Beranda blog Halaman 454

Hitung-Hitungan Kekuatan Uruguay di Piala Dunia 2022

0

Juara Piala Dunia pertama, Uruguay bersiap dengan kepercayaan diri penuh untuk edisi tahun 2022. Timnas yang berjuluk La Celeste itu datang ke Qatar dengan membawa amunisi terbaik di dalamnya. Pemain gaek seperti Luis Suarez, Edinson Cavani, sampai Diego Godin akan mentas di Qatar.

Pelatih Uruguay, Diego Alonso enggan mengambil resiko. Ia yang datang untuk menggantikan pelatih tua, Oscar Tabarez menanggung beban berat. Ekspektasi yang tinggi tentu saja membebani pundak Diego Alonso.

Tidak Lagi Dilatih Oscar Tabarez

Menggantikan pelatih senior seperti Oscar Tabarez tidak mudah bagi Diego Alonso. Apalagi jejak-jejak yang ditinggalkan pelatih berjuluk El Maestro sangat banyak. Tabarez setidaknya sudah 15 tahun memimpin La Celeste di ajang internasional.

Pria tua yang hebat dalam merevolusi sepakbola Uruguay itu pernah mengantar tim ke semifinal Piala Dunia 2010. Meski El Maestro belum pernah membawa Uruguay menjadi juara seperti tahun 1930 dan 1950. Kendati begitu, Tabarez sudah memberikan satu trofi, yaitu Copa America setahun setelah Piala Dunia 2010.

Namun, 15 tahun sepertinya sudah cukup bagi Oscar Tabarez. Usianya yang menginjak 74 tahun, mungkin menjadi waktu yang tepat untuknya tidak lagi melatih Uruguay. Penampilan Uruguay yang jeblok, terutama di kualifikasi Piala Dunia 2022, membuat Tabarez akhirnya harus meninggalkan jabatannya sebagai pelatih pada November 2021.

Walau demikian, Oscar Tabarez tidak diusir begitu saja. Ia beserta stafnya diberhentikan secara terhormat, setelah kekalahan 3-0 atas Bolivia. Dilansir The Athletic, Asosiasi Sepakbola Uruguay (AUF) mengeluarkan pernyataan bahwa pemberhentian Tabarez dari jabatannya sama sekali tidak lantas melupakan kontribusinya di Uruguay.

“Kami salut dan mengakui prestasi olahraga mendasar yang diperoleh selama 15 tahun ini, yang sekali lagi menempatkan Uruguay di puncak sepakbola dunia,” demikian bunyi pernyataan dari Komite Eksekutif AUF.

Diego Alonso Ditunjuk

Setelah pemutusan hubungan dengan El Maestro, kondisi Uruguay sedang sakit. La Celeste terdepak dari slot Piala Dunia dengan hanya menempati posisi ketujuh. Federasi sepakbola Uruguay pun segera mengambil tindakan untuk menyelamatkan slot Piala Dunia.

Mantan manajer Inter Miami dan Monterrey, Diego Alonso pun ditunjuk sebagai pelatih anyar. Federasi sepakbola Uruguay tidak mengabarkan sampai kapan kontrak Diego Alonso. Namun beberapa media lokal menyebut sampai akhir kualifikasi zona Amerika Selatan. Tapi ternyata, ia dilanjutkan untuk Piala Dunia 2022.

Soal prestasi, Diego Alonso sangat minim pengalaman di level tim nasional. Kiprahnya cuma melatih tim-tim dari Amerika, Uruguay, Meksiko, dan Paraguay. Salah satu trofinya adalah Kejuaraan Meksiko tahun 2016 bersama tim Meksiko, Pachuca. Ia juga pernah memenangkan Liga Champions CONCACAF bersama Pachuca dan Monterrey.

Di negaranya, Diego Alonso pernah melatih mantan tim Diego Forlan, Penarol. Ia juga tercatat pernah menukangi klub Bella Vista. Di Paraguay, Diego Alonso membesut Olimpia dan Club Guarani.

Diego Alonso Membawa Uruguay ke Piala Dunia 2022

Kehadiran Diego Alonso membuahkan hasil. Ia benar-benar mengerek posisi Uruguay di kualifikasi Piala Dunia 2022 zona CONMEBOL. Melalui tangan dinginnya, Uruguay bahkan tidak terkalahkan di empat pertandingan kualifikasi Piala Dunia.

La Celeste berhasil menaklukkan Paraguay, Venezuela, Peru, dan Chile. Setelah membawa Uruguay ke Piala Dunia 2022, dengan finis di peringkat ketiga di bawah Argentina dan Brasil di kualifikasi zona CONMEBOL, tren positif kembali berlanjut.

Dalam lima laga persahabatan, Uruguay asuhan Diego Alonso hanya kalah dari Iran 1-0. Dan itu satu-satunya kekalahan dari total sembilan laga Uruguay sejak dilatih Diego Alonso. Ini tentu saja menjadi pertanda baik untuk Timnas Uruguay bertarung di Qatar.

Komposisi Skuad

Beruntungnya, Diego Alonso mewarisi pemain-pemain yang tinggal berangkat saja ke Qatar. Susunan pemain Uruguay sudah sangat paripurna. Dengan kata lain, Alonso tidak perlu mencari lagi bakat-bakat baru. Timnas Uruguay sudah mengumumkan 26 nama yang akan berangkat ke Qatar.

Menariknya, lini per lini sangat merata. Di lini depan, Alonso tidak perlu bingung karena di sana ada Darwin Nunez, Edinson Cavani, dan Luis Suarez. Selain tiga itu masih ada satu lagi, yaitu Maximiliano Gomez, pemain yang kini berseragam Trabzonspor.

Di lini tengah nama-nama seperti Facundo Pellistri, Matthias Vecino, Rodrigo Bentancur, sampai bintang Real Madrid, Federico Valverde. Di sektor pertahanan, bek senior seperti Diego Godin dan Martin Caceres akan bermain bersama Ronald Araujo, Jose Maria Gimenez, Mathias Olivera, sampai Sebastian Coates.

Tentu akan sangat panjang kalau disebutkan semuanya. Namun dari nama-nama tadi ada beberapa yang akan menjadi pemain kunci Timnas Uruguay. Pemain yang sangat layak kita nantikan permainannya di Piala Dunia 2022.

Pemain Kunci

Rodrigo Bentancur menjadi salah satu pemain kunci di skuad Uruguay. Sejak bergabung ke Tottenham Hotspur, Bentancur menunjukkan kualitasnya. Ia beberapa kali menjadi pilihan utama Antonio Conte di lini tengah The Lilywhites.

Bentancur piawai melakukan umpan. Akurasi umpannya menurut Fbref di angka 81,7% selama berseragam Uruguay. Selain Bentancur, Darwin Nunez juga layak dinanti di Piala Dunia 2022. Pemain anyar Liverpool itu kurang meyakinkan di klubnya, tapi ia bisa menjadi opsi di lini serang.

Kendati peran Nunez di lini depan La Celeste belum terlalu maksimal. Dari 12 laga, Nunez hanya mencetak 3 gol di Timnas Uruguay. Padahal di kualifikasi Piala Dunia 2022, Nunez sangat rajin melakukan tembakan. Total, dari 8 laga Nunez melepas 10 tembakan dan 5 di antaranya ke arah gawang.

Taktik Diego Alonso

Selama dilatih Oscar Tabarez, Uruguay konsisten memakai format 4-4-2. Di era Tabarez, pertahanan Uruguay sangat sulit ditembus. Namun, setelah 15 tahun, gaya main Tabarez basi dan mudah terbaca. Nah, oleh Diego Alonso gaya main itu akan berubah.

Kendati menggunakan skema yang sama, yaitu 4-4-2, tapi Diego Alonso lebih memproyeksikan pola permainan menekan. Alih-alih parkir bus sebagaimana yang dilakukan Oscar Tabarez. Sebelumnya di era Tabarez, permainan Uruguay lebih menunggu.

Bahkan pemain di lini tengah kurang berani melakukan tekanan. Nah di tangan Diego Alonso pemain Uruguay dipaksa untuk bermain lebih proaktif. Oleh karena itu, ia juga kadang menggunakan formasi 4-3-3. Alonso pasti akan meminta dua penyerang berbagi peran.

Entah itu Suarez dengan Cavani maupun dengan Darwin Nunez. Jika satu mencari ruang di lini depan, satu lainnya akan mencari ruang dengan mundur ke belakang. Dalam melakukan build-up serangan, Diego Alonso kerap memanfaatkan lebar lapangan.

Dengan permainan proaktif dan progresif, serangan Uruguay bisa lebih efektif. Untuk itulah, Diego Alonso juga mengandalkan kecepatan Valverde untuk mendobrak pertahanan dari sisi sayap.

Tim yang juga berjuluk Los Charruas itu tergabung di Grup H, bersama Portugal, Korea Selatan, dan Ghana. Portugal menjadi lawan tersulit. Namun untuk lolos ke 16 besar, peluang Uruguay sangat terbuka lebar.

Kuncinya Uruguay harus bisa mengalahkan Korea Selatan. Sementara, jika sulit mengalahkan Ghana, menahan imbang sudah cukup, asalkan tidak kalah dari Portugal. Itu jika mereka ingin memastikan diri lolos ke fase gugur. Sementara soal juara, itu bisa diurus belakangan.

Sumber: VOI, TheAthletic, Sporstar, SI, ESPN, TFA, HUDL, ActionNetwork, PaddyPower

Berita Bola Terbaru 15 November 2022 – Starting Eleven News

Berita Bola Terbaru dan Terkini

KARIM BENZEMA SIAP BUKTIKAN KUALITASNYA DI QATAR 2022

Penyerang timnas Prancis, Karim Benzema menegaskan bahwa Piala Dunia 2022 bakal menjadi pembuktian bahwa dirinya layak menerima trofi Ballon d’Or. Di musim ini, serangkaian cedera otot memang memaksa Benzema hanya tampil tujuh kali saja di La Liga. Namun ia masih bisa membukukan 5 gol dan merebut trofi Ballon d’Or perdananya. Kini, setelah musim yang gemilang di Madrid,  ia sangat berhasrat untuk memenangkan Piala Dunia bersama Timnas Prancis. 

BENZEMA RAIH BALLON D’OR, RONALDO BELUM KASIH UCAPAN SELAMAT

Karim Benzema sukses meraih Ballon d’Or 2022. Mantan rekannya di Real Madrid, Cristiano Ronaldo, belum memberinya ucapan selamat. Hal itu diungkap Benzema, saat diwawancara Telefoot. Striker Prancis itu belum dihubungi Ronaldo atas kesuksesannya. Ronaldo sendiri, yang sudah memenangkan lima gelar Ballon d’Or, menempati urutan ke-20 di edisi 2022. Itu merupakan posisi terendahnya sejak 2005.

MOUKOKO KINI DIPEREBUTKAN ENAM KLUB ELIT EROPA

Sejumlah klub elite Eropa dikabarkan sedang memantau Youssoufa Moukoko. Pemain berusia 16 tahun itu tampil apik saat melakukan debutnya di Borussia Dortmund. Kontraknya yang akan berakhir pada akhir musim, jadi sebuah kesempatan unik untuk mengamankan salah satu talenta paling cemerlang di  Sepak bola Eropa. Setidaknya ada enam klub elit yang bernafsu kepada Moukoko. Empat di antaranya berasal dari Liga Inggris, yakni Manchester United, Manchester City, Liverpool, dan Chelsea. Selain itu ada PSG dan Barcelona. 

INTER MILAN INCAR MARCUS THURAM

Berkaca dari minimnya kontribusi Lukaku musim ini, membuat manajemen Inter Milan berencana mendatangkan striker pengganti dan melepas eks Chelsea tersebut di bursa transfer. Melansir dari laman Football Italia, disebutkan bahwa Inter Milan sudah menyiapkan beberapa nama yang berpotensi jadi incaran bulan Januari nanti. Salah satunya adalah Marcus Thuram dikabarkan sudah jadi target utama Inter Milan untuk diboyong sebagai ganti Lukaku.

BRUNO FERNANDES KRITIK PELANGGARAN HAM QATAR

Bruno Fernandes mengkritik penyelenggaraan Piala Dunia 2022. Bintang Timnas Portugal itu menyoroti pelanggaran HAM Qatar kepada pekerja pembangunan stadion. Gelandang Manchester United itu menilai Piala Dunia 2022 digelar dalam momen yang tidak tepat, serta merugikan banyak pihak. “Piala Dunia lebih dari sekadar sepakbola, ini adalah pesta bagi para penggemar dan pemain. Sesuatu yang menyenangkan untuk ditonton dan harus dilakukan dengan cara yang lebih baik,” demikian kata Bruno Fernandes.

MIMPI LEWANDOWSKI: MAIN BARENG MESSI

Striker Barcelona Robert Lewandowski memuji Lionel Messi. Lewandowski menilai Messi sebagai sosok yang sangat luar biasa.  Striker asal Polandia tersebut mengakui bahwa salah satu mimpinya adalah bisa bermain bersama pemain Argentina itu dalam satu klub. Lewandowski sendiri akan menghadapi Messi di Piala Dunia 2022. Sebab, Polandia tergabung dengan Argentina, Arab Saudi, dan Meksiko di Grup C.

JOSIP STANISIC PERPANJANG KONTRAK DI BAYERN MUNCHEN

Setelah beberapa waktu lalu memperpanjang kontrak Sven Ulreich, kali ini Bayern Munchen kembali memperbarui kontrak pemain cadangan penting lainnya, Josip Stanisic. Melalui laman resminya, Bayern mengganjar Stanisic dengan kontrak baru jangka panjang hingga musim panas 2026. Dengan kontrak baru tersebut pemain yang juga dipanggil untuk membela Timnas Kroasia di Piala Dunia 2022 itu berharap bisa mempersembahkan lebih banyak gelar untuk Die Bavarian.

HAALAND ABSEN BELA NORWEGIA VERSUS IRLANDIA

Erling Haaland dipastikan tidak akan tampil di pertandingan uji coba Norwegia yang akan datang lawan Republik Irlandia, namun sang striker bisa bermain ketika mereka menghadapi Finlandia. Hal itu telah disampaikan oleh federasi sepakbola Norwegia, Minggu. Haaland baru-baru ini pulih dari cedera yang membuatnya absen dari pertandingan terakhir timnya lawan Leicester dan Sevilla, meski ia kembali ke starting XI dalam kekalahan 2-1 di Brentford, Sabtu (12/11).

DESCHAMPS SIAP PENUHI KEINGINAN MBAPPE DI TIMNAS PRANCIS

Kylian Mbappe menjadi salah satu pemain yang akan diandalkan oleh Didier Deschamps di lini depan. Perihal sorotan tinggi terkait posisi yang akan ditempati Mbappe, Deschamps mengatakan bahwa ia akan memberikan kebebasan kepada pemain berusia 23 tahun tersebut. Namun, bukan berarti dia bisa melupakan tanggung jawab tim. Jika diperhatikan, Mbappe tampak bermain lebih nyaman di Prancis daripada di PSG. Dia membutuhkan rekan duet seperti Olivier Giroud atau Karim Benzema yang bisa membuka ruang.

JESUS UNGKAP PEMAIN TERHEBAT VERSINYA DI SEPAKBOLA

Dari sekian banyak pesepakbola yang pernah bermain dengannya, Gabriel Jesus memilih rekan setimnya di timnas Brasil sebagai yang terhebat. Dia adalah Neymar yang dianggap sebagai salah satu pemain terbaik di dunia dan Jesus senang bisa bermain dengannya di tim nasional. Jesus tentu berharap Neymar menunjukkan kualitas maksimalnya ketika Brasil memulai kampanye Piala Dunia 2022 di Qatar.

RUDIGER SUMBANGKAN BONUS DI TIMNAS JERMAN KE YAYASAN DI AFRIKA

Sikap mulia ditunjukan pemain Timnas Jerman Antonio Rudiger jelang enam hari Piala Dunia 2022 Qatar bergulir. Eks pemain Chelsea yang kini membela Real Madrid itu menggunakan bonus Piala Dunianya untuk mendanai operasi anak-anak cacat di Sierra Leone. Pemain berusia 29 tahun itu mendanai operasi yang mengubah hidup untuk 11 anak muda di negara asal ibunya.

RONALDO SAKIT HATI DITUDUH BOHONG SOAL PENYAKIT ANAKNYA

Cristiano Ronaldo merasa MU tak menghormatinya, termasuk ketika putrinya sedang sakit. Berbicara kepada Piers Morgan dalam acara Piers Morgan Uncensored on TalkTV, Ronaldo menyinggung soal apa yang sebenarnya terjadi pada musim panas lalu. Menurut pengakuan Ronaldo, ia tak bisa mengikuti pramusim Setan Merah karena harus menemani putrinya Bella Esmeralda yang tengah sakit. “Putri saya yang berusia tiga bulan dirawat di rumah sakit pada Juli lalu, jadi saya melewatkan latihan pramusim. Saya terluka karena manajemen klub tidak percaya pada saya,” ujar Ronaldo.

PERNYATAAN RESMI MU SETELAH DISERANG CRISTIANO RONALDO

Dalam wawancara dengan Piers Morgan, Cristiano Ronaldo memberikan pengakuan yang membuat pencinta Manchester United dan sepakbola dunia heboh. Pasalnya, CR7 merasa dirinya telah dikhianati MU. Dengan munculnya permasalahan tersebut ke publik, MU pun telah mencatat liputan media tentang wawancara yang dilakukan oleh Ronaldo. Manchester United pun akan melakukan pertimbangan ketika semua fakta didapatkan.

VIRAL FERNANDES ENGGAN JABAT TANGAN RONALDO DI TIMNAS PORTUGAL

Sebuah video yang menggambarkan Bruno Fernandes awalnya enggan menjabat tangan Ronaldo di timnas Portugal viral di media sosial. Video tayangan CNN Portugal berdurasi sembilan detik tersebut viral pada Senin (14/11) malam. Detik-detik video yang beredar di medsos itu memperlihatkan Bruno baru saja masuk ke ruang ganti timnas Portugal. Dari sorotan kamera, Bruno menghampiri Ronaldo yang sedang mempersiapkan diri untuk latihan. Ronaldo tampak memberi jabatan tangan kepada Bruno, namun tak langsung direspons oleh sang gelandang serang tersebut. Bruno terlihat memberi salam kepada seorang rekannya, setelah itu ia baru merespons uluran tangan Ronaldo kepadanya.

CARRAGHER: RONALDO CAPER

Jamie Carragher mengecam wawancara Cristiano Ronaldo. Eks bintang Liverpool itu menilai Ronaldo haus perhatian makanya melakukan wawancara kontroversial. “Harusnya itu memberi mereka (suporter) kebahagiaan selama sebulan ketika liga mulai lagi. Mereka seharusnya bersenang-senang dan kemudian wawancara Ronaldo muncul dan boom – itu soal hal-hal negatif.”

MESSI KLAIM SEMPAT MINTA LUIS ENRIQUE BERTAHAN DI BARCELONA

Superstar Argentina, Lionel Messi mengungkapkan hubungannya dengan pelatih timnas Spanyol, Luis Enrique. Messi berbicara tentang kondisi keduanya saat masih bekerja sama di Barcelona. Enrique pergi dari kursi pelatih Barca pada 2017 dengan rumor adanya keretakan hubungan sang pelatih dengan Messi. Kini, Messi mengklaim, hubungannya dengan Enrique berjalan dengan baik hingga masa jabatan sang pelatih di Camp Nou. Bahkan Messi sempat meminta Enrique untuk bertahan di Barcelona.

PIALA DUNIA 2022 JADI PANGGUNG PEMBUKTIAN HAZARD KE ANCELOTTI

Eden Hazard gagal meraih kepercayaan Carlo Ancelotti di Real Madrid sepanjang musim ini. Rencananya, pemain berusia 31 tahun itu akan menjadikan Piala Dunia 2022 sebagai panggung pembuktian. Di Qatar nanti, Hazard diprediksi masih jadi pemain inti di skema bermain Roberto Martinez. Hazard tak ingin melewatkan kesempatan ini dan berusaha memberikan penampilan terbaiknya.

MEKSIKO UMUMKAN SKUAD PIALA DUNIA 2022

Timnas Meksiko resmi mengumumkan 26 nama pemain yang akan diturunkan di Piala Dunia 2022, Senin (14/11). Nama-nama lawas masih tetap menjadi andalan pelatih Gerardo Martino. Di posisi penjaga gawang ada nama Guillermo Ochoa. Lalu di pos belakang ada Hector Moreno. Lini tengah diisi Andres Guardado. Ada pula Hector Herrera. Sementara Lini depan Los Tricolores diisi pemain Napoli Hirving Lozano dan Alexis Vega (Guadalajara). Selain itu, Rogelio Funes Mori (Monterrey) dan Henry Martin (Club America).

DICORET TIMNAS SPANYOL, BEGINI RESPON RAMOS

Sergio Ramos meratapi nasibnya yang gagal menembus Skuad Piala Dunia Spanyol. Perasaan tersebut dituangkan Ramos melalui akun media sosial instagram pribadinya pada Senin (14/11). Dalam unggahan di Instagramnya, Sergio Ramos mengatakan bahwa kariernya memang sempat meredup akibat cedera panjang yang dialaminya. Namun Ramos merasa dirinya telah menunjukan perkembangan yang sangat baik pada musim ini.

BUFFON JAGOKAN NEGARA INI DI PIALA DUNIA 2022

Kiper legendaris Italia, Gianluigi Buffon, mendukung Timnas Kamerun di Piala Dunia 2022. Sebab, tim berjuluk Lions Indomptables itu punya tempat spesial di hatinya. Ya, mantan bintang Juventus itu memang punya hubungan spesial dengan Timnas Kamerun. Pasalnya, dia memutuskan berkarir menjadi penjaga gawang setelah menonton mereka tampil di Piala Dunia 1990 dan terinspirasi dari sang kiper Kamerun kala itu, Thomas N’Kono.

PINAMONTI MASUK SKUAD TIMNAS ITALIA

Pelatih Gli Azzurri, Roberto Mancini telah memutuskan untuk memanggil Andrea Pinamonti untuk pertandingan persahabatan Italia melawan Albania dan Austria. Pinamonti sekarang sedang dalam perjalanan untuk bergabung dengan skuad Italia dan Mancini di Coverciano. Italia sendiri akan melawan Albania pada 16 November pukul 19:45 waktu setempat dan Austria pada 20 November di waktu yang sama.

THOMAS TUCHEL TERTARIK JADI PELATIH TIMNAS INGGRIS

Mantan pelatih Chelsea Thomas Tuchel tertarik menjadi manajer Timnas Inggris setelah Piala Dunia 2022. Tapi itu mungkin tergantung pada kinerja Inggris di turnamen, mengingat Gareth Southgate masih memiliki dua tahun tersisa di kontraknya. Namun, Southgate telah mengakui bahwa kontrak tidak berarti apa-apa di dunia kepelatihan. Southgate bisa saja dipecat jika gagal memberikan yang terbaik untuk Inggris di Piala Dunia 2022.

MU SIAPKAN KONTRAK BARU UNTUK ALEJANDRO GARNACHO

Alejandro Garnacho dianggap pantas menjadi bagian penting skuad Erik Ten Hag, menyusul penampilan luar biasanya musim ini. Laporan AS menyebutkan bahwa kontrak Garnacho di MU sebenarnya masih panjang. Ia masih punya kontrak sampai 2025. Namun, MU memahami situasi yang tidak aman jika hanya berpegang pada kontrak yang sudah ada. Oleh karena itu, kontrak baru sedang dipersiapkan.

BALE TEGASKAN 100 PERSEN SIAP BELA WALES

Terlepas menit bermainnya yang kurang di LAFC, Gareth Bale akan berada dalam kondisi siap tempur 100 persen untuk Piala Dunia. Berbicara di sesi konferensi pers terakhir Wales sebelum terbang ke Qatar, Bale menegaskan dia akan siap untuk pertandingan pembuka melawan Amerika Serikat pada 21 November. “Tidak ada masalah. Jika saya perlu memainkan tiga pertandingan selama 90 menit, saya akan memainkannya.”

KIMPEMBE CEDERA, PRANCIS PANGGIL AXEL DISASI DAN THURAM DI PIALA DUNIA 2022

Bek tangguh milik Paris Saint-Germain, Presnel Kimpembe gagal tampil membela Timnas Prancis dalam gelaran Piala Dunia 2022 karena belum sembuh cedera hamstring. Cedera yang dialaminya membuat pelatih Prancis, Didier Deschamps memanggil Axel Disasi dari AS Monaco. Selain itu, Timnas Prancis juga memanggil satu striker Borussia Monchengladbach, Marcus Thuram, untuk menggenapi skuad menjadi 26 pemain.

 

 

Termahal Sepanjang Sejarah! Berapa Rincian Biaya dan Hadiah Piala Dunia 2022?

0

Datang dan menonton langsung pertandingan Piala Dunia memang jadi “bucket list” bagi banyak penggemar sepak bola. Namun, pada edisi kali ini, sepertinya mimpi tersebut perlu dipertimbangkan kembali. Pasalnya, Piala Dunia 2022 bakal jadi gelaran Piala Dunia termahal sepanjang sejarah.

Berdasarkan hasil penelitian dari perusahaan jasa keuangan Polandia, Conotoxia, harga tiket pertandingan Piala Dunia 2022 adalah yang paling mahal dalam sejarah. Harga tiket Piala Dunia Qatar cukup bervariasi, tergantung dari jenis tiket dan kategorinya. Harga tiket di tiap babak juga berbeda-beda.

Kategori paling murah yakni kategori 4 yang dijual khusus untuk penduduk Qatar. Artinya, bagi turir atau fans yang datang dari negara lain, mereka mesti mengeluarkan biaya yang jauh lebih mahal.

Tiket termurah di babak grup dijual dengan harga 250 Riyal Qatar atau sekitar Rp1 juta dan tiket termahal dijual dengan harga 800 Riyal Qatar atau sekitar Rp3,3 juta. Di babak 16 besar, tiket termurah dijual dengan harga 350 Riyal Qatar atau sekitar Rp1,4 juta dan tiket termahalnya dijual dengan harga 1000 Riyal Qatar atau sekitar Rp4,1 juta.

Lalu di babak perempat final, tiket termurah dijual dengan harga 750 Riyal Qatar atau sekitar Rp3 juta dan tiket termahalnya dijual dengan harga 1550 Riyal Qatar atau sekitar Rp6,3 juta. Kemudian untuk babak semifinal, tiket termurahnya dibanderol dengan harga 1200 Riyal Qatar atau sekitar Rp5 juta dan tiket termahalnya dibanderol dengan harga 3480 Riyal Qatar atau sekitar Rp14 juta.

Sementara itu, tiket termurah untuk pertandingan final dijual dengan harga 2200 Riyal Qatar atau sekitar Rp9 juta dan 5850 Riyal Qatar atau sekitar Rp24 juta untuk tiket termahalnya. Mengutip dari Insider, harga tiket pertandingan final Piala Dunia 2022 di Qatar naik sebesar 46% dari harga tiket final Piala Dunia 2018 di Rusia.

Namun, yang membuat ongkos menonton langsung Piala Dunia tahun ini jadi yang termahal bagi fans adalah karena biaya akomodasi dan penerbangannya yang sangat tinggi. Dilansir dari Front Office Sports, penggemar asal Inggris dan Wales diperkirakan harus menyiapkan dana sekitar 5.630 dolar AS untuk tiket, penerbangan, dan akomodasi, jika negara mereka mencapai babak final.

Bujet yang harus dikeluarkan masing-masing penggemar memang bakal berbeda-beda, tergantung dari mana mereka berangkat. Namun, pada intinya, semua sepakat kalau Piala Dunia tahun ini adalah yang termahal.

Kocek mahal yang mesti disiapkan tersebut memang sudah diperkirakan sejak jauh hari. Ini tak lepas dari besarnya biaya yang sudah tuan rumah Qatar habiskan untuk menyukseskan turnamen akbar 4 tahunan tersebut.

Rincian Biaya Piala Dunia Qatar 2022

Statita dan Front Office Sports memperkirakan Qatar telah menghabiskan biaya sebesar 220 miliar dolar AS untuk menggelar Piala Dunia 2022. Sementara sumber dari CNBC mengatakan kalau pemerintah Qatar telah mengeluarkan biaya sekitar 229 miliar dolar AS untuk menyukseskan Piala Dunia 2022 yang akan berlangsung pada 20 November hingga 18 Desember ini.

Besaran biaya tersebut jadi yang termahal sepanjang sejarah. Bahkan, jumlah tersebut hampir lima kali lipat dari ongkos gabungan yang dihabiskan tuan rumah Piala Dunia 1990 hingga 2018 yang hanya sebesar 48,63 miliar dolar AS. Sangat fantastis, bukan?

Sebagai perbandingan, tuan rumah Rusia hanya mengeluarkan 11,6 miliar dolar AS untuk menggelar Piala Dunia 2018. Brasil menghabiskan 15 miliar dolar AS untuk jadi tuan rumah Piala Dunia 2014. Sementara Afrika Selatan cuma menghabiskan 3,6 miliar dolar AS untuk menggelar Piala Dunia 2010.

Memang, dibanding tuan rumah Piala Dunia edisi sebelumnya, Qatar bukanlah negara sepak bola, sehingga banyak hal yang harus mereka persipkan, termasuk membangun dan merenovasi 8 stadion. Pembangunan tersebut dilaporkan menelan biaya antara 6,5 miliar dolar AS hingga 10 miliar dolar AS.

Biaya yang jauh lebih besar dikeluarkan pemerintah Qatar untuk membangan infrastruktur penunjang. Seperti sistem jaringan metro yang melayani lima dari delapan stadion yang menelan biaya 36 miliar dolar AS. Sementara sisa biaya lainnya Qatar habiskan untuk membangun perhotelan, telekomunikasi, keamanan, bandara, infrastruktur jalan yang lebih luas, serta infrastruktur transportasi lainnya.

Qatar sudah terpilih jadi tuan rumah Piala Dunia 2022 sejak tahun 2010. Sejak saat itu, mereka rata-rata menghabiskan 18,3 miliar dolar AS pertahun. Angka tersebut sepadan dengan 10% dari PDB Qatar yang kira-kira mencapai 180 miliar dolar AS di tahun 2022.

Ini menunjukkan betapa besarnya komitmen dari tuan rumah Qatar. Sebagian infrastruktur yang mereka bangun tidak hanya dipakai untuk menunjang Piala Dunia saja, tetapi juga untuk pembangunan jangka panjang Qatar.

Akan tetapi, tidak sedikit pula pembangunan sarana prasarana yang memiliki prioritas rendah alias hampir tidak memberikan kontribusi terhadap ekonomi Qatar di kemudian hari. Bahkan, mengutip dari Sportico, beberapa dari bagian stadion Piala Dunia 2022 dijadwalkan akan dibongkar dan dikirim ke tempat lain untuk mengurangi biaya operasional dan pemeliharaannya yang bakal mencapai jutaan dolar setiap tahunnya.

Rincian Hadiah Piala Dunia 2022

Bagi FIFA sendiri, selaku induk organisasi sepak bola dunia, Piala Dunia 2022 di Qatar juga jadi yang termahal. Biaya operasional yang FIFA keluarkan untuk edisi tahun ini adalah yang termahal sepanjang sejarah.

FIFA telah menganggarkan dana sebesar 1,7 miliar dolar AS untuk menanggung seluruh biaya operasional Piala Dunia Qatar. Biaya tersebut mencakup 326 juta dolar AS yang dipakai untuk membiayai kompetisi, 247 juta dolar AS untuk biaya operasional siaran TV, dan 207 juta dolar AS untuk biaya tenaga kerja.

Naiknya biaya operasional tersebut turut membuat prize money alias hadiah uang Piala Dunia 2022 ikut mengalami kenaikan. Di sektor ini, FIFA menganggarkan dana sebesar 440 juta dolar AS atau sekitar Rp6,4 triliun.

Sekali lagi, hadiah tersebut memecahkan rekor sebagai yang termahal sepanjang sejarah Piala Dunia. Dibanding edisi 2018, ada peningkatan uang hadiah sebesar 40 juta dolar AS. Sementara hadiah uang yang dibagikan pada edisi 2014 hanya sebesar 358 juta dolar AS.

Setiap tim yang lolos ke Piala Dunia 2022 akan mendapat bayaran partisipasi sebesar 1,5 juta dolar AS. Jika gagal lolos dari fase grup, tim berperingkat 17 hingga 32 akan mengantongi hadiah tambahan sebesar 9 juta dolar AS atau setara Rp139 miliar.

Negara yang lolos dan melaju ke babak 16 besar atau yang finsih di peringkat 9 hingga 16 akan mengantongi hadiah sebesar 13 juta dolar AS atau setara Rp201 miliar. Perempat finalis atau negara yang mengakhiri Piala Dunia di posisi 5 hingga 8 akan mendapat hadiah sebesar 17 juta dolar AS atau setara Rp262 miliar.

Sementara itu, tim peringkat 4 akan menerima hadiah sebesar 25 juta dolar AS atau setara Rp386 miliar. Tim peringkat 3 mendapat 27 juta dolar AS atau setara Rp417 miliar. Runner-up akan menerima 30 juta dolar AS atau setara Rp464 miliar. Lalu, pemenang Piala Dunia 2022 akan mendapat hadiah sebesar 42 juta dolar AS atau sekitar Rp649 miliar.

Keuntungan Piala Dunia 2022

Lalu, bagaimana dengan keuntungan yang diharapkan dari edisi Piala Dunia tahun ini? Tidak mungkin dong FIFA yang sudah menggelontorkan dana begitu besar tidak mengincar untung.

Dilansir dari Sportico, pendapatan dari Piala Dunia 2022 diproyeksikan mencapai 4,7 miliar dolar AS, dimana sektor hak siar TV diperkirakan akan menyumbang pendapatan sebesar 2,6 miliar dolar AS. Dengan biaya operasional 1,7 miliar dolar AS, FIFA mengharap keuntungan bersih sebesar 3 miliar dolar AS.

Dari angka tersebut, FIFA akan mengambil sekitar 10% dari pendapatan Piala Dunia 2022 untuk kepentingan opersional mereka. Sementara sisanya akan mereka distribusikan ke lebih dari 200 asosiasi sepak bola nasional di seluruh dunia untuk mempromosikan pengembangan olahraga. Andai tak dikorupsi oleh masing-masing federasi atau bahkan FIFA itu sendiri, tentu manfaat uang yang bakal didapat tiap asosiasi atau federasi sepak bola nasional akan sangat besar untuk kemajuan sepak bola di negara mereka.

Lalu, bagaimana dengan dampak ekonomi dari gelaran Piala Dunia 2022 bagi tuan rumah Qatar? Jika melihat data dan proyeksi finansialnya, kemungkinan besar Qatar akan mendapat hasil negatif.

Qatar berharap akan ada 1,3 juta pengunjung yang datang ke Piala Dunia 2022. Sportico memperkirakan Qatar akan meraup pendapatan 1,56 miliar dolar AS selaku tuan rumah. Ini hanyalah asumsi, sebab pada kenyataannya mungkin akan sulit tercapai.

Manfaat lain yang bisa diharapkan Qatar dengan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 adalah keuntungan secara geopolitik, seperti naiknya investasi, pariwisata, hingga perdagangan luar negeri. Namun, dengan berita negatif seperti dugaan suap, sistem kerja kafala yang menindas, hingga dugaan pelanggaran HAM, jauh lebih banyak berita negatif ketimbang positif.

Belum lagi mahalnya biaya akomodasi, pilihan hiburan yang terbatas saat tidak ada pertandingan, tinggi harga minuman dan sedikitnya hotel serta bar yang menayangkan pertandingan karena biaya lisensi yang mahal, serta panasnya suhu di Qatar dikabarkan telah membuat banyak fan dari negara peserta Piala Dunia 2022 mengurungkan niatnya untuk datang langsung ke Qatar.

Dengan kemeriahan dan antusiasme yang jauh menurun akibat pergeseran jadwal dan mahalnya biaya perjalanan bagi fans yang datang dari luar Qatar, apakah target ekonomi yang mereka harapkan itu bisa tercapai?


***
Referensi: RRI, Front Office Sports, CNBC, Statita, Sporting News, Inews, Sportico, Insider.

Mengapa Rio Ferdinand Pernah Sampai Ingin Habisi Balotelli?

Sejak namanya melambung di Manchester City, Mario Balotelli selalu menjadi pusat perhatian orang-orang saat itu. Balotelli memang sebenarnya punya skill yang mumpuni dan bisa dibilang seorang penyerang yang handal. Namun, aksinya di luar lapangan terkadang lebih mencengangkan. Karakteristiknya yang bengal, susah diatur, dan suka memberontak itu yang membuat dirinya sering terlibat konflik. Sampai-sampai Rio Ferdinand mengaku pernah ingin menghabisi Balotelli karena tingkah laku pemain asal Italia itu.

Saat itu adalah semifinal Piala FA tahun 2011, tersaji derby Manchester dimana Manchester United melawan tetangga berisiknya, Manchester City. Tahun 2011 memang masa awal-awal kebangkitan Manchester City. Sebelumnya, banyak yang tidak tahu apa itu derby Manchester karena memang kebanyakan orang hanya tau satu klub di kota Manchester, yaitu United.

Ferdinand vs Balotelli

Namun, setelah Man City dibeli oleh konglomerat asal Arab, City mulai bisa bangkit dan bersaing untuk gelar juara di Inggris. Dan tahun 2011 itu, Man City sedang berusaha mendapatkan gelar bergengsi pertama mereka sejak tahun 1976. Dan MU tentu tidak ingin tersingkir dari FA Cup hanya karena tim yang baru matang saat itu. Pertandingan semifinal FA Cup antara MU dan City pun berjalan sangat ketat.

Kedua tim saling jual beli serangan namun, pertandingan berakhir dengan Manchester City keluar sebagai juara. City mampu mengalahkan setan merah dengan skor tipis 1-0 lewat gol dari Yaya Toure. Tapi tidak cukup sampai disitu, Mario Balotelli mencari gara-gara setelah pertandingan selesai. Ulah Balotelli itu sempat mengakibatkan terjadinya kerusuhan kecil antara pemain MU dan City.

Dari kerusuhan tersebut, terlihat Rio Ferdinand yang memasang ekspresi wajah marah berjalan ke arah Balotelli. Untungnya Ferdinand mampu ditahan beberapa rekan setimnya, termasuk Edwin van Der Sar untuk tidak memperburuk keadaan. Bertahun-tahun setelahnya, ketika Ferdinand sudah pensiun, ia menjelaskan detail dari insiden itu.

Hal ini ia jelaskan di channel Youtubenya, bersama dengan mantan kapten Manchester City, Vincent Kompany. Ferdinand mengaku dirinya saat itu merasa sangat marah ke Balotelli. Alasanya adalah karena ia merasa Balotelli berusaha memprovokasi pendukung MU di stadion setelah pertandingan. Dan Ferdinand tidak tahan dengan kelakuan Balotelli itu.

“Pada semifinal FA, pada momen itu lah, saya sangat ingin menghabisinya pada hari itu. Karena dia merayakan kemenangan dengan memprovokasi menggunakan isyarat-isyarat ke para penggemar kami. Itu sangat kurang ajar dan membuat saya jadi gila”

Mendengar hal itu, Kompany menanggapi dengan nada bercanda “Yah, bayangkan saya yang harus latihan dengannya setiap hari”

Bakat yang sia-sia

Setelah itu, Kompany kemudian menjelaskan bahwa Balotelli punya bakat yang sangat besar. Namun, pada akhirnya Balotelli tidak bisa bertahan lebih lama di Manchester City.

“Balotelli adalah Balotelli. Dia punya bakat dan talenta yang sangat besar. Tapi, banyak pemain yang punya bakat besar dan keinginan yang besar namun pada akhirnya waktu akan habis juga”

Kompany lalu menjelaskan mengapa Balotelli akhirnya pindah dari Manchester City, meskipun Balotelli punya potensi untuk menjadi legenda City. Menurut Kompany alasan utamanya adalah persaingan yang ketat di klub. Dimana pemain yang tidak konsisten akan langsung ditinggal.

“Dia punya segalanya, tapi pada akhirnya persaingan sangatlah kejam. Saat itu kami punya penyerang berkelas seperti Carlos Tevez, Aguero, dan Edin Dzeko jadi ya..”

Balotelli hengkang dari Manchester City di tahun 2013, hanya tiga tahun dirinya bertahan di Etihad Stadium. Setelah itu ia pindah ke Italia untuk memperkuat AC Milan hanya selama satu tahun. Lalu kembali lagi ke Inggris bersama Liverpool sebelum akhirnya berkelana ke klub-klub medioker di Eropa.

 

Sumber referensi: Menchester, BBC, Guardian

Preman Berhati Baik! Kenapa Rudiger Sumbangkan Gajinya Untuk Anak-anak Afrika?

Antonio Rudiger jadi salah satu karakter yang menarik di sepak bola saat ini. Memiliki banyak energi, mau bertarung, dan punya personaliti yang bagus. Tidak butuh waktu lama bagi bek tengah itu untuk menjadi pemain yang dicintai publik Santiago Bernabeu. Rudiger juga sedang berada di masa puncak karirnya. Bermain untuk Real Madrid dan tergabung dalam skuad Jerman di Piala Dunia 2022.

Meskipun dikenal sebagai preman di lapangan, Rudiger ternyata tetap berhati baik. Dirinya dikabarkan akan menyumbangkan sebagian penghasilannya di Piala Dunia untuk anak-anak di Sierra Leone, sebuah negara di Afrika Barat. Uang itu akan digunakan untuk mendanai operasi anak-anak yang tidak terlahir normal di negara itu. Rudiger mengungkapkan bahwa sulit untuk membayangkan tumbuh dengan kondisi seperti anak-anak itu.

“Sangat menyakitkan untuk melihat keadaan di mana anak-anak Sierra Leone harus tumbuh. Di Jerman, saya telah diberikan banyak kemudahan dan kesempatan yang tidak bisa didapatkan di Sierra Leone. Dan saya sangat mensyukuri keistimewaan yang telah saya dapatkan selama ini” ungkapnya dikutip dari Daily Mail.

Mendirikan Yayasan

Ini bukan kali pertama bagi Rudiger melakukan aksi sosial di Sierra Leone. Dirinya sudah mendirikan yayasan di negara tersebut pada bulan Januari lalu. Dengan yayasan tersebut, Rudiger telah membantu banyak anak-anak kurang beruntung di Sierra Leone untuk menjalani prosedur operasi yang memadai.

Rudiger mengatakan justru suatu kehormatan baginya untuk bisa membantu anak-anak kurang beruntung di Afrika. Ia juga mengaku sangat ingin lebih banyak mendirikan yayasan – yayasan dan proyek-proyek lain yang bisa lebih banyak membantu.

“Membantu disini adalah suatu kehormatan bagi saya. Dan saya ingin menerapkan lebih banyak proyek lagi di Sierra Leone bersama dengan keluarga saya”

Sebelumnya, Rudiger juga sudah pernah membantu anak-anak Sierra Leone dengan proyek lainnya. Di tahun 2020, Rudiger sudah menyumbangkan uang sebanyak 101.000 dollar. Uang tersebut digunakan untuk membantu fasilitas pendidikan gratis bagi anak-anak Sierra Leone.

Masa Kecil Rudiger

Tidak mengherankan bila Rudiger memilih untuk membantu negara Sierra Leone. Perlu diketahui, orang tua Rudiger adalah imigran dari negara tersebut sebelum pindah ke Jerman. Jadi, Sierra Leone sudah seperti rumah kedua bagi Rudiger.

Pindah ke Jerman bukan berarti kehidupan masa kecil Rudiger jadi langsung berubah. Dirinya masih hidup susah dan jauh dari kenyamanan. Tumbuh sebagai anak seorang imigran membuat Rudiger harus bisa belajar bertahan diri di jalanan. Itu juga yang mempengaruhi gaya bermain Rudiger di lapangan yang bak seorang preman.

“Bagi saya ketika masih anak-anak, bertarung atau berkelahi di jalan itu sudah jadi hal normal. Pada akhirnya, di daerah dimana saya tumbuh, siapa yang kuat dialah yang bisa bertahan. Dan itulah diri saya yang sekarang. Menyerah tidak ada di dalam DNA saya, dan saya tidak suka kalah”

Mengetahui masa kecil Rudiger yang berat itu, jadi tidak heran dengan dirinya yang sekarang. Tangguh dan keras kepala. Seringkali Rudiger terlihat jadi pemain yang paling agresif di lapangan. Ceritanya tidak diragukan sangatlah inspiratif. Bisa sukses dari situasi sulitnya di masa lalu sampai bisa bermain untuk klub sebesar Real Madrid.

 

Sumber referensi: Espana, Daily, Republika

Berjudi Dengan Jubah Baru! Peluang Spanyol di Piala Dunia 2022

Luis Enrique adalah nama yang akhir-akhir ini banyak disorot di publik Spanyol, setelah ia mengumumkan 26 skuad La Furia Roja yang diboyong ke Qatar. Pasalnya banyak nama-nama senior yang ditinggalkan begitu saja.

Dengan jubah barunya, kini Enrique menatap Qatar dengan penuh perjudian. Lantas seberapa kuat skuad Negeri Matador kali ini? Seberapa jauh pula mereka melangkah?

Era Kejayaan Spanyol Yang Sudah Usai

Tak dipungkiri sepakbola Spanyol sejak 14 tahun mengalami era kejayaan. Sejak era keemasan Barcelona dengan Total Football dan Tiki-Taka nya, La Furia Roja sukses mendominasi Eropa bahkan Dunia pada periode tahun 2008 hingga 2012.

Pola permainan indah dan tak terkalahkan ketika itu, bagaikan nostalgia yang tak pernah terlupakan. Dari semua kenangan indah itu, titik baliknya muncul pada kegagalan di Piala Dunia 2014. Ketidaklolosan Spanyol dari fase grup adalah tanda-tanda mulai runtuhnya era kejayaan itu.

Kemudian kegagalan di Piala Eropa 2016, dan Piala Dunia 2018, juga tak dapat ditolerir terlalu lama. Hal itu semakin mempertegas bahwa sisa-sisa gerbong era kejayaan Spanyol sudah habis.

Nah, pasca kegagalan di 2018, Spanyol langsung bergerak cepat menunjuk Luis Enrique sebagai juru taktik berikutnya. Mantan pelatih yang sukses bersama Barcelona itu dituntut membawa perubahan signifikan. Pemugaran pada skuad sekaligus sistem permainan pun dilakukan. Mereka kini tidak lagi bergantung pada kenangan indah masa lalunya, Tiki-Taka.

Direct Football Enrique

Perlahan perubahan di bawah Enrique mulai terlihat. Termasuk di Piala Eropa 2020 yang lalu. Terbukti regenerasi mulai diunduh La Furia Roja. Para pemain bekas era kejayaan sudah mulai ditinggalkan. Enrique berani melakukan perubahan yang revolusioner demi sebuah regenerasi.

Pola permainan yang disuguhkan Enrique pun terlihat sangat berbeda dari Tiki-Taka. Sistem permainan Enrique lebih mengedepankan Direct Footbal dengan kecepatan aliran bola. Spanyol kini tidak hanya banyak menguasai bola di area sendiri.

Mereka lebih cepat mengalirkan bola ke depan, baik itu dengan Long Ball maupun Crossing. Enrique tahu sepakbola modern telah banyak berubah. Sehingga mereka dituntut untuk banyak beradaptasi.

Nampaknya dengan pola permainan yang diyakini Enrique, Spanyol perlahan mulai merangkak naik secara prestasi. Semifinalis Piala Eropa 2020 yang lalu menjadi bukti langkah awal racikan jubah baru Spanyol di era Enrique.

Regenerasi Yang Mulai Tumbuh dan Diunduh

Tentu saat regenerasi dilakukan, banyak juga pemain baru yang muncul di timnas Spanyol era Enrique. Sebut saja Ferran Torres, Dani Olmo, Pablo Sarabia, Pau Torres, Aymeric Laporte, Unai Simon, maupun Pedri.

Beberapa nama-nama baru tersebut, awalnya tak meyakinkan publik Spanyol karena dianggap tak bernama besar serta minim pengalaman dan prestasi. Namun perlahan amunisi jubah baru Spanyol itu menuai progress yang signifikan.

Selain mencapai semifinal Piala Eropa 2020, Spanyol juga menjadi finalis di Nations League 2020/21. Mereka hingga kini juga masih melaju di babak Final Four Nations League.

Kekuatan Tim Yang Dibawa Ke Qatar

Piala Dunia Qatar 2022 ini adalah kesempatan selanjutnya bagi jubah baru Spanyol membuktikan pada dunia. Spanyol menuju Qatar dengan mulus di babak kualifikasi. Mereka lolos sebagai pemuncak Grup B Zona Eropa dengan hanya sekali kalah.

Sebagian besar kekuatan Spanyol pun berasal dari kerangka skuad mereka di Piala Eropa 2020 yang lalu. Perubahan yang terjadi hanyalah beberapa pemain senior yang kembali berani disisihkan Enrique. Pemain macam Ramos, Thiago, maupun De Gea tak dipanggil oleh Enrique.

Enrique nampaknya sudah berani menanggung segala resiko apa pun di Qatar nanti. Bahkan cibiran sekalipun. Kini ia mulai banyak menuai cibiran ketika mencoret beberapa nama senior tersebut.

Dengan mengandalkan formasi 4-3-3, Enrique mantap membawa 26 pemain yang diyakininya ke Qatar. Dimulai dari posisi kiper. Ada Unai Simon, Robert Sanchez dan David Raya. Unai Simon sepertinya akan tetap dipercaya sebagai nomor satu di bawah mistar.

Kemudian di sektor empat bek. Di Full Back kanan ada Dani Carvajal yang akan dilapisi oleh Azpilicueta. Di Center Back, ada Pau Torres dan Aymeric Laporte. Mereka akan dilapisi oleh pemain debutan dari Valencia, Hugo Guillamon dan Eric Garcia. Di Full Back kiri masih ada Jordi Alba yang akan dilapisi oleh Jose Gaya.

Kemudian di sektor lini tengah. Sebagai gelandang bertahan akan tetap dikomandoi oleh Busquets. Namun kalau lebih berani, seharusnya Enrique mulai memakai jasa Rodri sebagai pengganti Busquets yang mulai melambat. Kemudian dua gelandang lainnya diisi oleh Pedri dan Gavi. Khusus untuk Gavi, mungkin posisinya akan selalu dirotasi dengan Carlos Soler, Koke, maupun Marcos Llorente.

Lalu trio tiga di depan akan diisi Ferran Torres di sisi kanan, yang akan dilapisi dengan Dani Olmo. Sedangkan di sisi kiri, akan ada Pablo Sarabia yang akan dilapisi oleh Marco Asensio dan Ansu Fati. Sebagai striker ujung tombak, tetap akan dipercayakan kepada Alvaro Morata. Ia akan di backup oleh dua nama baru yakni Inaki Williams dan Yeremia Pino jika mengalami deadlock.

Masalah Finishing yang Harus Dicarikan Solusinya

Nah, deadlock lini depan Spanyol inilah yang sebenarnya kerap menjadi masalah. Seperti apa yang mereka tunjukan di babak knockout Piala Eropa 2020 yang lalu. Mereka banyak sekali menciptakan peluang, namun selalu harus berakhir sampai babak adu penalti.

Di posisi striker kini tak lagi ada nama-nama besar. Praktis hanya ada Morata, pemain yang di klubnya saja tak banyak menciptakan gol. Maka dari itu, permasalahan klasik ini harus segera diantisipasi oleh Enrique.

Pemain dari lini kedua macam Pedri, Ferran Torres, Olmo, Asensio maupun Sarabria harus pandai juga melakukan finishing. Pemain baru macam Ansu Fati, Inaki Williams dan Pino juga dapat dijadikan senjata alternatif bagi Enrique mengatasi permasalahan finishing.

Sejauh Mana Langkah Mereka

Di Qatar nanti, La Furia Roja akan bergabung dengan Jerman, Jepang dan Kosta Rika di Grup E. Tak dipungkiri, Spanyol dan Jerman menjadi unggulan untuk lolos dari grup ini. Tinggal siapa yang akan menjadi juara grup.

Lawan terberat mereka Jerman, kini sudah sangat tidak sabar membalaskan dendam kekalahan menyakitkan mereka 6-0 di Nations League 2020/21, dan juga kekalahan di Semifinal Piala Dunia 2010. Namun jangan disepelekan juga Jepang yang makin matang tahun ini. Kosta Rika yang pernah mengejutkan di Piala Dunia 2014 juga tetap harus diwaspadai.

Siapapun yang menjadi juara dan runner up Grup E, nantinya akan ditunggu lawan dari Grup F. Yang secara di atas kertas banyak diprediksi antara Belgia atau Kroasia. Layak untuk ditunggu kiprah La Furia Roja dengan perjudian jubah barunya ini. Namun, kalau menurut Football Lovers, bakal sampai mana nih langkah Spanyol di Qatar nanti?

https://youtu.be/JWtRB__SPf8

Sumber Referensi : goal.com, theguardian, sportingnews

Masuk Grup Neraka! Bisakah Jepang Lolos 16 Besar Piala Dunia 2022?

0

Timnas Jepang kembali ambil bagian di Piala Dunia 2022. The Blue Samurai jadi salah satu dari enam wakil Asia di kompetisi empat tahunan ini. Tanpa merendahkan Korea Selatan dan tim asal Asia lainnya, Jepang masih dianggap jadi wakil Asia paling kuat di turnamen antarnegara terakbar ini.

Jadi yang terkuat membuat Jepang mendapat lawan yang kuat pula. Tim asuhan Hajime Moriyasu langsung masuk Grup E yang mana dicap sebagai grup neraka di Piala Dunia edisi kali ini. Bagaimana tidak? Jepang akan langsung berhadapan dengan dua mantan juara dunia yakni Jerman dan Spanyol. Belum lagi, satu tim lain yang akan mereka hadapi adalah tim kejutan di Piala Dunia 2014, Kosta Rika.

Meski demikian, skuad Timnas Jepang tetap tak bisa dianggap remeh. Mereka terbang ke Qatar bukan tanpa persiapan. Lantas mampukah Negeri Matahari Terbit itu jadi tim kuda hitam yang merepotkan Jerman dan Spanyol di Piala Dunia 2022 Qatar?

Jalan Menuju Qatar

Timnas Jepang berhasil menjaga marwah Asia Timur di Piala Dunia 2022 setelah memastikan diri lolos ke putaran final turnamen empat tahunan tersebut. Meski hanya mewakili Benua Asia, kekuatan negeri matahari terbit tak boleh dianggap remeh. Timnas Jepang diperkirakan mampu jadi tim kuda hitam di Qatar nanti.

Jepang mewakili Asia di Piala Dunia 2022 sebagai salah satu pemegang runner-up di babak kualifikasi Zona Asia. Finish di posisi kedua klasemen dengan mengoleksi 22 poin, Takumi Minamino dkk hanya berselisih satu poin dari Arab Saudi yang menjadi juara grup.

Selama kualifikasi, Jepang mengoleksi tujuh kali kemenangan dengan sekali imbang dan dua kali kekalahan dalam 10 pertandingan babak kualifikasi Piala Dunia 2022. Perjalanan Jepang ke Piala Dunia 2022 bukan hal yang mudah untuk dijalani. 

Jepang baru bisa memastikan lolos setelah mengalahkan Australia di kualifikasi Grup B zona Asia. Yang mana itu termasuk dua pertandingan terakhir sebelum menelan hasil imbang kala melawan wakil Asia Tenggara, Vietnam.

Bermain di kandang Australia, Anak asuh Hajime Moriyasu tampil memukau. Meski berhadapan dengan pemain Australia yang notabene memiliki postur tubuh layaknya para pemain Eropa, Jepang justru mampu mengatasi perlawanan sengit dari The Socceroos

Samurai Biru tetap berhasil menaklukan Australia dengan skor 2-0. Meski membutuhkan 89 menit lamanya untuk mencetak gol pertama. Kaoru Mitoma jadi bintang lapangan di laga tersebut. Dua gol sayap lincah milik Brighton itu membantu Timnas Jepang mengamankan satu tiket penerbangan ke Qatar.

Peran Vital Hajime Moriyasu 

Tampil mengesankan di babak kualifikasi membuat Jepang jadi wakil Asia yang cukup diunggulkan. Selain diperkuat sejumlah pemain yang berlaga di kompetisi top Eropa, Jepang juga mengusung permainan yang atraktif di bawah tangan dingin Hajime Moriyasu.

Hajime Moriyasu tentu bakal jadi sosok vital bagi Timnas Jepang di putaran final Piala Dunia 2022 kali ini. Meski baru ditunjuk sebagai pelatih kepala timnas Jepang pada tahun 2018 lalu, sebetulnya Moriyasu sudah termasuk dalam staf pelatih untuk timnas Jepang di ajang Piala Dunia 2018.

Kiprah Hajime Moriyasu di timnas senior sudah terlihat sejak Piala Dunia 2018. Saat itu ia menjadi asisten pelatih Akira Nishino dan sukses membawa Jepang sampai ke babak 16 besar turnamen.

Sebelum memimpin Timnas Jepang di Kualifikasi Piala Dunia Zona Asia, Moriyasu sempat memimpin Timnas Jepang muda di ajang Olimpiade Tokyo 2020. Namun, ia dikritik keras setelah timnya kalah dari Spanyol di babak semifinal dan hanya mampu finis di urutan keempat. Ia dikritik karena Jepang seharusnya mampu menyabet medali emas di depan publik sendiri. 

Namun ketua Asosiasi Sepak Bola Jepang, Kozo Tashima, telah berulang kali menggarisbawahi keyakinannya pada sang manajer. Karena Tashima yakin betul bahwa Moriyasu sudah paham luar dalam timnas Jepang. Hasilnya, Moriyasu tetap memimpin Jepang di Piala Dunia 2022.

Permainan Jepang

Selama menukangi Timnas Jepang, Moriyasu memainkan skema 4-3-3. Namun Moriyasu sempat kembali ke pakem Samurai Biru di Piala Dunia 2018, yakni 4-2-3-1 di jeda internasional akhir September lalu. Dengan transformasi dari 4-3-3 ke 4-2-3-1, Moriyasu menyediakan ruang lebih untuk pemain bertipikal nomor “10”.

Dalam skema tiga striker, Moriyasu biasanya akan menurunkan Ayase Ueda atau Daizen Maeda di pos penyerang tengah dan ditemani Kaoru Mitoma di sisi kiri, serta Takefusa Kubo di sisi kanan. Pemain Real Sociedad itu diperkirakan memiliki skill olah bola yang mumpuni untuk membongkar pertahanan lawan dari sisi kanan.

Sedangkan apabila menggunakan satu striker, Moriyasu akan mengandalkan gelandang serang bertipikal nomor “10” macam Takumi Minamino atau rising star Bundesliga, Daichi Kamada. Mereka bakal silih berganti mengisi pos tersebut dan memainkan peran sebagai motor serangan Samurai Biru di Piala Dunia nanti.

Dalam membangun serangan, Timnas Jepang mengandalkan penguasaan bola. Maka wajar kalau rata-rata penguasaan bola Jepang jadi peringkat ketiga terbanyak dari lima negara Asia yang lolos, yaitu di angka 60%. Dalam penguasaan bola, Jepang memfokuskan serangan melalui sayap yang menerima aliran bola dari Takumi Minamino. 

Sedangkan dalam bertahan, skuad Samurai Biru mengandalkan kecepatan dan etos kerja para pemain untuk melancarkan high press. Moriyasu akan menginstruksikan striker sebagai mesin pengejar bola di lini depan. Dan di waktu yang bersamaan, pemain sayap serta gelandang akan menutup opsi umpan dari pemain bertahan lawan. 

Jadi mau tak mau lawan akan membuang bola jauh dari area permainannya sendiri. Ketika bola dibuang jauh, di situlah peran Takehiro Tomiyasu untuk melakukan duel udara guna memenangkan bola. Skema ini berjalan sukses kala menumbangkan generasi emas Amerika Serikat dengan skor 2-0 pada akhir September lalu.

Tergabung di Grup Neraka

Rekam jejak Samurai Biru di Piala Dunia juga tak begitu buruk. Setidaknya mereka pernah tiga kali lolos fase grup yakni pada tahun 2002, 2010, 2018. Jepang kembali punya peluang untuk mengulangi kesuksesan pada edisi sebelumnya, Meski harus menghadapi Jerman dan Spanyol. Dua tim Eropa mantan juara dunia.

Jalan Timnas Jepang ke 16 besar memang terjal. Namun jalan terjal itu apabila bisa dilalui akan sangat indah. Ini akan menjadi cerita luar biasa apabila Jepang mampu memulangkan salah satu dari Jerman maupun Spanyol. Meski tak diperkuat oleh Tsubasa Ozora, kans Jepang untuk mendobrak kekuatan para juara bertahan masih terbuka lebar. 

Selain itu, di satu sisi baik Jerman maupun Spanyol masih mencari bentuk permainan terbaiknya. Spanyol memang tampil bagus, tapi mereka beserta Luis Enrique masih belum terbukti kualitasnya. Sementara Jerman asuhan Hansi Flick masih sering inkonsisten. Kalaupun sulit untuk menggusur Spanyol, Jepang bisa menjungkalkan Jerman. Toh pada edisi sebelumnya, Der Panzer bisa takluk atas tim Asia.

https://youtu.be/Dq7ZNIwPsRM

Sumber: The Athletic, SI, The Guardian, FFT, 90min

Belanda Memang Kuat, Tapi Apa Sanggup Ngalahin Senegal?

0

Jalan terjal harus dihadapi Timnas Senegal di Piala Dunia 2022. Tim berjuluk Lions of Teranga itu harus lebih dulu menghadapi tim sulit, Belanda di babak penyisihan grup. Pertandingan kedua tim dijadwalkan berlangsung pada 21 November 2022 di Stadion Al Thumama, Qatar.

Rumitnya, Senegal tengah harap-harap cemas. Bomber andalan mereka, Sadio Mane belum jelas apakah bisa turun atau tidak. Meski Timnas Senegal sudah mengumumkan para pemain yang akan dibawa ke Qatar, dan Mane termasuk di dalamnya.

Belum lagi Timnas Belanda sedang dalam performa terbaik sejak kembali dilatih Louis Van Gaal. Kendati begitu, Senegal sebagai juara AFCON jelas tidak akan melepaskan poin begitu saja.

Head to Head

Pertandingan Belanda kontra Senegal ini diprediksi akan sangat menarik. Apalagi pertemuan di Piala Dunia Qatar nanti adalah pertemuan perdana bagi kedua tim. Bahkan bagi kedua pelatih: Aliou Cisse dan Louis Van Gaal.

Belanda harus mewaspadai kekuatan Senegal. Singa dari Teranga pernah mengalahkan Prancis di pertandingan pertama Piala Dunia 2002. Ketika itu status Prancis sebagai juara bertahan. Senegal akhirnya lolos ke fase gugur bersama Denmark. Sedangkan Les Bleus terdepak.

For your information aja nih, Aliou Cisse adalah kapten generasi emas Senegal ketika mengirim Prancis pulang di Piala Dunia 2002. Jadi Louis Van Gaal tetap harus mewaspadai kekuatan Senegal.

Komposisi Skuad

Namun, Van Gaal layak untuk percaya diri. Timnya boleh dikatakan tim terkuat di Grup A. Ditambah punya kedalaman skuad yang mumpuni. Untuk Piala Dunia 2022, Van Gaal mencoba mengelaborasi pemain muda dan pemain yang sudah berpengalaman.

Di lini depan misalnya. Selain memakai pemain senior seperti Memphis Depay, yang tentu saja akan menjadi pemain kunci, Van Gaal juga memanggil pemain muda Noa Lang. Di sektor tengah, Van Gaal pasti akan mengandalkan Frankie de Jong.

Tapi ia juga memanggil Teun Koopmeiners. Pemain yang naik daun berkat Gasperini di Atalanta. Tidak hanya itu, masih ada Cody Gakpo yang pernah meramaikan lantai dansa bursa transfer kemarin. Di lini belakang, Van Dijk sebagai kapten akan memimpin dengan pengalamannya.

Jurrien Timber, Tyrell Malacia, Jeremie Frimpong, sampai Denzel Dumfries akan jadi alternatif di lini belakang. Di posisi penjaga gawang, Van Gaal memang tidak membawa kiper-kiper yang punya nama. Namun Remko Pasveer yang senior bisa menjadi pilihan terbaik.

Sementara itu, di skuad Senegal sosok Sadio Mane adalah pemain penting. Saking pentingnya, Senegal sampai memakai jasa dukun agar Mane segera sembuh dari cederanya. Namun pemain yang jadi andalan Senegal tidak hanya Mane.

Di lini depan masih ada sosok Ismaila Sarr, pemain muda Watford yang musim ini sudah mencetak 6 gol dan 3 asis dari 17 laga di Championship. Di posisi gelandang, Senegal juga mempunyai Idrissa Gueye, Nampalys Mendy, sampai Nicolas Jacksen. Sementara itu di lini belakang, Senegal tampaknya tak perlu khawatir.

Pasukan Aliou Cisse masih punya Kalidou Koulibaly yang kemungkinan bakal jadi kapten. Selain itu, Senegal juga punya Abdou Diallo dan Ballo-Toure. Jangan lupakan juga kiper Edouard Mendy. Dengan kata lain, kedalaman skuad Senegal juga lumayan.

Taktik Louis Van Gaal

De Oranje akan dipimpin oleh pelatih yang menderita kanker prostat. Kendati Louis Van Gaal memang sosok pelatih yang sarat pengalaman. Van Gaal juga sosok pelatih yang suka berinovasi. Ia tidak patuh dengan filosofi sepakbola Belanda.

Bahkan baru-baru ini, ia mulai meninggalkan filosofi permainan Belanda. Betul Van Gaal beberapa kali memakai skema 4-3-3 di babak kualifikasi Piala Dunia. Namun ia merombaknya secara signifikan. Di ajang UEFA Nations League, Van Gaal memakai format 3-4-3 dan 3-4-1-2.

Meskipun secara prinsip sebagaimana Belanda pada umumnya. Van Gaal mengandalkan gaya ekspansif, tekanan tinggi, sepakbola lancar dengan rotasi posisi. Namun secara bentuk formasi berbeda. Ini karena Belanda memiliki pemain yang cocok dengan skema anyar Van Gaal.

Skema 3-4-3 atau 3-4-1-2 membutuhkan dua bek sayap yang baik. Nah, di dua sisi bek sayap, De Oranje memiliki Tyrell Malacia dan Denzel Dumfries. Keduanya memiliki kekuatan sama dalam menyerang maupun bertahan. Formasi tiga bek tersebut juga membutuhkan bek-bek tengah yang tangguh.

Belanda dibanjiri talenta hebat di posisi itu. Selain Van Dijk, masih ada De Ligt, Stefan de Vrij, dan Nathan Ake. Skema tersebut juga memungkinan Belanda membanjiri lapangan dengan daya tembak yang lebih banyak. Dengan Depay dan Bergwijn yang bermain di depan Cody Gakpo.

Lini tengah De Oranje juga tidak hanya berperan sebagai penyuplai bola. Tapi pemain seperti De Jong dan Koopmeiners bisa sesekali turun ke belakang. Keduanya bisa bermitra sebagai penghubung antarlini, terutama lini belakang dan depan, begitu pula sebaliknya.

Van Gaal membuktikan taktik ini sukses di Nations League. Berkat taktiknya, Belanda bisa lolos ke final four. Dan mereka juga belum terkalahkan di enam pertandingan terakhir.

Kelemahan

Belanda nyaris tanpa kelemahan. Kalaupun ada, kelemahan itu sangat-sangat minim. Menembus gawang Belanda bukan perkara mudah. Di babak kualifikasi Piala Dunia, Belanda baru kebobolan 8 gol.

Lalu di UEFA Nations League, Belanda juga hanya kebobolan 6 gol. Artinya Belanda memang sulit dibobol. Tapi bukan berarti tidak bisa. Sebab setidaknya Belanda kebobolan sekali dalam sembilan dari 15 pertandingan di bawah Van Gaal.

Penguasaan bola yang ekspansif dan rotasi posisi jadi senjata sekaligus bumerang bagi Belanda. Sebab ketika melakukan rotasi dan penguasaan bola yang ekspansif, tepat di titik itulah pasukan Van Gaal keropos. Celah ini pernah dimanfaatkan pemain Wales, Brennan Johnson untuk menjebol gawang Belanda.

Taktik Aliou Cisse

Sementara itu, Aliou Cisse adalah pelatih terlama dan tersukses Senegal. Sejak menukangi Singa dari Teranga tahun 2015, Cisse mengantarkan Senegal lolos dua kali Piala Dunia berturut-turut. Selain itu, ia juga membawa Senegal runner up dan juara AFCON.

Soal taktik, Aliou Cisse konsisten memakai skema 4-3-3. Formasi ini cukup untuk mengakomodir para pemain sayap berbakat, seperti Sadio Mane dan Ismaila Sarr. Sementara itu, tiga di lini tengah dibiarkan menyempit untuk membuka ruang bagi dua fullback seperti Bouna Sarr, Saliou Ciss, maupun Ballo-Toure maju.

Dua fullback yang maju akan menciptakan lima pemain di depan. Sedangkan baik Mane maupun Ismaila Sarr bisa sedikit bergerak ke dalam. Keduanya bisa menjemput bola, memastikan diri mereka juga bermitra dengan pemain yang berposisi sebagai fullback.

Gelandang Senegal seperti Idrissa Gueye akan masuk di antara salah satu bek tengah. Namun ia berperan sebagai gelandang, bertugas mencari peluang dan menciptakan umpan progresif, sekaligus menutup ruang di lini pertahanan. Taktik semacam ini pernah dicoba di final AFCON ketika Senegal menang atas Mesir.

Kalidou Koulibaly yang berposisi bek tengah juga patut diwaspadai. Pemain Chelsea itu punya kualitas operan yang luar biasa. Koulibaly di tangan Aliou Cisse disulap menjadi bek tengah dengan jangkauan umpan jauh yang oke.

Selama AFCON 2021 kemarin, misalnya. Koulibaly sudah menyelesaikan 46 operan jarak jauh. Umpan Koulibaly ini bisa jadi opsi permainan Senegal. Apalagi jika mereka bisa bertahan dengan blok di lini tengah. Situasi overload di lini tengah bisa membuka kesempatan Koulibaly mengirim umpan ke Sadio Mane maupun Ismaila Sarr.

Kelemahan Senegal

Berbeda dengan Belanda yang nyaris tanpa celah, Senegal justru tersenggal-senggal sebelum Piala Dunia 2022. Dari 6 laga terakhir yang dilakoni Senegal, mereka hanya mengambil 3 kali kemenangan. Sisanya 2 kali kalah dan sekali berakhir imbang.

Problem lainnya adalah Senegal kerap lambat panas. Pasukan Aliou Cisse acap kali pelan dalam memulai permainan. Gampangnya, Senegal tidak langsung menggebrak lawan dengan serangan-serangannya. Misal di ajang AFCON 2021 kemarin.

Rata-rata tembakan Senegal di babak pertama hanya 33 tembakan. Dan baru meningkat di babak kedua dengan rata-rata 57 tembakan. Pun soal tingkat konversi umpan menjadi tembakan. Babak pertama, rata-rata tingkat konversinya cuma 3%, sedangkan di babak kedua mencapai 14%.

Kelemahan ini harus segera ditutup Aliou Cisse. Jika Lions of Teranga tidak punya cara untuk menambal kelemahan itu, mereka akan mudah dieksploitasi Belanda dengan kekuatan lini tengah dan bek sayapnya yang mumpuni.

Sumber: TheAnalyst, TalkSPORT, TheHardTackle, The42, TVPWorld, TheAllStar, SportStar, FCTables