Terdegradasi, Ada Apa Dengan Schalke 04?

  • Whatsapp
Terdegradasi, Ada Apa Dengan Schalke 04?
Terdegradasi, Ada Apa Dengan Schalke 04?

Schalke jadi tim pertama yang dipastikan terdegradasi dari Bundesliga musim 2020/2021. Kepastian tersebut didapat pasca tim berjuluk The Royal Blues itu menelan kekalahan 1-0 dari Arminia Bielefeld di pekan ke-30 Bundesliga.

Kekalahan dari Arminia membuat Schalke makin tenggelam di dasar klasemen. Menghuni peringkat 18, mereka baru mengumpulkan 13 poin dari 30 laga yang sudah dijalani.

Bacaan Lainnya

Dengan sisa 4 pertandingan, poin maksimal yang bisa Schalke kumpulkan cuma 25 poin. Sayangnya, total poin tersebut tetap tak mampu mengungguli jumlah poin tim di peringkat 16, batas aman playoff relegasi. Dengan begitu, Schalke sudah tak terselamatkan dari degradasi.

Ini merupakan kali pertama Schalke turun kasta setelah bertahan selama 30 tahun di Bundesliga. Sebuah kemunduran prestasi yang sangat cepat dari klub yang bermarkas di Veltins Arena itu.

Schalke adalah pemilik 7 trofi Bundesliga, 5 trofi DFB-Pokal, dan 1 trofi DFL-Supercup. Selain itu, mereka merupakan juara Piala UEFA 1997 dan semifinalis Liga Champions 2011.

Namun, dalam kurun waktu 2 tahun terakhir, performa Schalke merosot drastis. Pasca finish sebagai runner-up di musim 2017/2018, prestasi Schalke di 2 musim berikutnya justru mengalami kemunduran.

Finish di posisi 14 di musim berikutnya, The Royal Blues mengakhiri musim 2020 kemarin di posisi 12. Padahal, mereka sempat bersaing di zona Eropa. Namun, semenjak awal tahun 2020 hingga pandemi Covid-19 mulai merebak, performa Schalke justru makin memprihatinkan.

Sepanjang tahun 2020 kemarin, Schalke cuma menang sekali di Bundesliga. Kemenangan 2-0 atas Borussia Monchengladbach pada 17 Januari jadi satu-satunya kemenangan Schalke di tahun 2020. Setelah itu, The Royal Blues terus gagal meraih kemenangan dan baru mencatat kemenangan lagi pada 9 Januari lalu di pekan ke-15 Bundesliga musim ini.

Sepanjang tahun 2020, Schalke mencatat 30 laga tanpa kemenangan di Bundesliga. Rekor tersebut nyaris menyamai catatan 31 laga tanpa kemenangan Tasmania Berlin di musim 1965/1966. Kemenangan di pekan ke-15 itu sekaligus jadi kemenangan pertama Schalke musim ini.

The Royal Blues butuh 13 pekan untuk mencatat kemenangan keduanya. 11 April lalu, kemenangan kandang 1-0 atas Augsburg jadi kemenangan kedua Schalke di Bundesliga musim ini. Artinya, hingga pekan ke-30 saja, Schalke baru menang 2 kali, sisanya berakhir dengan 21 kekalahan dan 7 hasil imbang.

Performa pemain Schalke secara individu juga buruk. Schalke jadi lumbung gol tim lain. Meski berulang kali merotasi 3 kipernya, Schalke sudah kebobolan 76 gol sepanjang musim ini. Setali tiga uang, performa barisan depan mereka tak bisa diharapkan. Schalke cuma mampu mencetak 18 gol dari 30 laga. Matthew Hoppe dan Benito Raman yang jadi top skor klub, masing-masing baru mencetak 5 gol saja.

Lalu, apa penyebab dari buruknya performa Schalke hingga akhirnya terdegradasi?

Salah satu faktor teknis yang jadi biang kerok kegagalan Schalke musim ini adalah keputusan klub dalam memilih pelatih. Musim ini, The Royal Blues jadi tim yang paling banyak melakukan pergantian pelatih.

Tercatat, Schalke sudah ditangani 5 pelatih di musim ini. Sayangnya, kelima pelatih tersebut tak cukup mumpuni, bahkan tergolong medioker. David Wagner, Manuel Baum, Huub Stevens, Christian Gross, dan Dimitrios Grammozis adalah daftar pelatih Schalke musim ini.

Dari daftar tersebut, cuma Huub Stevens dan Christian Gross yang pernah menukangi klub besar dan juara. Namun, era keduanya sudah lama berakhir. Lisensi kepelatihan Huub Stevens bahkan sudah kedaluwarsa per 1 Januari kemarin, sementara Gross sudah lama tak menangani tim papan atas Eropa.

Sementara itu, Dimitrios Grammozis yang ditunjuk sebagai pelatih Schalke sejak 2 Maret lalu merupakan pelatih asal Yunani yang baru dipecat Darmstadt, klub divisi 2 Jerman pada bulan Februari.

Selain fakta pelatihnya yang kurang kompeten, Schalke juga terkesan gampang main pecat. Dampak gonta-ganti pelatih itu membuat formasi, taktik, dan starting eleven Schalke selalu berganti tiap pelatih baru datang. Alhasil, pemain harus selalu membuat penyesuaian baru di tiap bulannya.

Akan tetapi, penyebab kegagalan Schalke tak cuma soal pelatih saja. Faktor terkuat yang membuat Schalke sulit menggaet pelatih bagus adalah fakta bahwa klub ini sedang mengalami krisis finansial akut. The Royal Blues sedang diambang kehancuran ekonomi.

Krisis Finansial dan Moral dalam Tubuh Schalke

Pandemi Covid-19 yang datang di bulan Maret tahun lalu jadi pemicu terbesarnya. Schalke terindikasi jadi salah satu tim papan atas Jerman yang terancam bangkrut. Pendapatan mereka turun drastis. Selain pendapatan tiket yang jelas menurun, pendapatan dari hak siar TV dan penjualan produk komersial juga ikut turun.

Dalam laporan audit yang dikeluarkan Deloitte, tahun lalu saja pendapatan Schalke turun hingga 31% menyusul performa mereka yang buruk dan kegagalannya lolos ke kompetisi Eropa. Di samping itu, Schlake juga punya beban utang nyaris 200 juta euro atau sekitar 3,5 triliun rupiah. Kemungkinan besar, angka tersebut juga sudah bertambah saat ini.

Kondisi finansial yang memburuk itu pula yang jadi penyebab Schalke tak punya banyak pilihan di bursa transfer. Beberapa nama dilego yang untuk mendapat pemasukan, termasuk Weston McKennie yang dijual ke Juventus dan Ozan Kabak yang menuju Liverpool. Schalke tak mampu berbuat banyak di 2 jendela transfer. The Royal Blues hanya sanggup membelanjakan 2 juta euro untuk menebus 8 pemain baru. Itupun kebanyakan adalah pemain pinjaman dan habis kontrak.

Bagaimana tidak, musim ini Schalke jadi tim Bundesliga pertama yang menerapkan salary cap atau pembatasan gaji. The Royal Blues tak akan menggaji pemain lama dan pemain barunya lebih dari 2,5 juta euro.

Oleh karena itu, demi memperkuat tim, Schalke lebih banyak mempromosikan pemain akademi. Mathhew Hoppe, top skor sementara Schalke musim ini adalah striker 20 tahun asal Amerika Serikat yang baru dipromosikan ke tim utama pada Januari lalu.

Performa para lulusan akademi Schalke di tim utama justru lebih baik ketimbang 4 pemain senior yang datang musim ini. Kedatangan Sead Kolasinac, Skhodran Mustafi, Vedad Ibisevic, dan Klaas-Jan Huntelaar tak memberi kontribusi berarti kepada Schalke. Khusus Kolasinac dan Mustafi yang didatangkan dari Arsenal, keduanya kini justru dicap sebagai biang kerok kegagalan tim oleh pendukung Schalke.

Kekisruhan dalam tubuh Schalke tak cuma terjadi di atas lapangan saja, tapi juga terjadi meja manajemen dan direksi klub. Dimulai dari Clemens Tonnies yang dipaksa mundur pada Juni 2020 dari jabatannya sebagai ketua sekaligus dewan pengawas klub pasca terjadi wabah corona bersar-besaran di pabrik yang ia kelola.

Kemudian, pada bulan November giliran Michael Reschke yang dipecat dari kursi direktur teknik pasca rentetan laga tanpa kemenangan. Tak lama setelah itu, dua pemain Schalke diskors oleh direktur olahraga, Jochen Schneider.

Nabil Bentaleb dan Amine Harit diskors dalam batas waktu yang tidak ditentukan. Keduanya mendapat kritik pedas dan dianggap gagal menunjukkan penampilan terbaiknya. Di samping itu, direktur olahraga Schalke juga memecat Vedad Ibisevic.

Ibisevic yang baru datang di bulan September dipecat sebelum tahun baru setelah sebelumnya sempat terlibat perkelahian dengan asisten pelatih pada sebuah sesi latihan. Lalu, di akhir bulan Februari kemarin, giliran sang direktur olahraga, Jochen Schneider yang dibebastugaskan menyusul kekalahan memalukan dari Dortmund dan Stuttgart.

Di pekan ke-22, Schalke kalah 4-0 di kandangnya sendiri dari sang rival abadi, Borussia Dortmund. Sepekan kemudian, mereka kalah 5-1 di kandang Stuttgart. Buntut dari kekalahan tersebut juga membuat Sascha Riether dan Werner Leuthard dipecat dari departemen yang bertugas menganalisis performa pemain.

Hubungan Schalke dengan para pendukungnya juga sedang buruk. Ketegangan terjadi pasca klub membuat keputusan kontroversial. Seluruh tiket musiman di musim lalu tak dapat diuangkan kembali walau para pendukungnya sudah pasti tak diperbolehkan menonton langsung di stadion.

Ultras Gelsenkirchen jadi yang paling vokal mengritik. Apalagi setelah manajemen Schalke kedapatan memotong gaji para staffnya cukup besar. Dalam sebuah pernyataannya, Ultras Gelsenkirchen mengkritik dewan pengawas, dewan kehormatan, dan manajemen keuangan yang dianggap telah mengabaikan nilai-nilai klub.

“Seluruh musim ini telah menjadi deklarasi kebangkrutan moral. Klub dengan cepat kehilangan kepercayaan dan identitas … Kami tidak akan membiarkan klub diambil dari kami dan dihancurkan.” tulis para Ultras. ( dikutip dari dw.com/18.12.2020 )

Terbaru, pasca kekalahan 0-1 dari Arminia Bielefeld yang mengakibatkan The Royal Blues terdegradasi dari Bundesliga, para fans tak mampu lagi menahan kemarahannya. Menurut keterangan polisi setempat, sebanyak 500-600 fans telah menunggu kedatangan skuad Schalke di sekitar Veltins Arena. Begitu bus datang, skuad Schalke langsung mendapat ejekan verbal dan dilempari telur.

Tak cuma itu, dari rekaman video amatir, para pemain dan staff yang baru pulang dari kandang Arminia juga diserang fansnya sendiri usai keluar dari bus. Mereka dikejar, bahkan ada yang sampai ditendang dan dipukuli.

“Kami dilempari dengan telur, petasan, dan situasi benar-benar panas. Para penggemar menyerang kami. Kami hanya lari. Itu ketakutan, murni ketakutan! Saya hanya lari. Beberapa dari kami ditendang dan ditinju. Saya kaget, dan Saya tidak tahu bagaimana kami akan bermain di pertandingan berikutnya. Saya juga tidak mengerti mengapa kami dihadapkan dengan para penggemar seperti ini sejak awal.” kata salah seorang pemain Schalke yang enggan disebut namanya. ( dikutip dari espn.com/22.4.2021 )

Kini kasus tersebut sedang ditangi kepolisian setempat. Meski Schalke sudah menyatakan memahami kekecawan fans dan menyayangkan tindakan brutal itu, yang pasti kini mereka tengah malu luar biasa.

Terakhir kali Schalke turun kasta ke divisi dua terjadi di musim 1987/88. Momen terdegradasinya The Royal Blues tak cuma disesalkan fansnya sendiri, tetapi juga dirayakan fans Dortmund yang bahagia melihat rival sekotanya itu menderita, terlihat dari video kembang api yang dinyalakan pendukung Borussia Dortmund. Semoga kejadian memalukan yang ditimpa Schalke tak terulang kembali. Kini, The Royal Blues punya PR besar untuk mengakhiri musim secara terhormat.

Terdegradasi bukanlah akhir bagi Schalke. Turun kasta bisa jadi momen krusial dalam sejarah Schalke untuk memperbaiki struktur manajemen, pemain, hingga keuangan tim yang kacau. The Royal Blues juga mesti memperbaiki hubungan dengan para fansnya. Lekas pulih Schalke! Dan lekas promosi kembali ke Bundesliga!

***

Sumber Referensi: Bulinews, PanditFootball, ESPN, DW 1, DW 2

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *