Beranda blog Halaman 371

Mengenal CONIFA, Organisasi Sepakbola ‘Tandingan’ FIFA

0

Nama organisasi Confederation of Independent Football Associations atau CONIFA berdengung setelah Indonesia dipastikan gagal menggelar turnamen Piala Dunia U-20 tahun 2023. CONIFA santer dibicarakan karena konon bisa menjadi alternatif kalau-kalau induk sepak bola dunia, FIFA membekukan PSSI lagi.

CONIFA juga konon dapat menjadi jalan keluar ketika Indonesia ingin mencari organisasi sepak bola yang lepas dari politik. Sebab FIFA, walau bagaimana juga tak bisa lepas dari unsur politis. Namun, sejenis “makanan” apa CONIFA itu? Apakah betul CONIFA tidak politis?

Cikal Bakal CONIFA

Tidak semua hal yang berkaitan dengan sepak bola harus FIFA. Bahkan tidak semua negara bisa menjadi anggota FIFA. Terlebih bagi negara-negara atau wilayah yang terisolasi dari urusan olahraga.

Selama bertahun-tahun urusan sepak bola non-FIFA sebenarnya diatur oleh kelompok yang menamakan dirinya Dewan Federasi Sepak bola Baru yang terbentuk pada tahun 2003.

Organisasi itu mengambil peran penting untuk menampung para anggota yang ditolak oleh FIFA, seperti menjadi tuan rumah untuk kompetisi para anggota yang tertolak FIFA. Maka dari itu, muncullah Piala Dunia versi organisasi ini sendiri. Namanya Piala Dunia Viva tapi pakai “V”.

Piala Dunia Viva sempat lima kali digelar di sebuah tempat yang mungkin saja tidak kita ketahui. Tahun 2006 digelar di Occitania, sebuah wilayah di Eropa Selatan. Dua tahun berikutnya diadakan di Sapmi, wilayah yang didiami suku Sami yang membentang di empat negara: Norwegia, Swedia, Finlandia, dan Rusia.

Lalu, pada tahun 2009 digelar di Padania, daerah di Italia Utara. Secara de jure maupun de facto, Padania masih masuk Italia. Namun, mereka merdeka meski tidak diakui negara lain. Kemudian tahun 2010 digelar di Gozo, sebuah kepulauan di Malta. Dan edisi terakhir, yaitu pada tahun 2012 diadakan di Kurdistan, negaranya orang-orang Kurdi yang terpecah di empat negara: Irak, Turki, Iran, dan Suriah.

Berdirinya CONIFA

Tahun 2012 menjadi turnamen terakhir Piala Dunia Viva, di mana Kurdistan keluar sebagai juaranya. Nah, setahun setelahnya ide mendirikan CONIFA muncul. Dalam sebuah wawancara dengan Backpage Football, Sekjen CONIFA, Sascha Duerkop mengatakan berdirinya CONIFA diinisiasi oleh para komite eksekutifnya.

Para komite eksekutif CONIFA ini telah berpengalaman mengatur pertandingan di luar FIFA. Sascha Duerkop juga mengambil peran untuk mengumpulkan informasi dan menghubungi asosiasi sepak bola (FA) satu sama lain.

Dalam proses pendiriannya ada 50 anggota federasi sepak bola yang menyambut positif potensi pembentukan organisasi sepak bola di luar FIFA. Selain membutuhkan organisasi yang mengatur urusan sepak bola, mereka menginginkan adanya kompetisi untuk bersaing antar negara-negara yang tidak diakui FIFA.

Alhasil CONIFA pun berdiri pada 7 Juni 2013. Mereka akhirnya bisa menggelar kompetisi Piala Sepak bola Dunia pertamanya setahun berikutnya di Ostersund, Swedia. Jika FIFA bermarkas di Swiss, CONIFA memiliki markas besarnya di Swedia, tepatnya di Kota Lulea.

Tujuan Dibentuknya CONIFA

Kehadiran CONIFA bertujuan untuk mengisi kekosongan organisasi sepak bola bagi negara atau wilayah yang tidak diakui FIFA. Mengutip The Conversation, CONIFA merupakan organisasi nirlaba yang tujuannya menjembatani jutaan orang dari 47 entitas dari bangsa, minoritas, dan daerah terpencil di seluruh dunia.

CONIFA memberi ruang kepada negara tanpa kewarganegaraan, wilayah yang hanya diakui secara de facto, kelompok etnis dan masyarakat adat, republik yang mendeklarasikannya sendiri, dan negara-negara yang tidak mendapat pengakuan.

Disamping berfungsi untuk mengatur kompetisi dan perlengkapan para anggotanya, CONIFA juga memberikan dampak material kepada orang-orang yang diwakilinya. Seperti dijelaskan di situs resminya, CONIFA juga berkontribusi pada peningkatan hubungan global dan pemahaman internasional.

Cara Kerja CONIFA

CONIFA pada awal berdirinya secara aktif mencari anggota baru untuk bertumbuh. Namun, seiring berjalannya waktu, organisasi ini menjadi cukup besar. Sehingga CONIFA hanya berfokus pada anggota yang sudah tergabung. Mereka kabarnya tidak lagi mencari anggota baru. 

Akan tetapi, semisal ada anggota baru yang hendak bergabung, CONIFA tetap terbuka. Para anggota CONIFA yang kini berjumlah 38 anggota itu juga aktif dalam mempromosikan CONIFA itu sendiri dan bisa mendorong semakin banyak FA untuk berpartisipasi.

Selain itu, dalam situs resminya para pengurus CONIFA termasuk presidennya, Per-Anders Blind bekerja secara sukarela. Dana untuk menghidupi CONIFA 100 persen berasal dari sponsor, donasi, biaya keanggotaan, dan pendapatan dari turnamen.

CONIFA telah mengembangkan dirinya sebagai organisasi sepak bola yang profesional. Bahkan pada gelaran Piala Dunia CONIFA tahun 2018, mereka bisa menarik perhatian media global arus utama dan meningkatkan pendapatan serta penonton.

Yang mengejutkan adalah di kompetisi itu mereka berhasil menggaet sponsor dari bandar taruhan Paddy Power. Ini karena CONIFA cerdik dengan menempatkan London sebagai salah satu tuan rumah kompetisi itu.

Sebagaimana FIFA, CONIFA juga menggelar beberapa turnamen antar anggotanya. Selain Piala Sepak bola Dunia CONIFA, ada pula piala-piala konfederasi. Terdiri dari Piala Sepak bola Eropa CONIFA, Piala Sepak bola Afrika CONIFA, sampai Piala Sepak bola Amerika Selatan CONIFA.

Anggota CONIFA

Dalam situs resminya, CONIFA mewakili 700 juta orang di seluruh dunia. Terdapat enam konfederasi di bawah CONIFA, yaitu Asia, Eropa, Amerika Utara, Afrika, Amerika Selatan, dan Oseania. Nah untuk anggotanya, Asia memiliki tujuh anggota, termasuk di dalamnya Tibet dan Papua Barat.

Sementara Amerika Utara dan Afrika masing-masing terdapat empat anggota. Amerika Selatan ada lima anggota, dan Oseania hanya diwakili satu anggota yaitu Hawaii. Eropa menjadi yang paling banyak anggotanya, yakni 18 anggota. Lalu bagaimana untuk menjadi anggota CONIFA?

Anggota CONIFA adalah tim yang mewakili sebuah negara, minoritas, wilayah terpencil, atau wilayah budaya. Selain itu, CONIFA hanya akan menerima anggota yang memenuhi syarat tidak tergabung dalam FIFA sebagaimana Peraturan Internal organisasi.

Hubungan dengan FIFA

CONIFA sendiri menjalin hubungan baik dengan FIFA. Namun, keduanya tidak sering melakukan kerja sama. Selain itu, FIFA juga berkali-kali memuji pekerjaan CONIFA. Soal anggotanya yang ingin bergabung dengan FIFA, CONIFA tidak menutup kemungkinan itu. 

Walaupun CONIFA tidak secara aktif mempromosikan anggotanya untuk bergabung ke FIFA. CONIFA mempersilakan apabila anggotanya berniat untuk merapat ke FIFA. Misalnya, Zanzibar dan Kurdistan ingin mendapat keanggotaan FIFA.

CONIFA membantu mereka dengan cara apa pun. Bisa dengan menyediakan wadah untuk anggotanya memperlihatkan profesionalitas, dari segi organisasi maupun level permainan. CONIFA juga tak masalah jika ada anggotanya yang tetap tak sudi bergabung dengan FIFA.

Apakah Terkait Politik?

CONIFA tidak terkait dengan keputusan politik apa pun. Mereka juga tidak menilai anggotanya berhak untuk mendapatkan kemerdekaan politik sehingga mendorong untuk merdeka. CONIFA hanya menjembatani, titik.

CONIFA hanya berusaha menempatkan anggotanya di peta dunia. Sederhananya supaya orang di dunia tahu bahwa ada Kurdistan, Tibet, Papua Barat, Sapmi, dan lain sebagainya. Secara politik, CONIFA mengaku 100 persen netral.

CONIFA juga tidak pernah berpikir bahwa FIFA berpikiran sempit dengan tidak menerima anggotanya. Menurut Sekjen CONIFA, FIFA memang punya peraturan keanggotaan yang ketat. Selain itu kehadiran CONIFA juga sejatinya bisa untuk menghindari masalah diplomatik.

Misalnya, kalau Siprus Utara bergabung dengan FIFA, tim lain seperti Yunani dan Siprus kemungkinan besar akan menolak bermain melawan mereka. Nah, CONIFA ini mencoba mengakomodir orang-orang di Siprus Utara. Sebab menurut mereka, tinggal di tempat yang diabaikan masyarakat politik sama sekali bukan kesalahan orang-orang itu.

https://youtu.be/_VnlGP0b8Gg

Sumber: Thesetpieces, BackpageFootball, TheConversation, FootballParadise, CONIFA, TheseFootballTimes, PanditFootball

Berita Bola Terbaru 5 April 2023 – Starting Eleven News

BERITA BOLA TEBARU DAN TERKINI

HASIL PERTANDINGAN

Laga antara Chelsea melawan Liverpool berakhir imbang 0-0 di Stamford Bridge pada laga tunda pekan ke-8 Liga Inggris 2022/23, Rabu (5/4) WIB. Dengan hasil ini, Liverpool tertahan di peringkat ke-8 dengan 43 poin. Chelsea masih berada di peringkat ke-11 dengan 39 poin. Pada pertandingan lain, Leeds United menang 2-1 atas Nottingham Forest, Leicester City kalah 1-2 dari Aston Villa, dan Brighton menang 2-0 atas Bournemouth. 

Di Jerman, kiprah Bayern Munchen di DFB Pokal 2022/23 cuma sampai babak perempatfinal. Rabu dini hari tadi, Bayern disingkirkan Freiburg setelah kalah 1-2. Bayern membuka keunggulan lebih dulu pada menit ke-19 lewat Dayot Upamecano. Freiburg menyamakan kedudukan pada menit ke-27 melalui Nicolas Hofler. Lalu kemenangan Freiburg dipastikan melalui penalti Lucas Holer di masa injury time.

Juventus batal mengungguli Inter Milan dan harus memasuki leg kedua semi-final Coppa Italia 2022/23 dengan skor netral. Kedua tim bermain imbang 1-1, di mana Juventus membuka skor lebih dulu lewat aksi Juan Cuadrado di menit ke-82. Tapi Inter berhasil samakan skor melalui Romelu Lukaku dari titik putih di masa injury time. Leg kedua semifinal Coppa Italia antara kedua tim akan dimainkan pada 27 April dini hari WIB.

Athletic Bilbao tertunduk lesu usai dipastikan tersingkir dari semifinal Copa del Rey 2022/23. Di leg kedua, rabu dini hari tadi, Bilbao unggul lewat Inaki Williams. Skor 1-0 tidak berubah selama 90 menit, laga pun dilanjutkan ke babak tambahan. Di menit ke-116, Pablo Ibanez mencetak gol untuk Osasuna. Skor imbang 1-1, agregat 2-1 untuk Osasuna. Bilbao pun tersingkir.

AL-HILAL RESMI KIRIM TAWARAN KE MESSI, NILAINYA BUKAN MAIN

Dikutip Sportingnews, klub Liga Arab Saudi, Al-Hilal dikabarkan telah mengirim tawaran resmi ke bomber PSG, Lionel Messi. Kabarnya, Al-Hilal siap memberikan gaji senilai 400 juta euro atau senilai Rp6,5 triliun per tahun. Gaji tersebut jauh lebih besar ketimbang Cristiano Ronaldo yang saat ini membela Al Nassr. Diketahui, Ronaldo menerima gaji dari Al-Nassr sebesar 200 juta euro per tahun atau Rp3,3 triliun.

MESSI AKAN TINGGALKAN PSG AKHIR MUSIM, KECUALI…

Lionel Messi dilaporkan akan meninggalkan Paris Saint-Germain musim panas nanti, kecuali ia menerima penurunan gaji signifikan. GOAL sebelumnya melaporkan bahwa PSG kalang kabut mematuhi Financial Fair Play (FFP) dan harus mengurangi beban gaji mereka sampai hampir 30 persen demi mengakomodasi Messi musim depan. Sementara L’Equipe mengklaim bahwa Messi menginginkan jaminan terkait proyek PSG sebelum mempertimbangkan kontrak baru, dan kini kedua belah pihak masih jauh dari kata sepakat.

ALASAN VAN DIJK TAK MAIN LAWAN CHELSEA

Virgil van Dijk absen pada laga Liverpool melawan Chelsea. Absennya Van Dijk bukan tanpa alasan. Bek Timnas Belanda ini tidak dimasukkan ke skuad Liverpool karena sedang sakit. Alhasil Klopp mengandalkan Ibrahima Konate dan Joel Matip. Tidak hanya Van Dijk yang absen, Mohamed Salah juga tidak ada di daftar starting XI. Begitu juga dengan Trent Alexander-Arnold, Andy Robertson, dan Cody Gakpo.

CHELSEA KEBUT NEGOSIASI DENGAN JULIAN NAGELSMANN

Chelsea tengah mengebut negosiasi dengan Julian Nagelsmann. Bahkan Chelsea sudah melakukan kontak langsung dengan Nagelsmann sejak 2 April 2023 lalu. Chelsea dan Nagelsmann telah melakukan negosiasi proyek jangka panjang yang kemungkinan akan dipegang oleh juru taktik asal Jerman tersebut. Nagelsmann juga diwartakan terbuka untuk menerima penawaran dari The Blues untuk mengisi posisi pelatih.

ALEXANDER MITROVIC DIHUKUM 8 LAGA

Penyerang Fulham, Aleksandar Mitrovic mendapat sanksi larangan bermain dalam delapan laga. Hukuman dijatuhkan kepada Mitrovic akibat dari dirinya mendorong wasit dalam laga kontra MU beberapa waktu lalu. Hukuman berat kepada Mitrovic ini jelas merugikan Fulham. Pasalnya, Mitrovic adalah mesin gol utama The Cottagers. Ia telah mengemas 11 gol di Liga Inggris musim ini.

ARSENAL INCAR DUSAN VLAHOVIC

Arsenal masih dikabarkan tertarik dengan Vlahovic, setelah mengincar sang striker pada bursa transfer Januari 2022, dengan baru-baru ini dikabarkan mereka bersedia menawarkan Granit Xhaka dan Nicolas Pepe sebagai bagian dari kesepakatan untuk Vlahovic. Namun, pria Juventus itu bukan satu-satunya penyerang yang diincar Mikel Arteta untuk diboyong pada musim panas, karena Arteta juga pengagum pemain Everton, Dominic Calvert-Lewin.

TERKAIT SUAP WASIT, UEFA JATUHKAN SANKSI KE BARCELONA PADA JUNI 2023

Dikutip Sports Brief, buntut kasus penyuapan wasit yang dilakukan Barcelona mulai terlihat. UEFA kabarnya akan menjatuhkan sanksi kepada Blaugrana pada Juni 2023 mendatang. Salah satu sanksi yang akan dijatuhkan oleh UEFA kepada Barcelona adalah tidak boleh berpartisipasi di kompetisi Eropa tingkat apa pun pada musim 2023/24 mendatang. Dan sanksi itu bakal dijatuhkan pada Juni 2023. Pasalnya, momen tersebut adalah waktu yang tepat sebelum musim 2023/24 berlangsung.

LUKAKU DIUSIR WASIT USAI LAWAN PELAKU RASISME

Romelu Lukaku mendapat serangan rasis dari fans Juventus saat hendak mengambil penalti. Usai mengeksekusi penalti dan menunaikan tugasnya, Lukaku langsung berdiri di depan tribune fans Juventus dan berselebrasi sambil hormat serta meminta mereka diam. Tak cuma itu, Lukaku juga sempat terlibat adu mulut dengan fans Bianconeri. Aksi Lukaku ternyata membuat wasit harus mengeluarkan kartu kuning kedua untuknya alias kartu merah.. Lukaku dianggap selebrasi berlebihan. Dalam aturan IFAB, selebrasi boleh dilakukan asal tak berbau provokasi atau menyambutnya.

RONALDO BAWA AL-NASSR BANTAI AL-ADALH 5-0

Cristiano Ronaldo memborong dua gol saat Al-Nassr membantai Al-Adalh 5-0 di Liga Arab Saudi, Rabu (5/4) dini hari WIB. Satu gol dari penalti, dan satu gol lagi tembakan dari dalam kotak penalti.  Dengan tambahan dua gol, Ronaldo sudah bisa mencetak 11 gol dalam 9 laga, dan kini CR7 bersaing dalam daftar top skor sementara.

MU RESMI PERPANJANG KONTRAK LUKE SHAW

Kebersamaan Manchester United dan Luke Shaw resmi berlanjut. Sang bek telah menandatangani kontrak baru berdurasi empat tahun bersama Setan Merah. Alhasil ia akan membela panji Setan Merah hingga tahun 2027 mendatang. Dalam keterangan resmi MU, kontrak baru Shaw diketahui tidak memiliki opsi perpanjangan otomatis. Jadi masa baktinya di Old Trafford hanya hingga tahun 2027 nanti.

PRESIDEN UEFA KEMBALI SERANG ANDREA AGNELLI DAN JUVENTUS

Presiden UEFA, Aleksander Ceferin kembali menyerang Andrea Agnelli dan Juventus. Ia nampak menyayangkan kisah Si Nyonya Tua harus berakhir seperti sekarang ini. “Menarik untuk dicatat bahwa dari tiga klub yang menyatakan diri sebagai penyelamat sepak bola, satu sedang dalam proses pidana karena mengatur ulang anggarannya, dan yang lainnya mentransfer uang ke salah satu pemimpin organisasi wasit,” kata Ceferin.

BERKAT MOURINHO, HUKUMAN ROMA GARA-GARA FANS RASIS DIKURANGI

AS Roma didenda gara-gara nyanyian rasis suporternya yang diarahkan kepada pelatih Palermo, Dejan Stankovic. Atas ulah suporternya itu, Roma didenda 8.000 euro (sekitar Rp 130 juta). Namun, kemudian terungkap bahwa intervensi Jose Mourinho, yang membantu menyetop chant rasis suporter, menyelamatkan Roma dari hukuman yang lebih berat.

CHELSEA KUTUK NYANYIAN ‘KEBENCIAN’ DARI FANS SENDIRI

Chelsea mengutuk nyanyian dari para fans mereka sendiri tentang bencana Hillsborough saat laga liga primer lawan Liverpool. Menurut pihak Chelsea, dalam pernyataan resminya, nyanyian penuh kebencian tidak memiliki tempat dalam sepakbola dan Chelsea meminta maaf kepada siapa pun yang telah tersinggung olehnya. Tidak hanya Chelsea, City juga dipaksa untuk mengeluarkan pernyataan serupa setelah nyanyian ofensif terdengar selama partai Liga Primer mereka lawan Liverpool, Sabtu (1/4).

MU UNGGULI CHELSEA UNTUK TRANSFER JOAO FELIX?

Joao Felix bermain di Chelsea dengan status pinjaman dari Atletico Madrid. Dilansir Goal, Chelsea kemungkinan besar tidak bisa mempermanenkan Felix karena mereka kemungkinan gagal bermain di Eropa. Situasi ini dikabarkan sudah dipantau Manchester United yang siap membajak transfer ini. Untuk mendapatkan Felix, MU harus merogoh kocek cukup mahal. Sebab, Atletico Madrid selaku pemilik sang pemain dilaporkan menginginkan tbusan sekitar 100 juta Euro untuk pemuda 23 tahun tersebut.

MU MULAI OLENG, NEVILLE: TEN HAG KURANG UANG

Legenda Manchester United, Gary Neville mengomentari penampilan skuat arahan Erik ten Hag yang belakangan ini mulai menunjukkan penurunan performa. Neville menilai hal itu terjadi karena sang manajer kurang mendapatkan uang belanja. Neville melihat Wout Weghorst, yang menggantikan posisi Ronaldo, hanya sebagai penambal sementara. Ten Hag pastinya merasa kecewa karena hanya bisa mendatangkan Weghorst sebagai pengganti Ronaldo. Neville melihat bahwa Ten Hag dipaksa untuk mencari pemain dengan harga yang terjangkau.

MU BERAMBISI TUKAR RASHFORD DENGAN MESSI

Dilansir dari Sportskeeda, Manchester United dilaporkan bersedia untuk melakukan segala cara untuk mendapatkan penyerang PSG, Lionel Messi. Bahkan, Setan Merah merencanakan kesepakatan pertukaran yang melibatkan Marcus Rashford. Messi tampaknya siap untuk meninggalkan PSG pada saat ini. Di lain sisi, PSG sebelumnya juga sudah dikaitkan dengan kepindahan Rashford yang pada musim ini sudah mencetak 26 gol dan sembilan assist dalam 45 laga di seluruh kompetisi.

PECAT POTTER, CHELSEA BAYAR KOMPENSASI SEGINI

Chelsea harus membayar kompensasi sebesar 13 juta pounds atau setara dengan Rp 240 miliar kepada Graham Potter setelah ia dipecat. Menariknya, jumlah tersebut lebih banyak dari paket kompensasi yang dibayarkan Chelsea saat memutus kontrak Thomas Tuchel pada awal musim 2022/23. Tuchel, yang saat ini menjabat sebagai pelatih Bayern Munchen, mendapat pesangon 10 juta pounds (sekitar Rp185 miliar).

STATISTIK BUKTIKAN LEWANDOWSKI JADI PEMAIN PENENTU DI LA LIGA

Keputusan Barcelona memboyong Robert Lewandowski dari Bayern Munchen tidak sia-sia. Lewandowski mampu memberikan kontribusi besar terhadap Barcelona sejauh ini. Tidak ada pemain di La Liga yang lebih menentukan sejauh ini. Football Espana menyoroti fakta bahwa tidak ada pemain di La Liga yang lebih sering memecah kebuntuan dalam pertandingan dibandingkan Lewandowski. Lewandowski sudah mengemas total 23 gol dan assist untuk musim ini. Pesaing terdekatnya adalah Karim Benzema (17) dan Antoine Griezmann (17).

GELANDANG INTER D’AMBROSIO DISKORSING 2 PERTANDINGAN

Larangan dua pertandingan Danilo D’Ambrosio telah dikonfirmasi setelah banding Inter untuk menguranginya menjadi hanya satu laga secara resmi ditolak. D’Ambrosio terlibat pertengkaran fisik dengan gelandang Juventus Leandro Paredes, beberapa waktu lalu.  Insiden tersebut membuat kedua pemain dikeluarkan dari lapangan, meskipun bek Nerazzurri diskors selama dua pertandingan sementara pemain Bianconeri lolos hanya dengan larangan satu pertandingan. Selain itu, keduanya juga dikenakan denda.

MU TERTARIK GAET JEREMIE FRIMPONG

Menurut kabar dari Sky Sports, Manchester United tertarik mengontrak Jeremie Frimpong dari Bayer Leverkusen. Kontrak pemain Belanda itu berlangsung hingga musim panas 2025. Frimpong berkembang sebagai bek sayap kanan di bawah Xabi Alonso, dengan delapan gol dan sembilan assist musim ini. Pemain berusia 21 tahun ini sebelumnya bermain untuk Man City dan Celtic

KLOPP SADAR CUMA DISELAMATKAN PRESTASI MASA LALU

Jurgen Klopp sadar penampilan Liverpool musim ini mengecewakan. Ia juga menyadari adanya tekanan tersendiri untuknya, mengingat para koleganya banyak yang dipecat musim ini. Tercatat sejauh ini sudah ada 12 manajer yang dipecat di Premier League. “Tapi saya tahu saya masih di sini karena apa yang terjadi dalam beberapa musim terakhir. Saya benci dengan fakta bahwa saya harus bergantung pada itu, apakah itu benar atau enggak, kita akan lihat ke depannya,” ujar Klopp.

BARCELONA BELUM BISA BERPALING DARI PAVARD

Barcelona tetap memastikan Benjamin Pavard sebagai prioritas transfer di musim panas 2023. Bek kanan Bayern Munchen ini dinilai punya kualitas yang dibutuhkan oleh Xavi Hernandez. Tetapi, laporan Sport menyebutkan, Pavard dan Munchen sedang memasuki tahap awal negosiasi kontrak baru. Kabar ini jelas bakal sedikit mengkhawatirkan bagi kubu Barcelona. Pavard dinilai masih masuk skema manajer baru Bayern Munchen, Thomas Tuchel. 

HARAPAN HENRY: MESSI BALIK DAN PENSIUN DI BARCELONA

Lionel Messi santer dikabarkan akan hengkang dari PSG menyusul kontraknya habis musim panas ini. Rumornya, Messi akan kembali ke Barcelona. Eks pemain Los Cules, Thierry Henry, pun mengharapkan itu terjadi. Henry berharap Messi dapat mengakhiri karirnya di klub Catalan tersebut. Kembalinya Messi ke PSG bisa saja terjadi. Mengingat bersama PSG musim ini, Messi sering mendapatkan cemoohan. Yang terakhir, kekalahan PSG dari Lyon di Parc des Princes, Senin (3/4), membuat Messi diolok-olok.

Mengenang Dominasi Tim Italia di Liga Champions 2002/03

Seperti Dejavu, ketika musim ini melihat para wakil Italia bercokol mendominasi liga kasta teratas Eropa Liga Champions. Karena kalau ditarik kebelakang, pada musim 2002/03 wakil dari Negeri Pizza itu pernah melakukannya. Bahkan hingga menciptakan final sesama wakil Italia. Mungkinkah hal itu akan terulang kembali musim ini?

Inter Milan Membangun Timnya

Bercerita soal kedigdayaan tim-tim asal Italia, memang tahun 2000-an awal adalah sebuah titik balik. Level kompetisi Serie A ketika itu makin ketat dengan banyaknya bintang dari luar Italia yang memberikan warna tersendiri.

Keperkasaan tim-tim Italia tersebut juga tak luput dari apa yang mereka bangun, baik dari segi sistem, pelatih, gaya bermain, maupun perekrutan pemain. Inter Milan misalnya, Nerazzurri hidup dalam warna pemain asing yang membludak di era 2000-an awal.

Meski dilatih Marcello Lippi, mereka masih bertumpu pada talenta asing macam Cordoba, Recoba, Javier Zanetti, dan masih banyak lagi. Pasca Lippi, tongkat estafet kepelatihan pun diambil alih oleh orang asing bernama Hector Cuper. Justru di bawah pelatih Argentina itulah, Inter makin menanjak performanya.

Gaya permainan khas Tango yang menyerang dan mempunyai etos kerja yang spartan mampu diwujudkan Hector Cuper dengan sentuhan formasi khas tiga bek. Pemain seperti Marco Materazzi, Francesco Toldo, maupun Sergio Conceicao, adalah beberapa pemain pembelian Cuper ketika itu untuk melengkapi pilar skuad yang sudah ada. Berkat racikannya La Beneamata diantarkannya kembali tampil di Liga Champions 2002/03, setelah musim sebelumnya hanya bermain di Piala UEFA.

AC Milan Membangun Timnya

Cerita Inter membangun timnya ketika itu sama halnya dengan rival sekotanya, AC Milan. Rossoneri membangun tim setelah masa sulit bersama pelatih Fatih Terim. Terim diberhentikan di tengah jalan dan digantikan mantan pelatih Juventus, Carlo Ancelotti.

Di bawah Ancelotti, Milan dibawa ke era perubahan. Baik dari sistem dan gaya bermain, maupun dari segi pemilihan pemain. Ancelotti membawa gaya bermain baru yang fresh dengan racikan formasi berlian 4-1-2-1-2, maupun pohon cemara 4-3-2-1.

Para pemain yang dipilih Ancelotti ketika itu pun tepat. Seperti mendatangkan Alessandro Nesta, Clarence Seedorf, Nelson Dida, Jon Dahl Tomasson, maupun Rivaldo. Trio gelandang ikonik Pirlo, Seedorf, dan Gattuso pun lahir di musim itu. Sama halnya dengan Inter, AC Milan di musim 2002/03 kembali bermain di Liga Champions setelah di musim sebelumnya hanya bermain di Piala UEFA.

Juventus Membangun Timnya

Sementara itu Juventus, sejak mendepak Ancelotti pada 2001, mereka malah berhasil di bawah kendali mantan pelatih Inter, Marcello Lippi. Gelar juara Serie A yang luput ketika Ancelotti pun mampu diraih kembali.

Lippi datang ke Turin musim 2001/02. Penambahan pemain Juventus yang tepat macam Pavel Nedved, Lilian Thuram, Mauro Camoranesi maupun Gianluigi Buffon, adalah salah satu kunci keberhasilan Juventus membangun skuad yang solid. Dengan format andalannya 4-4-2, Lippi berhasil membangun La Vecchia Signora lebih atraktif lewat kedua sayapnya.

Bayern Munchen dan Bayer Leverkusen Melempem

Sementara itu, di saat para kontestan kuat Italia yang sedang berbenah, para kontestan dari liga lain seperti Bayern Munchen dan Bayer Leverkusen sedang dalam kondisi yang kurang perform.

Menjadi mantan juara Liga Champions 2000/01, Die Roten yang masih bersama Ottmar Hitzfeld secara mengejutkan kandas di babak grup pertama. Oliver Kahn dan kawan-kawan hanya menjadi juru kunci dengan tanpa kemenangan satu pun.

Sementara finalis musim 2001/02 Bayer Leverkusen lebih parah lagi. Ketika mereka kehilangan bintangnya Michael Ballack maupun Ze Roberto yang dibajak Munchen, di Bundesliga mereka keteteran dengan finish di papan bawah klasemen. Bahkan di babak kedua grup, mereka tereliminasi dengan tak meraih satupun poin.

Menaklukan La Liga

Lalu bagaimana dengan wakil La Liga yang di musim sebelumnya selalu mendominasi seperti Real Madrid, Valencia, Deportivo La Coruna maupun Barcelona? Asal tahu saja, tiga dari wakil tersebut mampu dimusnahkan oleh wakil Italia di fase knockout.

Juventus nampaknya harus ditasbihkan sebagai pembunuh wakil La Liga sesungguhnya musim itu. Karena mampu melahap tiga kontestan La Liga sekaligus. Yang pertama ia menyingkirkan Deportivo La Coruna di babak kedua grup. Kondisi Deportivo ketika itu memang sedang mengalami penurunan peringkat di La Liga dan gagal mempertahankan trofi Copa Del Rey

Yang kedua mereka memulangkan Barcelona di babak perempat final dengan agregat 3-2. Barca kondisinya ketika itu masih dalam fase transisi dari dipecatnya Van Gaal di pertengahan musim. Yang ketiga adalah momen tak terlupakan ketika mematahkan langkah Los Galacticos Real Madrid menuju final dengan agregat 4-3. Madrid yang perkasa di liga domestik, akhirnya harus bertekuk lutut dihadapan pasukan Marcello Lippi di Turin.

Sementara wakil La Liga lainnya Valencia, jadi korban dari Inter Milan. Finalis musim 2000/01 itu, dihentikan lajunya ke semifinal dengan agregat gol tandang 2-2. Uniknya, yang menghentikan itu adalah Hector Cuper mantan pelatih Kelelawar Mestalla.

Derby Milan

Melajunya ketiga wakil Italia ke semifinal, membuat salah satu laga harus mempertemukan sesama wakil Italia. Menariknya, laga itu mempertemukan Derby Milan. Rival yang saling berseteru itu bernostalgia sekaligus bertarung habis-habisan demi satu tiket ke Final Old Trafford.

Derby Della Madonnina ketika itu bukan lagi sekadar gengsi, karena taruhannya adalah final Liga Champions. Di mana keduanya sudah cukup lama tidak berada pada fase ini. Laga sengit yang diwarnai banyak pelanggaran itu akhirnya berakhir tanpa kemenangan dari kedua klub. Keduanya hanya bermain imbang di dua leg dengan skor 0-0 dan 1-1. Namun, gol tandang Milan lewat Andriy Shevchenko mengantarkan Rossoneri melangkah ke Old Trafford.

All Italian Final Pertama Di Liga Champions

Dominasi wakil Italia pun berlanjut ketika All Italian Final terjadi antara Juventus vs AC Milan. Sebuah catatan sejarah, karena untuk pertama kalinya sesama wakil Italia bertemu di Final Liga Champions. Karena sebelumnya, final sesama wakil Italia hanya terjadi di Piala UEFA. Seperti misal Juventus vs Fiorentina di 1990 ataupun Inter Milan vs AS Roma di 1991.

Pencapaian AC Milan dan Juventus di final selain sebuah kebanggaan bagi publik Italia, sekaligus menjadi sebuah kerinduan akan wakil Serie A yang menjuarai Liga Champions, Maklum, terakhir kali wakil Italia menjuarai Liga Champions adalah Juventus pada musim 1995/96.

Pencapaian All Italian Final yang dimenangkan oleh AC milan ini juga menyiratkan pesan bahwa sepakbola Italia mulai bangkit dari tidurnya. Sinyal itulah yang coba dihadirkan oleh wakil-wakil Italia pada dunia bahwa Serie A tak kalah bergengsinya dengan liga-liga lain di Eropa seperti Jerman, Inggris maupun Spanyol, yang beberapa musim ke belakang selalu mendominasi Liga Champions.

Sumber Referensi : uefa, sportsmax, morethanagame, keepup.com, thesefootballtimes, thesefootballtimes

Messi Dihujat dan Gajinya Disunat PSG! Yakin Gak Mau Nyusul Ronaldo?

Lionel Messi sepertinya tidak akan menandatangani perpanjangan kontrak di PSG setelah kontraknya habis di akhir musim ini. Dilansir dari Bleacher Report, PSG telah menawarkan kontrak baru kepada mega bintang Argentina itu. Namun dalam kontrak barunya PSG meminta Messi untuk menerima pemotongan gaji sebesar 25%.

Leo tentu tidak mau menerima kontrak itu begitu saja. Apalagi setelah yang terjadi akhir-akhir ini. Dimana ia dikabarkan sudah tidak betah di Paris dan para fans PSG sendiri juga sudah muak dengannya.

Sementara itu, Ronaldo terlihat semakin nyaman bermain di Liga Arab bersama Al Nassr. Ia baru saja mencetak dua gol ketika Al Nassr membantai Al Adalh lima gol tanpa balas. Dengan itu Ronaldo sudah mencetak 11 gol hanya dari 9 pertandingan. Ia semakin dekat menjadi pencetak gol terbanyak liga musim ini.

Ronaldo memang tidak bermain di liga top Eropa. Tapi untuk pemain yang sudah memenangkan segalanya di tingkat klub, catatan itu adalah catatan yang sempurna untuk mengakhiri karir. Messi yakin nih tidak mengikuti langkah Ronaldo?

Messi Tak Diinginkan di Paris

La Pulga datang ke PSG sejak musim panas 2021. Di musim pertamanya bersama les parisiens, ia menjalani musim yang patut dilupakan. Ia hanya mampu mencetak enam gol dan 14 assist di liga. Ia masih mampu mencetak lima gol di Liga Champions tapi tidak bisa menyelamatkan PSG dari eliminasi.

Tapi di musim keduanya, Messi mulai menunjukan performa selayaknya Messi dulu. Pemilik tujuh Ballon d’Or itu menemukan titik puncaknya lagi. Bahkan membawa Argentina menjuarai Piala Dunia 2022. Dan untuk ketiga kalinya, ia dinobatkan sebagai pemain terbaik FIFA.

Sebelum Piala Dunia ada kabar kalau Messi akan pergi dari PSG. Tapi menjuarai turnamen terbesar bersama negaranya itu membuat gairah Messi naik. Ia yang sebelumnya mengumumkan ingin pensiun pun menarik kembali kata-katanya.

Meskipun begitu, kembali ke PSG setelah menjuarai PIala Dunia tidak membuatnya disambut seperti pahlawan. Sebaliknya, ia dianggap sebagai musuh karena telah mengalahkan Prancis di final Piala Dunia. Terlebih lagi, ia dikambing hitamkan atas performa buruk PSG. Dimana les parisiens kembali terjungkal dari Liga Champions setelah kalah dari Bayern Munchen.

Di hari Senin kemarin, Messi menerima hinaan dari para fansnya sendiri. Di laga melawan Lyon pada lanjutan pertandingan liga, PSG mengumumkan nama-nama pemain yang jadi starting eleven sebelum kick off. Ketika nama Messi disebutkan, suara siulan dari para fans Parc de Princes keras terdengar, Begitu giliran nama Mbappe disebut, siulan itu berubah jadi sorakan dan tepuk tangan meriah.

Ini bukan pertama kalinya terjadi. Sebelumnya pun Messi pernah mengalami hal serupa pada bulan Maret kemarin di laga lawan Rennes. Di laga lawan Lyon dan Rennes itu, PSG akhirnya menelan kekalahan yang memalukan.

Perlakuan yang diterima Messi dari fansnya sendiri itu tentu memancarkan masalah besar terjadi. Ini seolah membeberkan ke publik bahwa hubungan Messi dan PSG sedang tidak baik-baik saja.

Dipinang Al Hilal

Fakta ini tentu menunjukan bahwa Messi tidak betah di PSG. Dan ia juga masih belum ingin memperpanjang kontraknya bersama les parisiens. Apalagi setelah PSG meminta adanya pemotongan gaji sebesar 25%.

Saat ini Messi meraup penghasilan kotor 40 juta euro per tahun dari PSG. Itu bukan angka yang sedikit untuk pemain seusianya. Tapi juga angka yang pantas mengingat di usianya kini, ia masih bisa berkontribusi buat klub. Dengan mencatatkan 13 gol dan 13 assist dari 24 pertandingan.

Secara sepintas, klub manapun akan terlihat bodoh dengan menolak Messi. Tapi mengingat biaya yang harus dikeluarkan kalau ingin menggunakan jasa la pulga, klub manapun kan berpikir ratusan kali. Ditambah juga performa Messi yang mulai terlihat penurunannya. Meskipun begitu, ada satu klub yang sama sekali tidak keberatan mengeluarkan uang. Juga sangat senang jika bisa memiliki Messi, yaitu Al Hilal.

Menurut Fabrizio Romano, Al Hilal telah mengirimkan pinangan ke Messi. Klub Liga Arab Saudi itu dilaporkan menawarkan gaji sebesar 400 juta euro per tahun. Sepuluh kali lipat dari yang ia dapatkan di PSG saat ini. Itu adalah jumlah yang fantastis, bahkan untuk seorang Lionel Messi.

Namun, Messi belum menerima tawaran itu. Ia memprioritaskan untuk bermain di Eropa. Messi masih ingin bermain di kompetisi tertinggi sepak bola, Liga Champions. Tapi pilihannya sempit. Ia masih belum mau menandatangani perpanjangan kontrak di PSG. Sedangkan Barcelona yang dirumorkan ingin reunian juga saat ini sedang mengalami masalah.

Messi dan Ronaldo di Liga Arab

Seandainya Messi bergabung dengan Al Hilal, ia akan bergabung ke kompetisi klub sebagai rival lama Cristiano Ronaldo yang berseragam Al Nassr pada musim dingin kemarin. Ini akan memunculkan aroma nostalgia persaingan GOAT.

Jika diingat lagi, Ronaldo datang ke Liga Arab dengan masalah yang 11 12 seperti Messi saat ini. Ronaldo datang setelah punya konflik dengan klubnya, Manchester United. Kemudian ia hengkang dari Manchester dan mencari klub Eropa yang ingin menampungnya.

Tawaran dari Al Nassr awalnya ia tolak berkali-kali. Tapi karena tidak ada klub Eropa yang mau menampungnya, Ronaldo pun berlabuh ke Arab Saudi. Terlepas dari semua guyonan tentang GOAT yang main di liga Unta, Ronaldo saat ini sedang menikmati karir sepak bolanya lagi.

Ia baru saja mencetak dua gol untuk Al Nassr. Itu adalah gol ke-11 dari sembilan pertandingan liga. Hanya selisih lima gol dari pencetak gol terbanyak di liga. Ditambah, ia menikmati gaji 200 juta euro per tahun yang diterimanya. Juga ia bermain untuk para fans lokal yang memujanya.

Apakah Barca Benar-benar Butuh Messi?

Legenda Prancis, Thierry Henry muak dengan apa yang Messi terima di PSG. Ia berkata kalau apa yang fans PSG lakukan kepada Messi adalah hal yang tidak pantas.

“Sangat memalukan mendengar siulan dari stadion. Kalian tidak bisa menghina pemain terbaik di tim kalian. Demi kecintaan saya pada sepak bola, saya sangat ingin melihat Messi kembali ke Barcelona”

Ketika konferensi pers perpisahannya dengan Barca, seorang wartawan bertanya kepada Messi. “apakah klub telah melakukan segalanya untuk mempertahankanmu?” Messi terdiam sejenak kemudian ia menjawab “Saya tidak tahu, tapi saya telah mencoba semampu saya”

Baru-baru ini muncul kabar kalau wakil presiden Barcelona, Rafa Yuste telah mengontak Messi. Rumornya ia berusaha untuk menjemput Messi pulang ke Camp Nou.

Tapi pertanyaan sesungguhnya adalah, Apakah Messi benar-benar butuh Barcelona? Kisah Messi dan Barcelona memang terukir seperti kisah romantis dalam novel. Dimana selama 21 tahun mereka bersama mengarungi suka dan duka. Tapi selayaknya kisah romance, move on adalah bagian terberat.

Tapi move on dalam sepak bola selalu bisa dilihat hasilnya. Seperti Arsenal yang ditinggal Aubameyang, Manchester United yang ditinggal Ronaldo, bahkan Madrid yang juga ditinggal Ronaldo. Dan banyak lainnya.

Proses move on Barcelona sendiri sudah mulai terlihat. Xavi telah membangun tim muda yang sebelumnya krisis identitas setelah ditinggal Messi. Kini Barca punya identitas sendiri. Bahkan mereka berpeluang besar mengangkat gelar La Liga musim ini.

Sumber referensi: Sportbrief, Goal, B/R, B/R 2, Talksport

Benfica vs Inter Milan: Si Ular Punya Memori Manis di UCL, tapi Si Elang Lagi On Fire!

Perempat final Liga Champions musim 2022/2023 sudah di depan mata. Undian yang dilakukan di markas besar UEFA di Nyon, Swiss, Jumat 17 Maret lalu telah mempertemukan 8 tim terbaik di Eropa saat ini. Dan salah satu pertemuan yang cukup menarik dinanti adalah Benfica vs Inter Milan.

Di banding laga perempat final lainnya, duel Benfica vs Inter Milan mungkin telah dipandang sebelah mata. Namun, duel Benfica vs Inter Milan mungkin bakal jadi laga yang berpotensi memunculkan kejutan di akhir laga. Apalagi, kedua tim punya misi yang berbeda.

Memori Manis La Grande 1965 Jadi Amunisi Inter Milan

Benfica dan Inter tidak sering bertemu di kancah Eropa. Keduanya tercatat baru 3 kali berjumpa, yakni 2 kali di Piala UEFA dan sekali di Liga Champions. Satu pertemuan di UCL inilah yang meninggalkan memori manis bagi Il Biscione.

Pertemuan pertama antara Benfica dan Inter Milan tersaji pada 27 Mei 1965, tepatnya di laga final Liga Champions 1965. Pertemuan bersejarah tersebut masih diingat betul oleh legenda hidup sekaligus wakil presiden Inter, Javier Zanetti.

“Ketika saya tiba di Inter, saya berbicara dengan Facchetti, Suarez dan Mazzola, mereka mengatakan kepada saya tentang Final dengan Benfica. Sekarang giliran kami dan kami berharap bisa mencapai semifinal,” ujar Javier Zanetti dikutip dari Football Italia.

Laga final UCL 1965 memang menjadi laga ikonik dalam catatan sejarah Internazionale Milano. Kala itu, Si Ular berhasil mencaplok Si Elang dengan skor tipis 1-0. Inter pun berhasil mempertahankan trofi Liga Champions mereka setelah di musim sebelumnya berhasil menumbangkan Real Madrid 3-1 di partai final.

Berkat prestasi tersebut, Il Biscione keluar sebagai klub Italia pertama yang menjadi juara UCL dua kali beruntun. Kejayaan di masa lalu itu kini dikenal dengan sebutan “La Grande”.

Yang menjadikan prestasi tersebut terasa lebih spesial adalah karena laga final UCL 1965 digelar di Stadion Giuseppe Meazza, markas Inter, yang pada hari itu dihadiri 89 ribu penonton. Lawan mereka juga tak main-main.

Di masa tersebut, Benfica tampil sangat subur berkat kehadiran striker legendaris Portugal, Eusebio. Namun, di sisi lain, Inter tengah dilatih oleh pelatih legendaris Helenio Herrera. Oleh karena itulah, laga final UCL 1965 itu juga dikenang sebagai representasi dari duel taktik menyerang versus taktik bertahan.

Head to Head Benfica vs Inter Milan

Kini, sejarah seolah terulang kembali. Situasi Benfica dan Inter Milan saat ini tak jauh berbeda dengan 58 tahun yang lalu. Pertemuan keduanya di perempat final UCL 2023 adalah duel antara tim dengan jumlah gol terbanyak vs tim dengan jumlah gol paling sedikit.

23 gol telah dihasilkan pasukan Roger Schmidt dari 8 pertandingan di UCL musim ini. Hanya Napoli yang punya catatan gol lebih banyak. Sementara itu, pasukan Simone Inzaghi baru menghasilkan 11 gol, paling sedikit di antara perempat finalis lainnya.

As Aguias juga lebih banyak mencatat kemenangan. Dengan 6 kemenangan dan 2 kali imbang, Si Elang bahkan belum pernah terkalahkan. Memulai dari babak kualifikasi, Benfica berhasil lolos ke fase gugur dengan status juara Grup H, melangkahi PSG dan Juventus. Mereka kemudian melumat Club Brugge di babak 16 besar dengan skor agregat 7-1.

Sementara itu, Il Biscione hanya meraih 4 kemenangan dan 2 kekalahan dalam 8 pertandingan. Mereka lolos ke fase gugur sebagai runner-up Grup C. Dua kali ditumbangkan Bayern Munchen, Inter berhasil melangkahi Barcelona. Mereka kemudian lolos ke perempat final berkat kemenangan tipis atas wakil Portugal lainnya, FC Porto dengan skor agregat 1-0.

Dari catatan tadi, Benfica jelas tampil lebih menyerang. Statistik juga membuktikan kalau mereka merupakan tim yang cukup efektif di depan gawang lawan. Dengan 5,9 shots on target perlaga, tingkat konversi tembakan Benfica mencapai 14,6%, lebih baik dari Napoli, Bayern Munchen, Man. City, dan Real Madrid yang mencatat lebih banyak tembakan tepat sasaran.

Singkatnya, Benfica memang tengah On Fire! Penampilan apik tak hanya mereka tampilkan di UCL, tetapi juga di Liga Portugal. As Aguias tengah memimpin klasemen sekaligus keluar sebagai tim tersubur di liga. Sejak ditangani Roger Schmidt, Benfica baru kalah 2 kali dalam 45 pertandingan di semua kompetisi.

Performa On Fire itulah yang wajib diwaspadai Inter Milan. Pasalnya, Inter seperti sisi koin berbeda. Di bawah asuhan Simone Inzaghi, Inter sudah kalah 12 kali dalam 40 pertandingan musim ini. Akhir-akhir ini, mereka juga tampil inkonsisten. Per 5 April 2023, Inter belum meraih kemenangan dalam 5 laga terakhirnya. Mereka bahkan baru saja menelan 3 kekalahan beruntun di Serie A yang membuat posisi mereka turun ke peringkat 4.

Sementara itu, di Liga Champions, Il Biscione juga keluar sebagai salah satu tim yang paling banyak membuang peluang emas. Mereka berada di urutan ketiga, di bawah Napoli dan Real Madrid, sebagai tim yang paling banyak membuang peluang emas. Dengan 5,3 shots on target perlaga, tingkat konversi tembakan Inter juga hanya mencapai 8,2%, terburuk kedua setelah Chelsea.

Soal ketajaman lini depan, Inter juga kalah dari Benfica. Top skor sementara mereka di UCL adalah Edin Dzeko dengan sumbangan 3 gol, diikuti Lukaku dengan 2 gol, dan Lautaro Martinez dengan 1 gol.

Catatan tersebut berbanding terbalik dengan Benfica. Top skor sementara Benfica di UCL adalah mantan pemain Inter, Joao Mario dengan sumbang 6 gol, diikuti Rafa Silva dengan 5 gol, dan Goncalo Ramos dengan 3 gol.

Akan tetapi, soal pertahanan, Inter Milan lebih unggul dari Benfica. Inter baru kebobolan 7 gol, sedangkan Benfica sudah kebobolan 8 gol. Inter juga sudah 5 kali mencatat clean sheets. Catatan tersebut hanya kalah dari Bayern Munchen. Sedangkan Benfica baru 2 kali mencatat clean sheets.

Selain itu, kiper Il Biscione, Andre Onana tercatat sudah 38 kali membuat penyelamatan. Angka tersebut jauh meninggalkan Odysseas Vlachodimos yang baru mencatat 17 penyelamatan. Dan sekali lagi, catatan sejarah juga berpihak kepada Inter Milan.

Berdasarkan catatan EuroCupsHistory.com, klub Italia lebih banyak meraih kemenangan ketika berjumpa dengan klub Portugal. Begitu pula dengan Inter. Hasil kontra Porto di babak sebelumnya membuat Inter tercatat baru kalah 4 kali dan meraih 11 kemenangan dalam 21 laga kontra tim Portugal.

Rekor pertemuan kedua tim juga berpihak kepada Inter. Setelah kemenangan di final UCL 1965, kedua tim bertemu di ronde keempat Piala UEFA musim 2003/2004. Kala itu, Inter berhasil menang dengan skor agregat 4-3 setelah di leg pertama berhasil menahan Benfica 0-0 di Estadio da Luz.

Cara seperti itulah yang sebaiknya juga diterapkan oleh Inter. Menahan Benfica di kandang lalu menumbangkan mereka di Giuseppe Meazza. Taktik catenaccio yang dulu berhasil membuat mereka meraih La Grande juga bisa jadi inspirasi tatkala menghadapi Benfica yang sedang On Fire.

Peluang Benfica dan Inter Milan Lolos ke Semifinal UCL

Namun, jangan berharap bisa dengan mudah menahan Benfica di kandangnya sendiri. Benfica tengah begitu digdaya tatkala bermain di Estadio da Luz. Bahkan di musim ini, As Aguias belum pernah kalah ketika bermain di hadapan ribuan pendukungnya sendiri.

“Bermain di Estadio da Luz selalu spesial bagi kami. Kami selalu mendapat dorongan besar dari sana dan kami bermain dengan baik dan mencetak banyak gol,” ujar Roger Schmidt dikutip dari One Football.

Jika Inter ingin melaju ke semifinal, mereka harus memanfaatkan laga kandang dengan baik, sebab catatan away Romelu Lukaku dan kolega lebih buruk. Dari 12 kekalahan Inter musim ini, 7 di antaranya didapat saat menjalani laga away.

Di leg pertama perempat final nanti, Inter diperkirakan masih tidak diperkuat oleh Hakan Calhanoglu yang cedera paha, sedangkan Milan Skriniar diharapkan sudah sembuh dari punggung. Sebaliknya, Benfica tak dapat memainkan Nicolas Otamendi yang terkena suspend.

Di laga perempat final nanti, kedua pelatih juga punya misi yang berbeda. Simone Inzaghi di kubu Inter tengah tertekan. Konon kabarnya, laga vs Benfica bakal jadi laga hidup dan mati bagi allenatore 46 tahun tersebut.

Sementara itu, Roger Schmidt di kubu Benfica sepertinya bakal berusaha memecahkan kutukan timnya. Sebab, Benfica belum pernah lolos lagi dari fase perempat final UCL sejak mereka mencapai babak final di musim 1990. Sementara itu, terakhir kali Inter lolos dari fase perempat final UCL terjadi di musim 2010 yang berakhir dengan gelar juara.

Duel antara Benfica vs Inter Milan bakal membuka babak perempat final Liga Champions musim ini. Leg pertama akan digelar pada 12 April dini hari WIB di Estadio da Luz. Sementara leg kedua akan digelar pada 20 April dini hari WIB di Giuseppe Meazza. Pemenang dari duel antara Si Elang vs Si Ular ini bakal dipertemukan dengan pemenang antara laga AC Milan vs Napoli.


https://youtu.be/Rq_iuYgfN3I

Referensi: Football Italia, Fotmob, UEFA, One Football, UEFA, SempreInter, PanditFootball.

Derby Avellaneda: Terciptanya Neraka Sepanjang 200 Meter!

0

Kita semua pasti pernah mendengar tentang rivalitas abadi antara Boca Juniors dan River Plate yang terbalut dalam laga Derby Superclasico. Semua orang pun paham apa yang dipertaruhkan saat kedua klub itu bertanding di atas lapangan. Namun, pernahkah kalian mendengar Derby Avellaneda?

Salah satu rivalitas paling panas di Argentina itu melibatkan dua klub lokal, Independiente dan Racing Club. Walau bukan yang terbesar di Argentina, duel tersebut jadi salah satu yang terbaik. Panasnya derby ini tak lepas dari fakta bahwa Independiente dan Racing masuk dalam empat klub terpopuler di Argentina dengan banyaknya pendukung.

Yang unik dari derby kali ini adalah soal jarak markas kedua tim yang sangat dekat. Dengan kedua stadion hanya berjarak sekitar 200 meter, Derby Avellaneda jadi pertandingan yang mencerminkan sebuah derby lokal sesungguhnya. Lantas, bagaimana kisah keseruan dua klub yang berdekatan namun saling sikut ini?

Derby Terbesar Kedua di Argentina

Sejak puluhan tahun lalu, pertandingan antara Boca dan River Plate boleh jadi laga paling panas yang pernah ada di Liga Argentina. Namun, jangan remehkan pertandingan derby lain. Karena Argentina bukan hanya soal kedua klub itu saja. Di sepakbola Argentina, setidaknya kita mengenal tujuh pertandingan yang bertajuk derby dan salah satunya adalah Derby Avellaneda.

Laga derby yang mempertemukan Independiente dan Racing Club ini tak kalah panas dari persaingan antara Boca Juniors dan River Plate. Derby yang mempertemukan dua klub asal Kota Avellaneda ini diberi label sebagai derby terbesar kedua setelah Derby Superclasico.

Sama halnya dengan Superclásico, Derby Avellaneda juga menawarkan persaingan sengit antar dua kelompok suporter yang kerap berujung pada kerusuhan berdarah. Bahkan tak jarang kerusuhan di derby kali ini melibatkan para pemain dari kedua klub tersebut. 

Kedua klub didirikan pada tahun-tahun awal abad ke-20, dengan Racing lahir lebih dulu pada Maret 1903 sedangkan Independiente menyusul dua tahun kemudian pada Januari 1905. Bedanya, Independente didirikan di Buenos Aires dan baru pindah ke Avellaneda pada tahun 1907. Saat Independiente pindah, rivalitas pun seketika tercipta karena duel pertama mereka dimenangkan oleh Independiente yang dianggap sebagai klub pendatang.

Sejarah Rivalitas Kedua Klub

Rivalitas kedua klub ini sebetulnya agak lain apabila dibandingkan dengan rivalitas lain yang biasanya dipicu dari perbedaan pandangan politik, perbedaan kasta sosial, atau perbedaan kekayaan finansial klub. Derby Avellaneda adalah kisah tentang dua tetangga yang membenci satu sama lain. Mereka akan melakukan apa pun untuk membuktikan siapa yang terbaik.

Mengingat Independiente merupakan klub baru di Avellaneda. Derby tersebut bisa dibilang sebagai persaingan antara penghuni lama melawan kesebelasan pendatang. Muncul sebagai pendatang, Los Diablos Rojos justru dengan lancang mendirikan stadion persis di sebelah Estadio Juan Domingo Peron, markas Racing.

Independiente membangun Stadium Libertadores de América yang hanya berjarak dua blok atau sekitar 200 meter saja dari Estadio Juan Domingo Peron. Saking dekatnya, jika tim sedang berhadapan, fans tak perlu repot-repot menggunakan kendaraan umum untuk mencapai stadion rival.

Panasnya rivalitas antara Independiente dan Racing juga didasari oleh kedua belah pendukung yang tak mau akur. Saling lempar ejekan dan cacian ketika berhadapan sudah jadi makanan sehari-hari mereka. Bahkan ketika kedua tim sedang tidak bertemu, nyanyian sindiran pun tetap berkumandang di stadion masing-masing.

Tensi panas pertandingan bahkan sudah terasa sejak seminggu jelang derby. Ketika mendekati waktu kick off suasana mencekam selalu terasa di sepanjang jalan Kota Avellaneda. Hawa-hawa persaingan pun tak terelakan lagi. Meskipun memiliki hubungan darah, jika tak mendukung klub yang sama maka keadaan akan jadi canggung.

Momen Rusuh Derby Avellaneda

Namanya juga derby, pasti memiliki momen-momen tertentu yang akan selalu diingat hingga sekarang. Salah satunya terjadi pada 1915, di mana Independiente kembali meraih kemenangan 2-1. Namun, kemenangan tersebut dibatalkan oleh pengadilan setelah klub pendatang itu dituduh menurunkan pemain yang tidak memenuhi syarat.

Sebagai gantinya, kemenangan akhirnya diberikan ke Racing. Dengan tambahan tiga poin, itu sudah cukup bagi La Academia untuk meraih gelar Liga Argentina musim tersebut. Momen inilah yang disinyalir membuat rivalitas mereka kian mendarah daging. Kerusuhan semakin sering terjadi baik di dalam maupun di luar lapangan.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada November 1961. Pertandingan Derby Avellaneda sempat dihentikan karena terjadi kerusuhan di dalam lapangan. Bukan melibatkan suporter, kerusuhan kali ini justru melibatkan pemain dari kedua kubu. Akibatnya, masing-masing dari pemain Racing dan Independiente diusir oleh wasit. Laga tetap berlanjut dan berakhir dengan skor 1-1.

Salah satu yang paling mengerikan terjadi pada tahun 2006. Saat kedua tim bertemu di ajang Copa Libertadores, Racing tertinggal 2-0 atas Independiente. Hal itu memicu para fans Racing untuk berbuat rusuh di stadion. Mereka menyerang pihak pengamanan dan orang-orang yang ada di depan mereka. Hal tersebut memicu keributan yang jadi salah satu kerusuhan terbesar dalam sejarah sepakbola Argentina.

Tragedi 7 Kucing Hitam

Di tahun 1960-an, Racing memang jadi tim yang jauh lebih sukses dari Independiente. Kesuksesan Racing pun menumbuhkan rasa iri dengki di hati fans Independiente. Suatu saat, ketika Racing menjuarai Liga Argentina, beberapa penggemar Independiente yang kesal berjalan menuju stadion sang rival dan mengubur tujuh kucing hitam di bawah salah satu pintu masuk stadion Racing.

Percaya atau tidak, setelah fans Independiente menguburkan kucing di stadion Racing, klub tersebut bak diselimuti sebuah kutukan. Racing jadi seret gelar, bahkan terdegradasi pada tahun 1980. Di masa itulah Independiente mulai mendominasi sepakbola Argentina. Racing baru terlepas dari kutukan dan kembali meraih gelar pada tahun 2001.

Fans Racing Memiliki Nama Baik di Avellaneda

Meski sama-sama doyan rusuh dan bikin Kota Avellaneda berantakan, fans Racing tetap akan selalu memiliki nama baik di mata masyarakat ketimbang fans Independiente. Pendukung Racing bahkan dijuluki sebagai “Guardian” atau pelindung oleh masyarakat Avellaneda. 

Julukan tersebut muncul karena masyarakat lebih menghargai klub yang sudah berdiri lebih dulu tersebut. Masyarakat awam juga melihat kesetiaan fans terhadap La Academia sangat tinggi. Meski dalam keadaan terpuruk, para suporter tetap datang ke stadion untuk mendukung tim kebanggaannya itu.

Sementara itu, image buruk justru sudah melekat pada pendukung Independiente. Mereka dianggap sebagai suporter garis keras yang taunya hanya bernyanyi dan menari di tribun saja, tanpa ingin tahu lebih dalam soal keadaan klub atau masyarakat sekitar.

Persaingan Prestasi di Argentina

Jika membicarakan soal derby, tentu kurang sah apabila tak membahas soal persaingan secara prestasi. Soal raihan trofi di liga domestik, Racing sudah pasti lebih unggul. Mereka tercatat sudah mengantongi 18 trofi Liga Argentina. Itu jauh lebih baik jika dibandingkan dengan Independiente yang baru mengoleksi 14 trofi.

Meski selalu menyuguhkan rivalitas panas dan arogansi antarsuporter, Derby Avellaneda tetap indah untuk dinikmati. Meski kalah pamor dari Derby Superclasico, pertandingan antara Racing Club dan Independiente tetap jadi salah satu pertandingan yang menghidupkan gairah sepakbola di Argentina.

Sumber: FFT, These Football Times, Goal, Panditfootball 

Bola Panas Perseteruan Barcelona dan Presiden La Liga

0

Hubungan Barcelona dan La Liga tidak seperti hubungan politik antarpolitisi yang bisa dengan cepat rekonsiliasi. Meski tidak menutup kemungkinan keduanya berdamai. Sayangnya, untuk hari ini, perseteruan Barcelona dan La Liga, khususnya sang presiden Javier Tebas justru makin meruncing.

Kedua belah pihak masih saling lempar tudingan. Belum lama ini bahkan Presiden Barcelona, Joan Laporta mendesak agar Javier Tebas meletakkan jabatannya sebagai Presiden La Liga. Setelah sebelumnya, Javier Tebas sudah menuding Barcelona telah diuntungkan wasit.

Munculnya skandal Negreira juga termasuk mempertajam perselisihan antara Javier Tebas dan Barcelona. Apalagi akibat pernyataan Javier Tebas, citra Blaugrana bisa menjadi jelek. Well, bagaimana kedua penggede di Liga Spanyol ini berseteru?

Soal Liga Super

Kisah perseteruan antara La Liga dan Barcelona mulai mencuat kembali awal tahun 2023. Upaya untuk melahirkan kembali ide Liga Super Eropa (ESL) ternyata menjadi salah satu sumber perseteruan. Ide Liga Super Eropa memang telah lama menjadi polemik di sepak bola Eropa. Ada beberapa tim yang sebelumnya dikabarkan join.

Jumlahnya kala itu 12 tim. Namun, mencuatnya ide Liga Super Eropa yang teranyar hanya diprakarsai oleh tiga tim saja. Real Madrid dengan Florentino Perez-nya yang memang paling getol. Lalu ada Juventus yang masih menjadi incaran UEFA. Dan yang terakhir, Barcelona di bawah Joan Laporta yang masih mencari penghidupan.

Dilansir Mirror, proyek ESL yang baru ini konon bakal memakai format multi divisi yang akan mengakomodir 60 dan 80 klub. Dengan masing-masing tim minimal akan bermain sebanyak 14 laga per musim. Proyek ESL ini muncul menjadi saingan UEFA dan pada akhirnya juga dibawa ke ranah hukum.

Kritik pun berkecambah. Masih banyak yang tidak suka dengan ide tersebut. Salah satunya La Liga. Menurut laporan yang sama, Presiden La Liga, Javier Tebas mengecam keberadaan Liga Super Eropa. Ia masih memandang bahwa ESL sebagai proyek perebutan kekuasaan para elite Eropa.

Tebas mengatakan, proyek ESL sebagai upaya untuk membajak sepak bola Eropa oleh tim-tim besar. Dilansir The Athletic, Javier Tebas juga menegaskan bahwa ESL bisa membawa kehancuran olahraga dan ekonomi liga domestik. Lantaran Barcelona masuk dalam proyek itu, perseteruan dengan La Liga pun tak terbendung.

Barca Tak Ikut Kesepakatan CVC

Masuknya Barcelona dalam rencana Liga Super Eropa hanyalah bagian baru yang mempertajam konflik dengan La Liga. Sebelumnya, Barcelona sudah menolak keras kerja sama yang sudah diteken La Liga dengan perusahaan CVC Capital Partners pada tahun 2021.

Penolakan itu sejatinya muncul setelah Barcelona melepas Lionel Messi. Jadi, kesepakatan apa yang dijalin La Liga dengan CVC dan ditolak oleh Barcelona? Nah, kesepakatan itu bermaksud agar CVC bisa menyuntikkan dana sekitar 2,7 miliar (Rp44,1 triliun) euro ke La Liga.

Dengan 90 persen dananya akan diberikan ke klub-klub La Liga. Sebagai imbalannya, CVC meminta 10 persen dari pendapatan hak siar klub. Barcelona menentang kesepakatan itu. Dan ternyata bukan hanya Barcelona yang menolak keras. Kabarnya, rival mereka, Real Madrid dan Athletic Bilbao juga mengambil langkah yang sama.

Yang menolak menuding bahwa kesepakatan ini melanggar hukum. Dilaporkan media Spanyol, Sport, pihak yang menolak sudah membawa kasus ini ke meja hijau. Akan tetapi, pengadilan tidak menindaklanjuti penangguhan proyek tersebut yang diminta tiga klub tadi.

Pengadilan Provinsi Madrid, dalam sebuah pernyataan resmi meratifikasi bahwa kerjasama tersebut tidak berbahaya. Lagi pula dalam Statuta La Liga, pihak ketiga bisa berpartisipasi dalam kegiatan komersial. Dan La Liga punya kapasitas penuh untuk mengaturnya.

La Liga juga menyebut, penolakan tiga klub tersebut hanya egois belaka. Toh, kesepakatan dengan CVC mendapat dukungan dari 38 klub yang berada di bawah naungan La Liga.

Pembatasan Gaji, Kontrak Gavi yang Diblokir

Barcelona juga merasa dirugikan dengan pembatasan gaji yang diterapkan La Liga. Klub Catalan itu memiliki batas gaji 382 juta euro atau sekitar Rp6,3 triliun. Hal ini sebenarnya dilakukan agar neraca keuangan Barcelona tidak lagi amblas.

Namun, yang terjadi pada musim 2022/23, Barcelona dianggap La Liga telah melanggar aturan batas gaji. Dampaknya bahkan berimbas pada kontrak salah satu pemain Barcelona, Gavi. Pemain 18 tahun itu sebelumnya telah menyetujui kontrak senior yang akan menguntungkan Barcelona.

Akan tetapi, Barcelona justru terancam kehilangan Gavi di musim panas nanti. Kontrak Gavi yang baru yang sejatinya berdurasi enam tahun dianggap tidak sah oleh La Liga.

Sebab Barcelona harus mendapatkan 200 juta euro (Rp3,2 triliun) dulu untuk agar tak melebihi batas gaji. Keberadaan Gavi disinyalir membuat Barcelona melanggar pembatasan gaji.

Kasus Negreira

Belum selesai urusan pembatasan gaji, Barcelona lagi-lagi menabung masalah. Kali ini Blaugrana terseret kasus yang kelak disebut skandal Negreira. Dilansir Inside Sport, Barcelona diduga menyuap Wakil Presiden Komite Wasit RFEF, Jose Maria Enriquez Negreira dengan fulus 7,3 juta euro (Rp119,3 miliar) antara tahun 2001 sampai 2018.

Masih dari laporan yang sama, Presiden Dewan Spanyol, Jose Manuel Franco akan bergabung untuk menyeret Barcelona ke ranah hukum. Selain itu, dilaporkan Football Espana, Javier Tebas juga mendesak agar UEFA turut melakukan penyelidikan.

Kasus ini juga menyeret nama dua mantan presiden Barcelona, Sandro Rosell dan Josep Maria Bartomeu. Dilansir Goal, kabarnya Barcelona sudah didakwa atas kasus ini. UEFA dikabarkan bakal memberi sanksi ke Barcelona pada Juni 2023 mendatang.

Sebelum inkrah, Javier Tebas saat meminta UEFA turut menyelidiki juga menyerang Presiden Barcelona, Joan Laporta. Dilansir Barca Universal, Tebas sepertinya tidak bisa menyembunyikan kebenciannya pada Barcelona. Dari sumber yang sama, Tebas mendesak agar Laporta dicopot dari jabatannya oleh Federasi Sepakbola Spanyol, RFEF.

Laporan La Vanguardia

Kasus Negreira makin memperkeruh suasana antara Barcelona dan La Liga. Media La Vanguardia turut memanaskan situasi. Dalam sebuah laporan yang dikeluarkan La Vanguardia, Javier Tebas yang juga penggemar Real Madrid dituding memberikan bukti palsu yang memberatkan Barcelona di Skandal Negreira tersebut.

Media yang bermarkas di Barcelona itu menyebut, Tebas menyeret Sandro Rosell dan Bartomeu dalam dugaan ketidakwajaran keuangan dan penyelewengan.

Berita yang diterbitkan La Vanguardia ini justru jadi semacam kesempatan Barcelona untuk menyerang Javier Tebas. Barcelona pun mendesak agar Javier Tebas menanggalkan jabatannya. Di sisi lain, Tebas menanggapi bahwa laporan La Vanguardia keliru.

Dilansir Barca Blaugranes, Tebas menyebut laporan La Vanguardia kekurangan bukti, mendistorsi kenyataan, dan tentu merusak reputasinya. Javier Tebas menanggapi laporan La Vanguardia dengan berdalih tidak menuduh siapa pun dalam dokumen yang diserahkannya.

Tebas juga mendesak agar La Vanguardia segera meralat laporannya tersebut. Nah, dilansir Daily Mail, penyebutan “Rosell” dan “Josep Maria” di La Vanguardia diketahui ternyata tidak merujuk pada mantan dua presiden Barcelona tersebut.

https://youtu.be/boXBTvJStn8

Sumber: Football-Espana, OneFootball, Sportes, BU, DailyMail, InsideSport, BarcaBlaugranes, InsideSport2, Mirror, SkySports, Goal, TheAthletic

Kapan Waktu yang Tepat Untuk Memecat Pelatih?

0

Klub-klub top Eropa ramai-ramai melakukan pemecatan pelatih. Fenomena ini sangat wajar. Pasalnya manajemen punya kendali penuh atas pemilihan dan pemecatan pelatih. Selagi kedua belah pihak tak melanggar kontrak yang sudah ditandatangani, itu tak akan jadi masalah.

Yang terbaru, kabar pemecatan hadir dari dua klub Liga Inggris, Chelsea dan Leicester City. Meski awalnya Todd Boehly mempercayakan proyek pembangunan kembali klub kepada Graham Potter, akhirnya sang pelatih dipecat juga. Potter membuat Chelsea tampil jauh di bawah standar.

Begitupun dengan Leicester City yang baru memecat Brendan Rodgers. Namun, apakah keputusan tersebut diambil secara spontan dan tanpa perhitungan? Tentu tidak. Lantas, kapan waktu yang tepat untuk memecat pelatih dalam sepakbola?

Memecat Pelatih Memperbaiki Performa Tim?

Pemecatan pelatih di klub sepakbola merupakan hal yang wajar. Manajer yang gagal membawa klubnya meraih hasil yang sesuai harapan tentu akan dipertimbangkan untuk dipecat dan dicari penggantinya.

Hasil penelitian yang dilakukan di Sheffield Hallam University terhadap sepakbola Inggris bisa dijadikan pedoman. Mereka menunjukan bahwa memecat manajer dapat membuat klub terhindar dari jurang degradasi. Penelitian ini dilakukan dengan melihat hasil selama 10 tahun Liga Inggris dari tahun 2003-2013. Pada rentang waktu tersebut, terjadi 60 pemecatan manajer di klub-klub Premier League.

Menurut penelitian tersebut, rata-rata poin per pertandingan klub yang mengambil keputusan memecat pelatihnya bisa meningkat menjadi 1,17 per game. Itu sedikit lebih baik ketimbang saat masih dipegang oleh manajer sebelumnya yang hanya di angka 1,03 per pertandingan.

Namun ternyata hasil ini lebih cenderung terjadi pada tim-tim papan bawah yang sedang berjuang menghindari degradasi. Mereka biasanya mengambil keputusan pada hari Senin atau sehari pasca pertandingan liga. Itu jadi waktu yang tepat agar tim memiliki persiapan yang cukup untuk mempersiapkan pertandingan berikutnya.

8 Pertandingan Awal Adalah Kunci

Lantas, kapan waktu yang tepat untuk melakukan perubahan tersebut? Selain harus menimbang berbagai hal sebelum memutus kontrak sang pelatih. Tentu ada beberapa opsi waktu yang bisa dipilih oleh klub untuk mengakhiri kerjasama dengan pelatih.

Salah satunya adalah di awal musim. Menurut ketua Swansea periode 2000-2019, Huw Jenkins, biasanya klub akan memberikan waktu kepada pelatih selama delapan pertandingan awal. Itu jangka waktu yang pas sebelum akhirnya mengevaluasi hasil kerja sang pelatih. Jika dirasa buruk, maka pecatlah sebelum pertandingan pekan ke-10.

Siasat ini dilakukan oleh sejumlah tim. Contohnya saja Bournemouth yang memecat Scott Parker setelah menuai hasil buruk di empat pertandingan awal Liga Inggris musim 2022/23. Hasil buruk itu membuat klub terdampar di peringkat 17 klasemen sementara Liga Inggris.

Meski Parker jadi sosok penting kembalinya The Cherrys ke kasta tertinggi sepakbola Inggris, manajemen tak segan untuk memecatnya di awal musim. Keputusan ini sempat menuai kontroversi karena dianggap terlalu dini. Namun menurut beberapa sumber, Parker juga berselisih dengan manajemen. 

Bournemouth dikabarkan enggan kembali menjadi klub yang bolak balik naik turun kasta. Jadi, permasalahan itu pula yang meyakinkan manajemen untuk memecat Scott Parker. Menariknya, Bournemouth tak mencari pelatih baru untuk menggantikan Parker. Klub hanya menunjuk sang asisten pelatih, Gary O’Neil sebagai pengganti Parker. Hasilnya? Lumayan, mereka sempat tak terkalahkan di enam pertandingan.

Pertengahan Musim

Jika klub sudah mengeluarkan dana untuk mendatangkan beberapa pemain di transfer musim dingin, mengevaluasi kinerja pelatih di bulan-bulan Februari hingga Maret jadi waktu yang tepat. Pemilihan waktu ini cukup populer di kalangan klub-klub Inggris. Salah satu yang sudah membuktikan adalah Leicester City saat memecat Claudio Ranieri bulan Februari 2017.

Meski telah menghadirkan trofi Liga Inggris pada tahun 2016, manajemen Leicester tak segan untuk tidak memperpanjang kerjasamanya dengan sang pelatih pada pekan ke-25. Pemecatan itu tepat setelah Leicester menelan lima kekalahan beruntun di Liga Inggris sehingga terperosok di peringkat 17 klasemen Liga Inggris.

Setelah Ranieri dipecat, Leicester tak buru-buru mencari penggantinya. Mereka justru menunjuk sang asisten pelatih, Craig Shakespeare. Setelah ia mengambil alih kemudi Leicester, Shakespeare langsung menghasilkan lima kemenangan liga dalam enam pertandingan. Itu membawa Leicester kembali naik ke peringkat 11 klasemen sementara Premier League.

Pemilihan siapa yang akan menggantikan peran pelatih sebelumnya juga sangat penting. Beberapa tim pasti menunjuk asisten pelatih, karena asisten sudah paham dengan kondisi tim. Tapi entah apa yang dipikirkan Barcelona ketika menggantikan Ernesto Valverde dengan Quique Setien pada pertengahan musim 2019/20. Alih-alih mempertahankan posisi puncak klasemen, di bawah Setien Barca justru kehilangan peluang juara.

Ketika Ada Masalah

Salah satu aspek yang diperhatikan sebelum memecat pelatih adalah pemain itu sendiri. Ketika pelatih sudah tidak memiliki hubungan baik dengan para pemain di ruang ganti, itu jadi waktu yang tepat untuk mengganti pelatih. Situasi ini sudah dilakukan oleh Tottenham ketika memecat Antonio Conte kemarin.

Di sesi jumpa pers setelah laga kontra Southampton, Conte ngamuk di depan media. Ia membeberkan segala macam keburukan yang terjadi di tim asal kota London tersebut. Conte menjadikan Daniel Levy sebagai masalah utama mengapa klub tak meraih kesuksesan dalam beberapa tahun terakhir.

Para pemain juga tidak luput dari kritikan Conte. Ia menganggap kalau para punggawa Spurs terlalu egois. Conte melihat pemain Tottenham tidak mau bermain di bawah tekanan dan selalu cari aman. 

Conte bahkan menyebut beberapa pemain tak memiliki mental juara. Ucapan pedas itu membuat kondisi ruang ganti makin memanas. Conte sudah tak mendapat respect lagi dari para pemain. Jadi tak heran apabila manajemen segera mengambil sikap untuk memecat sang pelatih.

Jangan Sampai Telat Ambil Keputusan

Namun, bagaimana apabila manajemen memberi kepercayaan lebih kepada sang pelatih? Tentu itu tak ada salahnya. Tapi jangan sampai telat mengambil keputusan. Situasi tersebut sering terjadi, dan mungkin contoh yang paling fatal adalah Persipura Jayapura musim lalu.

Terlepas dari internal yang bermasalah dan pengurangan poin, performa buruk Mutiara Hitam memang sudah terlihat sejak awal musim 2021/22. Dalam 10 laga awal, Persipura asuhan Jacksen F. Tiago mengalami rangkaian hasil buruk. Tapi manajemen seakan tak memperhatikan poin tersebut. Alhasil pergantian kursi kepelatihan ke tangan Alfredo Vera dirasa sudah terlambat.

Hal itu dibenarkan oleh legenda Persipura, Rully Nere. Mantan punggawa tim nasional Indonesia era 80-an itu berkata kalau manajemen Persipura telah kehilangan momentum untuk melakukan perubahan. Pasalnya, dalam 12 laga yang dipimpin Jacksen, Persipura hanya memperoleh lima poin sehingga terbenam di posisi ke-17 klasemen Liga 1. 

Jadi ketika Persipura berganti pelatih, mereka sudah kesulitan untuk mengembalikan semangat bermain tim yang sudah terlanjur hancur karena serangkaian masalah internal dan hasil buruk di liga.

Sumber: The Athletic, Panditfootball, Sky Sport, ESPN