Beranda blog Halaman 284

Karma! Pemain Ini Karirnya Meredup Setelah Tolak Manchester City

0

Dalam satu dekade terakhir, Manchester City mungkin jadi destinasi favorit setiap pemain di Eropa. Bodoh sekali apabila menolak tampil di klub seperti City. Udah bertabur bintang, jaminan gelar pula. Siapa yang nggak mau main di sini? Jadi “Camat” alias cadangan mati juga hayuk.

Tapi pemikiran itu tak dimiliki semua pemain. Buktinya masih banyak pemain yang menolak klub asal Kota Manchester itu. Menariknya, bak sebuah kutukan pemain-pemain yang menolak City justru mengalami karir yang tragis. Berikut daftar pemain yang karirnya meredup setelah menolak pinangan City.

Marc Cucurella

Pemain pertama adalah Marc Cucurella. Pemain asal Spanyol itu pernah jadi incaran Manchester City di bursa transfer musim panas tahun 2022. Tapi ia justru memilih gabung Chelsea. Kini ia hanya bisa berandai-andai saja. Andai kala itu Cucurella lebih memilih City dan tak tergoda rayuan Todd Boehly, besar kemungkinan nasibnya tak seapes saat ini.

Tapi 50 juta pound (Rp958 miliar) yang diminta Brighton dirasa terlalu mahal bagi City. Pihak klub pun meminta waktu untuk mendiskusikan transfer ini secara internal. Celah itu lah yang dimanfaatkan oleh Chelsea. Mereka siap membayar mahal untuk memenuhi keinginan Graham Potter.

Di saat City tengah berpikir, sang pemain yang sudah nggak sabar ingin hengkang tak mau menunggu tawaran berikutnya dari City. Akhirnya, Cucurella mencapai kesepakatan personal dengan Chelsea. Mendengar itu, City pun mundur. Meski kembali bereuni dengan Potter, ia tak mampu mengeluarkan kemampuan terbaiknya di Chelsea. Pelatih Chelsea sekarang, Mauricio Pochettino pun lebih memilih Ben Chilwell ketimbang dirinya.

Paul Pogba

Pemain selanjutnya adalah Paul Pogba. Bukan hanya sekali, Pogba menolak City sampai dua kali. Semua berawal pada tahun 2016. Setelah sang pemain melakoni musim yang luar biasa di Juventus, Manchester City datang untuk merekrutnya.

Namun, di tengah ketertarikan City, Pogba justru lebih tertarik pulang ke pelukan Manchester United. Kembali berseragam United tahun 2016, Pogba berharap bisa menyelesaikan apa yang sudah ia mulai di usia muda. Tapi sayang, di MU Pogba justru sering cedera. Performanya angin-anginan, kebugarannya pun tak pernah fit 100%.

Merasa kerap dijadikan kambing hitam, Pogba memutuskan hengkang pada tahun 2022. City dikabarkan datang untuk kedua kalinya. Daily Mail bahkan melaporkan kalau sang bintang sudah sepakat untuk gabung City. 

Tapi tiba-tiba kesepakatan batal karena Pogba mau jauh-jauh dari Kota Manchester. Bak sebuah karma, Pogba justru terus alami cedera saat kembali ke Juventus. Ia bahkan harus absen di Piala Dunia 2022. Kini kondisinya makin mengenaskan karena dinyatakan positif doping dan berpotensi mendapat sanksi larangan bermain selama empat tahun.

Romelu Lukaku

Sahabat Pogba, yakni Romelu Lukaku juga ternyata pernah menolak tawaran dari Manchester City. Dilansir Eurosport, pada tahun 2020 lalu, Lukaku pernah mendapat tawaran dari City untuk menggantikan Sergio Aguero yang sudah tak mau memperpanjang kontraknya.

Namun, Lukaku menolaknya dengan alasan masih ingin bertahan di Inter Milan. Ia merasa seperti menemukan sentuhan terbaiknya di Inter. Jika harus kembali ke Inggris, ia hanya mau bergabung Chelsea. Tak disangka, sikap itu ternyata jadi awal permasalahan di karir Lukaku. 

Memutuskan untuk menerima pinangan Chelsea pada tahun 2021, Lukaku justru mengalami penurunan performa yang sangat tajam. Gol-gol yang bertaburan ketika di Serie A seketika sirna. Lukaku hanya jadi cadangan mati di skuad Thomas Tuchel. Lukaku bahkan memperburuk keadaan dengan wawancara kontroversialnya di Sky Sport

Dalam wawancara tersebut, ia mengatakan kalau masih mencintai Inter Milan. Chelsea pun muak dan ingin menjualnya. Tapi Inter hanya mau meminjamnya. Lukaku kembali disebut pengkhianat oleh fans Inter setelah dengan terbuka menyatakan tertarik untuk bergabung dengan Juventus. Kini, ia dipinjamkan ke AS Roma karena tak ada klub lain yang mau menebusnya.

Harry Maguire

Berikutnya ada Harry Maguire. Performanya di Leicester City membuat Manchester City mempertimbangkan untuk merekrutnya. Dilansir Sky Sport, pada tahun 2019, Pep Guardiola sempat memuji sang pemain sebagai salah satu bek inggris terbaik yang pernah ia tonton. Jadi, ia ingin Maguire bergabung ke Manchester City.

Namun, sang pemain tak mengindahkan kesempatan tersebut. Maguire justru lebih tertarik dengan proyek Manchester United. Sang pemain akhirnya bergabung MU dengan status bek termahal di dunia. Sejak saat itu rangkaian hal buruk menimpa Maguire. Tak perlu diceritakan pun kalian semua tahu bagaimana Maguire yang selalu dirujak fans sendiri setiap minggu.

Meski berstatus kapten tim, ia jadi bulan-bulanan netizen berkat performanya yang di bawah standar. Maguire dinilai sebagai rekrutan terburuk Manchester United saat itu. Di era Erik Ten Hag, situasinya semakin sulit. Ia bukan lagi pilihan utama di skuad MU. Ban kaptennya pun dicopot. Jika pada saat itu ia menerima pinangan City, mungkin nasibnya tak akan sengenes ini.

Alexis Sanchez

Alexis Sanchez juga masuk dalam daftar ini. Melihat kiprahnya yang luar biasa bersama Arsenal, manajemen City berusaha keras untuk mendatangkannya pada tahun 2017. Pep Guardiola benar-benar mengidolakannya karena sang pemain merupakan pemain sayap yang kreatif dan memiliki naluri mencetak gol yang sangat baik.

Sayangnya, Sanchez menolak tawaran City demi bergabung dengan MU di pertengahan musim 2017/18. Ia menolak City karena mendapat telepon dari Jose Mourinho yang mengiming-imingi nomor punggung tujuh MU yang tengah kosong. Kebetulan, nomor punggung tersebut adalah angka kesukaan Sanchez.

Sayangnya, keputusan Sanchez menolak bereuni dengan Pep di City justru jadi awal bencana. Sanchez tampil buruk. Dari 45 pertandingan di semua kompetisi, ia hanya mencetak lima gol saja. Beberapa tahun kemudian, ia mengaku menyesal telah bergabung dengan United.

Cristiano Ronaldo

Satu lagi pemain yang lebih memilih gabung Manchester United ketimbang Manchester City adalah Cristiano Ronaldo. Pada tahun 2021, jagad sepakbola dunia digemparkan dengan berita kalau City berniat untuk mendatangkan Ronaldo setelah gagal mendapatkan Harry Kane dari Tottenham.

The Citizens bahkan sudah menyiapkan nilai transfer, fasilitas, dan gaji menggiurkan demi memanjakan peraih lima Ballon d’Or itu. Hanya saja takdir berkata lain. Setelah dinyatakan selangkah lagi bergabung City, United datang untuk merusak kesepakatan. Menurut Fabrizio Romano, salah satu sebab gagalnya Ronaldo ke Manchester City karena ada masalah dengan sang agen, yakni Jorge Mendes. Jadi, Ronaldo memilih untuk pulang ke pelukan MU.

Di musim pertama, Ronaldo tampil cukup baik. Ia mencatatkan 18 gol di Liga Inggris bersama Manchester United. Namun sang pemain tidak senang karena United gagal lolos ke Liga Champions. Dari situlah, kelakuan busuk Ronaldo mulai kelihatan. Dari bersikap tak profesional hingga menjelek-jelekan klub telah dilakukan Ronaldo. Akhirnya, kontraknya pun diputus pada akhir tahun 2022.

Dani Alves

Setelah menjalani musim pertama di Manchester City, Pep Guardiola merasa perlu untuk menambah bek sayap baru di skuatnya. Kyle Walker dan Benjamin Mendy muncul sebagai target utama tahun 2017. Namun, merekrut Dani Alves dari Juventus sepertinya yang paling memungkinkan.

Namun, pemain asal Brazil itu justru menolak untuk bereuni dengan Pep. Ia lebih berminat untuk bergabung dengan klub Liga Prancis, PSG karena alasan keluarga. Keputusan ini awalnya tak memunculkan masalah sampai akhirnya Dani Alves tersandung kasus pelecehan seksual. 

Alves dituduh melecehkan perempuan di sebuah club malam di Barcelona akhir Desember tahun 2022. Setelah kepolisian setempat mengumpulkan beberapa bukti, Alves pun harus mendekam di penjara.

Sumber: Daily Mail, Eurosport, MEN, Bola

Begini Jika Semua Pemain Keturunan Mau Bela Timnas Indonesia

0

Tokoh anime bajak laut paling terkenal, yakni Monkey D. Luffy pernah berkata, “Jika mimpimu belum ditertawakan orang lain, berarti mimpimu masih kecil.“ Kalimat legendaris itu kini sedang diresapi betul oleh punggawa Timnas Indonesia yang sedang bermimpi bisa mengukir sejarah di Piala Asia 2023.

Tergabung ke dalam Grup D bersama Jepang, Irak, dan Vietnam, Indonesia berikhtiar untuk memperkuat diri. Tak hanya soal taktikal, Indonesia juga berusaha menambah kekuatan dengan mendatangkan pemain-pemain naturalisasi. Sayangnya, tak semua pemain keturunan bisa dan mau membela Indonesia. Andai semua pemain tersedia, kira-kira beginilah skuad Timnas Indonesia dengan formasi 3-5-2.

Penjaga Gawang

Tanpa merendahkan kualitas pemain-pemain lokal, Indonesia memiliki banyak pemain keturunan yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Di sektor penjaga gawang, ada kiper baru Inter, Emil Audero Mulyadi. 

Kalian pasti sudah tak asing dengan pemain yang satu ini. Pemain kelahiran Mataram, Nusa Tenggara Barat itu sudah lama dikaitkan dengan Timnas Indonesia. PSSI pun sudah beberapa kali menawarkan naturalisasi, mengingat kemungkinan Emil untuk membela Timnas Italia sangatlah kecil. 

Namun, mantan pemain Juventus itu belum juga mengiyakan tawaran tersebut. Tapi sang ayah baru-baru ini memberikan lampu hijau kepada PSSI. Ia tidak menutup kemungkinan untuk mengizinkan anaknya menjadi WNI karena percaya dengan kiprah Erick Thohir yang dinilai lebih serius dalam mengurusi sepakbola. 

Emil sendiri merupakan kiper shoot stopper. Meski bukan tergolong kiper modern, Emil tetap piawai membaca permainan. Ia bahkan cakap dalam memotong umpan silang. Selain Emil, kiper Panathinaikos B, Cyrus Margono juga bisa mengisi posisi kiper. Dari namanya saja sudah sangat Indonesia sekali. 

Margono merupakan pemain berdarah Amerika Serikat dan Indonesia. Pemain berusia 21 tahun itu dikabarkan tak perlu dinaturalisasi karena sudah memiliki paspor Indonesia. Tinggal nanti Margono mau pilih mana antara Indonesia atau Amerika.

Jika memilih Indonesia, menurut Tenaga Ahli Kemenpora Bidang Diaspora dan Kepemudaan, Hamdan Hamedan, Margono mesti melepas kewarganegaraan Amerika sebab Indonesia hanya membolehkan warganya memiliki satu kewarganegaraan saja.

Trio Bek Tengah

Di sektor bek, Skuad Garuda akan menggunakan skema tiga bek. Pemain yang dinilai cocok untuk mengisi posisi ini adalah Jordi Amat, Elkan Baggot, dan Jay Idzes. Untuk dua nama awal, mereka sudah mengantongi kewarganegaraan Indonesia. Elkan dan Amat bahkan sudah tampil di berbagai ajang Internasional bersama Indonesia.

Sedangkan Jay Idzes proses naturalisasinya sedang berjalan. PSSI memperkirakan proses tersebut bakal rampung awal tahun 2024 agar pemain keturunan Betawi itu bisa memperkuat Indonesia di Piala Asia dan Kualifikasi Piala Dunia 2026.

Jordi Amat akan jadi pemimpin di trio ini. Selain jadi yang paling tua, ia adalah bek tengah yang kaya akan pengalaman. Ia bahkan pernah bermain melawan para penyerang papan atas macam Wayne Rooney dan Lionel Messi. Ketenangannya dalam menguasai bola akan sangat berguna saat melakukan build up.

Sedangkan Idzes yang memiliki postur tinggi kekar bakal jadi tambahan yang sempurna guna membangun tembok yang kokoh di depan Emil Audero. Bayangkan saja jika trio ini mengawal pertahanan Timnas Indonesia, penyerang sekelas Ayase Ueda atau Kyogo Furuhashi pun bakal frustrasi dibuatnya.

Full Back

Sementara full back yang akan berdiri sejajar dengan para gelandang akan diisi oleh Kevin Diks di sisi kanan dan Shayne Pattynama di kiri. Khusus Pattynama, ia sudah mengantongi kewarganegaraan Indonesia sejak awal tahun 2023. Pengambilan sumpah WNI Pattynama dilangsungkan pada Januari kemarin. Namun, ia baru mencatatkan debutnya saat Indonesia menjamu Argentina Juni lalu.

Nah, kalau Kevin Diks lain cerita. Pemain yang punya garis keturunan Maluku itu sebetulnya bersedia untuk membela Timnas Indonesia. Namun, Kevin yang masih memegang kewarganegaraan Belanda tak mendapat restu dari orang tuanya. 

Itu karena Indonesia hanya mengenal paspor tunggal, bukan dwi-kewarganegaraan seperti Belanda. Orang tua Kevin merasa lebih baik mempertahankan kewarganegaraan Belanda karena masih berkarir di Eropa. Prosesnya pun batal meski Kevin sudah melakukan pertemuan khusus dengan anggota Exco PSSI, Hasani Abdulgani.

Padahal kalau bisa dinaturalisasi, Kevin bakal jadi tambahan kekuatan yang luar biasa bagi Indonesia. Meski berposisi sebagai bek kanan, kecepatan dan naluri menyerangnya sangat baik. Ia juga tergolong pemain versatile karena bisa bermain di segala pos lini bertahan. Untuk kedalaman skuad di tengah padatnya agenda internasional, pemain seperti Kevin sangatlah penting.

Gelandang

Di sektor gelandang, Indonesia memiliki banyak nama yang sudah dan bisa saja dinaturalisasi. Namun, dari berbagai nama tersebut yang layak untuk masuk ke skuad ini adalah Marc Klok dan Sandy Walsh. Keduanya akan memainkan peran sebagai gelandang bertahan sekaligus pengatur tempo permainan.

Meski sempat terkendala dalam membuktikan garis keturunan, Marc Klok akhirnya bisa menjadi bagian penting dalam skema Shin Tae-yong. Sedangkan Sandy Walsh baru mengantongi kewarganegaraan Indonesia di akhir tahun 2022. Padahal sang pemain udah ngebet banget buat main di Timnas Indonesia sejak beberapa tahun lalu.

Sandy Walsh sebetulnya merupakan bek kanan. Tapi, ia bisa bermain di posisi gelandang. Kemampuan bertahan Sandy yang dipadukan dengan umpan-umpan berkualitas dari Klok, lini tengah Indonesia akan lebih solid. Klok juga tak perlu khawatir apabila maju membantu lini serang karena di belakang sudah ada Sandy.

Untuk melengkapi trio lini tengah, kita butuh gelandang yang memiliki naluri menyerang yang cukup baik. Dan itu ada dalam diri Tijjani Reijnders. Pemain yang memiliki darah Indonesia dari ibunya itu merupakan gelandang dengan atribut lengkap. Tijjani cerdas saat menguasai bola maupun tidak. Kombinasi umpan satu-dua di ruang sempit adalah favoritnya. 

Sayangnya, ketika PSSI datang untuk menawarkan naturalisasi, Tijjani menolak. Ia merasa terhormat diberi kesempatan untuk membela Timnas Indonesia, tapi di sisi lain ia masih yakin bisa menembus skuad utama Timnas Belanda.

Setelah menolak pinangan Indonesia karir Tijjani kian melejit. Musim panas kemarin ia baru merampungkan kepindahan dari AZ Alkmaar ke AC Milan dan dipanggil ke skuad De Oranje. Untuk menjaga kedalaman skuad, kita masih mempunyai gelandang muda berbakat, Ivar Jenner. Meski usianya masih 19 tahun, kepiawaiannya dalam mengatur serangan sudah teruji di ajang Kualifikasi Piala Asia 2023 kontra Chinese Taipei kemarin.

Striker

Untuk mengisi lini depan, skuad dream team ini akan menggunakan dua penyerang. Salah satu pemain yang sudah mengantongi kewarganegaraan Indonesia adalah punggawa ADO Den Haag, Rafael Struick. Pemain berusia 20 tahun itu dikenal pekerja keras dan kreatif. Daya jelajahnya luas dan kemampuan menggiring bolanya cukup bagus.

Kemampuannya itu sangat cocok dengan skema high press yang kerap digunakan Shin Tae-yong. Akan lebih sempurna apabila dirinya diduetkan dengan penyerang cepat lain macam Ragnar Oratmangoen. Pemain Fortuna Sittard ini sempat ditawari kewarganegaraan Indonesia oleh PSSI. 

Ragnar memang menjadi salah satu pemain yang direkomendasikan Shin Tae-yong kepada PSSI untuk dinaturalisasi. Tapi, entah mengapa Coach Shin berubah pikiran dan akhirnya memfokuskan proses naturalisasi kepada Kevin Diks yang akhirnya pun gagal pula. Kabarnya, Oratmangoen masih memiliki hasrat untuk membela Timnas Indonesia. Tapi belum ada update lagi dari PSSI. Dengan skuad begini sih, Indonesia auto jadi macan Asia.

Sumber: Bola, CNN, Old Juve, Sempre Milan

Tak Tergoda Materi Dan Gelar! Inilah 6 Pemain Paling Setia Saat Ini

0

Tampaknya loyalitas jadi semakin langka di jaman sekarang. Ini bukan salah pemain dan pelatih. Tapi juga klub-klub yang membabi buta di bursa transfer demi mendapat pemain terbaik tiap tahun.

Tapi, ditengah datang dan perginya para pemain di era sekarang, masih ada pemain yang loyal. Asam manis mereka lalui di klub kesayangan mereka. Meskipun mereka punya kesempatan untuk lebih sukses di klub lain. Berikut ini 6 pemain paling setia saat ini.

Ciro Immobile

Ciro Immobile adalah striker yang luar biasa untuk Italia, tapi bencana untuk tim lain. Entah sudah berapa banyak klub yang jadi korban PHP-nya. Rasanya tiap bursa transfer selalu ada berita klub memberikan tawaran, tapi ditolak mentah-mentah olehnya.

Bukan rahasia kalau Immobile punya loyalitas yang sangat dalam kepada Lazio. Kapten tim ibu kota tersebut telah mengabdi sejak tahun 2016. Ya, menariknya Immobile bahkan bukan lulusan akademi Lazio atau pemain muda di Lazio.

Bomber Italia itu lulus dari akademi Sorrento sebelum dibeli Juventus di tahun 2007. Ia berkelana di banyak klub Italia sebagai pemain pinjaman di masa mudanya. Sampai akhirnya ia pindah ke Dortmund di tahun 2014.

Sayangnya karirnya tidak berjalan terlalu mulus di Dortmund. Ia pun dijual ke Sevilla, sebelum akhirnya berlabuh ke Lazio di tahun 2016. Di Lazio, Immobile pun menjelma jadi penyerang paling mematikan di Serie A.

Klub-klub besar seperti Juventus, Napoli, Chelsea sering menawar Immobile. Bahkan klub Arab menggodanya dengan uang yang tak sedikit. Tapi ia tidak tergoda dengan jaminan trofi di Juventus atau gaji tinggi di Chelsea dan klub Arab. Immobile tetap setia dengan Lazio dan bahkan bertekad untuk pensiun di sana.

“Saya berniat mengikat diri saya dengan Lazio selamanya. Ada banyak klub yang mengontak saya. Tapi karena satu dan lain alasan, tidak ada yang berlanjut. Apa yang telah Lazio berikan kepada saya tak ternilai harganya”

Ricardo Horta

Masih misteri mengapa Ricardo Horta masih di SC Braga. Bukan bermaksud menyinggung Braga. Hanya saja liga Portugal adalah liga petani. Liga Portugal dikuasai Porto, Benfica, dan Sporting. Sementara Braga hanya tim pelengkap yang belum pernah jadi juara liga sejak berdiri ratusan tahun lalu.

Di musim 2019/20 Braga bisa menembus 3 besar dan menjuarai Taca da Liga. Itu berkat Horta yang mencetak 24 gol dari 49 pertandingan di semua kompetisi. Setelah itu ia terus bermain bagus dan menggendong Braga konsisten di papan atas liga. Selama 8 musim di Braga, Ricardo Horta telah mencetak lebih dari 100 gol dari setidaknya 300 pertandingan lebih di semua kompetisi.

Di tahun 2021, tim MLS Atalanta menawar Horta untuk pindah dengan biaya transfer 8 juta euro. Tapi tentu saja Horta menolak. Tapi, salah satu tim penguasa Portugal, Benfica juga menawar. Benfica menawarkan uang hingga 10 juta euro ke Braga. Tapi Horta sama sekali tidak tergoda untuk pindah.

Mikel Oyarzabal

Saat masih jadi pemain akademi, Mikel Oyarzabal beberapa kali pindah antara Eibar dan Real Sociedad. Tapi setelah ia menembus tim senior, Oyarzabal adalah one club man. Ia setia dengan Real Sociedad. Wenger dengan skil dan teknik diatas rata-rata itu telah bermain lebih dari 300 pertandingan untuk La Real.

Ia masih berusia 26 tahun, jadi punya sangat banyak kesempatan untuk meninggalkan Real Sociedad. Tapi ia telah menolak semua tawaran yang datang kepadanya. Misalnya saat di tahun 2016, Athletic Bilbao sudah menyiapkan dana 40 juta euro untuk mengaktifkan klausul pelepasannya. Tapi Oyarzabal malah memilih memperpanjang kontrak bersama La Real.

Padahal dengan bertahan, ia dapat gaji yang lebih sedikit dibandingkan pindah. Dua tahun kemudian, Athletic Bilbao kembali berniat mengaktifkan klausul pelepasannya. Kali ini dengan biaya 60 juta euro. Dan sekali lagi, Oyarzabal memilih memperpanjang kontrak di Real Sociedad.

Di tahun 2021, tawaran kembali datang untuknya. Jika pindah ke klub rival, Athletic Bilbao ia memang tidak sudi, kali ini tawaran datang dari Manchester United. Kabarnya dengan klausul pelepasan 75 juta euro. Dan tetap saja, ia memilih untuk bertahan.

“Saya selalu merasa beruntung di tempat saya sekarang. Real adalah segalanya untuk saya. Saya berada di tempat yang sempurna untuk berkembag dan saya ingin membawa klub berkembang”

Iago Aspas

Sama seperti Ciro Immobile, Iago Aspas mengalami masa sulit saat berkarir di luar negara kelahirannya. Ia adalah produk asli akademi Celta Vigo. Namun di tahun 2013, ia merantau ke Liverpool. Sayangnya ia tampil sangat buruk di Inggris sampai akhirnya dipinjamkan ke Sevilla semusim kemudian.

Di tahun 2015, ia pulang ke Celta Vigo dan memutuskan untuk setia di klub masa kecilnya itu. Meskipun beberapa kali dapat kesempatan pindah ke klub yang lebih besar dan dapat gaji yang lebih banyak.

Ia telah mencetak lebih dari 200 gol dan bermain lebih dari 460 pertandingan. Hanya Karim Benzema, Luis Suarez, dan Lionel Messi yang mencetak gol lebih banyak darinya di La Liga. Catatan itu lebih impresif mengingat Benzema, Suarez, dan Messi bermain di dua klub penguasa La Liga.

Jadi tak heran kalau Aspas sering dapat tawaran dari klub rival. Real Madrid pernah menawar dengan biaya 35 juta Euro di tahun 2018. Kemudian Barcelona dan Atletico Madrid di tahun 2019, dan beberapa klub China yang menawarkan gaji selangit.

Seperti yang sudah ditebak, Aspas menolak semua tawaran itu. Meskipun bermain di Celta berarti mendapatkan gaji yang tidak seberapa. Juga tidak ada jaminan juara kompetisi manapun. Dan sampai sekarang, usianya sudah 36 tahu dan tidak ada tanda-tanda ia ingin pergi.

Jose Gaya

Saat Gaya bergabung ke tim muda Valencia di tahun 2006 saat usianya masih 11 tahun, Valencia memang bukan tim yang bapuk. Mereka finis di tiga besar La Liga dan dua kali jadi juara di lima tahun sebelumnya. Tapi begitu Gaya menembus tim utama Valencia di tahun 2012, Los Che mengalami kemunduran yang drastis.

Diawali dengan kedatangan Peter Lim sebagai pemilik baru di tahun 2014. Valencia tak hanya mengalami penurunan performa di lapangan, tapi juga secara finansial. Akhirnya banyak pemain yang memilih untuk pergi. Seperti Nicolas Otamendi, Shkodran Mustafi, Joao Cancelo, Andre Gomes, Ferran Torres, Goncalo Guedes, dan lainnya.

Gaya punya banyak kesempatan untuk mengikuti jejak mereka. Pasalnya Gaya sudah dinilai sebagai bek kanan paling berbakat di La Liga. Bahkan para fans Valencia akan mengerti kalau Gaya pergi dan bergabung ke klub yang lebih baik.

Padahal di tahun 2015, Real Madrid mengincar Gaya sebagai suksesor Marcelo. Di tahun 2022, giliran Barcelona yang cari peruntungan. Saat itu mereka yakin bisa dapatkan Gaya karena kontraknya di Valencia akan habis. Tapi Gaya malah menandatangani kontrak baru. Kini usianya 28 tahun dan memasuki usia matang bagi pesepak bola. Namun tetap saja tidak ada tanda-tanda ia akan pindah.

Marco Reus

Bicara soal kesetiaan dan loyalitas, tentu saja tidak akan jauh-jauh dari Marco Reus. Sudah bukan rahasia kalau Reus adalah orang yang sangat setia di Dortmund. Padahal Dortmund terkenal sebagai eksportir pemain muda berbakat. Sebut saja Ousmane Dembele, Jude Bellingham, Aubameyang, Mario Gotze, Lewandowski, Erling Haaland, dan masih banyak lagi.

Semua pemain itu adalah mantan rekan setim Reus yang melihat kesempatan yang lebih baik dan memilih hengkang. Tapi tidak dengan Reus. Ia menolak semua tawaran dari klub lain, yang menawarkan gaji jauh lebih besar atau jaminan trofi tiap musim.

Real Madrid pernah menggoda Reus di tahun 2015, saat usianya masih 25 tahun. Tapi meskipun dengan tawaran gaji 7 juta euro per-tahun, Reus menolak. Di tahun yang sama Bayern juga mencoba buat Reus pindah. Tapi meski dengan jaminan dapat Bundesliga tiap tahun, Reus juga menolak.

Selain itu tim lain juga sering mengincarnya. Chelsea, Barcelona, dan Manchester City jadi klub lainnya yang paling sering mengincar Reus. Tapi hatinya tetap di Dortmund dan akan terus di Dortmund.

Sumber referensi: Tuga, Transfers, LowDown, B/R, Trivela, Ronaldo

Arsenal Hobi Putus Kontrak Pemain! Mana yang Patut Disayangkan?

0

Secara tak disadari musim ini Arsenal kembali melanjutkan hobi lamanya bersama Arteta dalam hal mengelola skuadnya. Sejak kedatangan Arteta, hobi membuang pemain dengan cara pemutusan kontrak sudah banyak memakan korban.

Padahal nih, pemain yang diputus kontraknya itu dulunya dibeli dengan uang yang tak sedikit. Ya, tampaknya kekejaman Arteta kepada pemain toxic dan hanya makan gaji buta tak bisa ditolerir.

Henrikh Mkhitaryan

Salah satu pemain yang dianggap tak lagi dibutuhkan Arteta adalah Henrikh Mkhitaryan. Mkhitaryan kembali ke Arsenal pada tahun 2020 dari masa peminjaman selama semusim bersama AS Roma. Ia dibeli dari MU di 2018 oleh Wenger dengan cara barter dengan Alexis Sanchez.

Dilansir website resmi Arsenal pada awal musim 2020/21, terjadi kesepakatan bersama kedua belah pihak, baik Arsenal maupun agen Mkhitaryan untuk mencari jalan tengah dengan cara memutus kontrak.

Kontrak pemain Armenia ini padahal masih tersisa satu tahun lagi di Emirates hingga 2022. Jalan tengah itu akhirnya bisa membuat Mkhitaryan leluasa untuk memilih klub. AS Roma beruntung kembali mendapatkannya secara gratis.

Sokratis Papastathopoulos

Di bulan Januari 2021, Arteta kembali memutus kontrak pemainnya. Kali ini adalah bek asal Yunani, Sokratis Papastathopoulos. Bek berusia 32 tahun itu telah dibekukan Arteta sejak Maret 2020.

Terlihat sekali bagaimana Arteta tak ingin memakai pemain ini lagi. Kontrak pemain ini juga akan habis di akhir musim 2020/21. Jadi, daripada makan gaji buta dan tak terpakai, Arsenal berani memutus kontrak sang pemain ini lebih awal.

Dilansir Dailymail, sang pemain nyatanya legowo untuk mengakhiri pengabdiannya di Arsenal lebih awal. Sokratis juga mengaku ingin lebih cepat menentukan klub barunya. Ia akhirnya dilepas secara gratis ke Olympiakos, setelah di tahun 2018 ia dibeli Arsenal dari Dortmund seharga 17 juta pounds.

Shkodran Mustafi

Masih di bulan Januari 2021. Satu lagi pemain Arsenal yang diputus kontraknya yakni bek asal Jerman, Shkodran Mustafi. Awalnya kontrak Mustafi masih menyisakan enam bulan lagi hingga Juni 2021. Tapi sang pemain sudah tak diinginkan lagi oleh Arteta seperti Sokratis.

Buktinya, Mustafi selama paruh musim 2020/21 hanya main 9 kali saja di skuad Arteta. Mendengar anaknya akan bernasib seperti Sokratis, ayah Mustafi, Kujtim Mustafi berbicara kepada Football London bahwa anaknya tersebut masih akan bersama Arsenal hingga selesai kontraknya.

Namun apa yang terjadi? Di last minutes bursa transfer Januari 2021, Arsenal benar-benar tak segan melakukan pemutusan kontrak pada Mustafi. Situs resmi klub mengungkap bahwa pemutusan ini telah dilakukan dengan kesepakatan bersama. Pemain yang dibeli dengan mahar 35 juta pounds dari Valencia pada 2016 itu pun akhirnya pergi dengan gratis ke Schalke.

Mesut Ozil

Tak hanya Sokratis dan Mustafi korban pemutusan kontrak di Januari 2021. Ada satu lagi yang fenomenal yakni Mesut Ozil. Pemain yang satu ini memang hubungannya sudah lama renggang dengan klub maupun Arteta. Ia lebih fokus terhadap hal-hal yang berbau politik dibanding bermain sepakbola. Ia juga bermasalah dengan klub soal pemotongan gaji yang dialami di masa Covid.

Secara performa, ia yang sudah menua pun dianggap Arteta tak cocok lagi berada di skuad. Masih menyisakan kontrak enam bulan di Emirates hingga Juni 2021, nyatanya Ozil juga diputus kontraknya lebih awal.

Ozil akhirnya pergi dengan status free transfer ke klub turki Fenerbahce. Menurut ESPN, anehnya Arsenal ternyata harus membayar 90% kompensasi gaji Ozil selama di Fenerbahce hingga Juni 2021. Per bulannya sekitar 7 juta pounds.

Willian

Pemain berikutnya yang diputus kontrak ada Willian. Sayap lincah Brazil ini datang dari Chelsea pada musim 2020/21 dengan status free transfer. Ia dikontrak The Gunners selama tiga tahun.

Namun nyatanya, “si kribo” ini hanya bertahan semusim saja di Emirates. Ya, pihak Arsenal dan pihak Willian sepakat untuk melakukan pemutusan kontrak di akhir musim 2020/21. Dilansir Mirror, Willian mengatakan bahwa ia sudah tak termotivasi lagi membela Arsenal. Ia mengaku bosan selama semusim bermain tanpa penonton. Ia merasa sepi dari hiruk-pikuk pujian fans.

Menurutnya ia hanya akan membebani klub. Uang menurut Willian tak terlalu penting. Maka dari itu ia lebih memilih untuk pulang kampung ke Brazil bersama Corinthians daripada bertahan dengan segala ketidaknyamanan yang melanda.

Sead Kolasinac

Di bulan Januari 2022, ada lagi pemutusan kontrak yang terjadi di Arsenal. Kali ini korbannya adalah Sead Kolasinac. Bek kiri Bosnia tersebut juga termasuk dalam daftar pemain yang tak diinginkan Arteta. Maka dari itu, ia juga sempat dipinjamkan ke Schalke.

Kembali lagi ke Arsenal di musim 2021/22, namun ia hanya main dua kali. Melihat hal tersebut Kolasinac akhirnya sadar diri. Toh, juga di skuad ia sudah kalah saing dengan Tierney maupun Tavares.

Bergabung sejak 2017 dari Schalke, Kolasinac akhirnya memilih pergi secara gratis setelah kesepakatan pemutusan kontraknya dengan Arsenal berhasil. Ia kemudian pindah ke Ligue 1 bersama Marseille.

Hector Bellerin

Bek kanan asal Spanyol, Hector Bellerin juga diputus kontraknya oleh Arsenal. Bellerin ini sejak kedatangan Ben White, sepertinya sudah tak diinginkan lagi oleh Arteta. Maka dari itu selama musim 2021/22, ia sempat dipinjamkan ke Real Betis.

Kesuksesan sebagai pemain pinjaman di Betis membuatnya ingin secepatnya melepaskan seragam Arsenal. Mengingat kontraknya masih tersisa semusim lagi di Arsenal, tak ada jalan lain selain pemutusan kontrak.

Jalan tengah itulah yang ditempuh agen Bellerin dan akhirnya berhasil. Dilansir Dailymail, ia rela melepas gajinya sebesar 110 ribu pounds demi kembali lagi ke Betis dengan status bebas transfer. Namun nyatanya ia tidak kembali ke Betis, melainkan justru ke Barcelona.

Aubameyang

Ada lagi pemutusan kontrak fenomenal yang dialami Pierre-Emerick Aubameyang. Striker Gabon tersebut diputus kontraknya oleh Arsenal dan klub harus membayarnya sekitar 7 juta pounds sebagai kompensasi. Pasalnya, di klausul kontraknya bersama Arsenal yang masih tersisa 1,5 tahun terdapat poin tersebut.

Selain itu, Auba juga sudah lama hubungannya renggang dengan klub maupun Arteta. Ia dicap beberapa kali bersikap indisipliner dan hanya membuat keruh kondisi skuad Arsenal. Bahkan ban kapten di lengannya pun harus dicopot Arteta sejak bulan Desember 2021.

Pemain yang dibeli mahal 60 juta pounds dari Dortmund itu, akhirnya benar-benar didepak dengan cara kesepakatan pemutusan kontrak bersama. Ia akhirnya bergabung secara gratis dengan Barcelona.

Nicolas Pepe

Pemain terakhir yang diputus kontraknya yakni Nicolas Pepe. Pemain toxic yang sudah lama berada di Arsenal sejak 2019. Pepe kita tahu dibeli mahal dari Lille senilai 72 juta pounds. Tapi, pemain ini gagal menunjukan performa terbaiknya selama di Emirates. Cedera jadi masalah pemain asal Pantai Gading tersebut. Pemain ini bahkan sempat dipinjamkan ke Nice musim lalu.

Musim lalu, Pepe sudah ditawarkan ke beberapa klub tapi masih saja tak ada yang sanggup membayarnya. Pasalnya gajinya terlampau mahal yakni sekitar 150 ribu pound per pekan.

Nah maka dari itu, ketimbang membayar gajinya, Arsenal musim ini berani memutus kontraknya dengan kesepakatan bersama kedua belah pihak. Pepe kini telah bergabung dengan klub Turki, Trabzonspor dengan status gratisan.

Sumber Referensi : goal, skysports, dailymail, mirror, dailymail, espn, dailymail, arsenal.com, dailymail

Mengapa Banyak Pelatih yang Sukses di Klub Gagal Saat Melatih Timnas?

0

Pemecatan Hans-Dieter Flick oleh Timnas Jerman semakin menunjukkan bahwa pelatih yang sukses di level klub belum tentu berhasil ketika melatih tim nasional. Hansi Flick meraih banyak trofi saat menukangi Bayern Munchen. Namun, modal itu tidak lantas membuatnya bisa menangani Timnas Jerman dengan mudah.

Flick dipecat karena gagal membawa Timnas Jerman ke jalur yang semestinya. Ia menjadi pelatih kesekian yang tidak menemui titik keberhasilan saat melatih tim nasional, meski bagus di level klub. Hal itu bukanlah pemandangan langka.

Masih banyak pelatih-pelatih lain yang punya nasib serupa dengan Hansi Flick. Masalahnya, mengapa bisa demikian? Mengapa kesuksesan seorang pelatih di level klub tidak bisa menjamin keberhasilannya di timnas?

Banyak yang Gagal

Jika mendaftar seluruh nama pelatih yang punya CV mentereng di klub, tapi gagal di tim nasional tentu video ini akan panjang sekali. Alih-alih demikian, kita akan mencoba menelusuri beberapa di antaranya.

Masih ingat dengan sosok Kevin Keegan? Sebelum era Eddie Howe, Newcastle juga pernah mengalami masa keemasan kala ditukangi manajer yang satu ini. Keegan adalah pelatih yang membawa Newcastle United dari divisi dua ke divisi satu sampai dipromosikan ke Liga Primer.

Toon Army juga dibawanya finis sebagai juara kedua dalam dua musim beruntun (1995/96 dan 1996/97). Keegan juga sukses saat melatih Fulham dan Manchester City. Namun, ketika melatih Timnas Inggris ia gagal total. Di EURO 2000, Inggris dibuatnya tersingkir dari babak grup.

Fabio Capello juga mengalami nasib serupa. Ia memenangkan empat gelar Serie A dan satu trofi Liga Champions bersama AC Milan. Capello juga sukses menyabet dua gelar La Liga kala menukangi Real Madrid. Di AS Roma, pelatih kelahiran Pieris ini berhasil mempersembahkan scudetto. Namun saat melatih tim nasional, Capello gagal total.

Saat melatih Inggris di Piala Dunia 2010, ia harus menelan pil pahit kalah dari Jerman 4-1 di perdelapan final. Lalu, setelah mengundurkan diri dan menukangi Timnas Rusia, Capello juga gagal. Rusia tidak lolos ke fase gugur Piala Dunia 2014 dan penampilannya goyah di EURO 2016. Ia pun dipecat.

Timnas Biasanya Dilatih Pelatih Tua

Jose Mourinho pernah mengatakan, melatih tim nasional adalah “pekerjaan untuk orang-orang tua”. Perkataan Mourinho itu ada benarnya. Kebanyakan pelatih klub yang akhirnya melatih tim nasional adalah mereka yang sudah kenyang dengan pengalaman di level klub.

Fabio Capello misalnya. Ia menukangi Timnas Inggris dan Rusia saat kariernya bisa dikatakan sudah sampai ke ujung. Begitu pula Carlo Ancelotti yang kabarnya sudah sepakat melatih Timnas Brasil tahun depan. Carletto kini sudah berada di ujung kariernya.

Ia sudah memasuki usia pensiun sebagai pelatih. Meski tidak ada yang namanya waktu yang tepat untuk pensiun, karena sejatinya bergantung pada si pelatih dan Tuhan. Namun, semakin tua seseorang akan mempengaruhi kemampuan berpikir. Sedangkan pelatih butuh itu.

Tak Punya Waktu Panjang untuk Bereksperimen

Melatih klub adalah satu hal, sedangkan melatih tim nasional adalah hal yang lain. Seorang pelatih klub pasti punya waktu yang lebih dari cukup untuk bereksperimen. Minimal dalam satu musim. Para pelatih seperti Josep Guardiola, Jurgen Klopp, sampai Mikel Arteta punya waktu untuk menyusun skuad dengan trial and error.

Mereka bisa melakukan itu sembari melihat hasilnya. Pertandingan kompetitif akan selalu ada di level klub. Jika gagal dengan satu taktik, seorang pelatih bisa mencobanya dengan taktik lain. Apabila seorang pemain dirasa tak punya kapasitas untuk mengisi satu ruang di formasinya, seorang pelatih bisa menggantikannya dengan pemain lain.

Lagi pula jika hasil eksperimennya gagal, katakanlah harus kalah di satu pertandingan di liga, hanya akan berdampak kecil. Sementara di level tim nasional, yang mana kompetisinya cuma sebentar, kalah satu laga bisa dampaknya lebih luas.

Minim Waktu Berlatih

Hal itu juga bertalian erat dengan waktu latihan yang sedikit. Berbeda di level klub yang setiap hari pelatih dan pemain bertemu. Pelatih timnas tidak sering bertemu dengan para pemainnya untuk berlatih. Mereka harus menunggu hitungan bulan atau saat ada jeda internasional.

Ya kalau si pemain bisa cepat beradaptasi dengan gaya bermain dan taktik seorang pelatih, jika tidak? Masalah lainnya, pemain ketika datang untuk berlatih bersama tim nasional belum tentu dalam kondisi bugar, sehat, dan fit. Jika yang datang adalah pemain yang ternyata cedera, tentu akan berpengaruh. Walaupun cederanya ringan.

Minim waktu berlatih itulah yang kadang bahkan membuat performa suatu timnas tidak seperti apa yang diharapkan. Barangkali yang terjadi pada Timnas Jerman di bawah Hansi Flick begitu.

Faktor Finansial

Di klub, seorang pelatih bisa menambal lubang timnya dengan terjun di bursa transfer. Atau pelatih bisa membeli pemain dengan banderol yang mahal serta gaji yang mencekik leher. Bagi tim-tim kaya seperti Manchester City, PSG, Newcastle United, Manchester United, Real Madrid, dan Barcelona itu tidak masalah.

Tapi coba bandingkan dengan pelatih timnas. Mereka harus memantau sendiri pemain-pemain yang akan dipanggil. Ini akan menjadi rumit lantaran bisa jadi ada dua pemain yang performanya sedang bagus di klub namun berbenturan dengan kuota. Jatah yang terbatas bikin pelatih timnas kadang perlu mengorbankan salah satu.

Memang, kesuksesan tim nasional tidak tergantung pada ada atau tidaknya pemain berbanderol mahal, melainkan bergantung pada soliditas tim. Nah, justru inilah masalah berikutnya. Selain tidak disokong kekuatan finansial seperti di klub, pelatih timnas juga harus mendorong para pemainnya kompak. 

Manajemen Pemain Rumit

Sering kali untuk melakukannya bukan perkara gampang. Apalagi pelatih timnas akan bertemu para pemain bintang di level klub. Pelatih timnas harus mengorganisir para pemain bintang itu agar bermain utuh dalam satu tim.

Seorang pelatih timnas acap kali kesulitan melakukan hal tersebut. Ingat bagaimana Fernando Santos pernah terlibat friksi dengan Cristiano Ronaldo di Timnas Portugal? Mengelola ego para pemain bintang tidak mudah. Belum lagi para pelatih timnas juga tidak bisa intens mengontrol para pemainnya.

Mereka tidak punya kendali pada pemainnya sepanjang tahun. Klub seringkali melindungi pemainnya dan bisa jadi enggan untuk melepasnya ke tim nasional. Makanya konflik antara pelatih klub dan pelatih timnas pun bisa lahir dari situ. 

Tekanan Tinggi

Sudahlah tak punya waktu, tak cukup didukung finansial yang kokoh, sampai manajemen pemain yang rumit, pelatih timnas juga harus menghadapi tekanan tinggi. Hal yang sebenarnya juga dihadapi oleh pelatih klub. Namun, di level klub seorang pelatih bisa membalikkan keadaan dari situasi buruk. Lihatlah apa yang dilakukan Arsene Wenger di Arsenal dan Josep Guardiola di Manchester City.

Sementara di level timnas, seorang pelatih memikul beban semua orang dalam satu negara dan hanya punya sedikit sekali peluang untuk bangkit ketika gagal. Di tim nasional, seorang pelatih mempertaruhkan harga diri bangsa.

Bukan hanya kepentingan satu dua orang sebagaimana yang terjadi di klub. Kecuali di negara-negara tertentu. Indonesia tidak termasuk. Nah, tekanan itulah yang bahkan membuat pelatih yang berkarib dengan tekanan di level klub akan goyang ketika mengalami hal sama saat melatih tim nasional.

Well, meski banyak pelatih yang sukses di level klub tapi gagal di timnas, ada pula pelatih yang sukses saat melatih klub maupun timnas. Marcello Lippi, Luis Aragones, Didier Deschamps, sampai Vicente del Bosque adalah contohnya. Meskipun orang seperti mereka nyaris punah. Kalau menurut kalian bagaimana?

Sumber: Sportskeeda, Quora, Sportskeeda, IndoSport, IDNTimes, Goal

Terbuang di MU, Kok Bisa Scott McTominay Malah Gacor di Timnas Skotlandia?

0

Kecemasan fans mengiringi penerbangan Timnas Skotlandia ke kota kecil bernama Laraca. Di kota tersebut, The Tartan Army bakal menantang tuan rumah Siprus dalam ajang Kualifikasi EURO 2024. Mereka yang setia menonton di layar kaca berharap tim kesayangannya bisa mengulang keberuntungan yang sama seperti enam bulan lalu.

Hasilnya pun sesuai harapan. Skotlandia kembali menaklukkan Siprus dengan skor 3-0 dan pemain yang paling berpengaruh adalah punggawa Manchester United, Scott McTominay. Ia mencatatkan satu gol dan satu assist di pertandingan tersebut.

Kini ia sudah mencetak enam gol dari lima pertandingan. Penampilannya bersama The Tartan Army sangat kontradiktif dengan apa yang kita lihat di MU. Lantas, apa yang membuat McTominay bisa tampil gacor di Timnas Skotlandia meski tak lagi jadi pilihan utama di Manchester United?

McTominay Bukan Pilihan Utama di MU

Nasib Scott McTominay di Manchester United sangat bertolak belakang dengan di Timnas. McTominay sudah lama jadi public enemy karena permainannya tak kunjung membaik meski United sudah beberapa kali berganti pelatih. Sang gelandang bahkan dianggap tak layak membela panji Setan Merah.

Hal tersebut diungkapkan oleh mantan striker West Ham United, Frank McAvennie. Kepada Football Insider, ia berkata kalau Scott McTominay sebetulnya memiliki potensi. Ia bisa jadi pemain bagus, tapi tidak di Manchester United. McAvennie merasa kalau dampak yang diberikan McTominay terlalu kecil untuk klub sebesar Manchester United.

Apa yang dibilang oleh McAvennie bisa dibilang tak terbantahkan. Karena McTominay memang tak memberikan dampak yang signifikan setelah mencatatkan debut profesionalnya tahun 2017 silam. Sempat jadi andalan di bawah asuhan Ole Gunnar Solskjaer dan membangun duet ikonik dengan Fred, McTominay kembali mengalami penurunan performa.

Di era Erik Ten Hag posisinya makin sulit. McTominay terbenam di bawah nama-nama besar macam Casemiro dan Bruno Fernandes. Sejak dilatih Ten Hag, McTominay hanya mencatatkan 16 kali starter dalam 39 laga. Di musim 2023/24, McTominay bahkan baru mencatatkan tujuh menit bermain dalam empat pertandingan Liga Inggris.

Saking muaknya dengan McTominay, Ten Hag memasukan namanya ke daftar jual klub musim panas kemarin. Fulham jadi yang terdepan untuk mendatangkannya. Tapi, McTominay menolak pindah dan akhirnya kesepakatan itu batal.

Tapi Gacor di Timnas

Minim menit bermain di level klub tak menghalangi pelatih Timnas Skotlandia, Steve Clarke untuk kembali memanggil Scott McTominay guna memperkuat The Tartan Army di ajang Kualifikasi EURO 2024.

Seakan melepas rindu yang sudah tak tertahan, Scott McTominay membuktikan kemampuannya bersama Timnas Skotlandia. Setiap sentuhannya di lapangan mengisyaratkan kalau dirinya belum habis meski tersisih dari skuad Manchester United.

Dilansir Opta, lulusan akademi Manchester United itu memegang rekor kontribusi gol tertinggi pada Kualifikasi EURO 2024. Sejauh ini, gelandang berusia 26 tahun tersebut sudah berkontribusi dalam tujuh gol Timnas Skotlandia dengan rincian enam gol dan satu assist

Dengan catatan luar biasa itu, sang pemain kini berstatus sebagai top skor sementara Kualifikasi EURO 2024. Catatan tersebut melampaui nama besar lain seperti Cristiano Ronaldo, Alvaro Morata, dan Harry Kane. 

Yang terbaru, sang gelandang menjadi inspirasi utama kala timnya menang melawan Timnas Siprus. Gol McTominay pada menit 6 membuka keran gol The Tartan Army atas Siprus. Penampilan sang gelandang tidak menunjukkan bahwa dirinya jarang bermain selama di Manchester United.

McTominay Dulunya Emang Striker

Menjadi top skor di ajang sebesar EURO, nama McTominay kembali dibicarakan. Ternyata banyak faktor pendukung di balik performa apik sang pemain. Salah satunya adalah riwayat posisi McTominay di masa lalu.

Sekadar informasi saja, posisi asli McTominay ketika di akademi Manchester United merupakan seorang penyerang. Hal itu sempat disinggung oleh Sir Alex Ferguson saat pertama kali menemukan bakatnya. Menurutnya, McTominay direkrut pada usia tujuh tahun sebagai seorang striker, bukannya gelandang. Jadi tak heran kalau dirinya masih memiliki penyelesaian yang cukup baik. 

Terungkapnya posisi asli McTominay sempat viral Maret lalu. Beberapa fans pun sampai menyarankan Ten Hag untuk menurunkan sang pemain sebagai striker di tengah krisis lini depan. Mereka menganggap memasang gelandang berusia 26 tahun itu lebih masuk akal ketimbang melihat Anthony Martial jogging doang di lapangan.

Skotlandia Tidak Bergantung Pada Striker

Tak cuma mengandalkan sisa-sisa naluri mencetak gol saja. Secara gaya bermain pun Timnas Skotlandia mendukung McTominay untuk maju. Dalam mencetak gol, Skotlandia sendiri tidak selalu berpangku tangan pada striker. Steve Clarke lebih mengedepankan permainan tim yang kolektif. 

Maka dari itu, gol-gol The Tartan Army di Kualifikasi EURO 2024 kebanyakan muncul dari kaki-kaki gelandangnya. Selain McTominay, ada John McGinn dan Callum McGregor yang juga rajin mencetak gol. Clarke sadar kalau timnya tak memiliki striker top di lini depan.

Berbeda dengan negara-negara tetangga yang punya striker top di skuadnya. Contohnya Republik Irlandia yang pernah memiliki sosok striker kenyang pengalaman macam Robbie Keane. Tradisi itu kini dilanjutkan oleh Evan Ferguson, pemain muda yang penampilannya mencuri perhatian bersama Brighton.

Kecerdikan Steve Clarke

Nah, di tengah krisis striker tajam, Steve Clarke menyadari potensi yang dimiliki oleh Scott McTominay. Maka dari itu, ketimbang memasangnya sebagai gelandang bertahan, Clarke lebih senang memasang McTominay sebagai pemain nomor delapan. Dengan begitu, McTominay bisa leluasa membantu lini serang.

Jika di Manchester United, peran gelandang yang kerap merangsek ke kotak penalti dipegang oleh Bruno Fernandes dan Mason Mount. McTominay cuma kebagian jadi tim sapu bersih di belakang. Jadi wajar, kita jarang melihat kemampuan sebenarnya dari sang pemain.

Dengan bermain sebagai gelandang nomor delapan, Clarke memberikan kebebasan bergerak kepada McTominay. Clarke bahkan menggunakan formasi 3-5-2 atau 3-4-2-1 demi menumpuk dua atau tiga gelandang di belakang agar McTominay tak terbebani tugas bertahan ketika Skotlandia tengah membangun serangan.

Bagaimana McTominay Bermain

Scott McTominay memang tak terlibat dalam build up. Biasanya ia akan tiba-tiba muncul dari second line saat bola sudah memasuki area bertahan lawan. Mengandalkan area sayap, McTominay awalnya tak menunjukan gelagat ingin menyerang. Ia hanya berlari santai menuju kotak penalti lawan. Tapi di situlah permainan dimulai.

Lari-lari kecilnya lah yang menipu gelandang dan pemain bertahan lawan. McTominay akan bekerjasama dengan Lyndon Dykes di lini depan. Jadi, Dykes kebagian tugas untuk memecah konsentrasi bek lawan. Pergerakannya yang liar menarik perhatian dua atau lebih bek lawan untuk menjaganya. Situasi itu yang akan dimanfaatkan McTominay.

Skema ini terlihat jelas di gol kedua saat Skotlandia mencatatkan kemenangan bersejarah atas Spanyol Maret lalu. Dykes yang berperan sebagai target man memancing dua bek lawan sehingga tercipta ruang di kotak penalti. McTominay yang tak dianggap sebagai ancaman karena hanya berdiri di luar kotak penalti dengan cepat menyambar bola dari titik buta Dani Ceballos yang tak waspada.

Menurut The Athletic, gaya bermainnya di Timnas Skotlandia mengingatkan pada legenda Chelsea, Frank Lampard. Sama halnya dengan Lampard, McTominay cerdik dalam mengatur kecepatan larinya. Didukung ketenangan dan penyelesaian klinis yang dipelajari saat menjadi striker, McTominay begitu sempurna bermain sebagai gelandang nomor delapan. Gimana Erik, yakin mau buang McTominay?

Sumber: The Athletic, Goal, The Guardian, Arab News

Berita Bola Terbaru 11 September 2023 – Starting Eleven News

BERITA BOLA TERBARU DAN TERKINI

BELANDA KALAHKAN IRLANDIA

Timnas Belanda meraih kemenangan krusial di pertandingan lanjutan Kualifikasi Euro 2024. Menghadapi tuan rumah timnas Republik Irlandia, Die Oranje berhasil menang dengan skor 2-1. Timnas Irlandia sebenarnya unggul terlebih dahulu melalui gol Adam Idah. Namun Belanda berhasil comeback berkat gol Cody Gakpo dan Wout Weghorst. Berkat hasil ini timnas Belanda masih menghuni posisi runner up Grup B dengan raihan sembilan poin, sementara Republik Irlandia tertahan di peringkat empat dengan raihan tiga poin.

LUIS RUBIALES AKHIRNYA MUNDUR DARI RFEF

Kabar bahagia bagi pecinta sepakbola Spanyol. Presiden RFEF, Luis Rubiales akhirnya meletakkan jabatannya menyusul kontroversi masif setelah mencium Jenni Hermoso dalam selebrasi juara Piala Dunia Wanita 2023. “Saya tidak bisa melanjutkan pekerjaan saya,” kata Luis Rubiales kepada Piers Morgan dalam sebuah wawancara eksklusif. Menurut Luis Rubiales, keputusan mundur diambil setelah dia berbicara dengan anggota keluarganya. “Ayah saya, putri-putri saya, saya berbicara dengan mereka dan mereka tahu ini bukan pertanyaan tentang saya,” kata pria botak 46 tahun tersebut.

ANTONY SEPAKAT DIKELUARKAN SEMENTARA DARI SKUAD MU

Antony sepakat dikeluarkan sementara dari skuad Manchester United hingga waktu yang belum ditentukan. Keputusan itu diambil selama pengusutan kasus dugaan kekerasan seksual terhadap mantan kekasihnya, Gabriela Cavallin. Manchester United menyatakan dalam keterangan resminya, Senin (11/9), “Antony telah sepakat akan menunda kepulangannya (ke klub usai jeda internasional) hingga pemberitahuan lebih lanjut untuk mengatasi tuduhan tersebut,”

TIMNAS JERMAN PECAT HANSI FLICK

Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) memecat Hansi Flick beserta dua asistennya Marcus Sorg dan Danny Rohl, Minggu (10/9). Presiden DFB Bernd Neuendorf menyatakan hasil-hasil mengecewakan timnas Jerman di bawah arahan Flick menjadi acuan keputusan pemecatan. Terbaru, mereka digulung Jepang 1-4. Selanjutnya Jerman akan berhadapan dengan Prancis dalam ajang uji coba, Selasa (12/9). Pada laga tersebut, Jerman akan ditangani Direktur Teknik, Rudi Voller yang menjadi pelatih sementara Jerman didampingi Hannes Wolf dan Sandro Wagner.

REAL MADRID MASUKKAN JULIAN ALVAREZ KE DALAM DAFTAR BELANJA

Menurut laporan yang dilansir dari Football Espana, Real Madrid menaruh minat untuk datangkan penyerang Manchester City, Julian Alvarez lantaran sedang terus mencari sosok pemain dalam jangka panjang.  Walau belum ada negosiasi resmi, tim ibukota Spanyol telah dirumorkan akan mencoba melakukan penawaran di jendela transfer musim panas 2024 mendatang atau saat musim 2023/24 berakhir.

ALEXIS SANCHEZ SUDAH BIKIN INTER MILAN FRUSTRASI OLEH ULAHNYA

Sejak didatangkan kembali musim panas ini, Alexis Sanchez sama sekali belum dimainkan Simone Inzaghi musim ini. Sanchez kini malah memilih membela negaranya ketika kesehatannya atau kebugarannya belum begitu baik. Dan ini tentu saja menimbulkan rasa frustrasi bagi Inter Milan.  Inter dilaporkan frustrasi dengan pemain sayap itu setelah keputusannya terbang ke Amerika Selatan untuk bekerja sama dengan Chile setelah laporan bahwa pemain 34 tahun itu didiagnosis menderita anemia.

MARCO VERRATTI GABUNG KLUB QATAR

Marco Verratti tinggalkan PSG untuk bergabung dengan klub Qatar Al-Arabi. Kesepakatan dicapai antara PSG dan Al-Arabi 10 hari lalu dengan nilai transfer sekitar 45 juta euro atau Rp 740,7 miliar. Al-Arabi telah menyelesaikan penandatanganan rekan setim Verratti di PSG, Abdou Diallo, pada jendela transfer musim panas ini, serta mendatangkan Simo Keddari dan Mohamed Taabouni dari Espanyol dan Feyenoord.

XAVI SEPAKAT PERPANJANG KONTRAK DI BARCELONA!

Pada 2021, Xavi Hernandez meneken kontrak tiga tahun dengan Barcelona yang artinya kontraknya saat ini akan kadaluarsa pada akhir musim ini. Namun, menurut laporan Football Espana, lelaki 43 tahun tersebut kini telah sepakat untuk memperpanjang masa baktinya dua tahun lagi. Agen Xavi, Fernando Solanas, telah menginisiasi pembicaraan dengan mantan direktur olahraga Barcelona Mateu Alemany pada awal musim panas, tetapi Blaugrana memprioritaskan perombakan skuad di bursa transfer. Kini, dengan bursa transfer sudah ditutup, Barca mulai fokus untuk menyelesaikan perpanjangan kontrak Xavi.

DEMI BARCA, LEWANDOWSKI TOLAK PINANGAN ARAB SAUDI

Pakar transfer Eropa, Fabrizio Romano punya kabar menarik terkait Robert Lewandowski. Bomber asal Polandia itu dikabarkan menolak tawaran selangit dari klub Arab Saudi demi bertahan di Barcelona. Laporan tersebut mengklaim bahwa Robert Lewandowski tidak tergiur dengan tawaran-tawaran yang masuk itu. Ia dikabarkan masih senang bermain di Barcelona. Ia juga merasa masih bisa berkarir lebih lama di Eropa untuk saat ini.

MESSI BAIK-BAIK SAJA, SIAP AMUK BOLIVIA

Pelatih Timnas Argentina, Lionel Scaloni memastikan Lionel Messi baik-baik saja dan akan dibawa ke markas Bolivia dalam lanjutan laga kualifikasi Piala Dunia 2026. Messi memang sempat membuat khawatir para fans timnas Argentina setelah minta diganti pada penghujung laga saat melawan Ekuador pekan lalu. Tim medis Argentina sempat melakukan tes terhadap kondisi La Pulga dan kabarnya tidak ada cedera yang ditemukan. Hanya saja, Messi mungkin mengalami kelelahan karena banyak turun bermain untuk Inter Miami.

POSTING FOTO MESSI, AKUN MU DISERANG FANS CR7

Akun Instagram Manchester United tiba-tiba diserang fan Cristiano Ronaldo. Penyebabnya karena akun Setan Merah memposting foto Lionel Messi, yang tak lain rival abadi CR7. Masalah bermula ketika akun Instagram MU memposting ulang unggahan Alejandro Garnacho. Dalam foto yang diunggah ulang MU itu, wonderkid berusia 19 tahun itu menuliskan ‘El Rey’ yang artinya sang raja sambil menambahkan dua emoji, yaitu kambing (GOAT) dan senyum disertai mata penuh cinta. Dalam foto itu tampak Messi merayakan golnya ke gawang Ekuador dengan menghampiri Garnacho yang mengenakan rompi oranye. 

POGBA KEPIKIRAN PENSIUN, ADA APA?

Gelandang Juventus, Paul Pogba, mengakui bahwa kini dia mempertimbangkan untuk pensiun di tengah dugaan rencana pemerasan terhadapnya tahun lalu. Saudara laki-laki Pogba, Mathias, didakwa dan ditahan selama tiga bulan pada September 2022 karena perannya dalam dugaan komplotan memeras 11 juta pounds dari bintang Juventus itu. Pogba muncul di hadapan hakim untuk bersaksi dalam kasus pemerasan pada bulan April, dan kemudian mengakui bahwa kisah tersebut memiliki “dampak besar” pada kesehatan mental dan fisiknya .

RONALDO KEMBALI KE AL NASSR LEBIH AWAL

Cristiano Ronaldo telah kembali ke Al-Nassr lebih awal setelah absen untuk Portugal karena skorsing. Ronaldo mendapat kartu kuning karena pelanggaran buruk terhadap Martin Dubravka pada laga Portugal vs Slovakia, beberapa hari lalu. Ronaldo pun ditangguhkan untuk pertandingan Portugal vs Luksemburg, besok Selasa. Karena bakal absen di laga tersebut, Ronaldo lebih memilih meninggalkan Timnas Portugal dan kembali lagi ke Al Nassr lebih cepat dari jadwal semula. 

INTER MIAMI BISA MENANG JUGA TANPA MESSI

Meskipun tampil tanpa bintangnya, Lionel Messi, Inter Miami meneruskan tren positif. Klub milik David Beckham itu mengalahkan Sporting KC 3-2 pada pertandingan pekan ke-31 Major League Soccer (MLS) 2023 di Stadion DRV PNK, Minggu (10/9/2023) pagi WIB. Messi, yang mengantar Inter Miami tak terkalahkan dalam 11 laga sebelumnya di semua ajang, tak bisa merumput menghadapi Sporting KC lantaran tengah menjalani tugas negara bersama timnas Argentina.

RESPON STY SOAL SELEBRASI KONTROVERSIAL HOKKY CARAKA

Pelatih timnas Indonesia U23 Shin Tae Yong merespons selebrasi gol yang dilakukan Hokky Caraka usai mencetak gol ke gawang Taiwan pada Kualifikasi Piala Asia U-23 2024. Juru taktik asal Korea Selatan itu tak memiliki pandangan negatif soal cara Hokky merayakan gol. Coach Shin juga tidak tahu menahu soal respon netizen. “Saya belum kepikiran apa-apa, karena belum dengar masalah kontroversi selebrasi tersebut. Gaya saya juga tidak mencari tahu ada apa saja di media sosial. Jadi jujur belum tahu,” ucap Shin.

AC MILAN BERUPAYA PERPANJANG KONTRAK MAIGNAN

AC Milan dikabarkan mulai bernegosiasi untuk memperbarui kontrak Mike Maignan. Itu dilakukan guna mencegah ketertarikan klub lain karena Maignan berkontribusi besar untuk menjaga gawang Milan belakangan ini. Milan dikabarkan ingin memperpanjang kontrak Maignan hingga 2026 dan siap menuruti permintaan kenaikan gaji sang pemain sekitar 8-10 juta euro per musim. Dengan angka tinggi tersebut, Maignan berpotensi memecahkan rekor pemain termahal Milan yang saat ini dipegang Rafael Leao dengan gaji bersih sebesar 5 juta euro (sekitar Rp 82,3 miliar).

DEMI SATU REKOR, MADRID HARUS PENUHI JANJI MODRIC DI AKHIR MUSIM

Real Madrid harus memenuhi janji ke Luka Modric demi tercapainya satu rekor. Rekor tersebut adalah pemain tertua yang pernah membela Real Madrid. Rekor pemain tertua yang pernah membela Los Blancos masih dipegang oleh Ferenc Puskas. Penyerang legendaris asal Hungaria tersebut sempat membela Madrid saat sudah berusia 38 tahun 234 hari. Jika situasi musim ini terus berlanjut, Modric bisa melampaui rekor Puskas tersebut. Syarat yang diperlukan Modric pun juga tergolong cukup sederhana. Modric hanya perlu tampil dalam satu dari lima laga terakhir Real Madrid musim ini.

DAMPAK DAHSYAT BELLINGHAM, CARVAJAL MENGAKU KAGET

Dani Carvajal mengakui bahwa dia belum pernah melihat seseorang yang menjalani kehidupan di Real Madrid semudah Jude Bellingham. Bellingham mencetak lima gol dan satu assist dalam empat pertandingan La Liga pertamanya untuk mengukuhkan dirinya sebagai jimat baru tim. Dalam wawancara baru-baru ini dengan Relevo, Dani Carvajal mengakui transisi Bellingham menjadi superstar Madrid telah membuatnya terpesona.

HOTEL MEWAH MILIK CR7 JADI TEMPAT PENGUNGSI KORBAN GEMPA MAROKO

Hotel Cristiano Ronaldo di Marrakesh, Pestana CR7, dilaporkan menjadi tempat perlindungan bagi para penyintas gempa Maroko yang mengguncang negara itu pada Jumat (8/9/2023). Pestana CR7 Marrakesh adalah hotel baru yang terletak di M Avenue, yang disebut sebagai salah satu kota paling ikonik di Afrika. Hotel bintang empat itu memiliki 174 kamar, fasilitas kolam renang, spa, serta dilengkapi pula dengan bar dan restoran.

DORTMUND SIAP TAMPUNG JADON SANCHO

Manchester United sudah mengucilkan Jadon Sancho dari sesi latihan dengan tim utama. Ini buntut dari kritikannya terhadap komentar manajer MU Erik Ten Hag pekan lalu. Pindah ke Dortmund bisa menjadi kesempatan bagi Jadon Sancho memperbaiki karier. Pemain 23 tahun ini sepertinya tak berjodoh dengan Liga Inggris. Kebetulan, menurut laporan BBC, Dortmund, klub yang pernah diperkuat Sancho sebelumnya, tertarik untuk membawa pulang sang pemain ke Signal Iduna Park.

MCTOMINAY TERSINGKIR DI MU, BERJAYA DI TIMNAS

Scott McTominay lagi-lagi jadi mesin gol Timnas Skotlandia, dengan enam gol dari lima laga di kualifikasi Piala Eropa 2024. Padahal di Manchester United, dirinya tersingkirkan. Pemain berusia 26 tahun itu baru bermain total selama tujuh menit sebagai pemain pengganti. Dia juga masuk daftar jual Setan Merah di musim panas 2023. Bersama Skotlandia, teranyar, Mctominay jadi bintang kemenangan Skotlandia atas Siprus 3-0. Dia bikin satu gol dan satu assist. 

BINTANG JEPANG DIMINATI 3 KLUB TOP EROPA

Terus meningkatkan kualitasnya pada musim 2023/24 ini, Kaoru Mitoma pun mulai diincar oleh berbagai tim besar Eropa. Setelah Manchester City dan Barcelona menunjukkan ketertarikannya, kini, Liverpool bahkan dilaporkan sedang memperlihatkan keseriusan untuk menggaet pemain asal Jepang itu. Meski demikian, peluang ketiga klub untuk mendapatkan Mitoma dalam waktu dekat akan sulit. Menurut 90min, The Seagulls yakin pemain berusia 26 tahun itu akan menandatangani kontrak baru.

ALASAN HENRY PILIH ZAIRE EMERY SEBAGAI KAPTEN PRANCIS U-21

Timnas Prancis U-21 menang dengan skor meyakinkan 4-1 ketika menghadapi Denmark U-21 pada laga persahabatan pertengahan pekan ini. Di laga tersebut, nama Warren Zaire-Emery ditunjuk sebagai kapten tim. Pelatih Timnas Prancis U21, Thierry Henry mengakui bahwa pemilihan pemain 17 tahun itu sebagai kapten didasari oleh performanya yang luar biasa. Mantan pemain Timnas Prancis itu menyebut Zaire-Emery punya potensi besar yang bahkan melebihi usianya.

MULAI DIBANDINGKAN DENGAN RONALDO-MESSI, HAALAND MINDER

Mulai ramai perbandingan antara Erling Haaland dengan Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi pasca penampilan fenomenalnya bersama Manchester City. Tapi Haaland merasa malu jika mau dibanding-bandingkan dengan duo alien tersebut. Haaland memilih merendah dan menyatakan bahwa dirinya belum pantas dibandingkan dengan kedua pemain dengan kolektor Ballon d’Or terbanyak sepanjang masa tersebut. “Aku fokus pada diriku sendiri. Aku hanya berusaha menjadi lebih baik di setiap harinya, terus menikmati apa yang kulakukan dan menjadi versi terbaik dari diriku.”

Bikin Jerman Jadi Bahan Olok-olokan! Dosa Besar Hansi Flick Yang Buatnya Dipecat Dari Timnas

0

Jerman kembali menelan hasi buruk saat melawan Jepang di pertandingan persahabatan. Pada laga yang berlangsung di Volkswagen Arena ini, der panzer dibuat menyerah oleh samurai biru dengan skor telak 4-1.

Jepang bisa unggul lebih dulu lewat gol dari Junya Ito di menit ke-11. Jerman sempat membalas lewat gol dari Sane di menit 19. Tapi setelah itu Jerman hancur berantakan. Ayase Ueda membuat Jepang unggul 2-1 di menit 22. Sebelum Takuma Asano dan Ao Tanaka mencetak gol penutup di akhir laga. Menjadikan skor akhir 4-1.

Ini kekalahan kedua berturut-turut Jerman atas Jepang. Yang sebelumnya adalah di Piala Dunia 2022. Atas hasil memalukan ini, Hansi Flick pun didepak dari kursi kepelatihan Jerman. Menjadikannya sebagai pelatih pertama Jerman yang dipecat.

Kekalahan Yang Jadi Aib Jerman

Kekalahan Jerman atas Jepang ini tentu jadi kekalahan yang sangat memalukan. Mereka takluk 4-1 di kandang sendiri dengan diperkuat para pemain terbaik. Tak ayal, label kambing hitam langsung ditujukan pada Hansi Flick.

Beberapa media Jerman menyebut kalau kekalahan ini adalah aib dari sepak bola der panzer. Surat kabar BILD bahkan melancarkan serangan ganas untuk Flick. Mereka menyebutnya sebagai “pelatih tim nasional terburuk sepanjang masa”

Media tersebut menyoroti kegagalan Flick sebagai pelatih. Bukan hanya dari hasil memalukan ini saja. Tapi dari performa Jerman sepanjang kepemimpinannya. Dari situ bisa terlihat kalau Flick memang telah mengemas rentetan hasil buruk.

“Hanya empat kemenangan dari 17 pertandingan terakhir dan tersingkir dari babak penyisihan grup yang memalukan di Qatar. Hansi Flick adalah pelatih tim nasional terburuk sepanjang masa. Itulah mengapa, sembilan bulan sebelum laga pembuka Euro, tidak ada alternatif selain pemecatan”

Tak lama setelah pertandingan lawan Jepang, presiden asosiasi sepak bola Jerman Bernd Neuendorf mengeluarkan sebuah pernyataan. Berisi perihal pemecatan Flick sebagai pelatih. Neuendorf juga mengatakan kalau memecat Flick bukanlah hal yang mudah.

“Timnas senior putra memerlukan dorongan baru setelah hasil mengecewakan akhir-akhir ini. Bagi saya pribadi, ini adalah keputusan tersulit yang pernah saya buat. Saya menghargai Hansi Flick sebagai pakar dalam sepak bola. Namun kesuksesan adalah prioritas utama DFB.”

Rekor Buruk Hansi Flick Buatnya Pantas Dipecat

Flick ditunjuk sebagai pelatih timnas Jerman untuk menggantikan Joachim Low di tahun 2021. Pelatih yang mengantarkan Jerman ke Piala Dunia 2014 mengundurkan diri setelah kalah kalah lawan Inggris dan tersingkir di babak 16 besar Euro 2020.

Flick sendiri datang ke timnas Jerman dengan reputasi yang tidak bisa dianggap remeh. Ia adalah pelatih berprestasi di Bayern Munchen. Juga telah mengantarkan Munchen jadi treble winner di musim 2019/20.

Awalnya, Jerman di bawah asuhan Hansi Flick tampak meyakinkan. Mereka tidak terkalahkan di kualifikasi Piala Dunia 2022. 7 pertandingan kualifikasi itu disapu bersih dengan hasil kemenangan yang memuaskan. Tapi semua berubah di Piala Dunia 2022.

Setelah kalah lawan Jepang, dan hanya bisa imbang lawan Spanyol, Jerman gagal lolos dari fase grup Piala Dunia 2022. Menjadikan Jerman gagal lolos fase grup di dua Piala Dunia terakhirnya. Meskipun begitu, federasi sepak bola Jerman masih memberikannya kesempatan.

sayangnya kesempatan tersebut tidak bisa dimaksimalkan oleh Flick. Ia hanya mampu meraih satu kemenangan dari 6 pertandingan yang mereka jalani sejak Piala Dunia. Kekalahan lawan Jepang ini menjadikan kekalahan ketiga beruntun. Sebelumnya mereka juga telah kalah 1-0 lawan Polandia, kemudian 2-0 lawan Kolombia.

Dosa Utama Hansi Flick: Hilangnya Identitas Klub

Kegagalan Jerman di Piala Dunia memang lebih terkesan seperti karma karena terlalu sibuk melakukan protes untuk hal-hal di luar lapangan. Dan itu adalah kesalahan tim. Tapi Hansi Flick punya dosanya sendiri. Yaitu membuat timnas Jerman kehilangan identitas bermainnya.

Di Jerman, Hansi Flick tidak mampu mengadopsi identitas apapun untuk timnya. Hampir di setiap permainan, Flick selalu melakukan eksperimen yang berbeda. Sialnya semua eksperimen itu selalu saja gagal.

Di pertandingan ini ia memang memainkan formasi 4-2-3-1 yang mirip saat ia melatih Bayern. Bedanya Kai Havertz bermain di depan sebagai false nine, menggantikan Fullkrug yang cedera. Tapi meski dengan formasi yang sama, Jerman bermain jauh lebih pasif daripada Bayern yang menjuarai Champions League di tahun 2020.

Joshua Kimmich dimainkan sebagai bek kanan inverted. Perannya itu mirip seperti peran Alexander-arnold di Liverpool belakangan ini. Ini membuat Kimmich jadi lebih banyak berlari dari biasanya. Membuat staminanya cepat habis dan meninggalkan lubang di daerah pertahanan.

Di pertandingan itu, Flick juga memasang Nico Schlotterbeck sebagai bek kiri. Padahal posisi naturalnya adalah bek tengah dan ia berkaki kanan. Jadi tidak cocok untuk melakukan tekanan kepada lawan di sisi kiri lapangan. Ini dibuktikan dengan sejumlah kesalahan yang ia lakukan. Dua gol pertama Jepang adalah hasil dari kesalahannya itu. Schlotterbeck terlihat sangat kewalahan oleh serangan yang dilancarkan Jepang.

Siapa Pengganti Flick?

Untuk sementara waktu, direktur olahraga Rudi Voller akan menggantikan posisi Flick di pertandingan persahabatan selanjutnya lawan Prancis. Tapi diharapkan Jerman akan merekrut pelatih tetap dengan segera. Jerman adalah tuan rumah Euro 2024, akan memalukan kalau mereka tampil buruk di tanah air sendiri.

Oleh karena itu, sejumlah nama sedang dipertimbangkan. Media kenamaan Jerman Bild memprediksi sejumlah nama yang mungkin jadi pelatih baru der panzer. Tota ada 10 nama. Mereka adalah: Oliver Glasner, Miroslav Klose, Rudi Voller, Matthias Sammer, Jurgen Klinsmann, Lothar Matthaus, Zinedine Zidane, Julian Nagelsmann, Louis Van Gaal, dan Jurgen Klopp.

Jurgen Klopp adalah kandidat yang paling cocok. Tapi juga paling tidak mungkin. Ia masih terikat kontrak dengan Liverpool. Juga, the reds tidak akan membiarkan Klopp pergi dari Anfield. Zidane juga tidak mungkin. Ia lebih masuk akal dikaitkan dengan timnas Prancis.

Miroslav Klose tidak cocok karena tidak memiliki cukup pengalaman. Begitu juga dengan Rudi Voller dan Matthias Sammer yang sudah lama tidak jadi pelatih. Mungkin bukan waktu yang tepat bagi mereka untuk memulai lagi. Sementara itu, Lothar Matthaus dan Jurgen Klinsmann bukan nama yang disukai para penggemar.

Jadi, pilihan masuk akalnya mungkin Louis Van Gaal, Oliver Glasner, dan Julian Nagelsmann. Van Gaal sekarang masih menganggur. Ia juga punya pengalaman melatih Bayern Munchen dan bisa berbahasa Jerman. Satu-satunya masalah adalah usianya yang sudah 72 tahun.

Oliver Glasner juga sedang menganggur. Ia hengkang dari Eintracht Frankfurt musim kemarin. Pengalaman Glasner membawa Frankfurt juara Europa League di tahun 2022 bisa jadi pengalaman yang berharga.

Tapi mungkin nama yang paling cocok dan masuk akal adalah Julian Nagelsmann. Ia juga menganggur setelah dipecat Bayern musim kemarin. Meskipun begitu ternyata Nagelsmann masih terikat kontrak di Bayern, jadi tim manapun yang menginginkan jasanya tetap harus membayar klausul pelepasan ke Bayern. Mengingat Jerman tidak ada anggaran untuk membeli pelatih, ini jadi situasi yang sulit.

Nasib Jerman Selanjutnya

Siapapun pelatihnya, timnas Jerman harus sada yang paling mereka butuhkan adalah keyakinan. Mereka harus menentukan identitas bermain dan menemukan cara yang efektif untuk menciptakan gol. Flick tidak punya solusi dari masalah itu dan akhirnya membuat para pemain tidak percaya diri.

Ditambah lagi, ada beberapa kekurangan teknis dari timnas Jerman. Seperti kurangnya pasokan penyerang nomor 9. Juga kekurangan bek tengan dan bek sayap. Tapi setidaknya dengan perubahan filosofi dan penetapan identitas dari pelatih baru, Jerman bisa kembali jadi tim yang ditakuti.

Sumber referensi: Bild, Sky, As, Bavarian, Athletic, Goal