Analisis Penyebab Sheffield United Terdegradasi dari Premier League

  • Whatsapp
Analisis Penyebab Sheffield United Terdegradasi dari Premier League
Analisis Penyebab Sheffield United Terdegradasi dari Premier League

Datang sebagai klub promosi, Sheffield United memberi kejutan di Premier League musim lalu. Diperkirakan banyak pihak bakal langsung terdegradasi kembali, klub berjuluk The Blades itu justru mampu mengakhiri liga di peringkat 9.

Finish di posisi kesembilan merupakan hasil terbaik dalam sejarah Sheffield United di Premier League. Dalam perjalanannya, anak asuh Chris Wilder ini memberi kejutan dengan berhasil mengalahkan Arsenal, Chelsea, Tottenham Hotspur, Everton, dan mengimbangi Manchester United.

Bacaan Lainnya

Sayangnya, performa apik di musim lalu gagal dilanjutkan di musim ini. Sheffield United membuat start paling buruk dalam sejarah Premier League. The Blades mengawali musim ini dengan 17 laga berturut-turut tanpa kemenangan.

Sheffield United baru meraih kemenangan pertama di pekan ke-18 saat menundukkan Newcastle United di kandang. Optimisme sempat melambung saat The Baldes secara luar biasa berhasil menundukkan Manchester United di Old Trafford pada pertandingan pekan ke-20.

Sayangnya, meski meraih 2 kemenangan tambahan atas West Bromwich Albion dan Aston Villa di pekan ke-22 dan 27, poin yang dikumpulkan Sheffield United tetap tak mampu mengangkat posisi mereka dari dasar klasemen.

Akhirnya, meski Premier League masih menyisakan 6 laga, Sheffield United sudah tak terselamatkan. Kepastian terdegradasinya The Blades didapat setelah mereka menelan kekalahan 0-1 saat bertandang ke markas Wolverhampton Wanderers, Sabtu (17/4) kemarin.

Dari 32 laga di Premier League musim ini, Sheffield United baru mengumpulkan 14 poin, hasil dari 4 kali menang dan 2 kali imbang. Sisanya, mereka selalu kalah. Meski terus menang di sisa pertandingan musim ini, poin maksimal yang dapat dipetik Sheffield United tetap tak mampu mengangkat posisi mereka dari zona degradasi.

Lalu, faktor apa saja yang jadi penyebab Sheffield United terdegradasi dari Premier League musim ini? Berikut analisisnya.

Pertahanan Rapuh, Sheffield United Jadi Lumbung Gol Tim Lain

Musim lalu, Sheffield United memang jadi sensasi. Finish di peringkat 9, The Blades mengumpulkan 54 poin, hasil dari 14 kali menang dan 12 kali imbang. John Lundstram dkk tampil sangat solid. Mereka hanya kebobolan 39 gol sepanjang musim 2019/2020.

Jumlah kebobolan yang sedikit itu jadi rekor tersendiri. Pasalnya, dalam sejarah Liga Primer, tak ada tim promosi yang mencatat jumlah kebobolan lebih sedikit dari Sheffield United musim lalu.

Sayangnya, ketangguhan pertahanan The Blades yang jadi kunci permainan anak asuh Chris Wilder musim lalu tak terlihat di musim ini. Dalam 32 laga yang sudah dijalani musim ini, gawang Sheffield United sudah kebobolan 56 gol. Yang paling disorot tentu sosok di bawah mistar gawang. Sebagai ganti dari Dean Henderson yang pulang ke Manchester United, manajemen Sheffield United merekrut kembali mantan kiper tim mudanya, Aaron Ramsdale.

Meski berstatus sebagai penjaga gawang nomor 1 timnas Inggris U-21, faktanya, kualitas Ramsdale masih jauh bila dibandingkan dengan Henderson. Musim lalu, Dean Henderson mencatat persentase save sebesar 75%. Sementara Aaron Ramsdale cuma mencatat persentase save sebesar 68,6%.

Dari 32 laga, Ramsdale sudah kebobolan 56 gol. Sangat kontras dengan catatan Henderson musim lalu yang hanya kebobolan 33 gol di 36 laga. Musim ini, Ramsdale juga hanya mampu mencatat 2 kali cleansheet, jauh bila dibandingkan dengan Henderson yang membuat 13 cleansheet musim lalu.

Namun, kiper 22 tahun itu tak bisa sepenuhnya disalahkan. Nyatanya, kinerja pertahanan Sheffield United musim ini sangat buruk hingga membuat Ramsdale seolah berjuang sendirian. Ramsdale menghadapi lebih banyak tembakan di area berbahaya ketimbang Henderson. Artinya, musim ini, pertahanan Sheffield United lebih longgar dan mudah ditembus.

Salah satu penyebab buruknya kinerja pertahanan The Blades musim ini tak lepas dari badai cedera yang menggerogoti skuad mereka. Kehilangan terbesar Sheffield United adalah absennya bek andalan mereka, Jack O’Connell. Bek berusia 27 tahun itu cuma berlaga di 2 laga awal, setelahnya dia absen hingga akhir musim ini akibat cedera lutut parah.

Faktanya, O’Connell adalah bagian penting dari formasi 3-5-2 Chris Wilder. Menempati bek tengah sisi kiri, dia adalah kunci dari skema bertahan dan menyerang Sheffield United. Selama O’Connell absen, jumlah passing progresif dan diagonal The Blades turun drastis.

Persentase kemenangan, poin rata-rata per game, jumlah tembakan ke gawang, dan jumlah umpan silang yang dihasilkan menurun drastis saat O’Connell absen. Dengan O’Connell dalam starting eleven-nya, Sheffield United punya persentase kemenangan sebesar 38%. Namun, saat dia absen, persentase kemenangannya drop ke angka 8% saja. Selain itu, selama O’Connell absen, gawang Sheffield United mencatat lebih banyak kebobolan.

Jack O’Connell bukan satu-satunya pemain yang absen panjang karena cedera. Dua bek lainnya, yakni Chris Basham dan Jack Robinson juga tengah menepi dan sedang dalam tahap pemulihan. Sebelum mereka, bek tengah John Egan juga sempat absen beberapa lama karena masalah fisik.

Badai cedera itulah yang membuat barisan pertahanan Sheffield United tak pernah full team. Serupa dengan barisan pertahanannya, lini tengah The Blades juga didera badai cedera. Tercatat, ada 4 gelandang Sheffield United yang sempat absen karena cedera. Mereka adalah John Fleck, Enda Stevens, Jack Rodwell, dan Sander Berge.

Khusus untuk Sander Berge, gelandang Norwegia 23 tahun itu adalah pilar penting di lini tengah The Blades. Kehadirannya sama krusialnya seperti Jack O’Connell. Statistik dari Opta menunjukkan bahwa ada penurunan intensitas tekanan yang dilakukan para pemain Sheffield United musim ini.

Opta mencatat, Sheffield United jadi tim dengan nilai passed allowed per defensive action (PPDA) terendah kedua di Premier League musim ini. Artinya, para pemain The Blades memberi lawan lebih banyak waktu dan ruang untuk membangun serangan. Hal ini pula yang menyebabkan build-up serangan mereka sangat buruk musim ini.

Lini Depan yang Makin Tumpul

Musim ini performa lini serang Sheffield United mengalami penurunan. The Blades memang bukan tim yang bermain menyerang. Wajar bila jumlah gol mereka minim. Musim lalu saja, Billy Sharp dkk cuma mencetak 39 gol di 38 laga.

Namun, di musim ini, dari 32 laga yang sudah dijalani, para pemain Sheffield United baru menghasilkan 17 gol. Jumlah yang sangat minim dibanding tim Liga Primer lainnya. Dari jumlah tersebut, hanya 9 gol yang berasal dari situasi open play, sisanya berasal dari situasi bola mati, eksekusi penalti, dan gol bunuh diri lawan.

Lagi-lagi, salah satu faktor penurunan performa ini disebabkan oleh cedera. Top skor mereka musim lalu, Lys Mousset baru bermain sebanyak 10 laga akibat berbagai cedera yang ia alami. Moussett bukan satu-satunya penyerang yang mengalami cedera. Kapten mereka, Billy Sharp dan Ollie McBurnie saat ini juga masih absen karena cedera.

Namun, terlepas badai cedera yang mereka alami, pada kenyataannya performa lini serang Sheffield United memang sangat buruk. The Blades jadi tim yang paling sering kehilangan bola di area lawan. Selain itu, konversi peluang para pemain Sheffield United juga buruk.

Dari catatan transfermarkt, Sheffield United menjadi tim dengan conversion rate terendah. Dari 375 tembakan yang mereka lancarkan, hanya 17 yang berbuah gol. Artinya, conversion rate mereka hanya di angka 4,5% saja.

Sejatinya, perubahan sangat diharapkan para pendukung The Blades pasca Chris Wilder memutuskan mundur setelah kalah 2-0 di kandang Southampton di pekan ke-28 kemarin. Sayangnya, Paul Heckingbottom yang ditunjuk sebagai manajer interim tetap tak memberi pengaruh signifikan. Dalam 4 laga terakhirnya, Sheffield United selalu kalah, hanya mencetak 1 gol dan kebobolan 11 gol.

Puncaknya, gol tunggal Willian Jose yang membuat Sheffield United tunduk 1-0 di kandang Wolverhampton sudah cukup untuk mengantarkan The Blades kembali ke divisi championship.

Selain berbagai faktor teknis tadi, Sheffield United juga punya isu non teknis. Jauh sebelum Sheffield United dipastikan terdegradasi, kisruh sempat terjadi di balik layar. Kekalahan bukanlah satu-satunya sebab Chris Wilder mundur. Sebelumnya, bahkan ia sudah 2 kali mengajukan pengunduran diri. Namun, dua kali pula ditolak sang pemilik, Pangeran Abdullah.

Saat Chris Wilder masih menjabat sebagai manajer tim, ia juga disebut sempat terlibat friksi dengan sang pemilik asal Arab Saudi itu. Wilder disebut frustasi pasca permintaannya untuk mendorong renovasi tempat latihan dan akademi tim tak dipenuhi sang pemilik.

Pangeran Abdullah justru lebih memilih membelanjakan uangnya untuk membeli pemain baru yang kini terbukti kurang berkontribusi. Dua pembelian termahal Sheffield United musim ini adalah Aaron Ramsdale dan Rhian Brewster.

Ramsdale dibeli dari Bournemouth dengan harga 20,5 juta euro. Selain jadi pesakitan di bawah mistar, terdegradasi bersama Sheffield United membuatnya merasakan pahitnya turun kasta dalam dua musim terakhir.

Sementara itu, Rhian Brewster didatangkan dari Liverpool dengan harga 26 juta euro. Striker 20 tahun itu dibeli dengan tujuan mempertajam lini serang The Blades. Ironisnya, meski telah mencatat 23 penampilan di Premier League musim ini, Brewster belum sekalipun mencetak gol maupun asis.

Sheffield United Layak Meniru Norwich City

Kini, tak ada yang dapat dilakukan Sheffield United selain menerima pahitnya degradasi dan bersiap sedini mungkin agar dapat langsung promosi di musim depan. Mereka bisa meniru langkah Norwich City.

Langsung terdegradasi pasca promosi di Liga Primer musim lalu, Norwich City kembali memastikan diri bakal mentas di Premier League musim depan. Alih-alih merombak tim laiknya tim yang turun kasta, Norwich mempertahankan pilar-pilar mereka, termasuk tetap mempercayakan Daniel Farke sebagai manajer.

Apa yang Norwich perlihatkan dapat ditiru oleh Sheffield United. Beberapa pemain pentingnya seperti O’Connell, Egan, Berge, dan McGoldrick layak untuk dipertahankan. Dengan tetap menjaga keutuhan skuad inti dan menambal beberapa kelemahan, bukan tak mungkin Sheffield United dapat langsung kembali ke Premier League musim depan.

Lekas kembali The Blades!

***

Sumber Referensi: Sky Sports 1, Sky Sports 2, Goal, Detik

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *