Era Emas Barcelona Saat Dilatih Frank Rijkaard

spot_img

Gelombang optimisme melanda Barcelona pada musim panas 2003. Setelah empat tahun tanpa trofi, era kepresidenan Joan Gaspart yang membawa malapetaka telah runtuh. Joan Laporta, terpilih sebagai presiden Barcelona menggantikannya.

Era baru Barcelona pun dimulai. Era baru tersebut ditandai dengan penunjukan pelatih baru, yakni Frank Rijkaard.

Ya, era baru Barcelona dibawah Frank Rijkaard merupakan cerita manis bagi cules di seluruh dunia. Bagaimanapun ketika itu ia telah mencatatkan sejarah penting bagi Blaugrana.

Rijkaard masuk 2003/2004

Rijkaard yang ditunjuk sebagai pelatih awalnya dipandang sebelah mata oleh publik. Karena kurangnya pengalaman melatih dan fakta bahwa ia adalah pelatih pilihan ketiga ketika Guus Hiddink dan Ronald Koeman tidak bersedia menerima tawaran Barca.

Di musim pertamanya, Rijkaard menggantikan Radomir Antic, dan mulai membeli beberapa pemain incarannya. Salah satu membeli beberapa pemain, termasuk saga transfer Ronaldinho yang dibeli dari PSG.

Meski begitu, Rijkaard pada awalnya mengalami hasil yang kurang memuaskan. Bahkan di tangan Rijkaard, Barcelona sampai terlempar ke papan tengah klasemen. Kesabaran publik Catalan pun diuji.

Mereka menyuarakan agar Laporta dan Rijkaard mundur. Tapi legenda mereka Johan Cruyff masih membela Rijkaard. Cruyff masih percaya pada kualitas Rijkaard dan arah kebijakan Laporta.

Di musim pertamanya Rijkaard mampu finish di peringkat 2 klasemen di bawah Valencia yang menjadi juara ketika itu. Barca pun kembali dibawa masuk zona Champions League.

Pondasi permainan ala Total Football 4-3-3 Belanda diperagakan Barcelona era Rijkaard. Ilmu dari Cruyff yang diadopsi Rijkaard, dengan permainan menyerang, possession football, dan permainan indah mulai merasuki skuad Barcelona di bawah Rijkaard.

Juara La Liga 2004/2005

Di musim 2004/2005, Frank Rijkaard mulai tancap gas. Rijkaard membenahi skuadnya dengan menambal beberapa lini yang krusial.

Para pemain pun berdatangan seperti Ludovic Giuly dari Monaco, Deco dari Porto, dan juga Samuel Eto’o yang dibeli dari Mallorca.

Pola 4-3-3 masih dipakai Rijkaard di musim keduanya. Rijkaard mempunyai andalan dua bek sayapnya, Belleti dan Van Bronckhorst yang sering menjadi andalan ketika overlap.

Kunci gelandang Rijkaard ada pada kombinasi aliran bola trio Motta, Xavi dan Edmilson. Fokus permainan ada di depan yakni ada Ronaldinho di sebelah kiri, Samuel Eto’o di tengah sebagai finisher dan Giuly yang menyisir area flank kanan dengan kecepatannya.

Berkat pola konsep permainan ala Rijkaard ini, Barcelona kembali menunjukan tajinya. Mereka mampu kembali merebut kembali gelar juara La Liga di musim 2004/2005 setelah puasa sejak musim 1998/1999. Dan finish dengan selisih 4 poin dengan rival Real Madrid, Barca mengumpulkan total poin 84.

Akan tetapi, di kompetisi lainnya seperti Champions League dan Copa Del Rey, Barca masih gagal. Ketika itu di Champions League mereka terhenti oleh klub kaya baru, Chelsea di babak knockout. Kemudian di Copa Del Rey mereka hanya sampai 64 besar.

Juara La Liga 2005/2006

Memasuki musim baru 2005/2006, Rijkaard dan Laporta ketika itu memantapkan skuad yang ada dan mengoptimalkan gaya permainan yang sudah nyetel di musim lalu.

Barca ketika itu hanya mendatangkan seorang gelandang, Mark Van Bommel dari PSV secara gratis. Rijkaard juga membuang pemain yang tidak nyetel dengan formatnya seperti Riquelme dan Saviola.

Peran Van Bommel sering menjadi jawaban ketika salah satu dari Motta atau Xavi absen, maupun serangan yang dibangun dari tengah mengalami kebuntuan.

Pola pakem 4-3-3 milik Rijkaard juga masih berjalan di musim ini. Di lini serang mulai muncul peran seorang Lionel Messi. Ketika itu ia masih mengenakan nomor punggung 30. Messi sering menjadi alternatif lini serang Rijkaard. Debut Messi serta jam terbang Messi pun dimulai dari era Rijkaard.

Musim 2005/2006 adalah puncak kejayaan Barca bersama Rijkaard. Kemenangan beruntun 14 kali pertandingan di La Liga, termasuk kemenangan 0-3 di Bernabeu yang membuat mereka mendapat tepuk tangan dari fans Madrid ketika itu.

Barca kembali mempertahankan gelar La Liga berturut turut dengan mengumpulkan total 82 poin dengan selisih 12 poin dari Real Madrid.

Di musim yang sama, gelar juara Copa Del Rey kembali diraih oleh Barca. Mereka di final mengalahkan Real Betis dengan skor agregat 4-2. Sebuah prestasi tersendiri yang melengkapi gelar La Liga musim itu.

Juara Champions League 2005/2006

Perjalanan Barcelona di Champions League 2005/2006 ketika itu juga patut untuk disimak. Gagal di musim sebelumnya oleh Chelsea tidak membuat asa Rijkaard ciut di kompetisi Eropa.

Barca ketika itu di Fase Grup Liga Champions 2005/2006 berada di Grup C bersama Udinese, Panathinaikos, dan Werder Bremen.

Barca pun lolos ke babak knockout setelah menjuarai grup disusul Werder Bremen sebagai runner up. Barca di babak selanjutnya kembali bertemu Chelsea, tim yang menggugurkannya di musim lalu.

Aroma balas dendam pun terjadi. Tandang terlebih dahulu di Stamford Bridge anak asuh Rijkaard mampu mencuri gol tandang melalui Eto’o dan gol bunuh diri kapten Chelsea, John Terry. Skor 1-2 membuat modal berharga bagi Barca menuju Leg kedua di Camp Nou.

Di rumah sendiri, Barca mendominasi permainan setelah unggul terlebih dahulu lewat Ronaldinho dan disamakan oleh penalti Lampard. Skor 1-1 membuat Barca menuntaskan dendam mereka musim lalu dengan menang agregat 3-2.

Di perempat final, Barca bertemu Benfica. Barca pun kesusahan menghadapi kolektivitas permainan Benfica yang ketika itu dilatih Koeman. Skor 0-0 di leg pertama di kandang Benfica membuat anak asuh Rijkaard harus kerja ekstra keras di leg kedua.

Di Camp Nou, Barca unggul atas Benfica dengan dua gol tanpa balas dari Ronaldinho dan Eto’o. Agregat 2-0 mengantarkan Barca melaju ke babak semifinal.

Di semifinal Barca bertemu klub raksasa Italia AC Milan. Ini adalah partai ujian sesungguhnya Rijkaard di Champions League.

Pertandingan pertama yang super alot terjadi di San Siro. Barca mampu mencuri gol lewat sepakan Ludovic giuly yang menghujam gawang Dida. Gol tandang ini adalah modal besar bagi langkah Barca menuju final. Barca pun akhirnya menang 0-1 atas Milan.

Di leg kedua permainan bertahan ala Italia dari Milan cukup untuk membendung serangan pasukan Rijkaard. Skor imbang 0-0 bertahan sampai peluit dibunyikan. Barca akhirnya melenggang ke partai puncak dengan agregat 1-0.

Di partai final Barca berjumpa Arsenal asuhan Arsene Wenger. Final sendiri ketika itu berlangsung di Paris.

Barca ketinggalan terlebih dahulu oleh gol sundulan Sol Campbell setelah menerima umpan dari Henry. Arsenal mampu unggul 1-0, dengan 10 pemain setelah kiper mereka, Jens Lehmann terkena kartu merah.

Barca tak tinggal diam, 1 penyerang ekstra, Henrik Larsson dimasukan di babak kedua menggantikan Van Bommel. Alhasil Larsson mampu membuat assist bagi Eto’o untuk menyamakan kedudukan menjadi 1-1 di menit 77.

Seiring dengan unggulnya jumlah pemain, keajaiban datang bagi Barca di menit 81. Ketika Juliano Belletti pemain yang baru masuk di babak kedua menggantikan Oleguer itu berhasil mencetak gol lewat overlap-nya di sisi kanan.

Barca menjadi berbalik unggul 2-1. Skor ini bertahan hingga peluit akhir. Barca akhirnya keluar sebagai juara Champions League 2005/2006.

Rijkaard berhasil mengantarkan Barcelona di masa emas, setelah puasa gelar Champions League sejak 1992 di era Johan Cruyff. Ini adalah kali kedua Barca merengkuh trofi Champions League.

Namun, seiring musim berjalan setelah itu 2006/2007 dan 2007/2008 Barca era Rijkaard gagal mempertahankan itu semua.

Permainan yang cenderung menurun, para pilar yang silih berganti pergi dan cedera, membuat era emas Rijkaard berakhir di 2008, dan digantikan oleh Pep Guardiola. Akan tetapi paling tidak, warisan atau pondasi yang ditancapkan Rijkaard mampu membawa modal kesuksesan bagi era Barcelona selanjutnya.

https://youtu.be/UErFukMYAwo

Sumber Referensi : thesefootballtimes, reuters, fcbarcelona.com, bleacherreport,

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru