Beranda blog Halaman 271

Tak Disangka, Pemain Ikonik Arsenal Ini Masih Bermain di Tahun 2023

0

Setelah kontraknya tidak diperpanjang Southampton, Theo Walcott memutuskan untuk mengakhiri karirnya sebagai pesepakbola. Pemain berkebangsaan Inggris itu jadi satu dari sekian banyak mantan pemain ikonik Arsenal yang memutuskan untuk gantung sepatu di musim 2022/23.

Mulai dari Mesut Ozil hingga Jack Wilshere semua memutuskan untuk mengakhiri karir sepakbolanya di musim lalu. Namun, masih banyak pemain-pemain ikonik Arsenal yang menolak untuk pensiun meski sudah termakan usia. Dan berikut adalah pemain ikonik Arsenal yang ternyata masih bermain di tahun 2023.

Lukas Podolski

Pada waktu itu, Lukas Podolski datang ke Emirates Stadium dari klub kampung halamannya, FC Koln di usia 27 tahun. Selama kurang lebih tiga musim membela Meriam London, Podolski mengantongi 31 gol dalam 81 pertandingan di semua kompetisi. Sayang, karirnya di Arsenal tak bergelimang trofi.

Meski begitu, Podolski merupakan pemain yang cukup identik dengan Arsenal. Gol-gol indah yang lahir dari kaki kirinya cukup membekas di hati para fans. Namun, usianya yang sudah tua membuat Arsene Wenger melepasnya ke Galatasaray tahun 2015. Setelah itu namanya meredup.

Sempat berkelana ke Asia bersama Vissel Kobe, beberapa pengamat sepakbola memprediksi kalau Podolski akan mengakhiri karir di sana. Namun tebakan itu ternyata meleset. Ia sempat kembali ke Turki bersama Antalyaspor sebelum akhirnya bermain di Liga Polandia bersama Gornik Zabrze hingga sekarang. Menariknya, meski sudah berusia 38 tahun, ia masih mencatatkan dua digit assist musim 2022/23. 

Aaron Ramsey

Pemain ikonik selanjutnya yang ternyata masih bermain adalah Aaron Ramsey. Pemain asal Wales ini bukanlah seorang gelandang papan atas macam Steven Gerrard di Liverpool atau Paul Scholes di Manchester United. Tapi namanya membekas di hati fans. Apalagi soal kutukannya.

Beberapa gol yang dicetak Ramsey dianggap membawa kutukan lantaran disusul dengan berita kematian tokoh terkenal dunia. Salah satu kisah gol Aaron Ramsey yang membawa “kutukan” terjadi pada tahun 2011. Kutukannya saat itu melibatkan nama tokoh ternama Osama bin Laden.

Pada 2 Mei 2011, pemimpin Al-Qaeda itu tewas setelah terlibat baku tembak dengan pasukan khusus Amerika Serikat di Pakistan. Nah, satu hari sebelumnya yakni, 1 Mei 2011, Ramsey menciptakan gol tunggal Arsenal ke gawang Manchester United. Momen ini jadi perbincangan hangat pada saat itu

Setelah dari Arsenal, karirnya terus meredup. Ia bahkan sempat menyabet gelar Calcio Bidone atau sebagai pemain terburuk di Serie A saat masih berseragam Juventus. Oleh karena itu, cukup mengejutkan apabila sekarang kita masih melihatnya bermain di Cardiff City.

Santi Cazorla

Gelandang mungil kreatif ini juga tak kalah identik dengan Arsenal. Bahkan ada cerita yang melegenda saat Santi Cazorla hampir memotong kakinya di Arsenal gara-gara cedera aneh musim 2016/17. Ia divonis menderita cedera tendon Achilles sehingga membuatnya harus absen hampir dua musim.

Kisah horor pun berlanjut saat tim medis menangani cedera Cazorla. Kabarnya luka pada engkelnya mengalami iritasi sehingga membuat bakteri dan berbagai hewan kecil masuk. Pada saat itu, Cazorla mengakui bahwa dirinya sempat putus semangat akibat cedera aneh yang menderanya tersebut. 

Ia bahkan kerap diberikan saran oleh tim medis untuk mengamputasi kakinya saja dan mengakhiri karier sebagai pesepakbola. Tapi orang-orang terkasih selalu memberikan dukungan. Cazorla pun akhirnya melakukan operasi ekstrim dengan memotong sebagian kulit di lengannya untuk menambal luka di kakinya.

Cedera itu pula yang mengakhiri karir Cazorla di Arsenal. Tim medis klub merasa kalau karir sang pemain tak akan bertahan lama. Apalagi dengan kondisi kaki yang begitu. Namun, Cazorla membuktikan kalau tak ada yang tidak mungkin dalam sepakbola. Ia kembali membangun karirnya di Villarreal. Sempat berkarier di Qatar, kini ia masih bermain di klub divisi kedua Spanyol, Real Oviedo

Gervinho

Pemain yang berikut ini pasti mudah untuk dikenali oleh fans Arsenal. Dengan tatanan rambut yang dibalut bandana berwarna hitam, Gervinho jadi salah satu pemain paling ikonik yang dimiliki Arsenal. Pemain asal Pantai Gading itu bergabung dengan Arsenal pada tahun 2011 dari Lille. 

Meski hanya bertahan dua musim, Gervinho merupakan striker yang cukup membekas di hati para fans. Tunggu dulu, membekas bukan dalam arti positif ya, melainkan karena kegagalannya. Ya, inkonsistensinya di Arsenal selalu jadi buah bibir saat itu. Setelah mencatatkan 63 penampilan bersama The Gunners, penyerang yang kini berusia 36 tahun itu dilepas ke AS Roma pada tahun 2013. 

Dari situlah petualangannya dimulai. Ia sempat terdampar di China bersama Hebei FC hingga berakhir di Yunani bersama Aris Saloniki. Kini statusnya bebas transfer, tapi kabarnya ia masih menunggu tawaran dari klub yang berminat. Ia menolak pensiun meski sudah melewati masa-masa keemasan.

Alex Song

Selanjutnya ada Alex Song. Pemain asal Kamerun ini sempat berseragam Arsenal sejak tahun 2005 hingga 2012. Musim 2011/12 yang mana itu jadi musim terakhirnya justru jadi musim yang paling diingat karena Song tampil begitu memukau di lini tengah Meriam London.

Tak seperti musim-musim biasanya, Song bersinar di musim 2011/12. Ia jadi mesin assist di lini tengah The Gunners. Ia mencatatkan 14 assist di semua kompetisi. Salah satu assist yang paling diingat sampai sekarang adalah umpan yang mengawali gol voli indah Robin Van Persie ke gawang Everton. 

Performa memukau itu juga yang mengantarkan Song bergabung dengan raksasa La Liga, Barcelona pada tahun 2012. Sayangnya, ia tak bisa mengulangi performanya di Catalan. Setelah gagal total di Barca, Song berkelana ke Rubin Kazan dan FC Sion.

Namun, saat FC Sion mengalami krisis ekonomi pada tahun 2020, Song jadi salah satu yang dipecat. Beberapa pengamat sepakbola pun beranggapan kalau karirnya sudah habis. Alih-alih pensiun, ia malah balik ke Afrika dan main di klub bernama AS Arta Solar hingga sekarang.

Carl Jenkinson 

Didatangkan Arsene Wenger sebagai bek sayap potensial, Carl Jenkinson digadang-gadang bakal jadi masa depan lini bertahan Arsenal. Terlebih, di usianya yang masih 19 tahun, ia sudah menembus skuad utama Timnas Inggris asuhan Roy Hodgson. Namun, karirnya di Arsenal justru berkebalikan dengan hype yang dibawa. 

Jenkinson selalu berakhir sebagai pemain pinjaman selama delapan tahun karirnya di London. Oleh karena itu jadi suatu hal yang mengejutkan kalau karirnya berumur panjang. Setelah gagal di Inggris, ia merantau ke Australia pada tahun 2022. Kini, ia masih terdaftar sebagai pemain Newcastle Jets yang berlaga di kasta tertinggi Liga Australia.

Lukasz Fabianski

Pemain terakhir yang tak disangka masih eksis di dunia sepakbola adalah Lukasz Fabianski. Fans Arsenal pasti ingat bagaimana Fabianski setia menjadi bayang-bayang rekan senegaranya, Wojciech Szczęsny di bawah mistar gawang. Selalu menjadi pilihan kedua, tak membuat Fabianski dilupakan begitu saja.

Meski tak selalu menjadi pilihan utama, Fabianski tampil maksimal ketika dibutuhkan. Dengan catatan 26 clean sheet dari 78 pertandingan di semua kompetisi, pria asli Polandia itu jadi pemain yang mudah dicintai. 

Namun, karena porsi bermainnya yang sedikit, ia diprediksi tak akan berumur lama kala meninggalkan Arsenal tahun 2014. Tapi, perkiraan itu salah besar. Fabianski justru menghidupkan kembali karirnya di West Ham. Di usianya yang sudah 38 tahun, ia baru saja membantu The Hammers menjuarai Conference League musim 2022/23. Meski sekarang ia pelan-pelan kalah bersaing dengan Alphonse Areola yang lebih muda.

Sumber: Planetfootball, ESPN, Goal

Klub Ini HANYA SEMUSIM Rasakan KEJAYAAN

0

Cerita Cinderella mungkin hanya dikenal sebagai dongeng pengantar tidur. Namun, kisah legendaris itu acap kali terjadi di dunia nyata. Tak terkecuali di sepakbola. Banyak tim yang awalnya nothing justru mendulang kesuksesan dan kisahnnya dikenang oleh penikmat sepakbola selamanya.

Bak hidup sebagai Cinderella, beberapa tim kecil ini sukses bertransformasi menjadi giant killer di kompetisi domestik. Namun, ya namanya juga Cinderella. Kesuksesan dari klub-klub tersebut juga tak berumur panjang. Mereka hanya menikmati kejayaan hanya dalam satu musim dan langsung bapuk musim berikutnya. Dan berikut adalah klub-klub one season wonder itu.

Leicester City 2015/16

Mari kita awali dengan kisah dongeng yang tercipta di Liga Inggris musim 2015/16. Kala itu Leicester City tampil sebagai pemeran utamanya. Ya, kalian para penikmat sepakbola Inggris pasti tak lupa dengan sejarah yang dicetak oleh klub yang bernuansa biru-biru ini. Berasal dari divisi dua, mereka hanya butuh dua musim untuk menaklukan ketatnya persaingan Premier League.

Berstatus tim yang baru dua musim di Liga Inggris, The Foxes tentu saja bukan tim unggulan. Bahkan bursa taruhan pada waktu itu hanya memberikan rasio 500.000:1 untuk bertaruh Leicester bisa juara. Itu sama saja dengan kemustahilan.

Namun, sang Serigala membuktikan siapa yang berkuasa. Di bawah arahan Claudio Ranieri, Leicester yang musim sebelumnya hanya mampu finish di urutan 14 klasemen akhir sukses menampar para penguasa Inggris dan keluar sebagai juara Premier League musim 2015/16.

Mereka bahkan hanya menelan satu kekalahan di sepuluh pertandingan awal Liga Inggris musim tersebut. Sayang, kebahagiaan itu hanya bertahan sesaat. Musim setelahnya Leicester kembali ke setelan pabrik. 

Claudio Ranieri yang telah berjasa dalam membawa tim ke tangga juara pun justru dipecat dengan tidak hormat. Setelah musim yang luar biasa itu, Leicester hanya menjadi tim papan tengah. Bahkan musim 2022/23 mereka harus rela terdegradasi ke Divisi Championship.

Swansea 2012/13

Sebelum Leicester City, ada Swansea City yang mengagumkan di musim 2012/13. Bedanya, musim itu The Swans tidak menjuarai liga, melainkan menjuarai Piala Liga atau yang sekarang kita kenal sebagai Carabao Cup.

Gelar juara ini menjadi yang pertama dalam kurun waktu seratus tahun terakhir bagi klub asal Wales tersebut. Dalam pertandingan final, Swansea mengalahkan Bradford City dengan skor meyakinkan 5-0. Meski sempat tampil menjanjikan namun Bradford dibuat tidak berkutik oleh permainan kolektif Swansea.

Musim tersebut barangkali memang jadi musim terbaik Swansea di persepakbolaan Inggris. Selain menjuarai Piala Liga, mereka juga tampil mengesankan di Liga Inggris. Dihuni pemain-pemain ikonik macam Scott Sinclair, Ashley Williams, Michel Vorm, dan Michu, Swansea begitu merepotkan tim-tim papan atas.

Apalagi si Michu ini. Performanya di musim 2012/13 bener-bener edan. Bermain sebagai gelandang serang, di musim 2012/13 Michu mencetak 18 gol untuk Swansea. Ia hanya kalah dari para penyerang top seperti Luis Suarez, Gareth Bale, dan Robin Van Persie. Bernasib sama dengan klubnya, Michu jadi one season wonder paling diingat.

Setelah menjuarai Piala Liga, Swansea bukan klub yang sama lagi. Mereka hanya jadi tim yang menghindari degradasi setiap musimnya. Perjuangannya pun berakhir ketika Swansea benar-benar terdegradasi musim 2017/18. Hanya bermain di Championship, nama Swansea udah jarang seliweran di headline berita. Bahkan, beberapa dari kalian mungkin nggak sadar kalau Swansea sudah berganti logo sebanyak dua kali.

Wolfsburg 2008/09

Kisah selanjutnya berasal dari Bundesliga. Sebelum Borussia Dortmund mengusik dominasi Bayern Munchen di Bundesliga Jerman, Wolfsburg telah lebih dulu melakukannya. Tim yang juga berjuluk serigala itu mengejutkan publik Jerman saat menggulingkan dominasi Bayern dan menjuarai Bundesliga pada musim 2008/09.

Musim tersebut tak berjalan mulus bagi Wolfsburg. Bahkan bisa dibilang jadi musim yang cukup gila untuk klub yang identik dengan warna hijau itu. Di pertengahan musim, mereka masih tertahan di posisi 9 klasemen, tertinggal 9 poin dari pemuncak klasemen Hoffenheim.

Akan tetapi, kondisi berbalik di paruh kedua. Hasil imbang 1-1 melawan FC Koln di awal tahun 2009 seperti sebuah titik balik bagi Wolfsburg yang kala itu diarsiteki Felix Magath. Dari 17 pertandingan di paruh kedua, Wolfsburg hanya kalah 2 kali. Itu jadi bekal yang cukup untuk menjuarai Bundesliga dengan mengumpulkan 69 poin. Selisih dua poin dengan Bayern yang berada di urutan kedua.

Namun, sama halnya dengan Leicester, di musim setelahnya Die Wolfe tak mampu berbicara banyak. Meski dengan kekuatan yang sama, mereka hanya finis di urutan kedelapan musim 2009/10. Hingga saat ini, mereka belum pernah menjuarai Liga Jerman lagi.

Montpellier 2011/12

Jika membicarakan Liga Prancis, pasti kalian akan dengan mudah teringat dengan klub paling berkuasa, yakni Paris Saint-Germain. Tapi sebelum PSG berkuasa, Ligue 1 merupakan liga yang cukup kompetitif. Beberapa klub pernah bergantian untuk menjuarai kompetisi tersebut. Salah satu yang paling ikonik adalah Montpellier musim 2011/12.

Gelar itu terasa amat istimewa karena itu merupakan trofi Ligue 1 pertama dalam sejarah Montpellier. Apalagi klub yang pernah diperkuat Olivier Giroud ini jarang-jarang mendapat trofi. Sepanjang perjalanannya Montpellier hanya dipandang sebagai underdog di persepakbolaan Prancis. Namun, musim 2011/12, Montpellier seperti berada di waktu yang tepat untuk menjadi juara.

Montpellier memulai musim 2011/12 dengan apik lewat tiga kemenangan beruntun. Skuad asuhan Rene Girard bahkan hanya menelan dua kekalahan dalam 15 pertandingan Liga Prancis musim tersebut. 

Di akhir musim, Montpellier finis pertama dengan mengumpulkan 82 poin, selisih tiga poin atas Les Perisiens di urutan kedua. Olivier Giroud dan Younes Belhanda barangkali jadi yang paling dikenal dari angkatan ini. Tapi kesuksesan ini hanya numpang lewat. Setelah itu, Montpellier cuma jadi tim penggembira. Mereka tak pernah menjuarai apa-apa lagi.

Deportivo La Coruña 1999/00

Liga Spanyol juga punya kisah yang serupa. Klub yang pernah merasakan kejayaan dalam semusim itu adalah Deportivo La Coruna. Betapa hebohnya dulu di akhir tahun 90-an ketika melihat klub seperti Deportivo justru yang keluar jadi kampiun La Liga musim 1999/00. Mereka mengusik dominasi klub-klub besar macam Real Madrid dan Barcelona. 

Diasuh oleh pelatih kawakan, Javier Irureta, dan masih dihuni pemain-pemain seperti Diego Tristan, Djalminha, hingga Roy Makaay, Deportivo sukses meraih gelar La Liga pertama dalam sejarah pada musim 1999/00. Gelar juara ini tentu jadi prestasi yang membanggakan. Sebab, Deportivo berasal dari kota terkecil kedua di Spanyol dengan populasi hanya 250 ribu saja.

Sejak saat itu Super Depor memang menjadi langganan papan atas La Liga. Tapi, saking asiknya berlaga di kasta tertinggi, mereka tak menyadari kalau utang klub mulai menggunung. Krisis ekonomi yang mulai sulit dikendalikan pun akhirnya pecah di tahun 2005. Di tahun tersebut, Deportivo mulai ditinggal sosok-sosok penting di belakang layar karena sudah tak sanggup dengan permasalahan yang menggunung.

Deportivo mulai tampil angin-anginan di musim-musim berikutnya. Hingga saat ini mereka tak pernah kembali mengangkat trofi La Liga. Kemungkinan untuk mengulangi masa kejayaan pun semakin kecil mengingat klub tersebut kini hanya berlaga di divisi ketiga Liga Spanyol.

https://youtu.be/5XZ9ZAEwp-Q

Sumber: The Guardian, Swansea, 90min

Berpotensi Lupa Cara Menang Karena Haaland Tumpul! Alvarez Kembalikan Manchester City ke Setelan Pabrik

Akhirnya setelah kemarin dua tim Inggris dipermalukan di Liga Champions, dua tim lainnya bisa menyelamatkan muka Premier League di Eropa. Tentu saja salah satunya ada kemenangan besar Newcastle atas PSG. Tapi yang tak kalah menarik untuk dibahas adalah kemenangan Manchester City atas RB Leipzig.

Terutama bagaimana Julian Alvarez bisa muncul jadi penyelamat yang paling dibutuhkan Manchester City. Masuk sebagai pemain pengganti, Alvarez mencetak gol yang buat City kembali unggul. Sebelum akhirnya Jeremy Doku mencetak gol pamungkas di laga itu.

Kita sebelumnya pasti mengharapkan Haaland lah yang jadi bintang di laga ini. Tapi nyatanya tidak. Si Monster itu bahkan belum mencetak gol di Champions League musim ini. Justru Julian Alvarez yang jadi pembawa asa Man City di Liga Champions. Bagaimana Alvarez mampu mencuri lampu sorot dari Haaland musim ini? Berikut ulasannya.

Haaland Yang Masih Paceklik Gol di Liga Champions

Kita semua tahu bagaimana hebatnya Haaland dalam mencetak gol. Tapi ada statistik yang terlewat. Entah mengapa, musim ini Haaland selalu saja mandul kalau sudah urusan dengan Champions League.

Tidak diragukan lagi kalau Haaland adalah kepingan yang hilang dari Manchester City asuhan Pep Guardiola. Berkat kedatangan Haaland, skuad Manchester City sudah komplit. Dan berkatnya pula, Manchester City akhirnya bisa menjuarai Liga Champions musim kemarin.

Di musim kemarin Haaland telah mencetak 12 gol dari 11 pertandingan Liga Champions. Itu catatan yang sangat luar biasa. Tapi terakhir kali Haaland mencetak gol di Liga Champions adalah saat melawan Bayern Munchen. Tepatnya babak perempat final pada bulan April 2023.

Ada beberapa spekulasi soal Haaland yang masih belum mencetak gol. Salah satunya adalah hilangnya Kevin de Bruyne. Playmaker andalan cityzen itu sedang cedera sejak awal musim. Tidak adanya De Bruyne yang merupakan pelayan utama Haaland membuatnya sedikit kerepotan dalam mencetak gol. Terutama saat melawan tim yang bertahan rapat.

Manchester City Yang Sedang Krisis

Mandulnya Haaland bukan satu-satunya masalah Manchester City yang disorot. Tapi akhir-akhir ini Manchester City memang terlihat masih loyo. Mereka telah menelan dua kekalahan beruntun sebelumnya.

Pertama lawan Newcastle di pertandingan Carabao Cup. Kekalahan itu membuat Manchester City tersingkir dari kompetisi Piala Liga tersebut. Kemudian mereka kembali kalah lawan Wolverhampton di Premier League. Itu kekalahan yang tidak diduga oleh siapapun.

Sepanjang karirnya, Pep hanya pernah lima kali mengalami kekalahan beruntun. Jadi, tentu saja dua kekalahan itu jadi sorotan banyak orang. Manchester City pun dianggap sedang mengalami krisis.

Julian Alvarez Datang Sebagai Penyelamat

Di laga penyisihan grup Liga Champions ini, Leipzig punya kesempatan untuk membuktikan kebenaran adanya krisis dalam diri Manchester City. Pasukan Pep Guardiola memang bisa mendominasi permainan sejak awal laga. Bahkan membuka keunggulan lewat gol dari Phil Foden. Dan itu jadi satu-satunya gol di babak pertama.

Masuk babak kedua, Manchester City mulai goyah. Hanya 3 menit memasuki babak kedua Manchester City kebobolan gol penyeimbang dari Lois Openda. Semua orang mengira kalau Manchester City akan menjalani pertandingan ketiga berturut-turut tanpa kemenangan.

Tapi di menit ke-84, Julian Alvarez membuat skor jadi 2-1. Gol tersebut menjadikan permainan kembali dimiliki oleh City. Tapi ia tidak puas sampai situ. Di menit ke-90, menjelang peluit akhir pertandingan, ia memberikan assist untuk gol Jeremy Doku.

Peluit panjang pun dibunyikan, Manchester City bisa mengakhiri laga dengan skor meyakinkan 3-1. The Cityzen pun akhirnya bisa kembali ke setelan pabrik mereka. Setelah sebelumnya diragukan. Dan Julian Alvarez pun bisa berbangga hati karena ia punya peran besar dalam hal tersebut.

Dampak Besar Julian Alvarez

Alvarez telah memberikan Manchester City dinamika baru musim ini. Di musim keduanya bersama Manchester City, Alvarez lebih sering dipasang sebagai penyerang kedua di belakang Haaland. Atau bahkan duduk di bangku cadangan jadi pelapis untuk Haaland, seperti di laga ini.

Tapi di laga ini ia bisa membuktikan kalau ia juga bisa jadi andalan. Dan ada sisi lain juga. Alvarez telah memberikan kemenangan tandang Manchester City di Champions League yang langka. Ya, musim kemarin, City hanya pernah sekali menang di kandang lawan. Yaitu saat bertandang ke markas Sevilla bulan September 2022 kemarin.

Itu jadi kemenangan terakhir mereka di kandang lawan di Liga Champions musim kemarin. Pep Guardiola pun menciptakan asumsi kalau timnya hanya jago di kandang. Tapi pada akhirnya City jadi juara Champions, jadi tidak ada yang bisa protes.

Di pertandingan ini, City berpotensi melanjutkan tradisi tak bisa menang di kandang lawan itu. Tapi mereka bisa menghindarinya. Menariknya, itu bukan berkat Haaland yang selalu dipuja-puja oleh para fans dan pundit. Melainkan oleh Julian Alvarez yang statusnya hanya jadi pelapis dan penyerang nomor dua di Manchester City.

Taktik Pep Yang Terbayar Lunas

Well, kemenangan Manchester ini memang harusnya bukan kemenangan yang spesial dan sudah lumrah. Tapi nyatanya ini adalah kemenangan yang penting untuk City. Dan meskipun Alvarez adalah bintang utamanya, kita tidak bisa mengabaikan ini semua juga berkat Pep dan taktik cerdasnya.

Di laga ini Pep memiliki kepercayaan diri untuk tetap berpegang pada formula taktis khasnya. Yaitu penguasaan bola. Meskipun taktik tersebut seringkali membuat City kesusahan mencetak gol. Tapi terlepas dari itu, City banyak menciptakan peluang di babak pertama.

Di babak kedua, Pep juga tetap menggunakan strategi tersebut. Dan City masih bisa menguasai bola. Tapi Pep tahu kalau ia membutuhkan gol. Akhirnya ia pun melakukan pergantian cerdas. Yaitu mengganti Akanji dengan Jeremy Doku. Pergantian itu membuat City semakin tajam di depan karena tambahan penyerang. Meskipun begitu, masih saja gol belum tercipta.

Tapi yang jadi pembeda adalah saat Pep memasukkan Alvarez menggantikan Phil Foden di menit 79. Hanya butuh waktu lima menit untuk Alvarez menerima umpan dari Doku dan mengubahnya jadi gol. Dan hanya enam menit kemudian ia menciptakan assist untuk Doku.

Momen ajaib dari Alvarez memberikan City gol yang pantas mereka dapatkan. Dan juga membuka membuka pertandingan, mengembalikan permainan City sampai akhirnya gol pamungkas tercipta.

Selanjutnya pasukan Pep Guardiola akan kembali ke pertandingan Premier League. Mereka harus menghadapi laga tandang lainnya dengan menghadapi Arsenal di Emirates Stadium. Arsenal masih belum terkalahkan di Premier League. Tapi kekalahan lawan Lens di Champions League kemarin bisa membuat tim asuhan Arteta goyah. Yang pasti, pertandingan ini bakal jadi big match yang seru.

Sumber referensi: Mirror, MEN, ESPN, Standard, Standard 2, Eurosport

Inilah 10 Sponsor Jersey Sepak Bola Termahal Di Dunia Saat Ini

Logo sponsor sudah seperti ciri khas yang membedakan jersey bola dengan olahraga lainnya. Tentu saja, merek-merek itu harus mengeluarkan sejumlah uang untuk bisa menaruh logonya di jersey klub. Dan semakin besar klubnya, semakin mahal pula biayanya. Lalu semahal apa perusahaan harus membayar klub untuk jadi sponsor di Jersey? berikut 10 sponsor jersey termahal Di Dunia.

Arsenal (Fly Emirates)

Pertama ada salah satu sponsor paling ikonik di Liga Inggris. Arsenal telah bekerjasama dengan Fly Emirates sejak tahun 2006. Itu tahun yang sama ketika mereka pindah rumah dari stadium Highbury yang ikonik, ke Emirates Stadium yang megah.

Fly Emirates sendiri adalah perusahaan maskapai penerbangan yang berbasis di Uni Emirates Arab. Perusahaan ini juga terkenal jadi sponsor banyak klub bola lainnya. Seperti Olympique Lyon, Hamburg SV, dan Real Madrid.

Untuk kerjasama dengan meriam London sendiri, Arsenal dapat gelontoran dana mencapai 40 juta euro per musimnya. Pada bulan Agustus 2023, Arsenal dan Emirates memperpanjang kerjasama mereka sampai tahun 2028.

Chelsea (Infinite Athlete)

Kesepakatan antara Chelsea dengan Infinite Athlete adalah yang terbaru dari daftar ini. Situasi politik panas antara pemilik the blues sebelumnya, Roman Abramovich dengan pemerintah Inggris membuat perusahaan telekomunikasi three, ingin melepas logo mereka di jersey Chelsea musim kemarin. Dan setelah kontrak mereka habis di musim 2022/23, three pun memilih tidak memperpanjang kerjasama mereka.

Chelsea sempat memainkan pertandingan musim 2023/24 dengan jersey polos tanpa sponsor. Sebelumnya ada beberapa rumor sponsor baru Chelsea. Dari perusahaan penyiaran Paramount+, sampai konsol game nintendo.

Tapi di bulan Oktober 2023, Chelsea mengumumkan Infinite Athlete lah yang jadi sponsor mereka. Infinite Athlete adalah perusahaan teknologi yang berfokus di bidang olahraga. Produk utamanya adalah menyediakan data-data penting untuk klub. Dari kesepakatan ini, Chelsea dapat gelontoran dana sebesar 46 juta euro per musim. Memang jumlah yang tak seberapa bila dibandingkan anggaran belanja Chelsea akhir-akhir ini yang selalu boncos.

Bayern Munchen (T-Mobile)

Dari Inggris, beralih ke Jerman. Tak heran kalau hanya raksasa Bundesliga, Bayern Munchen yang jadi wakil Jerman di daftar ini. Bayern Munchen telah memajang logo perusahaan telkom, T-Mobile sejak tahun 2002.

Dan di tahun 2022, tepat 10 tahun kemitraan, T-Mobile memperpanjang kontraknya bersama die bayern sampai tahun 2027. Dengan Bayern mendapatkan dana sebesar 50 juta euro per musimnya. Memang masih banyak sponsor yang lebih mahal. Tapi Bayern bisa mencatatkan diri sebagai klub dengan pendapatan komersial tertinggi di dunia pada tahun 2021.

T-Mobile memang jadi sponsor utama jersey Munchen. Tapi uniknya, logo T Mobile tidak hanya terlihat di Jersey, melainkan juga di tribun penonton. Biasanya di pertandingan kandang, akan ada sekelompok orang berpakaian serba putih duduk membentuk formasi logo T-Mobile. Dari beberapa sumber diketahui kalau mereka adalah karyawan T-Mobile.

Juventus (Jeep)

Pabrikan mobil terkenal asal Amerika, Jeep telah jadi sponsor utama Juventus sejak tahun 2012. Raksasa Italia itu pun telah meraup lebih dari 100 juta euro dari kemitraan tersebut. Pada tanggal 2021, Juve menandatangani perpanjangan kontrak sampai 2024. Dari kesepakatan ini, Juve berhak mendapat 51 juta euro per musimnya.

Jeep memang merek mobil. Tapi perusahaan Jeep dimiliki oleh Exor, perusahaan induk asal Belanda yang juga dimiliki oleh keluarga Agnelli. Jadi saat Andrea Agnelli mengundurkan diri sebagai presiden Juve di akhir tahun 2022 lalu, kepemilikan Agnelli atas Juve tidak benar-benar hilang. Meskipun begitu, di akhir musim 2023/24 nanti kabarnya keluarga Agnelli tidak lagi akan jadi sponsor utama Juve.

Liverpool (Standard Chartered)

Kembali lagi ke Inggris, Standard Chartered sepertinya jadi salah satu sponsor kaos Liverpool paling ikonik. Standard Chartered sendiri adalah bank multinasional yang berasal dari Inggris. Liverpool telah memajang logo Standard Chartered di kaosnya sejak tahun 2010.

Di tahun 2022, Standard Chartered dituduh mendukung pelanggaran hak asasi manusia di Hongkong. Liverpool pun dituntut untuk tidak memakai logo Bank asal Inggris itu lagi di kaosnya. Tapi, di tahun yang sama Liverpool memperpanjang kerjasama mereka sampai tahun 2027.

Liverpool sendiri menerima dana sebesar 53,5 juta euro permusimnya berkat kerjasama tersebut. Jumlah tersebut membuat Liverpool jadi salah satu klub yang menerima dana terbanyak dari sponsor di Premier League.

Man United (TeamViewer)

Salah satu sponsor termahal di Premier League lainnya adalah Manchester United dengan TeamViewer. Saat kerjasama dengan Chevrolet berakhir di tahun 2021, United mengumumkan kesepakatan baru dengan perusahaan software asal Jerman tersebut. Jumlahnya cukup banyak, yaitu 55 juta euro per musim.

Dari segi bisnis, TeamViewer menerima banyak keuntungan dalam hal jangkauan perusahaan. Mengingat Manchester United adalah brand yang terkenal di seluruh dunia. Sedangkan untuk klub, prestasi mereka masih sama saja meskipun gonta ganti sponsor.

Man City (Etihad Airways)

Kita telah masuk ke ranah sponsor termahal di Premier League. Manchester City adalah klub penerima dana segar terbesar dari sponsor di Premier League. Untuk kerjasama ini, Etihad Airways membayar City sekitar 55 juta euro per musimnya.

Etihad sudah jadi sponsor utama City sejak tahun 2010, dua tahun setelah pengambilalihan klub oleh Syeikh Mansour. Maskapai penerbangan yang berbasis di UEA itu mensponsori dari kit, stadion, sampai fasilitas sampai tempat latihan.

Dilaporkan memang the cityzen menerima 55 juta euro per musim dari kesepakatan ini. Tapi ada potensi City menerima lebih banyak dari itu. Mengingat pemilik mereka, Sheikh Mansour adalah orang yang sangat berkuasa di jazirah Arab

Barcelona (Spotify)

Setelah berjuang melawan krisis keuangan dan menarik bermacam tuas ekonomi, Barcelona akhirnya mendapat sponsor baru yang menguntungkan. Ialah Spotify, aplikasi streaming musik terbesar di dunia. Dari kesepakatan ini, Barca dapat dana sebesar 60 juta euro per musimnya.

Sebenarnya kesepakatan ini memuat banyak pakta. Namun, yang paling menarik adalah mengubah nama stadion legendaris mereka jadi Spotify Camp Nou. Selain itu juga, beberapa kali Barca mengubah logo spotify di jersey jadi logo musisi-musisi tertentu sebagai tribute.

Paris Saint-Germain (Qatar Airways)

Paris Saint-Germain sudah dikenal luas sebagai klub yang dimiliki oleh oligarki asal Qatar, Nasser Al-Khelaifi. Tapi baru di tahun 2022 PSG memasang perusahaan maskapai Qatar, Qatar Airways sebagai sponsor utama. Sebelumnya sponsor jersey mereka adalah Accor Live Limitles, perusahaan perhotelan asal Prancis.

Mengingat klub ini dimiliki oleh Qatar Sports Investment, yang merupakan anak perusahaan otoritas keuangan Qatar, dan punya presiden dari Qatar, kesepakatan dengan Qatar Airways bukan langkah yang mengejutkan. Dari kesepakatan baru bersama Qatar Airways, PSG kabarnya dapat anggaran tak kurang dari 65 juta euro per musim.

Real Madrid (Fly Emirates)

Meskipun PSG punya sokongan dana dari negara Qatar, tapi ternyata dana sponsor kaos mereka tak sebesar Fly Emirates di jersey Real Madrid. Los Blancos adalah salah satu klub terbesar di dunia dan klub dengan trofi terbanyak di dunia. Jadi tak heran kalau Madrid memuncaki daftar dana sponsor jersey termahal.

Fly Emirates sudah jadi sponsor utama Madrid sejak tahun 2013. Dan di tahun 2022, mereka memperpanjang kontrak sampai 2026. Tidak ada laporan resmi soal berapa nominalnya. Tapi dilansir dari Sports Media, beberapa sumber dari Spanyol meyakini Madrid menerima dana sebesar 70 juta euro per musimnya. Hampir dua kali lipat uang yang diterima Arsenal dengan sponsor yang sama.

Sumber referensi: Khel, Athletic, Arsenal, Standard, BN, Forbes, Forbes 2, Telegraph, SP

Cara AMPUH Newcastle GEBUK PSG di Liga Champions

Akhirnya, terdengar lagi anthem khas Liga Champions di St. James Park. Maklum, sejak dua dekade silam stadion tersebut tak lagi mengumandangkan anthem tersebut. Stadion kebanggaan masyarakat Newcastle itu juga terasa spesial, karena menjadi saksi terkaparnya raksasa Prancis, PSG.

Tak hanya kebetulan saja The Magpies membuat lakon Liga Petani itu babak belur. Tentu ada beberapa cara ampuh yang dilakukan oleh Toon Army. Yang jelas dengan cara tersebut, si bocil Mbappe dan kawan-kawan hanya melongo melihat klubnya itu hancur lebur dihancurkan anak kemarin sore di Liga Champions.

Fakta Dan Rekor Menarik

Kemenangan telak 4-1 Newcastle atas PSG di babak grup Liga Champions menjadi kemenangan pertama dan terbesar bagi Newcastle di Liga Champions. Kemenangan terakhir Toon Army di Liga Champions terjadi tepatnya pada 26 Februari 2003.

Ketika itu Toon Army menang atas Bayer Leverkusen 3-1 di St James Park. Saat itu bintang mereka, Alan Shearer cetak hattrick. Kalau menurut hitung-hitungan, ternyata selama 7.525 hari lamanya, Newcastle harus menanti kembali meraih kembali kemenangan di Liga Champions.

Kemenangan ini juga soal gol. Ya, gol pertama Newcastle di Liga Champions sejak 20 tahun silam, akhirnya dicetak oleh pemain yang mirip Raditya Dika, Miguel Almiron. Pasalnya, gol terakhir yang dicetak The Magpies di Liga Champions terjadi pada 11 Maret 2003. Ketika itu Alan Shearer yang mencetak gol di laga melawan Inter Milan di San Siro.

Fokus di Liga Champions

Salah satu yang membuat Newcastle sementara ini tampil baik di Liga Champions adalah fokus mereka di kompetisi ini. Maklum, Newcastle ingin persembahkan yang terbaik bagi para pendukungnya setelah sekian lama tak berpartisipasi di kompetisi ini.

The Athletic menyebut, fokus kompetisi Eropa dari Newcastle terbukti. Kita tahu di liga domestik, Newcastle musim ini startnya kurang baik. Mereka kalah atas tim-tim seperti City, Liverpool, maupun Brighton. Dan hanya menang lawan tim-tim medioker seperti Brentford, Sheffield, Aston Villa, maupun Burnley.

Eddie Howe juga mengungkapkan hal yang serupa di media Chronicle Live. Di situ Howe mengaku tak gentar hadapi grup maut di Liga Champions musim ini. Justru ia sangat senang bisa bertemu dengan tim-tim besar.

Semangat mereka agak lain di liga domestik dan Liga Champions. Biasanya klub seperti Newcastle setelah unggul menghadapi klub besar seperti PSG, umumnya bermain bertahan untuk mengamankan keunggulan. Tapi tidak bagi Newcastle. Di babak kedua meski sudah unggul 2-0, masih saja terus membombardir pertahanan PSG tanpa ampun.

Optimisme Eddie Howe

Semangat tim juga erat kaitanya dengan motivasi sang pelatih. Selain punya target khusus di Eropa, sikap pelatih Eddie Howe dalam menambah mental bertanding pasukannya di tengah lapangan, patut diacungi jempol.

Mereka tak takut menghadapi semua lawannya termasuk Mbappe. Bahkan sebelum laga, Howe sudah sesumbar bahwa ia tak sabar menantikan timnya melibas PSG. Kata Howe, pertahanan Newcastle jelang hadapi PSG sedang bagus-bagusnya.

Apalagi tren kemenangan timnya yang sedang terjaga. Mereka tak terkalahkan sejak terakhir kali kalah atas Brighton di awal September. Bahkan mereka sempat menang besar 8-0 atas Sheffield dan mengandaskan Manchester City di Carabao Cup.

Local Pride Newcastle

Selain faktor optimisme, ada lagi faktor dua pemain asli Newcastle bernama Dan Burn dan Sean Longstaff. Dua pemain pirang tersebut adalah dua pemain asli kelahiran Newcastle. Mereka juga fans Newcastle sejak kecil. Maklum, keluarga besarnya juga para pendukung garis keras Newcastle sejak dulu.

Kalau soal loyalitas dan pengorbanan dari anak daerah, sudah tak usah diragukan lagi. Pasti total. Ibaratnya nih, ia siap mati demi membela klub tanah kelahirannya. Hal itulah yang tercermin dari semangat yang tak kenal lelah dari Burn dan Longstaff di laga melawan PSG. Dan bagusnya, Howe jeli memanfaatkan kekuatan tersebut.

Padahal nih, kita tahu dua pemain tersebut notabene hanyalah pemain medioker. Tapi dengan jiwa loyalitas dan pengorbanan yang tinggi, membuat kekuatan Burn dan Longstaff sedikit berbeda. Seperti apa yang terjadi ketika mereka berdua kompak mencetak gol di laga melawan PSG.

Tuah St James Park

Selain faktor loyalitas, jangan dilupakan juga faktor stadion. Ya, St James Park punya daya magis tersendiri bagi sang tuan rumah. Stadion itu selalu penuh sesak para Toon Army sejati, baik sejak mereka di Championship.

Maka jelang Newcastle menghadapi PSG di St James Park, para fans sudah siap mengumandangkan anthem khas Liga Champions. Bahkan mereka sangat serius dengan menerbangkan drone di langit St. James Park yang membentuk jersey Newcastle. Ada yang bertuliskan “We’re Back” maupun para punggawa mereka.

Belum lagi koreografi megah fans di dalam lapangan yang serba hitam dan putih yang bikin merinding para penonton yang menyaksikannya. Tak terkecuali bagi sang lawan yang mampu tersihir daya magis St James Park tersebut. PSG seperti terbius dan terdiam akan atmosfer St James Park sepanjang laga.

Eddie Howe sempat berkata, bagaimanapun Newcastle dalam menghadapi tim mana pun tak akan gentar jika bermain di St James Park. Boleh tampil buruk di kandang lawan, tapi kalau sudah bermain di rumah tak ada ceritanya kalah. Menurut Howe, teriakan intimidatif fans kepada lawan mampu jadi kekuatan tersendiri bagi mental pasukannya untuk tampil spartan.

Kepandaian Taktik Eddie Howe

Kemenangan Newcastle juga salah satunya berkat kecerdikan taktik Eddie Howe. Ternyata Eddie Howe paham situasi saat lawan menggunakan taktik yang lebih menyerang. Howe menduetkan Tonali dan Guimaraes di lini tengah.

Hal itu membuat keseimbangan lini tengah terjaga. Ini juga yang luput dari pemantauan Enrique. Dilansir Goal, Enrique menganggap ketika menghadapi Newcastle tak perlu banyak bermain menguasai bola di tengah. Toh Newcastle sering men-skip lini tengahnya.

Enrique lupa bahwa sekarang Newcastle punya Tonali dan Guimaraes yang kuat pegang bola di lini tengah. Ditambah Longstaff yang daya jelajahnya tak kenal lelah. Kombinasi itu mampu membuat dua pemain lini tengah PSG, Warren Zaire Emery dan Manuel Ugarte hanya bisa melongo. PSG kalah jumlah di lini tengah. Mereka juga mudah terkena serangan balik.

Kecerdikan taktik Howe tersebut diakui sendiri oleh Enrique dalam sesi wawancaranya dengan Sky Sports. Menurunya, Newcastle sangat baik di sepertiga akhir dan efektif dalam memanfaatkan peluang.

Kesalahan Taktik Luis Enrique

Enrique juga mengakui bahwa dirinya salah dalam menerapkan strategi. Formasi frontal menggunakan empat penyerang sekaligus sejak awal laga, menyisakan banyak lubang di lini tengah maupun pertahanan.

Enrique kekeh dengan strategi ultra ofensifnya tersebut. Dembele, Mbappe, Kolo Muani, dan Goncalo Ramos yang notabene penyerang dipasang semua. Mereka hanya meninggalkan pemain bau kencur seperti Ugarte dan Zaire Emery di lini tengah.

Harusnya Enrique sadar akan kekurangan itu. Tapi ia malah enggan melakukan perubahan. Pemain seperti Ugarte justru diganti oleh Vitinha yang tipenya sama. Begitupun Kolo Muani yang digantikan Barcola. Sikap keras kepala Enrique akhirnya berbuah kekalahan bagi timnya sendiri.

Sumber Referensi : theathletic, chroniclelive, sportsmole, eurosport

NGGAK ADA LAWAN! Cuma Mereka Pesepakbola yang Paling Banyak Cetak Rekor Dunia

0

Dalam dunia sepak bola momen menakjubkan bisa saja tercipta. Tak peduli siapa yang melakukannya dan di kompetisi apa. Para pesepakbola juga dari tahun ke tahun acap kali memberikan suguhan yang spektakuler di atas lapangan. Tidak sedikit dari mereka yang bahkan menciptakan rekor.

Namun, omong-omong soal rekor, pesepakbola yang memiliki rekor dunia atau yang tercatat di buku Guinness World Record bisa dihitung jari. Salah satunya kiper Manchester City, Ederson Moraes yang mencatatkan tendangan drop kick terjauh, yakni 75,35 meter.

Uniknya rekor itu tercipta saat sedang latihan di Etihad Campus. Pihak The Citizens kabarnya sengaja mengundang perwakilan Guinnesss World Record untuk mencatatkan rekor Ederson tersebut. Masuk rekor dunia adalah sesuatu yang langka. Tapi bagi pesepakbola berikut ini, itu bukanlah perkara yang sulit-sulit amat. Inilah pesepakbola yang paling banyak cetak rekor dunia.

Neymar Jr

Pesepakbola pertama yang paling sering mencetak rekor dunia adalah Neymar. Menurut data Guinness World Record, Neymar mempunyai setidaknya empat rekor dunia. Salah satunya Neymar pernah menjadi pesepakbola termahal sedunia ketika PSG membelinya dari Barcelona seharga 222 juta euro atau Rp3,6 triliun kurs sekarang.

Angka itu bukan harga pasaran Neymar, melainkan klausul rilis yang ditetapkan oleh Blaugrana. Namun, klausul rilis yang gunanya untuk memagari pemain ternyata berhasil ditebus oleh r PSG pada 2017. Banderol Neymar ini mengalahkan Paul Pogba yang dibeli Manchester United dari Juventus seharga 105 juta euro (Rp1,7 triliun).

Harga Neymar nyaris dua kali lipat harga Pogba. Sebelumnya, pada tahun 2013, Neymar juga mencatatkan namanya di Guinness World Record setelah menjadi pemain pertama yang mencetak hattrick di ajang Copa Libertadores dan Liga Champions. Bekas pemain Barcelona itu juga menjadi pesepakbola yang mencetak gol tercepat di ajang Olimpiade.

Neymar melakukan itu saat Brasil menghadapi Honduras di semifinal Olimpiade Musim Panas 2016. Waktu itu Neymar mencetak gol dalam waktu hanya 14 detik saja. Bekas pemain Santos itu juga menjadi pemain termuda yang mendapat penghargaan Bola de Ouro, sebuah penghargaan yang diberikan oleh majalah Brasil, Placar kepada pemain terbaik di Campeonato Brasileiro.

Kylian Mbappe

Kylian Mbappe punya rekor dunia lebih banyak dari Neymar. Pemain yang menjuarai Piala Dunia bersama Timnas Prancis tahun 2018 ini mempunyai lima Guinness World Record, setidaknya sampai tahun 2023. Penampilan yang mengesankan di PSG dan Timnas Prancis membuatnya gampang untuk mencetak rekor dunia.

Salah satunya Mbappe menjadi pemain termuda yang mencetak 100 gol di kompetisi divisi teratas. Catatan itu diraihnya pada 2021 lalu, saat usianya baru menginjak 22 tahun 91 hari. Selain itu, Mbappe menjadi pemain termuda dalam sejarah yang pernah masuk nominasi Ballon d’Or. Ya, Ballon d’Or, bukan Copa Trophy.

Itu terjadi pada tahun 2017. Saat Mbappe masih berusia 18 tahun 293 hari. Mbappe juga tercatat di Guinness Book of World Records sebagai pemain termuda yang mencetak gol di Liga Champions Eropa.

Mbappe melakukannya pada tahun 2017 saat masih berseragam AS Monaco. Meski kalah melawan Juventus di semifinal, Mbappe yang saat itu baru berusia 18 tahun 140 mencetak satu-satunya gol Monaco ke gawang Juventus. Tiga golnya ke gawang Argentina di final Piala Dunia 2022 juga masuk rekor dunia.

Ia menjadi orang kedua yang mencetak gol terbanyak di final Piala Dunia, yakni 3 gol. Sebelum Mbappe ada Geoff Hurst, pemain Inggris yang mencetak tiga gol di final Piala Dunia 1966.

Robert Lewandowski

Setelah dua nama tadi, Robert Lewandowski yang pada musim 2023/24 memperkuat Barcelona adalah pemain dengan rekor dunia terbanyak berikutnya. Lewy mengoleksi sembilan Guinness World Record. Tentu kalian ingat ketika Lewy memberondong lima gol ke gawang Wolfsburg bukan?

Nah, itu adalah salah satu rekor dunia yang diciptakan Lewy. Pemain yang saat itu berseragam Bayern Munchen menjadi pencetak hattrick tercepat, yakni tiga menit 22 detik. Mencetak empat gol tercepat dengan lima menit, 42 detik. Dan menjadi pemain pertama yang mencetak lima gol hanya dalam waktu sembilan menit.

Pelatihnya saat itu, Josep Guardiola saja terheran-heran. Di pertandingan yang berlangsung tahun 2015 itu, empat rekor dunia sekaligus diraih Lewandowski dalam satu laga. Selain lima gol tercepat, hattrick tercepat, dan empat gol tercepat, Lewandowski adalah satu-satunya pemain pengganti yang mencetak gol terbanyak.

Cristiano Ronaldo

Terasa aneh kalau tak memasukkan nama Cristiano Ronaldo ke daftar ini. Bagaimanapun pemain internasional Portugal itu punya 40 sertifikat Guinness World Record di rumahnya. Salah satunya yang cukup fenomenal, Ronaldo berhasil memecahkan rekor gol terbanyak di level internasional milik pemain Iran, Ali Daei.

Dua golnya ke gawang Irlandia di babak kualifikasi Piala Dunia menggenapi 111 gol Ronaldo di level internasional. Itu lebih banyak dari Ali Daei yang mengantongi 109 gol. CR7 juga mendapat penghargaan sebagai atlet dengan bayaran termahal pada tahun 2023. Ronaldo setidaknya memperoleh 136 juta dolar atau sekitar Rp2,1 triliun pada tahun 2023.

Rekor fenomenal lainnya yang diraih Sang Siu adalah pencapaian 200 caps internasional, yaitu saat membela Portugal di kualifikasi EURO 2024 menghadapi Islandia pada 21 Juni lalu. CR7 juga dianugerahi penghargaan sebagai pemain tertua yang mencetak hattrick di Piala Dunia. Rekor itu tercipta saat Portugal menahan imbang 3-3 Spanyol di Piala Dunia 2018. Saat itu Ronaldo berusia 33 tahun 130 hari.

Gol itu juga membuatnya menjadi pemain Portugal pertama dalam sejarah yang mencetak gol dalam empat Piala Dunia berturut-turut. Kemudian ia menggenapinya menjadi lima Piala Dunia pada edisi 2022. Cristiano Ronaldo juga melampaui rekor Michel Platini sebagai pencetak gol di ajang EURO terbanyak sepanjang masa.

Dengan saat ini Ronaldo sudah mencetak 14 gol di EURO, sedangkan pemain Italia itu hanya mengemas sembilan gol. Tentu masih banyak lagi rekor yang ditorehkan Ronaldo. Jika disebutkan semua, satu video tidak akan cukup.

Lionel Messi

Ronaldo itu sudah sangat banyak rekor dunianya, tapi rupanya ada yang lebih banyak lagi. Benar sekali, siapa lagi kalau bukan Lionel Messi yang bisa melampaui rekor dunia Ronaldo. La Pulga menahbiskan diri sebagai pesepakbola dengan rekor dunia terbanyak, yakni 41 Guinness World Record, setidaknya hingga naskah untuk video ini dibuat.

Satu rekor CR7 yang sukses dipecahkan Messi adalah gol di lima liga top Eropa. Saat masih berseragam PSG musim 2022/23, La Pulga mengukir 496 gol di lima liga top Eropa. Satu gol lebih banyak dari yang diciptakan Cristiano Ronaldo, yakni 495 gol. Sayangnya, saat naskah video ini dibuat, Ronaldo dan Messi tidak lagi bermain di Eropa.

Selain itu La Pulga juga menjadi pemain yang paling banyak menjadi man of the match di ajang Piala Dunia, yakni 11 kali. Messi juga memegang rekor pemain termuda yang mencapai 50 gol di ajang Liga Champions Eropa. Itu diraihnya pada tahun 2012 saat masih berusia 24 tahun.

Akan sangat banyak jika menyebut seluruh rekor dunia milik Messi. Well, kalau menurut football lovers, dari nama-nama tadi siapa yang berpeluang akan masuk Guinness World Record lagi?

https://youtu.be/DFwlh1uSJ7k

Sumber: KhelNow, GuinnessWorldRecords, Goal, TheGuardian, ChannelsTv, Sportskeeda, Sportslens

Ketika Depresi Menghentikan Magis Josip Ilicic

0

Josip Ilicic adalah salah satu pesepak bola terbaik yang pernah dimiliki oleh Slovenia. Dia adalah peraih penghargaan Slovenian Footballer of The Year 2019 dan Serie A Team of The Year 2019.

Merantau ke Italia sejak berusia 22 tahun, Ilicic mencapai puncak kariernya satu dekade kemudian saat membela Atalanta. Namun sayangnya, performa magisnya bersama La Dea harus terhenti dengan cara yang tragis.

Ilicic tiba-tiba menghilang. Ketika kembali, performanya terjun bebas. Penampilannya berubah drastis. Ia dikabarkan depresi dan kini namanya mulai menghilang bak ditelan bumi.

Apa penyebabnya dan bagaimana kabar Josip Ilicic sekarang?

Performa Magis Josip Ilicic Bersama Atalanta

Josip Ilicic pertama kali mendarat di Serie A Italia pada musim panas 2010. Palermo adalah klub pertamanya di Italia. Ilicic bertahan di Palermo selama 3 musim. Ia kemudian membela Fiorentina selama 4 musim sebelum diboyong Atalanta di musim panas 2017.

Selama membela Palermo dan Fiorentina, Josip Ilicic jarang mendapat sorotan. Ia kerap dicap inkonsisten karena bisa mencetak banyak gol di laga-laga krusial, tetapi menghilang di laga-laga berikutnya. Ilicic juga sempat dijuluki “nonna” karena sifatnya yang pemurung.

Akan tetapi, itu tak berlaku di Atalanta. Allenatore Gian Piero Gasperini berhasil memahami perasaan Ilicic yang rapuh dan mengeluarkan potensi terbaiknya. Sejak berseragam biru hitam La Dea, Ilicic tampil bak seorang penyihir bagi La Dea.

Ilicic bisa dimainkan sebagai playmaker, winger, ataupun striker. Ia tak hanya bisa mencetak gol, tetapi juga bisa memberi asis, maupun membuka ruang bagi rekan setimnya.

Tidak salah jika dulu Gazzetta dello Sport pernah menjuluki Josip Ilicic sebagai “ballerina dengan tubuh petinju”. Bertinggi badan 190cm, Ilicic begitu licin saat membawa bola, tetapi juga tidak mudah dijatuhkan ketika berduel dengan lawan.

Ilicic adalah seniman lapangan hijau yang memiliki segudang keahlian untuk melakukan gerakan tipuan. Kecepatan dan gaya bermainnya membuat Ilicic juga mendapat julukan “Il Professore”.

Hasilnya, 15 gol dan 10 asis berhasil ia cetak di musim 2017/2018. Di musim berikutnya, 13 gol dan 9 asis ia catatkan. Puncaknya, di musim 2019/2020, Ilicic berhasil menorehkan 21 gol dan 9 asis.

Musim tersebut jadi musim terbaik dalam sejarah La Dea. Mereka berhasil finish di peringkat 3 Serie A dengan rekor 98 gol. Catatan gol tersebut bahkan hanya kalah dari Bayern Munchen dan Manchester City.

Atalanta yang untuk pertama kalinya mentas di Liga Champions juga berhasil lolos ke fase gugur. Dan tentu saja, penampil terbaik Atalanta di musim tersebut adalah Josip Ilicic.

Laga versus Valencia di leg kedua babak 16 besar UCL tentu jadi penampilan terbaik Ilicic. Di laga tersebut, Atalanta berhasil mengalahkan Valencia dengan skor 4-3 dan keempat gol La Dea di laga yang tidak dihadiri penonton tersebut diborong oleh Josip Ilicic.

Ilicic jadi pemain pertama yang bisa mencetak 4 gol di laga tandang fase gugur UCL dan jadi pemain tertua yang bisa mencetak 4 gol dalam 1 laga UCL, mengalahkan rekor seorang Zlatan Ibrahimovic.

Oleh karena itu, Josip Ilicic juga pantas bila dijuluki “Si Tua Keladi”. Makin tua makin jadi. Sebab, ketika ia mencetak rekor tersebut, usianya sudah 32 tahun 42 hari.

Sayangnya, laga vs Valencia juga menjadi laga terbaik terakhir yang Josip Ilicic tampilkan untuk Atalanta. Setelah itu, pandemi Covid-19 menerjang dengan ganas. Sepak bola ikut terdampak hingga membuat seluruh kompetisi dihentikan.

Lalu, ketika Serie A melakukan “restart”, performa Ilicic menurun drastis. Puncaknya, ia absen tatkala Atalanta menjamu PSG di babak 8 besar. Penyebabnya, Ilicic diizinkan pulang kembali ke rumahnya di Slovenia.

Spekulasi pun merebak. Ilicic dikabarkan ingin pensiun dari sepak bola. Gosipnya, Ilicic mengalami depresi setelah menemukan istrinya, Tina Polovina, selingkuh dengan lelaki lain ketika Ilicic berniat memberinya kejutan.

Namun, apakah benar kabar perselingkuhan sang istri jadi penyebab depresi yang diderita Josip Ilicic?

Josip Ilicic: Korban Perang yang Diselamatkan Sepak Bola

Apa yang Josip Ilicic nikmati selama 3 musim pertamanya di Atalanta adalah buah dari perjalanan hidupnya yang banyak mengalami pasang surut. Tragedi, kekecewaan, ataupun frustrasi sudah dirasakan Ilicic sejak lahir.

Josip Ilicic bisa dibilang sebagai korban perang, tepatnya Perang Bosnia. Ia lahir pada 29 Januari 1988 di kota Prijedor di wilayah Bosnia yang saat itu masih menjadi bagian dari Serbia. Saat Ilicic masih berusia 7 bulan, sang ayah tewas dibunuh. Pelaku diduga merupakan tetangga Ilicic yang merupakan orang etnis Serbia. Ilicic sendiri lahir dari keluarga etnis Kroasia.

Sang ibu kemudian membawa Josip Ilicic dan kakaknya, Igor Ilicic menyebrang ke Slovenia, menjadi pengungsi perang dan memulai kehidupan dari awal. Perang punya dampak yang besar dalam kehidupan seseorang. Dan bagi Ilicic, perang telah membuatnya tak mengenal sosok ayah.

Ilicic pernah bilang, “Saya tidak tahu apa arti kata ‘ayah’, teman-teman sekolah saya yang menjelaskannya kepada saya.” Ya. Josip Ilicic tidak hanya mengenal ayahnya, tetapi juga tidak mengerti arti seorang ayah.

Kehidupan Ilicic di tanah pengungsian kemudian diselamatkan oleh sepak bola. Awalnya, ia menggeluti sepak bola jalanan sebelum akhirnya mengikuti jejak sang kakak untuk bergabung dengan akademi lokal kota Kranj, Triglav dan Britof.

Singkat cerita, pada usia 19 tahun, Ilicic menantang diri dengan memutuskan untuk pergi ke SC Bonifika, klub divisi 2 Liga Slovenia. Di sanalah bakatnya ditemukan oleh NK Interblock, salah satu peserta divisi teratas Liga Slovenia kala itu.

Josip Ilicic: Sempat Ingin Pensiun Dini di Usia 21 Tahun

Di musim pertamanya, Ilicic berhasil merasakan juara Piala Slovenia 2009. Akan tetapi, kepindahannya ke Interblock Ljubljana sebenarnya merupakan salah satu episode tersulit dalam karier sepak bolanya.

Meski dirinya mampu mencetak 14 gol dan 3 asis dan jadi pemain dengan prospek yang cerah, Ilicic justru merasa hampir tidak pernah dimainkan. Sudah berkali-kali ia ingin pindah, tetapi terus saja ditahan. Kondisi tersebut diperparah dengan degradasinya Interblock ke divisi 2 dan kondisi finansial tim yang ambruk. Yang terjadi kemudian, mental Ilicic terganggu.

Ilicic sempat trial ke klub Moldova, tetapi gagal. Sialnya lagi, ia juga mengaku kalau punya agen yang nakal. Rentetan ujian hidup tersebut membuat Josip Ilicic sudah punya keinginan untuk pensiun dini dari sepak bola di usia 21 tahun.

Di tengah kegalauannya, Ilicic sempat berpikir untuk banting stir ke futsal. Futsal bukan hal asing bagi Ilicic yang akrab dengan sepak bola jalanan. Kala itu, selama 2 minggu masa penganggurannya, Ilicic juga sempat mencoba mencari pekerjaan lain.

Di tengah ketidakpastiaan, Zlatko Zahovic, legenda hidup sepak bola Slovenia yang kala itu juga merupakan direktur olahraga NK Maribor datang menyelamatkan hidup Josip Ilicic. Ilicic lalu bergabung dengan klub tersukses Slovenia itu dengan kesepatakan 80 ribu euro.

Namun, ia hanya bertahan di NK Maribor kurang dari 3 bulan. Satu gol yang Ilicic buat ke gawang Palermo di leg kedua play-off Liga Europa 2010/2011 kembali mengubah jalan hidupnya. Keesokan harinya, Palermo yang tersihir dengan penampilan Ilicic langsung menyelesaikan transfer Ilicic senilai 2,3 juta euro.

Konon katanya, Ilicic sudah lama diincar Palermo. Direktur Palermo saat itu, Walter Sabatini dikabarkan sudah mengontak Ilicic setelah melihat DVD yang memperlihatkan permainannya di Interblock.

Di usianya yang ke-22, Josip Ilicic pun merantau ke Pulau Sisilia. Ia resmi berseragam Palermo dan berlaga di Serie A, liga yang dulu hanya bisa ia tonton di televisi. Singkat cerita, Ilicic kemudian mencapai puncak kariernya 1 dekade kemudian saat berseragam Atalanta.

Penyakit Misterius yang Mengubah Hidup Ilicic

Perjalanan karier Josip Ilicic di Atalanta sebenarnya tak selalu berjalan mulus. Di balik magisnya yang menyihir Serie A bahkan Liga Champions, Ilicic menyimpan ketakutan.
Di awal musim 2018, Ilicic menderita sebuah penyakit misterius yang harus membuatnya absen beberapa bulan lamanya. Konon, penyakit yang diderita Ilicic adalah infeksi bakteri pada kelenjar betah bening atau limfadenitis.

Siapa sangka, penyakit misterius itu membuat Ilicic menjadi takut akan terjadinya hal-hal buruk. Salah satu ketakutan yang paling diingat Ilicic adalah kematian mantan rekan setimnya di Fiorentina, Davide Astori pada 4 Maret 2018.

“Pada hari-hari itu, saya banyak memikirkan Davide, saya takut tidur dan tidak bangun, tidak melihat orang yang saya cintai lagi”. Penyakit itu juga mengubah pandangannya. Ilicic sadar kalau “sepak bola bukanlah segalanya dalam hidup”.

Pandemi Covid-19, Penyebab Ilicic Jatuh Depresi?

Dari kisah Ilicic sejauh ini, kita harusnya paham kalau Ilicic sudah mengalami begitu banyak luka dalam hidupnya. Dan, puncaknya adalah pandemi Covid-19. Di saat itulah ia benar-benar dikabarkan menderita depresi yang serius.

Pandemi jadi sebab yang lebih masuk akal sebagai penyebab jatuhnya mental Josip Ilicic. Sebab, gosip perselingkuhan sang istri sangat sulit dibuktikan. Nyatanya, Ilicic dan sang istri masih hidup bersama hingga hari ini.

Sebelum muncul gosip perselingkuhan, Ilicic lebih dulu diberitakan terpuruk selama lockdown di Bergamo. Papu Gomez, kapten Atalanta juga mengungkap kalau rekannya itu jatuh depresi setelah dinyatakan positif Covid-19.

Kebetulan, Bergamo menjadi episentrum pandemi Covid-19 di Italia. Ilicic merasakan betul situasi mencekam saat itu. Suara sirine ambulans yang terdengar setiap hari, pemandangan peti mati yang menunggu dikubur, pembatasan aktivitas yang begitu ketat, hingga angka kematian yang terus naik jadi santapan Ilicic selama lockdown di Bergamo. Semuanya begitu mempengaruhi mental Ilicic.

Sebagai sosok yang sensitif, bisa jadi apa yang ia lihat dan apa yang ia rasakan selama pandemi Covid-19 telah memanggil kembali luka yang pernah ia rasakan. Semua trauma tersebut berkontribusi pada serangan depresi yang dialami Josip Ilicic.

Karier sepak bola Josip Ilicic memang berhasil diselamatkan. Setelah kondisi mentalnya membaik, ia bisa kembali berlaga bersama Atalanta. Namun, performanya menurun. Hanya 6 gol dan 10 asis yang tercipta di musim 2021 dan hanya 4 gol dan 5 asis yang tercipta di musim 2022.

Puncaknya, pada awal tahun 2022, Josip Ilicic kembali mengalami masalah kesehatan mental. Depresinya kambuh dan sejak 11 Januari 2022 ia menghilang dari skuad Atalanta.

Akhirnya, pada 31 Agustus 2022, kontrak Josip Ilicic di Atalanta diputus dengan persetujuan bersama. Atalanta dan para pendukungnya kemudian menggelar pesta perpisahan pada 1 September 2022 untuk melepas Josip Ilicic.

Setelah hengkang dari Atalanta, Josip Ilicic kembali ke Slovenia. Ilicic yang masih belum mau meninggalkan sepak bola bergabung kembali dengan NK Maribor, klub yang dulu pernah menyelamatkan kariernya.

Namun tentu saja, sejak depresi yang cukup parah menyerangnya, performa bahkan penampilan Josip Ilicic sudah tak lagi sama. Tubuhnya membesar dan magisnya meredup meski ia sesekali masih bisa mengeluarkan skillnya. Sejak depresi, Ilicic juga makin rentan terkena cedera.

Apa yang Josip Ilicic alami jadi pelajaran kita bersama. Masalah kesehatan mental ternyata bisa sangat berpengaruh kepada karier seseorang. Dan bahwasanya, siapapun bisa terkena depresi. Ilicic beruntung karena masih bisa mengolah si kulit bundar. Sebab, Josip Ilicic hanyalah satu dari banyak pesepak bola dunia yang mengalami masalah kesehatan mental.

—–

Referensi: Marca, Football-Italia, Calcio England, AP, Firenze, Zona Cesarini, Calciomercato, The Boar.

Sudah Banyak Bukti, Chelsea Itu Harusnya Dilatih Pelatih Model Ginian

Sejak era kebangkitan Chelsea bersama Roman Abramovich, tim ini punya cerita unik tersendiri soal pelatih. Meski banyak gonta-ganti pelatih, menariknya ada satu indikasi yang mengarah pada keberhasilan para pelatih yang berpendekatan hasil dan cenderung bermain bertahan. Siapa saja mereka?

Jose Mourinho

Sebagai contoh, pelatih berpendekatan hasil atau bermain pragmatis yakni Jose Mourinho. The Special One mempraktekan di musim pertamanya bersama The Blues. Sebagai bukti musim 2004/05 Chelsea langsung jadi juara Liga Inggris. Begitupun di musim berikutnya, The Blues mampu back to back juara Liga Inggris.

Lalu apa rahasianya? Ya, komposisi lini bertahan yang kokoh. Musim pertama chelsea bersama Mourinho hanya kalah sekali saja, dan kebobolan hanya 15 kali. Komposisi beknya seperti Gallas, Carvalho, Terry, Paulo Ferreira, ditambah Petr Cech di bawah mistar, mampu menjadi senjata ampuh The Blues.

Ditambah pembelian beberapa gelandang bertahan yang kokoh macam Essien, Lassana Diarra, maupun Maniche di musim keduanya. Ya, pembelian pemain Chelsea agaknya disiapkan Mou untuk mode bertahan.

Begitupun di periode kedua Mourinho bersama Chelsea pada musim 2014/15. Gelar juara Liga Inggris mampu kembali dalam pangkuan. Taktik Mou yang makin pragmatis kembali bertuah. Kombinasi bek macam Ivanovic, Filipe Luis, Gary Cahill, John Terry, ditambah Thibaut Courtois di bawah mistar, mampu jadi kunci pertahanan yang solid. Chelsea ketika itu juara liga dengan hanya kalah tiga kali saja. Kebobolannya pun terbukti paling sedikit, yakni 32 kali.

Carlo Ancelotti

Selain Mou ada juga Carlo Ancelotti yang terbukti mempraktekannya di musim 2009/10. Baru pertama melatih Chelsea, Don Carlo mampu mempersembahkan trofi Liga Inggris bagi Chelsea.

Pelatih Italia ini selama di AC Milan adalah masternya trofi. Ibaratnya, kalau ingin trofi panggil saja Ancelotti. Maklum, pendekatan permainan ala Ancelotti ini adalah hasil. Tak perlu main bagus atau menang dengan banyak gol. Main jelek, menang tipis, toh tetap saja raih tiga poin. Dan itu sudah cukup bagi Ancelotti.

Chelsea jadi juara Liga Inggris bersama Ancelotti hanya kalah enam kali saja. Kebobolannya juga hanya 32 gol saja. Kombinasi pemain bertahan peninggalan pelatih sebelumnya seperti Ashley Cole, Ivanovic, Terry, maupun Bosingwa, dapat dimanfaatkan dengan baik oleh Don Carlo.

Roberto Di Matteo

Masih dari satu negara dengan Ancelotti, Roberto Di Matteo termasuk juga yang sukses mengantarkan Chelsea meraih prestasi. Gelar juara Liga Champions Chelsea untuk pertama kalinya diraih oleh pelatih interim asal Italia tersebut.

Tak lain dengan caranya yang pragmatis dan cenderung bertahan. Masih terngiang dalam ingatan, Chelsea sukses menjadi juara ketika sebelumnya mereka mengalahkan Barcelona di semifinal dengan cara bertahan total.

Ketika itu sangat ikonik momen Fernando Torres bak siluman muncul sendirian di area pertahanan Barcelona dan mencetak gol. Situasi tersebut tercipta di momen counter attack ketika Barcelona deadlock mengepung pertahanan grendel Chelsea.

Namun sayang, di musim berikutnya ketika Di Matteo dipermanenkan sebagai pelatih, Chelsea malah jadi melempem. Pasalnya, pelatih plontos tersebut sok-sok-an ingin mengubah gaya main Chelsea yang lebih menyerang.

Maka dari itu, ia di musim barunya membeli serdadu menyerang seperti Hazard, Oscar, Victor Moses, maupun Marko Marin. Hasilnya apa? Chelsea terpuruk dan mengantarkan Di Matteo menuju pemecatan di bulan November 2013.

Antonio Conte

Masih beraroma Italia, Antonio Conte sukses membawa pulang trofi Liga Inggris bagi Chelsea pada musim.2016/17. Masih terngiang dalam ingatan, Chelsea-nya Conte di awal musim bermain lebih menyerang dengan mengadopsi taktik empat bek yakni 4-2-3-1.

Adaptasi taktik menyerang Conte tersebut ternyata beberapa kali gagal. Seperti hasil minor di tiga laga berturut di bulan September 2016. Seperti imbang melawan Swansea maupun kalah atas Liverpool dan Arsenal.

Kemudian salah satu trigger kesuksesan Conte adalah perubahan formasi dari empat bek menjadi tiga bek. Hasilnya tokcer. Dengan keseimbangan lini pertahanan, Chelsea bangkit kembali. Terbukti setelah memakai pola tersebut hingga akhir musim, Chelsea akhirnya mampu meraih juara Liga Inggris.

Oh iya, dilihat juga pembelian Conte di musim tersebut. Fokus pendekatan dari segi pertahanan terlihat kentara dari diboyongnya pemain seperti David Luiz. Marcos Alonso, maupun N’Golo Kante.

Thomas Tuchel

Apa yang dilakukan Conte mirip dengan apa yang dilakukan Thomas Tuchel ketika datang ke Stamford Bridge pada paruh musim 2020/21. Tuchel datang menggantikan Frank Lampard. Chelsea sudah lama dipegang Lampard dengan taktik menyerang 4-3-3 atau 4-2-3-1. Hasilnya kurang memuaskan.

Tuchel datang dikira mau meneruskan apa yang sudah digariskan Lampard. Eh ternyata Tuchel malah merombak total. Tuchel yang jarang menggunakan pola tiga bek, justru melakukannya sedari awal menangani Chelsea. Ia sempat dicap sebagai kepala batu karena taktiknya tersebut dianggap kuno dan cenderung membosankan dari segi permainan.

Tapi Tuchel berkilah. Sisi keseimbangan dari segi bertahan Chelsea lah yang justru harus dibenahi terlebih dahulu pasca ditinggalkan Lampard. Hasilnya memuaskan. Chelsea jarang kalah lagi dan sering clean sheet. Kestabilan yang diinginkan Tuchel inilah yang membuat The Blues akhirnya mendapatkan gelar juara Liga Champions untuk kedua kalinya.

Gagal Bersama Pelatih yang Bertipe Sama

Dari beberapa pelatih yang menerapkan taktik pragmatis tersebut, terbukti banyak membuahkan hasil positif bagi Chelsea. Berbeda dengan pelatih yang notabene berpendekatan menyerang.

Kita tahu Chelsea pernah mengontrak pelatih Brazil Luiz Felipe Scolari yang notabene bekas pelatih Jogo Bonito Brazil yang sukses jadi juara dunia 2002. Mengedepankan sepakbola menyerang dan indah, Chelsea malah kelihatan tak cocok. Hasilnya belum genap semusim pelatih Brazil itu sudah dipecat karena hasil minor di paruh musim pertama.

Begitu juga dengan pelatih asal Portugal, Andre Villas Boas. Ia sejak dari Porto sudah berpendekatan sepakbola menyerang dengan format 4-3-3. Bahkan ia melengkapi serdadu menyerang Chelsea dengan membeli pemain seperti Lukaku, Juan Mata, maupun Raul Meireles. Tapi ternyata hasilnya kurang memuaskan. Chelsea inkonsisten di bawah Vilas Boas. Dan terbukti belum genap satu musim ia dipecat.

Terus Graham Potter. Pelatih yang bersinar bersama Brighton tersebut juga gagal membawa taktik menyerang yang bervariasi di Chelsea. Terbukti, belum genap semusim ia juga sudah dipecat. Frank Lampard yang pernah digadang-gadang menjadi pelatih masa depan yang berpendekatan menyerang juga nol trofi ketika memegang Chelsea.

Lalu kini Pochettino. Kalau dilihat-lihat Pochettino selama memegang Chelsea di awal musim selalu mengedepankan aspek penyerangan. Pola 4-2-3-1 atau 4-3-3 menyerang tetap kekeh dipakai Pochettino meski hasilnya kurang memuaskan. Begitupun pula track record-nya kala memegang Espanyol, Soton, Spurs, maupun PSG. Lalu apakah hasilnya akan sama saja?

Sumber Referensi : bbc.com, 90min, skysports, dw.com