Magnificent Seven: Mengenang Kompetisi Terbaik Serie A Bersama Tujuh Tim Legenda

  • Whatsapp
Magnificent Seven Mengenang Kompetisi Terbaik Serie A Bersama Tujuh Tim Legenda
Magnificent Seven Mengenang Kompetisi Terbaik Serie A Bersama Tujuh Tim Legenda

James Richardson, yang pernah menjadi bagian dari Football Italia sudah bersiap dengan sejumlah koran yang mengabarkan sepakbola Negeri Pizza dalam sepekan. Duduk santai di sebuah cafe dan ditemani cappucino lengkap dengan sepotong kue, James Richardson menyampaikan kabar-kabar menarik dari sebuah saluran televisi legendaris.

Dia, yang juga menjadi bagian dari FourFourTwo dan The Guardian, sempat menyampaikan tentang betapa indah dan glamornya sepakbola Italia di era 90 an. Dalam sebuah channel berjudul sportsvibeTV, James Richardson pada 2013 lalu menjelaskan bila saat itu Italia memiliki kompetisi paling seksi di dunia. Dihuni oleh banyak sekali tim hebat, resmi sudah bila kompetisi Serie A jadi tujuan banyak pemain terbaik dunia.

Bicara tentang era 90 an hingga memasuki milenium baru tahun 2000 an dari sudut sepakbola memang tak ada habisnya. Berfokus pada kompetisi Italia, kita akan disuguhkan oleh berbagai tontonan berkelas lengkap dengan semua aktor legendarisnya.

Magnificent Seven, menjadi tema dari spektakulernya kompetisi sepakbola disana. Ada banyak tim hebat yang bersaing dengan kemapanan finansial tanpa adanya kesenjangan. Selain itu, tentunya, kekuatan tim di atas lapangan juga tidak perlu diragukan. Dari kiper hingga pemain depan, semuanya sama-sama berkualitas.

Maka dari itu, wajar bila kompetisi tertinggi Italia menjadi yang paling ternama di seluruh penjuru dunia. Mereka menikmati masa kejayaan di atas kompetisi lainnya, semacam La Liga, Bundesliga, hingga Liga Primer Inggris.

Memiliki kepopuleran serta masa keemasan terbaik sepanjang sejarah, siapa saja aktor yang mewarnai kilaunya tema The Magnificent Seven Serie A?

Siapa Saja Aktornya?

The Magnificent Seven Serie A, atau tujuh tim terbaik yang dinilai jadi kekuatan utama sepakbola Italia itu adalah Juventus, AC Milan, Inter Milan, AS Roma, Lazio, Parma, hingga Fiorentina.

Juventus, yang sampai saat ini masih jadi pemegang gelar terbanyak Serie A, punya kekuatan yang sama hebatnya di era 90 an. Mereka berhasil menjadi juara secara beruntun pada musim 1996/97 dan 1997/98, untuk kemudian dilanjutkan pada dua gelar tambahan pada awal 2000 an. Pada musim 1995/96, tim berjuluk Si Nyonya Tua bahkan berhasil mempersembahkan trofi Liga Champions Eropa.

Meraih banyak gelar di tengah dahsyatnya kekuatan tim besar lainnya, Juventus ketika itu menempatkan banyak nama hebat yang akan selalu dikenang. Alessandro Del Piero si bocah ajaib, Fabrizio Ravanelli sang pencetak gol di final Liga Champions Eropa, serta Roberto Baggio sang penyerang legendaris Italia.

Nama hebat seperti Zinedine Zidane juga sempat menghiasi skuad emas Juventus di era tersebut. Memasuki milenium baru, Pavel Nedved yang sempat berjaya bersama Lazio juga berhasil didatangkan untuk menambah daya ledak tim dari sisi lapangan.

Dari banyaknya pemain hebat yang menghiasi skuad Juventus, mereka harus berterima kasih kepada sosok Marcelo Lippi yang duduk di kursi kepelatihan tim. Kejeniusannya dalam meracik tim berhasil membawa Juve beberapa kali naik ke panggung juara.

Selain itu, jangan lupakan pula peran Luciano Moggi dan keluarga Agnelli yang membantu tim agar tetap bisa bersaing di kasta teratas.

Berikutnya ada nama AC Milan yang pada era 90 an berhasil meraup sebanyak lima gelar scudetto. Tepat setelah Sampdoria berhasil mengukir cerita di tahun 1991, bersama Fabio Capello yang sukses meneruskan kejeniusan Arrigo Sacchi, tim merah hitam berhasil persembahkan tiga gelar scudetto secara beruntun dari tahun 1992 sampai dengan 1994, untuk kemudian diikuti dengan dua gelar berikutnya yang didapat pada tahun 1996 dan 1999.

Fabio Capello yang dianggap sukses melatih Milan tak hanya mampu menjadi raja di kompetisi domestik saja, namun juga Eropa. Pada musim 1993/94, Milan dengan gagah singkirkan kesombongan FC Barcelona di tangan Cruyff dengan skor 4-0.

Pemain yang ketika itu berjaya? Zvonimir Boban, Leonardo, Paolo Maldini, Alessandro Costacurta, dan tentunya trio Belanda Marco van Basten, Ruud Gullit, Frank Rijkaard.

Di era 2000 an, kejayaan Milan masih berlanjut setelah Carlo Ancelotti resmi ditunjuk sebagai allenatore. Pelatih yang kini tangani Real Madrid itu berhasil persembahkan gelar scudetto buat Milan, plus dua gelar Liga Champions Eropa. Kejayaan Milan di era itu diisi oleh nama Paolo Maldini, Ricardo Kaka, Andrea Pirlo, Andriy Shevchenko, sampai Clarence Seedorf.

Dibalik kemegahan skuad dan prestasi Milan, terdapat sosok Silvio Berlusconi dan Adriano Galliani yang duduk di kursi manajemen tim.

Nama selanjutnya adalah saudara muda Milan, yaitu Inter Milan. Meski gelar scudetto di era 90 an tergolong kering, tetap harus diakui bahwa keberadaan I Nerazzurri sangatlah diwaspadai lawan. Ronaldo Nazario yang berduet dengan Ivan Zamorano benar-benar menunjukkan kekuatan Inter ketika itu. Belum lagi sang kapten Javier Zanetti yang selalu berada di barisan terdepan ketika tim terus diserang.

Selain itu, Alvaro Recoba juga sempat jadi bintang muda Inter dengan permainan khasnya. Nama Nicola Ventola yang diboyong dari Atalanta pun tak ketinggalan untuk membantu Inter dalam membuat tim tampil lebih sempurna.

Meski di kompetisi Serie A beberapa kali temui kegagalan, Inter sempat menjadi raja di kompetisi Eropa kelas dua. Salah satu momen ikonik di kompetisi tersebut tentu ketika tim tersebut menempatkan nama Ronaldo sebagai bintangnya.

Barulah saat memasuki milenium baru, Inter mulai tampil sebagai raja di tanah Italia. Kiprah mereka kian tak terhadang usai Juventus tersungkur ke kompetisi kelas dua.

Nama besar yang masuk ke dalam The Magnificent Seven berikutnya adalah AS Roma. Raksasa ibukota dengan segudang pemain bertalenta berhasil rajai Italia di tahun 2001. Ketika itu, Tim Serigala diasuh oleh Fabio Capello, dimana sang pelatih kemudian menyebut bila memenangkan satu trofi Serie A bersama AS Roma sangat-sangatlah berharga.

Berisikan nama Vincenzo Montella, Gabriel Batistuta, Cafu, hingga Francesco Totti tentunya, AS Roma berhasil kandaskan perlawanan Juventus yang berada di tangga kedua.

Meski kemudian kembali gagal raih gelar hingga sekarang, nama AS Roma, terutama di era tersebut, akan selalu dikenang sebagai salah satu yang terbaik sepanjang sejarah kompetisi Italia.

Bersama AS Roma, ada juga nama Lazio yang pernah berjaya ketika ditangani oleh Sven Goran Eriksson. Dengan kekuatan uang sang presiden Sergio Cragnotti, pelatih asal Swedia itu dibekali skuad mewah dalam diri Juan Sebastian Veron, Diego Simeone, dan Pavel Nedved. Belum lagi bintang lainnya semacam Alessandro Nesta hingga Fernando Couto dan Nestor Sensini.

Selain raihan scudetto yang begitu melegenda, Lazio juga sukses meraih gelar Piala Winners dan Piala Super Eropa.

Berikutnya, yang akan selalu jadi nama hebat lainnya dalam daftar ini adalah Parma. Parma adalah tim legenda dengan segudang cerita. Di era 90 an, Parma adalah salah satu wajah terbaik yang mewakili Italia. Berhasil berjaya di level domestik dengan raihan trofi Coppa Italia, Parma juga mampu berbicara banyak di level Eropa.

Dengan bintang hebat seperti Hernan Crespo, Enrico Chiesa, sampai Gianluigi Buffon yang ditemani Lilian Thuram dan Fabio Cannavaro, Parma sukses persembahkan dua trofi Europa League, satu Piala Winners dan satu Piala Super Eropa.

Bila mengenang memori kejayaan mereka di era tersebut, sungguh, sedih rasanya ketika melihat nasib Parma yang terkatung-katung seperti sekarang.

Nama terakhir yang masuk dalam daftar legendaris ini adalah Fiorentina. Fiorentina begitu masyhur dengan keberadaan Gabriel Batistuta dan Rui Costa. Dengan kombinasi keduanya yang apik, mereka sukses menjadi tim yang disegani di kompetisi domestik maupun Eropa.

Satu yang menonjol dari Fiorentina adalah raihan dua trofi Coppa Italia nya di era tersebut. Malah, trofi yang berhasil diraih pada musim 2000/01, turut membawa nama Roberto Mancini sebagai pelatih yang pada akhirnya banyak meraih kejayaan.

Sempat Pudar

Layaknya roda kehidupan yang terus berputar, masa kejayaan sepakbola Italia dengan nama The Magnificent Seven pun sempat alami kemunduran. Ada banyak hal yang melatar belakangi, seperti misalnya skandal yang sempat terungkap.

Juventus, sebagai salah satu tim terbaik Italia sempat terjatuh ke kompetisi Serie B karena skandal calciopoli. Mereka butuh waktu yang tidak sebentar untuk bisa kembali bersaing di level tertinggi Italia.

Kemudian ada Parma dan Fiorentina yang sama-sama alami masalah finansial. Fiorentina sempat dinyatakan bangkrut hingga harus mencicipi kompetisi kasta keempat pada tahun 2002. Berulang kali terjatuh ke kompetisi terbawah, La Viola memiliki perjalanan berat untuk bisa kembali konsisten tampil di kompetisi Serie A.

Untuk Parma, mereka juga alami nasib yang sama. Ditinggal banyak bintang hingga harus rela menjadi tim dengan level semenjana, Parma gagal membayar hutang sekaligus gaji manajemen dan staf pada tahun 2015. Situasi ini membuat mereka benar-benar terpuruk dan perlahan dilupakan.

Hasilnya, mereka yang dinyatakan bangkrut harus menata ulang segalanya dari kompetisi kelas bawah. Meski sempat kembali ke kompetisi Serie A, kekuatan Parma yang belum stabil membuat mereka kembali terdegradasi ke kompetisi bawah.

Selain tim-tim tersebut, duo Milan yakni Inter Milan dan AC Milan juga sempat alami kemunduran dalam waktu yang relatif lama, sebelum akhirnya bisa bangkit ke tangga teratas. Sementara itu, dua tim ibukota juga belum lagi tampil menawan untuk bisa naik ke tangga juara seperti sedia kala.

Menyambut Wajah Baru Serie A

Beruntung, meski tidak semua berhasil menaikkan pamor seperti semula, tim-tim besar semacam Juventus, AC Milan, Inter Milan, AS Roma, dan juga Lazio, bisa kembali dilihat persaingannya dalam beberapa musim ke belakang.

Terlebih, setelah Juventus menjadi satu-satunya nama yang berhasil meraih gelar juara dalam kurun waktu yang lama, Inter Milan sukses meredam itu semua. Di bawah pelatih Antonio Conte, Inter mampu hancurkan dominasi Juventus dengan menyabet gelar scudetto ke 19.

Pada perebutan gelar dalam beberapa musim terakhir, Serie A juga kedatangan dua nama baru yang terbilang konsisten, yakni Napoli dan Atalanta. Dua nama tersebut kini bisa dikatakan punya kekuatan terbaik yang tak hanya berlaku di kompetisi lokal, namun juga Eropa.

Khusus Atalanta, tim asuhan Gian Piero Gasperini itu bahkan mampu menjadi kekuatan yang benar-benar layak diwaspadai dalam setiap musimnya. Mereka selain berhasil menembus kemapanan tim seperti Juventus dan yang lainnya, juga mulai konsisten masuk ke kompetisi Eropa.

Wajah terbaik sepakbola Italia mulai kembali ke permukaan. Dengan tidak hanya mengandalkan satu nama, tim-tim raksasa disana bisa menjadi ancaman, untuk kembali merebut tahta sebagai kompetisi terbaik di seluruh dunia.

Sumber referensi: Football Tribe, foothusiast, indosport

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *