Sering Diamuk, Begini Proses Menjadi Wasit di Indonesia

spot_img

Nasib buruk harus diterima Abdul Razak, seorang pria laki-laki kelahiran Sulawesi Tenggara. Seandainya dia tak menjadi wasit sepak bola di Liga 2 Indonesia, mungkin dirinya tak akan dikeroyok para pemain Persiwa Wamena. Yup, tahun 2018 lalu, saat Persiwa menghadapi Persegres Gresik di Stadion Joko Samudro, Razak mesti terkapar usai dihajar para pemain.

Kejadiannya terjadi sekitar menit ke-77. Waktu itu, pemain Persegres, David Faristan dilanggar di titik dua belas pas. Abdul Razak pun menghadiahi Persegres penalti. Namun keputusan itu justru membuat pemain lawan marah. Tak terima, para pemain Persiwa memutuskan untuk mengeroyok sang wasit hingga ia terjatuh terguling-guling di atas lapangan.

Nasib Abdul Razak nyaris sama dengan yang menimpa Muhaimin. Pada 2013, ketika Muhaimin memimpin pertandingan antara Pelita Bandung Raya vs Persiwa Wamena. Muhaimin mendapat bogem tak terduga oleh pemain Persiwa, Pieter Rumaropen menyusul keputusannya yang memberi penalti untuk Pelita setelah Nova Arianto ditekel oleh OK John di menit ke-81.

Duh, emang dasar lagi-lagi dari Persiwa. Ya, mungkin karena era itu, Persiwa Wamena lebih banyak dipenuhi atlet taekwondo dan MMA, ketimbang pesepakbola murni. Well, selain mendapat amukan dari para pemain, wasit-wasit di Indonesia juga sering mendapat perlakuan intimidatif berbuah kekerasan oleh para suporter.

Kita semua tahu bahwa suporter sepak bola di Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan kebersamaan. Tetapi itu hanya berlaku buat dirinya, kawan yang sama-sama mendukung satu tim, dan Pak RT. Sementara kepada suporter lawan, pemain lawan, dan wasit ya belum tentu.

Sewaktu pertandingan Persitema Temanggung melawan PSIP Pemalang 6 Mei 2018 misalnya. Kala itu, wasit garis mengesahkan gol kedua dari PSIP menit ke-88. Gol itu sah karena telah melewati garis gawang. Namun suporter Persitema yang mungkin merasa dirinya lebih tahu dari wasit melempari hakim garis dengan botol.

Para suporter pun turun ke lapangan dan memukul si hakim garis. Sontak akibat kejadian itu, sang hakim garis terkapar tak berdaya alias pingsan. Sedangkan wasit utama harus lari tunggang langgang ke ruang ganti. Tentu saja untuk menghindari amukan massa.

Dari contoh-contoh tersebut, menunjukkan bahwa profesi wasit memang bisa jadi sangat berbahaya. Selain itu, sebagai pengadil di lapangan yang memiliki tugas memastikan “law of game” berjalan dengan lancar, wasit kerap menjadi sorotan. Apalagi di pertandingan-pertandingan yang berlangsung di Indonesia, khususnya di liga yang katanya sih profesional.

Seperti di BRI Liga 1 yang baru saja mulai bangun dari tidurnya itu. Keputusan wasit mulai disorot. Salah satunya ketika pertandingan Bali United menghadapi Persik Kediri. Kala itu, Persik mendapat bonus penalti tapi sontekan Youssef Ezzejjari ditepis kiper Bali United, Wawan Hendrawan. Youssef juga gagal memanfaatkan bola rebound setelah tendangannya justru mengangkasa.

Pada pertandingan itu, sebetulnya Wawan Hendrawan ingin maju dan terlihat meninggalkan garis gawang. Wasit semestinya memerhatikan hal itu, tapi ia justru abai. Para pemain Persik juga tidak sadar kalau tindakan Wawan tak sesuai Law of The Game Dewan Asosiasi Sepak bola Internasional (IFAB) Edisi 2020/21. Di mana setidaknya, satu kaki kiper yang menahan bola harus sejajar dengan garis gawang.

Well, posisi wasit di sepak bola memang berbahaya tapi sekaligus krusial. Kendati wasit sering kali dianggap goblok ketika keputusannya tidak tepat. Namun demikian, menjadi wasit, di Indonesia khususnya, tidak lah semudah apa yang kamu pikirkan, ada proses yang cukup panjang.

Faktor Penting untuk Menjadi Wasit

Ada banyak faktor atau boleh kita sebut juga sebagai persyaratan bagi seseorang yang ingin menjadi wasit di Indonesia sekaligus menguji seberapa banyak nyawa yang dititipkan Tuhan. Salah satunya tentu soal fisik. Menjadi wasit tentu mesti memiliki daya tahan tubuh yang lebih kokoh dari siapa pun. Kita tentu tahu, tubuh wasit di Indonesia begitu rentan terkena benda tajam atau benda yang sengaja ditajamkan.

Kebugaran fisik selain meliputi daya tahan, wasit juga harus mempunyai kecepatan yang bagus. Ini boleh jadi untuk menyeimbangkan dengan para pemain sepak bola. Disamping cepat, wasit juga harus lincah. Kalau di luar negeri lincah untuk responsif terhadap pelanggaran, sedangkan di Indonesia lincah untuk responsif menghindari lemparan botol dari suporter.

Mengutip “AFC Refereeing Fitness Training Guidelines” bahwa wasit mesti memiliki kemampuan psikologis yang baik. Selain tentu saja menguasai teknik sepak bola, wasit di Indonesia wajib cakap dalam berkomunikasi. Ini berguna banget agar pemain bisa langsung mengerti apa maksud si wasit.

Proses Menjadi Wasit di Indonesia

Selepas dirasa yakin sudah memenuhi segala aspek untuk menjadi wasit di Indonesia, termasuk aspek rohaniah dan siap berakhir di UGD, calon wasit bisa langsung mendaftar. Eits, maksudnya di sini mendaftar kursus wasit C3 terlebih dahulu. Calon wasit mesti mendapat lisensi C3.

Secara umum, kursus C3 ini acap kali diselenggarakan oleh PSSI di tingkat kota maupun kabupaten. Ya, benar sekali, Askot-Askot lah yang mengadakan kursus tersebut. Namun usai mendapat lisensi C3, wasit belum bisa langsung memimpin pertandingan Martapura Dewa United vs RANS Cilegon FC, misalnya.

Seorang wasit yang mengantongi lisensi C3 mesti berpengalaman memimpin pertandingan selama setahun. Lho pertandingan apa? Ya pertandingan di tingkat kota, misalnya kompetisi antar pelajar atau liga tarkam. Atau bisa juga kompetisi lokal. Ya disamping menguji pemahaman soal hal-hal dasar, sekaligus mengecek sejauh apa badan wasit bisa babak belur.

Jika ingin naik lisensi C2, wasit perlu mengikuti kursus lagi. Berbeda dengan kursus C3, kursus C2 ini biasanya digelar PSSI tingkat provinsi atau Asprov (Asosiasi Provinsi). Materi yang diajarkan pun tidak hanya hal-hal dasar, tapi sudah mulai merambah ke uji kebugaran dan teori permainan sepak bola yang tentu sesuai standar FIFA.

Wasit yang sudah memegang lisensi C2, diizinkan memimpin pertandingan di kancah provinsi. Terutama provinsi tempat dia mendapatkan lisensi tersebut. Wasit lisensi C2 diperbolehkan memimpin pertandingan sepak bola seperti di ajang Porda, Porprov, dan Popda. Namun, ia belum bisa memimpin pertandingan sepak bola skala nasional.

Agar mendapat kesempatan menjadi wasit di kancah nasional, seorang wasit Indonesia wajib mengikuti kursus C1 dan mendapat lisensinya. Baru setelah itu ia berhak memimpin pertandingan di liga amatir. Kendati begitu ia masih belum boleh menjadi pengadil di Liga 1 dan 2.

Sebab, PSSI memberlakukan penyegaran. Jadi sebelum Liga 1 dan 2 dimulai, wasit untuk kedua kompetisi tersebut akan diseleksi lagi. Wasit berlisensi C1 yang ingin memimpin laga di Liga 1 dan 2 mesti dilihat rekam jejaknya. Namun, soal standarisasi wasit di Indonesia masih belum jelas.

Kita tentu berharap ada aturan, kurikulum, indikator, silabus, atau semacamnya soal standar wasit di PSSI. Sekalipun kita susah buat percaya kalau PSSI bakal patuh pada aturan yang mereka buat sendiri. Berharap kan boleh-boleh saja, betul begitu football lovers?

Sumber referensi: kumparan.com, detik.com, suara.com, goal.com

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru