Sama halnya dengan seorang pemain bertipikal nomor “10” yang memiliki peran sebagai pengontrol permainan di belakang striker, libero juga merupakan posisi yang tak kalah penting pada masanya. Libero pernah menjadi salah satu peran vital, dalam keberhasilan tim-tim top dalam menggapai keberhasilan.
Namun, nama libero kini sudah jarang terdengar dalam dunia sepakbola. Istilah “Libero”, kini mungkin lebih dikenal pada olahraga bola voli. Salah satu alasannya, karena secara fungsional, peran libero sudah jarang digunakan di sepakbola. Lantas apa sebenarnya libero itu? Berikut kisah kejayaan Libero dan bagaimana mereka memainkan perannya di lapangan.
Daftar Isi
Apa Itu Libero?
Libero sendiri diambil dari bahasa Italia, liberos yang berarti kebebasan. Peran libero mulai dikenal pada dekade 1960-an. Munculnya peran libero beriringan dengan suksesnya taktik legendaris asal Italia yang bernama Catenaccio, alias pertahanan gerendel. Bahkan Saking mempengaruhi perkembangan taktik saat itu, Italia turut menularkan virus pertahanannya ini ke negara-negara tetangganya.
Franz Beckenbauer adalah salah satu ikon Piala Dunia dari Jerman, Beckenbauer bisa menentukan irama permainan tim dan mengubah jalannya pertandingan hingga Jerman Barat meraih gelar juara Piala Dunia 1974. Cool!
Gimana ya keseruan Piala Dunia 2018? 41 hari lagi!#kvision pic.twitter.com/2ucEgZv9lc
— KVision (@kvisiontv) May 4, 2018
Libero berposisi sebagai pemain bertahan yang biasanya berada dalam formasi lima bek. Pergerakannya sedikit lebih bebas, namun tetap berada di tengah dan berdiri lebih ke belakang ketimbang dua bek tengah lainnya. Tujuannya memberikan pengamanan ekstra, andai dua bek tengah lainnya berhasil dijebol oleh lawan.
Libero juga bisa dibilang sebagai tukang bersih-bersih area pertahanan, karena nantinya ia akan menyapu bola yang berhasil lolos dari dua bek di depannya. Sehingga peran ini juga memiliki nama beken sebagai “sweeper”, tapi bukan sweeper yang ada di kartun Dora ya, itu beda lagi.
Bagaimana Seorang Libero Bermain
Libero biasanya punya dua gaya bermain. Yang pertama adalah ia bisa memotong aliran umpan lawan dan bisa menutup ruang di depan penjaga gawang. Selain itu, saat tim sedang menyerang, seorang libero diberikan kebebasan untuk naik ke area tengah demi membantu tim untuk membangun serangan balik.
Libero seperti yang diperkenalkan Franz Beckenbauer dan Franco Baresi, memperlihatkan bahwa seorang libero harus memiliki skill-skill tertentu untuk menunjang perannya di lapangan.
Seorang libero harus mempunyai visi misi bermain yang jelas, skill menggiring bola yang baik, serta mempunyai kemampuan mencetak gol dari jarak jauh. Kemampuan seperti itu akan sangat berguna ketika tim memperoleh peluang untuk melakukan serangan balik.
Franz Beckenbauer vs Soviet Union (1972 Euro Final)
Pass Accuracy – 92%
Completed Passes – 57
Forward Passes – 32
Progressive Carries – 12
Interceptions – 5
Blocks – 2
Tackles – 1
Fouls Drawn – 1
Dispossessed – 1
Dribbled Past – 0
pic.twitter.com/tcajpVCSW5— Retro Productions (@RetroProds) March 8, 2021
Libero juga dikenal sebagai playmaker yang bermain di area bertahan. Jadi selain menggiring bola guna menjauhkan bola dari lawan, libero juga dituntut pandai membagi bola kepada rekan-rekan di depannya.
Libero tidak selamanya menggunakan format lima bek. Hal ini dibuktikan oleh AC Milan ketika mereka dilatih Arrigo Sacchi. Franco Baresi yang mengemban peran sebagai libero, berdiri di belakang tiga bek lainnya, yakni Mauro Tassotti, Alessandro Costacurta, dan Paolo Maldini. Namun tugasnya tetaplah sama.
Semakin berkembangnya sepakbola di era modern, para pemain macam libero sudah tidak ada lagi. Bukan berarti seorang libero adalah pemain yang jelek, tapi pola permainan seorang libero murni, tak mencerminkan sepakbola yang lebih fleksibel di era sekarang.
Contoh Libero Hebat
Selama beberapa tahun terakhir, pemain yang memiliki peran sebagai penyerang atau gelandang adalah pemain yang paling banyak mendapat sorotan. Baik itu karena kemampuan mencetak gol, atau memberikan umpan-umpan ciamik yang mampu membelah pertahanan lawan. Mereka jadi pemain yang sangat dicintai. Jadi, tak heran apabila striker atau gelandang lebih mudah untuk memenangkan penghargaan individu seperti Player of The Year atau Ballon d’Or.
Namun, untuk posisi pemain bertahan, di era keemasannya seorang libero pernah menjadi primadona di perebutan gelar individu. Sebut saja pemain macam Franz Beckenbauer, yang telah mengantongi dua gelar Ballon d’Or tahun 1972 dan 1976. Ia juga berperan penting dalam kesuksesan Timnas Jerman meraih EURO 1972 dan Piala Dunia dua tahun setelahnya.
Selain itu kita juga mengenal Franco Baresi dari Italia. Bek mungil itu juga tergabung dalam jajaran libero sukses pada jamannya. Bersama Timnas Italia, ia berhasil mengantarkan Gli Azzurri meraih gelar Piala Dunia tahun 1982. Sedangkan bersama AC Milan, Baresi berhasil menyumbangkan belasan gelar termasuk 6 gelar Serie A.
Contoh lain ada mantan pelatih Barcelona, Ronald Koeman yang juga berposisi sama dengan Franz Beckenbauer. Di era keemasan Timnas Belanda, Koeman berperan penting membantu De Oranje meraih gelar EURO 1988.
Inter Milan..Lothar Matthaus
1990 Ballon D’or Winner pic.twitter.com/mfaQ3Usyhe— Superb Footy Pics (@SuperbFootyPics) October 5, 2015
Koeman juga menjadi salah satu aktor di balik awal kesuksesan Barcelona di era 90-an. Ia memberikan 4 gelar La Liga secara beruntun dari tahun 1991 hingga 1994. Kemudian ia juga meraih gelar Copa del Rey, Piala Super Eropa, dan Liga Champions.
Beberapa libero juga lahir dari gelandang bertahan. Contohnya saja mantan pemain Borussia Monchengladbach, Lothar Matthaus. Peraih Ballon d’Or ini mengubah posisinya dari gelandang menjadi libero saat bermain untuk Bayern Munchen. Pengalaman dan kemampuannya membaca arah bola turut membantu The Bavarian meraih berbagai macam trofi.
Libero Telah Berevolusi
Saat ini, peran libero murni sudah menghilang. Salah satu alasannya karena bek tengah di sepakbola modern dituntut untuk pandai memegang bola dan memberi umpan. Umumnya, bek tengah saat ini bukan cuma atribut bertahannya yang bagus, tapi akurasi umpan dan visi bermainnya juga sangat dibutuhkan untuk menunjang performa tim.
Misalnya saja Harry Maguire di Manchester United. Meski skill bertahannya sangat buruk, harus diakui bahwa Maguire sangat piawai melepaskan umpan-umpan akurat dari lini bertahan. Beberapa kali umpannya mampu membelah lini tengah lawan, dan menyasar pemain-pemain depan Setan Merah yang berdiri bebas.
Jika kalian kurang puas dengan contoh pertama, masih ada nama Virgil Van Dijk yang sangat piawai memainkan peran sebagai “Ball Playing Defender”, yang mana peran tersebut adalah evolusi dari seorang libero. Jika kita memperhatikan skema permainan Liverpool, Van Dijk kerap terlibat saat tim asuhan Jurgen Klopp tengah membangun serangan dari bawah.
Selain itu, peran libero juga kerap diemban oleh penjaga gawang modern. Kiper yang dinilai sukses memainkan peran ini adalah Manuel Neuer di Bayern Munchen dan Ederson Moraes di Manchester City. Keduanya kerap keluar dari area kotak kecil, untuk menghalau bola atau sekadar memberikan opsi umpan guna meloloskan diri dari high pressing lawan.
Libero di sepakbola modern telah terlupakan. Dengan intensitas pertandingan yang kian meningkat, bek sudah tidak lagi fokus untuk menjaga satu pemain. Dengan permainan yang kian cepat, tim pelatih lebih suka membuat skema jebakan offside, ketimbang menaruh satu pemain tambahan di belakang garis pertahanan.
Sumber Referensi: Thesefootballtimes, LigaLaga, Foottheball, TheHindu, Libero


