Tim Nasional Senegal diprediksi akan menjadi salah satu tim kuda hitam di Piala Dunia 2022. The Lions of Teranga tergabung dalam Grup A bersama tim tuan rumah Qatar, Ekuador, dan Belanda. Selain Belanda, Senegal tentu jadi unggulan di grup tersebut. Mengingat Senegal juga datang sebagai Juara Piala Afrika.
Meskipun tidak diperkuat Sadio Mane karena cedera, mereka masih punya pemain – pemain hebat yang bermain di tim-tim terbaik Eropa. Seperti Idrissa Gueye dari Everton, serta Edouard Mendy dan Kalidou Koulibaly dari Chelsea. Tim ini pun dianggap sebagai generasi emas Senegal.
Tapi, mampukah generasi emas Senegal ini mengalahkan prestasi yang pernah diraih pada tahun 2002? Ya, penampilan terbaik Senegal adalah 20 tahun yang lalu ketika mereka bertarung di Piala Dunia Korea Selatan dan Jepang. The Lions of Terenga mampu melaju sampai babak perempat final.
Daftar Isi
Piala Dunia Pertama Senegal
Padahal Piala Dunia 2002 adalah Piala Dunia pertama mereka. Dan di situ, ada satu cerita unik yang sayang jika dilewatkan. Lima hari sebelum Piala Dunia dimulai, para pemain Senegal sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan di kota Daegu, Korea Selatan. Di situ salah satu pemain Senegal, Khalilou Fadiga kedapatan mencuri kalung dari sebuah toko perhiasan. Untungnya masalah bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Fadiga pun dilepaskan pihak kepolisian.
Peristiwa itu sempat diberitakan dan jadi cerita yang banyak dibicarakan media sesaat sebelum Piala Dunia 2002 dimulai. Tentu ini jadi hal yang sangat memalukan untuk tim nasional Senegal. Bagaimana tidak? Pertandingan pertama Piala Dunia belum dimulai, Senegal sudah jadi bahan olok-olokan banyak orang. Apalagi ini Piala Dunia pertama mereka. Para pemain Senegal tentu saja tidak ingin ini menjadi kenangan paling membekas di ingatan para pendukung mereka.
Insiden itu bisa saja merusak konsentrasi para pemain Senegal yang beberapa hari setelahnya akan menjalani laga paling penting dalam sejarah negaranya. Namun sang manajer Bruno Metsu mampu mengubah insiden memalukan itu menjadi sebuah motivasi bagi anak asuhnya.
Dikutip dari laman Independent, saat itu Bruno Metsu berkata ke Fadiga “satu-satunya cara agar publik bisa melupakan insiden ini adalah dengan mengalahkan Prancis di laga pembuka grup nanti. Jika kita kalah, cerita ini akan terus berlanjut. Tapi jika kita menang, semua orang pasti akan melupakan cerita ini. Sebab jika kita menang melawan Prancis, kita akan menggetarkan seisi dunia” ungkapnya.
Perlu diketahui, Senegal saat itu berada di Grup A bersama Prancis, Denmark, dan Uruguay. Kesempatan Fadiga dan rekan – rekannya untuk bisa lolos dari grup itu tentu sangat sulit. Jangankan lolos fase grup, Senegal mampu tidak kalah di semua laga fase grup saja banyak orang yang meragukan. Ini kok sang pelatih malah meminta anak asuhnya, untuk mengalahkan Prancis di pertandingan pertama mereka di Piala Dunia.
Taklukan Prancis
Mengalahkan Prancis tentu jadi misi tidak mungkin bagi tim nasional Senegal. Anak asuh Bruno Metsu saat itu adalah tim dengan peringkat FIFA kedua terbawah di antara peserta Piala Dunia 2002 lainnya. Sedangkan Prancis merupakan negara terkuat di turnamen itu. Ya, Les Blues adalah juara bertahan dari Piala Dunia 1998. Mereka juga baru mengangkat Piala Euro tahun 2000.
Tidak cukup sampai situ, Prancis juga berisikan pemain-pemain terbaik di dunia. Patrick Vieira dan Thierry Henry baru saja meraih gelar double bersama Arsenal. Zinedine Zidane baru saja mencetak gol terbaik di final Liga Champions bersama Real Madrid. Tim manapun pasti akan terintimidasi dengan kekuatan timnas Prancis pada saat itu.
Namun, secara mengejutkan Senegal mampu memberikan perlawanan. Sampai akhirnya di menit ke-30 Senegal mendapatkan momentum emas. Lewat skema serangan balik, Papa Bouba Diop mampu menyarangkan bola ke gawang Fabien Barthez. Tidak ada yang menyangka Senegal bisa unggul atas Prancis, hanya setengah jam dari kick off babak pertama. Kedudukan 1-0 pun mampu dipertahankan di sisa waktu yang ada. Hingga 90 menit laga berjalan, papan skor tidak berubah.
Senegal’s 2002 match winner vs France, Papa Bouba Diop has died aged 42. He also played for Lens, Fulham, and Portsmouth.
A Teranga Lion. RIP. pic.twitter.com/XELHrKuilg
— Deji Faremi (@deejayfaremi) November 29, 2020
Peluit panjang dibunyikan, misi mereka sukses. Misi yang tidak mungkin untuk mengguncang dunia dengan mengalahkan Prancis bisa dituntaskan oleh Senegal. Tapi perjalanan mereka belum selesai. Masih ada dua pertandingan lagi menanti mereka di sisa laga penyisihan grup.
Lolos Fase Grup
Pertandingan selanjutnya di babak grup adalah melawan Denmark. Meskipun sudah menang melawan Prancis, bukan berarti Diouf dan kawan-kawan bisa bernafas lega. Denmark di pertandingan sebelumnya sudah mengalahkan Uruguay. Jadi jika kalah melawan tim nordik itu, kesempatan untuk menjadi juara grup akan semakin sempit.
Hasil dari pertandingan tersebut tidak terlalu buruk. Senegal masih bisa menahan imbang Denmark dengan skor 1 sama. Gol pertama dicetak oleh Tomasson lewat titik putih ketika laga baru berjalan 16 menit. Senegal baru bisa membalas gol tersebut dengan gol dari Salif Diao di menit ke-52. Meskipun tidak meraih poin maksimal dengan kemenangan, setidaknya dengan tidak kalah peluang Senegal lolos grup masih terbuka lebar.
26 – Denmark’s Ebbe Sand scored just 26 seconds after coming off the bench against Nigeria – only Richard Morales for Uruguay vs Senegal in 2002 has scored sooner as a substitute (16 seconds). Quick. #OptaWCYears pic.twitter.com/wyg17bgjbq
— OptaJoe (@OptaJoe) May 11, 2020
Menang melawan Prancis dan imbang melawan Denmark, Senegal memang punya peluang besar untuk lolos fase grup. Tapi pertanyaannya adalah apakah mereka akan lolos sebagai juara grup di Piala Dunia pertama mereka? Pertanyaan itu yang jadi motivasi anak asuh Bruno Metsu.
Melawan Uruguay, Sengal berada di atas awan setelah mampu mencetak tiga gol di babak pertama. Fadiga menjadi pemain yang memecah kebuntuan dengan golnya dari titik putih. Lalu di menit ke-26 Senegal mampu menggandakan keunggulan lewat tendangan Diop. Sebelum akhirnya Diop kembali mencetak gol keduanya di laga tersebut pada menit ke-38.
Namun di babak kedua, justru pasukan La Celeste yang bangkit. Di babak kedua itu mereka memasukan Diego Forlan dan Richard Morales. Pergantian dua pemain itu ternyata jadi mimpi buruk Senegal. Pasalnya Morales langsung mencetak gol di menit ke-46. Lalu di menit ke-69 Diego Forlan mencetak gol lewat tendangan first time spektakulernya.
2 DAYS UNTIL THE WORLD CUP 🇷🇺⚽️🏆
Uruguay have got a new super strike force now – but it was Diego Forlan who ruled the roost beforehand.
The ex-United striker slammed one home vs Senegal in 2002 to put his name on the map.#WorldCupCountdown pic.twitter.com/WoDEQXRWxg
— Powerleague (@powerleagueUK) June 12, 2018
Sebelum akhirnya Alvaro Recoba mencetak gol penalti di menit ke-88. Kedudukan 3-3 pun menjadi skor akhir di pertandingan itu. Meskipun hanya meraih hasil imbang, Papa Bouba Diop CS masih berhak melangkah ke babak 16 besar. Mereka maju ke fase gugur sebagai runner up di bawah Denmark yang di pertandingan lain telah mengalahkan Prancis dengan skor 2-0.
Perjalanan Luar Biasa
Meskipun lolos sebagai runner up, ini adalah prestasi yang luar biasa untuk sebuah tim di Piala Dunia pertamanya. Apalagi Senegal bisa mengalahkan Prancis di pertandingan pertama mereka. Pencapaian itu merupakan sejarah yang patut untuk dikenang oleh Senegal dan penggemar Piala Dunia.
Di babak 16 besar, Senegal harus menghadapi Swedia yang merupakan juara Grup F. Swedia secara mengejutkan menjadi tim kuda hitam dengan memuncaki klasemen. Padahal di Grup F tersebut terdapat negara unggulan seperti Inggris dan Argentina. Untuk itu, Swedia menjadi ancaman yang sesungguhnya bagi Senegal.
Gol pertama di pertandingan itu menjadi milik Swedia. Lewat gol Henrik Larsson yang ia cetak ketika laga baru berjalan 11 menit. Tapi itu tidak membuat Diouf dan kawan-kawan gentar. Beberapa menit setelahnya, Senegal mampu menyamai kedudukan lewat gol dari Henri Camara. Harapan Senegal untuk bisa melaju ke perempat final baru terwujud di menit ke-104 setelah Henri Camara kembali mencetak gol keduanya. Sekaligus memastikan The Lions of Teranga melaju ke partai perempat final.
Do you still remember golden goal rule?
Senegal 🇸🇳 2 vs 1 🇸🇪 Sweden
2002 FIFA World Cup
Round of 16
Henri Camara ‘104’ [golden goal] 🙌🏼🔥.. This game brought so much joy to Africa #BelievingIsMagic pic.twitter.com/02H5lgrl9H— Tsipana 🇮🇹 (@TRammone) May 24, 2022
Kemenangan itu merupakan kemenangan yang sangat membanggakan bagi mereka. Senegal jadi tim Afrika kedua dalam sejarah yang bisa melaju sampai babak perempat final. Namun sayang, perjalanan mereka harus terhenti di babak itu setelah kalah dari Turki dengan skor 1-0. Meskipun begitu, perjalanan Senegal di Piala Dunia 2002 telah mengukirkan sejarah manis The Lions of Teranga.
Penantian Panjang
Sejak saat itu, Senegal masih tidak bisa mengungguli gemerlapnya perjalanan mereka di 2002. The Lions of Terang bahkan tidak bisa lolos kualifikasi Piala Dunia sampai edisi 2018. Pada edisi tersebut pun, Senegal tidak bisa lolos fase grup dengan cara yang ngenes.
Saat itu, Senegal yang satu grup dengan Jepang sebenarnya punya poin dan selisih gol yang sama. Tapi perolehan kartu kuning Senegal lebih banyak daripada Jepang. Alhasil Sadio Mane dan kawan-kawan tidak bisa lolos grup berkat aturan fair play.
Di tahun ini, diatas kertas Senegal punya generasi yang lebih berkilau. Para pemainnya banyak yang bersinar bersama klub-klub besar. Tapi pertanyaannya adalah, mungkinkah generasi emas Senegal ini mampu membawa asa The Lions of Teraga lebih jauh daripada saat Piala Dunia 2002?
Sumber referensi: Hitc, Sportskeeda, Planet, Independet
