Beranda blog Halaman 599

Apakah Neymar Masih Berpeluang Meraih Ballon d’Or?

0

Tanggal 5 Februari kemarin adalah hari yang spesial. Di tanggal tersebut, 2 bintang sepak bola dunia, Cristiano Ronaldo dan Neymar Jr. berulang tahun. Di tahun 2022 ini, Ronaldo menginjak usia 37 tahun, sementara Neymar menyentuh usia 30 tahun.

Khusus untuk Neymar, tanpa disadari waktu seperti berjalan begitu cepat. Rasanya, baru kemarin dia dilabeli ‘Si Anak Ajaib’ dari Brasil yang bakatnya diprediksi bakal mampu mengusik persaingan Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi sebagai pesepakbola terbaik dunia.

Dulu, ketika masih dilabeli wonderkid, bakat Neymar bahkan dianggap lebih besar ketimbang Ronaldinho dan Kaka, 2 orang Brasil terakhir yang mampu meraih Ballon d’Or. Namun, nasib Neymar saat ini tak lebih dari sekadar salah satu pesepakbola paling kaya di dunia.

Makin Tua, Neymar Makin Kaya

Pada musim panas 2017 lalu, Neymar berhasil memecahkan rekor transfer pemain. Di musim tersebut, ia dibeli oleh klub kaya raya asal Prancis, Paris Saint-Germain dengan harga 222 juta euro. Tak ayal, angka tersebut sempat menjadikan Neymar sebagai pemain termahal.

Kekayaan Neymar sebagai seorang pesepakbola memang tak perlu diragukan. Tahun lalu, ia dikabarkan telah merogoh koceknya hingga 2,5 juta poundsterling atau nyaris Rp 49 M hanya untuk membeli sebuah mansion baru di Brasil. Mansion mewahnya itu dilaporkan setidaknya memiliki 7 kamar tidur, sebuah lapangan squash, kolam renang, lift, dan tentu saja sebuah garasi besar yang bisa menampung 20 mobil mewahnya.

Mengutip dari The Economic Times, beberapa koleksi mobil mewah yang terparkir di garasi rumah Neymar antara lain, Lamborghini Veneno, Lykan Hypersport, Aston Martin Vulcan, hingga Maserati MC12 yang populasinya sangat langka di dunia.

Berdasarkan daftar yang dirilis Forbes, Neymar juga masuk dalam jajaran 10 atlet dengan bayaran tertinggi di dunia. Pada tahun 2021 kemarin, Forbes memperkirakan bintang timnas Brasil itu mendapat bayaran hingga 76 juta dolar AS. Angka tersebut belum termasuk pendapatan senilai 19 juta dolar AS yang ia dapat dari berbagai sponsor, seperti Qatar Airways, Epic Games, Red Bull, hingga Puma.

Dengan pendapatan total senilai 95 juta dolar AS atau nyaris Rp 1,4 Triliun pada tahun 2021, Neymar menempati peringkat keenam sebagai atlet dengan bayaran tertinggi versi Forbes. Khusus di ranah sepak bola, bintang PSG itu menempati peringkat ketiga sebagai pesepakbola dengan pendapatan tertinggi setelah Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.

Sayangnya, meski mampu mengejar Ronaldo dan Messi dari segi pendapatan, Neymar masih belum mampu untuk menyaingi dua seniornya itu dalam hal prestasi. Ya, prediksi yang mengatakan Neymar adalah figur yang bakal mampu mengusik persaingan Ronaldo dan Messi sebagai pemain terbaik dunia nyatanya belum terwujud.

Perjalanan Karier Neymar: Dari Wonderkid di Santos Hingga Hijrah ke PSG

Neymar da Silva Santos Júnior lahir di Mogi das Cruzes, São Paulo pada 5 Februari 1992. Seperti halnya anak-anak Brasil lainnya yang hobi bermain bola, Neymar tumbuh dengan sepak bola jalanan. Selain itu, bakatnya juga tersalurkan dengan baik lewat futsal.

Tak bisa dipungkiri bahwa Neymar memang diberkahi bakat yang luar biasa. Buktinya, pada tahun 2003 silam, Santos dengan yakin memberinya kontrak ke tim akademi saat usia Neymar baru 11 tahun. Di klub itulah skill, kecepatan, dan olah bola Neymar makin terlatih dan terasah.

Neymar juga menjalani debutnya untuk Santos di usianya yang masih sangat muda. Ia menjalani debut profesionalnya pada 7 Maret 2009 saat usianya baru 17 tahun. Permainan Neymar saat membela Santos begitu menawan dan berhasil menarik banyak perhatian.

Kombinasi teknik dan olah bola yang memanjakan mata serta gol-gol cantik yang ia buat terasa begitu sempurna. Hal itulah yang membuat Pele berani memprediksi Neymar akan mampu melampaui pencapainnya.

Mengutip dari transfermarkt, selama 5 musim berseragam Santos, Neymar berhasil mencetak 70 gol dan 35 asis dalam 134 penampilan di kompetisi mayor. Selama periodenya di Santos, Neymar berhasil mempersembahkan 6 trofi.

Puncak performa Neymar bersama Santos terjadi di musim 2011. Ia berhasil memenangkan Copa Libertadores dan tampil di ajang Piala Dunia Antarklub. Di turnamen itulah ia pertama kali berjumpa dengan Barcelona yang sukses mengalahkan Santos di laga final.

Dua tahun berselang, Barcelona yang memang sudah kepincut lama rela merogoh koceknya hingga nyaris 88 juta euro untuk memboyong Neymar ke Camp Nou. Di Barca, Neymar mampu beradaptasi dengan cukup baik. Ia kemudian membentuk trio MSN yang begitu berbahaya bersama Lionel Messi dan Luis Suarez.

Puncak penampilan Neymar bersama Barcelona terjadi di musim 2014/2015. Kala itu, ia berhasil meraih treble winner. Ia juga mengakhiri musim tersebut dengan torehan 39 gol dan 10 asis dalam 51 penampilan. 10 golnya di Liga Champions juga membuat Neymar jadi top skor bersama Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.

Sayangnya, meski performa Neymar di Barca baik-baik saja, nyatanya pamor Neymar bisa dibilang tertutup di balik nama besar Lionel Messi. Walau ia mampu mencetak 105 gol dan 76 asis dalam 186 penampilan, tetapi bagaimanapun juga, Neymar seolah terlihat seperti seorang pelayan bagi Messi.

Maka wajar bila kemudian Neymar memutuskan untuk menerima tawaran menggiurkan dari PSG di musim panas 2017. Selain menjadi pemain termahal di dunia, kepindahannya ke PSG juga bisa memuluskan jalan Neymar untuk lepas dari bayang-bayang Lionel Messi. Akan tetapi, pada akhirnya rencana untuk menjadi bintang tunggal di PSG tak berjalan mulus seperti yang ia duga.

Sebab-Sebab Neymar Belum Pantas Meraih Ballon d’Or

Keputusan Neymar untuk hengkang ke PSG memang bisa dimaklumi. Di Prancis, ia punya panggung yang lebih besar dan punya peluang untuk menjadi pemain yang paling banyak disorot. Kekayaan dan popularitasnya sudah pasti meningkat. Apalagi, dengan bakat besar yang ia miliki, Neymar seharusnya bisa menaklukkan Liga Prancis.

Akan tetapi, pada kenyataanya tidak demikian. Neymar memang berhasil memenangkan lebih banyak trofi di PSG. 10 trofi bergengsi sudah berhasil ia menangkan selama berseragam Les Parisiens. Namun, dari segi statistik, penampilannya menurun.

Itulah mengapa meski sudah meninggalkan Barcelona untuk lepas dari bayang-bayang Lionel Messi, Neymar masih belum berhasil memenangkan Ballon d’Or. Sejauh ini, prestasi terbaik Neymar di Ballon d’Or hanyalah menghuni peringkat 3 di tahun 2015 dan 2017. Di 2 kesempatan tersebut, lagi-lagi ia dikalahkan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.

Ada beberapa alasan mengapa Neymar Jr. belum layak dan bisa dibilang makin sulit untuk memenangkan Ballon d’Or. Penyebab utamanya sudah pasti dominasi Messi dan Ronaldo di daftar puncak pemain terbaik dunia.

Sejak 2008, hanya Luka Modric di tahun 2018 yang mampu merusak dominasi keduanya. Sama seperti kebanyakan pemain hebat lainnya, Neymar bisa dibilang sebagai salah satu korban dari era persaingan Ronaldo dan Messi.

Alasan berikutnya adalah performa Neymar itu sendiri. Seperti yang sudah disinggung, secara statistik penampilan Neymar justru menurun begitu pindah ke Prancis. Secara garis besar, Neymar belum benar-benar mendominasi Liga Prancis.

Selama berseragam PSG, Neymar belum mampu mencetak lebih dari 20 gol selama 1 musim di kompetisi Ligue 1. Ironisnya lagi, jumlah penampilannya di Liga Prancis selama 1 musim juga tak lebih dari 20 caps. Itulah mengapa ia tak pernah jadi top skor.

Di PSG, Neymar akrab dengan masalah kebugaran dan cedera. Ini adalah masalah serius. Sebab, bila ingin menggusur dominasi Ronaldo dan Messi, Neymar harus bisa bermain reguler dan mencetak lebih banyak gol atau asis.

Selain itu, setuju atau tidak, pergi meninggalkan Barcelona sebetulnya juga sebuah keputusan yang salah. Tradisi, sejarah, dan nama Barcelona jelas jauh lebih besar ketimbang PSG yang baru mendadak kaya setelah dibeli Nasser Al-Khelaifi.

Keputusannya untuk hengkang dari Barcelona juga membuat Neymar kehilangan panggung di ‘El Clasico’, sebuah derby yang paling disorot media di seluruh dunia. Di Prancis, ia memang bisa merasakan ‘Le Classique’. Namun, bagaimanapun juga, atmosfir dan popularitas ‘Le Classique’ masih kalah jauh bila dibandingkan dengan ‘El Clasico’.

Kini, peluang Neymar untuk bersaing jadi pemain terbaik dunia juga semakin sulit. Apalagi kalau bukan karena Kylian Mbappe. Nasib Neymar juga bisa dibilang apes. Ia pindah dari Barca untuk lepas dari bayang-bayang Messi, tetapi begitu pindah ke PSG, ia justru bertemu dengan Mbappe.

Sialnya lagi, di musim panas lalu, PSG mendatangkan Lionel Messi yang belum lama ini kembali berhasil meraih Ballon d’Or ketujuhnya. Alhasil, sorotan media tak lagi berfokus ke Neymar. Nama-nama seperti Kylian Mbappe, Erling Haaland, hingga Ansu Fati rasanya jauh lebih menarik di mata media dan pecinta sepak bola.

Secara penampilan, Neymar memang masih menarik, khususnya bagi para sponsor. Gaya hidupnya yang mewah, kebiasaanya berpesta, hingga gaya fashionnya yang ‘hypebeast’ sangat menarik untuk diikuti. Akan tetapi, bukan itu yang ia butuhkan jika mau memenangkan Ballon d’Or.

Untuk memenangkan penghargaan pemain terbaik dunia, Neymar butuh popularitas besar. Ia harus jadi figur yang paling disorot, paling dibicarakan, dan paling diidolai di dalam lapangan hijau, bukan ketika di luar lapangan.

Selain itu, sebelum layak menjadi pemain terbaik dunia, seorang pemain harus lebih dulu memiliki citra diri yang baik. Sayangnya, meski Neymar diberkahi dengan bakat yang sangat luar biasa, ia belum sampai pada titik tersebut.

Kini, usia Neymar sudah menyentuh 30 tahun. Peluangnya untuk memenangkan Ballon d’Or memang belum habis, tetapi semakin menipis. Lalu, apakah Neymar akan selamanya menjadi “Pangeran Sepak Bola tanpa Mahkota”?

https://youtu.be/TYKb2NpyOlY
***
Sumber Referensi: Forbes, The Economic Times, Zeenews, Tifo Football, Detik.

Kesempatan Kedua Chelsea di Piala Dunia Antarklub

0

Tahun 2022 kembali turnamen FIFA Club World Cup digelar. Bertempat di Uni Emirat Arab turnamen ini diselenggarakan pada tanggal 3-12 Februari 2022.

Para klub-klub juara antar benua berkumpul untuk berkompetisi meraih titel gelar juara dunia. Chelsea, Palmeiras, Al-Hilal, Al-Ahly, Monterrey, AS Pirae dan wakil dari tuan rumah Al-Jazeera.

Khusus untuk Chelsea sebagai calon unggulan dari Eropa, banyak menuai sorotan. Ketika kehadiran mereka kali ini adalah yang kedua kalinya. Setelah mereka sempat mencicipinya di tahun 2012. Tahun 2022 ini adalah kesempatan keduanya, karena di kesempatan pertamanya mereka gagal meraih titel juara.

 

Gagal di 2012

Chelsea menjadi juara Champions League ketika itu di musim 2011/2012 di bawah pelatih Roberto Di Matteo. Dengan begitu Chelsea berhak menjadi perwakilan Eropa di kancah FIFA Club World Cup 2012 yang berlangsung di Jepang.

Chelsea yang bermaterikan pemain seperti Fernando Torres, Juan Mata, sampai Frank Lampard berangkat ke Jepang dengan kondisi yang berbeda. Ketika itu Chelsea berada pada tahap musim baru 2012/2013 di bawah pelatih Interim Rafael Benitez setelah insiden pemecatan Di Matteo pada November 2012.

Pada Desember 2012, racikan Benitez langsung diuji di Jepang. Peserta FIFA Club World Cup 2012 ketika itu selain Chelsea ada Corinthians, Ulsan Hyundai, Monterrey, Al-Ahly, Auckland City, serta tuan rumah, Sanfrecce Hiroshima.

Chelsea di bawah Benitez langsung berlaga di babak semifinal melawan wakil dari juara Concacaf Monterrey. Ketika itu Chelsea mampu unggul 3-1 berkat gol Torres, Mata, dan satu gol bunuh diri pemain lawan.

Dengan hasil itu Chelsea melangkah ke final dan bertemu dengan wakil dari CONMEBOL, Corinthians. Racikan taktik Benitez diuji ketika menghadapi klub asal Brazil itu. Memakai format 4-2-3-1 ala Benitez, Chelsea mampu tampil cukup apik. Sering kali juga Corinthians menyulitkan Chelsea dengan counter attack-nya.

Tapi malapetaka datang menghampiri Chelsea di menit ke-69. Corinthians mampu memanfaatkan kurangnya koordinasi lini belakang Chelsea yang dikomandoi David Luiz. Sundulan striker Corinthians Guerrero mampu membawa Corinthians unggul 1-0.

Chelsea terus membombardir gawang Corinthians di sisa menit babak kedua. Namun, tidak satu pun gol yang bersarang. Peluit akhir dibunyikan dan skor 1-0 untuk kemenangan Corinthians.

Chelsea dan Benitez gagal mempersembahkan gelar bagi Eropa. Awal yang buruk bagi karier Benitez. Terlebih ini adalah kesempatan pertama klub asal London Barat itu untuk berlaga di kejuaraan dunia.

Kesempatan Kedua Chelsea

Selang 10 tahun lamanya, Chelsea akhirnya mampu kembali menembus turnamen FIFA Club World Cup 2022 berkat gelar juara Champions League musim 2020/2021. Di tangan pelatih asal Jerman, Thomas Tuchel, Chelsea meraih asa untuk meraih gelar juara di kesempatan keduanya.

The Blues era Tuchel bisa saja memenangkan trofi pertama mereka di tahun 2022 ini, yakni di Piala Dunia Antarklub jika berjalan mulus. Mereka juga telah mencapai final Piala Carabao, di mana mereka akan menghadapi Liverpool.

Chelsea datang ke Uni Emirat Arab dengan skuad lengkap. Ditambah kedatangan kembali Edouard Mendy selepas pulang dari perayaan juara AFCON 2021. Skuad Chelsea hanya minus pemain yang masih cedera seperti Ben Chilwell dan Reece James.

Thomas Tuchel juga dikabarkan akan memantau para pemainnya dari jarak jauh seiring dinyatakan positif terjangkit Covid-19. Tim asisten dan staf pun bekerja keras guna mewujudkan penampilan terbaik Chelsea di kejuaraan ini.

Menjadi pemenang Champions League, Chelsea langsung akan bergabung dalam kompetisi ini di babak semi final. Mereka akan melawan klub Juara Asia dari Arab Saudi, Al-Hilal.

Pemenang Liga Profesional Arab Saudi ini patut diwaspadai Chelsea. Klub ini terkenal ulet dan tidak mudah menyerah. Al-Hilal memiliki banyak pengalaman, dilatih oleh mantan pelatih kepala AS Monaco, Leonardo Jardim dan mempunyai pemain seperti Odion Ighalo, Moussa Marega, dan Matheus Pereira yang notabene pernah bermain di liga papan atas Eropa.

Pertandingan semifinal pun berlangsung. Chelsea dan Tuchel dari awal tetap menggunakan format andalannya yakni 3-4-3 dengan trio di depan: Ziyech, Havertz, dan Lukaku. Sementara itu Al-Hilal langsung tancap gas menurunkan semua para pemain bintangnya sedari awal dengan 4-2-3-1 milik Jardim.

Pertandingan berjalan alot, terbukti setelah gol awal Chelsea di menit 32 oleh Lukaku, setelah menerima bola rebound dari bek Al-Hilal, tidak ada gol lagi yang bersarang.

Penampilan apik juga ditunjukan Kepa Arrizabalaga yang mampu menangkis beberapa tendangan on target dari pemain Al-Hilal. Skor akhir 1-0 berakhir sampai peluit akhir dibunyikan. Chelsea pun melangkah ke final.

Seperti yang sudah ditakdirkan, jika Chelsea dapat melewati Al Hilal di semifinal, mereka sudah ditunggu juara CONMEBOL dari Brazil, Palmeiras. Pemenang Copa Libertadores musim lalu mencapai final setelah mengalahkan wakil Mesir, Al-Ahly 2-0 di pertandingan semifinal lewat gol Dudu dan Veiga.

Tim yang berjuluk. “Alviverde” secara historis adalah salah satu tim terbaik asal Amerika Selatan setelah memenangkan Copa Libertadores back to back dari musim 2019/2020 dan 2020/2021.

Selain sebagai tim tersukses di sepak bola domestik maupun Copa Libertadores, Palmeiras juga merupakan klub yang sedang dalam performa terbaik. Mereka tidak terkalahkan dalam enam pertandingan menuju final kali ini.

Palmeiras sendiri di bawah pelatih asal Portugal, Abel Ferreira sering mengandalkan lini serangnya baik itu Scarpa, Veiga, Dudu, maupun Roni. Gol-gol Palmeiras sering lahir berkat kepiawaian individu para penyerangnya itu, sekaligus ditambah dengan racikan taktik ala Abel Ferreira.

Chelsea tidak bisa menganggap remeh Palmeiras. Chelsea dengan 3-4-3 harus tetap waspada racikan 4-2-3-1 ala Abel Ferreira. Duel lini tengah akan sangat seru.

Dinamo tengah Chelsea, Kante dan Jorginho atau Kovacic dengan gaya taktis dan pressing-nya, akan menghadapi lini tengah kolektif dan kreatif ala Brazil seperti Veiga, Scarpa dan Dudu.

Partai final ini adalah pertaruhan besar sebagai penebusan dosa Chelsea akan gagalnya mereka satu dekade lalu. Seperti apa kata kapten Chelsea Cesar Azpilicueta, salah satu pemain yang tersisa sejak kegagalannya di 2012 lalu.

“Ini adalah hal yang sulit dan Chelsea harus belajar dari pengalaman 2012, memenangkan gelar ini akan menjadi sejarah, serta sangat berarti bagi fans. Disini, mental dan kepemimpinan diperlukan” kata Azpi.

Kegagalan Chelsea di final 2012 bukan tidak mungkin berkat krisis mental kepemimpinan di lapangan. Krisis kepemimpinan melanda Chelsea di 2012 ketika itu, setelah absennya kapten mereka John Terry di partai final.

Tahun 2022 ini Chelsea akan bertumpu pada pengalaman dan komando pemain senior seperti kapten Azpilicueta maupun Thiago Silva. Bagaimanapun Chelsea akan tetap menjadi unggulan untuk membawa pulang gelar turnamen ini.

Akan tetapi di sisi lain, Palmeiras dapat mengambil inspirasi dari rival berat mereka, Corinthians. Dalam upaya mereka untuk meniru kepahlawanan mereka guna menimbulkan kesengsaraan pada The Blues.

 

Sumber Referensi : uefa.com, premierleaguenewsnow, si.com

Berita Bola Terbaru 10 Februari 2022 – Starting Eleven News

Berita sepakbola terbaru dan terkini 10 Februari 2022

Buang Banyak Pemain, Kenapa Arsenal Tidak Beli Pemain di Januari ?

Setelah menghabiskan dana cukup banyak pada musim panas 2021/2022, Arsenal berada pada track yang tepat. Setidaknya sampai paruh musim dingin Januari 2022, Arsenal masih menjaga asa untuk bertarung memperebutkan posisi ke 4 Premier League demi tiket lolos ke Champions League musim depan.

Namun, alih-alih memperbaiki skuad dengan mendatangkan pemain baru agar impian itu tak sekadar angan, Arsenal justru kembali membuang banyak pemain yang mengakibatkan kedalaman skuad mereka terganggu. Lantas, apa yang menyebabkan Arsenal tidak mampu menambal skuatnya yang dibuang di Januari 2022 ini?

 

Bersih Bersih Arteta

Langkah sang pelatih Mikel Arteta di Arsenal sejak kedatangannya mungkin menjadi sebab. Banyaknya pemain yang keluar dari pintu Emirates disebabkan karena Arteta. Hal itu telah terbukti dengan beberapa “cuci gudang” yang dilakukannya terhadap pemain-pemain yang tidak masuk dalam rencana jangka panjangnya.

Sebut saja Emiliano Martinez yang pergi ke Aston Villa dan Joe Willock yang pergi ke Newcastle. Disisi lain ada banyak pemain Arteta yang keluar dengan opsi pinjaman seperti Matteo Guendouzi, Lucas Torreira, dan Hector Bellerin.

Yang teranyar, Arteta kembali membuang para pemain dengan beberapa seperti Maitland Niles ke AS Roma, Sead Kolasinac ke Marseille, Pablo Mari ke Udinese, Calum Chambers ke Aston Villa, dan yang terakhir Aubameyang ke Barcelona dengan status bebas transfer.

Hal ini menimbulkan banyak tanya para fans, tentang beberapa pengurangan pemain yang terjadi. Akan lebih bijak bagi Arteta untuk menjawabnya dengan penandatanganan beberapa pemain baru di bursa transfer musim dingin Januari 2022.

Beberapa target pun sebenarnya sudah mulai diincar oleh Arteta.seiring kondisi tim yang pincang di periode Desember-Januari karena badai cedera dan covid. Terlebih Arsenal juga ditinggal para pemainnya ke AFCON 2021 seperti Elneny, Pepe, maupun Thomas Partey.

Rapor buruk atas kedalaman skuad yang kurang, benar-benar terbukti ketika Arsenal sekaligus tersingkir di dua ajang musim 2021/2022. Di Piala FA mereka digugurkan klub Nottingham Forest dan di Piala Carabao mereka disingkirkan Liverpool.

Secara skuad, Arsenal sekarang hanya memiliki 20 pemain senior yang riskan untuk mengarungi sisa Premier League musim 2021/2022 ini dengan mulus. Ketika badai covid masih mengintai, belum lagi cedera pemain dan akumulasi kartu yang mungkin dialami 20 pemain itu.

Arsenal dan Arteta harus bergerak cepat mencari pemain di bursa transfer Januari 2022 demi menambal timnya. Hal itu juga sudah diamini oleh pemilik mereka, Kronke yang sanggup menyediakan dana untuk Arteta.

Target yang Gagal

Seorang Arteta dalam menjalankan operasi transfer selalu didampingi oleh direktur olahraga Arsenal, Edu. Mereka berdua yang selama ini melakukan pembangunan skuad di Arsenal sebagai proyek jangka panjang yang disetujui oleh sang pemilik Kroenke.

Di Januari ini, Arteta dan Edu bergerak mengincar beberapa pemain hebat di sektor penyerang. Mengingat kedalaman lini serang Arsenal sangat minim. Praktis hanya Lacazette, Nketiah dan Martinelli yang ada. Setelah ditinggal bintang mereka Aubameyang, Arteta bergerak cepat untuk menandatangani Vlahovic dari Fiorentina.

Rumor kepindahan Vlahovic selama Januari hanya berhembus ke klub London Utara tersebut. Bahkan hanya menunggu waktu untuk menyelesaikan kesepakatan kedua belah pihak. Akan tetapi, menjelang akhir masa bursa transfer, Juventus menikung dengan tawaran lebih.

Vlahovic lebih memilih Juventus yang cenderung mudah beradaptasi di Italia ketimbang Arsenal di Inggris. Alasan alot dan buntunya negosiasi antara pihak Vlahovic dan Arsenal juga menjadi sebab.

Arsenal juga kesulitan dalam merekrut pemain tengah incaran mereka. Ketika lini andalan Arteta itu menjadi PR, karena banyak diisi pemain muda dan kurang berpengalaman. Seperti Odegaard, Saka, Smith Rowe, maupun Lokonga. Mereka butuh amunisi lini tengah lain untuk menaikan level permainan maupun sebagai back-up mereka.

Dari rumor yang beredar, banyak pemain yang dikaitkan dengan Arsenal seperti Wijnaldum, Denis Zakaria, Bruno Guimaraes, dan Arthur Melo, yang tidak satupun nyantol ke Arsenal.

Khusus untuk Arthur Melo mungkin menjadi yang paling terdepan dan mungkin tinggal menunggu waktu untuk tiba di Emirates. Seiring kesepakatan pribadi sang pemain dengan Arsenal tercapai. Namun di akhir masa bursa transfer, Juventus berbalik pikiran dan enggan melepas Arthur Melo dikarenakan belum mencari penggantinya yang sepadan.

Daya tarik sebuah klub, baik itu dari faktor pelatih, sejarah klub, koneksi bisnis, faktor gaji, faktor proyek jangka panjang tim, menjadi penting untuk meyakinkan seorang pemain bintang untuk mau datang ke suatu klub diluar uang kesepakatan pembelian.

Hal inilah mungkin yang tidak dimiliki Arsenal. Selama ini cenderung banyak pemain bintang yang enggan bergabung dengan Arsenal karena mungkin tidak bermain di pentas tertinggi Eropa.

Kesulitan dalam mendatangkan pemain baru diakui sendiri oleh sang pelatih. Arteta mengakui bursa pemain yang ada di Januari 2022 ini terbatas dan susah.

“Jendela transfer Januari 2022 ini sangat sulit dan kompleks. Semua keputusan yang kami buat harus juga melibatkan uang yang besar dan perencanaan yang matang bukan terburu-buru. Kami juga harus melihat apakah pemain ini bisa kami percaya untuk membawa tim untuk naik ke level berikutnya atau tidak,” kata Arteta.

Rencana Arteta

Setelah jendela transfer Januari 2022 yang rumit, Arteta masih tetap yakin Arsenal tidak akan kesulitan lagi untuk menarik pemain yang tepat untuk bergabung di musim panas 2022/2023 nanti.

Tampaknya Arteta sudah punya rencana jangka panjang membangun kembali skuad dan itu mungkin tidak terjadi dalam satu atau dua jendela transfer Kebutuhan skuad Arsenal yang jauh lebih dalam akan mudah terwujud seiring dengan Arsenal lolos ke kompetisi Eropa musim depan. Itu adalah salah satu bagian dari strategi.

Di sisi lain, Arsenal memiliki beberapa pemain yang kontraknya akan habis musim panas dan perlu segera membuat keputusan penjualan. Dengan begitu dana yang dihasilkan dari penjualan pemain mampu menambah uang belanja Arteta di musim panas 2022/2023. Dana untuk musim panas nanti, tampaknya sudah didiskusikan dengan Kroenke.

Kelihatannya ide serta visi dan misi antara Arteta dengan Kroenke sampai saat ini masih berjalan selaras. Kroenke sendiri sangat mendukung Arteta secara dana selama ini.

Terlepas dengan rencana jangka panjang Arteta, yang sekarang di depan mata adalah menyelamatkan Arsenal dengan keterbatasan skuad untuk bisa tetap tampil konsisten guna setidaknya tampil di kompetisi Eropa musim depan.

Keputusan untuk nihil mendatangkan pemain baru sewaktu-waktu akan menjadi boomerang bagi Arteta. Ketika Arsenal kesulitan, bahkan sampai tergusur dari papan atas klasemen Premier League dan gagal masuk kompetisi Eropa musim depan.

Terlebih fans yang kecewa dengan aktivitas bursa transfer mereka di Januari 2022. Arteta bagaimanapun harus bertanggung jawab atas itu semua. Beban sekarang ada di pundak Arteta.

Sumber Referensi : thesun, acefootball, sportingnews, arseblog.news

Mengapa Spotify Mau Mensponsori Barcelona? 

0

Barcelona tampak sudah mencapai kesepakatan dengan perusahaan streaming audio asal Swedia, Spotify. Meski belum ada pengumuman resmi dari pihak klub, kabarnya untuk menjadi sponsor utama Barcelona, Spotify sudah siap menggelontorkan dana mencapai 280 juta euro atau sekitar Rp 4,6 triliun.

Kalian pasti sudah akrab dengan layanan streaming Spotify ini, apalagi untuk generasi Z seperti anak-anak Jaksel yang kerap bertukar playlist musik favorit dengan teman satu tongkrongan. Spotify bakal menggantikan Rakuten sebagai sponsor utama di jersey tim berjulukan La Blaugrana itu.

Itu bukan satu-satunya pergerakan Spotify di dunia sepak bola. Mereka juga menandatangani kemitraan dengan raksasa Brazil, Santos pada tahun 2019, yang membuat klub memiliki profil resmi di situs streaming musik. Namun, sebenarnya apa motivasi Spotify, sehingga mereka mau mensponsori klub yang sedang menghadapi krisis finansial seperti Barcelona?

Krisis Finansial

Kepala eksekutif Barcelona, Ferran Reverter pernah menjelaskan sejauh mana krisis ekonomi yang dialami oleh klubnya itu. Barcelona bahkan sedang diambang kebangkrutan, mereka sangat kesulitan untuk membayar utang, dan beberapa kewajiban hingga kesulitan untuk membayar gaji para pemain.

Krisis keuangan yang dialami Barcelona sudah dikemukakan pihak klub sejak awal musim 2021/2022 lalu. Hal tersebut yang akhirnya memaksa La Blaugrana harus merombak skuad mereka besar-besaran. Demi menghemat pengeluaran klub dari sektor gaji pemain.

Manajemen Barcelona berhasil memotong pengeluaran gaji pemainnya dengan cara melepaskan beberapa pemain penting. Sosok ikon Barcelona, Lionel Messi pun jadi salah satu yang harus dikorbankan

Pasalnya, Messi memiliki gaji sebesar 1,3 juta euro per pekan atau setara Rp 22 miliar. Walau La Pulga bersedia memotong gajinya sebesar 50 persen, namun angkanya masih sangat besar.

Barca pun sudah memangkas Rp 2,4 triliun dari hasil melepas Messi hingga Griezmann. Beberapa punggawa Barcelona seperti Gerard Pique, Jordi Alba, Samuel Umtiti, hingga Sergio Busquets pun bersedia memotong gaji mereka demi membantu finansial tim. 

Situasi krisis finansial dan keputusan Barca untuk tidak memperpanjang kontrak dengan Rakuten untuk menjadi sponsor utama mereka lagi di musim depan, menjadikan beberapa investor tergiur untuk berinvestasi dengan klub yang notabene sedang BU atau butuh uang. Salah satunya perusahaan Spotify.

Karena secara logika dasar saja, menawarkan kerja sama dan uang yang tidak sedikit kepada klub yang sedang mengalami krisis keuangan dirasa akan lebih mudah. Karena Barcelona pasti sedang membutuhkan suntikan dana segar yang bisa membantu memperbaiki keuangan mereka.

Kenapa Barca Padahal CEO Spotify Adalah Fans Arsenal

Meskipun perusahaan Spotify merupakan perusahaan yang tergolong baru di bidang olahraga. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Spotify semakin gencar melebarkan sayap ke dunia olahraga khususnya sepak bola.

Bahkan pada pertengahan tahun lalu, Spotify sempat dikaitkan dengan Arsenal. Hal ini cukup mengejutkan karena dengan klub yang gitu-gitu aja dan minim prestasi dalam beberapa tahun terakhir, ternyata masih memiliki peminat.

Salah satu pendiri dan CEO Spotify, Daniel Ek menyatakan minatnya untuk membeli Arsenal dari keluarga Kroenke. Daniel mengaku kalau dirinya adalah pendukung Arsenal sejak kecil. Bahkan ia mengklaim telah menyiapkan dana sebesar Rp 40 triliun untuk membeli Arsenal.

Meski sudah mendapat dukungan dari legenda Arsenal, Thierry Henry, Patrick Vieira hingga Dennis Bergkamp, apa daya Stan Kroenke selaku pemilik Arsenal saat ini menolak melepas klubnya itu. Padahal, beberapa penggemar juga sudah sungkan dengan kepemimpinannya. Pihak Daniel Ek pun tak menunjukan pergerakan lagi hingga sekarang.

Jika CEO Spotify adalah seorang Gooners, lantas mengapa dia lebih memilih untuk menjadi sponsor utama Barcelona? Ya siapa sih yang nggak mau menjadikan jersey Barcelona sebagai “papan iklan” yang nantinya bakal mempromosikan perusahaan mereka?

Terlebih dengan basis pendukung Barcelona yang luar biasa besar, itu jelas menarik perhatian dari Spotify. La Blaugrana juga memiliki ratusan juta followers di seluruh jaringan media sosial mereka.

Apalagi Barcelona ingin mencari sponsor yang dapat memperluas pengiklanan klub di berbagai media lain untuk meningkatkan pendapatan. Jadi pengikut Barcelona yang sangat banyak, ditambah dengan pertumbuhan Spotify yang luar biasa, akan menjadikan kesepakatan ini menjadi kerjasama yang sangat menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Kesepakatan Spotify Dengan Barcelona

Menurut laporan Radio Catalunya, kesepakatan antara Barcelona dan Spotify akan berjalan selama tiga tahun dan menghasilkan 280 Juta euro, jadi barca akan mendapat pemasukan 93 juta euro atau sekitar Rp 1,5 triliun per musimnya. 

Satu-satunya slot sponsor yang tersisa untuk diisi adalah di bagian lengan dan bagian belakang seragam latihan. Saat ini perusahaan cryptocurrency, Polkadot masih menjadi kandidat utama.

Namun, di tengah kesepakatan sponsorship baru senilai 280 juta euro ini, ada kekhawatiran bahwa nama stadion akan berubah menyesuaikan nama dari sang sponsor. Pasalnya beberapa hari lalu muncul pemberitahuan baru tentang detail kerjasama Barcelona dengan Spotify. 

Ternyata pihak Spotify tidak hanya akan menjadi sponsor jersey tim putra, melainkan juga jersey tim putri, seragam latihan dan mungkin yang paling mengejutkan adalah kesepakatan ini juga mencakup hak penggantian nama Camp Nou.

Hal ini diiringi dengan kabar bahwa Barca akan merenovasi Camp Nou pada musim panas mendatang, dan manajemen Barca sudah menyeleksi beberapa penawaran baru dari pihak sponsor dalam hak penamaan Camp Nou yang baru, dan Spotify memenangkan hak penamaan Camp Nou tersebut.

Jelas perubahan nama Camp Nou mendapat banyak kecaman, salah satunya dari CEO Barcelona, Ferran Reverter. Reverter sendiri sudah mengundurkan diri di tengah kesepakatan Barca dengan Spotify. Ada rumor yang mengatakan bahwa CEO Barcelona itu tampaknya kurang setuju dengan kesepakatan baru ini dan akhirnya memutuskan untuk mundur dari posisinya. 

Reverter merasa Camp Nou adalah tempat penuh sejarah untuk para fans dan pemain. Nama Camp Nou terlalu sakral untuk dijual kepada penawar tertinggi. Namun, tak ada petinggi Barca yang peduli.

Spotify yang datang dengan hanya menawarkan Rp 4,6 triliun itu dirasa terlalu mudah dan murah untuk mengusik kesakralan nama Camp Nou yang sudah menjadi saksi perjalanan Barcelona sejak 1957 silam.

https://youtu.be/CVz9TGZS800

Sumber: Sporf, Footyheadlines, Barca Universal

4 Pemain Beda Nasib Usai Pindah dari Arsenal ke Barcelona

Kepindahan Pierre-Emerick Aubameyang dari Arsenal ke Barcelona bukan “cerita baru” bagi kedua klub. Selama dua dekade terakhir terdapat belasan pemain yang pergi ke Los Cules dengan berbagai alasan.

Beberapa di antaranya nasibnya justru berubah ketika sudah berseragam Barca. Nah, berikut ini Starting Eleven sajikan 4 pemain beda nasib usai pindah dari Arsenal ke Barcelona.

Thierry Henry (2007)

Langkah Henry untuk hengkang dari Arsenal menghancurkan hati banyak penggemar The Gunners. Setelah delapan tahun di Emirates, Henry memutuskan pindah ke Barcelona. Pencetak gol terbanyak sepanjang masa Arsenal itu menandatangani kontrak empat tahun di Barcelona.

Selama berseragam Arsenal, pria asal Prancis berhasil mencetak 228 gol dari 376 penampilan di dua periode di London Utara dan memenangkan dua gelar Liga Premier, dua Piala FA, dan dua Community Shield.

Tapi di musim terakhir bersama Meriam London, ia hanya bermain sebanyak 27 kali karena cedera. Barca pun tak ragu datang membawanya ke Camp Nou, meski Henry sudah berusia 30 tahun.

Ada dua alasan mengapa ia memilih pindah ke Spanyol. Pertama, kesamaan gaya bermain dan menginginkan tantangan baru. Bagi Henry, Arsenal dan Barcelona saat itu adalah klub yang memiliki ciri khas bermain short pass dan kebebasan bergerak bagi pemain sayap.

Henry tahu bahwa pemain-pemain berkelas sudah memiliki porsinya masing-masing. ​​Ronaldinho berada di kiri, Samuel Eto’o di tengah, dan Lionel Messi di kanan. Sebagai punggawa anyar, berpenampilan secara apik dan konsisten agar pelatih Barcelona Frank Rijkaard memberi kesempatan bermain.

Kedua, rumor hengkangnya Arsene Wenger dari kursi kepelatihan. Sosok Le Professeur bagi Henry sebagai bapak sehingga memberikan nasihat serta membiarkan anaknya untuk melakukan kreasi dan Pep Guardiola di Barcelona mendorong secara taktis di lapangan.

“Keduanya berjasa dalam karier sepak bola saya,” ungkapnya.

Musim pertama berseragam Blaugrana, Henry dilanda kekecewaan. Alasannya di musim 2007/2008 Barcelona tidak meraih trofi sama sekali. Buntutnya, penyerang Timnas Prancis sempat membuka kemungkinan untuk kembali merumput di Premier League.

Namun, ia mencoba bertahan di musim kedua bersama Barcelona di bawah asuhan pelatih baru Pep Guardiola. Dampak instannya, raihan treble winner oleh klub asal Catalunya. Catatan individu pun ia bubuhkan bersama Lionel Messi dan Samuel Eto’o menjadi trisula yang berhasil mencetak 100 gol di semua kompetisi.

Pria yang mengidolakan Michael Laudrup dan Iniesta berhasil membantu Barcelona meraih 1 trofi Liga Champion, 2 La Liga, 1 Piala Liga, 1 Piala Super Spanyol, 1 Piala Super Eropa dan 1 Piala Dunia Antar Klub. Torehan individunya ciamik dengan pundi-pundi 49 gol dan 27 assist dalam 121 pertandingan. 

Cesc Fàbregas (2011)

Sejak Fàbregas meninggalkan Barcelona ke Arsenal sebagai pemain muda yang sedang mencari menit bermain, ia bermimpi akan kembali bermain untuk Barcelona.

Peluang itu ia dapatkan pada transfer musim panas 2011. Gelandang lulusan La Masia meninggalkan Arsenal sebagai kapten klub. 

Kedatangannya ke Blaugrana akan menempati pos lini tengah bersama lulusan La Masia lainnya: Xavi, Iniesta, dan Busquets.

Selama tiga musim menghuni Camp Nou, ia hanya memenangkan satu gelar La Liga. Kedatangan Fabregas ke Barcelona tidak lebih baik dari tahun lalu yang memenangkan Liga Champions dan brace La Liga. Catatannya bersama Blaugrana hanya bermain selama 151 kali dengan koleksi 42 gol dan 50 asis.

Pria asal Spanyol merasa tidak betah di Barcelona karena mengalami tekanan berlebihan dari suporter untuk menampilkan performa apik karena dirinya produk lokal.

“Para pendukung melihat saya sebagai seseorang yang pernah berada di sini sebagai seorang anak [hilang] lalu pulang ke klub dengan gelontoran uang. Tanpa itu, saya akan dipandang berbeda.” ungkapnya.

Ia lalu memutuskan hengkang ke Chelsea pada transfer musim panas 2014. Di Stamford Bridge, dua kali ia memenangkan Liga Premier yang tidak pernah berhasil diraihnya bersama Arsenal. Sedangkan Barcelona usai ditinggalkannya justru memenangkan treble winner di bawah asuhan Luis Enrique.

Alex Song (2012)

Transfer mengejutkan saat Alex Song pindah dari Arsenal ke Barcelona di musim panas 2012. Penggemar kedua klub akan bertanya kemampuan apa yang dapat ia berikan di Blaugrana?

Sejak pindah dari Arsenal, ia hanya bermain 65 pertandingan di seluruh kompetisi untuk Barcelona. Gaji 19 juta euro tak sepadan dengan performanya yang tak kunjung meningkat. Pada musim panas 2016 manajemen meminjamkannya ke West Ham.

Dalam wawancara sebuah Talk Show pemain asal Kamerun mengakui kepindahannya ke Barcelona hanya perkara penghasilan. Gaji 19 juta euro per pekan alias empat kali lipat dari Arsenal menggiurkan bagi dirinya. 

“Saya bertemu direktur olahraga Blaugrana, dan dia mengatakan kepada saya bahwa saya tidak akan bermain banyak pertandingan, tetapi saya tidak peduli karena sekarang saya akan menjadi seorang jutawan,” kata Song.

“Ketika Barcelona menawari saya kontrak, dan saya melihat berapa banyak yang akan saya dapatkan, saya tidak berpikir dua kali. Saya merasa istri dan anak-anak saya harus memiliki kehidupan yang nyaman setelah karier saya berakhir,” tambahnya.

Dua musim menghuni di klub Catalunya, ia hanya membantu tim memenangkan La Liga pada musim 2012/2013.

Alexander Hleb (2008)

Alexander Hleb meninggalkan Arsenal pada 2008 untuk merumput bersama Barcelona. Keputusannya justru berujung penyesalan karena ia hanya menjadi penghangat bangku cadangan dan sering dipinjamkan ke klub lain.

“Pergi ke Barcelona adalah keputusan panggilan yang sulit (ditolak), tetapi setelah itu semuanya adalah kesalahan. Saya kehilangan tahun-tahun terbaik saya,” terang pria asal Belarusia.

Selama empat tahun berstatus pemain Barcelona, ia bertualang ke klub-klub non Spanyol. Pada 2009-2010 ia dipinjamkan ke klub Bundesliga Vfb Stuttgart (2009-2010), lalu ke Birmingham (2010-2011) dan Vfl Wolfsburg (Juni-Desember 2011). Tiga klub itu menjadi destinasi atas tersingkirnya dari skuad Blaugrana.

Bersama Barcelona ia hanya memainkan 36 pertandingan dengan menyumbang 2 assist serta menjadi bagian raihan tiga titel Liga Spanyol, Copa del Rey, dan Liga Champions di 2008/2009.

Giovanni van Bronckhorst (2003)

Pemain berdarah Ambon itu pernah membela Arsenal medio 2001-2003. Lalu dilepas dengan status pinjaman ke Barcelona.

Selama masa pinjaman ia berhasil meyakinkan manajemen Barcelona untuk mempermanenkan full back kiri. Penampilan yang mengagumkan di sisi kiri pertahanan Los Cules tak tergantikan hingga 2007.

Di Barcelona ia menyesuaikan permainannya menjadi bek kiri dan menjadi legenda Barcelona. Ia menjadi puzzle dalam kemenangan Liga Champions 2005-06.

Uniknya, saat final ia menundukkan klub lamanya Arsenal di final dan menjadi pertemuan pertama kali sejak pergi pergi dari Highbury Stadium.

“Tentu saja, ini spesial [melawan Arsenal]. Partai spesial bagi saya bermain di final Liga Champions dan melawan tim lama. Rasanya memang agak aneh, tetapi saya merasa beruntung berada di pihak yang menang.” katanya usai pertandingan sambil bertukar jersey Arsenal.

Selama di Catalan pemain timnas Belanda berhasil membantu klub meraih trofi, 1 Liga Champion, 2 La Liga, dan 2 Piala Super Cup Spanyol dengan mencatatkan 154 penampilan serta 7 gol dan 18 assist

Kepindahan pemain-pemain Arsenal ke Barcelona rupa-rupa nasibnya. Tidak semuanya mendapatkan nasib mujur dengan bergelimang banyak gelar, ada juga cerita pemain yang tidak berkembang.

Referensi : Sportkeeda, Transfermarkt, AR, BR, PF, GR,

Ingin Jadi Legenda, Mengapa Aubameyang Malah Hengkang dari Arsenal?

0

Pundit sepak bola dan eks kiper Manchester City, Shay Given terkejut atas kepindahan Aubameyang ke Barcelona dengan status bebas transfer. Namun, sebaliknya, Aubameyang justru santai menanggapi pertanyaan soal kepindahannya ke Blaugrana.

Ia malah secara terbuka menyatakan bersedia pindah ke Barcelona, berapa pun klub Catalan itu sanggup membayarnya. Hengkangnya Auba ke Barcelona memang sempat memanas. Apalagi sebelum resmi, Auba sempat terbang ke Spanyol untuk kemudian kembali lagi karena kesepakatan gagal tercapai.

Akan tetapi, angin tampaknya terlanjur membawa Aubameyang ke Camp Nou. Penyerang Timnas Gabon itu pun akhirnya diresmikan sebagai pemain Blaugrana sehari setelah bursa transfer musim dingin ditutup.

Kehilangan Aubameyang tentu merugikan Arsenal. Karena praktis ujung tombak The Gunners hanya tersisa Eddie Nketiah dan Lacazette. Namun bukan itu saja masalahnya.

Aubameyang sempat digadang-gadang sebagai legenda Arsenal. Ia bahkan pernah ingin menciptakan legacy, dan fans The Gunners mendukung keinginannya itu.

Ia dianggap pantas untuk meneruskan kiprah luar biasa seorang Thierry Henry. Aubameyang pun diyakini akan pensiun di Arsenal setelah memperpanjang kontraknya musim lalu.

Indisipliner

Apalah hendak dikata, setelah 16 bulan sejak penandatanganan kontrak baru, Aubameyang menghampiri pintu keluar Emirates Stadium. Ia seperti kehilangan tempatnya di Pasukan Gudang Senjata.

Hubungannya dengan Arsenal bahkan Arteta sudah memburuk. Arteta tidak lagi sepenuhnya menaruh hormat pada sang pemain. Aubameyang dinilai gagal menunjukkan komitmen dan semangatnya di Arsenal.

Pria 32 tahun itu telah melakukan tindakan indisipliner. Aubameyang lalai terhadap tugasnya sebagai pemain. Ia telah didenda karena tak menjalani tes Covid-19 jelang laga Europa League.

Saat menjalani karantina, Aubameyang juga harus bertanggung jawab lantaran saat itu malah dimanfaatkan untuk mentato bagian tubuhnya. Auba juga terlambat kembali dari luar negeri, lantaran mengunjungi ibunya yang sakit.

Ia harus mendapat hukuman karena hal itu. Arteta juga sudah mencopot ban kapten dari lengan Aubameyang. Sebelum pergi dari Arsenal, Arteta bahkan sudah tidak memasukkan Aubameyang ke skuadnya.

Performa Menurun

Aubameyang pernah absen tidak membela Arsenal pada tahun 2021 lalu. Ia melewatkan banyak laga. Bukan karena Auba ogah turun lantaran sudah tahu, kalau paling-paling Arsenal gagal menang lagi.

Akan tetapi, Auba terpaksa absen saat itu karena sakit malaria. Namun, bukan malaria saja yang menggerogoti tubuh Aubameyang.

Dua kali sudah ia terpapar Covid-19. Pada Piala Afrika kemarin, Timnas Gabon juga mesti memulangkan Aubameyang karena sang pemain kabarnya terkena penyakit jantung.

Penyakit-penyakit tadi, tentu membawa sial bagi Aubameyang. Sebab, jika saja penyakit-penyakit tadi tak singgah di tubuh Auba, mungkin performanya tidak akan menurun.

Aubameyang pun cuma bisa bermain di Arsenal 15 kali di musim ini. Untungnya, ia masih mampu mencetak 7 gol. Namun catatan itu sebelum tahun 2022, dan sebelum muncul kabar hubungannya dengan klub dan Arteta rusak.

Hubungan Arteta dan Auba Rusak?

Meskipun santer kabar kalau hubungan Aubameyang dengan Arteta telah rusak, tapi Arteta sendiri membantah hal itu. Ia segera “cuci tangan” sebelum ada yang menudingnya sebagai biang keladi hengkangnya Auba ke Barcelona.

Seperti kabar yang berhembus melalui FourFourTwo, Arteta berdalih kepindahan Auba ke Barcelona sepenuhnya karena kepentingan klub. Apa yang Arteta lakukan selama ini adalah sebagai solusi buat Aubameyang dan klub, bukan sumber masalah.

“Saya melakukan banyak hal yang salah, pasti. Tapi niatnya sepanjang waktu adalah yang terbaik, dan bukan untuk saya tapi klub,” kata Arteta seperti dikutip FourFourTwo.

Namun, pernyataan Arteta justru kontradiktif dengan Aubameyang. Ketika pengenalannya sebagai pemain Barca beberapa waktu lalu, dan ditanya apa yang terjadi di London Utara, Auba justru menyebut Arteta sebagai masalahnya.

“Dia (Arteta) tidak senang, hanya itu. Saya tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, karena itulah yang terjadi. Saya tidak terlalu senang, dan lebih baik dengan cara ini (pindah),” kata Auba dikutip FourFourTwo.

Retak atau tidaknya hubungan Arteta dan Auba biar waktu yang menjawab. Yang jelas beberapa pekan sebelum resmi berseragam Barcelona, Auba sudah tidak ada lagi di skuad Arteta.

Arsenal Ngirit

Bagaimanapun menjual Aubameyang secara cuma-cuma ke Blaugrana adalah keputusan berani yang diambil Arsenal. Betul, sekadar berani. Betapapun Arsenal tetaplah rugi karena pemain yang harusnya mendatangkan uang ke klub, justru hanya disumbangkan ke Barcelona.

The Gunners setidaknya kehilangan 56 juta poundsterling atau sekitar Rp 1 triliun kurs sekarang yang mereka bayarkan ke Dortmund untuk menebus Aubameyang tahun 2018 lalu. Belum lagi, Auba sudah menandatangani kesepakatan kontrak barunya di Arsenal musim lalu hingga 2023.

Sesuai kesepakatan itu Auba digaji 250 ribu pounds per pekan atau sekitar Rp 4,8 miliar. Namun kenyataannya sejak kesepakatan itu terjalin, Aubameyang hanya bertahan selama 16 bulan.

Itu artinya ia bertahan tak lebih dari 64 pekan di Meriam London. Dan Arsenal sudah menghabiskan 16 juta pounds atau sekira Rp 309 miliar untuk menggaji Auba selama 16 bulan itu. Orang yang tak ngerti bisnis pun akan melihat itu sebagai kerugian.

Namun, Arsenal cakap mengelak sama seperti fansnya ketika The Gunners sedang bapuk. Penjualan Aubameyang secara gratis konon tujuannya tak lebih untuk proyek Arsenal ke depannya.

Arsenal punya hasrat untuk membeli pemain di musim panas nanti, persis seperti anak SD yang pengin beli Tamiya. Maka dari itu, Arsenal mulai menabung dan berhemat dari sekarang.

Mempertahankan Aubameyang yang gajinya mahal itu jelas hanya mempersulit Arsenal untuk menjalankan pola hidup hemat dan gemar menabung. Alih-alih menabung, keberadaan Aubameyang bisa jadi memaksa Arsenal untuk terus-terusan mencongkel celengannya.

Dengan melepas Aubameyang, Arsenal menghemat gaji sekitar 20 juta pounds atau Rp 386,6 miliar. Pengiritan itu rasanya cukup untuk menjaga fleksibilitas keuangan The Gunners demi menyongsong musim panas nanti.

Arsenal pelan-pelan akan membuktikan bahwa adagium “hemat pangkal kaya” bukan omong kosong di pelajaran Bahasa Indonesia belaka. Salah satunya adalah dengan merampingkan skuad.

Setelah nama-nama macam Alvaro Morata, Dusan Vlahovic, Arthur Melo, sampai Douglas Luiz mlostrok dari genggaman, Arsenal justru melepas tak sedikit pemain. Praktis, sejauh ini Meriam London hanya memiliki 18 outfield players.

Apakah itu masalah bagi Arsenal? Tentu saja tidak. Arsenal tidak pernah punya masalah, kecuali tak lagi meraih gelar Premier League sejak 2004 dan belum pernah menyenangkan penggemarnya dengan menenteng trofi Liga Champions Eropa.

https://youtu.be/5YOnwEyHmaA

Sumber referensi: standard.co.uk, football365.com, hitc.com, fourfourtwo.com, transfermarkt.com, theflanker.com, startingeleven.id

Pemain yang Pulang Ke Tim Lamanya Dengan Memecahkan Rekor Transfer

Bursa transfer pemain memang tidak bisa ditebak. Kerap terjadi banyak kejutan yang bahkan sampai menjadi bahasan selama berhari-hari. Pada bursa transfer musim panas ini sendiri, ada beberapa transfer besar yang sampai membuat penggemar sepakbola geleng-geleng kepala..
Mulai dari bergabungnya Lionel Messi dan Sergio Ramos dalam satu tim, sampai beberapa rumor lama yang pada akhirnya terealisasi pada tahun ini. Selain itu, terdapat satu hal menarik dari transfer kali ini, dimana terdapat pemain yang kembali ke klub lamanya hingga sukses menjadi rekor transfer klub tersebut.
Romelu Lukaku! Adalah pemain yang dimaksud. Pemain asal Belgia itu berhasil dipulangkan Chelsea setelah pada dua musim sebelumnya sempat mengukir cerita indah bersama Inter Milan. Romelu Lukaku, setelah sepuluh tahun lamanya, resmi kembali dengan harga yang terbilang mahal, yakni 95,7 juga pounds atau setara 1,9 triliun rupiah.
Lukaku resmi memecahkan rekor transfer klub, melampaui dana yang harus dikeluarkan saat memboyong Kai Havertz musim lalu, 75,8 juta pounds.
Pada periode pertamanya di Chelsea, Lukaku datang pada tahun 2011 saat usianya baru menginjak 17 tahun. Saat itu, dia mendapat kontrak selama lima tahun usai diboyong dari klub Belgia, Anderlecht.
Berada di Chelsea ketika itu membuat Lukaku kesulitan kembangkan bakat. Dia yang masih terlalu muda terus kalah dalam persaingan di tim utama. Namun setelah putuskan pindah pada tahun 2014, Lukaku menjelma menjadi salah satu penyerang paling produktif di Eropa. Ia berhasil mencetak 87 gol dalam 166 pertandingan bersama Everton pada periode 2014 sampai 2017, dan 42 gol dalam 96 penampilan selama dua tahun di Manchester United, sebelum akhirnya bergabung dengan Inter Milan pada 2019.
Di Inter, dia berhasil ciptakan 64 gol dari 95 penampilan, plus berhasil sumbangkan trofi Serie A.
Kini, datang sebagai pemain yang berbeda, Lukaku diprediksi bisa bersinar dengan mudah. Di laga debutnya melawan Arsenal, dia bahkan sukses tampil brilian dengan ciptakan satu gol.
Namun tahukah kalian, bila masih ada pemain lain selain Lukaku yang saat pulang ke klub lamanya, berhasil ciptakan rekor transfer tersendiri. Penasaran siapa saja? Berikut kami berikan daftarnya.

Don Hutchison (West Ham United)

Don Hutchison merupakan pemain kelahiran Inggris yang kini berusia 50 tahun. Ketika masih aktif sebagai seorang pesepakbola, dirinya tergolong ke dalam pemain yang kerap bergonta-ganti klub. Namun dari beberapa klub yang dibelanya,, West Ham menjadi nama yang mampu memberi cerita tersendiri baginya.
Gelandang yang memulai karir bersama Hartlepool United ini sempat membela Liverpool sebelum akhirnya bergabung dengan West Ham pada periode pertamanya di Tahun 1994. Ketika itu, dia menjadi rekrutan Harry Redknapp dan berhasil mencetak gol di laga debutnya. Sayangnya, dia tidak bertahan lama disana. Klub menganggap bila Don Hutchison memiliki kebiasaan yang sangat buruk.
Karena ditakutkan bakal mempengaruhi pemain lain, West Ham lalu melepasnya ke Sheffield United pada tahun 1996.
Hanya bertahan selama dua musim di Sheffield United, Don Hutchison lalu berhasil menghidupkan lagi karirnya di Everton dan Sunderland. Dua tim tersebut berhasil membuat namanya terangkat dan jadi pemain yang banyak diincar klub Inggris, tak terkecuali West Ham.

Tepat pada tahun 2001, West Ham resmi memulangkannya dengan status sebagai pemain termahal klub, dimana nilainya saat itu diketahui mencapai 5 juta pounds. Sayang seribu sayang, baru enam bulan memulai ulang kisah cintanya bersama West Ham, Don Hutchison harus mendapati karirnya terpuruk, usai dirinya terkena cedera ACL.

Nicolas Anelka (Paris Saint-Germain)

Nicolas Anelka, menjadi pemain selanjutnya yang kerap bergonta-ganti klub. Dia sudah banyak sekali membela klub besar, hingga sulit menempatkan di klub mana dirinya layak disebut sebagai legenda.
Namun bila bicara tentang salah satu klub paling membekas, nama Paris Saint Germain tentu tidak bisa disingkirkan. Anelka merupakan pemain yang sejak kecil telah menimba ilmu di klub tersebut. Pada 1995, dia tercatat sebagai pemain akademi sebelum memainkan debut setahun setelahnya.

Dianggap sebagai salah satu prospek cerah, baru semusim membela tim utama PSG, Anelka lalu dibawa Arsene Wenger untuk bisa bermain di Arsenal. Dia terbang ke London pada usia 17 tahun untuk kemudian memantapkan diri di tim utama pada musim keduanya. Bersama Tim Meriam London, Anelka berhasil persembahkan trofi Liga Primer Inggris dan juga Piala FA.
Bahkan ketika itu, Anelka tercatat sebagai pencetak gol terbanyak Arsenal dengan torehan sebanyak 17 biji.
Melihat ada sesuatu yang istimewa dari Anelka, klub sekaliber Real Madrid lalu datang memberi tawaran. Tanpa berpikir panjang, Anelka lalu putuskan hengkang ke ibukota Spanyol pada tahun 1999. Disana, meski gagal berkembang, dirinya masuk ke dalam skuad yang berhasil mengangkat trofi Liga Champions Eropa.
Merasa kurang menit bermain di Madrid, Anelka lalu menerima tawaran Paris Saint Germain yang berniat memulangkannya ke Prancis. Bukan kaleng-kaleng, keseriusan PSG untuk bisa membawa pulang Anelka dibuktikan dengan sejumlah dana yang diberikan sebesar 22 juta pounds atau setara 434 miliar rupiah.
Dengan nilai tersebut, Anelka resmi menjadi pembelian termahal klub ketika itu dan langsung ditunjuk sebagai kapten tim. Sayangnya, performa yang ditunjukkan gagal membuat PSG terbang mengudara.
Sempat dipinjamkan ke Liverpool, Anelka lalu bergabung dengan Manchester City dan mencicipi sebagian besar karirnya di kompetisi Inggris.

Graeme Le Saux (Chelsea)

Sebelum nama Romelu Lukaku berhasil menjadi pembelian termahal klub dalam kepulangannya ke Stamford Bridge, tim asal London tersebut memiliki nama Graeme Le Saux sebagai pendahulunya.
Graeme Le Saux adalah bek Chelsea pada tahun 1989 sampai 1993 di periode pertamanya. Dia menjadi andalan disana sebelum akhirnya bakat hebatnya dibajak oleh Blackburn Rovers. Bergabung bersama The Rovers membuatnya karirnya meningkat tajam. Performanya banyak dipuji, menyusul kontribusinya yang melahirkan gelar Liga Primer Inggris bagi Blackburn di tahun 1995.

Tertarik untuk kembali mengikat mantan pemainnya itu, Chelsea lalu bergerak cepat di bursa transfer 1997. Dengan biaya sebesar 5 juta pounds, Chelsea berhasil dapatkan kembali jasa Le Saux yang sekaligus memecahkan rekor transfer klub. Pada periode keduanya, mantan pemain yang kini berusia 52 tahun itu berhasil persembahkan trofi Piala FA dan Piala Winners.

Paul Pogba (Manchester United)

Pemain terakhir yang berhasil memecahkan rekor transfer saat dipulangkan klub lamanya adalah Paul Pogba.
Paul Pogba, yang mulai berkarir di akademi Le Havre, berhasil menarik minat akademi Manchester United pada tahun 2009. Disana, dia berhasil masuk ke tim utama pada tahun 2011. Sayangnya, tidak banyak kesempatan bermain yang diberikan, hingga membuatnya tertarik untuk mencari klub baru.
Juventus, yang datang ketika itu berhasil membuat Pogba terkesan. Jadilah pemain asal Prancis tersebut tampil untuk Juventus dan secara luar biasa, mampu mengembangkan dirinya sebagai salah satu gelandang terbaik yang pernah ada. Bersama Si Nyonya Tua, Pogba menjadi bagian penting dari klub yang sukses mengangkat gelar Serie A secara beruntun. Bahkan, dia juga sempat mengantar Juve masuk ke partai final Liga Champions Eropa.
Berhasil menjadi salah satu pemain penting Juve, tawaran kemudian datang dari banyak klub, tak terkecuali Manchester United. MU yang saat itu sangat berminat untuk memulangkan Pogba rela mengeluarkan dana sebesar 89 juta pounds atau setara 1,7 triliun rupiah. Nilai itu tak hanya membuatnya jadi pembelian termahal klub, namun juga menjadikannya sebagai pemain termahal di dunia.

Di periode keduanya, meski sempat terlibat dalam sejumlah konflik, Pogba tetap menjadi pemain yang diandalkan dan berhasil persembahkan trofi Liga Europa.
https://www.youtube.com/watch?v=POZbH6hHtu8