Beranda blog Halaman 361

Cristano Ronaldo Datang, Al-Nassr Justru Malang

Al-Nassr dalam bahasa arab berarti kemenangan. Cocok dan seirama dengan apa yang diharapkan pada nama klub sepakbola Arab Saudi bernama Al-Nassr. Arti kemenangan dalam klub itu semakin dikuatkan dengan didatangkannya seseorang megabintang yang dikenal sebagai pemenang yakni Cristiano Ronaldo.

Performa Al-Nassr Sebelum Ronaldo Datang

Didatangkannya Ronaldo selain efek ekonomi dan industri sepakbola di Arab Saudi, tentu untuk meningkatkan prestasi klub itu sendiri. FYI aja, klub baru CR7 itu masih memasang target menjadi kampiun di beberapa kompetisi musim ini di tanah Arab, termasuk Liga Pro Arab Saudi yang telah lama hilang. Karena terakhir kali Al-Nassr meraihnya pada musim 2018/19. Ketika itu gelar juara diraih di zaman pelatih Rui Vitoria dan top skorer asal Maroko, Abderrazak Hamdalah.

Al-Nassr ini bukan klub sembarangan di Arab Saudi. Mereka telah mengoleksi gelar juara liga sebanyak sembilan kali. Hanya kalah dari Al-Hilal yang telah mengoleksi 18 gelar juara liga. Beberapa tahun terakhir pun Al-Nassr terus menguasai papan atas Liga Arab Saudi. Cuma yang menjadi masalah, musim lalu Al-Nassr tertatih sampai akhirnya hanya finish di posisi ke-3 klasemen dan nirgelar.

Padahal kalau dilihat pada musim-musim sebelumnya, klub berjuluk Al-Aalami itu paling tidak meraih satu trofi. Seperti di musim 2019/20 dan 2020/21 ketika meraih gelar Saudi Super Cup.

Nah sejak musim lalu, mereka mengalami masalah inkonsistensi. Pelatih mereka sempat berganti-ganti sampai tiga kali dalam semusim. Atas dasar itulah evaluasi mendalam dilakukan manajemen jelang musim baru. Pelatih baru pun didatangkan musim ini yakni Rudi Garcia. Mantan pelatih yang pernah sukses kala membesut Lille.

Tak hanya pelatih, pemain asing pun banyak yang didatangkan seperti kiper Kolombia David Ospina, bek Alvaro Gonzalez, gelandang Luiz Gustavo dan tentu saja CR7. Namun kedatangan CR7 selain menambah optimisme publik, juga ternyata memakan korban. Striker asing mereka musim lalu Vincent Aboubakar akhirnya hengkang ke Besiktas.

Efek Kedatangan Ronaldo Di Dalam Lapangan

Kembali lagi, perlu diingat kedatangan Ronaldo ke Al-Nassr selain untuk mendokrak nilai komersial, juga yang utama untuk mendongkrak performa klub. Akan tetapi harapan tinggi publik akan imbas CR7 di dalam lapangan kini mulai dipertanyakan.

Tentu tak semudah membalikan telapak tangan. CR7 adalah satu orang saja. Sedangkan sepakbola adalah sebelas orang. Artinya, kekompakan serta kesolidan tim menjadi kunci. Toh, kalau dilihat dari track record, dengan umur dan fisiknya yang tak muda lagi, bisa saja menjadi faktor penyebab kenapa CR7 tak mampu menanggung beban untuk mendongkrak tim sendirian.

Peran CR7 di Al-Nassr

Oke, mari kita lihat perannya dalam lapangan sejak ia datang ke King Fahd International Stadium. Debutnya melawan Al-Ettifaq ia sudah menyihir para penonton dengan aksi-aksinya sebagai seorang striker tunggal. Namun, golnya baru terjadi di pertandingan melawan Al-Fateh, itupun lewat titik putih.

Dalam perjalanannya, pencapaian 11 gol dan 2 assist dari 11 pertandingan Liga Arab Saudi menjadi sebuah kewajaran bagi seorang megabintang seperti dirinya. Namun di sisi lain, justru torehannya itu ternyata tak berarti apa-apa bagi klub.

Karena Al-Nassr kini sedang mengalami fase penurunan secara performa tim. Lalu apa penyebabnya? Tim ini dari awal musim dipegang oleh Rudi Garcia dengan format permainan andalannya 4-2-3-1. Kerangka per lini pun sudah dibangun sejak awal musim.

Ospina sebagai komando di bawah mistar, Alvaro Gonzalez sebagai komando lini belakang, Luiz Gustavo jadi jenderal lini tengah, serta di depan yang menjadi pusat permainan serta sumber gol dikomandoi oleh CR7 yang dibantu Talisca sebagai seorang gelandang serang maupun second striker.

Awalnya komposisi racikan Rudi Garcia itu manjur sebelum adanya CR7. Di mana posisi striker ditempati Vincent Aboubakar yang kini sudah hengkang. Al-Nassr ketika CR7 pertama datang pada Januari 2023 sempat memimpin klasemen Liga Arab Saudi.

Namun ketika hasil seri melawan Al-Fateh dan Al-Feiha, serta kalah dari pesaing mereka Al-Ittihad dan Al-Hilal membuat Al-Nassr harus puas merelakan posisi puncaknya kini pada Al-Ittihad asuhan Nuno Espirito Santo.

Pelatih Dipecat, Dua Gelar Lepas

Sayang seribu sayang, bukan hanya disalip di liga, dua gelar yang terbuka untuk diraih musim ini harus raib. Di Piala Super Saudi mereka harus takluk oleh Al-Ittihad 3-1. Serta yang terbaru takluk oleh Al-Wahda di semifinal Piala Raja Arab Saudi 0-1. Namun apakah semua kegagalan itu harus disalahkan karena kedatangan CR7?

Nampaknya kita harus fair, ketika melihat semua kesatuan tim Al-Nassr ini dalam keadaan kurang stabil. Terutama yang terjadi akhir-akhir ini ketika mereka ditinggal pelatihnya Rudi Garcia karena dipecat, serta di paruh musim ditinggal kipernya David Ospina karena cedera parah.

Usut punya usut, ada yang mengatakan bahwa Rudi Garcia dipecat karena kedapatan mempunyai friksi dengan CR7. Namun semua itu dibantah oleh pihak klub yang mengatakan bahwa pemecatan itu murni karena sang pelatih tak bisa perform.

Namun demikian hal itu menjadi pertanda bahaya bagi tim. Kehilangan Rudi Garcia dan digantikan oleh pelatih interim Dinko Jelecic tak serta-merta membuat transisi permainan Al-Nassr menjadi mulus. Dua kekalahan atas Al-Hilal dan Al-Wahda menjadi bukti.

Sikap Ronaldo Yang Tak Berubah

Itu baru soal pelatih, belum lagi sikap CR7 lainnya di dalam lapangan. CR7 tentu dijadikan sebagai role model para rekan-rekannya maupun publik Al-Nassr. Namun justru sikapnya yang tertangkap kamera menunjukkan lain.

Kita tahu, sebelumnya di MU maupun timnas Portugal, CR7 punya sikap yang dianggap negatif bagi kondusifitas tim. Sikap seenaknya sendiri, tak menghargai klub, dan merasa paling besar di klub membuat kondisi tim menjadi keruh. Apakah itu juga masih terjadi ketika di Al-Nassr? Kalau melihat indikasinya, tentu sudah banyak yang terkuak.

Seperti apa yang dilakukannya ketika ngamuk pasca laga melawan Al-Feiha. CR7 terlihat cekcok dengan pemain lawan. Kemudian apa yang terjadi ketika kalah atas Al-Ittihad. CR7 kedapatan frustrasi dengan menendang botol di pinggir lapangan dan coba ditenangkan rekan-rekannya.

Ada juga ketika ia kedapatan kamera melakukan aksi “smackdown” dalam duelnya dengan pemain Al-Hilal ketika Al-Nassr takluk 2-0. Atau ketika kalah atas Al-Wahda di Piala Raja Arab Saudi, CR7 seperti dilansir Mirror, kedapatan menyemprot staf kepelatihan Al-Nassr atas performa buruk timnya.

Gelar Juara Liga Arab Saudi Jadi Harga Mati

Beberapa sikap itu menjadi akumulasi yang menyebabkan kondisi tim tidak sepenuhnya baik-baik saja. Kedatangan CR7 selain ada positifnya, ternyata ada juga sisi negatifnya. Kini tinggal menunggu saja kebangkitan Al-Nassr di liga. Karena liga jadi gelar satu-satunya yang mungkin masih bisa diraih oleh Al-Nassr dan CR7.

Ketinggalan tiga poin atas Al-Ittihad di sisa laga musim ini, semuanya masih bisa terjadi. Gelar Saudi Pro League ini akan menjadi harga mati bagi karir seorang CR7. Kalau tidak bisa diraih, apa kata dunia?

https://youtu.be/nIYdoa0JkwM

Sumber Referensi : theathletic, transfermarket, mirror

Menanti Derby Terbesar UCL! Banyak Pertaruhan Tapi Kapten Milan Yakin Bisa Juara!

Kemenangan agregat 5-3 Inter atas Benfica menandakan mereka akan bersua dengan saudara se-rumah, AC Milan di semifinal Liga Champions 2023 nanti. Ini bakal jadi kali pertama kedua tim itu bertemu di perempat final Champions League dalam 18 tahun terakhir.

Jika kita lihat dengan objektif, mungkin tim yang paling berpotensi juara pada akhirnya ada di sisi bagan yang lain. Yaitu Manchester City dan Real Madrid yang merupakan dua tim terkuat di antara kontestan yang tersisa. Namun untuk urusan drama, ketegangan, romantisme, dan atmosfer panas sudah terjamin di derby della madonnina ini.

Kapten Milan Siap Angkat Trofi

Perjalanan AC Milan untuk sampai ke babak ini sangat luar biasa. Mereka berhasil mengalahkan Napoli yang merupakan kuda hitam dan favorit banyak orang musim ini. Tapi dengan perksa il diavolo rosso bisa mematahkan dominasi il partenopei.

Cukup dengan hasil imbang 1-1 di Estadio Diego Armando Maradona membuat pasukan Stefano Pioli menyegel agregat 2-1 untuk Milan. Kemenangan melawan Napoli, yang merupakan pemuncak Serie A ini tentu membawa kepercayaan diri yang lebih besar untuk rossoneri.

Sang kapten, Davide Calabria yakin ia bisa membawa timnya jadi tantangan berat buat Inter nanti. Setelah laga melawan Napoli, ia mengungkapkan rasa bangganya terhadap Milan.

“Saya sangat bangga dengan tim ini. Kami berjuang satu sama lain dengan semangat pengorbanan. Ketika anda menampilkan penampilan seperti malam ini, bukan suatu kebetulan anda bisa menang bahkan lawan tim besar.” Ungkapnya dikutip dari sempre milan.

Calabria juga mengungkapkan dirinya tidak mau tanggung-tanggung dalam bermimpi. Ia percaya bisa mengangkat trofi di akhir musim. Untuk itu, Calabria sudah tidak sabar bermain di semifinal menghadapi Inter nanti.

“Saya tidak sabar untuk bermain di semifinal. Kami harus punya pola pikir seperti ini. Ini adalah hak kami untuk bermimpi. Tim-tim lain lebih siap dari pada kami, tapi ini adalah pertandingan sepak bola. Saya bisa membayangkan kami pada akhirnya bisa mengangkat trofi itu.”

Laga Penuh Pertaruhan

Selain bakal jadi laga yang bersejarah, pertandingan ini nantinya juga mempertaruhkan hal yang besar untuk Milan maupun Inter. Derby ini tidak akan setinggi duel Real Madrid vs Manchester City. Tapi taruhannya akan lebih tinggi. Baik Milan dan Inter punya kebutuhan untuk mencapai final dan juara lebih besar daripada tim lainnya.

Mengapa demikian? Sebab saat ini Milan duduk di peringkat keempat Serie A. namun mereka memiliki jumlah poin yang sama dengan AS Roma yang berada di peringkat kelima. Sedangkan Inter lebih parah. Perjalanan yang dipenuhi pasang surut musim ini membuat Inter berada di posisi yang sulit. Mereka mampu mengalahkan Barcelona, Porto dan Benfica tapi malah kalah lawan Monza, Empoli, dan Bologna. Nerazzurri pun saat ini duduk di peringkat keenam klasemen Serie A.

Situasi mereka itu jadi tambah sulit karena Juventus yang tidak jadi disanksi. Si Nyonya Tua mendapatkan kembali 15 poin mereka dan tiba-tiba melesat ke posisi 3 Serie A. Alhasil membuat peluang Milan dan Inter untuk masuk zona Champions musim depan makin sulit. Jadi juara Eropa adalah cara paling dekat mereka untuk bisa tetap berlaga di kompetisi tertinggi Eropa musim depan.

Derby Milan ini juga memiliki makna pribadi bagi Stefano Pioli dan Simone Inzaghi. Dua pelatih itu semakin dapat tekanan menjelang akhir musim ini. Padahal mereka diharapkan bisa membawa masing-masing timnya jadi kandidat scudetto seperti musim lalu. Tapi malah kalah saing dengan Napoli asuhan Luciano Spalletti.

Masa depan Pioli di Milan dan Inzaghi di Inter pun kini berada di ujung tebing. Satu-satunya yang membuat mereka tidak jatuh adalah kiprah di Champions League. Setidaknya untuk saat ini. Jadi finalis Champions League harusnya sudah cukup untuk salah satu pelatih mempertahankan posisi mereka di klub.

Sebaliknya, kalah di babak empat besar bisa memunculkan bibit pemecatan. Apalagi kalau baik Pioli maupun Inzaghi tidak bisa mengamankan tempat di Liga Champions musim depan.

Harapan Serie A di UCL

Kenyataan itu menggiring ke pertanyaan yang lebih penting lagi. Bagaimana peluang dua tim dari Milan ini untuk benar-benar memenangkan trofi? Keduanya sangat tidak konsisten di musim ini.

Inter bisa jadi perwakilan Serie A yang kuat di final nanti. Di bawah asuhan Simone Inzaghi, Inter berubah jadi tim yang lebih hebat di pertandingan sistem gugur daripada kerasnya musim liga yang panjang.

Sedangkan kembalinya Milan ke semifinal adalah sebuah keajaiban yang tidak bisa dielakkan. Pioli melakukan tugas yang jauh lebih baik di Champions League daripada di Serie A. Milan juga punya Rafael Leao yang jadi faktor X mereka. Mengalahkan Napoli adalah bukti rossoneri bisa memberikan ledakan mengejutkan. Itu harusnya bisa mereka ulangi ketika melawan Inter nanti.

Terlepas dari itu, ada juga kekhawatiran baik Inter dan Milan masih belum siap untuk melawan Madrid maupun City di final nanti. Pertandingan nanti dilangsungkan di Istanbul. Dan kita tahu Istanbul adalah tempat yang kurang ramah untuk perwakilan Serie A.

Namun kembali lagi mengutip komentar Davide Calabria di awal tadi. Bahwa ini adalah pertandingan sepak bola. Terlebih lagi, babak gugur Champions League. Akan banyak faktor diluar teknis yang bisa jadi penentu hasil pertandingan.

Kita juga bisa melihat derby ini dari sisi lain. Baik Milan ataupun Inter yang menang, artinya sudah dipastikan ada tim Italia di final nanti. Ini tidak hanya kemenangan bagi Serie A dan sepak bola Italia.

Serie A pernah jadi liga terbaik di era 90-an. Liga dimana tempat para pemain pemenang Piala Dunia dan pemain-pemain terbaik lainnya berkembang biak. Liga yang menghasilkan manajer top Eropa dengan taktik revolusioner. Juga pesaing konstan juara Liga Champions.

Sayangnya sejak kemenangan Inter pada tahun 2010, tidak ada tim Italia yang memenangkan Liga Champions lagi. Hanya Juventus yang bisa menembus ke final di tahun 2015 dan 2017.

Ketika Inter maupun Milan mencapai ke final atau bahkan bisa juara nantinya, maka akan menghasilkan lebih banyak uang di Serie A. Juga menarik lebih banyak sponsor datang ke Italia. Ini bisa memicu penyempurnaan liga secara keseluruhan.

Karenanya, laga Derby Milan di semifinal Champions League ini merupakan laga penting di saat yang genting. Siapapun yang menang baik Milan ataupun Inter, harus melaju dan meraih trofi. Jika ini terjadi, maka ini akan jadi kemenangan untuk sepak bola. Dimana sebuah klub dengan masa lalu yang gemilang bisa meraih tahtanya kembali.

Sumber referensi: FootballItalia, ESPN, Forbes, SempreMilan

Hancurkan Real Madrid, Siapa Valentin Castellanos?

0

Kestabilan Real Madrid di Liga Spanyol kembali terganggu oleh klub papan tengah. Kali ini giliran Girona yang memberikan kekalahan pada sang juara bertahan La Liga tersebut. Girona mengalahkan El Real dengan skor yang cukup mencolok, yakni 4-2. Dan yang lebih menarik lagi adalah keempat gol Blanquivermells dicetak oleh satu pemain.

Pemain tersebut adalah Valentin Castellanos. Menghancurkan Real Madrid membuat nama Castellanos langsung melejit. Lantas siapa sebenarnya pemain yang satu ini? Kabarnya, dia merupakan salah satu dari proyek dari skema Multi Club Ownership-nya City Football Group loh. Benarkah demikian? Berikut kisah sang penghancur Real Madrid, Valentin Castellanos.

Siapa Valentin Castellanos?

Meski memiliki nama seperti pemain-pemain Spanyol, ternyata Valentin Castellanos bukan pemain berkebangsaan Spanyol, melainkan Argentina. Castellanos memiliki nama lengkap Valentín Mariano José “Taty” Castellanos Giménez dan lebih dikenal sebagai Taty Castellanos. Ia mendapat nama Spanyol “Castellanos” dari ayahnya yang memang memiliki darah Spanyol. 

Meski lahir di Argentina, pemain berusia 24 tahun ini justru memulai karir dari klub Chile, Universidad de Chile. Sempat bermain di Uruguay bersama Toque sebelum akhirnya diboyong oleh New York City tahun 2019. Jadi, meski asli Argentina, Castellanos belum pernah mencicipi sepakbola Argentina. 

Menjalani musim kedua bersama NYCFC, performa Castellanos makin nyetel. Ia mengemban peran vital di lini depan klub yang bermarkas di Yankee Stadium tersebut. Ia bahkan membantu New York lolos ke Liga Champions CONCACAF untuk pertama kalinya tahun 2019. 

Musim terbaik Castellanos di Liga Amerika Serikat hadir di musim 2020/21 saat membantu New York menyabet gelar MLS Cup sekaligus jadi pencetak gol terbanyak MLS dengan mencatatkan 19 gol.

Bukti Kesuksesan Skema Multi Club Ownership

Bermain di New York City membuat Castellanos memiliki kesempatan dan jenjang karir yang makin bagus. Buktinya, setelah tampil meyakinkan di MLS ia bisa berkarir di Liga Spanyol bersama Girona musim ini. Tentu bukan suatu kebetulan ia bisa dengan mudah berseragam Girona. Selidik punya selidik, New York City dan Girona merupakan “saudara sepersusuan”.

Perlu diketahui, saat kemunculannya pada tahun 2013 silam, New York City dikenal sebagai klub yang dinaungi oleh perusahaan induk yang juga menaungi Manchester City, City Football Group. 

Meski publik Negeri Paman Sam lebih menyukai basket, baseball, hingga American Football, nyatanya Major League Soccer terbilang cukup menjanjikan untuk mengundang perusahaan sekelas City Football Group berinvestasi disana. CFG sendiri memiliki 80% saham New York City dan sisanya dipegang oleh Yankee Global Enterprises. 

Nah meskipun tidak ada nama City-nya, klub Castellanos sekarang, yakni Girona juga merupakan salah satu produk akuisisi CFG pada 2017 lalu. Dimiliki oleh perusahaan yang sama membuat transfer Castellanos dari New York ke Girona berjalan mudah. New York yakin dengan meminjamkan Castellanos ke kompetisi yang levelnya lebih tinggi akan meningkatkan kualitas dan harga jual sang pemain.

Skema Multi Club Ownership semacam ini memudahkan klub satu dengan yang lain saling “meminjam” pemain. Salah satu kasus yang paling terkenal saat Manchester City dengan mengejutkan meminjam Frank Lampard dari New York City 2014 silam. Padahal saat itu City tengah menjalani hukuman larangan belanja pemain.

Lumbung Gol Girona

Taty Castellanos tak membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi dengan intensitas sepakbola Spanyol. Dengan cepat ia menjadi andalan lini depan skuad asuhan Coach Michel. Sebagai klub yang baru promosi ke kasta tertinggi, Girona tampil cukup apik bersama Castellanos. Klub yang bermarkas di Estadi Montilivi kini bertengger di papan tengah La Liga.

Bermain dengan formasi 4-1-4-1, Castellanos memainkan peran vital sebagai striker tunggal. Meski demikian tugasnya tak melulu soal bergerak di kotak penalti. Dalam momen tertentu, ia bisa memainkan peran lain sebagai false nine guna menarik pemain bertahan lawan dan membuka ruang bagi rekan-rekan satu tim di lini depan. 

Kecerdasannya di lapangan juga sangat membantu Blanquivermells untuk memenangkan laga-laga penting. Ketika memainkan peran sebagai false nine, Castellanos sesekali dapat menjadi penyuplai bola kepada teman-temannya di lini depan. Ia gemar memainkan sepakbola cepat dengan satu sentuhan sehingga membuyarkan konsentrasi lawan.

Menurut Fbref, ia sudah melakukan 579 sentuhan di La Liga. Rata-rata umpan progresifnya juga menyentuh 1,22 per 90 menit. Selain itu, sebagai striker tunggal Castellanos juga jadi lumbung gol Girona di La Liga. Kini pemain berusia 24 tahun itu sudah mencetak 12 gol di semua kompetisi. 11 diantaranya ia cetak di liga. Catatan tersebut menjadikannya pencetak gol terbanyak Girona musim ini.

Bangkit dan Cetak Empat Gol

Dari 11 gol yang sudah Taty Castellanos kumpulkan di liga, empat diantaranya bersarang ke gawang Los Merengues di laga kemarin. Namun, sebelum tampil gahar di laga tersebut, ternyata Castellanos baru melewati masa-masa terburuk dalam karirnya di Spanyol. 

Ia mendapat cacian dari fans Girona lantaran menyia-nyiakan peluang emas saat menahan imbang Barcelona awal April lalu. Tak main-main, kritikan keras membuat Castellanos tak berhenti menangis di rumahnya. Ia bahkan sampai menutup seluruh akun media sosialnya karena tak sanggup membaca kata-kata kasar dari fansnya sendiri. 

Kondisinya yang tak stabil itu, sempat membuat Castellanos tak masuk dalam skuad Girona yang bertandang ke markas Real Valladolid. Setelah mengasingkan diri dari dunia media sosial, ia menghabiskan waktu istirahatnya dengan berkumpul bersama keluarga dan orang-orang terdekat untuk memperbaiki kondisi mentalnya. 

Tak heran kemenangan atas El Real bak laga penebusan dosa bagi Castellanos. Ia langsung mencetak empat gol dan membuat fans kembali meneriakan namanya di tribun. Menurutnya, ini merupakan kemenangan penting guna membantu tim menghindari degradasi dan mencapai posisi yang lebih tinggi di akhir musim.

Rekor Baru, Kalahkan Lionel Messi

Empat golnya ini juga menjadi pencapaian tersendiri bagi Valentin Castellanos di Liga Spanyol. Dilansir Marca, ia menjadi pemain berkebangsaan Argentina pertama yang berhasil mencetak empat gol ke gawang Los Blancos dalam satu pertandingan La Liga. Bahkan pemain sekelas Lionel Messi saja belum pernah mencetak empat gol saat melawan Real Madrid selama karirnya di Barcelona.

Castellanos juga menambahkan namanya ke dalam daftar eksklusif sebagai pemain yang berhasil mencetak empat gol ke gawang Real Madrid. Robert Lewandowski jadi pemain terakhir yang melakukannya saat bertemu Real Madrid di semifinal Liga Champions tahun 2013. Saat itu Lewy masih berseragam Borussia Dortmund.

Satu laga luar biasa mungkin sudah cukup untuk menaikan pamor Valentin Castellanos di kancah sepakbola Eropa. Misi City Football Group untuk meningkatkan harga pasar sang pemain pun tampaknya akan menemui jalan yang mulus. Mengingat New York City hanya menebus Castellanos seharga 425 ribu euro atau hanya Rp6 miliar dari Torque.

https://youtu.be/wn2WE7Kfknw

Sumber: The Athletic, Goal, City Football Group, Marca, Daily Mail

Mengapa Real Madrid Adalah Tim yang Harus Dihindari di Liga Champions?

0

Ketika ditanya soal betapa sulitnya meraih Liga Champions, pelatih Manchester City, Pep Guardiola membeberkan alasannya. Dilansir Marca, Guardiola mengatakan bahwa yang membuat Liga Champions sangat sulit untuk dimenangkan adalah karena keberadaan Real Madrid.

Dengan kata lain, Liga Champions tidak akan menjadi sulit andai El Real tidak bermain di sana. Perkataan Guardiola ini juga sedikit banyak senada dengan apa yang dikatakan legenda Arsenal, Thierry Henry. Mantan pemain Barcelona itu mengatakan bahwa semua tim di Eropa takut pada Real Madrid.

Gianluigi Buffon saat berseragam Juventus juga tidak malu mengatakan bahwa ia takut menghadapi Real Madrid. Menurut Buffon, ketika timnya bermain di Liga Champions, satu-satunya tim yang harus dihindari adalah Real Madrid. Padahal Buffon sudah mengalahkan Real Madrid dua kali.

Tapi rekor itu tak membuatnya tenang ketika menghadapi Real Madrid. Jadi, mengapa demikian? Mengapa Real Madrid merupakan tim yang harus dihindari di Liga Champions?

Rajanya Liga Champions

Alasan klasik dan mungkin bisa menjadi tolok ukur paling kuat adalah karena Real Madrid merupakan rajanya Liga Champions. Anggapan itu tentu saja lebih dari sekadar gurauan seperti di panggung lenong. Los Galacticos nyatanya menjadi satu-satunya tim dengan gelar Liga Champions terbanyak.

Los Merengues total sudah 14 kali mengangkat Si Kuping Besar sejak tim itu didirikan. Terakhir kali Real Madrid melakukan itu pada edisi sebelumnya. Los Blancos sukses mengalahkan Liverpool di Prancis dan menggenapi trofinya menjadi 14.

Bukan hanya itu. Jika dihitung sejak tahun 2014, Real Madrid sudah mengumpulkan empat trofi Liga Champions. Lebih banyak dari klub mana pun. Masih belum cukup? Real Madrid juga menjadi satu-satunya tim yang bisa meraih hattrick Liga Champions di era modern.

Los Galacticos melakukan itu pada tahun 2016, 2017, dan 2018. Dari jumlah trofinya saja sudah membuktikan bahwa Real Madrid adalah rajanya Eropa. Apalagi Liga Champions memang merupakan supremasi tertinggi di level klub-klub Eropa.

Selalu Punya Skuad yang Mapan

Kunci sebuah konsistensi adalah susunan skuad. Dan Real Madrid dari tahun ke tahun tidak pernah kehabisan pemain dengan level bintang. Mereka selalu mempunyai skuad yang mapan. Sehingga siapa pun pelatihnya akan senang ketika melatih Real Madrid.

Hari ini misalnya, mereka punya Karim Benzema, striker paling berbahaya dan peraih Ballon d’Or. Real Madrid juga punya gelandang terbaik dari Negara Balkan, Luka Modric yang juga peraih Ballon d’Or. Real Madrid juga diperkuat Thibaut Courtois, kiper peraih Yachine Trophy.

Real Madrid juga pernah diperkuat dua Ronaldo. Cristiano Ronaldo dan El Fenomeno. Keduanya juga peraih Ballon d’Or. Los Galacticos juga sempat diperkuat Luis Figo dan Fabio Cannavaro yang juga peraih Ballon d’Or. Nah, musim ini saja, selain ada Karim Benzema dan Luka Modric, Real Madrid juga diperkuat pemain muda yang sudah mapan.

Eduardo Camavinga, Federico Valverde, Aurelien Tchouameni, Vinicius Junior, sampai Rodrygo Goes. Konsisten dengan skuad mapan ini belum tentu dimiliki oleh tim-tim Eropa lainnya.

Fasilitas Oke

Keberadaan skuad mapan di Real Madrid tidak lahir dari ruang hampa. Los Galacticos menjaga betul warisan skuadnya dengan memberikan tunjangan fasilitas yang terbilang sangat baik.

Real Madrid adalah tim yang terus berinovasi. Tempat latihan mereka di Valdebebas menjadi salah satu, jika tidak menyebutnya satu-satunya, yang terbaik di Eropa bahkan dunia.

Legenda Real Madrid, Guti sebagaimana dilansir BBC mengatakan, Valdebebas adalah tempat paling sempurna untuk berkembang menjadi pemain hebat. Tempat yang diluncurkan pada 2005 ini disebut-sebut menjadi yang terbesar yang pernah dibangun klub sepak bola, khususnya saat itu.

Luas tanahnya saja sekitar 1.067 hektare. Letaknya tak jauh dari Bandara Madrid-Barajas. Valdebebas juga disebut lebih luas dari Lapangan Merah Moskow di Rusia. Menurut keterangan Guti yang juga bekerja di sana, pemain dan pelatih benar-benar diistimewakan. Oh kalau begitu benar saja Real Madrid selalu punya skuad yang mapan.

Selalu Punya Pelatih Berkelas

Selain punya skuad yang selalu mapan, Real Madrid juga tak pernah kehabisan pelatih berkelas. Hal itu membuat mereka sampai kapan pun menjadi tim yang harus dihindari di Liga Champions. Misalnya saja, Real Madrid sekarang dilatih Carlo Ancelotti.

Ancelotti seorang yang bergenetika Liga Champions. Baik saat menjadi pemain maupun saat menjadi pelatih. Jupp Heynckes yang meraih treble di Bayern Munchen pada musim 2012/13 itu pun pernah melatih Real Madrid dan membawa mereka juara Liga Champions.

Kenyataannya Real Madrid selalu dilatih oleh pelatih yang bermental juara. Jose Mourinho misalnya, meski ia gagal membawa Real Madrid juara Liga Champions. Los Blancos juga pernah dilatih Zinedine Zidane. Mental juara dunianya berhasil mengantarkan Real Madrid hattrick Liga Champions.

Vicente del Bosque juga pernah melatih Los Galacticos yang ditunjuk pada 1999 silam. Terbukti Del Bosque juga pelatih hebat. Selain memberi trofi UCL di musim pertamanya, Del Bosque juga mengulanginya pada musim 2001/02.

Sulit Terkalahkan

Mengapa Real Madrid harus dihindari di Liga Champions? Karena tim ini sulit terkalahkan. Real Madrid bahkan selalu lolos dari fase grup Liga Champions sejak musim 1995/96, tepat ketika sudah menggunakan format baru. Ini juga termasuk di Babak Kedua Grup yang dimainkan pada musim 1999/00 hingga 2002/03.

Real Madrid hanya tidak lolos fase grup pada musim 1996/97. Itu pun karena mereka tak bermain di UCL karena hanya finis di peringkat enam liga di musim sebelumnya. Real Madrid juga sulit terkalahkan di fase gugur. Namun bukan berarti tidak bisa kalah.

Musim 2019/20 saja mereka dikalahkan Manchester City di 16 besar. Lalu di musim berikutnya, giliran Chelsea yang menaklukkan Los Merengues di babak semifinal. Kelak Chelsea yang menjadi juara musim itu.

Meski demikian ada satu hal yang pasti: Real Madrid tidak pernah gagal ketika sudah sampai ke final. Maka muncul kredo bahwa kalau ingin kalahkan Real Madrid kalahkanlah sebelum sampai final.

Mentalitas

Yang terakhir tentu saja mentalitas. Real Madrid punya mentalitas Liga Champions. Pelatih mereka, Carletto terus terang mengatakan bahwa akan lebih mudah mendapatkan Liga Champions ketika melatih Real Madrid. Sebab mentalitas UCL tim ini memang tak ada tandingannya.

Ingat bagaimana mereka lolos di final Liga Champions musim lalu? Di perempat final, mereka nyaris saja gagal di tangan Chelsea. Namun gol Karim Benzema di perpanjangan waktu menjadi pembeda. Lalu di semifinal, Real Madrid juga nyaris kalah dari Manchester City.

Leg pertama pasukan Guardiola berhasil memenangkan laga dengan skor 4-3. Membuat semua orang yakin, City yang akan ke final. Eh, ternyata di Bernabeu keadaan berbalik lewat drama di menit-menit akhir. Real Madrid pun melangkah ke final setelah menumbangkan City 3-1 di leg kedua lewat babak perpanjangan waktu.

Ya begitulah Real Madrid. Mereka memang tim yang harus dihindari di Liga Champions. Namun kalau sudah takdir mau bagaimana lagi? Seperti halnya Manchester City yang harus ketemu lagi dengan Real Madrid di Liga Champions musim ini.

https://youtu.be/9f24SP4V4hA

Sumber: ESPN, BBC, Quora, Marca, RealMadrid

Berita Bola Terbaru 25 April 2023 – Starting Eleven News

BERITA BOLA TERBARU DAN TERKINI

AS ROMA DIHANTAM ATALANTA

AS Roma mesti mengakui kedigdayaan Atalanta, dalam lawatan di lanjutan Liga Italia, Selasa dini hari tadi, dengan skor 1-3. Tiga gol Atalanta masing-masing diciptakan oleh Mario Pasalic di menit 39. Rafael Toloi di menit 74 dan Teun Koopmeiners di menit 84. Sedangkan satu satunya gol AS Roma dibuat oleh Lorenzo Pellegrini di menit 83. Roma kini berada di posisi lima klasemen Liga Italia dengan 56 poin dari 31 laga. Sementara Atalanta di urutan ketujuh dengan 52 poin.

KEKALAHAN TANDAI 100 CAPS MOURINHO BERSAMA AS ROMA

Jose Mourinho menandai penampilan ke-100 sebagai pelatih AS Roma kala menemani skuadnya bertandang ke Bergamo, markas Atalanta di Serie A. Sayang penampilan ke-100 tersebut dirusak dengan kekalahan tim asuhannya 1-3. Sebagai informasi, Jose Mourinho sendiri menukangi Serigala Ibukota sejak musim panas 2021.

POCHETTINO FIX JADI MANAJER BARU CHELSEA?

Dikutip Football London, perburuan manajer baru Chelsea tampaknya akan segera berakhir. Manajemen Chelsea bersiap menunjuk Mauricio Pochettino sebagai juru taktik mereka yang baru. Laporan tersebut mengklaim bahwa manajemen Chelsea saat ini mulai mengebut kontrak baru sang manajer. Mereka sedang berdiskusi dengan agen Pochettino. Mereka mulai membahas sejumlah klausul dan nilai kontrak sang manajer. Chelsea dikabarkan menargetkan penunjukkan Pochettino sudah kelar di awal Mei 2023 mendatang.

TOTTENHAM RESMI PECAT CHRISTIAN STELLINI

Cristian Stellini resmi meninggalkan jabatannya sebagai pelatih interim Tottenham Hotspur. Kabar ini muncul hanya sehari setelah Tottenham digilas Newcastle 1-6. Stellini yang awalnya bekerja sebagai asisten pelatih Antonio Conte pun harus menyusul mengepak koper. Sebagai gantinya, Ryan Mason akan mengambil alih tugas sebagai pelatih kepala Tottenham Hotspur.

SALIBA ABSEN DI LAGA KRUSIAL MAN CITY VS ARSENAL

Arsenal tidak akan diperkuat bek andalan William Saliba saat melakoni laga krusial kontra Manchester City pada pekan ke-33 Liga Inggris di Stadion Etihad, Kamis (27/4) dini hari WIB. Saliba harus absen karena belum pulih dari cedera punggung yang menderanya. Saliba sudah absen sejak mengalami cedera lawan Sporting Lisbon di Liga Eropa pada Maret lalu. Posisi Saliba sementara diisi oleh Rob Holding.

GUNDOGAN TETAP JADI TARGET NO 1 BARCELONA

Barcelona telah menetapkan dua prioritas transfer musim panas dengan kapten Manchester City, Ilkay Gundogan target lini tengah No.1. Gundogan adalah opsi yang lebih mudah jika dia memilih untuk meninggalkan City ketika kontraknya berakhir pada bulan Juni. Pemain internasional Jerman terbuka untuk pindah dari Stadion Etihad. Selain Gundogan juga ada Messi yang ingin dibawa pulang Barcelona.

REAL MADRID TANPA BENZEMA TANTANG GIRONA

Kapten sekaligus bomber Real Madrid, Karim Benzema dipastikan absen melawan Girona dalam pertandingan pekan ke-31 Liga Spanyol pada Rabu dini hari nanti, karena menderita cedera. Meski tak menjelaskan secara detail, Madrid tidak mencantumkan Benzema dalam daftar pemain yang dibawa ke Girona. Selain Benzema, pemain lain seperti David Alaba, Ferland Mendy, dan Eduardo Camavinga, juga akan absen versus Girona.

CHRISTENSEN COMEBACK DI LAGA VERSUS REAL BETIS

Barcelona akan kembali diperkuat bek andalannya, Andreas Christensen, saat mereka menjamu Real Betis, Minggu 30 April 2023. Dikutip Football Espana, Andreas Christensen bisa kembali tepat waktu di laga melawan Real Betis akhir pekan ini. Jika tidak, ia sudah akan kembali di pertandingan melawan Osasuna pada 3 Mei mendatang. Namun, ia dipastikan masih akan absen di pertandingan melawan Rayo Vallecano pekan ini.

STATISTIK MEMBUKTIKAN JIKA MAIGNAN LAYAK DISEBUT KIPER TERBAIK DUNIA

Kiper AC Milan, Mike Maignan punya catatan statistik yang mentereng. Maignan saat ini rata-rata melakukan enam operan panjang per pertandingan untuk Rossoneri, lebih baik dari Jan Oblak dengan lima umpan, Ederson dengan 4,9, Alisson dengan 4,7 dan Thibaut Courtois dengan 3,9. Maignan juga di atas sana untuk statistik penyelesaian umpan, dengan rata-rata 78,3% dari umpannya menemukan target yang diinginkan.

AL-NASSR TERSINGKIR DARI SAUDI KING CUP, RONALDO KECEWA

Al-Nassr gagal di semifinal Saudi King Cup 2023. Mereka kalah dari Al-Wahda dengan skor 0-1 dalam pertandingan yang berlangsung di KSU Stadium, Riyadh, selasa dini hari. Lalu ada sebuah video yang beredar di media sosial Twitter memperlihatkan Ronaldo kecewa dengan kegagalan ini. Tidak hanya itu, saat jeda babak pertama, Ronaldo juga mengeluarkan uneg-unegnya ke staf pelatih yang ada di pinggir lapangan saat hendak menuju ruang ganti.

BIKIN HEBOH! BARCELONA COPOT BENDERA SPANYOL DI CAMP NOU

Barcelona menang 1-0 atas Atletico Madrid di Camp Nou, tetapi kontroversi muncul di luar lapangan ketika bendera nasional Spanyol dengan logo klub Atletico yang telah digantung menutupi papan iklan dicopot secara paksa. Blaugrana sekarang telah menanggapi tindakan suporter dan petugas keamanan stadion mereka, yang bersitegang dengan pendukung Atleti, dan mengungkapkan mengapa mereka tidak punya pilihan selain bersikap dan memindahkan suporter tim tandang.

BRUNO FERNANDES ABSEN LAWAN TOTTENHAM?

Gelandang Manchester United, Bruno Fernandes dilaporkan berpotensi absen melawan Tottenham Hotspurs di tengah pekan ini. Sang playmaker dilaporkan bakal absen karena masalah cedera. Cedera itu ia dapatkan saat melawan Brighton. Alhasil ia tidak bisa bermain penuh saat timnya tampil di Wembley kemarin.’

MANCHESTER UNITED BIDIK NEYMAR DARI PSG

Dilaporkan oleh Goal, Manchester United mulai memantau situasi penyerang Paris Saint-Germain, Neymar. Meskipun Neymar mungkin tidak memiliki kecepatan dan ketangkasan yang sama seperti sebelumnya, dia masih dianggap sebagai salah satu pemain terbaik di dunia. Terlebih MU tengah mencari pemain bernomor punggung 7 yang baru setelah kepergian Cristiano Ronaldo. Neymar akan menjadi kandidat yang ideal untuk meneruskan nomor keramat tersebut.

AC MILAN TERTARIK DATANGKAN KYLE WALKER

Dikutip Tribalfootball, AC Milan sedang memburu bek Manchester City, Kyle Walker. Mereka berupaya untuk melihat situasi kontrak sang pemain, dan coba menyiapkan tawaran yang tepat untuk bek berwajah sangar tersebut. Akan tetapi, Milan tak sendiri dalam memburu Walker. Karena Aston Villa juga sudah siap untuk mengajukan penawaran kepada Man City.

PSSI PUNYA UTANG RP 2,15 MILIAR KEPADA EPA 2022/2023

Save Our Soccer (SOS) menemukan PSSI masih memiliki utang berjumlah miliaran rupiah dalam kompetisi Elite Academy Pro (EPA).  SOS mengklaim telah mendapatkan data valid bahwa PSSI masih memiliki utang dengan total nominal Rp2.155.000.000 dalam gelaran EPA U14, U16, dan U18 musim 2022/23. Total utang tersebut mencakup subsidi untuk klub peserta, gaji match commissioner, gaji volunteer, biaya antigen dan lainnya. Bahkan, beberapa pihak mengaku belum menerima bayaran sebelum Lebaran.

DERBY MANCHESTER CETAK SEJARAH DI PIALA FA

Manchester United dan Manchester City mencetak sejarah karena derby Manchester untuk kali pertama akan tersaji di final Piala FA musim ini. MU melangkah ke final setelah menyingkirkan Brighton & Hove Albion pada babak semifinal di Stadion Wembley, Minggu (23/4). Sedangkan The Citizens, sehari sebelumnya, melangkah ke final Piala FA usai mengalahkan Sheffield United 3-0. Duel keduanya sebelumnya paling banter terjadi pada babak semifinal FA Cup pada 1926 dan 2011.

WAN BISSAKA BANGKIT DI BAWAH TEN HAG

Aaron Wan-Bissaka tampil menawan untuk membawa Manchester United ke final Piala FA. Wan-Bissaka begitu sulit dilewati di sisi kanan. Ia berhasil mematikan senjata Brighton, Kaoru Mitoma. Bak sayap 25 tahun ini permainannya terus meningkat bersama manajer MU, Eric ten Hag. Ia telah mencatatkan 26 penampilan di semua ajang musim ini. Wan-Bissaka mengungkap bahwa dirinya bekerja keras dalam latihan untuk bisa menjalankan sistem yang dikembangkan Ten Hag.

MARSEILLE TARGETKAN TIMOTHY WEAH

Dengan Nuno Tavares akan kembali ke Arsenal pada akhir musim, penguatan di bek sayap akan menjadi salah satu prioritas Marseille di musim panas. Menurut L’Équipe, Timothy Weah dari Lille telah muncul sebagai kandidat prioritas, dengan pemain internasional AS itu disetujui dengan suara bulat oleh para petinggi klub. Weah juga diincar oleh beberapa klub Bundesliga, yakni Borussia Mönchengladbach dan Bayer Leverkusen.

LLORIS DIGANTI USAI DIBOBOL 5 KALI NEWCASTLE, INI SEBABNYA

Tottenham Hotspur hancur lebur di markas Newcastle United. The Lilywhites rontok dengan skor 6-1 dari The Magpies, dengan lima gol diantaranya sudah bersarang di babak pertama. Kebobolan lima gol dianggap menjadi alasan kiper sekaligus kapten Spurs, Hugo Lloris, diganti pada babak kedua. Namun, Lloris membantah hal tersebut. Kiper 36 tahun tersebut mengaku mengalami masalah dengan pinggangnya sehingga meminta pelatih Cristian Stellini untuk menggantinya dengan Fraser Forster.

PEDRI SENANG BISA KEMBALI BERMAIN

Barcelona berhasil mengalahkan Atletico Madrid dengan skor 1-0. Pedri mengaku sangat senang karena bisa kembali membela Blaugrana. “Tim menganggap pertandingan itu sebagai final, itu adalah pertandingan yang sangat penting, melawan rival hebat yang sudah lama tidak kalah. Selalu ada harapan untuk meraih gelar, tapi masih tersisa delapan final,” kata Pedri.

BARCELONA INCAR AUBAMEYANG

Barcelona ingin menyelamatkan karier Pierre Emerick Aubameyang dari kehancuran bersama Chelsea. El Barca ingin merekrutnya kembali sebagai pelapis Robert Lewandowski. Pakar transfer asal Italia, Fabrizio Romano, juga sudah mengungkapkan bahwa Aubameyang bersedia kembali ke pelukan mantan pada akhir musim nanti. Namun, perlu diingat bahwa La Blaugrana hanya ingin menggaet Aubameyang ke Camp Nou secara gratis.

SOAL RUMOR MESSI BALIK KE BARCELONA, APA KATA ANCELOTTI?

Lionel Messi dirumorkan akan kembali ke Barcelona. Pelatih Real Madrid Carlo Ancelotti buka suara soal kabar tersebut. “Messi bebas melakukan yang dia inginkan dan begitu juga Barcelona. Itu bukan urusan saya. Saya menyukainya sebagai seorang pemain. Akan menyenangkan buat sepakbola Spanyol untuk melihatnya kembali.” sahut Ancelotti dilansir Sport.

PEPE RESMI PERPANJANG KONTRAK DENGAN PORTO

Bek veteran Pepe setuju memperpanjang kontrak di FC Porto. Ia menandatangani kontrak baru meski usianya menginjak 40 tahun. Bek berpaspor Portugal ini menandatangani kontrak baru berdurasi 12 bulan bersama Porto. Pepe bisa dikatakan salah satu legenda Porto. Ia memenangkan 12 trofi dalam dua periode memperkuat klub, termasuk empat gelar Primeira Liga.

ALESSANDRO DIAMANTI UMUMKAN PENSIUN

Mantan pemain internasional Italia Alessandro Diamanti telah mengumumkan pengunduran dirinya dari sepak bola. Hanya beberapa hari menjelang ulang tahunnya yang ke-40, kapten tim Australia Western United itu mengkonfirmasi akan gantung sepatu di akhir musim. Diamanti pernah perkuat sejumlah klub seperti West Ham dan Bologna. Dia juga punya 17 caps di Timnas Italia.

PR TIMNAS INDONESIA U22 JELANG SEA GAMES

Timnas Indonesia U-22 terus mematangkan persiapan jelang SEA Games 2023 dengan menggelar latihan di Lapangan B Senayan, pada Senin (24/4) pagi. Pelatih Timnas Indonesia U-22, Indra Sjafri, mengatakan bahwa fokus pada sesi latihan tersebut adalah mematangkan finishing, yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi skuad merah putih. Selain itu, Indra Sjafri juga fokus pada menjaga kondisi fisik para pemain Timnas Indonesia U-22.

Apa Kabar 6 Pemain yang Pernah Bergelar “The Next Ronaldo”

Entah mengapa, pemain yang dijuluki the next Ronaldo tidak sebanyak the next Messi. Mungkin karena Messi datang dari bakat, sedangkan Ronaldo datang dari kerja keras. Jadi anggapannya adalah, cukup dengan kerja keras maka seorang pemain bisa sehebat Ronaldo. Meskipun kenyataannya tidak seperti itu.

Ya.. lagipula Ronaldo adalah pemain sepak bola dengan pencapaian tersukses dalam sejarah. Jadi sudah pasti siapapun yang muncul di daftar ini tidak ada yang bahkan bisa menyamai kesuksesan bintang Al Nassr itu. Tapi menarik untuk dibahas, bagaimana nasib 6 pemain yang pernah bergelar the next Ronaldo.

Luis Nani

Datang dari tanah air yang sama, Luis Nani langsung dapat julukan the next Ronaldo begitu ia dibeli Manchester United di tahun 2007. Apalagi setelah Nani juga datang dari klub masa remaja Ronaldo, Sporting Lisbon.

Sir Alex memang membeli Nani untuk rencana jangka panjang pengganti Ronaldo. Ia sudah tahu kalau Ronaldo tidak akan bertahan selamanya di United. Memang, dari para pemain di daftar ini, tidak ada yang lebih dekat dengan Ronaldo dibanding Nani. Mereka sama-sama berasal dari klub yang sama, posisi yang sama, dan gaya bermain yang mirip.

Meskipun begitu, Nani merasa membandingkan dirinya dengan Ronaldo adalah hal yang absurd. Ia mengungkapkan kalau dirinya punya gaya sendiri. “Saya sering sekali mendengar perbandingan itu. Memang dibandingkan dengan pemain sehebat dirinya adalah hal bagus. Tapi saya punya gaya saya sendiri” Ungkapnya dikutip dari express.uk.

Meskipun tidak bisa mencapai level Ronaldo di United, Nani tetap jadi pemain yang penting untuk MU. Selama delapan tahun ia di Old Trafford, Nani sudah mencetak 40 gol serta menjuarai 4 Premier League dan Champions League.

Ia hengkang dari MU di tahun 2014 untuk pindah ke klub lamanya, Sporting Lisbon sebagai pemain pinjaman. Kemudian berpindah-pindah klub Eropa seperti Fenerbahce, Valencia, dan Lazio sebelum menempuh karir MLS bersama Orlando City di tahun 2019. Di tahun 2022 ia sempat bermain untuk FC Venezia sebelum pindah ke Melbourne.

Gabriel Obertan

Ketika Ronaldo hengkang dari Old Trafford di tahun 2009, headline yang berseliweran di media adalah “siapa yang akan menggantikan peran Ronaldo?”. Dengan uang 80 juta pounds hasil penjualan sang mega bintang ke Madrid, Sir Alex tentu punya banyak pilihan.

Ia pun membeli Antonio Valencia, Michael Owen, dan Gabriel Obertan. Nama terakhir di datangkan dari klub Prancis, Bordeaux dengan harga 3 juta pounds saja. Obertan memang bukan nama yang fenomenal saat itu. Mengingat usianya baru 20 tahun.

Tapi Fergie yakin karena melihat potensial yang ia miliki dan rekomendasi dari mantan pemainnya, Laurent Blanc. Tapi ekspektasi tidak seindah kenyataan di lapangan. Obertan tidak bisa memenuhi standar dengan hanya bermain 28 kali dan mencetak satu gol.

United membuangnya ke Newcastle di tahun 2011. Karirnya juga tidak terlalu membaik di situ. Sampai akhirnya di tahun 2016 ia bergabung dengan Anzhi Makhachkala. Ia sempat kembali ke Inggris bersama Wigan, sebelum pindah ke Levski Sofia di Bulgaria kemudian Charlotte di Amerika.

Bebe

Setelah gagal dengan pembelian Obertan, Fergie masih tidak mau kapok mencari pemain muda pengganti Ronaldo. Kali ini ia langsung mendatangkan pemain itu dari Portugal. Adalah Bebe yang dibeli di tahun 2010 dari Vitoria de Guimaraes.

Sebagai pemain muda dari Portugal, tentu ia langsung dibandingkan dengan CR7 sejak awal kedatangannya. Apalagi posisinya sama dengan Ronaldo. Tapi kita tahu jelas kualitasnya tidak pernah sebanding dengan Ronaldo. Selama karirnya di MU, penyerang itu hanya bermain 7 kali dan mencetak 2 gol.

Uniknya, Bebe tidak dibenci oleh para suporter karena flop. Justru karena saking jeleknya, ia malah punya status cult hero di Old Trafford. Sebagian besar karirnya bersama setan merah ia habiskan sebagai pemain pinjaman ke berbagai klub. Sampai di tahun 2014, Bebe pindah ke Benfica. Setelah itu, ia berkelana di Spanyol bersama Eibar, Rayo Vallecano, dan Real Zaragoza.

Wilfried Zaha

Ketika Sir Alex Ferguson pensiun setelah lebih dari 20 tahun jadi bos Manchester United, ia memberikan hadiah terakhir. Hadiah itu adalah Wilfried Zaha, yang merupakan pembelian terakhir Fergie tepat sebelum pensiun. Tapi sayangnya hadiah itu tidak terlalu berguna di Old Trafford.

Tapi bukan salah Fergie karena telah membeli Zaha. Ia adalah sayap muda berbakat di Crystal Palace. Berlari melewati bek lawan adalah rutinitasnya tiap gameweek. Dengan gayanya itu, ia pun langsung disamakan dengan Cristiano Ronaldo.

Dan bukan salah Zaha juga kalau ia tidak tampil maksimal di Old Trafford. Zaha tidak diberikan banyak kesempatan oleh David Moyes. Ia bahkan sempat menderita depresi karenanya. Sampai akhirnya Van Gaal membuangnya di tahun 2015 ke klub lamanya. Begitu ia kembali lagi ke klub lamanya, Zaha langsung kembali jadi pemain yang mematikan.

Kalau saja Zaha datang lebih cepat dan mendapat polesan langsung dari Fergie. Mungkin ia benar-benar bisa jadi the next Ronaldo di MU. Sayangnya takdir dan waktu tidak berpihak padanya. Tapi ia cukup senang bisa jadi pemain penting di Crystal Palace. Bahkan sempat ada rumor kalau dirinya berminat gabung ke Al Nassr, menyusul Ronaldo.

Goncalo Guedes

Setelah empat pemain sebelumnya merupakan the next Ronaldo di MU, Goncalo Guedes sudah dapat julukan the next Ronaldo sejak bermain di Benfica. Ia dapat banyak perhatian sejak tahun 2015, ketika usianya masih 18 tahun tapi sudah jadi bagian penting Benfica.

Arsenal sempat mengincarnya di tahun 2015. Berharap punya cerita yang sama seperti MU merekrut remaja dari Sporting Lisbon di tahun 2003. Tapi embel-embel the next Ronaldo membuat Guedes dipatok dengan harga sangat mahal.

Hanya PSG yang mau membayar 30 juta euro demi memboyongnya di tahun 2017. Tapi belum genap semusim di Paris, ia sudah dipinjamkan ke Valencia. Di tahun 2018 ia pun dipermanenkan oleh Valencia. Meskipun menandatangani kontrak enam tahun, di tahun 2022 ia dijual ke Wolverhampton. Kemudian kembali dipinjamkan ke Benfica.

Joao Felix

Satu lagi the next Ronaldo dari Portugal, Joao Felix. Dari segi hype mungkin Felix jadi yang teratas dalam daftar ini. Ia sudah menunjukan kemampuan yang menjanjikan di musim debutnya bersama Benfica. Sampai di tahun 2018, Atletico Madrid membelinya dengan harga fantastis 127 juta euro.

Tapi transfer itu tidak jadi dongeng yang diharapkan Diego Simeone dan para fans Atletico. Ia memang jadi pemain reguler di Atletico. Hanya saja mengingat harganya yang selangit rasanya tidak sepadan. Ia pun dipinjamkan ke Chelsea yang sedang mengalami krisis di pertengahan musim 2022/23.

Sumber referensi: GMS, Express, Sportskeeda, MEN, Joe, Standar, B/R, Sun

Gara-Gara Juventus! Persaingan Zona Liga Champions Serie A Makin Panas

Serie A musim ini hampir pasti disudahi dengan euforia luar biasa yang terjadi di kota Naples. Napoli cepat atau lambat akan kembali menjadi kampiun Liga Negeri Pizza tersebut.

Namun tak hanya itu yang dinanti, perebutan zona Liga Champions musim ini juga menjadi sangat menarik. Karena tiba-tiba peta persaingannya berubah ketika Juventus kembali menyodok ke papan atas setelah terlepas dari sanksi pengurangan poin. Lalu, seberapa panas peta persaingannya? Siapa yang akan lolos dan siapa yang akan tersingkir?

Kembalinya Poin Juventus

Ada-ada saja memang Juventus ini. Sudah terlibat kasus dan tergusur dari papan atas liga, eh mereka kembali lagi ke sana. La Vecchia Signora diketahui sudah menang atas banding di persidangan atas sanksi pengurangan poin mereka. Atas kemenangan banding itu, pengurangan 15 poin Juventus tidak jadi dikabulkan. Alhasil Juventus kembali menyodok ke posisi ke-3 Serie A sementara.

“Mereka pantas mendapatkannya kembali. Sekarang, kami harus lebih fokus karena kami sudah terlalu sering kehilangan poin akhir-akhir ini. Kami mesti mengkonsolidasikan posisi kami di zona empat besar,” kata Allegri usai 15 poin kembali dalam genggaman.

Namun jika melihat performa akhir-akhir ini, pasukan Allegri sebenarnya tak terlalu mentereng. Tiga laga terakhir mereka di Serie A, Si Nyonya Tua kalah dari Lazio, Sassuolo dan Napoli. Artinya, meskipun mendapat hadiah 15 poin, mereka masih saja dalam mode bahaya mengamankan tiket Liga Champions.

Mengingat di tujuh laga sisa Serie A, mereka masih menghadapi klub seperti Atalanta maupun AC Milan. Terlebih Juve masih melaju di semifinal Liga Eropa. Ditambah jika mereka lolos ke final Coppa Italia, makin penuh saja jadwal Si Nyonya Tua nantinya. Kini tinggal Allegri bisa tidak meracik kedalaman skuadnya untuk tahan dan konsisten di sisa laga musim ini agar 15 poin yang jatuh dari langit itu tak sia-sia.

Kejutan Lazio

Selain kembalinya poin Juventus, yang mengejutkan lagi di Serie A musim ini yakni bertenggernya Lazio di runner up Serie A sementara. Anak asuh Maurizio Sarri semakin berharap mendapat jatah tiket Liga Champions. Mengingat Sarri sendiri punya pengalaman dalam mengantarkan klubnya tampil di Liga Champions seperti ketika di Napoli maupun Juventus.

Dengan materi yang tak terlalu mentereng, Aquilotti dibawa Sarri konsisten di Serie A. Dengan gaya khas ala Sarri Ball, racikan sepakbola menyerang Sarri patut diperhitungkan untuk finish di empat besar.

Klub-klub besar seperti AC Milan, Juventus, AS Roma, dan Napoli sekalipun telah mereka hancurkan. Dengan gugurnya mereka di kompetisi Eropa, membuat Sarri lebih mudah mengatur performa fisik anak asuhnya untuk tetap fokus mengejar target tiket Liga Champions.

”Kami tetap harus mengevaluasi diri sendiri. Kami memiliki pekan demi pekan untuk saatnya menginjak gas hingga akhir musim dan menjauh dari kejaran para pesaing,” kata Sarri seperti dilansir Football Italia.

Secara sisa jadwal, Lazio hanya akan menghadapi dua lawan tangguh yakni Inter dan AC Milan. Namun jika terganjal duo Milan, nasib Gli Aquilotti bisa saja tergusur dari posisi runner up dan makin susah saja untuk meraih jatah sisa tiket Liga Champions.

Duo Milan Terancam?

Bukan hanya Lazio yang terancam tergusur, dengan hadirnya Juventus kembali ke empat besar, nasib duo Milan jadi tak menentu. Harus diakui, selain kembalinya Juventus ke papan atas, performa semifinalis Liga Champions itu tak dipungkiri tampil inkonsisten di Serie A musim ini.

Buktinya, sebagai juara bertahan Milan kini tercecer di posisi empat klasemen sementara Serie A. Sedangkan Inter, justru kini berada di posisi enam sementara. Penampilan kedua klub di level domestik tampak meragukan untuk kembali mengejar target zona Liga Champions musim depan.

Anak asuh Pioli contohnya. Di tahun 2023 ini, Rossoneri lebih sering mengalami hasil minor. Selain rentetan kekalahan di Serie A, dua gelar lepas sekaligus di tahun ini. Yang pertama ketika kalah atas Torino di 16 besar Coppa Italia dan dibantai Inter di final Piala Super Italia.

La Beneamata bersama Simone Inzaghi pun sama. Dalam lima laga sebelum menang 3-0 atas Empoli, Inter belum pernah menang. Bahkan mereka dikalahkan oleh tim semenjana seperti Spezia.

Selain itu, faktor fokus duo Milan di kompetisi Eropa juga jadi sebab. Laju mereka di babak semifinal Liga Champions musim ini terlihat sangat berpengaruh pada olengnya kondisi mereka di kompetisi domestik. Mengingat kedalaman dan kualitas skuad lapis mereka tak terlalu menjanjikan.

Apalagi jika Inter masih melaju hingga babak final Coppa Italia, makin susah saja Inter untuk menargetkan tiga kompetisi sekaligus dengan hasil yang maksimal. Selain itu, melihat sisa jadwal duo Milan ini sebenarnya pantas untuk ketar-ketir.

AC Milan masih harus menghadapi Roma, Lazio, dan Juventus. Sedangkan Inter masih harus menghadapi Lazio, Roma, Napoli dan Atalanta. Apabila tak hati-hati, bisa saja salah satu dari mereka akan terlempar dari Liga Champions musim ini. Kecuali kalau ada salah satu dari mereka dapat tiket otomatis lolos dengan menjuarai Liga Champions.

Pembuktian Roma dan Mourinho

Yang terkena imbas Juventus tak hanya duo Milan, klub ibu kota AS Roma juga. Skuad besutan Jose Mourinho yang semula pada jalur empat besar, kini seketika terlempar.

Bagi Jose Mourinho, musim ini seharusnya adalah pembuktian. Bisa tidak membawa Roma kembali tampil di Liga Champions. Pasalnya, The Special One terakhir kali tampil di Liga Champions sudah cukup lama, yakni musim 2018/19 ketika bersama Manchester United. Setelahnya ia bersama Spurs dan musim pertamanya melatih Roma belum lagi berhasil tembus Liga Champions.

Selain terkena imbas Juventus, secara performa Giallorossi juga nyatanya sama saja seperti duo Milan. Giallorossi menggila di kompetisi Eropa, namun di level domestik kerap loyo. Seperti akhir-akhir ini setelah menang di tiga pertandingan Serie A, mereka tiba-tiba dihancurkan Atalanta 3-1.

Kans Giallorossi untuk menggusur para kandidat lain di empat besar Serie A harus diuji ketika masih menghadapi jadwal berat melawan Inter, AC Milan dan Fiorentina. Fokus mereka yang terbelah di semifinal Europa League akan menjadi kunci. Bisakah Mourinho memanfaatkan kondisi timnya untuk mencapai dua target tersebut? Atau jangan-jangan Mourinho kembali akan absen di Liga Champions?

Atalanta Diam-Diam Membuntuti

Selain tim-tim besar yang berpotensi mengajar sisa tiket Liga Champions, tim seperti Atalanta yang secara poin tak terlalu jauh dengan posisi empat besar, bisa saja mengancam siapa pun jika lengah.

Meskipun performa Atalanta terbilang menurun musim ini, tapi mereka diam-diam masih memiliki asa untuk kembali mengulang kisah manis mereka tampil di Liga Champions.

Kemenangan atas AS Roma 3-1, membuat optimisme mereka seketika tumbuh kembali. Lawan berat mereka hanya Inter dan Juve di sisa tujuh laga terakhir. Namun ya namanya juga Atalanta, menghadapi klub lemah pun terkadang mereka bisa saja tersungkur.

https://youtu.be/ffzJ6tDSrRw

Sumber Referensi : espn, dailymail, theathletic, sempreinter, romapress

Catat Ini! Julian Alvarez Lebih dari Sekadar Serepnya Haaland

0

Pada babak ketiga Piala FA, Manchester City berjumpa dengan Chelsea. Ketika itu The Citizens mendapat penalti usai Kai Havertz handball di dalam kotak terlarang. Julian Alvarez ditunjuk sebagai algojo. Tahu yang akan mengambil “hanya” pemain muda, kiper Chelsea, Kepa Arrizabalaga mencoba mengganggu konsentrasinya.

Namun, Kepa salah besar. Meski masih muda, Alvarez bukan pemain yang mudah jatuh mentalnya. Alvarez pun tetap tenang dan tuntas melaksanakan tugasnya. Kepa gagal mengantisipasi eksekusi penalti Julian Alvarez. Sementara Alvarez membuktikan bahwa ia sangat layak untuk Manchester City.

Penampilan impresif Alvarez sekaligus menjawab keraguan yang ada padanya. Partner Lionel Messi di Timnas Argentina itu dulu dianggap hanya serepnya Haaland. Namun, kini Alvarez menjawab bahwa ia lebih dari sekadar serepnya pemain Norwegia tersebut.

Kedatangan Julian Alvarez ke City

Julian Alvarez dibawa Manchester City dari River Plate dengan harga sangat ekonomis. The Citizens hanya perlu merogoh kocek 17 juta euro atau sekitar Rp280 miliar kurs sekarang. Namun, sejatinya Alvarez tidak dibeli pada awal musim ini. Sky Blues membelinya pada Bulan Januari 2022 lalu.

Namun, saat sudah dibeli, Alvarez justru dikembalikan ke River Plate sebagai pemain pinjaman. Sebelumnya, ia dibeli karena Manchester City sedang membutuhkan striker. Setelah tak lagi diperkuat Sergio Aguero, City tak punya striker pilih tanding. Pep Guardiola pun harus mencari siasat untuk memenuhi kebutuhan striker.

Direktur Sepak bola The Citizens, Txiki Begiristain mengatakan bahwa Alvarez adalah sosok yang tepat untuk Manchester City. Dilansir Sky Sports, ia mengatakan sang pemain mempunyai potensi yang menonjol. City telah memantaunya cukup lama.

Pernah Diminati Real Madrid

Begiristain tak salah berkata demikian. Kualitas Alvarez sudah memikat bahkan sejak usianya masih sangat belia. Saat masih berusia 11 tahun, Alvarez sudah melahirkan minat dari tim raksasa seperti Real Madrid. Sejak kecil pemain yang satu ini memang sudah memantapkan diri sebagai pesepakbola.

Ia ingin menjadi seperti Lionel Messi, idolanya di Argentina. Alvarez juga menjadi penggemar River Plate dan Barcelona. Namun, minat yang datang justru dari rival Blaugrana. Tak masalah. Real Madrid juga tak kalah besar dari Barcelona.

Mantan Direktur Olahraga Real Madrid, Ramon Martinez melihat bakat Alvarez dan ingin membawanya ke Spanyol. Usianya baru 11 tahun tapi sang pemain sudah diundang ke Girona, Spanyol untuk melakoni semacam turnamen. Ia bergabung ke tim junior Real Madrid.

Tapi sayang, setahun sebelum uji coba itu, yakni pada tahun 2010, FIFA mengeluarkan aturan bahwa pemain yang usianya belum genap 16 tahun tak boleh pindah negara tanpa orang tua. Itu jelas menyulitkan Alvarez. Pindah ke Spanyol bersama keluarga di usianya yang masih 11 tahun bukan opsi tepat untuknya.

Lagi pula tidak ada jaminan ia bakal apik di tim muda Real Madrid. Alhasil Alvarez pun harus memulai karier di Argentina. Ia bergabung dengan klub CA Atalaya sebelum akhirnya merapat ke River Plate dan menapaki kariernya selangkah demi selangkah di sana.

Sempat Tak Senang di Manchester City

Seperti pemain-pemain lainnya yang merapat ke tim besar, Alvarez harus menelan pil pahit di Manchester City. Persaingan yang ketat di skuad ditambah kebutuhan tim yang sepertinya belum ingin memakai Alvarez sempat membuatnya frustrasi.

Sampai Februari 2023 ia jarang dimainkan. Meskipun tampil mengesankan di Piala Dunia, tapi Guardiola belum melirik betul sang pemain. Terlebih sudah ada Erling Haaland. Hingga Februari 2023 Alvarez baru enam kali menjadi starter di Premier League sejak kembali dari River Plate.

Hingga saat itu, ia baru bermain sebanyak 707 menit dan mencetak lima gol untuk The Citizens di Liga Inggris. Dilansir 90 Minutes, City sempat menawarkan pembaharuan kontrak menjadi lima tahun. Namun, Alvarez ragu untuk mengambilnya di tengah minat dari Barcelona, Real Madrid, hingga Paris Saint-Germain.

Di satu sisi, Manchester City tak sudi membiarkan salah satu aset terbaiknya pergi. Akhirnya dengan segala bujuk rayu, The Citizens berhasil mendorong Alvarez untuk menandatangani kontrak barunya hingga 2028 pada Maret lalu. Well, ia pun bertahan di Etihad.

Tampil Apik Ketika Diberi Kesempatan

Cukup lama tak terpakai, Alvarez beringas ketika diberi kesempatan oleh Pep Guardiola. Seketika ia menjadi idola baru publik Etihad. Ia yang sudah mencetak 14 gol dari 40 laga membantu Manchester City untuk meraih Piala FA, Liga Champions, dan memburu Liga Inggris.

Sejauh ini eksplosivitas Alvarez sangat mengagumkan. Meski harus diakui ia jarang tampil. Namun, Alvarez ternyata bukan sekadar striker pemburu gol. Ia punya kemampuan lain yang itu rupanya menjadi perhatian khusus Guardiola.

Seperti julukannya, El Aranita atau Si Laba-laba Kecil, Alvarez menawarkan kelincahan dan keuletan di lini depan. Ia berbeda dari Haaland yang tinggi. Alvarez juga cepat mempelajari perannya ketika dimainkan oleh Pep Guardiola.

Sang Versatile

Julian Alvarez sepertinya mengerti Haaland bukanlah sosok yang bisa disaingi di lini depan Manchester City. Maka Alvarez mencoba membuat dirinya menjadi sosok versatile. Ia bisa bermain di segala posisi di lini depan. Ia bisa menjadi striker nomor “9”, menjadi second striker, sayap, maupun gelandang serang.

Guardiola kerap menaruh Alvarez sebagai pemain sayap kanan. Dilansir Transfermarkt, Alvarez sudah menempati posisi itu sebanyak 46 kali. Dan ternyata ia manjur ditaruh di sana. Alvarez kerap melakukan penetrasi ke area penalti lawan saat ditaruh di posisi sayap kanan.

Menurut Fbref, setidaknya Alvarez sudah melakukan itu sebanyak 12 kali. Alvarez juga efektif dalam memberikan umpan. Mengutip Fbref, umpan suksesnya menyentuh 226 dari 291 percobaan. Alvarez juga melakukan 475 umpan progresif di Liga Inggris sejauh ini.

Alvarez juga kerap melakukan giringan bola. Total ia melakukan 215 dribel di Liga Inggris dengan total daya jelajahnya 1225 yard atau sekitar 1120 meter, serta tujuh kali menusuk ke sepertiga lapangan lawan. Ini menunjukkan bahwa kontribusi Alvarez bukan hanya gol.

Salah satu penampilan terbaiknya adalah ketika mengalahkan Liverpool 4-1. Golnya menggugah Manchester City untuk bangkit dari ketertinggalan. Terbukti setelah menyamakan kedudukan 1-1, Manchester City bisa berbalik menang.

Potensi Duet dengan Erling Haaland

Well, belakangan ini muncul anggapan bahwa Julian Alvarez juga bisa berduel dengan Erling Haaland. Alvarez mengakuinya, bahwa ia layak duet dengan pemain Norwegia tersebut. Publik Etihad juga merestui duet keduanya berkat kemistri antara keduanya.

Persahabatan keduanya ternyata telah terjalin sangat erat, baik di atas lapangan maupun di luar stadion. Para fans bahkan sudah mempunyai julukan khusus untuk kolaborasi keduanya. Mereka menyebutnya “Haalvarez” gabungan dua nama pemain.

Tentu saja, jika kedua pemain ini bermain bersama, Manchester City makin sulit untuk dikalahkan. Bisa-bisa raihan treble The Citizens musim ini bukan sekadar lamunan orang gila yang duduk di pinggir pasar.

https://youtu.be/lMLf3US3f2k

Sumber: TheAthletic, Independent, ManCitySquare, 90Min, WorldSoccerTalk, SkySports, ManCity, TN, Fbref