Beranda blog Halaman 438

Kegagalan Menyakitkan Brazil di Lima Piala Dunia Beruntun

0

Timnas Brazil kembali gagal mencapai babak semifinal di Piala Dunia 2022 usai takluk dari Kroasia melalui skema adu penalti. Setelah bola yang ditendang Marquinhos mengenai tiang dan justru menjauhi gawang, seketika itu pula teriakan kemenangan pemain Kroasia pun pecah.

Di sisi lain pemain-pemain Brazil tertunduk lesu. Raut wajah yang kurang mengenakan pun terlihat jelas. Bahkan sederet pemain tak kuasa menahan air mata dan mungkin yang paling disorot adalah Neymar, karena sang pemain sempat menyatakan kalau Piala Dunia 2022 bisa jadi yang terakhir baginya.

Kekalahan atas Kroasia kemarin telah memperpanjang daftar kegagalan menyakitkan Brazil di fase gugur Piala Dunia. Bukan sekali dua kali Brazil menelan pil pahit di lima fase gugur Piala Dunia secara beruntun. Lantas bagaimana kisahnya?

Takluk dari Prancis di 2006

Rangkaian kegagalan ini berawal di Piala Dunia 2006. Selecao yang datang ke Jerman dengan status juara bertahan pun mengemban misi untuk mempertahankan gelar juara dunianya. Namun nahas, di babak perempat final mereka justru kandas di tangan Prancis dengan skor tipis 1-0.

Brazil menuju Piala Dunia 2006 masih dengan sebagian besar skuad juara dunia 2002. Hanya saja ada beberapa penambahan pemain dan pergantian kursi kepelatihan. Meski bertabur bintang, Brazil tak bisa lepas dari kutukan juara bertahan yang terus menghantui.

Namun, Ronaldinho dkk mampu mematahkan kutukan tersebut, mereka berhasil lolos ke babak 16 besar dengan hasil meyakinkan. Bergabung dengan Australia, Jepang, dan Kroasia di Grup F, skuad asuhan Carlos Alberto Parreira menyapu bersih tiga pertandingan babak penyisihan Grup dan lolos sebagai pemuncak klasemen.

Di babak 16 besar, Brazil harus menghadapi Ghana. Skuad The Black Stars ternyata bukan halangan berarti bagi Selecao. Namun, setelah mengalahkan Ghana, Tim Samba kandas di babak perempatfinal oleh salah satu tim kuat lainnya, yakni Prancis. 

Tanpa menyampingkan performa ciamik Zinedine Zidane yang menari indah di lini tengah, Thierry Henry-lah yang menjadi mimpi buruk Timnas Brazil kala itu. Gol semata wayangnya di menit 57 berhasil memulangkan sang juara bertahan sekaligus memupuskan asa Selecao untuk mempertahankan gelarnya.

Kalah dari Belanda di Piala Dunia 2010

Empat tahun berselang, hal serupa tapi tak sama kembali dialami oleh Timnas Brazil. Berangkat ke Afrika Selatan dengan kekuatan terbaik, Selecao lolos ke babak 16 besar dengan meyakinkan. Dari tiga pertandingan yang mereka mainkan, skuad asuhan Coach Dunga berhasil mengantongi dua kemenangan atas Korea Utara dan Pantai Gading, serta satu hasil imbang kala menghadapi Portugal.

Tujuh poin sudah cukup bagi Brazil untuk memimpin klasemen Grup G guna melangkahkan kaki ke fase gugur. Bertemu Chile di babak 16 besar, tak membuat Dani Alves cs gentar. Mereka berhasil mengatasi perlawanan tim yang diperkuat Alexis Sanchez dengan mudah. Melalui tiga gol yang dicetak Juan, Luis Fabiano, dan Robinho, Brazil melangkah ke babak perempat final.

Petaka kembali menghampiri Brazil di babak perempat final. Menghadapi Timnas Belanda, skuad asuhan Dunga harus menelan pil pahit karena di-comeback oleh tim asuhan Bert van Marwijk. Meski sempat unggul lebih dulu melalui gol cepat Robinho, Belanda berhasil membalikan keadaan menjadi 2-1 di babak kedua.

Salah satu kesalahan Brazil saat itu adalah ketidakmampuan lini tengah meredam pergerakan Wesley Sneijder. Ia jadi pemain yang paling bersinar dalam pertandingan tersebut. Pergerakan dan kreativitas Sneijder mengobrak-abrik lini pertahanan Brasil. Bahkan dua gol De Oranje merupakan buah kerja keras Sneijder. Salah satunya melalui sundulan yang memunculkan selebrasi tepok jidat yang sangat ikonik waktu itu.

2014: Brazil Dipermalukan di Kandang Sendiri 

Tahun 2014 Brazil ditunjuk sebagai tuan rumah pesta sepakbola paling akbar tersebut. Mendapat keuntungan sebagai tim yang bermain di depan publik sendiri, Selecao menetapkan target maksimal yaitu juara. Mereka ingin meraih trofi Piala Dunia keenam di depan masyarakat Brazil.

Namun, kesulitan langsung hadir saat Neymar dan kolega mencapai sistem gugur. Tim Samba susah payah saat kembali bertemu Chile. Mereka hanya mampu menang lewat adu penalti, Kemudian Selecao hanya menaklukkan Kolombia dengan skor tipis 2-1 untuk mengamankan satu tempat di babak semifinal. Brazil bisa bernafas lega, setidaknya mereka tak lagi gagal di perempat final.

Namun bencana sesungguhnya bagi Brazil justru dibawa oleh tim kuat yang kala itu keluar sebagai kampiun, Jerman. Menghadapi Der Panzer di partai semifinal, Brazil babak belur dihajar Thomas Muller dkk dengan skor sangat telak 7-1. Kekalahan memalukan ini sekaligus mengakhiri perjalanan Tim Samba di Piala Dunia lebih dini dari perkiraan.

Lagi-lagi, kelemahan Brazil berada di lini tengah. Dilansir BRfootball, dua gelandang bertahan Brazil, Luiz Gustavo dan Fernandinho gagal menghentikan serangan yang dilancarkan Jerman. Terlebih Dante yang menggantikan peran Thiago Silva dirasa tak berjalan dengan baik. Performanya sangat buruk.

Kalah Dari Generasi Emas Belgia

Di Piala Dunia 2018 pun demikian. Meski kembali menjadi tim yang diunggulkan, nyatanya mereka tak mampu berbicara banyak. Perjalanan Brazil kembali mentok di perempat final setelah dikalahkan oleh tim nasional yang katanya sedang dihuni oleh para generasi emasnya Belgia.

Lagi-lagi Brazil dengan nyaman melenggang ke babak 16 besar sebagai juara Grup E Piala Dunia 2018 dengan mengumpulkan tujuh poin. Di babak 16 besar, Brazil bertemu dengan sesama wakil CONMEBOL, Meksiko. Menghadapi tim yang selalu gagal di 16 besar membuat anak asuh Tite tampil pede. Memusatkan serangan pada Neymar, Brazil berhasil memenangkan laga dengan mencetak dua gol tanpa balas.

Berkat kemenangan itu, Brazil melangkah ke perempatfinal dengan dihantui kegagalan di masa lalu. Dan benar saja, melawan generasi emas Belgia, Selecao keok. Laga yang dimainkan di Kazan itu kembali mendatangkan tangis bagi Tim Samba. Kecemerlangan Thibaut Courtois di bawah mistar dan Kevin De Bruyne di lini tengah membuat Brazil kembali mengemasi barangnya di babak perempat final.

Piala Dunia 2022: Kalah dari Kroasia 

Yang teranyar terulang di Piala Dunia 2022. Kembali berangkat dengan skuad termewah di Qatar, Brazil sudah pasti jadi unggulan di edisi kali ini. Mereka bahkan diprediksi bakal mencapai partai final dan menghadapi Argentina untuk memperebutkan gelar juara.

Sayangnya, Dewi Fortuna lagi-lagi enggan berpihak pada anak asuh Tite. Meski berhasil lolos sebagai pemuncak klasemen Grup G, nasibnya kurang mujur di fase gugur, terutama di babak perempat final. Bertemu tim kejutan edisi lalu, yakni Kroasia, Timnas Brazil dipaksa pulang kampung lebih cepat melalui drama adu penalti.

Kroasia berhasil memenangkan babak adu tos-tosan dengan skor 4-2 setelah tendangan penalti Marquinhos membentur tiang gawang. Vatreni pun lolos ke semifinal Piala Dunia 2022, sementara Brasil harus rela angkat koper dari Qatar. Mungkin Brazil bisa lolos dari kutukan juara bertahan, tapi tampaknya mereka belum menemukan solusi untuk menembus babak final dalam lima edisi Piala Dunia terakhir.

Sumber: Talksport, Bleacher Report, Goal, DW, Eurosport, The Guardian

Livakovic vs Messi, Mampukah Si Raja Knockout Kubur Mimpi Argentina?

Drama perempat final Piala Dunia 2022 sudah menguras emosi para pecinta sepakbola di seluruh penjuru dunia. Tangisan dan suka cita campur aduk dalam fase tersebut. Kini, fase berikutnya sudah di depan mata. Semifinal telah menunggu

Babak yang hampir selangkah lagi bagi Argentina dan Kroasia untuk tampil di fase puncak. Duel tersebut akan siap kembali menguras emosi para pecinta sepakbola. Mampukah Kroasia menghentikan Argentina? Atau justru sebaliknya?

Head To Head Kedua Tim, Kroasia Pernah Bantai Argentina Di Piala Dunia 2018

Sepanjang sejarah, kedua tim sudah bertemu sebanyak lima kali. Dua kali di ajang Piala Dunia, dan tiga sisanya di ajang persahabatan. Hasilnya kedua tim sama kuat. Albiceleste mampu menang dua kali atas Kroasia, sedangkan Vatreni berhasil menaklukan Tim Tango juga dua kali. Sementara sisanya, kedua tim berakhir seri.

Babak semifinal Piala Dunia 2022 kali ini akan jadi saksi, bahwa siapa yang akan unggul dari segi rekor pertemuan mereka. Namun, kalau dilihat dari pertemuan terakhir, Vatreni mampu membantai La Albiceleste 3-0 di babak Grup Piala Dunia 2018 yang lalu. Sementara ketika mereka bertemu pertama kali di babak Grup Piala Dunia 1998, Argentina yang mampu unggul 1-0.

Akan tetapi, itu adalah catatan yang sudah lewat. Argentina hari ini tidak sama dengan yang di Piala Dunia 2018. Pun begitu, kekuatan Kroasia jelas jauh berbeda. Mentalitas Kroasia, khususnya di Piala Dunia 2022 lebih teruji. Begitupun mimpi Argentina dan Messi yang mampu bertahan hingga fase ini.

Kroasia Si Jago Babak Knockout Piala Dunia

Untuk kekuatan mental Kroasia, itu bukan saja terbukti di Piala Dunia kali ini. Julukan “Si Raja Knockout” pun layak disematkan kepada pasukan Vatreni. Tercatat menurut The Athletic, sejak turnamen 2008 Kroasia sering mampu bertahan 90 menit. Mereka bahkan kuat meladeni lawan hingga babak adu tendangan penalti sekalipun.

Namun itu kasusnya hanya di Piala Dunia. Karena di Piala Eropa, Kroasia tiga kali kandas di babak knockout. Tahun 2008 Kroasia dikalahkan Turki di perempat final, tahun 2016 kandas oleh Portugal di 16 besar, dan 2020 tak berdaya di tangan Spanyol di babak 16 besar.

Catatan kurang sedap di babak gugur EURO kontradiktif dengan nasib Vatreni di Piala Dunia. Kroasia sudah teruji di babak gugur Piala Dunia, salah satunya pada tahun 2018. Vatreni berhasil lolos hingga ke final. Perjalanannya juga tidak mudah, sebab Kroasia harus dua kali melewati babak adu penalti di fase gugur. Di semifinal, asuhan Zlatko Dalic bahkan harus meladeni permainan Inggris hingga perpanjang waktu.

Dulu Punya Subasic Kini Punya Livakovic

Piala Dunia 2022 juga menjadi sangat terjal bagi Kroasia. Untuk sampai ke semifinal, anak asuh Zlatko Dalic bahkan harus meladeni Brasil di babak adu penalti. Tidak hanya itu, sebelum bertemu Brasil pun, di babak 16 besar, Vatreni harus bermain hingga adu tos-tosan. Dengan kata lain mental mereka sudah teruji. Salah satu penyebab hebatnya Kroasia di babak adu penalti adalah kekuatan kipernya.

Kroasia selalu memiliki kualitas kiper yang dahsyat. Tahun 2018 mereka punya Danijel Subasic. Kini, pada Piala Dunia Qatar, nama Dominik Livakovic harum di tengah lautan pemain bintang. Livakovic adalah kiper yang sangat perkasa di bawah mistar gawang Kroasia. Bahkan ia sudah melakukan 11 penyelamatan di Piala Dunia tahun ini. Itu adalah penyelamatan terbanyak yang dilakukan kiper di Piala Dunia sejak 2014.

Dominik Livakovic adalah kartu truf Timnas Kroasia. Apalagi kalau sudah menghadapi babak adu penalti. Mengapa? Sebab menuju Piala Dunia 2022 saja, ia sudah menggagalkan 14 dari 54 penalti yang dihadapinya sepanjang kariernya.

Dia pun kini sudah menambah rekor mengesankan itu dengan hattrick penyelamatan adu penalti melawan Jepang. Lalu, ia menambah rekor lagi dengan menepis tendangan anak muda andalan Real Madrid, Rodrygo saat menghadapi Brasil. Catatan mengesankan melawan Brasil dan tepisannya jadi bukti Livakovic tidak salah belajar dari seniornya, Subasic terutama selama Piala Dunia 2022.

Messi Vs Livakovic

Namun, lawan yang akan dihadapi Livakovic adalah seorang Lionel Messi. Pertarungan dua pemain akan menjadi sorotan penting di laga ini. Argentina yang sering mendapat hadiah penalti tentu harap-harap cemas ketika berhadapan dengan Livakovic. Terlebih Lionel Messi, sang eksekutor utama. Ia tak dipungkiri juga sering gagal dalam menendang penalti.

Ia bahkan mencapai rekor buruk menendang penalti di Piala Dunia setelah gagal melawan Polandia. Namun, tak hanya rekor buruk, keberhasilan Messi menuntaskan penalti ketika melawan Arab Saudi dan Belanda juga harus menjadi perhatian Livakovic. Apakah Livakovic mampu menghadirkan mimpi buruk Messi untuk kembali gagal penalti seperti apa yang dilakukan Szczesny?

Argentina Harus Menang Di 90 Menit

Argentina tentu juga harus punya cara lain menghentikan Kroasia. Melihat cara Brazil dalam meladeni permainan Kroasia di babak 90 menit, mau tidak mau harus dihindari Argentina.

Albiceleste dengan pakem andalan Scaloni harus menghukum Kroasia di babak 90 menit. Pasalnya, kalau sudah sampai ekstra time maupun adu penalti, mental Kroasia menjadi lebih ganas dan susah dikalahkan. Argentina harus meniru cara Prancis ketika menaklukan Kroasia 4-2 di final Piala Dunia 2018 selama 90 menit.

Ramuan konsisten Dalic dengan 4-3-3 terbukti konsisten diterapkan dari babak ke babak. Sedangkan Argentina bersama Scaloni harus kembali pada pakem awalnya 4-4-2 atau 4-3-3 setelah ia berubah di laga melawan Belanda menjadi 5-3-2. Toh yang dilawan Argentina kini adalah Kroasia yang tak memakai pola tiga bek.

Kroasia Pernah Gagal Di 1998, Argentina Tak Pernah Terhenti Di Semifinal

Di luar duel seru Livakovic vs Messi dan teknis pertandingan, tercatat ada hal menarik perjalanan keduanya di Piala Dunia. Catatan sejarah Kroasia di Piala Dunia bagaimanapun sempat berakhir pahit di babak semifinal ini. Meskipun mereka di Piala Dunia 2018 yang lalu pernah berhasil menaklukan babak semifinal.

Ketika di jaman Suker, Boban, dan kawan-kawan, Kroasia ternyata pernah kandas di babak semifinal Piala Dunia 1998. Ketika itu gol bek Prancis, Lilian Thuram mengandaskan asa kejutan yang dilakukan tim debutan Kroasia. Kroasia ketika itu takluk 2-1 atas tuan rumah Prancis.

Sebaliknya, nasib mujur selalu menghampiri Tim Tango ketika di babak semifinal Piala Dunia. Mereka tak pernah sekalipun terhenti jika sudah masuk babak ini. Mereka total telah mencapai babak semifinal selama empat kali, yakni di Piala Dunia 1930 dan 2018 kala menjadi runner up. Serta Piala Dunia 1978 dan 1986, ketika mereka menjadi juara.

Dengan bumbu sejarah, head to head, faktor Livakovic dan Messi, membuat partai ini berpotensi besar akan kembali berlangsung dramatis. Kini keduanya punya cara masing-masing untuk ciptakan sejarah. Kalau menurut Football Lovers, siapa nih yang bakal berada di partai puncak nantinya?

https://youtu.be/USv3wIsi4Dk

Sumber Referensi : elpais, sportingnews, sportingnews, 11vs11, sportsbrief

Si Paling Jago adu Penalti! Inikah Alasan Kroasia Bisa Singkirkan Brasil?

Kroasia mampu kembali berikan kejutan. Mereka mengalahkan lima kali juara Piala Dunia, Brasil lewat babak penalti. Kemenangan dramatis di Stadion Kota Pendidikan itu memastikan tiket Kroasia bisa melaju ke semifinal. Dengan ini pula, tarian tim samba di Piala Dunia 2022 berhenti. Roy Keane pasti jadi orang yang paling senang atas hal itu.

Brasil sudah terlihat frustasi dari menit awal. Permainan yang rapi dari trio gelandang Kroasia, Marcelo Brozovic, Mateo Kovacic, dan Luka Modric memaksa kedua tim bermain imbang tanpa gol sampai 90 menit waktu pertandingan berjalan. Ditambah penampilan apik kiper Kroasia, Dominik Livakovic.

Masuk ke babak perpanjangan waktu, Brasil mulai beraksi. Neymar mencetak gol di penghujung babak pertama tamahan waktu. Dengan gol itu, Neymar menyamai rekor Pele sebagai pencetak gol terbanyak tim nasional Brasil. Tapi mereka tidak bisa merayakannya lebih lama lagi. Di babak kedua perpanjangan waktu Bruno Petkovic menyamakan kedudukan Kroasia menjadi satu sama.

Pertandingan pun dilanjutkan ke babak adu penalti. Semua empat penendang penalti dari Kroasia sukses menuntaskan tugas mereka dengan baik. Sementara untuk Brasil, tendangan dari Rodrygo mampu ditepis oleh Livakovic. Dan tendangan penentu dari Marquinhos malah membentur mistar gawang.

Kroasia Raja Penalti Piala Dunia

Dengan kemenangan ini, Kroasia tidak pernah gagal melaju ke perempat final. Sejak kembali menjadi anggota FIFA di tahun 1992 setelah mendapatkan kemerdekaan mereka, tim negara balkan itu tidak pernah gagal dalam kesempatan melangkah ke semifinal. Tercatat sudah tiga kali Kroasia melaju ke perempat final, dan tiga kali mereka melangkah ke semifinal.

Seharusnya Brasil mengerahkan seluruh tenaga mereka, jangan sampai pertandingan berlanjut ke babak adu penalti. Sebab, Kroasia sudah dikenal sebagai rajanya adu penalti di turnamen empat tahunan ini. Ya selain tim dengan baju kotak-kotak itu tidak pernah gagal di perempat final, dua dari tiga mereka jalani dengan babak adu penalti.

Mereka juga melangkah sampai ke babak semifinal di Piala Dunia 2018 berkat adu penalti. Dan sekarang Modric CS melakukannya lagi dengan sempurna. Kroasia bahkan sudah memenangkan empat pertandingan babak adu penalti terakhir dalam dua edisi Piala Dunia.

Empat tahun lalu, di Piala Dunia 2018 Kroasia menang melawan denmark di babak 16 besar lewat babak adu penalti. Lalu menaklukan negara tuan rumah, Rusia di babak perempat final juga dengan adu penalti. Sekarang, mereka mengalahkan Jepang dan Brasil dengan cara yang sama.

Entah apa yang membuat Kroasia jago dalam adu penalti. Tapi ini bisa jadi karena sejarah dan kultur sepak bola yang diturunkan dari generasi ke generasi. Dulu, sebelum Liga Yugoslavia diberhentikan pada tahun 1992, mereka punya peraturan yang cukup unik.

Tim-tim yang bermain dalam liga tersebut tidak mengenal hasil imbang. Mereka akan lanjut ke babak adu penalti untuk menentukan pemenangnya. Di liga tersebut, tim pemenang mendapatkan dua poin sedangkan tim yang menang dengan adu penalti akan mendapatkan satu poin.

Dominik Livakovic

Mungkin nilai sejarah dan budaya ada pengaruhnya mengapa Kroasia jadi sangat jago adu penalti. Tapi yang pasti mengapa Kroasia bisa mengalahkan Brasil di Piala Dunia ini adalah karena tembok bernama Dominik Livakovic yang menjaga gawang pasukan vatreni.

Berdasarkan data dari OptaJose, Dominik Livakovic sudah melakukan empat kali penyelamatan penalti di Piala Dunia. Itu adalah rekor yang dicatatkan Livakovic. Ia jadi penjaga gawang yang paling banyak melakukan penyelamatan penalti dalam sejarah Piala Dunia.

Dibalik kehebatannya dalam adu penalti, Livakovic membeberkan rahasianya. Rahasia ini ia beberkan ketika Kroasia membuat Moriyasu minta maaf di babak 16 besar kemarin. Livakovic berkata bahwa ia lebih mengandalkan kepada perasaan.

“Saya pikir ketika babak adu penalti berjalan, ini lebih tergantung kepada feeling. Tapi tentu saja disertai dengan data analisis dari para pemain yang menendang penalti”

Penampilan Livakovic memang luar biasa. Selain di babak adu penalti, ia juga kokoh menjaga gawang selama jalannya pertandingan. Ia berhasil menyelamatkan 11 tendangan Brasil dalam waktu 120 menit pertandingan. Membuat anak asuh Tite frustasi.

Ia juga ternyata punya prestasi mentereng di level klub. Livakovic adalah bagian penting Dinamo Zagreb merengkuh gelar Liga lima kali berturut-turut. Pencapaiannya itu juga membuat Livakovic dinobatkan sebagai penjaga gawang terbaik Kroasia selama empat tahun. Yaitu di tahun 2019, 2020, 2021, dan 2022.

Strategi Brasil yang tak Berhasil

Selain Livakovic, yang menjadi rahasia Kroasia bisa mengalahkan Brasil adalah strategi Brasil itu sendiri. Strategi yang dimaksud adalah menempatkan Neymar sebagai eksekutor penalti kelima Brasil. Ini malah jadi senjata makan tuan. Neymar justru tidak sempat menendang pinalti setelah dua tendangan dari rekannya gagal.

Legenda Jerman, Jurgen Klinsmann juga mempertanyakan hal itu. Ia menganggap untuk situasi babak adu penalti, kan lebih baik jika pemain terbaik maju sebagai penendang pertama. Alasan utama adalah, dengan begitu bisa mengatur nada dan ketenangan bagi para penendang selanjutnya.

“Kalau saya, akan menempatkan Neymar sebagai penendang pertama. Dengan begitu anda bisa mengatur nadanya. Jangan taruh dia sebagai penendang kelima. Karena mungkin kesempatan itu tidak akan datang.”

Perkataan Klinsmann itu bisa dibuktikan langsung pada pertandingan yang lain antara Argentina melawan Belanda. Pertandingan itu juga berakhir lewat babak adu penalti. Tapi Argentina bisa dengan mantap menang adu penalti setelah menempatkan Messi sebagai eksekutor pertama.

Sebelumnya Argentina juga melakukan strategi yang sama. Yaitu pada Copa America tahun 2021. Di laga semifinal melawan Kolombia, pertandingan berlanjut sampai babak adu penalti. Lionel Messi maju sebagai eksekutor pertama dan memimpin Argentina menuju kemenangan.

Meskipun begitu pelatih Brasil, Tite punya alasan tersendiri mengapa menjadikan Neymar sebagai penendang kelima. Ia beralasan bahwa pemain yang lebih siap pada saat itu yang harus menendang terlebih dahulu.

“Neymar adalah penendang kelima dan menjadi penendang penentu. Ada banyak tekanan bagi para pemain yang punya kemampuan lebih. Yang paling siap harus mengambil tendangan penalti itu”

Selanjutnya Untuk Kroasia

Tite juga menyangkal kekalahan timnya dikarenakan strategi penalti itu. Ia mengatakan bahwa kekalahan Brasil murni diakibatkan karena disorganisasi yang mereka alami selama jalannya pertandingan.

“Satu-satunya kesalahan yang kami buat adalah kami tidak mencetak gol lebih banyak daripada Kroasia. Kami tidak mampu mencetak lebih dari satu gol selama pertandingan”

Tite kemudian mengundurkan diri menyusul kekalahan atas Kroasia ini. Meskipun begitu, ia mengaku bahwa keputusan ini sudah ia pikirkan jauh-jauh hari. Tite pernah mempersembahkan Copa America tahun 2019. Itu jadi Trofi bergengsi satu-satunya bersama Brasil. Dan selebihnya, lebih banyak cerita kekecewaan yang ia ukir bersama selecao.

Sementara itu, Kroasia selanjutnya akan berhadapan dengan Argentina di babak semifinal. Kroasia pernah membantai Argentina di Piala Dunia edisi sebelumnya. Meskipun begitu, Argentina masih diunggulkan untuk pertandingan nanti. Kuncinya, Messi CS harus mengalahkan Kroasia di 90 atau 120 menit pertandingan. Jika sampai ke babak adu penalti, keadaan bisa jadi sulit untuk Albiceleste.

 

Sumber referensi: ESPN, Marca, Express, Mirror

Pelajaran Berharga dari Wakil Asia di Piala Dunia 2022

0

Kekalahan Korea Selatan dari Brasil di babak 16 besar jadi penanda habisnya wakil Asia di Piala Dunia 2022. Sebelumnya, perjuangan heroik Jepang dihentikan Kroasia lewat babak adu penalti. Kedua negara tetangga tersebut menyusul langkah Australia yang lebih dulu dijegal Argentina.

Sementara itu, 3 wakil Asia lainnya, yakni Arab Saudi, Iran, dan tuan rumah Qatar sudah terhenti di fase grup. Meski tak bisa melaju lebih jauh, tetapi penampilan wakil AFC di Piala Dunia Qatar 2022 cukup mengesankan.

Kejutan dan Rekor Para Wakil Asia

Diawali dengan kejutan besar yang dibuat Arab Saudi di pertandingan pertama Grup C. The Green Falcons mencatat sejarah besar dengan mengalahkan favorit juara Argentina dengan skor tipis 2-1.

Arab Saudi adalah tim Asia pertama yang sanggup meraih kemenangan atas Argentina. Hebatnya, kemenangan tersebut mereka raih setelah melakukan comeback luar biasa di babak kedua. Kemenangan tersebut juga sukses menghentikan laju 36 laga unbeaten Argentina.

Sebuah kemenangan yang membuat Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud ikut larut dalam suka cita dan menetapkan hari Rabu, 23 November 2022 sebagai hari libur nasional untuk merayakan kemenangan bersejarah Arab Saudi atas Argentina di Piala Dunia 2022.

Kejutan yang lebih besar dibuat Jepang yang membungkam juara dunia 4 kali, Jerman, di pertandingan pembuka Grup E. Itu adalah kemenangan pertama Jepang atas Jerman dan untuk pertama kalinya Jepang melakukan comeback dan memenangi pertandingan Piala Dunia setelah kebobolan lebih dulu.

Sempat kalah dari Kosta Rika, Jepang yang tergabung di Grup Neraka malah keluar sebagai juara grup usai meraih kemenangan 2-1 atas juara dunia 2010, Spanyol, di pertandingan ketiga. Kemenangan tersebut mengantar Jepang lolos ke fase gugur untuk kedua kalinya secara beruntun dan jadi kali kedua mereka keluar sebagai pemuncak grup sejak menjadi tuan rumah 20 tahun lalu.

Menariknya, dua kemenangan Jepang di Grup E didapat setelah mereka lebih dulu tertinggal. Dua kemenangan Samurai Blue tersebut juga didapat dengan penguasaan bola yang sangat minim.

Jepang hanya menguasai bola sebesar 26,1% saat menang atas Jerman. Sementara saat menang atas Spanyol, mereka hanya menang penguasaan bola sebesar 17,7%. Angka tersebut tercatat sebagai penguasaan bola terendah dalam sejarah Piala Dunia.

Australia juga tak kalah mengejutkan. Socceroos jadi runner-up Grup D usai meraih kemenangan atas Tunisia dan Denmark. Dua kemenangan tersebut mengantar Australia lolos ke babak 16 besar untuk kedua kalinya dalam sejarah sekaligus melampaui pencapaian generasi emas Socceroos di Piala Dunia 2006.

Sementara itu, Korea Selatan secara dramatis lolos dari fase grup usai menang 2-1 atas Portugal di pertandingan terakhir babak grup. Gol dramatis yang dicipatakan Son Heung-Min dan Hwang Hee-Chan berhasil mengantar Taegeuk Warriors lolos lagi ke babak 16 besar setelah terakhir kali mencapainya di edisi 2010.

Sementara itu, meskipun tak lolos, tetapi Iran sempat meraih kemenangan bersejarah atas Wales. Hanya Qatar saja, wakil Asia, yang tidak meraih kemenangan bahkan sama sekali tak memperoleh poin.

Pelajaran Berharga dari Wakil Asia Di Qatar 2022

Ada banyak pelajaran yang bisa kita petik dari keberhasilan wakil Asia di Piala Dunia 2022. Tak bisa dipungkiri kalau Piala Dunia 2022 jadi penampilan terbaik wakil Asia di Piala Dunia.

Lolosnya Australia, Jepang, dan Korea Selatan ke babak 16 besar juga jadi rekor tersendiri bagi AFC. Untuk kali pertama dalam sejarah, tiga tim dari AFC lolos ke babak 16 besar Piala Dunia.

Akan tetapi, banyak yang nyinyir dan mengatakan kalau kemenangan Arab Saudi, Jepang, Korea, Australia, bahkan Iran adalah karena keberuntungan semata. Hal ini dikarenakan tengah menurunnya performa tim-tim Eropa dan regenerasi yang tengah terjadi. Belum lagi soal persiapan yang mepet dan jadwal Piala Dunia yang melelahkan bagi negara Eropa.

Namun, menurut kami, alasan itu hanyalah upaya untuk mendiskreditkan Asia. Memang, Piala Dunia tahun ini cukup kontroversial dari beberapa sisi. Tetapi, daripada nyinyir, mari kita lihat sisi positifnya saja. Bagaimanpun, kemenangan-kemenangan yang diraih para wakil Asia di Qatar 2022 bakal terus tercatat sebagai sebuah kemenangan bersejarah.

Dengan mental underdog tak kenal takut, para wakil Asia yang berlaga di Qatar 2022 telah menunjukkan kalau Asia bisa bersaing dengan negara-negara kuat. Ya, mentalitas itulah yang membedakan Arab Saudi, Australia, Iran, Jepang, dan Korea Selatan dengan negara Asia lainnya.

Mereka yang berlaga di Piala Dunia 2022 seluruhnya memiliki mentalitas tingkat dunia. Para pemain Arab Saudi, Australia, Iran, Jepang, Korea Selatan, bahkan Qatar tidak takut melangkah sebelum bertanding.

Mereka juga tidak panik jika tertinggal lebih dulu. Kemenangan Jepang atas Jerman dan Spanyol, serta kemenangan Korea Selatan atas Portugal dan Arab Saudi atas Argentina jadi buktinya. Tertinggal lebih dulu, mereka berhasil membalikkan keadaan dan keluar sebagai pemenang.

Tidak menyerah dan terus memberi perlawanan hingga detik terakhir. Itu pula yang terlihat dari perjuangan Australia di babak 16 besar. Tertinggal 2 gol, Australia melawan balik hingga mampu memperkecil ketinggalan. Socceroos bahkan sempat nyaris memaksa pertandingan berlanjut ke extra time andai sepakan Garang Kuol tak diselamatkan Emiliano Martinez.

Dari Australia dan Arab Saudi, kita belajar pentingnya menunjuk pelatih yang tepat. Herve Renard sukses membuat Arab Saudi tampil gigih dan mencatat sejarah sebagai tim Asia pertama yang mengalahkan Argentina.

Di pihak Australia, Graham Arnold berhasil mematahkan segala prediksi. Dengan skuad apa adanya, ia berhasil mengantar Australia mendapat hasil terbaiknya di Piala Dunia.

Sementara dari Jepang dan Korea Selatan, kita belajar betapa pentingnya memiliki pemain kelas dunia yang mentas di liga terbaik dunia. Tak bisa dipungkiri kalau para pemain Jepang dan Korea yang merantau ke luar negeri memberi andil besar terhadap suksesnya negara mereka.

Yang Bisa Dicontoh dan Diperbaiki dari Wakil Asia di Piala Dunia 2022

Mentalitas, kepercayaan diri, dan pengalaman. Itulah 3 hal yang membedakan wakil Asia di Piala Dunia 2022 dengan negara Asia lainnya. Tiga hal itu pula yang menjadi sebab mengapa hanya negara-negara tadi yang terus jadi langganan lolos ke Piala Dunia.

Jika ada kekurangan yang harus diperbaiki agar bisa melangkah lebih jauh, maka para wakil Asia wajib hukumnya untuk memiliki striker tajam kelas dunia. Tak hanya sekadar tajam, tetapi juga harus efektif di depan gawang.

Asia sebetulnya punya penyerang bagus yang berlaga di Eropa. Korea Selatan punya Son Heung-min, Hwang Hee-chan, dan Hwang Ui-jo. Namun, dari 3 penyerang tadi hanya Hwang Hee-chan yang sanggup menyumbang gol.

Begitu pula dengan Iran. Mereka membawa 3 penyerang terbaik mereka, yakni Mehdi Taremi, Sardar Azmoun, dan Karim Ansarifard. Namun, di antara ketiga penyerang tersebut hanya Mehdi Taremi yang mencatat gol di Piala Dunia.

Dari kegagalan para penyerang tadi, kita bisa memetik pelajaran kalau punya penyerang bagus yang berlaga di Eropa bukanlah sebuah jaminan. Namun sebaliknya, jika sama sekali tak punya penyerang berkelas, bagaimana bisa berlaga di Piala Dunia?

Terlepas dari hasil akhir yang kurang memuaskan, kemenangan yang diraih Jepang, Iran, Arab Saudi, Australia, dan Korea Selatan telah sukses membuat negara mereka bangga. Penampilan heroik mereka juga sanggup menyatukan negaranya dan berujung dengan sebuah penyambutan bak pahlawan.

Semoga keberhasilan Jepang, Korea Selatan, Australia, ataupun Iran dan Arab Saudi bisa menjadi inspirasi bagi negara Asia lainnya, khususnya bagi mereka yang mengaku-ngaku sebagai negara sepak bola tapi minim prestasi.

Ingat, apa yang dicapai para wakil Asia di Piala Dunia 2022 adalah hasil kerja keras berbagai pihak selama bertahun-tahun. Takada yang instan dalam prosesnya.

Inilah sebuah pelajaran paling berharga yang bisa kita petik dari penampilan para wakil Asia di Piala Dunia 2022. Sekali lagi, terlepas dari hasil akhirnya, Piala Dunia 2022 telah menunjukkan kalau wakil Asia bisa bersaing di panggung besar.


***
Referensi: The Analyst, BBC, Al Jazeera, Forbes.

Berita Bola Terbaru 9 Desember 2022 – Starting Eleven News

Berita Bola Terbaru dan Terkini

DONNARUMMA DOAKAN NAPOLI JUARA SERIE A

Mantan kiper Milan, Gianluigi Donnarumma mengaku senang jika Napoli memenangkan gelar Serie A musim ini. Hal ini disampaikan Donnarumma saat menghadiri sebuah acara di Naples pada hari Selasa. Bukan tanpa alasan Donnarumma menjagokan Napoli. Pasalnya, eks penjaga gawang Rossoneri ini lahir di Castellammare Di Stabia di area metropolitan Naples pada 25 Februari 1999. Ia besar di Naples, bergabung dengan akademi Milan ketika usianya baru menginjak 14 tahun.

BERMAINLAH DI EPL NISCAYA JUDE BELLINGHAM AKAN HEBAT LAGI

Jude Bellingham tampil memukau selama Piala Dunia Qatar. Steve Holland, yang pernah bekerja untuk Jose Mourinho dan Antonio Conte, serta bagian dari staf manajerial Chelsea saat menang Liga Champions 2012, membandingkan mentalitas pemain berusia 19 tahun itu dengan superstar Argentina Lionel Messi, dan mengisyaratkan bahwa tantangan Liga Primer bisa membuat bintang Borussia Dortmund itu makin berkembang.

SOAL MASA DEPANNYA DI TIMNAS AS, GREGG BERHALTER MASIH PIKIR-PIKIR

Gregg Berhalter bakal memutuskan masa depannya sebagai Pelatih Timnas Amerika Serikat (AS), usai skuad asuhannya tersingkir dari Piala Dunia 2022. Berhalter banyak menuai pujian, karena membawa The Yanks melaju ke fase gugur, setelah menjadi runner up Grup B di bawah Inggris. Berhalter masih pikir-pikir soal kelanjutan karirnya sebagai pelatih Amerika Serikat. Dia mengaku butuh waktu untuk mempertimbangkannya. 

DUO PSG TAK BISA PERKUAT PORTUGAL LAGI DI SISA PIALA DUNIA 2022

Danilo dan Nuno Mendes akan meninggalkan Qatar untuk merawat cedera yang diderita saat tampil di Piala Dunia. Baik Danilo dan Nuno Mendes sejatinya berharap untuk tetap tinggal bersama skuad Portugal selama sisa Piala Dunia 2022, tetapi PSG memutuskan akan lebih baik bagi mereka untuk dirawat di Prancis oleh staf klub sendiri. Selecao pada akhirnya menyetujui permintaan tersebut. 

AC MILAN KEPINCUT JACK GREALISH

Klub Serie A, AC Milan tengah membidik gelandang Manchester City, Jack Grealish. AC Milan mengincar Jack Grealish untuk opsi menggantikan Rafael Leao di lini tengah. Milan belum memberikan kabar pasti terkait kontrak Rafael Leao yang akan berakhir Juni 2024 mendatang. Milan akan rela menghabiskan Sekitar 70 juta euro untuk mendatangkan pemain Inggris itu ke San Siro Stadium. Meskipun harga tersebut tidak lebih besar dari uang yang dibayarkan City untuk Jack Grealish.

ARSENAL BERSIAP BAJAK ADRIEN RABIOT

Arsenal disebut harus mempersiapkan dana sekitar 15 juta euro demi mendapatkan tanda tangan gelandang tengah Juventus, Adrien Rabiot pada bursa transfer Januari 2023. Sementara tersiar kabar Juventus menginginkan adanya tambahan pemain dalam kesepakatan transfer Rabiot. Bianconeri dikatakan meminta The Gunners memasukan nama Albert Sambi Lokonga, yang memang jarang mendapat waktu bermain bersama pasukan London Merah.

CODY GAKPO TUNGGU TAWARAN MU USAI PIALA DUNIA 2022

Manchester United merupakan salah satu peminat Cody Gakpo pada musim panas lalu, tetapi transfer itu urung terlaksana sebagaimana ia akhirnya bertahan di PSV. Meski begitu, spekulasi tentang masa depannya terus berlanjut, dan ada kabar tentang tawaran lain yang mungkin datang untuknya pada Januari mendatang. Gakpo menyebut bahwa ia sangat tertarik bergabung dengan United. Jadi ia benar-benar menunggu Setan Merah datang untuk meminangnya.

GIROUD PERINGATKAN INGGRIS SOAL KYLIAN MBAPPE

Jelang pertandingan krusial antara Inggris versus Prancis, Olivier Giroud pun memberikan komentarnya. Penyerang berusia 36 tahun itu memperingatkan The Three Lions soal Kylian Mbappe. Menurutnya, rekan setimnya tersebut masih belum menampilkan potensi terbaik meski saat ini sudah mencetak lima gol. “Mbappe adalah striker terbaik yang pernah saya temui. Saat ini, kita semua belum melihat performa terbaik dari dirinya. Saya harap hal itu akan segera terlihat.”

RONALDO TAK TERTARIK PINDAH KE LIGA AUSTRALIA

Mantan bintang Manchester United, Cristiano Ronaldo dikabarkan tak tertarik untuk pindah ke Liga Australia.  Hal tersebut diungkapkan oleh Danny Townsend, CEO Liga Australia. Laporan di Inggris menyebutkan bahwa, A-League tampaknya gagal dengan tawaran berani untuk menarik Ronaldo ke sana. Usut punya usut, keengganan Ronaldo untuk bermain di Liga Australia disebabkan karena CR7 punya prioritas yang lebih tinggi. Prioritas tersebut adalah bermain di klub besar Eropa yang mentas di Liga Champions.

SAAT KUCING TIBA-TIBA NIMBRUNG DI SESI JUMPA PERS VINICIUS JR

Bintang muda timnas Brasil di Piala Dunia 2022, Vinicius Jr diganggu seekor kucing di tengah konferensi persnya. Konferensi pers tersebut dilakukan sebelum Tim Samba berlaga melawan Kroasia di babak perempat final Piala Dunia 2022. Suasana jadi sedikit aneh saat ofisial pers Brasil menertibkan si kucing. Pria yang duduk di samping Vinicius Jr itu kemudian memegang si kucing dan melemparkannya ke depan meja konferensi pers.

FPF RESPON RUMOR RONALDO ANCAM TINGGALKAN PIALA DUNIA 2022

Federasi Sepak Bola Portugal (FPF) membantah Cristiano Ronaldo marah dan mengancam akan meninggalkan tim nasional di Piala Dunia 2022. Hal itu ditegaskan FPF melalui rilis yang diunggah melalui website resmi mereka pada Kamis (8/12). Sebelumnya, Ronaldo diisukan marah karena menjadi cadangan saat Portugal mengalahkan Swiss 6-1 pada babak 16 besar Piala Dunia 2022. FPF mengatakan Ronaldo telah menjadi seorang profesional sejati di Piala Dunia dan tidak menginginkan apa pun selain negaranya dapat memenangkan trofi, bahkan jika itu berarti dia tidak bermain sama sekali.

VAN GAAL SEDIH DISEBUT DI MARIA PELATIH TERBURUK

Perang urat saraf langsung tersaji jelang laga perempat final Piala Dunia 2022 antara Belanda menghadapi Argentina, Sabtu (10/12) dini hari WIB. Louis van Gaal dianggap oleh Angel Di Maria yang notabene pernah sama-sama di MU, sebagai pelatih terburuk selama kariernya. Merespon tudingan tersebut, Van Gaal dalam sesi konferensi pers jelang duel kedua tim menanggapi dengan santai. Menurut pelatih berusia 71 tahun itu ia mengaku sedih dianggap seperti itu oleh Di Maria.

LUIS ENRIQUE MUNDUR SEBAGAI PELATIH SPANYOL

Kegagalan Spanyol di Piala Dunia 2022 membuat Luis Enrique lengser dari kursi pelatih. Dia memilih mundur. Keputusan ini diambil Enrique dan disetujui RFEF. Kini, Spanyol telah menunjuk Luis de la Fuente sebagai pengganti Luis Enrique. Enrique sendiri berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepadanya, serta mengharapkan dukungan untuk suksesornya tersebut.

HERE WE GO! MADRID AMANKAN TALENTA MUDA BRASIL, ENDRICK

Spekulasi masa depan Endrick segera berakhir. Dilansir ESPN, Real Madrid dikabarkan telah mengamankan jasa wonderkid Palmeiras itu baru-baru ini. Menurut laporan Fabrizio Romano, Madrid sudah mencapai kesepakatan verbal dengan Palmeiras untuk transfer Endrick dan akan membayar sebesar 60 juta Euro. Jika tidak ada halangan, semua dokumen transfer Endrick akan selesai di akhir tahun ini. Meski sudah sepakat, Madrid harus menunggu untuk memboyong Endrick di tahun 2024, ketika sang pemain berusia 18 tahun.

KELUARGA SUDAH AMAN, STERLING BALIK KE QATAR

Raheem Sterling bersiap kembali ke camp The Three Lions di Piala Dunia 2022 Qatar. Dia berpotensi sudah siap bermain saat menghadapi Timnas Prancis di babak perempat final. Sebelumnya, Sterling meninggalkan Timnas Inggris setelah rumahnya mengalami insiden perampokan bersenjata pada akhir pekan lalu, Sabtu malam 3 Desember 2022. Keluarga Sterling sendiri sudah mendapatkan jaminan keamanan dari pihak setempat.

MARCUS RASHFORD BAKAL DIGAET PSG

Dilansir Mirror, Klub raksasa Prancis, Paris Saint-Germain dilaporkan tertarik untuk mengamankan tanda tangan Marcus Rashford dari Manchester United. Kontrak Rashford bersama MU sendiri akan berakhir pada Juni 2023 mendatang. Al-Khelaifi mengakui bahwa Rashford adalah pemain yang sangat menarik. Apalagi ia tampil ciamik selama di Piala Dunia 2022. Bisa mendapatkan penyerang sekaliber Rashford secara gratisan menjadi kesempatan yang ogah dilewatkan PSG.

MAGUIRE YAKIN INGGRIS BISA JADI JUARA DUNIA

Bek Harry Maguire mengatakan para pemain Inggris merasa yakin akan memenangkan Piala Dunia Qatar 2022. Ia mengklaim ada perubahan mentalitas yang kuat pada diri pemain. Sebelumnya Maguire menyatakan bahwa perkembangan itu terjadi setelah hasil mengejutkan di Piala Dunia 2018. Inggris sendiri tengah bersiap melawan Prancis pada babak perempat final di Stadion Al Bayt, akhir pekan ini.

FIFA SANKSI KROASIA KARENA NYANYIAN FANS

Menjelang babak delapan besar Piala Dunia 2022, FIFA menjatuhkan sanksi kepada Kroasia. Sanksi itu dijatuhkan menyusul nyanyian para fan yang berbau xenofobia, kebencian terhadap orang dari negara lain, yang ditujukan kepada kiper Kanada, Milan Borjandi Piala Dunia 2022. Akibat ulah para suporter ini, Federasi Sepak Bola Kroasia diberi sanksi FIFA dan harus membayar denda sebesar 5 ribu franc atau setara Rp 830 juta.

TAMPIL MONCER DI PILDUN, RITSU DOAN DIMINATI AS ROMA

Jepang memang gagal melangkah jauh di Piala Dunia 2022, tapi salah satu pemainnya yakni Ritsu Doan menarik perhatian publik. Menurut kabar dari Football Italia, ia diminati AS Roma. Serigala Roma dikabarkan sudah melakukan pembicaraan dengan Freiburg, klub Doan saat ini. AS Roma sangat berminat dengan Doan, dan tidak mempermasalahkan harga yang naik setelah penampilannya di Piala Dunia 2022.

ANCELOTTI MERASA RONALDO BUKAN PEMAIN BERMASALAH

Tidak di klub, juga di timnas, Cristiano Ronaldo kerap bikin ulah dalam setahun terakhir ini. Salah satunya marah-marah saat diganti. Akibat sikapnya tersebut, Ronaldo menjadi sasaran kritik banyak pihak dan dituding sebagai pembuat masalah. Namun, ketika banyak pihak memberikan kritik kepada CR7, masih ada satu sosok yang membelanya. Dia adalah mantan pelatihnya di Real Madrid, Carlo Ancelotti. Ancelotti menegaskan, Ronaldo bukan pemain bermasalah. Dia juga pemain yang mudah dilatih.

CEO QATAR 2022 KECAM MEDIA ATAS LAPORAN JUMLAH KEMATIAN

CEO Qatar 2022, Nasser Al-Khater, mengecam laporan media tentang kematian pekerja di negara itu sebagai “jurnalisme yang tidak bertanggung jawab” setelah adanya berita pada hari Rabu tentang kematian seorang pekerja migran asal Filipina di fasilitas Piala Dunia. Al-Khater kemudian mengatakan bahwa klaim tewasnya 6.500 pekerja migran yang ditugaskan menjelang Piala Dunia di Qatar adalah narasi palsu.

TITE SERANG BALIK PENGKRITIK SELEBRASI MENARI

Pelatih Brasil, Tite merespons kritik yang datang dari pengamat sepak bola terkait selebrasi yang dilakukan anak asuhnya di Piala Dunia 2022. Namun, Tite enggan panjang lebar menanggapi pihak yang menurutnya tidak tahu sejarah dan budaya Brasil. Bahkan pelatih berusia 61 tahun itu bersikeras akan kembali menari jika diminta untuk ikut dalam selebrasi.

KAKA: RONALDO CUMA DIANGGAP MAS-MAS GENDUT DI JALANAN BRASIL

Mantan bintang Brasil, Kaka mengatakan bahwa banyak orang-orang di negaranya kurang menaruh respek pada striker ikonik, Ronaldo dengan menganggapnya cuma sekadar mas-mas gendut. “Tentu saja, banyak juga orang Brasil yang mencintai Ronaldo, saya mencintai Ronaldo, namun cara ia dihargai di Brasil dan di luar negeri berbeda, saya melihat ia lebih dihargai di luar daripada di sana [Brasil],” ucap Kaka.

HEAD TO HEAD BELANDA VS ARGENTINA

Argentina bertemu Belanda di babak perempat final Piala Dunia Qatar 2022. Sebelumnya, Argentina dan Belanda telah terlibat dalam 9 pertandingan. Lima dari total pertandingan itu terjadi di ajang Piala Dunia. Belandalah memegang keunggulan dari total head-to-head tersebut, meraih empat kemenangan berbanding Argentina yang hanya tiga. Adapun dua pertandingan lainnya berakhir imbang.

HEAD TO HEAD BRASIL VS KROASIA

Laga menarik lainnya akan mempertemukan Brasil melawan sang finalis Piala Dunia 2018, Kroasia. Sebelum pertemuan di perempat final Piala Dunia 2022, Kroasia dan Brasil tercatat 4 kali bertemu dengan Selecao lebih unggul secara head to head. Terakhir kali kedua tim bertemu di laga uji coba pada 2018 yang berhasil dimenangi Brasil dengan skor 2-0. Di ajang Piala Dunia, Brasil juga pernah ngalahin Kroasia dengan skor 3-1 pada edisi 2014 ketika bertindak selaku tuan rumah.

Kasihan Lihat Ronaldo Selalu Dihujat! Carlo Ancelotti Bela Pasang Badan!

Semakin tinggi pohon menjulang, semakin kencang angin yang menerpa. Mungkin itu peribahasa yang cocok untuk menggambarkan situasi Ronaldo saat ini. Ronaldo datang ke Qatar dengan kondisi yang tidak ideal. Bukan secara fisik, tapi secara mental.

Ya, kita tentu masih ingat dengan wawancara eksplosif Ronaldo sebelum Piala Dunia. Dan di Piala Dunia ini ia juga masih saja mendapatkan kontroversi. Tapi setidaknya masih ada orang yang membela Ronaldo. Ia adalah sang mantan pelatihnya di Madrid, Carlo Ancelotti.

Ronaldo Masih Banyak Kontroversi

Kontroversi Ronaldo di Piala Dunia datang ketika di pertandingan babak penyisihan grup melawan Korea Selatan. Saat itu Ronaldo bermain sebagai starter dan kedudukan masih imbang satu sama sampai awal babak kedua. Di awal babak kedua itulah, Fernando Santos melakukan pergantian pemain. Tepatnya di menit ke-65, Ronaldo ditarik keluar untuk digantikan oleh Andre Silva.

Ronaldo tertangkap kamera bereaksi negatif atas penggantian nya itu. Ia terlihat marah dan tidak senang dengan keputusan sang pelatih. Ronaldo juga sempat memberikan gestur ‘diam’ ketika pemain lawan meminta untuk Ronaldo mempercepat langkahnya keluar lapangan. Ronaldo berkata “Sebelum saya diganti salah satu pemain Korea menyuruh saya untuk pergi secepatnya. Saya suruh dia untuk menutup mulut karena dia tidak ada wewenang.

Reaksi Ronaldo itu sontak membuat mata media tertuju pada Ronaldo. Ronaldo yang sudah diselimuti kontroversi, kemudian ditambah lagi kontroversinya. Ditambah, pelatih Portugal, Fernando Santos tidak suka dengan reaksi Ronaldo itu. Ia berkata bahwa dirinya tidak yakin lagi akan menjadikan Ronaldo sebagai kapten di babak 16 besar atau tidak.

Dan benar saja. Di babak 16 besar melawan Swiss, Ronaldo bukan hanya tidak dijadikan kapten. Tapi juga tidak dimainkan sebagai starter. Posisinya digantikan oleh Goncalo Ramos yang tampil gemilang di pertandingan itu dengan mencetak hattrick.

Di laga melawan Swiss itu, Ronaldo dimainkan pada babak kedua sebagai pemain pengganti. Melihat Ronaldo yang tidak dimainkan sebagai starter di babak 16 besar tentu kembali memunculkan pertanyaan. Sebab Ronaldo tidak pernah absen dalam membela Portugal di kompetisi besar. Sejak Euro 2008, Ronaldo selalu menjadi starter di kompetisi-kompetisi besar.

Ronaldo dikabarkan mengatur pertemuan dengan Santos setelah laga tersebut. Mengetahui hal itu, banyak media yang berspekulasi atas apa yang dibicarakan Ronaldo dan pelatihnya itu. Media Portugal, record lalu membuat berita bahwa Ronaldo marah dan mengancam untuk meninggalkan Portugal di Piala Dunia 2022 ini. Bahwa Ronaldo akan pergi sebelum pertandingan melawan Maroko nanti.

Masih Jadi Bagian Penting Portugal

Tapi tentu saja itu langsung dibantah oleh pihak Os Navegadores. Federasi sepak bola Portugal atau biasa disingkat FPF memberikan pernyataan resmi terkait kejadian itu. Dalam pernyataannya, mereka mengungkapkan bahwa Ronaldo memiliki komitmen yang besar untuk tim nasional. FPF lalu melanjutkan bahwa kapten Portugal itu tidak pernah mengancam untuk meninggalkan Portugal begitu saja.

“Berita yang dirilis Kamis ini melaporkan bahwa Ronaldo mengancam akan meninggalkan tim nasional Portugal. FPF mengklarifikasi bahwa Ronaldo tidak pernah mengancam untuk meninggalkan Portugal selama gelaran Piala Dunia 2022”

FPF kemudian melanjutkan, bahwa komitmen dan kesetiaan Ronaldo terhadap timnas tidak perlu dipertanyakan. Rekam jejak Ronaldo di POrtugal juga patut untuk dihormati.

“Cristiano Ronaldo membangun rekam jejak unik setiap hari bersama Portugal untuk melayani tingkat tim nasional dan negara yang harus dihormati. Komitmen dan kesetiaan Ronaldo terhadap tim nasional tidak perlu dipertanyakan lagi.”

Ancelotti Bela Ronaldo

Di tengah banyak drama dan hujatan yang menimpa Ronaldo, ada satu orang yang membelanya. Orang itu adalah Carlo Ancelotti. Ia merupakan mantan pelatih Ronaldo di Real Madrid dulu. Bersama Ronaldo, Don Carlo telah meraih gelar Liga Champions, UEFA Super Cup, dan Piala Dunia antar klub.

Don carlo memberikan pernyataan pengalamannya selama melatih Ronaldo. Menurutnya Ronaldo bukan orang yang sulit untuk diatur. Carlo Ancelotti juga menegaskan bahwa tidak ada masalah selama ia melatih Ronaldo di Real Madrid dulu.

“Saya telah melatihnya selama dua tahun dan tidak ada masalah sama sekali. Bahkan yang ada malah dia yang sering membereskan masalahku. Cristiano adalah pemain hebat. Ia berlatih dengan baik. Ia suka memperhatikan detail, dan semuanya mudah untuk saya kelola. Tidak ada masalah. Dia adalah pemain yang luar biasa.”

Don Carlo kemudian menambahkan, Bahwa pemain seperti Ronaldo tidak mungkin menjadi biang masalah. Ia menganggap bahwa Ronaldo adalah pemain yang terlalu hebat untuk menjadi sebuah masalah dalam tim.

“Seorang pemain yang setidaknya mencetak satu gol per pertandingan itu tidak bisa menjadi masalah. Cristiano adalah seorang Atlet yang berlatih dengan baik, dan selalu penuh dengan perhatian. Bagi saya, ia sangat mudah untuk diatur.”

Kebersamaan Carlo Ancelotti dengan Ronaldo memang tidak lama. Tapi ikatan yang mereka jalin sudah sangat kuat. Ronaldo adalah penyerang andalan Ancelotti di Los Blancos. Di tangan Ancelotti, Ronaldo menjadi penyerang berdarah dingin. Ia membentuk trio mematikan BBC bersama dengan Bale dan Benzema. Mereka bahkan sukses merengkuh gelar La Decima yang didamba oleh para Madridista.

Jadi tidak mengherankan apabila Don Carlo membela Ronaldo. Apalagi di tengah banyak kontroversi dan drama yang sedang megabintang itu alami ini. Meskipun begitu, Carlo Ancelotti tetap mengerti mengapa Ronaldo semakin tersingkir di skuad utama Portugal.

Masa Depan Ronaldo

Ancelotti, yang menangani Ronaldo di tahun 2013-2015, mengatakan bahwa kualitas menjadi alasan mengapa Ronaldo semakin tersingkir dalam skuad melawan Swiss. Dimana Portugal memiliki banyak pemain yang tidak kalah bagus dan masih muda dengan stamina yang penuh.

“Saya tidak melihat pertandingan Portugal vs Swiss, tapi dalam sepak bola semua mungkin terjadi. Ronaldo mungkin baik-baik saja dan ia merasa masih berusia 20 tahunan. Tapi tubuhnya tidak memberikan jawaban yang ia cari. Selain itu, persaingan di tim nasionalnya kuat. Bahkan pemain seperti Rafael Leao harus memulai dari bangku cadangan.”

Ronaldo kini sedang berstatus tanpa klub. Hal tersebut dikarenakan keputusan bersama dengan Manchester United setelah interview nya yang viral itu. Ia sempat diberitakan telah menyetujui kontrak dengan nilai 200 miliar euro per musim bersama klub Arab Saudi Al Nassr. Namun, Ronaldo langsung menampik kabar tersebut. Sekarang ia masih dalam ketidakpastian akan bermain dimana setelah Piala Dunia 2022 ini.

 

Sumber referensi: ESPN, Daily, 90min, Record, Guardian

Tak Hanya 2022, Inilah Aksi Protes di Piala Dunia dari Masa ke Masa

Siapa bilang di setiap penyelenggaraan Piala Dunia selalu berjalan mulus dan adem ayem. Tentu pro dan kontra pasti selalu menyelimuti di setiap hajatan empat tahunan tersebut. Tak hanya di Qatar, di penyelenggaraan Piala Dunia beberapa tahun ke belakang juga tak lepas dari aksi protes. Nah, berikut Starting Eleven merangkum beberapa kejadian aksi protes yang mewarnai Piala Dunia dari masa ke masa.

Piala Dunia 2002

Di tahun 2002, Asia akhirnya menjadi tuan rumah Piala Dunia untuk pertama kalinya. Korea dan Jepang adalah dua negara Asia yang beruntung bisa memenangkan tender sebagai “yang punya hajat”. Namun, siapa sangka di balik suksesnya Piala Dunia 2002, ada cerita perselisihan dalam proses penunjukan kedua negara tersebut sebagai tuan rumah gabungan.

Semuanya dimulai ketika Jepang dan Korea berlomba mengajukan diri sebagai tuan rumah. Jepang yang merasa maju dalam hal teknologi dan sumber daya optimis negaranya terpilih. Korea Selatan yang juga tak mau kalah, menyindir Jepang yang tak punya prestasi mentereng dibanding negaranya dalam hal sepakbola.

Perselisihan itu pun saling berbalas hingga akhirnya sampailah pada kesepakatan FIFA yang setuju kedua negara tersebut menjadi tuan rumah bersama. Namun, permasalahan kembali terjadi. Korea minta namanya didahulukan dalam tagline Piala Dunia 2002. Sedangkan FIFA sudah setuju Jepang jadi nama pertama dalam tagline tersebut, karena sesuai urutan abjad nama depan negara.

Polemik itu pun sampai menjalar ke aksi protes. Demonstran Korea pun ikut turun tangan. Di luar kedutaan Jepang di Seoul, para penggila bola Korea lancarkan aksi protes. Bahwa Jepang harus dicabut haknya sebagai tuan rumah, kecuali tulisan Korea berada di depan Jepang. Akhirnya FIFA dan Jepang pun luluh, dan FIFA menyepakati bahwa namanya sah menjadi Piala Dunia 2002 Korea-Jepang.

Piala Dunia 2006

Di Piala Dunia 2006 yang dihelat di Jerman aksi protes pun banyak terjadi. Di antaranya adalah aksi protes terhadap kelompok ekstrem kanan Jerman yang mendukung kampanye anti orang asing. Kita tahu di Jerman ada kelompok ekstrem kanan yang mempunyai partai di parlemen Jerman, yakni partai NPD.

Awal masalah dari protes itu adalah reaksi atas demonstrasi 200 anggota partai ekstrem kanan NPD. Mereka demo dengan mengenakan atribut negara Iran untuk mendukung Presiden Iran waktu itu, Ahmadinejad.

Dalam aksi protes yang akhirnya dibubarkan oleh polisi setempat itu, dibalas oleh ratusan orang yang berkumpul di Kota Nurnberg untuk memprotes pemimpin Iran menjelang pertandingan Piala Dunia antara Iran vs Meksiko.

Para pengunjuk rasa yang termasuk komunitas Yahudi lokal dan kelompok pengasingan Iran, mengecam Presiden Ahmadinejad yang dianggap telah menghancurkan Iran. Nah, dalam aksi tandingan tersebut, pemerintah Jerman turut ikut campur.

Ketua parlemen Jerman saat itu, Norbert Lammert mengimbau demonstran untuk memberikan sikap yang jelas mengenai kelompok ekstrem kanan. Ia menekankan, dalam Piala Dunia, Jerman akan tampil sebagai negara dengan wajah yang ramah dan terbuka bagi dunia luar. Sementara itu, partai NPD dituduh sengaja ingin menyalahgunakan Piala Dunia sebagai alat untuk menyebarkan ide anti orang asing.

Piala Dunia 2010

Pada perhelatan Piala Dunia 2010 yang pertama kali diselenggarakan di Benua Afrika, juga tak luput dari gelombang aksi protes. Kali ini aksi protes tersebut datang dari pekerja penjaga stadion. Di mana Afrika Selatan lewat perusahaan yang bernama Stallion banyak mempekerjakan sipil sebagai pasukan tambahan pengamanan stadion selain aparat.

Ribuan penjaga yang ditugaskan untuk memastikan keamanan di stadion kemudian protes dan melakukan pemogokan di Johannesburg, Durban, dan, Cape Town beberapa jam sebelum kick-off pertandingan Piala Dunia, dengan alasan perselisihan upah.

Para penjaga stadion tersebut mengatakan kepada BBC bahwa mereka sering bekerja dalam shift yang lebih. Dan mereka marah sekaligus menuduh perusahaan melakukan eksploitasi.

Para penjaga itu awalnya mengatakan bahwa mereka dijanjikan upah 194 dollar per shift, ketika menandatangani kontrak dengan perusahaan tersebut. Namun sebaliknya, mereka mengatakan hanya menerima 24 dollar per shift.

Mengetahui hal itu, pengurus perusahaan tersebut menolak mengomentarinya. Mereka tak peduli. Maka dari itu, beberapa aksi pun terjadi di jalanan. Para pekerja penjaga stadion berkumpul sekitar ribuan orang melampiaskan kemarahan mereka atas hal ini. Bentrokan dengan polisi anti huru-hara pun terjadi.

Piala Dunia 2014

Bentrokan dalam aksi protes pun terjadi dalam skala yang cukup masif menjelang Piala Dunia 2014 Brasil. Demo anarkis di beberapa kota seperti Rio De Janeiro, Brasília, maupun São Paulo menjadi cerita kelam bagi ajang empat tahunan tersebut.

Aksi protes tersebut akar masalahnya klasik, yakni ketidakadilan. Di mana pengunjuk rasa melihat pemerintah lebih memilih menghambur-hamburkan banyak uang untuk hajatan yang hanya sebulan, ketimbang memperhatikan kondisi sekitar masyarakat Brasil yang sedang krisis terutama dalam masalah kemiskinan maupun kesehatan.

Aksi turun ke jalan pun terjadi. Bentrok dengan polisi anti huru-hara pun tak terhindarkan. Bahkan aparat sampai melepaskan gas air mata. Aksi-aksi Vandalisme pun banyak mewarnai aksi protes ini.

Akibatnya, banyak para demonstran yang ditangkap pihak keamanan. Tercatat total lebih dari 128 orang ditangkap dalam kejadian ini di beberapa kota. Akibat dari keosnya situasi tersebut, akhirnya Presiden Brasil saat itu, Dilma Rousseff berjanji untuk menginvestasikan 25 miliar dollar untuk kerugian transportasi dan fasilitas umum, maupun tuntutan tertulis dari para demonstran.

Piala Dunia 2018

Pemandangan unik yang sering dikenal sebagai “Pitch Invader” terjadi di partai final Piala Dunia 2018 di Rusia. Bagaimana empat orang anggota kelompok Pussy Riot berlari ke tengah lapangan dengan menggunakan seragam keamanan Rusia.

Untuk yang belum tau, Pussy Riot itu adalah sebuah gerakan kelompok seni pertunjukan yang protes pada aksi feminis Rusia dengan balutan musik punk rock yang provokatif. Mereka yang beranggotakan beberapa wanita itu juga termasuk gerakan penentang kebijakan Presiden Putin.

Dikatakan kepada BBC, keempat orang yang masuk stadion tersebut murni sebagai bentuk aksi protes ketika seni pertunjukan dipakai oleh Putin untuk lahirnya pelanggaran hak asasi manusia di Rusia. Akibat ulah keempat orang tersebut, akhirnya pihak keamanan menahan keempatnya selama 15 hari untuk dimintai keterangan secara lengkap.

Piala Dunia 2022

Sampailah pada Piala Dunia Qatar 2022. Piala Dunia yang penuh dengan gelombang aksi protes dan kontroversi. Dari mulai aksi protes tentang kematian beberapa buruh migran di Qatar, aksi para pendukung Iran, maupun aksi mendukung LGBT.

Beberapa pekerja migran di Qatar yang terbukti meninggal akibat Piala Dunia Qatar disorot serius dunia internasional. Beberapa negara serta aktivis yang konsen terhadap hak asasi manusia pun serius menentang masalah ini. Salah satunya Jerman. Jerman yang sangat vokal dalam hal ini sering berkampanye dengan slogan Human Rights.

Begitupun dengan isu LGBT yang dipermasalahkan Qatar. Timnas Inggris, Jerman, Denmark, Belgia, Belanda maupun Wales yang ingin protes dengan menggunakan ban kapten “One Love” akhirnya dikecam dan dilarang FIFA.

Aksi protes lain juga terjadi ketika pendukung Iran memprotes tentang kematian seorang wanita, Mahsa Amini yang meninggal hanya karena jilbabnya terlalu longgar. Protes tersebut dilakukan di luar maupun di dalam stadion oleh pendukung Iran yang konsen terhadap isu keadilan di negaranya tersebut.

https://youtu.be/lHviIM-ulnQ

Sumber Referensi : theguardian, bbc, bbc, bbc, en.as

Pahlawan Prancis di Piala Dunia 1998, dan Bagaimana Nasib Mereka Sekarang?

0

Stade de France jadi saksi betapa tangguhnya Timnas Prancis membantai Brazil yang berstatus sebagai juara bertahan di partai final Piala Dunia 1998. Keberhasilan itu terbilang cukup mengejutkan, karena skuad Prancis dinilai hanya sebagai tim penggembira saja.

Namun, para punggawa Les Bleus membungkam semua anggapan miring. Zinedine Zidane dkk tak membiarkan siapa pun berjaya di tanah air mereka. Dan untuk mengenang prestasi luar biasa tersebut, berikut adalah para pahlawan Prancis 1998 dan bagaimana nasib mereka sekarang.

Fabian Barthez

Penjaga gawang nyentrik ini telah menjadi andalan Timnas Prancis sejak era 90-an. Fabian Barthez menjadi bagian pelindung tangguh timnas Prancis dengan hanya kebobolan dua gol sepanjang gelaran Piala Dunia 1998.

Performa Barthez dalam turnamen tersebut begitu mengesankan. Eks kiper Manchester United itu, mampu tampil gemilang dalam fase grup saat melawan Afrika Selatan dan Arab Saudi. Di dua laga itu Barthez mencatat clean sheet.

Di babak 16 besar, giliran Paraguay yang merasakan kehebatan seorang Barthez. Mereka tak mampu menjebol gawang yang ia kawal. Bahkan, sekelas tim Italia juga buntu saat bertemu Prancis di babak 8 besar. Selain mengantarkan Les Blues menjuarai Piala Dunia 1998, Barthez juga mendapat gelar individu sebagai penjaga gawang terbaik di ajang tersebut.

Lantas bagaimana nasibnya sekarang? Setelah pensiun pada tahun 2007, Barthez lebih fokus menekuni hobi ekstrimnya yakni balap mobil. Ia bahkan beberapa kali berpartisipasi di balapan 24 jam Le Mans.

Lilian Thuram

Satu lagi pemain yang patut mendapat apresiasi tertinggi adalah Lilian Thuram. Prancis harus berterimakasih pada Thuram di Piala Dunia 1998. Kontribusi besar mantan punggawa Juventus ini mampu membuat Timnas Prancis asuhan Aime Jacquet mengangkat trofi Piala Dunia di depan publik sendiri.

Babak Semifinal menjadi puncak penampilan gemilang Thuram. Bukan karena kemampuan bertahannya, melainkan berkat brace-nya ke gawang Kroasia. Gol tersebut secara dramatis membawa Prancis comeback atas Kroasia dan membawa tim melaju ke partai final.

Setelah menjuarai Piala Dunia bersama Prancis, karirnya kian melejit. Thuram bergabung dengan Juventus pada tahun 2001 dan meraih dua scudetto bersama Si Nyonya Tua. Sebelum akhirnya pensiun bersama Barcelona pada tahun 2008. 

Setelah pensiun, Thuram aktif sebagai aktivis sosial dan memperjuangkan kesetaraan melalui yayasannya, Lilian Thuram Foundation. Selain itu, Thuram juga membesarkan dua anak laki-lakinya yang kini juga menjadi pesepakbola profesional, Marcus Thuram dan Khéphren Thuram-Ulien. Khusus Marcus, ia bahkan tergabung dalam skuad Prancis di Piala Dunia 2022.

Laurent Blanc

Meski tak bermain di partai final karena skorsing kartu merah, kontribusi Laurent Blanc di Piala Dunia 1998 tak bisa dikesampingkan. Mantan bek Inter Milan itu layak menjadi pembicaraan karena ikut berperan vital mengantar Les Bleus menjadi kampiun Piala Dunia 1998.

Laurent Blanc jadi pemimpin lini belakang Timnas Prancis. Dia juga menjadi sosok yang klop dengan penjaga gawang Prancis, Fabien Barthez. Bahkan, keduanya memiliki ritual khusus sebelum laga. Ia selalu mencium kepala plontos Barthez sebelum peluit kick off dibunyikan. 

Ritual itu terus dilakukan hingga mereka bermain bersama di Manchester United pada awal 2000-an. Setelah Blanc pensiun bersama United, ia tetap bergelut di dunia sepakbola, namun sebagai pelatih. Klub pertamanya adalah Bordeaux pada tahun 2007. Ia juga sempat melatih Timnas Prancis dari 2010 hingga 2012. Dan di tahun 2022, ia dikontrak dua tahun oleh klub Prancis, Lyon.

Frank Leboeuf

Selain Thuram, ada Frank Leboeuf. Pemain yang juga berkepala plontos ini menjadi salah satu bek paling berpengaruh dalam perjalanan Les Blues meraih kesuksesan di Piala Dunia 1998.

Mantan punggawa Chelsea tersebut menggantikan Blanc di partai final. Ditugaskan untuk menjaga Ronaldo Nazario, Leboeuf bersinar, Ronaldo tak berkutik. El Fenomeno auto dikantongi oleh seorang bek pengganti.

Setelah menjuarai Piala Dunia 1998 bersama Prancis, perjalanan karir Leboeuf tak begitu spesial. Ia kembali ke liga Prancis dan bermain untuk Marseille. Ia bahkan sempat bermain di Qatar bersama Al-Sadd dan pensiun di Amerika Serikat bersama Hollywood United.

Labeouf jadi salah satu generasi emas Prancis dengan perjalanan karir yang unik, mengingat ia memilih untuk terjun ke dunia akting begitu ia pensiun. Menurut BBC, Leboeuf, jadi orang pertama yang memenangkan Piala Dunia dan berperan dalam film biografi Stephen Hawking, The Theory of Everything yang dinominasikan untuk Best Picture di penghargaan Oscar.

Patrick Vieira

1998 jadi kali pertama Patrick Vieira manggung di ajang internasional sebesar Piala Dunia. Usianya kala itu baru 22 tahun. Jadi wajar apabila ia bukan pilihan utama Aime Jacquet. Meski demikian, peran cameonya di final tetap vital bagi Prancis.

Vieira berperan dalam satu gol di kemenangan 3-0 Prancis atas Brazil. Meski hanya bermain 15 menit, mantan pemain Manchester City itu berhasil mengirimkan umpan kepada Emmanuel Petit yang mencetak gol ketiga di menit ke-90.

Setelah menjadi juara dunia bersama Prancis, karirnya semakin oke. Bersama Arsenal, ia dianggap sebagai legenda. Menjuarai beberapa trofi bergengsi dan pensiun pada tahun 2011 bersama Manchester City. Setelah pensiun, Vieira tetap berkecimpung di dunia sepakbola. Namun kali ini sebagai seorang pelatih.

Ia memulai karir kepelatihannya sebagai pelatih tim muda Manchester City pada tahun 2013 hingga 2015. Ia juga sempat melatih OGC Nice dan sejak 2021, ia tercatat sebagai pelatih Crystal Palace hingga sekarang.

Didier Deschamp

Selanjutnya ada Didier Deschamp. Bermain sebagai gelandang bertahan, posisi Deschamp hampir tak tergantikan. Ia juga dipercaya oleh sang pelatih untuk mengemban ban kapten di skuad Timnas Prancis di Piala Dunia 2018.

Deschamp bermain di Piala Dunia dengan sangat baik, setelah mencapai puncak performa bersama Juventus. Di Italia, ia meraih beberapa trofi bergengsi termasuk tiga trofi Serie A dan satu trofi Liga Champions musim 1995/96. Kesuksesan itu ia tularkan di Piala Dunia 1998. Ia menjadi kapten Prancis yang mengangkat trofi emas itu di akhir kompetisi.

Setelah pensiun, Didier Deschamp menekuni dunia kepelatihan. Barangkali yang tersukses adalah saat ia melatih Timnas Prancis. Deschamps menjadi sosok pertama yang berhasil mengangkat Piala Dunia sebagai pemain dan pelatih setelah Franz Beckenbauer. Ia menjuarai Piala Dunia sebagai pelatih tahun 2018 kemarin. Dan kini ia kembali memimpin Prancis di Piala Dunia 2022.

Zinedine Zidane

Dua tandukan Zinedine Zidane ke gawang Claudio Taffarel mewarnai kemenangan Prancis 3-0 atas Brazil di partai puncak Piala Dunia 1998. Zidane berhasil mengantarkan skuad Ayam Jantan berjaya di depan publik sendiri.

Performa menawan Zidane di Piala Dunia 1998 sampai dibandingkan dengan legenda Prancis, Michel Platini. Maklum saja, keduanya sama-sama memainkan peran sebagai pemain nomor “10” di Timnas Prancis.

Zidane barangkali memiliki karir paling mentereng daripada yang lain. Bergabung dengan proyek Los Galacticos Real Madrid, dan memenangkan belasan trofi bergengsi termasuk penghargaan Ballon d’Or pada tahun 1998. 

Setelah pensiun pada tahun 2006, ia menjajal dunia kepelatihan. Memulai karir dari tim muda Madrid, ia meraih sukses ketika dipromosikan menjadi pelatih kepala pada tahun 2016. Ia meraih hattrick Liga Champions dan penghargaan pelatih terbaik dunia sebanyak dua kali. Namun kini ia mengambil cuti. Kabarnya, ia hanya ingin melatih timnas Prancis suatu saat nanti.

https://youtu.be/pVwPgYuYn_I

Sumber: Goal, Voi, FIFA, Planetfootball, Thesefootballtimes