Dahsyatnya Lyon Memproduksi Pemain Kelas Dunia

spot_img

Jika kamu penggemar Real Madrid, kamu boleh melompat dari kursi ketika Benzema menyelamatkan Los Merengues dari kekalahan. Begitu pula Real Betis harus berterima kasih pada Nabil Fekir. Pemain itu menjadi salah satu aktor kunci ketika Los Verdiblancos meraih titel Copa del Rey.

Namun, dua nama tadi tidak akan mencapai titik terbaiknya dan tidak akan kita kenal kalau klub Prancis, Olympique Lyonnais tidak mendidik mereka. Ya, Les Gones bahkan masyhur sebagai pabriknya pemain-pemain kelas dunia.

Jika kalian lupa, selain Nabil Fekir dan Karim Benzema, ada banyak pemain kelas dunia yang lahir dari rahim Lyon. Dari Anthony Martial, Alexandre Lacazette, Tanguy Ndombele, Houssem Aouar, Clement Grenier, Samuel Umtiti, Corentin Tolisso, sampai Hatem Ben Arfa.

Saking hebatnya memproduksi pemain kelas dunia, Lyon konon hampir pasti tidak akan kehabisan pemain. Well, bagaimana Lyon bisa memproduksi pemain kelas dunia? Apa rahasianya?

Andil Pemerintah Prancis

Keberhasilan Lyon dalam menelurkan pemain muda berbakat tidak semata-mata karena klub. Tapi ada banyak pihak yang turut andil dalam kesuksesan Lyon memproduksi pemain kelas dunia. Pihak tersebut salah satunya adalah pemerintah Prancis.

Tidak seperti negara-negara Eropa lainnya, katakanlah seperti Inggris maupun Spanyol, sepakbola Prancis dianggap tidak menarik. Ini terlepas dari bagaimana Paris Saint-Germain yang kini menguasai Liga Prancis. Namun, memang begitulah keadaannya.

Mendominasi atau tidaknya PSG di Liga Prancis, tidak sanggup menutup stigma bahwa sepakbola Prancis tidak menarik. Seseorang yang memulai karier profesionalnya, bahkan sangat disarankan untuk tidak bermain di Prancis. Akan tetapi, tuduhan semacam itu keliru besar.

Trofi Piala Dunia 2018 jadi bukti Prancis sebenarnya tidak seburuk apa kata orang. Sekalipun di satu titik masih kurang menarik, namun Prancis telah menghasilkan banyak pemain hebat, dan itu berakar di satu kebijakan zaman baheula.

Pada tahun 1973, muncul kebijakan dari Prancis dalam bentuk Piagam Sepakbola Profesional. Di dalamnya, setiap klub profesional Prancis wajib membuat pusat pelatihan pemuda. Dan Lyon pada waktu itu, menjadi tim pertama yang melaksanakan mandat tersebut.

Berkat Jean-Michel Aulas

Setelah piagam itu, beberapa tahun setelahnya, tepat pada Juni 1987, Jean-Michel Aulas menjabat sebagai presiden Lyon. Ia menjadi pencetus awal pengembangan pemain muda di Olympique Lyonnais. Pada waktu itu, Aulas punya ambisi untuk mengerek Lyon yang masih berada di tingkat kedua agar bisa promosi

Ia menunjuk pelatih kepala, Raymond Domenech dan mempercayakan jabatan direktur olahraga kepada Bernard Lacombe. Penunjukkan Domenech sebagai pelatih kepala terbilang tepat. Apalagi Domenech tahu Lyon memiliki jajaran pemain muda yang berbakat.

Domenech mempercayakan pemain lokal seperti Bruno Genesio, Remi Garde, dan Bruno N’Gotty. Pemain-pemain yang dipanggil Domenech pun membuahkan hasil positif. Mereka berhasil membawa Lyon promosi pada tahun 1990, dan sejak saat itu Les Gones belum pernah terdegradasi.

Mulai saat itu pula, Lyon menghasilkan lulusan akademi yang bermutu. Florian Maurice yang mentas dari akademi menjadi pemain bintang Olympique Lyonnais pada era 1990-an. Sementara, ketika Lyon mulai mendominasi Ligue 1 dari tahun 2000-an, sayap lokal seperti Sidney Govou turut ranum.

Buah Karya Gerard Bonneau

Kemudian pada 2003, Gerard Bonneau datang menjadi tukang rekrut di Lyon. Bonneau bekerja sebagai recruiter pemain muda Lyon yang bekerja dari tahun 2003 sampai 2017. Ia bertanggung jawab pada peluncuran pemain berbakat dari Lyon, bahkan dari Prancis secara menyeluruh.

Sosok Bonneau adalah orang yang paham bagaimana pemain Prancis bermain bola. Ia yang mengembangkan pemain seperti Anthony Martial, Nabil Fekir, Lacazette, sampai Karim Benzema tahu betul bahwa tipikal pemain asli Prancis adalah bertubuh atletis dan memiliki keunggulan teknis.

“Dasarnya, para pemain Prancis ini bisa beradaptasi dengan sistem permainan apa pun, dan hebatnya bisa menggunakan kedua kaki sama kuat,” kata Bonneau seperti dikutip ESPN.

Bonneau bersama rekan-rekannya, membantu akademi Lyon menjadi salah satu etalase pemain berbakat. Untuk melakukan itu, ia bahkan rela pergi ke luar untuk merekrut para pemain muda. Hasilnya?

Menurut studi yang dikeluarkan CIES Football Observatory, pada tahun 2018, Lyon menduduki peringkat kedua dari lima liga top Eropa sebagai penghasil pemain muda tertinggi. Posisi Lyon hanya kalah dari Real Madrid dan berhasil mengungguli FC Barcelona yang menguntit di peringkat ketiga.

Tatkala Lyon meraih gelar liga terakhir pada musim 2007-08, buah kerja keras Bonneau kelihatan, terutama di lini serang. Pada waktu itu, Lyon 100 persen menggunakan pemain lokal seperti Karim Benzema, Govou, sampai Ben Arfa.

Mempercayakan Pemain Muda

Keberhasilan itu hanya jadi utopis belaka, andai Lyon tak memiliki metode yang pas dalam membina para pemain muda. Sebagaimana julukannya, “Les Gones” yang dalam ungkapan lokal berarti “Anak-Anak”, Lyon membina anak-anak yang memiliki bakat hebat dalam sepakbola dengan cara mempercayai mereka.

Lyon menaruh kepercayaan tinggi pada pemuda-pemuda yang mereka didik sendiri. Dalam laporan Bleacherreport, sekitar 8-12 persen pemain di setiap kelompok usia yang bergabung ke klub dalam sistem perekrutan mereka, telah menandatangani kontrak profesional. Entah itu di klub sendiri maupun tempat lain.

“Budaya Lyon adalah memberikan kepercayaan pada pemain muda. Itu sudah menjadi DNA klub,” kata Jean-Francois Vulliez, kepala akademi Lyon.

Tradisi mempercayai pemain ini memang begitu mengakar pada Lyon. Bahkan pada tahun 2011, mantan pemain yang dulu dilatih Domenech, Remi Garde dan Bruno Genesio masuk jajaran staf klub. Garde lebih dulu memimpin Lyon sebagai pelatih dari tahun 2011 sampai 2014, lalu dilanjutkan Genesio pada 2015.

Gelontoran Dana dan Terjun Mencari Pemain

Sebagai presiden klub, Aulas tidak pelit dalam mengeluarkan biaya. Sekalipun itu bukan untuk membeli pemain berkelas, melainkan mengembangkan pemain muda. Setiap musimnya ada sekira 8-10 juta euro (Rp125 miliar-Rp156 miliar) anggaran dialokasikan untuk akademi.

Kualitas akademi Lyon dari situ benar-benar terjaga. Apalagi dana tersebut juga digunakan para pemandu bakat mencari bakat-bakat tersembunyi. Lyon menaruh setidaknya sembilan pemandu bakat di kawasan Auvergne-Rhône-Alpes di timur-tengah Prancis. Tempat itu menjadi penghasil pemain bola dengan lisensi terbanyak di Prancis.

Selain itu, Lyon juga menempatkan lima pemandu bakat di tempat lain di Prancis. Apa yang dilakukan Lyon ini sedikit berbeda dengan klub lain. Mereka tidak sekadar mengandalkan pertandingan uji coba untuk mendapatkan pemain, tapi betul-betul terjun ke klub-klub amatir.

Pemandu bakat Lyon benar-benar hadir di pinggir lapangan. Kehadiran mereka sangat dirasakan oleh tim-tim lokal. Karena apa yang dilakukan pemandu bakat Lyon ini adalah pengamatan detail dengan langsung melihat seorang pemain bermain di klub amatir.

Awalnya, Lyon dianggap menjarah para pemain. Namun, lama-lama hubungan timbal balik antara Lyon dan klub amatir pun terjalin. Keduanya menjalin kemitraan yang sama-sama menguntungkan.

Peduli pada Mental Pemain

Dalam perkembangannya, akademi Lyon tidak hanya berfokus pada pengembangan bakat dalam hal mengolah si kulit bundar. Namun, Lyon juga memperhatikan kondisi psikis para pemainnya. Akademi Lyon mulai mengarah untuk membuat semacam layanan psikologis pada para pemain muda.

Ini memang sesuai dengan rencana Prancis untuk tidak hanya mengembangkan bakat, tapi juga memenuhi kebutuhan psikologis. Untuk itu Lyon telah menyiapkan program kesehatan psikologis, seperti hipnoterapi, yoga, dan pelatihan persiapan mental untuk pemain berusia 12 tahun ke atas.

Dari sini kita tahu bahwa selain fasilitas dan biaya, Lyon juga memfasilitasi pengembangan pemain melalui program yang terukur dan jelas. Maka wajar saja, kalau pada akhirnya akademi Lyon jadi salah satu yang terbaik di Eropa.

Sumber referensi: BR, FootAmateur, ESPN, PlayingFor90, InterestingFootball

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru