Tepatkah Menyebut MLS Sebagai Liga Pensiun?

spot_img

Major League Soccer (MLS) menghadirkan teka-teki bagi penggemar sepakbola. Apakah liga ini patut untuk didukung dan ditonton? Atau di sisi lain apakah MLS sungguh-sungguh merupakan kompetisi liga sepakbola yang kompetitif?

Ini menjadi semakin rumit lantaran sepakbola bukan menjadi olahraga terpopuler di Amerika Serikat. Keberadaan MLS pun awalnya sekadar untuk menyiapkan gelaran Piala Dunia 1994. Karena Amerika akan menjadi tuan rumah, maka Paman Sam menggelar MLS.

Namun, kini MLS menjadi populer. Bukan karena kekuatan pemberitaannya yang sedahsyat Premier League. Tidak juga lantaran sejarahnya yang begitu mengakar sebagaimana Serie A. Akan tetapi, karena banyak bintang top sepakbola merapat ke sana.

Hanya saja, mereka merapat bukan untuk mencari gelar prestise. Lebih jauh, MLS acap kali disebut sebagai “liga pensiun”, karena para pemain top yang singgah ke sana hanya untuk menghabiskan kariernya. Kebanyakan adalah pemain yang sudah melewati masa emasnya.

Akan tetapi, apa benar demikian? Apa benar MLS itu sekadar “liga pensiun”? Mengapa bisa disebut semacam itu?

Awal Mula

Jika kita melempar ingatan ke belakang, MLS sebetulnya hadir lantaran kebutuhan mendesak. Pada tahun 1994, Amerika terpilih menjadi tuan rumah Piala Dunia. Setahun sebelum gelaran Piala Dunia, pada 1993 Amerika mendirikan MLS.

Pendirian MLS jadi rencana Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia 1994. MLS pun menjadi semacam waralaba, yang mana untuk meningkatkan popularitas liga, mencoba membawa nama-nama besar untuk merapat ke Amerika Serikat.

Dalam perkembangannya, betul banyak pemain bintang top Eropa khususnya, merapat ke MLS. Salah satu yang cukup fenomenal adalah David Beckham. Penandatangan Beckham ke LA Galaxy pada tahun 2007 membantu untuk membawa gelombang pemain top ke MLS.

Namun, status Beckham yang sudah melewati masa emasnya, justru menjadi titik awal mengapa MLS disebut sebagai “liga pensiun”. Setelah Beckham, mulai banyak pemain yang menghabiskan senja karier mereka di MLS.

Sekalipun pada waktu itu, David Beckham berhasil menjadikan MLS populer di masyarakatnya sendiri. Meski ia datang dengan sisa-sisa kekuatannya, kehadiran Beckham membawa atmosfer baru dan perbedaan di MLS.

Setelah nama-nama beken, termasuk para generasi emas Inggris juga turut datang ke MLS. Mereka antara lain Frank Lampard, Steven Gerrard, sampai Andrea Pirlo. Namun, tiga nama tadi menjadikan MLS sebagai pelabuhan terakhir sebelum memutuskan pensiun.

Hal itu justru berkebalikan dengan David Beckham sendiri. Bagi Beckham, MLS bukan sebagai tempat pensiunan atau menghabiskan masa senja. Namun, pada waktu itu, Beckham menunjukkan MLS adalah liga yang kompetitif. Ia bahkan menjadikan MLS semacam batu loncatan untuk kembali lagi ke Eropa.

Tidak Selamanya yang Datang Menghabiskan Masa Senja

Walaupun MLS dianggap “liga pensiun”, tapi tak selamanya benar demikian. Bisa jadi sebutan “liga pensiun” datang dari para pencinta sepakbola yang tahunya Eropa doang. Pemain yang merapat ke Major League Soccer nggak selalu mereka yang habis masa emasnya.

Ada pula pemain yang memilih MLS saat ia sedang aktif-aktifnya. Atau dengan kata lain belum melewati masa emasnya. Mari kita sebut misalnya, Carlos Vela pemain asal Meksiko. Vela menjalani masa-masa indah di MLS sejak 2018.

Padahal Vela ini pada era itu, adalah komoditi yang diperhitungkan di Eropa. Ia yang pernah bermain di Arsenal, justru hijrah dari Premier League ke MLS. Hasilnya? Sinarnya sama sekali tidak meredup. Pemain liga-liga Eropa lainnya, seperti Giovani Dos Santos juga mengikuti jejak Vela.

Dos Santos adalah pemain muda FC Barcelona, ia kemudian pindah ke Tottenham Hotspur, sebelum akhirnya menandatangani kontrak dengan LA Galaxy tahun 2015. Pada waktu itu, meski bermain di Liga MLS, Dos Santos masuk dalam daftar panjang nominasi peraih FIFA Ballon d’Or tahun 2015.

Alasan Pemain Datang ke MLS

Pertanyaannya, mengapa pemain memilih MLS? Entah itu untuk menghabiskan masa kariernya, atau untuk serius bermain dan memperindah CV. Daya tarik MLS adalah pemain bisa menikmati budaya Amerika, mulai dari keindahan dan suasananya.

Eropa di sisi lain juga memiliki keindahan yang tak kalah indah. Tapi melancong ke kota-kota di Amerika Serikat seperti Chicago, Los Angeles, maupun New York tentu daya tarik yang berbeda. Selain itu, konon gaji di MLS sangat menggiurkan.

Bintang sepakbola top yang datang ke MLS bisa mendapatkan gaji di luar persyaratan batas gaji yang ditentukan. Artinya, mereka bisa mendapat uang lebih banyak daripada ketika bermain di Eropa. Namun apakah benar begitu?

Tidak semua pemain mendapatkan gaji tinggi ketika bermain di MLS. Kabar terbaru, Gareth Bale yang baru saja merapat ke Los Angeles FC justru memiliki gaji yang berbeda dengan pemain lain seperti Xherdan Shaqiri di Chicago Fire atau Lorenzo Insigne di Toronto FC.

Melansir laporan Marca, Gareth Bale bakal mendapat gaji dari Los Angeles FC sebesar 1,6 juta dolar (sekitar Rp23,7 miliar). Angka itu jauh lebih sedikit dari gajinya ketika di Real Madrid yang mencapai 20,3 juta dolar (sekitar Rp301,6 miliar).

Nasib Bale itu berbeda dengan Insigne yang kabarnya justru memiliki gaji yang lebih tinggi. Dikutip The 18, bermain untuk Toronto FC, Insigne mendapat bayaran 12,42 juta dolar per musim plus tambahan 5,64 juta dolar. Jadi kalau ditotal, pendapatan Insigne dari Toronto bisa mencapai 18,06 juta dolar (sekitar Rp268,3 miliar).

MLS Mulai Berkembang

Pada kenyataannya MLS mulai mengalami perkembangan. Major League Soccer tidak hanya menjadi tempat para pesepakbola menghabiskan sisa-sisa kemampuannya. Tapi MLS mulai mereguk popularitasnya barang seteguk demi seteguk.

Setidaknya MLS berhasil membantu masyarakat Amerika untuk mulai menggemari sepakbola. Dalam sebuah riset oleh Nielsen Scarborough, ada peningkatan 10 persen minat terhadap MLS dari penduduk Amerika yang berusia 18 tahun ke atas, sepanjang tahun 2012 hingga 2018.

Popularitas yang mulai naik ini membuat klub-klub di MLS kian bertumbuh. Semakin banyak klub sepakbola Amerika yang bergabung. Misalnya, Inter Miami dan Nashville SC yang bergabung pada 2020 dan Austin FC yang bergabung tahun 2021.

Klub-klub MLS pun mulai berkembang. Mereka menguatkan jaringan dengan perusahaan-perusahaan di bidang olahraga, tak terkecuali City Football Group. Alhasil, MLS pun tidak hanya menerima para pemain bangkotan, tapi juga menyumbang banyak talenta hebat.

Nama-nama seperti Ricardo Pepi, Christian Pulisic, Alphonso Davies, Miguel Almiron, sampai Weston McKennie adalah pemain-pemain yang akhirnya justru diekspor ke Eropa. Namun, ini juga bukan selamanya menguntungkan. Bisa jadi mengekspor pemainnya ke Eropa justru menimbulkan masalah lain lagi.

Ketika para pemain hebat yang lahir dari MLS pergi, justru di titik itulah MLS menggerus popularitasnya sendiri. Meski sekarang MLS sudah mulai menjaring siaran televisi publik seperti NBA dan NFL, namun tidak ada pemain berkelas seperti liga Eropa, tidak akan cukup membuat penggemar sepakbola mau menonton MLS.

Belum lagi kalau ujungnya superstar sepakbola yang datang justru mereka yang sudah bapuk. Atau istilah sopannya, pesepakbola yang telah melewati masa emasnya. Dengan begitu, MLS sulit untuk melepaskan olok-olokan “liga pensiun” yang melekat padanya.

Sumber referensi: Goal, SportingNews, SQAF, Quora

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru