Beranda blog Halaman 138

Stop Buru Pemain Lagi, Ini Real Madrid Serius?

0

Real Madrid dikabarkan angkat tangan dari perburuan pemain di bursa transfer musim panas ini. Dikabarkan oleh ESPN, Carlo Ancelotti telah memberi konfirmasi atas masalah tersebut. Kedatangan Kylian Mbappe dan Endrick sudah dianggap cukup oleh Don Carlo.

“Saya tidak membahas soal kedatangan pemain, tetapi saya sudah mengatakan bahwa semuanya sudah berakhir,” ujar Ancelotti, dilansir dari One Football.

“Kami tidak mendatangkan siapapun, kami baik-baik saja saat ini. Tidak ada pemain yang akan keluar, semuanya ingin bertahan,” tambah pelatih dengan 5 titel Champions League tersebut.

Kabar tersebut mungkin akan membuat fans dari beberapa klub girang, misalnya Liverpool. Berakhirnya perburuan Madrid akan membuat Trent Alexander-Arnold yang diisukan akan dipinang Madrid bisa bertahan lebih lama di Anfield. Lantas, apakah keputusan untuk tidak menambah pemain ini adalah keputusan yang tepat?

 

Galacticos, Bikin Kepala Pusing Gak, Bos?

Kedatangan Kylian Mbappe dan Endrick jelas akan memaksa Carlo Ancelotti berpikir sangat keras. Untuk kasus Endrick, Don Carlo mungkin tidak akan ambil pusing. Pemuda yang baru berumur 18 tahun tersebut masih perlu untuk meningkatkan kualitas individualnya untuk bisa menembus skuad Los Galacticos. Sementara, untuk Kylian Mbappe?

Kehadiran mega bintang asal Prancis tersebut jelas menambah opsi penyerangan yang bisa dimainkan oleh Don Carlo. Masalahnya, semua opsi yang dimilikinya adalah pemain kelas elit yang sama-sama pantas untuk masuk skuad utama Los Galacticos. Kylian Mbappe, Vinicius Junior, Rodrygo, dan Jude Bellingham.

Dua nama terakhir, mungkin aman karena mereka adalah nama-nama paling top di posisinya masing-masing. Namun, Mbappe dan Vini merupakan pemain yang secara natural bermain di posisi yang sama: sayap kiri. Jelas sebuah perilaku mubazir apabila salah satu dari mereka tidak dimainkan.

Ini adalah masalah pertama bagi Don Carlo. Empunya sepak bola Eropa tersebut harus mampu menduetkan nama-nama besar yang kini berada di bawah asuhannya. Namun, sebelum jauh membahas soal kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada skuad mewah Real Madrid musim ini, ada baiknya kita mundur ke awal dekade 2000-an pada musim 2002/03.

Saat Don Carlo, seorang fans berat Inter, menukangi AC Milan, dirinya punya masalah serupa dengan yang kini, 2 dekade kemudian, dihadapinya lagi. Kala itu, Don Carlo hanya punya 3 slot di lini tengah, namun di San Siro ada beberapa gelandang yang namanya bisa membuat lawan gentar: Rui Costa, Rivaldo, Clarence Seedorf, Gennaro Gattuso, Andrea Pirlo, dan Ricardo Kaka.

Dilansir dari The Athletic, dalam bukunya berjudul Quite Leadership, Don Carlo bercerita, “Kami mengatasinya dengan formasi diamond, di mana Pirlo dan Kaka saling bertukar posisi. Pirlo lebih ke dalam, Kaka lebih ke depan Skema 4-4-2 diamond tersebut mengubah kaka menjadi pemain terbaik di dunia.”

Don Carlo sejak musim itu memasang 3 pemain tengah plus 1 pemain di nomor 10, tanpa winger murni. Rui Costa memimpin serangan di gelandang serang, Gattuso mencekik siapapun yang lewat di belakang, serta Pirlo dan Kaka yang saling melengkapi. Hasilnya, sebuah trofi Champions League diraihnya di akhir musim dan kelak, skema tersebut pula yang mengubah Kaka menjadi pemain terbaik di dunia.

Oleh karena itu, kasus Mbappe seharusnya bukan masalah berarti bagi Don Carlo. Pada wawancara bersama John Obi Mikel, Don Carlo menanggapi permasalahan ini dengan santai, “Memasukkan Mbappe ke dalam tim bukanlah sebuah masalah. Perlu diingat, dia telah mengatakan akan beradaptasi dengan tim. Kuncinya, setiap pemain harus berkontribusi melalui talenta dan kualitasnya agar berguna untuk tim.”

Dikutip dari Sky Sport, jurnalis sepak bola Spanyol, Semra Hunter, menyebutkan bahwa sisi kiri sepertinya akan menjadi posisi Vinicius Junior. Artinya, satu-satunya posisi yang mungkin akan diisi oleh Mbappe adalah penyerang tengah. Los Merengues bisa memasang formasi 4-3-3 dengan Bellingham di posisi nomor 10, Vini di kiri, Rodrygo ataupun Arda Guler di kanan, dan Mbappe yang di-backup Juanmi Latasa dan Endrick di tengah.

Mbappe sendiri pun merupakan pemain yang fleksibel. Berdasarkan ulasan The Athletic, musim 2023/24 lalu, Mbappe banyak mencetak gol di dalam kotak penalti. Sebab, meskipun dimainkan oleh Paris Saint Germain sebagai sayap kiri, Mbappe diberi keleluasaan untuk ikut masuk ke dalam kotak penalti. Oleh karena itu, harusnya Mbappe akan beradaptasi dengan mudah jika dirinya benar-benar diplot pada posisi nomor 9 di Real Madrid.

Selanjutnya, di tengah Los Merengues masih harus berpikir lagi untuk mencari penerus Toni Kroos. Sebenarnya, untuk posisi tengah ini tidak akan menjadi urusan yang sulit bagi Don Carlo. Sebab, meskipun musim lalu Kroos masih di Bernabeu musim lalu, mereka sudah mulai mencoba bermain tanpa dirinya dan Luka Modric. Hasilnya? Tidak seburuk yang dibayangkan.

 

Lini Belakang yang Ala Kadarnya

Posisi di lini belakang, khususnya di bagian tengah, sebenarnya cukup riskan. Sementara, mereka hanya punya 4 bek tengah: Antonio Rudiger, Jesus Vallejo, David Alaba, dan Eder Militao. Sebab, Rafa Marin dan Nacho tidak akan bermarkas di Santiago Bernabeu musim ini. Parahnya, musim lalu David Alaba harus menepi karena cedera. 

Ini adalah lini paling rawan yang dimiliki Los Merengues. Namun, Don Carlo tidak terlalu menganggapnya sebagai suatu masalah yang berat. Dirinya yakin bahwa apa yang dimilikinya saat ini sudah cukup untuk mengarungi musim 2024/25.

“Skuad sudah aman. Vallejo kembali, Alaba sedang pemulihan. Kami punya bek tengah muda macam Joan, Jacobo, dan Raul yang sudah ikut berlatih dan punya kualitas. Saya yakin kami sudah cukup untuk posisi ini,” ujar Don Carlo via ESPN.

Tampaknya, Los Merengues akan kembali mencoba mengorbitkan pemain-pemain La Fabrica. Akademi yang menghasilkan nama-nama beken macam Raul Gonzalez, Iker Casillas, Jose Maria Guti, hingga Juan Mata. Mungkin kita akan kembali melihat Los Merengues dengan produk-produk yang dihasilkannya, seperti dahulu kala.

 

Ada Campur Tangan Florentino Perez?

Apakah angkat tangannya Don Carlo dari perburuan pemain di bursa transfer ada kaitannya dengan Florentino Perez? Bisa jadi ada. Dikutip dari VOI, Real Madrid dinilai salah dalam menentukan prioritas. Florentino Perez dinilai memiliki visi yang buruk sehingga lebih mementingkan pemain depan alih-alih menambal pemain belakang.

Mungkin keputusan yang dilakukan oleh Don Carlo ini merupakan bentuk protes terhadap kebijakan sang presiden. Los Merengues sendiri musim ini akan bermain lebih banyak dari musim lalu. Sebab, Champions League musim ini, dengan format barunya, akan memiliki jumlah laga yang lebih banyak.

Bisa saja mereka akan memulai musim dengan skuad seadanya dan di tengah musim akan mulai menambal posisi-posisi yang perlu ditambal. Bukan tak mungkin jika ini juga merupakan strategi tersendiri dari Don Carlo untuk membuat skuadnya lebih efektif dan efisien.

https://youtu.be/zCShYr50pLo

Sumber: ESPN, One Football, The Athletic, The Obi One Podcast, Sky Sport, dan VOI 

Thailand Panik! Dominasinya Diacak-acak Timnas Indonesia

0

Indonesia sulit mengalahkan Thailand? Ah, itu mungkin dulu. Indra Sjafri telah membuktikan bahwa Gajah Perang adalah tim yang remeh. Usai mengalahkan Thailand di SEA Games 2023 lalu, Indra kembali membawa Indonesia menumpas Thailand di partai puncak, kali ini di ajang Piala AFF U-19.

Tentu saja, ini membuat Thailand kepanasan. Kekalahan di Gelora Bung Tomo, Thailand merasa dicabik-cabik harga dirinya. Mereka kabarnya tak terima dan masih menganggap Indonesia belum bisa menyamai level Gajah Perang. Ide mengundang Indonesia ke turnamen King’s Cup pun muncul lagi.

Melalui turnamen tersebut, Thailand ingin menguji sejauh mana kekuatan Indonesia, untuk kesekian kalinya. Tapi, sepenting apa sih turnamen tersebut bagi Indonesia?

Indonesia Semakin Melesat

Harus diakui, Indonesia selalu kesulitan menghadapi Thailand. Dari segala level, mau itu kelompok umur atau, apalagi tim senior. Namun, dalam sekitar dua tahun terakhir, Indonesia mulai bisa mengatasi perlawanan Thailand, setidaknya di level kelompok umur. Kemenangan Indonesia di perebutan medali emas SEA Games tahun lalu dan Piala AFF U-19 kemarin contohnya.

Di level senior, Indonesia belum bisa mengalahkan Thailand. Sekalipun saat ditangani oleh Shin Tae-yong. Pelatih berpaspor Korea Selatan hanya bisa menahan imbang Thailand. Namun, belum bisa mengalahkan Thailand tidak sama artinya dengan tak sanggup mengejar pencapaian Gajah Perang.

Nyatanya, Indonesia bisa kok melakukannya. Lihat saja di Piala Asia 2023 lalu. Di Piala Asia U-23, Indonesia bahkan bisa mencapai semifinal. Hal yang bahkan tidak pernah bisa dilakukan oleh Timnas Thailand U-23. Di Kualifikasi Piala Dunia 2026, Indonesia juga mengungguli Thailand.

Saat tim Gajah Perang tak sanggup lolos ke putaran ketiga, pasukan Shin Tae-yong bisa melakukannya. Bahkan Indonesia adalah satu-satunya negara yang lolos ke putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Selain itu, di ranking FIFA, Indonesia bisa naik ke peringkat 133, sedangkan Thailand malah merosot ke posisi 101.

Thailand Merasa Tersaingi

Saking malunya gagal ke putaran ketiga, Presiden Asosiasi Sepak Bola Thailand (FAT), Nualphan Lamsam, atau yang sering dikenal sebagai Madam Pang menangis. Sambil mengusap air matanya, wanita berusia 58 tahun itu meminta maaf kepada para penggemar dan seluruh masyarakat usai Thailand dipastikan gagal ke babak ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026.

Pada laga melawan Singapura yang digelar di kandang sendiri, Stadion Nasional Rajamangala, Bangkok, Thailand, Madam Pang langsung turun ke lapangan usai peluit panjang dibunyikan. Dirinya berusaha menghibur pemain Skuad Gajah Perang usai dipastikan tidak lolos ke fase berikutnya. 

Thailand sebetulnya berhasil menumbangkan Singapura dengan skor 3-1 pada laga pamungkas penyisihan Grup C ronde kedua Kualifikasi kedua Piala Dunia 2026 zona Asia. Namun, Thailand harus kalah head to head dari China pada klasemen akhir. Kalah dan melihat Indonesia yang justru menjadi satu-satunya wakil Asia Tenggara di ronde ketiga membuat FAT kecewa. 

Mereka merasa bahwa tak seharusnya Thailand berada di bawah bayang-bayang Indonesia. Mengingat di tahun-tahun sebelumnya, Teerasil Dangda dan kolega selalu unggul dari Indonesia. Apalagi jika tolok ukurnya se-Asia Tenggara, Thailand adalah rajanya sepakbola ASEAN dalam beberapa tahun terakhir.

Thailand vs Indonesia

Hingga saat ini, Thailand masih jadi yang terbanyak soal koleksi gelar Piala AFF. Dari 14 kali penyelenggaraan, mereka berhasil menjuarainya sebanyak tujuh kali. Bahkan, empat dari lima edisi AFF terakhir selalu dimenangkan oleh Thailand. Tahun 2018, Vietnam yang juara. Itu mencegah Thailand untuk meraih gelar Piala AFF lima kali secara beruntun.

Sementara Indonesia, belum pernah menggondol gelar Piala AFF. Bahkan, ketika sudah ditangani Shin Tae-yong. Di kelompok umur pun demikian, sejak tahun 2002, Thailand telah mengoleksi lima gelar Piala AFF U-19, sedangkan Indonesia baru dua kali. Gap antara keduanya sudah terlihat jelas.

Tak cuma soal gelar, secara head to head pun Skuad Gajah Perang menang telak atas Skuad Garuda. Melansir situs 11v11.com, sejak tahun 2000 Indonesia hanya menang tiga kali dari 15 kali pertemuan dengan Thailand. Mirisnya, kemenangan terakhir Indonesia atas Thailand terjadi delapan tahun lalu, tepatnya di Piala AFF 2016.

Soal mencapai putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia pun, Thailand sudah lebih dulu merasakannya. Pencapaian itu tercipta saat Kualifikasi Piala Dunia 2018. Bahkan, kala itu Thailand berhasil lolos ke putaran ketiga sebagai juara Grup F di ronde kedua. Mereka melangkahi Irak, Vietnam, dan China Taipei.

Sayangnya, kiprah mereka di putaran ketiga sangat buruk. Tergabung di Grup B bersama Jepang, Arab Saudi, Australia, Uni Emirates Arab, dan Irak, Thailand babak belur dihajar negara-negara langganan Piala Dunia. Thailand mengakhiri perjuangannya sebagai juru kunci Grup B dengan hanya mengumpulkan dua poin.

Adu Kekuatan di Kings Cup 2024?

Tapi tenang, pertemuan terakhir kedua tim terjadi pada tahun 2022. Di era itu, Indonesia masih transisi. Skuad Garuda belum berisikan pemain-pemain diaspora Grade A seperti sekarang. Yang bikin gemes, ketika kualitas permainan dan materi pemain Timnas Indonesia sudah jauh membaik, kita tak kunjung bertemu Thailand. Ketemunya Vietnam mulu, bosen.

Di sisi lain, perasaan yang sama barangkali muncul di pikiran federasi sepakbola Thailand. Tak kunjung bertemu membuat Thailand penasaran dengan kekuatan Indonesia sekarang. Maka dari itu, mengutip media Vietnam, Pha Pluat, ada wacana yang beredar bahwa Thailand akan mengundang Indonesia ke turnamen Kings Cup.

Turnamen Kings Cup merupakan agenda tahunan di Thailand. Formatnya cukup unik, biasanya hanya diikuti oleh empat tim nasional termasuk Thailand. Menariknya, dua dari tiga lawan Thailand harus negara dengan ranking 100 besar FIFA. Sementara satu peserta lainnya harus dari Asia atau ASEAN. Seperti contohnya tahun lalu, Thailand mengundang Lebanon, Irak, dan India.

Jika muncul pertanyaan mengapa Indonesia berpeluang diundang oleh Thailand, karena ada satu poin yang sedang dipertimbangkan, yakni dari segi popularitas. Menurut laporan Pha Pluat, dengan lonjakan prestasi dan ranking FIFA yang signifikan, Indonesia dianggap sebagai tim “terpanas” tahun ini ketimbang negara-negara Asia lain, termasuk Vietnam itu sendiri.

Peluang Indonesia Ikut Kings Cup

Meski begitu, belum ada jadwal pasti kapan turnamen itu diselenggarakan. Namun, jika melihat edisi lalu, Kings Cup diselenggarakan pada bulan September. Bertepatan dengan jeda internasional. Lantas, seberapa besar kemungkinan Indonesia akan berpartisipasi di turnamen ini? Wong Indonesia lagi sibuk banget, maklum tim paling jago di Asia Tenggara.

Seperti yang kita tahu, jadwal Timnas Indonesia sudah padat hingga Juni 2025 dengan agenda putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026. Daripada memikirkan turnamen receh seperti itu, PSSI pasti diminta untuk lebih fokus pada Kualifikasi Piala Dunia. Toh, Indonesia sudah tak butuh validasi lagi. Nggak maksa buat harus ketemu Thailand.

Atau jika ingin menghormati Thailand, Indonesia bisa mengirimkan tim lapis dua untuk tampil di Kings Cup. Itung-itung, sekalian pemanasan Piala AFF 2024. Lalu, siapa pelatihnya? Mungkin yang paling cocok ya Indra Sjafri, si pawang Gajah Perang. Tapi, kalau mimin boleh usul, mending ikhlasin slotnya ke Vietnam saja. Coach Indra mending fokus ke Seoul Earth on Us Cup yang diadakan Korea Selatan. Ada Argentina di sana, lebih bergengsi.

Sumber: Suara.com, Bola Okezone, Plo VN, CNN Indonesia, 11v11

Datang, Cetak Gol, dan Juara Seperti Jens Raven

0

Dony Tri Pamungkas dinobatkan sebagai pemain terbaik di Piala AFF U-19 kemarin. Punggawa Persija Jakarta tersebut mengaku tak menyangka jika pada akhirnya dirinya yang terpilih untuk mendapat penghargaan itu. Tapi, bukan Dony saja yang berpikiran seperti itu. Karena kebanyakan fans Indonesia pun berpikir demikian.

Beberapa dari mereka menilai bahwa Jens Raven lebih layak mendapatkan gelar itu. Bukan bermaksud membandingkan, tapi perjuangan dari penyerang Dordrecht U-21 itu dinilai lebih heroik daripada Dony. Karena sebelumnya, Raven selalu dikritik dan diremehkan oleh publik. Sebelum akhirnya bisa membuktikan diri.

Lantas, bagaimana Raven menapaki perjalanan panjang itu? 

Tidak Sengaja

Sebelum akhirnya dinaturalisasi dan menjadi andalan di lini depan Timnas Indonesia U-19, penyerang kelahiran Belanda itu memiliki cerita menarik. Bakat dan talentanya ternyata ditemukan secara tidak sengaja. Itu terjadi saat Shin Tae-yong dan beberapa rekannya, termasuk Fardy Bachdim blusukan ke Belanda pada awal Maret lalu.

Saat itu, tujuan Shin Tae-yong ingin menengok salah satu anak asuhnya, Rafael Struick yang sedang melakoni pertandingan bersama ADO Den Haag. Tujuannya hanya ingin bersilaturahmi, tak lebih. Karena beberapa hari sebelumnya, ia sudah berkeliling Belanda untuk mencari pemain keturunan. Salah satunya adalah Calvin Verdonk.

Saat itu, ADO Den Haag U-21 sedang menghadapi FC Dordrecht U-21, timnya Jens Raven. Pertandingan itu berakhir dengan skor 2-2. Salah satu gol Den Haag dicetak oleh El Klemer. Sekali lagi, dirinya membuat Shin Tae-yong merasa puas dengan kinerjanya di lapangan.

Seusai pertandingan, Jens Raven yang juga ambil bagian dalam pertandingan itu menghampiri rombongan Shin Tae-yong. Awalnya, Raven hanya ingin menyapa Fardy yang kebetulan adalah agennya. Tapi, ternyata Fardy melakukan hal yang lebih dari sekadar menyapa balik. Kakak dari Irfan Bachdim itu mengatakan pada Coach Shin bahwa Raven juga memiliki keturunan Yogyakarta dari neneknya. 

Peran Fardy Bachdim 

Raven pun membenarkan pernyataan itu. Dikutip dari Kumparan, pemain berusia 18 tahun itu bahkan secara langsung menyampaikan kepada Shin Tae-yong bahwa dirinya bersedia membela Timnas Indonesia suatu saat nanti. Tapi, saat itu belum ada tindak lanjut dari Federasi Sepakbola Indonesia.

Raven tidak keberatan jika Shin Tae-yong akan memainkannya di tim nasional kelompok umur terlebih dahulu. Itu karena dirinya sadar akan usianya yang masih sangat muda. Semenjak pertemuan singkatnya dengan Shin Tae-yong, hati Raven mulai tidak tenang. Setiap hari, keyakinan untuk membela Timnas Indonesia semakin besar.

Alhasil, dirinya meminta tolong Fardy Bachdim untuk mencari tahu, apakah ada kemungkinan bagi dirinya untuk bergabung dengan Timnas Indonesia. Fardy yang mendengar itu cukup terkejut. Karena usia Raven masih sangat muda. Kesempatan untuk bisa membela Timnas Belanda tentunya masih terbuka lebar. Tapi apa boleh buat, toh tugas Fardy memang membuat klien puas. 

Ternyata, PSSI memang terbuka untuk proyek naturalisasi di semua jenjang usia. Mereka ingin memperbanyak pemain-pemain diaspora yang memiliki pengalaman di luar negeri, terutama Eropa. Mendengar hal itu, Fardy Bachdim pun bergerak cepat untuk menjadi jembatan antara Jens Raven dan PSSI.

Dinaturalisasi

Dibantu Fardy Bachdim, Jens Raven pun segera mengumpulkan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk proses naturalisasi. Sambil mengumpulkan berkas, Raven juga mempelajari bahasa dan budaya Indonesia. Kita pasti masih ingat ketika Raven menghafal beberapa lagu Indonesia dan butir-butir Pancasila.

Persyaratan pun telah diterima oleh PSSI. Itu ditandai dengan munculnya foto Raven dengan Ketua Umum PSSI, Erick Thohir. Raven pun diproses bersamaan dengan Calvin Verdonk. Menurut Menteri Pemuda dan Olahraga, Dito Ariotedjo proses kali ini akan diperlakukan secara spesial. Prosesnya akan dipercepat, mengingat Verdonk akan dibawa Shin Tae-yong ke laga Kualifikasi Piala Dunia 2026.

Perkataan Dito terbukti benar. Raven sudah bisa mengambil sumpah WNI pada tanggal 27 Juni kemarin. Padahal pertemuan pertama antara Raven dan PSSI baru terjadi pada 30 April. Itu berarti hanya butuh sekitar dua bulan lebih sedikit untuk merampungkan proses naturalisasi Jens Raven.

Diremehkan

Di sela-sela proses naturalisasi, Raven sebetulnya sudah lebih dulu dipanggil oleh Indra Sjafri untuk membela Timnas Indonesia U-20 yang berlaga di Toulon Cup pada awal Juni 2024. Turnamen Toulon adalah turnamen sepak bola yang umumnya mengundang tim nasional dengan pemain muda pada tingkatan U-17 hingga U-23.

Di turnamen yang diadakan di Prancis itu, Indonesia bertemu dengan negara-negara top lain macam Jepang, Korea Selatan, Ukraina, Panama, dan Italia. Raven setidaknya tampil di empat kali dari total lima laga yang dimainkan Timnas Indonesia. Sayangnya, di kompetisi tersebut, Indonesia U-20 gagal total. Raven gagal menghadirkan kemenangan bagi Indonesia.

Selain gagal menghadirkan kemenangan, Raven juga belum mampu menyumbangkan gol bagi Indonesia. Menit bermainnya pun kurang maksimal. Dari empat laga, dua diantaranya dimulai dari bangku cadangan. 

Hal ini sempat membuat ekspektasi kepada Raven menurun. Masyarakat Indonesia mulai meragukan kapasitas dari pemain yang baru berusia 18 tahun itu. Bahkan, saat itu Mauresmo Hinoke yang memiliki daya jelajah tinggi dan mampu mencetak satu gol dinilai jauh lebih menarik ketimbang Raven.

Dimatangkan Indra Sjafri

Perspektif buruk tidak menghentikan Jens Raven untuk terus berjuang demi lambang garuda di dada. Ibarat orang jawa, Raven ini udah kebacut tresno sama Indonesia. Dirinya tidak begitu mempedulikan kritik dan anggapan miring tentangnya. Awal yang buruk bukan akhir dari segalanya. Raven sadar bahwa ini adalah bagian dari proses menuju mimpinya.

Hal yang sama juga diamini oleh Coach Indra. Meski Raven dinilai gagal total di Toulon Cup, itu tidak mempengaruhi keputusannya untuk tetap membawa Raven ke Piala AFF U-19. Raven yang sudah mengantongi status WNI dinilai memenuhi syarat untuk mengisi pos lini serang Garuda Muda.

Namun, Raven mengawali kompetisi dengan tidak mudah. Di awal turnamen, pemain yang telah mengantongi lisensi kepelatihan UEFA Youth B itu harus lebih dahulu duduk di bangku cadangan. Raven dicadangkan di laga pembuka kontra Filipina dan Kamboja. Tercatat, dua kali hanya masuk sebagai pemain pengganti.

Meski hanya sebagai pemain pengganti, kontribusi Raven mulai terlihat. Coach Indra meminta Raven untuk tidak beredar di area kotak penalti saja. Ia dituntut untuk banyak turun ke belakang untuk menjemput bola dan lebih terlibat dengan build up serangan. Alhasil, Raven bisa menyumbangkan satu gol dalam kemenangan 6-0 atas Filipina.

Cetak Gol dan Juara

Jens Raven baru mendapat 100% kepercayaan Indra Sjafri di laga ketiga fase grup melawan Timor Leste. Dilansir Bola.com, ternyata itu memang sudah jadi rencana Coach Indra. Dua pertandingan sebelumnya cuma pemanasan bagi Raven. Dan itu dinilai cukup. Diberi kepercayaan bermain sejak menit awal, Raven langsung membuktikan diri.

Raven menjelma jadi mesin gol dan mencetak dua gol dalam kemenangan 6-2 atas sepupu jauh Indonesia itu. Di semifinal saat melawan Malaysia, Raven juga dimainkan sejak menit awal, sayangnya tidak ada sebiji gol pun yang lahir dari kakinya. Meski begitu, Indonesia tetap lolos ke final berkat gol semata wayang Muhammad Alfharezzi Buffon.

Melawan Thailand di final, Jens Raven tampil sebagai pembeda melalui golnya di babak pertama. Tak ada gol balasan dari Thailand di babak kedua, Raven pun akhirnya membawa Indonesia untuk kembali meraih gelar juara Piala AFF U-19 setelah terakhir kali pada tahun 2013 silam. Performa di AFF U-19 telah menunjukan bahwa Jens Raven telah berkembang dan matang di waktu yang tepat. Layaknya buah yang siap dipetik.

Sumber: Suara.com, CNN, Bola, RCTi

Mengapa FC Utrecht Bisa Jadi Pabrik Pemain Hebat Timnas Indonesia?

0

Maraknya pemain diaspora di skuad tim nasional, membuat Indonesia harus membangun hubungan baik dengan beberapa klub di Eropa. Terutama, klub-klub yang menaungi pemain-pemain tim nasional. Karena mereka telah berjasa dalam menaungi dan memberikan fasilitas kelas wahid kepada para pemain-pemain diaspora Indonesia.

Dari banyaknya klub yang memiliki koneksi apik dengan Indonesia, ada satu klub yang memiliki hubungan paling erat dengan Indonesia. Klub tersebut adalah FC Utrecht. Walaupun tidak ada kesepakatan hitam di atas putih yang mengikat, Utrecht ternyata secara konsisten membantu peningkatan kualitas Timnas Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. 

Lantas, dengan cara apa FC Utrecht membantu Indonesia? Sebelum kita ulas bersama, kalian bisa subscribe dan nyalakan notifikasi lebih dulu agar tak ketinggalan konten terbaru dari Starting Eleven.

FC Utrecht di Timnas Indonesia

Cara yang paling gamblang dilakukan FC Utrecht dalam membantu perkembangan sepakbola Indonesia adalah menyumbangkan pemain-pemainnya untuk bermain di Timnas Indonesia. Entah yang masih bermain atau hanya sebatas alumni akademi, tercatat Utrecht cukup sering mengirimkan pemain. 

Bahkan, hingga saat ini statistik membuktikan bahwa FC Utrecht jadi klub Eropa yang menyumbangkan pemain diaspora terbanyak untuk Indonesia. Menariknya, warna klub yang satu ini juga identik dengan warna merah dan putih. Seakan-akan memang sudah ditakdirkan bakal memiliki hubungan yang baik di masa depan.

Memangnya siapa saja pemain-pemain yang pernah menimba ilmu di FC Utrecht lalu berakhir di Timnas Indonesia? Sejarahnya cukup panjang. Mungkin, yang pertama kali melakukan debut untuk tim nasional Indonesia adalah Irfan Bachdim. Sejak 2003 sampai 2009, Bachdim tercatat sebagai pemain muda FC Utrecht. Ia memiliki satu caps bersama tim utama Utrecht.

Sebagai catatan, Bachdim memang bukan naturalisasi, tapi dirinya bak sebuah katalis masuknya talenta berdarah campuran di tim nasional. Setelah Bachdim, mulai banyak pemain-pemain jebolan Utrecht yang berseragam merah putih. Sebut saja seperti Stefano Lilipaly, Marc Klok, Shayne Pattynama, dan yang terbaru ada Ivar Jenner. 

Jenner bahkan jadi satu-satunya pemain tim nasional Indonesia yang masih berseragam FC Utrecht hingga sekarang. Sayangnya, Jenner belum mencatatkan debut untuk skuad utama FC Utrecht. Dirinya hanya reguler bermain di tim muda FC Utrecht. Selain pemain-pemain keturunan, ada darah pribumi juga yang pernah berseragam FC Utrecht. Dia adalah Bagus Kahfi. Ia tercatat punya dua caps bersama FC Utrecht U-21 pada musim 2021/22

Darah Indonesia di Belanda

Lantas, bagaimana bisa ada banyak pemain keturunan Indonesia yang menimba ilmu atau membangun karir di FC Utrecht? Jika ingin dicari alur ceritanya, maka akan sangat panjang. Muaranya pasti menuju ke silsilah leluhur masyarakat Indonesia yang dibawa ke Belanda dari jaman penjajahan. Selengkapnya mungkin bisa kalian tonton di konten Starting Eleven sebelumnya.

Selain itu, beberapa masyarakat Indonesia juga banyak yang sekolah dan membangun karir di Belanda. Kegiatan-kegiatan tersebut tidak menutup kemungkinan terciptanya perkawinan antara orang Indonesia dengan warga asli Belanda. Jika nantinya punya anak, dan anak itu memutuskan untuk berkarir sebagai pesepakbola, maka ia dinyatakan layak untuk membela Timnas Indonesia suatu saat nanti.

Pada intinya, hubungan yang kental antara Belanda dan Indonesia jadi kunci dari banyaknya pemain-pemain keturunan yang hidup di Utrecht dan berkarir di FC Utrecht. Berkat riwayat di masa lalu, setiap sudut Belanda kini berhiaskan orang-orang yang memiliki darah Indonesia. Entah itu dari orang tua atau kakek dan neneknya.

Mengutip dari KBC News, jumlah diaspora Indonesia dan blasteran Indonesia-Belanda di sana mencapai 10% dari jumlah populasi penduduk Negeri Kincir Angin itu sendiri. Hal itu dinyatakan oleh Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, Mayerfas, di depan para pelaku usaha Indonesia di Belanda.

Kota Utrecht

Dikutip dari data Kemenlu yang dipublikasikan oleh Suara.com, Belanda memiliki karakteristik khusus dengan jumlah diaspora Indonesia yang sangat besar, yakni mencapai angka sekitar 15 ribu WNI dan 1,7 juta diaspora keturunan Indonesia. Banyaknya orang-orang itu tersebar di beberapa kota, salah satunya Utrecht.

Utrecht merupakan kota terbesar keempat di Belanda. Pada tahun 2022, Utrecht memiliki sekitar 362.000 penduduk. Maka dari itu, di luar Den Haag dan Amsterdam, Utrecht menjadi salah satu kota dengan populasi diaspora Indonesia terbesar di Belanda. Di kota tersebut, diperkirakan terdapat 10.300 orang Indonesia.

Dari situ ada sebagian yang memutuskan untuk berkarir sebagai pesepakbola profesional. FC Utrecht menjadi tujuan utama jika ingin mendapatkan fasilitas dan materi latihan yang lebih baik. FC Utrecht toh satu-satunya klub profesional yang berasal dari daerah tersebut. Berbeda dengan Rotterdam yang bahkan punya tiga klub, yakni Feyenoord, Excelsior, dan Sparta Rotterdam yang secara profesional berlaga di kompetisi sepakbola Belanda.

Sebagus Apa Akademi FC Utrecht?

Oleh karena itu, FC Utrecht mengambil banyak peran dalam keseimbangan hidup di Kota Utrecht. Mereka sungguh-sungguh terlibat dalam kesejahteraan masyarakat dan menjalin hubungan di dalam dan di antara lingkungan, kota, dan wilayah. Mereka bahkan jadi lambang perjuangan bagi penduduk Utrecht.

Menjadi satu-satunya klub besar di Utrecht, FC Utrecht betul-betul selektif dalam memperhatikan pengembangan usia mudanya. FC Utrecht bahkan mengelola seluruh jenjang usia pengembangan sepakbola. Caranya pun cukup rapi. Mereka mendirikan Jong FC Utrecht pada tahun 2001 untuk memisahkan konsentrasi antara pemain muda dan senior.

Jong FC Utrecht berfokus pada pengembangan pemain, kerja sama tim, dan memanfaatkan talenta-talenta lokal. Mereka bertujuan untuk menghasilkan pemain berbakat bagi tim nasional Belanda. Dengan sistem yang terintegrasi dan membiasakan pemain-pemain muda untuk aktif berkompetisi di kasta kedua Liga Belanda, Utrecht menghasilkan banyak pemain-pemain hebat.

Sebut saja seperti Sofyan Amrabat yang kini berseragam Manchester United, lalu ada legenda Liverpool, Dirk Kuyt. Atau mungkin Mike van der Hoorn atau Michel Vorm yang sempat berkarir di Inggris bersama Swansea City.

Pemain Keturunan Indonesia di Utrecht

Selain nama-nama itu, FC Utrecht juga banyak menghasilkan pemain-pemain keturunan Indonesia yang mungkin bisa jadi opsi bagi Timnas Indonesia. Sebut saja seperti Eliano Reijnders. Adik dari Tijjani Reinders ini baru lulus dari tim muda Utrecht pada tahun 2023. Dari tim muda Utrecht, ia langsung bergabung ke klub Belanda lain, PEC Zwolle.

Selain Eliano, ada Tommy St. Jago.  Berbeda dengan Eliano yang belum sempat meneken kontrak profesional dengan Utrecht, Jago tercatat pernah masuk skuad utama FC Utrecht dari tahun 2020 hingga 2023. Pemain berposisi bek itu mengantongi 31 penampilan di semua kompetisi bersama Utrecht. Kini, Jago berseragam Willem II.

Legenda FC Utrecht, Mark Van Der Maarel pun merupakan pemain keturunan Indonesia. Sejak lulus dari akademi Utrecht pada tahun 2009, Maarel belum pernah membela tim lain selain FC Utrecht. Dirinya telah merasakan jatuh bangun bersama FC Utrecht hingga pada akhirnya memutuskan gantung sepatu akhir musim lalu.

Oh iya, kalau kalian ngeh, calon kiper anyar Timnas Indonesia, yakni Maarten Paes juga jebolan akademi FC Utrecht. Kabarnya, laga debut Paes untuk tim nasional Indonesia hanya menunggu waktu. Karena sidang banding di Pengadilan Arbitrase Olahraga akan dilangsungkan pada 15 Agustus nanti. Hmmm, kira-kira siapa lagi yang akan menambah aroma FC Utrecht di Timnas Indonesia?

https://youtu.be/UyqawIbWTAE

Sumber: One Football, Facts, Eadt, Efdn, Suara

Berita Bola Terbaru 1 Agustus 2024 – Starting Eleven News

LENY YORO ABSEN DUA BULAN

Kabar terbaru datang dari Manchester United. Dilansir dari Daily Mail, pemain baru Leny Yoro dipastikan absen hingga tiga bulan karena cedera. Pasca cedera di laga uji coba melawan Arsenal, Yoro terlihat menggunakan kruk, dan kaki kirinya menggunakan sepatu bot pelindung. Yoro akan absen pada pertandingan tur pramusim terakhir MU melawan Liverpool di South Carolina pada akhir pekan. Tak hanya itu, Yoro juga akan absen setidaknya hingga bulan Oktober.

AKUN LISANDRO MARTINEZ DIRETAS

Nasib apes juga dialami bek MU lainnya, Lisandro Martinez. Dilansir Sportbible, akun media sosial bek asal Argentina itu baru-baru ini diretas. Peretas tersebut lalu memposting gambar Lionel Messi sedang memegang Ballon d’Or sambil mengenakan topeng yang di edit wajahnya. Dalam gambar tersebut, terdapat juga keterangan dalam bahasa Argentina “Lamento que me hayan robado la cuenta,” yang artinya, “Saya minta maaf karena akun saya telah dicuri.”

KEJUTAN, MU REKRUT CHILWELL?

Masih soal MU. Dilansir The Sun, MU dikabarkan mengambil langkah kejutan untuk menampung Ben Chilwell dari Chelsea. Bek kiri The Blues tersebut posisinya terancam, setelah Enzo Maresca tak memasukkannya dalam rencana klub musim ini. Potensi Chelsea melepas Chilwell yang semakin besar, akan coba dimanfaatkan oleh Setan Merah. Ten Hag juga masih butuh bek kiri siap pakai sebagai pesaing Luke Shaw dan Tyrell Malacia yang sering keluar masuk meja perawatan.

MANCHESTER CITY RESMI DIHUKUM

Tetangga MU, Manchester City resmi mendapat hukuman. Dilansir dari The Sun, The Citizens dijatuhi hukuman denda sebesar 2,09 juta pounds akibat melanggar aturan penundaan laga sebanyak 22 kali. Pihak Premier League resmi merilis hukuman tersebut dengan mengatakan bahwa, City melakukan pelanggaran aturan tersebut selama dua musim beruntun. Selama dua musim tersebut, City menunda kick-off untuk memulai laga setelah turun minum, yang melebihi batas waktu.

WEST HAM BELI SUMMERVILLE

Beralih ke kabar terbaru dari West Ham United. Dilansir dari Standart, The Hammers kini resmi menyetujui kesepakatan senilai 25 juta pounds dengan Leeds untuk memboyong, Crysencio Summerville. Penyerang sayap asal Belanda itu akan menandatangani kontrak jangka panjang dengan West Ham. Summerville akan segera menjalani pemeriksaan medis di Inggris, sebelum nantinya akan terbang ke Amerika Serikat menyusul rekan-rekannya yang sedang menjalani tur pramusim. Summerville musim lalu tampil mengesankan di Championship bersama Leeds, dengan mencetak 21 gol dan 9 assist.

TRANSFER ANTHONY GORDON DAN JOE GOMEZ GAGAL

Masih soal kabar transfer di sepakbola Inggris. Dilansir dari Goal, terungkap bahwa kesepakatan transfer Anthony Gordon ke Liverpool dan Joe Gomez ke Newcastle, telah gagal pada Juni lalu. Awalnya, The Magpies menyetujui kepindahan Gordon senilai 75 juta pounds ke Liverpool, dan mereka akan dapat gantinya yakni Joe Gomez. Kesepakatan tersebut dilakukan Newcastle guna menghindari aturan baru soal keuntungan dan keberlanjutan di Liga Inggris. Namun, Newcastle membatalkan pertukaran tersebut karena mereka telah memenuhi peraturan baru itu setelah melepas pemainnya, yakni Yankuba Minteh dan Elliot Anderson.

JURGEN KLOPP PENSIUN JADI PELATIH

Dari kabar Gordon yang gagal ke Liverpool, beralih ke kabar terbaru yang mengejutkan dari mantan pelatih Liverpool, Jurgen Klopp. Dilansir Sky Sport, Klopp mengisyaratkan bahwa kariernya menjadi seorang pelatih sepakbola telah berakhir. “Sampai hari ini, itu saja yang saya bisa lakukan sebagai pelatih,” kata Klopp saat diwawancarai pada kongres pelatih internasional di Wurzburg, Jerman. Klopp memang tidak menutup kemungkinan untuk kembali ke dunia sepak bola pada suatu saat nanti. Tetapi bukan di bidang kepelatihan lagi.

STEVE MCCLAREN JADI PELATIH TIMNAS JAMAIKA

Sementara itu, kabar mengejutkan lain datang dari mantan asisten Ten Hag, Steve McClaren. Dilansir dari The Sun, Timnas Jamaika telah menunjuk Steve McClaren sebagai pelatih baru mereka. Mantan pelatih Middlesbrough itu akan menggantikan peran pelatih Timnas Jamaika sebelumnya, Heimar Hallgrimsson. Federasi Sepakbola Jamaika telah mengonfirmasi penunjukan McClaren dalam pernyataan resmi. Sementara itu, Presiden Federasi Sepakbola Jamaika, Michael Ricketts mengaku penunjukkan McClaren adalah keputusan tepat. McClaren ditarget meloloskan Jamaika ke Piala Dunia 2026.

IVAN TONEY TAK JADI DIJUAL BRENTFORD, GARA-GARA THIAGO?

Masih dari sepakbola Inggris. Dilansir dari Daily Mail, kelanjutan rencana penjualan Ivan Toney musim ini, sepertinya akan berakhir. Toney diprediksi akan bertahan lagi di Brentford karena pemain yang digadang-gadang menjadi penggantinya, Igor Thiago, mengalami cedera parah. Thiago diperkirakan akan absen hingga akhir tahun 2024 setelah menjalani operasi pada cedera lututnya. Pemain asal Brasil berusia 23 tahun itu mengalami cedera meniskus pasca laga uji coba melawan AFC Wimbledon.

MBAPPE AKAN DAPAT PERLAKUAN KASAR SEPERTI ENDRICK

Dari Inggris terbang ke Spanyol. Dilansir Goal, Pelatih Real Madrid, Carlo Ancelotti baru-baru ini menepis rumor mengenai perselisihan antara Endrick dan Antonio Rudiger. Pasalnya, dalam sesi latihan Real Madrid di AS, Rudiger terlihat mendorong keras Endrick dengan bahunya. Ancelotti mengatakan bahwa kejadian itu hanyalah sambutan biasa yang diterima pemain baru dari sang senior. Allenatore Italia tersebut juga mengatakan bahwa nantinya pemain baru seperti Kylian Mbappe juga akan menerima perlakuan kasar serupa dari senior saat menghadiri sesi latihan pertamanya bersama Los Blancos.

REAL SOCIEDAD SIAPKAN CARLOS SOLER JADI PENGGANTI MERINO

Beralih ke kabar soal Real Sociedad. Dilansir dari Getfootballnewsfrance, La Real tengah membidik gelandang PSG, Carlos Soler. Soler disiapkan jika Mikel Merino jadi hengkang ke Arsenal. Pihak Real Sociedad dikabarkan sudah melakukan pembicaraan lanjutan dengan PSG untuk memboyong Carlos Soler. Carlos Soler dikabarkan juga siap hengkang dan tengah berunding dengan La Real untuk mencapai kesepakatan pribadi.

HERE WE GO, DOVBYK KE AS ROMA

Bergeser ke sepakbola Italia. Dilansir dari Football Italia, top skor La Liga musim lalu, Artem Dovbyk telah resmi pindah ke Roma. Kesepakatan transfer Dovbyk dikabarkan bernilai 36 juta euro. Pemain Timnas Ukraina itu akan segera terbang ke Roma bersama direktur olahraga Roma, Florent Ghisolfi, pada hari Kamis 1 Agustus 2024 sore. Di Roma, Dovbyk dijadwalkan akan menjalani pemeriksaan medis dan penandatanganan kontrak. Agen Dovbyk, Alex Liundovskyi, jelang keberangkatan ke Roma juga telah memposting di akun medsosnya gambar jersey Giallorossi bernomor punggung 9, dan bernama punggung Artem.

DI MARIA DIANCAM PEMBUNUHAN DI ROSARIO

Sementara itu, ada kabar mengejutkan datang dari Angel Di Maria. Dilansir dari Goal, bintang Timnas Argentina itu baru saja mengalami ancaman pembunuhan. Ceritanya, Di Maria tengah menjajaki kemungkinan untuk kembali ke Rosario, klub masa lalunya di Argentina. Di Maria bahkan sudah berunding dengan Presiden Rosario mengenai kemungkinan kepindahannya. Akan tetapi, ia langsung berubah pikiran setelah adanya ancaman pembunuhan dari sekelompok orang terhadap Di Maria dan keluarganya. Serangkaian ancaman mengerikan tersebut salah satunya adalah kepala babi dan peluru yang disiapkan jika ia pulang ke Rosario.

LIGA CHAMPIONS DIUNDI PAKAI KOMPUTER

Dari Di Maria beralih ke kabar terbaru soal Liga Champions musim 2024/25. Dilansir dari The Sun, UEFA akhirnya telah resmi menetapkan bahwa drawing Liga Champions 2024/25 akan menggunakan bantuan komputer. Menurut UEFA, drawing dengan format baru tersebut akan dilaksanakan tanggal 29 Agustus 2024. UEFA merasa ribet jika masih menggunakan cara manual. Selain nantinya akan memilihkan lawan secara acak, komputer juga sekaligus akan menentukan jadwal pertandingannya.

RESMI, SHIN TAE-YONG TETAP MELATIH TIMNAS DI PIALA AFF 2024

Bergeser ke kabar sepakbola nasional. Wakil Ketua Umum PSSI, Zainudin Amali, telah memastikan bahwa Shin Tae-yong akan tetap melatih Timnas Indonesia di Piala AFF 2024. Hal itu disampaikan Zainudin saat menghadiri Malam Apresiasi Timnas U-19 Indonesia di Jakarta. Keputusan STY tetap melatih Timnas Indonesia di Piala AFF 2024, sesuai hasil rapat Exco PSSI. Menurutnya, STY juga sudah tahu bahwa ia akan mendapatkan tugas ganda dari PSSI pada bulan November nanti. Ketua Badan Tim Nasional (BTN), Sumardji, juga membenarkan hal tersebut. Sumardji juga menyebut bahwa pemain U-23 yang nantinya akan turun di Piala AFF 2024. Pemain senior tetap fokus di Babak Ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026.

KIPER BARU CHELSEA FILIP JORGENSEN LANGSUNG JALANI LATIHAN

Setelah selesai diumumkan sebagai kiper baru Chelsea, Filip Jorgensen langsung berlatih bersama rekan-rekannya di Amerika Serikat. Dari cuitan wartawan Givemesport, Ben Jacobs, Jorgensen bersama kiper lainnya seperti Robert Sanchez, tengah melakukan latihan khusus dengan tim pelatih kiper. Jorgensen terlihat melakukan beberapa penyelamatan dan juga aksi build-up-nya yang disukai oleh Enzo Maresca. Mantan kiper Villarreal tersebut diprediksi akan jadi pesaing serius bagi Robert Sanchez.

BRIGHTON SEGERA DAPATKAN PEMAIN INTER MIAMI

Sementara itu, ada kabar terbaru dari Brighton. Dilansir Givemesport, The Seagulls segera dapatkan pemain dari Inter Miami, yakni Diego Gomez. Kesepakatan transfer sudah dituntaskan kedua klub. Nilainya berkisar 17 juta euro. Namun, pemain timnas Paraguay yang sedang berlaga di Olimpiade Paris 2024 ini, masih akan menyelesaikan musimnya di MLS hingga bulan Desember. Pemain sayap 21 tahun tersebut direkrut langsung atas kehendak pelatih baru Brighton, Fabian Hurzeler.

TAMMY ABRAHAM TOLAK DUA KLUB INGGRIS DEMI MILAN

Dari Inggris beralih ke Italia. Dilansir dari Onefootball, striker AS Roma asal Inggris, Tammy Abraham telah menolak tawaran yang diajukan dua klub Liga Inggris yakni, West Ham United dan Everton. Kedua klub tersebut padahal sedang butuh amunisi baru di posisi striker. Abraham urung pindah lagi ke Inggris karena ia masih mau tinggal di Italia. Kabarnya, kini Abraham masih menunggu tawaran dari AC Milan. Meski sudah dapatkan Morata, namun Abraham adalah salah satu striker yang dipilih sendiri oleh pelatih Milan, Paulo Fonseca.

LAZIO BOYONG VITOR ROQUE?

Beralih ke klub ibu kota Lazio. Striker Barcelona yang santer dikabarkan akan direkrut Al-Hilal, Vitor Roque, dikabarkan segera dibajak oleh Lazio. Presiden Lazio, Claudio Lotito kabarnya sudah menyiapkan tawaran tunai sebesar 20 juta euro untuk langsung memboyong Roque. Barca yang tak mau menerima tawaran pinjaman, dikabarkan akan bersedia menerima proposal dari Lazio tersebut. Jika tawaran diterima, Vitor Roque akan jadi rekrutan keenam Biancoceleste musim ini.

RENCANA PERTUKARAN CHIESA DAN RASPADORI

Masih dari Italia. Dilansir dari Calciomercato, ada rencana menarik dari Napoli dan Juventus untuk menukar Federico Chiesa dengan Giacomo Raspadori. Chiesa yang belum sepakat dengan Spurs, direncanakan akan pindah ke skuad Conte musim depan. Chiesa diyakini bisa masuk dalam skema Conte di sayap kanan. Sementara itu sebagai alat tukar, Juventus dibawah Thiago Motta sedang menginginkan Raspadori. Striker tersebut diminati Motta untuk jadi pendamping Vlahovic. Opsi pertukaran kabarnya akan jadi win-win solution kedua klub.

CARLO ANCELOTTI TIDAK AKAN BELI PEMAIN LAGI

Bergeser ke sepakbola spanyol. Dilansir Football Espana, setelah permintaannya membeli bek tak dipenuhi manajemen El Real Ancelotti akhirnya ngomong ke publik bahwa Real Madrid telah resmi menghentikan pembelian pemain musim ini. Hal tersebut dikatakan Ancelotti di sela-sela jumpa pers tur pramusim di AS. Menurut Ancelotti, klub sudah yakin dan siap untuk berjuang mengarungi musim 2024/25 dengan skuad yang ada sekarang.

SEVILLA JALIN KERJASAMA DENGAN NIGERIA

Klub La Liga lainnya, Sevilla telah menjalin kerjasama dengan Liga Sepak Bola Nigeria (NPFL). Kerjasama yang dilakukan adalah untuk berkolaborasi dalam hal pengembangan pelatih dan pemain muda di klub Liga Nigeria. Bagi Sevilla, kesepakatan ini merupakan bagian dari bisnis mereka mengembangkan basis penggemarnya di seluruh dunia, khususnya Nigeria. Ketua Liga Sepak Bola Nigeria, Gbenga Elegbeleye dikabarkan sedang berada di Spanyol untuk berkonsultasi langsung dengan Presiden Sevilla, Jose María del Nido.

REAL SOCIEDAD HANYA DIAM SOAL TRANSFER MIKEL MERINO

Beralih ke kabar soal Mikel Merino. Dilansir dari Football Espana, Real Sociedad sebagai klub pemilik Mikel Merino masih bersikap diam terhadap tawaran yang terus dilayangkan oleh Arsenal. Presiden Real Sociedad, Jokin Aperribay mengkonfirmasi bahwa Real Sociedad akan bernegosiasi dengan sebuah klub, jika Mikel Merino sendiri yang meminta. Menurut Aperribay, sampai sekarang Merino juga masih diam dan belum berminat kepada tawaran tersebut.

PEMAIN TIMNAS INDONESIA U-16, DIPANGGIL TIMNAS AUSTRALIA U-17

Dari berita sepakbola Eropa kini kembali ke berita sepakbola nasional. Pemain Timnas Indonesia U-16 keturunan Australia, Matthew Baker, mendadak dipanggil Timnas Australia U-17 asuhan Brad Maloney untuk jalani laga uji coba di bulan Agustus. Padahal bek kiri tersebut sudah tampil bersama Timnas Indonesia U-16 di Piala AFF U-16 2024 lalu. Meski tak ada aturan yang menghadang Baker untuk pindah timnas, kabar heboh tersebut langsung direspons oleh sang pemain. Sang pemain pun mengunggah fotonya dengan berbalut bendera Indonesia. Netizen tanah air menganggap bahwa Baker masih setia berseragam Indonesia.

NOVA ARIANTO GERAK CEPAT BERTEMU KELUARGA MATTHEW BAKKER

Berkaitan dengan pemanggilan Baker ke Timnas Australia U-17, pelatih Timnas Indonesia U-16 Nova Arianto langsung merencanakan pertemuan dengan sang pemain dan pihak keluarganya. Publik tanah air diminta menunggu hasilnya. Namun, Coach Nova optimis Baker masih akan membela Indonesia. Baker juga tengah dipersiapkan untuk menghadapi Kualifikasi Piala Asia U-17 2024 yang akan berlangsung pada bulan Oktober mendatang

Dibalik Gemerlap Olimpiade Paris 2024

0

Di dunia ini, tiada yang sempurna selain Allah SWT. Sebaik-baiknya manusia, pasti ada saja kekurangannya. Begitu pun ketika manusia merancang suatu event olahraga. Sebaik-baiknya dan semegah-megahnya perhelatan Olimpiade, pasti ada saja celah untuk dikritik. Dan yang dialami Olimpiade Paris 2024, mungkin jadi yang paling parah.

Bahkan, dari pembukaannya saja, Olimpiade Paris sudah banyak menerima hujatan. Yang menyakitkan, edisi kali ini sampai dicap sebagai Olimpiade terburuk dalam sejarah. Benarkah demikian? Sebelum masuk ke pembahasan, kalian bisa subscribe dan nyalakan lonceng terlebih dahulu agar tak ketinggalan konten terbaru Starting Eleven.

Pembukaan Terburuk

Dari pembukaan, Olimpiade Paris dinilai sudah melakukan blunder fatal. Pemicunya ketika ada pertunjukan yang memparodikan ‘Perjamuan Terakhir’ yang merupakan salah satu momen sakral dalam agama Kristen.

Berbagai respons mulai bermunculan. Salah satunya datang dari pemuka agama dari Indonesia, Ustadz Adi Hidayat. Dirinya mengungkapkan rasa kecewanya atas segmen kontroversial di upacara pembukaan tersebut. Ia merasa bahwa pertunjukan itu telah menghina Yesus Kristus. 

Dalam sebuah video yang diunggah di akun resmi YouTube-nya, Adi Hidayat memberikan tanggapannya terhadap parodi ‘Perjamuan Terakhir’ yang menampilkan waria dan model transgender. UAH menyampaikan bahwa umat Islam sangat menghormati Nabi Isa (Yesus) sebagai seorang nabi dan rasul yang mulia. Penghormatan terhadap Nabi Isa juga merupakan bagian dari keimanan umat Islam kepada Allah dan rasul-rasul-Nya.

Standar Ganda

Jika kalian berpikir bahwa kontroversialnya dimulai sejak pembukaan, kalian salah. Karena ternyata ketidakberesan Olimpiade Paris sudah terjadi jauh sebelum pesta olahraga itu dibuka. Dalam hal ini, standar ganda yang diterapkan oleh Prancis dan Komite Olimpiade Internasional terhadap Rusia dan Israel jadi penyebabnya.

Menjelang diselenggarakannya Olimpiade 2024, Komite Olimpiade Palestina mengirimkan surat kepada kepala Komite Olimpiade Internasional (IOC), Thomas Bach. Surat itu berisi permintaan agar melarang atlet Israel, termasuk Timnas Sepakbola Israel untuk mengikuti Olimpiade Paris 2024. Federasi sepakbola Palestina bahkan turut meminta FIFA mencoret Timnas Israel dari Olimpiade 2024, tapi permintaannya ditolak.

Palestina meminta IOC untuk memperlakukan Israel sama seperti apa yang mereka lakukan kepada Rusia. Sayangnya, meski para aktivis pro-Palestina telah melakukan demonstrasi besar-besaran di Paris dan markas IOC di Swiss, itu tidak cukup untuk mencegah Israel dari keikutsertaannya di Olimpiade 2024.

IOC dan Prancis seakan diam seribu bahasa menyikapi isu-isu tentang Israel. Mereka justru menggandakan keamanan kepada kontingen Israel yang sedang berjuang di Paris. Hal itu dilakukan karena delegasi Israel punya sejarah kelam saat mengikuti Olimpiade. Tepatnya, pada tahun 1972 di Munich. Kala itu, organisasi Black September menyusup ke asrama atlet Israel, menyandera para atlet dan membunuh 11 di antaranya.

Israel vs Mali

Keberadaan kontingen Israel yang mendapat banyak kecaman pun membuat Timnas Israel tidak bisa berlaga dengan tenang. Contohnya saat Timnas Israel melakoni pertandingan di babak penyisihan grup.

Menghadapi Mali di Parc des Princes, tim nasional Israel di-bully habis-habisan sama fans Mali. Sorakan bernada ejekan terus terdengar di stadion berkapasitas 48 ribu penonton itu. Bahkan, saat lagu kebangsaan Israel dikumandangkan, fans Mali tidak henti-hentinya bersorak hingga lagunya tidak bisa didengar dengan jelas oleh pemain Israel.

Selain itu, fans Mali juga terus meneriakkan “Bebaskan Palestina” dan “Bebaskan para sandera” sambil mengibarkan bendera Palestina. Maklum, Mali adalah negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Jadi wajar jika Mali berada di pihak Palestina. Fans Israel sempat protes soal aksi tersebut, tapi pihak berwajib tidak menghiraukannya.

Di luar itu, ada video viral yang menampilkan salah satu fans Israel yang tiba-tiba ikut campur di saat salah seorang fans diwawancara. Suporter itu diwawancara terkait hasil pertandingan antara Mali vs Israel. Pria tua fans Israel menginterupsi dan menegaskan untuk tidak berbicara politik dalam sepakbola.

Padahal suporter yang diwawancari tidak sedang membicarakan politik, tapi pertandingan. Anehnya, fans Israel yang datang tiba-tiba itu kesal sendiri tanpa alasan dan memaki-maki si pria. Alhasil, fans yang jadi narasumber tersebut menyorakinya dengan kampanye ‘Free Palestine’ sambil meniupkan terompet.

Argentina vs Maroko

Di luar isu politik, kejanggalan lain juga terjadi di laga penyisihan Grup B antara Argentina vs Maroko. Laga berjalan seru dan menampilkan Maroko sebagai pemenang setelah mengalahkan Argentina dengan skor 2-1. Tapi dalam prosesnya, banyak kejadian-kejadian kontroversial dan menegangkan.

Berawal dari pemberian waktu tambahan yang aneh. Di penghujung babak kedua, perangkat pertandingan memberikan tambahan waktu sebanyak 15 menit saat Argentina hanya tertinggal 2-1 dari Maroko. Kemudian, Argentina sempat mencetak gol penyeimbang kedudukan lewat Cristian Medina pada menit ke-16 masa injury time.

Setelah Cristian Medina membuat skor menjadi imbang 2-2 dan para pemain Argentina merayakannya, di sinilah masalah itu muncul. Dilansir The Guardian, pasca gol kedua banyak gelas dan botol yang melayang ke lapangan. Bahkan, sejumlah flare yang sedang menyala tampak mendarat di lapangan.

Tak berhenti di situ, fans Maroko mulai berhamburan ke dalam lapangan. Sementara wasit segera meminta pemain untuk meninggalkan lapangan setelah lebih dulu menangguhkan pertandingan. Wasit hanya mau melanjutkan pertandingan dengan catatan seluruh fans harus keluar dari stadion.

Kejanggalan lain pun terjadi sesaat sebelum laga dilanjutkan. Wasit malah menganulir gol penyeimbang Argentina. Menurut wasit VAR, terlihat seorang pemain Argentina berada di posisi offside sebelum Medina mencetak gol. Tak ada gol tambahan tercipta, Maroko menang 2-1.

Argentina vs Prancis

Meski kalah dari Maroko, Argentina berhak lolos ke perempat final Olimpiade 2024 cabang sepakbola sebagai runner up Grup B. Dengan hasil itu, Argentina akan menghadapi tim tuan rumah, Prancis. Laga ini diprediksi bakal bikin kasus rasisme yang melibatkan salah satu pemain Argentina, Enzo Fernandez kian memanas.

Seperti yang diwartakan Goal, hubungan Prancis dan Argentina sedang tidak baik-baik saja setelah Enzo dituding melakukan dan menyebarkan video tindakan rasisme yang ditujukan kepada pemain-pemain kulit hitam di tim nasional Prancis. Peristiwa ini terjadi saat gelandang Chelsea itu hanyut dalam perayaan gelar juara Copa America 2024 beberapa hari lalu.

Sontak, insiden ini menyebabkan beberapa pemain The Blues yang berasal dari Prancis meng-unfollow akun media sosial Enzo. Meski pada akhirnya Enzo sudah meminta maaf kepada rekan-rekannya di Chelsea, sepertinya Timnas Argentina akan tetap terkena getahnya di laga perempat final nanti. Pasalnya, masih banyak pemain-pemain keturunan Prancis lainnya yang geram kepada tindakan Enzo.

Sepakbola Wanita

Tak cuma di cabang olahraga sepakbola pria, cabang olahraga sepakbola wanita juga menyajikan kejadian-kejadian konyol di Olimpiade edisi kali ini. Yang paling tersorot adalah tindakan yang dilakukan oleh tim nasional wanita Kanada. Mereka dengan beraninya memata-matai kamp latihan tim lawan.

Kasus ini terkuak ke media pekan lalu. Diduga salah satu staf dari tim nasional putri Kanada menerbangkan drone ke area latihan lawan mereka, Selandia Baru. Tujuannya untuk merekam video dan mendapatkan informasi tentang taktik dan skema permainan yang akan dipakai lawannya itu.

The Canadian Olympic Committee langsung membuka investigasi tentang kasus ini. Hasilnya, sang pelatih, Bev Priestman dipulangkan ke Kanada. Lebih parahnya lagi, ada dugaan bahwa teknik licik ini sudah dilakukan selama bertahun-tahun dan tidak hanya dilakukan oleh tim nasional putri saja, tapi juga tim nasional putra. 

Kini, skandal mata-mata Kanada sudah masuk meja investigasi FIFA. Jika terbukti bersalah, Kanada terancam batal jadi tuan rumah Piala Dunia 2026. 

Timnas Putri Britania Raya

Yang terjadi pada timnas putri Inggris lucu lagi. Jika Inggris lolos ke Olimpiade, mereka tak akan membawa nama negara Inggris ke Olimpiade. Lionesses justru akan bermain sebagai Tim Great Britain. Masalahnya, Timnas Wanita Inggris justru menghadapi Skotlandia dalam matchday terakhir babak grup UEFA Women’s Nations League.

Di laga tersebut, Inggris diharapkan menang agar bisa lolos ke Olimpiade dengan membawa nama Britania Raya ke Olimpiade. Mengapa harus Inggris, karena di antara anggota Britania Raya, yakni Skotlandia, Irlandia Utara, dan Wales, Inggris adalah tim yang memiliki peringkat UEFA paling tinggi. Sialnya, Inggris malah gagal lolos ke Olimpiade karena cuma finis di urutan kedua di babak kualifikasi.

Sumber: The Guardian, The Athletic, Goal, Bola.com, Sport Detik

Tidak Selalu Jor-Joran! Bukti Real Madrid Rendah Hati di Bursa Transfer

0

Baru-baru ini, Carlo Ancelotti menegaskan tak ingin menambah pemain lagi pada bursa transfer musim panas kali ini. Dilansir dari ESPN, Don Carlo mengkonfirmasinya setelah mereka sukses mendaratkan Kylian Mbappe yang kontraknya habis dengan Paris Saint-Germain dan pemuda berbakat dari Palmeiras, Endrick.

Kabar ini mungkin terasa janggal mengingat Real Madrid yang kaya raya dan glamor terasa tak cocok dengan berhemat. Rasanya, Los Galacticos lebih cocok belanja berbagai pemain sesuai hati mereka alih-alih membeli satu-dua pemain saja.

Namun, ternyata sejak era Florentino Perez, Los Merengues sempat beberapa kali mengakhiri bursa transfer dengan membeli satu-dua pemain saja. Lantas, kapan saja transfer paling sepi Real Madrid sejak Perez memegang kendali pada musim panas 2000?

 

Musim 2001/02

Setelah musim sebelumnya jor-joran membeli Luis Figo hingga Claude Makelele, pada musim panas 2001/02 Los Merengues tampil lebih santai di bursa transfer. Namun, bukan Real Madrid namanya jika yang didatangkan hanya pemain bola rata-rata pada umumnya. El Real langsung menghentakkan sepakbola dan menciptakan rekor transfer kala itu.

Zinedine Zidane yang kala itu baru merayakan ulang tahun ke-29-nya didatangkan dari Turin ke Santiago Bernabeu dengan mahar 77,5 juta euro (Rp 1,3 triliun). Dilansir dari The Guardian, transfer ini mematahkan 37 juta euro (Rp 649 miliar) yang musim sebelumnya Madrid keluarkan untuk membajak Luis Figo dari Barcelona.

Di musim pertamanya tersebut, Zizou langsung memberikan gelar Liga Champions untuk Los Blancos. Golnya di akhir-akhir laga memupus asa Bayer Leverkusen untuk menggondol Si Kuping Besar ke Jerman. Gelar tersebut juga merupakan gelar Liga Champions pertama dan satu-satunya yang diraih oleh Zizou sebagai pemain. 5 musim kemudian Zizou pensiun di Madrid dan kelak juga sukses menjadi juru taktik untuk Los Galacticos.

 

Musim 2002/03

Setelah membajak bintang Juventus, musim ini gantian Inter yang bintangnya dibajak Madrid. Ronaldo Nazario yang baru saja memenangi Piala Dunia 2002 bersama Brazil, Madrid datangkan ke Santiago Bernabeu. Dilansir dari UEFA, Los Merengues harus menebus jasa penerima Ballon d’Or 2002 tersebut sebesar 45 juta euro (Rp 790 miliar) kepada Inter.

Meskipun hanya mendatangkan Ronaldo, Madrid bisa mengakhiri La Liga sebagai juara. Bersama Madrid, Ronaldo bermain sebanyak 177 kali dan berhasil mencetak 103 gol dan 34 assist. Mengerikan!

 

Musim 2003/04

Untuk menambah keglamoran proyek Galacticos, Perez mendatangkan David Beckham pada musim 2003/04. Memanfaatkan konflik yang terjadi antara Beckham dan Sir Alex Ferguson kala itu, Madrid hanya membayarnya sekitar 37,5 juta euro (Rp 658 miliar) saja. Namun, hanya Beckham seorang yang musim tersebut diperkenalkan di Santiago Bernabeu.

Transfer Beckham ini jelas menambah gemerlap skuad Los Blancos. Zizou, Roberto Carlos, Ronaldo, Sang Pangeran Raul Gonzales, dan dua pemuda berbakat San Iker Casillas dan Jose Maria Guti merupakan nama-nama yang mengisi ruang ganti Santiago Bernabeu. 

Sayangnya, karir Beckham di Madrid tidak bergelimang piala. Dirinya hanya mendapatkan satu Piala Super Spanyol dan satu La Liga. Pada musim panas 2007, Beckham akhirnya pergi ke LA Galaxy dan menandai kebangkitan sepak bola di Amerika Serikat.

 

Musim 2012/13

Setelah jor-joran sejak kedatangan Cristiano Ronaldo pada musim panas 2009, pada musim panas 2012 El Real tampil lebih santai. Mereka kala itu hanya mendatangkan dua pemain saja, yakni Luka Modric dari Tottenham Hotspur dan Diego Lopez dari Sevilla. Berdasarkan data Transfermarkt, keduanya hanya menghabiskan dana sebesar 38,5 juta (Rp 676 miliar) euro saja. Sebenarnya ada nama Michael Essien, namun dirinya datang sebagai pinjaman.

Diego Lopez sebenarnya sudah pernah bermain di Madrid, namun dirinya pergi sejak 2007. Periode keduanya di Madrid pun hanya bertahan semusim saja. Sebab, pada musim panas berikutnya, dirinya dilepas ke AC Milan. Sementara, Luka Modric akan jauh berbeda 180 derajat.

Luka Modric menjelma sebagai sosok penting di Santiago Bernabeu. Bahkan, dirinya diganjar trofi Ballon d’Or pada tahun 2018 karena performanya yang brilian. Setidaknya hingga akhir musim 2023/24, 6 trofi Liga Champions sudah diberikannya kepada Real Madrid. Angka yang menakjubkan bagi seorang pemain. Pada musim 2024/25 yang sebentar lagi akan dimulai, Modric masih tercatat sebagai pemain Real Madrid. Edan!

 

Musim 2016/17

Setelah kembali jor-joran di beberapa bursa transfer sebelumnya, pada musim panas 2016, Madrid kembali mendatangkan satu pemain lagi ke Santiago Bernabeu. Bahkan, yang mereka datangkan pun bukanlah wajah yang asing.

Setelah 2 musim berkelana di Turin, Alvaro Morata ditarik kembali dengan mahar 30 juta euro (Rp 526 miliar). Meski berhasil mencetak 15 gol di La Liga, sebuah trofi Liga Champions dan menjuarai La Liga, Morata hanya bertahan semusim saja di Santiago Bernabeu. Pada awal musim 2017/18, Chelsea merekrutnya dengan mahar sekitar 40 juta euro (IDR 702 miliar). Los Merengues untung 10 juta euro.

 

Musim 2017/18

Pada musim 2017/18, Real Madrid membeli Dani Ceballos dari Real Betis dan Theo Hernandez dari Atletico Madrid. Keduanya diberi dengan harga tak lebih dari 39,5 juta euro (Rp 693 miliar). 

Keduanya sebenarnya bukan pilar utama Los Blancos, namun Dani Ceballos masih tercatat sebagai pemain Los Blancos pada musim 2024/25 meskipun sempat dipinjamkan dua musim ke Arsenal. Sementara, Theo Hernandez hanya bermain pada musim 2017/18 saja dan pada musim selanjutnya dipinjamkan ke Real Sociedad. Setelah peminjamannya selesai, pada musim panas 2019, Theo dipinang AC Milan.

 

Musim 2020/21

Setelah dua musim sebelumnya kembali jor-joran, siapa sangka pada musim 2020/21 Los Merengues tidak melakukan pembelian seorang pemain pun. Akhirnya, Los Merengues harus rela mengakhiri musim di peringkat ke-2, terpaut hanya dua poin dari sang juara, Atletico Madrid.

 

Musim 2021/22

Pada musim 2021/22, Real Madrid memulai tren barunya untuk mendatangkan pemain berpengalaman secara gratisan dengan mendatangkan David Alaba yang kontraknya habis bersama Bayern Munchen. Pada musim itu, Los Merengues juga berhasil mengamankan jasa pemuda berbakat kelahiran Angola, Eduardo Camavinga.

Camavinga didatangkan dengan harga yang cukup miring, 31 juta euro (Rp 544 miliar) saja. Bersama-sama, keduanya langsung memberikan sebuah trofi Liga Champions dan menjadi juara La Liga. 

 

Musim 2022/23

Tren pemain berpengalaman gratisan kembali berlanjut dengan kedatangan Antonio Rudiger yang kontraknya habis dari Chelsea. Selain itu, datang lagi pemuda berbakat lain dari Ligue 1, Aurelien Tchouameni. Pemuda yang masih memiliki darah Kamerun tersebut didatangkan dengan harga yang cukup tinggi, yakni 80 juta euro (Rp 1,4 triliun).

Meskipun pada musim itu mereka hanya berhasil membawa trofi Piala Dunia Antarklub dan trofi Copa del Rey yang sudah 9 musim tidak pulang ke Santiago Bernabeu, mereka berdua merupakan pilar penting dari keberhasilan Los Merengues untuk meraih gelar Liga Champions ke-15-nya pada musim 2023/24.

https://youtu.be/QMnhnxdd1nY

Sumber: ESPN, The Guardian, UEFA, dan Transfermarkt

Waktunya Connor Gallagher Berpisah dengan Chelsea

Conor Gallagher dikabarkan menolak tawaran perpanjangan kontrak dari Chelsea. Penolakan tersebut sangat wajar terjadi sebab Atletico Madrid tengah dalam misi untuk membawanya ke Spanyol. Dikutip dari Talksport, penolakan tersebut bisa dipahami sebab dengan bergabung pasukan Diego Simeone, Gallagher punya kesempatan untuk bertanding di Champions League.

Setidaknya, sejak 31 Juli 2024, Atletico dan Chelsea sudah sepakat mengenai kepindahan pemain tim Tiga Singa tersebut. Dikutip dari The Athletic, keduanya telah sepakat di kisaran angka 40 juta euro (Rp 704 miliar). Lantas, apakah ini memang waktunya pemain yang digadang sebagai penerus Frank Lampard tersebut untuk pergi dari Stamford Bridge?

 

Win-win Solution untuk Kedua Pihak

Sebenarnya, kepergian Gallagher bisa menjadi win-win solution baik untuk Chelsea dan Gallagher sendiri. Gallagher sendiri jelas tertarik untuk bisa bermain di level yang lebih tinggi. Dirinya pasti muak terus-terusan berkubang di papan tengah dan hanya berusaha merebutkan posisi Europa League dan Conference League, alih-alih Champions League.

Bagi pemain berlabel tim nasional, apalagi tim nasional Inggris, dan sudah berusia 24 tahun, tak bisa bermain di kompetisi tertinggi di Eropa adalah suatu kekurangan tersendiri. Sejauh ini, Gallagher hanya sekali bermain di Champions League. Gallagher pernah membersamai Chelsea hingga perempat final Champions League 2022/23, kala mereka dibabat Real Madrid dengan agregat 4 gol tanpa balas.

Bersama Chelsea pun, baru pada musim lalu Gallagher bisa mendapat menit bermain di atas 2,000 menit dalam semusim. Sebelumnya, pada musim 2022/23 yang mana merupakan musim pertama setelah periodenya sebagai pemain pinjaman berakhir, Chelsea hanya menurunkannya sebanyak 1,616 menit saja.

Angka tersebut jelas jauh di bawah ketika dirinya masih berstatus sebagai pemain pinjaman. Bersama West Bromwich Albion pada musim 2020/21, Gallagher bermain selama 2,532 menit selama semusim. Sementara saat bermain untuk Crystal Palace, angka tersebut naik menjadi 2,851 menit. Performanya saat berseragam merah-biru juga mengesankan, 8 gol dan 3 assist berhasil dicetaknya di Premier League.

Sementara bagi The Blues sendiri, kepergian Gallagher juga memiliki beberapa sisi positif yang bisa disyukuri. Kepergian Gallagher musim ini jelas akan membuat The Blues lebih untung ketimbang harus menahannya dan Gallagher pergi di awal musim depan.

Sebab, musim ini adalah tahun terakhir dalam masa kontrak Gallagher di Chelsea. Apabila Gallagher pergi pada musim panas ini, tim yang akan memboyongnya jelas harus membayar sejumlah uang tebusan. Sementara, apabila Chelsea keras kepala menahannya, ketika Gallagher sendiri ogah memperpanjang kontrak, jangan salahkan Gallagher apabila kepergiannya kelak hanya berbuah hikmah alih-alih dapat dana.

Manajemen The Blues harusnya belajar dari kasus Antonio Rudiger dan Andreas Christensen. Keduanya pergi dari Stamford Bridge dengan cuma-cuma. Padahal The Blues bisa saja menjual mereka semusim lebih awal, dan dananya bisa dibelikan pemain pengganti yang dengan harga yang sedikit lebih miring agar tetap untung.

Namun, entah apa yang ada dipikiran manajemen The Blues selain membakar uang. Sepertinya mereka memang lebih hobi menghambur-hamburkan uang ketimbang mencari uang. Atau mungkin mereka memang lebih suka mengambil hikmah dari kesalahan, meskipun tak pernah dilakukan di kemudian hari.

Selain itu, kepergian Gallagher juga akan meringankan beban gaji Chelsea. Dikutip dari The Athletic, Chelsea menawarkan kontrak baru ke Gallagher dengan rincian dua tahun kontrak dengan opsi perpanjangan satu tahun. Gajinya pun dinaikkan hingga setara dengan gaji pemain tengah tertinggi di Chelsea yang kini dipegang oleh Enzo Fernandez, dengan gaji sekitar 214 ribu euro (Rp 3,7 miliar) per pekan.

Angka tersebut terbilang lumayan. Berdasarkan data Capology, angka tersebut bahkan lebih besar dari penggabungan gaji Cole Palmer dan Mykhailo Mudryk yang jumlahnya sekitar 208 ribu euro (Rp 3,6 miliar) saja per pekannya. Tentunya, kepergian Gallagher bisa menghemat pengeluaran mengingat mereka juga baru mendatangkan beberapa pemain baru.

Namun, dari semua itu, yang paling penting dari penjualan Gallagher adalah Chelsea bisa mendapatkan keuntungan bersih yang membuatnya bisa sedikit bernapas dari aturan finansial yang berlaku. Premier League memiliki aturan yang disebut dengan Profitability and Sustainability Rules (PSR) yang memberi batas sebanyak apa sebuah tim boleh merugi setiap musimnya.

Sebelumnya, Chelsea sudah mendapat untung bersih dari penjualan pemain lulusan akademinya, Ian Maatsen, ke Aston Villa. Keuntungan dari penjualan pemain lulusan akademi akan dianggap sebagai laba bersih, berbeda dengan penjualan pemain non akademi asli yang masih harus dihitung lagi. Keuntungan dari penjualan Gallagher akan membuat Chelsea bisa sedikit menjauhi batas kerugian yang sudah ditentukan.

Dari penjelasan-penjelasan tadi, kepergian Gallagher memanglah solusi terbaik untuk kedua pihak. Gallagher bisa bermain di kompetisi yang lebih tinggi dan Chelsea bisa sedikit lebih sehat secara keuangan. 

 

Masa Depan yang Tak Menentu di Chelsea

Seperti yang dikutip dari The Athletic, tidak ada jaminan Conor Gallagher akan selalu dimainkan musim ini. Enzo Maresca pun nampaknya tidak akan menggunakan skema yang sama dengan apa yang musim lalu dimainkan oleh Mauricio Pochettino. Terlebih, kedatangan anak pilihan Enzo Maresca, Kiernan Dewsbury-Hall, membuat masa depan Gallagher semakin buram.

Tampaknya, ini memang waktu yang pas untuknya meninggalkan Chelsea, tempat yang sudah dihuninya sejak usia 6 tahun. Sudah saatnya warga lokal Cobham tersebut merantau. Terlebih, Enzo Maresca sendiri tidak menutup kemungkinan mengenai kepergiannya.

“Saat ini, Conor akan bergabung lagi saat kami kembali ke Cobham. Saya pikir dirinya siap bergabung atau mungkin beberapa hari lagi untuk mulai berlatih bersama Cole Palmer dan Marc Cucurella. Nantinya, dia akan berlatih bersama kami. Ketika bursa transfer dibuka, semua hal bisa terjadi. Tak hanya untuk Conor, tapi juga untuk semua pemain,” ujar Maresca via Football London.

Seperti yang sudah diketahui, tiga pemain yang disebutkan Maresca tersebut adalah pemain yang bermain hingga final Euro 2024. Oleh karena itu, Maresca tidak membawanya untuk tur pramusim ke Amerika Serikat.

 

Kecocokannya dengan Skema Diego Simeone

Apabila bergabung ke Atletico Madrid, Conor Gallagher akan lebih berguna bagi Diego Simeone ketimbang sepak bola possession Enzo Maresca. Seperti yang dikutip dari The Football Analyst, Simeone menitikberatkan taktiknya pada pertahanan yang disiplin dan serangan balik yang mematikan.

Profil Gallagher memiliki kecocokan dengan gaya bermain tersebut. Dikutip dari The Mastermind Site, kemampuan Gallagher untuk bisa mencapai sepertiga pertahanan lawan di waktu yang tepat membuat pemain ini dianggap sebagai titisan Frank Lampard. Kemampuan ini jelas dibutuhkan dalam serangan balik.

Menurut The Coaches’ Voice, Gallagher mampu menjadi penyambung antara fase bertahan menjadi menyerang, bahkan dari posisi yang sangat dalam. Selain itu, determinasi dan kemampuan bertahannya juga bisa sejalan dengan filosofi permainan Simeone yang terkesan gahar dan cenderung keras. The Mastermind Site menyebut kemampuan pressing dan tackling-nya adalah kunci kekuatan lini tengah Crystal Palace saat Gallagher masih bermain di sana.

https://youtu.be/yaGcRVWLjM0

Sumber: Talksport, The Athletic, Capology, Football London, The Football Analyst, Coaches Voice, dan The Mastermind Site