Kesempatan Kedua Chelsea di Piala Dunia Antarklub

spot_img

Tahun 2022 kembali turnamen FIFA Club World Cup digelar. Bertempat di Uni Emirat Arab turnamen ini diselenggarakan pada tanggal 3-12 Februari 2022.

Para klub-klub juara antar benua berkumpul untuk berkompetisi meraih titel gelar juara dunia. Chelsea, Palmeiras, Al-Hilal, Al-Ahly, Monterrey, AS Pirae dan wakil dari tuan rumah Al-Jazeera.

Khusus untuk Chelsea sebagai calon unggulan dari Eropa, banyak menuai sorotan. Ketika kehadiran mereka kali ini adalah yang kedua kalinya. Setelah mereka sempat mencicipinya di tahun 2012. Tahun 2022 ini adalah kesempatan keduanya, karena di kesempatan pertamanya mereka gagal meraih titel juara.

 

Gagal di 2012

Chelsea menjadi juara Champions League ketika itu di musim 2011/2012 di bawah pelatih Roberto Di Matteo. Dengan begitu Chelsea berhak menjadi perwakilan Eropa di kancah FIFA Club World Cup 2012 yang berlangsung di Jepang.

Chelsea yang bermaterikan pemain seperti Fernando Torres, Juan Mata, sampai Frank Lampard berangkat ke Jepang dengan kondisi yang berbeda. Ketika itu Chelsea berada pada tahap musim baru 2012/2013 di bawah pelatih Interim Rafael Benitez setelah insiden pemecatan Di Matteo pada November 2012.

Pada Desember 2012, racikan Benitez langsung diuji di Jepang. Peserta FIFA Club World Cup 2012 ketika itu selain Chelsea ada Corinthians, Ulsan Hyundai, Monterrey, Al-Ahly, Auckland City, serta tuan rumah, Sanfrecce Hiroshima.

Chelsea di bawah Benitez langsung berlaga di babak semifinal melawan wakil dari juara Concacaf Monterrey. Ketika itu Chelsea mampu unggul 3-1 berkat gol Torres, Mata, dan satu gol bunuh diri pemain lawan.

Dengan hasil itu Chelsea melangkah ke final dan bertemu dengan wakil dari CONMEBOL, Corinthians. Racikan taktik Benitez diuji ketika menghadapi klub asal Brazil itu. Memakai format 4-2-3-1 ala Benitez, Chelsea mampu tampil cukup apik. Sering kali juga Corinthians menyulitkan Chelsea dengan counter attack-nya.

Tapi malapetaka datang menghampiri Chelsea di menit ke-69. Corinthians mampu memanfaatkan kurangnya koordinasi lini belakang Chelsea yang dikomandoi David Luiz. Sundulan striker Corinthians Guerrero mampu membawa Corinthians unggul 1-0.

Chelsea terus membombardir gawang Corinthians di sisa menit babak kedua. Namun, tidak satu pun gol yang bersarang. Peluit akhir dibunyikan dan skor 1-0 untuk kemenangan Corinthians.

Chelsea dan Benitez gagal mempersembahkan gelar bagi Eropa. Awal yang buruk bagi karier Benitez. Terlebih ini adalah kesempatan pertama klub asal London Barat itu untuk berlaga di kejuaraan dunia.

Kesempatan Kedua Chelsea

Selang 10 tahun lamanya, Chelsea akhirnya mampu kembali menembus turnamen FIFA Club World Cup 2022 berkat gelar juara Champions League musim 2020/2021. Di tangan pelatih asal Jerman, Thomas Tuchel, Chelsea meraih asa untuk meraih gelar juara di kesempatan keduanya.

The Blues era Tuchel bisa saja memenangkan trofi pertama mereka di tahun 2022 ini, yakni di Piala Dunia Antarklub jika berjalan mulus. Mereka juga telah mencapai final Piala Carabao, di mana mereka akan menghadapi Liverpool.

Chelsea datang ke Uni Emirat Arab dengan skuad lengkap. Ditambah kedatangan kembali Edouard Mendy selepas pulang dari perayaan juara AFCON 2021. Skuad Chelsea hanya minus pemain yang masih cedera seperti Ben Chilwell dan Reece James.

Thomas Tuchel juga dikabarkan akan memantau para pemainnya dari jarak jauh seiring dinyatakan positif terjangkit Covid-19. Tim asisten dan staf pun bekerja keras guna mewujudkan penampilan terbaik Chelsea di kejuaraan ini.

Menjadi pemenang Champions League, Chelsea langsung akan bergabung dalam kompetisi ini di babak semi final. Mereka akan melawan klub Juara Asia dari Arab Saudi, Al-Hilal.

Pemenang Liga Profesional Arab Saudi ini patut diwaspadai Chelsea. Klub ini terkenal ulet dan tidak mudah menyerah. Al-Hilal memiliki banyak pengalaman, dilatih oleh mantan pelatih kepala AS Monaco, Leonardo Jardim dan mempunyai pemain seperti Odion Ighalo, Moussa Marega, dan Matheus Pereira yang notabene pernah bermain di liga papan atas Eropa.

Pertandingan semifinal pun berlangsung. Chelsea dan Tuchel dari awal tetap menggunakan format andalannya yakni 3-4-3 dengan trio di depan: Ziyech, Havertz, dan Lukaku. Sementara itu Al-Hilal langsung tancap gas menurunkan semua para pemain bintangnya sedari awal dengan 4-2-3-1 milik Jardim.

Pertandingan berjalan alot, terbukti setelah gol awal Chelsea di menit 32 oleh Lukaku, setelah menerima bola rebound dari bek Al-Hilal, tidak ada gol lagi yang bersarang.

Penampilan apik juga ditunjukan Kepa Arrizabalaga yang mampu menangkis beberapa tendangan on target dari pemain Al-Hilal. Skor akhir 1-0 berakhir sampai peluit akhir dibunyikan. Chelsea pun melangkah ke final.

Seperti yang sudah ditakdirkan, jika Chelsea dapat melewati Al Hilal di semifinal, mereka sudah ditunggu juara CONMEBOL dari Brazil, Palmeiras. Pemenang Copa Libertadores musim lalu mencapai final setelah mengalahkan wakil Mesir, Al-Ahly 2-0 di pertandingan semifinal lewat gol Dudu dan Veiga.

Tim yang berjuluk. “Alviverde” secara historis adalah salah satu tim terbaik asal Amerika Selatan setelah memenangkan Copa Libertadores back to back dari musim 2019/2020 dan 2020/2021.

Selain sebagai tim tersukses di sepak bola domestik maupun Copa Libertadores, Palmeiras juga merupakan klub yang sedang dalam performa terbaik. Mereka tidak terkalahkan dalam enam pertandingan menuju final kali ini.

Palmeiras sendiri di bawah pelatih asal Portugal, Abel Ferreira sering mengandalkan lini serangnya baik itu Scarpa, Veiga, Dudu, maupun Roni. Gol-gol Palmeiras sering lahir berkat kepiawaian individu para penyerangnya itu, sekaligus ditambah dengan racikan taktik ala Abel Ferreira.

Chelsea tidak bisa menganggap remeh Palmeiras. Chelsea dengan 3-4-3 harus tetap waspada racikan 4-2-3-1 ala Abel Ferreira. Duel lini tengah akan sangat seru.

Dinamo tengah Chelsea, Kante dan Jorginho atau Kovacic dengan gaya taktis dan pressing-nya, akan menghadapi lini tengah kolektif dan kreatif ala Brazil seperti Veiga, Scarpa dan Dudu.

Partai final ini adalah pertaruhan besar sebagai penebusan dosa Chelsea akan gagalnya mereka satu dekade lalu. Seperti apa kata kapten Chelsea Cesar Azpilicueta, salah satu pemain yang tersisa sejak kegagalannya di 2012 lalu.

“Ini adalah hal yang sulit dan Chelsea harus belajar dari pengalaman 2012, memenangkan gelar ini akan menjadi sejarah, serta sangat berarti bagi fans. Disini, mental dan kepemimpinan diperlukan” kata Azpi.

Kegagalan Chelsea di final 2012 bukan tidak mungkin berkat krisis mental kepemimpinan di lapangan. Krisis kepemimpinan melanda Chelsea di 2012 ketika itu, setelah absennya kapten mereka John Terry di partai final.

Tahun 2022 ini Chelsea akan bertumpu pada pengalaman dan komando pemain senior seperti kapten Azpilicueta maupun Thiago Silva. Bagaimanapun Chelsea akan tetap menjadi unggulan untuk membawa pulang gelar turnamen ini.

Akan tetapi di sisi lain, Palmeiras dapat mengambil inspirasi dari rival berat mereka, Corinthians. Dalam upaya mereka untuk meniru kepahlawanan mereka guna menimbulkan kesengsaraan pada The Blues.

 

Sumber Referensi : uefa.com, premierleaguenewsnow, si.com

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru