Klub Ini HANYA SEMUSIM Rasakan KEJAYAAN

spot_img

Cerita Cinderella mungkin hanya dikenal sebagai dongeng pengantar tidur. Namun, kisah legendaris itu acap kali terjadi di dunia nyata. Tak terkecuali di sepakbola. Banyak tim yang awalnya nothing justru mendulang kesuksesan dan kisahnnya dikenang oleh penikmat sepakbola selamanya.

Bak hidup sebagai Cinderella, beberapa tim kecil ini sukses bertransformasi menjadi giant killer di kompetisi domestik. Namun, ya namanya juga Cinderella. Kesuksesan dari klub-klub tersebut juga tak berumur panjang. Mereka hanya menikmati kejayaan hanya dalam satu musim dan langsung bapuk musim berikutnya. Dan berikut adalah klub-klub one season wonder itu.

Leicester City 2015/16

Mari kita awali dengan kisah dongeng yang tercipta di Liga Inggris musim 2015/16. Kala itu Leicester City tampil sebagai pemeran utamanya. Ya, kalian para penikmat sepakbola Inggris pasti tak lupa dengan sejarah yang dicetak oleh klub yang bernuansa biru-biru ini. Berasal dari divisi dua, mereka hanya butuh dua musim untuk menaklukan ketatnya persaingan Premier League.

Berstatus tim yang baru dua musim di Liga Inggris, The Foxes tentu saja bukan tim unggulan. Bahkan bursa taruhan pada waktu itu hanya memberikan rasio 500.000:1 untuk bertaruh Leicester bisa juara. Itu sama saja dengan kemustahilan.

Namun, sang Serigala membuktikan siapa yang berkuasa. Di bawah arahan Claudio Ranieri, Leicester yang musim sebelumnya hanya mampu finish di urutan 14 klasemen akhir sukses menampar para penguasa Inggris dan keluar sebagai juara Premier League musim 2015/16.

Mereka bahkan hanya menelan satu kekalahan di sepuluh pertandingan awal Liga Inggris musim tersebut. Sayang, kebahagiaan itu hanya bertahan sesaat. Musim setelahnya Leicester kembali ke setelan pabrik. 

Claudio Ranieri yang telah berjasa dalam membawa tim ke tangga juara pun justru dipecat dengan tidak hormat. Setelah musim yang luar biasa itu, Leicester hanya menjadi tim papan tengah. Bahkan musim 2022/23 mereka harus rela terdegradasi ke Divisi Championship.

Swansea 2012/13

Sebelum Leicester City, ada Swansea City yang mengagumkan di musim 2012/13. Bedanya, musim itu The Swans tidak menjuarai liga, melainkan menjuarai Piala Liga atau yang sekarang kita kenal sebagai Carabao Cup.

Gelar juara ini menjadi yang pertama dalam kurun waktu seratus tahun terakhir bagi klub asal Wales tersebut. Dalam pertandingan final, Swansea mengalahkan Bradford City dengan skor meyakinkan 5-0. Meski sempat tampil menjanjikan namun Bradford dibuat tidak berkutik oleh permainan kolektif Swansea.

Musim tersebut barangkali memang jadi musim terbaik Swansea di persepakbolaan Inggris. Selain menjuarai Piala Liga, mereka juga tampil mengesankan di Liga Inggris. Dihuni pemain-pemain ikonik macam Scott Sinclair, Ashley Williams, Michel Vorm, dan Michu, Swansea begitu merepotkan tim-tim papan atas.

Apalagi si Michu ini. Performanya di musim 2012/13 bener-bener edan. Bermain sebagai gelandang serang, di musim 2012/13 Michu mencetak 18 gol untuk Swansea. Ia hanya kalah dari para penyerang top seperti Luis Suarez, Gareth Bale, dan Robin Van Persie. Bernasib sama dengan klubnya, Michu jadi one season wonder paling diingat.

Setelah menjuarai Piala Liga, Swansea bukan klub yang sama lagi. Mereka hanya jadi tim yang menghindari degradasi setiap musimnya. Perjuangannya pun berakhir ketika Swansea benar-benar terdegradasi musim 2017/18. Hanya bermain di Championship, nama Swansea udah jarang seliweran di headline berita. Bahkan, beberapa dari kalian mungkin nggak sadar kalau Swansea sudah berganti logo sebanyak dua kali.

Wolfsburg 2008/09

Kisah selanjutnya berasal dari Bundesliga. Sebelum Borussia Dortmund mengusik dominasi Bayern Munchen di Bundesliga Jerman, Wolfsburg telah lebih dulu melakukannya. Tim yang juga berjuluk serigala itu mengejutkan publik Jerman saat menggulingkan dominasi Bayern dan menjuarai Bundesliga pada musim 2008/09.

Musim tersebut tak berjalan mulus bagi Wolfsburg. Bahkan bisa dibilang jadi musim yang cukup gila untuk klub yang identik dengan warna hijau itu. Di pertengahan musim, mereka masih tertahan di posisi 9 klasemen, tertinggal 9 poin dari pemuncak klasemen Hoffenheim.

Akan tetapi, kondisi berbalik di paruh kedua. Hasil imbang 1-1 melawan FC Koln di awal tahun 2009 seperti sebuah titik balik bagi Wolfsburg yang kala itu diarsiteki Felix Magath. Dari 17 pertandingan di paruh kedua, Wolfsburg hanya kalah 2 kali. Itu jadi bekal yang cukup untuk menjuarai Bundesliga dengan mengumpulkan 69 poin. Selisih dua poin dengan Bayern yang berada di urutan kedua.

Namun, sama halnya dengan Leicester, di musim setelahnya Die Wolfe tak mampu berbicara banyak. Meski dengan kekuatan yang sama, mereka hanya finis di urutan kedelapan musim 2009/10. Hingga saat ini, mereka belum pernah menjuarai Liga Jerman lagi.

Montpellier 2011/12

Jika membicarakan Liga Prancis, pasti kalian akan dengan mudah teringat dengan klub paling berkuasa, yakni Paris Saint-Germain. Tapi sebelum PSG berkuasa, Ligue 1 merupakan liga yang cukup kompetitif. Beberapa klub pernah bergantian untuk menjuarai kompetisi tersebut. Salah satu yang paling ikonik adalah Montpellier musim 2011/12.

Gelar itu terasa amat istimewa karena itu merupakan trofi Ligue 1 pertama dalam sejarah Montpellier. Apalagi klub yang pernah diperkuat Olivier Giroud ini jarang-jarang mendapat trofi. Sepanjang perjalanannya Montpellier hanya dipandang sebagai underdog di persepakbolaan Prancis. Namun, musim 2011/12, Montpellier seperti berada di waktu yang tepat untuk menjadi juara.

Montpellier memulai musim 2011/12 dengan apik lewat tiga kemenangan beruntun. Skuad asuhan Rene Girard bahkan hanya menelan dua kekalahan dalam 15 pertandingan Liga Prancis musim tersebut. 

Di akhir musim, Montpellier finis pertama dengan mengumpulkan 82 poin, selisih tiga poin atas Les Perisiens di urutan kedua. Olivier Giroud dan Younes Belhanda barangkali jadi yang paling dikenal dari angkatan ini. Tapi kesuksesan ini hanya numpang lewat. Setelah itu, Montpellier cuma jadi tim penggembira. Mereka tak pernah menjuarai apa-apa lagi.

Deportivo La Coruña 1999/00

Liga Spanyol juga punya kisah yang serupa. Klub yang pernah merasakan kejayaan dalam semusim itu adalah Deportivo La Coruna. Betapa hebohnya dulu di akhir tahun 90-an ketika melihat klub seperti Deportivo justru yang keluar jadi kampiun La Liga musim 1999/00. Mereka mengusik dominasi klub-klub besar macam Real Madrid dan Barcelona. 

Diasuh oleh pelatih kawakan, Javier Irureta, dan masih dihuni pemain-pemain seperti Diego Tristan, Djalminha, hingga Roy Makaay, Deportivo sukses meraih gelar La Liga pertama dalam sejarah pada musim 1999/00. Gelar juara ini tentu jadi prestasi yang membanggakan. Sebab, Deportivo berasal dari kota terkecil kedua di Spanyol dengan populasi hanya 250 ribu saja.

Sejak saat itu Super Depor memang menjadi langganan papan atas La Liga. Tapi, saking asiknya berlaga di kasta tertinggi, mereka tak menyadari kalau utang klub mulai menggunung. Krisis ekonomi yang mulai sulit dikendalikan pun akhirnya pecah di tahun 2005. Di tahun tersebut, Deportivo mulai ditinggal sosok-sosok penting di belakang layar karena sudah tak sanggup dengan permasalahan yang menggunung.

Deportivo mulai tampil angin-anginan di musim-musim berikutnya. Hingga saat ini mereka tak pernah kembali mengangkat trofi La Liga. Kemungkinan untuk mengulangi masa kejayaan pun semakin kecil mengingat klub tersebut kini hanya berlaga di divisi ketiga Liga Spanyol.

https://youtu.be/5XZ9ZAEwp-Q

Sumber: The Guardian, Swansea, 90min

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru