Beranda blog Halaman 653

Ketika Ronaldo Jadi Penyelamat Tim di Pertandingan Penting

Keberadaan Cristiano Ronaldo di kubu Manchester United lagi-lagi berhasil ciptakan momen tak terlupakan. Pada laga Liga Champions melawan Villareal beberapa waktu lalu, pemain yang direkrut dari Juventus ini berhasil menjadi penyelamat lewat gol nya di masa injury time.

Bermain di Old Trafford, MU sempat tertinggal lebih dulu lewat gol yang dicetak Paco Alcacer. Namun keunggulan tim tamu tak bertahan lama setelah Alex Telles berhasil menyamakan kedudukan lewat sontekan indah nan mematikan.

Sampai setidaknya menit ke 90, tanda-tanda pertandingan bakal berakhir imbang mulai terlihat. Kedua tim kesulitan mencetak gol dan tampak pasrah akan satu poin yang sudah berada di genggaman.

Namun semua berubah setelah detik-detik pertandingan nyaris temui peluit panjang. Adalah Ronaldo yang mendapat bola di dalam kotak penalti lawan, berhasil menceploskannya ke dalam gawang. Bintang asal Portugal itu mencetak gol tepat di menit ke 90+5 dimana itu sekaligus memberi tiga poin bagi tim tuan rumah.

Selain berhasil menjadi pahlawan tim Setan Merah di menit akhir pertandingan, nama Cristiano Ronaldo juga tercatat telah mencetak rekor baru. Dia jadi pemain dengan penampilan terbanyak di kompetisi Liga Champions Eropa dengan 178 laga, mengalahkan rekor yang sebelumnya dipegang Iker Casillas dengan 177 laga.

Bicara tentang Ronaldo sebagai penyelamat tim, maka ini bukan kali pertama ia melakukannya. Sudah ada beberapa pertandingan dengan tim berbeda, yang mengeluarkan namanya sebagai pahlawan kemenangan.

Penasaran momen hebat seperti apa yang berhasil diciptakan Ronaldo sebagai pahlawan? Simak ulasannya berikut ini.

Irlandia

Pada awal bulan September lalu, Ronaldo melakoni laga Internasional bersama timnas Portugal. Dia masuk ke dalam skuad Samba Eropa untuk melakoni laga kualifikasi Piala Dunia melawan Irlandia.

Di awal pertandingan, Ronaldo sejatinya berkesempatan mencetak gol melalui titik putih. Namun tendangannya mampu dimentahkan oleh Gavin Bazunu. Bukannya loyo, Portugal justru kian semangat untuk mencetak gol ke gawang lawan. Akan tetapi, gawang mereka malah kebobolan terlebih dahulu oleh John Egan di pengujung babak pertama.

Di babak kedua, Portugal kian meningkatkan intensitas serangan. Mereka berhasil mengurung pertahanan Irlandia hingga nyaris menyamakan kedudukan dalam sejumlah kesempatan. Setelah segala percobaan gagal temui sasaran, baru pada menit ke 89 Portugal berhasil menyamakan kedudukan.

Adalah Cristiano Ronaldo yang menjadi aktor usai memanfaatkan umpan Goncalo Guedes. Tak sampai disitu, kegagalan penalti di awal pertandingan akhirnya berhasil ditebus oleh Ronaldo setelah pada menit ke 90+6 dia berhasil mencetak gol kemenangan bagi Portugal.

Dua golnya saat itu berhasil membuatnya tercatat sebagai top skor sepanjang masa di ajang sepak bola internasional.

Udinese

Meladeni Udinese di pekan ke 34 Serie A musim 2020/21, Ronaldo lagi-lagi tampil sebagai pembeda.

Mulanya, Udinese tampil sangat agresif hingga sulit diserang. Mereka bahkan mampu membuka keunggulan lebih dulu pada menit ke-10 melalui tendangan Nahuel Molina. Ia memanfaatkan bola umpan tendangan bebas Rodrigo de Paul. Kebobolan di awal laga, Juventus terus melakukan serangan meski pada akhirnya mereka harus menutup babak pertama dengan ketertinggalan.

Di babak kedua, Juve langsung tancap gas dan tak ketinggalan untuk terus lancarkan serangan. Namun lagi-lagi, Udinese yang bertindak sebagai tuan rumah mampu melayani permainan tim tamu. Mereka tampil cukup apik dan terus gagalkan serangan Juve.

Kemudian tepat pada menit ke 81, petaka menghampiri Udinese. Bola hasil dari tendangan bebas yang disontek Ronaldo mengenai tangan Rodrigo de Paul di dalam kotak penalti. Walhasil Juventus yang mendapat hadiah tendangan 12 pas berhasil dieksekusi dengan baik oleh Ronaldo.

Permainan Juve yang semakin semangat lalu berhasil membuahkan gol kedua tepat di menit ke 89. Aktornya? Lagi-lagi Ronaldo yang catatkan namanya di papan skor. Umpan silang Rabiot dari sayap kiri ke tiang jauh berhasil disambut oleh tandukan sang bintang dan tidak bisa dijangkau oleh Simone Scuffet.

Skor 2-1 untuk keunggulan Juventus pun bertahan hingga peluit panjang dibunyikan.

Atletico Madrid

Pertandingan melawan Atletico ketika masih membela Juventus mungkin tidak akan pernah dilupakan oleh Ronaldo. Pada Maret 2019 lalu, Juventus harus mengerahkan seluruh tenaganya usai pada pertandingan pertama babak 16 besar mereka menelan kekalahan 2-0 di kandang Atletico.

Di laga kedua yang digelar di Turin, Juventus tampil ngotot demi mengejar tiket lolos ke babak selanjutnya. Ketika itu, Ronaldo jadi pahlawan Juve setelah dirinya berhasil mencetak tiga gol sekaligus. Tiga gol nya yang tidak mampu dibalas Atletico kemudian meloloskan tim asal Italia ke babak selanjutnya.

Gol pertama yang dicetak Ronaldo lahir dari sundulan, setelah memanfaatkan umpan silang dari Federico Bernardeschi. Ia kemudian kembali membuat Juventus Stadium bergemuruh setelah mencetak gol keduanya beberapa menit setelah babak kedua dimulai.

Gol ketiga sebagai penutup dari kemenangan Juve ketika itu, Ronaldo melakukannya dari titik putih setelah Bernardeschi dijatuhkan di kotak terlarang oleh Andrea Correa pada menit ke 84.

Pertandingan itu menjadi comeback yang cukup mencengangkan ketika itu, hingga membuat nama Ronaldo terus didendangkan di banyak media.

Wolfsburg

Tampil bersama Real Madrid memang selalu menjadi salah satu kenangan terbaik Cristiano Ronaldo. Di tahun 2016, dia pernah menciptakan sebuah pertunjukkan tak terlupakan ketika timnya berhadapan dengan wakil asal Jerman, Wolfsburg di kompetisi Liga Champions Eropa.

Keduanya beradu di babak perempat final, dimana pada pertandingan pertama Wolfsburg berhasil menang dengan skor 2-0 di Volkswagen Arena. Namun ternyata, hasil tersebut tidak benar-benar cukup untuk membuat Die Wolfe berbangga. Pasalnya, laga kedua yang dilangsungkan di Madrid harus membuat mereka menundukkan kepala.

Serangan cepat yang dilancarkan Madrid melalui trio BBC berhasil membuahkan gol pada menit ke 16. Bermula dari umpan silang Dani Carvajal, tembakan Ronaldo kemudian mampu menggetarkan jala tim tamu yang dikawal Diego Benaglio.

Hanya semenit berselang, Ronaldo kembali menggetarkan jala lawan usai tandukannya yang memanfaatkan umpan pojok Toni Kroos tak mampu dijangkau kiper lawan. Agregat 2-2 membuat Wolfsburg tampil lebih waspada. Mereka pun berhasil merapatkan barisan hingga membuat Madrid kesulitan mencetak gol.

Babak kedua permainan bisa dibilang seimbang, dengan kedua klub saling melancarkan serangan. Akan tetapi, Real Madrid memang masih terlalu kuat untuk Wolfsburg. Itu terbukti ketika pertandingan memasuki menit ke 77, Ronaldo kembali berhasil mencetak gol yang kali ini diciptakan melalui sebuah tendangan bebas.

Dengan keunggulan agregat 3-2, Real Madrid sukses melaju ke babak selanjutnya hingga berhasil merengkuh gelar juara di akhir turnamen.

Inter Milan

Pada laga semifinal Coppa Italia musim lalu, Juventus harus bertemu dengan Inter Milan yang punya kekuatan tak bisa diremehkan. Baru sembilan menit laga berjalan, Inter langsung menggebrak dengan torehan gol pembuka lewat aksi Lautaro Martinez.

Namun Juve yang juga punya skuad terbaik tak mau tinggal diam begitu saja. Mereka terus menekan pertahanan La Beneamata hingga berujung pada hadiah penalti pada menit ke 26. Bermula dari pelanggaran yang dilakukan Ashley Young kepada Juan Cuadrado, Ronaldo yang mengeksekusi tendangan 12 pas sukses menyamakan kedudukan.

Sepuluh menit berselang, Juventus berbalik unggul. Aktornya lagi-lagi Ronaldo yang berhasil mencetak gol keduanya. Dalam prosesnya, pria Portugal itu memanfaatkan kecerobohan bek Inter Milan hingga membuatnya dengan mudah catatkan namanya di papan skor.

Sampai peluit panjang dibunyikan, tidak ada lagi gol tercipta. Inter yang meski terus menyerang pertahanan Juve tetap gagal samakan kedudukan.

Si Nyonya Tua yang melaju ke partai final pun berhasil meraih gelar juara usai di partai puncak berhasil kandaskan perlawanan Atalanta dengan skor 2-1.

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=futXjb3a6ic[/embedyt]

Berita Bola Terbaru Starting Eleven News 4 Oktober 2021

ARSENAL TERDEPAN UNTUK DAPATKAN LORENZO INSIGNE

Arsenal dilaporkan memimpin perlombaan untuk mengontrak penyerang Napoli Lorenzo Insigne pada 2022 mendatang. Kontrak pemain berusia 30 tahun saat ini di Naples akan berakhir Juni mendatang, dan sejumlah klub, termasuk Tottenham, terus dikaitkan dengan Insigne. Menurut Sportsmole, tim Serie A saat ini sedang dalam diskusi dengan agen Insigne mengenai kontrak baru. Namun, laporan tersebut mengklaim bahwa The Gunners sedang bersiap untuk mendekati pemain tersebut pada bulan Januari.

BEK ANYAR ARSENAL TOMIYASU DIBILANG MIRIP RONALDO DALAM HAL INI

Takehiro Tomiyasu merupakan salah satu pemain yang tampil gemilang seiring dengan kebangkitan Arsenal di ajang Premier League. Karena performa apiknya di beberapa laga terakhir, Tomiyasu pun kebanjiran pujian. Bahkan ada yang meyakini kalau sang pemain punya mentalitas seperti Cristiano Ronaldo. Hal tersebut diungkapkan oleh Andre Pinto selaku Direktur Olahraga Sint-Truiden, klub Belgia yang pertama kali membawa Tomiyasu ke Eropa pada 2018. Pinto mengatakan bahwa mentalitas Ronaldo yang dimiliki Tomiyasu terwujud dalam kemauan untuk terus bekerja keras.

SEJAK KEPULANGAN CR7, POGBA TAK LAGI MERASA SEPERTI BINTANG MU

Kepulangan Cristiano Ronaldo ke Manchester United diyakini membuat Paul Pogba tak lagi merasa seperti bintang Setan Merah. Klaim itu disampaikan oleh jurnalis senior Italia, Paolo Condo. Pogba dinilai terpengaruh secara negatif dengan kehadiran Ronaldo karena hingga saat ini belum mencetak gol meskipun telah membuat assist. Ronaldo dianggap membuat kepercayaan diri Pogba di depan gawang menjadi berkurang. Pogba menyadari bahwa dia tidak lagi menjadi pusat perhatian di Manchester United.

LATIHAN KERAS SEJAK MUDA, RONALDO SAMPAI HARUS DIUSIR FERGUSON

Dedikasi Cristiano Ronaldo terhadap sepak bola tak perlu diragukan lagi. Hal itulah yang diungkapkan oleh eks rekannya di Manchester United, Nicky Butt dalam buku bertajuk ‘Viva Ronaldo!: The Second Coming of Cristiano’ karangan Harry Harris. Ronaldo telah berlatih keras sejak masih muda. Nicky Butt Butt pun mengisahkan bahwa pelatih MU saat itu, Sir Alex Ferguson kerap memaksa Ronaldo untuk menghentikan latihan karena takut itu akan membuatnya terlalu kelelahan.

MARTINEZ BERI KODE SIAP GANTIKAN KOEMAN DI BARCELONA

Ronald Koeman dikabarkan bakal segera dipecat Barcelona. Sejumlah nama kandidat pengganti pun bermunculan, salah satunya Roberto Martinez. Martinez, yang sedang bertugas sebagai pelatih Timnas Belgia, bicara soal rumor menuju Barcelona. Dia mengisyaratkan ia tak menutup pintu untuk menggantikan Ronald Koeman di Barcelona. Martinez merupakan teman dekat penasihat Barcelona, Jordi Cruyff. Presiden Joan Laporta pun disebut sebagai salah satu pengagum eks manajer Wigan dan Everton itu.

LAPORTA PUNYA IMPIAN BARCELONA DILATIH TUCHEL

Presiden Barcelona, Joan Laporta mempunyai mimpi klubnya dilatih oleh Thomas Tuchel di tengah tekanan yang meningkat atas Ronald Koeman. Laporta adalah penggemar berat Tuchel sehingga ia akan senang jika pelatih Chelsea tersebut berlabuh ke Camp Nou. Laporta terkesan bagaimana Tuchel membawa tim asuhannya bermain di level tinggi dan melawan tim terbaik Eropa. Namun Laporta menyadari tak bisa memikat pelatih asal Jerman tersebut sekarang. Pasalnya dia terikat kontrak hingga 2024 setelah kontraknya diperpanjang usai memenangkan Liga Champions musim lalu.

DESCHAMPS DUKUNG KEPULANGAN GRIEZMANN KE ATLETICO MADRID

Antoine Griezmann secara mengejutkan pulang ke Atletico Madrid pada deadline transfer musim panas kemarin. Keputusan itu nyatanya membuat senang Didier Deschamps. Pelatih timnas Prancis itu memang menilai Barcelona berperan penting memudarkan sinar Griezmann. Maka dari itu ia senang sang pemain memilih meninggalkan Camp Nou. Deschamps yakin masa-masa sulit Griezmann akan segera berakhir. Gol ke gawang Milan tentu menambah rasa percaya dirinya.

JUVENTUS DAN MAN CITY BERSAING PEREBUTKAN RAUL JIMENEZ

Juara Liga Premier Manchester City dan raksasa Serie A Juventus dilaporkan tertarik untuk mengontrak striker Wolverhampton Wanderers, Raul Jimenez. Jimenez telah membuktikan dirinya sebagai pencetak gol handal di Liga Premier sejak tiba di Molineux pada 2019 dan menurut Sportsmole, City dan Juve akan saling bertarung untuk mendapatkan jasa pemain berusia 30 tahun itu. City mengincar Jimenez setelah gagal mendapatkan Harry Kane. Sementara Juve ingin menjadikan Jimenez sebagai pesaing bagi Moise Kean di lini depan.

PENILAIAN TREZEGUET SOAL CHIESA: PEMAIN PALING MENENTUKAN DI JUVENTUS

Salah satu legenda Juventus, David Trezeguet turut buka suara mengenai performa Federico Chiesa yang belakangan kerap menjadi perbincangan berkat kualitasnya. Pemain sayap Italia telah memainkan peran kunci dalam kemenangan Bianconeri sejauh musim ini, setelah mencetak dua gol dalam enam penampilan di semua kompetisi. “Federico tidak banyak berpikir, tetapi dia bekerja keras, dia memiliki keterampilan menggiring bola yang luar biasa dan merupakan pemain Juventus yang paling menentukan,” kata Trezeguet.

HASIL PERTANDINGAN

Liverpool bermain imbang 2-2 dengan Man City pada lanjutan Liga Inggris di Stadion Anfield, Minggu malam. Tanpa gol di babak pertama, Liverpool membuka skor lewat aksi Sadio Mane di menit ke 59. Sepuluh menit berselang, Phil Foden berhasil menyamakan kedudukan menjadi satu sama. Mohamed Salah lalu kembali bawa The Reds unggul. Namun Kevin de Bruyne akhirnya memaksa laga berakhir imbang lewat golnya di menit ke-81. Dengan hasil ini, Liverpool masih tetap berada di urutan kedua, sedangkan City berada menguntit tepat dibawahnya. Pada laga lain, Tottenham menang 2-1 atas Aston Villa.

Di ajang Liga Spanyol, Espanyol menaklukkan Real Madrid dengan skor 2-1. De Tomas membawa Espanyol memimpin di menit ke-17. Setelah itu giliran Aleix Vidal yang menggandakan keunggulan di menit ke-60. Madrid hanya mampu memperkecil kedudukan melalui aksi Karim Benzema di menit ke-71. Meski kalah, Madrid masih berada di puncak klasemen, unggul produktivitas gol atas Atletico Madrid. Sementara Espanyol ada di urutan ke-13.

Di ajang Bundesliga, Bayern Munchen menelan kekalahan perdana musim ini setelah dipermalukan Eintracht Frankfurt di Allianz Arena. Bayern unggul terlebih dahulu lewat aksi Leon Goretzka di menit ke- 29. Tak berselang lama, Hinteregger membawa Frankfurt menyamakan kedudukan. Kostic lalu berhasil mencetak gol ke gawang Bayern untuk membawa Frankfurt meraih kemenangan 2-1. Bayern saat ini masih memimpin klasemen sementara, sedangkan Frankfurt ada di urutan ke-13.

Pada kompetisi Serie A Italia, AC Milan sukses mempermalukan tuan rumah Atalanta dengan skor 3-2. Gol-gol Milan tercipta berkat aksi Davide Calabria, Sandro Tonali, dan Rafael Leao. Sedangkan dua gol Atalanta dikemas oleh Duvan Zapata dan Mario Pasalic. Milan untuk sementara bertengger di posisi kedua, sedangkan Atalanta nangkring di posisi ke-8.

Dari ajang Liga Prancis, PSG yang diperkuat trio MNM secara mengejutkan ditumbangkan tuan rumah Rennes dengan skor 2-0. Rennes membuka skor lewat aksi Laborde di penghujung babak pertama, sebelum kemudian digandakan oleh Tait di awal babak kedua. Kendati kalah, PSG masih nyaman di pucuk klasemen, sedangkan Rennes ada di peringkat ke-12. 

KLOPP: GOL MO SALAH AKAN DIINGAT FANS SELAMANYA

Liverpool memang hanya bisa bermain imbang 2-2 melawan Man City. Namun, ada satu hal yang menurut pelatih Liverpool, Jurgen Klopp, sulit terlupakan. Klopp menyebut gol Mohamed Salah di menit ke-76 sebagai gol kelas dunia. Ia tak terkejut saat melihat pemain asal Mesir itu meliuk untuk mengecoh bek lawan. “Klub tidak akan pernah melupakan gol ini dan setidaknya akan selalu dibicarakan selama 50 atau 60 tahun ke depan.” ucap Klopp.

KLOPP HERAN BANYAK PEMAIN LIGA INGGRIS OGAH VAKSIN

Juergen Klopp heran kenapa banyak pemain Liga Inggris tidak mau divaksin Covid-19. Liga Inggris mengungkapkan kalau hanya tujuh dari 20 klub, yang skuadnya sudah divaksin penuh sebanyak 50 persen atau lebih. Hanya Wolves yang melaporkan semua pemainnya telah divaksin. Klopp sendiri mengaku sudah divaksin. Menurutnya, vaksin tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga orang-orang terdekatnya. Klopp juga mempertanyakan pendapat yang menyebut kewajiban vaksinasi membatasi kemerdekaan manusia.

JS PARK MINTA FANS MU STOP NYANYIKAN CHANT YANG HINA ORANG KOREA

Dalam wawancara dengan UTD Podcast baru-baru ini, Eks gelandang Manchester United, Park Ji-sung dengan tulus meminta kepada fans Setan Merah untuk berhenti menyanyikan chant tentang dirinya. Chant tersebut mengandung kata-kata berbunyi bahwa orang Korea memakan daging anjing. Menurut Park, hal tersebut bisa membuat orang Korea tersinggung. Adapun sumber masalahnya muncul ketika MU bertemu dengan Wolves pada bulan Agustus lalu. Ketika Wolves memperkenalkan pemain baru mereka, Hwang Hee-chan, nyanyian rasisme itu pun menggema di Stadion Molineux.

CLAUDIO RANIERI SEPAKAT TANGANI WATFORD

Mantan pelatih Chelsea dan Leicester City, Claudio Ranieri sepakat menangani klub Liga Inggris lainnya, yakni Watford, yang baru saja memecat sang juru taktik Xisco Munoz menyusul kekalahan 1-0 dari Leeds United di Elland Road, Sabtu (2/10). Ranieri akan menjadi pelatih kepala ke-13 Watford yang berbeda sejak keluarga Pozzo menyelesaikan pengambilalihan klub pada 2012. Ranieri diperkirakan akan menandatangani kontrak pada hari Senin (4/10).

DIBUNGKAM ESPANYOL, PENAMPILAN TERBURUK REAL MADRID MUSIM INI

Pelatih Real Madrid Carlo Ancelotti mengakui timnya bermain buruk saat ditekuk Espanyol 1-2 dalam lanjutan La Liga Spanyol 2021/22, Minggu (3/10). Ancelotti menganggap timnya memberikan penampilan terburuknya pada pertandingan kali ini. Dia pun bertekad untuk mencari penyebab (perubahan) mental pemain, mengingat ini adalah kekalahan kedua secara beruntun di semua kompetisi.

MULLER BAKAL PERPANJANG KONTRAK DI BAYERN MUNCHEN

Klub raksasa Jerman, Bayern Munchen tengah coba memperpanjang kontrak salah satu pemain yang telah menjadi ikon klub, Thomas Muller. Akan tetapi, sayangnya menurut kabar terbaru dari Bavarian Football Works, Muller hanya akan menandatangani perpanjangan kontraknya pada tahun 2023 mendatang, atau hanya beberapa bulan sebelum kontraknya resmi berakhir pada 30 Juni 2023.

INIESTA INGIN KEMBALI KE BARCELONA

Legenda Barcelona, Andres Iniesta telah mengkonfirmasi rencana jangka panjangnya untuk kembali ke klub di tahun-tahun mendatang. Meski punya hasrat pulang ke Camp Nou, Iniesta sendiri tak tahu kapan dan akan menjabat sebagai apa jika takdir benar-benar membawanya kembali ke klub yang membesarkan namanya itu. Iniesta sendiri tercatat masih membela Vissel Kobe dan kontraknya saat ini di klub J League tersebut berjalan hingga 2023.

TUMPUL KONTRA BRIGHTON, ARSENAL SAMAI CATATAN MEMALUKAN 35 TAHUN

Arsenal mencatatkan statistik mencetak gol terendah mereka di Premier League dalam 35 tahun setelah bermain imbang 0-0 melawan Brighton & Hove Albion pada Sabtu (2/10). The Gunners kini hanya mengoleksi lima gol dari tujuh laga pertama di liga, torehan terendah sejak musim 1986/87. Arsenal duduk di peringkat sebelas berkat hasil ini, mengemas tiga kemenangan, satu kali imbang, dan tiga kekalahan di musim 2021/22.

SELEBRASI EJEKAN TELEPON KOEMAN, BEGINI KATA SUAREZ

Striker Atletico Madrid, Luis Suarez, mengatakan bahwa selebrasi golnya dalam kemenangan atas Barcelona bukan ditujukan kepada Ronald Koeman. Sebagai informasi, perayaan gol Suarez seperti sedang menelepon dinilai “mengejek” Pelatih Barca Ronald Koeman yang memecat dirinya via telepon. “Itu untuk orang-orang yang tahu bahwa saya memiliki nomor yang sama dan saya masih menggunakan telepon yang sama. Itu bukan untuk Koeman, tidak sama sekali. Jika anda ingin tahu, saya bercanda dengan anak-anak saya bahwa saya akan melakukan itu,”

ARSENAL TERUS PANTAU SITUASI STERLING DI MAN CITY

Arsenal dilaporkan sedang mengawasi situasi bintang Manchester City, Raheem Sterling. Musim ini, Sterling menjadi korban rotasi Pep guardiola. Ia tercatat hanya tampil sebagai starter dua kali dari enam pertandingan awal di Liga Inggris musim ini. Negosiasi perpanjangan kontrak antara City dengan Sterling juga tidak kunjung menemui titik terang. Kontrak Sterling tinggal tersisa kurang dari dua tahun atau sekitar 20 bulan lagi. Situasi inilah yang sedang dipantau Arsenal. Pelatih Mikel Arteta yang meminta manajemen Arsenal untuk membeli Sterling.

GENAP BERUSIA 40 TAHUN, IBRA IKUTI JEJAK 8 BINTANG INI

Penyerang AC Milan, Zlatan Ibrahimovic, baru saja berulang tahun yang ke-40. Meskipun sudah tua, Ibrahimovic belum menunjukan tanda-tanda akan pensiun dari sepakbola. Dia mengikuti jejak delapan pemain bintang yang tetap bermain di usia tersebut. Para pemain tersebut adalah Ryan Giggs, Paolo Maldini, Teddy Sheringham, Gianluigi Buffon, Javier Zanetti, Francesco Totti, Roger Milla, dan Sir Stanley Matthews. 

DANNY BLIND SALAHKAN RONALDO UNTUK PERFORMA BURUK MU

Cristiano Ronaldo memang telah mengukir 5 gol untuk Manchester United musim ini. Namun di sisi lain, MU mengalami kesulitan dalam beberapa pertandingan terakhir dengan takluk dari Aston Villa (0-1) dan Young Boys (1-2). Setan Merah juga hanya mampu menang tipis atas Villarreal dengan skor 1-0 dan bermain imbang 1-1 melawan Everton. Legenda Ajax, Danny Blind, menilai bahwa MU mengalami kesulitan karena kehadiran Ronaldo yang memberi efek negatif. Menurut Blind, Ronaldo membuat MU mengubah gaya permainan mereka dan tidak lagi menerapkan pola yang biasa. Ronaldo juga dinilai hanya menunggu rekan setimnya untuk menyuplai bola dan apa yang dipikirkan cuma bagaimana dirinya mencetak gol. 

Perbedaan One-Club Man vs One-Man Team

0

Di era sekarang, sangat sulit untuk menemukan seorang pemain sepak bola yang mau bertahan dan hanya membela 1 klub sepanjang karier profesionalnya. Prestasi dan tawaran gaji adalah dua hal yang sulit untuk ditolak. Bila ada pemain yang mampu melakukannya maka ia layak disebut sebagai one-club man.

One-club man adalah sebutan untuk seorang pemain yang sepanjang kariernya hanya membela satu klub saja. Hal tersebut adalah wujud kesetiaan dan loyalitas tertinggi dalam dunia sepak bola. Di masa lalu, banyak sekali pemain yang masuk dalam kelompok tersebut dan kini mereka dikenal sebagai seorang legenda. Lalu, siapa saja yang masuk dalam daftar one-club man?

One-Club Man, Kala Seorang Pemain Setia Membela Satu Tim

Kita mulai dari Liga Inggris. Di Manchester United ada sosok Ryan Giggs, Paul Scholes, dan Gary Neville. Ketiganya juga punya kesamaan, yakni sama-sama bagian dari generasi emas MU yang dikenal dengan sebutan The Class of ’92.

Ryan Giggs membela MU dari musim 1990 hingga 2014. Total, pemain berjuluk Welsh Wizard itu memainkan 963 pertandingan dalam balutan jersey Setan Merah dan memenangkan 34 trofi, termasuk 13 trofi Liga Primer Inggris dan 2 trofi Liga Champions.

Sementara Paul Scholes membela MU dalam dua periode. Periode pertamanya berlangsung dari musim 1993 hingga 2011. Sempat pensiun setahun, Scholes kembali di musim 2012/2013. Total, ia berhasil mengumpulkan 718 caps bersama Setan Merah. Sementara itu periode Gary Neville bersama MU lebih singkat. Ia berseragam tim utama Setan Merah dari musim 1992 hingga 2011 dengan total penampilan sebanyak 602 pertandingan.

Di Liverpool ada sosok Jamie Carragher. Mantan wakil kapten Liverpool itu tampil dalam 737 pertandingan selama 16 musim dan berhasil mempersembahkan 11 trofi bersama The Reds. Andai saja Steven Gerrard tak hengkah ke LA Galaxy di akhir kariernya, mantan kapten Liverpool itu bisa masuk dalam daftar one-club man.

Arsenal juga punya sosok One-club man. Salah satunya adalah Tony Adams. Mantan bek tangguh timnas Inggris itu membela The Gunners selama 19 musim dari tahun 1983 hingga 2002. Total, ia berhasil mengemas 672 caps dan meraih 13 trofi dalam 3 dekade yang berbeda.

Di era sekarang, pemain Liga Inggris yang masuk dalam predikat one-club man adalah James Ward-Prowse dari Southampton. Ia telah membela The Saints sejak musim 2011 hingga sekarang.

Beralih ke Liga Italia. Di masa lalu, sosok yang paling ikonik tentu saja Francesco Totti dan Paolo Maldini. Totti mencatat 786 penampilan bersama AS Roma selama 25 musim. Selama membela I Lupi, ia berhasil mencetak 307 gol. Khusus di Serie A, ia berhasil mencetak 250 gol. Catatan tersebut menjadikannya sebagai pencetak gol terbanyak kedua Serie A di bawah Silvio Piola.

Sementara itu, Paolo Maldini juga membela AC Milan selama 25 musim dengan catatan total penampilan sebanyak 902 pertandingan. Selama periode 1984 hingga 2009, Paolo Maldini berhasil mempersembahkan 25 trofi. Ia memenangkan 5 trofi Liga Champions, di mana 2 trofi terakhir diraihnya sebagai kapten Rossoneri.

Loyalitas keduanya untuk masing-masing klub juga tak perlu diragukan. Pasca pensiun, Totti menjadi direktur AS Roma sebelum akhirnya mundur pada Juni 2019. Sementara itu, Paolo Maldini kini kita kenal sebagai direktur teknis AC Milan.

Apa yang ditempuh Totti dan Maldini mirip dengan perjalanan karier Michael Zorc di Borussia Dortmund. Semasa bermain, Zorc membela Dortmund dari tahun 1981 hingga 1998 dan sukses memenangi 7 trofi, termasuk trofi Liga Champions 1997. Usai pensiun, ia langsung menjadi manager tim. Kariernya terus menanjak hingga menjadi Sporting Director Dortmund hingga hari ini.

Sementara itu, di Liga Spanyol jumlah populasi one-club man lebih banyak lagi. Di masa lalu kita mengenal nama-nama seperti Carles Puyol di Barcelona, Fran Gonzalez di Deportivo La Coruna, hingga Bruno Soriano di Villarreal.

Untuk kategori pemain yang masih aktif, La Liga juga masih banyak menghasilkan one-club men. Di antaranya adalah Iker Muniain di Athletic Bilbao, Koke di Atletico Madrid, Nacho Fernandez di Real Madrid, hingga Sergio Busquets dan Sergi Roberto di Barcelona. Lionel Messi nyaris masuk dalam daftar ini andai saja ia tak dilepas ke PSG.

Dari Indonesia, ada nama Choirul Huda yang sepanjang kariernya sangat loyal kepada Persela Lamongan. Sebelum tutup usia pada 2017 silam, beliau berhasil mencatat 503 penampilan selama 18 musim membela Laskar Joko Tingkir.

Bila one-club man sangat setia dan loyal dengan hanya membela satu klub di sepanjang karier profesionalnya, maka lain halnya dengan sosok one-man club atau one-man team. Istilah ini kerap disalahartikan. Padahal, one-club man dan one-man team punya arti yang berbeda.

One-Man Team, Kala Satu Kesebelasan Mengandalkan Satu Pemain Saja

Dari istilahnya, one-man team punya arti tim satu orang. Istilah tersebut memang kontroversial dan dianggap agak menghina. One-man team digunakan untuk menyebut sebuah tim yang biasanya hanya mengandalkan satu pemain saja.

Meski kontroversial, dalam sejarah sepak bola, akan selalu ada seorang pemain yang permainannya paling menonjol dibanding rekan satu timnya. Kontribusinya di atas lapangan sangat berpengaruh terhadap performa tim dan tak jarang ia selalu berhasil mengangkat prestasi tim yang ia bela. Lalu, siapa saja pemain yang masuk dalam daftar ini?

Dari kategori legenda, timnas Bulgaria era Hristo Stoichkov bisa dikategorikan sebagai one-man team. Meski timnas Bulgaria era mantan pemain Barcelona itu dianggap sebagai generasi emas, permainan Stoichkov jauh lebih unggul di atas rekan-rekannya. Ia berhasil membawa Bulgaria mencapai semifinal Piala Dunia 1994 dan memenangkan sepatu emas serta mendapat penghargaan Ballon d’Or di tahun tersebut.

Serupa dengan Hristo Stoichkov, mantan pemain Barcelona lainnya juga punya catatan yang sama. Dia adalah Diego Maradona. Di tahun 1984, ia pindah dari Barca menuju Napoli. Kedatangan Maradona seketika mengguncang Liga Italia. Napoli yang di musim sebelumnya menempati peringkat 12 langsung ia bawa ke papan atas. Kehadiran Maradona di Napoli juga sukses mengusik peta persaingan sepak bola Italia yang didominasi klub asal Italia Utara seperti Juventus, AC Milan, Inter Milan, dan AS Roma.

Di era Maradona, Napoli berhasil meraih 5 trofi, termasuk trofi Piala UEFA 1989. Namun, prestasi terbaik Maradona adalah saat dirinya membantu Napoli menjuarai Serie A untuk pertama kalinya di musim 1986/1987 dan kembali mengulang prestasi yang sama di musim 1989/1990. Hingga hari ini Napoli era Maradona jadi satu-satu tim asal Italia Selatan yang pernah meraih scudetto.

Contoh lainnya dari one-man team antara lain Michel Platini di timnas Prancis era 80an, Eusebio di timnas Portugal era 60an, hingga Sir Tom Finney di Preston North End era 50an.

Untuk kategori pemain yang masih aktif, nama Henrikh Mkhitaryan di tim nasional Armenia bisa menjadi contohnya. Mkhitaryan adalah kapten sekaligus top skor sepanjang masa timnas Armenia dengan rekor 31 gol dari 91 caps.

Namun, predikat one-man team terbaik dalam sejarah sepertinya harus disematkan pada Matt Le Tissier di Southampton. Semasa aktif, pemain berjuluk “Le God” itu jadi nyawa bagi The Saints. Le Tissier adalah seorang gelandang serang dengan skill dan kemampuan teknis yang luar biasa.

Ia adalah gelandang pertama yang berhasil mencetak 100 gol di Premier League. Dari 270 penampilan di Liga Primer, “Le God” berhasil mencetak 101 gol dan 39 asis. Matt Le Tissier nyaris menyandang gelar one-man team sekaligus one-club man. Sayangnya, setelah pensiun di tahun 2002, ia sempat bermain di Liga Amatir bersama Eastleigh dan Guernsey.

Itulah perbedaan dan beberapa contoh dari “One-club Man” dan “One-man Team”. Jadi, jangan salah lagi ya Football Lovers.


***
Sumber Referensi: BBC, Bleacher report, Football365, HITC, The Sportster.

Berita Bola Terbaru Starting Eleven News 2 Oktober 2021

PELE KABARKAN KONDISI KESEHATAN MEMBAIK

Kabar bahagia hadir dari legenda sepakbola, Pele. Setelah menjalani perawatan di rumah sakit sejak Agustus akibat tumor di ususnya, Pele akhirnya diperbolehkan pulang. Namun begitu, ungkap sang dokter Pele masih belum diperbolehkan untuk melakukan aktivitas berat. Perkembangan kesehatannya masih akan terus dipantau termasuk menjalani perawatan kemoterapi. Usai kabar pulangnya Pele dari rumah sakit, dirinya yang sempat mengunggah foto bersama staf medis mendapat banyak sekali dukungan. Mayoritas komentar yang membanjiri postingan Pele berharap agar kesehatan eks bintang Brasil itu bisa segera pulih.

HAVERTZ DISEBUT MALAS-MALASAN KETIKA BERMAIN

Bintang Chelsea, Kai Havertz mendapat komentar yang sedikit menyakitkan. Oleh mantan penyerang Liverpool, Peter Crouch, Havertz disebut sering bermalas-malasan ketika berada di lapangan. Mantan pemain Internasional Inggris itu bahkan berkata bila Havertz mengingatkannya pada sosok Mesut Ozil ketika masih bermain untuk Arsenal. Tidak ada pergerakan berarti yang ditunjukkan saat tampil di laga melawan Juventus. “Havertz sangat mengecawakan. Dia mengingatkanku pada Ozil. Dia pemain brilian tapi sering terlihat malas,” ucap Crouch.

ALLEGRI PUJI PERAN LOCATELLI DI LINI TENGAH JUVENTUS

Massimiliano Allegri mengaku puas dengan kinerja yang ditunjukkan Manuel Locatelli di laga melawan Chelsea. Menurutnya, salah satu kunci keberhasilan Si Nyonya Tua adalah peran Locatelli yang begitu disiplin. Sang gelandang disebut sukses melakukan sejumlah blocking hingga membuat Chelsea kesulitan membangun serangan. Lebih lanjut, Allegri berharap bila permainan Locatelli akan terus seperti ini.

ATALANTA BAKAL KEHILANGAN GOSENS SELAMA SEBULAN

Kemenangan Atalanta atas Young Boys harus dibayar mahal. Salah satu pemain andalan mereka, Robin Gosens, harus menepi selama kurang lebih sebulan akibat terkena cedera yang cukup serius. Di awal laga melawan Young Boys, Gosens terlihat ambruk dan harus ditarik keluar untuk digantikan Joakim Maehle. Menyusul cedera tersebut, maka dipastikan bahwa Gosens tidak akan tampil di laga big match melawan AC Milan pada akhir pekan ini.

MARCELO GALLARDO BERADA DALAM PANTAUAN BARCELONA

Barcelona tengah mengalami masa krisis. Kursi kepelatihan klub yang saat ini dipegang Ronald Koeman, sebentar lagi akan diduduki oleh sosok lain menyusul performa negatif yang terus ditunjukkan. Salah satu kandidat yang masuk dalam radar adalah Marcelo Gallardo, pria 45 tahun yang kini melatih River Plate. Namun begitu, langkah Barcelona dalam mengincar Gallardo tidak bisa langsung terealisasi mengingat sang pelatih ingin menghabiskan kontraknya terlebih dahulu yang baru akan berakhir pada 31 Desember nanti. Maka, bila Gallardo benar-benar ditagetkan untuk gantikan Koeman, Barca baru bisa mengontaknya lagi pada Januari mendatang.

CONTE SEMPROT TUCHEL TAK PAHAM CARA PAKAI LUKAKU

Antonio Conte sangat menyayangkan performa Lukaku di Chelsea sejauh ini. Menurutnya, ini bukan karena Lukaku yang tampil kurang maksimal, namun justru perlakuan terhadap sang pemain lah yang dianggap kurang. Bagi Conte, Lukaku adalah penyerang yang sangat luar biasa dimana ucapan itu sudah dibuktikannya selama dua tahun dia melatih sang pemain. Dalam hal ini, dia menyoroti sosok Thomas Tuchel yang seharusnya tahu bagaimana cara memperlakukan Lukaku. Jika hal itu bisa dilakukan, maka eks pelatih Inter Milan ini yakin bila Lukaku akan jadi penyerang paling menakutkan di Eropa.

BALE AKAN KEMBALI PADA NOVEMBER

Gareth Bale yang memang rentan terhadap cedera dikabarkan masih mengalami masalah hamstring. Di musim ini sendiri, dia baru tampil dalam tiga pertandingan bersama Real Madrid dan menyumbang satu gol. Timnas Wales yang ikut khawatir terhadap kondisi sang pemain kemudian memberikan kabar bahwa Bale memang harus mendapat perawatan khusus menyusul cedera yang didapat tidaklah sembarangan. Melanjutkan perkembangan sang pemain, pelatih Rob Page mengatakan bila Bale diprediksi baru bisa kembali pada November mendatang.

SUAREZ KENANG PERLAKUAN BURUK KEPADANYA

Suarez ternyata masih merasa sakit hati dengan perlakuan Barcelona terhadapnya. Tepat ketika klub tersebut dipegang oleh Ronald Koeman, Suarez benar-benar merasa tersingkir. Dia merasa diasingkan dengan diminta untuk melakoni latihan secara individu. Selain itu, Koeman juga disebut telah memperlakukannya seperti bocah yang baru berusia 15 tahun. Walhasil, segala sikap yang sangat tidak menyenangkan dari pelatih barunya itu membuat Suarez memilih pergi dan bergabung dengan Atletico Madrid.

RESPON CHIESA TERHADAP KABAR KETERTARIKAN LIVERPOOL

Federico Chiesa menjadi pemain yang saat ini mengundang banyak perhatian. Bintang asal Italia itu terus menunjukkan performa gemilang hingga membuat banyak klub tertarik kepadanya. Belakangan, Chiesa dilaporkan telah menjalin kontak dengan Liverpool. Namun, kabar itu langsung ditepis oleh sang pemain, dengan mengatakan bahwa dia merasa bahagia di Juventus dan tidak pernah menjalin kontak dengan klub manapun. Soal Liverpool, Chiesa berkata bila itu hanya akal-akalan media untuk mendapat perhatian.

PEREZ INGIN DAPATKAN CAVANI DARI MU

Diam-diam, Edinson Cavani menjadi incaran serius raksasa Spanyol, Real Madrid. Melalui sang presiden Florentino Perez, Los Blancos dikabarkan siap menjadikan Cavani sebagai rekrutan mereka pada Januari mendatang. Dalam hal ini, Perez disebut bakal memanfaatkan situasi Cavani yang kalah bersaing dengan Ronaldo. Dia akan terus melakukan pendekatan dengan pemain asal Uruguay itu agar mau berseragam el Real pada awal tahun depan. Ini dilakukan setelah Perez gagal dapatkan Aubameyang dan Falcao yang memilih untuk putuskan jalannya masing-masing.

PEDRI CEDERA, ABSEN DALAM LAGA BARCELONA KONTRA ATLETICO

Jelang laga penting melawan Atletico Madrid, Barcelona justru mendapat kabar yang kurang menguntungkan. Gelandang andalan mereka, Pedri kemungkinan besar absen melawan Los Rojiblancos. Pemain berusia 18 tahun tersebut masih belum sembuh dari cedera otot yang menderanya. Pedri juga sebelumnya tidak tampil saat Barcelona digulung Benfica di Liga Champions. Sementara itu, Jordi Alba dikabarkan sudah kembali berlatih dan siap diturunkan melawan Atletico.

SKUAD TIMNAS INGGRIS UNTUK KUALIFIKASI PIALA DUNIA 2022

Pelatih timnas Inggris, Gareth Southgate, telah mengumumkan 23 pemain yang dipanggil untuk pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2022 pada Oktober. The Three Lions akan bertandang ke Andorra pada 9 Oktober sebelum menjamu Hongaria di Wembley tiga hari kemudian. Fikayo Tomori, Ollie Watkins, dan Aaron Ramsdale, termasuk dalam daftar pemain yang dipanggil Southgate. Selain itu, Phil Foden juga kembali ke skuad Inggris setelah cedera kaki yang dideritanya. Sementara itu, Harry Maguire dan Trent Alexander-Arnold absen karena cedera.

JADON SANCHO BELUM GACOR, SOLSKJAER SABAR

Jadon Sancho belum tampil apik bersama Manchester United. Total delapan laga sudah dijalaninya di seluruh kompetisi (termasuk lima kali di Liga Inggris), namun belum ada gol yang dicetaknya atau assist yang disumbangkannya. Pelatih Ole Gunnar Solskjaer pasang badan, dirinya mengaku sabar. Solskjaer tahu kalau pemain yang baru berusia 21 tahun itu harus banyak belajar. “Dia masih muda dan masih harus belajar bagaimana cara berlatih, bermain di Liga Inggris, dan sebagainya. Namun yang pasti, dia terus bekerja keras untuk mengeluarkan potensi terbaiknya,”

RONALDO MINTA SOLSKJAER UBAH TAKTIK MAN UNITED

Cristiano Ronaldo membawa standar tinggi sejak kembali ke MU. Baru-baru ini sebuah laporan menyebutkan bahwa Ronaldo menyarankan pelatihnya, Solskjaer untuk menerapkan tempo lebih cepat ke dalam permainan Setan Merah. Ronaldo ingin rekan-rekannya mengalirkan bola lebih cepat ke depan untuk memaksimalkan kemampuannya dalam mencetak gol. Sekarang, tinggal masalah waktu yang akan menjawab. Seberapa lama MU bisa beradaptasi untuk bermain lebih cepat dari sebelumnya untuk bisa lebih memaksimalkan naluri mencetak gol yang dimiliki Ronaldo lewat aliran bola yang cepat.

MU vs EVERTON, RONALDO TATAP LAGA KE-200 DI LIGA INGGRIS

Cristiano Ronaldo akan menjalani pertandingan spesial bersama Manchester United saat melawan Everton akhir pekan ini. Duel MU vs Everton yang termasuk dalam rangkaian pekan ketujuh Liga Inggris musim ini akan berlangsung di Stadion Old Trafford. Apabila kembali dimainkan pelatih Solskjaer, laga tersebut bakal menjadi pertandingan ke-200 Ronaldo di pentas Liga Inggris. Ronaldo nantinya akan menjadi pemain MU ke-24 yang mencatatkan 200 laga di Liga Inggris.

DANIEL STURRIDGE GABUNG KLUB AUSTRALIA, PERTH GLORY

Mantan pemain depan Liverpool dan Chelsea, Daniel Sturridge bergabung dengan klub Australia, Perth Glory untuk musim mendatang setelah tidak memiliki klub selama 18 bulan. Pemain 32 tahun itu tidak memiliki tim sejak Maret 2020 saat ia mengakhiri kontraknya dengan Trabzonspor Turki, setelah dilarang selama empat bulan oleh FA Inggris karena melanggar aturan pertandingan. Sturridge juga sempat berlatih dengan klub Spanyol Real Mallorca pada Juli lalu untuk membangun kebugarannya.

GAJI FANTASTIS HAALAND JIKA GANTIKAN MBAPPE

PSG punya potensi untuk kehilangan Kylian Mbappe, yang hingga saat ini masih belum bersedia untuk memperpanjang kontraknya. Jika hal itu sampai terjadi, PSG dilaporkan sudah punya nama, yang akan mereka rekrut sebagai pengganti Mbappe. Dia adalah Erling Haaland. Menurut laporan, jika hal itu sampai menjadi kenyataan, gaji yang dituntut Haaland, adalah 50 juta euro setiap pekannya. Itu berarti, Haaland bakal menerima Rp 827 miliar hanya dalam satu minggu lamanya.

FRANCK KESSIE BAKAL TINGGALKAN MILAN DI BULAN JANUARI

Saga Franck Kessie di AC Milan memasuki babak baru setelah sang pemain dikabarkan bisa meninggalkan San Siro lebih cepat dari yang diperkirakan. Laporan dari Football Italia menyebutkan jika Kessie besar kemungkinan bakal meninggalkan AC Milan di bulan Januari 2022 mendatang. Itu berarti kepergian Kessie lebih cepat 6 bulan dari yang diperkirakan. Kessie sebelumnya diperkirakan bakal meninggalkan AC Milan di akhir bulan Juni tahun 2022.

ARSENAL TAWARKAN AC MILAN BOYONG ALEXANDRE LACAZETTE

Bak gayung bersambut, keinginan AC Milan untuk mendatangkan striker Arsenal Alexandre Lacazette di bursa transfer berikutnya mendapatkan lampu hijau. Sebagaimana dikabarkan oleh Football Italia, pihak The Gunners telah menawarkan Rossoneri untuk segera bergerak mengangkut penyerang internasional Prancis tersebut. Kemungkinan besar, mantan penyerang Olympique Lyon itu akan hengkang dari Emirates Stadium pada jendela jual-beli pemain Januari.

REAL MADRID MULAI KEHABISAN KESABARAN UNTUK HAZARD

Pelatih Real Madrid, Carlo Ancelotti melakukan yang terbaik untuk Eden Hazard dengan memberikan segalanya termasuk kesempatan bermain. Akan tetapi hal itu nampaknya tidak cukup baginya untuk bersinar bersama Los Blancos. Dia menunjukkan beberapa tanda peningkatan, tetapi pemain sayap asal Belgia itu masih jauh dari performa yang diharapkan Madrid. Kesabaran mulai menipis dan klub nampaknya mulai muak dengan Hazard, padahal para penggemar sudah menyambutnya dengan hangat musim ini.

GUARDIOLA SANJUNG JURGEN KLOPP: DIA BANTU SAYA NAIK LEVEL

Liga Inggris pekan ini akan mempertemukan Liverpool vs Manchester City, Minggu (3/10) pukul 22.30 WIB. Jelang laga, Pep Guardiola memuji peran Jurgen Klopp yang membuat dirinya naik level sebagai seorang pelatih. Guardiola merasa menjadi pelatih yang lebih baik setelah bersaing dengan Klopp dalam waktu yang bisa dibilang cukup lama. Selain itu, Guardiola juga berkomentar soal laga ini dimana dia mengaku senang karena markas lawannya itu kini sudah bisa dipenuhi penonton yang akan memberikan atmosfer yang luar biasa pada laga tersebut.

RASHFORD KEMBALI BERLATIH PENUH BERSAMA MAN UNITED

Striker Manchester United Marcus Rashford mengambil bagian dalam latihan penuh pada hari Jumat untuk pertama kalinya sejak menjalani operasi bahu. Pemain internasional Inggris berusia 23 tahun itu tidak bermain sejak masuk sebagai pemain pengganti di final Euro 2020 Juli. Dia telah diganggu oleh masalah bahu selama berbulan-bulan dan menjalani operasi pada awal Agustus. Menurut Solskjaer, Rashford telah tampak baik-baik saja.

KAWASAN HOTEL MESSI DI PARIS DIBOBOL MALING

Hotel Lionel Messi di Paris mengalami perampokan saat PSG sukses mengalahkan Manchester City 2-0 pada matchday kedua Grup A Liga Champions. Marca melaporkan, para perampok berhasil menyelinap ke hotel dari atap. Mereka turun ke balkon dengan posisi jendela yang terbuka dan memudahkan para pencuri masuk ke beberapa kamar. Seorang tamu hotel juga dikabarkan menjadi korban perampokan kelompok tak dikenal. Korban mengaku kehilangan kali emas, beberapa anting-anting, dan uang tunai.

DONNY VAN DE BEEK SIAP ANGKAT KAKI DARI OLD TRAFFORD

Donny van De Beek mulai frustasi di Manchester United. Dia menunjukan rasa kecewanya pada laga kontra Villarreal. Kekecewaan gelandang asal Belanda itu begitu tinggi. Ini terlihat saat dia tak merayakan gol kemenangan MU atas Villarreal. Sepanjang musim ini, Van de Beek hanya main dua laga. Dia dipastikan akan meminta klub untuk menjual atau meminjamkannya di bursa transfer Januari. Musim ini, dia nyaris tinggalkan MU tapi Solskjaer masih menahannya. Faktanya, Solskjaer ingkar janji. Dia malah bingung kapan akan memainkan Van de Beek.

Jalan Akademi Sebagai Kunci Keberhasilan Atalanta

Sudah beberapa tahun lamanya, Atalanta telah berhasil menunjukkan kualitas sebagai salah satu klub terbaik Italia, bahkan Eropa. Meski baru beberapa tahun terakhir tampil di kompetisi Eropa, keberadaan klub berjuluk La Dea sangat patut diwaspadai. Mereka kerap merepotkan lawan dengan permainan atraktif hingga tak jarang memberi kejutan dengan menyingkirkan tim yang sebelumnya diunggulkan.

Atalanta memang telah menjelma menjadi tim yang tak bisa diremehkan. Dilatih oleh pria bernama Gian Piero Gasperini, penggawa yang diandalkan mampu menembus ketatnya barisan tim-tim unggulan.

Hebatnya, Atalanta banyak mengandalkan pemain muda jebolannya untuk menembus blantika sepakbola Eropa. Ketika itu, langsung muncul pertanyaan tentang apakah Atalanta hanya tergolong ke dalam one-season wonder atau tim yang hanya mentereng di satu musim saja? Ternyata tidak. Melalui konsistensi permainan yang ditunjukkan, Atalanta bisa terus bersaing di papan atas klasemen hingga membuat tim-tim besar Italia mulai pasang badan ketika harus bertemu dengan mereka.

Setelah ditelusuri akarnya, ternyata Atalanta memang fokus untuk memanfaatkan para pemain muda demi mendapat skuad impian. Ketika sepakbola Italia tengah marak dengan skandal dan korupsi untuk memenuhi kebutuhan tim mereka, Atalanta lebih memilih untuk melawan tren tersebut. Mereka menolak untuk membayar bakat luar dan lebih berfokus pada bakat lokal.

Sejarah Singkat Akademi Atalanta

Berbasis di Zingonia, Giuseppe Ciatto adalah orang yang bertanggung jawab untuk mendirikan akademi Atalanta pada tahun 1940-an. Kemudian, bebannya jadi semakin ringan setelah mantan pemain Atalanta, Luigi Tentorio, sekitar tahun 1960-an meminta klub untuk fokus mengembangkan talenta muda. Melalui sang presiden saat itu, Danielle Turani, Tentorio berhasil membuat klub mau melirik rencana mengembangkan pemain-pemain muda melalui akademi mereka.

Tanpa berlama-lama, mereka lalu merekrut Giuseppe Brolis sebagai penanggung jawab akademi. Dipilihnya Giuseppe Brolis adalah karena sosok tersebut tergolong fasih dalam mencari bakat muda terbaik. Dia memiliki jaringan dengan beberapa klub dan mengenal para pemain muda potensial di beberapa kota di sekitaran provinsi Udine dan Veneto, di utara Italia.

Di awal-awal pembentukannya, Atalanta langsung mendapatkan angin segar. Melalui seleksi ketat serta pencarian bakat yang memang dilakukan secara hati-hati, Atalanta berhasil mendapatkan bakat sekelas Gaetano Scirea hingga Giuseppe Savoldi.

Dua nama tersebut begitu masyhur di sejarah persepakbolaan Italia. Scirea pada akhirnya berjaya bersama Juventus dan mengantar klub tersebut memenangi liga sebanyak tujuh kali dan sekali memenangkan kejuaraan tertinggi Eropa pada tahun 1985. Lalu ada Giuseppe Savoldi yang berjaya bersama Bologna serta Napoli di era 60 hingga 70 an.

Seiring berjalannya waktu, sepakbola Atalanta kian menarik perhatian. Masuknya sosok Antonio Percassi sebagai presiden di era awal 90 an berhasil mengubah wajah klub menjadi lebih gahar. Melalui visi dan pengembangan kelas atas yang dicanangkan, Antonio Percassi berhasil menghasilkan pemain dengan kualitas tinggi di sepakbola Italia yang kala itu tengah menjadi kiblat dunia.

Para penggila sepakbola tentu mengenal pemain sekelas Roberto Donadoni, Filippo Inzaghi, Domenico Morfeo, sampai Alessio Tacchinardi. Semua pemain tersebut menjadi beberapa dari sekian banyak pemain Italia yang mampu menembus kerasnya kompetisi Eropa.

Kemudian masih ada lagi beberapa nama yang tak boleh ditinggalkan eksistensinya. Sebut saja Giampaolo Pazzini yang pernah jadi salah satu striker paling mematikan di Serie A dan Riccardo Montolivo, yang pernah menjadi kapten salah satu klub terbaik Italia, AC Milan.

Sosok Penting, Keuntungan Letak Geografis, Sampai Fasilitas Penunjang yang Sangat Berkualitas

Bila melihat keberhasilan Atalanta dalam mengembangkan bakat muda, yang setidaknya konsisten dalam tiga dekade terakhir, maka tentu pertanyaan yang sering muncul adalah siapa sosok dibalik kemewahan ini semua?

Adalah Stefano Bonaccorso yang sudah masuk ke dalam darah Atalanta sejak tahun 1991, atau tepatnya dia dibawa oleh Antonio Percassi ketika pertama kali duduk di kursi kepresidenan klub. Bonaccorso benar-benar menerapkan apa yang memang dibutuhkan klub untuk bisa menggaet sekaligus mengembangkan bakat muda yang tersebar di seluruh Italia.

Dia memiliki tugas untuk memantau, mengkoordinasi, dan memberi masukan kepada pelatih. Dalam memantau bakat muda di Negeri Pizza, tugas Bonaccorso dimudahkan dengan letak geografis klub itu sendiri. Atalanta yang terletak di Bergamo menjadi klub terbesar dalam region Lombardia, di luar kota Metropolitan Milan yang kita tahu memiliki dua klub raksasa.

Hal ini sangat membantu Atalanta untuk bekerja sama dengan klub-klub lokal disana, seperti Ascoli, Avellino, Piacenza, Grumeliese, Meda, Pontisola, Gragnano, Varesina, Feralpi Salo, serta Virtus Bergamo. Dalam menjalin hubungan yang baik, Atalanta tak jarang memberi bantuan finansial kepada klub-klub tersebut serta memberi pinjaman pemain muda kepada mereka.

Keuntungan yang didapat Atalanta sendiri adalah, mereka seringkali diberi informasi oleh klub lokal tersebut tentang keberadaan pemain muda potensial Italia.

Setelah berhasil mencari bibit-bibit berbakat, Bonaccorso kemudian fokus pada kualitas pelatih yang direkrut untuk menempa para pemain muda. Dalam hal ini, dia tak sembarangan dalam menunjuk pelatih. Pelatih yang ditunjuk setidaknya telah mengantongi lisensi B UEFA. Selain itu, seperti yang ditulis These Football Times, mereka pun dituntut untuk memperkaya wawasan taktikal dan teknik, dimana itu bisa didapatkan melalui buku, tayangan televisi, maupun video sepakbola terbaru.

Bagi Atalanta, pelatih memiliki tanggung jawab yang tak kalah dengan pemain. Malah, sosok pemimpin yang biasa berdiri di pinggir lapangan itu dituntut untuk lebih kreatif guna memberi pemahaman tentang sepakbola dari sudut yang berbeda kepada para pemain muda.

Mereka menuntut sang pelatih untuk mampu memberi inovasi baru dan tak lupa memegang teguh filosofi permainan klub dalam mengembangkan pemain muda.

Filosofi yang diusung Atalanta dalam mengembangkan bakat muda adalah, mereka berfokus pada kemampuan teknik. Meski punya pakem permainan sendiri, Atalanta memberi kebebasan kepada para pelatih untuk menerapkan taktik kepada para pemain muda. Hal ini dimaksudkan agar pemain terbiasa dengan sistem permainan berbeda.

Selain teknik dan pemahaman detail seputar pengetahuan sepakbola, klub juga meminta pelatih untuk memupuk mental para pemain muda. Kemenangan adalah kunci utama dalam pertandingan. Maka menjadikan pemain untuk memiliki mental pemenang sejak dini dianggap sangat penting.

Para pemain yang meski dijejali dengan banyak teknik dan berbagai pengetahuan sepakbola secara teratur, akan merasa tetap nyaman mengingat fasilitas yang berada di akademi bernama Centro Sportivo Bortolotti ini sangatlah luar biasa.

Terdiri dari empat tim yang berlaga di liga yang berbeda, yakni Primavera, Allievi Nazionali A dan B, dan Giovanissimi Nazionali, Atalanta benar-benar serius untuk membentuk generasi terbaik sepakbola kelas dunia. Antonio Percassi yang sempat mundur dan kembali menjabat pada tahun 2010, melakukan pembenahan besar-besaran pada akademi Atalanta.

Seperti yang dilaporkan situs Cano Football, disana terdapat 40 kamar asrama lengkap dengan fasilitas massage, tangki es untuk cryotherapy, kolam renang terapi, perlengkapan gym paling mutakhir, ruangan kantor serta ruang rapat bagi staf akademi. Semua fasilitas tersebut hanya diperuntukkan kepada para pemain muda di bawah 17 tahun.

Selain itu, para pemain juga dibekali dengan sensor GPS ketika melakukan pelatihan, seperti pemanasan teknik, melakukan gerakan khusus, lari dengan jarak yang sudah ditentukan, serta latihan lainnya semacam kontrol, dribbling, dan passing.

Yang tak kalah penting, mereka juga mendapatkan fasilitas untuk menunjang bentuk fisik yang diinginkan. Masih dalam laporan yang sama, situs Cano Football membeberkan kalau para pemain mendapatkan program khusus yang dirancang oleh para dokter, ahli gizi, fisioterapis, sampai psikolog.

Beberapa program yang didapatkan para pemain adalah aturan pola makan, pola tidur, serta bagaimana cara mendapat perasaan senang ketika mengikuti pelatihan.

Hasil Konkrit, Pemain Jebolan Akademi Klub, serta Keuntungan Lain Berupa Penjualan

Telah melalui proses yang tidak sebentar, Atalanta mendapatkan hasil yang bisa mereka nikmati sekarang. Buah dari kerja keras tim yang ada di balik layar, FIGC mengklaim bila akademi Atalanta duduk di tangga ke enam sebagai yang terbaik di seluruh Eropa. Selain itu, pada 2014 silam, menurut CIES Football Observatory, Atalanta duduk di tangga ke delapan sebagai pusat pelatihan pemain muda terbaik di dunia.

Dalam kurun waktu setidaknya satu dekade terakhir, pemain yang dihasilkan Atalanta juga tidak sembarangan. Malah beberapa dari mereka sudah ada yang bersinar di klub lain. Misalnya saja nama Giacomo Bonaventura dan Franck Kessie. Dua bintang Serie A itu sama-sama berjaya bersama AC Milan, meski kini Bonaventura telah berstatus sebagai pemain Fiorentina.

Lalu masih ada nama Musa Barrow yang kini jadi bintang Bologna, serta Andrea Conti hingga Mattia Caldara yang sempat guncangkan kompetisi Serie A. Belum lagi nama pemain seperti Dejan Kulusevski dan Alessandro Bastoni yang masing-masing telah menjadi andalan di Juventus dan juga Inter Milan. Bahkan, bintang sepakbola Italia di ajang Piala Eropa 2020 kemarin, Manuel Locatelli, juga merupakan jebolan akademi Atalanta sebelum akhirnya bergabung dengan AC Milan dan saat ini jadi gelandang andalan Si Nyonya Tua.

Dari nama-nama yang telah dikembangkan tersebut, Atalanta juga turut mendapat keuntungan finansial yang terbilang besar. Seperti Dejan Kulusevski, yang mampu menghasilkan dana sebesar 35 juta euro atau nyaris menyentuh angka 600 miliar rupiah usai diboyong tim Zebra. Berikutnya ada Franck Kessié yang dibeli AC Milan seharga 24 juta euro atau lebih dari 400 miliar rupiah.

Alessandro Bastoni, yang turut membawa Inter menjuarai Serie A juga diboyong dengan nilai yang terbilang lumayan yakni sebesar 31,1 juta euro atau sekitar lebih dari 500 miliar rupiah. Berikutnya ada Amad Diallo yang diboyong MU dengan mahar 21 juta euro (360 miliar rupiah).

Untuk saat ini, Atalanta juga masih punya banyak pemain muda jebolan akademi untuk diandalkan di masa depan. Diantaranya, Matteo Ruggeri, Mattia Caldara, Filippo Melegoni, Ebrima Colley, Enrico Del Prato, Davide Bettella, Christian Capone, dan Marco Carnesecchi, dimana semua pemain tersebut kini masih menjalani masa peminjaman di tim lain.

Sementara itu, beberapa pemain yang masih berkecimpung di tim muda juga patut mendapat perhatian, seperti nama Anwar Mediero, Alessandro Cortinovis, Emmanuel Gyabuaa, dan Samuel Giovane.

Bersama nama-nama tersebut, masa depan Atalanta bisa dibilang aman dan akan terus terjaga.

Sumber referensi: canofootball, ligalaga, thesefootballtimes

Sebaiknya Barcelona (Segera) Pecat Ronald Koeman

Barcelona kembali kalah! Dalam lanjutan matchday kedua Liga Champions, Barca yang bertandang ke markas Benfica dipaksa pulang dengan tangan hampa. Tak tanggung-tanggung, anak asuh Ronald Koeman menelan kekalahan telak 3 gol tanpa balas.

Kekalahan telak dari Benfica tersebut seperti menjadi puncak masalah Barcelona di bawah asuhan Ronald Koeman musim ini. Bukan sekadar hasil yang jadi bahan kritikan, tetapi juga bagaimana cara Barca bermain di bawah racikan pelatih 58 tahun itu.

Koeman dan Masalah Taktikal yang Ditimbulkanya

Di laga melawan Benfica, Barca menang penguasaan bola hingga nyaris 60%. Mereka juga berhasil mencatat 467 umpan akurat di laga tersebut. Sayangnya, Ansu Fati dkk gagal menghasilkan satu pun tembakan tepat sasaran dari 8 kali percobaan.

Laga melawan Benfica semakin menguatkan dugaan bahwa ada masalah taktikal dalam tubuh Barcelona. Serangan Barca seperti berputar-putar tanpa arah yang jelas. Alhasil, pasukan Ronald Koeman kesulitan mencetak gol.

Dari catatan UEFA, di laga melawan Benfica, Koeman memasang formasi 3-5-2. Ini bukan kali pertama Barca memainkan formasi tersebut dan bukan kali pertama Koeman mengotak-atik formasi Barcelona yang dari dulu identik dengan formasi 4-3-3.

Di matchday pertama Liga Champions kontra Bayern Munchen, Barca juga memakai formasi 3-5-2. Seperti yang kita tahu, hasil pertandingan itu berkesudahan dengan skor 3-0 untuk kemenangan Bayern Munchen. Artinya, Barca belum pernah menang di Liga Champions musim ini. Parahnya, menurut catatan UEFA, Memphis Depay dkk jadi satu-satunya kontestan Liga Champions musim ini yang belum menghasilkan satu pun tembakan tepat sasaran.

Dua kekalahan di ajang Liga Champions itu membuat posisi Ronald Koeman sebagai juru taktik Barcelona berada di ujung tanduk. Kini, nasibnya di Camp Nou tengah menjadi spekulasi. Wajar, di La Liga, meski Barca belum menelan kekalahan, mereka sudah 3 kali imbang melawan Athletic Bilbao, Granada, dan Cadiz.

Dua dari tiga hasil imbang, yakni kala bersua Bilbao dan Granada juga didapat dengan cara yang identik. Barca tertinggal lebih dulu sebelum berhasil menyamakan kedudukan dengan susah payah. Dari 5 pertandingan terakhir saja, Blaugrana hanya menang sekali, imbang 2 kali, dan kalah 2 kali.

Para pemain Barca sebetulnya juga sadar akan situasi yang tengah terjadi. Mereka tak menutup mata dengan hasil buruk yang didapat akhir-akhir ini. Namun, menanggapi hal tersebut, kapten Sergio Busquets berpendapat bahwa memecat Ronald Koeman dari kursi pelatih bukanlah solusi yang bijak. Senada dengan seniornya, gelandang Frenkie de Jong juga punya pendapat yang sama.

“Saya tidak bisa berbicara tentang Koeman, itu bukan hak saya. Saya tidak berpikir mengganti pelatih bisa menyelesaikan apa pun. Kami telah kalah dan kami belum mencetak gol. Kami berada dalam situasi yang sangat sulit.” kata Frenkie de Jong dikutip dari AS.

Lalu, apakah benar Ronald Koeman layak dipertahankan?

Para Kandidat Pengganti Ronald Koeman

Menurut kabar dari beberapa media lokal Spanyol, Joan Laporta diperkirakan tak akan buru-buru memecat Koeman. Laporan dari Marca juga menunjukkan hal yang sama. Tepat setelah kembali dari Lisbon, Joan Laporta dan beberapa dewan direksi klub dilaporkan mengadakan rapat terbatas untuk membahas masa depan Ronald Koeman. Namun dari penuturan Fabrizio Romano, para petinggi Barcelona juga sudah mulai berpikir untuk mencari manajer baru.

Ada beberapa kadidat yang muncul belakangan ini. Mengutip dari Mundo Deportivo, para kandidat yang masuk radar Barca antara lain, Andrea Pirlo, Thomas Tuchel, Roberto Martinez, Marcelo Gallardo, hingga Xavi Hernandez. Belakangan muncul pula nama Antonio Conte, Jurgen Klopp, dan Erik Ten Hag dalam bursa calon pelatih Barcelona.

Nama Xavi Hernandez tentu yang paling difavoritkan. Mantan gelandang Barcelona itu sudah diisukan bakal segera menukangi Blaugrana sejak musim lalu. Namun, mantan striker Barca, Luis Suarez punya pendapat lain. Menurutnya, ini bukan waktu yang tepat untuk kembali ke Camp Nou.

“Di Barca ada perang yang menyakiti para pemain. Saya pribadi merekomendasikan Xavi untuk menunggu. Ini bukan waktu yang ideal untuk pergi ke klub. Dia pintar dia harus menunggu sebentar,” kata Luis Suarez.

Ronald Koeman sendiri juga sadar bahwa posisinya dalam ancaman serius. Namun, seperti yang ia bilang “Saya merasa didukung, sangat didukung oleh para pemain saya di sini di Barcelona. Dan oleh klub? Saya tidak tahu.”

Perlu dipahami bahwa beberapa pemain Barcelona saat ini memiliki hubungan erat dengan Ronald Koeman, khususnya mereka yang sama-sama berasal dari Belanda. Artinya, memecat Koeman bisa menimbulkan masalah dalam ruang ganti pemain. Akan tetapi, kami punya pandangan lain.

Catatan Minor Koeman Sebagai Pelatih

Tak bisa dipungkiri bahwa Ronald Koeman telah merusak gaya main Barcelona. Bayangkan saja, menurut laporan surat kabar Sport, para pemain baru tahu sistem formasi 3-5-2 beberapa jam sebelum kick-off melawan Benfica.

Sementara di laga melawan Granada, Marca mencatat bahwa Barca melakukan 54 kali umpan silang. Hal tersebut tentu kontras dengan gaya main Barca sebelumnya yang identik dengan permainan kombinasi dari kaki ke kaki. Meski telah mengubah gaya main, Barca hanya berhasil menahan imbang Granada.

Selain masalah taktikal, Barca di bawah asuhan Koeman punya masalah lain. Sebagai manajer, Koeman punya rekam jejak negatif terkait bagaimana dia menangani masalah internal. Nyaris sepanjang kariernya sebagai pelatih, Koeman selalu terlibat masalah, baik dengan manajemen klub, staff, maupun pemain. Masalahnya lagi, ia seperti playing victim dengan kerap mengumbar konflik internal di depan publik.

Salah satu kasus yang paling menghebohkan adalah ketika ia menangani Valencia di musim 2007/2008. Tak tanggung-tanggung, Koeman terlibat perang dingin dengan para legenda Valencia, yakni Santiago Canizares, Miguel Angel Angulo, dan David Albelda yang merupakan kapten tim. Ketiganya disingkirkan Koeman dari tim utama, tetapi dilarang bergabung ke klub lain. Konon kabarnya, kasus tersebut sempat dibawa ke ranah hukum.

Tak hanya itu, di Valencia Koeman juga terlibat konflik panas dengan Joaquin Sanchez. Perseteruan keduanya bermula dari Joaquin yang datang terlambat 15 menit ke sesi latihan. Joaquin mengaku mobilnya mengalami masalah setelah mengantar anaknya ke sekolah.

Meski telah menjelaskan alasannya, Koeman menghukum Joaquin dengan mencadangkannya di pertadingan berikutnya. Keputusan tersebut sangat kontroversial, sebab beberapa waktu sebelumnya Ever Banega yang juga datang terlambat ke sesi latihan justru dimainkan sebagai starter.

Kuat dugaan bahwa kedekatan Joaquin dengan Canizares, Angulo, dan Albelda menjadi penyebab panasnya hubungan antara Ronald Koeman dengan Joaquin. Hubungan tak harmonis di antara keduanya bahkan berlangsung nyaris sepanjang musim dengan puncaknya terjadi di laga final Copa del Rey 2008.

Seperti yang sudah diduga, Koeman tak memainkan Joaquin. Namun masalahnya, pelatih asal Belanda itu membuat sang pemain melakukan pemanasan di pinggir lapangan sepanjang babak pertama dan kedua berlangsung. Sejak saat itu, keduanya menjadi musuh abadi dan tak pernah akur hingga hari ini.

Koeman pernah berkata ke media bahwa Joaquin adalah pemain yang tak layak bernilai 25 juta euro. Sebagai balasannya, Joaquin berkata, “Saya lebih tertarik kepada wine.” Kepada Marca Joaquin juga pernah berujar, “Saya tidak akan menerima Koeman, bahkan sebagai kitman.”

Konflik serupa sebetulnya juga sudah terjadi ketika Ronald Koeman menjadi pelatih Barcelona. Di awal kedatangnnya, ia langsung menyingkirkan Luis Suarez. Hal itu sempat membuat panas ruang ganti pemain, sebab seperti yang kita tahu, Suarez adalah sahabat karib Lionel Messi.

Sebagai seorang pelatih yang mestinya melindungi pemainnya sendiri, Koeman terkadang justru melakukan yang sebaliknya. Perlakuannya kepada Miralem Pjanic adalah salah satu contohnya. Contoh lainnya adalah bagaimana Koeman memandang sebelah mata Riqui Puig.

Koeman diketahui pernah menyerang sang wonderkid gara-gara membocorkan pembicaraannya ke publik. Ini bermula dari keputusannya yang meminta Puiq untuk mencari klub baru. Namun sang pemain bersikeras bertahan demi membuktikan kualitasnya.

Selain tak segan mengkritik pemainnya sendiri, Koeman yang terlalu banyak bicara di depan publik kerap mengeluarkan statement kontroversial. Seperti kala ia menyebut bahwa Luuk de Jong jauh lebih berbahaya ketimbang Neymar. Nyatanya, bomber asal Belanda baru mencetak 1 gol sepanjang musim ini.

Terbaru, muncul kabar bahwa sejatinya hubungan Koeman dengan Joan Laporta sudah tak harmonis. Sikap Koeman yang keras kepala dan anti kritik jadi salah satu penyebabnya. Menurut laporan surat kabar Sport, Laporta dan Koeman tidak berbicara satu sama lain selama penerbangan dari Lisbon ke Barcelona.

Sebaiknya Barcelona (Segera) Pecat Koeman

Inilah yang jadi bahan pertimbangan utama untuk sesegera mungkin memecat Ronald Koeman dari kursi pelatih Barcelona. Meski di musim lalu ia berhasil mempersembahkan trofi Copa del Rey, tetapi pencapaian tersebut tak layak dijadikan acuan. Sebab, musim ini langkah Barca jauh lebih terseok-seok.

Selain telah merusak Barca dari segi taktikal, tingkah laku Koeman yang terlalu banyak bicara dan mengumbar kekisruhan internal di depan khalayak umum tentu tak bagus untuk perkembangan tim. Apalagi, Barcelona kini tengah membangun ulang skuadnya di tengah kriris finansial.


***
Sumber Referensi: Detik, AS, Marca, Football-Espana, Marca 2, Marca 3, Football Espana 2.

Kenapa Timnas dan Klub Indonesia Sering Melakukan Umpan Lambung?

0

Suatu ketika usai sebuah pertandingan level internasional, eks pemain Timnas Vietnam, Van Sy Hung menunjukkan keheranannya usai Vietnam meraih kemenangan atas Timnas Indonesia pada pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2022. Timnas Indonesia yang masih dilatih Simon McMenemy harus mengakui keunggulan Timnas Vietnam 1-3.

Van Sy Hung heran karena sepanjang pertandingan para pemain Timnas Indonesia hanya melakukan umpan-umpan lambung yang tak terukur sama sekali. Ia boleh jadi terkejut karena baru pertama kali ini menonton pertandingan skuad yang menamai dirinya Tim Nasional, tapi tak mempunyai gaya permainan yang efektif. Timnas tapi tak jauh berbeda dari tim tarkam. Pemain-pemainnya seperti pemain amatir yang tak pernah sedikit pun berlatih sepak bola.

Pernyataan Van Sy Hung seolah benar adanya. Timnas Indonesia, apa pun levelnya selalu mengandalkan umpan-umpan lambung yang, komentator sepak bola selalu bilang umpan direct. Mungkin biar lebih kece dan nggak ngebosenin ketika didengar. Bagaimana dengan Timnas U-19 era Indra Sjafri?

Ya, tak bisa dipungkiri Timnas U-19 versi Indra Sjafri yang mengalahkan Korea Selatan di GBK memang menjadi salah satu generasi terbaik. Namun, mereka juga tak kehilangan identitasnya sebagai Timnas Indonesia: selalu bermain umpan lambung. Lihatlah bagaimana Evan Dimas atau Hargianto yang acap kali mengirim umpan lambung ke arah Ilhamudin Armayn di sisi kiri atau Maldini Pali atau Yabes Roni di sisi kanan.

Apa namanya kalau bukan umpan lambung? Nah, ternyata, jika kita mencermati Liga Indonesia, berapapun divisinya, pola permainan umpan lambung juga sering diterapkan. Umpan lambung jadi semacam ciri khas dan bahkan DNA klub dan timnas Indonesia.

Tentu muncul pertanyaan, kenapa sih pemain timnas atau klub Indonesia acap kali melakukan umpan lambung? Padahal kan postur tubuhnya tak terlalu besar, sekalipun juga tidak sekecil kurcaci. Bagaimana mau menerima umpan lambung, melompat saja tak begitu tinggi?

Tidak Ada Kaitannya dengan Tinggi Pemain

Sebetulnya, umpan lambung dalam permainan sepak bola tidak ada kaitannya dengan tinggi badan pemain. Maksudnya, pemain yang dianggap pendek pun acap kali tak kesulitan menerima umpan lambung. Kita bisa melihat sosok seperti Lionel Messi.

La Pulga termasuk pemain sepak bola berbadan mungil. Namun, sekalipun tingginya masih kalah dari Carvajal misal, Messi bisa saja sanggup menerima umpan direct dari rekannya. Messi tentu memiliki skill untuk menerima umpan dengan model apa pun.

Artinya, dengan postur kecil pun seorang pemain bisa menerima umpan lambung. Asalkan ia memiliki skill mengontrol bola dengan bagus yang kemudian membawanya sampai menciptakan peluang. Apakah pemain Indonesia bisa seperti itu? Tentu, tapi di gim FIFA.

Banyak Gelandang dengan Kemampuan Umpan Baik

Timnas Indonesia atau klub-klub yang mengarungi Liga Indonesia banyak diisi para pemain hebat, untuk ukuran warga +62. Salah satu pos yang kerap dihuni pemain hebat lagi berbakat adalah gelandang. Entah gelandang serang, gelandang bertahan, atau gelandang box to box. Gelandang-gelandang ini kebanyakan adalah pemain dengan kualitas umpan yang baik.

Jika di Timnas misalnya, kita bisa menyebut sosok seperti Firman Utina. Berkat Firman lah kita bisa menyaksikan Timnas Indonesia yang selalu mengandalkan umpan lambung. Sebab Firman sering mengirim umpan-umpan direct ke striker seperti Cristian Gonzales, Bambang Pamungkas, sampai Irfan Bachdim.

Di level liga, tak sedikit pemain tengah yang memiliki kualitas umpan jauh yang nyaris paripurna. Seperti Ahmad Bustomi, mantan pemain Timnas dan juga gelandang Persela Lamongan. Kalau mau pemain asing, kita bisa menambahkan nama Rohit Chand di Persija dan Marc Klok di Persib Bandung.

Sayap yang Siap Berlari

Selain mempunyai para pengumpan kreatif, Indonesia juga dikaruniai pemain sayap yang tidak memalukan-memalukan amat. Dari level liga sampai timnas selalu menjadi tumpuan, tentu saja untuk menerima umpan lambung. Kemudian pemain sayap itulah yang bertugas menusuk ke jantung pertahanan lawan atau memberikan umpan lambung lagi ke kotak penalti.

Di level timnas, kita tentu ingat seorang Oktovianus Maniani alias Okto. Pemain berkepala plontos itu merupakan salah satu sayap terbaik yang pernah dimiliki Timnas Indonesia. Ada juga Saddil Ramdani, Riko Simanjuntak, sampai Febri Hariyadi yang mau tidak mau mesti siap mendapat umpan-umpan lambung dari rekan-rekannya.

Sementara di level klub, banyak klub-klub di Indonesia yang dipenuhi pemain sayap bergaransi. Bahkan beberapa tidak hanya bertugas menerima umpan atau mendribble bola hingga menusuk ke jantung pertahanan lawan, dan akhirnya tetap mengirim umpan lambung dari sayap alias crossing. Namun ada pula yang punya peran mencetak gol.

Ambil contoh Yabes Roni Malaifani. Pemain Bali United tersebut sebetulnya tipikal sayap, tapi tak jarang ia menerima umpan lambung untuk kemudian langsung menyundulnya ke gawang. Selain itu, ada Osvaldo Haay pemain sayap Persija itu kerap diplot untuk menerima umpan direct, tugasnya menggiring bola hingga ke kotak penalti atau mengirim umpan silang.

Serba Instan

Soal gelandang kreatif dan sayap tadi hanya sebatas alasan teknis saja. Alasan non teknisnya karena sepak bola Indonesia adalah sepak bola instan. Apa-apa penginnya serba instan. Entah ini pengaruh mi instan atau bukan.

Ya memang, dengan umpan lambung, bola akan cepat sampai ke jantung pertahanan lawan. Sehingga mungkin bisa lebih cepat menciptakan gol. Itulah yang sering dilakukan Timnas dan klub Indonesia.

Timnas Indonesia tak jarang bermain sangkar burng. Mencoba memainkan bola di pertahanan sendiri sambil menunggu lawan melakukan pressing. Ketika lawan sudah naik, pemain timnas tidak melakukan through pass. Mungkin biar nggak buang waktu, umpan lambung lah yang dipilih.

Betul juga sih. Kalau harus umpan pendek dan lalu terobosan, itu bisa lama sampai ke pertahanan lawan. Apalagi pemain timnas tak memiliki kualitas untuk mengontrol bola dengan baik. Sayangnya, hal itu juga terjadi di Liga Indonesia.

Oke, umpan lambung mungkin akan efektif bila kualitas umpan dan si penerima terlatih. Jika tidak, resiko kehilangan bola lebih tinggi. Tim yang melakukannya akan kalah ball positioning atau penguasaan bola. Betul memang, penguasaan bola bukanlah penentu kemenangan, melainkan gol. Namun, bagaimana mau mencetak gol kalau bola saja tak bisa dikuasai?

Minim Filosofi

Alasan kenapa timnas dan klub lokal selalu mengandalkan umpan lambung adalah karena minimnya filosofi bermain. Minim sebab mau gimana lagi, filosofi sih ada tapi terkesan hanya diada-adakan. Fyi aja nih, nama filosofi sepak bola Indonesia adalah Filanesia. Hah? Baru denger?

Katanya sih, itu akronim dari Filosofi Sepak bola Indonesia. Namun faktanya, ketika melihat Timnas Indonesia dan klub-klub lokal tampil seperti tidak ada filosofi bermainnya. Kalau ada, tidak mungkin dong terlalu rajin umpan lambung? Gaya menyerang dan umpan, jika punya filosofi, pasti jauh lebih efektf dan nikmat ditonton.

Apakah Timnas Indonesia pernah punya pelatih yang memiliki filosofi bermain? Tentu. Orang tersebut adalah Luis Milla. Namun diakui atau tidak, filosofi sepak bola Luis Milla tidak cocok dengan filosofi instan ala PSSI.

Sumber referensi: linetoday, pssi.org

Pemain Jepang yang Pernah Tampil di EPL

Kompetisi Liga Primer Inggris, sudah bukan rahasia lagi, menjadi tujuan banyak pemain top dunia. Kompetisi yang terkenal mengundang banyak perhatian itu tidak hanya dihuni oleh pemain bintang negeri sendiri, namun juga dari berbagai negeri yang disebut kerap menghasilkan pemain top dunia.

Satu negara yang turut menyumbang pemain bintangnya ke kompetisi tersebut adalah Jepang. Menjadi negara dengan kualitas sepakbola terbaik di Asia, wajar bila saat ini sudah banyak sekali pemain Jepang yang tampil apik di Eropa, tak terkecuali Liga Primer Inggris.

Belum lama ini saja, ada satu talenta asal Negeri Matahari Terbit yang resmi bergabung dengan salah satu klub disana. Adalah Takehiro Tomiyasu, pemain berusia 22 tahun yang resmi bergabung dengan Tim Meriam London.

Arsenal mengumumkan perekrutan sang pemain dari Bologna, tepat pada detik-detik akhir penutupan transfer musim panas tahun ini. Skuad asuhan Mikel Arteta menyatakan bahwa Tomiyasu direkrut secara permanen dan mendapat kontrak berdurasi jangka panjang. Meski tak ada detail laporan tentang biaya yang dikeluarkan Arsenal untuk memboyong Tomiyasu, disebutkan bahwa angka 23 juta euro atau setara 389 miliar rupiah menjadi pemulus transfer ini.

Tomiyasu didatangkan untuk gantikan peran Hector Bellerin yang memilih cabut ke Real Betis. Di tim yang bermarkas di Emirates Stadium, Tomiyasu bakal mengenakan nomor punggung 18. Menyambut kedatangan sang pemain baru, Mikel Arteta merasa terkesan. Dia mengagumi bakat Tomiyasu, yang meski masih berusia muda namun sudah bisa bersaing di level tertinggi.

Kedatangan Tomiyasu di kubu Arsenal pun kian menambah panjang daftar pemain Jepang yang tampil di Negeri Ratu Elizabeth. Sebelum dirinya, terdapat beberapa nama Jepang lainnya yang pernah arungi karir di kompetisi tersebut.

Penasaran siapa saja pemain tersebut? Berikut kami berikan daftarnya.

Kazuyuki Toda

Kazuyuki Toda kini telah berusia 43 tahun. Sepanjang karirnya sebagai seorang pesepakbola, Toda lebih sering menghabiskan waktu di Jepang. Pemain yang memulai karir senior bersama Shimizu S-Pulse ini pada akhirnya berhasil menarik perhatian tim asal Inggris, Tottenham Hotspurs. Tepat pada tahun 2003, dia resmi bergabung dengan Tottenham Hotspurs melalui status pinjaman.

Sayangnya, tidak banyak yang dilakukan oleh pemegang 20 caps bersama timnas Jepang ini. Hanya tampil sebanyak empat laga bersama Spurs, Toda lalu dipinjamkan ke klub Belanda ADO Den Haag.

Disana, Toda juga tak terlalu tampil gemilang hingga membuatnya dikembalikan ke Jepang.

Yoshinori Muto

Yoshinori Muto yang kini berusia 29 tahun tercatat sebagai pemain Vissel Kobe. Memulai karir senior bersama FC Tokyo pada tahun 2013, Yoshinori Muto lalu hijrah ke Jerman untuk bergabung dengan Mainz 05. Penampilannya di Jerman selama kurang lebih tiga tahun ternyata menarik minat klub asal Inggris, Newcastle United.

Pada tahun 2018, Muto dibeli Newcastle United dengan nilai sebesar 9,5 juta pounds atau setara 187 miliar rupiah. Namun, karirnya di Inggris berjalan dengan cukup mengecewakan. Muto bisa dibilang tidak menjadi andalan dengan sempat dipinjamkan ke Eibar pada tahun 2020 lalu.

Hanya memainkan sebanyak 25 pertandingan bersama Newcastle United, Yoshinori Muto lalu putuskan pulang ke kampung halaman.

Meski terbilang gagal ketika berkarir di Inggris, Muto sudah tampil dalam 29 laga bersama timnas Jepang. Debutnya yang terjadi pada tahun 2014 silam masih membuatnya bertahan sampai sekarang.

Ryo Miyaichi

Nama Ryo Miyaichi mungkin sedikit dikenal oleh kebanyakan penggemar sepakbola Inggris. Dia yang kini berusia 28 tahun memang tercatat sebagai penggawa Yokohama F. Marinos. Namun semua tentu masih ingat ketika dirinya didatangkan Arsenal pada tahun 2011 silam. Miyaichi yang memiliki kecepatan luar biasa membuat Arsene Wenger sangat terkesan.

Sayangnya, penampilan sang pemain di atas lapangan tak benar-benar bisa diandalkan. Statusnya sebagai pemain Arsenal lebih sering membuatnya jadi pemain pinjaman di berbagai klub, seperti Feyenoord, Bolton, Wigan, Twente, sampai ke Jong Twente. Selama berkarir di Negeri Ratu Elizabeth, Miyachi sama sekali tidak pernah mencetak gol.

Pada tahun 2015, setelah benar-benar dilepas Arsenal, Ryo Miyaichi memutuskan untuk berkarir di Jerman bersama FC Saint Pauli. Sempat tampil untuk tim kedua kesebelasan tersebut, seperti yang sudah dikabarkan, Miyaichi kini memilih pulang dan meniti karir di kompetisi Jepang.

Junichi Inamoto

Mundur ke belakang, nama Junichi Inamoto pernah membuat negri Jepang harum di mata dunia. Dia yang meniti karir senior bersama Gamba Osaka, berhasil menarik minat Arsenal pada tahun 2001. Meski gagal tunjukkan bakat di tim Meriam London, Inamoto yang pada akhirnya hijrah ke Fulham berhasil menjadi pemain yang cukup diandalkan.

Dia yang tampil dalam 58 laga berhasil mencetak total sembilan gol di semua kompetisi. Hebatnya lagi, Inamoto termasuk ke dalam skuad Fulham yang berhasil meraih Piala Intertoto pada tahun 2002.

Sempat bermain untuk Cardiff City, Inamoto lalu membela sejumlah klub Eropa, termasuk Frankfurt, Galatasaray, hingga Rennes. Akhirnya, pada tahun 2010, Inamoto putuskan kembali ke Jepang. Di usianya yang telah menginjak angka 42 tahun, Inamoto masih aktif bermain di kompetisi J-League 2 bersama SC Sagamihara.

Hidetoshi Nakata

Nama Hidetoshi Nakata tentu sudah tidak asing lagi bagi para penggemar sepakbola dunia. Pemain yang bisa dikatakan sebagai legenda Asia ini pernah mengukir tinta emas di beberapa tim Italia, termasuk AS Roma hingga Parma.

Memang benar bila Hidetoshi Nakata lebih dikenal di persepakbolaan Negeri Pizza, mengingat ada banyak klub yang dibelanya. Namun jangan remehkan ketika dia memutuskan tampil di kompetisi Britania bersama Bolton.

Nakata yang sempat memperlihatkan sejumlah sentuhan terbaiknya, berhasil mengantar klub tersebut duduk di tangga ke delapan pada musim kompetisi 2005/06.

Shinji Kagawa

Shinji Kagawa, adalah pemain asal Jepang yang sangat beruntung karena bisa memiliki kesempatan tampil bersama tim sekelas Manchester United. Bergabungnya Shinji Kagawa dengan MU memang bukan tanpa alasan. Dia ketika itu adalah salah playmaker handal dan sukses mengukir tinta emas bersama Borussia Dortmund.

Di MU, Shinji Kagawa tampil dalam 38 pertandingan liga dan berhasil mencetak enam gol. Dua musimnya disana juga sempat membuatnya berhasil mengangkat trofi Liga Primer Inggris. Setelah itu, MU mengembalikannya ke Dortmund pada tahun 2014.

Sempat mengalami penurunan karir dengan tampil bersama tim Dortmund B, Kagawa lalu bergabung dengan Real Zaragoza.

Kini, di usia 32 tahun, Shinji Kagawa tercatat sebagai pemain PAOK Salonika.

Maya Yoshida

Maya Yoshida tercatat sebagai pemain Jepang yang cukup konsisten. Bergabung dengan Southampton sejak tahun 2012, pemain yang kini berusia 33 tahun tersebut bertahan sampai pada tahun 2020. Sepanjang karirnya membela klub tersebut, Maya Yoshida berhasil sumbangkan trofi EFL Cup pada musim 2016/17.

Tampil dalam total 194 laga untuk klub yang bermarkas di Stadion St Mary’s, Maya Yoshida telah menampilkan permainan yang boleh dibilang mengesankan.

Hingga tepat pada awal Januari 2020 lalu, dia resmi bergabung dengan tim asal Italia, Sampdoria melalui status pinjaman sampai akhir musim. Dinilai tampil sesuai kebutuhan tim, Yoshida lalu dikontrak secara permanen oleh klub berjuluk il Samp.

Shinji Okazaki

Shinji Okazaki adalah pemain yang masuk ke dalam skuad ajaib Leicester City pada tahun 2016. Di masa itu, dia berhasil membawa klub menjuarai kompetisi Liga Primer Inggris pertama dan masih satu-satunya sepanjang sejarah.

Bila bicara tentang permainannya di King Power Stadium, Okazaki memang tidak memiliki catatan mentereng. Dari 114 pertandingan yang dijalani, pemain yang beroperasi di lini depan ini cuma mampu membuat 14 gol. Namun kontribusinya di musim menakjubkan The Foxes tersebut tetap layak mendapat banyak sekali pujian.

Kini, Okazaki tercatat sebagai pemain FC Cartagena yang berkompetisi di La Liga 2, setelah sempat membela Malaga dan Huesca selama kurang lebih dua tahun.