Bicara tentang transfer pemain memang kerap timbulkan kejutan. Proses kepindahan sampai kepada kedatangan pemain yang diidamkan akan memberi kebahagiaan tersendiri. Terlebih, bila klub kesayangan berhasil mendatangkan pemain bintang yang memang dibutuhkan.
Bila melihat perjalanan klub dalam melakukan proses transfer pemain, terkadang ada beberapa yang terbilang susah untuk didatangkan. Sebabnya bisa dari berbagai faktor, mulai dari pemain incaran itu sendiri yang tidak ingin direkrut, harga yang terlampau tinggi, atau bahkan klub pemilik sang pemain yang melakukan berbagai cara agar para pesaing kesulitan untuk melakukan pendekatan.
Namun tahukah kalian bila sebenarnya tidak hanya membeli pemain saja yang membutuhkan proses tidak mudah, namun juga ketika klub ingin melepas seorang pemain yang dianggap sudah tidak menjadi kebutuhan tim. Apalagi bila sang pemain yang dimaksud telah melakukan tindakan yang sampai melanggar aturan klub
Sevilla sporting director Monchi claims the La Liga side are not interested in Milan’s Samu Castillejo and rules out Papu Gomez’s Serie A return. https://t.co/E2hZCcmn0Q #ACMilan #Milan #SerieA #Calcio #Transfers pic.twitter.com/Z5IlK571Qv
— footballitalia (@footballitalia) June 14, 2021
Melihat fenomena tersebut, bisakah klub memecat seorang pemain seperti halnya mereka memecat pelatih yang sudah tidak dibutuhkan?
Sejatinya klub bisa memecat seorang pemain yang sudah tidak diinginkan, dengan bahasa yang biasa digunakan yaitu pemutusan kontrak. Akan tetapi, ada satu hal yang perlu diperhatikan disini. Bila klub tidak senang dengan seorang pemain dan memilih untuk langsung memecatnya, maka bisa dikatakan bahwa mereka telah melakukan langkah yang ceroboh.
Pasalnya, ada yang namanya bursa transfer dimana klub tentu akan mendapat keuntungan lebih, bila mereka mau bersabar menanti momen tersebut untuk melepas pemain. Lantas bagaimana menyiasati ketidaksukaan klub kepada seorang pemain yang mereka ingin segera melepasnya pergi?
Mengusir Secara Halus
Dalam hal ini, seorang agen bisa dijadikan sebagai kunci klub untuk melakukan pengusiran secara halus kepada pemain tertentu. Klub akan segera memberitahu sang agen bahwa mereka tidak lagi menginginkan sang pemain di skuad. Kemudian, sang agen yang tentunya memiliki banyak koneksi akan segera mengerjakan tugasnya. Hal ini jelas menjadi langkah yang paling praktis dan efektif untuk dijadikan sebagai solusi.
Kemudian saat sang pemain masih memiliki kontrak di klub tersebut, maka menurut The Athletic seperti dilansir strootsy football, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membuat pemain yang sudah tidak diinginkan merasa bahwa inilah saatnya untuk pergi.
Biasanya, sang pemain akan mendapat perlakuan yang tidak akan membuat mereka betah di klub. Beberapa cara seperti menjauhkan pemain dengan tim utama, bisa secara halus atau terang-terangan, bisa dilakukan. Misalnya dengan terus meminjamkan sang pemain tersebut. Kemudian, hal yang sering kita lihat adalah pemain yang tidak diinginkan akan terus menghuni bangku cadangan. Bahkan dalam beberapa kasus, mereka tidak diikutkan dalam skuad yang bertanding.
Ada lagi cara lain yang bisa dilakukan, yaitu dengan memaksa sang pemain untuk mengikuti latihan dengan tim junior, dimana hal ini pernah dialami oleh kiper Manchester United Sergio Romero. Sangat jelas bahwa penjaga gawang asal Argentina itu tidak diinginkan klub hingga pada akhirnya dilepas ketika kontraknya habis.
🧤 Sergio Romero’s record for Manchester United:
👤 Appearances – 57
⛔ Clean Sheets – 35
⚽ Goals Conceded pg – 0.4 pic.twitter.com/1fkDoS1C6k— WhoScored.com (@WhoScored) July 23, 2021
Kemudian, klub yang sudah tidak menginginkan keberadaan pemain tertentu juga bisa melakukan cara ‘pengasingan’ berupa membedakan akses kantin dan membedakan fasilitas kesehatan dengan pemain-pemain di tim utama.
Satu peristiwa cukup populer dalam kasus ini pernah dialami oleh Mesut Ozil. Pemain asal Jerman tersebut merasa bahwa Arsenal yang jadi tim yang dibelanya saat itu sudah tidak menginginkannya lagi. Dia jarang sekali dimainkan dan terus mendapat sindiran dari klub. Akhirnya, Ozil pergi dan kini memilih untuk berkarir di Turki dengan status sebagai pemain terbuang.
Akan tetapi, cara-cara tersebut juga tidak bisa langsung temui keberhasilan. Seperti yang terjadi di luaran sana, beberapa klub biasanya menolak untuk merekrut pemain yang dimaksud karena dianggap telah mengalami penurunan kualitas menyusul terlalu sering nya dicadangkan. Kemudian, ada juga hal yang membuat sang pemain sepi peminat, yakni karena mereka memiliki gaji yang terbilang besar.
Lalu, kondisi sang pemain yang seringkali mengalami cedera atau memiliki sikap yang buruk, juga sangat mempengaruhi besar atau kecilnya minat dari klub lain.
Pemain yang Kontraknya Diputus Oleh Klub
Namun kembali lagi tentang pemutusan kontrak oleh klub kepada seorang pemain, hal ini juga tak jarang dilakukan oleh klub-klub besar Eropa. Mereka tidak mau menunggu sampai sang pemain memiliki peminat atau menunggu hingga kontraknya habis.
Dalam kasus tersebut, biasanya klub yang memilih untuk langsung memutus kontrak sang pemain beralasan karena pemain tersebut telah melakukan hal yang telah melewati batas wajar. Beberapa contoh yang sempat gegerkan dunia sepakbola adalah pemutusan kontrak yang dilakukan Sunderland kepada Emmanuel Eboue.
Tepat pada tahun 2016 lalu, eks bintang Arsenal ini diusir paksa oleh Sunderland meski baru membela klub tersebut selama 22 hari. Mulanya, FIFA menghukum Eboue karena sang pemain tidak memenuhi kewajibannya membayar agen. Hukuman yang diberikan berupa melarang sang pemain beraktivitas di dunia sepak bola selama satu tahun.
Emmanuel Eboue released by Sunderland after being given one year ban by Fifahttps://t.co/vskH9AQXPo pic.twitter.com/n59w1kG6Im
— Telegraph Football (@TeleFootball) March 31, 2016
Meski sempat berpikir untuk mempertahankan sang pemain, Sunderland yang kemudian diberi saran oleh FA pun memilih untuk membatalkan kerja sama dengan pemain kebangsaan Pantai Gading tersebut.
Yang tidak kalah menghebohkan adalah kasus Adrian Mutu yang pada 2004 silam bertengkar hebat dengan pelatih Chelsea Jose Mourinho, karena masalah kebugaran dan kedisiplinannya yang dianggap jauh dari kata ideal. Setelah ditelusuri, Mutu yang digadang-gadang bakal jadi superstar di Stamford Bridge itu ternyata dinyatakan positif menggunakan kokain.
Chelsea yang meradang pun tanpa basa-basi langsung memutus kerja sama dan memaksa sang pemain untuk membayar ganti rugi sebesar 17 juta euro atau setara 284 miliar rupiah karena dianggap melanggar kontrak.
Untuk kasus yang dianggap parah lainnya juga menimpa seorang pemain bernama Adam Johnson. Aktor lapangan hijau yang pernah membela Manchester City itu diberhentikan kontraknya oleh klub yang dibelanya, Sunderland pada tahun 2016, karena kedapatan terlibat dalam kasus kriminal.
HM Prison Durham sign Adam Johnson from Sunderland on a 6-year-deal. pic.twitter.com/I1q7sVrTpp
— Footy Humour (@FootyHumour) March 24, 2016
Sunderland sama sekali tidak memberi toleransi kepada Adam Johnson yang telah dinyatakan bersalah dalam skandal seks dengan gadis di bawah umur.
“Klub telah mengakhiri kontraknya hari ini. Klub tak akan mengeluarkan komentar terkait apapun,” demikian pernyataan Sunderland seperti dikutip dari CNN.
Kira-kira, di klub kesayangan kalian saat ini, pernahkah terjadi kasus pemutusan kontrak terhadap pemain tertentu?


