Sudah hampir dua dekade berlalu sejak Piala Dunia 2002. Namun, sejumlah alumni dari ajang empat tahunan yang diselenggarakan di Jepang dan Korea Selatan itu, masih merumput secara profesional hingga tahun 2022. Tahun di mana Piala Dunia Qatar diselenggarakan.
Tentu tak mudah untuk menjaga level permainan tetap oke dalam kurun waktu hampir 20 tahun lamanya. Dalam prosesnya dibutuhkan kondisi fisik dan mental yang prima, tekad yang kuat, serta diimbangi dengan pola latihan yang tepat seiring bertambahnya usia sang pemain.
Itu semua dibutuhkan apabila sang pemain ingin terus bermain di level teratas. Dan berikut adalah daftar pemain alumni Piala Dunia 2002 yang mampu membuktikan itu. Mereka masih eksis sebagai pemain sepakbola profesional hingga sekarang.
Daftar Isi
Zlatan Ibrahimovic
Zlatan Ibrahimovic jadi contoh nyata kalau usia hanyalah angka. Pemain asal Swedia ini pernah berkelakar kalau dirinya adalah jelmaan tokoh Benjamin Button. Ia merasa lebih muda dan lebih bugar setiap tahunnya. Sehingga saat ini masih eksis bermain di kompetisi teratas Benua Biru.
4. Zlatan Ibrahimovic has participated in two World Cup editions (2002,2006) making a total of 5 appearances but never scored in any of them. pic.twitter.com/nn6iJgY699
— 𝗠𝗮𝗻𝗹𝗶𝗸𝗲 𝗠𝗮𝘂𝘁𝗶 (@Mautizz) September 21, 2022
Mantan pemain Manchester United itu pernah memperkuat Timnas Swedia di Piala Dunia 2002. Saat itu ia mendapatkan menit bermain di matchday terakhir melawan Argentina. Duetnya bersama Henrik Larsson sempat membuat La Albiceleste pontang panting. Ia juga sempat tampil di babak 16 besar kala bersua Timnas Senegal. Sayang, Ibra tak mampu mengantarkan Swedia melangkah lebih jauh setelah takluk 1-2 atas Senegal.
Dan kini, di usia 41 tahun Ibra masih mampu menjaga level permainannya dengan bermain di kompetisi seketat Serie A. Bahkan, di usia 40 tahun ia sanggup membawa Milan meraih scudetto di musim 2021/22. Musim ini dirinya belum turun bermain akibat faktor cedera.
Joaquin
Selanjutnya ada sosok winger legendaris asal Spanyol, Joaquin Sanchez. Pemain Real Betis ini termasuk pemain yang dibawa oleh pelatih La Furia Roja, Jose Antonio Camacho untuk berangkat ke Korea Selatan tahun 2002 silam.
Meski masih berusia 20 tahun, Camacho sudah memberikan kepercayaan lebih pada Joaquin. Ia ditugaskan untuk mengambil penalti keempat dalam babak perempat final yang kontroversial kontra Korea Selatan. Sayangnya, ia tak mampu menunaikan tugasnya dengan baik. Kegagalan Joaquin membuat Spanyol tersingkir.
Joaquín pertama kali memenangkan Copa del Rey bersama Real Betis pada tahun 2005. Pada saat berusia 23 Tahun.
17 tahun kemudian, dia memenangkannya lagi. Pada usia 40 tahun.
What a Story!💚🥹 pic.twitter.com/YEqNtLdXBV
— Fakta Bola ⚽ (@FaktaSepakbola) April 24, 2022
Joaquin masih dipanggil La Roja untuk Piala Dunia 2006, tapi itu jadi yang terakhir untuknya. Kini di usia Joaquin yang sudah menginjak 41 tahun, ia masih kokoh berdiri di lapangan hijau. Joaquin bahkan memimpin klub masa kecilnya, Real Betis menjuarai Copa del Rey 2022, trofi pertama klub sejak ia membantu tim meraih gelar yang sama pada tahun 2005.
Gianluigi Buffon
Gianluigi Buffon terkenal sebagai ikon sepakbola Italia yang tak lekang oleh waktu. Karena, alumni Piala Dunia 2022 ini semakin tua justru makin semangat main bola. Buffon bahkan belum terpikir untuk pensiun di usianya yang kini telah menginjak 44 tahun.
Buffon menjadi portiere utama Timnas Italia di Piala Dunia 2022. sayangnya ia gagal membawa negaranya melangkah lebih jauh. Italia terhenti di babak 16 besar oleh tim tuan rumah, Korea Selatan. Meski begitu, penampilan heroiknya, Buffon mampu meraih trofi Piala Dunia 2006 dan diakui sebagai salah satu kiper terbaik di dunia.
Dan sekarang, sang pemilik satu gelar Piala Dunia itu masih aktif bermain bersama Parma di Serie B. Klub tersebut merupakan klub masa kecil Buffon dan pada usia 44 tahun, ia tetap menjadi penjaga gawang utama Gli Emiliani. Kini Buffon telah menjalani lebih dari 950 laga di level klub.
Shinji Ono
Selanjutnya ada legenda Timnas Jepang, Shinji Ono. Ia pernah berkarir di sepakbola Eropa bersama Feyenoord. Dan berkat performa apiknya di Negeri Kincir Angin itu, Ono dipanggil Jepang untuk mempertaruhkan nama baik sebagai tim tuan rumah di ajang Piala Dunia 2002.
Di Piala Dunia 2002, prestasi Jepang tak sementereng Korea Selatan. Shinji Ono hanya mampu mengantarkan Samurai Biru hingga babak 16 besar setelah dikalahkan oleh tim kejutan Turki. Setelah Piala Dunia 2002, karir klub Shinji Ono berlanjut ke Jerman bersama Bochum. Dua tahun di Jerman, Ono akhirnya pulang kampung dan sempat menjajal sepakbola Australia bersama Western Sydney.
🦉🇯🇵 It was a season debut for Shinji Ono with @consaofficial on Wednesday 🤩 pic.twitter.com/FbQjZPsJ12
— J.LEAGUE Official EN (@J_League_En) May 28, 2022
Kini, di usia ke 43 tahun, mantan rekan Irfan Bachdim itu masih aktif bermain di kasta tertinggi sepakbola Jepang bersama Hokkaido Consadole Sapporo. Meski jarang bermain, Ono belum mau mengakhiri karir persepakbolaannya. Selama karirnya, Ono sudah mengantongi beberapa trofi bergengsi termasuk Europa League musim 2001/02 bersama Feyenoord.
Junichi Inamoto
Shinji Ono tak sendirian, kompatriotnya di Piala Dunia 2002 yakni Junichi Inamoto juga masih aktif bermain hingga sekarang. Inamoto masih terdaftar sebagai pemain Nankatsu SC, tapi bukan Nankatsunya Captain Tsubasa ya, ini Nankatsu yang bermain di divisi kelima sepakbola Jepang.
Beda halnya dengan Shinji Ono, Inamoto lebih eksis di sepakbola Inggris. Mungkin yang paling diingat ketika ia sempat membela Fulham, West Brom, hingga sang pemuncak klasemen Liga Inggris saat ini, Arsenal musim 2001/02. Setelah dilepas Arsenal, Inamoto pun memperkuat Timnas Jepang di Piala Dunia 2002.
Meski berposisi sebagai gelandang bertahan, Inamoto sangat menarik perhatian di ajang empat tahunan tersebut. Ia mampu mencetak dua gol di penyisihan Grup H, yang mana salah satunya jadi gol kemenangan Jepang atas Rusia.
Setelah Piala Dunia 2002, Inamoto masih bermain di Eropa. Ia sempat memperkuat Cardiff, Galatasaray, Eintracht Frankfurt, dan yang terakhir Rennes pada musim 2009/2010. Setelah itu ia kembali ke Jepang untuk memperkuat beberapa klub lokal, dan kini memperkuat Nankatsu SC.
Roque Santa Cruz
Roque Santa Cruz juga menjadi salah satu alumni pemain yang pernah berlaga di Piala Dunia 2002 masih aktif bermain saat ini. Santa Cruz tercatat membela Paraguay di turnamen tersebut di usia 21 tahun dan berhasil mencetak gol saat melawan Afrika Selatan di fase grup.
Setelah Piala Dunia 2002, Santa Cruz menjadi striker andalan Paraguay di dua edisi Piala Dunia selanjutnya, yakni 2006 dan 2010. Total ia sudah mencatat 112 caps dan mencetak 32 gol selama memperkuat timnas Paraguay.
Libertad lead at the break and of course it had to be Roque Santa Cruz scoring against his former club. pic.twitter.com/qD2s2aqEB6
— Ralph Hannah (@paraguayralph) May 8, 2022
Saat ini, mantan pemain Manchester City itu masih aktif bermain di kasta tertinggi Liga Paraguay bersama Libertad. Terbukti, pemain berusia 41 tahun ini sudah mengantongi 14 gol dalam 43 pertandingan di semua kompetisi bersama klub lokal Paraguay tersebut.
Idriss Carlos Kameni
Terakhir ada Idriss Carlos Kameni penjaga gawang asal Kamerun. Menjadi bagian peraih medali emas Olimpiade 2000, catatan itu juga yang membawa Kameni muda yang masih berusia 18 tahun pergi ke Piala Dunia 2002 bersama Timnas Kamerun.
Setelah Piala Dunia 2002, karir Kameni kian menanjak. Lulusan akademi Le Havre ini memiliki beberapa memori manis di sepakbola Eropa, khususnya Spanyol. Ketika bermain untuk Espanyol, ia menjadi pahlawan tim setelah mengantarkan Los Periquitos menjuarai Copa Del Rey musim 2005/06.
Saat ini Kameni yang sudah berusia 38 tahun masih aktif bermain di Liga Utama Andorra bersama Santa Coloma. Ia bergabung dengan Coloma sejak awal musim ini. Sayangnya, karena faktor kebugaran, ia baru bermain di dua laga bersama klub barunya tersebut.
Sumber: Planetfootball, Transfermarkt, Bola, Indosport
