Beranda blog Halaman 141

Menanti Kejutan Aston Villa, Klub EPL Paling Sibuk di Bursa Transfer

Setelah sukses membuat sensasi di dunia maya dengan menggandeng superstar lokal sekaligus fans, Black Sabbath, untuk promo peluncuran jersey anyar, Aston Villa juga aktif menggaet pemain baru di bursa transfer. Tampaknya, The Villans juga sedang menyiapkan sensasinya di dalam lapangan. 

Aston Villa berhasil mendatangkan gelandang bertahan Everton, Amadou Onana. Dilansir dari The Athletic, transfer tersebut memakan biaya sekitar 50 juta pounds. Pemuda berkebangsaan Prancis tersebut dikontrak hingga Juni 2029. Onana sendiri musim lalu tampil solid bersama The Toffees, sehingga mereka berada di peringkat 4 dalam urusan terbobol paling sedikit.

Berdasarkan catatan Transfermarkt, tak hanya Onana, ada 7 pemain lain yang sudah didatangkan Unai Emery ke Villa Park musim panas kali ini. Hal ini menjadikan mereka sebagai salah satu tim dengan transfer paling sibuk di Liga Inggris. Lantas, hidangan seperti apa yang sebenarnya akan disajikan oleh Mr. Good Ebening musim depan?

 

Performa Apik Musim Lalu

Aston Villa mengakhiri Premier League 2023/24 dengan manis. The Villans finis di peringkat 4 alias lebih tinggi dari tim-tim seperti Tottenham Hotspur, Chelsea, dan Manchester United. Hasil tersebut membuat mereka berhak untuk tampil di Liga Champions 2024/25. Mereka terakhir tampil di kompetisi tersebut pada 1982/83 dengan status juara bertahan. Sebab, mereka adalah juara Liga Champions edisi 1981/82.

Musim 2023/24 dijalani Aston Villa dengan penuh lika-liku. Tidak setiap laga yang dihadapi musim lalu berakhir sesuai dengan apa yang diharapkan. The Villans memulai musim dengan kekalahan besar. Mereka langsung dihajar Newcastle 5-1 di minggu pertama liga. Sialnya, bek andalan, Tyrone Mings, yang tampil pada laga itu harus langsung mengakhiri musimnya saat itu juga.

Sejak laga tersebut, Unai Emery langsung mengevaluasi kesalahan-kesalahannya. Betul saja, sejak laga tersebut hingga akhir tahun 2023, mereka hanya kalah 3 kali di Premier League. Mereka menutup tahun 2023 dengan berada di peringkat ketiga.

Performa apik Aston Villa musim lalu tak hanya hasil dari kecerdikan taktik Unai Emery, namun juga konsistensi para pemainnya. Dikutip dari Claret Villans, nama-nama seperti Emi Martinez, Ezri Konsa, John McGinn, Douglas Luiz, dan Ollie Watkins merupakan kepingan penting dalam kesuksesan Aston Villa musim lalu.

Comeback Aston Villa di kompetisi Eropa juga tidak bisa dibilang buruk. Anak asuh Unai Emery berhasil tembus hingga semifinal Conference League 2023/24. Mereka dijegal sang juara, Olympiakos, dengan agregat 6-2. Wakil Inggris tersebut gagal melanjutkan kegemilangan West Ham yang menjadi jawara di edisi sebelumnya. 

 

Perkuat Lini Tengah

Kedatangan Ross Barkley dan Enzo Barrenechea yang disusul dengan Amadou Onana jelas menjadi kekuatan baru di lini tengah. Ketiganya merupakan pemain penting bagi masing-masing klub yang dibelanya musim 2023/24 lalu.

Meskipun pada akhirnya terdegradasi, Ross Barkley merupakan pilar penting Luton Town musim lalu. Dirinya hampir tak tergantikan di skuad Luton. Mantan pemain Everton dan Chelsea ini mengoleksi 5 gol dan 4 assist di Premier League 2023/24.

Pemain yang sempat semusim berseragam The Villans ini memiliki tendensi untuk mengalirkan bola ke depan saat memegang bola. Menurut ulasan Coaches’ Voice, fisiknya yang kokoh akan berguna apabila rekannya sedang memegang bola. Sebab, Barkley siap berlari ke depan untuk memberikan bantuan.

Sementara, Enzo Barrenechea adalah pemain Juventus yang musim lalu dipinjamkan ke Frosinone. Bersama Gialloazzuri, Enzo tampil sebanyak 36 kali di Serie A. Sebagai seorang gelandang bertahan, dirinya memiliki kemampuan untuk membaca permainan yang cukup lumayan. Menurut ulasan The Athletic, kemampuan membaca permainan inilah yang membuatnya sering berhasil memutus umpan-umpan lawan.

Amadou Onana sendiri sebenarnya berposisi sama dengan Enzo Barrenechea. Namun, pemain yang selama dua musim sebelumnya menghabiskan waktunya di lini tengah Everton ini memiliki tipikal yang berbeda dengan Enzo. Onana merupakan gelandang bertahan yang lebih agresif. Tubuh besar dan kekarnya adalah modal untuknya menekan pemain lawan.

Kemampuannya untuk merebut bola dan membalikkan keadaan akan sangat berguna bagi skema serangan balik yang akan dijalankan oleh Mr. Good Ebening. Onana akan menjadi metronom transisi cepat khas Emery yang akan ditopang dengan gelandang pelari macam Ross Barkley.

The Athletic menyebutkan bahwa Onana masih harus meningkatkan kemampuan mendikte permainannya. Ini akan menjadi kesempatan bagus bagi Enzo untuk ikut unjuk gigi dalam skema Emery. Apabila ketiga pemain baru ini dipasang bersamaan, mereka sudah bisa menjadi trio lini tengah yang lumayan. Tetapi, jangan lupa, The Villans masih memiliki nama-nama seperti John McGinn yang musim lalu merupakan pilar penting Emery. 

 

Tambah Amunisi Penyerangan

Setelah ditinggal Omari Kellyman ke Chelsea dan Moussa Diaby ke Al Ittihad, Aston Villa memanggil kembali lulusannya yang musim lalu moncer di Championship, Jaden Philogene. Sayap kiri yang juga dapat bermain di kanan tersebut musim lalu berhasil menorehkan 12 gol dan 6 assist untuk Hull City. Selain itu, didatangkan pula winger bertipe serupa dalam diri Samuel Iling-Junior dan Lewis Dobby.

Tak hanya itu, mereka juga mendatangkan juru gedor baru, Cameron Archer. Pemuda lulusan akademi Aston Villa tersebut musim lalu sudah tampil di Premier League bersama Sheffield United dan mencetak 4 gol. Pengalamannya bersama The Blades akan menjadi modal bagus untuk bersaing dengan Ollie Watkins.

Jangan lupakan pula bahwa Mr. Good Ebening juga mendatangkan wing back asal Belanda, Ian Maatsen. Bek sayap dengan kemampuan menyerang yang bagus ini akan menjadi penopang para penyerang Aston Villa. Dilansir dari situs Premier League, Maatsen lebih cocok dengan taktik Emery dibandingkan dengan taktik Enzo Maresca.

Sebab, taktik Maresca lebih condong kepada penguasaan bola, sementara Emery bertumpu pada transisi cepat. Kecepatan Ian Maatsen akan berguna untuk menusuk balik serangan lawan agar berbalik ke arah jantung pertahanan mereka sendiri.

 

Bisakah Mempertahankan Performa sekaligus Bersinar di Eropa?

Musim 2024/25 akan menjadi ujian baru bagi Aston Villa, sebab kali ini mereka juga akan bermain di Liga Champions. Pengalaman bermain di Conference League musim lalu bisa menjadi pelajaran penting yang bisa dipetik untuk menatap kompetisi Eropa musim ini. Terlebih, soal manajemen pemain. Karena Liga Champions dimainkan di tengah pekan, sementara sebelumnya mereka bermain di Kamis petang.

Selain itu, perjuangan di Premier League juga akan lebih berat karena kedatangan pelatih-pelatih baru di beberapa klub. Dari Arne Slot hingga Enzo Maresca, Emery harus memikirkan kembali taktiknya melawan tim-tim yang akan tampil dengan pelatih baru.

Masih ada waktu bagi Emery untuk merancang sebuah tim yang matang. Meski sudah mendatangkan beberapa pemain, Aston Villa masih bisa memperdalam skuadnya karena bursa transfer masih terbuka hingga akhir Agustus.

Terlebih, mereka juga sudah mendapatkan uang tambahan dari hasil penjualan beberapa pemain yang mungkin masih akan bertambah lagi. Mari kita tunggu kejutan-kejutan apalagi yang akan dihadirkan oleh Aston Villa pada musim 2024/25 ini.

https://youtu.be/2PWeZd7iwuI

Sumber: The Athletic, Transfermarkt, Claret Villans, Coaches’ Voice, dan Premier League

Dahsyat! Inilah Para Pelatih Pemutus Dominasi

0

Meruntuhkan dinasti tidaklah mudah. Tentu yang dimaksud dinasti di sepak bola. Meruntuhkannya akan lebih sulit kalau dinasti itu sudah bertahan lama. Butuh lebih dari keberanian untuk memutus dominasi sebuah klub.

Hal itu tidak dimiliki oleh banyak pelatih. Namun, para pelatih berikut mampu membuktikan kualitasnya sebagai pemutus dominasi di liga maupun kompetisi Eropa. Siapa saja para pelatih tersebut? Mari kita mengulasnya.

Xabi Alonso (Bayer Leverkusen)

Kita memulai dari yang terbaru. Selama 11 musim, Bundesliga hanya memiliki satu pemenang saja: Bayern Munchen. Namun, pada musim 2023/24 dominasi itu diputus oleh Bayer Leverkusen. Adalah Xabi Alonso yang bikin klub yang nyaris terlupakan menjadi tim yang sulit dikalahkan di Bundesliga, termasuk oleh Bayern Munchen.

Victor Boniface dibuatnya setajam Osimhen. Granit Xhaka yang dianggap habis malah jadi dinamo di lini tengah. Dengan gelar Bundesliga itu, Xabi tidak hanya memutus dominasi Bayern Munchen, namun juga menjadikan Bayer Leverkusen tim pertama yang meraih gelar Bundesliga tanpa satu pun kalah.

Jose Mourinho (Chelsea)

Sejak tahun 1996, Premier League dikuasai oleh Manchester United. Arsenal yang dilatih Wenger sempat memutus dominasi itu, dan coba ikut mendominasi Premier League. Namun, di tengah dominasi Fergie-Wenger, muncul Jose Mourinho yang melatih Chelsea pada musim 2004/05.

Dengan membeli pemain-pemain macam Petr Cech, Drogba, Arjen Robben, hingga Ricardo Carvalho, plus lewat strategi yang menyebalkan, Mourinho memutus dominasi dua pelatih itu. Ia membawa The Blues juara Liga Inggris musim tersebut.

Carlo Ancelotti (Chelsea)

Setelah sempat tak mendominasi, Manchester United kembali mendominasi selama tiga musim dari 2007 sampai 2009. Namun, pada musim 2009/10, dominasi United itu putus di tangan The Blues. Aktor yang melakukannya tiada lain adalah Carlo Ancelotti.

Sejak kedatangannya, Carletto sanggup mengalahkan timnya Fergie. Di final Community Shield, Chelsea-nya Ancelotti mengalahkan MU lewat adu penalti. Di ujung musim, Carlo Ancelotti juga mengalahkan Fergie di perebutan gelar Liga Inggris.

Musim itu, Ancelotti juga menjadikan The Blues tim pertama yang mencetak 100 gol di Premier League. Jumlah gol yang dicetak Drogba dan kawan-kawan total menyentuh 103 gol.

Leonardo Jardim (AS Monaco)

Dari Inggris kita melancong ke Prancis. Setelah juara di musim 2012/13, PSG lalu meraihnya dalam tiga musim berikutnya. PSG pun mengincar gelar kelimanya di musim 2016/17. Namun, anak muda AS Monaco seperti Kylian Mbappe, Fabinho, sampai Bernardo Silva sedang bergeliat.

Tim yang dipimpin Leonardo Jardim itu yang akhirnya keluar sebagai juara Ligue 1 di akhir musim 2016/17 dengan mengumpulkan 95 poin. Jardim bukan pelatih yang pengalamannya banyak, namun ia bisa menjadikan AS Monaco tim yang tangguh dan solid. Mereka juga sulit dikalahkan, termasuk oleh PSG. Terbukti mereka cuma kalah tiga kali musim tersebut.

Christophe Galtier (Lille)

Setelah gelar di musim 2016/17 dicuri, PSG tidak ambruk. PSG justru menguasai Ligue 1 lagi, dengan mendominasi dari musim 2017/18 sampai 2019/20. Nah, di musim 2020/21, PSG yang mengincar gelar keempat berjumpa tim yang diisi pemain muda lagi. Kali ini LOSC Lille.

Pada musim itu, Les Dogues diperkuat pemain muda macam Mike Maignan, Sven Botman, Jonathan David, hingga Timothy Weah. Di bangku cadangan, pelatih kacangan Christophe Galtier mengomando. Meski pelatih medioker, nyatanya Galtier membuktikan kualitasnya. Ia menjadikan Lille tim yang penuh kehati-hatian.

Strategi itu yang akhirnya mengantarkan Lille ke gelar Ligue 1 pada musim 2020/21, sekaligus memutus dominasi Paris Saint-Germain. Mereka finis di posisi satu dengan 83 poin, berjarak satu poin saja dari PSG.

Diego Simeone (Atletico Madrid)

Di Spanyol, sejak musim 2004/05, Real Madrid dan Barcelona silih berganti menjuarai La Liga. Tidak ada satu pun yang sanggup memutus dominasi keduanya. Hingga datanglah musim 2013/14. Itu adalah musim ketiga Diego Simeone membesut Atletico Madrid.

Simeone yang membentuk tim tangguh, yang berisi pemain seperti Courtois, Koke, Arda Turan, Godin, hingga Gabi merusak dominasi Barca-Madrid. Musim itu, Los Rojiblancos bermain dengan gaya yang berbeda, yakni bertahan. Mereka mampu mendominasi laga tanpa menguasai bola.

Dengan cara itu Simeone membawa Atleti menjuarai La Liga musim 2013/14. Ini untuk kesekian kalinya Atletico Madrid memutus dominasi yang coba dibangun Real Madrid dan Barcelona. Sebelum itu, mereka pernah melakukannya di musim 1995/96 saat ditukangi Radomir Antic.

Louis Van Gaal (AZ Alkmaar)

Memutus dominasi juga pernah dilakukan oleh mantan pelatih Timnas Belanda, Louis Van Gaal. Penderita kanker prostat itu pernah membawa AZ Alkmaar juara Eredivisie pada musim 2008/09 dengan memutus dominasi PSV selama empat musim beruntun.

Padahal tidak ada satu pun yang menjagokan AZ kala itu. Bahkan para pakar memprediksi kalau Van Gaal hanya akan membawa timnya finis di posisi 13. Namun, prediksi itu kelewat keliru. Nyatanya Van Gaal membawa tim berisi pemain seperti Sergio Romero, Hector Moreno, Mousa Dembele, Mounir El Hamdaoui, hingga Graziano Pelle juara Eredivisie. 

Hingga akhir musim, 25 kemenangan diraih. AZ asuhan Van Gaal hanya menelan empat kekalahan saja. Tidak hanya itu, AZ juga menjadi tim dengan kebobolan tersedikit, yakni 22 gol. Gelar itu biasa bagi Van Gaal, tapi bagi AZ itu adalah gelar yang istimewa karena merupakan trofi Eredivisie pertama sejak tim ini bernama AZ Alkmaar.

Phillip Cocu (PSV Eindhoven)

Dua musim setelah AZ menjuarai Eredivisie, Ajax Amsterdam kembali mendominasi. Empat musim beruntun, dari 2011 hingga 2014, mereka menjuarai Liga Belanda. Namun, pada musim 2014/15 dominasi mereka terputus oleh PSV Eindhoven.

Philippe Cocu yang membangun PSV dengan mengandalkan pemain muda, seperti Memphis Depay hingga Georginio Wijnaldum menjuarai Eredivisie. Mereka mengumpulkan 88 poin dengan torehan selalu menang di 15 laga terakhir.

Antonio Conte (Internazionale)

Jika di Jerman ada Bayern Munchen yang berkuasa selama 11 musim, di Italia ada Juventus yang menjuarai Serie A dalam sembilan musim beruntun. La Vecchia Signora melakukannya dari tahun 2012 sampai 2020. Namun, kedatangan Antonio Conte ke Inter pada 2019 mengubah jalannya liga domestik.

Di tangan Conte, Inter memutus dominasi Juventus di Serie A. Meski menariknya, pada musim 2020/21, mereka justru bersaing bukan dengan Juventus, melainkan AC Milan. Conte dengan pemain seperti Perisic, Barella, Brozovic, Hakimi, hingga Lukaku dan Lautaro terus mengejar perolehan poin Milan di puncak klasemen.

Pada pekan ke-22, Inter menjatuhkan Milan dari puncak klasemen usai mengalahkan Lazio. Ini bukan cuma Inter yang jago, tapi Rossoneri yang ceroboh. Di pekan yang sama, daripada memetik kemenangan, Milan justru keok atas Spezia.

Setelah kemenangan itu, La Beneamata terus duduk di puncak klasemen. Kekalahan atas Juve di dua pekan sebelum berakhir tak berpengaruh. Conte sukses membawa Inter scudetto dengan 91 poin, terpaut 12 poin dari Milan di peringkat kedua.

Jurgen Klopp (Liverpool)

Dari semua pemutus dominasi, barangkali Jurgen Klopp yang luar biasa. Begini ceritanya. Sebelum tahun 2014, tidak ada negara yang bisa mendominasi Liga Champions. Nah, pada tahun 2014, Spanyol mulai mendominasi. Selama lima musim, dari tahun 2014 sampai 2018 juara Liga Champions selalu dari Spanyol.

Empat kali Real Madrid, dan satu diberi jatah buat Barcelona. Klopp memutus dominasi itu. Pada musim 2018/19, Klopp membawa Liverpool, tim asal Inggris, menjuarai Liga Champions, setelah bahkan sejak 2012 tidak ada tim Inggris yang menjuarainya.

Klopp sebetulnya nyaris melakukannya di musim sebelumnya. Namun, Mohamed Salah dipaksa berlinang air mata usai Real Madrid menghancurkan Liverpool di Kyiv. Kemenangan di final Liga Champions musim 2018/19 juga menghapus label ‘pecundang tak beruntung’ pada diri Klopp. Selama ini ia selalu kalah di final Liga Champions.

Kemenangan atas Tottenham Hotspur di final itu tak hanya istimewa bagi Klopp, tapi juga bagi Liverpool. Sebab gelar tersebut mengakhiri 14 tahun Liverpool berpuasa gelar Liga Champions. Mantap sekali, Pak Klopp!

Berita Bola Terbaru 25 Juli 2024 – Starting Eleven News

MAGUIRE DIDESAK PINDAH KE CHELSEA

Kabar pertama datang dari Liga Inggris. Dilansir dari The Sun, mantan pemain MU, Dwight Yorke angkat bicara soal masa depan bek MU, Harry Maguire. Pemain asal Trinidad and Tobago tersebut menyarankan agar Harry Maguire segera hengkang ke Chelsea. Menurut Yorke, Chelsea adalah pelabuhan yang tepat untuk Maguire. Pasalnya, Chelsea masih butuh bek berpengalaman setelah ditinggal Thiago Silva. Yorke menambahkan bahwa di skuad MU sekarang stok beknya sudah melimpah dengan datangnya Leny Yoro. Belum lagi Ten Hag rencananya akan mendatangkan bek tengah baru.

CHELSEA BELI KIPER BARU

Dari MU, beralih ke Chelsea. The Blues segera dapatkan kiper baru musim ini. Ia adalah kiper Villarreal, Filip Jorgensen. Kesepakatan antara kedua klub sudah terjalin. Nilai transfer kiper Denmark tersebut bernilai sekitar 20 hingga 25 juta pounds. Kiper berusia 22 tahun tersebut didatangkan sesuai permintaan dari pelatih baru The Blues, Enzo Maresca. Maresca ingin datangkan Jorgensen sebagai pesaing Robert Sanchez sebagai kiper utama Chelsea musim ini. Chelsea berharap Jorgensen segera datang melakukan tes medis, dan menyusul skuad Chelsea yang sedang jalani tur pramusim di AS.

CHILWELL DICAMPAKAN MARESCA

Masih dari kabar Chelsea. Pelatih baru Enzo Maresca mengatakan bahwa bek kiri Ben Chilwell tidak cocok dengan taktiknya. Chilwell tak akan masuk rencananya musim ini. Maresca butuh bek sayap serba bisa yang bisa bermain “inverted”. Ia juga sempat menyebut bek sayap seperti Reece James, Malo Gusto, maupun Marc Cucurella, mampu melakukannya. Maresca sama sekali tak menyebut bahwa Chilwell bisa melakukan peran itu.

CALAFIORI SIAP TES MEDIS DAN IKUT TUR PRAMUSIM ARSENAL

Beralih ke kabar dari Arsenal. Drama transfer Riccardo Calafiori ke Emirates akhirnya usai. Bologna, serta klub lamanya, Basel telah menyetujui kepergian Calafiori. Kesepakatan diyakini bernilai sekitar 42 juta pounds. Calafiori menjadi pemain pertama yang bergabung dengan skuad Arteta musim panas ini. Menurut cuitan Fabrizio Romano, Calafiori sudah “Here We Go” dan dijadwalkan melakukan tes medis di Amerika. Calafiori direncanakan akan terbang ke Amerika sekaligus untuk mengikuti tur pramusim The Gunners.

SPURS BELI PEMAIN MUDA KOREA SELATAN

Sementara itu sang rival, Tottenham Hotspur juga resmi merekrut pemain baru. Ia adalah sayap muda Korea selatan, Yang Min-hyuk dari Gangwon FC. Pemain berusia 18 tahun itu diperkirakan akan menyelesaikan kepindahannya ke The Lilywhites pada tanggal 31 Juli 2024. Min-hyuk adalah wonderkid Korea yang telah mencetak tujuh gol dalam 24 laga bersama Gangwon. Min-Hyuk akan menjadi pesepakbola Korea Selatan yang ketiga di Spurs setelah Son Heung-min dan Lee Young-pyo.

REAL MADRID TOLAK HUMMELS DATANG

Dari Inggris beralih ke Spanyol. Dilansir Football Espana, rumor Real Madrid akan menampung Mats Hummels yang berstatus bebas transfer tidak benar. El Real enggan menampung mantan bek Dortmund tersebut. Hummels tidak memenuhi persyaratan lini pertahanan Los Blancos. Secara usia, Hummels hanyalah transfer yang bersifat jangka pendek. Real Madrid tetap percaya diri dengan stok bek yang mereka miliki musim ini.

ANSU FATI CEDERA LAGI

Beralih ke Barcelona. Belum juga musim berjalan, pemain Barcelona yang baru kembali dari masa peminjaman di Brighton, Ansu Fati, mengalami cedera parah. Cedera tersebut didapat saat jalani latihan pramusim intens bersama Hansi Flick. Barca resmi merilis pernyataan terkait cederanya Ansu Fati di web resmi mereka. Dalam pernyataan tersebut Ansu Fati mengalami cedera telapak kaki kanannya. Untuk itu Ansu Fati akan segera menjalani perawatan intensif. Kembalinya Ansu Fati merumput akan ditentukan dari masa perawatannya tersebut.

MANTAN PEMAIN REAL MADRID GABUNG KLUB MILIK CASEMIRO

Sementara itu kabar baru datang dari mantan penyerang Real Madrid yang kini berusia 37 tahun, Jose Callejon. Callejon telah resmi meninggalkan Granada setelah dua musim bersama untuk bergabung dengan Marbella FC yang berlaga di Divisi Segunda. Callejon direkrut dengan status bebas transfer. Menariknya, klub baru Callejon yakni Marbella FC salah satu pemiliknya adalah rekannya saat bermain di Real Madrid, Casemiro.

ROMA PUNYA RENCANA STADION BARU YANG MEGAH

Dari Spanyol beralih ke Italia. AS Roma merencanakan membangun stadion baru. Giallorossi berniat pindah dari Stadio Olimpico yang sudah ditempati sejak tahun 1953. Dengan desain ikonik yang terinspirasi oleh arsitektur Romawi klasik, stadion ini sudah dipresentasikan kepada Walikota Roma, Gualtieri. Wakil Presiden Roma, Ryan Friedkin dan CEO klub, Lina Souloukou, juga turut hadir dalam presentasi itu. Pihak AS Roma mengatakan bahwa stadion kelas dunia tersebut nantinya bukan hanya rumah baru bagi pemain AS Roma, melainkan juga para fans termasuk Curva Sud.

JOSE MOURINHO KECAM UEFA

Sementara itu kabar terbaru datang dari mantan pelatih AS Roma, Jose Mourinho. The Special One baru-baru ini mengecam UEFA setelah klub barunya, Fenerbahce nyaris kalah di laga Kualifikasi UCL. Pria berusia 61 tahun tak habis pikir pada UEFA. Ia mengkritik UEFA karena mengizinkan laga sekelas Kualifikasi UCL dimainkan di lapangan sintetis, seperti di Stockhorn Arena. Mourinho mengatakan bahwa di lapangan sintetis tersebut bola tidak bergerak sebagaimana mestinya. Sehingga pemain kesulitan menggiring bola dan tempo permainan jadi melambat.

UEFA HUKUM 7 NEGARA AKIBAT ULAH RASIS DI EURO 2024

Masih kabar tentang UEFA. Dilansir dari BBC, UEFA telah resmi menjatuhkan hukuman pada tujuh negara yang didakwa bersikap rasis pada gelaran Euro 2024 lalu. Tujuh negara tersebut adalah Serbia, Kroasia, Rumania, Slovenia, Austria, Hungaria, dan Albania. Hukumannya bervariasi mulai dari denda 50.000 euro, hingga larangan menjual tiket laga tandang berikutnya, termasuk di laga UEFA Nations League. Hukuman tersebut resmi dikeluarkan UEFA setelah mereka juga menghukum Rodri dan Morata atas sikapnya terhadap Gibraltar.

LAGA OLIMPIADE ARGENTINA VS MAROKO RUSUH

Sementara itu, kabar heboh datang dari Olimpiade Paris. Laga cabor sepakbola antara Argentina vs Maroko berlangsung rusuh. Sampai-sampai laga tersebut sempat ditangguhkan. Kekacauan di laga tersebut berawal dari protes Maroko terhadap wasit yang memberikan tambahan waktu selama 15 menit. Pasalnya, dalam kurun waktu itulah Argentina berhasil menyamakan kedudukan 2-2. Hal tersebut membuat fans Maroko ngamuk dan melempari botol hingga petasan ke dalam lapangan. Tidak hanya itu, fans Maroko juga masuk ke lapangan yang mengakibatkan laga ditangguhkan hingga satu jam. Setelah dilanjutkan, wasit malah menganulir gol Argentina di menit akhir tersebut setelah dicek lewat VAR. Alhasil, Argentina pun kalah 1-2.

MESSI DAN MASCHERANO ANGKAT BICARA SOAL RUSUH LAGA ARGENTINA VS MAROKO

Kekalahan Argentina atas Maroko berkat gol yang dianulir oleh wasit, membuat Lionel Messi angkat bicara. La Pulga mengungkapkan protesnya dengan mengunggah pesan di instastory pribadinya. Messi menulis satu kata yakni “Insolito” yang mempunyai “luar biasa”. disertai emoji memerah yang menandakan ia kesal. Tak hanya Messi saja yang kesal, pelatih Argentina di Olimpiade, Javier Mascherano juga. Mantan pemain Barca tersebut mengatakan bahwa laga tersebut ibarat pertunjukan sirkus yang belum ia lihat seumur hidupnya.

COMO REKRUT STRIKER MUDA IRAK

Dari Olimpiade Paris pindah ke kabar transfer klub kepunyaan taipan Indonesia, Como. Como akhirnya mengumumkan kedatangan pemain yang sempat jadi mimpi buruk Timnas Indonesia, Ali Jasim. Pemain Timnas Irak berusia 20 tahun tersebut, direkrut dari Al-Kahraba dengan durasi kontrak tiga tahun. “Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada pelatih Cesc Fabregas dan manajemen atas kepercayaan mereka kepada saya. Saya berjanji akan bekerja keras untuk meraih kesuksesan bersama klub, dan membuat masyarakat Irak bangga,” kata Ali Jasim setelah diperkenalkan Como.

THOM HAYE KE LIGA TURKI?

Sementara itu kabar terbaru datang dari pemain timnas indonesia, Thom Haye. Profesor Toha dikabarkan sedang dibidik salah satu klub Liga Super Turki, Sivasspor. Kabar mengejutkan ini diungkapkan oleh jurnalis Turki via akun X pribadinya @ertuguldalbst. Jurnalis Turki tersebut menyebut bahwa gelandang Thom Haye adalah pemain baru yang bakal gabung dengan Sivasspor. Jika transfer Thom Haye ke Sivasspor terealisasi, maka ia akan menyusul Ronaldo Kwateh yang lebih dulu berada di Liga Turki.

DANNY DRINKWATER DIEJEK KARENA PROFESINYA SETELAH PENSIUN

Peraih gelar juara Liga Inggris bersama Leicester, Danny Drinkwater baru-baru ini diejek netizen karena penampilan barunya pasca pensiun dari sepakbola. Unggahan Drinkwater saat memantau proyek bangunan di instastory pribadinya, dibalas dengan ejekan salah satu netizen yang menganggapnya berada di titik terendah dalam kariernya. Fyi aja, Drinkwater kini menggeluti dunia properti dan terkadang turun langsung memantau proyek. Ia juga sering terlihat berpenampilan layaknya tukang bangunan.

DUA KLUB LIGA INGGRIS BEREBUT CHALOBAH

Masih dari sepakbola Inggris. Pemain Chelsea yang tak diikutkan tur pramusim ke AS, Trevoh Chalobah kini menjadi rebutan klub-klub di Liga Inggris. Dilansir dari Givemesport, West Ham United dan Crystal Palace jadi dua tim yang ingin segera menampung Chalobah. The Hammers ingin tampung Chalobah jika salah satu bek mereka, Nayef Aguerd dan Kurt Zouma hengkang. Sedangkan Crystal Palace ingin tampung Chalobah sebagai alternatif jika Marc Guehi hengkang.

EVERTON INCAR PEMAIN CITY SEBAGAI PENGGANTI ONANA

Sementara itu, Everton segera cari pengganti Amadou Onana yang hengkang ke Aston Villa. Dilansir dari Tribalfootball, calon pengganti Onana yang sedang dibidik adalah pemain Manchester City, Kalvin Phillips. Sean Dyche menganggap Phillips cocok jadi pengganti Onana di lini tengah The Toffes musim ini. Everton dikabarkan ingin meminjam Kalvin Phillips seperti apa yang dilakukan West Ham musim lalu.

CITY KERJASAMA DENGAN SONY PICTURES, UNTUK APA?

Beralih ke kabar Manchester City. Dilansir dari Manchester Evening News, The Citizens menjalin kerjasama dengan perusahaan Sony Pictures. Kerjasama tersebut dalam rangka mengembangkan konten video tentang Manchester City. Hal tersebut juga bagian dari upaya City Football Group untuk berinvestasi di dunia hiburan. CEO City, Ferran Soriano mengatakan, kemitraan dengan Sony Pictures bertujuan agar Manchester City lebih produktif dalam memproduksi konten. Menurutnya, akan banyak serial tentang City yang akan segera diproduksi pasca kerjasama ini.

LEGENDA BLACK SABBATH JADI BINTANG VIDEO JERSEY ASTON VILLA

Masih soal video dan konten. Namun kini datang dari Aston Villa. Video baru perkenalan jersey The Villans terlihat berbeda karena dibintangi oleh personil band rock Black Sabbath, Ozzy Osbourne dan Geezer Butler. Fyi aja, dua personil Black Sabbath tersebut memang adalah fans Aston Villa sejak dulu. Dua rocker tersebut membuat fans Aston Villa terkejut dan puas. Para fans bahkan menganggap promo video jersey tersebut jadi yang terbaik selama ini.

KANE ABSEN SAAT REUNI DENGAN SPURS

Dari Inggris beralih ke Jerman. Pelatih baru Bayern Munchen, Vincent Kompany, mengkonfirmasi bahwa Harry Kane akan absen pada laga pramusim melawan Tottenham Hotspur pada tanggal 3 Agustus nanti di Korea Selatan. Kane masih menjalani fase istirahat selepas Euro 2024. Menurut Kompany, Kane kemungkinan baru bisa bermain di laga putaran pertama DFB Pokal pada 16 Agustus. Itu artinya, Kane juga akan absen di laga uji coba kedua melawan Spurs pada tanggal 10 Agustus.

PEMAIN INTER INI DIBANDING-BANDINGKAN DENGAN KLOSE DAN DZEKO

Dari Jerman kini beralih ke Italia. Belum apa-apa, striker baru Inter Milan, Mehdi Taremi sudah dibanding-bandingkan dengan Miroslav Klose dan Edin Dzeko. Menurut La Gazzetta dello Sport, secara usia dan penampilan, Taremi memiliki karakteristik yang hampir mirip dengan Klose dan Dzeko saat dilatih Simone Inzaghi. Klose di umur 33 tahun, dulu sempat dilatih Simone Inzaghi di Lazio dan masih bisa ciptakan 55 gol. Begitupun Edin Dzeko ketika dilatih Simone Inzaghi di Inter, dan masih bisa cetak 31 gol.

MANTAN REKAN NATHAN TJOE-A-ON JADI PENGGANTI ZIRKZEE DI BOLOGNA

Sementara itu kabar terbaru datang dari Bologna. Rossoblu resmi mendapatkan pengganti Joshua Zirkzee yang hengkang ke MU. Pemain itu bernama Thijs Dalingga. Pemain 23 tahun asal Belanda tersebut dibeli Bologna dari klub Prancis, Toulouse. Dalingga dibeli dengan mahar 15 juta euro dan dikontrak selama lima tahun. Dalingga dulu adalah mantan rekan pemain Timnas Indonesia, Nathan Tjoe-A-On. Nathan dan Dalingga pernah bermain bersama di klub Excelsior di Liga Dua Belanda musim 2021/22. Tercatat Nathan dan Dalingga pernah 15 kali bermain bersama.

MEDIA ITALIA KAGUM DENGAN NAMA PEMAIN TIMNAS U-19 INDONESIA

Lalu ada kabar menghebohkan dari sepakbola nasional. Media Italia, Italian Football TV atau IFTV terkejut dengan nama-nama punggawa Timnas Indonesia U-19 yang berlaga di ajang Piala AFF U-19 2024. Sebab nama-nama pemain Indonesia berbau mantan bintang Serie A. Sebut saja Arkhan Kaka, Figo Dennis, Alfharezzi Buffon, maupun Toni Firmansyah. IFTV bangga orang Indonesia ternyata kagum dengan para pemain Serie A zaman dulu. IFTV juga mengklaim bahwa bangsa Indonesia sangat mencintai sepakbola italia atau yang sering disebut Calcio.

TIMNAS CHINA LICIK, CARI VENUE YANG BISA MELELAHKAN TIMNAS INDONESIA

Sementara itu kabar terbaru datang dari babak ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026. Lawan Timnas Indonesia, China dilaporkan telah memindahkan venue laga melawan Indonesia pada tanggal 15 Oktober 2024 ke daerah Qingdao yang jaraknya 623 km dari ibu kota Beijing. Hal itu membuat Timnas Indonesia harus menempuh perjalanan yang agak melelahkan. Timnas Indonesia sendiri akan berangkat menuju bandara Qingdao pasca laga melawan Bahrain tanggal 10 Oktober 2024. Namun sebelum tiba di bandara Qingdao, timnas harus transit terlebih dulu di dua bandara, yakni Doha dan Hong Kong.

Dibalik Kebencian Real Madrid Kepada Super Agen Jorge Mendes

0

Sebagai sebuah klub tersukses di Eropa, seharusnya Real Madrid punya koneksi yang luas dengan para agen pemain. Koneksi itu nantinya akan berguna bagi Madrid untuk mendapatkan pemain-pemain yang diinginkan. Karena melalui agen Madrid bisa berkomunikasi dengan pemain incarannya.

Tapi, Madrid justru mem-blacklist Jorge Mendes dari daftar orang yang akan diajak negosiasi apabila mencari pemain baru. Hal tersebut cukup mengejutkan, mengingat sebelumnya Madrid dan Mendes memiliki hubungan spesial. Lantas, mengapa sekarang Madrid begitu anti dengan Mendes? 

Sosok Jorge Mendes

Sebelum membahas inti permasalahan, kita akan sedikit menilik latar belakang Jorge Mendes. Jika di sepakbola kita mengenal Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi, di dunia agen pemain, Jorge Mendes sama besarnya dengan mereka. Mendes adalah GOAT-nya para agen.

Mendes bahkan dijuluki sebagai super agent karena menangani banyak pemain bintang dan mampu meraup banyak untung dari bisnis negosiasi transfer pemain. Ketika jendela transfer Eropa dibuka, tak ada yang lebih sibuk dibanding pria yang bernama lengkap Jorge Paulo Agostinho Mendes itu.

Pada periode tersebut, telepon genggamnya terus berdering siang dan malam. Bersama agensi-nya, Gestifute, ia menangani lebih dari 100 kontrak pesepakbola yang tersebar di berbagai belahan dunia. Tapi untuk mencapai titik ini, Mendes telah melewati karir yang panjang nan berliku. 

Layaknya bocah Portugal pada umumnya, Mendes sebetulnya bercita-cita jadi pesepakbola profesional. Tapi karirnya tak berjalan dengan baik. Mendes baru mendapat kesempatan menjadi agen pada tahun 1996. Di sebuah kelab malam, dirinya bertemu dengan Nuno Espirito Santo yang kala itu masih bermain untuk Vitoria Guimaraes.

Saat itu, Nuno tidak memiliki agen dan kontraknya akan segera habis. Mendes pun menyarankan Nuno untuk bergabung dengan klub Spanyol, Deportivo La Coruna yang memang sedang mencari kiper baru.

Nuno akhirnya menerima tawaran tersebut. Pemain yang kini berkarir sebagai pelatih itu pun kemudian hijrah ke Deportivo dengan status free transfer. Ini adalah transaksi pertama Jorge Mendes sebagai agen. Setelah transaksi itu, lahirlah perusahaan Mendes yang bernama Gestifute. 

Hubungan Baik dengan Real Madrid

Dengan kelihaian Jorge Mendes dalam basa-basi dan bernegosiasi dengan klub-klub baik di Portugal maupun luar Portugal, Gestifute mampu berkembang pesat. Reputasi Jorge Mendes sebagai agen pemain semakin meningkat dari tahun ke tahun. Beberapa pemain bintang pun mulai memintanya untuk mengurus soal negosiasi dan rincian kontrak.

Tak cuma itu, layaknya klub sepakbola Mendes juga melakukan scouting dari turnamen ke turnamen lain. Dari situ, dirinya menemukan pemain-pemain yang dirasa memiliki nilai jual tinggi di kemudian hari. Tak heran, dari situ, Mendes mendapatkan klien muda potensial seperti Cristiano Ronaldo, Tiago Mendes, Deco, Simao Sabrosa dan masih banyak lagi.

Lantas, bagaimana Mendes akhirnya memiliki hubungan baik dengan klub sebesar Real Madrid? Transaksi pertama antara kedua belah pihak terjadi pada tahun 2007 saat Los Merengues meminati salah satu klien Mendes, yakni Pepe. Transaksi ini tercipta di era Real Madrid masih dipimpin oleh Ramon Calderon.

Kala itu, Pepe langsung nyetel bersama Madrid. Dirinya menampilkan performa apik saat mengawal lini belakang El Real. Laga El Clasico musim 2007/08 turut membuat Pepe menjadi salah satu ikon Real Madrid saat itu. Dengan first impression yang bagus, Mendes jadi orang pertama yang ditelpon petinggi Madrid apabila sedang mencari pemain bintang.

Madrid Sukses Besar 

Sejak kedatangan Pepe, makin banyak pemain yang berada di bawah naungan Jorge Mendes yang bergabung ke Real Madrid. Dari mulai Ezequiel Garay, Fábio Coentrão, Ricardo Carvalho, Angel Di Maria, James Rodriguez, dan masih banyak lagi. Belum termasuk pemain-pemain yang nyaris bergabung dengan Madrid.

Bahkan, kedatangan Jose Mourinho pada tahun 2010 adalah berkat kerja keras Jorge Mendes. Meski masih terikat kontrak dan baru meraih treble bersama Inter Milan, Mendes berhasil membujuk klub Serie A itu untuk melepaskan sang pelatih. Tentunya dengan kompensasi yang sesuai. 

Namun, dari sekian banyak pemain Jorge Mendes yang bergabung dengan Los Blancos, Cristiano Ronaldo jadi yang paling diingat oleh publik sepakbola. Kala itu, dengan 94 juta euro, Los Merengues menjadikan Ronaldo sebagai pemain termahal di dunia saat itu.

Hubungan baik antara Jorge Mendes dan Real Madrid terus berjalan meski jabatan presiden klub sudah diambil alih Florentino Perez. Bermodalkan pemain-pemain yang didapatkan dari Mendes, Perez membangun Galacticos jilid dua. Generasi itu menghasilkan belasan trofi. Bahkan pemain-pemain Mendes jadi bagian penting El Real saat meraih La Decima pada tahun 2014.

Gara-gara David De Gea

Nah, hubungan Jorge Mendes dan Real Madrid mulai ruwet pada tahun 2015. Kegagalan Madrid mendatangkan David De Gea dari Manchester United disinyalir jadi penyebab utamanya. Sang super agen itu mulai berselisih paham dengan Florentino Perez. Keduanya sama-sama menyalahkan satu sama lain.

De Gea jadi salah satu pemain yang paling diinginkan Madrid kala itu. Dan agen dari sang penjaga gawang adalah Jorge Mendes. Maka dari itu, Madrid percaya bahwa transfer ini seharusnya tidak akan berjalan sulit. Terlebih Manchester United sudah sepakat untuk melepas sang pemain.

Melansir World Soccer Talk, situasi itu justru membuat Madrid seenaknya. Mereka merasa semuanya akan beres jika ditangani Mendes. Sementara sang agen melihat Madrid sebagai klub yang sombong karena enggan turun tangan dalam transfer ini. Menurut laporan, tak ada satu pun wakil Madrid yang terbang ke Manchester untuk bernegosiasi dengan MU.

Meskipun pada akhirnya kesepakatan telah disetujui, Real Madrid tetap gagal mendapatkan De Gea karena keterlambatan memproses beberapa dokumen penting. Kabarnya, dokumen-dokumen tersebut hanya terlambat sepersekian detik setelah bursa transfer ditutup. Transfer pun gagal di detik-detik terakhir.

Real Madrid malah menyalahkan Mendes atas kasus ini. Namun, sebagai pihak yang terlibat lebih dalam di saga transfer ini, Jorge Mendes berbalik menyalahkan Florentino Perez dan Real Madrid. Mendes merasa Madrid tak serius dalam mengadakan negosiasi. Alhasil, Jorge Mendes mulai hilang respect pada klub Spanyol itu. 

2020 Mulai Dingin

Jorge Mendes pun mulai meminta pemain-pemainnya untuk hengkang dari Santiago Bernabeu. Berawal dari Fabio Coentrao yang langsung menyepakati peminjaman ke AS Monaco tahun 2015. Lalu Pepe langsung pindah ke Besiktas pada tahun 2017. Bahkan, Cristiano Ronaldo pun berhasil dibujuk untuk meninggalkan El Real pada tahun 2018. 

Yang terakhir, James Rodriguez akhirnya hengkang ke Everton tahun 2020 setelah sempat menjalani masa peminjaman ke Bayern Munchen. Dalam catatan Marca, sejak tahun 2007, tahun 2020 jadi kali pertama skuad Madrid tidak diperkuat satu pun pemain yang merupakan klien Jorge Mendes.

2024 Kembali Memanas

Setelah empat tahun sudah tidak berhubungan lagi, Jorge Mendes dan Real Madrid kembali bersinggungan pada tahun 2024. Ada dua momen yang membuat Madrid kembali berhubungan dengan musuh bebuyutannya itu. Yang pertama, saat Andriy Lunin memutuskan untuk menunjuk Gestifute sebagai agennya pada April lalu.

Keputusan Lunin untuk berganti agen tampaknya akan mempengaruhi nasibnya di Madrid. Negosiasi perpanjangan kontraknya diperkirakan akan batal karena Jorge Mendes pasti akan merekomendasikan Lunin untuk segera hengkang. Yang kedua, saat Madrid mengincar Leny Yoro yang merupakan klien Jorge Mendes di musim panas kali ini.

Para petinggi klub paham betul bahwa Yoro hanya ingin bermain untuk Madrid. Maka dari itu, Madrid bertahan pada tawaran 25 juta euro. Namun, dengan beraninya Mendes justru membujuk Yoro untuk menerima pinangan Manchester United. Itu membuat Florentino Perez naik pitam. Kini, Madrid sedang dalam upaya menyudahi segala bentuk kerjasama dengan Mendes.

Sumber: World Soccer Talk, Marca, Goal, Managing Madrid, Sport Detik

Tak Hanya Bertahan, Bek Timnas Indonesia Ini Juga Doyan Cetak Gol

0

Dalam beberapa tahun terakhir, Timnas Indonesia sedang krisis lini depan. Pemain diaspora yang didatangkan oleh PSSI pun kebanyakan pemain bertahan. Kita yang lihat sampai bosan dibuatnya. “Bek mulu, strikernya kapan?” Begitu kira-kira keluh kesah netizen Indonesia. Meski begitu, ternyata ada hikmah di balik krisis ini. 

Pemain-pemain lain pun akhirnya dituntut untuk aktif membantu serangan, tak terkecuali para bek. Akhirnya, skuad tim nasional tidak hanya dihuni oleh pemain belakang yang tangguh, tapi juga piawai dalam menciptakan peluang dan mencetak gol. Mau bukti? Simak ulasan selengkapnya. 

Jay Idzes

Bang Jay, begitu masyarakat Indonesia menyebutnya. Pemain yang memiliki nama asli Jay Noah Idzes itu jadi bek pertama yang dicap memiliki kemampuan untuk membantu lini serang Timnas Indonesia. Bahkan, dirinya pernah berkata siap dimainkan di mana pun. Jika Shin Tae-yong memintanya untuk menjadi striker bahkan kiper, dia siap.

Namun, akan aneh jadinya jika melihatnya bermain sebagai striker. Caranya untuk membantu lini serang Indonesia adalah dengan terlibat dalam skema bola mati. Entah itu sepakan pojok, atau tendangan bebas yang mengarah ke kotak penalti. Bang Jay bisa dijadikan target dalam skema-skema tersebut.

Berbekal postur tubuh setinggi 190 cm, Jay terlihat mencolok apabila berduel dengan pemain-pemain Asia. Apalagi Asia Tenggara. Itu dibuktikan di beberapa laga yang sudah dimainkan Idzes bersama Timnas Indonesia. Idzes terlihat sering memenangkan duel udara ketika sepakan pojok. Salah satu upayanya bahkan membuahkan gol di laga kontra Vietnam Maret lalu. Meski baru satu, gol-gol lain diperkirakan akan segera hadir dari Bang Jay.

Elkan Baggott

Kalau mau bicara soal postur tubuh, Indonesia memiliki sosok Elkan Baggot. Bek Ipswich Town itu memiliki tinggi badan sekitar 196 cm. Selain itu, postur tubuhnya juga tegap dan kekar. Atribut tersebut jadi salah satu keunggulan yang bisa dimanfaatkan oleh Timnas Indonesia. Dengan tinggi yang menjulang, dirinya bisa merepotkan pertahanan lawan.

Menghadapi tim-tim Asia Tenggara, Elkan dapat dengan mudah memenangkan duel udara. Salah satunya saat menghadapi Malaysia di Piala AFF 2020. Kala itu, Elkan menanduk bola hasil umpan sepak pojok Evan Dimas. Golnya melengkapi kemenangan dramatis 4-1 Indonesia atas Harimau Malaya.

Tak cuma jago duel udara, Elkan Baggot juga bisa diplot sebagai target man. Shin Tae-yong beberapa kali pernah mencobanya. Bahkan, cara itu dilakukan saat menghadapi Timnas Jepang di Piala Asia 2023. Meski tidak mencetak gol, pergerakan Elkan di sekitar pertahanan Jepang cukup mengancam. Gerak tipunya di kotak penalti bahkan membuat Sandy Walsh berhasil mencetak gol ke gawang Zion Suzuki.

Rizky Ridho

Menjadi arek Suroboyo asli tidak menghalangi Rizky Ridho untuk menjadi tulang punggung lini bertahan Timnas Indonesia di tengah gempuran pemain diaspora. Ridho tak pernah merasa minder. Ia justru semakin tertantang untuk membuktikan kualitasnya. 

Tak cuma piawai menjaga pertahanan, Ridho juga pandai dalam urusan distribusi bola dan membantu serangan. Sering kali Ridho terlibat dalam pola serangan yang dibangun oleh Skuad Garuda. Contohnya saja saat dirinya mencetak assist berkelas di gol Witan Sulaeman ke gawang Yordania saat berlaga di Piala Asia U-23. 

Selain itu, Ridho juga bisa jadi ancaman berbahaya jika berdiri di kotak penalti. Di ajang Kualifikasi Piala Dunia 2026, Ridho bahkan sudah mencetak tiga gol dari 11 pertandingan. Salah satu golnya dicetak ke gawang Filipina awal Juni kemarin. Itu jadi gol yang mengantarkan Indonesia ke ronde ketiga Kualifikasi Piala Dunia.

Pratama Arhan

Dari talenta Jawa Timur, kita bergeser ke putra daerah Jawa Tengah. Siapa lagi kalau bukan Pratama Arhan. Sebagai bek kiri modern, Arhan dituntut untuk bisa bertahan dan menyerang dengan sama baiknya. Tekel-tekel keras tapi akurat dan tusukan-tusukan ke kotak penalti lawan jadi ciri khas wong Mblora ini.

Arhan akan muncul di sekitar kotak penalti jika Indonesia dalam posisi menguasai bola. Dari situ, dirinya bisa melepaskan umpan silang atau membawa bola masuk lebih dalam ke kotak penalti. Jika tak memegang bola pun, kadang Arhan jadi pemain yang tiba-tiba muncul di depan gawang untuk menyambut bola. Sejauh ini, pemain Suwon FC itu sudah mencetak lima gol di semua tingkat usia tim nasional.

Tapi, dari sekian pergerakan dan gaya menyerang Arhan, lemparan ke dalamnya jadi yang paling berbahaya. Masih ingat Rory Delap? Ya, lemparan Arhan sebelas dua belas hebatnya dengan legenda Stoke City itu. Lemparan Arhan sering kali menjadi mimpi buruk kiper-kiper lawan. Bahkan, sebagian besar assist Arho tercatat melalui skema ini.

Komang Teguh

Dari Pulau Jawa, kita sedikit bergeser ke Pulau Bali. Di situ kita punya bek yang tak kalah produktif, yakni Komang Teguh. Di bawah asuhan Shin Tae-yong, Komang adalah pilihan wajib untuk mengisi lini bertahan Timnas Indonesia U-23. Komang juga masuk dalam skuad Indonesia yang menembus semifinal Piala Asia U-23.

Bek Borneo FC itu menunjukan performa menawan di kompetisi tersebut. Dalam pertandingan melawan Yordania, Komang Teguh turut serta dalam serangan Timnas Indonesia. Dirinya berhasil mencetak satu gol setelah menerima umpan dari Pratama Arhan. Golnya membantu Indonesia menang 4-1 di laga tersebut.

Sebelum melawan Yordania, Komang Teguh telah membantu Timnas Indonesia U-23 meraih kemenangan tipis 1-0 melawan Australia dengan gol sundulannya. Berbeda dengan kebanyakan pencetak gol, Komang Teguh membuktikan bahwa bek juga bisa menjadi andalan dalam mencetak gol bagi Timnas Indonesia U-23. Semoga, Komang bisa tembus skuad Timnas senior suatu saat nanti.

Kadek Arel

Tak cuma para pemain senior, bek-bek tim nasional U-19 juga mulai menunjukan kepiawaiannya dalam membantu lini serang. Itu terbukti di gelaran Piala AFF U-19 tahun ini. Dari beberapa pemain belakang yang dibawa Indra Sjafri, ada dua nama yang menarik perhatian. Salah satunya Kadek Arel.

Pemain Bali United ini tak tergantikan di lini bertahan Garuda Muda. Remaja kelahiran Bali itu bahkan dipercaya sebagai wakil kapten setelah Dony Tri Pamungkas. Kadek tipikal stopper yang sangat tenang dan lugas. Tak cuma itu, Kadek juga memiliki visi bermain yang sangat mengagumkan di usianya yang belum genap 20 tahun.

Selain bertugas menyapu bersih serangan lawan, Kadek juga dituntut Coach Indra untuk bisa membantu serangan. Pada momen-momen tertentu seperti lemparan ke dalam atau sepak pojok, ia berani merangsek ke kotak penalti lawan. Keputusan ini setidaknya sudah menghasilkan tiga gol kala menghadapi Filipina, Kamboja, dan Timor Leste. 

Iqbal Gwijangge 

Satunya lagi adalah Iqbal Gwijangge. Menariknya, meski secara perawakan Iqbal terlihat seperti pemain Papua, dirinya ternyata seorang bocah kelahiran Sumedang. Ia adalah anak dari Besinah Haluk, mantan atlet angkat besi yang berasal dari Jawa Barat. Anyway, sama halnya dengan Kadek Arel, Iqbal juga jadi andalan Indra Sjafri di Piala AFF U-19.

Tak kenal takut, cepat, dan percaya diri tinggi merupakan ciri khas Iqbal Gwijangge. Yang dimaksud tak kenal takut adalah begitu seringnya Iqbal meninggalkan posnya untuk membantu serangan. Orang-orang menyebutnya bek rasa striker.

Bagaimana tidak, serbuannya terhadap pertahanan lawan sering membuahkan hasil. Dalam pembantaian terhadap Filipina yang berakhir dengan skor 6-0, Iqbal bahkan menyumbang dua gol. Tak berhenti di situ, Iqbal kembali membuktikan ketajamannya saat melawan Kamboja. Ia mencetak satu gol dan membantu Timnas U-19 menang 2-0. Gol Kadek dan Iqbal masih bisa bertambah.

Sumber: Suara, Bola, Sport.Detik, Transfermarkt

Pablo Aimar, Sosok Paling Penting di Balik Kegemilangan Leo Messi

0

Ada dua nama penting yang harus ikut dibahas apabila kita membicarakan Lionel Messi. Dua nama tersebut bukanlah Diego Maradona dan Pep Guardiola, bukan juga Xavi Hernandez dan Andres Iniesta, apalagi Luis Suarez dan Neymar. Dua sosok tersebut adalah Pablo Aimar dan Juan Roman Riquelme.

Pablo Aimar dan Juan Roman Riquelme merupakan idola Leo Messi kecil. Pesepakbola kelahiran Rosario tahun 1987 tersebut menjadi saksi munculnya Aimar dan Riquelme di akhir dekade 1990-an. Keduanya bermain untuk dua klub yang saling membenci satu sama lain, yakni River Plate dan Boca Juniors.

Namun, dari keduanya, Pablo Aimar merupakan pemain yang memiliki banyak jasa bagi Leo Messi. Tak hanya menjadi inspirator untuk Leo kecil bermain bola, Aimar juga membantu Messi untuk meraih trofi. Lantas, seperti apa sosok bernama lengkap Pablo Cesar Aimar Giordano tersebut?

 

Memilih Jalan Sebagai Pesepakbola

Pablo Aimar lahir di Rio Cuarto, sebuah kota berjarak tempuh 7 jam ke arah barat Buenos Aires, pada 3 November 1979. Bakat Aimar kecil ditemukan oleh pelatih klub lokal saat dirinya sedang bermain bola di jalanan. Dilansir dari These Football Times, adalah Alfie Mercado, pelatih Estudiantes de Rio Cuarto, yang melihat teknik dribble yang unik dari Aimar. Tanpa pikir panjang, Aimar pun direkrut untuk bergabung dengan klubnya.

Dari klub lokal tersebutlah bakat Aimar mulai tercium oleh River Plate. Namun, sang ayah, Ricardo Aimar, menjadi penghalang pertama yang harus dieliminasi Aimar kecil. Sang ayah melarangnya untuk menjadi pesepakbola alih-alih untuk melanjutkan pendidikannya menjadi dokter. Namun, kecintaan Aimar kecil terhadap sepak bola mengalahkan semuanya.

Setelah mengikuti satu-dua kali sesi latihan bersama River Plate, Aimar muda memberanikan diri meminta Daniel Passarella untuk membujuk ayahnya agar Aimar diperbolehkan memilih jalan sebagai pesepakbola. Manusia bernama Daniel Passarella bukanlah bapak-bapak sembarangan. Beliau adalah kapten Timnas Argentina dengan dua gelar Piala Dunia. Beliau juga merupakan manusia Argentina pertama yang bisa mengangkat trofi Piala Dunia. Derajatnya jauh di atas Diego Maradona dan Lionel Messi.

Alhasil, Ricardo Aimar tak punya banyak pilihan di hadapan begawan sepak bola negaranya. Aimar muda kemudian diperbolehkan untuk tinggal lebih lama di Buenos Aires. Dari sinilah perjalanan pemain yang lebih pantas disebut penyihir ketimbang pesepakbola tersebut dimulai. El Mago akhirnya dipromosikan ke tim senior pada 1997.

Karirnya di River Plate bisa dibilang berjalan mulus dan apes dalam waktu yang bersamaan. Bermain untuk River Plate hingga 2001 dan cukup sering tampil di lapangan sehingga dikenal publik sepak bola kala itu, termasuk Leo kecil bisa melihat sihir-sihir yang dilakukannya. Sisi sialnya, di saat yang bersamaan, Aimar harus bersaing dengan Juan Roman Riquelme yang memborong 3 trofi Liga Argentina dan 2 trofi Copa America.

Meski begitu, berdasarkan catatan Transfermarkt, Aimar masih bisa menggondol 2 trofi Liga Argentina. Nantinya, giliran Aimar yang bakal bersinar. Karier Aimar di Eropa akan jauh lebih mentereng dari Riquelme. Meskipun secara kemampuan, keduanya jelas setara.

 

Hari-hari di Mestalla dan Idola di Benfica

Januari 2001, Pablo Aimar didatangkan oleh Valencia. Debutnya melawan Manchester United di Liga Champions langsung meraih pujian dari Johan Cruyff. Setengah musim pertamanya tersebut berhasil membantu Los Che tembus hingga final Liga Champions 2000/01. Sayang, mereka harus kalah dari Bayern Munchen melalui adu penalti.

Musim keduanya di Mestalla berakhir lebih manis. Di bawah asuhan Rafael Benitez, Pablo Aimar dan dua seniornya, Roberto Ayala dan Mauricio Pellegrino berhasil menyabet juara La Liga 2001/02. Tak cukup satu, dua musim kemudian, mereka juga meraih brace dengan menyabet La Liga 2003/04 dan trofi UEFA Cup. Bersama Valencia, El Mago tampil sebanyak 214 kali dengan mencetak 33 gol dan 49 assist.

Kepergian Rafa Benitez dari Mestalla dan cedera yang menyerangnya membuat performa Aimar menurun. Akhirnya, pada musim panas 2006, Aimar dijual ke Real Zaragoza. Dua musim bermain di La Romaleda, performa Aimar mulai menanjak lagi.

Dikutip dari Pandit Football, di paruh musim pertamanya, Aimar membawa Los Blanquillos berada di peringkat 4. Sayang, cederanya kambuh di pertengahan musim. Akhirnya, Real Zaragoza mengakhiri musim di peringkat 6. Setelahnya, Aimar pindah ke Portugal untuk bergabung dengan Benfica pada musim panas 2008.

Di Lisboa, El Mago menjadi idola baru. Sejak kedatangannya, Aimar membantu Benfica menyabet gelar Piala Portugal selama 4 musim beruntun. Satu trofi liga didapatkannya pada 2009/10. Sebuah gelar yang memutus 4 kali juara beruntun sang rival, FC Porto. Bahkan, pada musim 2012/13, Aimar hampir meraih trofi Europa League apabila mereka tidak kalah dari Chelsea di final.

Setelah dari Benfica, Aimar sempat bermain untuk Johor Darul Takzim selama semusim. Kemudian, kembali ke River Plate untuk bermain di sana dua musim lagi dan pensiun pada Juli 2015.

 

Argentina dan Lionel Messi

Sama seperti Juan Roman Riquelme, Pablo Aimar masuk dalam daftar pemain ketika Argentina menjadi juara Piala Dunia U20 1997. Bedanya, Aimar sudah masuk skuad Piala Dunia 2002 sementara Riquelme belum. Pada Piala Dunia 2006, Aimar dan Riquelme membimbing Leo Messi muda hingga perempat final yang berakhir dengan kekalahan menyakitkan lewat adu penalti melawan Jerman.

Pada Copa America 2007 keduanya kembali membimbing Leo Messi hingga final. Kali ini, Riquelme benar-benar menggendong Argentina. 5 golnya berhasil menjadikannya runner up pencetak gol terbanyak. Di final, Albiceleste harus takluk 3-0 dari Brazil. Sementara, pada Piala Dunia 2010, keduanya sudah tidak masuk ke daftar skuad. Sejak saat itu, nahkoda Albiceleste diambil oleh Leo Messi.

Hubungan Aimar dengan Messi tak berhenti sampai di situ. Pemain dengan 53 caps berseragam Tim Tango tersebut merupakan sosok yang memiliki tempat tersendiri di hati La Pulga. Dikutip dari Eurosport, saat Aimar mengumumkan gantung sepatu, Messi tak ragu memberi ucapan untuknya.

“Seorang pemain besar telah pensiun, dia adalah salah satu idolaku. Pablo Aimar, aku berharap yang terbaik untuk kehidupanmu setelah pensiun,” tulis La Pulga melalui akun Facebook-nya.

Setelah pensiun, pemain yang juga dikenal ramah senyum hingga dijuluki El Payaso atau Si Badut ini memilih jalan kepelatihan. Setelah setahun berkutat bersama tim junior Albiceleste, pada 2018 dirinya ditunjuk menjadi asisten tim senior, membantu Lionel Scaloni. Sejak saat itu, performa Albiceleste menanjak.

Doa yang ditulis Leo Messi tadi sepertinya terkabul, bersama Pablo Aimar, Argentina panen gelar. Albiceleste berhasil meraih trofi Copa America 2021 dan 2024, Piala Dunia 2022, serta Finalissima 2022.

Keberadaan El Mago sangat penting bagi karir Leo Messi. Tak hanya menginspirasi di masa belia, Aimar juga membantu Leo Messi dewasa meraih gelar-gelar yang sebelumnya selalu gagal didapatkannya.

Bahkan, Pablo Aimar pernah tertangkap kamera menangis haru ketika Leo Messi berhasil mencetak gol ke gawang Meksiko pada ajang Piala Dunia 2022.

https://youtu.be/4miHcUVzmMU

Sumber: These Football Times, Transfermarkt, Pandit Football, dan Eurosport

Siapa Riquelme? Idola Messi yang Membuatnya Ogah Lawan Indonesia

0

Selain mengidolai Pablo Aimar, satu orang yang sangat dikagumi oleh Lionel Messi adalah Juan Roman Riquelme. Mungkin nama-nama tersebut tidak sebesar Diego Maradona, tetapi kedua sosok tadi adalah pemain yang menginspirasi Leo kecil untuk bermain sepak bola. Riquelme adalah sosok yang bisa membuat Leo Messi melongo dan tak bisa berkata-kata.

Coba bayangkan, apabila Lionel Messi tidak pernah terinspirasi untuk bermain sepak bola dari Riquelme, pasti Mas Leo hanya akan menjadi mas-mas biasa saja di Argentina dan mungkin Cristiano Ronaldo yang akan menguasai sepak bola seorang diri. Oleh karena itu, kalian fans Lionel Messi harus berterima kasih sebanyak-banyaknya kepada the one and only, Juan Roman Riquelme.

Lantas, seperti apa sebenarnya sosok Juan Roman Riquelme? Sosok yang juga menjadi salah satu sebab Leo Messi ogah tampil melawan Timnas Indonesia tahun 2023 lalu.

 

Anak Muda yang Diperebutkan

Juan Roman Riquelme lahir pada tanggal 24 Juni 1978. Tanggal yang sama ketika 9 tahun kemudian di Rosario terlahir anak bernama Lionel Andres Messi. Riquelme lahir tepat sehari sebelum Argentina mengangkat trofi Piala Dunia 1978. Sebuah tanda ilahi bahwa dirinya akan menjadi bintang besar dalam sepak bola.

Sebagai warga San Fernando, kota berjarak setengah jam dari Buenos Aires, bakat Riquelme kecil langsung terendus oleh Argentinos Junior. Akhirnya, Riquelme kecil yang terlahir dari keluarga miskin memulai perjalanan yang akan mengubah nasib keluarganya selamanya. Riquelme bergabung dengan tim belia Argentinos Junior.

Setelah bergabung, bakatnya malah makin merekah dan harum. Tanpa basa-basi, dua klub paling mentereng di Argentina, Boca Juniors dan River Plate langsung memperebutkannya. Sebagai fans berat Boca Juniors, bergabung ke River Plate adalah pilihan terakhir dari sekian ribu klub sepak bola yang ada di dunia. Riquelme bergabung ke Boca pada tahun 1996.

Setelah bergabung, Riquelme pun dipanggil untuk Piala Dunia U20 1997 dan kemudian pulang dengan membawa trofi. Bersama Boca, Riquelme berhasil menaklukan Argentina dan Amerika Latin.

Tiga trofi Liga Argentina berturut-turut dari 1998 hingga 2000 serta dua trofi Copa Libertadores 1999/00 dan 2000/01 dibawanya pulang ke La Bombonera. Maka, dinobatkanlah Riquelme sebagai pemain terbaik Argentina 2000 dan 2001 serta kelak pada 2008 dan 2011.

 

Penuh Badai di Spanyol

Musim panas 2002, Riquelme mendarat di Barcelona. Dikutip dari HITC, kedatangan Riquelme adalah transfer politis manajemen Blaugrana untuk meredam kemarahan fans akibat kepergian Rivaldo. Riquelme bukan keinginan Van Gaal. Alhasil, Riquelme tak diperlakukan sebagaimana mestinya dan dimainkan sebagai winger alih-alih penyerang tengah.

Betul saja, karirnya hampir remuk di tangan Van Gaal. Meski akhirnya Van Gaal yang cabut lebih dulu dari Camp Nou, Riquelme tidak bisa mengembalikan performanya bersama Blaugrana. Legenda Barcelona, Hristo Stoichkov ikut mengomentari nasib Riquelme di Barcelona.

“Dia tidak sukses karena cara Van Gaal memainkannya di lapangan. Aku menyukai golnya, umpannya, permainannya, dan triknya, tetapi ketika kamu ingin mengubah anggur menjadi apel, itu tidak akan mungkin,” ucap Stoichkov via Marca.

Tempatnya di Barcelona semakin tersingkir ketika Ronaldinho merapat ke Catalan. Seperti yang dikutip dari Football History, akhirnya Riquelme dipinjamkan selama dua musim ke Villarreal. Bersama Kapal Selam Kuning, performa Riquelme membaik, meskipun tak akan kembali seperti semula. Pengalamannya di Barcelona seakan merenggut sebagian kemampuan dari Riquelme. Sebagian kemampuan yang mungkin ditumbalkannya untuk Lionel Messi.

Bersama El Madrigal, Riquelme menjalani musim yang cukup baik. Berhasil membantu Villarreal tembus hingga semifinal UEFA Cup 2003/04 dan finis di peringkat ketiga La Liga pada musim 2004/05 dengan torehan 16 gol. Di musim selanjutnya, Riquelme dan Villarreal makin menggila dengan tembus ke fase semifinal Liga Champions 2005/06. Mereka hanya kalah dengan agregat 1-0 lawan Arsenal.

Meski pada musim panas 2005 dirinya dikontrak oleh Villarreal, karirnya di Spanyol tidak bertahan lama setelah Riquelme memilih pulang ke Argentina mulai Februari 2007. Riquelme pulang ke Boca untuk meraih beberapa gelar dan kemudian menutup karir di Argentinos Junior.

 

Argentina dan Maradona

Piala Dunia 2006 adalah ajang Piala Dunia satu-satunya yang diikuti oleh Riquelme. Pada edisi tersebut, Argentina terhenti di perempat final. Mereka dihentikan oleh tuan rumah, Jerman, lewat adu penalti.

Setelah gagal di Piala Dunia, Riquelme menggendong Argentina pada Copa America 2007. Riquelme berhasil mencetak 5 gol, satu gol di bawah top scorer kala itu, Robinho. Performa apik Riquelme bersama Argentina harus pupus dengan menyakitkan setelah mereka harus kalah di final melawan Brazil dengan skor 3-0.

Dua kegagalan yang dirasakannya tadi sedikit terobati setelah Riquelme membantu kontingen Argentina merebut medali emas Olimpiade 2008 di Beijing. Riquelme menjadi pemain senior yang ikut ke skuad tersebut bersama Javier Mascherano dan Nicolas Pareja.

Pada kompetisi ini, Riquelme berhasil membantu Lionel Messi meraih trofi pertamanya bersama Argentina. Kelak, giliran Pablo Aimar, idola lain dari King Leo yang ikut membantu memberikan trofi Copa America dan Piala Dunia.

Jika kalian bertanya, mengapa Riquelme disebut pemain hebat tapi cuma pernah sekali bermain di Piala Dunia? Maka, Diego Maradona adalah jawabannya. Pada 2009, Riquelme dan Maradona berkonflik. Kedua bintang paling bersinar dari Boca Juniors tersebut membuat Argentina geger.

“Kami tidak berpikir sejalan. Kami tidak memiliki kode etik yang sama. Selama dia melatih tim nasional, kami tidak bisa bekerja bersama,” ujar Riquelme terkait konfliknya dengan Maradona via Telegraph.

Riquelme kecewa atas keputusan Maradona tidak memanggilnya di pertandingan melawan Prancis pada 11 Februari 2009. Kekecewaan dan ketidakcocokannya terhadap Maradona membuatnya memilih pensiun dari Albiceleste.

Kabar pensiun Riquelme jelas memukul banyak pemain, tak terkecuali Leo Messi. Andaikan Riquelme ada dalam skuad Piala Dunia 2010, bukan tidak mungkin Leo Messi bisa meraih trofi Piala Dunia 12 tahun lebih awal.

 

Hubungannya dengan Messi

Menurut cerita mantan agen Leo Messi, Josep Minguella, Leo Messi pernah starstruck di hadapan sang idola. Dikutip dari Detik, Josep Minguella pernah melihat Leo melongo melihat Riquelme. Aura La Pulga seakan mengecil di hadapan Riquelme.

“Kadang-kadang Leo datang untuk ikut pesta barbeque dan saya ingat suatu ketika ada Riquelme, Rochemback, Motta, dan beberapa pemain lain datang. Saya masih bisa melihat Leo duduk memandang Riquelme, seolah-olah dia memandang Yesus Kristus,” tulis Minguella dalam kolomnya, dikutip dari Detik.

Ada kisah bagus yang harus kalian tahu. Masih ingat ketika King Leo menjebol gawang Belanda di perempat final Piala Dunia 2022, dan melakukan sebuah selebrasi di depan bench Belanda dengan mengangkat kedua tangan di kedua kupingnya? Jika masih ingat, maka kamu harus tahu arti dari selebrasi tersebut.

Selebrasi tersebut adalah selebrasi khas Riquelme. King Leo melakukannya di depan bench Belanda bukan tanpa tujuan. Ini adalah sebuah pembalasan dendam. Leo Messi tak terima dengan apa yang telah dilakukan Van Gaal kepada Riquelme di Barcelona.

Dilansir dari Essensially Sport, King Leo mengkonfirmasi makna selebrasinya tersebut dalam mini seri berjudul “Captain of The World” yang ditayangkan via Netflix. Seperti dugaan sebelumnya, selebrasi tersebut memanglah sebuah balas dendam untuk Riquelme. Melalui selebrasi tersebut, King Leo seakan memberi pesan, “Kalian boleh saja mengusikku, tapi jangan sedikitpun berani-berani mengusik idolaku.” Ngeriii!

Satu kisah terakhir mungkin akan membuat kalian sedikit jengkel. Kalian tahu kenapa Leo Messi menolak datang ke Indonesia untuk menghadapi Tim Garuda pada Juni 2023 lalu? Jawabannya bisa jadi karena the one and only, Juan Roman Riquelme.

Setelah sebelumnya Leo Messi bertandang ke China untuk melawan Australia, King Leo ogah lanjut melawat ke Indonesia. Bisa jadi, King Leo sedang fokus menyiapkan tenaga untuk laga testimonial Riquelme pada 25 Juni 2023 alias 6 hari setelah laga Argentina melawan Tim Garuda.

Laga tersebut tentunya spesial bagi King Leo. Sebab, pada laga tersebut Messi tidak hanya akan merasakan tampil di atas lapangan yang sama dengan Riquelme, namun juga idolanya yang lain, Pablo Aimar. Seperti dikutip dari Sporting News, pada laga tersebut King Leo akan bermain satu tim dengan Aimar dan nama-nama legendaris lain seperti Gabriel Ivan Heinze, Ariel Ortega, hingga Roberto Ayala.

https://youtu.be/vlv_8KzVPmM

Sumber: Transfermarkt, HITC, Marca, Football History, Telegraph, Detik, Essentially Sport, dan Sporting News  

Pemain Ini Mulai Kariernya di EFL Championship

Bursa transfer pemain sudah dimulai. Tak hanya mendatangkan pemain top yang sudah bersinar, klub-klub top Premier League juga biasanya mencari pemain muda berbakat dari liga-liga yang levelnya lebih rendah darinya. Salah satunya adalah Championship. Liga level dua, setingkat di bawah Premier League.

Klub-klub Premier League termasuk hobi mendatangkan pemain-pemain yang pernah mentas di Championship. Seperti yang dikutip dari The Athletic, Championship menghasilkan pemain top yang mana mereka bermain di sana pada awal karirnya

Oleh karena itu, wajar jika divisi ini akan selalu dipantau saat musim transfer tiba. Lantas, siapa saja lulusan Championship yang akhirnya menjadi pemain elit di Premier League? 

 

Kyle Walker

Pada musim panas 2008, Kyle Walker dipromosikan ke skuad senior Sheffield United dan langsung dipinjamkan ke Northampton yang kala itu bermain di League One. Namun, peminjaman tersebut hanya berjalan setengah musim. Sebab, pada Januari 2009 Walker ditarik pulang ke Bramall Lane berkat performa apiknya bersama Northampton.

Setelahnya, Walker hampir membantu Sheffield United promosi ke Premier League jika mereka tak kalah di final play off melawan Burnley di Wembley. Kala itu, Sheffield United kalah tipis berkat gol semata wayang Wade Elliott. Berkat performa apiknya tersebut Walker langsung dipinang Tottenham Hotspur.

Meskipun sudah dipinang oleh Spurs, Walker masih dipinjamkan selama setengah musim lagi ke Bramall Lane. Total, Walker bermain sebanyak 35 kali berseragam The Blades dan mencetak 4 assist.

 

Kieran Trippier

Kieran Trippier memang merupakan lulusan dari akademi Manchester City. Namun, warga lokal Manchester Raya tersebut memulai semua pencapaian yang telah diraihnya dari Championship. Divisi level dua tersebut adalah tempat Trippier belajar.

Menurut catatan Transfermarkt, Trippier muda dipinjamkan ke Barnsley pada Februari 2010. Setelah dipromosikan ke Manchester City pada 2009, Trippier tidak banyak mendapatkan kesempatan untuk bermain. Roberto Mancini yang kala itu menukangi The Citizens, meminjamkannya ke liga level dua untuk mendapatkan bermain.

Setengah musim pertamanya di Barnsley tidak berbuah banyak kesempatan untuknya. Lalu, pada musim panas 2010, Barnsley kembali meminjamnya dari Mancini. Barulah di musim 2010/11 ini Trippier mulai mendapatkan menit bermain yang cukup reguler.

Pemain yang kala itu berusia 20 tahun tersebut bermain 36 kali atau sekitar 3281 menit di Championship 2010/11. Trippier juga mencetak 2 gol dan 6 assist. Performa apiknya ini giliran membuat Burnley tertarik untuk meminjamnya dari The Blue Moon. Musim selanjutnya, Trippier bermain ke Burnley, kota yang hanya berjarak sekitar 45 menit dari Manchester.

Pada tengah musim pertamanya, Trippier langsung dipermanenkan. Trippier bermain selama 4 musim di Burnley. Pada musim 2013/14 Burnley berhasil promosi dan 2014/15 adalah musim pertama Trippier di Premier League dan musim terakhirnya bersama Burnley sebelum pindah ke Tottenham Hotspur di musim berikutnya. Total, 185 laga telah dijalaninya bersama The Clarets

 

John Stones

Sebagai pemuda lokal, John Stone mengawali karirnya bersama Barnsley. Setelah debut di Championship pada umur 17 tahun di musim 2011/12, John Stone total bermain 24 kali di Championship. Bakatnya yang diendus oleh Everton, membuat The Toffees yang kala itu diasuh David Moyes tak pikir panjang untuk memboyongnya.

Pada Januari 2013, Everton merampungkan transfer John Stone dari Barnsley. Dilansir dari BBC, transfer John Stones memakan biaya sekitar 3 juta pounds. Nilai tersebut masih bertambah untuk Barnsley. Seperti yang dikutip dari Eurosport, Barnsley masih mendapatkan uang sekitar 6,6 juta pounds dari penjualan John Stone ke Manchester City.


Jack Grealish

Produk asli Birmingham, Jack Grealish memancarkan sinar cerahnya saat dirinya bermain di Championship. Meskipun sempat bermain di Premier League dari 2013 hingga 2016 sebagai pemain pelapis di Aston Villa, keran gol dan kegemilangannya baru dimulai ketika mereka terdegradasi ke Championship.

Aston Villa harus berjuang selama 3 musim untuk bisa kembali ke Premier League. Andai pada laga final play off 2017/18 mereka menang melawan Fulham, The Lions hanya butuh 2 musim saja untuk kembali ke Premier League.

Namun, 3 musim The Lions di Championship adalah berkah bagi Jack Grealish untuk mengasah kemampuannya. Total, 14 gol dan 19 assist dicetak Grealish selama 95 kali berlaga di Championship dan play off menuju Premier League. Dikutip dari Yahoo Sport, talenta dan konsistensinya adalah modal Grealish di Championship.


Jarrod Bowen

West Ham akhirnya mengakhiri puasa gelarnya selama puluhan tahun berkat gol Jarrod Bowen di final Conference League 2022/23. Bowen adalah pembelian paling penting David Moyes di West Ham. Bowen didatangkan pada Januari 2020.

Performa briliannya bersama Hull di Championship adalah alasan utama The Hammers menggaetnya. Bermain untuk Hull City sejak 2016, pemain lulusan Hereford United tersebut bermain sebanyak 117 kali serta menorehkan 52 gol dan 12 assist di Championship. Edan! 

 

Ollie Watkins

Setelah tampil apik di League Two bersama Exeter City selama 4 musim. Brentford yang kala itu bermain di Championship mendatangkannya sebagai juru gedor. Brentford hanya merogoh kocek 1,8 juta pounds saja untuk mendatangkan pemuda yang kala itu berusia 22 tahun pada musim 2017/18.

Uang receh yang dikeluarkan Brentford kepada Exeter City ternyata menghasilkan untung besar. Selama 3 musim bermain di Championship, Watkins menunjukkan kepada publik sepak bola Inggris bahwa Brentford telah membeli monster. Bagaimana tidak? Selama 3 musim tersebut 46 gol dan 16 assist diciptanya hanya dalam 135 laga di Championship dan play off Premier League.

Akhirnya, investasi Brentford terhadap Watkins berbuah hasil ketika striker Tim Tiga Singa tersebut diboyong Aston Villa. Dilansir dari BBC, Watkins dibayar oleh Aston Villa sebesar 28 juta pounds pada musim panas 2020. Nilai yang naik 15 kali lipat dari biaya yang dikeluarkan untuk kedatangannya.

 

Eberechi Eze

Performa apiknya di Championship membuat Eberiche Eze dilirik oleh tim-tim di Premier League. Adalah Crystal Palace, klub yang akhirnya bisa memboyongnya ke Premier League dari Queens Park Rangers. Eze berpindah dari London Barat ke London Selatan pada musim panas 2020.

Selama bermain di Championship sejak musim 2017/18, Eze telah mencetak 20 gol dan 13 assist. 14 gol dan 8 assist-nya dicetak pada musim terakhirnya di Championship. Musim 2019/20 adalah musim ketika Eze tampil menggila. Performa briliannya pada musim tersebut itulah yang membukakan jalan untuk bisa unjuk gigi di Premier League. 

 

Jude Bellingham

Sebagai bonus, kita harus juga membahas Jude Bellingham. Meskipun hingga saat ini dirinya belum pernah mentas di Premier League. Megabintang Timnas Inggris tersebut dipromosikan dari tim junior Birmingham City ke tim utama pada musim panas 2019, ketika pemuda lokal Birmingham itu baru genap berusia 16 tahun.

Meskipun begitu, pada satu-satunya musim yang dijalaninya di Championship, Bellingham langsung menjelma sebagai pilar penting Birmingham City. Pemuda berumur 16 tahun tersebut bermain sebanyak 41 kali serta mencetak 4 gol dan 2 assist.

Tak kurang, 2709 menit telah Bellingham habiskan di Championship. Waktu yang apabila dijumlahkan belum setara dengan 2 hari. Namun, waktu yang singkat tersebut adalah pelajaran berharga yang menjadi bekal bagi Bellingham untuk menaklukan dunia.

 

Sumber: The Athletic, Yahoo Sport, Transfermarkt, BBC, dan Euro Sport