Sudah beberapa tahun lamanya, Atalanta telah berhasil menunjukkan kualitas sebagai salah satu klub terbaik Italia, bahkan Eropa. Meski baru beberapa tahun terakhir tampil di kompetisi Eropa, keberadaan klub berjuluk La Dea sangat patut diwaspadai. Mereka kerap merepotkan lawan dengan permainan atraktif hingga tak jarang memberi kejutan dengan menyingkirkan tim yang sebelumnya diunggulkan.
Atalanta memang telah menjelma menjadi tim yang tak bisa diremehkan. Dilatih oleh pria bernama Gian Piero Gasperini, penggawa yang diandalkan mampu menembus ketatnya barisan tim-tim unggulan.
🎙️ Gian Piero #Gasperini: “Gran bella partita, bravi i giocatori”
👏 “Wonderful game, the players did great”Post-match interview 👉 https://t.co/eF0urPjBYY#InterAtalanta #GoAtalantaGo ⚫️🔵 pic.twitter.com/JdFAOougUu
— Atalanta B.C. (@Atalanta_BC) September 25, 2021
Hebatnya, Atalanta banyak mengandalkan pemain muda jebolannya untuk menembus blantika sepakbola Eropa. Ketika itu, langsung muncul pertanyaan tentang apakah Atalanta hanya tergolong ke dalam one-season wonder atau tim yang hanya mentereng di satu musim saja? Ternyata tidak. Melalui konsistensi permainan yang ditunjukkan, Atalanta bisa terus bersaing di papan atas klasemen hingga membuat tim-tim besar Italia mulai pasang badan ketika harus bertemu dengan mereka.
Setelah ditelusuri akarnya, ternyata Atalanta memang fokus untuk memanfaatkan para pemain muda demi mendapat skuad impian. Ketika sepakbola Italia tengah marak dengan skandal dan korupsi untuk memenuhi kebutuhan tim mereka, Atalanta lebih memilih untuk melawan tren tersebut. Mereka menolak untuk membayar bakat luar dan lebih berfokus pada bakat lokal.
Sejarah Singkat Akademi Atalanta
Berbasis di Zingonia, Giuseppe Ciatto adalah orang yang bertanggung jawab untuk mendirikan akademi Atalanta pada tahun 1940-an. Kemudian, bebannya jadi semakin ringan setelah mantan pemain Atalanta, Luigi Tentorio, sekitar tahun 1960-an meminta klub untuk fokus mengembangkan talenta muda. Melalui sang presiden saat itu, Danielle Turani, Tentorio berhasil membuat klub mau melirik rencana mengembangkan pemain-pemain muda melalui akademi mereka.
Tanpa berlama-lama, mereka lalu merekrut Giuseppe Brolis sebagai penanggung jawab akademi. Dipilihnya Giuseppe Brolis adalah karena sosok tersebut tergolong fasih dalam mencari bakat muda terbaik. Dia memiliki jaringan dengan beberapa klub dan mengenal para pemain muda potensial di beberapa kota di sekitaran provinsi Udine dan Veneto, di utara Italia.
Atalanta Bergamo – The best Academy in Italy and The most underrated in Europe. [THREAD] pic.twitter.com/a4iiogHwHX
— Sully (Mo Kudus stan account) (@Yalsully) June 2, 2020
Di awal-awal pembentukannya, Atalanta langsung mendapatkan angin segar. Melalui seleksi ketat serta pencarian bakat yang memang dilakukan secara hati-hati, Atalanta berhasil mendapatkan bakat sekelas Gaetano Scirea hingga Giuseppe Savoldi.
Dua nama tersebut begitu masyhur di sejarah persepakbolaan Italia. Scirea pada akhirnya berjaya bersama Juventus dan mengantar klub tersebut memenangi liga sebanyak tujuh kali dan sekali memenangkan kejuaraan tertinggi Eropa pada tahun 1985. Lalu ada Giuseppe Savoldi yang berjaya bersama Bologna serta Napoli di era 60 hingga 70 an.
Seiring berjalannya waktu, sepakbola Atalanta kian menarik perhatian. Masuknya sosok Antonio Percassi sebagai presiden di era awal 90 an berhasil mengubah wajah klub menjadi lebih gahar. Melalui visi dan pengembangan kelas atas yang dicanangkan, Antonio Percassi berhasil menghasilkan pemain dengan kualitas tinggi di sepakbola Italia yang kala itu tengah menjadi kiblat dunia.
Aside from World Cup winners such as Antonio Cabrini and Roberto Donadoni La Dea’s trusted philosophies and approach to nuturing talent has seen players likes of Giampaolo Pazzini & Filippo Inzaghi successfully graduate and achieve varied levels of success in world football. pic.twitter.com/foDWfBNpMf
— Sully (Mo Kudus stan account) (@Yalsully) June 2, 2020
Para penggila sepakbola tentu mengenal pemain sekelas Roberto Donadoni, Filippo Inzaghi, Domenico Morfeo, sampai Alessio Tacchinardi. Semua pemain tersebut menjadi beberapa dari sekian banyak pemain Italia yang mampu menembus kerasnya kompetisi Eropa.
Kemudian masih ada lagi beberapa nama yang tak boleh ditinggalkan eksistensinya. Sebut saja Giampaolo Pazzini yang pernah jadi salah satu striker paling mematikan di Serie A dan Riccardo Montolivo, yang pernah menjadi kapten salah satu klub terbaik Italia, AC Milan.
Sosok Penting, Keuntungan Letak Geografis, Sampai Fasilitas Penunjang yang Sangat Berkualitas
Bila melihat keberhasilan Atalanta dalam mengembangkan bakat muda, yang setidaknya konsisten dalam tiga dekade terakhir, maka tentu pertanyaan yang sering muncul adalah siapa sosok dibalik kemewahan ini semua?
Adalah Stefano Bonaccorso yang sudah masuk ke dalam darah Atalanta sejak tahun 1991, atau tepatnya dia dibawa oleh Antonio Percassi ketika pertama kali duduk di kursi kepresidenan klub. Bonaccorso benar-benar menerapkan apa yang memang dibutuhkan klub untuk bisa menggaet sekaligus mengembangkan bakat muda yang tersebar di seluruh Italia.
“I bambini imparano giocando”
Stefano Bonaccorso
Coordinatore dell’Attività di Base375 bambini e bambine che crescono divertendosi con e per la loro passione ⚫🔵 la grinta del nostro #GoAtalantaGo 🤩
📝 https://t.co/MxV6WSc3S2#AtalantaLife 🖤💙 pic.twitter.com/F2N1KLoHf1
— Atalanta B.C. (@Atalanta_BC) December 29, 2017
Dia memiliki tugas untuk memantau, mengkoordinasi, dan memberi masukan kepada pelatih. Dalam memantau bakat muda di Negeri Pizza, tugas Bonaccorso dimudahkan dengan letak geografis klub itu sendiri. Atalanta yang terletak di Bergamo menjadi klub terbesar dalam region Lombardia, di luar kota Metropolitan Milan yang kita tahu memiliki dua klub raksasa.
Hal ini sangat membantu Atalanta untuk bekerja sama dengan klub-klub lokal disana, seperti Ascoli, Avellino, Piacenza, Grumeliese, Meda, Pontisola, Gragnano, Varesina, Feralpi Salo, serta Virtus Bergamo. Dalam menjalin hubungan yang baik, Atalanta tak jarang memberi bantuan finansial kepada klub-klub tersebut serta memberi pinjaman pemain muda kepada mereka.
Keuntungan yang didapat Atalanta sendiri adalah, mereka seringkali diberi informasi oleh klub lokal tersebut tentang keberadaan pemain muda potensial Italia.
Setelah berhasil mencari bibit-bibit berbakat, Bonaccorso kemudian fokus pada kualitas pelatih yang direkrut untuk menempa para pemain muda. Dalam hal ini, dia tak sembarangan dalam menunjuk pelatih. Pelatih yang ditunjuk setidaknya telah mengantongi lisensi B UEFA. Selain itu, seperti yang ditulis These Football Times, mereka pun dituntut untuk memperkaya wawasan taktikal dan teknik, dimana itu bisa didapatkan melalui buku, tayangan televisi, maupun video sepakbola terbaru.
Bagi Atalanta, pelatih memiliki tanggung jawab yang tak kalah dengan pemain. Malah, sosok pemimpin yang biasa berdiri di pinggir lapangan itu dituntut untuk lebih kreatif guna memberi pemahaman tentang sepakbola dari sudut yang berbeda kepada para pemain muda.
Mereka menuntut sang pelatih untuk mampu memberi inovasi baru dan tak lupa memegang teguh filosofi permainan klub dalam mengembangkan pemain muda.
Filosofi yang diusung Atalanta dalam mengembangkan bakat muda adalah, mereka berfokus pada kemampuan teknik. Meski punya pakem permainan sendiri, Atalanta memberi kebebasan kepada para pelatih untuk menerapkan taktik kepada para pemain muda. Hal ini dimaksudkan agar pemain terbiasa dengan sistem permainan berbeda.
⚽️⚽️ Un pomeriggio di crescita personale e confronto per i tecnici e per i ragazzi guidati da Stefano Bonaccorso (Responsabile settore giovanile @Atalanta_BC ).🔵⚪️💙
➡️L’articolo e la gallery: https://t.co/93xhtgGtpK pic.twitter.com/ZLN0Gb76ow— A.S.D. Pro Gorizia (@ProGorizia) April 11, 2019
Selain teknik dan pemahaman detail seputar pengetahuan sepakbola, klub juga meminta pelatih untuk memupuk mental para pemain muda. Kemenangan adalah kunci utama dalam pertandingan. Maka menjadikan pemain untuk memiliki mental pemenang sejak dini dianggap sangat penting.
Para pemain yang meski dijejali dengan banyak teknik dan berbagai pengetahuan sepakbola secara teratur, akan merasa tetap nyaman mengingat fasilitas yang berada di akademi bernama Centro Sportivo Bortolotti ini sangatlah luar biasa.
Terdiri dari empat tim yang berlaga di liga yang berbeda, yakni Primavera, Allievi Nazionali A dan B, dan Giovanissimi Nazionali, Atalanta benar-benar serius untuk membentuk generasi terbaik sepakbola kelas dunia. Antonio Percassi yang sempat mundur dan kembali menjabat pada tahun 2010, melakukan pembenahan besar-besaran pada akademi Atalanta.
Seperti yang dilaporkan situs Cano Football, disana terdapat 40 kamar asrama lengkap dengan fasilitas massage, tangki es untuk cryotherapy, kolam renang terapi, perlengkapan gym paling mutakhir, ruangan kantor serta ruang rapat bagi staf akademi. Semua fasilitas tersebut hanya diperuntukkan kepada para pemain muda di bawah 17 tahun.
Selain itu, para pemain juga dibekali dengan sensor GPS ketika melakukan pelatihan, seperti pemanasan teknik, melakukan gerakan khusus, lari dengan jarak yang sudah ditentukan, serta latihan lainnya semacam kontrol, dribbling, dan passing.
Yang tak kalah penting, mereka juga mendapatkan fasilitas untuk menunjang bentuk fisik yang diinginkan. Masih dalam laporan yang sama, situs Cano Football membeberkan kalau para pemain mendapatkan program khusus yang dirancang oleh para dokter, ahli gizi, fisioterapis, sampai psikolog.
Beberapa program yang didapatkan para pemain adalah aturan pola makan, pola tidur, serta bagaimana cara mendapat perasaan senang ketika mengikuti pelatihan.
Hasil Konkrit, Pemain Jebolan Akademi Klub, serta Keuntungan Lain Berupa Penjualan
Telah melalui proses yang tidak sebentar, Atalanta mendapatkan hasil yang bisa mereka nikmati sekarang. Buah dari kerja keras tim yang ada di balik layar, FIGC mengklaim bila akademi Atalanta duduk di tangga ke enam sebagai yang terbaik di seluruh Eropa. Selain itu, pada 2014 silam, menurut CIES Football Observatory, Atalanta duduk di tangga ke delapan sebagai pusat pelatihan pemain muda terbaik di dunia.
Dalam kurun waktu setidaknya satu dekade terakhir, pemain yang dihasilkan Atalanta juga tidak sembarangan. Malah beberapa dari mereka sudah ada yang bersinar di klub lain. Misalnya saja nama Giacomo Bonaventura dan Franck Kessie. Dua bintang Serie A itu sama-sama berjaya bersama AC Milan, meski kini Bonaventura telah berstatus sebagai pemain Fiorentina.
Notable Atalanta BC academy graduates:
🇨🇮 Franck Kessié
🇮🇹 Alessandro Bastoni
🇮🇹 Giacomo Bonaventura
🇮🇹 Mattia Caldara
🇮🇹 Andrea Conti
🇮🇹 Andrea Consigli
🇮🇹 Roberto Gagliardini
🇮🇹 Riccardo Montolivo
🇮🇹 Giampaolo Pazzini
🇮🇹 Davide Zappacosta
🇮🇹 Simone ZazaBergamo boys. pic.twitter.com/e1NtevJjif
— Scouted Football (@ScoutedFtbl) August 22, 2019
Lalu masih ada nama Musa Barrow yang kini jadi bintang Bologna, serta Andrea Conti hingga Mattia Caldara yang sempat guncangkan kompetisi Serie A. Belum lagi nama pemain seperti Dejan Kulusevski dan Alessandro Bastoni yang masing-masing telah menjadi andalan di Juventus dan juga Inter Milan. Bahkan, bintang sepakbola Italia di ajang Piala Eropa 2020 kemarin, Manuel Locatelli, juga merupakan jebolan akademi Atalanta sebelum akhirnya bergabung dengan AC Milan dan saat ini jadi gelandang andalan Si Nyonya Tua.
Dari nama-nama yang telah dikembangkan tersebut, Atalanta juga turut mendapat keuntungan finansial yang terbilang besar. Seperti Dejan Kulusevski, yang mampu menghasilkan dana sebesar 35 juta euro atau nyaris menyentuh angka 600 miliar rupiah usai diboyong tim Zebra. Berikutnya ada Franck Kessié yang dibeli AC Milan seharga 24 juta euro atau lebih dari 400 miliar rupiah.
Alessandro Bastoni, yang turut membawa Inter menjuarai Serie A juga diboyong dengan nilai yang terbilang lumayan yakni sebesar 31,1 juta euro atau sekitar lebih dari 500 miliar rupiah. Berikutnya ada Amad Diallo yang diboyong MU dengan mahar 21 juta euro (360 miliar rupiah).
Untuk saat ini, Atalanta juga masih punya banyak pemain muda jebolan akademi untuk diandalkan di masa depan. Diantaranya, Matteo Ruggeri, Mattia Caldara, Filippo Melegoni, Ebrima Colley, Enrico Del Prato, Davide Bettella, Christian Capone, dan Marco Carnesecchi, dimana semua pemain tersebut kini masih menjalani masa peminjaman di tim lain.
Sementara itu, beberapa pemain yang masih berkecimpung di tim muda juga patut mendapat perhatian, seperti nama Anwar Mediero, Alessandro Cortinovis, Emmanuel Gyabuaa, dan Samuel Giovane.
Bersama nama-nama tersebut, masa depan Atalanta bisa dibilang aman dan akan terus terjaga.
Sumber referensi: canofootball, ligalaga, thesefootballtimes


