Mengapa Banyak Negara Timur Tengah Mengakuisisi Klub Sepakbola?

spot_img

Jika ada pepatah yang mengatakan. “Bangsa China akan menguasai dunia”, maka itu tidak berlaku sama sekali di dunia sepakbola. Karena di dunia sepakbola yang terjadi justru berkebalikan dengan itu. Bahwa para pebisnis dari Tiongkok banyak yang gagal.

Sekalipun ini bukan berarti semua pebisnis Tiongkok gagal berbisnis di sepakbola. Hanya beberapa, tapi karena jumlahnya banyak dan bisnisnya adalah klub sepakbola yang punya nama, tentu ini sudah cukup membuktikan bahwa pebisnis Tiongkok perlu belajar lagi bisnis sepakbola.

Kita sebut misalnya, tumbangnya Guangzhou Evergrande. Atau di beberapa belahan dunia lainnya. Banyak pebisnis Tiongkok yang mengalami kemunduran dalam bisnis klubnya, tak terkecuali klub Eropa. Misalnya, Suning Group di Inter atau Li Yonghong yang pernah mengakuisisi AC Milan.

Tentu kalau kita mencari contohnya bisa jadi pembahasannya malah panjang membahas gitu doang. Tapi yang jelas, para pebisnis asal China tidak sesukses negara-negara Timur Tengah atau Negara Teluk. Kamu tentu paham dong, betapa sekarang bisnis sepakbola nyaris semuanya dikuasai negara-negara Timur Tengah.

Yang teranyar ketika Newcastle United mendapat guyuran investor dari konsorsium Arab Saudi, pimpinannya Mohammed bin Salman, pangeran Arab. Sebelum itu, seorang Sheikh Mansour yang datang dari Uni Emirat Arab berhasil mengubah Manchester City jadi raksasa yang sulit tergoyahkan di Premier League.

Contoh lain, kita bisa menyebut PSG yang dikuasai Qatar Sports Investment, yang di dalamnya dipimpin Nasser Al-Khelaifi. Tim-tim lain yang tidak terlalu besar, seperti Everton juga dikuasai taipan Timur Tengah lainnya, Farhad Moshiri, dan masih banyak lagi.

Hebatnya, para pebisnis dari Timur Tengah itu bukan hanya mengakuisisi satu klub saja. Tapi membangun gurita bisnis sepakbola, seperti Sheikh Mansour dengan City Football Group yang mengakomodir lebih dari tiga klub di dunia. Jadi, apa yang membuat mereka mengakuisisi klub sepakbola?

Bisnis yang Menggiurkan

Mantan pemilik Newcastle United, Mike Ashley pernah mengatakan bisnis sepakbola tidaklah terlalu baik. Karena berbisnis klub sepakbola itu resikonya sangat tinggi. Namun, pernyataan Mike Ashley itu tidaklah sama dengan para pengusaha Timur Tengah.

Pengusaha dari negara-negara Timur Tengah justru melihat klub sepakbola sebagai celah bisnis yang menggiurkan. Klub sepakbola, bagi pebisnis dari Negara Teluk, adalah oase di tengah bisnis lain yang masih tak menentu, sekaligus ruang terbuka untuk menaruh investasi.

Pebisnis dari negara Timur Tengah melihat klub sepakbola, bahkan bukan sekadar bisnis yang menggiurkan. Namun, berguna untuk membangun jaringan bisnis dengan para konglomerat dan perusahaan komersial di Barat. Mereka melihat bisnis sepakbola sebagai alternatif, apabila kelak dunia sudah tak membutuhkan minyak lagi.

Dengan mengakuisisi klub sepakbola, artinya para pebisnis Timur Tengah itu bisa melebarkan sayap bisnisnya. Mereka yang kebanyakan sudah memiliki bisnis lain, menjadikan klub yang diakuisisi sebagai tunggangan untuk menaikkan nilai ekonomi bisnis yang lain.

Lihatlah bagaimana Qatar Airways, maskapai penerbangan asal Qatar itu bisa terbang tinggi sebagai produk yang bernilai. Yang mana mereka akhirnya berhasil menyebarluaskan kemitraan dengan klub-klub lain. Etihad Airways juga sama.

Maskapai penerbangan itu bisa tumbuh, seiring investasi Sheikh Mansour ke Manchester City. Direktur Atlantic Council EmpowerME, Amjad Ahmad mengatakan investasi dalam sepakbola menumbuhkan merek-merek tadi secara global.

Propaganda Sosial

Selain karena faktor ekonomi dan bisnis yang menggiurkan, para taipan dari Negara Teluk mengakuisisi klub sepakbola juga untuk melakukan propaganda sosial. Ini sangat menarik. Apalagi misalnya, ketika Arab Saudi mengakuisisi Newcastle United.

Ketika itu muncul kritik atas akuisisi tersebut. Kritik datang dari pelatih Liverpool, Jurgen Klopp sampai kepala Amnesty International UK, Sacha Deshmukh. Mereka semua mengkritik bahwa akuisisi tersebut hanyalah akal-akalan Arab Saudi untuk melakukan propaganda sosial.

Yang dimaksud adalah propaganda untuk menutupi kasus-kasus yang terjadi di Arab Saudi. Dengan mengakuisisi klub sepakbola, negara seperti Arab Saudi bisa dengan fasih menyembunyikan permasalahan hak asasi manusia di sana.

Dengan mengakuisisi klub sepakbola, para pebisnis asal Timur Tengah juga bisa menaikkan reputasinya, wabil khusus di dunia barat. Apalagi jika si pebisnis ini mengakuisisi klub-klub top Eropa. Contoh saja Nasser Al-Khelaifi di PSG.

Al-Khelaifi berkali-kali melakukan propaganda, termasuk ketika membeli Neymar dari Barcelona dengan harga yang fantastis. Hal itu bahkan sering disebut ‘pencucian olahraga’ agar Qatar terlepas dari tuduhan mendanai terorisme.

Selain itu, Nasser Al-Khelaifi juga menduduki satu jabatan di UEFA, yang membuatnya sejajar dengan nama-nama kaliber Javier Tebas. Bukan hanya itu, dengan menunggangi sepakbola melalui jalur bisnis, negara-negara Timur Tengah memanen popularitasnya.

Membangun Kerajaan Bisnis yang Besar

Ketika mengetahui bahwa bisnis sepakbola begitu menggiurkan, para taipan asal Timur Tengah itu punya siasat untuk membangun kerajaan bisnis, khusus di bidang sepakbola. Mereka sering kali menggelontorkan uang banyak untuk membangun kerajaan bisnis tersebut.

Dinamika kebutuhan menjadi alasan mereka memperluas kerajaan bisnisnya di sepakbola. Yang cerdik, para konglomerat dari gurun pasir ini tak jarang menyasar klub-klub kecil yang memiliki utang. Nah, untuk mendanainya menggunakan uang dari hasil investasi ke klub raksasa yang sudah bonafide.

Contoh paling sukses adalah Sheikh Mansour bin Zayed Al-Nahyan yang mendirikan perusahaan City Football Group (CFG). CFG ini adalah perusahaan yang telah mengakuisisi banyak klub sepakbola. Bukan hanya di Eropa, tapi juga di Amerika Latin dan belahan dunia lainnya.

Selain Manchester City, perusahaan itu juga menaungi Mumbai City, Troyes AC, Girona FC, New York City di Amerika, Montevideo City di Uruguay, sampai Sichuan Jiuniu FC di China.

Antisipasi Kegagalan Bisnis

Tentu para pebisnis Negara Teluk yang menginvestasikan uangnya itu memiliki bisnis lain. Nah, mereka mau berinvestasi ke sepakbola karena untuk mengantisipasi kegagalan bisnis yang lain. Perkembangan sepakbola yang terduga dan bagaimana kekuatannya sebagai olahraga terpopuler sedunia, wajar kalau mengakuisisi klub jadi pilihan para taipan Arab.

Di samping itu, bisnis sepakbola yang bisa menggurita, seperti apa yang dilakukan Sheikh Mansour sangat potensial untuk menghindari kebangkrutan. Hal itulah yang coba para taipan Arab itu lakukan. Mereka kini berinvestasi ke lebih banyak klub, untuk mengantisipasi kegagalan di klub yang lain.

Apa Untungnya Buat Klub?

Para taipan Timur Tengah yang datang mengakuisisi klub di dunia jelas membawa pengaruh yang signifikan. Dalam laporan India Times, investor dari Negara Teluk mampu mengubah nasib klub yang bersangkutan. Klub yang dulu terpuruk seperti Manchester City bisa dengan mudah bangkit berkat Sheikh Mansour.

Begitu pula PSG yang pernah menjalani puasa Ligue 1, mampu berbuka puasa tak lama setelah Nasser Al-Khelaifi masuk mengakuisisi. Banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Tapi satu yang pasti, pebisnis asal Timur Tengah akalnya bulus dan siasatnya ular.

Mereka luar biasa cerdasnya di dunia bisnis sepakbola. Para taipan itu tahu, bahwa sepakbola bukan sekadar permainan di atas rumput. Melainkan ada banyak sisi bisnis yang bisa dimanfaatkan. Nama besar pemain, nama besar klub, sponsorship, hak siar, dan masih banyak lagi.

Maka, tidak masalah bagi pebisnis Timur Tengah untuk mengeluarkan dana. Toh, untuk mendapatkannya lagi dan efek timbal baliknya sangat-sangat menguntungkan.

Sumber referensi: AtlanticCouncil, LatinAmericanPost, AlArabiya, IndiaTimes

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru