Beranda blog Halaman 406

Hitung Mundur Kehancuran Karier Paul Pogba

0

Entah dosa apa yang diperbuat Paul Pogba sehingga tak kunjung bermain di Juventus. Semenjak musim bergulir, Pogba belum menjalani debutnya di Juventus. Terakhir hanya di laga pra-musim. Padahal Pogba adalah pemain yang luar biasa.

Di mana ia berpijak, di situ sebuah tim pasti akan memiliki trofi. Bahkan di Timnas Prancis pun demikian. Ketika Pogba bermain, Les Bleus meraih trofi Piala Dunia. Di level klub saat membela Juventus maupun Manchester United, Pogba telah memberikan sumbangsih trofi yang tak sedikit.

Namun, belakangan ini Pogba seolah hilang dari belantika sepak bola Eropa. Ia terlalu lama menepi. Hal itu bahkan membuat Pogba pada gilirannya tinggal menunggu waktu saja kehilangan kariernya.

Kasus Pogmentary

Tiada maksud untuk mendoakan Paul Pogba supaya mengalami kehancuran karier yang signifikan. Tapi melihat sepak terjang pemain Prancis itu memang mengarah ke sana. Pogba beberapa kali terlibat masalah. Kalau bukan terseret orang lain, ia sendiri yang menciptakan masalah.

Masih ingat dengan kasus film dokumenter The Pogmentary? Film dokumenter yang sejatinya lebih cocok kita sebut serial itu lebih banyak berisi pernyataan Paul Pogba dan agennya, eh tidak, mantan agennya, Mino Raiola. Serta Rafaela Pimenta, pengacara sekaligus agen baru Pogba.

Memang tidak baik membicarakan seseorang yang telah meninggal dunia. Namun, dalam kasus The Pogmentary, Mino Raiola juga berperan. Obrolan Pogba bersama agennya dalam serial itu menimbulkan kontroversi. Pogba memang menceritakan masa-masa indahnya di Manchester United.

Akan tetapi, pernyataan-pernyataan yang muncul di setiap segmen film, yang ternyata lebih banyak daripada video Pogba bermain bola itu, justru menyudutkan Manchester United. Pogba merasa sudah menaruh hatinya pada United, tapi klub tak peduli padanya.

Pogba menilai United tidak serius menangani kontraknya. Pemain kelahiran Lagny-sur-Marne, Prancis juga menyebut United tak memperlihatkan simpati ketika sang pemain menderita cedera. Sontak hal itu menimbulkan reaksi negatif dari banyak orang.

The Pogmentary, alih-alih bersikap netral justru memihak pada Pogba. United dalam hal ini seperti diserang oleh Pogba. Mantan striker Leeds, Noel Whelan mengkritik kesombongannya itu dalam The Pgmentary. Seorang jurnalis dari Inggris, Tyrone Marshall juga mengatakan The Pogmentary adalah film yang buruk.

Kasus Pemerasan dengan Kakaknya

Omongannya di The Pogmentary menyeret Pogba ke hubungan yang makin renggang dengan Manchester United. Sampai ia pun akhirnya hengkang ke Juventus. Namun, masalah Paul Pogba bukan hanya itu. Sebagaimana namanya, Paul Labile Pogba, penampilannya juga labil selama masa-masa akhir di MU.

Masalah lainnya, Pogba terlibat kasus pemerasan yang ironi. Sebab pelaku pemerasan tiada lain adalah kakak kandungnya sendiri. Kakak yang selama ini melindungi Pogba justru bertindak di luar dugaan.

Kakak Pogba, Mathias yang ternyata berkomplot dengan kelompok kejahatan terorganisir mencoba memeras Paul Pogba. Mathias beserta kelompoknya mengancam akan menyebarkan sesuatu yang negatif tentang Pogba. Mereka mengatakan ada banyak hal yang tidak diketahui orang tentang bintang Juventus, termasuk tentu saja yang bernada negatif.

Salah satunya Mathias menuding Pogba memakai guna-guna untuk mencelakai Kylian Mbappe. Belakangan diketahui motif sang kakak melakukan pemerasan karena Pogba tidak menyokongnya dengan finansial. Kelompok Mathias menginginkan uang 11 juta poundsterling (Rp190 miliar) dan itu diabaikan Pogba.

Pogba Mengaku Menggunakan Dukun

Kasus itu lambat laun lenyap. Namun, Paul Pogba yang barangkali dalam agamanya sudah diajarkan agar selalu berprasangka baik mengatakan, bahwa kakaknya mungkin saja melakukan itu karena tekanan dari gangster. Di sisi lain, Pogba juga tidak menampik memakai jasa dukun.

Melansir laporan Marca, Pogba mengaku memang menggunakan jasa juru mantra. Namun bukan untuk mencelakai Kylian Mbappe, melainkan untuk membantu asosiasi kemanusiaan. Tak usah bertanya, asosiasi kemanusiaan kok lewat dukun? Itu urusan Pogba, kita yang keponakannya saja bukan, tak perlu tahu lebih jauh.

Dalam laporan itu, Pogba juga sudah dua kali mengganti nomor untuk menghindari sang pemeras. Tapi gagal dan akhirnya menyerahkan uang 98 ribu euro (Rp1,6 miliar) ke pemeras. Malangnya masalah Pogba tidak berhenti sampai di situ.

Cedera dan Tak Ikut Piala Dunia 2022

Jelang Piala Dunia 2022, Pogba menderita cedera meniskus serius pada akhir Juli 2022. Ia sempat mengira cederanya itu bukan masalah. Paling-paling cuma butuh waktu sebentar untuk memulihkannya. Pogba merasa menjalani terapi dasar saja sudah cukup.

Ia bertekad untuk tampil di Piala Dunia 2022 yang bergulir di penghujung tahun. Namun lututnya tak merespons. Cedera Pogba makin fatal. Apalagi sang pemain sempat menolak untuk melakukan operasi. Bisa jadi Pogba memang penganut tawakal garis keras.

Padahal jalur operasi merupakan ikhtiar supaya Pogba bisa pulih seperti sedia kala. Wakil Presiden Juventus, Pavel Nedved berkata demikian. Menurut Nedved, pihak Juve sudah menyarankan Pogba untuk masuk meja operasi. Tapi pihak Bianconeri gagal meyakinkannya. Pogba pun harus melewatkan Piala Dunia.

“Kami ingin ia (Pogba) menjalani operasi. Tapi ia memilih terapi konservatif. Cederanya kambuh lagi dan akhirnya mau dioperasi,” kata Pavel Nedved dikutip 90Min.

Cedera Lagi!

Setelah berbulan-bulan diterpa cedera, Pogba bisa kembali ke latihan Juventus pada Januari 2023 lalu. Ia mengikuti pemanasan sebelum pertandingan melawan AC Monza di Serie A. Namun dasar untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, saat sesi latihan Pogba melambaikan tangan.

Ia menyerah. Bukan karena melihat sosok genderuwo, melainkan kakinya kembali bermasalah pada sesi latihan itu. Paul Pogba mengalami cedera fleksor. Ia terpaksa mengubur dalam-dalam hasratnya untuk debut dan masuk skuad Juventus untuk Liga Eropa.

Massimiliano Allegri pun harus menambah stok puyernya karena Pogba cedera lagi. Allegri tak bisa sembarangan menurunkannya. Ia tak mau mengambil resiko dengan memainkan Paul Pogba.

Bagaimanapun sang pemain mestilah pulih betul terlebih dahulu. Dengan kata lain, Pogba masih belum bermain untuk Juventus. Terakhir Pogba hanya bermain di laga pramusim kala Juventus menghadapi tim Meksiko, Guadalajara.

Ancaman Putus Kontrak dari Juventus

Sudah jatuh tertimpa besi cor. Pogba yang tengah menghadapi ketidakpastian soal cederanya juga harus menghadapi ketidakpastian lain. Juventus yang geram lantaran Pogba tak kunjung tersedia mulai berpikir untuk menyingkirkannya.

Dilansir La Gazzetta dello Sport seperti dikutip Sportbible, pihak La Vecchia Signora mulai jengah dengan cedera kambuhan Pogba. Juventus pun membuka opsi untuk menjual sang pemain. Walaupun Pogba masih terikat kontrak hingga 2026 mendatang.

Tidak sampai di situ. Pihak Juventus juga tak segan untuk memutus kontrak Paul Pogba. Bianconeri sepertinya tak mau lama-lama memelihara pemain yang gampang cedera itu. Meski belakangan ia dikabarkan membaik.

Namun itu tidak menutup kemungkinan Juventus masih ingin menjualnya. Dan kalau itu terjadi, Juve nggak rugi-rugi amat. Toh Juventus juga mendatangkan Pogba secara gratis. Nah, apakah mungkin ini adalah pertanda paling nyata karier Paul Pogba akan segera hancur?

https://youtu.be/2VoeYHdjOr0

Sumber: 90Min, BlackWhiteReadAllOver, Goal, Mirror, TheAthletic, Marca, Mainstand, Sportbible

Prahara di Everton: Janji Manis Moshiri yang Berujung Ancaman Degradasi

0

Jangan terlena dengan mulut manis atasan yang berucap “kita adalah keluarga”. Biasanya, yang terjadi kemudian adalah sebaliknya. Alih-alih lingkungan yang damai sentosa, yang tercipta justru lingkungan yang toxic. Dalam dunia sepak bola, fenomena itu kini tengah terjadi di Everton.

Everton adalah klub bersejarah. Mereka telah memenangkan 9 gelar liga, 5 Piala FA, satu Piala Winners, dan 9 Charity Shield. The Toffees adalah klub dengan kehadiran terbanyak di Liga Inggris. 120 musim sudah mereka habiskan di kasta teratas. Hanya 4 kali mereka absen dari divisi utama. Ini adalah sebuah prestasi yang dibangga-banggakan Evertonian.

Sayangnya, kebanggan itu bisa hancur di tahun ini. Musim ini, Everton tengah terancam terdegradasi dari Premier League. Dan kejatuhan Everton ini dimulai dari pernyataan sang pemilik, Farhad Moshiri.

“Ini adalah klub yang hebat dan saya ingin menjadi bagian dari klub ini. Bagi saya, saya masuk ke dalam sebuah keluarga baru dan itulah yang spesial bagi saya. Saya memberikan apa pun yang saya miliki kepada mereka,” kata Farhad Moshiri, dikutip dari The Guardian.

Investasi Tanpa Hasil Farhad Moshiri

Farhad Moshiri bukanlah sosok asing di industri sepak bola. Sebelum mengakuisisi saham Everton, ia adalah salah satu pemegang saham di Arsenal. Pada Februari 2016, miliarder asal Iran itu menjual sahamnya di Arsenal dan membeli 49,9% saham Everton senilai 85 juta pounds.

Moshiri memang sempat memberi Evertonian harapan. Kekayaan Moshiri kala itu mencapai 1,8 miliar dolar AS dan tahun ini kekayaannya telah menyentuh angka 2,9 miliar dolar AS. Maka tak heran bila kemudian The Toffees mendadak kaya.

Investasi besar pun disuntikkan Farhad Moshiri. Dimulai dengan perekrutan Steve Walsh sebagai direktur sepak bola di musim panas 2016. Walsh adalah sosok yang bertanggung jawab mendaratkan Riyad Mahrez, Jamie Vardy, dan N’Golo Kanté ke Leicester City.

Pada musim panas 2018, posisi Steve Walsh digantikan oleh Marcel Brands. Sebelumnya, Brands bekerja di PSV selama 8 tahun dan selama masa itu, PSV sukses memenangkan 10 trofi domestik termasuk 3 trofi Eredivisie.

Kehadiran Director of Football kelas dunia juga dibarengi dengan hadirnya pelatih-pelatih beken. Ronald Koeman, Sam Allardyce, Marco Silva, Carlo Ancelotti, Rafael Benitez, hingga Frank Lampard direkrut guna menaikkan taraf prestasi klub.

Dana besar Moshiri juga membuat aktvitas transfer Everton bergeliat. Andre Gomes, Yerry Mina, Theo Walcott, Richarlison, dan James Rodriguez adalah beberapa rekrutan Everton di era Farhad Moshiri. Menurut Transfermarkt, The Toffees telah menghabiskan tak kurang dari 561,88 juta pounds untuk merekrut pemain baru sejak Moshiri bergabung pada Februari 2016.

Sayangnya, investasi masif tersebut gagal memberi hasil sesuai harapan. Nasib Everton di kancah persepakbolaan Inggris tak berubah. Malahan, prestasi mereka makin merosot.

Everton Terancam Degradasi, Frank Lampard Dipecat

Sejak diakusisi Farhad Moshiri, prestasi Everton malah cenderung menurun. Setelah finish di urutan ke-7 pada musim 2016/2017, di musim berikutnya Everton secara berutut-turut finish di peringkat 8, 8, 12, 10, 16, dan puncaknya berada di zona degradasi di musim 2022/2023.

Musim ini memang yang terburuk. Sejak pekan ke-19, The Toffees sudah jatuh ke zona degradasi. Hanya sanggup mengumpulkan 15 poin dari 20 pertandingan membuat Everton duduk di peringkat ke-19. Capaian yang membuat Frank Lampard kehilangan pekerjaannya.

Imbas dari performa buruk tersebut juga membuat para pendukung Everton geram. Gelombang protes pun terjadi. Salah satunya ketika Everton kandas 2-1 dari Southampton.

Pasca pertandingan, Yerry Mina terekam tengah terlibat pembicaraan dengan fans yang marah. Sementara mobil Anthony Gordon dihadang dan dikepung para penggemar.

Sebelumnya, ketua Bill Kenwright, kepala eksekutif Denise Barrett-Baxendale, direktur keuangan Grant Ingles dan direktur non-eksekutif Graeme Sharp diberitakan tidak akan menghadiri pertandingan setelah mendapat ancaman pasca Everton kalah 4-1 dari Brighton.

Sementara itu, 17 kelompok penggemar menerbitkan sebuah surat terbuka kepada Farhad Moshiri dan mendesaknya untuk melakukan perubahan besar-besaran di tingkat pimpinan, dewan dan eksekutif untuk menyelamatkan klub dari kemunduran. Di sisi lain, Asosiasi Pemegang Saham Everton meluncurkan petisi online yang menyerukan mosi tidak percaya kepada dewan direksi.

Bisa dibilang kalau musim ini jadi titik terendah Everton. Dalam sejarahnya, Everton tak pernah mengalami situasi yang seburuk saat ini. Selain posisi mereka yang menggenaskan, ancaman degradasi datang di waktu yang paling buruk.

Krisis Finansial di Goodison Park

Dr. Rob Wilson, pakar keuangan dari Sheffield Hallam University adalah sosok yang mengatakan demikian. Menurutnya, Everton bisa kehilangan pendapatan hingga 80 juta pounds jika turun kasta ke Championship.

Permasalahannya, ini terjadi saat klub mengalami krisis finansial. Dan krisis ini bermula dari keserampangan Farhad Moshiri membelanjakan uang.

Everton yang dulu mendioker dan mendadak kaya, banyak membeli pemain mahal secara sembrono. Bukan hanya soal harga belinya, tetapi gaji selangit yang mereka bayarkan. Tagihan gaji inilah yang membuat memberatkan kantong Everton.

Di musim 2019/2020, tagihan gaji Everton mencapai 165 juta pounds atau sekitar 89% dari total pendapatan. Sebuah angka yang sangat tidak sehat. Alhasil, ketika pandemi membuat industri tiarap, Everton jadi salah satu tim yang paling merugi.

67 juta pounds jadi angka kerugian yang dilaporkan Everton akibat pandemi Covid-19. Beruntung, Farhad Moshiri meningkatkan kepemilikannya menjadi 94% usai mengubah pinjaman senilai 100 juta pounds menjadi ekuitas pada Januari 2022. Akuisisi tersebut sedikit memperbaiki neraca keuangan Everton.

Akan tetapi, alarm bahaya masih berbunyi. Per Maret 2022, Everton membukukan kerugian lebih dari 120 juta pounds dengan total kerugian selama 3 tahun mencapai lebih dari 370 juta pounds. Angka kerugian ini sudah melewati ambang batas financial fair play Premier League.

Kerugian itu belum termasuk investasi besar yang mereka pakai untuk mengembangkan tim sepak bola wanita, akademi, dan stadion baru di Bramley-Moore Dock. Situasi inilah yang kemudian memaksa Everton mengencangkan ikat pinggang mereka.

Menjual pemain bergaji mahal seperti Bernard, James Rodriguez, Lucas Digne, dan Richarlison jadi jalan keluarnya. Beberapa pemain yang tergolong investasi gagal juga dilepas.

Kondisi finansial ini pula yang membuat mereka tak kuasa menahan Anthony Gordon yang ingin hengkang. Usaha yang telah mereka lakukan dalam beberapa musim terakhir itu telah sukses memangkas tagihan gaji. Namun, turunnya pendapatan sebesar 2% di tahun 2022, membuat rasio gaji/pendapatan Everton berada di angka 96%.

Ancaman Degradasi Masih Menghantui Everton

Ancaman degradasi juga belum sepenuhnya hilang dari Everton. Mereka masih berada di zona degradasi meski baru saja meraih kemenangan 1-0 atas Arsenal di laga debut Sean Dyche sebagai manajer baru.

Namun, hasil ini tak bisa dijadikan acuan. Sebab, Arsenal memang punya rekor buruk saat bertandang ke Goodison Park. Kekalahan ini membuat Arsenal tak pernah menang dalam 5 lawatan terakhirnya ke kandang Everton, di mana 4 laga di antaranya berakhir dengan kekalahan.

Selain itu, meski meraih kemenangan krusial atas pimpinan klasemen, gaya main yang diusung Sean Dyche sangat pragmatis. Dengan formasi 4-5-1, Everton banyak menunggu untuk melancarkan serangan balik dan memanfaatkan situasi bola mati.

Ketika sudah unggul, mereka akan men-delay permainan. Yang paling menjengkelkan, Sean Dyche menumpuk 9 hingga 11 pemainnya di dalam kotak penalti saat bertahan, khususnya saat terjadi situasi bola mati. Apakah permainan semacam ini yang ingin dinikmati Evertonian?

Jika demikian sungguhlah miris. Namun, bukankah para pendukung The Toffees tak punya pilihan lain? Di situasi genting seperti ini, bermain negatif agaknya lebih baik daripada turun kasta.

Sekali lagi, ancaman degradasi Everton datang di waktu terburuk. Saat ini, Everton juga berada di ambang pelanggaran aturan Financial Fair Play. Kombinasi ini merupakan pertanda dari sebuah klub yang dikelola dengan sangat buruk. Dan sosok toxic yang menyebabkan bencana ini adalah Farhad Moshiri.

Pengakuan Marcel Brands kepada De Telegraaf pada musim panas 2022 kemarin menunjukkan betapa toxic-nya Moshiri. Siapa sangka, penyebab Brands hengkang pada Desember 2021 adalah karena campur tangan sang pemilik yang menghabiskan uang secara sembrono untuk membeli pemain dan tanpa rencana jangka panjang. Brands juga mengaku selalu dibuat kesulitan membangun tim karena Moshiri yang hobi memecat pelatih dan bertindak serampangan sesuka hati.

Ternyata kejadian serupa sudah terjadi di era Steve Walsh. Andai Moshiri mau menuruti Steve Walsh, mungkin nasib Everton tak akan seburuk sekarang.

“Saat saya berada di Everton, saya menawarkan mereka kesepakatan Andrew Robertson dan Harry Maguire, saat mereka masih di Hull, dan itu bernilai 20 juta pounds untuk keduanya. Everton tidak mau menerima mereka,” kata Steve Walsh dikutip dari Evening Standard.

“Saya juga pernah membuat kesepakatan untuk Jonny Evans sebelum dia datang ke Leicester. Lalu, Erling Haaland, striker Salzburg, saya mendapatkan dia dengan kesepakatan 3,4 juta pounds. Tetapi, sekali lagi klub tidak mendukung saya.”

Kini semuanya jelas. Selama Farhad Moshiri masih enggan menjual saham mayoritasnya, Everton masih akan terus dinaungi lingkungan yang toxic.

Musim ini, Sean Dyche mungkin sanggup mengeluarkan Everton dari jeratan degradasi. Namun, seperti manajer-manajer sebelumnya, tidak ada yang tahu nasibnya di musim depan. Seperti halnya para pendukung Everton yang tak tahu mau di bawa ke mana arah tujuan klub kesayangan mereka.

https://youtu.be/OtimHx5QGvY

Referensi: The Guardian, Tifo, The Guardian, Goal, Forbes, Evening Standard.

Berita Bola Terbaru 5 Februari 2023 – Starting Eleven News

0

HASIL PERTANDINGAN

Dalam lanjutan pertandingan Liga Inggris, secara mengejutkan, Liverpool kalah dari Wolves dengan skor telak 3-0. Gol Wolves dicetak oleh gol bunuh diri Joel matip menit 5, Craig Dawson menit 12 dan Ruben Neves di menit 71. Hingga peluit panjang dibunyikan The Reds tak mampu membalas satu pun gol dari Wolves. Kemenangan ini membuat skuad asuhan Julen Lopetegui merangkak ke pringkat 15 klasmen sementara Liga Inggris.

Di sisi lain, Manchester United berhasil tampil konsisten ketika bermain di kandang sendiri. Semalam, United berhasil mengatasi perlawanan Crystal Palace dengan skor 2-1. Gol MU dicetak oleh Bruno Fernandes melalui titik putih menit 7 dan Marcus Rashford di menit 62. Palace hanya membalas satu gol lewat Jeffery Schlupp menit 76. Kemenangan ini membuat United naik ke urutan tiga klasemen sementara Liga Inggris.

Di pertandingan lain, Brentford berhasil mengalahkan Southampton dengan skor meyakinkan 3-0. Gol dicetak oleh Ben Mee menit 41, Bryan Mbeumo menit 44, dan Mathias Jensen menit 80. Hasil ini membuat The Bees merangkak ke peringkat tujuh klasemen sementara Premier League.

Sedangkan di laga lain, ada Newcastle United harus puas berbagi poin dengan West Ham United setelah laga berakhir dengan skor 1-1, dan Leicester City yang berhasil comeback dari Aston Villa. Sempat tertinggal oleh gol Ollie Watkins di menit 7, pasukan Brendan Rodgers berhasil membalikan keadaan menjadi 4-2.

Bergeser ke Serie A, AS Roma berhasil mengalahkan tamunya, Empoli dengan skor 2-0. Gol Roma dicetak oleh Roger Ibanez menit 2 dan Tammy Abraham menggandakan keunggulan empat menit berselang. Hasil positif ini membuat pasukan Jose Mourinho menembus peringkat tiga klasemen sementara Serie A.

Di laga lain, Sassuolo dengan mengejutkan berhasil mengalahkan Atalanta dengan skor 1-0. Gol semata wayang dicetak oleh Armand Lauriente menit 55. Hasil ini membuat Sassuolo naik ke peringkat 15, sedangkan Atalanta tertahan di urutan enam klasemen sementara.

Sementara di La Liga, Atletico Madrid ditahan imbang oleh Getafe 1-1. Sedangkan Celta Vigo berhasil mengalahkan sang tuan rumah, Real Betis dengan skor 3-4. 

CASEMIRO DAPAT KARTU MERAH PERTAMA DALAM KARIRNYA

Di laga Manchester United kontra Crystal Palace, United harus bermain dengan sepuluh pemain setelah Casemiro diganjar kartu merah menit 70. Dilansir Give Me Sport, Casemiro mendapat kartu merah setelah kedapatan mencekik leher pemain Crystal Palace, Will Hughes. Oleh karena itu, Casemiro bakal absen di tiga laga Premier League mendatang. Kabarnya, ini adalah straight red card pertama dalam karir Casemiro. 

ARSENAL KALAH DARI TIM PAPAN BAWAH

Hasil mengejutkan tersaji di Premier League akhir pekan in. Sang pemuncak klasemen, Arsenal justru takluk dari tim papan bawah, Everton. Dilansir Sky Sport, sempat bermain imbang tanpa gol di babak pertama, anak asuh Sean Dyche berhasil unggul di menit 60 melalui tandukan James Tarkowski. Kekalahan ini memberi kesempatan City untuk mengejar selisih poin dari Arsenal di laga kontra Spurs nanti malam.

SEBASTIAN HALLER CETAK GOL PERDANA SETELAH SEMBUH DARI KANKER

Setelah sembuh dari penyakit kankernya, Sebastian Haller akhirnya mencetak gol kompetitif pertamanya bersama Borussia Dortmund. Dilansir situs resmi Bundesliga, Haller mencetak satu gol dalam kemenangan 5-1 atas Freiburg. Ketika Haller berhasil mencetak gol, rekan-rekan satu tim pun ikut antusias merayakan gol tersebut. Mereka ikut senang atas kembalinya Haller ke lapangan.

BENEVENTO PECAT CANNAVARO

Tim Serie B Benevento dikabarkan telah resmi memecat pelatihnya, yakni Fabio Cannavaro. Dilansir Football Italia, setelah rangkaian kekalahan yang menyakitkan manajemen Benevento akhirnya sepakat untuk tidak melanjutkan kerjasama dengan legenda Timnas Italia tersebut. Meski baru menjabat pada awal musim, tiga kemenangan, tujuh imbang dan tujuh kekalahan dirasa menjadi hasil yang buruk bagi tim. Dengan kesepakatan bersama akhirnya Cannavaro pun dipecat.

USAI MENANG, AKUN MEDSOS WOLVES EJEK JURGEN KLOPP

Usai menang telak atas Liverpool, akun media sosial Wolverhampton menyindir keluhan Jurgen Klopp yang enggan mengakui gol ketiga Wolves. Menurut cuitan Kyle Bonn, Klopp merasa kalau gol ketiga yang dicetak oleh Ruben Neves tidak sah. Mendengar pernyataan itu, akun Twitter Wolves memposting skor akhir menjadi 2-0 bukan 3-0. Foto itu seakan-akan mengatakan apabila satu gol tidak dihitung pun Wolves tetaplah pemenangnya.

BOEHLY INGIN GANTI POTTER DENGAN HANSI FLICK?

Di laga Chelsea kontra Fulham kemarin, beberapa media menangkap gambar kehadiran Hansi Flick di Stamford Bridge. Ini pun menimbulkan isu kalau Todd Boehly sudah muak dengan Graham Potter dan akan menggantikannya dengan Flick. Dilansir Football London, melihat gambar itu tersebar di media sosial, Penggemar Chelsea memiliki teori liar bahwa Boehly bersiap untuk menggantikan Graham Potter dengan pelatih kepala tim nasional Jerman tersebut.

MILAN TANPA RAFAEL LEAO JELANG DERBY DELLA MADONNINA

Kabar mengejutkan hadir dari AC Milan. Jelang laga Derby della Madonnina kontra Inter Milan, Rossoneri dikabarkan tak akan menurunkan penyerang utamanya, Rafael Leao. Dilansir Football Italia, Stefano Pioli tak akan menurunkan Leao dari menit pertama. Ia akan memainkannya dari bangku cadangan. Pioli juga dikabarkan akan sedikit merubah komposisi pemain dan skema permainan jelang pertandingan tersebut.

ARSENAL DAN BAYERN JUGA INCAR ANSU FATI

Dengan keadaan Ansu Fati yang kesulitan menembus skuad utama Barcelona, Arsenal dan Bayern Munchen dikabarkan bersiap untuk memanfaatkan situasi itu untuk mendatangkan sang pemain. Dilansir Mundo Deportivo, beberapa klub top dari seluruh Eropa menunjukkan minat pada Ansu Fati. Arsenal dan Bayern kabarnya akan bergerak di musim panas mendatang.

MU SIAPKAN DANA BESAR UNTUK BOYONG VALVERDE

Meski sudah menghabiskan banyak uang di musim panas tahun 2022, Erik Ten Hag tampaknya belum puas dengan komposisi lini tengahnya saat ini. Dilansir Goal, Manchester United telah menyiapkan dana 72 juta pound atau Rp1,3 triliun untuk menebus Federico Valverde dari Real Madrid. Namun, United dikabarkan akan sulit mendapatkannya karena Madrid belum berniat menjual sang pemain.

BARU GABUNG NEWCASTLE, GORDON TERANCAM HUKUMAN PENJARA

Pemain anyar Newcastle, Anthony Gordon dikabarkan akan berurusan dengan pihak berwajib soal larangan mengemudi yang ia langgar. Dilansir The Sun, Gordon sebetulnya masih dalam masa hukuman dilarang mengendarai mobil. Tapi baru dua hari menjalani hukuman, ia sudah ketahuan kembali mengendarai kendaraan pribadinya itu di jalanan Inggris. Kabarnya melanggar larangan bisa dipenjara hingga enam bulan.

MILAN, BARCA, DAN ATLETICO MADRID SIAP TAMPUNG AUBAMEYANG

Situasi sulit menghantui Pierre-Emerick Aubameyang setelah dicoret dari skuad Liga Champions Chelsea. Kabarnya, ia pun menuntut klub untuk membiarkannya pergi saja. Dilansir Daily Mail, situasi sulit ini akan dimanfaatkan AC Milan, Barcelona dan Atletico Madrid. Kabarnya, ketiga tim tersebut siap menampung Auba apabila ia resmi meninggalkan The Blues.

CHELSEA KINI INCAR OSIMHEN

Setelah Manchester United mundur dari perebutan Victor Osimhen, kini Chelsea yang maju untuk mendapatkan tanda tangan bomber asal Nigeria tersebut. Mirror mewartakan bahwa, Chelsea tampak serius ingin mengejar Osimhen di musim panas nanti. Menurut laporan, Chelsea bahkan siap membayar berapapun untuk mengalahkan pesaing-pesaingnya demi mendapatkan sang pemain.

ISCO MERAPAT KE EVERTON?

Setelah gagal bergabung dengan Union Berlin karena ada beberapa persyaratan yang tak terpenuhi, Isco Alarcon kini dikabarkan tengah menunggu pinangan dari klub Liga Inggris. Dilansir Goodison News, karena Isco berstatus bebas transfer, ia bisa melakukan negosiasi dengan klub manapun. Dan kini, mantan punggawa Real Madrid tersebut tengah menanti proposal dari Everton. Sean Dyche dikabarkan secara terbuka berminat menggunakan jasanya.

POTTER KEPEDEAN CHELSEA BAKAL FINIS EMPAT BESAR

Pelatih Chelsea Graham Potter tetap optimis The Blues bakal finis di posisi yang lebih baik lagi. Saat ini Chelsea tengah tertahan di papan tengah klasemen Liga Inggris dengan 30 poin dari 21 pertandingan. Ketika ditanya apakah Potter yakin timnya masih bisa lolos ke Liga Champions musim depan, Potter berkata, “Saya yakin dengan potensi yang kami miliki. Saya yakin dengan kemampuan yang kami miliki di dalam grup.”

RESMI, GIGNAC AKAN MENGAKHIRI KARIR DI TIGRES

Andre Pierre Gignac telah menandatangani kontrak baru berdurasi dua tahun dengan Tigres dan akan mengakhiri karirnya di klub tersebut. Pemain Prancis itu mengumumkan niatnya untuk tetap bersama klub berjuluk Aurizazules kepada penyiar Meksiko TUDN. Gignac mengungkapkan kegembiraannya bahwa dia akan dapat merayakan lebih dari 10 tahun di klub dan bahwa tujuan utamanya adalah mengakhiri karirnya membawa banyak trofi ke Tigres.

MU TERTARIK BOYONG ANSU FATI

Melansir dari Onefootball, Manchester United ingin mengontrak pemain depan Barcelona Ansu Fati. Agen Fati, Jorge Mendes memiliki hubungan kerja yang solid dengan Setan Merah. Namun, keinginan MU merekrut Fati tidak akan mudah. Sebab pemain berusia 20 tahun itu tidak akan terburu-buru meninggalkan klub masa kecilnya. Fati telah berjuang untuk memaksa kembali ke Starting XI klub sejak kembali dari cedera.

MESSI LEBIH MENGHIBUR, DAVID BECKHAM TEPIKAN RONALDO

Legenda Timnas Inggris, David Beckham bicara mengenai pemain paling menghibur di antara Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Menurut dia Messi yang paling pertama. Ada banyak hal yang membuatnya kagum kepada pemain Timnas Argentina tersebut. Sebagai seorang ayah, Beckham juga senang dengan Messi. Karakternya juga terlihat lebih mantap, karena terus menunjukkan semangat bertanding.

GARNACHO BAKAL PERPANJANG KONTRAK DI MU

Menurut sebuah laporan terbaru, yang dilansir dari Sportbible, Manchester United ‘hampir menyelesaikan’ pembaruan kontrak pemain mudanya yakni Alejandro Garnacho. Dalam beberapa bulan terakhir, pihak MU dan perwakilan Garnacho memang terlibat pembicaraan mengenai kontrak baru sang pemain. Gaji dipandang sebagai batu sandungan utama dalam negosiasi. Tapi berdasar laporan terbaru bahwa Garnacho akan bertahan di klub hingga musim panas 2028 setelah kontrak disepakati.

KOLO MUANI DIHANTUI KEGAGALAN CETAK GOL DI FINAL PIALA DUNIA

Penyerang Prancis, Randal Kolo Muani mengaku tidak sulit melupakan kegagalannya mencetak gol krusial di menit-menit terakhir dalam final Piala Dunia 2022 lawan Argentina. “Saya masih menontonnya, saya mengingatnya. Dalam benak saya, saya berkata pada diri sendiri: ‘Randal, kamu harus menembak sekarang’. Saya mencoba menembak ke arah tiang dekat tetapi penjaga gawang melakukan penyelamatan yang sangat bagus. Tapi ada opsi lain,” katanya kepada beIN Sports.

TEN HAG OGAH BICARAKAN MASA DEPAN MASON GREENWOOD

Mason Greenwood dibebaskan dari dakwaan kasus pemerkosaan. Greenwood masih terikat kontrak dengan MU hingga 2025, dan klub memiliki opsi perpanjangan satu tahun. Namun, kasus itu membuat masa depan Greenwood di United menjadi tanda tanya. Saat ini manajemen klub sedang melakukan proses investigasi lebih mendalam terhadap permasalahan yang melibatkan Greenwood sebelum mengambil sikap. Ten Hag pun enggan memberikan pernyataan terkait masa depan Greenwood, dan mengambil sikap yang sama dengan klub.

LIONEL MESSI BANTAH TAK AKUR DENGAN MBAPPE

Lionel Messi menegaskan hubungannya dengan rekan setim di Paris Saint-Germain, Kylian Mbappe sepenuhnya baik-baik saja setelah saling berhadapan di final Piala Dunia 2022. Messi menegaskan bahwa kemenangan final Piala Dunia 2022 Argentina melawan Prancis pada bulan Desember tidak merusak hubungannya dengan rekan setimnya di PSG tersebut. Bahkan Messi mengaku ia masih sempat membicarakan laga final itu dengan Mbappe.

SEMPAT JADI MUSUH BEBUYUTAN, RAMOS KINI TAK SEGAN PUJI MESSI

Sergio Ramos dan Lionel Messi sempat jadi musuh bebuyutan selama di Liga Spanyol. Ramos di Real Madrid, Messi di Barcelona. Akan tetapi kini keduanya bermain bersama di skuat PSG. Karena menjadi rekan satu tim, Ramos akhirnya mau mengakui Messi sebagai salah satu pemain terbaik di dunia saat interview dengan PSG TV.

MARSELINO FERDINAND HARUSNYA BISA GABUNG FEYENOORD

Utusan PSSI untuk urusan naturalisasi, Hamdan Hamedan mengungkapkan bila ada ketertarikan Feyenoord FC kepada Marselino Ferdinan. Ketertarikan Feyenoord kepada Marselino terjadi saat PSSI mengadakan kerjasama dengan klub asal Belanda itu, Desember 2022 lalu. Hamdan juga menyebutkan bila kemampuan Marselino setara dengan kapten Timnas U-18 Belanda yang juga berasal dari Feyenoord, Mike Kleijn. Feyenoord mengaku tertarik dengan Marselino dan menawarkan trial untuk eks-Persebaya tersebut. Saat itu, Hamdan tidak tahu keputusan Marselino, ia hanya mendoakan yang terbaik untuk melanjutkan karirnya di luar negeri.

Pemain Indonesia Harus Tiru! Kisah Perjuangan Shinji Kagawa

0

Meski libur lebaran masih lama, budaya balik kampung sudah marak di kalangan pesepakbola Indonesia yang tengah abroad. Alih-alih pulang karena ingin membela tim nasional, beberapa dari mereka pulang justru untuk bergabung dengan klub Liga Indonesia. Padahal, kondisi liga sedang.. ah sudahlah.

Adalah Egy Maulana Vikri dan Witan Sulaeman yang memilih pulang. Egy terlebih dahulu diumumkan bergabung dengan Dewa United, sedangkan Witan menyusul dengan bergabung Persija. Cukup aneh melihat pemain yang dulu menggembar-gemborkan harus berkarir di luar negeri, tapi sekarang udah balik kampung saja. Padahal umurnya masih sangat produktif.

Bukan hanya untuk Witan dan Egy, barangkali untuk semua pemain-pemain Indonesia seharusnya bisa mencontoh pemain-pemain Jepang yang pantang menyerah memperjuangkan karirnya di Eropa. Di era modern, Shinji Kagawa barangkali jadi pemain yang perjuangannya patut dicontoh oleh para pemain muda Indonesia. Ia baru pulang ke Jepang setelah 13 tahun lamanya berkarir di Eropa.

Berawal dari Liga Jepang

Shinji Kagawa merupakan salah satu pemain yang menjadi percontohan bagi generasi-generasi muda pemain Jepang. Pemain kelahiran Kobe, prefektur Hyogo, Jepang ini memulai karirnya bersama tim muda FC Miyagi Barcelona, sebuah klub amatir di daerah Sendai. 

Pada usia 16 tahun, Kagawa diundang untuk memperkuat tim pilihan yang sudah di seleksi ketat untuk melawan timnas Jepang U-18. Dalam pertandingan persahabatan tersebut, Kagawa menjadi pemain yang paling aktif sehingga menarik perhatian beberapa klub profesional Liga Jepang.

Dari situlah akhirnya Kagawa direkrut oleh Cerezo Osaka pada tahun 2006. Kagawa menjadi pemain Jepang pertama yang mendapatkan kontrak dari klub profesional meski belum lulus dari sekolah menengah atas. Empat tahun bermain untuk Cerezo, Kagawa terlibat dalam 127 pertandingan di semua ajang.

Pada tahun 2009, ia membantu tim untuk promosi ke kasta tertinggi dengan menjadi top skor Divisi 2 Liga Jepang dengan 27 gol. Itu pencapaian yang luar biasa, mengingat posisinya bukanlah striker murni. Berkat pencapaian itu pula namanya mendunia hingga terdengar sampai ke Liga Jerman.

Mencoba Peruntungan di Jerman

Pada musim panas 2010, Shinji Kagawa memberanikan diri untuk meninggalkan kampung halaman dan merantau ke Jerman. Semua dilakukan demi mendapat pengembangan skill olah bola dan karir yang lebih oke daripada di Jepang. Akhirnya di usianya yang masih 21 tahun, Kagawa bergabung dengan raksasa Bundesliga, Borussia Dortmund.

Tentu Dortmund tak berharap banyak dari pemuda dari Asia seperti dirinya, tapi Kagawa adalah pemain yang menyukai tantangan. Berangkat ke Jerman bukan tanpa target, berbekal tekad yang kuat serta etos kerja yang tinggi, ia berjuang untuk bersaing dengan pemain-pemain Eropa yang notabene memiliki postur dan teknik jauh lebih baik darinya.

Usaha tak menghianati hasil. Kagawa punya caranya sendiri untuk memperkenalkan diri kepada publik Jerman. Di pekan keempat Bundesliga musim 2010/11, Dortmund bertandang ke markas Schalke. Di laga tersebut, Kagawa memborong dua gol sekaligus. Berkat golnya di laga Revierderby, Kagawa langsung menjadi idola baru para ultras Yellow Wall.

Dua musim pertama Kagawa di Signal Iduna Park bertepatan dengan dua tahun paling gemilang dalam sejarah klub. Kagawa tergabung dalam generasi emas Dortmund yang menggulingkan dominasi Bayern Munchen di Bundesliga. Pemain asal Jepang itu membantu tim menjuarai Bundesliga dua musim beruntun, yakni 2010/11 dan 2011/12.

Die Borussen jadi tempat pertama Kagawa membangun reputasi dan mengharumkan nama baik Jepang di negeri orang. Selama periode pertamanya berseragam kuning hitam, Kagawa mencetak 29 gol dalam 71 penampilan. Sebelum akhirnya terbang ke Inggris untuk mencari tantangan baru bersama Manchester United.

Kisah Singkat di Manchester

Sir Alex Ferguson yang kala itu sampai terbang ke Jerman untuk menonton sendiri bagaimana Kagawa beraksi, langsung kesemsem. Kala itu, Fergie yang melihat Kagawa berhasil membuat pertahanan Bayern Munchen kalang kabut langsung mendatangkannya di bursa transfer musim panas tahun 2012.

Kagawa yang sudah dari awal membuat Fergie demen tak perlu waktu lama untuk menembus skuad utama Manchester United. Ia bahkan mengalahkan nama-nama lawas macam Tom Cleverley dan Paul Scholes. Sempat mengalami cedera parah di lututnya, Kagawa bangkit dan mencatatkan penampilan menawan kontra Norwich City.

Bermain di hadapan publik sendiri, Kagawa menjadikan rumput Old Trafford bak lantai dansa. Bukan hanya satu atau dua gol saja, Kagawa bahkan mencetak hattrick yang menawan di laga tersebut.

Hattrick-nya itu melengkapi kemenangan telak 4-0 United atas Canaries. Di akhir musim, Kagawa berhasil membantu United meraih gelar Liga Inggris. Itu jadi gelar terakhir Sir Alex Ferguson, sekaligus gelar Premier League terakhir bagi United.

Terbuang

Seiring kepergian Sir Alex Ferguson, Kagawa cukup kesulitan mendapat kepercayaan dari manajer baru. Menit bermainnya mulai menurun dan akhirnya tersingkir dari skuad utama. Apalagi United era David Moyes telah mendatangkan Juan Mata, yang mana posisinya hampir sama dengan Kagawa.

Demi mendapat menit bermain, mantan punggawa Timnas Jepang itu akhirnya balik ke Dortmund di tahun 2014. Kembali bekerjasama dengan Jurgen Klopp, perlahan Kagawa mulai kembali ke performa terbaiknya. Kagawa bahkan sempat menghadirkan satu trofi lagi yakni DFB Pokal musim 2016/17.

Namun, pergantian pelatih ke tangan Thomas Tuchel membuat Kagawa kembali tersisih. Meski demikian, ia yakin kalau dirinya masih layak berkompetisi di Eropa. Setelah diskusi panjang, Kagawa pun menerima tawaran dari Besiktas yang ingin meminjamnya. Meski mencetak brace di laga debut, ternyata ia tak menjadi pilihan utama di Besiktas.

Tapi Belum Menyerah

Setelah menjalani masa peminjaman yang cukup buruk, Kagawa kembali ke Dortmund. Namun, mereka enggan bekerja sama lagi dengannya. Kagawa yang merasa sudah habis di Jerman akhirnya mencari kesempatan lain di klub Liga Spanyol, Real Zaragoza pada tahun 2019. 

Penurunan performa sudah tak terelakan lagi. Riwayat cedera dan usia jadi permasalahan utama Kagawa di Spanyol. Hanya bertahan semusim Kagawa ditendang begitu saja. Setelah dilepas Zaragoza, Kagawa cukup kesulitan untuk menemukan klub baru. Meski demikian, ia masih bertekad untuk berkarir di Eropa. Kagawa menekan agensinya, UDN Sports untuk bekerja lebih keras dalam mencari klub yang mau menampungnya.

Setelah sempat nganggur empat bulan, Kagawa dikontrak satu setengah tahun oleh klub Yunani, PAOK Salonika pada Januari 2021. Di musim kedua, karena ia tidak menjadi bagian dari rencana Răzvan Lucescu, Kagawa pun memutus kontraknya. Bersama PAOK, Kagawa hanya tampil sebanyak 12 kali.

Kagawa Homecoming 

Kegagalan di Yunani tak membuat Kagawa patah semangat. Ia masih mencoba untuk menghidupkan kembali karirnya di Liga Belgia bersama Sint-Truiden. Berada di penghujung karir, Kagawa tetap dengan tegas mengatakan, “Saya telah membuat keputusan untuk datang dengan tekad yang kuat.” Kagawa tetaplah Kagawa, pemain dengan segudang ambisi yang hebat.

Hanya bertahan semusim, akhirnya Kagawa merasa cukup dengan petualangannya. Di usianya yang sudah menginjak 33 tahun, Kagawa menyepakati kontrak dengan klub masa kecilnya Cerezo Osaka pada Januari kemarin. Kagawa pulang bukan dengan tangan kosong. Ia membawa banyak oleh-oleh berupa pengalaman yang siap dibagi kepada generasi berikutnya.

Sumber: ESPN, Japan Times, Bundesliga, Sporting News, The Sun

Berita Bola Terbaru 4 Februari 2023 – Starting Eleven News

BERITA BOLA TERBARU DAN TERKINI

HASIL PERTANDINGAN

Kedatangan pemain-pemain baru belum mampu membuat Chelsea berjaya di Liga Inggris 2022/23. Pada pekan ke-21, Chelsea justru ditahan imbang oleh Fulham dengan skor 0-0 di Stamford Bridge. Tuan rumah bukannya tidak punya peluang sama sekali untuk mencetak gol. The Blues setidaknya punya dua peluang emas, tetapi gagal dikonversi jadi gol. Dengan hasil seri ini, Fulham tetap berada di atas Chelsea di papan klasemen sementara. The Cottagers mengumpulkan 32 poin dan duduk di peringkat ke-6, sedangkan Chelsea di peringkat ke-9 dengan 30 poin.

Athletic Bilbao mengakhiri puasa kemenangan setelah mempecundangi tamunya Cadiz dengan skor 4-1, pada pertandingan Liga Spanyol yang dimainkan di Stadion San Mames, Bilbao, Sabtu dini hari WIB. Oihan Sachet menjadi bintang pada laga ini dengan mencetak hattrick. Sedangkan satu gol lainnya dari Bilbao dibukukan oleh Yeray Alvarez. Tim tamu sendiri hanya bisa mencetak satu gol via Escalante.

RONALDO CETAK GOL PERTAMANYA DI AL-NASSR

Al-Nassr terhindar dari kekalahan saat melawan Al-Fateh dalam lanjutan Liga Arab Saudi. Gol penalti Cristiano Ronaldo di injury time memaksa laga tuntas 2-2. Itu merupakan gol pertama Ronaldo sebagai pemain Al-Nassr di laga kompetitif. Sebelumnya, CR7 mencetak gol saat Riyadh All Stars menjamu Paris Saint Germain di pertandingan persahabatan.

CHELSEA BELANJA GILA-GILAAN, KLOPP TAK HABIS PIKIR

Total Chelsea menghamburkan dana hingga 320 juta pounds untuk memboyong delapan pemain baru. Totalnya lebih besar lagi jika digabung dengan rekrutan pada musim panas 2022 lalu. Dalam sesi konferensi pers jelang laga melawan Wolverhampton, Jurgen Klopp sempat ditanya soal aksi hedon Chelsea pada Januari 2023 kemarin. Ia awalnya menjawabnya dengan bercanda. “Saya tidak mengatakan apa-apa tanpa pengacara saya!” canda Klopp seperti dilansir Mirror. Namun Klopp kemudian menjawab pertanyaan itu dengan lebih serius. Ia mengaku gagal paham bagaimana Chelsea bisa berbelanja sebanyak itu.

RASHFORD PEMAIN TERBAIK PREMIER LEAGUE BULAN JANUARI

Performa apik Marcus Rashford bersama Manchester United belakangan ini mendapat pengakuan. Ia terpilih sebagai Pemain Terbaik Premier League bulan Januari. Dari empat laga yang dimainkan di Liga Inggris di bulan Januari, pemain berusia 25 tahun itu mencetak tiga gol. Rashford mengungguli Dan Burn, Brennan Johnson, Riyad Mahrez, Solly March, David Raya, dan Bukayo Saka untuk meraih penghargaan ini.

CHELSEA CORET AUBAMEYANG DARI SKUAD LIGA CHAMPIONS!

Chelsea mencoret Pierre-Emerick Aubameyang dari skuad teranyar yang didaftarkan untuk fase gugur Liga Champions. Striker Gabon itu ditepikan untuk memberi tempat kepada para pemain baru. Sesuai aturan, hanya 25 pemain yang boleh didaftarkan di Liga Champions. Tak hanya Aubameyang, Benoit Badiashile yang baru direkrut seharga 35 juta Pound dari AS Monaco pada bulan lalu juga dicoret. Meski begitu, keduanya tetap didaftarkan di skuad Liga Inggris.

MESSI BUKA KEMUNGKINAN TAMPIL PIALA DUNIA 2026

Setelah mengangkat trofi Piala Dunia pertamanya bersama Argentina pada bulan Desember lalu, Lionel Messi mengatakan ia masih terbuka untuk kemungkinan bermain di Piala Dunia 2026 yang akan diselenggarakan di Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko. Namun, Messi tak menampik bahwa faktor usia pasti akan menjadi tantangan baginya. Pada 2026, ia akan berulang tahun ke-39 saat Piala Dunia bergulir.

JULIAN ARAUJO RESMI GAGAL PINDAH KE BARCELONA

Banding Barcelona ditolak FIFA. Hal itu membuat impian pemain LA Galaxy, Julian Araujo untuk bergabung dengan Barcelona kandas setelah FIFA memutuskan bahwa dokumen untuk menyelesaikan transfernya terlambat diserahkan. FIFA mengkonfirmasi kepastian itu pada Jumat (3/2), dengan direktur sepakbola Barca, Mateu Alemany mengatakan kesalahan sistem menyebabkan klub melewatkan tenggat waktu 18 detik.

MESUT OZIL SEGERA PENSIUN DALAM WAKTU DEKAT

Perjalanan karier sepak bola profesional Mesut Ozil akan sampai pada akhirnya. Dikutip Football Espana, pemain berusia 34 tahun itu dikabarkan akan segera pensiun dalam waktu dekat. Cedera yang berkepanjangan membuat Istanbul Basaksehir kini memikirkan rencana untuk mengakhiri kerja sama dengan Ozil. Laporan dari jurnalis Yakup Cinar mengungkapkan bahwa kontrak Ozil yang harusnya sampai akhir musim 2022/23 akan diputus lebih cepat.

TEKEL KERAS KE VINI JR, GABRIEL PAULISTA MINTA MAAF

Bek Valencia Gabriel Paulista meminta maaf atas pelanggarannya yang berbahaya terhadap Vinícius Junior. Tekel keras yang ia lakukan membuatnya diskors dua pertandingan setelah komite disiplin federasi sepak bola Spanyol menambahkan skorsingnya satu pertandingan lagi pada hari Jumat. Paulista meminta maaf dalam pesan yang diposting di akun Instagram-nya.

MCKENNIE: KAKI RONALDO BERNILAI 1 MILIAR EURO

Weston McKennie punya kisah menarik kala menjadi rekan setim Cristiano Ronaldo di Juventus. McKennie menceritakan kisah lucu kala dirinya pertama kali melihat kaki Ronaldo di Juve. Menurutnya, kaki CR7 terlihat buruk. Ronaldo tidak tersinggung dengan ucapan McKennie. CR7 membalas dengan menyebut kakinya bernilai mahal. “Dia berkata: ‘Temanku, kaki ini bernilai satu miliar euro’. Saya bilang, kamu benar. Respek,” ujar McKennie mengingat percakapannya dengan Ronaldo.

ASISTEN JOSE MOURINHO DI AS ROMA DISKORS SELAMA SATU BULAN

Asisten pelatih Jose Mourinho di AS Roma, Salvatore Foti telah diskors selama sebulan setelah menghina ofisial pertandingan dalam kekalahan perempat final Coppa Italia mereka dari Cremonese. Dalam hal ini, hakim olahraga Italia memutuskan pada Jumat (3/2). Selain menghina, Foti juga melontarkan ancaman kepada ofisial Cremonese setelah mereka mencetak gol pembuka dan menghina direktur pertandingan setelah pergi ke ruang ganti pasca pertandingan

RUI COSTA: SAYA TAK SUDI ENZO PAKAI SERAGAM BENFICA LAGI

Presiden Benfica, Rui Costa mengecam Enzo Fernandez karena memaksakan transfer ke Chelsea meski pihak klub berusaha keras mempertahankannya. “Saya menawarkan ke Chelsea agar ia bertahan sampai musim panas, nanti kami beri diskon, tapi Enzo sendiri yang tak mau lanjut di Benfica – dan saat itulah semuanya berubah. Di titik itu saya berkata, ‘Dia tak boleh bermain untuk Benfica lagi. Tidak boleh!'”

BAYERN TAK DIPERKUAT MANE SAAT BENTROK LAWAN PSG

Sadio Mane akan absen dalam pertandingan Bayern Munchen melawan PSG, 15 Februari nanti, lantaran harus menderita cedera kaki bagian bawah. Pemain berusia 30 tahun itu sudah absen cukup lama. Konfirmasi terbaru dari manajer Bayern Munchen Julian Nagelsmann menyebutkan sang pemain baru pulih pada akhir Februari. Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa pemain timnas Senegal itu bisa pulih lebih cepat.

CANCELO KE BAYERN MUNCHEN KARENA REAL MADRID TAK BERMINAT REKRUT PEMAIN

Bek Portugal Joao Cancelo mengatakan setuju bergabung dengan Bayern Munchen setelah mengetahui Real Madrid tidak akan merekrut siapa pun di jendela transfer musim dingin. Pemain berusia 28 tahun itu pindah ke Bayern dengan status pinjaman hingga akhir musim 2022/23 dengan opsi pembelian permanen sebesar 70 juta euro.

BARCELONA LARANG SUPORTER MADRID DATANG KE CAMP NOU

Meskipun laga semifinal Copa del Rey Barcelona melawan Real Madrid tinggal dua bulan lagi, kontroversi sudah menyertai. Hal ini setelah Barcelona, lewat situs resminya, menyatakan kalau penggemar El Real akan ditolak masuk ke Camp Nou. Dalam pernyataan tersebut, Blaugrana mengatakan siapa pun yang memakai identitas Real Madrid (baik itu jersey atau lainnya), akan diusir dari stadion kebanggaan masyarakat Catalan tersebut. Saat ini memang tidak ada kuota alokasi tiket yang diperuntukkan untuk penggemar tim tamu di Piala Spanyol.

BUSQUETS BERSEDIA BERTAHAN LEBIH LAMA LAGI DI BARCA

Dalam beberapa waktu terakhir, rumor masa depan Sergio Busquets mengalir ke permukaan. Seiring dengan kontraknya yang habis pada akhir musim ini, ia dirumorkan bakal tinggalkan Barcelona dan menuju ke MLS. Namun, Football Espana melaporkan Busquets bersedia memperbarui kontraknya di Barcelona, ​​dan sedang menunggu tawaran dari klub sebelum memutuskan masa depannya.

MILAN SKRINIAR DICORET, LAUTARO AMBIL JATAH KAPTEN KETIGA INTER MILAN

Inter Milan dikabarkan menjanjikan ban kapten kepada Milan Skriniar jika bersedia memperpanjang kontrak. Namun keputusan Skriniar sudah bulat untuk pergi setelah ikatannya habis akhir musim ini. Media-media Italia berspekulasi bahwa hal ini bakal membuat sang defender dicoret posisinya sebagai kapten pilihan ketiga Inter. Seturut keputusannya pecah kongsi yang menyakiti sekelompok fan Inter, hierarki sebagai kapten ketiga bisa melayang ke lengan Lautaro Martinez. Striker utama La Beneamata itu ditugaskan memimpin skuad pada dua laga terakhir di tengah absennya Skriniar.

SEPERTI MALDINI DAN IBRAHIMOVIC, RONALDO BISA JADI PANUTAN PEMAIN MUDA

Cristiano Ronaldo masih ingin kompetitif menjelang masa pensiun. Ambisi besar Ronaldo untuk terus bisa berada di level teratas itu yang disebut oleh mantan rekan setimnya di Real Madrid, Kaka, bisa dicontoh oleh pemain muda. Kaka juga menyebut Paolo Maldini. Kaka pernah setim dengan Ronaldo, Maldini, dan Ibrahimovic. Maldini disebut Kaka sebagai pemain yang selalu lapar gelar juara Liga Champions, pas sebagai teladan seperti CR7. Sementara itu, Kaka juga menyebut mentalitas Ibrahimovic yang patut dicontoh.

LEGENDA ARAB SAUDI BONGKAR MASALAH RONALDO DI AL-NASSR

Legenda Timnas Arab Saudi, Majed Abdullah menilai Cristiano Ronaldo bakal sulit untuk membantu Al-Nassr. Menurut Majed, Ronaldo seorang diri akan sulit mengangkat performa klub bercorak kuning tersebut. Dirinya pun meminta para pemain lokal untuk membantu mengeluarkan potensi eks Manchester United tersebut. Selama ini, Majed melihat Ronaldo belum mendapatkan bantuan yang maksimal dari para pemain lokal di Al-Nassr, sehingga kesulitan untuk mencetak gol.

LEEDS KEHILANGAN RODRIGO SELAMA DUA BULAN

Leeds United mendapat kabar buruk karena penyerang andalannya, Rodrigo akan absen selama dua bulan setelah menjalani operasi. Klub mengkonfirmasi kabar tersebut dalam sebuah pesan di media sosial, setelah pemain internasional Spanyol kelahiran Brasil itu mengalami cedera pergelangan kaki saat menang 3-1 di Piala FA atas Accrington Stanley. Rodrigo akan melewatkan sejumlah pertandingan penting melawan sesama pesaing degradasi.

ZIYECH SUDAH KEMBALI, MASIH PENTING UNTUK CHELSEA

Manajer Chelsea, Graham Potter memastikan Hakim Ziyech akan menjadi salah satu pemain yang penting bersama The Blues musim ini. “Dia kembali. Dia berlatih pagi ini. Kisah-kisah ini tidak akan menjadi yang pertama atau terakhir. Dia seorang profesional,” ucap Potter. Sebagai informasi, Hakim Ziyech gagal bergabung bersama PSG di bursa transfer pemain Januari 2023 karena kesalahan pihak Chelsea dalam mengirimkan dokumen transfer pemain.

DIINCAR INTER, BENJAMIN PAVARD SIAP TINGGALKAN MUNCHEN

Target Inter Milan, Benjamin Pavard menegaskan tidak akan memperpanjang kontraknya bersama Bayern Munchen. Inter Milan pun bisa mendatangkannya di musim panas. Kontrak Pavard sendiri berakhir pada Juni 2024 mendatang. Ia sendiri memiliki portofolio yang cukup meyakinkan. Selain masuk dalam skuad Prancis saat berhasil menjuarai Piala Dunia 2018, Pavard sudah terbiasa bermain dalam pola 3 bek sejajar, seperti yang biasa diterapkan Inzaghi.

ANCELOTTI SEBUT PEMECATAN HAL BIASA BAGI PELATIH

Carlo Ancelotti menyebut pemecatan adalah hal biasa bagi pelatih sepak bola, sebagaimana dirinya beberapa kali mengalami itu. Hal ini diungkapkan Ancelotti pada konferensi pers jelang pertandingan Real Madrid vs Valencia di Santiago Bernabéu, merujuk pada situasi yang dialami Gennaro Gattuso, yang belum lama ini dipecat Valencia. Menurut Carlo Ancelotti, hanya ada satu pelatih di dunia ini yang belum pernah merasa dipecat, yaitu Pep Guardiola.

SUDAH MUAK, JUVE PERTIMBANGKAN JUAL POGBA DI MUSIM PANAS 2023

Juventus mempertimbangkan untuk menjual Paul Pogba pada musim panas 2023.  Mereka dikabarkan muak dengan kondisi pemain asal Prancis itu. Ia disebut-sebut semakin menjadi masalah di Allianz Stadium. Selain itu, masalah kebugaran dan cedera yang terus membekap Pogba membuat Juventus ingin menjualnya. Secara total sejak awal musim 2022/23, Paul Pogba sudah melewatkan 292 hari untuk berjuang sembuh dari cederanya.

DARMIAN PERPANJANG KONTRAK DI INTER MILAN

Inter Milan memperpanjang kontrak Matteo Darmian sampai tahun depan. Nerazzurri masih percaya dengan sang pemain. Kontrak Darmian sejatinya berakhir musim panas tahun ini. Meski sudah berusia 33 tahun, Darmian tidak pernah tampil mengecewakan ketika dipercaya jadi starter. Di musim ini saja, Darmian sudah bikin dua gol dan dua assist dari 22 pertandingan.

8 Pemain Ini Nyesel Abis Setelah Gabung Real Madrid

Real Madrid memanglah klub besar dengan sejarah panjang. Sudah jadi impian banyak pemain untuk bisa bermain di Los Galacticos. Tapi tidak sedikit yang malah menyesal setelah pindah ke klub ibu kota Spanyol itu. Berikut daftar delapan pemain yang nyesel abis setelah gabung Real Madrid.

Eden Hazard

Tentu saja Eden Hazard ada di daftar ini. Pindah ke Real Madrid tidak seindah yang ia bayangkan ketika ia bergabung ke Bernabeu dari Chelsea di tahun 2019. Hazard berjuang dengan masalah cedera sejak tiba di Madrid. Ia lebih sering berada di meja terapi daripada di lapangan.

Di musim pertamanya, ia hanya bisa tampil 22 kali di semua kompetisi dan hanya mencetak sebiji gol dan 7 assist di musim itu. Ini hasil yang sangat buruk dan memalukan. Sebab di musim terakhirnya bersama Chelsea saja, ia bisa mencetak 21 gol dan 17 assist dalam 52 penampilan di semua kompetisi.

Untuk menambah rasa penyesalannya lagi, Chelsea berhasil menjuarai Liga Champions di musim 2020/21. Tentu, ia juga dapat gelar Championsnya bersama Madrid. Tapi Hazard hanya bermain tiga kali di Liga Champions musim 2021/22.

Mateo Kovacic

Pemain selanjutnya adalah Mateo Kovacic. Pria berkebangsaan Kroasia ini dibeli Madrid pada tahun 2015 setelah dua musim suksesnya bersama Inter Milan. Awalnya Kovacic menjadi andalan lini tengah Madrid. Kemampuan dribbling dan keterampilan mengolah si kulit bundar membuat Rafael Benitez betah memainkannya.

Tapi itu semua berubah ketika Zinedine Zidane datang. Pelatih berkepala plontos itu memutuskan untuk tidak memakai Kovacic dan lebih memilih menggunakan trio Modric, Kroos, dan Casemiro. Tidak hanya itu, di bangku cadangan pun persaingannya ketat. Yaitu ada James Rodriguez, Isco, dan Illarramendi. Jarang dimainkan, Kovacic frustasi dan minta segera dipindahkan.

Ia bahkan dilaporkan ogah ikut sesi latihan Madrid sebelum dapat kejelasan soal masa depannya. Musim panas 2018 ia pun dipinjamkan ke Chelsea. Satu musim ia jalani dengan sukses sebagai pinjaman. Kovacic pun menandatangani kontrak jangka panjang di Chelsea di tahun 2019.

Kovacic menyelamatkan karirnya sendiri dengan berani ambil langkah untuk pindah ke Chelsea. Sebab berjuang selama dua tahun tanpa kejelasan di Madrid membuat percaya dirinya menurun. Ia tahu karirnya di Real Madrid seharusnya tidak terjadi.

Antonio Cassano

Pemain kedua ini justru punya penyesalan yang lebih besar dibandingkan Kovacic. Antonio Cassano dibeli dari Roma pada tahun 2005, dan hanya bermain 29 kali bersama Madrid sampai akhir karirnya di tahun 2008.

Cassano sebenarnya pemain berbakat. Tapi kegemarannya dengan gaya hidup hedonisme dan bermewah-mewahan membawanya ke banyak masalah. Ketika di Roma, ia sering berselisih dengan kaptennya, Francesco Totti dan pelatih, Fabio Capello. Ia pun memilih untuk gabung ke ibu kota Spanyol setelah di ibu kota Italia selama lima tahun.

Tapi sialnya, di Madrid ia kembali bertemu dengan Fabio Capello. Satu musim di Madrid, ia langsung dipinjamkan ke Sampdoria. Setelah menandatangani kontrak bersama Sampdoria, ia memutuskan tidak ingin kembali ke Madrid lagi. Ia berkelana di Italia dengan memperkuat Inter dan Milan.

Cassano mendapatkan kesuksesannya lagi di Italia. Ia bahkan sempat dapat gelar scudetto bersama AC Milan. Namun, ia percaya jika karirnya akan lebih cemerlang apabila tidak bergabung bersama Madrid. Ia menyesal tidak mengikuti saran Totti untuk tunggal di Roma sepanjang karirnya.

Danilo

Selanjutnya adalah Danilo. Pemain asal Brasil itu tentu senang bukan main ketika dirinya dibeli Madrid dari Porto pada tahun 2015 lalu. Tapi kisahnya di Madrid tidak seindah yang ia kira. Danilo tidak berbuat banyak kecuali hanya jadi pelapis Dani Carvajal ketika cedera. Setidaknya ia bisa merasakan juara Liga Champions dua kali bersama el real.

Danilo hanya bertahan dua tahun bersama los blancos. Di tahun 2017 dirinya pindah ke Inggris untuk memperkuat Manchester City. Apesnya, sebagian besar waktu Danilo di City juga ia habiskan sebagai pemain pelapis.

Ia pun hanya bertahan selama dua tahun bersama Manchester Biru. Di tahun 2019, Danilo pindah ke Juventus. Ia mengaku akhirnya bisa menemukan kebahagiaannya lagi setelah bermain bersama si nyonya tua.

Klaas-Jan Huntelaar

Dari pemain belakang, kita kembali ke penyerang. Klaas-Jan Huntelaar adalah penyerang kelas dunia ketika dirinya memperkuat Ajax sejak tahun 2006. Dan itu lah yang membuat Real Madrid ingin memboyongnya ke Bernabeu di musim dingin 2009. Tapi tidak butuh waktu lama untuk Huntelaar bisa menyesali langkahnya pindah ke ibu kota Spanyol itu.

Huntelaar sebenarnya diproyeksikan untuk menjadi striker masa depan Real Madrid. Apalagi saat itu Van Nistelrooy sedang mengalami cedera. Tapi nyatanya ia tidak bisa menggantikan peran rekan senegaranya itu. Ia hanya mencetak delapan gol di musim pertamanya bersama Madrid.

Sedihnya, itu juga jadi musim terakhirnya bersama el real. Ketika Manuel Pellegrini mengambil alih kursi kepelatihan di musim panas 2009, ia tidak berniat sama sekali untuk menggunakan jasa Huntelaar. Ia pun pindah ke AC Milan, hanya setelah setengah musim bersama los blancos.

Pemain Belanda itu juga tidak bertahan lama di Italia. Di tahun 2010 ia pindah ke Jerman untuk memperkuat Schalke. Meskipun diatas kertas Schalke tidak terlalu bergengsi dibanding Milan atau Madrid, Huntelaar tidak melihat ini sebagai kemunduran karir. Bersama Die Knappen ini, ia berhasil menyelamatkan karirnya kembali. Huntelaar memenangkan DFB Pokal dan Piala Super Jerman bersama Schalke.

Huntelaar tidak mau mengakui dirinya menyesal telah bergabung Madrid. Tapi ia juga bertanya-tanya apa jadinya jika ia tidak ke Madrid atau tetap bersama Ajax. Baginya Real Madrid tetaplah klub yang ia kagumi. Tapi sebagaimana yang ia katakan, “setiap mawar memiliki duri”

Arjen Robben

Pemain selanjutnya masih kompatriot dari Huntelaar, Arjen Robben. Kita telah mengenal Robben lewat kesuksesannya yang tidak diragukan lagi bersama Bayern Munchen. Bersama Die Roten ia menjelma jadi pemain sayap terbaik sepanjang masa. Tapi banyak yang melupakan karirnya di Real Madrid.

Datang dari Chelsea dengan harga 24 juta poundsterling, ia diharapkan langsung memberikan dampak di La Liga. Namun itu tidak terjadi untuk Robben. Dua musim pertama bersama los blancos ia jalani dengan biasa-biasa saja. Tapi kemudian, Cristiano Ronaldo dan Ricardo Kaka datang. Tempat Robben di skuad utama pun semakin tersingkir.

Robben pun hengkang di akhir musim 2008/09. Dua musim bersama El Real, ia hanya mampu mencetak 13 gol dan 15 assist dari 65 pertandingan. Ia dijual ke bayern Munchen dengan harga 22 juta euro di tahun 2009.

Catatan gol Robben langsung meroket setelah itu. Ia mencetak 23 gol dari 37 penampilan di semua kompetisi pada musim pertamanya bersama Munchen. Ia bertahan selama 10 tahun di Munich. Memenangkan 8 gelar Bundesliga, 7 diantaranya ia raih secara berturut-turut.

Michael Owen

Dari pemain terhebat, kita ke cerita penyesalan terhebat. Siapa lagi kalau bukan Michael Owen. Kisah Michael Owen di Madrid paling cocok digambarkan dengan kalimat “waktu yang salah di tempat yang salah”. Ya, bukan salah siapa-siapa Owen jadi jelek di Madrid dan kini hanya tersisa penyesalan.

Wajar jika Real Madrid menginginkan Owen saat itu. Ia adalah talenta muda yang jadi sensasi besar di masanya. Top skorer di Liverpool dan pemenang Ballon d’Or, apalagi yang diimpikan seorang pemain? Jawabannya adalah bermain di klub terbaik. Dan Owen menemukan jawaban itu di Real Madrid.

Real Madrid saat itu adalah klub yang glamor. Gemerlap los galacticosnya menyilaukan seantero Eropa. Siapa yang tidak mau bergabung dengan klub yang diperkuat Zidane, Ronaldo, dan Beckham? Mungkin itu yang ada di kepala Owen. Kesempatan untuk bermain bersama para bintang dunia itu terlalu sayang untuk dilewatkan. Dari Liverpool, ia pun pindah ke ibu kota Spanyol.

Tapi jika Owen bisa menarik diri sejenak dan melihatnya dari sudut pandang lain, mungkin kesialannya bisa dihindari. Karena saat itu Real Madrid sudah punya Ronaldo dan Raul, yang jelas lebih disukai para penggemar. Dua pemain itu sedang berada di puncak karir dan mustahil bagi siapapun untuk menyingkirkan mereka dari skuad utama.

Tapi masalah Owen bukan hanya itu. Melainkan kesulitannya dalam menyesuaikan kehidupan di Spanyol. Kesulitan Owen dalam beradaptasi itu membuatnya tidak betah di Madrid. Ia pun hanya setahun bertahan bersama Los Galacticos. Sebenarnya catatan Owen tidak terlalu buruk. Ia mencetak 13 gol dari 19 penampilan ketika jadi starter.

Owen pun menyerah dan rela pindah ke Newcastle daripada bertahan lebih lama di Madrid. Sejak saat itu karirnya tidak pernah sama seperti ia di Liverpool. Setidaknya ia bisa mendapatkan gelar Premier League di Manchester United.

Sementara itu, di multiverse yang lain Owen mungkin mencetak 100 gol lebih setelah bertahan 5 tahun di Madrid. Atau di semesta yang lainnya lagi, ia menjadi juara Champions dan pencetak gol terbanyak sepanjang masa di Liverpool.

Ricardo Kaka

Satu kisah penyesalan terhebat lainnya, Ricardo Kaka. Ia adalah legenda hidup ketika bermain di AC Milan sejak tahun 2003. Sampai akhirnya ia pindah ke Real Madrid dengan memecahkan rekor transfer di tahun 2009.

Sebenarnya Kaka tidak ingin pindah. Ia dan keluarganya bahagia di Milan. Dicintai publik San Siro sambil dengan bangga berseragam Rossoneri. Tapi kabarnya Milan menjual Kaka demi menghindari masalah finansial mereka saat itu. Dan Madrid rela mengeluarkan uang sebesar apapun demi pemenang Ballon d’Or tersebut.

Tapi kehidupannya bersama Los Galacticos jilid dua hanya diisi oleh penyesalan. Ia bahkan secara terbuka bilang kalau pindah ke Real Madrid adalah sebuah kesalahan. Kaka berkata kepindahannya membuat dirinya hancur. Ia tidak bisa mengulangi kesuksesannya lagi ketika di Milan. Ia merasa menyesal karena di Milan semua orang memujanya, namun di Madrid semua orang menginginkan dirinya pergi.

Sumber referensi: Sportskeeda, B/R, Football.London, Goal, Football.Italia, Transfermarkt, 4-4-2, Tribuna

Gokil! MU Selalu Raih Trofi Ketika Lawan Klub Medioker

0

Wembley 26 Februari 2023 akan jadi saksi Manchester United apakah akan kembali merengkuh trofi yang sudah lama mereka idam-idam kan sejak 2017 silam.

Jika melihat lagi ke belakang, ternyata Red Devils terakhir kali merengkuh trofi di kancah domestik adalah kala mengalahkan klub-klub medioker. Artinya bukanlah tim kategori Big Six yang mereka kalahkan di final.

Trofi Domestik Pertama Ferguson Dari Tim Medioker

Namun jauh sejak zaman kepemimpinan Sir Alex Ferguson, banyak juga trofi MU yang diraih dari tim medioker, baik itu FA Cup, League Cup, maupun Community Shield.

Dan asal tahu saja, pada masa awal Fergie melatih MU menggantikan Ron Atkinson, trofi yang diraihnya adalah berkat tim medioker, yakni Crystal Palace. Trofi domestik pertama Fergie itu adalah Piala FA musim 1989/90. Ketika itu, MU menang di final replay 1-0 atas Palace lewat gol Lee Martin.

Namun, jika dicatat selama masa pengabdian di Old Trafford, gelar yang diraih Fergie juga ternyata banyak diperoleh dari tim medioker.

Contohnya saja ketika melawan Newcastle di Final Piala FA 1999. Newcastle yang akan dihadapi MU nanti di Carabao Cup itu pernah ditenggelamkan pasukan Fergie di Wembley dengan skor 2-0 lewat gol Teddy Sheringham dan Paul Scholes.

Ada lagi momen kala meraih trofi di Wembley atas tim kejutan dari Championship Millwall pada Final Piala FA 2003/04. Skor telak 3-0 lewat brace Van Nistelrooy dan satu gol CR7 mampu membawa kembali Piala FA ke lemari Old Trafford.

Ferguson juga pernah menang menghadapi tim medioker macam Wigan Athletic di dua final yang berbeda di Wembley. Yakni pada Final Piala Liga 2005/06 dan Community Shield 2013. Era terakhir Fergie mengalahkan tim medioker di Wembley terjadi ketika musim 2009/10. Kala itu MU mengalahkan Aston Villa 2-1.

Juara Piala FA Mengalahkan Crystal Palace

Setelah era Fergie berakhir, trofi yang pertama kali diraih MU juga berasal dari klub medioker. Dan yang memperolehnya adalah meneer asal Belanda, Louis Van Gaal.

Perombakan skuad yang lebih muda dan fresh selama dua musim Van Gaal melatih, mampu sedikit mengubah arah klub setelah proyek gagal pelatih sebelumnya. Sebagai contoh peremajaan skuad yang sukses terlihat dari munculnya pemain macam Martial, Lingard, maupun Rashford.

Pembuktian para pemain muda ini terjadi ketika merengkuh trofi di Wembley. Tepatnya pada tanggal 21 Mei 2016. MU asuhan Van Gaal ditantang oleh pasukan dari London selatan, Crystal Palace.

Hanya melawan klub medioker, tentu MU banyak diunggulkan di partai ini ketimbang Palace. Namun Palace juga tergolong alot ketika itu di bawah asuhan Alan Pardew. Meskipun masuk final, Crystal Palace di Liga Inggris masih terseok. Mereka hanyalah klub medioker biasa yang finish di posisi 15.

Namun di Piala FA ini performa mereka berbeda. Bahkan jalannya pun lebih terjal daripada MU hingga sampai Wembley. Mereka harus menenggelamkan tim Big Six dulu macam Spurs di babak kelima.

Sementara MU langkahnya ke final terbilang ringan karena hanya berhadapan dengan tim macam Derby County, Sheffield, Shrewsbury Town, West Ham maupun Everton.

Tampil dengan kekuatan penuh, pasukan Pardew mampu merepotkan dengan menahan beberapa gempuran MU dan mampu mencuri gol terlebih dahulu lewat Jason Puncheon. Strategi Pardew memaksa MU kerja keras sampai laga dilanjutkan hingga babak perpanjangan waktu.

Adalah Lord Jesse Lingard yang berhasil keluar menjadi dewa penyelamat dengan menceploskan gol indah dengan tendangan voli yang spektakuler ke gawang Hennesey di menit 110.

Palace yang unggul jumlah pemain setelah Smalling terkena kartu merah pun tak sempat membuat gol penyeimbang. Wembley pun akhirnya memerah. Skor 2-1 adalah hasil akhir yang mengantarkan gelar piala FA yang terakhir kali diraih MU hingga sekarang.

Namun, justru kisah manis Setan Merah merengkuh kembali trofi itu dibalas dengan perlakuan tak mengenakkan bagi Van Gaal. Trofi itu malah mengantarkan Van Gaal berkemas lebih cepat keluar dari Old Trafford.

Dua musim meneer Belanda itu duduk di kursi pelatih MU. Satu trofi FA Cup itu tak cukup bagi publik MU. Karena di sisi lain, MU tak mampu diantarkannya ke kancah Liga Champions. Red Devils ketika itu harus puas finis di posisi ke-5 Liga Inggris, dan tersingkir di babak grup Liga Champions.

Juara Piala Liga Mengalahkan Southampton

Setelah era Van Gaal, terbitlah era Jose Mourinho yang dikenal bermental juara. Dan benar saja, hattrick gelar di musim pertamanya, yaitu 2016/17 menjadi bukti. Tapi kalau dilihat dari pencapaiannya di Liga Inggris musim itu, finisnya pun tak lebih baik dari Van Gaal, yakni hanya di peringkat 6.

Namun warisan trofi Van Gaal mampu dijaga oleh Mourinho. Kali ini di kancah domestik lainnya yakni Piala Liga dan Community Shield. Dan asal tahu saja, dua gelar di kancah domestik itu pun diraih juga dari tim berlabel medioker, yakni Leicester dan Southampton.

Di Piala Liga, langkah MU bersama Mourinho sangat berapi-api setelah Pogba dan kawan-kawan berhasil menenggelamkan tetangga berisiknya, City di era debutnya Pep Guardiola. Hal itu terjadi tepatnya di babak keempat Piala Liga.

Sedangkan lawannya di final yakni Southampton yang waktu itu diasuh Claude Puel. Perjalanan Soton musim itu terbilang berat, karena sedari awal mereka sudah ditinggal bintang mereka, Sadio Mane yang memilih hengkang ke Liverpool.

Masih bersama Van Dijk maupun Dusan Tadic, jalan Soton termasuk terjal sampai ke Wembley. Satu per satu ia harus mengandaskan tim Big Six macam Arsenal maupun Liverpool.

Minggu 26 Februari 2017, akhirnya tuah Wembley kembali bersahabat bagi MU. Kemenangan dengan skor ketat 3-2 mampu membawa kembali trofi ke lemari Old Trafford. Dua pemain MU yakni Lingard dan Ibrahimovic menjadi tokoh utama pencetak gol kemenangan MU ketika itu.

Kemenangan yang dituntaskan selama dua babak itu, akhirnya mampu kembali memerahkan seisi Stadion Wembley. Namun, tak hanya ketika itu saja Wembley memerah musim itu.

Karena sebelumnya di awal musim, Mourinho juga sudah meraih trofi Community Shield di stadion ini. Tepatnya pada 7 Agustus 2016. Di mana yang dikalahkan MU ketika itu adalah Leicester City asuhan Ranieri dengan skor 2-1. Dua gol MU ketika itu juga berkat sumbangsih Lingard dan Ibrahimovic.

Sumber Referensi :bbc, dailymail, theathletic, bbc, bleacherreport

Wabah Selebrasi Rashford yang Mendunia

0

Marcus Rashford melonjak performanya pasca Piala Dunia 2022. Pemain kelahiran Kota Manchester tersebut berkontribusi dalam 13 gol Setan Merah di semua ajang sejak kembali dari Qatar.

Rashford menjelma jadi pemain yang mampu mencetak gol kapan saja, dari mana saja, dan dengan cara apa pun. Namun jika football lovers jeli, ada kesamaan dari gol-gol yang dicetak Rashford selama ini. Ya, selebrasinya yang selalu menunjuk pelipis sambil menundukan kepala.

Sejak pergantian tahun, semua gol yang diciptakan Rashford selalu diikuti oleh selebrasi yang sama, yang belum pernah terlihat sebelum ledakan performa yang tak terhentikan itu. Lantas apa makna selebrasi tersebut? Berikut adalah sisi lain dari selebrasi baru Marcus Rashford.

Pertama Kali Muncul

Setelah Marcus Rashford konsisten mencetak gol untuk United, selebrasinya memang menjadi terkenal di seluruh dunia. Namun, kapan si Rashford pertama kali menggunakannya?

Selebrasi menunjuk pelipis Rashford pertama kali terlihat di laga tandang Manchester United ke markas Wolverhampton. Bermain di malam tahun baru, Rashy tak memulai laga sebagai starter. Melainkan sebagai pemain pengganti yang masuk di babak kedua. Dicadangkannya Rashford bukan tanpa alasan.

Dilansir Goal, Rashford mengatakan hal itu karena dia sedang disanksi oleh sang juru taktik, Erik Ten hag. Rashford mengaku kalau ia ketiduran dan terlambat menghadiri rapat yang diadakan Ten Hag beberapa hari sebelum berangkat ke Stadion Molineux.

Laga melawan Wolves berjalan alot, belum ada gol yang tercipta hingga wasit membunyikan peluit tanda jeda turun minum. Babak kedua Marcus Rashford dimasukan oleh Ten Hag menggantikan pemain muda berbakat, Alejandro Garnacho. Masuknya Rashford memberikan tambahan daya gedor di lini depan. Ia langsung mencetak gol di menit 76, dan itu jadi satu-satunya gol yang tercipta di laga tersebut.

Setelah mencetak gol Rashford langsung berlari ke bendera corner, berdiri dan diam, sambil menutup matanya, lalu ia mengarahkan jari telunjuk ke pelipisnya.

Apa Maknanya?

Selebrasi itu yang selalu kita lihat bila Rashford berhasil merobek jala gawang lawan. Namun apa makna dari selebrasi tersebut? Kembali pada bulan Oktober 2022, Rashford mengungkapkan bahwa dia telah berjuang dengan kesehatan mentalnya selama musim lalu yang jadi musim terberatnya.

“Saya terkadang lebih sering berjuang melawan hal-hal yang mengganggu di kepala. Musim lalu bukan benar-benar penampilan saya sendiri, tetapi hal-hal lain di luar lapangan selalu mengganggu konsentrasi saya. Itu perbedaan terbesar dari musim lalu,” ujar Rashford.

Untuk mengembalikan mental pemenang dan konsentrasinya di lapangan, Erik Ten Hag melakukan pembicaraan empat mata dengan Marcus Rashford. Pelatih berkebangsaan Belanda itu terus memberikan suntikan motivasi dan menekankan satu kata pada Rashy. Yakni “fokus”, sambil memberi gestur menunjuk kepala.

Tampaknya satu kata itu benar-benar diresapi oleh Rashford. Jadi, jangan bingung apabila selepas mencetak gol, kini Rashford melakukan selebrasi khasnya dengan menunjuk bagian samping kepalanya.

Selebrasi Rashford Mendunia

Semakin sering Rashford mencetak gol, maka akan semakin sering juga kita melihat selebrasi itu. Menariknya, pengaruh dari selebrasi menunjuk kepala miliknya ternyata lebih besar dari apa yang dibayangkan. Sama halnya dengan selebrasi Siuuuu Cristiano Ronaldo, selebrasi “Focus” ala Marcus Rashford juga menginspirasi pesepakbola lain.

Dengan cepat selebrasi Rashford ramai menyebar di seluruh Eropa. Salah satunya, rekan senegara Rashford yang kini bermain di Serie A, Tammy Abraham. Bomber AS Roma ini pernah meniru selebrasi Rashford saat mencetak gol di laga kontra AC Milan. Tammy bahkan berkomentar di Instagram penyerang Manchester United tersebut dengan mengatakan “Belajar darimu, kawan.” 

Selain Tammy Abraham, striker Inggris lainnya yakni Danny Welbeck juga melakukan hal yang sama. Mantan pemain Setan Merah itu bahkan menampilkan variasi lain dari perayaan ikonik tersebut. Welbeck melakukannya sambil melakukan slide dengan kedua lututnya. Ia melakukannya saat mencetak gol ketiga Brighton kala melawan Liverpool baru-baru ini. 

Sama halnya dengan Welbeck, Joelinton juga melakukan hal yang sama setelah mencetak gol dalam kemenangan Newcastle United atas Southampton di ajang Carabao Cup. Joelinton menambahkan gerakan tangan kanan yang menunjukan ototnya.

Tak hanya di kalangan pesepakbola Inggris saja, Joshua Kimmich juga ketularan virus selebrasi Rashford. Pemain internasional Jerman itu menjadi pemain terbaru yang melakukan pose khas tersebut. Kimmich melakukannya setelah mencetak gol luar biasa melawan Koln untuk mengambil poin penting di laga lanjutan Bundesliga.

Tapi Saka Paling Epic

Namun dari serangkaian pemain-pemain yang mengadopsi selebrasi Rashford, mungkin Bukayo Saka yang paling epic. Bagaimana tidak? Bintang muda Arsenal tersebut melakukannya di hadapan sang pemilik selebrasi. Saka melakukannya di laga kontra Manchester United beberapa pekan lalu.

Bermain di Emirates Stadium, Saka cs memang membawa misi wajib menang setelah kalah 3-1 di pertemuan pertama. Saka dan Rashford sebetulnya sama-sama mencetak gol spektakuler di laga tersebut. Rashford mencetak gol lebih dulu pada menit ke-17 lewat tendangan keras dari luar kotak penalti setelah mengecoh Thomas Partey.

Namun, Saka membalasnya lewat gol yang tidak kalah luar biasanya pada menit ke-53. Winger 21 tahun itu mampu meloloskan diri dari penjagaan Christian Eriksen sehingga bisa lepaskan tendangan keras dari luar kotak penalti yang menghujam gawang David De Gea. Usai membobol gawang United, Saka justru menyindir Rashford dengan mencuri selebrasi khasnya.

Sampai Di Luar Sepakbola

Tak hanya di sepakbola, pengaruh selebrasi Rashford sudah menjalar ke cabang olahraga lain. Kriket contohnya. Pemain kriket asal Inggris yang kini berlaga di kompetisi kriket Afrika Selatan, yakni Jofra Archer meniru selebrasi Marcus Rashford ketika berhasil mendulang poin di laga kontra Sunrisers Eastern Cape.

Sama halnya dengan Rashford, Archer juga baru saja keluar dari periode terberat dalam karirnya. Dilansir The Athletic, kabarnya Archer baru comeback dari cedera parah di bagian siku dan punggungnya, setelah absen selama 18 bulan. Selebrasi itu ia dedikasikan untuk perjuangannya bangkit dari keterpurukan.

Bukan Rashy yang Pertama Menggunakannya

Meski demikian, nyatanya Marcus Rashford bukan yang pertama melakukan selebrasi seperti itu di Liga Inggris. Jauh sebelum dirinya ada pemain Wolves, yakni Ruben Neves yang sudah melakukan selebrasi tunjuk kepala.

Bahkan pemain asal Portugal itu sudah melakukannya sejak Wolves masih bermain di kasta kedua sepakbola Inggris. Selebrasi menunjuk kepala milik Neves pertama kali muncul di laga kontra Sheffield United tahun 2018 lalu. Kala itu, Neves mencetak gol melengkung dari luar kotak penalti. Ia melakukan selebrasi tersebut untuk menandakan kalau golnya lahir dari sepakan cerdas.

https://youtu.be/T54OWqoEAvA

Sumber: Goal, The Athletic, Talksport, AS