Perbedaan One-Club Man vs One-Man Team

  • Whatsapp
Perbedaan One-Club Man vs One-Man Team
Perbedaan One-Club Man vs One-Man Team

Di era sekarang, sangat sulit untuk menemukan seorang pemain sepak bola yang mau bertahan dan hanya membela 1 klub sepanjang karier profesionalnya. Prestasi dan tawaran gaji adalah dua hal yang sulit untuk ditolak. Bila ada pemain yang mampu melakukannya maka ia layak disebut sebagai one-club man.

One-club man adalah sebutan untuk seorang pemain yang sepanjang kariernya hanya membela satu klub saja. Hal tersebut adalah wujud kesetiaan dan loyalitas tertinggi dalam dunia sepak bola. Di masa lalu, banyak sekali pemain yang masuk dalam kelompok tersebut dan kini mereka dikenal sebagai seorang legenda. Lalu, siapa saja yang masuk dalam daftar one-club man?

One-Club Man, Kala Seorang Pemain Setia Membela Satu Tim

Kita mulai dari Liga Inggris. Di Manchester United ada sosok Ryan Giggs, Paul Scholes, dan Gary Neville. Ketiganya juga punya kesamaan, yakni sama-sama bagian dari generasi emas MU yang dikenal dengan sebutan The Class of ’92.

Ryan Giggs membela MU dari musim 1990 hingga 2014. Total, pemain berjuluk Welsh Wizard itu memainkan 963 pertandingan dalam balutan jersey Setan Merah dan memenangkan 34 trofi, termasuk 13 trofi Liga Primer Inggris dan 2 trofi Liga Champions.

Sementara Paul Scholes membela MU dalam dua periode. Periode pertamanya berlangsung dari musim 1993 hingga 2011. Sempat pensiun setahun, Scholes kembali di musim 2012/2013. Total, ia berhasil mengumpulkan 718 caps bersama Setan Merah. Sementara itu periode Gary Neville bersama MU lebih singkat. Ia berseragam tim utama Setan Merah dari musim 1992 hingga 2011 dengan total penampilan sebanyak 602 pertandingan.

Di Liverpool ada sosok Jamie Carragher. Mantan wakil kapten Liverpool itu tampil dalam 737 pertandingan selama 16 musim dan berhasil mempersembahkan 11 trofi bersama The Reds. Andai saja Steven Gerrard tak hengkah ke LA Galaxy di akhir kariernya, mantan kapten Liverpool itu bisa masuk dalam daftar one-club man.

Arsenal juga punya sosok One-club man. Salah satunya adalah Tony Adams. Mantan bek tangguh timnas Inggris itu membela The Gunners selama 19 musim dari tahun 1983 hingga 2002. Total, ia berhasil mengemas 672 caps dan meraih 13 trofi dalam 3 dekade yang berbeda.

Di era sekarang, pemain Liga Inggris yang masuk dalam predikat one-club man adalah James Ward-Prowse dari Southampton. Ia telah membela The Saints sejak musim 2011 hingga sekarang.

Beralih ke Liga Italia. Di masa lalu, sosok yang paling ikonik tentu saja Francesco Totti dan Paolo Maldini. Totti mencatat 786 penampilan bersama AS Roma selama 25 musim. Selama membela I Lupi, ia berhasil mencetak 307 gol. Khusus di Serie A, ia berhasil mencetak 250 gol. Catatan tersebut menjadikannya sebagai pencetak gol terbanyak kedua Serie A di bawah Silvio Piola.

Sementara itu, Paolo Maldini juga membela AC Milan selama 25 musim dengan catatan total penampilan sebanyak 902 pertandingan. Selama periode 1984 hingga 2009, Paolo Maldini berhasil mempersembahkan 25 trofi. Ia memenangkan 5 trofi Liga Champions, di mana 2 trofi terakhir diraihnya sebagai kapten Rossoneri.

Loyalitas keduanya untuk masing-masing klub juga tak perlu diragukan. Pasca pensiun, Totti menjadi direktur AS Roma sebelum akhirnya mundur pada Juni 2019. Sementara itu, Paolo Maldini kini kita kenal sebagai direktur teknis AC Milan.

Apa yang ditempuh Totti dan Maldini mirip dengan perjalanan karier Michael Zorc di Borussia Dortmund. Semasa bermain, Zorc membela Dortmund dari tahun 1981 hingga 1998 dan sukses memenangi 7 trofi, termasuk trofi Liga Champions 1997. Usai pensiun, ia langsung menjadi manager tim. Kariernya terus menanjak hingga menjadi Sporting Director Dortmund hingga hari ini.

Sementara itu, di Liga Spanyol jumlah populasi one-club man lebih banyak lagi. Di masa lalu kita mengenal nama-nama seperti Carles Puyol di Barcelona, Fran Gonzalez di Deportivo La Coruna, hingga Bruno Soriano di Villarreal.

Untuk kategori pemain yang masih aktif, La Liga juga masih banyak menghasilkan one-club men. Di antaranya adalah Iker Muniain di Athletic Bilbao, Koke di Atletico Madrid, Nacho Fernandez di Real Madrid, hingga Sergio Busquets dan Sergi Roberto di Barcelona. Lionel Messi nyaris masuk dalam daftar ini andai saja ia tak dilepas ke PSG.

Dari Indonesia, ada nama Choirul Huda yang sepanjang kariernya sangat loyal kepada Persela Lamongan. Sebelum tutup usia pada 2017 silam, beliau berhasil mencatat 503 penampilan selama 18 musim membela Laskar Joko Tingkir.

Bila one-club man sangat setia dan loyal dengan hanya membela satu klub di sepanjang karier profesionalnya, maka lain halnya dengan sosok one-man club atau one-man team. Istilah ini kerap disalahartikan. Padahal, one-club man dan one-man team punya arti yang berbeda.

One-Man Team, Kala Satu Kesebelasan Mengandalkan Satu Pemain Saja

Dari istilahnya, one-man team punya arti tim satu orang. Istilah tersebut memang kontroversial dan dianggap agak menghina. One-man team digunakan untuk menyebut sebuah tim yang biasanya hanya mengandalkan satu pemain saja.

Meski kontroversial, dalam sejarah sepak bola, akan selalu ada seorang pemain yang permainannya paling menonjol dibanding rekan satu timnya. Kontribusinya di atas lapangan sangat berpengaruh terhadap performa tim dan tak jarang ia selalu berhasil mengangkat prestasi tim yang ia bela. Lalu, siapa saja pemain yang masuk dalam daftar ini?

Dari kategori legenda, timnas Bulgaria era Hristo Stoichkov bisa dikategorikan sebagai one-man team. Meski timnas Bulgaria era mantan pemain Barcelona itu dianggap sebagai generasi emas, permainan Stoichkov jauh lebih unggul di atas rekan-rekannya. Ia berhasil membawa Bulgaria mencapai semifinal Piala Dunia 1994 dan memenangkan sepatu emas serta mendapat penghargaan Ballon d’Or di tahun tersebut.

Serupa dengan Hristo Stoichkov, mantan pemain Barcelona lainnya juga punya catatan yang sama. Dia adalah Diego Maradona. Di tahun 1984, ia pindah dari Barca menuju Napoli. Kedatangan Maradona seketika mengguncang Liga Italia. Napoli yang di musim sebelumnya menempati peringkat 12 langsung ia bawa ke papan atas. Kehadiran Maradona di Napoli juga sukses mengusik peta persaingan sepak bola Italia yang didominasi klub asal Italia Utara seperti Juventus, AC Milan, Inter Milan, dan AS Roma.

Di era Maradona, Napoli berhasil meraih 5 trofi, termasuk trofi Piala UEFA 1989. Namun, prestasi terbaik Maradona adalah saat dirinya membantu Napoli menjuarai Serie A untuk pertama kalinya di musim 1986/1987 dan kembali mengulang prestasi yang sama di musim 1989/1990. Hingga hari ini Napoli era Maradona jadi satu-satu tim asal Italia Selatan yang pernah meraih scudetto.

Contoh lainnya dari one-man team antara lain Michel Platini di timnas Prancis era 80an, Eusebio di timnas Portugal era 60an, hingga Sir Tom Finney di Preston North End era 50an.

Untuk kategori pemain yang masih aktif, nama Henrikh Mkhitaryan di tim nasional Armenia bisa menjadi contohnya. Mkhitaryan adalah kapten sekaligus top skor sepanjang masa timnas Armenia dengan rekor 31 gol dari 91 caps.

Namun, predikat one-man team terbaik dalam sejarah sepertinya harus disematkan pada Matt Le Tissier di Southampton. Semasa aktif, pemain berjuluk “Le God” itu jadi nyawa bagi The Saints. Le Tissier adalah seorang gelandang serang dengan skill dan kemampuan teknis yang luar biasa.

Ia adalah gelandang pertama yang berhasil mencetak 100 gol di Premier League. Dari 270 penampilan di Liga Primer, “Le God” berhasil mencetak 101 gol dan 39 asis. Matt Le Tissier nyaris menyandang gelar one-man team sekaligus one-club man. Sayangnya, setelah pensiun di tahun 2002, ia sempat bermain di Liga Amatir bersama Eastleigh dan Guernsey.

Itulah perbedaan dan beberapa contoh dari “One-club Man” dan “One-man Team”. Jadi, jangan salah lagi ya Football Lovers.

***
Sumber Referensi: BBC, Bleacher report, Football365, HITC, The Sportster.

Pos terkait