Beranda blog Halaman 716

Liga Spanyol Butuh Regenerasi Wajah Baru Jika Tak Ingin Membosankan Seperti Liga Tetangga

Come and go, begitulah kehidupan, datang dan pergi merupakan bagian dari siklus yang tak bisa dihindari. Pun di dunia sepak bola, tidak ada yang abadi satu generasi akan berjalan selamanya, wajah baru pasti akan selalu dibutuhkan, sehebat apapun generasi terdahulu.

La Liga Spanyol sudah lebih dari sedekade ini menguasai jalannya kompetisi di Eropa, jika kita menilik kembali ke belakang, faktor utama mengapa jalannya kompetisi sepak bola Spanyol terlihat menarik adalah karena ada duel antar pemain terbaik di planet ini, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Nama terakhir sudah memutuskan hengkang sejak bertahun-tahun yang lalu, dan nama pertama juga kemungkinan dalam waktu dekat akan menyusul kepergian sang kompetitor dari Negeri Matador.

Keolengan yang disebabkan oleh kurangnya regenerasi bisa kita lihat dari beberapa laga besar yang tidak seseru jaman dahulu kala. Jaman dimana alien dan robot masih saling bersikutan untuk menunjukkan siapa yang terbaik. El Clasico, duel tertinggi sepanjang sejarah sepak bola Spanyol, yang selalu dinantikan oleh seluruh penggemar sepak bola di dunia. Kini El Clasico terlihat hanyalah sebuah laga biasa yang ada di lanjutan pekan Liga Spanyol.

Masih pada ingat kan bagaimana serunya puncak El Clasico kala masih dilatih Jose Mourinho dan Pep Guardiola? Yang sama-sama mengandalkan pemain terbaik dunia mereka? Apakah saat ini kita melihat vibes yang sama di El Clasico? Tentu saja tidak. Apakah perlu empat nama tersebut untuk mengembalikan keseruan di El Clasico? Tidak juga. Hanya perlu regenerasi, ya regenerasi wajah-wajah baru untuk meneruskan pertandingan sakral di LaLiga ini.

Mourinho dan Pep sudah lama pergi dari Spanyol dan sedang menikmati nasib mereka, Ronaldo sudah pergi ke Italia mencari pengalaman baru, Messi sebentar lagi juga akan menyusul ikut keluar. Tidak ada yang salah dengan keputusan mereka berempat, karena jika manajemen di Liga Spanyol hanya bisa menyalahkan keadaan, tidak akan pernah ada kemajuan. Disaat liga lain sudah mulai serius memperbaiki sepak bola mereka dengan hadirnya bintang baru, sebut saja Bundesliga dengan Erling Haaland, dan Ligue 1 dengan Kylian Mbappe. Liga Inggris? Oh jelas, ada Jesse Lingard.

Daripada saling menyalahkan si ini dan si itu yang pergi silih berganti, kenapa tidak mencari terobosan dan ide baru untuk kembali membranding Liga Spanyol supaya lebih banyak diminati. Ada beberapa alasan mengapa perlu ada langkah baru menyiasati masalah ini, dimana regenerasi menjadi solusinya.

 

1. Mengembalikan Identitas dan Rivalitas

Sudah tak dipungkiri jika setiap liga pasti ada satu momen pertandingan yang amat dinantikan, seperti Derby Milan di Serie-A, Northwest Derby di Premier League, dan El Clasico di La Liga. Dimana derby derby tersebut adalah puncak dari terselenggaranya liga, laga panas yang sarat akan makna di dalamnya.

Tapi bagaimana kabarnya sekarang? El Clasico yang sekarang sangat kontras dengan El Clasico tempo dulu dimana akan selalu ada drama keributan di dalamnya, terselenggaranya pun selalu memancing penggemar tidak hanya dari kedua klub tersebut, tapi nyaris seluruh penggemar sepak bola ikut meramaikannya menjadi tim hore saat El Clasico tiba.

Sejak Ronaldo pergi, bahkan pernah tersaji laga El Clasico dengan skor kacamata, berbeda dari sebelum-sebelumnya yang seringkali banjir gol. Saat masih dilatih Jose Mourinho, hampir pasti setiap pertemuan Real Madrid dengan Barcelona tak lepas dari insiden kartu merah, menandakan duel yang benar-benar serius. Agak mengherankan jadinya jika laga terpanas kompetisi liga berakhir dengan skor 0-0, meskipun permainan terbilang cukup impresif.

El Clasico terakhir yang baru saja selesai beberapa minggu lalu masih belum bisa disetarakan dengan laga yang dulu, namun sudah ada sedikit kemajuan. Entah ini akan menjadi El Clasico terakhir Messi?! Who’s know. Yang pasti kemajuan tersebut terbilang cukup membuat laga berjalan sedikit lebih seru, yang menjadi pembeda adalah dramanya bukan lagi diatas lapangan, tapi diatas media. Tuding menuding terkait siapa yang dibantu wasit.

Drama tersebut berawal dari lord kebanggaan saingan Jesse Lingard, yaitu Martin Braithwaite yang dijatuhkan di kotak pinalti tapi wasit menilai itu bukan pelanggaran jadi nggak ada tuh hadiah gosok voucher. Hadeh, ini mah si Braithwaite aja yang kurang jago skill menjatuhkan diri, coba tanya ke Bruno Fernandes bagaimana cara mendapatkan voucher dengan mulus, dijamin sukses.

Kontroversi wasit tidak hanya pada insiden jatuhnya Martin Braithwaite, tapi juga tambahan waktu yang dinilai kurang panjang. Perlu diketahui, bahwa di laga tersebut total ada 9 kali pergantian pemain, tapi di akhir waktu normal, wasit memberikan tambahan waktu hanya 4 menit. Karena hal-hal semacam itulah Real Madrid dituduh mendapat bantuan dari wasit. Kalo dibantu mah ya udah pasti semua tim dibantu lah Hyung, kalo nggak dibantu wasit nggak bakal jalan itu pertandingan bola.

Laga udah kelar juga ini si Gerard Pique malah berulah lagi ngulangin kesalahannya yang dulu, tapi kali ini misuh-misuhnya nggak di depan wartawan, melainkan langsung di depan si wasit. Buset nih orang kerad juga. Pique tertangkap kamera sedang marah marah ke wasit yang memimpin El Clasico saat itu, yaitu Gil Manzano. Auto rame kan tuh digoreng media tingkahnya si Pique itu.

Sebenarnya Barcelona nggak akan protes sevokal itu terkait segala keputusan yang dibuat wasit, iya nggak bakal protes kalo tim mereka menang. Itu karena mereka kalah aja jadi nyalahin wasit, coba kalo menang macam comeback 6-1 lawan PSG dulu, ayem tentram deh pasti. Tapi ya sudahlah, drama seperti itu juga bagian dari bumbu yang selalu meramaikan sepak bola, kita nikmati saja sambil sesekali ngetawain.

 

2. Mengembalikan Tensi Pelatih

Selain dari segi permainan di atas lapangan, drama yang datang dari barisan pelatih juga menjadi pusat perhatian yang asik untuk diikuti. Liga Spanyol pernah mempunyai Jose Mourinho dan Pep Guardiola yang saling adu gengsi tiap kali bertemu. Mourinho yang suka memancing keributan memang menjadi daya tarik tersendiri mengapa Liga Spanyol tempo dulu sangat menyenangkan untuk diikuti.

Saat ini pelatih klub papan atas di Spanyol terbilang cukup kalem dan jarang saling melontarkan psy war atau sindiran sebelum dan sesudah laga. Kalaupun pernah, tetap akan rasanya berbeda dari rivalitas Mou dan Pep. Zidane yang super santai, Diego Simeone yang pecicilannya cuma di lapangan doang, dan Ronald Koeman yang pasrah pasrah aja, agaknya perlu dikasih sedikit gebrakan untuk kembali mengembalikan keramaian di La Liga.

Alih-alih pelatih yang bikin rame, justru presiden klub yang suka dengan sukarela menjadikan dirinya pusat perhatian media di seluruh dunia. Jika beberapa bulan lalu ada mantan presiden Barcelona, yaitu Josep Maria Bartomeu dengan skandal Barcagate. Nah, sekarang yang lagi rame ada Florentino Perez, presiden kesayangan rakyat ibukota yang dengan super pedenya mau mendirikan Europa Super League, dimana kompetisi tersebut langsung memecah penggemar menjadi dua kubu, dengan kubu pro karena melihat kebobrokan UEFA, dan ada pula kubu kontra karena tidak mau kehilangan sejarah klub yang sudah lama mengakar. Pokoknya kalau itu presiden di klub La Liga nggak bikin ulah, udah bisa dipastikan jalannya kompetisi hambar macem masakan kurang micin. Massive thank you, Bartemou and Perez.

 

3. Penyegaran Komposisi Skuad

Tak dipungkiri jika pertarungan Ronaldo dan Messi tidak hanya menarik perhatian penggemar Liga Spanyol, tapi seluruh penggemar sepak bola di dunia. Nggak peduli klean fans Liverpool, MU, Juventus, Milan, atau bahkan Arsenal, pasti punya opini sendiri membandingkan siapa yang terbaik diantara dua pemain itu. Yang ujung-ujungnya pasti debat yang tak berkesudahan. Tapi justru hal itulah yang menjadikan La Liga terasa seru.

Tak usah munafik lah ya, karena faktanya sejak ditinggalkan oleh Ronaldo, feel kompetisi di Liga Spanyol terasa berbeda, entah kalian mau mengakui atau tidak tapi itu memang nyata adanya. Soalnya yang apple to apple untuk dibandingkan ya cuma Ronaldo Messi, kan aneh rasanya kalo kita membandingkan Vinicius sama Braithwaite, masih lebih cakep perbandingan Lingard sama Werner dong.

Sehebat apapun rivalitas yang pernah disuguhkan oleh Ronaldo dan Messi, namun namanya dunia sepak bola tentu tidak ada yang abadi, pemain akan datang dan pergi. Begitupun dengan Ronaldo dan Messi, sudah waktunya bibit baru menggantikan rivalitas mereka di lapangan. Pekerjaan rumah yang cukup berat memang untuk menggantikan peran alien dan robot, namun mau tidak mau petinggi La Liga memang sudah seharusnya mencari pengganti mereka supaya pamor dan branding kompetisi tetap berjalan baik, apalagi Messi sudah hampir pasti akan meninggalkan Barcelona akhir musim nanti. Coba Real Madrid boleh datangkan Jesse Lingard untuk melanjutkan rivalitas sengit, kan seru tuh Lingard vs Braithwaite.

Jose Mourinho: The Sacked One

Senin pagi waktu setempat, ditengah situasi yang sedang ricuh karena mencuatnya wacana jika 6 klub Premier League menyetujui untuk bergabung dengan European Super League, Jose Mourinho membuat kegaduhan baru dengan dirinya yang dipecat dari kursi manajerial Tottenham Hotspur. Mou harus mengakhiri perjalanan di London pada bulan ke-17, sedikit lebih cepat dari durasi kontraknya yang tercatat sampai 3,5 tahun. Hal semacam ini seharusnya tidak perlu untuk kita kagetkan, karena seperti biasa kita sudah bisa menerka bagaimana ending seorang Jose Mourinho kala melatih sebuah klub. Konflik dan pemecatan adalah teman setia yang selalu mengiringi langkahnya.

Tottenham adalah klub tersingkat yang pernah merasakan racikan taktik parkir busnya, dengan hanya mengumpulkan 86 laga. Jauh berbeda dengan klub-klub sebelumnya yang angkanya selalu diatas 100 laga. Bersama Manchester United 144 laga, Chelsea 321 laga dari total dua periode, Real Madrid 178 laga, Inter Milan 108 laga, dan Porto 127 laga. Sedikitnya jumlah laga yang dinaungi Mourinho bersama Tottenham seolah menjadi bukti nyata jika sepak bola masa kini sudah semakin sulit untuk menerima proses pembangunan yang memakan waktu lama. Jika satu tahun lebih seorang pelatih belum memberikan dampak nyata kepada tim, pintu keluar sudah dibuka lebar.

Isu mengenai akhir karir Mourinho di Tottenham sejatinya sudah terkode sejak dua minggu yang lalu dari pernyataan Daniel Levy selaku pimpinan Tottenham Hotspur, tepatnya setelah Tottenham ditahan imbang Newcastle United dengan skor 2-2. Saat itu Daniel Levy mengeluarkan pernyataan jika dirinya kecewa dengan hasil yang ditorehkan timnya.

“Ini bukan poin yang bagus. Harusnya kita tuh bisa menang, gue nggak bahagia samasekali dengan hasil ini. Gue disini nggak mau ngasih analisa yang lebih mendalam terkait permainan, intinya gue cuma pengen ngungkapin aja apa yang gue rasain, apa yang gue pikirin, ya meskipun nggak semuanya bisa gue sharing ke kalian (media), karena menurut gue ada hal yang sedikit privasi dan tetep gue keep buat di ruang ganti aja.”

Hal yang dibahas hanya di ruang ganti itulah yang disinyalir menjadi kode bahwa manajemen Tottenham sudah jengah dengan rentetan hasil negatif The Lilywhite. Karena tidak dipungkiri jika pribadi Mourinho yang cukup arogan juga amat kontras dengan pelatih terdahulu mereka yang sangat kalem, Mauricio Pochettino. Kalau lah kita mau menganalisa lebih dalam, keputusan Tottenham ini tidak salah juga karena mereka punya beberapa alasan konkret mengapa Mourinho memang seharusnya dipecat.

Permainan Mourinho Yang Gak Berkembang

Hal pertama yang menjadi alasan adalah dari segi permainan, Mourinho sangat idealis dengan gaya mainnya dan sepertinya sulit untuk dia hilangkan. Taktik parkir bus yang mengantarkannya sukses di Portugal dan Italia, atau di Inggris pada periode awal, sudah amat usang untuk bisa bersaing di era sepak bola masa kini. Bahkan kalau saya boleh bilang, strategi teka-teki Ole yang super absurd sepertinya lebih menarik daripada permainan bertahan Mourinho. Tottenham bisa mempertahankan Pochettino dalam kurun waktu yang cukup lama tak lain adalah ya karena permainan yang disuguhkan dia masih lebih baik, meskipun sama-sama nihil dari segi gelar.

Sepak bola terus berevolusi, setiap pelatih memang sudah seharusnya ikut menyesuaikan jika ingin bersaing. Tiki-taka yang dulu kita kira mustahil dipecahkan, nyatanya tumbang juga dengan gegen pressing, taktik Klopp yang gila-gilaan juga sudah tumbang bahkan di periode yang cukup singkat. Apalagi parkir bus yang sudah lama sekali menjauhi periode kejayaannya, akan lebih baik untuk Mourinho menurunkan sedikit idealismenya di parkir bus, untuk memodifikasi supaya bisa mengembalikan catatan baiknya di dunia sepak bola.

Segi permainan juga pernah menjadi bumerang bagi Mourinho sendiri kala masih melatih Manchester United, perbedaan filosofi klub menjadi dasar kuat Setan Merah berani mendepak Mourinho dari Old Trafford. Realistis aja sih bro, siapa juga yang tahan liat tim main ngantukin begitu, apalagi fans di benua Asia yang rela begadang tengah malam masa disuguhi pemandangan tim yang bermain membosankan.

Seharusnya dari situ Mourinho lebih sadar untuk mengubah gaya mainnya. Pemecatan Mourinho di Tottenham juga seakan menunjukkan jika dia masih mempertahankan gaya mainnya, maka karirnya di Inggris sudah tamat saat itu juga. Legenda Liverpool, yaitu James Carragher yang saat ini berprofesi sebagai pundit di Sky Sports mengungkapkan jika Mourinho seharusnya mencari tempat lain untuk melatih.

“Kalo kalian nanya ke gue apa mungkin abis dipecat dari Tottenham Mourinho bakal nglatih tim medioker, jawaban gue nggak. Mourinho bisa balik ke Serie-A, ya kalo disono mungkin aja dia bisa sukses dengan gaya mainnya.”

Jose Mourinho Bersikap Arogan

Permasalahan yang kedua adalah sikapnya yang dinilai sombong. Kalo hal mendasar seperti ini sebenarnya sulit untuk diubah, karena sifat dasar seseorang menang sejatinya tidak bisa diubah. Mourinho mempunyai pribadi yang arogan, apalagi untuk tim polos nan lugu seperti Tottenham Hotspur. Hal ini terlihat saat Mou ditanya mengapa dirinya tidak bisa sesukses saat di Chelsea, Inter Milan, dan Porto, dengan entengnya Mou menjawab, “Same coach, different players.” Terdengar agak menyindir memang dan hal seperti itu memang sudah biasa terjadi di industri sepak bola modern yang penuh kontroversi dan menunjukkan jika Mou just being Mou, sisi arogansi dia tidak bisa diubah.

Sifat arogan yang seperti itu tidak mencerminkan pribadi klub yang dia latih, dimana Tottenham jarang sekali membuat skandal dan kontroversi yang disorot perhatian publik.

Jose Mourinho di sisi malaikatnya memiliki sifat yang sangat keras dan bisa memotivasi timnya untuk bertarung sampai titik penghabisan, mentor yang sangat baik untuk menyalurkan semangat dan mental juara para pemainnya. Jaga jaga jika kalian lupa, Luka Modric bisa sehebat itu tak lain karena didikan Mourinho, dan yang terbaru ada Scott McTominay yang selalu bermain spartan juga karena dirinya pernah menjadi anak kesayangan Mourinho.

Meski bagaimanapun sifat arogan yang dimiliki Mourinho tidak bisa dibenarkan, karena jika sudah masuk ke dalam lingkup klub, semua memiliki tujuan yang sama untuk meraih hasil yang tinggi, semua bersama menjadi satu keluarga. Jika nantinya seorang pelatih mengalami kendala sulit, kalau attitude dia baik pasti akan mendapatkan dukungan. Ole Gunnar Solskjaer sudah dua tahun lebih di United tanpa mempersembahkan trofi apa-apa nyatanya tetap dipertahankan, kalau kemungkinan terburuknya tidak dipertahankan, paling tidak hubungan dengan klub tetap baik-baik saja seperti Frank Lampard dengan Chelsea.

Target Transfer Pemain Yang Gak Dituruti Manajemen

Alasan selanjutnya dibalik rentetan pemecatan Mourinho adalah target transfer yang jarang dipenuhi oleh manajemen. Biasanya hal semacam ini terjadi di tahun ketiga usai Mou mengantarkan timnya di posisi terbaiknya. Sayangnya di Tottenham dia samasekali belum menginjakkan kaki di musim ketiga. Mana sempat, keburu dipecat. Dua klub sebelumnya yang memecat Jose Mourinho mempunyai latar belakang yang sama, yaitu transfer pemain.

Saat masih di Chelsea drama transfer pemain juga pernah menghampiri Mourinho dan menjadi salah satu penyebab terdepak dirinya di Stamford Bridge. Kegagalan mendatangkan John Stones yang pada saat itu masih di Everton, sang pemain dinilai oleh Mourinho bisa menjadi suksesor dari seniornya, yaitu John Terry. Puncaknya saat Chelsea harus bertekuk lutut dengan kekalahan 3-1 dari Everton. Situasi yang sering terjadi pada Mou jika target transfernya tidak dituruti.

Di sisi lain juga ada penyebab yang menjadikan posisi Mourinho makin pelik kala itu. Radamel Falcao, striker yang sangat diharapkan menjadi ujung tombak Chelsea bermain tidak sesuai ekspektasi, dirinya flop saat hijrah ke Inggris. Kepergian sosok pemimpin seperti Didier Drogba juga menambah sulit situasi, karena dia yang biasanya mampu menjadi pembimbing bagi pemain muda supaya mempunyai daya juang dan rasa hormat pada pelatih.

Di United pun sama adanya, selain karena filosofi yang berbeda, drama transfer pemain juga mengiringi pemecatan Jose Mourinho. Perlu diketahui jika Mourinho sudah sangat ngebet untuk mendatangkan Alvaro Morata, namun karena beberapa hal dan dendam masa lalu Florentino Perez, transfer tersebut gagal direalisasikan, United malah membeli Romelu Lukaku yang sejak awal sudah condong ke Chelsea.

Dua nama tersebut akhirnya sama-sama menemui titik kegagalan di karirnya akibat transfer yang tertukar. Fred yang didatangkan dengan harga mahal di musim terakhir Mourinho juga gagal menemukan performa terbaiknya, entah manajemen United sedang kerasukan jin apa sehingga mendatangkan Fred saat itu, tapi yang jelas Fred bukankah pilihan utama di daftar transfer uang diajukan Mourinho.

Kepergian Wayne Rooney dan Zlatan Ibrahimovic selaku senior yang berjiwa kepemimpinan tinggi juga turut menyumbang kesulitan bagi posisi Mourinho, karena bagaimanapun sosok pemimpin dalam sebuah tim itu amat vital perannya. Meskipun mereka tidak bermain di lapangan, namun kehadirannya di ruang ganti bisa menjadi penyalur keharmonisan antara pemain muda ber-ego tinggi dengan pelatih penuh arogansi.

Konflik Dengan Sesama Pemain Asuhannya

Permasalahan yang terakhir, dan hampir menjadi penyebab Mourinho dipecat dari Tanah Britania adalah konflik dengan pemain. Suasana ruang ganti menjadi boiling room atau ruang sauna yang panas sudah pasti tidak akan terhindarkan jika memiliki pelatih semacam Jose Mourinho. Tindakannya yang suka mengkritik pemain di depan media membuat terperciknya api perseteruan. Diego Costa, Eden Hazard, Thibaut Courtois saat masih di Chelsea ikut meramaikan drama bermalas-malasan demi keluarnya Mourinho dari ruang ganti.

Saat di MU juga sama, yang paling ketara dan menuai banyak perhatian adalah perseteruan Paul Pogba dan Luke Shaw dengan Jose Mourinho. Dua pemain tersebut terbilang cukup sering mendapatkan kritik baik dari performa maupun tingkah lakunya di luar lapangan. Catatan buruk itu sayangnya ia lanjutkan saat melatih Tottenham, deretan nama seperti Dele Alli, Gareth Bale, dan Serge Aurier disinyalir tidak bahagia dengan kehadiran Mourinho di dalam tim.

Pelatih tipikal seperti Mourinho ini memang sering kurang cocok dengan banyak pemain, hanya beberapa nama saja yang bisa beradaptasi dengan kelakuan pria berusia 58 tahun tersebut. Zlatan Ibrahimovic adalah tipe pemain yang cocok untuk dilatih Mourinho, pribadi yang tidak baperan dan bisa membalas sisi arogansi Mourinho, songong ketemu songong jadinya klop klop aja.

Setiap ada drama pemecatan, yang menurut saya paling menarik adalah uang kompensasi atau pesangon yang akan diberikan pada si pelatih. Karena jumlahnya pasti akan sangat besar, apalagi jika durasi kontraknya masih terbilang panjang. Jose Mourinho mempunyai rekor yang cukup membanggakan kalo urusan beginian. Dari total lima klub yang ketuk palu untuk memecat Mourinho, dia mendapatkan pesangon lebih dari satu triliun rupiah. Kita bahas satu-satu ya rinciannya.

Tahun 2007 silam, Jose Mourinho mengalami pemecatan jilid satu di Chelsea. Saat itu dirinya mendapatkan uang pesangon sebesar 18 juta poundsterling. Enam tahun berselang, Mourinho juga dipecat oleh Real Madrid karena gagal membawa Los Blancos menjuarai Liga Champions, uang pesangon yang dia terima juga 18 juta poundsterling.

Periode kedua bersama Chelsea, tujuh bulan usai mengantarkan Chelsea juara liga, Mourinho kembali dipecat oleh Roman Abramovich dan diberi uang pesangon sekitar 16 juta poundsterling. Hal yang sama juga kembali Mourinho temui ketika menangani Manchester United, dengan uang pesangon sebesar 15 juta poundsterling, tapi kabarnya itu belum dihitung dengan uang tutup mulut supaya Mou tidak memberikan statement yang aneh-aneh terkait MU.

Terakhir adalah saat bersama Tottenham Hotspur, kontrak yang seharusnya berakhir pada musim panas 2023 terpaksa harus diakhiri awal pekan kemarin, dan mau tidak mau Spurs harus memberikan uang pesangon kepada Mourinho. Uang sebesar 16 juta poundsterling harus dikeluarkan oleh Tottenham untuk menggusur posisi Mourinho.

Jika kita gabungkan, total pesangon Mourinho dari lima kali dirinya mengalami pemecatan adalah £83 juta, atau jika dikonversikan dalam nilai rupiah saat ini sekitar 1,6 triliun. Gila bro, duit pesangon doang segitu. Kalau lah saya jadi Mourinho, punya uang sebanyak itu mending berhenti aja dari pusingnya dunia pelatih sepak bola, tinggal buka bisnis, menikmati hidup dengan duduk santai sambil ngopi. Tapi ya namanya udah cinta sama si kulit bundar yekan, ada kemungkinan juga Mou akan tetap melanjutkan karirnya di dunia kepelatihan, patut kita tunggu dimana ia akan berlabuh.

Sebutan The Sacked One agaknya lebih cocok disematkan kepada Mourinho, menggantikan The Special One.

8 Wasit Wanita Yang Kualitasnya Gak Kalah Sama Wasit Pria

Dunia sepakbola memang begitu identik dengan para pria. Namun seiring dengan berjalannya waktu, olahraga ini juga mulai menarik minat para kaum hawa. Sejarah sepak bola wanita sendiri sudah ada sejak beberapa dekade terakhir. Perlahan tapi pasti, sepak bola wanita, dengan segala pasang surutnya, berhasil mendulang popularitas yang baik di kalangan masyarakat hingga saat ini, meski ada perbedaan yang signifikan dalam hal jumlah penonton dengan pertandingan sepak bola pria.

Selain para pemain, para wanita juga sudah mulai percaya diri dalam melakoni pekerjaan yang lain, yaitu sebagai seorang wasit. Dalam pertandingan sepakbola, bahkan yang dijalani oleh para pria sekalipun, wasit wanita kerap ditunjuk sebagai pemimpinnya.

Hal tersebut mulai dianggap lumrah dengan beberapa fakta kalau pertandingan-pertandingan besar sempat dipimpin oleh wasit wanita.

Pada kesempatan kali ini, Starting Eleven akan coba merangkum deretan wasit wanita yang kualitasnya tidak kalah hebat dengan wasit pria.

 

Stephanie Frappart

Sebuah terobosan dilakukan UEFA. Kali ini mereka menggunakan wasit perempuan guna memimpin laga Liga Champions antara Juventus vs Dynamo Kiev. Wasit perempuan asal Prancis, Stephanie Frappart ditunjuk memimpin laga yang dimainkan di Juventus Stadium.

Stephanie Frappart lahir di Prancis, 14 Desember 1983. Kariernya sebagai pengadil sepak bola dimulai dari bawah hingga menjelma menjadi salah satu wasit perempuan elite Eropa. Sejak 2011, Frappart mulai memimpin sejumlah laga di Championnat National, kompetisi Divisi III sepak bola pria di Prancis. Lalu pada 2014, ia menjadi wasit perempuan pertama yang memimpin laga Ligue 2.

Pada 2 Agustus 2019 Frappart diumumkan menjadi wasit untuk laga Piala Super Eropa yang mempertemukan Liverpool melawan Chelsea, 14 Agustus 2019 di Vodafone Park, Istanbul, Turki. Ketika itu, Liverpool memenangi laga melalui penalti 5-4 setelah kedua tim bermain sama kuat 2-2 di waktu normal.

Berkat perjalanan karir luar biasanya, banyak media khususnya Prancis turut memberikan apresiasi.

 

Bibiana Steinhaus

Piala Super Jerman 2020 yang menyajikan laga Bayern vs Dortmund terasa spesial dan berbeda dibandingkan edisi-edisi tahun sebelumnya. Laga yang berakhir 3-2 untuk kemenangan Die Roten itu dipimpin oleh wasit bernama Bibiana Steinhaus.

Steinhaus, yang merupakan seorang perempuan, berdiri dengan anggun di antara 22 lelaki tegap. Namun jangan pandang sebelah mata, ketegasannya membuat laga di Allianz Arena tersebut berjalan lancar.

Perlu diketahui bahwa ini bukan kali pertama Steinhaus memimpin laga sepak bola laki-laki. Sebelumnya, wasit 41 tahun ini telah 23 kali memimpin laga Bundesliga. Justru, laga Piala Super Jerman ini adalah laga terakhir dalam karier wasit profesional Steinhaus. Ya, wasit kelahiran Bad Lauterberg itu pensiun setelah laga ini.

Sepanjang kariernya sebagai wasit, Steinhaus kerap memimpin laga-laga bergengsi sepak bola wanita. Mulai dari Piala Dunia, Piala Eropa, hingga Liga Champions.

 

Rita Gani

Sejarah baru tercipta di sepak bola Malaysia pada tahun ini. Sebuah gebrakan baru diputuskan Komite Wasit Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM). Untuk kali pertama, Malaysia memasukkan dua nama wasit wanita untuk memimpin pertandingan di Liga Super Malaysia dan Liga Primer Malaysia, dimana salah satunya adalah Rita Gani.

Dalam dunia perwasitan wanita, nama Rita Gani tidak bisa dipandang remeh. Dia layak disebut sebagai sosok berpengaruh dan layak dibilang sebagai wanita yang mengharumkan nama negaranya di kancah dunia.

Rita Gani merupakan wasit wanita terbaik yang dimiliki Malaysia saat ini. Wasit 43 tahun itu pernah dinobatkan sebagai Wasit Wanita Terbaik Asia pada 2014. Selain itu, Rita juga pernah terlibat di gelaran Piala Dunia Wanita 2015 di Kanada dan Olimpiade Brasil pada 2016.

 

Sian Massey-Ellis

Ada momen dimana Sergio Aguero kedapatan meremas bahu hakim garis perempuan di laga Manchester City vs Arsenal. Penyerang asal Argentina itu kedapatan ‘mengganggu’ seorang wasit bernama Sian Massey-Ellis.

Sian Massey-Ellis yang lahir pada 5 Oktober 1985 di Coventry, Inggris, sebenarnya adalah sosok yang sudah tidak asing lagi karena ia kerap malang melintang, di pinggir lapangan sepak bola Inggris. Pada 2019 lalu, dia pernah ditunjuk jadi asisten wasit di laga Liverpool vs Manchester City dalam ajang Community Shield.

Dia juga sering menjadi asisten wasit di beberapa kompetisi Liga Inggris seperti Piala FA wanita dan Liga Primer Inggris wanita. Uniknya, wasit merupakan pekerjaan sampingannya, karena ia punya pekerjaan utama sebagai guru.

 

Claudia Umpiérrez

Claudia Inés Umpiérrez Rodríguez adalah seorang wasit sepakbola sekaligus pengacara asal Uruguay. Dia telah bekerja di kompetisi internasional FIFA sejak 2010. Pada September 2016, dia menjadi wanita pertama dalam sejarah sepak bola Uruguay yang menjadi wasit pertandingan di Divisi Pertama.

Karena punya kualitas yang dianggap setara dengan wasit pria, dia kemudian dimasukkan ke dalam daftar tahunan wasit terbaik di dunia oleh Federasi Internasional Sejarah & Statistik Sepak Bola (IFFHS).

 

Wendy Toms

Wendy Toms merupakan wasit perempuan pertama yang terdaftar di liga pertandingan sepakbola dan asisten wasit pertama di Premier League.

Toms terlibat dalam banyak pertandingan di liga Inggris, salah satunya pada musim 1994/95. Perempuan yang kini berusia 58 tahun itu juga sempat menjadi wasit saat laga perempat final Piala UEFA (Liga Champions) Perempuan pada 2003 dan UEFA Women’s Championship di Inggris pada 2005.

Nama Wendy Toms sudah dikenal oleh banyak orang dan disebut sebagai salah satu yang terbaik dalam sejarah FIFA. Meski memiliki pekerjaan utama sebagai pegawai pos, dia tetap profesional dan selalu menunjukkan performa luar biasa dalam menjadi seorang asisten wasit.

 

Amy Fearn

Amy Fearn mencatatkan rekor sebagai wanita pertama yang memimpin pertandingan di Piala FA. Debutnya adalah memimpin pertandingan antara tim Southern League Corby Town versus Dover Athletic pada 9 November 2013.

Fearn lahir dan besar di Staffordshire. Cintanya pada sepakbola tumbuh berkat ajakan kakak-kakak cowoknya. Dia sempat frustasi lantaran fasilitas bermain bola untuk anak-anak perempuan sangat minim. Pada usia 13 tahun, ayahnya mengikuti short course untuk menjadi wasit. Fearn kecil pun tertarik. Dari situ karirnya pun mulai melesat.

Prestasi Fearn hingga bisa memimpin laga penting patut diapresiasi. Itu adalah buah perjuangan selama sembilan tahun, tepatnya sejak memperoleh lisensi FIFA pada 2004.

Karir nya juga terbilang tak langsung mulus. Pada 2007, namanya justru mencuat bukan karena prestasi. Tapi lantaran komentar pelatih Luton Town Mike Newell yang lagi-lagi seksis. Namun hal tersebut tidak membuat langkahnya melambat, dan justru membuatnya semakin jauh berkembang.

 

Jawahir Roble

Wanita bernama Jawahir Roble ini menjadi wasit berhijab pertama di Inggris. Jawahir Roble atau yang lebih dikenal sebagai JJ sebelumnya kerap ditolak kehadirannya karena sepakbola dianggap sebagai permainan kaum pria.

Jawahir berharap wanita muslimah lainnya bisa menjadi seperti dirinya. Menurutnya olahraga sepak bola adalah hak siapapun. Memulai tugasnya sebagai pemimpin laga amatir, Roble mengaku bahwa kemunculannya sebagai wasit menimbulkan keterkejutan oleh orang-orang yang ada di sekelilingnya. Bukan hanya karena ia wanita, tetapi juga karena ia datang mengenakan kerudung.

Roble juga mengakui bahwa di lapangan terkadang ia mendapat protes dari pemain. Namun bila mendapatkan pelecehan, Roble menegaskan ia tak segan melawan dan membela diri.

Dalam hal ini, meski belum punya prestasi gemilang, nama Jawahir Roble dianggap sebagai sosok pemberani dan pembawa perubahan. Dia menjadi sosok inspiratif yang bukan tak mungkin jejaknya akan diikuti oleh banyak wanita.

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=zY8_I00ebK0[/embedyt]

Liga Super Eropa Bikin Messi Limbung Di Barcelona

Deklarasi European Super League menambah satu lapis ketidakpastian lagi di atas masa depan Lionel Messi di Barcelona. Tidak ada yang menjamin Messi akan meneken kontrak baru yang bakal habis pada Juni 2021. Menjadi bagian dari Super League sangat menguntungkan bagi Barcelona. Hanya dengan berpartisipasi saja Barca bisa mendapatkan 300 juta euro. Dengan uang itu, Barca bisa menutupi masalah finansial mereka dan membangun proyek baru untuk mempertahankan Messi. Masalahnya, Messi juga harus mempertimbangkan ambisinya di tim nasional. Kabarnya pemain yang tampil di Super League akan dilarang membela timnas, termasuk di turnamen mayor.

Juventus Mending Lepas Ronaldo Yang Individualis

Eks winger Juventus, Massimo Mauro, melabeli Cristiano Ronaldo sebagai pemain individualis dan meminta I Bianconeri melepas sang mega bintang. Mauro mengatakan bahwa Ronaldo hanya mementingkan pencapaian gol pribadinya ketimbang kesuksesan tim. “Ronaldo seperti sebuah perusahaan dan pencapaian pribadinya lebih penting daripada kesuksesan tim. Dia tidak akan pernah mengajak rekan setim bersamanya, Ronaldo selalu ingin rekan setimnya memberi bola dan dia yang akan mencetak gol.” ucapnya.

Klopp : Salah Mau Hattrick Sepatu Emas

Manajer Liverpool Juergen Klopp mengungkapkan ambisi Mohamed Salah. Bintang sepakbola Mesir itu mengincar gelar top scorer ketiganya di Liga Inggris. Salah masih dalam persaingan perebutan trofi Sepatu Emas 2020/21. Sebanyak 19 gol telah diciptakan winger Liverpool itu dalam 30 penampilan. Sebelumnya, pesepakbola berusia 28 tahun itu berhasil menyabet predikat sebagai pemain tersubur di kompetisi ini dalam dua musim beruntun, yakni pada 2017/18 dan 2018/19.

Cedera, Kevin De Bruyne Absen Bela City Kontra Villa

Manchester City tak akan diperkuat sang gelandang Kevin De Bruyne saat menghadapi Aston Villa di Liga Inggris tengah pekan ini. De Bruyne harus beristirahat karena mengalami cedera engkel usai berduel dengan gelandang Chelsea, N’Golo Kante di semifinal Piala FA akhir pekan lalu. Terkait seberapa parah cedera yang dialami De Bruyne sejauh ini belum diketahui, tapi bisa dipastikan De Bruyne akan absen saat City melawan Aston Villa.