Juara Piala Dunia pertama, Uruguay bersiap dengan kepercayaan diri penuh untuk edisi tahun 2022. Timnas yang berjuluk La Celeste itu datang ke Qatar dengan membawa amunisi terbaik di dalamnya. Pemain gaek seperti Luis Suarez, Edinson Cavani, sampai Diego Godin akan mentas di Qatar.
Pelatih Uruguay, Diego Alonso enggan mengambil resiko. Ia yang datang untuk menggantikan pelatih tua, Oscar Tabarez menanggung beban berat. Ekspektasi yang tinggi tentu saja membebani pundak Diego Alonso.
Daftar Isi
Tidak Lagi Dilatih Oscar Tabarez
Menggantikan pelatih senior seperti Oscar Tabarez tidak mudah bagi Diego Alonso. Apalagi jejak-jejak yang ditinggalkan pelatih berjuluk El Maestro sangat banyak. Tabarez setidaknya sudah 15 tahun memimpin La Celeste di ajang internasional.
Pria tua yang hebat dalam merevolusi sepakbola Uruguay itu pernah mengantar tim ke semifinal Piala Dunia 2010. Meski El Maestro belum pernah membawa Uruguay menjadi juara seperti tahun 1930 dan 1950. Kendati begitu, Tabarez sudah memberikan satu trofi, yaitu Copa America setahun setelah Piala Dunia 2010.
RESMI : Setelah 15 tahun mengabdi, Uruguay memberhentikan Oscar Tabarez dari jabatannya sebagai pelatih tim nasional.
Wow loyalitas, rispek! 🇺🇾👏 pic.twitter.com/OgHc1gkJMz
— Extra Time Indonesia (@idextratime) November 20, 2021
Namun, 15 tahun sepertinya sudah cukup bagi Oscar Tabarez. Usianya yang menginjak 74 tahun, mungkin menjadi waktu yang tepat untuknya tidak lagi melatih Uruguay. Penampilan Uruguay yang jeblok, terutama di kualifikasi Piala Dunia 2022, membuat Tabarez akhirnya harus meninggalkan jabatannya sebagai pelatih pada November 2021.
Walau demikian, Oscar Tabarez tidak diusir begitu saja. Ia beserta stafnya diberhentikan secara terhormat, setelah kekalahan 3-0 atas Bolivia. Dilansir The Athletic, Asosiasi Sepakbola Uruguay (AUF) mengeluarkan pernyataan bahwa pemberhentian Tabarez dari jabatannya sama sekali tidak lantas melupakan kontribusinya di Uruguay.
“Kami salut dan mengakui prestasi olahraga mendasar yang diperoleh selama 15 tahun ini, yang sekali lagi menempatkan Uruguay di puncak sepakbola dunia,” demikian bunyi pernyataan dari Komite Eksekutif AUF.
Diego Alonso Ditunjuk
Setelah pemutusan hubungan dengan El Maestro, kondisi Uruguay sedang sakit. La Celeste terdepak dari slot Piala Dunia dengan hanya menempati posisi ketujuh. Federasi sepakbola Uruguay pun segera mengambil tindakan untuk menyelamatkan slot Piala Dunia.
Mantan manajer Inter Miami dan Monterrey, Diego Alonso pun ditunjuk sebagai pelatih anyar. Federasi sepakbola Uruguay tidak mengabarkan sampai kapan kontrak Diego Alonso. Namun beberapa media lokal menyebut sampai akhir kualifikasi zona Amerika Selatan. Tapi ternyata, ia dilanjutkan untuk Piala Dunia 2022.
🇺🇾 Diego Alonso prepara el once de #Uruguay para el estreno mundialista. #VQVMundial pic.twitter.com/mq22Ww5cqZ
— #VamosQueVamos (@VQV_Futbol) November 15, 2022
Soal prestasi, Diego Alonso sangat minim pengalaman di level tim nasional. Kiprahnya cuma melatih tim-tim dari Amerika, Uruguay, Meksiko, dan Paraguay. Salah satu trofinya adalah Kejuaraan Meksiko tahun 2016 bersama tim Meksiko, Pachuca. Ia juga pernah memenangkan Liga Champions CONCACAF bersama Pachuca dan Monterrey.
Di negaranya, Diego Alonso pernah melatih mantan tim Diego Forlan, Penarol. Ia juga tercatat pernah menukangi klub Bella Vista. Di Paraguay, Diego Alonso membesut Olimpia dan Club Guarani.
@Atleti Final de la Champions League Concacaf Monterrey 2-1 Tigres enhorabuena Diego Alonso entrenador Monterrey y ex jugador del Atlético de Madrid pic.twitter.com/SarZ2CvjHS
— Escobarich (@Escobarich) May 2, 2019
Diego Alonso Membawa Uruguay ke Piala Dunia 2022
Kehadiran Diego Alonso membuahkan hasil. Ia benar-benar mengerek posisi Uruguay di kualifikasi Piala Dunia 2022 zona CONMEBOL. Melalui tangan dinginnya, Uruguay bahkan tidak terkalahkan di empat pertandingan kualifikasi Piala Dunia.
La Celeste berhasil menaklukkan Paraguay, Venezuela, Peru, dan Chile. Setelah membawa Uruguay ke Piala Dunia 2022, dengan finis di peringkat ketiga di bawah Argentina dan Brasil di kualifikasi zona CONMEBOL, tren positif kembali berlanjut.
Dalam lima laga persahabatan, Uruguay asuhan Diego Alonso hanya kalah dari Iran 1-0. Dan itu satu-satunya kekalahan dari total sembilan laga Uruguay sejak dilatih Diego Alonso. Ini tentu saja menjadi pertanda baik untuk Timnas Uruguay bertarung di Qatar.
Komposisi Skuad
Beruntungnya, Diego Alonso mewarisi pemain-pemain yang tinggal berangkat saja ke Qatar. Susunan pemain Uruguay sudah sangat paripurna. Dengan kata lain, Alonso tidak perlu mencari lagi bakat-bakat baru. Timnas Uruguay sudah mengumumkan 26 nama yang akan berangkat ke Qatar.
Menariknya, lini per lini sangat merata. Di lini depan, Alonso tidak perlu bingung karena di sana ada Darwin Nunez, Edinson Cavani, dan Luis Suarez. Selain tiga itu masih ada satu lagi, yaitu Maximiliano Gomez, pemain yang kini berseragam Trabzonspor.
Uruguay promoting #VisitUruguay campaign and announcing the football national team for the 2022 world cup at the same time. Top Marketing 🔝pic.twitter.com/HbtHZ0nETS
— Football Business Journal (@F00TBUSINESS) November 11, 2022
Di lini tengah nama-nama seperti Facundo Pellistri, Matthias Vecino, Rodrigo Bentancur, sampai bintang Real Madrid, Federico Valverde. Di sektor pertahanan, bek senior seperti Diego Godin dan Martin Caceres akan bermain bersama Ronald Araujo, Jose Maria Gimenez, Mathias Olivera, sampai Sebastian Coates.
Tentu akan sangat panjang kalau disebutkan semuanya. Namun dari nama-nama tadi ada beberapa yang akan menjadi pemain kunci Timnas Uruguay. Pemain yang sangat layak kita nantikan permainannya di Piala Dunia 2022.
Pemain Kunci
Rodrigo Bentancur menjadi salah satu pemain kunci di skuad Uruguay. Sejak bergabung ke Tottenham Hotspur, Bentancur menunjukkan kualitasnya. Ia beberapa kali menjadi pilihan utama Antonio Conte di lini tengah The Lilywhites.
Bentancur piawai melakukan umpan. Akurasi umpannya menurut Fbref di angka 81,7% selama berseragam Uruguay. Selain Bentancur, Darwin Nunez juga layak dinanti di Piala Dunia 2022. Pemain anyar Liverpool itu kurang meyakinkan di klubnya, tapi ia bisa menjadi opsi di lini serang.
Kendati peran Nunez di lini depan La Celeste belum terlalu maksimal. Dari 12 laga, Nunez hanya mencetak 3 gol di Timnas Uruguay. Padahal di kualifikasi Piala Dunia 2022, Nunez sangat rajin melakukan tembakan. Total, dari 8 laga Nunez melepas 10 tembakan dan 5 di antaranya ke arah gawang.
Nunez ⚽️🇺🇾
pic.twitter.com/CZuInsew5M— 🆉🅸🆉🅾🆄 (@zi_46) November 14, 2022
Taktik Diego Alonso
Selama dilatih Oscar Tabarez, Uruguay konsisten memakai format 4-4-2. Di era Tabarez, pertahanan Uruguay sangat sulit ditembus. Namun, setelah 15 tahun, gaya main Tabarez basi dan mudah terbaca. Nah, oleh Diego Alonso gaya main itu akan berubah.
Kendati menggunakan skema yang sama, yaitu 4-4-2, tapi Diego Alonso lebih memproyeksikan pola permainan menekan. Alih-alih parkir bus sebagaimana yang dilakukan Oscar Tabarez. Sebelumnya di era Tabarez, permainan Uruguay lebih menunggu.
Hice la lista de Uruguay ordenada por puestos en un 4-4-2, el último sistema utilizado por Diego Alonso. pic.twitter.com/z6STLwOCEu
— Nahuel (@NahuelBeau) November 11, 2022
Bahkan pemain di lini tengah kurang berani melakukan tekanan. Nah di tangan Diego Alonso pemain Uruguay dipaksa untuk bermain lebih proaktif. Oleh karena itu, ia juga kadang menggunakan formasi 4-3-3. Alonso pasti akan meminta dua penyerang berbagi peran.
Entah itu Suarez dengan Cavani maupun dengan Darwin Nunez. Jika satu mencari ruang di lini depan, satu lainnya akan mencari ruang dengan mundur ke belakang. Dalam melakukan build-up serangan, Diego Alonso kerap memanfaatkan lebar lapangan.
Dengan permainan proaktif dan progresif, serangan Uruguay bisa lebih efektif. Untuk itulah, Diego Alonso juga mengandalkan kecepatan Valverde untuk mendobrak pertahanan dari sisi sayap.
Grup H World Cup 2022 🏆
Portugal 🇵🇹
Ghana 🇬🇭
Uruguay 🇺🇾
Korea Selatan 🇰🇷#beINWC2022#BacotBola#FIFAWorldCup#FinalDraw pic.twitter.com/Uwronoz9YI— beIN SPORTS (@beINSPORTSid) April 1, 2022
Tim yang juga berjuluk Los Charruas itu tergabung di Grup H, bersama Portugal, Korea Selatan, dan Ghana. Portugal menjadi lawan tersulit. Namun untuk lolos ke 16 besar, peluang Uruguay sangat terbuka lebar.
Kuncinya Uruguay harus bisa mengalahkan Korea Selatan. Sementara, jika sulit mengalahkan Ghana, menahan imbang sudah cukup, asalkan tidak kalah dari Portugal. Itu jika mereka ingin memastikan diri lolos ke fase gugur. Sementara soal juara, itu bisa diurus belakangan.
Sumber: VOI, TheAthletic, Sporstar, SI, ESPN, TFA, HUDL, ActionNetwork, PaddyPower
