Beranda blog Halaman 285

Kenapa Pemain Akademi Real Madrid Tergerus Bintang Muda Asing?

0

Kecemerlangan Bellingham, Tchouameni, Rodrygo, maupun Vinicius Junior telah membuat Real Madrid pede sebagai klub yang sukses dengan talenta-talenta mudanya. Namun di sisi lain, Real Madrid lupa bahwa mereka punya La Fabrica, sebuah gudang bakat muda yang mencetak banyak talenta hebat di tanah Matador. Pertanyaannya sekarang, apakah beberapa pemain muda yang gacor bersama Real Madrid musim ini itu adalah alumni La Fabrica?

Lulusan La Fabrica Di Real Madrid

Keberadaan lulusan La Fabrica kini menjadi dilema di tengah gempuran para pemain asing mahal yang datang dan pergi di Real Madrid. Pola itu terus menggerus kesempatan para lulusan terbaik La Fabrica untuk bisa promosi menjadi pemain pilar di skuad senior Real Madrid.

Dulu di era 2000 awal, El Real terbukti masih ramah dengan para lulusan La Fabrica. Meski di era tersebut adalah era Galacticos, pemain Raul Gonzalez, Pavon, Guti, Raul Bravo sampai Casillas masih jadi bagian dari skuad utama Los Blancos. Sebagai hasilnya, kombinasi apik dari lulusan La Fabrica dengan para bintang asing mahal berhasil mendominasi prestasi baik di liga domestik maupun Eropa.

Di era kepemimpinan Perez jilid 2 dengan program Galacticos yang sama, mereka pun masih ramah dengan keberadaan kolaborasi pemain La Fabrica. Terbukti ketika Zidane meraih kesuksesan hattrick Liga Champions, pemain macam Lucas Vazquez, Jese, Alvaro Morata, Asensio, hingga Nacho masih diberi kesempatan menjadi bagian penting dari skuad inti El Real.

Berubah di Zaman Ancelotti

Faktor pelatih di sini juga menjadi variabel penting kenapa para pemain lulusan akademi masuk skuad inti El Real. Zidane yang mengetahui seluk beluk skuad muda Real Madrid sejak menukangi Castilla percaya pada lulusan La Fabrica untuk menunjukkan talenta terbaiknya di skuad utama.

Tapi sejak dipegang pelatih asing asal Italia, Carlo Ancelotti, pandangannya sedikit berbeda. Termasuk di periode pertamanya yakni musim 2013/14. Ancelotti jarang memberikan kesempatan menit bermain lebih kepada pemain muda La Fabrica. Mungkin hanya Arbeloa dan Casillas yang sudah mulai menua.

Lihat saja, ia malah sempat membuang pemain seperti Morata dan Vazquez di 2014. Ketika itu Ancelotti lebih percaya membeli Lucas Silva, talenta muda dari Brazil yang gagal total. Memang sih, nyatanya meski menggunakan kebijakan mayoritas pemain asing, gelar La Liga, Copa Del Rey maupun Liga Champions dapat diraih Ancelotti.

Kebijakan Beli Bintang Muda Asing

Begitupun ketika periode kedua Ancelotti di 2021. Menurut The Athletic, Ancelotti di musim pertamanya kembali ke Real Madrid bahkan hanya memainkan lulusan La Fabrica dan Castilla selama 474 menit di 26 laga pada 9 pemain.

Don Carlo bahkan terbukti langsung membuang beberapa alumni La Fabrica macam Kubo, Odegaard, Brahim Diaz, Odriozola, maupun Borja Mayoral. Ia malah membeli pemain muda yang mahal seperti Camavinga.

Tak lain kebijakan baru tersebut memang merupakan tujuan dari manajemen klub. Real Madrid telah mulai mengubah kebijakan transfernya di bawah Perez, yakni getol beli pemain muda asing dari negeri orang.

Aktor lainnya ada Juni Calafat, seorang pemandu bakat Real Madrid yang bekerja di balik layar. Ia sering ditugaskan keliling dunia termasuk Amerika Selatan untuk mencari bakat muda terbaik. Tak ragu pula, Calafat dan Perez berani menebusnya dengan biaya tak sedikit.

Contohnya antara lain Vinicius Junior, Rodrigo, Valverde, maupun yang terbaru Endrick. Selain pilar muda dari Amerika Selatan, dari Eropa pun tak ketinggalan. Atas kesepakatan Ancelotti dan manajemen, mereka membeli daun muda mahal seperti Camavinga, Tchouameni, maupun Bellingham.

La Fabrica dan Castilla Berprestasi

Ancelotti dan manajemen seakan buta pada lulusan La Fabrica. Padahal La Fabrica dan Castilla berprestasi di beberapa tahun terakhir lho. La Fabrica bahkan meraih treble winner di musim lalu. Real Madrid Juvenil U-19 asuhan Arbeloa merengkuh gelar juara Liga Division De Honours, Copa De Campeones, dan Copa Del Rey usia muda.

Sebelumnya, Raul Gonzalez di 2020 juga pernah berprestasi di La Fabrica dengan membawa gelar juara UEFA Youth League. Raul kini masih sukses menangani Castilla dengan menelurkan pemain berbakat seperti Nico Paz, Gonzalo Garcia, Marvel, Tobias, maupun Mario Martin.

Nama-nama tadi memang terkesan asing. Mereka ketika dimasukan ke skuad Real Madrid pun hanya jadi penghangat bangku cadangan. Raul sudah menyadari akan hal tersebut. Meski terus berkomunikasi, Raul merasa susah meyakinkan Ancelotti tentang kualitas pemain La Fabrica. Hal itu sudah terbukti di musim lalu ketika pemain muda mereka seperti Sergio Arribas (Almeria), Rafa Marin (Alavés), dan Carlos Dotor (Celta Vigo) malah dipinjamkan.

Jalur Unik Akademi Real Madrid

The Athletic menyoroti kebijakan Ancelotti dan Real Madrid sekarang tentang nasib pemain La Fabrica. Mereka menyebutnya “Way of Carvajal” adalah jalan yang tepat bagi pola pemain La Fabrica jika ingin berhasil. Apa itu “Way of Carvajal?

“Way of Carvajal” adalah jalur yang ditempuh para pemain La Fabrica untuk melancong dulu untuk menimba ilmu serta pengalaman bermain di luar Real Madrid. Baik itu dengan jalur pinjaman maupun jalur penjualan.

Hal itulah yang dialami Dani Carvajal yang sukses kembali lagi ketika dibeli Real Madrid pada 2013 silam dari Leverkusen. Carvajal memilih dijual ke Leverkusen demi mengasah kemampuannya bermain reguler, ketimbang menanti ketidakpastian masuk skuad utama Real Madrid.

Begitupun apa yang dialami Lucas Vazquez. Di era Ancelotti tahun 2014, ia dibuang ke Espanyol sebagai pemain pinjaman dan kembali lagi ke Real Madrid di era Zidane dengan kondisi lebih baik. Namun yang perlu diingat, tak sepenuhnya “Way of Carvajal” ini berhasil ditiru oleh pemain lainnya. Lihat Mariano Diaz, setelah dipinjamkan ke Lyon dan gacor, ia kembali lagi ke Madrid malah flop.

Nah di musim 2023/24 ini, banyak lagi pemain Real Madrid yang melewati “Way of Carvajal” tersebut. Mereka di antaranya adalah Fran Garcia yang lama bersama Rayo Vallecano, maupun Joselu yang telah lama pindah-pindah klub. Pertanyaannya, apakah mereka adalah calon yang berhasil seperti Carvajal atau gagal?

Pasca Ancelotti akan Berubah?

Jawabannya akan kembali lagi kepada pribadi dan selera Carlo Ancelotti. Yang perlu ditanyakan sebenarnya bukan lagi nasib pemain yang melalui “Way of Carvajal” tersebut, melainkan nasib La Fabrica yang menunggu antrian dipromosikan seperti Nico Paz maupun Gonzalo Garcia. Apakah mereka akan dapat kesempatan atau hanya akan berakhir pada peminjaman dan penjualan?

Nah berhubung Ancelotti akan meninggalkan Bernabeu musim depan, potensi lulusan La Fabrica untuk promosi dan mendapat menit bermain lebih akan terbuka lebar. Hal itu juga tentu menunggu siapa sosok yang akan ditunjuk sebagai pelatih. Kalau pelatih yang sudah mengerti seluk beluk akademi Real Madrid seperti Arbeloa, Raul, Xabi Alonso, atau Zidane, tentu potensi itu akan terbuka lebar.

https://youtu.be/5SuAuzI47Tc

Sumber Referensi : theathletic, theathletic, goal, onefootball, en.as

Jerman Terlambat Memecat Hansi Flick

0

Jepang kembali menjadi momok bagi Jerman. Setelah memberi Jerman kekalahan 2-1 di Piala Dunia 2022, terbaru Jepang kembali berhasil menundukkan Jerman. Kali ini skornya lebih telak. Di laga pembuka uji coba bulan September, Jerman yang bermain dihadapan lebih dari 24 ribu pendukungnya yang memadati Volkswagen Arena takluk dengan skor 4-1.

Sebuah kekalahan memalukan yang meneruskan tren menyedihkan timnas Jerman di bawah asuhan Hansi Flick. Sudah bisa ditebak, kekalahan tersebut berujung dipecatnya Hansi Flick dari kursi pelatih Die Mannschaft.

Itu merupakan pemecatan yang sudah ditunggu-tunggu oleh para pendukung timnas Jerman. Sebuah pemecatan yang memang sudah sewajarnya terjadi. Sayangnya, butuh sebuah kekalahan telak dan rekor memalukan untuk menyadarkan Federasi Sepak Bola Jerman.

Bisa dibilang kalau DFB telah terlambat memecat Hansi Flick dari kursi pelatih Timnas Jerman. Sebab, kini mereka berkejaran dengan waktu agar tak kembali tampil menyedihkan di Euro 2024.

Performa Menyedihkan Jerman di Bawah Asuhan Hansi Flick

Hansi Flick sebetulnya memulai kiprahnya sebagai pelatih timnas Jerman dengan apik. Di 8 pertandingan pertamanya, ia bahkan selalu menang. Namun, setelah memasuki tahun 2022, performa Der Panzer mengalami penurunan.

Jerman hanya meraih 1 kemenangan dari 6 laga tersisa di UEFA Nations League yang membuat mereka gagal lolos ke fase final. Jelang gelaran Piala Dunia 2022, pasukan Hansi Flick susah payah mengalahkan Oman dan hanya menang 1-0. Jerman kemudian gagal total di Piala Dunia Qatar, salah satu turnamen yang menjadi target Hansi Flick.

Jerman bahkan jadi bahan olok-olokan saat tampil di Piala Dunia 2022. Selain karena mencampurkan sepak bola dan kampanye kaum pelangi, mereka juga tampil amburadul. Untuk kedua kalinya, Jerman gagal lolos dari babak grup Piala Dunia.

Setelah kegagalan memalukan tersebut, pendukung timnas Jerman jelas menuntut balas di Euro 2024. Apalagi, mereka adalah tuan rumah Piala Eropa edisi ke-17. Selain tuan rumah, Jerman juga sudah lama tak menjadi jawara Eropa. Terakhir kali mereka mengangkat trofi Piala Eropa terjadi di edisi 1996.

Namun, setahun jelang gelaran terakbar di Benua Biru itu, pendukung Jerman dibuat ketar-ketir dengan penampilan anak asuh Hansi Flick. Bukannya menunjukkan perbaikan, performa timnas Jerman justru makin hari makin menurun.

Jerman membuka tahun ini dengan kemenangan 2-0 atas Peru di bulan Maret 2023. Namun, tiga hari kemudian, Jerman takluk 2-3 di kandangnya sendiri dari Belgia.

Pasukan Hansi Flick kemudian membuka serangkaian laga uji coba bulan Juni dengan hasil imbang 3-3 melawan Ukraina. Empat hari kemudian, Jerman yang bertandang ke markas Polandia pulang dengan kekalahan 1-0. Jerman kemudian menutup rangkaian laga uji coba bulan Juni dengan rekor tanpa kemenangan setelah menelan kekalahan mengejutkan 2-0 dari Kolombia.

Praktis, sepanjang tahun 2023 ini, pasukan Hansi Flick baru meraih 1 kemenangan, yakni saat mereka menang 2-0 atas Peru. Kemenangan atas Peru juga jadi satu-satunya kemenangan yang bisa Jerman petik pasca kegagalan di Piala Dunia 2022. Total dari 11 pertandingan terakhirnya, Hansi Flick hanya mampu membawa Jerman menang 3 kali.

Catatan inilah yang membuat media-media Jerman mulai mempertanyakan kepantasan Hansi Flick menukangi Die Mannschaft. Bisa dibilang kalau selama hampir setahun terakhir ini, pendukung timnas Jerman sudah dibuat ketar-ketir dengan penampilan anak asuh Hansi Flick yang terus tampil menyedihkan.

Hansi Flick Dipecat dengan Rekor Buruk

Dengan catatan demikian, maka serangkaian laga uji coba di bulan September ini bukanlah sekadar laga uji coba biasa. Rencananya, Jerman akan menghadapi Jepang, Prancis, dan Amerika Serikat. Tiga laga tersebut sangatah menentukan dan menjadi pertaruhan nasib bagi karier Hansi Flick di timnas Jerman.

Dan benar saja, tak perlu menunggu laga melawan Prancis dan Amerika Serikat, Jepang yang menjadi momok di Piala Dunia 2022 kembali jadi momok bagi Jerman. Pada 9 September kemarin, Ilkay Gundogan dan kolega dipermalukan Jepang dengan skor 1-4 di hadapan puluhan ribu pendukungnya.

Kekalahan tersebut menjadi kekalahan beruntun ketiga yang didapat timnas Jerman. Sebelumnya, Jerman tak pernah menderita kekalahan beruntun sebanyak itu. Sebuah hasil memalukan yang membuat Hansi Flick dan dua asistennya, Marcus Sorg dan Danny Röhl dibebastugaskan dari kursi manajerial Die Mannschaft.

Hansi Flick pun meninggalkan kursi pelatih timnas Jerman dengan rekor buruk. Ia hanya meraih 1,72 poin per game dalam 25 pertandingan, hasil dari 12 kali menang, 7 kali imbang, dan 6 kali kalah.

Dalam sejarah timnas Jerman, hanya ada satu pelatih yang punya rekor lebih buruk daripada Hansi Flick. Dia adalah Erich Ribbeck, pelatih timnas Jerman periode 1998-2000 yang hanya meraih 1,50 poin per game, hasil dari 10 kali menang, 6 kali imbang, dan 8 kali kalah.

Dengan masa jabatan 2 tahun, 1 bulan, dan 9 hari, Hansi Flick juga keluar sebagai manajer dengan masa jabatan terpendek ketiga dalam sejarah timnas Jerman. Flick hanya lebih baik dari Erich Ribbeck dan Jürgen Klinsmann.

Prestasi Hansi Flick Sebelum Melatih Timnas Jerman

Akhir kisah Hansi Flick bersama timnas Jerman adalah sebuah hal yang mengejutkan. Bagaimana tidak, sebelum melatih timnas Jerman, ia adalah pelatih paling beprestasi di Jerman, bahkan dunia.

Hansi Flick juga punya rekam jejak mentereng. Pelatih yang kini berusia 58 tahun itu bukanlah orang baru di timnas Jerman. Sebelumnya, ia pernah bekerja di timnas Jerman dari tahun 2006 hingga 2017. Selama periode tersebut, 8 tahun ia habiskan sebagai asisten Joachim Low dan 3 tahun sebagai Sporting Director.

Sebelum ditunjuk sebagai suksesor Joachim Low, Flick adalah pelatih yang sukses membawa Bayern Munchen meraih “sextuple” di tahun 2020. Tak hanya menjuarai Bundesliga, DFB-Pokal, dan DFL-Supercup, tetapi juga UEFA Champions League, UEFA Super Cup, dan FIFA Club World Cup.

Hansi Flick adalah pelatih kedua di dunia setelah Pep Guardiola yang berhasil meraih “sextuple”. Prestasi tersebut mengantarkannya meraih penghargaan pelatih terbaik Bundesliga dan pelatih terbaik Jerman. Flick juga menyabet penghargaan pelatih terbaik dari UEFA, Globe Soccer, IFFHS, hingga majalah World Soccer.

Hansi Flick kemudian resmi menjadi pelatih anyar Die Mannschaft pada musim panas 2021, tak lama setelah ia memenangi trofi Bundesliga keduanya bersama Bayern Munchen. Di timnas Jerman, Flick mendapat kontrak berdurasi 3 tahun, terhintung sejak 1 Agustus 2021 hingga 31 Juli 2024.

Apa yang Salah dengan Hansi Flick dan Timnas Jerman?

Melihat rekam jejaknya ini, wajar jika publik Jerman berharap kepada Hansi Flick. Wajar pula ia diberi beban berat di pundaknya untuk membawa Die Mannschaft berprestasi di Piala Dunia 2022 dan Euro 2024. Namun, seperti yang kita tahu, ia gagal total di Piala Dunia 2022 dan kini tak akan mendampingi Jerman di Euro 2024.

Sebuah kisah yang tidak diharapkan dari seorang pelatih yang pernah menyabet predikat pelatih terbaik di dunia. Jadi, apa yang salah dengan Hansi Flick?

Semenjak ditunjuk sebagai suksesor Joachim Low, Flick cukup berani dalam memanggil pemain ke timnas. Selain berani meninggalkan pemain senior seperti Mats Hummels, Flick juga memberi banyak kesempatan kepada pemain muda.

Josha Vagnoman, Armel Bella-Kotchap, Mërgim Berisha, Kevin Schade, Pascal Groß, Felix Nmecha, hingga Malick Thiaw adalah beberapa di antaranya. Keberanian Hansi Flick mempercayakan ujung tombak timnas Jerman kepada Niclas Füllkrug yang sebelumnya tak pernah menembus tim nasional juga berbuah manis. Füllkrug tercatat sudah mencetak 7 gol hanya dalam 9 caps.

Namun, keputusan tersebut berbuah buruk bagi tim. Seperti obat yang terlalu banyak dikonsumsi hingga overdosis, keputusan Hansi Flick memanggil pemain debutan, khususnya pemain muda yang minim pengalaman membuat timnas Jerman kehilangan stabilitasnya.

Selain itu, Hansi Flick juga tipikal pelatih yang suka bereksperimen. Di laga uji coba bulan Maret, Jerman bermain dengan formasi 4-4-2, lalu berganti menjadi 3-1-4-2 dan 3-4-2-1 di bulan Juni. Ketika kalah dari Jepang, Hansi Flick kembali mengubah formasi Jerman menjadi 4-2-3-1.

Eksperimen-eksperimen inilah yang membuat timnas Jerman asuhan Hansi Flick tak kunjung menunjukkan perbaikan dan berakhir menghasilkan permainan yang memalukan di atas lapangan. Pertahanan menjadi lebih keropos, sementara lini depan menjadi lebih tumpul. Sebuah kombinasi yang tepat untuk mendapat mimpi buruk di Euro 2024.

Jerman Dikejar Waktu!

Jerman kini berkejaran dengan waktu. Pasalnya, kurang dari setahun, ajang Euro 2024 akan segera bergulir. Di gelaran terakbar Benua Biru itu, Jerman adalah tuan rumahnya. Tentu mereka tak mau malu di kandang sendiri.

Kini, dengan waktu yang sudah mepet, timnas Jerman untuk sementara waktu akan ditangani direktur tim DFB Rudi Völler, pelatih U-20 Hannes Wolf dan asistennya Sandro Wagner. Rencananya, ketiga figur ini hanya akan mendampingi Jerman dalam laga uji coba melawan Prancis.

Kabarnya, Julian Nagelsmann jadi kandidat kuat untuk mengisi kursi kosong di timnas Jerman. Selain Nagelsmann, nama Matthias Sammer, Oliver Glasner, dan Rudi Völler sendiri juga masuk dalam daftar kandidat.

Dengan waktu persiapan menuju Euro 2024 yang tinggal 8 bulan saja, Jerman tengah berada dalam tekanan. Inilah konsekuensi yang harus mereka hadapi. Selain berkejaran dengan waktu, mereka harus bisa kembali meyakinkan para pendukungnya yang haus kemenangan. Andai mereka lebih cepat memecat Hansi Flick, kondisi timnas Jerman tentu tak akan semenyedihkan ini.


https://youtu.be/Z3IHxw8sksY

Referensi: Fussballdaten, Transfermarkt, AS, Starting Eleven.

Real Madrid Tidak Pernah Menang Bertandang ke Tim Ini di Liga Champions

0

Dengan 14 trofi Liga Champions, Real Madrid pantas untuk menyandang klub terkuat di Eropa sepanjang masa. Maka dari itu Los Galacticos juga menjadi salah satu tim di Eropa yang sulit dikalahkan. Mengalahkan Real Madrid nyaris ibarat memompa ban sepeda yang bocor.

Namun begitu, Real Madrid bukan tidak bisa kalah. Nyatanya di Liga Champions, kekalahan juga diakrabi oleh Real Madrid. Los Merengues bahkan tidak pernah memenangkan pertandingan melawan tim-tim berikut ini ketika bertandang di ajang Liga Champions. Siapa saja tim-tim itu?

Spartak Moscow

Nama klub Rusia, Spartak Moscow muncul di laga ini. Kendati kualitas Spartak Moscow dan Real Madrid bagai langit dan bumi, nyatanya bagi skuad Los Galacticos mengalahkan tim Rusia itu bukanlah perkara mudah. Apalagi jika mereka bertandang ke Rusia.

Tiga kali pertandingan antara Real Madrid dan Spartak Moscow digelar di Rusia, tapi Los Galacticos tak pernah sekali pun memenangkannya. Dari tiga laga tersebut, Real Madrid hanya bisa menahan imbang klub berjuluk Myaso itu. Dan itu terjadi sudah cukup lama, yakni di perempat final Liga Champions musim 1990/91.

Saat itu, Los Merengues yang diperkuat Fernando Hierro menahan imbang Spartak Moscow 0-0 di Luzhniki Stadium. Nah, di dua laga sisanya, Real Madrid selalu kalah di Luzhniki. Pertama, di pertandingan Grup C Liga Champions musim 1998/99. Real Madrid yang saat itu dilatih Guus Hiddink kalah 2-1.

Kedua, di pertandingan Grup A Liga Champions musim 2000/01. Ultras Spartak Moscow yang yang kuat, terorganisir, progresif, dan berpengalaman berkelahi tampaknya bisa mengintimidasi pemain Real Madrid. Ketika itu Real Madrid kalah berkat gol bunuh diri Geremi Njitap, yang tiada lain adalah pemainnya sendiri.

AC Milan

Selain tim kecil seperti Spartak Moscow, Real Madrid entah mengapa juga tidak pernah mengalahkan AC Milan di Liga Champions ketika berkunjung ke markasnya. Dari tujuh kali lawatannya ke San Siro atau Giuseppe Meazza, Real Madrid harus menelan lima kali kekalahan dan dua kali ditahan imbang.

Hasil imbang itu terjadi di pertandingan Grup C Liga Champions musim 2009/10, di mana 1-1 menjadi skor akhir. Lalu di pertandingan Grup G Liga Champions semusim setelahnya. Real Madrid boleh menghajar AC Milan di Santiago Bernabeu, namun ketika datang ke San Siro, Real Madrid tidak bisa memenangkan pertandingan. Padahal di laga itu Real Madrid tampil percaya diri.

Bagi pelatih Real Madrid saat itu, Jose Mourinho, pertandingan di San Siro menjadi sangat intens. Real Madrid sebetulnya bisa memenangkan laga itu karena Gonzalo Higuain sukses cetak gol lebih dulu dan Rossoneri kesulitan membongkar pertahanan Real Madrid. Pasukan Mourinho juga mendominasi permainan.

Sekitar 80 ribu penonton di San Siro malah dibuat terdiam dan kecewa ketika Massimiliano Allegri, pelatih Milan saat itu menarik keluar Ronaldinho digantikan pemain tua Filippo Inzaghi. Tapi justru Pippo yang bikin publik San Siro bersorak. Dua gol Pippo sempat membuat il Diavolo Rosso berbalik unggul.

Tapi sayang, di ujung laga Benzema memberi asis ke Pedro Leon dan memaksa laga berakhir imbang 2-2. Sementara kemenangan terakhir Milan di San Siro atas Real Madrid adalah di pertandingan Grup C. Pada waktu itu Andriy Shevchenko cetak gol kemenangan AC Milan.

Lazio

Real Madrid juga tidak pernah menang ketika bertandang ke klub Italia lainnya, Lazio. Memang, Los Galacticos dan Aquilotti jarang bertemu. Di Liga Champions keduanya bahkan cuma bertemu empat kali. Real Madrid memenangkan dua laga di Santiago Bernabeu.

Tetapi di dua laga lainnya di Olimpico, Real Madrid ditahan imbang Lazio. Pertama, terjadi di babak Grup D musim 2000/01 dan yang kedua, terjadi di pertandingan Grup C musim 2007/08. Uniknya dua pertandingan itu berakhir dengan skor yang sama, 2-2.

Yang menarik adalah di musim 2007/08. Saat itu kedua tim saling susul. Jika Real Madrid punya Ruud Van Nistelrooy yang mencetak dua gol di laga itu, Lazio punya Goran Pandev yang juga mencetak dua gol di laga itu.

Olympiakos Piraeus

Real Madrid selalu menang ketika menjamu klub Yunani, Olympiakos Piraeus di Liga Champions. Dalam empat laga di Santiago Bernabeu, Los Blancos menyapu bersih dengan kemenangan. Tetapi kekuatan Real Madrid di Bernabeu seperti hilang seketika bertandang ke markas Olympiakos.

Dalam empat laga di Stadion Georgios Karaiskakis, Real Madrid ditahan imbang tiga kali dan kalah sekali. Kekalahan Real Madrid tersebut terjadi di pertandingan Grup F Liga Champions musim 2005/06. Kala itu El Real yang unggul lebih dulu berkat sundulan Sergio Ramos justru kena comeback.

Gol Erol Bulut dan Rivaldo yang berhasil mengonversi umpan Yaya Toure menjadi gol memenangkan Olympiakos di laga itu. Pertemuan terakhir keduanya di Liga Champions terjadi pada pertandingan Grup C musim 2007/08 di Georgios Karaiskakis.

Di laga itu, Olympiakos menahan imbang Real Madrid tanpa gol. Kiper Antonis Nikopolidis menjadi pahlawan Olympiakos di laga itu. Penampilannya benar-benar bikin Real Madrid frustrasi. Los Blancos yang dihuni pemain seperti Robinho, Van Nistelrooy, Raul, sampai Wesley Sneijder tak mampu menjebol gawang Olympiakos saat itu.

Atletico Madrid

Si tetangga, Atletico Madrid juga selalu menjadi lawan yang sulit Los Galacticos di Liga Champions. Klub berjuluk Los Colchoneros itu tidak pernah dikalahkan oleh Real Madrid ketika bermain di Vicente Calderon atau Wanda Metropolitano. Meski di sisi lain, Real Madrid selalu menang dalam tiga pertandingan Liga Champions di Santiago Bernabeu.

Sejauh ini Real Madrid sudah melawat ke markasnya Atletico tiga kali. dalam tiga kali kunjungannya itu, Real Madrid hanya bisa menahan imbang sekali, sedangkan dua laga sisanya harus menyerah.

Terakhir kali Real Madrid bertandang di markasnya Atletico di Liga Champions adalah di semifinal leg kedua musim 2016/17. Real Madrid pada pertandingan itu punya peluang bagus untuk lolos. Sebab di Bernabeu mereka sudah melibas lawannya itu tiga gol tanpa balas.

Namun, Diego Simeone berpikiran bagaimanapun timnya harus mengalahkan Real Madrid dan mengejar defisit gol. Benar saja, sejak menit pertama tim tuan rumah mendominasi permainan. Real Madrid dibuat tak berkutik. Hasilnya, Saul Niguez dan Antoine Griezmann membuat Los Rojiblancos unggul dua gol dalam 20 menit.

Tetapi permainan terbuka Atleti justru berakibat fatal. Jelang babak pertama rampung, Isco mengecilkan ketertinggalan. Skor 2-1 bertahan hingga laga usai. Meski menang, Atletico gagal lolos ke final. Namun, cukup memberi kenangan manis bagi fans Atletico, karena itu adalah Derby Madrid terakhir di Vicente Calderon.

Manchester City

Terakhir, tim yang tidak bisa dikalahkan Real Madrid saat tandang di pertandingan Liga Champions adalah Manchester City. Tidak hanya di era Josep Guardiola, tapi di era sebelumnya pun Los Merengues tak bisa memenangkan laga di Etihad. Sudah lima kali Real Madrid berkunjung ke Etihad untuk melakoni laga Liga Champions.

Namun, Real Madrid kalah dalam tiga laga dan berhasil menahan imbang Manchester City dua kali. Kunjungan terakhir Real Madrid ke Etihad bagai bencana yang tidak pernah disangka-sangka. Kedua tim bertemu di semifinal Liga Champions musim lalu.

Di Bernabeu, Real Madrid gagal mengalahkan City. Pertandingan leg kedua menjadi tekanan bagi Los Galacticos. Misi wajib menang pun diemban. Tapi Guardiola punya tekad untuk mengantar The Citizens juara, jadi Guardiola bersama City-nya juga punya beban wajib menang.

Dan…. Real Madrid benar-benar dipermalukan di Etihad. Los Galacticos yang perkasa diblender empat gol tanpa balas oleh Manchester City. Dua gol Bernardo Silva membuat City sudah unggul di babak pertama.
Lalu di babak kedua, bukannya mencetak gol, Real Madrid justru kebobolan dua gol lagi lewat sundulan Manuel Akanji dan sepakan Julian Alvarez. Skor 4-0 terpampang. City mengalahkan Real Madrid dengan agregat meyakinkan 5-1. Kelak kita tahu The Citizens pada akhirnya bisa meraih treble.

Sumber: Besoccer, EuroSport, BR, BBC, EuroNews, NYTimes

Berita Bola Terbaru 10 September 2023 – Starting Eleven News

BERITA BOLA TERBARU DAN TERKINI

Pertandingan kualifikasi Piala Eropa 2024 Grup C antara Makedonia Utara vs Italia di Tose Proeski Arena (Skopje) berkesudahan imbang 1-1. Ciro Immobile membawa Italia unggul dengan golnya di menit 47. Namun, tuan rumah bisa menyamakan kedudukan lewat gol Enis Bardhi di menit 81.

Di pertandingan lainnya, Ukraina vs Inggris juga berkesudahan 1-1. Zinchenko membawa Ukraina unggul di menit ke-26, sementara Inggris menyamakan skor lewat Kyle Walker di menit ke- 41. Dengan hasil pertandingan hari ini, Italia saat ini memiliki 4 poin dari tiga laga. Italia berada di belakang Inggris (13 poin) dan Ukraina (7 poin). Namun, Inggris sudah memainkan lima laga, sedangkan Ukraina telah main empat kali.

Hasil mengejutkan terjadi di laga ujicoba antara Jerman vs Jepang. Tampil sebagai tuan rumah di Stadion Volkswagen Arena, Jerman dibungkam Jepang dengan skor 1-4. Die Mannschaft tertinggal lebih dulu dari gol Junya Ito sebelum menyamakan skor melalui Leroy Sane. Jepang kembali memimpin saat turun minum melalui gol Ayase Ueda. Selepas restart, Samurai Blue menambah dua gol lain di menit-menit akhir dari Takuma Asano dan Ao Tanaka.

INDONESIA BANTAI TAIWAN 9-0

Timnas U23 Indonesia menang 9-0 atas Taiwan pada pertandingan Grup K Kualifikasi Piala Asia U23 2024 di Stadion Manahan, Solo, Sabtu (9/9). Gol-gol tercipta berkat aksi Marcelino Ferdinand yang membukukan brace alias dua gol, Ramadhan Sananta, Rafael Struijk, Witan Sulaiman, Rio Fahmi, Elkan Baggot, Hokky Caraka, dan Pratama Arhan. Dengan hasil ini, peluang Indonesia untuk lolos ke putaran final terbuka lebar. Tinggal mengalahkan atau minimal menahan imbang Turkmenistan pada Selasa (12/9).

KATA SHIN TAE YONG USAI GILAS TAIWAN

Pelatih Shin Tae Yong memberikan apresiasi tinggi kepada pemain Timnas Indonesia U-23 usai menang telak 9-0 atas Taiwan. Selain itu, Shin menilai hasil tersebut indikasi sepak bola Indonesia telah bergerak ke arah yang lebih baik. Ia juga berpesan kepada para pemainnya untuk tidak meremehkan siapapun lawan mereka. Sebab menurutnya dalam sepak bola apa pun sangat bisa terjadi.

GESTUR HOKKY CARAKA JADI GUNJINGAN, SIAPA YANG IA SINDIR?

Hokky Caraka melakukan selebrasi tutup telinga dan satu telunjuk diletakkan di mulut. Entah siapa yang dimaksud Hokky untuk diam. Komentator tv pun tidak tahu. Yang jelas, selebrasi yang dilakukan Hokky Caraka memang terkesan cukup kontroversial. Publik berharap agar Hokky Caraka bisa terus memperbaiki sikapnya, baik di lapangan maupun di luar lapangan.

NEYMAR LEWATI REKOR GOL PELE

Gol Neymar ke gawang Bolivia dalam Kualifikasi Piala Dunia 2026 membuat namanya kini tercatat sebagai pemegang rekor pemain tersubur dalam sejarah timnas Brasil, melewati sang legenda, Pele. Pada laga melawan Bolivia yang dimenangkan Brasil dengan skor 5-1, Neymar cetak dua gol. Itu adalah gol ke-78 dan 79 Neymar untuk Timnas Brasil. Eks bintang PSG mematahkan rekor gol Pele yang hanya 77 gol di tim Samba.

PEDRI ABSEN BELA BARCA ENAM PEKAN

Barcelona akan menerapkan “kehati-hatian maksimal” sehubungan dengan kembalinya Pedri dari cedera dan mungkin tanpa gelandang tersebut untuk beberapa waktu. Pedri mengalami cedera paha kanan saat latihan dan melewatkan pertandingan melawan Osasuna dan Villarreal sebelum jeda internasional. Barcelona sekarang memperkirakan dia akan absen selama enam minggu lagi dan tidak akan kembali paling cepat pertengahan Oktober.

SOFYAN AMRABAT RUGI DOBEL GAGARA CEDERA

Sofyan Amrabat rugi dobel akibat cedera yang membuatnya gagal mentas di timnas Maroko plus terancam absen membela Manchester United. Cedera yang dialami oleh gelandang 27 tahun tersebut belum diketahui seberapa parah. Hanya saja memang MU sudah mencium tanda-tanda ada masalah kebugaran dari Amrabat sejak pertama melakukan tes medis sebelum meneken kontrak. Dikutip dari The Athletic, Amrabat diyakini mengalami masalah pada punggungnya.

ANTONY BANTAH LAKUKAN KDRT

Winger Manchester United Antony buka suara soal tuduhan KDRT yang diarahkan kepadanya. Antony baru-baru ini muncul dalam wawancara di sebuah stasiun TV Brasil. Sambil menitikkan air mata, mantan pemain Ajax itu menepis segala tuduhan yang diarahkan kepadanya. Antony tidak membenarkan kekerasan terhadap perempuan. Dia menekankan tidak akan pernah menyakiti perempuan. “Saya tidak membenarkan ini. Ini salah, 100 persen salah. Saya punya ibu, saudara perempuan, dan saya tidak akan pernah mau hal seperti ini terjadi kepada mereka,” ucap Antony.

ARSENAL PUTUS KONTRAK NICOLAS PEPE

Arsenal telah memutus kontrak winger Nicolas Pepe. Pepe menjadi pemain termahal Meriam London saat bergabung dari Lille pada 2019 dengan biaya transfer 72 juta pounds. Karena kemunculan Bukayo Saka, ia kehilangan posisi di bawah asuhan Mikel Arteta. Kini, ia bebas memilih klub baru setelah The Gunners setuju memutus kontraknya. Sang pemain kabarnya sudah dipastikan pindah ke klub Turki, Trabzonspor.

PEMAIN TIMNAS MAROKO DONOR DARAH BANTU KORBAN GEMPA

Pemain timnas Maroko melakukan donor darah guna membantu korban gempa yang melanda negara Afrika Utara dan memakan ribuan korban jiwa. Pemain seperti Achraf Hakimi juga mengimbau agar orang-orang melakukan donor darah untuk membantu korban luka karena korban gempa. Tidak hanya itu, gempa membuat laga Maroko vs Liberia di kualifikasi Piala Afrika ditunda.

VAN DIJK DIJATUHI HUKUMAN LARANGAN BERMAIN AKIBAT MEMAKI WASIT

Federasi Sepak Bola Inggris (FA) resmi menjatuhkan sanksi tambahan buat kapten sekaligus bek Liverpool, Virgil van Dijk. Sanksi tambahan ini berupa larangan tampil dalam satu pertandingan dan denda sebesar 100 ribu poundsterling (Rp 1,9 miliar). Hal ini karena Van Dijk diketahui sempat memaki dan melontarkan kata-kata kasar kepada ofisial pertandingan saat memasuki lorong ke ruang ganti pemain saat laga vs Newcastle.

GIROUD KIRIM SINYAL CEDERA JELANG DERBY MILAN

Kabar buruk menimpa AC Milan jelang laga derby melawan Inter Milan. Hal itu disampaikan pelatih tim nasional Prancis Didier Deschamps. Deschamps mengungkapkan bahwa penyerang Olivier Giroud mengalami keselo pada bagian pergelangan kaki saat duel melawan Republik Irlandia lanjutan Grup B Kualifikasi Euro 2024. Kondisi Giroud membuat Milan ketar-ketir, karena setelah jeda internasional, mereka akan melawan Inter.

MESSI BISA CIPTAKAN TIM SEHARGA RP 23 TRILIUN

Salah satu pemilik Inter Miami, Jorge Mas, yakin Lionel Messi bisa mendongkrak nilai timnya. Kedatangan Messi ke Inter Miami memang berpengaruh terhadap sektor perekonomian klub. Sponsor-sponsor kelas kakap berdatangan ke Inter Miami. Selain itu, Messi juga menyumbang pemasukan klub lewat penjualan Jersey. Melihat efek Messi yang begitu luar biasa, Jorge Mas percaya valuasi Inter Miami bisa meroket sampai 1,5 miliar dolar AS atau Rp 23 triliun dalam setahun.

RONALDO DILARANG MAIN DI LAGA PORTUGAL VS LUXEMBOURG

Cristiano Ronaldo harus absen dalam laga kualifikasi Euro 2024 antara Portugal vs Luksemburg akibat hukuman yang dijatuhkan setelah insiden di laga melawan Slovakia, Sabtu (9/9). .Pada laga itu, CR7 tidak sengaja menendang wajah kiper Slovakia Martin Dubravka. Wasit asal Swedia, Glenn Nyberg, kemudian mengecek insiden tersebut melalui VAR. Beruntung bagi Ronaldo, dia hanya mendapatkan kartu kuning meskipun terlihat ada potensi untuk mendapatkan kartu merah. Namun, Ronaldo masih mendapat hukuman berupa larangan main di partai Portugal melawan Luksemburg, Selasa (12/9).

ISTIMEWA, FRENGKY MISSA GABUNG AGENSI TOP DUNIA

Bek Timnas Indonesia U-23, Frengky Missa, gabung agensi top kelas dunia yakni Wasserman. Hal itu membuatnya berada dalam naungan yang sama dengan pemain top dunia macam Federico Valverde dan John Stones. Istimewanya lagi, Missa jadi pemain Indonesia pertama yang gabung agensi tersebut. Bergabungnya Missa ke agensi tersebut terungkap dari unggahan laman Transfermarkt.co.id di Instagram.

TIELEMANS DENGAN UNAI EMERY TERLIBAT PERSELISIHAN

Youri Tielemans dikabarkan mulai tak nyaman di Aston Villa. Ia tak senang dengan sikap Unai Emery kepadanya. Dilansir Goal, sejak bergabung ke Aston Villa dari Leicester musim panas ini, Tielemans tak menjadi pilihan utama di bawah asuhan Emery. Pemain asal Belgia itu merasa frustrasi karena belum pernah tampil sebagai starter di musim 2023/24. Itu dirasa tak sesuai dengan apa yang dijanjikan selama ini.

BELUM DEBUT, ROMEO LAVIA UDAH CEDERA

Belum melakukan debutnya untuk Chelsea, Romeo Lavia justru dikabarkan baru mengalami cedera. Dilansir Goal, Lavia dilaporkan mengalami robekan otot di pergelangan kakinya saat sesi latihan Chelsea. Kebugaran sang pemain sendiri sudah menurun sejak pramusim kemarin. Kini, sang pemain kini harus menunggu lebih lama untuk melakukan debutnya untuk The Blues.

NEWCASTLE PAGARI BRUNO GUIMARAES DENGAN KONTRAK BARU

Beberapa klub top Eropa seperti Manchester City, Barcelona, hingga Real Madrid dikabarkan menaruh hati pada gelandang Newcastle United, Bruno Guimaraes. Mendengar hal itu, The Magpies pun bertindak cepat. Dilansir Sportsmole, Newcastle sedang berada di tahap akhir negosiasi untuk memperpanjang kontrak sang pemain. Ini dilakukan demi memagari Bruno dari klub-klub peminat. Kabarnya, Newcastle ingin mengikat sang pemain dengan kontrak jangka panjang dan gaji yang tinggi.

GARETH BALE BONGKAR RAHASIA PERNAH TOLAK MU TAHUN 2007

Mantan bintang Real Madrid, Gareth Bale baru-baru ini membongkar rahasia tentang transfernya ke Manchester United beberapa tahun lalu. Dilansir Football Espana, sang pemain sebetulnya punya kesempatan untuk bergabung dengan United di tahun 2007. Namun, ia menolak kesempatan itu demi bisa bergabung ke Tottenham. Menurutnya, saat itu Setan Merah tak bisa menjamin menit bermainnya. Maka dari itu Bale memilih Spurs karena butuh jam terbang lebih di usia yang masih muda.

ADA AGEN RAHASIA DI BALIK KEPINDAHAN ZINCHENKO KE ARSENAL

Oleksandr Zinchenko membeberkan sosok penting dibalik transfernya ke Arsenal tahun 2022 lalu. Dilansir Daily Star, Mikel Arteta telah menggunakan “agen rahasia” untuk meyakinkan Zinchenko untuk meninggalkan Manchester City. Agen rahasia yang dimaksud adalah Gabriel Jesus. Menurut Zinchenko, saat Mikel Arteta datang ke rumahnya untuk mendiskusikan transfer, tiba-tiba Gabriel Jesus datang untuk ikut membujuk Zinchenko gabung Arsenal. Perlu diketahui, Gabjes sudah lebih dulu sepakat gabung Arsenal seminggu sebelum Zinchenko.

BRIGHTON SIAPKAN KONTRAK JANGKA PANJANG UNTUK MITOMA

Tak mau lagi kehilangan pemain bintangnya, Brighton berniat untuk memberikan Kaoru Mitoma kontrak baru. Dilansir 90min, Mitoma sempat dikaitkan dengan Manchester City musim panas kemarin. Namun, Brighton menolaknya karena sang pemain masih jadi sosok penting di skuad Roberto De Zerbi. Berkaca dari momen itu, Brighton ingin memberikan kontrak baru jangka panjang kepada Mitoma. Klub ingin kesepakatan ini rampung sebelum jeda musim dingin Januari nanti.

PULISIC BERI KOMENTAR SOAL KEDATANGAN MESSI DI MLS

Christian Pulisic angkat bicara soal kedatangan Lionel Messi ke Major League Soccer, kompetisi domestik di negaranya Amerika Serikat. Dilansir ESPN, pemain AC Milan itu merasa senang Messi bisa bermain di MLS. Menurutnya, dengan adanya pemain terbaik di dunia seperti Messi, hal itu bisa membantu kemajuan kompetisi di masa yang akan datang. Dengan adanya Messi, pertandingan-pertandingan MLS yang melibatkan Inter Miami seperti pertandingan akbar di kompetisi Eropa. Animonya sangat luar biasa.

KROOS PERINGATKAN MADRID UNTUK WASPADA KLUB INI DI UCL

Berada di Grup C Liga Champions bersama Napoli, Toni Kroos justru tak menganggap wakil Italia itu sebagai ancaman yang berarti. Pemain asal Jerman itu justru mewaspadai debutan Liga Champions musim ini, Union Berlin. Dilansir AS, Toni Kroos sudah memperingatkan klub dan rekan-rekannya soal kekuatan Union Berlin. Menurutnya, Berlin bukan lawan yang mudah. Ia sudah melihat beberapa pertandingannya dan itu cukup bagus. Ia merasa kalau Leonardo Bonucci cs merupakan lawan yang harus diwaspadai.

NEYMAR SEBUT LIGA ARAB SAUDI LEBIH BAIK DARI LIGUE 1

Dalam salah satu wawancara pasca kepindahannya ke Al-Hilal, Neymar memberikan pujian setinggi langit pada Liga Arab Saudi. Dilansir Mirror, sang pemain merasa kalau Liga Arab Saudi sudah mengalami kemajuan yang luar biasa dalam beberapa tahun terakhir. Ia berkelakar kalau level sepakbolanya hampir sama dengan Eropa. Bahkan dengan beraninya ia menyebut Liga Arab Saudi mungkin sedikit lebih baik daripada Liga Prancis.

GRAHAM POTTER DIINCAR RANGERS

Raksasa Skotlandia, Rangers dilaporkan sedang mencari pelatih baru untuk menggantikan Michael Beale. Yang menarik, mereka menyebut Graham Potter sebagai salah satu kandidat potensial. Dilansir Football Insider, petinggi klub merasa Beale tak memberikan dampak signifikan sejak ditunjuk pada November 2022. Maka dari itu klub sedang membaca kemungkinan untuk menunjuk Graham Potter sebagai pelatih baru. Ketertarikan Rangers kepada Potter memang masih di tahap awal, namun jika performa Rangers tak membaik, klub akan segera bernegosiasi dengan Potter.

Champions League Terakhir Arsene Wenger dan Berakhirnya Era di Arsenal

“Saya tidak pernah peduli dengan UEFA Cup atau Europa League. Tapi penyesalan terbesar saya adalah tidak menjuarai Champions League, dan saya harus menerimanya. Saya harap mereka akan memenangkannya suatu hari nanti” Kenang Arsene Wenger.

Arsenal dan Arsene Wenger memang punya hubungan yang rumit dengan Champions League. Wenger adalah salah satu pelatih dengan portofolio paling mentereng di dunia. Tapi, tetap saja Liga Champions bagaikan bos terakhir yang tak pernah Wenger kalahkan.

Mereka pernah sampai ke final di tahun 2006. Sialnya generasi emas the gunners kalah lawan Barcelona yang baru memasuki era keemasannya. Mereka setelah itu tidak pernah lagi jadi penantang serius di Eropa. Dan kesempatan terakhir Wenger adalah musim 2016/17.

Sayangnya Champions League terakhir Wenger tidak berakhir bahagia. Justru sebaliknya, itu adalah penanda akan runtuhnya dinasti Wenger di Arsenal. Kampanye 2016/17 di Eropa adalah awal dari akhir karir Arsene Wenger yang luar biasa di Arsenal.

Jadi Pemuncak Grup

Meriam London memasuki musim 2016/17 dengan percaya diri dan skuad yang masih sama kuatnya dengan musim sebelumnya. Mesut Ozil, Alexis Sanchez, Theo Walcott, dan Olivier Giroud masih jadi andalan. Juga dengan tambahan Granit Xhaka yang baru dibeli.

Di Champions League Arsenal masuk ke Grup A. Bersama dengan raksasa Prancis PSG, juara liga Bulgaria Ludogorets, dan wakil dari Swiss FC Basel. Prediksinya jelas, Arsenal dan PSG akan lolos dengan mudah. Tapi pertanyaanya siapa yang bakal jadi pemuncak klasemen?

PSG musim itu memang lebih lemah dari musim sebelumnya. Sebab mereka baru saja ditinggal Zlatan Ibrahimovic ke Manchester United. Meskipun begitu, PSG masih punya Edinson Cavani sebagai ujung tombak.

Arsenal bertemu dengan PSG di gameweek pertama babak penyisihan grup. Pertandingan digelar di Parc de Princes dan PSG sudah bisa unggul lebih dulu lewat gol dari Cavani saat laga baru berjalan satu menit. PSG bisa mempertahankan keunggulan di babak pertama. Arsenal baru bisa membalas di menit ke-78 lewat gol Alexis Sanchez. Mereka pun bisa menyelesaikan laga dengan skor 1-1 dan menghindari kekalahan.

Arsenal bisa melaju dengan mudah di 2 pertandingan setelahnya. Mereka mengalahkan Basel 2-0 dan pesta gol lawan Ludogorets 6-0. The Gunners kembali harus bermain imbang saat menjamu PSG di London. Skor berakhir 2-2, dicetak oleh Cavani, Giroud, dan dua gol bunuh diri untuk masing-masing tim.

Beruntung Arsenal masih bisa menang lawan dua lawan lainnya di leg kedua. 2-3 lawan Ludogorets, dan 1-4 lawan FC Basel. Sedangkan PSG menelan hasil imbang di hari terakhir penyisihan grup. Arsenal pun bisa memuncaki Grup A.

Hancur di Babak 16 Besar

Tapi menjadi pemuncak grup ternyata tidak selalu membuat jalan jadi mulus. Mereka malah bertemu dengan penguasa Jerman, Bayern Munchen yang jadi runner up grup D dibawah Atletico Madrid. Kekuatan Bayern saat itu bukan main-main. Bayern masih dilatih Carlo Ancelotti dan diperkuat duet Ribery dan Robben. Juga Robert Lewandowski sebagai ujung tombak.

Pertandingan leg pertama digelar di Allianz Arena. Bayern pun memulai laga dengan sangat percaya diri. Mereka unggul di menit ke-11 lewat gol dari Arjen Robben. Sebelum Alexis Sanchez sempat menyamakan kedudukan di menit 30.

Tapi di babak kedua Bayern mengamuk. Lewandowski mencetak gol di menit 53, disusul 2 gol Thiago Alcantara di menit 56 dan 63. Sebagai penutup, Muller ikut mencetak gol di menit ke-88. Kekalahan memalukan 5-1 pun harus ditelan Arsenal.

Kalah 5-1 di Allianz, Arsenal tidak pernah diharapkan untuk bisa membalikkan keadaan di kandang. Itu memang hal yang sulit, bahkan mustahil. Publik Emirates Stadium hanya mengharapkan Arsenal bisa memperkecil agregat dan tersingkir dengan terhormat.

Memasuki pertandingan, pasukan Wenger masih bisa bermain sangat bagus di babak pertama. Arsenal menunjukkan permainan menyerang yang atraktif. Theo Walcott bahkan bisa membuat Neuer tak berdaya di menit 20. The Gunners pun bisa mengakhiri babak pertama dengan skor 1-0.

Namun sembilan menit setelah jeda, Laurent Koscielny menjatuhkan Lewandowski di kotak penalti. Wasit sebenarnya memberikan kartu kuning. Tapi setelah berdiskusi dengan ofisial, ia mengubahnya jadi kartu merah.

Lewandowski mengeksekusi penalti dengan mudah. Setelah itu pembantaian terjadi. Robben dan Douglas Costa bergantian mencetak gol. Kemudian Arturo Vidal mencetak dua gol tambahan. Skor 5-1 pun kembali jadi hasil di leg kedua.

Jadi Aib Fans

Kalah dengan agregat 10-2 di babak 16 besar Liga Champions tentu jadi aib Arsenal. Arsene Wenger pun langsung jadi kambing hitam utama. Sekelompok fans bahkan menggelar aksi protes di Emirates Stadium. Mereka meminta Arsene Wenger meninggalkan klub.

Dilansir dari daily mail, setidaknya ada 200 orang yang melakukan demo saat itu. Mereka membentangkan banner bertuliskan “tidak ada kontrak baru” dan berkata “Arsene Wenger kau membunuh klub kami”. Bahkan ada yang melabeli Wenger dengan kata “Keras kepala, basi, tak tahu apapun”.

Protes tidak hanya dilakukan oleh fans yang berdemo. Salah satu legenda Arsenal, Ian Wright juga berkata kalau ini sudah saatnya bagi Arsene Wenger untuk turun. Sebab menurutnya membiarkan Arsenal kalah 10-2 bukanlah hal yang bisa diterima.

“Anda tidak bisa bermain dengan 10 orang dan tidak melakukan apapun saat melawan tim seperti Bayern Munchen. Kami bermain imbang saat kehilangan satu pemain lewat kartu merah. Wenger harusnya menambah bek dan kami bisa kalah lebih terhormat. Ini sepertinya periode terburuk kami yang pernah saya ingat. Sepertinya ada sesuatu yang akan berakhir.” Ucapnya dikutip dari Bleacher Report.

Legenda arsenal lainnya, Gilberto Silva juga menyarankan kalau Wenger sebaiknya mundur dari kursi pelatih. Bagi anggota skuad Invincible itu, Wenger tidak memberikan banyak perubahan untuk Arsenal.

“Saya rasa ini sudah waktunya. Dia tidak banyak berubah, dia tidak banyak merubah cara kerjanya. Dia telah di Premier League jauh lebih lama daripada Conte, Guardiola, dan Klopp. Tapi mereka punya lebih banyak semangat dan sumber daya untuk menang lawan Wenger.”

Rumornya juga beberapa pemain mulai berselisih dengan Wenger. Dilansir dari Bleacher Report, Alexis Sanchez saat itu terlibat cekcok dengan sang pelatih. Karena situasi panas itu, Sanchez jadi tidak betah di klub dan ingin pergi.

Ketakutan Wenger Untuk Pensiun

Wenger tentu sadar akan dorongan para fans Arsenal. Juga wanti-wanti dari para legenda Arsenal. Tapi ia sendiri pernah berkata di tahun 2016, kalau “pensiun” adalah kata yang menakutkan untuknya. Ia takut akan hari dimana ia memutuskan untuk pensiun datang. Dikutip dari Mirror, ia pernah berkata:

“Ini adalah hidup saya dan jujur, saya cukup takut untuk pensiun. Di suatu pertandingan kami melawan Manchester United setelah Sir Alex pensiun. Setelah pertandingan itu Sir Alex mengundang saya untuk minum. Di situ saya bertanya: ‘Apakah anda rindu melatih?’ dan dia menjawab: ‘Tidak sama sekali’. Saya tidak pernah bisa mengerti itu”

Sir Alex dan Wenger adalah rival di akhir 1990-an sampai 2000-an awal. Saat Fergie menguasai Inggris di era 90-an, hanya Wenger lah yang mampu datang dan langsung mematahkan dominasi tersebut. Tapi hubungan mereka jadi lebih hangat dan penuh hormat di akhir-akhir karir Fergie.

Sir Alex sendiri sudah pensiun sejak tahun 2013. Menyudahi 25 tahun karir melatihnya bersama United. Mendengar Fergie tidak merindukan masa-masanya itu, Wenger tidak bisa mengerti. Bagi Wenger yang menganggap sepak bola adalah hidupnya. Dan meskipun para fans sudah mendesaknya untuk pensiun, itu tidak bisa menghilangkan rasa takutnya akan pensiun.

Padahal musim 2016/17 adalah saat yang sangat mendesaknya untuk pensiun. Kontraknya di Arsenal sudah habis dan ia menyelesaikan musim dengan buruk. Selain bencana 10-2 di babak 16 besar, Arsenal jua duduk di peringkat 5. Untuk pertama kalinya dalam 21 tahun Wenger membawa Arsenal keluar dari 4 besar.

Tapi berdasarkan ketakutannya akan pensiun, Wenger tetap memutuskan untuk memperpanjang kontraknya. Ia berkata: “Saya tidak akan pensiun. Pensiun hanya untuk kaum muda. Bagi orang tua seperti saya, pensiun sama saja dengan sekarat”

Tidak Pensiun, Tapi Mengundurkan Diri

Sayangnya musim 2017/18 Arsenal tidak berjalan mulus. The Gunners malah jatuh lebih buruk daripada musim sebelumnya. Wenger membawa Arsenal duduk di peringkat ke-6 Premier League. Juga keluar di babak semifinal Europa League setelah kalah lawan Atletico Madrid.

Sepanjang musim itu, seruan #WengerOut semakin santer disuarakan para fans. Di balik layar, sudah ada desas desus kalau para dewan dan pemegang saham mayoritas di Arsenal menginginkan Wenger pergi.

Wenger juga tahu akan hal itu. Wenger memang sangat takut dengan takdirnya untuk pensiun. Tapi yang jauh lebih menakutkan baginya adalah dipecat dan dibuang oleh klub yang begitu ia cintai.

Wenger tahu ia tidak punya kuasa untuk bertahan jika tidak ada yang menginginkannya bertahan. Kenyataan pahit itu akhirnya memaksa Wenger untuk menyatakan pengunduran diri.

“Setelah pertimbangan yang cermat dan mengikuti pertimbangan dengan klub, saya merasa ini adalah waktu yang tepat bagi saya untuk mundur di akhir musim.” Begitu bunyi pernyataan Arsene Wenger.

Wenger dan Arsenal punya hubungan yang rumit dengan Champions League. Wenger adalah pelatih dengan CV paling dihormati di dunia kepelatihan. Tapi tetap saja ia tidak bisa menjuarai Champions League. Ketika Wenger telah membangun tim yang kuat, menjadi runner up di tahun 2015/16, kampanye Champions League terakhirnya malah jadi pintu keluar dari Emirates Stadium.

Setelah Wenger keluar di tahun 2018, Arsenal tidak lagi bisa menembus Champions League. Sampai akhirnya di musim 2023/24, Arteta membawa publik Emirates Stadium kembali bernyanyi di panggung Champions League.

Jika diingat lagi, cara Arteta masuk ke Champions League pertamanya mirip seperti cara Wenger masuk ke Champions League terakhirnya. Yaitu sebagai runner up di Premier League dan punya skuad terbaik sejak beberapa tahun sebelumnya.

Sumber referensi: Mirror, Mirror 2, FLondon, B/R, TalkSport, UEFA, Sportskeeda, One, Daily

Berita Bola Terbaru 9 September 2023 – Starting Eleven News

0

HASIL PERTANDINGAN

Dalam lanjutan pertandingan Kualifikasi EURO 2024, Spanyol menang telak 7-1 atas Georgia. Alvaro Morata jadi pemain yang paling bersinar dengan mencetak hattrick di menit 22, 40, dan 66. Sementara Georgia hanya mampu membalas satu gol melalui Giorgi Chakvetadze menit 49. Hasil ini membuat La Roja naik ke peringkat dua klasemen sementara Grup A. Sedangkan Georgia masih tertahan di peringkat empat klasemen sementara.

Di pertandingan Grup A yang lain, Skotlandia berhasil menang meyakinkan dengan skor 3-0 atas lawannya, Siprus. Gol Skotlandia dicetak oleh Scott McTominay menit 6, Ryan Porteus menit 16, dan John McGinn menit 40. Kemenangan ini membawa McTominay cs memuncaki klasemen sementara Grup A. Sementara Siprus harus puas terbenam di dasar klasemen.

Tak cuma Spanyol, Kroasia juga menang besar setelah mengalahkan Latvia dengan skor 5-0. Bruno Petkovic jadi pemain paling berpengaruh setelah mencatatkan dua gol dan satu assist. Dengan tambahan tiga poin, Luka Modric cs naik ke peringkat dua klasemen sementara Grup D. Sedangkan Latvia berada di posisi paling buncit.

Bergeser ke Grup J, Portugal menang tipis 1-0 atas Slovakia. Gol semata wayang dari Bruno Fernandes di menit 43 jadi pembeda di pertandingan ini. Kemenangan ini membawa Portugal kian kokoh di puncak klasemen sementara Grup J diikuti Slovakia di urutan kedua.

TENDANGAN GLEDEK DENDY BAWA GARUDA TAKLUKAN TURKMENISTAN

Dalam agenda FIFA Matchday pertama bulan ini, Timnas Indonesia berhasil mengalahkan tamunya Turkmenistan dengan skor 2-0. Gol dicetak oleh Dendy Sulistyawan menit 19 dan Egy Maulana Vikri menit 90. Pertandingan sudah seru sejak babak pertama. Jual beli serangan tersaji sepanjang laga. Namun, Skuad Garuda tampaknya terlalu kuat bagi Turkmenistan. Kemenangan ini membuat Indonesia mendapat tambahan poin ranking FIFA sebanyak 5,41.

LAMINE YAMAL CETAK REKOR DI TIMNAS SPANYOL

Dalam kemenangan telak Timnas Spanyol atas Georgia, ada dua rekor yang tercipta. Yang menarik, keduanya dicetak oleh pemain muda yang kini bermain untuk Barcelona, Lamine Yamal. Dilansir The Athletic, pemain sayap itu jadi pemain Spanyol termuda dengan usia 16 tahun 57 hari yang melakukan debut di tim senior. Ia juga jadi pemain termuda yang mampu mencetak gol di laga resmi bersama La Roja.

DEBUT YANG BURUK BAGI ROBERTO MANCINI

Laga melawan Kosta Rika jadi laga perdana Roberto Mancini sebagai allenatore Timnas Arab Saudi. Sayangnya, ia melewati laga debutnya dengan sangat buruk. Dilansir Football Italia, laga yang dimainkan di St. James Park itu berakhir dengan kekalahan 1-3 bagi Arab Saudi. Ini jadi awal yang buruk bagi pelatih yang pernah membawa Timnas Italia menjuarai EURO 2021.

TERNYATA RODRI PERNAH SINDIR PERFORMA HAALAND USAI FINAL LIGA CHAMPIONS

Di salah satu wawancara setelah Manchester City berhasil mengamankan treble winner, Rodri ditanya soal golnya di laga final Liga Champions kontra Inter Milan. Dengan mengejutkan, Rodri justru merespons dengan sindiran halus kepada rekan satu timnya, Erling Haaland. Dilansir Tribuna, Rodri tak kuasa menahan diri untuk tidak mengejek Haaland. Dengan nada bercanda, ia berkata, “Terkadang Erling tidak melakukan tugasnya.” Jadi Rodri harus melakukan dengan kakinya sendiri.

PARA PEMAIN MU MUAK SAMA KELAKUAN SANCHO

Kisruh di tubuh Manchester United yang melibatkan Jadon Sancho dan Erik Ten Hag telah memasuki babak baru. Dilansir ESPN, situasi di ruang ganti kian memburuk setelah pemain-pemain Manchester United dilaporkan mulai muak dengan kelakuan Sancho. Sikapnya di tempat latihan dan di hari pertandingan melawan Arsenal membuat respect para pemain dan staf kepelatihan sudah menurun. Apalagi responnya yang berapi-api di media sosial sangat tidak mencerminkan sebagai seorang profesional. 

VAN DIJK DAPAT HUKUMAN TAMBAHAN IMBAS INSIDEN KONTRA NEWCASTLE

Kabar buruk bagi fans Liverpool. Bek andalan mereka, yakni Virgil Van Dijk dilaporkan telah mendapat sanksi tambahan pasca insiden di laga kontra Newcastle pekan lalu. Dilansir ESPN, pemain asal Belanda itu mendapat tambahan larangan bermain satu kali dan denda sebesar 100 ribu pound atau Rp1,9 miliar. Sanksi itu dijatuhkan setelah FA menemukan bukti kalau Van Dijk menggunakan kata-kata kasar untuk menghina wasit. Itu berarti ia tak akan bisa tampil di laga kontra Wolves pekan depan.

COUTINHO JOIN AL-DUHAIL

Kabar mengejutkan datang dari Aston Villa. Pihak klub mengkonfirmasi kalau salah satu bintangnya, yakni Philippe Coutinho resmi telah bergabung dengan klub Qatar, Al-Duhail. Dilansir BBC, pemain asal Brazil itu bergabung dengan Al-Duhai sebagai pemain pinjaman selama satu musim kedepan. Sang pemain sempat menolak tawaran dari Besiktas dan Real Betis demi bergabung dengan tim Qatar tersebut. 

PENJUALAN RUMPUT CAMP NOU LAKU KERAS

Krisis finansial yang semakin meresahkan membuat Barcelona melakukan terobosan unik untuk mendapatkan tambahan uang. Dilansir Goal, Barca tengah berusaha menjual rumput stadion Camp Nou. Di tengah masa renovasi, El Barca dengan cerdiknya memungut rumput-rumput stadion dan dijual kepada fans. Lucunya, strategi ini dirasa berhasil karena rumput tersebut laku keras. Kabarnya, Barca mematok harga rumput di kisaran 50 euro (Rp823 ribu) sampai 420 euro (Rp6 juta).

KALAH DI DERBY, ULTRAS DI ITALIA BAKAR STADION RIVALNYA

Kabar mengejutkan datang dari kasta ketiga Liga Italia. Stadio Erasmo Iacovone, markas Taranto dilaporkan terbakar usai pertandingan derby antara Foggia dan Taranto. Dilansir Daily Star, kebakaran ini disebabkan oleh amukan ultras Foggia yang tak menerima kekalahan. Foggia yang kini berada di dasar klasemen sementara Serie C kalah atas rivalnya, Taranto dengan skor 2-0. Para fans yang tak terima pun akhirnya membakar stadion Taranto seusai pertandingan.

ALEXIS SANCHEZ DIKABARKAN MENDERITA ANEMIA

Kabar menyedihkan juga datang dari tim Serie A, Inter Milan. Kabarnya, punggawa anyar mereka, Alexis Sanchez menderita penyakit yang cukup mengkhawatirkan. Dilansir Football Italia, saat menjalani tugas internasional bersama Chile, tim dokter Timnas Chile melaporkan kalau Sanchez menderita Anemia. Sel darahnya berkurang banyak dan itu bisa berimbas buruk pada karirnya. Mendengar kabar itu, pemeriksaan lebih lanjut pun akan dilakukan oleh Inter.

SZCZESNY RELA POTONG GAJI DEMI BERTAHAN DI JUVE

Meski hanya menjadi kiper cadangan dalam beberapa pekan terakhir, Wojciech Szczesny tampaknya sudah betah di Juventus. Kabarnya, pemain asal Polandia itu bersedia menandatangani perpanjangan kontrak. Dilansir Football Italia, Juve berniat memperpanjang kontrak Szczesny hingga tahun 2026. Tapi tak sanggup untuk membayar gajinya yang berada di angka 7 juta euro (Rp115 miliar) per musim. Sang pemain kabarnya tak keberatan untuk memangkas gajinya asalkan bisa terus membela La Vecchia Signora.

CHIESA DAN PELLEGRINI KELUAR DARI SKUAD ITALIA

Federico Chiesa dan Lorenzo Pellegrini dikabarkan telah menarik diri dari skuad Timnas Italia yang sedang mempersiapkan pertandingan melawan Makedonia Utara dan Ukraina. Dilansir Football Italia, kedua pemain tersebut dilaporkan mengalami cedera dan harus menjalani pemulihan di klubnya masing-masing. Belum jelas separah apa cedera mereka. Tapi jika harus absen dalam jangka waktu yang lama, ini bakal jadi kerugian bagi Juventus dan AS Roma.

TRANSFER NEYMAR KE AL-HILAL ILEGAL?

Transfer Neymar dari PSG ke Al-Hilal menimbulkan pro dan kontra. Bahkan, direktur finansial Borussia Dortmund menyebut transfer tersebut sebagai suatu tindakan ilegal. Dilansir AS, dalam acara  European Club Association (ECA) di Berlin, kepala direktur keuangan Dortmund, Thomas Tress menuduh ada niat untuk mengakali Financial Fair Play saat PSG menjual Neymar. Tress merasa kalau PSG yang memiliki kedekatan dengan Qatar telah bekerjasama dengan Arab Saudi agar klub mendapat pemasukan besar dengan melepas sang pemain ke Arab. Karena dengan begitu, PSG bisa menyeimbangkan neraca keuangan dan terhindar dari FFP. Namun, tuduhan itu ditampik oleh Nasser Al-Khelaifi. Ia merasa Tress telah mempermalukannya di depan perwakilan klub yang hadir ke ECA.

HANSI FLICK DIUJUNG TANDUK

Baru dua tahun melatih Timnas Jerman, Hansi Flick sudah menghadapi ancaman pemecatan setelah Der Panzer tampil angin-anginan di bawah asuhannya. Dilansir BBC, di jeda internasional kali ini, Hansi Flick berada dalam tekanan. Nasibnya bisa saja ditentukan dari hasil yang didapat dalam dua pertandingan ke depan. Jika tak memuaskan, Flick bisa saja dipecat karena federasi sepakbola Jerman sudah mendapat tekanan dari para fans. Mereka tak mau kembali tampil memalukan ketika jadi tuan rumah EURO 2024 mendatang.

BELUM APA-APA, AMRABAT UDAH CEDERA

Punggawa baru Manchester United, Sofyan Amrabat dikabarkan telah menarik diri dari skuad Timnas Maroko yang sedang melakoni laga jeda internasional. Dilansir Goal, Amrabat absen karena cedera punggung yang sudah terdeteksi sebelumnya. Tampaknya cedera itu lebih parah dari perkiraan awal. Maka dari itu, Amrabat tak mau mengambil resiko dan memutuskan untuk keluar dari skuad Timnas Maroko.

DONNY VAN DE BEEK JADI REBUTAN DUA TIM TURKI

Donny Van De Beek jadi salah satu pemain Manchester United yang ingin hengkang di musim panas kali ini. Karena bursa transfer Eropa dan Arab Saudi sudah ditutup, satu-satunya jalan keluar adalah bermain di Liga Turki. Dilansir Manchester Evening News, setidaknya ada dua klub Turki yang tertarik untuk mendatangkannya. Mereka adalah Fenerbahçe dan Galatasaray. Di sisa waktu yang ada, United tengah menunggu tawaran resmi dari kedua klub tersebut. Mengingat bursa transfer Liga Turki masih terbuka hingga 15 September mendatang.

WEST HAM BUKA PELUANG REKRUT KEMBALI JESSE LINGARD

Kabar mengejutkan datang dari pendobrak empat besar Liga Inggris, West Ham United. Mereka dikabarkan siap menampung mantan pemainnya, Jesse Lingard yang kini berstatus tanpa klub. Dilansir Daily Mail, setelah dilepas Nottingham Forest akhir musim lalu, Lingard belum menemukan klub baru. Kini The Hammers siap untuk memberikan kontrak jangka pendek kepada sang pemain. Kabarnya kontraknya akan berdurasi satu tahun.

TROSSARD BUKA SUARA SOAL MINIMNYA MENIT BERMAIN DI ARSENAL

Setelah bergabung ke Arsenal, Leandro Trossard belum menjadi langganan di skuad utama Mikel Arteta. Sang pemain pun akhirnya angkat bicara soal situasi ini. Dilansir Goal, meski tak selalu menjadi pilihan utama, Trossard yakin akan mendapat kesempatan di kemudian hari. Ia paham betul Arsenal akan memainkan satu laga dalam tiga hari. Jadi, pelatih tak mungkin bermain dengan pemain yang sama terus-menerus. Selain itu, ia juga menegaskan kalau besar kecilnya jumlah menit bermain tergantung pada dirinya sendiri. “Semua terserah padaku! Apakah aku mau membuktikan diri pada Arteta atau tidak. Pelatih pun sudah berkata demikian,” pungkas Trossard.

TODD BOEHLY INGIN BANGUN PATUNG SINGA RAKSASA DI STAMFORD BRIDGE

Lagi-lagi kebijakan unik akan dikeluarkan oleh bos Chelsea, Todd Boehly. Setelah menghapus biaya subsidi perjalanan laga tandang untuk fans, Boehly malah berniat membangun patung singa yang sangat besar di depan markas Chelsea. Dilansir Goal, bukan hanya satu, Boehly ingin membangun dua patung singa setinggi delapan kaki atau sama dengan dua setengah meter di depan Stamford Bridge. Perizinan sedang diurus dan proyek pun akan segera dimulai.

BAYERN AKAN KEMBALI DATANG UNTUK JOAO PALHINHA

Kegagalan transfer Joao Palhinha dari Fulham ke Bayern Munchen jadi salah satu kegagalan paling konyol di bursa transfer musim panas kemarin. Meski demikian, tampaknya The Bavarian belum menyerah untuk mendapatkan pemain berpaspor Portugal itu. Dilansir Evening Standard, Bayern akan datang lagi pada bulan Januari. Mereka akan menyusun strategi baru untuk mendapatkan sang pemain. Namun, Fulham tetap bersikap sama. Mereka hanya mau melepas Palhinha apabila sudah mendapatkan penggantinya.

LYON INCAR FONSECA DAN LOPETEGUI SEBAGAI MANAJER BARU

Gagal meyakinkan Graham Potter, Olympique Lyon mengalihkan pandangan kepada nama-nama pelatih lain untuk menggantikan Laurent Blanc. Dilansir Sky Sport, eks manajer Wolves, Julen Lopetegui jadi opsi yang paling memungkinkan. Selain Lopetegui, manajemen Lyon juga sedang bernegosiasi dengan mantan manajer AS Roma, Paulo Fonseca.

PAPU GOMEZ PRIORITASKAN ARAB SAUDI KETIMBANG BALIK KE SERIE A

Bintang Argentina, Papu Gomez masih belum menemukan klub baru hingga ditutupnya jendela transfer musim panas ini. Namun, karena statusnya bebas transfer, ia bisa bergabung dengan klub baru kapan pun. Dilansir Football Italia, AC Monza tertarik mendatangkannya. Namun, Gomez justru menunggu tawaran dari Arab Saudi. Ia lebih tergoda dengan dana besar yang dimiliki Arab ketimbang kembali bermain di Italia. 

MCKENNIE INGIN MEMBUKTIKAN KALAU DIRINYA LAYAK DI JUVE

Sempat dirumorkan bakal meninggalkan Juventus, Weston McKennie memutuskan untuk tetap bertahan. Dilansir Goal, sang pemain mengatakan kalau dirinya belum menyerah. McKennie ingin membuktikan kalau orang-orang salah meremehkannya. Ia ingin memperjuangkan posisinya di Juve dan membungkam setiap mulut yang mengkritiknya. 

UECL 2023/24, Saatnya Aston Villa Kembali Berjaya di Eropa!

Dua musim sudah turnamen UEFA Conference League berjalan. AS Roma dan West Ham telah menjadi juara di dua edisi tersebut. Kini musim ketiga akan segera dihelat. Beberapa tim akan saling sikut demi meraih mahkota pada akhir Mei nanti di Athena, Yunani.

Wakil Inggris, Aston Villa dianggap sebagai salah satu kandidat kuat peraih mahkota tersebut musim ini. Padahal kalau melihat keikutsertaannya di kompetisi Eropa, tim asal Kota Birmingham ini sudah lama absen. Lalu, apa sih yang menyebabkan Aston Villa diprediksi akan melangkah jauh di turnamen ini?

Aston Villa Dan Kompetisi Eropa

Klub berjuluk The Villans ini kalau dihitung-hitung terakhir kali merasakan atmosfer kompetisi Eropa itu yakni 15 tahun yang lalu. Karena terakhir kali mereka nongol di kompetisi Eropa yakni di Piala UEFA atau Europa League musim 2008/09.

Musim tersebut Villa masih dilatih oleh Martin O’neill, pelatih asal Irlandia dengan pemain seperti Gabriel Agbonlahor, James Milner, maupun Ashley Young. Mampu lolos dari fase grup, tapi kemudian mereka harus kandas di babak 32 besar oleh CSKA Moscow.

Setelah itu, mereka tak pernah bisa lagi masuk kompetisi Eropa. Dua musim beruntun dari 2009/10 dan 2010/11, mereka gagal sejak di babak playoff Europa League. Meski sering gagal, kalau bicara soal partisipasinya di kompetisi Eropa, Aston Villa ini ternyata sudah pernah mencicipi 17 kali tampil lho. Baik itu di Liga Champions, Piala UEFA, Piala Super Eropa, maupun Piala Intertoto.

Aston Villa dan Trofi Eropa

Dan tak disangka juga, mereka pernah mengoleksi trofi selama berpartisipasi di kompetisi Eropa tersebut. Tak kaleng-kaleng, trofi yang mereka raih adalah trofi Liga Champions dan Piala Super Eropa yang belum pernah diraih Arsenal.

Memang sih, trofi itu diraih sudah sangat lama. Tepatnya pada musim 1981/82. Ketika itu Aston Villa menciptakan sejarah bagi publik Villa Park ketika mengalahkan raksasa Jerman Bayern Munchen 1-0 di final yang berlangsung di Rotterdam, Belanda.

Yang unik, gol kemenangan Piala Champions satu-satunya bagi Aston Villa tersebut dicetak oleh striker mereka yang pernah menjadi pelatih Timnas Indonesia periode 2004 hingga 2007, Peter Withe.

Aston Villa kemudian di awal musim 1982/83, sukses melengkapi double winner-nya dengan gelar juara Piala Super Eropa. Ketika itu mereka mampu mengandaskan Barcelona dengan agregat 3-1.

Sawiris, Emery, dan Monchi

Namun sayangnya, masa kejayaan Aston Villa tersebut tak bisa berlanjut. Mereka tak pernah lagi bisa meraih trofi di kompetisi Eropa hingga sekarang. Jangankan meraihnya, tampil saja mereka sudah lama absen sejak 2008.

Apalagi nih, Aston Villa ini di era sekarang baru promosi lagi di Liga Inggris di musim 2018/19. Tak dipungkiri, yang membawa mereka promosi salah satunya adalah pemilik baru asal Mesir, Nasef Sawiris.

Salah satu taipan terkaya di benua Afrika tersebut mengambil alih Aston Villa di 2018 dari taipan Tiongkok, Tony Xia. Perubahan pun dilakukan, termasuk beberapa pembangunan fasilitas infrastruktur dan pergerakannya di bursa transfer.

Tak dipungkiri bertahannya Aston Villa di Liga Inggris hingga sekarang juga berkat kerja keras Sawiris dan tim. Baik dalam mendatangkan pemain baru, sampai penunjukan pelatih dan direktur teknik sekalipun.

Sejak kedatangan Unai Emery Oktober 2022 lalu, performa Aston Villa terbukti menanjak drastis. Hingga akhirnya, mereka bisa sampai tembus peringkat 7 Liga Inggris dan masuk zona Conference League.

Ketika sudah masuk Conference League, Sawiris tak hanya bersantai. Demi bisa bersaing di Eropa, musim baru ini Villa mendatangkan seorang direktur olahraga cerdas yakni Monchi dari Sevilla. Kita tahu Monchi ini sukses meraih berbagai prestasi di eropa ketika di Sevilla. Termasuk duetnya bersama Emery di Sevilla.

Babak Grup Conference League

Kekuatan uang dari pemilik, tuah racikan Unai Emery, serta kelihaian Monchi di bursa transfer, adalah tiga kekuatan besar yang dinilai dapat membuat The Villans mampu berbicara banyak di Conference League musim ini. Tapi kalau melihat lawannya, bagaimana sih peluang mereka?

Aston Villa setelah menang di babak playoff melawan Hibernian, masuk dalam Pot 2 drawing Conference League musim ini. Mereka akhirnya tergabung di Grup E bersama wakil Belanda AZ Alkmaar, wakil dari Polandia Legia Warsawa, dan wakil dari Bosnia Zrinjski Mostar.

Di atas kertas peluang Aston Villa lolos dari babak Grup E ini sangatlah besar. Yang bersaing di grup ini mungkin hanya AZ Alkmaar dan Aston Villa untuk memperebutkan posisi juara grup.

AZ Alkmaar ini tak dipungkiri adalah semifinalis Conference League musim lalu. Kekuatan mereka juga tak banyak berubah. Paling mereka hanya kehilangan Tijani Reijnders yang hengkang ke AC Milan.

Selebihnya seperti Jordy Clasie, Dany De Wit, maupun top skor mereka Vangelis Pavlidis masih berada dalam tim yang dibesut Pascal Janssen. Di Eredivisie musim ini, mereka masih memimpin klasemen dengan tiga laga tak terkalahkan sebelum jeda internasional

Beda dengan Aston Villa yang masih inkonsisten di awal musim ini meski sudah dihuni pemain baru seperti Pau Torres, Moussa Diaby, Youri Tielemans, maupun Nicolo Zaniolo. The Villans sudah menerima dua kali kekalahan besar di Liga Inggris melawan Newcastle dan Liverpool.

Peluang dan Pesaing Aston Villa

Jadi juara grup, ataupun runner up Grup E, adalah salah satu target yang menjadi harga mati pasukan Emery. Kalau jadi juara grup, mereka akan langsung masuk drawing babak 16 besar. Kalau jadi runner up, mereka harus berjuang ekstra keras dulu guna melaju ke 16 besar melawan tim lungsuran peringkat 3 dari Europa League.

Pertanyaannya, mampukah Emery menanamkan mental Eropanya seperti ketika ia di Sevilla maupun Villarreal? Hal itu mampu menjadi jawaban dari ilmu cocoklogi yang mengatakan bahwa klub yang ada kata “Villa”-nya pernah berprestasi ketika ditukangi Emery.

Selain Aston Villa, menurut prediksi dari Squawka yang jadi calon kandidat kuat meraih juara musim ini diantaranya Eintracht Frankfurt yang notabene juara Europa League 2021/22. Ada pula tim satu grup Aston Villa, AZ Alkmaar. Tim seperti Club Brugge, Lille, maupun Fenerbahce. Jangan dilupakan juga finalis musim lalu Fiorentina.

Nah selain tim-tim tersebut, menurut Squawka masih ada tim lain yang mungkin berpotensi menjadi kandidat berasal dari lungsuran Europa League. Melihat perkembangan Aston Villa seperti sekarang ini, ditambah sejarah panjang mental Eropanya, dan hubungan manis Emery dengan kompetisi Eropa, optimisme meraih trofi Eropa pun kembali membara. Ya, bagaimanapun publik Villa Park sudah sangat rindu masa kejayaannya meraih trofi Eropa. Inilah saatnya The Villans, rebut trofi itu di Athena tahun depan!

Sumber Referensi : mirror, sportingnews, squawka, livescore, transfermarkt

Maradona Datang, Napoli Juara, Italia Selatan Berjaya!

0

Era 80 hingga 90an adalah periode terbaik sepak bola Italia. Kala itu, Serie A jadi kiblat persepak bolaan dunia. Pemain terbaik mana yang bisa menolak tawaran AC Milan, Juventus, Inter Milan, hingga AS Roma, Fiorentina, bahkan Hellas Verona. Namun, tidak dengan Napoli.

Napoli tak punya DNA juara, bukan tergolong tim papan atas, dan lagi, mereka adalah tim Italia Selatan. Akan tetapi, semua berubah setelah Diego Armando Maradona datang ke Kota Naples. Percaya tidak percaya, Maradona datang sebagai juru selamat dan kemudian meninggalkan Naples sebagai seorang “dewa”.

Bagaimana kisahnya? Selengkapnya, hanya di Football Jack!

75 Ribu Penggemar Sambut Kedatangan Diego Maradona

Kisah dimulai dari sebuah presentasi pemain baru yang kelak menghasilkan salah satu foto paling ikonik dalam sejarah sepak bola. Pemandangan tersebut tercipta setelah di musim panas 1984, Napoli mengejutkan dunia dengan memecahkan rekor transfer pemain demi mendatangkan Diego Armando Maradona seharga 12 juta euro dari Barcelona.

Pada 5 Juli 1984, tak kurang dari 75 ribu pasang mata hadir di Stadio San Paolo untuk menyambut kedatangan “El Pibe de Oro” alias “Si Anak Emas”. Jumlah tersebut menjadi rekor dunia yang bertahan sangat lama dan baru pecah saat presentasi Cristiano Ronaldo sebagai pemain baru Real Madrid dihadiri 80 ribu penonton.

Namun, jika dipikir-pikir lagi, presentasi Diego Maradona saat itu terlampaui meriah untuk era tersebut. Histeria sudah nampak ketika para penggemar melihat helikopter yang membawa Maradona mendekat ke San Paolo. Teriakan “Ho Visto Maradona, Ho Visto Maradona” yang artinya “saya melihat Maradona” mulai terdengar nyaring.

Setelah turun dari mobil yang membawanya ke depan pintu masuk stadion, teriakan “Diego, Diego” sudah menggema dari dalam stadion. Maradona yang mengenakan kaus putih dan celana chino berwarna biru kemudian menaiki tangga bagian dalam stadion dan langsung sambut oleh ratusan wartawan dan juru kamera.

Maradona kemudian diberi syal Napoli, berdiri di tengah lapangan, membuat tendangan pertamanya untuk Napoli, dan diakhiri dengan memekikkan, “Forza Napoli”. Sebuah sambutan meriah yang jadi awal kisah cinta Napoli dengan Maradona.

Sisi Kelam Maradona di Napoli

Namun, seperti yang sudah disinggung di awal. Siapa yang mau datang ke Napoli?

Saat Maradona datang, prestasi Napoli tengah menurun setelah menjuarai Coppa Italia 1976. Meski konsisten berada di posisi 6 besar, tetapi semusim sebelum Si Anak Emas datang, Napoli nyaris terdegradasi dari Serie A.

Lebih daripada itu, Napoli adalah representasi dari wakil Italia Selatan di Serie A. Waktu itu, dominasi tim wilayah utara Italia sangatlah kental. Tidak ada tim Italia Selatan yang mampu juara Liga Italia, termasuk Napoli.

Maka dari itu, ada kecurigaan yang timbul di balik kepindahan Diego Maradona dari Barcelona yang kaya menuju Napoli yang miskin. Bagaimana bisa klub sekelas Napoli bisa memboyong mega bintang seperti Maradona.

Fans sepak bola sejati pasti sudah paham betul kalau Maradona punya passion yang tinggi dalam sepak bola. Bakatnya amat luar biasa. Sebelum ada Lionel Messi, dialah kandidat kuat “The Greatest of All Time” di dunia sepak bola.

Namun, di sisi lain, Maradona adalah seorang pecandu narkoba, pemabuk, dan pencinta pesta. Sebelum datang ke Napoli, perbuatan dosa itu sudah melekat dalam dirinya, tetapi makin menjadi-jadi ketika ia mendarat di Kota Naples. Beberapa orang menduga dan dugaan ini sangatlah kuat, bahwa penyebab dari itu semua adalah kedekatan Diego Maradona dengan keluarga mafia.

Sejak dulu, Italia memang sudah akrab dengan mafia. Terdapat empat sindikat mafia terbesar di Negeri Pizza, yakni Cossa Nostra dari Sisilia, Ndrangheta dari Calabria, Sacra Corona Unita dari Puglia, dan Camorra dari Naples. Nama terakhir itulah yang punya hubungan dekat dengan Diego Maradona.

Sejak tiba di Napoli, Maradona langsung amat dekat dengan mafia Camorra, utamanya dari klan Giuliano, keluarga kejam yang mengelola distrik Forcella yang miskin. Mereka tak hanya menyuplai Maradona dengan kokain, tetapi menyediakan wanita yang tak terbatas baginya. Maradona juga sering mendapat bermacam hadiah dan makin hari makin terlihat sering menghadiri berbagai macam pesta yang digelar oleh Camorra.

Mafia yang mencengkram Naples sejak abad ke-17 itu diduga membantu Napoli dengan memberi sokongan dana agar dapat menebus Maradona dari Barcelona. Tuduhan ini sulit dibuktikan, sebab presiden Napoli kala itu, Corrado Ferlaino akan langsung naik pitam jika ada jurnalis yang menanyakan kabar burung tersebut.

Camorra juga dituduh membantu Napoli merengkuh scudetto pertamanya di musim 1987 sekaligus menggagalkan scudetto beruntun Napoli semusim berikutnya. Pada musim 1987, Napoli dicurigai telah menyogok wasit setelah mendapat hadiah 10 penalti kontroversial. Dan Maradona jadi pihak yang dituduh memberi sogokan tersebut. Tentu sumber dananya dari mafia Camorra.

Semusim kemudian, Napoli punya peluang teramat besar untuk kembali merengkuh scudetto keduanya secara beruntun. Namun, ketika liga tinggal menyisakan 5 pertandingan, Napoli cuma imbang sekali dan sisanya menelan kekalahan, termasuk sebuah kekalahan dramatis 3-2 di kandang sendiri dari AC Milan yang membuat Napoli dikudeta dari puncak klasemen.

Lagi-lagi Camorra jadi pihak yang dituduh sebagai dalang di balik kegagalan Napoli meraih scudetto keduanya di musim 1988.

Selain narkoba, sumber pemasukan Camorra adalah “totonero”, judi bola ilegal di pasar gelap. Sebagai bandar, Camorra bakal rugi besar, bahkan salah satu sumber menyebut kalau Camorra bisa merugi hingga 200 miliar lira jika Napoli keluar sebagai juara. Oleh karena itu, mereka disinyalir menjegal kemenangan Napoli agar tebakan para penjudi di “totonero” tidak tepat.

Kegagalan Napoli meraih scudetto di musim tersebut jadi tuduhan terbesar yang melibatkan Camorra dan Maradona. Namun sekali lagi, tuduhan tersebut sulit dibuktikan.

Hingga hari ini, para pendukung Napoli yang sudah hidup sejak zaman tersebut masih dihantui rasa penasaran dan tanda tanya besar. Keterlibatan Diego Maradona dengan keluarga mafia Camorra jadi sisi paling kelam dari kehidupan romantis El Pibe bersama Napoli.

Namun tak hanya itu, keharmonisan Maradona dengan Napoli pernah diuji saat Piala Dunia 1990 digelar di Italia. Saat itu, Maradona pernah membuat Italia terpecah menjadi dua. Sial memang, sebab pada fase semifinal, Argentina bertemu dengan Italia di Stadio San Paolo.

Maradona adalah idola sekaligus simbol bagi Napoli dan wilayah selatan Italia yang sering ditindas oleh kaum ningrat dari wilayah utara Italia. Maka dari itu, pendukung Italia saat itu terpecah menjadi dua kubu. Sebagian masih setia dengan Gli Azzurri, sementara lainnya berbelok mendukung La Albiceleste karena faktor Maradona.

Sekadar intermezzo, Maradona adalah penyebab mengapa orang-orang Napoli ikut berpesta ketika Argentina juara Piala Dunia 2022.

Kembali ke semifinal Piala Dunia 1990. Sial bagi Italia, sebab Argentina yang keluar sebagai pemenang. Akibatnya, Maradona mulai mendapat ujaran pelecahan dan sebagai balasan, FIGC memaksa Maradona menjalani tes doping yang berujung larangan bermain selama 15 bulan karena kedapatan positif kokain.

Sejak saat itu pula, Maradona yang selama ini kebal hukum mulai dikorek aibnya. Mulai dari keterlibatannya dengan bisnis narkoba Camorra, perselingkuhan yang menghasilkan anak di luar nikah, hingga kecanduan kokain yang makin menjadi-jadi.

Sebelum meninggalkan Napoli dengan rasa malu pada tahun 1992, Maradona juga pernah dijatuhi hukuman denda 5 juta lira dan nyaris mendapat hukuman penjara 20 tahun.

Maradona Datang, Napoli Juara, Italia Selatan Berjaya!

Namun bagi pendukung Napoli, aib tersebut justru membuat mereka makin memuja Maradona. Mereka menemukan Maradona sebagai Neapolitan bajingan yang berhasil mewujudkan mimpi. Dan faktanya, hingga hari ini klub kesayangan mereka mengalami masa-masa keemasan saat masih diperkuat Diego Maradona.

Setelah diperkuat Maradona, kekuatan Napoli naik drastis. Saat itu, Napoli memang melakukan perombakan skuad dengan mendatangkan beberapa nama besar lain, seperti Bruno Giordano dan Careca, kawan duet Maradona di lini depan yang membuat trio “Ma-Gi-Ca”. Namun, Maradona jelas jadi faktor terbesarnya.

Tiga tahun setelah ia datang, Maradona berhasil membawa Napoli menjadi juara Italia di musim 1987. Di musim tersebut, Il Partenopei tak hanya merengkuh scudetto, tetapi juga Coppa Italia.

Perayaan scudetto Napoli musim lalu memang meriah, tapi jika dibandingkan dengan musim 1987 jelas kalah emosional. Sebab, itu merupakan gelar scudetto pertama Napoli dalam sejarah dan merupakan kali pertama wakil Italia selatan menjadi juara Serie A. Fakta ini yang kemudian membuat Diego Maradona dikultuskan oleh para Neapolitan sebagai ikon budaya, sosial, bahkan simbol agama.

Setelah musim yang bersejarah tersebut, Napoli kembali mencatat sejarah penting ketika keluar sebagai juara Piala UEFA 1989. Gelar tersebut jadi prestasi tertinggi Napoli dalam sejarah dan jadi satu-satunya trofi mayor di kancah Eropa yang dimiliki Napoli hingga hari ini.

Setelah itu, Napoli memenangi scudetto keduanya di musim 1990 dan menjadi kampiun Piala Super Italia 1991. Trofi tersebut jadi prestasi terakhir yang dipersembahkan Diego Maradona untuk Il Partenopei. Total selama 7 tahun kariernya di Napoli, ia berhasil mempersembahkan 5 trofi dan mencetak 115 gol. Maradona adalah top skor sepanjang masa Napoli sebelum rekornya dipecahkan Marek Hamsik di tahun 2017.

Periodenya bersama Napoli memang jadi masa terindah dalam karier El Pibe de Oro. Maradona meraih banyak gelar individu prestisius di masa tersebut, termasuk memenangi Piala Dunia 1986. Namun lebih dari itu, selama Maradona berkarier di Napoli, ia sempat membuat badan amal untuk membantu anak-anak kurang mampu di kota Naples.

Semua capaian tersebut adalah bukti betapa berjasanya Diego Maradona kepada Napoli. Seperti yang sudah disinggung, Maradona adalah sosok yang dikultuskan oleh penduduk kota Naples. Namun, tak hanya oleh para Neapolitan saja, tetapi juga oleh mereka yang berasal dari wilayah selatan Italia.

Maradona: Dewa Kota Naples

Diego Maradona dan Napoli memang seperti sepasang kekasih yang telah ditakdirkan bersama. Sejak hari pertama, Maradona langsung betah. Di Napoli, ia menemukan klub, kota, dan masyarakat yang sama seperti ia berasal.

Maradona dibesarkan dengan kemiskinan ekstrem di Villa Fiorito, sebuah kota kumuh padat penduduk di pinggiran Buenos Aires. Ini membuat Maradona selalu berpihak kepada orang miskin dan tertindas sepanjang hidupnya. Dan hal tersebut kembali ia temukan setelah pindah ke Napoli.

Sama seperti Buenos Aires, Naples yang letaknya di selatan Italia punya gairah yang tinggi terhadap sepak bola. Namun terlepas dari itu, Naples dan Italia Selatan dianggap sebagai noda bagi kaum ningrat Italia Utara. Ketimpangan sosial dan ekonomi antara dua kutub itu memang sangat besar. Kemiskinan, pengangguran, dan kejahatan diidentikkan dengan Italia Selatan.

Permusuhan dua kutub tersebut sampai di lapangan hijau dan Napoli jadi pihak yang paling banyak menderita pelecehan. Oleh karena itu, selama berkarier di Napoli, Maradona kerap menyuarakan dukungan dan hak-hak orang Italia Selatan sekaligus menjadi simbol perlawanan kepada Italia Utara.

Bukan kebetulan Maradona dan Napoli adalah pembenci terbesar Juventus yang dianggap sebagai representasi terbesar kekuasaan Italia Utara. Saat Napoli menggelar perayaan scudetto yang meriah di tahun 1987, warga Neapolitan tumpah ruah di seluruh jalanan, bernyanyi, berpesta, membunyian klakson, hingga yang paling epik menggelar pemakaman tiruan dengan membawa peti mati bertanda Juventus sebagai bentuk kegembiraan mereka karena telah menggulingkan kelas penguasa.

Maradona memang begitu berjasa bagi Napoli, sampai-sampai ia dan keluarganya bisa diperlakukan seperti dewa ketika berkunjung ke sana. Rasa cinta dan kasih sayang itu yang kemudian membuat warga Naples dan Italia Selatan begitu berkabung ketika Diego Maradona meninggal dunia pada 25 November 2020. Napoli dan seisinya adalah tempat kedua setelah Argentina yang paling banyak meneteskan air mata ketika Maradona berpulang.

Meski telah tiada, Diego Maradona akan tetap abadi di Napoli. Nomor 10 peninggalannya dipensiunkan, nama Stadio San Paolo diubah jadi Stadio Diego Armando Maradona, berbagai mural wajahnya masih banyak tergambar di berbagai tempat di Naples.

Maradona dihormati bahkan dianggap setara dengan San Gennaro, santo pelindung kota Naples. Sebab, bagi mereka, Maradona adalah “dewa” yang abadi di Napoli.


Referensi: Goal, CBS, The Guardian, Javad Ghorbani, Starting Eleven.