Beranda blog Halaman 453

Catat! Inilah Tips Memenangkan Piala Dunia dari Sang Juara

Terkadang pada setiap turnamen, sang juara lahir dari sebuah proses yang tak mulus. Sebuah tim untuk menuju kesuksesan dalam turnamen yang singkat itu, biasanya diraih dengan cobaan yang terbilang amat sangat berat.

Termasuk apa yang sering terjadi di gelaran Piala Dunia tiap edisinya. Ada banyak contoh yang bisa kita petik dari beberapa sang juara. Nah, berikut adalah beberapa tips yang bisa dipetik dari perjalanan para jawara tiap edisinya.

Tak Perlu Terlalu Mengesankan di Fase Grup

Terkadang di babak penyisihan grup yang hanya memainkan tiga pertandingan untuk menentukan kelolosan ke babak berikutnya, dibutuhkan konsistensi. Namun, kalau melihat kasus para juara dunia, terkadang mereka memakai fase ini untuk menaikan mental. Jarang lahir para juara yang terlalu “ngegas” dengan skor fantastis maupun rekor mentereng di fase ini.

Timnas Italia di 2006 misalnya. Mereka hanya mengumpulkan tujuh poin di fase grup. Permainannya tidak terlalu mengesankan sebagai calon juara. Malah di partai kedua sempat imbang dengan AS. Sehingga Italia pun di partai terakhir dituntut untuk menang agar bisa lolos.

Di 2010 pun sama. Meskipun Spanyol superior dan datang sebagai juara bertahan Euro 2008, mereka harus menerima pil pahit kekalahan di partai pertama melawan Swiss. Kelolosan mereka di fase grup pun tertatih dan hanya mengumpulkan enam poin. Golnya pun hanya empat.

Jerman juga sama di 2014. Membantai Portugal 4-0 di partai pertama bukan jaminan bagi mereka untuk mulus melaju. Pasalnya, di partai kedua mereka melempem dan tak bisa menang atas Ghana. Alhasil mereka dituntut menang untuk lolos di partai terakhir melawan AS. Secara permainan pun tak terlalu superior. Mereka pun hanya bisa menang tipis 1-0 atas AS.

Prancis di edisi Piala Dunia terakhir 2018 pun sama. Bahkan Les Bleus ini hanya membuat tiga gol saja di fase grup. Mereka hanya mengumpulkan tujuh poin. Dan dilihat dari permainannya, juga tak menunjukkan gelagat sebagai calon juara.

Percaya Akan Pilihan Pelatih

Yang kedua adalah percaya akan pilihan pelatih. Para fans terkadang protes, kenapa pemain yang lagi “On Form” di level klub tak dibawa ke Piala Dunia.

Namun parameter pelatih yang punya hak mutlak menentukan pemain, kadang berbeda. Terkadang pelatih hanya memilih pemain kepercayaannya yang sudah terbukti membuatnya nyaman dalam bekerja sama. Walaupun itu rentan cedera maupun tak tampil reguler di klub.

Di 2002, siapa yang menyangka striker Brazil, Ronaldo Nazario akan gacor? Pasalnya ia jelang Piala Dunia hanya mampu mencetak 10 gol dalam dua musim terakhirnya bersama Inter. Maklum ia banyak dilanda cedera panjang. Namun, ketika dipercaya penuh oleh Luis Felipe Scolari, ia mampu menjawabnya.

Italia di 2006 juga sama. Marcelo Lippi percaya untuk memanggil Francesco Totti. Walaupun ia di klub sudah lama cedera. Totti dikatakan baru sembuh dan diragukan oleh banyak publik jika dibawa ke Piala Dunia. Namun kepercayaan Lippi itu dijawab oleh Totti. Totti memberikan peran penting bagi permainan Italia ketika itu sebagai second striker.

Di 2010, Del Bosque juga punya kasus yang serupa. Kiper inti mereka, Iker Casillas punya musim yang tak terlalu bagus pada musim 2009/10 bersama klubnya. Sedangkan kiper pelapisnya, baik Valdes maupun Reina sedang gacor-gacornya. Namun keteguhan hati Del Bosque tetap menempatkan Iker Casillas sebagai starter terbukti.

Di 2014, ada kasus Bastian Schweinsteiger di Jerman. Ia setelah juara Liga Champions bersama Munchen di 2012/13 penampilannya menurun drastis seiring usianya semakin menua. Namun itu tak membuat Joachim Loew tidak memanggilnya. Dan terbukti, komandonya di lini tengah Jerman mampu memberikan kekuatan serta mental yang akhirnya mampu membawa Jerman juara.

Di 2018 ada kasus Paul Pogba. Ia di musim keduanya bersama United pada 2017/18, performanya justru menurun. Pogba pun kerap kontroversial. Akan tetapi, kepercayaan Deschamps yang memanggilnya sebagai pemain inti di lini tengah Prancis, mampu dibayar lunas oleh Pogba.

Perlu Perubahan di Tengah Kompetisi

Yang ketiga adalah kepandaian pelatih dalam mengubah sistem di tengah kompetisi. Artinya, pembelajaran dan evaluasi menjadi kunci bagi progres sebuah tim untuk menuju juara. Dan biasanya, tim juara melakukan itu.

Di 2002, komposisi pemain tengah Brasil berubah. Di empat pertandingan pertama, mereka memakai satu gelandang bertahan yakni Gilberto Silva dan satu gelandang serang, Juninho. Kemudian komposisi itu diubah Scolari dengan mengganti Juninho dengan Kleberson yang lebih bertipe bertahan hingga final. Hasilnya, Brazil mampu lebih seimbang dan solid.

Di 2006, Lippi awalnya memakai formasi 4-3-1-2. Ia mengandalkan dua striker sekaligus. Di tengah kompetisi, tepatnya di match ketiga melawan Ceko, ia mencoba memakai satu striker saja dengan formasi 4-4-1-1. Penambahan personel di lini tengah membuat keseimbangan tim lebih terjaga. Dan itu membuat Italia lebih solid dan konsisten hingga babak akhir.

Pada 2010, Del Bosque menolak menggunakan pola 4-3-3 ala Barcelona. Ia lebih memilih menggunakan pola 4-2-3-1 dengan double pivot Alonso dan Busquets. Di babak semifinal dan final, Del Bosque juga mengubah sisi penyerangannya. Ia menarik David Villa dari sisi kiri, ke pos striker menggantikan Torres. Ia juga menyuruh Iniesta lebih bergerak dari sisi kiri yang ditinggalkan Villa.

Di 2014, Jerman juga banyak melakukan perubahan. Philipp Lahm di empat pertandingan pertama menempati posisi gelandang. Ia akhirnya ditarik kembali sebagai bek kanan di perempat final. Di komposisi penyerangan, Loew juga mulai mengubah trionya sejak perempat final. Dari Gotze, Muller, Ozil, akhirnya ia mulai berani memainkan senior mereka Miroslav Klose hingga final.

Di edisi 2018 yang lalu, Deschamps juga melakukan perubahan signifikan. Awalnya Prancis memulai babak grup dengan format 4-3-3 dengan trio penyerang Griezmann, Mbappe dan Dembele.

Namun pada match kedua hingga final, pola pakemnya berubah menjadi 4-2-3-1. Di mana Giroud dipercaya sebagai “Nomor 9″. dan Blaise Matuidi di plot sebagai gelandang kiri untuk menambah keseimbangan. Hasilnya sempurna, Prancis pun berhasil dengan pola baru itu.

Terkadang Pemain “Nomor 9” Tak Perlukan Cetak Banyak Gol

Yang keempat adalah terkadang pemain no 9 dari sang juara tak terlalu produktif dalam mencetak gol. Di Italia 2006, Toni dan Gilardino yang sering dipakai menjadi “Nomor 9” hanya mengemas total 3 gol saja.

Kemudian di 2010, top skor Spanyol adalah David Villa. Pemain yang ditempatkan di sisi kiri penyerangan. Bukannya Torres yang ditempatkan sebagai “Nomor 9”.

Di 2014, top skor Jerman adalah Thomas Muller. Muller adalah seorang False Nine dalam pola permainan Loew. Miroslav Klose yang diplot sebagai “Nomor 9” di tengah kompetisi, hanya mampu menciptakan 1 gol.

Di 2018 juga sama. Kita tahu Giroud yang dipasang sebagai “Nomor 9” di Prancis jumlah golnya adalah 0. Top skor mereka malah datang dari lini kedua yakni Griezmann dengan 4 gol.

https://youtu.be/6jsN0yQ64vA

Sumber Referensi : theathletic, skysports,

Bukan Cuma Ronaldo, Masalah Ini Harus Segera Diselesaikan MU

0

Belum lama ini pemain bintang Manchester United, Cristiano Ronaldo “membuka” borok Setan Merah. Diwawancara jurnalis Talk TV, Piers Morgan, CR7 menyampaikan masalah-masalah yang ada di tubuh Setan Merah. Di sisi lain, Manchester United pun segera memberikan respons mengenai hal itu.

Kabarnya, CR7 yang juga menjadi bagian dari masalah United akan didepak dari klub. Manajer United, Erik ten Hag yang sampai harus menunda liburannya, sudah membuka peluang agar Ronaldo bisa segera angkat kaki dari Theatre of Dream.

Well, sebetulnya masalah di MU bukan cuma Ronaldo. Ada beberapa masalah yang masih ada dan harus segera dituntaskan oleh Manchester United. Apa saja masalah tersebut?

Cristiano Ronaldo

Seperti yang sudah disebutkan tadi, bahwa Cristiano Ronaldo adalah bagian dari masalah di tubuh MU. Sorry to say untuk para penggemar CR7. Memang begitulah keadaannya. Dalam laporan Goal, Ronaldo menjadi salah satu biang masalah di tubuh Manchester United.

Betul bahwa pria kelahiran Funchal, Portugal itu merupakan pemain bintang dan legenda di tubuh Manchester United. Tapi kalau ia justru menjadi sumber masalah ya, mau bagaimana lagi? CR7 beberapa kali menunjukkan sikap yang tidak etis.

Misalnya, ketika Manchester United menghadapi Tottenham Hotspur. Belum juga laga selesai, Ronaldo main nyelonong begitu saja masuk ke ruang ganti. Tindakan itulah yang akhirnya bikin Ten Hag harus mengambil sikap. Abang GOAT pun dicoret dari skuad untuk laga melawan Chelsea.

Ronaldo sebagai seorang pemain juga kerap tampil mengecewakan. Di Liga Inggris Ronaldo baru mencetak satu gol saja. Padahal ia dimainkan di 10 laga United. Di Liga Eropa Ronaldo juga hanya mencetak 2 gol dari 6 laga.

Ketika di atas lapangan pun, Ronaldo tidak memberi contoh yang baik. Ia sebagai senior memimpin dengan cara yang buruk, plus penampilannya yang juga tidak baik. Wajar kalau ujungnya Ten Hag membiarkan Ronaldo minggat dari Old Trafford.

Training Ground

Ternyata masalah Cristiano Ronaldo ini ada turunannya. Wawancaranya dengan Piers Morgan membuka borok Manchester United lainnya. Salah satunya soal training ground atau tempat latihan Manchester United. Ronaldo dalam wawancara itu mengkomplain kondisi training ground di Manchester United, dalam hal ini Carrington.

Soal itu, Ronaldo tidak sepenuhnya salah. Carrington memang sudah lama dianggap tertinggal dengan klub Liga Primer Inggris lainnya. Leicester City saja punya tempat latihan yang mewah. Bahkan tempat latihan The Foxes menjadi salah satu yang terbaik di Eropa.

Tidak hanya The Foxes, Liverpool yang sudah menggunakan Pusat Pelatihan AXA juga mendapat fasilitas lebih baik. Manchester City tak usah ditanya lagi. Keseriusan Sheikh Mansour membangun The Citizen terbukti dengan infrastruktur latihan di sekitar Etihad Stadium yang mewah.

Sebelum Ronaldo mantan pemain Manchester United, Gary Neville juga pernah mengkritik training ground MU. Dilansir Mirror, mantan pelatih Valencia itu mengatakan Manchester United harus membangun tempat latihan baru.

“Kami terpukul karena meninggalkan The Cliff (tempat latihan yang dulu). Tapi kami sekarang memiliki tempat latihan yang berada di belakang (secara kualitas) tempat latihan lainnya,” kata Gary Neville.

Lini Depan Tumpul

Selain masalah infrastruktur dan itu menjadi tanggung jawab manajemen, ada pula masalah di dalam skuad United. Salah satunya lini depan yang tumpul. Masalah ini, Erik ten Hag lah yang harus menyelesaikannya. Apalagi nanti jika benar-benar ditinggal Cristiano Ronaldo.

“Satu masalah besar adalah garis depan. Kami tidak memiliki banyak pemain yang tersedia di paruh musim. Kami harus meningkatkan itu,” kata Erik ten Hag.

Ten Hag benar. Sejauh ini, ia lebih sering mengandalkan Marcus Rashford. Di bangku cadangan hanya ada Anthony Martial yang bisa berperan sebagai penyerang tengah. Untuk menyiasati itu, selama paruh musim ini Ten Hag membuat tim penyerangan United lebih cair dan dinamis.

Dengan kata lain gol tidak hanya berasal dari penyerang tengah. Tapi masalahnya tidak sesederhana itu. MU sering gagal mengkonversi umpan menjadi gol. Tak pelak mereka memang membutuhkan pemain yang bisa mengkonversi peluang menjadi gol. Kabarnya United mengincar beberapa nama, termasuk Victor Osimhen dari Napoli.

Bersih-Bersih Pemain

Manchester United tidak hanya harus mempunyai amunisi baru yang sesuai dengan visi Erik ten Hag. Namun, MU juga harus membersihkan gladak. Pastikan tidak ada penumpang gelap yang hanya mau dibayar tapi minim kontribusi. MU memang sudah melepas beberapa pemain seperti Alex Telles dan Eric Bailly.

Namun lebih dari itu masih ada penumpang-penumpang gelap lainnya. Misal Aaron Wan-Bissaka, Axel Tuanzebe, dan Phil Jones. Nama-nama tadi tercatat masih berstatus pemain MU. Tapi apa kamu pernah melihat nama-nama tadi masuk dalam daftar setiap United bermain?

Bersih-bersih pemain ini juga penting. Sebab Ten Hag toh juga menginginkan skuad yang ramping. Apakah ini akan dilakukan? Kita lihat saja nanti di Bulan Januari.

Peran Bruno Fernandes

Bruno Fernandes sebetulnya juga jadi masalah di tubuh Manchester United. Namun masalah yang tidak harus disingkirkan. Karena pemain Portugal itu masih sangat layak untuk bermain di Manchester United. Tinggal bagaimana Erik ten Hag harus bisa memberikan peran yang sesuai untuk Bruno.

Belakangan ini gol dan asis dari pemain Portugal itu menurun. Tapi ia tetap menjadi pusat kreativitas United. Bruno Fernandes juga menjadi pemain yang bertanggung jawab dari satu pertandingan ke pertandingan lainnya.

Ia kerap mengarahkan pergerakan satu timnya. Bruno Fernandes juga salah satu pemain yang paham dengan filosofi menekan ala Erik ten Hag. Pelatih berpaspor Belanda itu mungkin harus mematenkan ban kapten ke Bruno Fernandes.

Putuskan Nasib Maguire

Baginda Harry Maguire juga menjadi salah satu biang masalah di tubuh Manchester United. Penampilannya yang kadang jelek, kadang jelek banget membuat Erik ten Hag mesti secepatnya memutuskan nasib Maguire.

Pemain yang diandalkan Southgate di Inggris itu bahkan pernah dicoba Ten Hag sebagai striker. Momen itu terjadi saat Manchester United menjamu Real Sociedad di Liga Malam Jumat. Barangkali ini karena jadi bek pun, Maguire justru menjelma jadi striker. Tapi striker lawan.

Namun percobaan menjadikan Maguire striker pun gagal. Pemain ini toh nggak bisa cetak gol ke gawang lawan. Nah, kabarnya nih, Maguire akan dilepas oleh Erik ten Hag. MU bersedia jual rugi Maguire. Itu jika ada yang meminatinya. Ya kalau nggak laku, coba tawarkan ke FC Goa.

Salah Urus

Masalah yang terakhir adalah salah urus. Manchester United ini memang klub yang salah urus. Pemilik mereka, keluarga Glazer adalah pengusaha yang pelitnya naudzubillah. Salah satu bukti kikirnya Glazer adalah soal tempat latihan. Petinggi Manchester United pernah merencanakan tempat baru untuk latihan yang tidak terlalu jauh dari Old Trafford.

Para petinggi menggembar-gemborkan Tatton Estate yang luasnya 5 ribu hektare untuk tempat latihan. Tapi setelah tahu harganya sangat tinggi, para petinggi MU putar balik. Lalu, MU pernah berencana membenahi Carrington dengan biaya 200 juta pounds (Rp3,7 triliun). Namun nasibnya entah sampai mana.

Fans Manchester United juga sering memprotes kebijakan dari pemilik klub. Para penggemar bahkan menuntut agar United dijual saja daripada salah urus. Namun, Glazer tentu tidak mau melepas Manchester United begitu saja.

https://youtu.be/3nYxrn5uRqU

Sumber: TheAthletic, DailyMail, WeAllFollowUnited, GOAL, DailyMail2, Mirror

Berita Bola Terbaru 16 November 2022 – Starting Eleven News

Berita Bola Terbaru dan Terkini

GUARDIOLA BAHAS PERPANJANGAN KONTRAK DI MAN CITY

Pep Guardiola siap membuka pembicaraan untuk memperpanjang kontraknya dengan Manchester City selama jeda Piala Dunia. Kontrak pria asal Spanyol itu akan habis di akhir musim 2022/23. Laporan dari Football Espana mengklaim dia akan terbang ke Abu Dhabi untuk bertemu dengan pemilik City, saat pembicaraan perpanjangan semakin intensif. Ada indikasi Guardiola akan mendapatkan perpanjangan kontrak dua tahun, yang berarti dia bakalan melatih City sampai 2025.

PERAN TONI KROOS DI PIALA DUNIA 2022

Gelandang Real Madrid, Toni Kroos, hanya akan menjadi penonton pada gelaran Piala Dunia 2022. Sebab ia telah memutuskan pensiun dari Timnas Jerman pada 2021 lalu. Tapi kini ada peran lain yang akan diemban Kroos untuk meramaikan ajang Piala Dunia kali ini. Bukan di lapangan. Peran itu adalah ia bakal menjadi pandit di sebuah tv lokal Jerman, Magenta TV, selama Piala Dunia 2022. Di sana ia akan memandu jalannya pertandingan-pertandingan Piala Dunia Qatar. 

KARIR SERGINO DEST TELAH BERAKHIR DI BARCELONA

Football Espana mengabarkan, Sergino Dest tidak akan kembali ke Camp Nou setelah kesepakatan pinjamannya dengan AC Milan berakhir musim panas mendatang. Meski memiliki kontrak hingga 2025, Blaugrana sudah memutuskan bahwa Dest tidak akan kembali ke klub setelah musim ini berakhir. Untuk itu, Sergino Dest perlu mencari klub baru pada bursa transfer musim panas 2023. Dest sendiri dikabarkan memiliki bandrol 20 juta euro.

EKS BEK ARGENTINA AKAN LATIH RIVER PLATE

Mantan bek Timnas Argentina, Martín Demichelis mengatakan pada hari Senin dia akan menjadi pelatih River Plate. Demichelis mengaku bakal menggantikan peran Marcelo Gallardo yang mengundurkan diri sebagai juru taktik River Plate. Saat ini, Demichelis yang berusia 41 tahun bertanggung jawab atas tim cadangan Bayern Munchen. Keputusannya untuk membesut River Plate, kabarnya telah disetujui oleh pihak Bayern Munchen.

FERDINAND: KISAH CINTA RONALDO DAN MU TELAH BERAKHIR

Rio Ferdinand, mantan rekan setim Cristiano Ronaldo, menanggapi wawancara sensasional yang dilakukan penyerang berusia 37 tahun itu dengan Piers Morgan. Ferdinand merasa tidak ada jalan kembali bagi Cristiano Ronaldo di Manchester United setelah wawancaranya dengan Piers Morgan. Mantan bintang Setan Merah itu menilai sikap Ronaldo kali ini tak bisa dibela. Sehingga ia menganggap Ronaldo tidak lama lagi akan cabut dari MU.

NAZAR PEDRI JIKA SPANYOL JUARA PIALA DUNIA 2022

Spanyol bukan kandidat terkuat untuk menjuarai Piala Dunia 2022. Namun, Pedri sampai bersedia mencukur habis rambutnya apabila Spanyol mampu jadi juara di Qatar. “Jika kami pada akhirnya benar-benar menang, saya akan membiarkan tukang cukur untuk mencukur habis rambut saya atau terserah dia mau melakukan apa,” ucapnya. Selama ini gaya rambut Pedri terkesan rapi dan tidak punya gaya yang terlalu khas. Ia pun sejauh ini tidak pernah botak sebelumnya.

VERRATTI SEGERA TEKEN KONTRAK BARU DI PSG

Marco Verratti dikabarkan akan segera menandatangani kontrak baru dengan Paris Saint-Germain senilai 12 juta euro per musim. Kontrak gelandang timnas Italia itu berlaku hingga Juni 2024 dan perpanjangan masa pengabdiannya akan mengikatnya di Parc des Princes hingga Juni 2026. Dilansir Goal, dengan perpanjangan kontraknya, gaji Verratti akan meningkat menjadi sekitar 12 juta euro per musim.

BAKAYOKO INGIN PERGI DI BURSA TRANSFER JANUARI

Nasib Tiemoué Bakayoko sedang terkatung-katung setelah AC Milan tidak lagi menjadikannya sebagai bagian dari skuad Stefano Pioli musim ini. Melansir dari Football Italia, Pemain sepakbola Prancis itu dikabarkan akan coba mencari jalan keluar di bursa transfer Januari nanti. Dia masih terikat kontrak dengan Chelsea hingga 2024 dan kemungkinan besar akan dijual dengan harga murah.

MESSI IZIN PELATIH SEBELUM TINGGALKAN BENCH, RONALDO DIMINTA BELAJAR

Cristiano Ronaldo tampaknya harus belajar dari Lionel Messi dan Neymar mengenai cara menghormati pelatih saat hendak meninggalkan bench atau bangku cadangan ke kamar ganti. Sikap respek Messi dan Neymar kepada pelatihnya, Christophe Galtier, tercermin saat PSG menjamu Auxerre dalam lanjutan Ligue 1 2022/23, Minggu (13/11). Video itu mendadak viral dan netizen membandingkannya dengan Cristiano Ronaldo.

JUVENTUS BERMINAT ANGKUT PEMAIN BUANGAN MOURINHO

Dikutip dari Romapress.net, bek kanan AS Roma, Rick Karsdorp, diminati oleh Juventus setelah dirinya seakan tak lagi punya masa depan bersama klub ibu kota. Karsdorp kabarnya sudah ditendang dari skuad AS Roma, dan sudah siap angkat koper secepatnya. Karsdorp kena ‘blacklist’ Jose Mourinho yang kesal pada penampilannya pada laga antara Roma dan Sassuolo. Hingga melabeli Karsdorp sebagai pengkhianat.

LUIS ENRIQUE AKAN LIVE STREAMING SELAMA PIALA DUNIA 2022

Entrenador Timnas Spanyol, Luis Enrique akan menggunakan cara unik untuk memberikan update La Furia Roja selama gelaran Piala Dunia 2022. Enrique mengabarkan bakal menjadi streamer di platform Twitch selama gelaran di Qatar untuk memberikan kabar terbaru mengenai Timnas Spanyol. Kendati ini merupakan pengalaman anyar bagi Enrique, dirinya mengaku pentingnya interaksi langsung antara fans dan Timnas Spanyol. 

TEGAS! TEN HAG CORET RONALDO DARI SKUAD MU

Pelatih Manchester United, Erik ten Hag rela menunda liburan bersama keluarganya hanya untuk membicarakan wawancara kontroversial Ronaldo bersama petinggi MU. Kini, Ten Hag dikabarkan sudah mengambil sikap tegas untuk merespons wawancara kontroversial Ronaldo. ESPN melaporkan Ten Hag telah memberi tahu para petinggi klub bahwa Ronaldo tidak boleh bermain untuk MU lagi. Dengan kata lain, Ten Hag sudah mencoret Ronaldo dari daftar skuad Setan Merah. 

PARA PEMAIN MU KECEWA DENGAN PERILAKU RONALDO

Para pemain Manchester United kecewa dengan perilaku Cristiano Ronaldo, tetapi mereka ingin fokus pada sepakbola dan tidak terlibat dalam masalah di luar lapangan. Ronaldo kini telah bergabung dengan skuad Portugal menjelang Piala Dunia dan mendapat sambutan dingin dari rekan setimnya di United, Bruno Fernandes, setelah wawancara. Sementara itu, pengacara United akan terus mempelajari komentar yang dibuat Ronaldo saat dan ketika dirilis dan semua opsi akan dipertimbangkan.

PHILIPP LAHM MENGECAM GELARAN PILDUN QATAR

Legenda timnas Jerman, Philipp Lahm mengecam FIFA menggelar Piala Dunia 2022 di Qatar karena beberapa alasan, termasuk korban meninggal. Permasalahan yang paling disoroti Lahm dari pergelaran Piala Dunia 2022 ialah terkait hak asasi manusia di wilayah Negara teluk itu. Lahm tak memungkiri bahwa Qatar secara umum menunjukkan beberapa kemajuan signifikan sejak tahun 2010 sampai sekarang. Namun dalam hal sepak bola, Lahm merasa apa yang telah dilakukan Qatar belum cukup.

MANAJER IRAN, QUEIROZ KESAL DITANYA SOAL HAL LAIN DI LUAR SEPAKBOLA

Manajer Iran, Carlos Queiroz memiliki jawaban singkat ketika ditanya tentang penindasan terhadap perempuan di Iran. Terutama dalam protes selama beberapa bulan terakhir, yang memuncak pada hukuman mati yang dijatuhkan pada setidaknya satu dari mereka yang telah mengambil bagian dalam demonstrasi. Queiroz mengaku kini fokus mendampingi Timnas Iran di gelaran Piala Dunia Qatar 2022.

RODRYGO GOES PERTANYAKAN KEPEMIMPINAN WASIT DI LIGA SPANYOL

Penyerang andalan Real Madrid, Rodrygo Goes memanfaatkan sebuah wawancara untuk menyerang wasit. Dia mempertanyakan keputusan wasit dalam beberapa laga terakhir timnya di La Liga. “Kekalahan di Vallecas sangat menyakiti kami. Kami tidak sanggup melakukannya. Dan wasit juga tidak mengizinkan kami menjadi diri sendiri. Baik Vini dan saya mengalami serangan dalam dua pertandingan terakhir ini dan wasit, sangat buruk karena tidak menghukum mereka. Mereka mengizinkan semuanya,” katanya.

MESSI PIMPIN LATIHAN TIMNAS ARGENTINA

Timnas Argentina telah berada di Abu Dhabi menjelang persahabatan melawan Uni Emirat Arab (UEA) pada Rabu (16/11) dalam persiapan untuk Piala Dunia 2022 mendatang. Pertandingan ini akan berlangsung di Stadion Mohammed bin Zayed pukul 22.30 WIB. Kapten timnas Argentina, Lionel Messi tampak memimpin rekan-rekannya berlatih di Abu Dhabi menjelang pertandingan persahabatan kontra UEA.

HAZARD AKUI BISA TINGGALKAN REAL MADRID DI MUSIM PANAS

Striker Real Madrid, Eden Hazard hingga kini belum dapat menunjukkan kemampuan terbaiknya untuk Los Blancos. Oleh karena itu, bintang Timnas Belgia itu pun membuka peluang untuk meninggalkan Ibukota Spanyol. “Saya tidak ingin meninggalkan Real Madrid. Mungkin situasi saya akan berubah setelah Piala Dunia,” ungkap Hazard dilansir dari Football Espana. Sebelum memutuskan hengkang dari Madrid, Hazard terlebih dulu akan berusaha membuktikan kemampuannya.

PRESIDEN FIFA DI G20: HENTIKAN PERANG SELAMA PIALA DUNIA 2022

Presiden FIFA, Gianni Infantino menyampaikan pandangannya dalam pertemuan G20 yang tengah berlangsung di Nusa Dua, Bali. Dalam pertemuan yang dihadiri para pemimpin dunia itu, ia mengangkat isu perang Rusia-Ukraina. Infantino berharap Piala Dunia 2022 yang berlangsung 20 November-18 Desember nanti menjadi momen untuk sejenak melupakan perang. Ia tak mau berharap muluk-muluk, tapi setidaknya pesta sepakbola dunia itu bisa memberikan dampak positif meski kecil.

RESMI, KLUB KASTA KETUJUH MAU PINJAM HAALAND

Dalam rilis resminya, Klub kasta ketujuh Liga Inggris, Ashton United mengajukan permintaan aneh dengan ingin meminjam striker Erling Haaland dari Manchester City. Ashton ingin pinjam Haaland selama 28 hari karena striker Norwegia itu tidak akan tampil di Piala Dunia 2022 di Qatar. Ashton menegaskan permintaan peminjaman Haaland itu tidak main-main. Tim asuhan Michael Clegg tersebut menunggu konfirmasi dari Man City.

PELATIH WOLVES RAGU JIMENEZ BENAR-BENAR FIT UNTUK TAMPIL DI PILDUN 2022

Pelatih baru Wolverhampton Wanderers, Julen Lopetegui tidak percaya Raul Jimenez fit untuk bermain di Piala Dunia setelah striker itu masuk dalam daftar 26 pemain Meksiko. Pasalnya, Jimenez sendiri masih belum pulih betul dari cedera pangkal paha yang dideritanya sejak Agustus. Namun Lopetegui menghormati keputusan pemain dan negaranya. Ia hanya bisa berharap Jimenez bisa fit untuk klub ketika kompetisi kembali digelar. 

MANE ABSEN DI LAGA SENEGAL VS BELANDA

Sadio Mane datang ke Piala Dunia 2022 dengan kondisi cedera. Eks penyerang Liverpool itu akan absen di laga perdana Lions of Teranga di Piala Dunia 2022, saat melawan Belanda di Al Thumama Stadium, Doha, 21 November mendatang. Hal tersebut dikonfirmasi Wakil Presiden Federasi Sepakbola Senegal, Abdoulaye Sow. Ia menyerukan agar Senegal bisa menang tanpa Mane saat melawan Belanda di laga perdana Senegal di Piala Dunia 2022.

PRANCIS KEHILANGAN NKUNKU KARENA CEDERA

Christopher Nkunku mengalami nasib buruk jelang Piala Dunia 2022. Pemain 25 tahun itu mengalami cedera pada sesi latihan Timnas Prancis dan harus melupakan mimpi bermain di Qatar. Pada prosesnya, merujuk pada video yang dirilis RMC Sport, terlihat ada upaya duel perebutan bola antara Nkunku dan Camavinga. Prancis sendiri saat ini menyiapkan Randal Kolo Muani sebagai pengganti Nkunku. Namun, belum ada pengumuman resmi karena administrasi pemain Frankfurt itu masih didaftarkan ke FIFA.

ALLEGRI PELATIH TERBAIK SERIE A NOVEMBER

Juventus terus menunjukkan performa yang mengesankan di Serie A. Hal itu membuat sang allenatore Massimiliano Allegri terpilih sebagai pelatih terbaik Serie A edisi November 2022. Dalam tiga laga di bulan November, Juventus selalu menang dan nirbobol. Mereka berturut-turut mengalahkan Inter Milan 2-0, Hellas Verona 1-0, dan Lazio 3-0. Lega Serie A mengatakan bahwa Allegri akan menerima penghargaan tersebut dalam laga kandang pertama Juventus pada tahun depan melawan Udinese pada 8 Januari 2023.

MU PROYEKSIKAN MBAPPE SEBAGAI PENGGANTI RONALDO

Dilansir BBC, Manchester United disebut-sebut siap melayangkan dana besar untuk merekrut Kylian Mbappe yang juga jadi incaran Liverpool. Striker PSG itu diproyeksikan sebagai pengganti Cristiano Ronaldo. MU dianggap lebih berpeluang mendapatkan tanda tangan Mbappe karena kesanggupan membayarkan gaji mahalnya. Liverpool, di sisi lain, tidak semampu Setan Merah. Selain Mbappe, MU juga masih tertarik merekrut Harry Kane. 

Mengapa Lloris Ogah Pakai Ban Kapten Pelangi di Piala Dunia?

Kiper andalan Tottenham Hotspurs sekaligus kapten tim nasional Prancis mengungkapkan dirinya menolak untuk mengenakan ban kapten pelangi di Piala Dunia 2022. Padahal ban kapten pelangi itu ditujukan untuk kampanye yang mendukung hak-hak LGBT. FIFA juga melarang para pemain di Piala Dunia untuk mengenakan ban kapten mereka sendiri. FIFA dengan tegas memberikan aturan bahwa para pemain harus mengenakan ban kapten yang mereka sediakan.

Namun, alasan utama Lloris tidak ingin mengenakan ban kapten itu adalah karena dirinya ingin menghormati budaya yang dianut Qatar selaku tuan rumah. Lloris juga mengaku keinginan dirinya untuk tidak memakai ban kapten pelangi juga sejalan dengan keinginan presiden federasi sepak bola Prancis.

Ingin Hormati Qatar

“Ketika kami di Prancis, kami menjamu para pendatang dan seringkali menuntut untuk para pendatang tersebut menghormati budaya kami. Dan saya ingin menerapkan hal yang sama juga ketika kami berkunjung ke Qatar, sesederhana itu”

“Sebelum kami memulai sesuatu, kami butuh persetujuan dari FIFA, dan dari FFF selaku federasi sepak bola Prancis. Saya tentu punya pendapat sendiri terkait hal ini, yang juga selaras dengan pendapat presiden FFF.”

Sebelumnya, Noel Le Graet selaku presiden FFF memang memiliki pandangan yang sama dengan Lloris terkait hal ini. Le Graet mengungkapkan bahwa tim nasional Prancis tidak perlu menggunakan ban kapten pelangi di Piala Dunia Qatar. Le Graet juga mengatakan bahwa ia tidak ingin Prancis terkesan seperti menggurui negara lain.

“Kami akan diskusikan lagi, tapi saya lebih suka untuk tidak. Kita bermain di negara yang seharusnya kita hormati. Tapi, kalau ternyata kita harus memakainya ya akan kita pakai. Bukannya saya tidak mendukung kampanye ini, tapi rasanya terkadang kita sangat ingin menggurui negara lain padahal masalah di negara sendiri masih banyak”

Lloris dan presiden FFF memang mengungkapkan hal yang serupa. Yaitu mereka merasa penggunaan ban kapten pelangi bagi para pemain itu tidak diperlukan. Meskipun begitu, Lloris juga menambahkan bahwa dirinya tetap tidak ingin mengabaikan isu ini. Namun, bagaimanapun juga ia ingin para pemain bisa lebih fokus untuk bermain.

“Kita memang harus tetap peka terhadap isu ini, tapi saya yakin kita harus tetap fokus kepada permainan. Di luar lapangan, tentu semua orang boleh bebas mengekspresikan diri dan menyuarakan pendapat mereka.”

Kampanye One Love

Qatar memang dikenal sebagai negara yang menentang keras LGBT. Bahkan di negara tersebut hubungan sesama jenis merupakan tindakan yang melarang hukum. Untuk itu beberapa negara peserta Piala Dunia ingin memberikan dukungan terhadap komunitas LGBT dengan memakai ban kapten bermotif pelangi.

Namun, Lloris mengatakan bahwa kampanye tersebut tidak pantas apabila dibebankan kepada pemain sepak bola. Hal tersebut seharusnya menjadi tanggung jawab seorang politisi dan juga tidak bisa dilakukan di Piala Dunia yang hanya berlangsung sebentar.

“Terlalu banyak beban para pemain. Kami bukan pembuat kebijakan. Harus dipahami, bagi para pemain fokusnya adalah kepada turnamen. Apalagi kesempatan ikut Piala Dunia hanya datang empat tahun sekali jadi harus memanfaatkan setiap kesempatan itu secara maksimal. Fokusnya harus di lapangan. Sisanya itu urusan politisi, kami hanya seorang atlet.” Ungkap Lloris

 

Sumber referensi: ESPN, As, Guardian

Hazard Mau Tinggalkan Madrid Dengan Satu Syarat!

Ketika Hazard pindah ke Real Madrid di tahun 2019 lalu, semua orang mengira pemain asal Belgia itu akan meraih kesuksesan bersama Los Blancos. Dulu, dirinya bahkan dianggap sebagai galactico oleh para penggemar dan media. Namun, perjalanan Hazard di ibu kota Spanyol malah terasa sangat problematis.

Kiprahnya bersama Los Merengues justru lebih diwarnai dengan cedera yang mengharuskan Hazard menepi dari lapangan. Selain itu, faktor persaingan dengan pemain lain yang terlalu ketat di Madrid membuat situasinya menjadi semakin sulit. Hazard menjadi pemain bangku cadangan bagi Real Madrid dan Carlo Ancelotti musim ini.

Siap Tinggalkan Madrid

Banyak yang menganggap waktu Hazard di Madrid sudah habis dan lebih baik baginya untuk mulai mencari klub lain. Dikutip dari Marca, Hazard bahkan memahami keinginan para penggemar yang ingin dirinya hengkang.

“Tentu saja! saya mengerti apa mau para fans. Dan itu normal, saya adalah pemain yang tidak banyak turun lapangan dalam tiga musim terakhir. Saya bisa memahaminya. Saya harus menunjukan ketika saya bermain, meskipun dalam lima, sepuluh, atau lima belas menit, keinginan saya untuk bermain besar dan saya harus bermain dengan baik.”

Hazard lalu mengungkapkan bersedia pindah asalkan dalam satu kondisi. Yaitu klub secara terbuka mengungkapkan kepada dirinya bahwa ia sudah tidak dibutuhkan lagi. Dan secara langsung memintanya untuk pergi. Jika itu terjadi, ia bersedia untuk hengkang meskipun dirinya sangat ingin bertahan di Real Madrid.

“Saya tidak mungkin pergi di bursa transfer musim dingin Januari nanti. Tapi di musim panas nanti, mungkin saja saya pergi. Kontrak saya masih tersisa satu musim dan itu adalah keputusan klub nantinya. Jika klub secara langsung meminta saya untuk pergi, maka saya akan pergi. Itu normal.” Ungkapnya.

Hazard mengaku bahwa bermain untuk el real adalah mimpinya sejak kecil. Karena itu ia masih ingin bertahan meskipun dirinya jarang bermain. Hazard juga ingin membuktikan kepada orang-orang bahwa dirinya bisa bermain bola. Banyak orang yang memang meragukan kemampuannya semenjak dirinya datang ke Spanyol.

“Saya jarang bermain. Tapi menjadi pemain Real Madrid adalah mimpi saya sejak kecil. Jadi saya ingin tetap bermain untuk klub ini, menggunakan jersey ini. Saya harus membuktikan kepada semua orang saya bisa bermain sepak bola. Orang-orang meragukan kemampuan saya, tapi saya tidak.”

Jadikan Piala Dunia Sebagai Pembuktian

Keraguan orang-orang apakah Hazard bisa bermain bola tidak datang tanpa alasan. Hazard didatangkan Madrid dengan harga 100 juta euro, namun dirinya baru mencetak 7 gol dan 11 assist dalam 72 pertandingannya di semua kompetisi bersama Real Madrid.

Terlepas dari catatan buruknya di klub, ia masih mendapatkan kepercayaan bersama tim nasional Belgia. Pelatih Belgia, Roberto Martinez, telah memasukan Hazard ke dalam skuad Piala Dunia 2022. Ia juga masih diharapkan menjadi pahlawan tim Belgia di Piala Dunia mengingat pengalamannya di turnamen tersebut yang tidak bisa diremehkan.

Piala Dunia 2022 juga bisa sebagai ajang pembuktian Hazard kepada publik. Mantan pemain Chelsea itu bisa menghidupkan kembali karirnya jika dirinya bisa bersinar di Piala Dunia bersama Belgia. Ia sudah lama menjadi roda penggerak timnas Belgia dan patut untuk dinantikan sejauh mana Hazard bisa membawa Belgia di pentas Piala Dunia 2022.

 

Sumber referensi: Espana, Marca, Sportsmax

Cerita dari 7 Pemain yang Ikut 5 Edisi Piala Dunia

Dipanggil untuk memperkuat timnas di Piala Dunia adalah salah satu bukti seorang pemain masih berada di performa puncak. Selalu konsisten dan bermain di level tertinggi itu bukan hal yang mudah bagi pemain sepakbola. Apalagi tampil konsisten dari masa ke masa tetap di performa terbaiknya, itu jauh lebih sulit lagi. Tapi para pemain ini bisa konsisten dan bahkan tetap dipercaya untuk memperkuat timnas mereka masing-masing di lima edisi Piala Dunia. Berikut cerita dari 7 pemain yang ikut di 5 edisi Piala Dunia.

Antonio Carbajal

Antonio Felix Tota Carbajal Rodriguez atau biasa dipanggil Antonio Carbajal adalah penjaga gawang kebanggaan tim nasional Meksiko. Pemain yang punya julukan El Tota itu telah memakai jersey nomor 1 Meksiko di piala dunia 1950, 1954, 1958, 1962, dan 1966. Dengan tampil di lima edisi Piala Dunia itu, ia kemudian mendapatkan julukan El Cinco Copas, atau berarti Si Lima Piala.

Selain sudah bermain di 5 edisi Piala Dunia, catatannya bersama El Tri tidak terlalu membanggakan. Maklum, Meksiko pada saat itu memang bukan tim yang kuat. Mereka sering jadi bulan-bulanan tim peserta Piala Dunia lainnya. Namun, penampilan terbaiknya datang ketika menang melawan Cekoslowakia dengan skor 3-1. Di pertandingan itu, Carbajal dipilih oleh pers sebagai penjaga gawang terbaik.

Penampilan pamungkasnya bersama El Tri adalah pada tahun 1966 melawan Uruguay. Laga terakhir itu terasa sangat istimewa, sebab pertandingan itu diselenggarakan di Stadion Wembley yang bersejarah. Seakan melengkapi perjalanan karirnya yang juga dimulai dari stadion bersejarah lainnya, stadion Maracana.

Guillermo Ochoa

48 tahun setelah Antonio “El Tota” Carbajal gantung sepatu, Meksiko punya penjaga gawang yang bisa kembali di puja. Orang itu adalah Guillermo Ochoa. Dan di usianya yang kini sudah 37 tahun, dirinya mencatatkan 130 pertandingan. Sekaligus menjadi penjaga gawang dengan penampilan terbanyak sepanjang sejarah Meksiko. Piala Dunia 2022 ini merupakan edisi kelima Ochoa.

Nama Ochoa mulai menjadi perbincangan setelah penampilan apiknya di Piala Dunia 2014 Brasil. Namun, sebenarnya Ochoa sudah memperkuat El Tri sejak Piala Dunia 2006. Tapi memang saat itu dirinya masih menjadi cadangan. Ia bahkan masih menjadi cadangan di Piala Dunia 2010.

Lalu setelah itu, Ochoa mulai menjadi pilihan utama penjaga gawang El Tri di Piala Dunia 2014. Dan mulai memukau dunia dengan penampilan gemilangnya di bawah mistar gawang. Salah satu penampilan terbaiknya adalah ketika di Piala Dunia 2014 melawan tim tuan rumah, Brasil. Ochoa mampu menahan gempuran tim samba sampai pertandingan berakhir tanpa gol. Dan tentu, penampilannya di Piala Dunia 2018 melawan Jerman tidak patut dilupakan.

Gianluigi Buffon

Lagi lagi seorang penjaga gawang yang masuk di daftar ini. Tapi Gianluigi Buffon berbeda dengan penjaga gawang lainnya. Tidak ada yang bisa membantah bahwa Buffon adalah salah satu penjaga gawang terbaik yang pernah tampil di Piala Dunia. Piala Dunia pertama Buffon adalah pada tahun 1998. Meskipun, dirinya hanya menjadi pelapis dan tidak tampil di tahun tersebut.

Buffon pun menjadi andalan Gli Azzurri di edisi-edisi setelahnya. Bahkan mendapatkan gelar juara setelah tampil memukau di Piala Dunia 2006. Buffon hampir membuat sejarah sebagai pemain pertama yang tampil di enam edisi Piala Dunia. Sayangnya Italia gagal lolos kualifikasi Piala Dunia 2018. Dan itu jadi kali pertama Italia gagal lolos Piala Dunia.

Sayang bagi Buffon, masa masa Piala Dunia terakhirnya di 2014 menyakitkan untuk dikenang. Italia kalah di dua dari tiga pertandingan babak grup. Di antaranya kalah melawan Kosta Rika dan Uruguay. Gli Azzurri pun harus pulang lebih awal.

Lothar Matthaus

Lothar Matthaus adalah pemain sepakbola yang luar biasa. Tidak hanya pernah bermain di 5 edisi Piala Dunia, ia juga menjadi pemain yang paling sering bertanding di Piala Dunia dengan 25 laga. Matthaus sudah tampil di Piala Dunia edisi 1982, 1986, 1990, 1994, dan yang terakhir 1998. Ia berhasil membawa Jerman dua kali menjadi runner up di tahun 1982 dan 1986. Matthaus juga ikut berperan dalam perebutan juara Der Panzer di tahun 1990.

Pertandingan paling bersejarah bagi Matthaus tentu saja pada final 1990. Jerman Barat bertemu dengan Argentina yang diperkuat Diego Maradona. Jerman pun bisa menang di pertandingan itu, dan Matthaus dengan bangga mengangkat Piala Dunia ketiga bagi Jerman Barat. Maradona sendiri mengaku bahwa Matthaus adalah lawan yang paling sulit yang pernah ia temui.

Rafael Marquez

Entah ada apa dengan para pemain tim nasional Meksiko, tiga pemain dari daftar ini adalah punggawa El Tri. Rafael Marquez mungkin jadi salah satu pemain Meksiko paling underrated dalam sejarah. Ia tidak bermain di lima Piala Dunia hanya kebetulan saja. Tapi karena dirinya memang menjadi pemain andalan baik di tim nasional Meksiko dengan bermain di Piala Dunia edisi 2002, 2006, 2010, 2014 dan 2018.

Bersama Meksiko, ia memang tidak pernah bisa bersaing memperebutkan gelar juara di Piala Dunia. Dalam lima edisi Piala Dunia yang sudah ia jalani, langkahnya selalu terhenti di babak 16 besar. Marquez bisa saja menjadi pemain pertama dalam sejarah yang bermain di enam edisi Piala Dunia. Sebab pertama kali ia bermain untuk timnas adalah pada tahun 1997, namun ia gagal lolos seleksi skuad untuk Piala Dunia 1998.

Pertandingan terakhirnya adalah di Piala Dunia 2018 melawan Jerman. Ia masuk sebagai pemain pengganti di menit ke-74. Dengan penampilannya itu, ia menjadi pemain ketiga dalam sejarah yang bertanding, tidak hanya ikut, di lima edisi Piala Dunia.

Ronaldo

Beberapa orang tidak suka dengannya, banyak juga yang mencintainya. Namun, itu semua tidak menutup fakta bahwa Cristiano Ronaldo adalah salah satu pemain terbaik yang pernah ada. Ronaldo menjalani debut Piala Dunia di tahun 2006 bersama dengan legenda Portugal lainnya, Luis Figo. Ia lalu menjadi pemain andalan Os Navegadores di setiap edisi Piala Dunia yang ia jalani.

Piala Dunia 2022 adalah edisi Piala Dunia kelima Ronaldo. Tidak sedikit yang mempertanyakan pemanggilan Ronaldo ke skuad Portugal. Mengingat usianya yang sudah tua dan performanya yang kian menurun akhir-akhir ini.

Tapi memang tidak bisa dipungkiri pengaruh Ronaldo sebagai pemain senior sangat lah besar bagi Os Navegadores. Selain itu, kita juga melihat pertempuran terakhir Ronaldo vs Messi di Piala Dunia. Sekaligus melihat siapa yang akan melaju lebih jauh dan menyandang gelar GOAT sesungguhnya.

Messi

Piala Dunia 2022 juga menjadi edisi Piala Dunia kelima Lionel Messi sekaligus yang terakhir bagi la pulga. Dan pasti Messi akan mengeluarkan segalanya untuk Piala Dunia terakhirnya itu. Ia sudah mengalami banyak drama dan air mata bersama Argentina.

Menjalani pertandingan debutnya di tahun 2006, bermain di bawah Diego Maradona sebagai pelatih di Piala Dunia 2010, dan siapa yang tidak bisa lupa kekecewaannya ketika kalah di final Piala Dunia 2014 melawan Jerman? Lalu hasil mengecewakan Piala Dunia 2018 setelah kalah melawan Prancis di babak 16 besar.

Messi mengemban harapan warga Argentina untuk bisa sekali lagi merasakan manisnya menjadi juara Piala Dunia. Seperti yang pernah dilakukan Maradona dulu, bayang-bayang yang selalu menghantui Messi. Namun apapun hasil di Piala Dunia 2022 ini, tidak serta merta menghapus cerita yang diukir Messi sampai saat ini.

 

Sumber referensi: Planet, La Liga, As, Bundesliga

Sepakbola Qatar dan Martabat Tuan Rumah Piala Dunia 2022

0

Selalu ada yang menarik untuk dibahas dari tim yang menjadi tuan rumah turnamen sebesar Piala Dunia. Kali ini Qatar yang menjadi sorotan. Tim yang diperkirakan akan mendapat dukungan sekaligus tekanan yang paling besar itu akan berjuang mati-matian di hadapan publik sendiri.

Sejak Qatar diumumkan sebagai negara tuan rumah, begitu banyak perselisihan dan kontroversi seputar Piala Dunia 2022. Entah tentang negara itu sendiri atau kesesuaian negara Timur Tengah itu untuk menjadi tuan rumah turnamen sepakbola terbesar itu.

Di tengah kontroversi yang ada, muncul pertanyaan sinis, memang Qatar bisa bermain sepakbola? Jawabannya ya, tentu bisa. Meski Qatar bukanlah negara sepakbola macam Inggris atau Brazil, negara kaya raya ini sangat memperhatikan sistem pengembangan sepakbola. Lantas bagaimana sih perkembangan sepakbola Qatar menuju Piala Dunia 2022?

Perkembangan Sepakbola Qatar

Jika Qatar tak menjadi ladang minyak, mungkin sampai saat ini mereka hanya akan mengenal olahraga tradisional macam balapan unta. Pasalnya, pada sekitar tahun 1948, para ekspatriat Inggris dan India yang bekerja di pertambangan minyak itulah yang memperkenalkan sepakbola kepada masyarakat Qatar.

Sepakbola Qatar awalnya digelar secara sederhana. Dimainkan di lahan berpasir dengan menggunakan karung-karung berisi pasir yang digunakan menjadi gawang. Namun, semakin pesatnya perkembangan teknologi dan sumber daya manusia di Qatar, klub-klub serta fasilitas untuk pengembangan sepakbola usia dini pun mulai bermunculan.

Capaian yang mentereng di bidang ekonomi membuat pemerintah Qatar melakukan banyak investasi dan pembangunan di segala bidang. Tak terkecuali bidang olahraga sepakbola. Pemerintah Qatar membangun sebuah akademi olahraga yang bernama Aspire Academy yang berlokasi di Aspire Zone, distrik Al Waab, Qatar.

Meski banyak cabang olahraga yang dinaungi oleh akademi Aspire, sepakbola tetap menjadi cabang olahraga yang diutamakan. Pemerintah Qatar bahkan mengeluarkan sekitar 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp15 triliun demi proyek ambisius yang sudah beroperasi sejak 2004 ini. 

Terdapat sebuah kesepakatan antara Akademi Aspire dengan Federasi Sepakbola Qatar dan Liga Bintang Qatar (QSL) yang memungkinkan pemain lulusan Akademi Aspire agar bisa bermain di kompetisi tingkat tertinggi, yakni QSL ataupun abroad. 

Selain itu, Aspire juga menjalin kerjasama dengan beberapa klub top Eropa macam Leeds United di Inggris dan Kas Eupen di Belgia. Khusus Kas Eupen, mantan klub Jordi Amat itu bahkan sudah diakuisisi oleh Aspire.

Hal-hal tersebut dilakukan sebagai bentuk keseriusan dari Akademi Aspire untuk bisa menelurkan pemain yang berkualitas bagi Tim Nasional, dan khususnya agar mampu bersaing secara maksimal di Piala Dunia 2022. 

Hasilnya? Memuaskan

Tentu kurang afdol apabila kita tak membicarakan soal hasil dari proyek triliunan rupiah ini.  Di bidang sepakbola, Tim Nasional U-19 Qatar berhasil meraih gelar juara pada kompetisi AFC U-19 di Myanmar pada tahun 2014. Hebatnya, seluruh pemain Qatar U-19 saat itu berasal dari Aspire Academy. Sementara itu, Timnas senior mereka juga menjadi juara Piala Asia 2019 di Uni Emirat Arab.

Sebelum bisa membentuk tim yang menjuarai AFC, Qatar melakukan pencarian bakat ke seluruh dunia. Mereka dibantu mantan pemain-pemain ternama yang pernah main di Qatar seperti Pep Guardiola, Ronald De Boer, dan Frank Leboeuf. Talenta-talenta muda yang memiliki darah Qatar pun mendarat di Doha. Salah satu dari pemain itu adalah pemuda kelahiran Lhokseumawe, Aceh, Andri Syahputra.

Al-Annabi menjadi tim kejutan di Piala Asia 2019. Mereka datang tidak sebagai unggulan. Status tuan rumah Piala Dunia 2022 awalnya dianggap hanya jadi beban tersendiri bagi anak-anak asuh Felix Sanchez.

Namun, beban tersebut diubah Sanchez menjadi motivasi. Sejak awal, mata Qatar sudah tertuju pada gelar juara. “Semuanya ingin menjadi juara Piala Asia. Begitu juga Qatar,” kata Sanchez. Hasilnya, mereka mampu membuktikan diri bahwa Qatar bisa menjadi kekuatan baru sepakbola Asia yang layak tampil di Piala Dunia. 

Peran Felix Sanchez

Sosok Felix Sanchez memang memiliki peran penting dalam perkembangan sepakbola Qatar. Ia sudah berkecimpung di sepakbola Qatar selama 16 tahun. Usai jadi pelatih tim muda Barcelona selama 10 tahun lamanya, Felix langsung bergabung dengan Akademi Aspire tahun 2006 sebagai pelatih tim junior. Jadi, Felix ini sudah ngelotok dengan dinamika sepakbola Qatar. 

Pada tahun 2013, pelatih berusia 46 tahun itu ditunjuk sebagai pelatih Qatar U-19 dan memenangkan kejuaraan AFC U-19 setahun berselang. Prestasinya itu membuat federasi kesemsem, dan akhirnya mempromosikan Sanchez untuk menukangi dua tim sekaligus, yakni timnas U-23 dan senior. Bersama timnas U-23, Sanchez hanya mampu finis di urutan ketiga AFC Cup 2018.

Sedangkan bersama tim senior Qatar, ia meraih trofi di Piala Asia 2019, setelah mengalahkan Jepang dengan skor 3-1 di partai final yang dimainkan di Zayed Sports City, Uni Emirat Arab. Felix selalu terlibat dalam perkembangan sepakbola Qatar yang terintegrasi itu.

Peluang di Piala Dunia 2022

Tim yang sudah dibangun selama bertahun-tahun itu akan menghadapi ujian sesungguhnya di Piala Dunia 2022 kali ini. Meski lolos sebagai tuan rumah, Qatar menyambut para tamu bukan tanpa persiapan. Meski tak memainkan babak kualifikasi, Qatar tetap mengantongi laga uji coba yang cukup.

Selama lima tahun menukangi timnas senior Qatar, Sánchez sering menggunakan skema 3-5-2. Menurut The Analyst, sejauh ini ia telah memimpin 88 pertandingan, dengan menorehkan 47 kali kemenangan, 16 kali seri dan 25 kali kekalahan. Pelatih asal Spanyol itu mampu mengumpulkan rata-rata 1,73 poin per laga.

Al-Annabi setidaknya telah memainkan 25 pertandingan pada tahun 2021 dan 13 pertandingan lain pada tahun 2022. Ya, meskipun level kekuatan lawan yang mereka hadapi tidak setara dengan tim-tim langganan Piala Dunia macam Brazil atau Inggris, itu dirasa cukup. 

Qatar juga mencapai semifinal di Gold Cup 2021, namun takluk dari Timnas Amerika Serikat. Pemain Qatar yang menarik perhatian dalam turnamen ini adalah Almoez Ali. Ia jadi top skor turnamen tersebut dengan torehan empat gol dari enam pertandingan.

Qatar diperkirakan akan bermain bertahan di ajang Piala Dunia. Di final Piala Asia 2019 melawan Jepang dan semifinal Piala Emas 2021 melawan Amerika Serikat , tim asuhan Sanchez kerap melakukan high press ketika lawan melakukan tendangan gawang.

Sedangkan ketika menguasai bola, Qatar bermain layaknya tim yang dilatih oleh pelatih asal Spanyol. Al-Annabi mengalirkan bola dari kaki ke kaki dan menyerang dengan kombinasi passing yang apik. Aliran bola yang cepat dan tepat akan dikonversi menjadi gol oleh top skorer sepanjang masa mereka, Almoez Ali.

Marwah Tim Tuan Rumah

Berada di grup yang sama dengan Belanda, Senegal, dan Ekuador, Almoez Ali dan Akram Afifi diperkirakan bakal menjadi senjata pamungkas untuk membongkar pertahanan lawan. Meski demikian, banyak yang menganggap kalau Qatar hanya akan menjadi tim penggembira di Grup A.

Namun, apabila dilihat dari track record tim tuan rumah di ajang Piala Dunia, hampir 90% tim tuan rumah mampu lolos ke babak 16 besar. Bahkan sekelas Jepang dan Korea Selatan saja mampu lolos ke fase gugur ketika mereka ditunjuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002. Tercatat hanya Afrika Selatan, tuan rumah Piala Dunia 2010 yang gagal melaju ke fase gugur.

Sumber: The Analyst, The Athletic, Panditfootball, LigaLaga

Kekuatan Tersembunyi Wakil Benua Afrika di Piala Dunia 2022

Meskipun Piala Dunia nanti akan digelar di benua Asia, tak membuat optimisme para wakil dari Benua Hitam luntur. Pasalnya mereka berniat menjawab tantangan besar finish lebih baik dari para pendahulunya.

Maklum, para wakil Afrika ini paling tinggi prestasinya di Piala Dunia adalah di babak 8 besar atau perempatfinal. Hanya tiga negara yang mampu melangkah ke fase itu. Di antaranya yakni Kamerun di Piala Dunia 1990, Senegal di Piala Dunia 2002 dan Ghana di Piala Dunia 2010. Setelah itu, langkah wakil Afrika selalu melempem di tiap edisinya.

Kini di Qatar, dari segi kekuatan tim di atas kertas dapat dikatakan mereka mampu untuk bersaing. Lantas, sehebat apa kekuatan mereka?

Senegal

Jagoan yang pertama adalah Senegal. Sang juara Afrika itu tak dipungkiri adalah tulang punggung benua Afrika di Piala Dunia tahun ini. Pasalnya, materi pemain yang menjadi pilar di klub top Eropa bertebaran di skuad besutan Aliou Cisse ini.

Langkah anak asuh Cisse menuju Qatar ini tergolong cukup mulus. Mereka menjadi juara Grup di Kualifikasi Zona Afrika tanpa mengalami kekalahan. Kemudian di babak playoff penentuan, mereka akhirnya bisa memupuskan harapan Mesir lewat adu penalti.

Mengulangi pencapaian di benua Asia pada Piala Dunia 2002, bagaimanapun adalah target utama mereka. Menggunakan pola andalan 4-3-3, Cisse mempunyai kerangka dasar tim yang mumpuni untuk bertarung di Grup A nanti. Edouard Mendy akan berada di bawah mistar. Sedangkan Koulibaly, Abdou Diallo maupun bek Milan, Fode Ballo Toure akan menjadi pilar di belakang.

Di lini tengah Idrissa Gueye, Cheikh Kouyate, Pape Sarr maupun Nampalys Mendy akan saling bergantian. Sedangkan di lini depan kombinasi Sadio Mane, Ismaila Sarr dan Boulaye Dia tetap menjadi andalan. Meskipun nantinya Sadio Mane di partai pertama dikabarkan akan absen terlebih dahulu.

Namun mereka harus tetap hati-hati. Bukan cuma kekuatan Belanda yang menjadi unggulan ataupun Ekuador. Namun juga terhadap tuan rumah Qatar. Bagaimanapun tuan rumah dengan segala cara akan all out di rumah sendiri. Lolos mendampingi Belanda adalah catatan yang realistis bagi The Lions of Teranga di grup ini.

Kamerun

Berikutnya ada Kamerun. Langkah The Lions Indomptables sampai ke Qatar pun tergolong mulus. Di babak Kualifikasi Zona Afrika, mereka bersama pelatih sekaligus mantan legenda mereka, Rigobert Song mampu menghentikan langkah Pantai Gading di babak grup dan Aljazair di babak playoff.

Artinya, skuad racikan Song ini materinya patut untuk diperhatikan. Meskipun nantinya di grup, mereka tak diuntungkan. Karena akan melawan tim kuat Brazil dan dua tim solid Eropa, Swiss dan Serbia.

Di bawah mistar, mereka punya Andre Onana, kiper Inter Milan. Di sektor belakang, mereka akan dikomandoi oleh Nicolas Nkoulou, dan Christopher Wooh. Kemudian di lini tengah akan dikomandoi oleh pemain yang sedang naik daun bersama Napoli, Zambo Anguissa.

Dengan mengandalkan kecepatan dari sisi sayap, mereka menggunakan Karl Toko Ekambi dari Lyon dan Bryan Mbeumo dari Brentford. Sedangkan di ujung tombak, mereka mengandalkan Vincent Aboubakar dan “Lord” Choupo Moting yang sedang moncer bersama Munchen.

Tunisia

Wakil berikutnya ada Tunisia. Tim berjuluk Eagles of Carthage ini meskipun secara materi skuad tak terlalu mewah, namun dari segi kekuatan teamwork mereka mampu tampil solid berkat racikan pelatih lokal, Jalal Kadri.

Praktis tidak banyak nama mentereng di skuad mereka yang dipanggil ke Qatar nanti. Pemain belia MU yang dipinjamkan ke Birmingham, Hannibal Mejbri pun dipanggil.

Selain Hannibal, ada bek dari Salernitana, Dylan Bronn. Ada juga gelandang klub kejutan di Europa League Ferencvaros, Aissa Laidouni. Serta striker senior mereka Wahbi Kazri yang bermain di Montpellier.

Skuat asuhan Jalal Kadri ini mungkin akan memberi banyak perlawanan ketika di grup mereka punya lawan sepadan yakni Australia. Sedangkan Prancis yang menjadi unggulan bersama Denmark, tetap akan menjadi lawan sulit bagi mereka.

Maroko

Selain Tunisia, wakil dari Afrika Utara lainya yang menjadi wakil Afrika di Piala Dunia Qatar nanti adalah Maroko. Tim berjuluk The Atlas Lions kini diasuh pelatih lokal Walid Regragui.

Materi timnas Maroko kali ini pun lebih kuat dibanding pada masa pelatih sebelumnya yang kontroversial, Vahid Halilhodzic. Di bawah mistar akan ditempati kiper Sevilla, Yasin Bounou. Kapten mereka Roman Saiss dan bek baru West Ham Nayef Aguerd akan menjadi pilar mereka di lini belakang.

Sedangkan kekuatan mereka di sisi bek sayap akan diisi pemain seperti Achraf Hakimi dan Nozair Mazraoui. Sementara sektor gelandang, akan diisi Amin Harit yang akan ditemani oleh Sofyan Amrabat.

Kemudian di lini depan, akan diisi trio Hakim Ziyech, Sofiane Boufal dan striker Sevilla Youssef En-Nesyri. Salah satu wonderkid Barca yang dipinjamkan ke Osasuna, Abdessamad “Abdou” Ezzalzouli juga bisa menjadi senjata alternatif mereka di lini depan.

Berada di Grup F bersama Belgia, Kroasia dan Kanada, peluang mereka untuk lolos sebenarnya sulit. Menghentikan laju kejutan Kanada dan inkonsistensi skuad tua Kroasia bisa menjadi peluang yang bisa dimanfaatkan mereka untuk lolos dari grup ini.

Ghana

Dan yang terakhir ada Ghana. Wakil Afrika yang “nyaris” mencapai semifinal pada Piala Dunia 2010 silam. Namun kini kekuatannya telah jauh berubah. Materi pemainnya lebih lengkap. Terutama datangnya para naturalisasi.

Mereka lolos ke Qatar dengan menyingkirkan klub kuat Nigeria di babak playoff. Melihat kekuatannya, kini di bawah asuhan mantan legenda mereka Otto Addo, The Black Star diharapkan mampu menyamai target mereka lolos hingga perempat final.

Kerangka tim Ghana kali ini dari belakang cukup mumpuni. Ada bek-bek klub Liga Inggris macam Amartey, Lamptey, maupun Salisu. Denis Odoi yang moncer di Club Brugge pun juga bisa menjadi andalan.

Di tengah, akan dikomandoi pecinta mie instan, Thomas Partey. Partey akan didukung oleh rising star dari Ajax, Muhammad Kudus sebagai gelandang serang. Sedangkan di lini depan, mereka tetap mengandalkan Ayew bersaudara. Selain itu, ada dua debutan yang masih moncer di klubnya masing-masing, yakni Kamal Sowah dari Club Brugge dan Inaki Williams dari Bilbao.

Mereka kini bertemu lagi dengan tim yang menyakitkan mereka, Uruguay. Ini akan jadi waktu yang tepat untuk balas dendam bagi Ghana. Portugal yang menjadi unggulan di grup ini tampaknya masih akan menjadi lawan sulit bagi mereka. Namun untuk Korea Selatan, harusnya bisa mereka atasi.

Dengan melihat beberapa kekuatan wakil dari Afrika tersebut, Kalau menurut Football Lovers, bakal sampai mana nih kiprah wakil-wakil dari Afrika di Qatar nanti?

Sumber Referensi : goal.com, bbc, sportsbrief, aljazeera