Beranda blog Halaman 715

Analisis Penyebab Sheffield United Terdegradasi dari Premier League

0

Datang sebagai klub promosi, Sheffield United memberi kejutan di Premier League musim lalu. Diperkirakan banyak pihak bakal langsung terdegradasi kembali, klub berjuluk The Blades itu justru mampu mengakhiri liga di peringkat 9.

Finish di posisi kesembilan merupakan hasil terbaik dalam sejarah Sheffield United di Premier League. Dalam perjalanannya, anak asuh Chris Wilder ini memberi kejutan dengan berhasil mengalahkan Arsenal, Chelsea, Tottenham Hotspur, Everton, dan mengimbangi Manchester United.

Sayangnya, performa apik di musim lalu gagal dilanjutkan di musim ini. Sheffield United membuat start paling buruk dalam sejarah Premier League. The Blades mengawali musim ini dengan 17 laga berturut-turut tanpa kemenangan.

Sheffield United baru meraih kemenangan pertama di pekan ke-18 saat menundukkan Newcastle United di kandang. Optimisme sempat melambung saat The Baldes secara luar biasa berhasil menundukkan Manchester United di Old Trafford pada pertandingan pekan ke-20.

Sayangnya, meski meraih 2 kemenangan tambahan atas West Bromwich Albion dan Aston Villa di pekan ke-22 dan 27, poin yang dikumpulkan Sheffield United tetap tak mampu mengangkat posisi mereka dari dasar klasemen.

Akhirnya, meski Premier League masih menyisakan 6 laga, Sheffield United sudah tak terselamatkan. Kepastian terdegradasinya The Blades didapat setelah mereka menelan kekalahan 0-1 saat bertandang ke markas Wolverhampton Wanderers, Sabtu (17/4) kemarin.

Dari 32 laga di Premier League musim ini, Sheffield United baru mengumpulkan 14 poin, hasil dari 4 kali menang dan 2 kali imbang. Sisanya, mereka selalu kalah. Meski terus menang di sisa pertandingan musim ini, poin maksimal yang dapat dipetik Sheffield United tetap tak mampu mengangkat posisi mereka dari zona degradasi.

Lalu, faktor apa saja yang jadi penyebab Sheffield United terdegradasi dari Premier League musim ini? Berikut analisisnya.

Pertahanan Rapuh, Sheffield United Jadi Lumbung Gol Tim Lain

Musim lalu, Sheffield United memang jadi sensasi. Finish di peringkat 9, The Blades mengumpulkan 54 poin, hasil dari 14 kali menang dan 12 kali imbang. John Lundstram dkk tampil sangat solid. Mereka hanya kebobolan 39 gol sepanjang musim 2019/2020.

Jumlah kebobolan yang sedikit itu jadi rekor tersendiri. Pasalnya, dalam sejarah Liga Primer, tak ada tim promosi yang mencatat jumlah kebobolan lebih sedikit dari Sheffield United musim lalu.

Sayangnya, ketangguhan pertahanan The Blades yang jadi kunci permainan anak asuh Chris Wilder musim lalu tak terlihat di musim ini. Dalam 32 laga yang sudah dijalani musim ini, gawang Sheffield United sudah kebobolan 56 gol. Yang paling disorot tentu sosok di bawah mistar gawang. Sebagai ganti dari Dean Henderson yang pulang ke Manchester United, manajemen Sheffield United merekrut kembali mantan kiper tim mudanya, Aaron Ramsdale.

Meski berstatus sebagai penjaga gawang nomor 1 timnas Inggris U-21, faktanya, kualitas Ramsdale masih jauh bila dibandingkan dengan Henderson. Musim lalu, Dean Henderson mencatat persentase save sebesar 75%. Sementara Aaron Ramsdale cuma mencatat persentase save sebesar 68,6%.

Dari 32 laga, Ramsdale sudah kebobolan 56 gol. Sangat kontras dengan catatan Henderson musim lalu yang hanya kebobolan 33 gol di 36 laga. Musim ini, Ramsdale juga hanya mampu mencatat 2 kali cleansheet, jauh bila dibandingkan dengan Henderson yang membuat 13 cleansheet musim lalu.

Namun, kiper 22 tahun itu tak bisa sepenuhnya disalahkan. Nyatanya, kinerja pertahanan Sheffield United musim ini sangat buruk hingga membuat Ramsdale seolah berjuang sendirian. Ramsdale menghadapi lebih banyak tembakan di area berbahaya ketimbang Henderson. Artinya, musim ini, pertahanan Sheffield United lebih longgar dan mudah ditembus.

Salah satu penyebab buruknya kinerja pertahanan The Blades musim ini tak lepas dari badai cedera yang menggerogoti skuad mereka. Kehilangan terbesar Sheffield United adalah absennya bek andalan mereka, Jack O’Connell. Bek berusia 27 tahun itu cuma berlaga di 2 laga awal, setelahnya dia absen hingga akhir musim ini akibat cedera lutut parah.

Faktanya, O’Connell adalah bagian penting dari formasi 3-5-2 Chris Wilder. Menempati bek tengah sisi kiri, dia adalah kunci dari skema bertahan dan menyerang Sheffield United. Selama O’Connell absen, jumlah passing progresif dan diagonal The Blades turun drastis.

Persentase kemenangan, poin rata-rata per game, jumlah tembakan ke gawang, dan jumlah umpan silang yang dihasilkan menurun drastis saat O’Connell absen. Dengan O’Connell dalam starting eleven-nya, Sheffield United punya persentase kemenangan sebesar 38%. Namun, saat dia absen, persentase kemenangannya drop ke angka 8% saja. Selain itu, selama O’Connell absen, gawang Sheffield United mencatat lebih banyak kebobolan.

Jack O’Connell bukan satu-satunya pemain yang absen panjang karena cedera. Dua bek lainnya, yakni Chris Basham dan Jack Robinson juga tengah menepi dan sedang dalam tahap pemulihan. Sebelum mereka, bek tengah John Egan juga sempat absen beberapa lama karena masalah fisik.

Badai cedera itulah yang membuat barisan pertahanan Sheffield United tak pernah full team. Serupa dengan barisan pertahanannya, lini tengah The Blades juga didera badai cedera. Tercatat, ada 4 gelandang Sheffield United yang sempat absen karena cedera. Mereka adalah John Fleck, Enda Stevens, Jack Rodwell, dan Sander Berge.

Khusus untuk Sander Berge, gelandang Norwegia 23 tahun itu adalah pilar penting di lini tengah The Blades. Kehadirannya sama krusialnya seperti Jack O’Connell. Statistik dari Opta menunjukkan bahwa ada penurunan intensitas tekanan yang dilakukan para pemain Sheffield United musim ini.

Opta mencatat, Sheffield United jadi tim dengan nilai passed allowed per defensive action (PPDA) terendah kedua di Premier League musim ini. Artinya, para pemain The Blades memberi lawan lebih banyak waktu dan ruang untuk membangun serangan. Hal ini pula yang menyebabkan build-up serangan mereka sangat buruk musim ini.

Lini Depan yang Makin Tumpul

Musim ini performa lini serang Sheffield United mengalami penurunan. The Blades memang bukan tim yang bermain menyerang. Wajar bila jumlah gol mereka minim. Musim lalu saja, Billy Sharp dkk cuma mencetak 39 gol di 38 laga.

Namun, di musim ini, dari 32 laga yang sudah dijalani, para pemain Sheffield United baru menghasilkan 17 gol. Jumlah yang sangat minim dibanding tim Liga Primer lainnya. Dari jumlah tersebut, hanya 9 gol yang berasal dari situasi open play, sisanya berasal dari situasi bola mati, eksekusi penalti, dan gol bunuh diri lawan.

Lagi-lagi, salah satu faktor penurunan performa ini disebabkan oleh cedera. Top skor mereka musim lalu, Lys Mousset baru bermain sebanyak 10 laga akibat berbagai cedera yang ia alami. Moussett bukan satu-satunya penyerang yang mengalami cedera. Kapten mereka, Billy Sharp dan Ollie McBurnie saat ini juga masih absen karena cedera.

Namun, terlepas badai cedera yang mereka alami, pada kenyataannya performa lini serang Sheffield United memang sangat buruk. The Blades jadi tim yang paling sering kehilangan bola di area lawan. Selain itu, konversi peluang para pemain Sheffield United juga buruk.

Dari catatan transfermarkt, Sheffield United menjadi tim dengan conversion rate terendah. Dari 375 tembakan yang mereka lancarkan, hanya 17 yang berbuah gol. Artinya, conversion rate mereka hanya di angka 4,5% saja.

Sejatinya, perubahan sangat diharapkan para pendukung The Blades pasca Chris Wilder memutuskan mundur setelah kalah 2-0 di kandang Southampton di pekan ke-28 kemarin. Sayangnya, Paul Heckingbottom yang ditunjuk sebagai manajer interim tetap tak memberi pengaruh signifikan. Dalam 4 laga terakhirnya, Sheffield United selalu kalah, hanya mencetak 1 gol dan kebobolan 11 gol.

Puncaknya, gol tunggal Willian Jose yang membuat Sheffield United tunduk 1-0 di kandang Wolverhampton sudah cukup untuk mengantarkan The Blades kembali ke divisi championship.

Selain berbagai faktor teknis tadi, Sheffield United juga punya isu non teknis. Jauh sebelum Sheffield United dipastikan terdegradasi, kisruh sempat terjadi di balik layar. Kekalahan bukanlah satu-satunya sebab Chris Wilder mundur. Sebelumnya, bahkan ia sudah 2 kali mengajukan pengunduran diri. Namun, dua kali pula ditolak sang pemilik, Pangeran Abdullah.

Saat Chris Wilder masih menjabat sebagai manajer tim, ia juga disebut sempat terlibat friksi dengan sang pemilik asal Arab Saudi itu. Wilder disebut frustasi pasca permintaannya untuk mendorong renovasi tempat latihan dan akademi tim tak dipenuhi sang pemilik.

Pangeran Abdullah justru lebih memilih membelanjakan uangnya untuk membeli pemain baru yang kini terbukti kurang berkontribusi. Dua pembelian termahal Sheffield United musim ini adalah Aaron Ramsdale dan Rhian Brewster.

Ramsdale dibeli dari Bournemouth dengan harga 20,5 juta euro. Selain jadi pesakitan di bawah mistar, terdegradasi bersama Sheffield United membuatnya merasakan pahitnya turun kasta dalam dua musim terakhir.

Sementara itu, Rhian Brewster didatangkan dari Liverpool dengan harga 26 juta euro. Striker 20 tahun itu dibeli dengan tujuan mempertajam lini serang The Blades. Ironisnya, meski telah mencatat 23 penampilan di Premier League musim ini, Brewster belum sekalipun mencetak gol maupun asis.

Sheffield United Layak Meniru Norwich City

Kini, tak ada yang dapat dilakukan Sheffield United selain menerima pahitnya degradasi dan bersiap sedini mungkin agar dapat langsung promosi di musim depan. Mereka bisa meniru langkah Norwich City.

Langsung terdegradasi pasca promosi di Liga Primer musim lalu, Norwich City kembali memastikan diri bakal mentas di Premier League musim depan. Alih-alih merombak tim laiknya tim yang turun kasta, Norwich mempertahankan pilar-pilar mereka, termasuk tetap mempercayakan Daniel Farke sebagai manajer.

Apa yang Norwich perlihatkan dapat ditiru oleh Sheffield United. Beberapa pemain pentingnya seperti O’Connell, Egan, Berge, dan McGoldrick layak untuk dipertahankan. Dengan tetap menjaga keutuhan skuad inti dan menambal beberapa kelemahan, bukan tak mungkin Sheffield United dapat langsung kembali ke Premier League musim depan.

Lekas kembali The Blades!

***

Sumber Referensi: Sky Sports 1, Sky Sports 2, Goal, Detik

Skandal Konyol di Kualifikasi Piala Dunia, Ketika Sebuah Tim Main Tanpa Lawan

0

Dalam sejarah kualifikasi Piala Dunia, ada sebuah momen menarik yang terjadi. Peristiwa itu terjadi pada bulan Oktober 1996, di mana saat itu ada sebuah tim nasional yang harus bermain tanpa lawan.

Peristiwa bersejarah yang membuat geger publik sepak bola pada masanya itu, terjadi dalam ajang kualifikasi Piala Dunia 1998, saat pertandingan timnas Skotlandia melawan Estonia. Dan percaya atau tidak, skandal konyol itu terjadi hanya karena masalah lampu stadion.

Cerita ini dimulai pada 8 Oktober 1996, tepat sehari sebelum laga. Malam itu, Skotlandia tengah menjalani sesi latihan resmi di Kadrioru Stadium, Tallinn, markas Estonia.

Selama menjalani sesi latihan, Skotlandia merasa ada hal yang aneh. Mereka merasa jika sorot lampu stadion terlalu redup. Selain itu, mereka juga merasa jika lapangan stadion tidak cukup baik untuk menggelar sebuah pertandingan. Namun, dari dua masalah tersebut, yang paling dipermasalahkan oleh Skotlandia adalah lampu stadion. 

Karena tidak ingin bertanding di tempat yang remang-remang, Timnas Skotlandia, melalui asosiasi sepak bolanya, mengajukan surat keberatan pada FIFA.

Dalam surat itu, Skotlandia meminta agar pertandingan saat melawan Estonia, yang seharusnya digelar pada pukul 7 malam, dimajukan ke pukul 3 sore. 

Sebelum mengabulkan keinginan dari Skotlandia, FIFA mengirimkan salah satu perwakilannya ke lokasi untuk mengecek kondisi stadion. FIFA mengajak kedua federasi untuk berdiskusi memecahkan masalah tersebut. Hasilnya, setelah menggelar rapat yang alot hingga larut malam, FIFA memutuskan bahwa pertandingan bisa dimainkan pada jam 3 sore, tidak lagi seperti jadwal semula jam 7 malam.

Keputusan itu dibuat karena pihak Federasi Sepak Bola Estonia (EJL) tidak mampu meyakinkan FIFA soal perbaikan kapasitas sinar lampu sorot stadion.

Namun tetap saja, keputusan FIFA tidak bisa diterima oleh kubu tuan rumah. Estonia merasa diperlakukan tidak adil. Estonia menolak keputusan tersebut karena beberapa alasan, yang sebenarnya juga masuk akal.

Alasan Kenapa Estonia Menolak Pertandingan Melawan Skotlandia

Alasan pertama adalah soal hari, yang mana itu adalah hari rabu dimana penggemar mereka banyak yang bekerja. Sehingga takut tak mendapat dukungan suporter. 

Alasan kedua, markas pelatihan mereka di Kethna berjarak lebih dari 60 km dari Tallinn.

Alasan terakhir, dan yang paling penting, faktor ekonomi.  Estonia saat itu sudah melakukan kesepakatan dengan BBC Sport Skotlandia, untuk menyiarkan pertandingan malam hari. Atas kesepakatan itu, Estonia akan dibayar sebesar 50 ribu pounds.

Dan jika pergeseran jadwal itu tetap dilanjutkan, maka siaran akan dilakukan siang hari di Skotlandia, karena ada perbedaan waktu 2 jam antara Glasgow dengan Tallinn. Bisa dipastikan, siaran pertandingan itu akan sepi peminat karena di jam-jam tersebut kebanyakan orang sedang bekerja.

Namun, meski begitu, FIFA tetap dengan keputusannya.

Ketika Hari Pertandingan Tiba

Estonia yang saat itu sangat kecewa dengan keputusan perubahan jadwal dari FIFA yang dinilai sangat mendadak, menunjukkan kekecewaannya dengan tidak hadir pada hari H pertandingan. Saat itu, hanya ada tim Skotlandia yang berada di stadion. 

Suasana stadion tampak sepi. Selain timnas Estonia, petugas keamanan, kru televisi dan suporter tuan rumah juga tak menunjukkan keberadaannya. Yang ada hanya wartawan, ofisial FIFA, wasit, penjaga stadion, dan satpam serta fans Skotlandia yang dikabarkan berjumlah 1000 orang.

Kubu Skotlandia awalnya sempat berpikir tim lawan sengaja datang terlambat sebagai bentuk protes. Tapi setelah ditunggu beberapa menit, tidak ada tanda-tanda tim Estonia bakal muncul. 

Wasit akhirnya memutuskan kemenangan Walk Out (WO) untuk Skotlandia. Wasit meminta para pemain Skotlandia masuk lapangan, untuk melakukan kick-off, kemudian menembak bola ke gawang yang kosong. 

Menurut sejumlah kabar, tim Skotlandia yang bertanding tanpa lawan itu berada di atas lapangan selama kurang dari 5 detik. Sebelum wasit meniup peluit panjang, para suporter pun berteriak “Satu tim di Tallinn, cuma ada satu tim di Tallinn”. Usai laga bubaran, para suporter pun main bola di lapangan.

Kubu Estonia sendiri baru datang ke stadion pukul 18.00 dan sudah tidak ada orang satupun. Merasa sangat konyol, mereka pun akhirnya memilih untuk latihan sebagai antisipasi jika tim Skotlandia kembali lagi ke stadion.

“Kami pikir mungkin Skotlandia akan kembali, karena itu sangat aneh. Tapi, kami telah melihat di berita bahwa Skotlandia datang ke stadion yang kosong dan penggemar Skotlandia telah menyerbu lapangan. Jelas, kami ingin bermain. Jika saya tidak salah, ada beberapa pemain Skotlandia yang cedera hari itu. Kami merasa seperti memiliki kesempatan menang,” ujar kiper Estonia kala itu, Mart Poom.

Setelah kejadian tersebut, federasi dari kedua negara terlibat perdebatan sengit di FIFA. Skotlandia mengharapkan kemenangan WO 3-0, sementara Estonia tetap bersikukuh bahwa perubahan jadwal yang mendadak, membuat masalah teknis tidak akan bisa diselesaikan dalam waktu singkat.

Masalah itu akhirnya dapat diatasi ketika Lennart Johansson, presiden UEFA saat itu, mengambil keputusan final. Pria asal Swedia itu menyarankan untuk melakukan pertandingan ulang di tempat netral, 4 bulan berselang, di Stade Louis II, Monaco.

Hasilnya, kedua tim bermain sama kuat sampai selesai dan skor kacamata menutup skandal “One Team in Tallinn”. Skotlandia akhirnya meraih satu tiket ke Piala Dunia 1998 dari grup tersebut bersama Austria berkat koleksi 23 poin dalam 10 partai.

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=J04sPaBAIs0[/embedyt]

Momen Berbuka Puasa Para Pemain Sepakbola Di Laga Penting

Seluruh umat Muslim di seluruh dunia kini telah menyambut gembira bulan Ramadhan. Bulan penuh berkah dan ampunan ini juga banyak disambut oleh pesepakbola dunia yang beragama Islam. Karena menjadi hal yang tidak sama dengan hari-hari yang lain, terjadi banyak kejadian unik ketika seorang pemain Muslim tengah melakukan suatu pertandingan.

Salah satu hal yang tak jarang kita lihat adalah ketika para pemain berbuka puasa ditengah-tengah pertandingan yang mereka lakoni. Seperti baru-baru ini yang terjadi, ada momen unik di laga antara GZT Giresunspor melawan Ankara Keciorengucu, divisi dua Turki.

Ketika waktu sudah memasuki berbuka, terlihat pertandingan tersebut distop karena ada seorang pemain yang terkena cedera. Saat itu juga, tampak banyak pemain yang mengambil kesempatan untuk berbuka puasa. Sebagian besar pemain tersebut hanya minum sebotol air dan makan makanan ringan secukupnya.

Momen ini diunggah langsung oleh akun media sosial Ankara Keciorengucu. Diperlihatkan bahwa pemain berjersey merah tampak menikmati sajian berbuka mereka. Sementara itu, di bawah mistar tampak juga seorang kiper yang baru saja melepas dahaga melalui sebuah minuman yang diteguk.

Ternyata ada momen lainnya juga yang banyak menarik perhatian para pecinta bola di seluruh dunia. Ada beberapa pemain yang tampak berbuka puasa di pertandingan-pertandingan penting sekalipun.

Penasaran seperti apa? Simak ulasannya berikut ini.

Para Pemain Tunisia

Pada tahun 2018 lalu, di laga antara Tunisia melawan Turki di Stadion Geneve, Swiss, kiper Tunisia bernama Mouez Hassen sukses menyita perhatian khalayak.

Di laga itu, sang penjaga gawang dianggap berpura-pura cedera demi mempersilahkan rekan setimnya untuk berbuka puasa. Tepat pada menit ke 48, Hassen tergeletak di gawangnya usai berduel dengan bek Turki, Kaay Ayhan, saat dirinya mencoba menghalau tendangan bebas lawan.

Sebetulnya dia memiliki kesempatan untuk langsung bangkit, namun hal tersebut diurungkan olehnya. Sang kiper terjatuh di depan gawang dan lantas mengundang perhatian wasit. Tidak lama kemudian, sejumlah tim medis turut mengecek kondisi Hassen. Di momen itulah, ketika pertandingan terhenti, para pemain Tunisia justru banyak yang berlarian ke pinggir lapangan untuk berbuka puasa.

Disebutkan bahwa para pemain tersebut tampak meminum air dan memakan kurma. Beberapa wartawan pun membenarkan anggapan bahwa Hassen berpura-pura cedera. Pasalnya, ketika tim medis menandatanganinya, waktu berbuka puasa juga telah tiba. Bahkan ada yang menyebut bila Tunisia memang sudah mempersiapkan cara tersebut agar mereka mudah berbuka puasa.

Ternyata, cara ini juga sempat dilakukan oleh Hassen sebelumnya. Di laga melawan Portugal, tepat di menit ke 58, sang kiper juga berpura-pura cedera saat timnya masih tertinggal 1-2. Setelah seluruh tim berbuka puasa, Tunisia berhasil tampil lebih baik dan mampu menyamakan kedudukan menjadi 2-2 sampai peluit panjang dibunyikan.

Sumber: cnn

Mohamed Salah

Mohamed Salah menjadi salah satu pesepakbola terbaik milik Liverpool saat ini. Bintang yang berasal dari Afrika tersebut juga diketahui beragama Islam. Maka, tidak heran bila dirinya pernah dihadapkan dengan momen berpuasa dalam sebuah pertandingan.

Tak tanggung-tanggung, pada laga final Liga Champions Eropa melawan Tottenham Hotspurs beberapa tahun lalu, Mo Salah dikabarkan tetap menjalankan ibadah puasa. Menjalani laga final di Wanda Metropolitano, Mo Salah harus menjalani ibadah puasa selama kurang lebih 16-17 jam. Jadi meski pertandingan dilakukan pada jam 21.00 waktu setempat, mereka harus menunggu sekitar 44 menit lagi untuk berbuka puasa.

Momen berbuka puasa untuk sang pemain itupun hadir pada penghujung babak pertama. Ketika pertandingan berhenti sejenak, Mo Salah terlihat meminum air dari botol. Ia mengambil botol berisi air dari official Tottenham Hotspur saat Jan Vertonghen sedang menjalani perawatan.

Uniknya, pemain The Lilywhites, Moussa Sissoko juga terlihat berbuka puasa setelah menerima minuman dari Salah.

Pelatih Liverpool, Jurgen Klopp, sendiri memang tidak melarang para pemainnya untuk melakukan ibadah puasa. Dia begitu menghormati keputusan para pemain selama mereka mampu menjaga profesionalitas.

“Tak masalah sama sekali dengan para pemain yang menjalankan puasa karena aku menghormati agama mereka,” papar Klopp

Pertandingan itu sendiri dimenangkan oleh Liverpool dengan skor 2-0, sekaligus memberi gelar Liga Champions ke enam bagi klub asal Inggris tersebut.

Sumber: bola bisnis

Noussair Mazraoui dan Hakim Ziyech

Masih di laga Liga Champions Eropa, kali ini, dua pemain Ajax Amsterdam Noussair Mazraoui dan Hakim Ziyech juga melakukan hal yang sama dengan Mo Salah. Di laga yang tergolong penting tersebut, dua pemain itu terlihat menyempatkan diri untuk berbuka puasa di tengah pertandingan yang berlangsung.

Di fase semifinal Liga Champions Eropa melawan Tottenham, Noussair Mazraoui dan Hakim Ziyech berada dalam kondisi berpuasa. Kemudian, tepat pada menit ke 22, kedua pemain tersebut terlihat membatalkan puasa.

Kedua pemain itu terlihat berbuka puasa dengan sebuah gel energi.

Hampir sama dengan Spanyol, waktu berbuka puasa di Belanda juga terjadi pada lebih dari jam sembilan malam, atau pukul 21.22.

Sebelum pertandingan, baik Ziyech maupun Mazraoui memang sudah berkomitmen untuk tetap menjalankan ibadah puasa.

“Aku akan berpuasa,”

“Kami bermain pukul 21.00 dan aku bisa minum setelah pukul 9.15. Kalau bermain, aku akan melipir ke pinggir lapangan untuk minum sedikit,” kata Mazraoui.

Sayangnya, pertandingan yang dilakoni ketika itu memunculkan kekecewaan setelah mereka harus kalah dari Spurs dan tersingkir dari perburuan gelar Liga Champions Eropa.

Sumber: Bolasport

Rais M`Bohli

Piala Dunia 2014 yang dihelat di Brasil bertepatan dengan momen Bulan Ramadhan. Praktis sejumlah pemain Muslim yang turut tampil di ajang tersebut pun menjadi sorotan.

Adalah timnas Aljazair, yang ketika itu para pemainnya kebanyakan beragama Islam, terlihat tengah menjalani aktivitas berbuka puasa dalam sebuah pertandingan. Di laga melawan Jerman dalam babak 16 besar, pelatih Vahid Halilhodžić mengatakan bila para anak asuhnya tetap menjalani ibadah puasa.

Hal itu pun memang benar adanya setelah kiper Rais M’Bolhi tampak menempatkan sekantong makanan ringan di sebelah gawangnya. Di akhir babak pertama, setelah matahari mulai terbenam, Rais terlihat mengambil kantung makanan yang diperkirakan berisi kurma dan langsung memakannya sembari keluar lapangan.

Meski menjalankan ibadah puasa, Rais tetap tampil maksimal dalam laga itu. Bahkan, dia turut membantu Aljazair dalam memberi perlawanan ketat bagi Jerman. Buktinya, dia mampu menjaga gawangnya tetap perawan selama 90 menit lawannya. Jerman baru bisa mencetak dua gol di babak tambahan, untuk kemudian dibalas satu gol oleh Aljazair.

Meski kalah, permainan Aljazair ketika itu berhasil tuai banyak pujian.

Sumber: Liputan6

 

Terdegradasi, Ada Apa Dengan Schalke 04?

0

Schalke jadi tim pertama yang dipastikan terdegradasi dari Bundesliga musim 2020/2021. Kepastian tersebut didapat pasca tim berjuluk The Royal Blues itu menelan kekalahan 1-0 dari Arminia Bielefeld di pekan ke-30 Bundesliga.

Kekalahan dari Arminia membuat Schalke makin tenggelam di dasar klasemen. Menghuni peringkat 18, mereka baru mengumpulkan 13 poin dari 30 laga yang sudah dijalani.

Dengan sisa 4 pertandingan, poin maksimal yang bisa Schalke kumpulkan cuma 25 poin. Sayangnya, total poin tersebut tetap tak mampu mengungguli jumlah poin tim di peringkat 16, batas aman playoff relegasi. Dengan begitu, Schalke sudah tak terselamatkan dari degradasi.

Ini merupakan kali pertama Schalke turun kasta setelah bertahan selama 30 tahun di Bundesliga. Sebuah kemunduran prestasi yang sangat cepat dari klub yang bermarkas di Veltins Arena itu.

Schalke adalah pemilik 7 trofi Bundesliga, 5 trofi DFB-Pokal, dan 1 trofi DFL-Supercup. Selain itu, mereka merupakan juara Piala UEFA 1997 dan semifinalis Liga Champions 2011.

Namun, dalam kurun waktu 2 tahun terakhir, performa Schalke merosot drastis. Pasca finish sebagai runner-up di musim 2017/2018, prestasi Schalke di 2 musim berikutnya justru mengalami kemunduran.

Finish di posisi 14 di musim berikutnya, The Royal Blues mengakhiri musim 2020 kemarin di posisi 12. Padahal, mereka sempat bersaing di zona Eropa. Namun, semenjak awal tahun 2020 hingga pandemi Covid-19 mulai merebak, performa Schalke justru makin memprihatinkan.

Sepanjang tahun 2020 kemarin, Schalke cuma menang sekali di Bundesliga. Kemenangan 2-0 atas Borussia Monchengladbach pada 17 Januari jadi satu-satunya kemenangan Schalke di tahun 2020. Setelah itu, The Royal Blues terus gagal meraih kemenangan dan baru mencatat kemenangan lagi pada 9 Januari lalu di pekan ke-15 Bundesliga musim ini.

Sepanjang tahun 2020, Schalke mencatat 30 laga tanpa kemenangan di Bundesliga. Rekor tersebut nyaris menyamai catatan 31 laga tanpa kemenangan Tasmania Berlin di musim 1965/1966. Kemenangan di pekan ke-15 itu sekaligus jadi kemenangan pertama Schalke musim ini.

The Royal Blues butuh 13 pekan untuk mencatat kemenangan keduanya. 11 April lalu, kemenangan kandang 1-0 atas Augsburg jadi kemenangan kedua Schalke di Bundesliga musim ini. Artinya, hingga pekan ke-30 saja, Schalke baru menang 2 kali, sisanya berakhir dengan 21 kekalahan dan 7 hasil imbang.

Performa pemain Schalke secara individu juga buruk. Schalke jadi lumbung gol tim lain. Meski berulang kali merotasi 3 kipernya, Schalke sudah kebobolan 76 gol sepanjang musim ini. Setali tiga uang, performa barisan depan mereka tak bisa diharapkan. Schalke cuma mampu mencetak 18 gol dari 30 laga. Matthew Hoppe dan Benito Raman yang jadi top skor klub, masing-masing baru mencetak 5 gol saja.

Lalu, apa penyebab dari buruknya performa Schalke hingga akhirnya terdegradasi?

Salah satu faktor teknis yang jadi biang kerok kegagalan Schalke musim ini adalah keputusan klub dalam memilih pelatih. Musim ini, The Royal Blues jadi tim yang paling banyak melakukan pergantian pelatih.

Tercatat, Schalke sudah ditangani 5 pelatih di musim ini. Sayangnya, kelima pelatih tersebut tak cukup mumpuni, bahkan tergolong medioker. David Wagner, Manuel Baum, Huub Stevens, Christian Gross, dan Dimitrios Grammozis adalah daftar pelatih Schalke musim ini.

Dari daftar tersebut, cuma Huub Stevens dan Christian Gross yang pernah menukangi klub besar dan juara. Namun, era keduanya sudah lama berakhir. Lisensi kepelatihan Huub Stevens bahkan sudah kedaluwarsa per 1 Januari kemarin, sementara Gross sudah lama tak menangani tim papan atas Eropa.

Sementara itu, Dimitrios Grammozis yang ditunjuk sebagai pelatih Schalke sejak 2 Maret lalu merupakan pelatih asal Yunani yang baru dipecat Darmstadt, klub divisi 2 Jerman pada bulan Februari.

Selain fakta pelatihnya yang kurang kompeten, Schalke juga terkesan gampang main pecat. Dampak gonta-ganti pelatih itu membuat formasi, taktik, dan starting eleven Schalke selalu berganti tiap pelatih baru datang. Alhasil, pemain harus selalu membuat penyesuaian baru di tiap bulannya.

Akan tetapi, penyebab kegagalan Schalke tak cuma soal pelatih saja. Faktor terkuat yang membuat Schalke sulit menggaet pelatih bagus adalah fakta bahwa klub ini sedang mengalami krisis finansial akut. The Royal Blues sedang diambang kehancuran ekonomi.

Krisis Finansial dan Moral dalam Tubuh Schalke

Pandemi Covid-19 yang datang di bulan Maret tahun lalu jadi pemicu terbesarnya. Schalke terindikasi jadi salah satu tim papan atas Jerman yang terancam bangkrut. Pendapatan mereka turun drastis. Selain pendapatan tiket yang jelas menurun, pendapatan dari hak siar TV dan penjualan produk komersial juga ikut turun.

Dalam laporan audit yang dikeluarkan Deloitte, tahun lalu saja pendapatan Schalke turun hingga 31% menyusul performa mereka yang buruk dan kegagalannya lolos ke kompetisi Eropa. Di samping itu, Schlake juga punya beban utang nyaris 200 juta euro atau sekitar 3,5 triliun rupiah. Kemungkinan besar, angka tersebut juga sudah bertambah saat ini.

Kondisi finansial yang memburuk itu pula yang jadi penyebab Schalke tak punya banyak pilihan di bursa transfer. Beberapa nama dilego yang untuk mendapat pemasukan, termasuk Weston McKennie yang dijual ke Juventus dan Ozan Kabak yang menuju Liverpool. Schalke tak mampu berbuat banyak di 2 jendela transfer. The Royal Blues hanya sanggup membelanjakan 2 juta euro untuk menebus 8 pemain baru. Itupun kebanyakan adalah pemain pinjaman dan habis kontrak.

Bagaimana tidak, musim ini Schalke jadi tim Bundesliga pertama yang menerapkan salary cap atau pembatasan gaji. The Royal Blues tak akan menggaji pemain lama dan pemain barunya lebih dari 2,5 juta euro.

Oleh karena itu, demi memperkuat tim, Schalke lebih banyak mempromosikan pemain akademi. Mathhew Hoppe, top skor sementara Schalke musim ini adalah striker 20 tahun asal Amerika Serikat yang baru dipromosikan ke tim utama pada Januari lalu.

Performa para lulusan akademi Schalke di tim utama justru lebih baik ketimbang 4 pemain senior yang datang musim ini. Kedatangan Sead Kolasinac, Skhodran Mustafi, Vedad Ibisevic, dan Klaas-Jan Huntelaar tak memberi kontribusi berarti kepada Schalke. Khusus Kolasinac dan Mustafi yang didatangkan dari Arsenal, keduanya kini justru dicap sebagai biang kerok kegagalan tim oleh pendukung Schalke.

Kekisruhan dalam tubuh Schalke tak cuma terjadi di atas lapangan saja, tapi juga terjadi meja manajemen dan direksi klub. Dimulai dari Clemens Tonnies yang dipaksa mundur pada Juni 2020 dari jabatannya sebagai ketua sekaligus dewan pengawas klub pasca terjadi wabah corona bersar-besaran di pabrik yang ia kelola.

Kemudian, pada bulan November giliran Michael Reschke yang dipecat dari kursi direktur teknik pasca rentetan laga tanpa kemenangan. Tak lama setelah itu, dua pemain Schalke diskors oleh direktur olahraga, Jochen Schneider.

Nabil Bentaleb dan Amine Harit diskors dalam batas waktu yang tidak ditentukan. Keduanya mendapat kritik pedas dan dianggap gagal menunjukkan penampilan terbaiknya. Di samping itu, direktur olahraga Schalke juga memecat Vedad Ibisevic.

Ibisevic yang baru datang di bulan September dipecat sebelum tahun baru setelah sebelumnya sempat terlibat perkelahian dengan asisten pelatih pada sebuah sesi latihan. Lalu, di akhir bulan Februari kemarin, giliran sang direktur olahraga, Jochen Schneider yang dibebastugaskan menyusul kekalahan memalukan dari Dortmund dan Stuttgart.

Di pekan ke-22, Schalke kalah 4-0 di kandangnya sendiri dari sang rival abadi, Borussia Dortmund. Sepekan kemudian, mereka kalah 5-1 di kandang Stuttgart. Buntut dari kekalahan tersebut juga membuat Sascha Riether dan Werner Leuthard dipecat dari departemen yang bertugas menganalisis performa pemain.

Hubungan Schalke dengan para pendukungnya juga sedang buruk. Ketegangan terjadi pasca klub membuat keputusan kontroversial. Seluruh tiket musiman di musim lalu tak dapat diuangkan kembali walau para pendukungnya sudah pasti tak diperbolehkan menonton langsung di stadion.

Ultras Gelsenkirchen jadi yang paling vokal mengritik. Apalagi setelah manajemen Schalke kedapatan memotong gaji para staffnya cukup besar. Dalam sebuah pernyataannya, Ultras Gelsenkirchen mengkritik dewan pengawas, dewan kehormatan, dan manajemen keuangan yang dianggap telah mengabaikan nilai-nilai klub.

“Seluruh musim ini telah menjadi deklarasi kebangkrutan moral. Klub dengan cepat kehilangan kepercayaan dan identitas … Kami tidak akan membiarkan klub diambil dari kami dan dihancurkan.” tulis para Ultras. ( dikutip dari dw.com/18.12.2020 )

Terbaru, pasca kekalahan 0-1 dari Arminia Bielefeld yang mengakibatkan The Royal Blues terdegradasi dari Bundesliga, para fans tak mampu lagi menahan kemarahannya. Menurut keterangan polisi setempat, sebanyak 500-600 fans telah menunggu kedatangan skuad Schalke di sekitar Veltins Arena. Begitu bus datang, skuad Schalke langsung mendapat ejekan verbal dan dilempari telur.

Tak cuma itu, dari rekaman video amatir, para pemain dan staff yang baru pulang dari kandang Arminia juga diserang fansnya sendiri usai keluar dari bus. Mereka dikejar, bahkan ada yang sampai ditendang dan dipukuli.

“Kami dilempari dengan telur, petasan, dan situasi benar-benar panas. Para penggemar menyerang kami. Kami hanya lari. Itu ketakutan, murni ketakutan! Saya hanya lari. Beberapa dari kami ditendang dan ditinju. Saya kaget, dan Saya tidak tahu bagaimana kami akan bermain di pertandingan berikutnya. Saya juga tidak mengerti mengapa kami dihadapkan dengan para penggemar seperti ini sejak awal.” kata salah seorang pemain Schalke yang enggan disebut namanya. ( dikutip dari espn.com/22.4.2021 )

Kini kasus tersebut sedang ditangi kepolisian setempat. Meski Schalke sudah menyatakan memahami kekecawan fans dan menyayangkan tindakan brutal itu, yang pasti kini mereka tengah malu luar biasa.

Terakhir kali Schalke turun kasta ke divisi dua terjadi di musim 1987/88. Momen terdegradasinya The Royal Blues tak cuma disesalkan fansnya sendiri, tetapi juga dirayakan fans Dortmund yang bahagia melihat rival sekotanya itu menderita, terlihat dari video kembang api yang dinyalakan pendukung Borussia Dortmund. Semoga kejadian memalukan yang ditimpa Schalke tak terulang kembali. Kini, The Royal Blues punya PR besar untuk mengakhiri musim secara terhormat.

Terdegradasi bukanlah akhir bagi Schalke. Turun kasta bisa jadi momen krusial dalam sejarah Schalke untuk memperbaiki struktur manajemen, pemain, hingga keuangan tim yang kacau. The Royal Blues juga mesti memperbaiki hubungan dengan para fansnya. Lekas pulih Schalke! Dan lekas promosi kembali ke Bundesliga!

***

Sumber Referensi: Bulinews, PanditFootball, ESPN, DW 1, DW 2

Sisi Gelap Dibalik Menariknya Paras Ultras Di Italia

Sepakbola Italia, kita semua tahu, begitu kental akan sejarah. Di era 90 an khususnya, kompetisi ini menjadi tujuan bagi para pemain dunia. Mereka yang berstatus bintang banyak yang ingin tampil di Italia, karena memang dikenal ketat dan penuh hiburan.

Selain memiliki citra sebagai salah satu kompetisi paling indah nan bersejarah, Italia yang dikenal dengan kompetisi Serie A nya itu juga dikenal dengan kumpulan suporter hebatnya. Bicara tentang sepakbola memang kurang lengkap rasanya bila tak menyertakan kumpulan orang yang setia berdiri dan bernyanyi sepanjang 90 menit lamanya.

Di Italia sendiri, suporter tidak hanya menyoal tentang sekumpulan orang yang datang ke stadion kemudian mendukung tim yang dibelanya sepanjang 90 menit. Mereka punya banyak sekali lapisan dan punya beragam cerita untuk diungkap.

Sayangnya, meski dikenal sebagai salah satu negara dengan ajang sepakbola terbaik, Italia, melalui para suporternya, tak pernah lepas dari kalimat negatif dalam setiap paragraf yang tersaji di sebuah cerita sepakbola.

Para pendukung fanatik di Italia biasa disebut sebagai ultras. Ultras sendiri level nya masih lebih tinggi dari tifosi yang biasanya hanya berstatus sebagai pendukung ketika tim nya bertanding. Ultras memiliki makna yang lebih dalam, dimana setiap orang yang berada di dalamnya, cenderung lebih fanatik dan selalu tampil dengan gaya unik. Mereka tak segan membawa bendera besar, menghias tubuh, menggunakan suar, sampai membentuk sebuah koreografi yang akan selalu diingat oleh khalayak.

Dibalik itu, tindakan para ultras juga tak jarang dianggap terlalu ekstrim. Mereka tak segan melakukan kekerasan, pembunuhan, sampai melakukan hinaan bernada rasis terhadap para pemain sekalipun.

Ultras di Italia tak jauh beda dengan para hooligan di Inggris. Mereka selalu punya tempat pertempurannya sendiri. Keberadaan mereka diketahui mulai muncul pada era 60 an. Kemudian pada era 70 an, jumlah mereka makin berkembang, dari klub-klub besar sampai klub semenjana yang memang layak mendapat dukungan.

Ultras di Italia tak jarang memiliki hubungan dengan gerakan politik. Oleh sebab itu, tak sedikit pemain yang memiliki ideologi tertentu, sulit bergabung dengan klub yang menolak ideologi sang pemain. Hal itu terjadi karena mendapat penolakan dari para pendukung tim yang dibela.

Salah satu contohnya terjadi pada tahun 1992, ketika Lazio kedatangan pemain asal Belanda bernama Aron Winter, sebuah penolakan langsung digaungkan. Aron Winter yang merupakan pria keturunan Muslim sekaligus Yahudi, mendapat penolakan dalam bentuk grafiti yang bertuliskan, “Winter Raus”. Sebuah gema dari kata-kata “Juden Raus” dari Nazi.

Selain hal tersebut, seperti yang sudah dijelaskan, Ultras Italia juga lekat dengan berbagai kekerasan. Beberapa yang paling diingat adalah ketika ultras Genoa bernama Claudio Spagnolo ditusuk saat akan melakukan perjalanan ke stadion. Kemudian ada nama Vincenzo Paparelli dari Lazio yang tewas setelah kepalanya terkena tembakan. Yang tak kalah menghebohkan adalah ketika pada tahun 2004, sekelompok ultras Roma sampai menjadi penyebab dari batalnya sebuah pertandingan. Di laga derby melawan Lazio, muncul kabar bahwa ada seorang anak laki-laki yang terbunuh oleh polisi di luar stadion.

Dua ultras paling berbahaya di Italia itu lalu menuntut penyelenggara untuk menghentikan pertandingan sebagai bentuk protes kepada polisi. Francesco Totti yang dikelilingi para ultras itu lalu berbicara kepada pelatih untuk menghentikan pertandingan, karena bila tidak, bukan tak mungkin bila pemain akan menjadi korbannya.

Namun setelah pertandingan dihentikan, didapatkan sebuah fakta bahwa tidak ada anak kecil yang terbunuh. Ketika itu, memang ada anak kecil yang ditutupi dengan kain putih. Akan tetapi, hal itu bertujuan agar sang bocah tidak terkena gas air mata yang dikeluarkan polisi untuk menghentikan kericuhan di luar stadion.

Usai keributan itu, dilaporkan ada ratusan orang terluka dan setidaknya ada 13 orang yang ditangkap untuk dimintai keterangan.

Lalu pada tahun 2012, sempat terjadi sebuah insiden dimana para suporter Genoa meminta para pemain untuk menanggalkan baju mereka, usai kalah secara memalukan atas Siena dengan skor 0-4. Selain meminta para pemain untuk melepas baju, para ultras itu juga turut melempar kembang api ke dalam lapangan sebagai bentuk kekecewaan mendalam terhadap keterpurukan tim yang didukung.

Apa yang dilakukan para penggemar memang berdasar pada kecintaan mereka pada sebuah klub. Namun seringkali kecintaan mereka berujung pada sesuatu yang berbahaya. Tak jarang ada korban yang harus rela nyawanya melayang karena ulah berlebihan para suporter.

Di Italia, para suporter juga tidak hanya berandil pada tindak kekerasan, kerusuhan, sampai rasisme. Namun mereka juga turut melenggang masuk ke dalam koridor yang pada akhirnya berujung pada keuntungan pribadi.

Bisnis gelap yang biasa dilakukan para ultras Italia adalah penjualan tiket musiman. Sebelum diselenggarakannya sebuah pertandingan, ultras tertentu biasanya berkumpul dalam sebuah markas, dengan tujuan untuk mengumpulkan tiket dan dijual dengan harga yang tentunya lebih mahal.

Biasanya, ada beberapa ultras yang bertugas untuk berkeliling kota, demi mendapat kartu identitas dan juga paspor orang-orang yang sama sekali tidak tertarik dengan sepakbola. Kartu tersebut kemudian diduplikasi dan digunakan untuk membeli setumpuk tiket musiman dari klub yang didukungnya.

Diketahui, hasil dari bisnis gelap tersebut mampu memberi keuntungan sekitar 1 juta euro atau setara 17 miliar rupiah setiap tahunnya.

Salah satu orang ternama dari bisnis gelap ini adalah Raffaello Bucci. Pria yang ditemukan tewas di sebuah kolong jembatan ini merupakan orang yang begitu lihai dalam memainkan bisnis ini. Dia merupakan seorang penggemar berat Juventus. Dia tumbuh besar sebagai penggemar yang turut menjadi saksi dari kehebatan Platini, Baggio, Ravanelli, Vialli, sampai Del Piero. Baginya, Juventus adalah sebuah obsesi.

Sebagai seorang calo, dia memiliki fisik yang biasa-biasa saja. Tubuh yang tidak terlalu besar, rambut tak tertata, dan senyuman khas yang selalu terdapat makna dibaliknya.

Dia sudah lama menjalankan bisnis ini, sampai akhirnya ajal menjemput dengan penyelidikan polisi mengatakan kalau pria tersebut tewas karena bunuh diri.

Dalam menjalankan berbagai misi, para ultras tidak berjalan sendiri. Mereka bekerja sama dengan kelompok mafia yang memang sudah terkenal kemahirannya dalam mengelabui pihak berwajib.

“Di Italia, sepakbola telah lama menjadi zona bebas tanpa hukum. Di dalam stadion, penjahat dan preman memiliki yurisdiksi penuh atas siapapun,” tulis wartawan olahraga Maurizio Crosetti dalam koran La Repubblica.

Lebih jauh, hubungan antara ultras dan mafia ini sampai berujung pada pembelian pemain bintang hingga mendapatkan gelar juara. Semua pasti ingat ketika Diego Maradona hadir di Naples dengan sambutan luar biasa. Menurut kabar, para mafia meminta seluruh penggemar Napoli untuk mengumpulkan uang demi bisa mendatangkan sang superstar.

Tak hanya mampu mendatangkan sang bintang, Napoli yang memang dikenal memiliki mafia paling berpengaruh di Italia juga berhasil membawa klub berlogo huruf N merebut scudetto musim 1986/87 dan 1989/90.

Meski Maradona berhasil catatkan sejarah bagi Napoli, pemain asal Argentina itu juga menerima imbas buruk dari hubungan baiknya dengan para mafia disana. Maradona mulai mengenal narkotika hingga membuat karirnya hancur secara perlahan.

Beberapa pentolan ultras Italia yang diketahui punya hubungan spesial dengan para mafia adalah Giancarlo Lombardi dari AC Milan, Fabrizio Piscitelli dari Lazio, Loris Gancini dari Juventus, serta Caravita Franco dari Inter Milan.

Berbagai hal tersebut tampaknya akan selalu lekat dengan sepakbola Italia.

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=YDdIdDab3qs[/embedyt]

 

Sumber referensi: The Guardian, Sport Detik I, Ligalaga, Sport Detik II

Kontroversi European Super League: Ide Serakah Pemilik Klub-Klub Besar?

0

Sepak bola Eropa sekarang tengah bergejolak. Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah wacana adanya European Super League atau Liga Super Eropa, kompetisi baru yang ditentang banyak pihak. Kompetisi tersebut kabarnya, dianggap sebagai kompetisi tandingan Liga Champions.

Tepat pada 18 April 2021 lalu, sebanyak 12 tim mendeklarasikan diri sebagai pendiri kompetisi ‘Liga Super Eropa’. Menariknya, tim-tim yang mempopulerkan kompetisi adalah klub-klub besar di Eropa yang bergelimang prestasi. 

Tim Inggris yang dikabarkan sepakat mengikuti European Super League adalah Arsenal, Chelsea, Liverpool, Tottenham Hotspur, Manchester City, dan Manchester United. Adapun Atletico Madrid, Barcelona, dan Real Madrid, dikabarkan menjadi perwakilan Spanyol yang akan berpartisipasi. Tiga tim terakhir berasal dari Italia, yakni Juventus, AC Milan, dan Inter Milan. 

Presiden Real Madrid, Florentino Perez telah ditetapkan sebagai Ketua Pendiri Liga Super Eropa. Ia didampingi oleh Andrea Agnelli (pemilik Juventus) dan Joel Glazer (salah satu pemilik Manchester United) sebagai wakilnya. Musim perdana Liga Super Eropa rencananya akan digelar pada Agustus mendatang. 

Alasan Didirikannya Liga Super Eropa

Liga Super Eropa digagas klub elite karena ingin meningkatkan kualitas dan intensitas kompetisi Eropa. Selain itu, klub dan pemain top diharapkan bisa bersaing secara teratur. 

Selain itu, klub-klub besar Eropa merasa tidak puas dengan sistem pembagian pendapatan yang dilakukan UEFA.

Dilansir sportsnet, Florentino Perez, selaku ketua pendiri Liga Super Eropa, mengatakan bahwa kompetisi baru ini diciptakan untuk menyelamatkan sepak bola, bukan untuk memperkaya klub-klub besar.

Menurutnya, saat ini klub sepakbola sedang berada dalam situasi sangat sulit karena pandemi. Dan solusi untuk menyelamatkan kondisi finansial klub yang “hancur” adalah dengan menciptakan permainan yang lebih kompetitif dan menarik.

Perez juga mengatakan bahwa format Liga Champions yang diusulkan UEFA untuk 2024 tidak akan menghasilkan pemasukan yang cukup untuk menyelamatkan olahraga tersebut.

“Dengan pendapatan Liga Champions sekarang, semua klub akan mati. Yang besar, sedang dan kecil. Pada 2024, ketika format baru ini dimulai, semua klub akan lenyap,” kata Florentino Perez (via sportsnet)

Namun, dari pihak UEFA meyakini jika format Liga Champions untuk tahun 2024 sudah cukup baik, dimana mereka menjamin jika akan lebih banyak pertandingan dan kepastian pendapatan untuk klub-klub terbesar.

Kompetisi baru yang dipelopori oleh Barcelona dan Real Madrid ini, diperkirakan dapat menghasilkan keuntungan sebesar £ 3,1 miliar (54 triliun rupiah) untuk 15 anggota pertama. Nominal yang lebih besar dari yang dibagikan UEFA saat ini, yakni sekitar £ 3 miliar (52 triliun rupiah), dari hadiah uang dan hak siar pada klub-klub yang berpartisipasi dalam semua kompetisi Eropa setiap tahun. 

Dikutip dari The New York Times , sebanyak 3,5 miliar euro akan didistribusikan pada klub yang berpartisipasi pada ESL, yang diperkirakan setiap klub akan menerima 400 juta dollar Amerika Serikat atau Rp 5,8 triliun hanya dari partisipasi saja. Angka itu empat kali lebih banyak dari hadiah yang dibawa pulang oleh tim pemenang Liga Champions musim 2019-2020.

Uang tersebut ditujukan untuk membangun pondasi keuangan klub, baik untuk rencana infrastruktur maupun menutup kerugian akibat pandemi COVID-19. 

Perusahaan asal Amerika Serikat, JP Morgan, dikabarkan siap mengucurkan dana sebesar enam miliar dollar AS atau sekitar Rp 87 triliun agar Liga Super Eropa bisa berjalan.

Sejarah Liga Super Eropa

Sebenarnya, wacana mendirikan European Super League sudah ada sejak tahun 1998. Namun, rencana itu mati setelah UEFA melakukan ekspansi pada Liga Champions dan menyelesaikannya dengan Piala Winners untuk menenangkan klub-klub yang sedang mempertimbangkan akan membelot ke kompetisi ESL.

Lalu, pada 2009, wacana ESL kembali dimunculkan oleh Florentino Perez. Dengan alasan bahwa menit bermain para pemain masih kurang.

Pada 2016 wacana ini kembali muncul. Alih-alih menyetujuinya, UEFA justru memperluas Liga Champions dari 22 menjadi 26 tim, dengan memberikan tempat baru untuk liga-liga di Inggris, Italia, Spanyol dan Jerman.

Lalu, pada 2018, isu ESL kembali muncul. Dilaporkan oleh Football Leaks bahwa ada rencana rahasia pembentukan  klub kontinental baru mulai 2021.

Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 2020, wacana pendirian ESL kembali mencuat. Namun, ESL masih belum disetujui. Bahkan, FIFA dikabarkan justru mengajukan pengganti Liga Champions yang disebut Liga Utama Eropa. Yang melibatkan 18 tim dalam sistem round-robin dan diikuti play-off tanpa degradasi.

Bagaimana Format ESL?

Untuk format Liga Champions 2024, kini menjadi 36 tim setelah sebelumnya terdiri dari 32 tim. Tak hanya itu, format terbaru tersebut juga akan menerapkan penghapusan babak grup. Dengan setiap peserta akan memainkan sepuluh pertandingan melawan lima tim dengan lawan ditentukan oleh sistem pemeringkatan klub.

Delapan peringkat teratas akan maju secara otomatis ke babak 16 besar. Sedangkan, 16 lainnya akan berlaga dalam play-off untuk memperebutkan delapan tiket ke babak 16 besar. Selanjutnya, Liga Champions akan berjalan seperti biasa.

Sedangkan, untuk Liga Super Eropa sendiri, akan melibatkan 20 tim dalam sebuah format liga (kandang-tandang). Dengan 15 anggota tetap dan lima sisanya akan dirotasi tergantung performa.

Format ini akan dibagi menjadi dua grup yang masing-masing terdiri dari 10 klub.  Tiga tim teratas dari masing-masing grup nantinya akan lolos otomatis ke perempat final. Adapun dua slot perempat final lainnya akan diperebutkan oleh tim penghuni peringkat empat dan lima dari masing-masing grup. Lalu babak perempat final dan semifinal digelar dua leg seperti fase gugur di Liga Champions. Sementara final berlangsung satu kali di tempat netral.

Seperti Liga Champions, jadwal pertandingan Liga Super Eropa dikabarkan akan dimainkan setiap tengah pekan dan bisa berlanjut bersamaan dengan kompetisi domestik.

Kelebihan ESL bagi 15 anggota tetap adalah imun dari degradasi dan pendapatan klub yang stabil setiap tahun. 

Kontroversi ESL

Banyak yang menganggap jika kompetisi Liga Super Eropa akan menyebabkan keuntungan yang terlampau besar untuk klub top, dan membuat kerugian finansial yang tak sedikit pada klub-klub kecil.

Selain itu, penyatuan tim-tim elite Eropa dalam satu turnamen yang bersifat tertutup akan menutup lahirnya ‘persaingan sepakbola secara sehat’. Karena, tim-tim kecil tak punya kesempatan bersaing dengan tim terbaik, sementara tim terkuat akan menjadi semakin kuat dan kaya. Kompetisi yang ‘hanya mempertemukan tim besar’ saja sudah dianggap telah melanggar prinsip fair play itu sendiri.

Pihak Premier League, La Liga, UEFA, dan bahkan FIFA menentangnya.

Federasi sepakbola Eropa (UEFA) dalam pernyataan resminya mengirim ancaman keras kepada klub-klub yang nekat melanjutkan rencana itu. UEFA akan menindak tegas klub-klub yang ambil bagian dalam kompetisi ini. Klub-klub tersebut akan didenda dan tidak akan diizinkan mengikuti kompetisi resmi di tingkat domestik, Eropa, dan Internasional. Para pemain yang terlibat juga tidak akan diperbolehkan bermain untuk membela timnas negaranya.

Pada pernyataan resminya, UEFA juga berterima kasih kepada klub yang menolak terlibat dalam kelahiran Liga Super Eropa. Khususnya klub Perancis dan Jerman, yang menolak ikut serta,

“Kami berterima kasih kepada klub-klub di negara lain, terutama dari Prancis dan Jerman, yang telah menolak untuk menyetujui proyek ini. Kami menyerukan kepada semua pecinta sepak bola, fans, dan politisi, untuk bergabung dengan kami dalam menolak proyek semacam ini. Kepentingan pribadi segelintir orang ini telah berlangsung terlalu lama. Cukup sudah.​​”

Penolakan serupa juga dilakukan oleh FIFA. Lewat akun twitternya, Induk sepakbola tertinggi di dunia itu menggunakan cara yang lebih halus. Lembaga yang bermarkas di Swiss itu mengaku mendukung setiap upaya penggalangan solidaritas di sepak bola. Hanya saja, FIFA juga tidak setuju bila ada liga yang digulirkan tanpa persetujuan dari induk federasi.

“… FIFA ingin mengklarifikasi bahwa ia mendukung solidaritas dalam sepak bola dan model redistribusi yang adil yang dapat membantu mengembangkan sepak bola sebagai olahraga …,”

“… FIFA hanya dapat menyatakan ketidaksetujuannya kepada “liga yang memisahkan diri dari Eropa” di luar struktur sepak bola internasional …,” 

Bahkan, beberapa legenda sepakbola juga mengecam turnamen proyek 12 tim elite Eropa tersebut

Salah satunya, Gary Neville, eks bek MU dan Inggris, masuk dalam kelompok yang mengecam ESL. Dalam wawancaranya dengan Sky Sports, ia berkata,

“Saya adalah penggemar Manchester United dan saya telah melakukannya selama 40 tahun dalam hidup saya, tetapi saya benar-benar muak. Saya paling muak dengan Manchester United dan Liverpool. Liverpool, mereka berpura-pura ‘You’ll Never Walk Alone’, klub rakyat, klub penggemar. Manchester United, 100 tahun ditanggung oleh para pekerja di sini, dan mereka terlibat dalam liga tanpa persaingan, sehingga mereka tidak bisa terdegradasi? Itu benar-benar aib. “

Namun demikian, tiga hari pasca mendeklarasikan Liga Super Eropa, beberapa klub memilih mengundurkan diri. Man City jadi klub pertama yang memilih keluar dari Liga Super Eropa. Hal itu sudah dikonfirmasi melalui situs resmi klub. “Klub sepak bola Manchester City mengkonfirmasi telah secara resmi memberlakukan prosedur untuk mundur dari grup yang mengembangkan rencana European Super League,”.

Man City tidak mengungkapkan lebih lanjut alasan keputusan mereka mundur dari kompetisi yang pembentukannya disambut kritik deras dari masyarakat sepak bola serta ancaman sanksi dari otoritas sepak bola seperti FIFA dan UEFA. Namun ada kabar yang menyebutkan bahwa City mundur karena takut dicoret dari Liga Champions.

Setelah Man City mengumumkan mundur, lima klub pendiri lainnya dari Liga Inggris juga turut menyatakan batal ikut serta dalam Liga Super Eropa. Chelsea, Tottenham Hotspur, Arsenal, Liverpool, dan Manchester United hampir secara bersamaan memutuskan menarik diri dari ajang yang diumumkan pada akhir pekan lalu. Klub-klub ternama dari Inggris tersebut mempertimbangkan faktor protes suporter, penolakan pemerintah serta pemangku kepentingan lainnya.

Kini masih belum jelas kelanjutan kompetisi tersebut. Dengan hanya tersisa enam tim, mungkinkah Liga Super Eropa dapat terlaksana? atau justru klub-klub lainnya juga akan memilih mengundurkan diri. Patut kita nantikan.

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=IFjPnyHlJPA[/embedyt]

Sumber : Telegraph, sportsnet

Menggali Butiran Mutiara Di Akademi Dinamo Zagreb

Nama Dinamo Zagreb mungkin tidak setenar FC Barcelona atau sehebat Real Madrid. Mereka juga tak sekaya Manchester City atau bahkan memiliki ribuan sejarah seperti Manchester United. Namun, dibalik segala kekurangan yang dimiliki, klub yang mewakili wilayah Kroasia ini punya banyak sekali butiran mutiara untuk digali. Mereka punya ladang pemain berbakat, yang nantinya bakal mengisi skuad utama, atau mungkin dilego ke klub yang lebih besar, dengan harga yang tentunya besar pula.

Dinamo Zagreb sendiri merupakan klub terbaik di Kroasia. Sejak kompetisi Liga Kroasia dibentuk pada tahun 1992, mereka sudah memenangkan sebanyak 21 gelar yang tersedia. Itu merupakan prestasi yang jelas menakjubkan. Zagreb memang sudah menjadi klub yang memiliki cukup sejarah. Mereka lahir sekitar 109 tahun lalu, dengan nama awal adalah Gradjanski Zagreb.

Kemudian, klub berganti nama menjadi FD Dinamo, Croatia Zagreb, hingga kemudian bernama Dinamo Zagreb sampai saat ini.

Seperti yang sudah dijelaskan, klub tersebut punya sejarah sensasional di kancah sepakbola Kroasia. Selain merajai kompetisi Kroasia, mereka juga telah mengumpulkan sebanyak 15 Piala Kroasia. Tak sampai disitu saja, klub yang bermarkas di Stadion Maksimir juga masih menyandang status sebagai satu-satunya klub asal Kroasia yang mampu memenangkan kejuaraan Eropa. Itu terjadi pada musim 1966/67, ketika mereka berhasil mengalahkan Leeds United di ajang Inter-Cities Fairs Cup.

Meski belum mampu berbicara banyak di kompetisi Liga Champions Eropa, tetap saja, mereka merupakan tim yang sangat layak diwaspadai. Apalagi bila melihat kualitas dari setiap pemain yang dimiliki.

Tidak seperti Manchester City, Paris Saint Germain, atau bahkan Real Madrid, yang banyak mengambil pemain-pemain bintang di belahan bumi manapun, Dinamo Zagreb justru tumbuh menjadi klub sukses dari hasil akademi nya sendiri.

Bicara tentang akademi sepakbola terbaik yang tersebar di seluruh dunia, tentu mata kita akan tertuju pada klub seperti FC Barcelona, Ajax Amsterdam, atau mungkin Sporting Lisbon. Namun dibalik kemewahan akademi terbaik yang tersebar di seluruh dunia, nama Dinamo Zagreb merupakan ladang dari segala bakat yang siap melenggang ke panggung dunia.

Mereka mampu membangun kejayaan hanya dengan mengandalkan bakat muda yang memang sudah ditempa. Mereka tidak mengandalkan kekuatan finansial hanya untuk mendatangkan seorang pemain hebat. Kendati begitu, pemain yang dihasilkan juga tak kalah berkualitas. Mereka semua punya skil mumpuni serta mental yang siap diadu dengan jebolan akademi-akademi hebat lainnya.

Pada mulanya, akademi Dinamo Zagreb dibentuk pada tahun 1945. Pembentukan akademi klub bertepatan dengan era kebangkitan Zagreb yang sebelumnya sempat runtuh dengan nama Gradjanski.

Sebagai klub yang baru lahir kembali, mereka mengusung misi untuk membentuk bibit-bibit pemain muda yang tersebar di wilayah terdekat. Mereka mengerahkan seluruh waktu dan tenaga hanya untuk mencari pemain yang dianggap tepat untuk mengisi barisan skuad di tim utama.

Hasilnya, segala jerih payah dan keringat yang benar-benar diperas, berbuah kebahagiaan. Selama kurang lebih lima tahun, akademi klub yang dikomandoi oleh Mirko Kokotovic telah berhasil memenangkan tiga piala bergengsi, yaitu kompetisi junior di Kroasia, Yugoslavia dan kompetisi lokal Zagreb. Hal itu jelas menjadi penanda kebangkitan klub yang kini dilatih oleh Damir Krznar.

Sejak saat itu, mereka benar-benar fokus dengan pengembangan bakat muda. Akademi klub yang memiliki nama Hitrec-Kacian itu akhirnya menunjuk Branko Horvatek sebagai direktur utama. Mereka memulai sebuah perjalanan panjang yang hebat nan luar biasa, untuk membentuk sebuah akademi yang belum pernah ada di Kroasia sebelumnya.

Salah satu kunci keberhasilan dari hebatnya para pemain yang dimiliki akademi Dinamo Zagreb adalah, mereka memiliki pelatih-pelatih terbaik yang tersebar di seluruh Kroasia. Mereka menjadi tempat terbaik untuk para pelatih, yang ingin memiliki pemain-pemain terbaik pula. Dengan begitu, akademi ini sangatlah dihormati. Banyak anak-anak di Kroasia yang bermimpi untuk bisa menimba ilmu di akademi Dinamo Zagreb.

Tidak hanya menimba ilmu di sana saja, bila para pemain mampu mempersembahkan sebuah prestasi disana, maka itu akan menjadi sebuah kebanggaan yang tak ternilai harganya.

Di dalam akademi Dinamo Zagreb, setidaknya ada beberapa kelompok usia, mulai dari U-8 sampai dengan U-19, dimana pemain yang bertempat di level U-19 akan mengikuti kompetisi UEFA Youth League. Perlu diketahui bahwa akademi Dinamo Zagreb merupakan satu-satunya wakil asal Kroasia yang mengikuti kompetisi yang ditujukan untuk para pemain muda tersebut.

Meski belum pernah mencicipi manisnya trofi di kancah Eropa, akademi Dinamo Zagreb, melalui jenjang usia U-17 dan U-19, sudah mampu merajai kompetisi lokal. Setidaknya, mereka sudah tercatat sebagai juara liga dalam 15 edisi. Maka wajar bila pada medio 2000 an, akademi ini mulai dikenal dunia dan sedikit mendapat perhatian dari banyak pihak.

Bahkan pada tahun 2013, mereka masuk ke dalam daftar enam akademi terbaik di seluruh Eropa, bersama dengan nama-nama seperti Arsenal, Ajax Amsterdam, Bayern Munchen, Inter Milan dan Barcelona. Selain prestasi, munculnya bakat-bakat hebat dari akademi tersebut juga menjadi penilaian, mengapa mereka kayak masuk ke dalam jajaran akademi elit di benua biru.

Dalam menempa bakat-bakat muda yang nantinya akan tersebar di seluruh klub besar Eropa, akademi ini memiliki sistem pelatihan yang cukup menarik. Salah satu perwakilan klub membocorkan bila para pemain di akademi memiliki rutinitas seperti latihan dengan aturan, dan bermain-bermain secara sesuka hati.

Dalam hal ini, para pelatih akan membuka dua lapangan, dimana satu diantaranya akan digunakan oleh anak-anak bermain semau mereka.

Setelah menjalani proses latihan yang menyenangkan itu, para pemain akan digiring menuju sebuah ruangan, dimana mereka kemudian akan diajak untuk menganalisa sebuah pertandingan. Melalui proses ini, para pelatih berharap kalau para pemain memiliki kepekaan untuk menuangkan segala hal yang telah dilihat dalam sebuah praktik nyata.

Romeo Jozak, mantan Direktur Olahraga dan akademi Dinamo Zagreb, mengatakan kalau akademi ini hanya menghabiskan dana sekitar 1 juta euro per tahun untuk mengembangkan segala hal di klub. Berbeda dengan akademi lain, yang kabarnya sampai menghabiskan dana senilai 8 juta euro per tahun untuk memenuhi segala kebutuhan klub, termasuk gaji dan fasilitas lainnya.

“Banyak pujian yang harus diberikan kepada para pelatih. Tetapi kami juga telah menunjukkan perhatian yang baik untuk mengenali banyak bakat. Kami tidak boleh kehilangan pemain bertalenta,”

“Beberapa tahun yang lalu, akademi kami diakui sebagai salah satu dari enam akademi terbaik di Eropa, bersama dengan klub seperti Barcelona, ​​Inter, Arsenal dan Sporting. Kami bekerja dengan anggaran sekitar 1 juta euro per tahun, sementara klub lain menghabiskan hingga 8 juta euro untuk dibelanjakan. ” (via breaking the lines)

Sebagai bukti dari keberhasilan akademi Dinamo Zagreb, selain berhasil memenangi sejumlah gelar, adalah mereka benar-benar mampu menciptakan bakat yang tidak sembarangan. Beberapa alumni akademi tersebut, yang sampai sekarang masih dikenal dunia adalah, Dejan Lovren, Sime Vrsaljko, Mateo Kovacic, Marko Pjaca, Andrej Kramaric, dan tentunya sang peraih trofi Ballon D’or tahun 2018, Luka Modric.

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=d6e55-x-kgA[/embedyt]

 

Sumber referensi: gantigol, ceritabola, breakingthelines