Siapa bilang di setiap penyelenggaraan Piala Dunia selalu berjalan mulus dan adem ayem. Tentu pro dan kontra pasti selalu menyelimuti di setiap hajatan empat tahunan tersebut. Tak hanya di Qatar, di penyelenggaraan Piala Dunia beberapa tahun ke belakang juga tak lepas dari aksi protes. Nah, berikut Starting Eleven merangkum beberapa kejadian aksi protes yang mewarnai Piala Dunia dari masa ke masa.
Daftar Isi
Piala Dunia 2002
Di tahun 2002, Asia akhirnya menjadi tuan rumah Piala Dunia untuk pertama kalinya. Korea dan Jepang adalah dua negara Asia yang beruntung bisa memenangkan tender sebagai “yang punya hajat”. Namun, siapa sangka di balik suksesnya Piala Dunia 2002, ada cerita perselisihan dalam proses penunjukan kedua negara tersebut sebagai tuan rumah gabungan.
Shadow of 2002 hangs over Japan and South Korea, as sides taste World Cup success https://t.co/grTjjj3QxM
— South China Morning Post (@SCMPNews) December 4, 2022
Semuanya dimulai ketika Jepang dan Korea berlomba mengajukan diri sebagai tuan rumah. Jepang yang merasa maju dalam hal teknologi dan sumber daya optimis negaranya terpilih. Korea Selatan yang juga tak mau kalah, menyindir Jepang yang tak punya prestasi mentereng dibanding negaranya dalam hal sepakbola.
Perselisihan itu pun saling berbalas hingga akhirnya sampailah pada kesepakatan FIFA yang setuju kedua negara tersebut menjadi tuan rumah bersama. Namun, permasalahan kembali terjadi. Korea minta namanya didahulukan dalam tagline Piala Dunia 2002. Sedangkan FIFA sudah setuju Jepang jadi nama pertama dalam tagline tersebut, karena sesuai urutan abjad nama depan negara.
Polemik itu pun sampai menjalar ke aksi protes. Demonstran Korea pun ikut turun tangan. Di luar kedutaan Jepang di Seoul, para penggila bola Korea lancarkan aksi protes. Bahwa Jepang harus dicabut haknya sebagai tuan rumah, kecuali tulisan Korea berada di depan Jepang. Akhirnya FIFA dan Jepang pun luluh, dan FIFA menyepakati bahwa namanya sah menjadi Piala Dunia 2002 Korea-Jepang.
Seoul Plaza during the 2002 World Cup pic.twitter.com/B1PsJQjVAH
— Andy Bodfish (@AndyBodfish) January 26, 2022
Piala Dunia 2006
Di Piala Dunia 2006 yang dihelat di Jerman aksi protes pun banyak terjadi. Di antaranya adalah aksi protes terhadap kelompok ekstrem kanan Jerman yang mendukung kampanye anti orang asing. Kita tahu di Jerman ada kelompok ekstrem kanan yang mempunyai partai di parlemen Jerman, yakni partai NPD.
I.R propadandist speaks abaut Iranian support by AFD party. If AfD is an extreme right-wing party, NPD is a real neo-Nazi party, that opposes Germany support for Israeli policies and agree on the Islamic Republic,which is opposed to the Israel.#iranTruth#IranRegimeChange https://t.co/yz7y20Mzrm pic.twitter.com/gKiFw7cFuY
— Mira ✌ (@Mira63330096) January 21, 2020
Awal masalah dari protes itu adalah reaksi atas demonstrasi 200 anggota partai ekstrem kanan NPD. Mereka demo dengan mengenakan atribut negara Iran untuk mendukung Presiden Iran waktu itu, Ahmadinejad.
IRAN fan at Germany World Cup 2006
by Stuart Roy Clarke pic.twitter.com/V0cqO9bWlY— homesoffootball 💙 (@HOMESofFOOTBALL) January 26, 2017
Dalam aksi protes yang akhirnya dibubarkan oleh polisi setempat itu, dibalas oleh ratusan orang yang berkumpul di Kota Nurnberg untuk memprotes pemimpin Iran menjelang pertandingan Piala Dunia antara Iran vs Meksiko.
Para pengunjuk rasa yang termasuk komunitas Yahudi lokal dan kelompok pengasingan Iran, mengecam Presiden Ahmadinejad yang dianggap telah menghancurkan Iran. Nah, dalam aksi tandingan tersebut, pemerintah Jerman turut ikut campur.
Ketua parlemen Jerman saat itu, Norbert Lammert mengimbau demonstran untuk memberikan sikap yang jelas mengenai kelompok ekstrem kanan. Ia menekankan, dalam Piala Dunia, Jerman akan tampil sebagai negara dengan wajah yang ramah dan terbuka bagi dunia luar. Sementara itu, partai NPD dituduh sengaja ingin menyalahgunakan Piala Dunia sebagai alat untuk menyebarkan ide anti orang asing.
Piala Dunia 2010
Pada perhelatan Piala Dunia 2010 yang pertama kali diselenggarakan di Benua Afrika, juga tak luput dari gelombang aksi protes. Kali ini aksi protes tersebut datang dari pekerja penjaga stadion. Di mana Afrika Selatan lewat perusahaan yang bernama Stallion banyak mempekerjakan sipil sebagai pasukan tambahan pengamanan stadion selain aparat.
Ribuan penjaga yang ditugaskan untuk memastikan keamanan di stadion kemudian protes dan melakukan pemogokan di Johannesburg, Durban, dan, Cape Town beberapa jam sebelum kick-off pertandingan Piala Dunia, dengan alasan perselisihan upah.
Para penjaga stadion tersebut mengatakan kepada BBC bahwa mereka sering bekerja dalam shift yang lebih. Dan mereka marah sekaligus menuduh perusahaan melakukan eksploitasi.
Para penjaga itu awalnya mengatakan bahwa mereka dijanjikan upah 194 dollar per shift, ketika menandatangani kontrak dengan perusahaan tersebut. Namun sebaliknya, mereka mengatakan hanya menerima 24 dollar per shift.
Mengetahui hal itu, pengurus perusahaan tersebut menolak mengomentarinya. Mereka tak peduli. Maka dari itu, beberapa aksi pun terjadi di jalanan. Para pekerja penjaga stadion berkumpul sekitar ribuan orang melampiaskan kemarahan mereka atas hal ini. Bentrokan dengan polisi anti huru-hara pun terjadi.
#OtD 13 Jun 2010 match stewards at the World Cup in South Africa walked out on strike over being underpaid by almost 90%. Police attacked them with tear gas, rubber bullets, and percussion grenades. Here’s our article on the event: https://t.co/hIp7lEC9fb pic.twitter.com/1HPf2vITJR
— Working Class History (@wrkclasshistory) June 13, 2021
Piala Dunia 2014
Bentrokan dalam aksi protes pun terjadi dalam skala yang cukup masif menjelang Piala Dunia 2014 Brasil. Demo anarkis di beberapa kota seperti Rio De Janeiro, Brasília, maupun São Paulo menjadi cerita kelam bagi ajang empat tahunan tersebut.
Aksi protes tersebut akar masalahnya klasik, yakni ketidakadilan. Di mana pengunjuk rasa melihat pemerintah lebih memilih menghambur-hamburkan banyak uang untuk hajatan yang hanya sebulan, ketimbang memperhatikan kondisi sekitar masyarakat Brasil yang sedang krisis terutama dalam masalah kemiskinan maupun kesehatan.
Aksi turun ke jalan pun terjadi. Bentrok dengan polisi anti huru-hara pun tak terhindarkan. Bahkan aparat sampai melepaskan gas air mata. Aksi-aksi Vandalisme pun banyak mewarnai aksi protes ini.
Riot police break up a demonstration against the 2014 World Cup at a gas station in #SaoPaulo, Jun12 pic.twitter.com/TcuAa4gpVy
— Hans Solo (@thandojo) June 13, 2014
Akibatnya, banyak para demonstran yang ditangkap pihak keamanan. Tercatat total lebih dari 128 orang ditangkap dalam kejadian ini di beberapa kota. Akibat dari keosnya situasi tersebut, akhirnya Presiden Brasil saat itu, Dilma Rousseff berjanji untuk menginvestasikan 25 miliar dollar untuk kerugian transportasi dan fasilitas umum, maupun tuntutan tertulis dari para demonstran.
Piala Dunia 2018
Pemandangan unik yang sering dikenal sebagai “Pitch Invader” terjadi di partai final Piala Dunia 2018 di Rusia. Bagaimana empat orang anggota kelompok Pussy Riot berlari ke tengah lapangan dengan menggunakan seragam keamanan Rusia.
Russian punk rockers Pussy Riot claim responsibility for dramatic on-field protest during World Cup 2018 final. https://t.co/xH344Z4z00 pic.twitter.com/nB7d9y59K1
— ABC News (@ABC) July 16, 2018
Untuk yang belum tau, Pussy Riot itu adalah sebuah gerakan kelompok seni pertunjukan yang protes pada aksi feminis Rusia dengan balutan musik punk rock yang provokatif. Mereka yang beranggotakan beberapa wanita itu juga termasuk gerakan penentang kebijakan Presiden Putin.
Dikatakan kepada BBC, keempat orang yang masuk stadion tersebut murni sebagai bentuk aksi protes ketika seni pertunjukan dipakai oleh Putin untuk lahirnya pelanggaran hak asasi manusia di Rusia. Akibat ulah keempat orang tersebut, akhirnya pihak keamanan menahan keempatnya selama 15 hari untuk dimintai keterangan secara lengkap.
Piala Dunia 2022
Sampailah pada Piala Dunia Qatar 2022. Piala Dunia yang penuh dengan gelombang aksi protes dan kontroversi. Dari mulai aksi protes tentang kematian beberapa buruh migran di Qatar, aksi para pendukung Iran, maupun aksi mendukung LGBT.
Germany were surprisingly eliminated from the competition at the first hurdle. Their players covered their mouths during their team photo ahead of their shock loss to Japan after they backed down from wearing the OneLove anti-discrimination armband.https://t.co/CSr4OTlh96
— The Athletic | Football (@TheAthleticFC) December 4, 2022
Beberapa pekerja migran di Qatar yang terbukti meninggal akibat Piala Dunia Qatar disorot serius dunia internasional. Beberapa negara serta aktivis yang konsen terhadap hak asasi manusia pun serius menentang masalah ini. Salah satunya Jerman. Jerman yang sangat vokal dalam hal ini sering berkampanye dengan slogan Human Rights.
Begitupun dengan isu LGBT yang dipermasalahkan Qatar. Timnas Inggris, Jerman, Denmark, Belgia, Belanda maupun Wales yang ingin protes dengan menggunakan ban kapten “One Love” akhirnya dikecam dan dilarang FIFA.
Tomorrow, England captain Harry Kane plans to stand with the LGBTQ community by wearing a ‘One Love’ arm band — even if FIFA prohibits it.
Other captains joining Kane:
🇫🇷 France
🇩🇪 Germany
🇧🇪 Belgium
🇩🇰 Denmark
🇨🇭 Switzerland
🏴 Wales
🇳🇱 The Netherlands pic.twitter.com/DJIsT1BR5u— Front Office Sports (@FOS) November 20, 2022
Aksi protes lain juga terjadi ketika pendukung Iran memprotes tentang kematian seorang wanita, Mahsa Amini yang meninggal hanya karena jilbabnya terlalu longgar. Protes tersebut dilakukan di luar maupun di dalam stadion oleh pendukung Iran yang konsen terhadap isu keadilan di negaranya tersebut.
Iranian fans bring recent protests against their nation’s government to the World Cup.
Protests against Iran’s mullah regime broke out after the death of Mahsa Amini, who died in September after being arrested by morality police for not wearing a hijab. #ENGIRN pic.twitter.com/4ggJiU3jDI
— DW Sports (@dw_sports) November 21, 2022
https://youtu.be/lHviIM-ulnQ
Sumber Referensi : theguardian, bbc, bbc, bbc, en.as


