Beranda blog Halaman 458

Tak Disangka! Alumni Piala Dunia 2002 ini Masih Aktif Hingga Sekarang

0

Sudah hampir dua dekade berlalu sejak Piala Dunia 2002. Namun, sejumlah alumni dari ajang empat tahunan yang diselenggarakan di Jepang dan Korea Selatan itu, masih merumput secara profesional hingga tahun 2022. Tahun di mana Piala Dunia Qatar diselenggarakan.

Tentu tak mudah untuk menjaga level permainan tetap oke dalam kurun waktu hampir 20 tahun lamanya. Dalam prosesnya dibutuhkan kondisi fisik dan mental yang prima, tekad yang kuat, serta diimbangi dengan pola latihan yang tepat seiring bertambahnya usia sang pemain.

Itu semua dibutuhkan apabila sang pemain ingin terus bermain di level teratas. Dan berikut adalah daftar pemain alumni Piala Dunia 2002 yang mampu membuktikan itu. Mereka masih eksis sebagai pemain sepakbola profesional hingga sekarang.

Zlatan Ibrahimovic

Zlatan Ibrahimovic jadi contoh nyata kalau usia hanyalah angka. Pemain asal Swedia ini pernah berkelakar kalau dirinya adalah jelmaan tokoh Benjamin Button. Ia merasa lebih muda dan lebih bugar setiap tahunnya. Sehingga saat ini masih eksis bermain di kompetisi teratas Benua Biru.

Mantan pemain Manchester United itu pernah memperkuat Timnas Swedia di Piala Dunia 2002. Saat itu ia mendapatkan menit bermain di matchday terakhir melawan Argentina. Duetnya bersama Henrik Larsson sempat membuat La Albiceleste pontang panting. Ia juga sempat tampil di babak 16 besar kala bersua Timnas Senegal. Sayang, Ibra tak mampu mengantarkan Swedia melangkah lebih jauh setelah takluk 1-2 atas Senegal.

Dan kini, di usia 41 tahun Ibra masih mampu menjaga level permainannya dengan bermain di kompetisi seketat Serie A. Bahkan, di usia 40 tahun ia sanggup membawa Milan meraih scudetto di musim 2021/22. Musim ini dirinya belum turun bermain akibat faktor cedera.

Joaquin

Selanjutnya ada sosok winger legendaris asal Spanyol, Joaquin Sanchez. Pemain Real Betis ini termasuk pemain yang dibawa oleh pelatih La Furia Roja, Jose Antonio Camacho untuk berangkat ke Korea Selatan tahun 2002 silam.

Meski masih berusia 20 tahun, Camacho sudah memberikan kepercayaan lebih pada Joaquin. Ia ditugaskan untuk mengambil penalti keempat dalam babak perempat final yang kontroversial kontra Korea Selatan. Sayangnya, ia tak mampu menunaikan tugasnya dengan baik. Kegagalan Joaquin membuat Spanyol tersingkir.

Joaquin masih dipanggil La Roja untuk Piala Dunia 2006, tapi itu jadi yang terakhir untuknya. Kini di usia Joaquin yang sudah menginjak 41 tahun, ia masih kokoh berdiri di lapangan hijau. Joaquin bahkan memimpin klub masa kecilnya, Real Betis menjuarai Copa del Rey 2022, trofi pertama klub sejak ia membantu tim meraih gelar yang sama pada tahun 2005.

Gianluigi Buffon

Gianluigi Buffon terkenal sebagai ikon sepakbola Italia yang tak lekang oleh waktu. Karena, alumni Piala Dunia 2022 ini semakin tua justru makin semangat main bola. Buffon bahkan belum terpikir untuk pensiun di usianya yang kini telah menginjak 44 tahun. 

Buffon menjadi portiere utama Timnas Italia di Piala Dunia 2022. sayangnya ia gagal membawa negaranya melangkah lebih jauh. Italia terhenti di babak 16 besar oleh tim tuan rumah, Korea Selatan. Meski begitu, penampilan heroiknya, Buffon mampu meraih trofi Piala Dunia 2006 dan diakui sebagai salah satu kiper terbaik di dunia.

Dan sekarang, sang pemilik satu gelar Piala Dunia itu masih aktif bermain bersama Parma di Serie B. Klub tersebut merupakan klub masa kecil Buffon dan pada usia 44 tahun, ia tetap menjadi penjaga gawang utama Gli Emiliani. Kini Buffon telah menjalani lebih dari 950 laga di level klub.

Shinji Ono

Selanjutnya ada legenda Timnas Jepang, Shinji Ono. Ia pernah berkarir di sepakbola Eropa bersama Feyenoord. Dan berkat performa apiknya di Negeri Kincir Angin itu, Ono dipanggil Jepang untuk mempertaruhkan nama baik sebagai tim tuan rumah di ajang Piala Dunia 2002.

Di Piala Dunia 2002, prestasi Jepang tak sementereng Korea Selatan. Shinji Ono hanya mampu mengantarkan Samurai Biru hingga babak 16 besar setelah dikalahkan oleh tim kejutan Turki. Setelah Piala Dunia 2002, karir klub Shinji Ono berlanjut ke Jerman bersama Bochum. Dua tahun di Jerman, Ono akhirnya pulang kampung dan sempat menjajal sepakbola Australia bersama Western Sydney.

Kini, di usia ke 43 tahun, mantan rekan Irfan Bachdim itu masih aktif bermain di kasta tertinggi sepakbola Jepang bersama Hokkaido Consadole Sapporo. Meski jarang bermain, Ono belum mau mengakhiri karir persepakbolaannya. Selama karirnya, Ono sudah mengantongi beberapa trofi bergengsi termasuk Europa League musim 2001/02 bersama Feyenoord.

Junichi Inamoto

Shinji Ono tak sendirian, kompatriotnya di Piala Dunia 2002 yakni Junichi Inamoto juga masih aktif bermain hingga sekarang. Inamoto masih terdaftar sebagai pemain Nankatsu SC, tapi bukan Nankatsunya Captain Tsubasa ya, ini Nankatsu yang bermain di divisi kelima sepakbola Jepang.

Beda halnya dengan Shinji Ono, Inamoto lebih eksis di sepakbola Inggris. Mungkin yang paling diingat ketika ia sempat membela Fulham, West Brom, hingga sang pemuncak klasemen Liga Inggris saat ini, Arsenal musim 2001/02. Setelah dilepas Arsenal, Inamoto pun memperkuat Timnas Jepang di Piala Dunia 2002.

Meski berposisi sebagai gelandang bertahan, Inamoto sangat menarik perhatian di ajang empat tahunan tersebut. Ia mampu mencetak dua gol di penyisihan Grup H, yang mana salah satunya jadi gol kemenangan Jepang atas Rusia.

Setelah Piala Dunia 2002, Inamoto masih bermain di Eropa. Ia sempat memperkuat Cardiff, Galatasaray, Eintracht Frankfurt, dan yang terakhir Rennes pada musim 2009/2010. Setelah itu ia kembali ke Jepang untuk memperkuat beberapa klub lokal, dan kini memperkuat Nankatsu SC.

Roque Santa Cruz 

Roque Santa Cruz juga menjadi salah satu alumni pemain yang pernah berlaga di Piala Dunia 2002 masih aktif bermain saat ini. Santa Cruz tercatat membela Paraguay di turnamen tersebut di usia 21 tahun dan berhasil mencetak gol saat melawan Afrika Selatan di fase grup.

Setelah Piala Dunia 2002, Santa Cruz menjadi striker andalan Paraguay di dua edisi Piala Dunia selanjutnya, yakni 2006 dan 2010. Total ia sudah mencatat 112 caps dan mencetak 32 gol selama memperkuat timnas Paraguay.

Saat ini, mantan pemain Manchester City itu masih aktif bermain di kasta tertinggi Liga Paraguay bersama Libertad. Terbukti, pemain berusia 41 tahun ini sudah mengantongi 14 gol dalam 43 pertandingan di semua kompetisi bersama klub lokal Paraguay tersebut.

Idriss Carlos Kameni

Terakhir ada Idriss Carlos Kameni penjaga gawang asal Kamerun. Menjadi bagian peraih medali emas Olimpiade 2000, catatan itu juga yang membawa Kameni muda yang masih berusia 18 tahun pergi ke Piala Dunia 2002 bersama Timnas Kamerun.

Setelah Piala Dunia 2002, karir Kameni kian menanjak. Lulusan akademi Le Havre ini memiliki beberapa memori manis di sepakbola Eropa, khususnya Spanyol. Ketika bermain untuk Espanyol, ia menjadi pahlawan tim setelah mengantarkan Los Periquitos menjuarai Copa Del Rey musim 2005/06. 

Saat ini Kameni yang sudah berusia 38 tahun masih aktif bermain di Liga Utama Andorra bersama Santa Coloma. Ia bergabung dengan Coloma sejak awal musim ini. Sayangnya, karena faktor kebugaran, ia baru bermain di dua laga bersama klub barunya tersebut.

Sumber: Planetfootball, Transfermarkt, Bola, Indosport

Dear Barcelona, Jangan Sia-Siakan Pertaruhan Lewandowski!

0

Penandatanganan Robert Lewandowski ke Barcelona menjadi salah satu transfer yang paling mencengangkan musim panas ini. Blaugrana secara mengejutkan bisa mendatangkan salah satu striker terbaik di dunia.

Di sisi lain, ini menumbulkan pertanyaan, mengapa Lewandowski yang sudah begitu luar biasa di Bayern Munchen memilih pindah ke Barcelona? Apa yang diharapkan Lewy dengan bergabung ke klub tuas ekonomi?

Kedatangan Lewandowski ke Barcelona

Barcelona mengagetkan banyak orang ketika belanja sporadis di awal musim ini. Tim Catalan yang sedang terhimpit utang di sana-sini, penunggakan gaji, pemotongan upah, sampai harus menarik tuas ekonomi untuk kesekian kalinya, justru mendatangkan para pemain baru.

Dari sekian pemain yang datang ke Camp Nou, Robert Lewandowski jadi yang mengguncang semua orang. Sebab ketika itu, Blaugrana memang sedang terlilit masalah keuangan. Barca harus menstabilkan keuangan dulu agar bisa membeli pemain.

Itu pun belum cukup. Ketika sudah membeli pemain, Barcelona juga harus mematuhi financial fair play. Blaugrana harus mengurangi gaji para pemain supaya para pemain baru bisa didaftarkan. Terlepas dari itu, Barcelona akhirnya bisa mendatangkan bomber Polandia tersebut.

Kendati Barcelona harus menguras kantong mereka sendiri. Untuk mendatangkan Lewy, Barcelona setidaknya harus mengeluarkan kocek 50 juta euro atau sekitar Rp787 miliar. Sebab tawaran sebelumnya, yaitu 40 juta euro (Rp630 miliar) tidak membuat Bayern Munchen sudi melepas Lewy.

Dengan tawaran itu, Die Roten akhirnya luluh dan mau melepas Lewy. CEO Bayern Munchen, Oliver Kahn bahkan bilang tidak bisa menolak tawaran Barcelona. Akhirnya bomber Polandia itu pun pergi ke Camp Nou.

Mengapa Bayern Mau Melepas Lewy?

Berbicara dengan Bild yang juga dikutip Goal, Oliver Kahn mengatakan jumlah yang ditawarkan Blaugrana sangat masuk akal. Meski sebetulnya bukan cuma itu alasan Bayern Munchen melepas Lewandowski ke Barcelona. The Bavarian meyakini bahwa Lewy memang ingin hengkang.

Die Roten juga gerah dengan pemberitaan Lewy yang ingin angkat kaki dari Allianz Arena. Hal itu membuat FC Hollywood akhirnya memutuskan membiarkan Lewandowski pergi ke Barcelona. Lagi pula, Bayern Munchen sudah mendapatkan Sadio Mane.

Meski seorang pemain sayap, Mane bisa berperan sebagai penyerang tengah. Jadi, bagi Oliver Kahn dan kolega tidak masalah melepas pemain yang sudah mencetak 344 gol selama berseragam Munchen itu ke Blaugrana.

Banyak Dikritik

Merapatnya Robert Lewandowski ke Barcelona menghembuskan angin kritik dari segala arah. Manajer Bayern Munchen, Julian Nagelsmann menjadi orang yang cukup nyaring melancarkan kritik kepada Blaugrana. Nagelsmann yang kehilangan salah satu pemainnya itu, menuding bahwa aktivitas transfer Barcelona sangat tidak wajar.

Dilansir Mirror, Nagelsmann mengatakan, Barcelona merupakan satu-satunya klub di dunia yang “tidak memiliki uang”, tapi bisa membeli banyak pemain yang mereka inginkan. “Saya tidak tahu bagaimana mereka (Barcelona) bisa melakukannya. Ini aneh dan agak gila,” kata Julian Nagelsmann.

Hal itu sudah ditepis Joan Laporta. Presiden Barcelona itu mengatakan, bahwa mereka yang meragukan timnya soal keuangan hanya tidak tahu saja. Laporta berani mengatakan apa yang disampaikan Nagelsmann hanya mendistorsi kenyataan.

Kritik juga berhembus dari agen senior, Josep Maria Minguella. Ia adalah mantan agen para jugador besar, seperti Maradona, Romario, hingga Lionel Messi. Dilansir Marca sebagaimana dikutip Republika, Minguella mengatakan dirinya sangat mengagumi Lewandowski sejak 20 tahun yang lalu.

Minguella juga mengakui bahwa Lewy sangat cocok bermain di Jerman. Sangat disayangkan ia memilih pindah ke Spanyol. Menurut Minguella, pindah ke Spanyol akan mendatangkan banyak masalah bagi Lewandowski. Di La Liga, pemain Polandia itu tidak banyak ruang untuk berkreasi.

Media-media Spanyol juga mengkritik kehadiran Lewandowski di Barcelona. Marca misalnya, yang mengatakan bahwa La Liga berbeda dengan Bundesliga. Lewandowski harus bisa mendatangkan sorak dari banyak orang. Tekanannya pun lebih tinggi.

El Mundo Deportivo juga menyebut sang pemain tidak kohesif dengan anggota skuad lainnya di laga pertama melawan Rayo Vallecano. Pada laga itu, Lewy tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Beresiko untuk Barcelona

Penandatanganan Lewandowski bagi Barcelona juga sebetulnya penuh dengan resiko. Blaugrana membeli Lewy saat usianya pada waktu itu 33 tahun, dan sekarang sudah 34 tahun. Sementara Barcelona mengontrak Lewy dengan durasi empat tahun.

Artinya, Lewandowski akan bertahan di Camp Nou sampai usianya kira-kira 37 atau 38 tahun. Usia yang tidak lagi muda. Barcelona bisa jadi akan kesulitan bila ingin menjualnya lagi. Meski demikian, Presiden  Joan Laporta tidak masalah dengan kualitas Lewandowski.

Betul bahwa Lewy sangat peduli dengan asupan gizi. Istrinya yang menjadi ahli gizi untuknya. Itulah mengapa pada usia sekarang Lewandowski tampak masih sangat bugar. Tapi itu hari ini, kita tidak tahu dua-tiga tahun lagi.

Performa seorang pemain bisa saja menurun. Selain itu, pembelian Lewandowski juga tidak bisa disamakan dengan pembelian pemain muda, katakanlah seperti Ferran Torres. Ferran bisa saja naik harganya setelah dipoles Barcelona.

Dengan kata lain, pembelian Lewandowski melenceng dari konsep: beli pemain muda, kembangkan, lalu jual dengan harga mahal. Sebagai klub raksasa, klub yang cerdas membeli pemain, Barcelona pasti tahu soal itu. Minimal sadar bahwa Lewandowski bukan aset jangka panjang.

Lewandowski Menanggung Resiko

Meski demikian, Barcelona tidak bisa menyebut dirinya si paling ambil resiko. Sebab Robert Lewandowski, dalam hal ini juga menanggung resiko. Selain soal tekanan yang lebih tinggi, Lewandowski mempertaruhkan reputasinya. Jika tidak bagus, ia akan banyak disorot.

Tapi apalah hendak dikata. Robert Lewandowski tentulah mengerti betul resiko-resiko yang akan ditanggung ketika bergabung ke Barcelona. Termasuk jika kelak gajinya akan disunat ketika Barcelona kembali mengalami krisis finansial.

Hal itu tampaknya tidak menjadi soal. Sebab toh bergabung ke Barcelona memang keinginan Lewandowski. Mantan pemain Lech Poznan itu terpesona dengan Joan Laporta dan Xavi. Membuat gondelan Bayern Munchen tidak digubris dan tetap memilih terbang ke Spanyol.

Lewandowski terus berbicara keinginannya untuk bermain di La Liga. Duel El Clasico menjadi daya tarik Lewandowski. Mantan agen Lewandowski, Cezary Kucharski mengatakan bahwa sang pemain sangat ingin membuktikan dirinya lebih baik dari striker Real Madrid, Karim Benzema.

Tekad itulah yang mendorong Lewandowski bergabung ke Barcelona. Menurut Lewy, Barcelona dan Real Madrid punya level yang sama. Tentu saja di sisi lain, La Liga jelas diuntungkan. Karena duel El Clasico yang mempertemukan Lewandowski dan Benzema jadi daya tarik baru.

Duh, Barcelona…

Dengan begitu Robert Lewandowski telah mempertaruhkan resiko yang akan ditanggung demi Barcelona. Tinggal bagaimana Barcelona tidak menyia-nyiakan pertaruhan Lewandowski. Tapi apakah demikian yang terjadi?

Barcelona kembali gagal untuk melaju jauh di Liga Champions. Pupus sudah kesempatan Lewandowski untuk mengangkat Si Kuping Besar. Di sisi lain, Bayern Munchen melaju. Kesempatan Barcelona untuk menghargai pertaruhan Lewandowski ada di Europa League dan La Liga.

Blaugrana masih sangat mungkin menjuarai La Liga. Tapi bagaimana dengan Liga Eropa? Barcelona pasti menghormati Lewandowski, walaupun dengan mencari calon penggantinya. Belum separuh musim, meski masih ada Lewy, rumornya Barca sudah membidik daun muda baru, Youssoufa Moukoko dari Borussia Dortmund.

https://youtu.be/SoRfbmz5Xts

Sumber: GOAL1, GOAL2, ESPN, SI, BR, News18, Mirror, Sportsbrief, Soccernet, Republika

Piala Dunia 2006: Ketika Italia Bisa Juara di Tengah Ruwetnya Calciopoli

Tidak salah jika orang menganggap bahwa Piala Dunia 2006 adalah Piala Dunia yang terbaik. Dalam edisi Piala Dunia 2006 tersebut menyimpan banyak pertunjukan dan drama yang menambah keseruan dalam menonton.

Apalagi 2006 adalah masa dimana pemain-pemain yang kita anggap sebagai legenda saat ini bermain. Seperti Zinedine Zidane, Gianluigi Buffon, dan Luis Figo. Ditambah talenta – talenta muda yang lahir dan menjadi legenda di masa depan seperti Wayne Rooney, Cristiano Ronaldo, dan Lionel Messi.

Dan Pada Piala Dunia 2006 menghadirkan partai final yang paling dramatis yang pernah ada. Terutama tandukan Zidane ke dada Materazzi di penghujung karir sang legenda Real Madrid itu. Hingga pada akhirnya memunculkan Italia sebagai juara Piala Dunia 2006. Itu menjadi gelar Piala Dunia keempat Gli Azzuri sepanjang sejarah.

Noda Sepakbola Italia

Akan tetapi, tahun 2006 sebenarnya bukan tahun yang baik untuk sepakbola Italia. Pada tahun tersebut, kasus calciopoli yang sudah dilakukan investigasinya sejak musim 2004/05 mulai terkuak. Tim investigasi dari federasi sepakbola Italia menemukan bahwa dalam perebutan scudetto Juventus di musim 2004/05 terdapat setidaknya 20 pertandingan yang diatur.

Pada bulan Mei 2006, kasus calciopoli pun mulai menguak di media. Dan kejahatan memalukan itu sudah mencoreng nama baik Serie A yang dianggap sebagai liga terbaik di Eropa saat itu. Tercatat ada lima klub Italia yang divonis terlibat dalam kasus calciopoli. Lima klub Italia tersebut diantaranya AC Milan, Lazio, Fiorentina, Reggina, dan Juventus divonis terlibat atas kasus calciopoli dan dijatuhi hukuman yang berat.

Namun mau seberapa berat hukuman itu, tinta hitam sudah menodai citra sepakbola Italia. Dan selain waktu, tidak ada yang bisa dilakukan untuk membersihkan noda tersebut. Parahnya lagi, timnas Italia berada di tengah-tengah persiapan untuk berangkat ke Piala Dunia 2006 di Jerman. Turnamen akbar yang mempertemukan 32 tim nasional terbaik dari seluruh penjuru dunia.

Normalnya, tim nasional yang akan berlaga di ajang sebesar Piala Dunia pasti akan fokus dan mempersiapkan dirinya untuk bertempur di atas lapangan nanti. Tapi tidak dengan Italia, skuad Gli Azzuri sangat terpengaruh dengan kabar buruk calciopoli yang menerpa. Para pemain Italia, terutama bagi pemain dari klub yang terlibat calciopoli sudah pasti tidak tenang dan cemas memikirkan bagaimana nasib mereka di musim selanjutnya.

Untungnya, Italia masuk ke grup yang tergolong mudah. Mereka tergabung dalam Grup E bersama Ghana, Republik Ceko, dan Amerika Serikat. Pertandingan pertama Gli Azzurri di babak penyisihan grup adalah melawan tim dari Afrika, Ghana. Italia tentu membutuhkan kemenangan karena di pertandingan yang lain, Republik Ceko sudah mengalahkan Amerika Serikat dengan skor 3-0.

Juara Grup yang Tak Dirayakan

Andrea Pirlo membuka kebuntuan dengan mencetak gol di menit ke-40. Sebelum pertandingan usai, tepatnya di menit ke-83 Vincenzo Iaquinta menggandakan keunggulan Italia menjadi 2-0. Italia pun bisa meraih tiga poin penuh setelah mempertahankan kedudukan sampai peluit panjang dibunyikan.

Di pertandingan selanjutnya, anak asuh Marcello Lippi bertemu dengan tim negeri paman sam. Dipecundangi oleh Republik Ceko di pertandingan sebelumnya, Amerika Serikat justru bisa memberikan perlawanan kepada Italia. Namun gol pertama di pertandingan tersebut adalah milik Italia setelah Alberto Gilardino mencetak gol di menit ke-22. Amerika Serikat mampu menyamakan keunggulan berkat gol bunuh diri dari Cristian Zaccardo di menit ke-27. Tapi Clint Dempsey dan kolega tidak mampu memanfaatkan keadaan sehingga kedudukan imbang bertahan sampai akhir laga.

Laga pamungkas grup antara Italia melawan Republik Ceko dimulai dengan buruk untuk Italia. Alessandro Nesta dipaksa keluar karena cedera dan digantikan oleh Marco Materazzi. Namun, Materazzi ternyata tampil menjanjikan setelah ia mencetak gol pembuka di menit ke-26. Kartu merah Jan Polak pun bisa dimanfaatkan Italia untuk menambah pundi-pundi gol. Di menit ke-87 Filippo Inzaghi berhasil mencetak gol kedua bagi Italia sekaligus memastikan Italia lolos sebagai juara Grup E.

Berhasil lolos ke fase babak 16 besar sebagai juara grup tentu sebuah prestasi yang membanggakan bagi Italia. Apalagi pencapaian itu diraih saat keruwetan calciopoli sedang berlangsung di tanah air mereka. Di Italia sendiri, media sedang sibuk memberitakan skandal calciopoli seiring dengan fakta-fakta yang terungkap ketika turnamen Piala Dunia sedang berlangsung. Meskipun begitu, Azzurri tidak ada pilihan lain untuk terus maju.

Kemenangan yang Dramatis

Menjadi juara Grup E membuat Italia bisa menghindari Brasil yang tidak terkalahkan dan menjadi juara Grup F. Di babak 16 besar Italia berhak menghadapi runner up Grup F yaitu Australia. Menghadapi negeri kanguru, Italia justru kesusahan. Pirlo tampil sangat apik di pertandingan itu. Memberikan umpan-umpan matang ke lini serang Azzurri, namun tidak ada yang bisa mengkonversinya menjadi gol.

90 menit pertandingan berlangsung tidak ada gol yang tercipta. Wasit memberikan tanda bahwa akan ada 3 menit perpanjangan waktu. Dua menit lebih di masa perpanjangan waktu, masih belum juga ada bola yang masuk ke gawang. Ketika semua orang mengira laga akan dilanjutkan ke babak tambahan, bek Italia Fabio Grosso membawa bola ke kotak penalti Australia. Wasit yang sudah bersiap meniup peluit panjang malah meniup peluit pelanggaran.

Masih jadi kontroversi sampai sekarang, apakah pelanggaran itu sah atau tidak. Yang pasti itu jadi berkah untuk Italia. Francesco Totti yang jadi eksekutor penalti tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. kiper Australia sebenarnya bisa menebak arah tendangan Totti, namun sepakan Totti terlalu keras untuk bisa dihentikan. Italia bersorak, mereka bisa melangkah ke babak selanjutnya dengan cara yang sangat dramatis.

Kabar Duka dari Italia

Tapi kesenangan itu tidak bertahan lama. Hanya beberapa saat setelah kegembiraan Italia mengalahkan Australia, mereka menerima kabar buruk. Gianluca Pessotto, mantan pemain Juventus dan baru saja ditunjuk sebagai manajer Juve dikabarkan jatuh dari lantai atas gedung kantor Juventus di Turin. Dikabarkan ia melakukan percobaan bunuh diri karena malu tim kesayangannya, Juventus terlibat kasus calciopoli. Untungnya Pessotto selamat dan hanya menderita pendarahan.

Diantara klub-klub lainnya yang terlibat calciopoli, Juventus memang yang menerima hukuman paling berat karena memang si nyonya tua terbukti menjalin hubungan langsung dengan wasit. Juventus harus turun ke Serie B dan gelar juara liga musim 2004/05 dan musim 2005/06 dihapus.

Itu jadi kabar yang sangat menyedihkan bagi para pemain Italia. Mendengar kabar tragis itu, kapten Italia sekaligus Juventus, Fabio Cannavaro bahkan harus meninggalkan press conference pasca pertandingan melawan Australia. Ia mengaku sangat terpukul dengan kejadian tersebut. Cannavaro memang sangat dekat dengan Pessotto, ia bahkan mengatakan bahwa Pessotto adalah orang paling baik yang pernah ia temui.

Tidak hanya Cannavaro, kabar tragis itu juga menjadi pukulan bagi seluruh tim nasional Italia. Alessandro del Piero dan Gianluca Zambrotta bahkan rela minta izin meninggalkan Jerman untuk menjenguk Pessotto. Padahal saat itu Italia sedang berada dalam masa persiapan untuk pertandingan di babak quarter final.

Perjalanan ke Final

Di tengah keputusasaan Gli Azzurri karena apa yang terjadi di tanah airnya, Italia harus tetap tegak melangkah ke babak selanjutnya menghadapi Ukraina. Skandal yang melanda rumah mereka justru bisa dijadikan motivasi Italia. Mereka bisa menuntaskan tugas dengan mudah setelah mengalahkan Ukraina dengan skor telak 3-0.

Luca Toni melepaskan kebringasannya dengan mencetak dua gol di pertandingan itu. Dengan postur tubuhnya yang raksasa itu bisa mengobrak abrik pertahanan Ukraina. Sementara satu gol Italia lainnya di cetak oleh Gianluca Zambrotta ketika laga baru berjalan 6 menit. Mereka pun melaju ke partai semifinal untuk menghadapi monster yang sebenarnya, Jerman.

Jerman dan Italia adalah dua poros kekuatan sepakbola saat itu. Jerman, sebagai tim tuan rumah pasti lebih diunggulkan. Tapi Italia juga tidak bisa disepelekan, pertahanan Italia yang dipimpin Cannavaro dan gawang yang dijaga Buffon belum tertembus sama sekali selama pertandingan. Hanya sekali, itupun dari gol bunuh diri ketika laga melawan Amerika Serikat.

Laga itu berjalan sengit 90 menit laga dimainkan, hanya ada percobaan – percobaan dari kedua tim tanpa terciptanya gol. Buffon tampil memukau dengan melakukan banyak penyelamatan gemilang yang membuat Jerman frustasi. Akhirnya di babak pertambahan waktu, tepatnya di menit ke-119 Fabio Grosso mencetak gol indah yang bersejarah untuk Italia.

Dan hanya satu menit berselang, Italia melakukan skema serangan balik cantik yang diinisiasi oleh Fabio Cannavaro. Alessandro del Piero secepat kilat berlari ke depan untuk mencetak gol kedua di laga tersebut sekaligus memastikan tiket ke partai final Piala Dunia 2006.

Sejarah yang Manis, Masa Depan yang Pahit

Italia menghadapi Prancis di partai final. Pertandingan ini kelak menjadi partai final yang paling dikenang dalam sejarah Piala Dunia. Gawang Buffon akhirnya jebol juga lewat tendangan penalti panenka dari Zidane di menit ke-7. Namun, Italia bisa menyamai kedudukan tak lama kemudian lewat sundulan Marco Materazzi di menit ke-19. Gol sundulan Materazzi itu jadi ironis karena setelahnya, giliran Materazzi yang disundul oleh Zidane.

Yang dimaksud tentu saja drama antara Zidane dan Materazzi yang berujung tandukan Zidane ke dada Materazzi. Zidane langsung kena kartu merah dari wasit dan diusir dari lapangan. Itu jadi insiden yang sangat bersejarah untuk Italia dan catatan yang memalukan di penghujung karir Zidane yang pensiun tepat setelah Piala Dunia usai. Italia berhasil menahan Prancis dengan skor 1 sama sampai ke babak adu penalti.

Fabio Grosso jadi penendang pamungkas Italia di babak penalti. Italia pun memenangkan adu penalti dengan skor 5-3 setelah sebelumnya David Trezeguet gagal menjadi eksekutor kedua Prancis. Italia mengukir sejarah, mereka akhirnya bisa mengangkat Piala Dunia keempat mereka ketika masa tersulit sedang menerpa sepakbola Italia.

Apakah saat ini Italia bisa benar-benar bangkit ke era keemasan mereka lagi? tidak juga, melihat performa mereka yang suram di edisi-edisi Piala Dunia setelahnya. Meskipun mereka bisa menjuarai Euro 2020, tapi Gli Azzurri tidak bisa lolos kualifikasi Piala Dunia 2022 di Qatar. Namun, kisah kesuksesan Italia di Piala Dunia 2006 tetap menjadi cerita romantis. Dimana sepakbola Italia berada di titik terendah dan bersatu di bawah awan gelap calciopoli untuk meraih gelar juara Piala Dunia 2006.

 

Sumber referensi: Footballtimes, Guardian, B/R, Sports, FIFA, Tirto

Boateng Bersaudara: Cerita Rival Sedarah Kakak Beradik yang Beda Negara

Pada Piala Dunia 2010, ada momen unik terjadi di pertandingan babak penyisihan Grup D antara Ghana melawan Jerman. Di pertandingan tersebut ada kakak beradik yang saling berhadapan. Yaitu Jerome Boateng yang membela timnas Jerman dan Kevin-Prince Boateng yang dengan bangga berseragam Ghana. Kedua kakak beradik itu dipertemukan dalam satu pertandingan sebagai lawan.

Sebelum pertandingan itu berlangsung, mereka mengaku tidak saling berbicara satu sama lain bahkan sesaat sebelum Piala Dunia 2010 dimulai. Keadaan tersebut membuat tensi diantara keduanya semakin panas. Apalagi sebelumnya, Kevin-Prince sudah dibenci warga Jerman setelah melakukan pelanggaran terhadap Michael Ballack, yang membuat Ballack tidak bisa ikut Piala Dunia.

Kasus unik dua saudara yang membela dua tim nasional yang berbeda pun menimbulkan banyak pertanyaan. Bagaimana hubungan mereka sebenarnya? dan mengapa dua saudara bisa membela dua negara yang berbeda? dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang menarik untuk dibahas.

Awal Perjalanan Kevin

Cerita bermula ketika sang ayah, Prince Boateng pindah dari Ghana ke Jerman pada tahun 1981. Kevin-Prince lahir di tahun 1987 dan Jerome lahir dari ibu yang berbeda di tahun 1988. Mereka berdua sebenarnya punya kakak yang lebih tua, yaitu George Boateng. Namun sang kakak lebih memilih karir musik, ia kemudian menjadi rapper di Jerman dengan nama panggung BTNG. Meskipun dipercaya ia punya bakat yang lebih besar daripada kedua adiknya itu.

Ketika George Boateng memilih untuk tidak berkarir di dunia sepak bola profesional, karir Kevin-Prince dan Jerome baru saja akan dimulai. Kevin-Prince sempat tergabung dalam akademi Herta Berlin dan sempat tembus ke tim senior di sana. Ia juga menjadi pemain muda yang menjanjikan bahkan di tahun 2006 mendapatkan penghargaan Fritz Walter, penghargaan bergengsi Jerman untuk pemain-pemain muda.

Di tahun 2007 ia pun pindah ke London untuk memperkuat Tottenham Hotspurs. Namun, dirinya tidak bisa bersaing di tanah Inggris. Meskipun punya potensi yang besar sebagai pemain muda, dirinya hanya mampu mencatatkan 14 penampilan selama dua musim. Ia pun dipulangkan ke Jerman untuk dipinjamkan ke Borussia Dortmund.

Bergabung dengan skuad Dortmund di musim pertama Jurgen Klopp, Karir Kevin-Prince seperti berada di jalur yang benar. Namun sayangnya masa peminjamannya di Dortmund hanya selama enam bulan saja. Padahal tahun-tahun setelahnya Dortmund meraih kejayaan bersama Klopp. Klopp juga sebenarnya punya rencana untuk mempermanenkan Kevin-Prince namun saat itu klubnya sedang terkendala finansial. Ketika kembali ke Tottenham, Kevin-Prince sudah tidak dibutuhkan lagi oleh Harry Redknapp. Ia pun dibuang ke Portsmouth pada tahun 2009.

Perbedaan Nasib di Timnas

Tahun 2009 memang tahun yang berat bagi Kevin-Prince. Sebab di tahun itu juga ia hengkang dari timnas Jerman. Dan itu yang membuat semuanya berubah. Setelah beberapa tahun membela Der Panzer muda, Kevin-Prince memilih untuk membela tim nasional negara leluhurnya, Ghana. Keputusan tersebut ia ambil setelah dirinya didepak dari skuad Jerman untuk kompetisi Euro U-21 tahun 2009.

Kevin-Prince sebenarnya termasuk pemain vital tim muda Jerman. Bersama Mesut Ozil, Matt Hummels, Sami Khedira, Neuer dan adiknya Jerome Boateng. Namun sesaat sebelum skuad muda Jerman berangkat ke turnamen itu, Kevin-Prince dan beberapa rekan setimnya malah mlipir ke klub malam.

Kelakuan itu tidak bisa diterima oleh jajaran pelatih, ia pun dikeluarkan dari skuad Jerman untuk Euro U-21. Sialnya bagi Kevin-Prince, Jerman menjadi juara di kompetisi itu setelah mengalahkan Inggris di final. Ia pun hanya bisa menonton lewat tv selagi teman-temannya merayakan kesuksesan itu.

Berbeda dengan adiknya, Jerome Boateng menikmati kesuksesan yang perlahan tapi pasti. Ia memperkuat Herta Berlin di musim 2006/07 dan masuk di skuad utama ketika usianya baru 18 tahun. Di akhir musim, Jerome meninggalkan Berlin untuk bergabung bersama Hamburg SV. Ia kemudian semakin berkembang sebagai seorang bek muda. Selama tiga tahun di Hamburg, ia mencatatkan penampilan sebanyak 75 kali.

Sementara sang kakak memperjuangkan karirnya di sana-sini, Jerome menjalani kehidupan yang tenang di Hamburg. Jerome Boateng juga ikut serta dalam kejayaan skuad Jerman di Euro U-21. Skuad yang nantinya juga akan dibawa ke Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Dan di Piala Dunia itulah, kakak beradik dipertemukan sebagai rival beda negara.

Pertemuan Boateng Bersaudara

Di Afrika Selatan, tepatnya di Johanesburg’s Soccer City Kevin-Prince dan Jerome bertemu. Cerita mereka berdua tentu memunculkan drama di media bahkan sebelum pertandingan berlangsung. Terlebih lagi, sorotan warga Jerman tertuju kepada Kevin-Prince. Bukan karena dirinya tidak mau membela Jerman sebagai tanah kelahirannya, tapi apa yang diperbuat olehnya kepada Michael Ballack sebelum Piala Dunia dimulai.

Kejadiannya adalah pada laga final FA antara Chelsea melawan Portsmouth. Kevin-Prince yang saat itu membela Portsmouth melakukan tackle keras terhadap Michael Ballack. Meskipun Ballack mencoba untuk tetap melanjutkan pertandingan, ia akhirnya menepi lapangan sebelum babak pertama selesai.

Cedera yang dialami Ballack saat itu ternyata cukup parah. Dampaknya pun juga diderita oleh timnas Jerman. Ia harus istirahat dan tidak bisa ikut membela Jerman di Piala Dunia. Warga Jerman yang tahu bahwa timnya akan melemah tanpa diperkuat sang kapten, melimpahkan kekesalan mereka kepada Kevin-Prince.

Namun setidaknya warga Jerman bisa sedikit puas. Di laga tersebut Jerman bisa mengalahkan Ghana dengan skor 1-0 lewat gol dari Mesut Ozil. Tapi kedua negara tersebut bisa sama-sama lolos grup. Jerman dengan generasi emasnya bisa melaju sampai merebut juara ketiga. Sedangkan penampilan Ghana di Piala Dunia itu juga cukup impresif. Mereka menjadi satu-satunya tim Afrika yang lolos babak grup dan melaju sampai quarter final.

Setelah Piala Dunia berakhir, Kevin-Prince Boateng pindah ke Italia untuk memperkuat AC Milan. Ia menjalani musim yang cukup impresif dan itu pun melambungkan namanya di Serie A. Kevin-Prince bersama Milan bahkan sempat mendapatkan gelar Scudetto di musim 2010/11. Ia menjelma menjadi pemain penting AC Milan pada masa itu.

Perbedaan Nasib di Klub

Berbeda dengan kakaknya, nasib Jerome Boateng setelah Piala Dunia 2010 tidak terlalu baik. Ia pindah ke Inggris untuk membela Manchester City, tapi di sana ia malah bergelut dengan cedera berkepanjangan. Jerome hanya bertahan satu musim saja di City sebelum akhirnya pulang ke Jerman dan memperkuat Bayern Munchen. Kepindahannya ke Munchen ini lah yang membuat karir Jerome kembali ke puncak.

Pada tahun 2014, Jerome dan Kevin-Prince kembali bertemu di ajang Internasional. Sama seperti sebelumnya, pertemuan ini adalah laga penyisihan grup Piala Dunia. Kali ini lokasinya di Estadio Castelao, Brasil. Di pertemuan kali ini tensi keduanya sudah tidak terlalu panas. Pertandingannya pun hanya berjalan imbang 2-2. Tapi Kevin bersama Ghana tidak bisa lolos grup tahun itu sedangkan Jerome bersama Jerman menjadi Juara Dunia di akhir kompetisi.

Perbedaan nasib mereka tidak sampai situ saja. Setelah Piala Dunia edisi ini, giliran Jerome yang punya karir mulus di klub. Di Bayern Munchen, Jerome bisa menggali potensinya sebagai bek tengah lebih dalam lagi. Bersama Matt Hummels ia membangun tembok pertahanan yang paling kokoh seantero Eropa. Ia menjadi bagian penting perolehan dua gelar treble Bayern Munchen.

Sementara itu, Kevin-Prince masih menikmati kejayaannya di Milan, namun tidak terlalu lama baginya untuk tergantikan dan hengkang dari Italia. Ia hanya bertahan tiga musim kemudian. Setelahnya ia pindah ke Schalke dimana ia mengalami kemunduran performa karena cedera. Lalu ia kembali ke Milan hanya untuk enam bulan saja sebelum ia berkelana ke klub-klub lain seperti Las Palmas, Frankfurt, Sassuolo hingga Barcelona. ya, ia pernah di Barcelona dengan status pinjaman dan hanya tampil di lima pertandingan saja di tahun 2019.

Hubungan yang Renggang

Meskipun mereka membela tim nasional yang berbeda, mereka tetap memiliki prinsip yang sama. Mereka bangga dengan latar belakang mereka yang berakar dari Afrika. Mereka juga sama-sama vokal dalam berbicara masalah rasisme dan menentang diskriminasi ras dimanapun mereka bermain.

Kevin bahkan berani melakukan aksi walk off di pertandingan persahabatan bersama AC Milan setelah fans meneriakan ejekan rasis. Jerome juga sangat vokal menyarakan kebanggannya membela Jerman meskipun sempat banyak ditentang karena ia adalah anak seorang imigran. Kakak beradik itu sama-sama menunjukan kualitasnya di dalam maupun luar lapangan.

Namun, hubungan mereka menjadi renggang sejak tahun 2021. Ketika itu Jerome divonis bersalah karena telah melakukan kekerasan terhadap pacarnya. Kevin yang kecewa mengaku sudah tidak menghubungi adiknya lagi sejak saat itu. Kevin berkata bahwa dirinya mendukung hukum di Jerman dan menentang keras kekerasan terhadap perempuan.

Kevin-Prince Boateng dan Jerome Boateng memang memiliki nama yang sama, bahkan lahir dari ayah yang sama. Tapi perjalanan karir mereka sangat berbeda. Dan akan selalu dikenang dalam sejarah sepakbola sebagai kisah dua saudara yang unik.

 

Sumber referensi: Guardian, Footballtimes, Barcelona

Ex-Presiden FIFA: Qatar Negara Kecil, Tidak Cocok Jadi Tuan Rumah!

Gelaran Piala Dunia sebentar lagi akan dimulai. Hanya menghitung hari sampai wasit meniup peluit kick off Piala Dunia di Qatar. Namun, mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter malah mengatakan bahwa memilih Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 adalah sebuah kesalahan.

Pemilihan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia memang menimbulkan banyak permasalahan. Dengan menunjuk negara padang pasir itu sebagai tuan rumah, penyelenggaraan Piala Dunia tidak mungkin dilakukan pada musim panas seperti biasanya. Piala Dunia 2022 akhirnya harus dilaksanakan pada musim dingin. Tapi masalahnya adalah menyebabkan Piala Dunia diselenggarakan di tengah ketatnya kompetisi Eropa.

Alhasil, banyak tim baik itu klub dan tim nasional harus menanggung akibatnya. Banyak pemain-pemain andalan mereka mengalami cedera karena ketatnya jadwal kompetisi musim ini. Dan banyak juga diantara pemain itu yang akhirnya tidak bisa mengikuti Piala Dunia karena cedera parah yang dideritanya.

Balter Tidak Setuju

Tidak hanya itu, Sepp Blatter juga mengatakan bahwa Qatar adalah negara kecil. Sehingga mereka tidak akan cocok untuk menyelenggarakan pesta akbar sebesar Piala Dunia.

“Bagi saya, sudah jelas. Qatar adalah kesalahan, pilihan yang sangat buruk. Negaranya terlalu kecil. Sepakbola dan Piala Dunia terlalu besar untuk Qatar.” Ungkapnya dikutip dari the guardian.

Blatter mengungkapkan bahwa seharusnya Piala Dunia 2022 diselenggarakan di Amerika Serikat dan itu sudah disetujui oleh para komite eksekutif pada saat itu. Alasanya adalah untuk memberikan simbol perdamaian antara Rusia dan Amerika Serikat. Dimana Rusia yang menyelenggarakan Piala Dunia 2018 dan setelah itu giliran Amerika Serikat yang menyelenggarakan Piala Dunia 2022 setelahnya.

“Pada saat itu, kami bersama komite eksekutif sebetulnya sudah setuju bahwa Rusia akan menyelenggarakan Piala Dunia 2018 dan Amerika Serikat di 2022. Itu bisa menjadi isyarat perdamaian antara dua negara yang sudah lama memiliki pandangan politik yang berbeda, dan bisa menyelenggarakan Piala Dunia secara estafet.”

Ungkap Kongkalikong FIFA

Balter lalu membongkar alasan utama mengapa Qatar dipilih yang merupakan tak lebih dari hasil kongkalikong dengan pihak Kerajaan Qatar. Balter menyalahkan Michel Platini, mantan presiden UEFA atas pemilihan Qatar sebagai tuan rumah. Ia mengatakan bahwa Platini diminta presiden Prancis saat itu, Nicolas Sarkozy untuk memilih Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia. Dan hasilnya, Qatar pun menang dari Amerika Serikat saat dilakukan voting.

“Terima kasih kepada Platini dan timnya saat pemilihan suara, Piala Dunia jadinya di Qatar daripada Amerika Serikat.” Ungkapnya.
Sementara untuk alasan ada urusan apa presiden Prancis meminta Piala Dunia diadakan di Qatar, itu adalah kepentingan politiknya sendiri. Dikutip dari the athletic, presiden Prancis meminta Michel Platini untuk memilih Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia, adalah sebagai balas budi terhadap pihak Qatar yang sudah mau membeli Paris Saint-Germain.

 

Sumber referensi: Guardian, Atheltic, Detik

Menanti Duel MU vs Barca! De Gea Siap, Xavi Malah Kena Mental?

Baik MU dan Barcelona tentu tidak ada yang mau untuk menghadapi satu sama lain, apalagi ketika masih babak play off fase gugur Europa League. Dengan kedua tim yang diperkuat bintangnya masing-masing, ini akan menjadi duel rasa Liga Champions di Europa League. Menantikan duel ini berlangsung, De Gea mengaku siap menghadapi tim yang ia anggap sebagai tim terbaik itu. Sedangkan Xavi malah mengaku risau dengan hasil undian tersebut.

De Gea Sendiri sudah tampil fantastis bersama setan merah musim ini. Meskipun dirinya tidak dipanggil timnas Spanyol, tapi De Gea masih menjadi andalan MU untuk menjaga gawang setan merah. Tidak dipanggil tim nasional untuk berlaga di Piala Dunia tentu saja kabar yang tidak mengenakkan untuk De Gea. Namun, setidaknya dirinya bisa punya banyak waktu lebih untuk berlatih dan bersiap bersama Manchester United.

De Gea Siap

De Gea menanggapi hasil undian Europa League dengan tenang. Dirinya mengatakan bahwa Manchester United selalu siap untuk menghadapi tim mana pun.

“Masih banyak waktu sebelum pertandingan Europa League, dan kami harus fokus dengan pertandingan yang ada di depan kami. Bermain melawan tim papan atas memang selalu menjadi sebuah tantangan. Jadi kita harus bersiap menghadapi Barcelona atau tim manapun” Ungkap De Gea.

De Gea juga tidak lupa memuji gaya bermain anak asuh Xavi Hernandez. Ia berkata bahwa Barcelona memiliki permainan yang bagus, tapi itu tidak membuat motivasi nya untuk mengalahkan Barcelona menjadi turun. De Gea bahkan ingin mempersembahkan kemenangan melawan Barcelona nanti untuk para penggemar.

“Kami tahu Barcelona adalah tim yang hebat, saya pikir mereka bermain sangat hebat. Tapi jika anda ingin menjuarai Europa League, anda harus mengalahkan tim terbaik dan Barcelona adalah salah satunya. Pertandingan ini nanti untuk para fans, kami akan berusaha sebisa mungkin untuk memenangkan kedua laga”

Pertandingan di babak play off fase gugur nanti memang akan dilaksanakan dua kali. Pertandingan pertama De Gea dan kawan-kawan akan berkunjung ke Camp Nou terlebih dahulu pada tanggal 16 Februari 2023. Dan di pertandingan kedua, giliran pasukkan Xavi Hernandez yang bertandang mengunjungi Old Trafford pada tanggal 23 Februari 2023.

Tanggapan Xavi

Xavi Hernandez selaku manajer Barcelona menanggapi undian play off fase gugur ini berbeda dengan De Gea. Xavi mengatakan bahwa bertemu dengan Manchester United di babak play off fase gugur ini adalah kemungkinan terburuk yang bisa terjadi kepada mereka. Xavi bahkan mengatakan kalau Manchester United akan menjadi lawan tersulitnya.

“Ini adalah lawan tersulit, tapi kami akan tetap menantikannya. Manchester United telah banyak berkembang sejak Erik Ten Hag datang ke Old Trafford, mereka juga punya pemain – pemain yang bagus. Ini adalah kemungkinan terburuk yang bisa terjadi di undian babak play off fase gugur. Bertemu dengan Manchester United adalah kesialan bagi kami.”

Meskipun begitu, Xavi tetap ingin bersaing melawan MU. Ia juga berharap dengan bertemu tim besar seperti MU akan menjadikan penambah motivasi bagi anak asuhnya untuk menang.

“Kami akan tetap bersaing. Ini tentu tantangan besar bagi kami, para pemain kami mungkin akan lebih termotivasi jika berhadapan dengan tim besar dan kami harus bersaing”.

Laga Manchester United melawan Barcelona memang merupakan pertandingan yang penuh dengan sejarah. Bahkan juga merupakan sejarah untuk Xavi Hernandez sendiri. Pasalnya Xavi menjalani debutnya di Liga Champions adalah ketika melawan Manchester United di Old Trafford pada September 1998. Kala itu Xavi harus rela ditahan imbang dengan skor 3 sama.

Namun berdasarkan head to head kedua tim itu bertemu, Barcelona lebih sering menang. Dari 10 pertemuan, Barca menang 5 kali dan imbang 4 kali. Di pertemuan terakhir mereka, Barcelona membantai MU dengan agregat 4-0 di musim 2018/19. MU hanya pernah sekali meraih kemenangan melawan Blaugrana. Namun sekalinya MU bisa mengalahkan Barca di babak semifinal Liga Champions musim 2007/08, MU bisa menjuarai Champions League musim itu.

 

Sumber referensi: Manchester United, Si, Mirror, UEFA

Berita Bola Terbaru 9 November 2022 – Starting Eleven News

Berita Bola Terbaru dan Terkini

 

EDEN HAZARD DIINCAR NEWCASTLE DAN ASTON VILLA

Penyerang Real Madrid, Eden Hazard dilaporkan siap kembali ke Liga Primer Inggris. Seperti dilansir Dailymail, Newcastle United dan Aston Villa jadi dua klub yang tengah berusaha mendatangkan Hazard, sekaligus menyelamatkan karirnya yang tidak berkembang di Real Madrid. Bagi Newcastle, kedatangan Hazard bisa meningkatkan peluang mereka untuk finis di empat besar. Sementara itu, Aston Villa berusaha bangkit setelah meraih kemenangan atas MU 3-1 di bawah manajer baru Unai Emery.

REAKSI ZANETTI SOAL UNDIAN INTER VS FC PORTO

Berbicara kepada Sport Mediaset di markas UEFA, wakil presiden Inter Milan Javier Zanetti pertama kali bereaksi terhadap hasil undian Inter Milan bertemu Porto di babak 16 besar Liga Champions. Ia menanggapi positif hasil drawing melawan wakil Portugal tersebut. “Itu akan sangat tergantung pada kondisi performa di Februari. Ini selalu pertandingan Liga Champions dan kami harus sangat menghormati lawan-lawan kami.” ucapnya.

INTER KONFIRMASI PERPANJANGAN KONTRAK UNTUK MILAN SKRINIAR

Wakil presiden Inter Javier Zanetti mengonfirmasi bahwa klubnya optimistis bisa mengamankan masa depan Milan Skriniar di tengah minat dari PSG. Zanetti mengonfirmasi bahwa pihak klub dan perwakilan Skriniar sudah melakukan proses negosiasi perpanjangan kontrak dan diharapkan bisa selesai dalam waktu dekat. Kabar ini bukan hanya bikin PSG gigit jari, tapi Manchester United dan Tottenham Hotspur juga. Sebab kedua klub sama-sama tertarik kepada Skriniar.

BARESI PERINGATKAN AC MILAN TENTANG CONTE

Franco Baresi memperingatkan AC Milan tentang Antonio Conte setelah hasil undian 16 besar Liga Champions mempertemukan AC Milan dengan Tottenham Hotspur. Menurut legenda AC Milan ini, Conte tahu Serie A dan sepak bola Italia dengan baik, namun ia yakin Setan Merah Italia akan melewati babak 16 Besar Liga Champions ini. “Kami akan mempersiapkan yang terbaik. Target kami adalah lolos ke babak 16 besar, dan kami siap untuk mengejutkan lagi,” kata Baresi

WALES KHAWATIR AKAN KEBUGARAN GARETH BALE

Dilansir AS, Gareth Bale belum mencapai kebugaran penuh jelang Piala Dunia 2022. Ia baru saja mengantarkan LAFC juara piala MLS meski Bale tak bermain penuh di laga final. Jadi pertanyaan besar bagi tim nasional Wales jelang dimulainya Piala Dunia adalah apakah Gareth Bale akan fit untuk menjadi starter di laga pembuka penyisihan grup melawan Amerika Serikat dalam waktu kurang dari dua pekan?

ERIKSEN MASUK SKUAD DENMARK DI PIALA DUNIA 2022

Gelandang Manchester United, Christian Eriksen masuk dalam skuad awal Denmark untuk Piala Dunia 2022 di Qatar. Seperti diketahui pemain berusia 30 tahun itu sempat pingsan selama pertandingan melawan Finlandia pada Euro 2021 dan menjalani perawatan penyelamatan jiwa di lapangan. Denmark sendiri telah menunjuk 21 pemain dari 26 pemain dan akan mengungkapkan lima pemain terakhir setelah putaran terakhir pertandingan kompetisi Eropa.

JORGINHO DICORET DARI DAFTAR BELANJA BARCELONA

Rumor yang sempat berkembang soal minat Barcelona memboyong Jorginho rupanya tidak bertahan lama. Gelandang Chelsea itu sudah dicoret dari daftar belanja Blaugrana. Penyebabnya ada satu. Permintaan gaji Jorginho diketahui sangat besar. Saking besarnya, Barcelona dipastikan akan menghentikan negosiasi tersebut. Goal menyebutkan bahwa Jorginho meminta gaji per musimnya mencapai 10 juta Euro. Itu belum ditambah dengan bonus yang kira-kira totalnya bisa mencapai 12 juta Euro.

BARCELONA KETEMU MU, XAVI: LAGI-LAGI APES

Barcelona ketemu Manchester United di play-off 16 besar Liga Europa. Xavi Hernandez menyebut Barca lagi-lagi tak beruntung dengan hasil undian. “Sekali lagi undiannya memberikan lawan tersulit buat kami. Tapi kami akan menantikannya dan akan bertarung. Mereka tim yang punya sejarah, mereka sudah tumbuh pesat dengan kehadiran Ten Hag, mereka punya pemain-pemain bagus,” ungkapnya.

DANI ALVES PUJI NEYMAR DAN MESSI

Dani Alves pernah bermain dengan Messi dan Neymar di Barcelona. Dia menjadi saksi hidup kepiawaian Messi dan Neymar mengolah si kulit bundar. Oleh karena itu, Alves tak ragu memberikan penilaian mengenai Neymar dan Messi. Kedua pemain itu disebut sebagai pesepakbola genius di era sepakbola modern. Di PSG musim ini, La Pulga membukukan 12 gol dan 14 assist dalam 18 laga di semua ajang. Sementara itu, Neymar mencatatkan 15 gol dan 12 assist dalam 19 laga di semua ajang.

TANGGAPAN PAOLO MALDINI SOAL GOL DANIEL KE GAWANG ROSSONERI

Paolo Maldini menanggapi reaksinya terhadap gol putranya Daniel Maldiel ketika Spezia melawan AC Milan. Laga itu sendiri berakhir dengan kemenangan AC Milan 2-1. Saat melihat anaknya, Daniel menjebol gawang Milan, Paolo Maldini terlihat memamerkan ekspresi datar. Maldini menggambarkan reaksinya terhadap gol putranya Daniel saat laga di kandang AC Milan dengan menyebut bahwa ia mengikuti saran Adriano Galliani.

HASIL PERTANDINGAN

AC Milan bertamu ke Cremonese dalam lanjutan Liga Italia. Dalam laga di Stadion Giovanni Zini pada Rabu (9/11) dini hari WIB, kedua kesebelasan tak mampu ciptakan gol hingga akhir pertandingan. Skor 0-0 pun menghiasi jalannya pertandingan. Di laga lain, Napoli menang 2-0 atas Empoli. Napoli pun kukuh di puncak klasemen dengan 38 poin, disusul oleh Milan dengan 30 poin dari 14 pertandingan.

Dari ajang Piala Liga Inggris putaran ke ketiga, Leicester City sukses melaju ke babak berikutnya usai menang dengan skor telak 3-0 atas Newport County. Adalah James Justin di menit 44 dan Jamie Vardy yang mencetak brace menit 70 dan 82 yang menjadi pencetak gol kemenangan The Foxes.

Barcelona memastikan puncak klasemen Liga Spanyol 2022/23 dengan cara yang dramatis. Pada pekan ke-14, Barcelona menang 2-1 atas Osasuna di Estadio El Sadar, Rabu (9/11) dini hari WIB. Osasuna unggul lebih dulu saat laga baru berjalan lima menit melalui gol sundulan David Garcia. Namun Barcelona bangkit di babak kedua. Pedri menyamakan kedudukan di menit ke-48. Raphinha kemudian memastikan Barcelona menang setelah sundulannya di menit ke-85 meluncur mulus ke gawang tuan rumah.

Di Bundesliga, Bayern Munchen pesta setengah lusin gol atas Werder Bremen. Enam gol Bayern dicetak oleh Jamal Musiala, Serge Gnabry, Leon Goretzka, Serge Gnabry lagi, Gnabry lalu cetak hattrick, dan ditutup oleh gol Mathys Tel. Sementara Werder Bremen hanya bisa mengemas satu gol lewat Anthony Jung. Dengan hasil ini Bayern Munich masih nyaman di puncak klasemen Liga Jerman.

GERARD PIQUE AKHIRI KARIR DENGAN KARTU MERAH

Gerard Pique mengakhiri karirnya sebagai pesepakbola dengan cara yang buruk. Pique yang menjadi pemain cadangan mendapat kartu merah karena beradu argumen dengan wasit yang memimpin laga Osasuna versus Barcelona. Selain Pique, Lewandowski juga diusir wasit. Lewandowski diganjar kartu kuning kedua pada menit ke-31 usai menabrak Garcia dalam duel perebutan bola di udara. Tangan Lewandowski tampak jelas menghantam wajah Garcia yang langsung tersungkur ke tanah.

CAS NYATAKAN EKUADOR BERHAK TAMPIL DI PIALA DUNIA 2022

Ekuador dipastikan tampil di Piala Dunia 2022 setelah Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS), Selasa (8/11), menolak gugatan Chile dan Peru terkait keabsahan status bek Byron Castillo. CAS memutuskan Castillo berhak bermain membela Ekuador di laga kualifikasi Piala Dunia namun menjatuhkan sanksi kepada Federasi Sepak Bola Ekuador (FEF) karena memalsukan paspor sang pemain.

GAME FIFA 23 PREDIKSI ARGENTINA JUARA PIALA DUNIA 2022

Developer sekaligus publisher game kenamaan Amerika Serikat, EA Sports, memprediksi timnas Argentina akan menjuarai Piala Dunia 2022, dengan mengalahkan Brasil 1-0 di final. EA Sports menggunakan game FIFA 23 untuk membuat prediksi tersebut. Metode yang digunakan EA Sports adalah memainkan seluruh 64 pertandingan dari babak penyisihan hingga final dengan mode Piala Dunia FIFA 23. Tidak hanya itu, simulasi EA Sports juga menyebut Lionel Messi akan meraih gelar top skor dan juga pemain terbaik turnamen di Qatar.

SADIO MANE ALAMI CEDERA LUTUT

Dalam laga Bayern Munchen vs Werder Bremen, Sadio Mane mengalami cedera lutut di menit ke-15 dan harus mendapatkan perawatan di lapangan sebelum digantikan oleh Leroy Sane, lima menit kemudian. Eks penyerang Liverpool itu kemudian langsung masuk ke ruang ganti untuk menjalani perawatan. Tidak diketahui apakah cedera itu bisa mempengaruhi peluang peraih dua gelar pemain terbaik Afrika itu tampil di Piala Dunia 2022.

SEPP BLATTER MENYESAL PILIH QATAR TUAN RUMAH PILDUN 2022

Mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter mengakui penunjukan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 sebagai sebuah kesalahan. Qatar terpilih jadi tuan rumah Piala Dunia 2022 pada 2010 silam. Saat itu Blatter masih berstatus Presiden FIFA. “Qatar terlalu kecil sebagai negara penyelenggara Piala Dunia. Sepak bola dan Piala Dunia terlalu besar untuk itu,” kata Blatter dalam wawancara dengan Tages Anzeiger.

EKS WONDERKID ITALIA CATAT REKOR CEDERA TERCEPAT

Penyerang Torino, Pietro Pellegri tentu tidak ingin mengalami momen buruk ini, namun sayangnya ia telah tercatat dalam buku sejarah untuk rekor cedera tercepat dalam sepakbola profesional. Mimpi buruk tersebut dialami pemain Italia 21 tahun itu dalam laga terbaru Torino saat menghadapi tuan rumah Bologna di Serie A, Minggu (6/11) kemarin. Seperti yang dirinci oleh Tuttosport, Pellegri mengalami cedera pergelangan kaki hanya 2,3 detik setelah sepak mula pertandingan antara Bologna dan Torino.

MAIGNAN MERASA FIT JELANG PIALA DUNIA QATAR

Kiper AC Milan, Mike Maignan yakin bahwa dia akan cukup fit untuk bergabung dengan skuad Prancis untuk Piala Dunia 2022 di Qatar. Maignan terus melakukan kontak dengan staf medis timnas Prancis dan yakin bahwa pemulihan cedera betisnya berjalan dengan baik. Pemain berusia 27 tahun itu diperkirakan akan masuk dalam skuad Piala Dunia Didier Deschamps, yang akan diumumkan besok.

ANCELOTTI ENGGAN SALAHKAN PIALA DUNIA ATAS KEKALAHAN MADRID

Real Madrid menderita kekalahan perdana setelah dilibas Rayo Vallecano. Ada dugaan performa Madrid menurun karena para pemain mereka mulai berhati-hati. Sebagian besar punggawa Los Merengues akan bermain di Piala Dunia mendatang. Atas pandangan itu, Carlo Ancelotti pun buka suara. Dia menepisnya. Dia enggan menyalahkan Piala Dunia atas kekalahan Real Madrid di La Liga.

INTER MIAMI BICARA KEMUNGKINAN MESSI GABUNG

Peraih Ballon d’Or tujuh kali, Lionel Messi kembali menimbulkan spekulasi soal masa depannya karena kontraknya bersama PSG akan habis pada tahun depan. Ada yang mengaitkan Messi dengan Inter Miami. Pelatih Inter Miami Phil Neville pun akhirnya buka suara soal kabar klub lagi lobi Lionel Messi untuk bergabung. Intinya, dilansir AS, dia mengklaim tidak ada pembicaraan lebih serius untuk merekrut La Pulga.

6000 FANS ARGENTINA DILARANG MASUK QATAR

Fans rusuh yang terlibat dalam asosiasi ilegal dan bahkan mereka yang berutang makanan adalah bagian dari daftar 6000 orang Argentina yang dilaporkan tidak akan diizinkan masuk stadion-stadion Piala Dunia 2022 di Qatar. Sedangkan untuk melakukan kontrol di Qatar, Menteri Kehakiman dan Keamanan Kota Buenos Aires, Marcelo D’Alessandro mengatakan bahwa delegasi dari berbagai badan kepolisian (negara) akan dikirim untuk bekerja sama dengan otoritas keamanan Qatar.

DICORET TIMNAS BRASIL, FIRMINO UNGKAP PESAN EMOSIONAL

Roberto Firmino tidak dibawa Timnas Brasil ke Piala Dunia 2022 Qatar, walau dirinya lagi tajam. Musim ini, di seluruh kompetisi, Firmino sudah kemas delapan gol dan empat assist dari 18 laga. Dalam media sosial pribadinya, Firmino pun buka suara. Pemain 31 tahun itu menyatakan terima kasih atas dukungan para fans dan tidak kecewa dengan keputusan pelatihnya di timnas. Firmino pun tetap panjatkan syukur karena pernah membela Timnas Brasil.

HASIL TIMNAS INDONESIA VS ANTALYASPOR U20

Timnas Indonesia U-20 tampil luar biasa saat sukses mengalahkan klub muda Turki, Antalyaspor U-20 di laga uji coba yang berlangsung pada Selasa (8/11) malam WIB. Bermain Limak Arcadia Atlantis Football Center, Antalya, Turki, Garuda Nusantara menang 3-2 setelah melakukan comeback yang luar biasa. Ronaldo Kwateh jadi penentu kemenangan Timnas Indonesia U20 pada laga kali ini.

BRUNEI DARUSSALAM JADI LAWAN INDONESIA DI PIALA AFF 2022

Brunei Darussalam menjadi tim terakhir yang memastikan tempat di Piala AFF 2022. Brunei berhasil lolos ke putaran final Piala AFF 2022 usai memenangi laga kualifikasi kontra Timor Leste. Brunei menghajar Timor Leste dengan kemenangan agregat 6-3 pada dua laga yang semuanya dimainkan di Bandar Seri Begawan. Brunei melengkapi Grup A yang sebelumnya sudah dihuni Indonesia, Thailand, Filipina, dan Kamboja.

Menakar Kedalaman Skuad Mewah Brazil di Piala Dunia 2022

0

Ngeri adalah kata yang tepat untuk menggambarkan skuad Timnas Brazil pilihan Tite yang akan diberangkatkan ke Qatar akhir November nanti. Tim Samba memang mempunyai skuad yang sangat mentereng di setiap edisi Piala Dunia, tak terkecuali pada edisi 2022. Jadi tak heran apabila Neymar cs kembali menjadi favorit juara di turnamen kali ini.

Sang pelatih memadukan para pemain senior berpengalaman seperti Neymar dan Thiago Silva, hingga Dani Alves untuk memimpin pemain muda berbakat macam Vinicius dan Antony. Komposisi ini membuat Brazil jadi tim yang komplit. Jadi, negara-negara lawan patut waspadai tim pengoleksi lima gelar juara Piala Dunia tersebut.

Seperti julukannya yakni Selecao, skuad racikan Tite merupakan kumpulan pemain-pemain yang sudah melewati seleksi ketat. Pelatih berusia 61 tahun itu telah memilih pemain terbaik dari yang terbaik. Well, semenakutkan apa sih skuad Brazil? Mari kita breakdown kedalaman skuad mewah Timnas Brazil di Piala Dunia 2022.

Daftar Isi

Kiper

Skuad Timnas Brazil menarik dibahas karena kedalaman skuadnya sangat baik, bahkan dari posisi yang paling sedikit memakan tempat di lapangan, yakni penjaga gawang. Sang juru taktik memanggil tiga nama untuk mengisi posisi tersebut. 

Dua di antaranya Ederson Moraes dan Alisson Becker. Dua kiper hebat yang bermain untuk raksasa Liga Inggris, Manchester City dan Liverpool. Sedangkan kiper ketiga, Tite memilih Weverton, pemain yang hanya bermain di liga lokal Brazil bersama Palmeiras.

Sejak Tite menukangi Timnas Brazil tahun 2016, ia lebih memfavoritkan Alisson untuk jadi penjaga gawang utama. Hal itu dibuktikan dengan jumlah caps timnas Alisson berada di angka 57 pertandingan, jauh lebih banyak ketimbang Ederson yang baru mengumpulkan 18 pertandingan bersama Selecao

Apabila melihat performa di klub masing-masing, Ederson memang sedikit lebih unggul. Dari 13 pertandingan Liga Inggris, ia baru kebobolan 12 kali dan mengantongi enam clean sheets. Sedangkan Alisson sudah kebobolan 16 gol dan baru mengantongi empat clean sheets dari 13 pertandingan. Namun, Alisson unggul dalam jumlah penyelamatan yang berada di angka 41 kali sedangkan Ederson hanya mampu melakukan 20 penyelamatan.

Tite lebih gemar memasang Alisson karena keputusan-keputusannya di lapangan sangat dewasa, tidak seperti Ederson yang kadang masih suka bermain api di depan gawang sendiri. Selain itu, Tite juga mendapat rekomendasi dari pelatih kiper Selecao, Claudio Taffarel yang ternyata juga menjabat sebagai pelatih kiper Liverpool sejak 2021 lalu. 

Bek

Beranjak ke sektor pertahanan, Tite membawa delapan nama. Dani Alves, Marquinhos, dan Thiago Silva berkolaborasi dengan nama-nama anyar macam Eder Militao dari Real Madrid dan Gleison Bremer yang tengah naik daun setelah bergabung dengan Juventus pada awal musim lalu.

Selain kelima bek tengah tersebut, Tite masih menyimpan nama-nama pemain berpengalaman lain macam Danilo yang mengisi bek sayap kanan, serta duo Alex: Alex Telles dan Alex Sandro di sisi kiri pertahanan Timnas Brazil.

Thiago Silva dan Marquinhos bakal jadi pilihan utama Tite di depan Alisson. Duet pemain senior ini dianggap sangat berpengalaman dan memiliki kemistri yang apik dalam mengawal pertahanan Brazil. Berkat soliditas kedua pemain ini, Brazil hanya kebobolan satu gol selama kualifikasi Piala Dunia zona Amerika Selatan.

Sedangkan untuk dua nama lain yakni Eder Militao dan Gleison Bremer akan menjadi pelapis Marquinhos-Silva. Terlebih, Bremer baru menerima panggilan timnas tahun ini. Ia jadi pemain paling minim pengalaman di skuad Brazil.

Sementara itu, sektor bek kanan barangkali jadi sektor yang paling tidak menarik dari skuad Timnas Brazil. Saking sulitnya mencari bek kanan, Tite sampai memanggil kembali Dani Alves yang sudah berusia 39 tahun dan hanya bermain di liga Meksiko untuk menjadi pelapis Danilo sekaligus kapten kedua setelah Thiago Silva.

Gelandang

Bergeser ke lini tengah, duo Manchester United Casemiro dan Fred tetap menjadi pilihan utama Tite, untuk memainkan peran double pivot di lini tengah Selecao. Kemarin Tite masih menambahkan nama Fabinho dari Liverpool. Itu membuat kedalaman sektor gelandang bertahan Brazil semakin sempurna.

Selain ketiga gelandang bertahan itu, Tite juga memanggil dua rising star Premier League, Bruno Guimaraes (Newcastle United) dan Lucas Paqueta yang baru saja bergabung dengan West Ham. Cukup mengejutkan kala Tite lebih memilih Paqueta ketimbang nama yang lebih berpengalaman macam Philippe Coutinho. 

Bermodalkan gocekan dan umpan-umpan yang membelah pertahanan, Paqueta bisa menawarkan permainan yang lebih atraktif sebagai gelandang serang. Namun, tampaknya ia harus memperjuangkan posisinya karena Tite masih memiliki Bruno Guimaraes dan pemain liga lokal, Everton Ribeiro. 

Untuk Everton, ia sudah pasti akan menjadi pilihan terakhir di tangan Tite. Bruno lah yang akan menjadi penantang kuat bagi Paqueta. Karena sejak berseragam Newcastle di awal tahun 2022, performa gelandang pekerja keras itu kian menjadi sorotan. 

Bahkan, performa apik The Magpies musim ini bisa dibilang berkat campur tangan Bruno Guimaraes di lini tengah. Pemain berusia 24 tahun itu unggul hampir di semua aspek. Bruno mampu menciptakan peluang per laga dengan tingkat kesuksesan di angka 89%, sedangkan Paqueta juga piawai melahirkan peluang, tapi tingkat kesuksesannya hanya 40%.

Penyerang

Lini serang jadi sektor yang paling mewah di skuad Brazil. Tite memiliki 9 nama penyerang yang dibawa ke Qatar. Dengan 121 caps dan 75 gol bersama timnas, Neymar yang berusia 29 tahun sudah pasti akan menjadi andalan Tite. Pertanyaannya hanya satu, siapa pemain yang akan menjadi pendamping bintang Paris Saint-Germain di lini depan?

Selain Neymar, Tite memiliki nama-nama seperti Antony di Manchester United, Raphinha di Barcelona, serta duo Real Madrid, Vinicius dan Rodrygo. Brazil juga masih memiliki dua Gabriel: Gabriel Martinelli dan Gabriel Jesus yang kian moncer bersama Arsenal. Lalu ada Pedro dos Santos, pemain yang kemarin membantu Flamengo menjuarai Copa Libertadores.

Sempat jadi tanda tanya besar, ketika dalam sembilan nama tersebut tak ada Roberto Firmino. Tite justru memilih Richarlison yang sedang cedera ketimbang dirinya, padahal performa Firmino terbilang lebih oke ketimbang semua striker timnas Brazil di Liga Inggris.

Berisikan pemain-pemain bintang, terkadang justru bikin mumet ketika harus menentukan sebelas pemain utama di setiap pertandingan. Namun, dilansir Goal, dua pemain lain yang dipilih Tite untuk menemani Neymar adalah Vinicius di kiri dan Raphinha di sisi kanan.

Namun, apabila Tite ingin memainkan Neymar sebagai pemain bertipikal nomor 10 dalam formasi 4-2-3-1, Tite akan menggunakan striker murni di depan, dengan menggunakan Gabjes atau Richarlison. Skema ini sudah terbukti ampuh saat Brazil menghancurkan Tunisia dengan skor 5-1. So, dengan kedalaman skuad yang begitu mumpuni, mampukah Neymar cs membawa pulang trofi Piala Dunia ke negeri Samba?

https://youtu.be/m-Ca-YO4AGk

Sumber: Goal, Sportingnews, FFT, SI, Bola