaan dari pelatih Jose Mourinho. Dikutip Goal, Mourinho membeberkan kerja keras tim yang dengan susah payah mencetak gol justru dikhianati oleh sikap seorang pemain yang tidak profesional. “Sikap tidak profesional yang tidak adil kepada rekan satu timnya, itulah yang mengecewakan saya. Satu poin tandang masih bukan hasil negatif dan saya senang dengan sikap seluruh pemain saya,” ujarnya.

GANTIKAN RONALDO, MU SIAP GAET VICTOR OSIMHEN

Perburuan striker baru Manchester United mulai mengerucut ke satu nama. Setan Merah diklaim sangat tertarik untuk mengamankan jasa Victor Osimhen dari Napoli. Melansir BBC, Osimhen disiapkan sebagai pengganti Cristiano Ronaldo yang santer dirumorkan bakal segera hengkang dari Old Trafford. Kabarnya, tebusan di angka 120 juta Euro atau Rp 1,8 triliun dibutuhkan Setan Merah untuk memboyong Osimhen dari Naples.

Ciptakan Rekor, Bisakah Wakil Asia Kejutkan Piala Dunia 2022?

Qatar 2022 tinggal menghitung hari. Para kontestan dari seluruh dunia sudah mulai bersolek dan siap untuk bertarung. Tak terkecuali wakil-wakil dari benua tuan rumah, Asia. Benua yang dipandang sebelah mata dari segi prestasi sepakbolanya.

Namun, tak dipungkiri kejutan juga sering disajikan oleh wakil-wakil dari Asia ini. Lalu sejauh mana melihat persiapan wakil-wakil Asia ini? Sejauh mana pula mereka akan melaju?

Rekor Wakil Asia

Piala Dunia kali ini adalah Piala dunia kedua yang dihelat di Benua Kuning. Tepat setelah 20 tahun yang lalu, Korea dan Jepang menjadi tuan rumah bersama. Kini, Qatar akan berstatus sebagai negara teluk atau negara Asia Barat pertama yang menjadi tuan rumah Piala Dunia.

Kini, bahkan sebelum kick off dimulai, benua Asia pun sudah terlebih dahulu mencatatkan rekor. Rekor meloloskan enam wakilnya sekaligus ke Piala Dunia. Sebab, sebelumnya Asia mentok hanya mengirimkan lima wakilnya di Piala Dunia.

Enam yang lolos tersebut termasuk Qatar sebagai tuan rumah. Kelima lainnya yakni Iran, Jepang, Korea Selatan, Arab Saudi, dan Australia.

Korea Selatan Masih Terhebat

Bicara soal kiprah wakil-wakil Asia di Piala Dunia, sampai saat ini yang terhebat masih dipegang oleh Negeri Gingseng, tentu berkat prestasinya di 2002 silam. Namun tak hanya itu saja yang mereka banggakan.

Sepakbola Korea cenderung berkembang ke arah yang makin maju. Tak heran mereka selalu lolos ke Piala Dunia tiap edisinya. Kemudian lahirnya beberapa pemain top yang merumput di Liga top dunia juga menjadi bukti.

Korea kini sudah menjadi salah satu kiblat sepakbola Asia. Kekuatannya bahkan sering mengejutkan di ajang Piala Dunia. Seperti contoh di Piala Dunia 2018 ketika mengandaskan juara bertahan Jerman.

Di Qatar nanti, Korea akan berada satu grup dengan Portugal, Ghana, dan Uruguay. Dari pengamatan, langkah pasukan Paulo Bento ini kecil kemungkinannya untuk lolos. Namun semua masih bisa terjadi.

Son Heung Min dan bek Napoli, Kim Min Jae akan menjadi komando rekan-rekanya untuk bertarung habis-habisan. Apalagi kini saingan terberatnya, seperti Portugal akhir-akhir ini performanya juga tak terlalu superior.

Kolektivitas tim dan semangat juang menjadi kunci bagi Korea untuk bisa mengejutkan di grup ini. Raihan poin melawan Ghana dan Uruguay akan jadi poin krusial untuk mereka melangkah.

Arab Saudi Bangkit

Wakil Asia lainnya yakni Arab Saudi. Kemajuan sepakbola Arab Saudi kini banyak disorot dunia. Namun, kehadiran Arab Saudi di Piala Dunia selalu dianggap sepele di tiap edisinya. Bahkan dicap selalu akan menjadi bulan-bulanan tim lain.

Namun Elang Hijau Timur Tengah ini telah berubah. Arab Saudi lolos sebagai pemuncak grup di atas Jepang dan Australia di babak kualifikasi. Artinya tim besutan mantan pelatih Pantai Gading, Herve Renard ini tak bisa dipandang sebelah mata.

Berada satu grup dengan Argentina, Polandia, dan Meksiko mungkin secara di atas kertas kecil kemungkinannya mereka untuk lolos. Namun, dengan kekompakan serta daya juang Salem Al-Dawsari dan kawan-kawan, Arab Saudi harusnya mampu membuat sedikit perlawanan di grup ini.

Paling tidak menghindari terbantai dengan skor mencolok. Kelolosan mereka ke 16 besar pada Piala Dunia 1994 silam juga bisa dijadikan motivasi tersendiri bagi tim.

Australia Tak Semewah Dulu

Berikutnya ada Australia. Negeri Kanguru ini juga jadi langganan masuk Piala Dunia. Namun langkah mereka juga selalu terhenti di babak grup. Langkah terbaik mereka adalah di Piala Dunia 2006. Di mana mereka mampu mencapai babak 16 besar.

Dulu memang Australia ini dihuni banyak bintang yang bersinar di Liga Inggris. Sebut saja ada Harry Kewell, Tim Cahill, Mark Viduka, dan masih banyak lagi. Namun generasi itu telah usai.

Di 26 skuad yang dipanggil ke Qatar, praktis tak ada nama-nama yang mentereng. Mungkin yang tak asing di telinga hanya Mathew Ryan bekas kiper Brighton dan Arsenal, maupun Aaron Mooy bekas pemain Brighton.

Satu grup dengan Prancis, Denmark dan Tunisia juga perkara sulit bagi Socceros untuk melaju dari grup ini. Kecuali Prancis benar-benar terkena kutukan dan tampil buruk. Di situlah Australia mungkin bisa memanfaatkan dengan mencuri poin dari Denmark maupun Tunisia.

Iran Masih Kuat

Berikutnya ada Iran. Iran ini adalah wakil Asia pertama yang mengamankan tiket ke Piala Dunia 2022. Kelolosan Iran tahun ini menjadi rekor tersendiri yakni tiga kali beruntun tampil di Piala Dunia.

Iran tergabung di Grup B bersama Inggris, Amerika Serikat, dan Wales. Walau termasuk tim kuat Asia, langkah Iran diprediksi akan sulit. Maklum, di tiga edisi Piala Dunia sebelumnya, Iran selalu terhenti di fase grup.

Namun, kini melihat materi pemainnya yang malang melintang di Liga-Liga Eropa macam Mehdi Taremi, Sardar Azmoun, atau Alireza Jahanbakhsh, Iran harusnya tak perlu gentar bersaing di Grup ini. Iran bisa saja mengejutkan di grup ini. Materi pemainnya tak kalah saing. Paling tidak di atas kertas, posisi runner up mendampingi Inggris bisa saja terwujud.

Qatar Harusnya Bisa Jadi Debutan Yang Beri Kejutan

Kemudian ada Qatar sang tuan rumah. Selain tuan rumah, mereka juga debutan di Piala Dunia kali ini. Berkaca pada Piala Dunia 2002, seharusnya Qatar diharapkan bisa meniru kisah sukses Korea Selatan. Semangat bermain di rumah sendiri sekaligus dukungan penonton yang membludak bisa jadi senjata rahasia mereka.

Meskipun secara kualitas, mereka cenderung berada paling bawah dibanding kontestan lainnya di grup. Belanda, Senegal, dan Ekuador menjadi lawan yang sulit bagi mereka.

Namun berkaca pada kekuatan sekarang, Senegal yang kemungkinan ditinggal Mane, sementara Ekuador yang juga biasa-biasa saja, harusnya Qatar mampu memanfaatkan kondisi tersebut. Kemenangan di partai pembuka melawan Ekuador bisa jadi pelecut semangat Qatar untuk bisa dampingi Belanda lolos dari grup ini.

Jepang Kini Lebih Matang

Kemudian ada Samurai Biru, Jepang. Tim yang dinilai kualitas pemainnya jadi yang terkuat di Asia saat ini bersama Korea. Banyaknya pemain yang menjadi pilar di klub Liga top Eropa menjadi modal bagi pasukan Negeri Sakura.

Bersama pelatih lokal Hajime Moriyasu, Negeri Matahari Terbit optimis dengan skuad matangnya ini mampu melaju lebih tinggi di Qatar nanti. Maklum, pencapaian tertinggi mereka hanya lolos dari babak grup.

Namun celakanya, mereka kali ini tidak berada di grup yang baik-baik saja. Mereka tergabung bersama dua raksasa Eropa, Spanyol dan Jerman. Sulit bagi Samurai Biru mencapai targetnya untuk lolos. Mereka sekarang hanya bisa berharap mampu memberikan perlawanan sengit terhadap kedua raksasa tersebut. Sambil tentunya berharap menantikan kedua raksasa itu bermasalah dan terjegal.

Sumber Referensi : goal.com, outlookindia, kompasiana

Mencengangkan! Ronaldo Ngaku Hampir Pensiun Gara-gara Messi

Penampilan Buruk Ronaldo di pertandingan melawan Aston Villa beberapa hari yang lalu menjadi sorotan banyak orang. Kekalahan 3-1 dari Aston Villa itu tidak bisa diterima oleh banyak fans dan menyarankan Ronaldo untuk pensiun saja. Dengan pensiun lebih cepat, Ronaldo bisa meninggalkan memori yang tidak terlalu buruk. Jika dipaksakan untuk terus bermain, banyak fans yang khawatir peninggalan Ronaldo akan tercoreng begitu saja.

Tapi banyak pula fans yang memberikan dukungan kepada Ronaldo. Masih banyak fans yang menghargai jasa Ronaldo di masa lalu dan masih menganggapnya sebagai legenda klub. Namun, ternyata Ronaldo memang sudah memikirkan untuk pensiun bahkan sebelum dirinya pulang ke Manchester musim lalu.

Gara-gara Messi

Ronaldo mengungkapkan sudah ingin pensiun di tahun 2018. Dan itu disebabkan oleh rival abadinya, Lionel Messi. Padahal di tahun 2018 dirinya belum menunjukan tanda-tanda penurunan performa. Namun, Ronaldo mengaku bahwa pada tahun tersebut ia memang berkorban dan mengambil resiko untuk pindah ke Juventus.

Ronaldo mengungkapkan, bahwa keputusannya untuk pindah ke Juventus itu membuat ia berkorban banyak. Diantaranya ia percaya bahwa kepindahannya ke turin lah yang menyebabkan dirinya tidak bisa memenangkan Ballon d’Or 2018. Itu tentu membuat Ronaldo kecewa dan putus asa. Saking putus asanya, Ronaldo bertekad jika Messi memenangkan Ballon d’Or 2018 dirinya akan segera gantung sepatu.

“Saya mengambil resiko datang ke Turin, saya mengubah klub, liga, dan budaya sepakbola. Resiko itu lah yang saya yakini membuat saya tidak bisa memenangkan Ballon d’Or pada tahun 2018. Dan jika Messi memenangkan Ballon d’Or tahun itu, saya sudah berniat akan meninggalkan dunia sepakbola” ungkap Ronaldo dikutip marca.

Untungnya, baik Messi ataupun Ronaldo tidak memenangkan Ballon d’Or pada saat itu. yang mendapatkan penghargan pemain terbaik adalah Luka Modric setelah pemain Real Madrid itu membawa Kroasia sampai ke final 2018. Mengetahui Messi juga tidak dapat penghargaan Ballon d’Or, membuat motivasi Ronaldo menjadi naik.

Masih tidak ingin Pensiun

Sekarang di usianya yang sudah 37 tahun, Ronaldo masih belum mengumumkan kapan dirinya akan pensiun. Ronaldo bahkan pernah mengungkapkan dirinya tidak ada niatan untuk pensiun di timnas Portugal. Ronaldo bahkan mengungkapan bahwa ia tidak ingin menjadikan Piala Dunia 2022 sebagai turnamen terakhirnya.

“Saya berharap menjadi bagian dari Portugal dalam beberapa tahun lebih lama lagi. Saya masih merasa sangat termotivasi dan saya masih punya ambisi yang tinggi” Ungkapnya

Ronaldo bahkan mengaku masih ingin ikut Portugal di gelaran Piala Euro 2024. Padahal pada saat itu nanti Ronaldo akan berumur 39 tahun.

“Jalann saya di timnas belum selesai. Kami punya banyak pemain berkualitas. Saya akan ada di Piala Dunia dan saya ingin ada di Euro”

 

Sumber referensi: Sportbible, Detik, Marca

Musim Belum Selesai, Lewandowski Kok Sudah Dapat Sepatu Emas?

Lewandowski memasang senyum di wajahnya ketika menerima penghargaan sepatu emas di Barcelona. Ini merupakan penghargaan sepatu emas kedua Lewandowski, setelah ia juga menerimanya musim lalu ketika masih berseragam Bayern Munchen. Setelah menerima penghargaan itu, Lewandowski masih optimis Barcelona bisa menunjukkan peningkatan di musim depan.

“Saya yakin tahun depan akan sangat bagus. Sekarang saya tahu, mengapa Barcelona lebih dari sekedar sebuah klub dan mengapa itu sangat penting. Saat ini kami berada di jalur yang benar. Setelah kemarin menang di Liga melawan Osasuna, pertandingan itu menunjukkan keinginan kami untuk menang”

Barcelona memang masih perkasa di Liga musim ini. Mereka masih menjadi pemuncak klasemen sementara La Liga di atas Real Madrid. Namun, performa mereka di kompetisi Eropa cukup mengkhawatirkan. Barca tersingkir dari Champions League dan harus berjuang di babak playoff Europa League melawan Manchester United.

Berkat Main di Munchen

Penghargaan ini bisa menjadi pelipur lara bagi Lewandowski atas hasil buruk tersebut. Barcelona juga bisa menambah daftar nama pemainnya yang sudah menerima penghargaan pencetak gol terbanyak di Eropa itu. Sebelumnya, pemain Barcelona yang sudah mendapatkan Golden Shoe adalah legenda Blaugrana seperti Hristo Stoichkov, Ronaldo Nazario, Luis Suarez, dan Lionel Messi.

Namun meskipun Lewandowski menerima penghargaan sepatu emas sebagai pemain Barcelona, Lewandowski tidak mendapatkan penghargaan ini karena sudah bermain bersama Barcelona. Sebab sepatu emas yang diterima Lewandowski ini adalah untuk performa apiknya di musim 2021/22 ketika ia masih berseragam Bayern Munchen.

Ia mendapatkan Golden Shoe ini setelah mencetak 35 gol untuk Bayern Munchen di Bundesliga musim lalu. Mengalahkan Kylian Mbappe yang mengoleksi 28 gol dan Benzema yang mencetak 27 gol.

Torehan 35 gol itu memang sungguh impresif untuk pemain yang sudah berusia 30 tahun keatas. Namun, jumlah gol itu lebih sedikit dibandingkan ketika ia mendapatkan Golden Shoe untuk musim 2020/21. Di musim itu, Lewandowski mencetak 41 gol untuk Bayern Munchen. Mengalahkan Messi yang mencetak 30 gol dan Cristiano Ronaldo yang menorehkan 29 gol.

Bersaing Dengan Haaland

Upaya Lewandowski untuk mempertahankan gelar Golden Shoe musim ini akan semakin berat. Pasalnya Penyerang asal Polandia itu akan bersaing melawan Erling Haaland di musim ini. Bomber Manchester City itu tampil mengerikan di musim ini dengan sudah mencetak 23 gol dalam 17 pertandingan di semua kompetisi. Sedangkan Lewandowski masih mencetak 18 gol dari 19 pertandingan bersama Barcelona.

Namun, Lewandowski menegaskan bahwa kemenangan tim adalah yang utama. Ia ingin lebih mementingkan tim daripada penghargaan pribadinya sendiri.

“Hal terbaik bagi saya adalah kemenangan tim. Itu lebih dari penghargaan atau gol individu, tapi saya akan mencoba untuk mendapatkan penghargaan ini lagi meskipun akan sulit. Saya akan bekerja lebih keras lagi dan ini adalah musim yang panjang. Setelah pulang dari Piala Dunia, masih ada enam bulan lagi” ungkapnya.

 

Sumber referensi: Barcelona, Marca, Transfermarkt